Bismillaahirrahmaanirrahiim
KHAZANAH
AL-QURAN
Bab 24
HUBUNGAN KISAH MONUMENTAL “ADAM-MALAIKAT-IBLIS” DENGAN PENGUTUSAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW. SEBAGAI KHÂTAMAN
NABIYYÎN
Oleh
Ki
Langlang Buana Kusuma
وَ یَوۡمَ نَبۡعَثُ فِیۡ کُلِّ اُمَّۃٍ شَہِیۡدًا عَلَیۡہِمۡ
مِّنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ جِئۡنَا بِکَ شَہِیۡدًا عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ ؕ وَ نَزَّلۡنَا
عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ تِبۡیَانًا لِّکُلِّ
شَیۡءٍ وَّ ہُدًی
وَّ رَحۡمَۃً وَّ
بُشۡرٰی لِلۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah
hari itu ketika Kami akan membangkitkan dalam setiap umat seorang saksi
terhadap mereka dari antara mereka sendiri, dan Kami akan mendatangkan engkau
sebagai saksi terhadap mereka semuanya. Dan Kami telah menurunkan kepada engkau Kitab itu
untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk, rahmat serta kabar gembira bagi
orang-orang yang berserah diri kepada Allah.
(An-Nahl
[16]:90).
Untuk mengingatkan kembali kepada pokok (inti) pembahasan dalam Blog ini, penulis menampilkan lagi Bab I dalam Blog ini berkenaan “Khalifah Allah” yang hakiki, yakni Nabi Besar Muhammad saw., walau pun rujukannya adalah “Adam” yang dirujuk dalam QS.7:27-28 & 32 yang umumnya dianggap sebagai “bapak umat manusia” atau “leluhur umat manusia”, sebab ada penafsiran lain berkenaan dengan makna “Adam” yang tercantum dalam kisah monumental “Adam-Malaikat-Iblis” yang dicantumkan di dalam berbagai Surah Al-Quran (QQ.2:31-40 ;QS.7:12-26; QS.15:27-45; QS.17:62-66; QS.18:51-52; QS.20:117-124; QS.38:72-86).
Dalam sebuah Hadits Qudsi -- yang sering dikutip para ahli tashawuf -- Allah Swt. berfirman mengeni tujuan iciptakan-Nya makhluk atau dicipatakan-Nya Adam:
Untuk mengingatkan kembali kepada pokok (inti) pembahasan dalam Blog ini, penulis menampilkan lagi Bab I dalam Blog ini berkenaan “Khalifah Allah” yang hakiki, yakni Nabi Besar Muhammad saw., walau pun rujukannya adalah “Adam” yang dirujuk dalam QS.7:27-28 & 32 yang umumnya dianggap sebagai “bapak umat manusia” atau “leluhur umat manusia”, sebab ada penafsiran lain berkenaan dengan makna “Adam” yang tercantum dalam kisah monumental “Adam-Malaikat-Iblis” yang dicantumkan di dalam berbagai Surah Al-Quran (QQ.2:31-40 ;QS.7:12-26; QS.15:27-45; QS.17:62-66; QS.18:51-52; QS.20:117-124; QS.38:72-86).
Dalam sebuah Hadits Qudsi -- yang sering dikutip para ahli tashawuf -- Allah Swt. berfirman mengeni tujuan iciptakan-Nya makhluk atau dicipatakan-Nya Adam:
“Aku adakah kanzun makhfiy (khazanah tersembunyi). Aku rindu untuk
dikenal, karena itu Aku menciptakan makhluk supaya Aku diketahui.”
Rujukan yang lain berbunyi:
“Aku adalah kanzun
makhfiy (khazanah tersembunyi) dan ingin dikenal maka
Aku menciptakan Adam.”
Ada pun yang dimaksud
dengan “Adam” dalam hadits qudsi tersebut adalah nabi Allah (rasul Allah)
karena wujud-wujud suci
yang diutus Allah Swt. tersebut
merupakan para Khalifah (wakil) Allah (QS.2:31), sebab melalui
para nabi Allah itulah Allah Swt. di setiap zaman kenabian
(kerasulan) memperkenalkan “Wujud-Nya”
(QS.16:37) – yakni membukakan rahasia-rahasia gaib-Nya (QS.2:31-34;
QS.3:180; QS.72:27-29) -- dan proses “memperkenalkan
diri” Allah Swt. tersebut mencapai puncak kesempurnaannya berupa
pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. berupa pewahyuan agama Islam
(Al-Quran) yang merupakan agama
(kitab suci) terakhir dan tersempurna (QS.5:4; QS.15:10). Dan inilah
makna hakiki dari diajarkannya “semua nama (sifat)” Allah Swt. kepada Adam,
firman-Nya:
"Dan Dia
mengajarkan kepada Adam nama-nama
itu semuanya kemudian Dia
mengemukakan mereka itu kepada para malaikat lalu Dia berfirman:
“Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama
mereka ini jika kamu memang benar.”
(Al-Baqarah:32).
Dalam ayat selanjutnya para malaikat menyatakan ketidak-mampuan mereka untuk melakukan permintaan Allah Swt.
tersebut (QS.2:33-35), dengan demikian jelaslah
bahwa betapa pentingnya kesinambungan
pengutusan para “Khalifah Allah”
atau para Rasul Allah tersebut karena setiap
umat memiliki ajal (batas-waktu)
masing-masing -- termasuk Bani Israil dan Bani Isma’il (QS.3:35-37) – yang melalui Rasul Allah yang dijanjikan tersebut Allah Swt. mengajarkan khazanah-khazanah atau rahasia-rahasia
terbaru dari Sifat-sifat-Nya (QS.3:180;
QS.72:27-29)—termasuk di Akhir Zaman
ini (QS.62:3-5) -- walau pun syariat
dan kitab suci yang terakhir dan tersempurna
tetap agama Islam dan Al-Quran (QS.5:4).
Gelar Khātaman
Nabiyyīn Nabi Besar Muhammad Saw. & Kisah Monumental “Adam –
Malaikat – Iblis”
Itulah sebabnya Nabi
Besar Muhammad saw. – selain sebagai suri
teladan terbaik (QS.33:22) --
beliau saw. pun mendapat gelar Khātaman
Nabiyyīn, karena walau pun beliau saw. diutus di kalangan bangsa Arab
(Bani Isma’il) tetapi misi kerasulan beliau saw. adalah untuk seluruh
umat manusia dan berlaku sampai Hari Kiamat (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; 34:29), firman-Nya:
مَا کَانَ مُحَمَّدٌ اَبَاۤ اَحَدٍ مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ
اللّٰہِ وَ خَاتَمَ النَّبِیّٖنَ ؕ
وَ کَانَ اللّٰہُ بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Muhammad bukanlah bapak salah
seorang laki-laki di antara laki kamu, akan tetapi ia adalah Rasul Allah dan meterai sekalian nabi, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Ahzāb [33]:41).
Jadi, betapa ruginya orang-orang
yang mendustakan
dan menentang rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan dari kalangan Bani Adam a.s. (QS.7:35-37)
-- terutama Nabi Besar Muhammad
saw. -- karena ia akan luput dari “makrifat Ilahi” terbaru yang diajarkan
Allah Swt. kepada rasul Allah
tersebut, sebagaimana diisyaratkan Al-Quran
dalam kisah monumental “Adam –
Malaikat – Iblis”, sehubungan dengan hal itu Allah Swt. berfirman kepada Nabi
Besar Muhammad saw.:
وَ اِذۡ قَالَ رَبُّکَ لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اِنِّیۡ جَاعِلٌ فِی الۡاَرۡضِ
خَلِیۡفَۃً ؕ قَالُوۡۤا اَتَجۡعَلُ فِیۡہَا مَنۡ یُّفۡسِدُ فِیۡہَا وَ یَسۡفِکُ الدِّمَآءَ ۚ وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ
لَکَ ؕ قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Rabb (Tuhan) engkau berfirman kepada para
malaikat: “Sesungguhnya
Aku hendak menjadikan seorang khalifah
di bumi”, mereka berkata: “Apakah
Engkau akan menjadikan di dalamnya yakni di bumi orang yang akan
mem-buat kerusakan di dalamnya dan akan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan pujian Engkau dan
kami senantiasa men-sucikan Engkau?” قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ -- Dia berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al-Baqarah
[2]:31).
Qāla adalah perkataan bahasa Arab yang lazim dan berarti "ia berkata". Tetapi kadang-kadang dipakai dalam arti kiasan bila yang dimaksudkannya bukan pernyataan kata kerja, melainkan keadaan yang sesuai dengan arti kata kerja itu. Ungkapan, Imtala’a al-haudhu wa qāla qathni (Kolam itu menjadi penuh dan ia berkata: “Aku sudah penuh”) tidak berarti bahwa kolam itu benar-benar berkata demikian, hanya keadaannya mengandung arti bahwa kolam itu sudah penuh.
Dengan demikian percakapan (dialog) antara Allah Swt. dan para malaikat tidak perlu diartikan secara harfiah sebagai sungguh-sungguh telah terjadi – sebab Allah Swt. dalam melaksanakan kehendak-Nya tidak perlu memberitahukan atau meminta pertimbangan siapa pun -- dan seperti dinyatakan di atas, kata qāla kadang-kadang dipakai dalam arti kiasan, untuk mengemukakan hal (keadaan) yang sebenarnya bukan suatu ungkapan lisan, melainkan hanya keadaan yang sama dengan ungkapan lisan. Maka ayat ini hanya berarti bahwa para malaikat itu dengan keadaan mereka menyiratkan jawaban yang di sini dikaitkan kepada kata-kata yang diucapkan mereka.
Makna “Tanggapan” Para Malaikat & Sunnatullah Penentangan Terhadap Para Rasul Allah
Malā’ikah (malaikat-malaikat) yang adalah jamak dari malak diserap dari malaka, yang berarti: ia mengendalikan, mengawasi; atau dari alaka, artinya ia mengirimkan. Para malaikat disebut demikian sebab mereka mengendalikan kekuatan-kekuatan alam atau mereka membawa wahyu Ilahi kepada utusan-utusan Allah dan pembaharu-pembaharu samawi (QS.2:2:98-100; QS.26:193-197; QS.35:2; QS.42:52-54).
Dengan demikian dalam ayat tersebut tanggapan para malaikat bukan mengemukakan keberatan terhadap rencana Ilahi, atau mereka mengaku diri mereka lebih unggul daripada Khalifah Allah -- yakni Adam a.s.. “Pertanyaan” atau “keberatan” mereka didorong oleh pengumuman Allah Swt. mengenai rencana-Nya untuk mengangkat seorang khalifah-Nya (wakil-Nya) di muka bumi, yakni rasul Allah.
Keberadaan atau pengutusan wujud khalifah (rasul Allah) tersebut diperlukan bila tertib harus ditegakkan dan hukum harus dilaksanakan (QS.14:49-53). Ada pun “keberatan semu” yang dikemukakan para malaikat hanya menyiratkan bahwa -- sesuai dengan Sunnah Ilahi berkenaan pengutusan rasul Allah di kalangan Bani Adam (QS.7:35-37) di berbagai zaman -- selalu akan ada orang-orang di bumi yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah karena kedengkian mereka kepada Khalifah Allah (rasul Allah) tersebut, yang digambarkan sebagai iblis.
Sunnatullah penentang tersebut terjadi karena manusia dianugerahi kekuatan-kekuatan besar untuk berbuat baik dan jahat, dan dalam ayat tersebut para malaikat menyebut segi gelap tabiat manusia tersebut. Tetapi Allah Swt. mengetahui bahwa manusia -- melalui adanya penentangan tersebut -- dapat mencapai tingkat akhlak yang sangat tinggi, sehingga ia dapat menjadi cermin (bayangan) Sifat-sifat Ilahi. Jawaban Allah Swt. terhadap “tanggapan” para malaikat: اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ -- "Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui" menyebutkan segi terang tabiat manusia.
Makna Tasbih Kepada Allah Swt.
Dengan demikian jelaslah bahwa pertanyaan atau tanggapan para malaikat dalam ayat tersebut bukan sebagai celaan terhadap perbuatan Allah Swt. – sebab hal tersebut mustahil dilakukan oleh para malaikat (QS.16:50-51; QS.66:7) melainkan makna sekedar mencari ilmu (makrifat) yang lebih tinggi mengenai sifat dan hikmah penciptaan khalifah tersebut.
Makna nusabbihu berkenaan dengan perkataan para malaikat: وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ لَکَ -- “padahal kami senantiasa bertasbih dengan pujian Engkau dan kami senantiasa mensucikan Engkau?” Sementara tasbih dipakai bertalian dengan penyanjungan kesucian Sifat-sifat Allah Swt. maka taqdis dipergunakan mengenai penyanjungan kesucian tindakan-tindakan-Nya. Artinya bahwa semua Sifat dan perbuatan Allah Swt. sama sekali suci dari adanya cela mau pun cacat (kelemahan), firman-Nya:
Makna kata sabbaha -- lihat pula QS.17:45; QS.24:42; QS.61:2; QS.62:2; QS.64:2. -- dalam ayat: سَبَّحَ لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- “Menyanjung kesucian Allah apa pun yang ada di seluruh langit dan bumi”, ungkapan: Sabbaha fī hawā’ijihi artinya: ia menyibukkan diri dalam mencari nafkah, atau sibuk dalam urusannya.
Sabh berarti: mengerjakan pekerjaan, atau mengerjakannya dengan usaha sekeras-kerasnya serta secepat-cepatnya, dan ungkapan subhānallāh me-nyatakan kecepatan pergi berlindung kepada Allah Swt. dan kesigapan melayani dan menaati perintah-Nya.
Contohnya mengenai Nabi Besar Muhammad saw. Allah Swt. berfirman: اِنَّ لَکَ فِی النَّہَارِ سَبۡحًا طَوِیۡلًا ؕ -- Sesungguhnya engkau di waktu siang memiliki kesibukan yang panjang. (Al-Muzzammil [73]:8). Isyarat dalam kalimat سَبۡحًا طَوِیۡلًا tertuju kepada aneka ragam kewajiban Nabi Besar Muhammad saw. yang dilaksanakan oleh beliau saw. dengan rela dan gembira, dan yang dalam melaksanakannya hati beliau saw. merasa amat senang sekali, inilah makna kata sabhan (Lexicon Lane).
Mengingat akan arti dasar kata sabh maka masdar isim (kata benda infinitif) tasbih dari sabbaha artinya menyatakan bahwa Allah Swt. itu jauh dari segala kekurangan atau aib, atau artinya cepat-cepat memohon bantuan ke hadirat Allah dan sigap dalam menaati Dia sambil mengatakan Subhānallāh (Lexicon Lane).
Oleh karena itu ayat tersebut berarti, bahwa segala sesuatu di alam semesta sedang melakukan tugasnya masing-masing dengan cermat dan teratur, dan dengan memanfaatkan kemampuan-kemampuan serta kekuatan-kekuatan yang dilimpahkan Allah Swt. kepadanya, mereka memenuhi tujuan ia diciptakan dengan cara yang sangat ajaib, sehingga kita mau tidak mau harus mengambil kesimpulan bahwa Sang Perencana dan Arsitek alam semesta ini -- yakni Allah Swt. -- sungguh Maha Kuasa dan Maha Bijaksana, dan bahwa alam semesta secara keseluruhan dan tiap-tiap makhluk secara individu serta dalam batas kemampuannya masing-masing, memberi kesaksian mengenai kebenaran yang tidak dapat dipungkiri, bahwa alam semesta karya Allah Swt. itu mutlak bebas dari setiap kekurangan, aib atau ketidaksempurnaan dalam segala seginya yang beraneka ragam dan banyak itu.
Makrifat Ilahi Para Malaikat Terbatas & Makna Pengajaran “Al-Asmā”
وَ اِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ اِبۡلِیۡسَ ؕ اَبٰی وَ اسۡتَکۡبَرَ ٭۫ وَ کَانَ مِنَ الۡکٰفِرِیۡنَ
Qāla adalah perkataan bahasa Arab yang lazim dan berarti "ia berkata". Tetapi kadang-kadang dipakai dalam arti kiasan bila yang dimaksudkannya bukan pernyataan kata kerja, melainkan keadaan yang sesuai dengan arti kata kerja itu. Ungkapan, Imtala’a al-haudhu wa qāla qathni (Kolam itu menjadi penuh dan ia berkata: “Aku sudah penuh”) tidak berarti bahwa kolam itu benar-benar berkata demikian, hanya keadaannya mengandung arti bahwa kolam itu sudah penuh.
Dengan demikian percakapan (dialog) antara Allah Swt. dan para malaikat tidak perlu diartikan secara harfiah sebagai sungguh-sungguh telah terjadi – sebab Allah Swt. dalam melaksanakan kehendak-Nya tidak perlu memberitahukan atau meminta pertimbangan siapa pun -- dan seperti dinyatakan di atas, kata qāla kadang-kadang dipakai dalam arti kiasan, untuk mengemukakan hal (keadaan) yang sebenarnya bukan suatu ungkapan lisan, melainkan hanya keadaan yang sama dengan ungkapan lisan. Maka ayat ini hanya berarti bahwa para malaikat itu dengan keadaan mereka menyiratkan jawaban yang di sini dikaitkan kepada kata-kata yang diucapkan mereka.
Makna “Tanggapan” Para Malaikat & Sunnatullah Penentangan Terhadap Para Rasul Allah
Malā’ikah (malaikat-malaikat) yang adalah jamak dari malak diserap dari malaka, yang berarti: ia mengendalikan, mengawasi; atau dari alaka, artinya ia mengirimkan. Para malaikat disebut demikian sebab mereka mengendalikan kekuatan-kekuatan alam atau mereka membawa wahyu Ilahi kepada utusan-utusan Allah dan pembaharu-pembaharu samawi (QS.2:2:98-100; QS.26:193-197; QS.35:2; QS.42:52-54).
Dengan demikian dalam ayat tersebut tanggapan para malaikat bukan mengemukakan keberatan terhadap rencana Ilahi, atau mereka mengaku diri mereka lebih unggul daripada Khalifah Allah -- yakni Adam a.s.. “Pertanyaan” atau “keberatan” mereka didorong oleh pengumuman Allah Swt. mengenai rencana-Nya untuk mengangkat seorang khalifah-Nya (wakil-Nya) di muka bumi, yakni rasul Allah.
Keberadaan atau pengutusan wujud khalifah (rasul Allah) tersebut diperlukan bila tertib harus ditegakkan dan hukum harus dilaksanakan (QS.14:49-53). Ada pun “keberatan semu” yang dikemukakan para malaikat hanya menyiratkan bahwa -- sesuai dengan Sunnah Ilahi berkenaan pengutusan rasul Allah di kalangan Bani Adam (QS.7:35-37) di berbagai zaman -- selalu akan ada orang-orang di bumi yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah karena kedengkian mereka kepada Khalifah Allah (rasul Allah) tersebut, yang digambarkan sebagai iblis.
Sunnatullah penentang tersebut terjadi karena manusia dianugerahi kekuatan-kekuatan besar untuk berbuat baik dan jahat, dan dalam ayat tersebut para malaikat menyebut segi gelap tabiat manusia tersebut. Tetapi Allah Swt. mengetahui bahwa manusia -- melalui adanya penentangan tersebut -- dapat mencapai tingkat akhlak yang sangat tinggi, sehingga ia dapat menjadi cermin (bayangan) Sifat-sifat Ilahi. Jawaban Allah Swt. terhadap “tanggapan” para malaikat: اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ -- "Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui" menyebutkan segi terang tabiat manusia.
Makna Tasbih Kepada Allah Swt.
Dengan demikian jelaslah bahwa pertanyaan atau tanggapan para malaikat dalam ayat tersebut bukan sebagai celaan terhadap perbuatan Allah Swt. – sebab hal tersebut mustahil dilakukan oleh para malaikat (QS.16:50-51; QS.66:7) melainkan makna sekedar mencari ilmu (makrifat) yang lebih tinggi mengenai sifat dan hikmah penciptaan khalifah tersebut.
Makna nusabbihu berkenaan dengan perkataan para malaikat: وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ لَکَ -- “padahal kami senantiasa bertasbih dengan pujian Engkau dan kami senantiasa mensucikan Engkau?” Sementara tasbih dipakai bertalian dengan penyanjungan kesucian Sifat-sifat Allah Swt. maka taqdis dipergunakan mengenai penyanjungan kesucian tindakan-tindakan-Nya. Artinya bahwa semua Sifat dan perbuatan Allah Swt. sama sekali suci dari adanya cela mau pun cacat (kelemahan), firman-Nya:
سَبَّحَ لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ لَہٗ مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ یُحۡیٖ وَ یُمِیۡتُ ۚ وَ ہُوَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ہُوَ الۡاَوَّلُ وَ الۡاٰخِرُ وَ الظَّاہِرُ وَ الۡبَاطِنُ ۚ وَ ہُوَ بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡم
Menyanjung kesucian Allah apa pun yang ada di seluruh langit dan bumi, dan Dia Maha Perkasa, Maha
Bijaksana. Kepunyaan-Nya kerajaan
seluruh langit dan bumi, Dia menghidupkan dan Dia mematikan, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu. Dia-lah
Yang Awal dan Yang Akhir
serta Yang Nyata dan Yang Tersembunyi, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Hadid [57]:2-4). Makna kata sabbaha -- lihat pula QS.17:45; QS.24:42; QS.61:2; QS.62:2; QS.64:2. -- dalam ayat: سَبَّحَ لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- “Menyanjung kesucian Allah apa pun yang ada di seluruh langit dan bumi”, ungkapan: Sabbaha fī hawā’ijihi artinya: ia menyibukkan diri dalam mencari nafkah, atau sibuk dalam urusannya.
Sabh berarti: mengerjakan pekerjaan, atau mengerjakannya dengan usaha sekeras-kerasnya serta secepat-cepatnya, dan ungkapan subhānallāh me-nyatakan kecepatan pergi berlindung kepada Allah Swt. dan kesigapan melayani dan menaati perintah-Nya.
Contohnya mengenai Nabi Besar Muhammad saw. Allah Swt. berfirman: اِنَّ لَکَ فِی النَّہَارِ سَبۡحًا طَوِیۡلًا ؕ -- Sesungguhnya engkau di waktu siang memiliki kesibukan yang panjang. (Al-Muzzammil [73]:8). Isyarat dalam kalimat سَبۡحًا طَوِیۡلًا tertuju kepada aneka ragam kewajiban Nabi Besar Muhammad saw. yang dilaksanakan oleh beliau saw. dengan rela dan gembira, dan yang dalam melaksanakannya hati beliau saw. merasa amat senang sekali, inilah makna kata sabhan (Lexicon Lane).
Mengingat akan arti dasar kata sabh maka masdar isim (kata benda infinitif) tasbih dari sabbaha artinya menyatakan bahwa Allah Swt. itu jauh dari segala kekurangan atau aib, atau artinya cepat-cepat memohon bantuan ke hadirat Allah dan sigap dalam menaati Dia sambil mengatakan Subhānallāh (Lexicon Lane).
Oleh karena itu ayat tersebut berarti, bahwa segala sesuatu di alam semesta sedang melakukan tugasnya masing-masing dengan cermat dan teratur, dan dengan memanfaatkan kemampuan-kemampuan serta kekuatan-kekuatan yang dilimpahkan Allah Swt. kepadanya, mereka memenuhi tujuan ia diciptakan dengan cara yang sangat ajaib, sehingga kita mau tidak mau harus mengambil kesimpulan bahwa Sang Perencana dan Arsitek alam semesta ini -- yakni Allah Swt. -- sungguh Maha Kuasa dan Maha Bijaksana, dan bahwa alam semesta secara keseluruhan dan tiap-tiap makhluk secara individu serta dalam batas kemampuannya masing-masing, memberi kesaksian mengenai kebenaran yang tidak dapat dipungkiri, bahwa alam semesta karya Allah Swt. itu mutlak bebas dari setiap kekurangan, aib atau ketidaksempurnaan dalam segala seginya yang beraneka ragam dan banyak itu.
Makrifat Ilahi Para Malaikat Terbatas & Makna Pengajaran “Al-Asmā”
Jadi, itulah maksud kata tasbih yang dikemukakan
para malaikat dalam ayat: وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ
لَکَ -- “padahal kami senantiasa bertasbih dengan pujian Engkau dan
kami senantiasa mensucikan Engkau?”
Walau pun demikian Allah Swt. menjawab pernyataan para malaikat tersebut: اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا
تَعۡلَمُوۡنَ -- "Aku
mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Yakni ada hal lainnya yang tidak diketahui
para malaikat dengan keberadaan Khalifah Allah (Rasul Allah) dan
munculnya para penentangnya --
yang karena kedengkian mereka --
sehingga terjadi kerusakan dan tertumpahnya darah di kalangan
orang-orang yang beriman kepada Khalifah Allah (rasul Allah),
sebagaimana disebutkan para malaikat:
قَالُوۡۤا اَتَجۡعَلُ فِیۡہَا مَنۡ یُّفۡسِدُ فِیۡہَا وَ یَسۡفِکُ الدِّمَآءَ -- “mereka
berkata: “Apakah Engkau akan menjadikan di
dalamnya yakni di bumi orang yang akan membuat kerusakan di dalamnya dan akan menumpahkan darah” (QS.3:31).
Dalam ayat
selanjutnya Allah Swt. membuktikan kebenaran firman-Nya: اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا
تَعۡلَمُوۡنَ -- "Aku
mengetahui apa yang tidak kamu ketahui", Dia berfirman:
وَ عَلَّمَ اٰدَمَ الۡاَسۡمَآءَ کُلَّہَا ثُمَّ عَرَضَہُمۡ عَلَی الۡمَلٰٓئِکَۃِ ۙ فَقَالَ اَنۡۢبِـُٔوۡنِیۡ بِاَسۡمَآءِ ہٰۤؤُلَآءِ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾
Dan Dia
mengajarkan kepada Adam nama-nama
itu semuanya kemudian Dia
mengemukakan mereka itu kepada para malaikat lalu Dia berfirman:
“Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama
mereka ini jika kamu memang benar.” (Al-Baqarah [2]:32).
Kata “semua” dalam ayat: وَ عَلَّمَ اٰدَمَ الۡاَسۡمَآءَ کُلَّہَا -- “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama
itu semuanya ”
tidak meliputi keseluruhan
secara mutlak. Kata itu hanya
berarti semua yang perlu. Al-Quran memakai kata itu dalam arti ini juga di
tempat lain (QS.6:45; QS.27:17, 24; QS.28:58).
Asmā itu jamak dari ism yang berarti: nama atau sifat; ciri
atau tanda sesuatu (Lexicon
Lane dan Mufradat).
Para ahli tafsir berbeda paham mengenai apa yang dimaksudkan dengan kata asmā
(nama-nama) di sini. Sebagian menyangka bahwa Allah Swt. mengajar Adam a.s.
nama berbagai barang dan
benda, yaitu Dia mengajar beliau dasar-dasar bahasa. Tidak diragukan
bahwa orang memerlukan bahasa untuk
menjadi beradab dan guna mengemukakan pikiran dan isi hati
serta perasaannya; dan Allah Swt tentu telah mengajari Adam a.s. dasar-dasarnya.
Tetapi Al-Quran menunjukkan bahwa
ada asmā (nama atau sifat) yang harus dipelajari manusia untuk penyempurnaan akhlaknya melalui peribadahan (QS.51:57), yaitu mengetahui
Sifat-sifat
Allah Swt. (makrifat Ilahi), terutama mengetahui Sifat-sifat
Tasybihiyyah Allah Swt. yang sampai batas tertentu dapat dimiliki atau ditiru oleh makhluk-Nya,
terutama oleh manusia.
Untuk tujuan memperagakan Sifat-sifat Allah Swt. tersebut itulah Allah Swt. telah memberikan
“potensi” (kemampuan) tersebut kepada manusia (QS.7:173-175;
QS.30:31-33; QS.76:1-4; QS.95:5), itulah sebabnya Allah Swt. telah menetapkan tujuan utama penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah Swt. (QS.1:5;
QS.2:22-23; QS.51:57), yang tidak dapat dilakukan oleh makhluk lainnya -- termasuk
para malaikat sebab para malaikat merupakan instrument
Allah Swt. dalam melaksanakan berbagai Kehendak-Nya (QS.35:2-3).
Nama-nama atau Sifat-sifat Allah Swt. tersebut
disinggung dalam berbagai surah Al-Quran. Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa orang tidak dapat meraih makrifat Ilahi tanpa memiliki tanggapan dan pengertian yang tepat mengenai sifat-sifat Allah Swt.
(makrifat Ilahi), dan bahwa sifat-sifat-Nya
itu hanya dapat diajarkan oleh Dia Sendiri, karena itu sangat perlu
bahwa Allah Swt. mula-mula memberi
Adam (Khalifah Allah) ilmu (pengetahuan) tentang sifat-sifat-Nya supaya ia mengetahui dan mengenal-Nya serta mencapai kedekatan
kepada-Nya dan jangan melantur jauh
dari Dia.
Pembukaan Rahasia Gaib Allah
Swt. Kepada Para Rasul-Nya
Pengajaran Allah Swt. secara khusus kepada Adam (Khalifah Allah) mengenai Al-Asmā-Nya
tersebut sesuai dengan firman-Nya berikut ini:
عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾ اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾ لِّیَعۡلَمَ اَنۡ قَدۡ اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ شَیۡءٍ عَدَدًا
Dia-lah Yang
mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan rahasia gaib-Nya kepada siapa pun, kecuali kepada Rasul yang Dia ridhai, maka sesungguhnya baris-an pengawal berjalan di hadapannya
dan di belakangnya, supaya Dia
mengetahui bahwa sungguh mereka
telah menyampaikan Amanat-amanat Rabb (Tuhan) mereka, dan Dia meliputi semua yang ada pada mereka
dan Dia membuat perhitungan mengenai
segala sesuatu. (Al-Jin [72]:27-29).
Ungkapan, “izhhar ‘ala al-ghaib,” berarti, diberi
pengetahuan dengan sering dan secara berlimpah-limpah mengenai rahasia gaib bertalian
dengan dan mengenai peristiwa dan kejadian yang sangat penting. Ayat ini merupakan ukuran yang tiada tara
bandingannya guna membedakan antara
sifat dan jangkauan rahasia-rahasia gaib
yang dibukakan Alllah Swt. kepada
seorang rasul Tuhan dan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan
kepada orang-orang mukmin bertakwa lainnya.
Perbedaan itu letaknya pada kenyataan bahwa, kalau rasul-rasul Tuhan dianugerahi izhhar
‘ala al-ghaib -- penguasaan atas
yang gaib -- maka rahasia-rahasia yang diturunkan kepada orang-orang bertakwa dan orang-orang
suci lainnya tidak menikmati kehormatan
serupa itu.
Tambahan pula wahyu Ilahi
yang dianugerahkan kepada rasul-rasul
Tuhan, karena ada dalam pemeliharaan-istimewa-Ilahi,
keadaannya aman dari pemutar-balikkan atau pemalsuan oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia
gaib yang dibukakan kepada orang-orang
bertakwa lainnya tidak begitu
terpelihara. Itulah salah satu makna
ayat: فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا -- “maka sesungguhnya barisan pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya, supaya
Dia mengetahui bahwa sungguh
mereka telah menyampaikan
Amanat-amanat Rabb (Tuhan) mereka”.
Berbagai Sifat Tasybihiyah dan Tanzihiyyah Allah Swt.
Berikut adalah firman-Nya dalam berbagai surah Al-Quran
mengenai Sifat-sifat-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿۱﴾ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۙ﴿۲﴾ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿۳﴾ مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ ؕؕ﴿۴﴾ اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ ﴿۵﴾ اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ ﴿۶﴾ صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۙ۬ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪
Aku baca dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
Segala puji hanya bagi Allah,
Rabb (Tuham Pencipta dan Pemelihara) seluruh alam, Maha
Pemurah, Maha Penyayang. Pemilik
Hari Pembalasan. Hanya Engkau-lah Yang kami sembah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan. Tunjukilah
kami jalan yang lurus, yaitu
jalan orang-orang yang telah Engkau beri
nikmat atas mereka, bukan jalan mereka yang
dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang
sesat. (Al-Fatihah [1]:1-7).
Firman-Nya
lagi:
"Dan milik Allah-lah nama-nama yang terbaik, maka serulah
Dia dengan nama-nama itu,
dan tinggalkanlah orang-orang yang
menyimpang dalam memahami nama-nama-Nya, mereka segera
akan mendapat balasan terhadap apa
yang senantiasa mereka kerjakan. Dan di antara manusia yang telah
Kami ciptakan ada umat yang memberi
petunjuk dengan haq dan dengan
itu pula mereka menegakkan keadilan." (Al-Arāf [7]:181-182).
Nama Tuhan
ialah Allah, semua sebutan
lainnya sebenarnya adalah hanya Sifat-sifat-Nya.
Pada waktu berdoa kita harus
memanggil Sifat-sifat Allah Swt.
yang langsung berkaitan dengan maksud doa
itu. Menyimpang dari jalan yang benar berkenaan
dengan Sifat-sifat Allah Swt. dalam
ayat: “dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dalam memahami
nama-nama-Nya,” dapat diartikan bahwa oleh karena Allah Swt. adalah
Pemilik segala Sifat terbaik (Al-Asmā-ul-Husna) yang tersebut dalam Al-Quran dan Hadits, maka
tidak perlu memberikan kepada-Nya sifat-sifat
lain yang tidak sesuai dengan Keagungan-Nya, Kehormatan-Nya, dan Kasih-Sayang-Nya yang meliputi
segala sesuatu, seperti mengatakan bahwa
-- na’udzubillāh -- Allah Swt. memiliki anak dan istri atau sekutu
dalam Ketuhanan-Nya (QS.114:1-5), firman-Nya:
قُلِ ادۡعُوا اللّٰہَ اَوِ ادۡعُوا الرَّحۡمٰنَ ؕ اَیًّامَّا تَدۡعُوۡا فَلَہُ الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی ۚ وَ لَا تَجۡہَرۡ بِصَلَاتِکَ وَ لَا تُخَافِتۡ بِہَا وَ ابۡتَغِ بَیۡنَ ذٰلِکَ سَبِیۡلًا وَ قُلِ الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡ لَمۡ یَتَّخِذۡ وَلَدًا وَّ لَمۡ یَکُنۡ لَّہٗ شَرِیۡکٌ فِی الۡمُلۡکِ وَ لَمۡ یَکُنۡ لَّہٗ وَلِیٌّ مِّنَ الذُّلِّ وَ کَبِّرۡہُ تَکۡبِیۡرًا
Katakanlah:
“Serulah Allah atau serulah Ar-Rahmān (Yang Maha Pemurah), dengan
nama apa saja kamu berseru kepada Dia milik-Nya
semua nama yang terbaik.” Dan janganlah kamu mengucapkan doa-doamu keras-keras dan jangan
pula kamu mengucapkannya terlalu lemah tetapi carilah jalan di antara itu. Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah, Yang tidak memiliki anak dan tidak
ada sekutu bagi-Nya di kerajaan-Nya, dan tidak ada bagi-Nya penolong karena sesuatu kelemahan-Nya.” Dan sanjunglah
keagungan-Nya dengan pengagungan
yang sebesar-besarnya. (Bani Israil [17]:111-112).
Mengenai Sifat Tanzihiyyah Allah Swt. – yakni Sifat-sifat
yang khusus dimiliki Allah Swt. – Dia
berfirman:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ قُلۡ ہُوَ اللّٰہُ اَحَدٌ ۚ﴿﴾ اَللّٰہُ الصَّمَدُ ۚ﴿﴾ لَمۡ یَلِدۡ ۬ۙ وَ لَمۡ یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾ وَ لَمۡ یَکُنۡ لَّہٗ کُفُوًا اَحَدٌ ٪
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Katakanlah: “Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya.
Dia
tidak beranak dan tidak
diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”(Al-Ikhlas [114]:1-5).
Firman-Nya lagi:
فَاسۡتَفۡتِہِمۡ اَلِرَبِّکَ الۡبَنَاتُ وَ لَہُمُ الۡبَنُوۡنَ ﴿﴾ۙ اَمۡ خَلَقۡنَا الۡمَلٰٓئِکَۃَ اِنَاثًا وَّ ہُمۡ شٰہِدُوۡنَ ﴿﴾ اَلَاۤ اِنَّہُمۡ مِّنۡ اِفۡکِہِمۡ لَیَقُوۡلُوۡنَ ﴿﴾ۙ وَلَدَ اللّٰہُ ۙ وَ اِنَّہُمۡ لَکٰذِبُوۡنَ ﴿﴾ اَصۡطَفَی الۡبَنَاتِ عَلَی الۡبَنِیۡنَ ﴿﴾ؕ مَا لَکُمۡ ۟ کَیۡفَ تَحۡکُمُوۡنَ ﴿﴾ اَفَلَا تَذَکَّرُوۡنَ ﴿﴾ۚ اَمۡ لَکُمۡ سُلۡطٰنٌ مُّبِیۡنٌ ﴿﴾ۙ فَاۡتُوۡا بِکِتٰبِکُمۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾ وَ جَعَلُوۡا بَیۡنَہٗ وَ بَیۡنَ الۡجِنَّۃِ نَسَبًا ؕ وَ لَقَدۡ عَلِمَتِ الۡجِنَّۃُ اِنَّہُمۡ لَمُحۡضَرُوۡنَ ﴿ سُبۡحٰنَ اللّٰہِ عَمَّا یَصِفُوۡنَ
Sekarang tanyailah mereka: “Apakah
Rabb (Tuhan) kamu mempunyai anak perempuan, sedangkan untuk mereka anak laki-laki?” Ataukah Kami menciptakan malaikat-malaikat itu perempuan, dan mereka menyaksikannya? Ketahuilah, sesungguhnya itu adalah kebohongan mereka dan
mereka benar-benar berkata: “Allah
beranak” dan sesungguhnya mereka
benar-benar pendusta. Apakah Dia memilih anak-anak perempuan daripada anak-anak laki-laki? Apakah yang terjadi atas diri kamu?
Bagaimanakah kamu meng-ambil keputusan?
Apakah kamu
tidak mengerti? Ataukah pada kamu ada bukti yang nyata?
Maka kemukakanlah
Kitab kamu, jika kamu adalah orang-orang benar. Dan mereka mengada-ada hubungan keluarga di antara Dia dan jin,
dan sungguh jin-jin itu
benar-benar mengetahui sesungguhnya mereka
pasti akan dihadapkan kepada azab. سُبۡحٰنَ اللّٰہِ عَمَّا یَصِفُوۡنَ -- Maha Suci Allah dari segala apa yang mereka sifatkan. (Ash-Shāffāt
[37]:150-160).
Dalam surah lainnya Allah Swt. berfirman mengenai berbagai macam sifat-sifat-Nya yang sempurna:
ہُوَ اللّٰہُ الَّذِیۡ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ۚ عٰلِمُ الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ ۚ ہُوَ الرَّحۡمٰنُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾ ہُوَ اللّٰہُ الَّذِیۡ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ۚ اَلۡمَلِکُ الۡقُدُّوۡسُ السَّلٰمُ الۡمُؤۡمِنُ الۡمُہَیۡمِنُ الۡعَزِیۡزُ الۡجَبَّارُ الۡمُتَکَبِّرُ ؕ سُبۡحٰنَ اللّٰہِ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾ ہُوَ اللّٰہُ الۡخَالِقُ الۡبَارِئُ الۡمُصَوِّرُ لَہُ الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی ؕ یُسَبِّحُ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ
Dia-lah Allah, Yang tidak ada tuhan
kecuali Dia, Mengetahui
yang gaib dan yang nampak, Dia Maha Pemurah, Maha Penyayang. Dia-lah Allah
Yang tidak ada tuhan kecuali Dia, Maha
Berdaulat, Yang Maha Suci, Sumber segala kedamaian, Pelimpahan keamanan, Maha Pelindung, Maha Perkasa, Maha Penakluk,
Maha Agung. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah,
Maha Pencipta, Pembuat segala sesuatu, Pemberi
bentuk, لَہُ
الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی -- milik
Dia-lah semua nama yang terindah. یُسَبِّحُ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- Bertasbih kepada-Nya segala yang ada di seluruh langit dan bumi dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha
Bijaksana. (Al-Hasyr [59]:23-25).
Keunggulan Manusia Dibanding Para Malaikat
Menurut Al-Quran, manusia berbeda dari para malaikat
yaitu dalam hal bahwa manusia dapat menjadi bayangan atau pantulan dari al-Asmā ul-husnā yaitu semua Sifat Allah Swt. yang sempurna,
sedang para malaikat hanya sedikit
saja mencerminkan sifat-sifat itu.
Ada pun sebabnya adalah karena para
malaikat – yang berfungsi sebagai instrumen pelaksana berbagai Kehendak
Allah Swt. – mereka tidak memiliki kehendak sendiri, mereka secara pasif menjalankan tugas
yang telah diserahkan kepadanya oleh Allah
Yang Maha Kuasa (QS.66:7): وَ
نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ لَکَ -- “padahal kami senantiasa bertasbih
dengan pujian Engkau dan kami
senantiasa mensucikan Engkau?”
(QS.2:32). Sebaliknya, manusia yang dianugerahi kemauan
dan kebebasan memilih, berbeda dengan
para malaikat dalam hal bahwa manusia
mempunyai kemampuan yang menjadikan
dia penjelmaan sempurna semua Sifat Ilahi.
Pendek kata, makna ayat: وَ عَلَّمَ اٰدَمَ الۡاَسۡمَآءَ کُلَّہَا ثُمَّ عَرَضَہُمۡ عَلَی
الۡمَلٰٓئِکَۃِ – “Dan
Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama itu semuanya
kemudian Dia mengemukakan mereka itu kepada para malaikat“ (QS.2:32)
menunjukkan bahwa Allah Swt. mula-mula
menanamkan pada Adam a.s. kemauan
yang bebas dan kemampuan yang
diperlukan untuk memahami berbagai Sifat Ilahi, dan kemudian memberikan ilmu (pengetahuan) mengenai sifat-sifat itu kepadanya.
Asmā pun dapat berarti pula sifat-sifat berbagai benda alam. Karena manusia harus
mempergunakan kekuatan-kekuatan alam maka Allah Swt. menganugerahkan kepadanya kemampuan dan kekuasaan untuk mengetahui
sifat-sifat dan khasiat-khasiatnya guna menunjang
kehidupannya yang sukses
di dunia mau pun di akhirat (QS.2:202-203; QS.28:77-80).
Kata
pengganti hum (mereka): ثُمَّ عَرَضَہُمۡ عَلَی الۡمَلٰٓئِکَۃِ -- “kemudian Dia mengemukakan mereka itu kepada para malaikat” menunjukkan bahwa apa-apa yang disebut di
sini bukan benda-benda tidak-bernyawa,
sebab dalam bahasa Arab kata
pengganti dalam bentuk ini hanya dipakai untuk wujud-wujud berakal saja.
Jadi arti ungkapan itu akan
berarti bahwa Allah Swt. menganugerahkan kepada para malaikat kemampuan melihat siapa yang menonjol
ketakwaannya dari antara keturunan
Adam a.s. kelak yang akan menjadi penjelmaan
sifat-sifat Ilahi yaitu para rasul
Allah yang diutus setelah Nabi Adam
a.s. (QS.7:35-36).
Kemudian
para malaikat ditanya apakah mereka
sendiri dapat menjelmakan sifat-sifat
Ilahi seperti mereka itu? Atas pertanyaan
itu mereka menyatakan ketidakmampuan,
itulah yang dimaksud dengan kata-kata “Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama
ini” yang tercantum pada ayat ini: فَقَالَ
اَنۡۢبِـُٔوۡنِیۡ بِاَسۡمَآءِ ہٰۤؤُلَآءِ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ -- lalu Dia berfirman: “Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama mereka ini jika kamu memang benar.”
Terhadap tantangan Allah Swt.
tersebut malaikat menjawab,
firman-Nya:
قَالُوۡا سُبۡحٰنَکَ لَا عِلۡمَ لَنَاۤ اِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَا ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَلِیۡمُ الۡحَکِیۡمُ
Mereka
berkata: “Mahasuci Engkau, kami tidak
memiliki pe-ngetahuan kecuali
apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami,
se-sungguhnya Engkau benar-benar Ma-ha
Mengetahui, Mahabijaksana.”
(Al-Baqarah [2]:33).
Karena para malaikat menyadari batas-batas pembawaan alami mereka, mereka mengakui dengan terus-terang bahwa mereka tidak mampu mencerminkan (menjelmakan) semua sifat Allah Swt. seperti dicerminkan (dijelmakan) oleh manusia
– dalam hal ini terutama para rasul Allah,
khususnya Nabi Besar Muhammad saw.
yang merupakan “Adam” yang
Hakiki -- artinya para malaikat hanya dapat
mencerminkan sifat-sifat Ilahi yang untuk
itu Allah Swt. — sesuai dengan kebijaksanaan-Nya
yang kekal-abadi — telah menganugerahkan kepada mereka kekuatan mencerminkan.
Keunggulan Makrifat Ilahi yang Dimiliki Adam (Rasul Allah)
Selanjutnya Allah Swt.
menjelaskan keunggulan makrifat Ilahi yang dimiliki Adam sehingga membukti kebenaran rencana-Nya yang dikemukakan kepada para
maaikat (QS.2:31) mengenai pentingnya keberadaan seorang Khalifah
Allah (rasul Allah), yaitu dalam
upaya mewujudkan suatu ketertiban hukum yang baru di kalangan umat manusia yang kalau-balau, firman-Nya:
قَالَ یٰۤاٰدَمُ اَنۡۢبِئۡہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ ۚ فَلَمَّاۤ اَنۡۢبَاَہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ ۙ قَالَ اَلَمۡ اَقُلۡ لَّکُمۡ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۙ وَ اَعۡلَمُ مَا تُبۡدُوۡنَ وَ مَا کُنۡتُمۡ تَکۡتُمُوۡنَ
Dia
berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama mereka itu”, maka tatkala
dibe-ritahukannya kepada mereka nama-nama mereka itu, Dia berfirman: “Bukankah
telah Aku katakan kepada kamu bahwa
sesungguhnya Aku mengetahui rahasia seluruh langit dan bumi
dan mengetahui apa pun yang kamu
nyatakan dan apa pun yang kamu sembunyikan?” (Al-Baqarah
[2]:34).
Ketika
para malaikat -- yang dalam hal ini melambangkan para pemuka
agama -- mengakui ketidakmampuan untuk menjelmakan
dalam diri mereka sendiri semua Sifat
Ilahi yang dapat diperagakan Adam
a.s., maka Adam a.s. de-ngan patuh
kepada kehendak Ilahi menjelmakan
berbagai kemampuan thabi’i (alami) yang telah tertanam dalam dirinya dan menampakkan
kepada para malaikat pekerti (akhlak
dan ruhani) mereka yang luas.
Jadi, diciptakan-Nya Adam sebagai Khalifah Allah
membuktikan perlunya penciptaan suatu wujud yang mendapat kemampuan
dari Allah Swt. untuk berkehendak sehingga ia dapat dengan kehendak sendiri memilih jalan kebaikan, dan karena itu dapat menampakkan kemuliaan
serta keagungan Ilahi.
Selanjutnya Dia berfirman:
Dan ingatlah
ketika Kami berfirman kepada para malaikat: اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا
اِلَّاۤ اِبۡلِیۡسَ -- “Sujudlah
yakni tunduk-patuhlah kamu kepada Adam”
lalu mereka sujud kecuali iblis, ia menolak
dan takabur, dan ia
termasuk dari antara orang-orang
yang kafir. (Al-Baqarah [2]:35).
Setelah Adam a.s. menjadi
cerminan Sifat-sifat Allah Swt. dan
sudah mencapai pangkat nabi, Dia
memerintahkan para malaikat untuk mengkhidmatinya. Ungkapan dalam bahasa
Arab usjudu tidak berarti “Sujudlah
di hadapan Adam” sebab Al-Quran tegas melarang
bersujud di hadapan sesuatu selain Allah Swt. (QS.41:38), dan perintah semacam itu tidak mungkin diberikan kepada para malaikat. Perintah itu berarti “bersujudlah di hadapan-Ku sebagai tanda
bersyukur karena Aku telah menjadikan Adam.”
Illa
(kecuali) dipakai untuk memberi arti “kekecualian.”
Dalam bahasa Arab istitsna (kekecualian) ada dua macam:
(1) Istitsna muttashil
artinya kekecualian pada saat sesuatu yang dikecualikan
itu termasuk golongan atau jenis yang sama dengan golongan atau jenis yang darinya hendak dibuat kekecualian itu;
(2) Istitsna munqathi, yaitu kekecualian pada saat sesuatu yang dikecualikan itu termasuk golongan atau jenis lain. Dalam ayat ini kata illa menunjuk kepada
kekecualian terakhir karena iblis
bukan dari golongan malaikat.
Iblis yang Membangkang kepada
Adam Adalah Manusia
Kata iblis berasal dari ablasa,
yang berarti: (1) kebaikan dan kebajikannya berkurang; (2) ia sudah melepaskan
harapan atau jadi putus asa akan kasih-sayang Allah Swt. (3) telah patah semangat; (4) telah bingung
dan tidak mampu melihat jalannya; dan (5) ia tertahan dari mencapai harapannya.
Jadi, berdasarkan akar-katanya arti kata iblis
itu adalah suatu wujud yang sedikit sekali memiliki kebaikan tetapi banyak kejahatan, dan disebabkan oleh rasa putus asa akan kasih-sayang
Allah Swt. oleh sikap pembangkangannya sendiri, maka ia
dibiarkan dalam kebingungan lagi pula
tidak mampu melihat jalannya.
Iblis seringkali
dianggap sama dengan syaitan, tetapi
dalam beberapa hal berlainan dari dia. Harus dipahami bahwa iblis itu bukan salah seorang dari para malaikat, sebab ia di sini dilukiskan
sebagai tidak patuh kepada Allah
Swt., sedangkan para malaikat dilukiskan sebagai senantiasa “tunduk” dan “patuh” (QS.66:7).
Allah telah murka kepada iblis karena
ia pun diperintahkan mengkhidmati
Adam a.s. tetapi iblis membangkang (QS.7:13). Tambahan
pula, sekalipun jika tiada perintah
tersendiri bagi iblis, perintah
kepada para malaikat harus dianggap meliputi semua wujud, sebab perintah kepada para malaikat — sebagai penjaga berbagai bagian alam
semesta — dengan sendirinya mencakup
juga semua wujud.
Dari kisah kaum-kaum
purbakala dalam Al-Quran yang
mendustakan para rasul Allah yang
dibangkitkan dari kalangan mereka mulai dari
kaum Nabi Nuh a.s. sampai
dengan kaum Nabi Besar Muhammad saw.
dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan iblis -- yang disebut
berasal dari golongan jin -- adalah
para pemuka kaum yang memimpin
pendustaan dan penentang terhadap para rasul Allah, bukan golongan makhluk halus sebagaimana umumnya
dipercayai.
Seperti dinyatakan di atas, iblis
sesungguhnya nama sifat yang
diberikan atas dasar arti akar kata
itu (ablasa) kepada ruh jahat yang bertolak belakang dari sifat malaikat. Diberi nama demikian karena ia mempunyai sifat-sifat buruk seperti dirinci di
atas, terutama bahwa ia – karena ketakaburannya
dan kedengkiannya -- sama sekali
luput dari kebaikan dan telah dibiarkan kebingungan dalam langkahnya dan hilang harapan akan kasih-sayang Allah Swt..
Bahwa iblis bukanlah syaitan
— yang disebut dalam QS.2:37 — jelas dari ke-nyataan bahwa Al-Quran menyebut kedua nama itu berdampingan, kapan saja
riwayat Adam a.s. dituturkan.
Tetapi di mana-mana dilakukan pemisahan
yang cermat antara keduanya itu, yaitu kapan saja Al-Quran membicarakan makhluk yang — berbeda dari para malaikat — menolak berbakti (sujud) kepada Adam
a.s. maka senantiasa Al-Quran menyebutnya
dengan nama iblis, tetapi bila Al-Quran membicarakan wujud yang menipu Adam a.s. dalam jannah
(kebun) dan menjadi sebab Adam a.s.
diperintahkan keluar atau hijrah sementara dari “kebun” maka Al-Quran menyebutnya dengan
nama syaitan.
Perbedaan ini sangat besar
artinya dan tetap dipertahankan dalam Al-Quran
-- sedikitnya pada sepuluh tempat (QS.2:35, 37; QS.7:12, 21; QS.15:32;
QS.17:62; QS.18:51; QS.20:117, 121; QS.38:75) — jelas memperlihatkan bahwa iblis
berbeda dari syaitan yang menipu Adam a.s. dan
merupakan salah seorang dari kaum Nabi Adam a.s. sendiri,
yang disebut dari golongan jin
(QS.18:51). Di tempat lain Al-Quran mengatakan bahwa iblis tergolong makhluk-makhluk Allah tersembunyi dan — berlainan dari para malaikat — mampu menaati
atau menentang Allah Swt. (QS.7:12-13).
Dengan kata lain dalam surah Al-Fatihah sebutan iblis
identik dengan maghdhūbi ‘alayhim (orang-orang yang dimurkai Allah – QS.1-7)
karena senantiasa menentang rasul Allah
yang diutus Allah Swt., (QS.7:12-19; QS.2:88-89), sedangkan “syaitan” identik dengan “dhāllīn (orang-orang yang sesat – QS.1-7),
karena mereka menyesatkan
orang-orang dari Tauhid Ilahi dengan iming-iming kehidupan duniawi (QS.18:5-9; QS,7:170; QS.7:20-23), yang di Akhir Zaman ini disebut fitnah Dajjal – si pendusta besar yang matanya
buta sebelah (QS.31:34) yakni Ya’juj dan
Ma’juj (QS.21:97) atau khannas (QS.114:5-7).
Jadi, kembali
kepada hadits qudsi yang dikemukakan
di bagian awal Bab ini, Allah Swt. befirman:
“Aku adalah kanzun
makhfiy (khazanah tersembunyi) dan ingin dikenal maka
Aku menciptakan Adam.”
Bahwa yang dimaksud dengan “Adam” dalam hadits qudsi
tersebut adalah nabi Allah (rasul Allah), karena wujud-wujud suci yang diutus Allah Swt. tersebut merupakan para Khalifah (wakil) Allah
(QS.2:31), sebab melalui para nabi Allah itulah Allah Swt. di setiap
zaman kenabian (kerasulan)
memperkenalkan “Wujud-Nya” – yakni membukakan rahasia-rahasia
gaib-Nya (QS.2:31-34; QS.3:180; QS.72:27-29) -- dan proses “memperkenalkan diri” Allah
Swt. tersebut mencapai puncak kesempurnaannya melalui pengutusan Nabi
Besar Muhammad saw. berupa pewahyuan agama Islam (Al-Quran) yang merupakan agama (kitab suci) terakhir
dan tersempurna (QS.5:4; QS.15:10).
(Bersambung)
ooo
Rujukan: The
Holy Quran
Editor : Malik
Ghulam Farid
Pajajaran Anyar, 19 Juni 2018