Minggu, 17 Juni 2018

Hubungan Kisah Monumental "Adam-Malaikat-Iblis" Dengan Pengutusan Nabi Besar Muhammad Saw. Sebagai "Khaataman-Nabiyyiin"

                                                                   
Bismillaahirrahmaanirrahiim

KHAZANAH  AL-QURAN  

Bab 24

  HUBUNGAN KISAH MONUMENTAL “ADAM-MALAIKAT-IBLIS” DENGAN  PENGUTUSAN NABI BESAR MUHAMMAD SAW.  SEBAGAI KHÂTAMAN NABIYYÎN

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

وَ یَوۡمَ نَبۡعَثُ فِیۡ کُلِّ اُمَّۃٍ شَہِیۡدًا عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ جِئۡنَا بِکَ شَہِیۡدًا عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ ؕ وَ نَزَّلۡنَا عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ تِبۡیَانًا  لِّکُلِّ شَیۡءٍ  وَّ  ہُدًی  وَّ  رَحۡمَۃً   وَّ  بُشۡرٰی  لِلۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah hari itu ketika Kami akan membangkitkan dalam setiap umat seorang saksi terhadap mereka dari antara mereka sendiri, dan Kami akan mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka semuanya. Dan  Kami  telah menurunkan kepada engkau Kitab itu untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk, rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri kepada Allah.   (An-Nahl [16]:90).

         Untuk mengingatkan kembali kepada pokok (inti) pembahasan dalam Blog ini, penulis menampilkan lagi Bab I dalam Blog ini berkenaan “Khalifah Allah” yang hakiki, yakni Nabi Besar Muhammad saw., walau pun rujukannya adalah “Adam” yang dirujuk dalam QS.7:27-28 & 32 yang umumnya dianggap sebagai “bapak umat manusia” atau “leluhur umat manusia”, sebab ada penafsiran lain berkenaan dengan makna  Adam” yang tercantum dalam kisah monumental “Adam-Malaikat-Iblis” yang dicantumkan di dalam berbagai Surah  Al-Quran (QQ.2:31-40 ;QS.7:12-26; QS.15:27-45; QS.17:62-66; QS.18:51-52; QS.20:117-124; QS.38:72-86).
       Dalam sebuah Hadits Qudsi -- yang sering dikutip para ahli tashawuf -- Allah Swt. berfirman mengeni tujuan iciptakan-Nya makhluk atau dicipatakan-Nya Adam:
Aku adakah kanzun makhfiy (khazanah tersembunyi). Aku rindu untuk dikenal, karena itu Aku menciptakan makhluk supaya Aku diketahui.”
Rujukan yang lain berbunyi:
Aku adalah kanzun makhfiy   (khazanah tersembunyi) dan ingin dikenal maka Aku menciptakan Adam.”
            Ada pun yang dimaksud dengan “Adam” dalam hadits qudsi tersebut adalah  nabi Allah  (rasul Allah)  karena wujud-wujud suci  yang diutus Allah Swt. tersebut  merupakan para Khalifah (wakil) Allah (QS.2:31), sebab melalui para nabi Allah itulah Allah Swt. di setiap zaman kenabian (kerasulan)  memperkenalkan “Wujud-Nya” (QS.16:37) – yakni membukakan rahasia-rahasia gaib-Nya (QS.2:31-34; QS.3:180; QS.72:27-29) --  dan proses “memperkenalkan diri” Allah Swt. tersebut mencapai puncak kesempurnaannya berupa pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. berupa pewahyuan agama Islam (Al-Quran)  yang merupakan agama (kitab suci) terakhir dan tersempurna (QS.5:4; QS.15:10). Dan inilah makna hakiki dari diajarkannya “semua nama (sifat)” Allah Swt. kepada Adam, firman-Nya:
"Dan  Dia mengajarkan kepada Adam  nama-nama itu semuanya   kemudian Dia mengemukakan mereka itu kepada para malaikat lalu Dia berfirman: “Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama mereka ini jika kamu memang   benar.” (Al-Baqarah:32).
        Dalam ayat selanjutnya para malaikat menyatakan ketidak-mampuan mereka untuk melakukan permintaan Allah Swt. tersebut (QS.2:33-35), dengan demikian jelaslah  bahwa betapa pentingnya kesinambungan pengutusan para “Khalifah Allah” atau para Rasul Allah tersebut  karena setiap umat memiliki ajal (batas-waktu) masing-masing --  termasuk Bani Israil dan Bani Isma’il (QS.3:35-37) – yang melalui Rasul Allah yang dijanjikan   tersebut Allah Swt.  mengajarkan khazanah-khazanah atau rahasia-rahasia terbaru dari Sifat-sifat-Nya (QS.3:180; QS.72:27-29)—termasuk di Akhir Zaman ini (QS.62:3-5) --   walau pun syariat dan kitab suci yang terakhir  dan tersempurna tetap agama  Islam dan Al-Quran (QS.5:4).

 Gelar Khātaman Nabiyyīn Nabi Besar Muhammad Saw. & Kisah Monumental “Adam – Malaikat – Iblis

          Itulah sebabnya Nabi Besar Muhammad saw.  – selain sebagai suri teladan terbaik (QS.33:22)  -- beliau  saw. pun mendapat gelar Khātaman Nabiyyīn, karena walau pun beliau saw. diutus di kalangan bangsa Arab (Bani Isma’il) tetapi misi kerasulan beliau saw. adalah untuk seluruh umat manusia dan berlaku sampai Hari Kiamat  (QS.7:159; QS.21:108;  QS.25:2; 34:29), firman-Nya:
مَا کَانَ مُحَمَّدٌ اَبَاۤ  اَحَدٍ مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ  النَّبِیّٖنَ ؕ وَ  کَانَ اللّٰہُ  بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Muhammad bukanlah bapak salah seorang laki-laki di antara laki  kamu, akan tetapi ia adalah Rasul Allah dan meterai sekalian nabi, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.  (Al-Ahzāb [33]:41).
        Jadi, betapa ruginya orang-orang yang  mendustakan  dan menentang  rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan dari kalangan Bani Adam a.s.  (QS.7:35-37)  -- terutama Nabi Besar Muhammad saw.   -- karena ia akan luput dari “makrifat Ilahi” terbaru yang diajarkan Allah Swt. kepada rasul Allah tersebut, sebagaimana diisyaratkan Al-Quran dalam kisah monumental “Adam – Malaikat – Iblis”, sehubungan dengan hal itu Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ  اِذۡ قَالَ رَبُّکَ لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اِنِّیۡ جَاعِلٌ فِی الۡاَرۡضِ خَلِیۡفَۃً ؕ قَالُوۡۤا اَتَجۡعَلُ فِیۡہَا مَنۡ یُّفۡسِدُ فِیۡہَا وَ یَسۡفِکُ الدِّمَآءَ ۚ وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ لَکَ ؕ قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Rabb (Tuhan) engkau berfirman  kepada para  malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi”, mereka berkata: “Apakah Engkau akan menjadikan di dalamnya yakni di bumi orang yang akan mem-buat kerusakan  di dalamnya dan akan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa  bertasbih dengan pujian Engkau  dan kami senantiasa men-sucikan  Engkau?” قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ --  Dia berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al-Baqarah [2]:31).
       Qāla adalah  perkataan  bahasa Arab yang lazim dan berarti  "ia berkata". Tetapi  kadang-kadang dipakai dalam arti kiasan bila yang dimaksudkannya bukan pernyataan kata kerja, melainkan  keadaan yang sesuai dengan arti kata kerja itu. Ungkapan, Imtala’a al-haudhu wa qāla qathni (Kolam itu menjadi penuh dan ia berkata: “Aku sudah penuh”) tidak berarti bahwa kolam itu benar-benar berkata demikian, hanya keadaannya mengandung arti bahwa kolam itu sudah penuh.
       Dengan demikian percakapan (dialog) antara Allah Swt.   dan para malaikat tidak perlu diartikan secara harfiah sebagai sungguh-sungguh telah terjadi – sebab Allah Swt. dalam melaksanakan kehendak-Nya tidak perlu memberitahukan atau meminta pertimbangan siapa pun --  dan seperti dinyatakan di atas, kata qāla   kadang-kadang dipakai dalam arti kiasan, untuk mengemukakan hal (keadaan) yang sebenarnya bukan suatu ungkapan lisan, melainkan hanya keadaan yang sama dengan ungkapan lisan. Maka ayat ini hanya berarti bahwa para malaikat itu dengan  keadaan   mereka  menyiratkan jawaban yang di sini dikaitkan kepada kata-kata yang diucapkan mereka.

Makna “Tanggapan” Para Malaikat & Sunnatullah Penentangan Terhadap Para Rasul Allah

       Malā’ikah (malaikat-malaikat) yang adalah jamak dari malak diserap dari malaka, yang berarti: ia mengendalikan, mengawasi; atau dari alaka, artinya  ia mengirimkan. Para malaikat disebut demikian sebab mereka mengendalikan kekuatan-kekuatan alam atau mereka membawa wahyu Ilahi kepada utusan-utusan Allah dan pembaharu-pembaharu samawi (QS.2:2:98-100; QS.26:193-197; QS.35:2; QS.42:52-54).
      Dengan demikian dalam ayat tersebut tanggapan para malaikat bukan mengemukakan keberatan terhadap rencana Ilahi,  atau  mereka    mengaku diri mereka lebih unggul daripada  Khalifah Allah   -- yakni Adam a.s..    “Pertanyaan” atau “keberatan”  mereka didorong oleh     pengumuman Allah Swt.   mengenai rencana-Nya untuk mengangkat seorang khalifah-Nya  (wakil-Nya)  di muka bumi, yakni rasul Allah.
       Keberadaan atau pengutusan wujud khalifah (rasul Allah) tersebut diperlukan bila tertib harus ditegakkan dan hukum harus dilaksanakan (QS.14:49-53). Ada pun “keberatan semu”  yang dikemukakan para malaikat hanya menyiratkan bahwa  -- sesuai dengan Sunnah Ilahi berkenaan pengutusan rasul Allah di kalangan Bani Adam (QS.7:35-37) di berbagai zaman    -- selalu akan ada orang-orang di bumi yang akan membuat kerusakan  dan menumpahkan darah karena kedengkian mereka kepada Khalifah Allah (rasul Allah) tersebut, yang digambarkan sebagai iblis.
       Sunnatullah penentang tersebut terjadi karena manusia dianugerahi kekuatan-kekuatan besar untuk berbuat baik dan jahat, dan dalam ayat tersebut  para malaikat menyebut segi gelap tabiat manusia tersebut. Tetapi Allah Swt.   mengetahui bahwa manusia   -- melalui adanya penentangan tersebut  -- dapat mencapai tingkat akhlak yang sangat tinggi, sehingga ia dapat menjadi cermin (bayangan) Sifat-sifat Ilahi. Jawaban Allah Swt. terhadap “tanggapan” para malaikat:  اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ  -- "Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui"  menyebutkan segi terang tabiat manusia.

Makna Tasbih Kepada Allah Swt.

        Dengan demikian jelaslah bahwa pertanyaan atau tanggapan para malaikat  dalam ayat tersebut bukan sebagai celaan terhadap perbuatan Allah Swt.  – sebab  hal tersebut mustahil dilakukan oleh para malaikat (QS.16:50-51; QS.66:7)  melainkan makna sekedar mencari ilmu (makrifat) yang lebih tinggi mengenai sifat dan hikmah  penciptaan    khalifah  tersebut.
         Makna  nusabbihu berkenaan dengan perkataan para malaikat:   وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ لَکَ --   “padahal kami senantiasa  bertasbih dengan pujian Engkau  dan kami senantiasa mensucikan  Engkau?”  Sementara tasbih dipakai bertalian dengan  penyanjungan kesucian Sifat-sifat Allah Swt. maka taqdis dipergunakan mengenai penyanjungan kesucian tindakan-tindakan-Nya. Artinya bahwa semua  Sifat dan perbuatan Allah Swt.    sama sekali suci dari adanya  cela mau pun cacat (kelemahan), firman-Nya:
سَبَّحَ  لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾  لَہٗ  مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ یُحۡیٖ وَ یُمِیۡتُ ۚ وَ ہُوَ  عَلٰی کُلِّ  شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ     ہُوَ الۡاَوَّلُ وَ الۡاٰخِرُ وَ الظَّاہِرُ وَ الۡبَاطِنُ ۚ  وَ ہُوَ   بِکُلِّ  شَیۡءٍ عَلِیۡم 
Menyanjung kesucian Allah apa pun yang ada di seluruh langit dan bumi, dan Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana.          Kepunyaan-Nya kerajaan seluruh langit dan bumi, Dia menghidupkan dan  Dia mematikan,  dan Dia berkuasa atas segala sesuatuDia-lah Yang Awal dan Yang Akhir  serta Yang Nyata  dan Yang Tersembunyi, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.  (Al-Hadid [57]:2-4).  
       Makna  kata sabbaha  --  lihat pula QS.17:45;  QS.24:42; QS.61:2; QS.62:2; QS.64:2.  --  dalam ayat:  سَبَّحَ  لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- “Menyanjung kesucian Allah apa pun yang ada di seluruh langit dan bumi”,  ungkapan:      Sabbaha fī hawā’ijihi artinya:  ia menyibukkan diri dalam mencari nafkah, atau sibuk dalam urusannya.
     Sabh berarti: mengerjakan pekerjaan, atau mengerjakannya dengan usaha sekeras-kerasnya serta secepat-cepatnya, dan ungkapan subhānallāh me-nyatakan kecepatan pergi berlindung kepada Allah Swt. dan kesigapan melayani dan menaati perintah-Nya.
         Contohnya mengenai Nabi Besar Muhammad saw. Allah Swt. berfirman: اِنَّ  لَکَ فِی النَّہَارِ سَبۡحًا طَوِیۡلًا ؕ    -- Sesungguhnya engkau di waktu siang memiliki kesibukan yang panjang.  (Al-Muzzammil [73]:8).     Isyarat dalam kalimat  سَبۡحًا طَوِیۡلًا   tertuju kepada aneka ragam kewajiban Nabi Besar Muhammad saw.  yang dilaksanakan oleh beliau saw. dengan rela dan gembira,  dan yang dalam melaksanakannya hati beliau saw. merasa amat senang sekali, inilah makna kata sabhan (Lexicon Lane).
      Mengingat akan arti dasar kata sabh maka masdar isim (kata benda infinitif) tasbih dari sabbaha artinya  menyatakan bahwa Allah Swt. itu  jauh dari segala kekurangan atau aib, atau artinya  cepat-cepat memohon bantuan ke hadirat Allah dan sigap dalam menaati Dia sambil mengatakan Subhānallāh (Lexicon Lane).
      Oleh karena itu ayat tersebut  berarti, bahwa segala sesuatu di alam semesta sedang melakukan tugasnya masing-masing dengan cermat dan teratur, dan dengan memanfaatkan kemampuan-kemampuan serta kekuatan-kekuatan yang dilimpahkan Allah Swt. kepadanya, mereka memenuhi tujuan ia diciptakan dengan cara yang sangat ajaib,  sehingga kita  mau tidak mau  harus mengambil kesimpulan bahwa Sang Perencana dan Arsitek alam semesta ini  --  yakni Allah Swt.  --  sungguh Maha Kuasa dan Maha Bijaksana, dan bahwa  alam semesta secara keseluruhan dan tiap-tiap makhluk secara individu serta dalam batas kemampuannya masing-masing, memberi kesaksian mengenai kebenaran yang tidak dapat dipungkiri, bahwa alam semesta  karya Allah Swt. itu mutlak bebas dari setiap kekurangan, aib atau ketidaksempurnaan dalam segala seginya yang beraneka ragam dan banyak itu.

Makrifat Ilahi Para Malaikat Terbatas & Makna Pengajaran  “Al-Asmā


         Jadi, itulah  maksud kata tasbih yang dikemukakan para malaikat dalam ayat: وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ لَکَ --   “padahal kami senantiasa  bertasbih dengan pujian Engkau  dan kami senantiasa mensucikan  Engkau?”   Walau pun demikian Allah Swt. menjawab pernyataan para malaikat tersebut:  اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ  -- "Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
      Yakni ada hal lainnya yang tidak diketahui para malaikat dengan keberadaan Khalifah Allah (Rasul Allah) dan munculnya para penentangnya  --  yang  karena kedengkian  mereka -- sehingga terjadi kerusakan dan tertumpahnya darah di kalangan orang-orang yang beriman kepada Khalifah Allah (rasul Allah), sebagaimana disebutkan para malaikat: قَالُوۡۤا اَتَجۡعَلُ فِیۡہَا مَنۡ یُّفۡسِدُ فِیۡہَا وَ یَسۡفِکُ الدِّمَآءَ -- “mereka berkata: “Apakah Engkau akan menjadikan di dalamnya yakni di bumi orang yang akan membuat kerusakan  di dalamnya dan akan menumpahkan darah” (QS.3:31).
         Dalam ayat selanjutnya Allah Swt. membuktikan kebenaran firman-Nya:  اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ  -- "Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui",  Dia berfirman:

وَ عَلَّمَ اٰدَمَ الۡاَسۡمَآءَ کُلَّہَا ثُمَّ عَرَضَہُمۡ عَلَی الۡمَلٰٓئِکَۃِ ۙ فَقَالَ اَنۡۢبِـُٔوۡنِیۡ بِاَسۡمَآءِ ہٰۤؤُلَآءِ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾
Dan  Dia mengajarkan kepada Adam  nama-nama itu semuanya   kemudian Dia mengemukakan mereka itu kepada para malaikat lalu Dia berfirman: “Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama mereka ini jika kamu memang   benar.” (Al-Baqarah [2]:32).
        Kata “semua” dalam ayat:  وَ عَلَّمَ اٰدَمَ الۡاَسۡمَآءَ کُلَّہَا --  “Dan  Dia mengajarkan kepada Adam  nama-nama itu semuanya ”  tidak meliputi keseluruhan secara mutlak. Kata itu hanya berarti  semua yang perlu. Al-Quran memakai kata itu dalam arti ini juga di tempat lain (QS.6:45; QS.27:17, 24; QS.28:58).   Asmā itu jamak dari ism yang berarti: nama atau sifat; ciri atau tanda sesuatu (Lexicon Lane dan Mufradat).
         Para ahli tafsir berbeda paham mengenai apa yang dimaksudkan dengan kata asmā (nama-nama) di sini. Sebagian menyangka bahwa Allah Swt.   mengajar Adam  a.s.  nama berbagai barang dan benda, yaitu Dia  mengajar beliau dasar-dasar bahasa. Tidak diragukan bahwa orang memerlukan bahasa untuk menjadi beradab  dan guna mengemukakan pikiran dan isi hati serta perasaannya; dan Allah Swt   tentu telah mengajari Adam a.s. dasar-dasarnya.
     Tetapi Al-Quran menunjukkan bahwa ada asmā (nama atau sifat) yang harus dipelajari manusia untuk penyempurnaan akhlaknya melalui peribadahan (QS.51:57), yaitu mengetahui  Sifat-sifat Allah Swt. (makrifat Ilahi), terutama mengetahui  Sifat-sifat Tasybihiyyah Allah Swt. yang sampai batas tertentu dapat dimiliki atau ditiru oleh makhluk-Nya, terutama oleh  manusia.
         Untuk tujuan memperagakan Sifat-sifat Allah Swt. tersebut itulah Allah Swt. telah memberikan “potensi” (kemampuan)  tersebut kepada manusia (QS.7:173-175; QS.30:31-33; QS.76:1-4; QS.95:5), itulah sebabnya Allah Swt. telah menetapkan tujuan utama penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah Swt. (QS.1:5; QS.2:22-23; QS.51:57), yang tidak dapat dilakukan oleh makhluk lainnya  -- termasuk para malaikat  sebab para malaikat  merupakan instrument  Allah Swt. dalam melaksanakan berbagai Kehendak-Nya (QS.35:2-3).
          Nama-nama atau Sifat-sifat Allah Swt.  tersebut  disinggung dalam berbagai surah Al-Quran. Kenyataan tersebut  menunjukkan bahwa orang tidak dapat meraih makrifat Ilahi tanpa memiliki tanggapan dan pengertian yang tepat mengenai sifat-sifat Allah Swt. (makrifat Ilahi),  dan bahwa sifat-sifat-Nya itu hanya dapat diajarkan oleh Dia Sendiri, karena itu sangat perlu bahwa Allah Swt.   mula-mula memberi Adam (Khalifah Allah) ilmu (pengetahuan) tentang sifat-sifat-Nya supaya ia mengetahui dan mengenal-Nya  serta  mencapai kedekatan kepada-Nya  dan jangan melantur jauh dari Dia.

Pembukaan Rahasia Gaib Allah Swt. Kepada Para Rasul-Nya

      Pengajaran  Allah Swt. secara khusus kepada Adam (Khalifah Allah) mengenai Al-Asmā-Nya tersebut sesuai dengan firman-Nya berikut ini:
عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾  اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ  بَیۡنِ یَدَیۡہِ  وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾  لِّیَعۡلَمَ  اَنۡ  قَدۡ  اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ  شَیۡءٍ عَدَدًا
Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan  rahasia gaib-Nya kepada siapa pun, kecuali kepada Rasul yang Dia ridhai, maka sesungguhnya baris-an pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya,  supaya Dia mengetahui bahwa  sungguh  mereka telah menyampaikan Amanat-amanat Rabb (Tuhan) mereka, dan Dia meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala sesuatu. (Al-Jin [72]:27-29).
       Ungkapan, “izhhar ‘ala al-ghaib,” berarti, diberi pengetahuan dengan sering dan secara berlimpah-limpah mengenai rahasia gaib bertalian dengan dan mengenai peristiwa dan kejadian yang sangat penting.  Ayat ini merupakan ukuran yang tiada tara bandingannya guna membedakan antara sifat dan jangkauan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan Alllah Swt. kepada seorang rasul Tuhan dan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada orang-orang mukmin bertakwa lainnya.
      Perbedaan itu letaknya pada kenyataan bahwa, kalau rasul-rasul Tuhan dianugerahi izhhar ‘ala al-ghaib  -- penguasaan atas yang gaib  -- maka rahasia-rahasia yang diturunkan kepada orang-orang bertakwa dan orang-orang suci lainnya tidak menikmati kehormatan serupa itu.
       Tambahan pula wahyu Ilahi yang dianugerahkan kepada rasul-rasul Tuhan, karena ada dalam pemeliharaan-istimewa-Ilahi, keadaannya aman dari pemutar-balikkan atau pemalsuan oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada orang-orang  bertakwa  lainnya tidak begitu terpelihara. Itulah salah satu makna ayat: فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ  بَیۡنِ یَدَیۡہِ  وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا  -- “maka sesungguhnya barisan pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya,  supaya Dia mengetahui bahwa  sungguh  mereka telah menyampaikan Amanat-amanat Rabb (Tuhan) mereka”.

Berbagai Sifat Tasybihiyah dan Tanzihiyyah Allah Swt.

        Berikut adalah   firman-Nya dalam berbagai surah Al-Quran mengenai Sifat-sifat-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿۱﴾  اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ     ۙ﴿۲﴾ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿۳﴾ مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ ؕؕ﴿۴﴾ اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ  ﴿۵﴾ اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ ﴿۶﴾ صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۙ۬ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪
Aku baca dengan  nama  Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Segala puji hanya bagi  Allah, Rabb  (Tuham Pencipta dan Pemelihara)   seluruh alam,  Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Pemilik Hari   Pembalasan.    Hanya Engkau-lah Yang kami sembah dan  hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan.  Tunjukilah kami   jalan yang lurus,   yaitu jalan  orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan mereka  yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka  yang sesat. (Al-Fatihah [1]:1-7).
Firman-Nya lagi: 
"Dan milik Allah-lah nama-nama yang terbaik,  maka serulah Dia dengan nama-nama itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang  dalam  memahami nama-nama-Nya, mereka segera akan mendapat balasan terhadap apa yang senantiasa mereka kerjakan. Dan di antara manusia yang telah Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan haq dan dengan itu pula mereka menegakkan keadilan." (Al-Arāf [7]:181-182).
       Nama Tuhan ialah Allah, semua sebutan lainnya sebenarnya adalah hanya Sifat-sifat-Nya. Pada waktu berdoa kita harus memanggil Sifat-sifat Allah Swt.  yang langsung berkaitan dengan maksud doa itu.  Menyimpang dari jalan yang benar berkenaan dengan Sifat-sifat Allah Swt. dalam ayat:   “dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang  dalam  memahami nama-nama-Nya,”  dapat diartikan bahwa oleh karena Allah Swt.  adalah  Pemilik segala Sifat terbaik (Al-Asmā-ul-Husna) yang tersebut dalam Al-Quran dan Hadits, maka tidak perlu memberikan kepada-Nya sifat-sifat lain yang tidak sesuai dengan Keagungan-Nya, Kehormatan-Nya, dan Kasih-Sayang-Nya yang meliputi segala sesuatu, seperti mengatakan bahwa  -- na’udzubillāh --    Allah Swt. memiliki anak dan istri  atau sekutu dalam Ketuhanan-Nya  (QS.114:1-5), firman-Nya:
قُلِ ادۡعُوا اللّٰہَ  اَوِ ادۡعُوا الرَّحۡمٰنَ ؕ اَیًّامَّا تَدۡعُوۡا فَلَہُ  الۡاَسۡمَآءُ  الۡحُسۡنٰی ۚ وَ لَا تَجۡہَرۡ بِصَلَاتِکَ وَ لَا تُخَافِتۡ بِہَا وَ ابۡتَغِ  بَیۡنَ  ذٰلِکَ  سَبِیۡلًا  وَ قُلِ الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡ لَمۡ  یَتَّخِذۡ وَلَدًا وَّ لَمۡ  یَکُنۡ لَّہٗ  شَرِیۡکٌ فِی الۡمُلۡکِ  وَ لَمۡ یَکُنۡ لَّہٗ  وَلِیٌّ  مِّنَ الذُّلِّ وَ کَبِّرۡہُ  تَکۡبِیۡرًا 
Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahmān (Yang Maha Pemurah), dengan nama apa saja kamu berseru kepada Dia  milik-Nya semua nama yang terbaik. Dan janganlah kamu mengucapkan doa-doamu keras-keras  dan jangan pula kamu mengucapkannya terlalu lemah  tetapi carilah jalan di antara itu.  Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah, Yang tidak memiliki anak  dan tidak ada sekutu bagi-Nya di kerajaan-Nya, dan tidak ada bagi-Nya penolong karena sesuatu kelemahan-Nya.” Dan sanjunglah keagungan-Nya dengan pengagungan yang sebesar-besarnya. (Bani Israil [17]:111-112).
       Mengenai Sifat Tanzihiyyah Allah Swt.  – yakni Sifat-sifat yang khusus dimiliki Allah Swt.  – Dia berfirman: 
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾   قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ  ۚ﴿﴾  اَللّٰہُ  الصَّمَدُ ۚ﴿﴾   لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾  وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ ٪
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Katakanlah: Dia-lah  Allah    Yang Maha Esa.   Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya.   Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan,    dan tidak ada sesuatu pun yang setara   dengan-Nya.”(Al-Ikhlas [114]:1-5).
Firman-Nya lagi:
فَاسۡتَفۡتِہِمۡ  اَلِرَبِّکَ الۡبَنَاتُ وَ لَہُمُ الۡبَنُوۡنَ ﴿﴾ۙ   اَمۡ خَلَقۡنَا الۡمَلٰٓئِکَۃَ  اِنَاثًا  وَّ ہُمۡ شٰہِدُوۡنَ ﴿﴾   اَلَاۤ  اِنَّہُمۡ  مِّنۡ  اِفۡکِہِمۡ  لَیَقُوۡلُوۡنَ ﴿﴾ۙ  وَلَدَ اللّٰہُ ۙ وَ  اِنَّہُمۡ  لَکٰذِبُوۡنَ ﴿﴾  اَصۡطَفَی الۡبَنَاتِ عَلَی الۡبَنِیۡنَ ﴿﴾ؕ  مَا  لَکُمۡ ۟  کَیۡفَ تَحۡکُمُوۡنَ ﴿﴾  اَفَلَا  تَذَکَّرُوۡنَ ﴿﴾ۚ  اَمۡ  لَکُمۡ  سُلۡطٰنٌ  مُّبِیۡنٌ ﴿﴾ۙ  فَاۡتُوۡا بِکِتٰبِکُمۡ  اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾  وَ جَعَلُوۡا بَیۡنَہٗ  وَ بَیۡنَ الۡجِنَّۃِ  نَسَبًا ؕ وَ لَقَدۡ عَلِمَتِ الۡجِنَّۃُ  اِنَّہُمۡ لَمُحۡضَرُوۡنَ ﴿ سُبۡحٰنَ اللّٰہِ عَمَّا یَصِفُوۡنَ  
Sekarang tanyailah mereka: Apakah Rabb (Tuhan) kamu mempunyai anak perempuan, sedangkan untuk mereka anak laki-laki?”   Ataukah Kami menciptakan malaikat-malaikat itu perempuan, dan mereka menyaksikannya?   Ketahuilah,  sesungguhnya itu adalah kebohongan mereka dan  mereka benar-benar  berkata:  Allah beranak dan sesungguhnya mereka benar-benar pendusta.    Apakah Dia memilih anak-anak perempuan daripada anak-anak laki-laki?   Apakah yang terjadi atas diri kamu? Bagaimanakah kamu meng-ambil keputusan?   Apakah kamu tidak mengerti?   Ataukah pada kamu ada  bukti yang nyata?   Maka kemukakanlah Kitab kamu,  jika kamu adalah orang-orang benar.   Dan mereka mengada-ada hubungan keluarga di antara Dia dan jin,  dan sungguh jin-jin itu benar-benar mengetahui sesungguhnya mereka pasti akan dihadapkan kepada azab.  سُبۡحٰنَ اللّٰہِ عَمَّا یَصِفُوۡنَ  --  Maha Suci Allah dari segala apa yang mereka sifatkan. (Ash-Shāffāt [37]:150-160).    
        Dalam surah lainnya  Allah Swt. berfirman mengenai  berbagai macam sifat-sifat-Nya yang sempurna:
ہُوَ اللّٰہُ  الَّذِیۡ  لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ۚ عٰلِمُ الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ ۚ ہُوَ  الرَّحۡمٰنُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾  ہُوَ اللّٰہُ  الَّذِیۡ  لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ۚ اَلۡمَلِکُ الۡقُدُّوۡسُ السَّلٰمُ  الۡمُؤۡمِنُ الۡمُہَیۡمِنُ الۡعَزِیۡزُ  الۡجَبَّارُ  الۡمُتَکَبِّرُ ؕ سُبۡحٰنَ اللّٰہِ عَمَّا  یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾  ہُوَ اللّٰہُ  الۡخَالِقُ الۡبَارِئُ  الۡمُصَوِّرُ لَہُ الۡاَسۡمَآءُ  الۡحُسۡنٰی ؕ یُسَبِّحُ لَہٗ  مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ 
Dia-lah Allah, Yang tidak ada tuhan kecuali Dia,  Mengetahui yang gaib dan yang nampak, Dia Maha Pemurah, Maha Penyayang.     Dia-lah Allah Yang tidak ada tuhan kecuali Dia, Maha Berdaulat, Yang Maha Suci, Sumber segala kedamaian, Pelimpahan keamanan, Maha Pelindung, Maha Perkasa, Maha Penakluk, Maha Agung. Maha Suci Allah  dari apa yang mereka persekutukan.  Dia-lah Allah, Maha Pencipta, Pembuat segala sesuatu, Pemberi bentuk, لَہُ الۡاَسۡمَآءُ  الۡحُسۡنٰی --   milik Dia-lah semua nama yang terindah.  یُسَبِّحُ لَہٗ  مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ --  Bertasbih  kepada-Nya segala yang ada di seluruh langit dan bumi dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-Hasyr [59]:23-25).

Keunggulan Manusia Dibanding Para Malaikat

        Menurut Al-Quran, manusia berbeda dari para malaikat yaitu dalam hal bahwa  manusia dapat menjadi bayangan atau pantulan dari al-Asmā ul-husnā yaitu semua Sifat Allah Swt.  yang sempurna, sedang para malaikat hanya sedikit saja mencerminkan sifat-sifat itu.
     Ada pun sebabnya adalah karena para malaikat –   yang berfungsi sebagai instrumen pelaksana berbagai Kehendak Allah Swt.  – mereka tidak memiliki kehendak sendiri,  mereka secara pasif menjalankan tugas yang telah diserahkan kepadanya oleh Allah Yang Maha Kuasa (QS.66:7): وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ لَکَ --   “padahal kami senantiasa  bertasbih dengan pujian Engkau  dan kami senantiasa mensucikan  Engkau?” (QS.2:32).  Sebaliknya, manusia yang dianugerahi kemauan dan kebebasan memilih, berbeda dengan para malaikat dalam hal bahwa manusia mempunyai kemampuan yang menjadikan dia penjelmaan sempurna semua Sifat Ilahi.
      Pendek kata, makna ayat:   وَ عَلَّمَ اٰدَمَ الۡاَسۡمَآءَ کُلَّہَا ثُمَّ عَرَضَہُمۡ عَلَی الۡمَلٰٓئِکَۃِ – “Dan  Dia mengajarkan kepada Adam  nama-nama itu semuanya   kemudian Dia mengemukakan mereka itu kepada para malaikat“ (QS.2:32) menunjukkan bahwa  Allah Swt. mula-mula menanamkan pada Adam a.s. kemauan yang bebas dan kemampuan yang diperlukan untuk memahami berbagai Sifat Ilahi, dan kemudian memberikan ilmu (pengetahuan) mengenai sifat-sifat itu kepadanya.
      Asmā pun dapat berarti pula sifat-sifat berbagai benda alam. Karena manusia harus mempergunakan kekuatan-kekuatan alam  maka Allah Swt.   menganugerahkan kepadanya kemampuan dan kekuasaan untuk mengetahui sifat-sifat dan khasiat-khasiatnya guna menunjang  kehidupannya  yang sukses di dunia mau pun di akhirat (QS.2:202-203; QS.28:77-80).
     Kata pengganti hum (mereka): ثُمَّ عَرَضَہُمۡ عَلَی الۡمَلٰٓئِکَۃِ --  “kemudian Dia mengemukakan mereka itu kepada para malaikat”  menunjukkan bahwa apa-apa yang disebut di sini bukan benda-benda tidak-bernyawa, sebab dalam bahasa Arab kata pengganti dalam bentuk ini hanya dipakai untuk wujud-wujud berakal saja.
        Jadi arti ungkapan itu akan berarti bahwa Allah Swt. menganugerahkan kepada para malaikat kemampuan melihat siapa yang menonjol ketakwaannya dari antara keturunan Adam a.s. kelak yang akan menjadi penjelmaan sifat-sifat Ilahi yaitu para rasul Allah yang diutus setelah Nabi Adam a.s.  (QS.7:35-36).  
        Kemudian para malaikat ditanya apakah mereka sendiri dapat menjelmakan sifat-sifat Ilahi seperti mereka itu? Atas pertanyaan itu mereka menyatakan ketidakmampuan, itulah yang dimaksud dengan kata-kata “Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama ini” yang tercantum pada ayat ini:   فَقَالَ اَنۡۢبِـُٔوۡنِیۡ بِاَسۡمَآءِ ہٰۤؤُلَآءِ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ  --  lalu Dia berfirman: “Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama mereka ini jika kamu memang   benar.”  Terhadap tantangan Allah Swt. tersebut malaikat menjawab, firman-Nya:
قَالُوۡا سُبۡحٰنَکَ لَا عِلۡمَ لَنَاۤ اِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَا ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَلِیۡمُ الۡحَکِیۡمُ 
Mereka berkata: “Mahasuci Engkau, kami tidak  memiliki  pe-ngetahuan kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, se-sungguhnya Engkau benar-benar Ma-ha Mengetahui, Mahabijaksana.” (Al-Baqarah [2]:33). 
       Karena para malaikat menyadari batas-batas pembawaan alami mereka, mereka mengakui dengan terus-terang bahwa mereka tidak mampu mencerminkan (menjelmakan)  semua sifat Allah Swt.   seperti dicerminkan (dijelmakan) oleh manusia – dalam hal ini terutama para rasul Allah, khususnya Nabi Besar Muhammad saw. yang merupakan “Adam” yang Hakiki   --  artinya para malaikat hanya dapat mencerminkan sifat-sifat Ilahi yang untuk itu Allah Swt. — sesuai dengan kebijaksanaan-Nya yang kekal-abadi — telah menganugerahkan kepada mereka kekuatan mencerminkan.

Keunggulan Makrifat Ilahi yang Dimiliki Adam (Rasul Allah)

         Selanjutnya Allah Swt. menjelaskan keunggulan  makrifat Ilahi yang dimiliki Adam sehingga membukti kebenaran rencana-Nya yang dikemukakan kepada para maaikat (QS.2:31) mengenai pentingnya keberadaan  seorang Khalifah Allah (rasul Allah), yaitu  dalam upaya mewujudkan suatu  ketertiban hukum yang baru di kalangan umat manusia yang kalau-balau, firman-Nya:
قَالَ یٰۤاٰدَمُ اَنۡۢبِئۡہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ ۚ فَلَمَّاۤ اَنۡۢبَاَہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ ۙ قَالَ اَلَمۡ اَقُلۡ لَّکُمۡ اِنِّیۡۤ  اَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۙ وَ اَعۡلَمُ مَا تُبۡدُوۡنَ وَ مَا کُنۡتُمۡ تَکۡتُمُوۡنَ 
Dia berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah  kepada mereka nama-nama mereka itu”, maka tatkala dibe-ritahukannya kepada mereka nama-nama mereka itu, Dia berfirman: “Bukankah telah Aku katakan kepada kamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui  rahasia seluruh langit dan bumi  dan mengetahui apa pun yang kamu nyatakan dan apa pun yang    kamu sembunyikan?” (Al-Baqarah [2]:34). 
          Ketika para malaikat  -- yang dalam hal ini melambangkan para  pemuka agama  -- mengakui ketidakmampuan untuk menjelmakan dalam diri mereka sendiri semua Sifat Ilahi yang dapat diperagakan Adam a.s., maka Adam a.s. de-ngan patuh kepada kehendak Ilahi menjelmakan berbagai kemampuan thabi’i (alami) yang telah tertanam dalam dirinya dan menampakkan kepada para malaikat pekerti (akhlak dan ruhani) mereka yang luas.
      Jadi, diciptakan-Nya Adam sebagai Khalifah Allah membuktikan perlunya penciptaan suatu wujud yang mendapat kemampuan dari Allah Swt.   untuk berkehendak  sehingga ia dapat dengan kehendak sendiri memilih jalan kebaikan,  dan karena itu dapat menampakkan kemuliaan serta keagungan Ilahi. Selanjutnya  Dia berfirman:
وَ اِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ ؕ اَبٰی وَ اسۡتَکۡبَرَ ٭۫ وَ  کَانَ مِنَ الۡکٰفِرِیۡنَ 
Dan ingatlah  ketika Kami berfirman kepada para malaikat:  اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ -- “Sujudlah  yakni tunduk-patuhlah  kamu kepada  Adam” lalu mereka sujud kecuali iblis,  ia menolak dan takabur,  dan   ia  termasuk dari antara orang-orang yang  kafir. (Al-Baqarah [2]:35).
   Setelah Adam a.s. menjadi cerminan Sifat-sifat Allah Swt. dan sudah mencapai pangkat nabi, Dia memerintahkan para malaikat untuk mengkhidmatinya. Ungkapan dalam bahasa Arab usjudu tidak berarti “Sujudlah di hadapan Adam” sebab Al-Quran tegas melarang bersujud di hadapan sesuatu selain Allah Swt.   (QS.41:38), dan perintah semacam itu tidak mungkin diberikan kepada para malaikat. Perintah itu berarti “bersujudlah di hadapan-Ku sebagai tanda bersyukur karena Aku telah menjadikan Adam.”
        Illa (kecuali) dipakai untuk memberi arti “kekecualian.” Dalam bahasa Arab istitsna (kekecualian) ada dua macam:
        (1) Istitsna muttashil artinya kekecualian pada saat sesuatu yang dikecualikan itu termasuk golongan atau jenis yang sama dengan golongan atau jenis yang darinya hendak dibuat kekecualian itu;
          (2) Istitsna munqathi, yaitu  kekecualian pada saat sesuatu yang dikecualikan itu termasuk golongan atau jenis lain. Dalam ayat ini kata illa menunjuk kepada kekecualian terakhir karena iblis bukan dari golongan malaikat.

Iblis yang Membangkang kepada Adam Adalah Manusia

      Kata iblis berasal dari ablasa, yang berarti: (1) kebaikan dan kebajikannya berkurang; (2) ia sudah melepaskan harapan atau jadi putus asa akan kasih-sayang  Allah Swt.  (3) telah patah semangat; (4) telah bingung dan tidak mampu melihat jalannya; dan (5) ia tertahan dari mencapai harapannya.
        Jadi, berdasarkan akar-katanya  arti kata iblis itu adalah suatu wujud yang sedikit sekali memiliki kebaikan tetapi banyak kejahatan, dan disebabkan oleh rasa putus asa akan kasih-sayang Allah Swt.   oleh sikap pembangkangannya sendiri, maka ia dibiarkan dalam kebingungan lagi pula tidak mampu melihat jalannya.
     Iblis seringkali dianggap sama dengan syaitan, tetapi dalam beberapa hal berlainan dari dia. Harus dipahami bahwa iblis itu bukan salah seorang dari para malaikat, sebab ia di sini dilukiskan sebagai tidak patuh kepada Allah Swt., sedangkan para malaikat dilukiskan sebagai senantiasa “tunduk” dan “patuh” (QS.66:7). 
          Allah  telah murka kepada iblis karena ia pun diperintahkan mengkhidmati Adam a.s.  tetapi iblis membangkang (QS.7:13). Tambahan pula, sekalipun jika tiada perintah tersendiri bagi iblis, perintah kepada para malaikat harus dianggap meliputi semua wujud, sebab perintah kepada para malaikat — sebagai penjaga berbagai bagian alam semesta — dengan sendirinya mencakup juga semua wujud.
     Dari kisah  kaum-kaum purbakala  dalam Al-Quran yang mendustakan para rasul Allah yang dibangkitkan dari kalangan mereka mulai dari  kaum Nabi Nuh a.s. sampai dengan kaum Nabi Besar Muhammad saw. dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan iblis  -- yang disebut berasal dari golongan jin --  adalah  para pemuka kaum  yang memimpin  pendustaan dan penentang terhadap para rasul Allah, bukan  golongan makhluk halus sebagaimana umumnya dipercayai.
    Seperti dinyatakan di atas, iblis  sesungguhnya nama sifat yang diberikan atas dasar arti akar kata itu (ablasa)  kepada ruh jahat yang bertolak belakang dari sifat malaikat. Diberi nama demikian karena ia mempunyai sifat-sifat buruk seperti dirinci di atas, terutama bahwa ia – karena ketakaburannya dan kedengkiannya --  sama sekali  luput dari kebaikan dan telah dibiarkan kebingungan dalam langkahnya dan hilang harapan akan kasih-sayang Allah Swt..    
       Bahwa iblis bukanlah syaitan — yang disebut dalam QS.2:37 — jelas dari ke-nyataan bahwa Al-Quran menyebut kedua nama itu berdampingan, kapan saja riwayat Adam a.s.  dituturkan. Tetapi di mana-mana dilakukan pemisahan yang cermat antara keduanya itu, yaitu kapan saja Al-Quran membicarakan makhluk yang — berbeda dari para malaikat — menolak berbakti (sujud) kepada Adam a.s.   maka senantiasa Al-Quran menyebutnya dengan nama iblis, tetapi bila Al-Quran membicarakan wujud yang menipu Adam a.s. dalam jannah (kebun)  dan menjadi sebab Adam a.s. diperintahkan  keluar atau hijrah  sementara    dari “kebun” maka Al-Quran menyebutnya dengan nama  syaitan
    Perbedaan ini sangat   besar artinya dan tetap dipertahankan dalam Al-Quran  -- sedikitnya pada sepuluh tempat (QS.2:35, 37; QS.7:12, 21; QS.15:32; QS.17:62; QS.18:51; QS.20:117, 121; QS.38:75) — jelas memperlihatkan bahwa iblis   berbeda dari syaitan yang menipu Adam a.s. dan merupakan salah seorang dari kaum Nabi Adam a.s. sendiri, yang disebut dari golongan jin (QS.18:51). Di tempat lain Al-Quran mengatakan bahwa iblis tergolong makhluk-makhluk Allah tersembunyi dan — berlainan dari para malaikat — mampu menaati atau menentang Allah Swt.   (QS.7:12-13).
    Dengan kata lain dalam surah Al-Fatihah sebutan  iblis identik    dengan maghdhūbi ‘alayhim (orang-orang yang dimurkai Allah – QS.1-7) karena senantiasa menentang rasul Allah yang diutus Allah Swt., (QS.7:12-19; QS.2:88-89), sedangkan “syaitan” identik dengan “dhāllīn (orang-orang yang sesat – QS.1-7), karena  mereka  menyesatkan orang-orang dari Tauhid Ilahi  dengan iming-iming kehidupan duniawi  (QS.18:5-9; QS,7:170; QS.7:20-23), yang di Akhir Zaman ini disebut fitnah Dajjal – si pendusta besar yang matanya buta sebelah (QS.31:34) yakni Ya’juj dan Ma’juj  (QS.21:97) atau khannas (QS.114:5-7). 
          Jadi, kembali kepada hadits qudsi yang dikemukakan di bagian awal Bab ini, Allah Swt. befirman:
Aku adalah kanzun makhfiy   (khazanah tersembunyi) dan ingin dikenal maka Aku menciptakan Adam.”
Bahwa yang dimaksud dengan “Adam” dalam hadits qudsi tersebut adalah  nabi Allah  (rasul Allah),  karena wujud-wujud suci  yang diutus Allah Swt. tersebut  merupakan para Khalifah (wakil) Allah (QS.2:31), sebab melalui para nabi Allah itulah Allah Swt. di setiap zaman kenabian (kerasulan)  memperkenalkan “Wujud-Nya” – yakni membukakan rahasia-rahasia gaib-Nya (QS.2:31-34; QS.3:180; QS.72:27-29) --  dan proses “memperkenalkan diri” Allah Swt. tersebut mencapai puncak kesempurnaannya melalui pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. berupa pewahyuan agama Islam (Al-Quran)  yang merupakan agama (kitab suci) terakhir dan tersempurna (QS.5:4; QS.15:10). 

(Bersambung)
ooo

Rujukan: The Holy Quran
Editor    : Malik Ghulam Farid

Pajajaran Anyar,    19 Juni 2018