Bismillaahirrahmaanirrahiim
KHAZANAH AL-QURAN
Bab 32
MAKNA
MENGHORMATI PARA NABI
ALLAH DAN AGAMA-AGAMA YANG DIWAHYUKAN SEBELUM NABI
BESAR MUHAMMAD SAW. & PENTINGNYA
UMAT ISLAM MELINDUNGI SEMUA TEMPAT PERIBADAHAN AGAMA-AGAMA SELAIN ISLAM
Oleh
Ki
Langlang Buana Kusuma
وَ
یَوۡمَ نَبۡعَثُ فِیۡ کُلِّ اُمَّۃٍ شَہِیۡدًا عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ
جِئۡنَا بِکَ شَہِیۡدًا عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ ؕ وَ نَزَّلۡنَا عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ
تِبۡیَانًا لِّکُلِّ شَیۡءٍ وَّ
ہُدًی وَّ رَحۡمَۃً
وَّ بُشۡرٰی لِلۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah
hari itu ketika Kami akan membangkitkan dalam setiap umat seorang saksi
terhadap mereka dari antara mereka sendiri, dan Kami akan mendatangkan engkau
sebagai saksi terhadap mereka semuanya. Dan Kami telah menurunkan kepada engkau Kitab itu
untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk, rahmat serta kabar gembira bagi
orang-orang yang berserah diri kepada Allah.
(An-Nahl
[16]:90).
|
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan topic Harus
Menghormati Para Pendiri Agama-agama
Sebelum Islam sehubungan dengan firman-Nya:
اِنَّاۤ اَرۡسَلۡنٰکَ بِالۡحَقِّ
بَشِیۡرًا وَّ نَذِیۡرًا ؕ وَ اِنۡ
مِّنۡ اُمَّۃٍ اِلَّا خَلَا فِیۡہَا نَذِیۡرٌ ﴿﴾ وَ اِنۡ
یُّکَذِّبُوۡکَ فَقَدۡ کَذَّبَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ۚ جَآءَتۡہُمۡ رُسُلُہُمۡ بِالۡبَیِّنٰتِ وَ بِالزُّبُرِ وَ
بِالۡکِتٰبِ الۡمُنِیۡرِ ﴿﴾ ثُمَّ اَخَذۡتُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فَکَیۡفَ کَانَ
نَکِیۡرِ ﴿﴾
Sesungguhnya
Kami mengutus engkau dengan kebenaran
sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Dan tidak
ada sesuatu kaum pun melainkan telah
diutus kepada mereka seorang pemberi peringatan. Dan jika mereka mendustakan engkau maka sungguh orang-orang sebelum mereka pun
telah mendustakan, kepada mereka telah datang rasul-rasul mereka
dengan Tanda-tanda
yang jelas, dengan Kitab-kitab suci dan dengan Kitab yang menerangi. Kemudian Aku
tangkap orang-orang yang kafir maka bagaimana
mengerikannya penolakan terhadap-Ku! (Al Faathir [35]:25-27) Lihat pula
10:48; QS.13:8; QS.16:37.
Ayat وَ اِنۡ مِّنۡ
اُمَّۃٍ اِلَّا خَلَا فِیۡہَا
نَذِیۡرٌ
-- “Dan tidak
ada sesuatu kaum pun melainkan telah
diutus kepada mereka seorang pemberi peringatan“, ayat ini menyingkapkan
tabir kebenaran agung yang tersembunyi
dari dunia sebelum Al-Quran
diwahyukan, yaitu bahwa kepada tiap-tiap
kaum di zaman lampau pernah diutus seorang rasul Allah, yang menyampaikan kepada mereka seruan kebenaran dan ajakan kepada ketakwaan yang serupa (QS.10:48;
QS.13:8; QS.16:37).
Semua Agama Samawi (Langit) Bersumber Dari Allah Swt.
Asas yang besar lagi mulia itu membawa kepada
kepercayaan, bahwa semua agama berasal dari Allah Swt. dan bahwa pendiri-pendiri
agama itu adalah rasul-rasul Allah.
Inilah salah satu dari Rukun Iman, yang wajib dipegang oleh tiap-tiap
orang Muslim dan karenanya harus menghormati serta memuliakan mereka itu semuanya.
Dengan memberikan kepada dunia kebenaran yang agung itu maka Islam telah mengusahakan menciptakan iklim persahabatan dan harga-menghargai di antara berbagai agama, dan menghilangkan serta membasmi
dendam kesumat dan ketegangan, yang telah meracuni perhubungan antara pengikut-pengikut berbagai agama di seluruh dunia, firman-Nya: لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ اَحَدٍ مِّنۡہُمۡ ۫
وَ نَحۡنُ لَہٗ مُسۡلِمُوۡنَ -- “Kami tidak membedakan-bedakan salah seorang pun di antara mereka, dan kepada-Nya
kami berserah diri.” (Ali ‘Imran [3]:85).
Kata-kata “kami
tidak membeda-bedakan” dalam
ayat itu tidak berarti bahwa tiada perbedaan pangkat atau kedudukan antara berbagai nabi Allah itu, karena pandangan itu bertentangan dengan QS.2:254 yang menjelaskan
ada perbedaan mengenai kelebihan
setiap rasul Allah. Dari Al-Quran
diketahui secara umum para rasul Allah
ada 2 golongan yakni:
(1)
rasul Allah yang membawa
syariat, contohnya Nabi Musa a.s. dan Nabi Besar Muhammad saw..
(2) rasul
Allah yang tidak membawa syariat, contohnya Nabi Harun a.s. sampai dengan Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. (QS.2:89; QS.5:47; QS.57:28).
Dari hadits shahih diketahui, bahwa menurut Nabi Besar Muhammad saw. Allah Swt. telah membangkitkan sebanyak 124.000 orang nabi (rasul) Allah, dan
313 orang diantaranya adalah nabi
(rasul) pembawa syariat. Jadi, tidak
benar pendapat yang mengatakan bahwa
setiap nabi (rasul) Allah
pasti membawa syariat, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنَا
مُوۡسَی الۡکِتٰبَ وَ قَفَّیۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ بِالرُّسُلِ ۫ وَ اٰتَیۡنَا
عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ الۡبَیِّنٰتِ وَ اَیَّدۡنٰہُ بِرُوۡحِ الۡقُدُسِ ؕ
اَفَکُلَّمَا جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌۢ بِمَا لَا تَہۡوٰۤی اَنۡفُسُکُمُ
اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ۚ فَفَرِیۡقًا
کَذَّبۡتُمۡ ۫ وَ فَرِیۡقًا تَقۡتُلُوۡنَ
﴿﴾وَ قَالُوۡا قُلُوۡبُنَا غُلۡفٌ ؕ بَلۡ لَّعَنَہُمُ اللّٰہُ بِکُفۡرِہِمۡ فَقَلِیۡلًا مَّا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾وَ لَمَّا
جَآءَہُمۡ کِتٰبٌ مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَہُمۡ ۙ وَ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ یَسۡتَفۡتِحُوۡنَ
عَلَی الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ۚۖ فَلَمَّا جَآءَہُمۡ مَّا عَرَفُوۡا کَفَرُوۡا بِہٖ
۫ فَلَعۡنَۃُ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan sungguh
Kami benar-benar telah memberikan Alkitab kepada Musa dan Kami mengikutkan rasul-rasul di
belakangnya, dan Kami
memberikan kepada Isa Ibnu Maryam Tanda-tanda yang nyata, dan juga
Kami memperkuatnya dengan Ruhulqudus.
Maka apakah patut setiap datang
kepada kamu seorang rasul dengan membawa apa yang tidak disukai oleh
dirimu kamu berlaku takabur,
lalu sebagian kamu dustakan dan sebagian
lainnya kamu bunuh? Dan mereka berkata: ”Hati kami tertutup.” Tidak, bahkan Allah
telah mengutuk mereka karena kekafiran mereka maka sedikit
sekali apa yang mereka imani. Dan tatkala datang kepada mereka sebuah Kitab yakni Al-Quran dari Allah menggenapi apa yang ada pada mereka,
sedangkan sebelum itu mereka senantiasa
memohon kemenangan atas orang-orang
kafir, tetapi tatkala datang
kepada mereka apa yang mereka kenali itu
lalu mereka kafir kepadanya
maka laknat Allah atas
orang-orang kafir (Al-Baqarah
[2]:88-90).
Pengingkaran Terhadap Nubuatan Mengakibatkan Terpecahnya Agama-agama Samawi dan Munculnya Kemusyrikan
Dengan demikian terjawablah kekeliruan
pemahaman mereka yang berpendapat bahwa munculnya bermacam-macam agama
dan firqah umat beragama di kalangan umat
manusia adalah merupakan kehendak Allah Swt., sebab yang Allah
Swt. kehendaki adalah apabila nubuatan-nubuatan mengenai
kedatangan nabi Allah yang
kedatangannya dijanjikan benar-benar sempurna (QS.7:35-37), mereka seharusnya beriman kepada nabi Allah tersebut serta membantu perjuangan sucinya, bukannya mengikuti ketakaburan iblis yang menolak “sujud” (beriman dan patuh-taat) kepada Adam ketika diperintahkan
Allah Swt. (QS.2:35; QS.7:12-13; QS.15:29 & 33; QS. 17:63; QS.18:51;
20:117; 38:72-77).
Mengapa
demikian? Sebab Allah Swt. telah
mengambil perjanjian dari umat manusia melalui
para nabi Allah, bahwa apabila datang kepada mereka nabi Allah yang dijanjikan berikutnya
(QS.7:35-37) mereka harus beriman kepadanya dan harus membantu perjuangan sucinya, firman-Nya:
وَ اِذۡ اَخَذَ اللّٰہُ مِیۡثَاقَ النَّبِیّٖنَ لَمَاۤ اٰتَیۡتُکُمۡ مِّنۡ
کِتٰبٍ وَّ حِکۡمَۃٍ ثُمَّ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَکُمۡ
لَتُؤۡمِنُنَّ بِہٖ وَ لَتَنۡصُرُنَّہٗ ؕ قَالَ ءَاَقۡرَرۡتُمۡ وَ اَخَذۡتُمۡ
عَلٰی ذٰلِکُمۡ اِصۡرِیۡ ؕ قَالُوۡۤا اَقۡرَرۡنَا ؕ قَالَ فَاشۡہَدُوۡا وَ اَنَا
مَعَکُمۡ مِّنَ الشّٰہِدِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Allah mengambil perjanjian dari
manusia melalui nabi-nabi: “Apa saja yang Aku berikan kepada kamu
berupa Kitab dan Hikmah,
kemudian datang kepada kamu seorang
rasul yang menggenapi apa yang ada padamu, kamu
benar-benar harus beriman kepadanya dan kamu benar-benar harus membantunya.” Dia
berfirman: “Apakah kamu mengakui dan
menerima tanggung-jawab yang Aku bebankan kepadamu mengenai itu?” Mereka berkata: “Kami mengakui.” Dia berfirman: “Maka bersaksilah dan Aku pun beserta kamu termasuk orang-orang
yang menjadi saksi.” (Ali
‘Imran [34]:82).
Tetapi dalam kenyataannya umumnya
manusia mengingkari perjanjian dengan
Allah Swt. tersebut dan mereka memilih
mengikuti ketakaburan Iblis
dan menjadi penentang para nabi Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka (QS.7:35-37),
sehingga akibatnya timbullah berbagai macam agama
dan firqah-firqah agama yang
masing-masing saling mendakwakan diri
sebagai agama atau firqah agama yang paling benar,
firman-Nya:
فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ
حَنِیۡفًا ؕ فِطۡرَتَ اللّٰہِ الَّتِیۡ
فَطَرَ النَّاسَ عَلَیۡہَا ؕ لَا
تَبۡدِیۡلَ لِخَلۡقِ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ
الدِّیۡنُ الۡقَیِّمُ ٭ۙ وَ لٰکِنَّ
اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿٭ۙ﴾ مُنِیۡبِیۡنَ اِلَیۡہِ وَ اتَّقُوۡہُ وَ اَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ وَ لَا تَکُوۡنُوۡا مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿ۙ﴾ مِنَ الَّذِیۡنَ
فَرَّقُوۡا دِیۡنَہُمۡ وَ کَانُوۡا
شِیَعًا ؕ کُلُّ حِزۡبٍۭ بِمَا لَدَیۡہِمۡ
فَرِحُوۡنَ ﴿﴾
Maka hadapkanlah wajah kamu kepada agama yang lurus, yaitu fitrat Allah, yang atas dasar itu Dia menciptakan manusia, tidak ada perubahan dalam penciptaan Allah,
itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui. Kembalilah
kamu kepada-Nya dan bertakwalah
kepada-Nya serta dirikanlah shalat,
وَ لَا تَکُوۡنُوۡا مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ -- dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang
musyrik, مِنَ الَّذِیۡنَ فَرَّقُوۡا دِیۡنَہُمۡ
وَ کَانُوۡا شِیَعًا -- yaitu orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka menjadi golongan-golongan, ؕ
کُلُّ حِزۡبٍۭ بِمَا لَدَیۡہِمۡ
فَرِحُوۡنَ --
tiap-tiap golongan bangga dengan apa yang ada pada mereka. (Ar-Ruum [30]:31-33).
Kemusyrikan Berupa Perpecahan Umat Beragama
Ayat 31 menjelaskan bahwa Allah Swt. adalah Tuhan yang Esa dan kemanusiaan itu satu, inilah fithrat Allah dan dīnul-fithrah
— satu agama yang berakar dalam fitrat manusia — dan terhadapnya manusia
menyesuaikan diri dan berlaku secara naluri. Di dalam agama
inilah seorang bayi dilahirkan kemudian tetapi lingkungannya, cita-cita
dan kepercayaan-kepercayaan orang
tuanya, serta didikan dan ajaran yang diperolehnya dari mereka
itu, kemudian membuat dia Yahudi, Majusi atau Kristen (Bukhari).
Ayat 32 lebih lanjut menerangkan, bahwa hanya semata-mata percaya (beriman) kepada Kekuasaan mutlak dan Keesaan Tuhan, -- yang sesungguhnya hal
itu merupakan asas pokok agama yang
hakiki -- adalah tidak cukup. Suatu agama yang benar harus memiliki peraturan-peraturan
dan perintah-perintah tertentu yang sempurna, sebagaimana ajaran Islam (Al-Quran - QS.5:4). Dari semua peraturan dan perintah itu shalatlah – yakni melaksanakan hubungan dengan Allah Swt. -- yang harus
mendapat prioritas utama.
Selanjutnya ayat 33 menjelaskan,
bahwa penyimpangan dari agama sejati atau “agama
Islam” (QS.3:20 & 86; QS.22:78-79) menjuruskan umat-umat beragama di zaman
lampau kepada perpecahan dalam bentuk
aliran-aliran yang saling memerangi dan menyebabkan sengketa berkepanjangan di antara
mereka, termasuk di kalangan Bani Israil.
Berikut firman Allah Swt. mengenai perpecahan
umat di kalangan Bani Israil
antara Yahudi dan Nasrani, padahal mereka membaca Kitab yang sama, dan kedatangan Nabi
Isa a.s. pun telah dinubuatkan
sebelumnya kepada mereka (Maleakhi 4:4-6; Matius 11:7-15):
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ لَیۡسَتِ النَّصٰرٰی
عَلٰی شَیۡءٍ ۪ وَّ قَالَتِ النَّصٰرٰی لَیۡسَتِ الۡیَہُوۡدُ عَلٰی شَیۡءٍ ۙ وَّ
ہُمۡ یَتۡلُوۡنَ الۡکِتٰبَ ؕ کَذٰلِکَ قَالَ الَّذِیۡنَ لَا یَعۡلَمُوۡنَ مِثۡلَ
قَوۡلِہِمۡ ۚ فَاللّٰہُ یَحۡکُمُ بَیۡنَہُمۡ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ فِیۡمَا کَانُوۡا
فِیۡہِ یَخۡتَلِفُوۡنَ ﴿﴾
Dan orang-orang Yahudi
mengatakan: ”Orang-orang Nasrani
sekali-kali tidak berdiri di atas
sesuatu kebenaran,” dan orang-orang
Nasrani mengatakan: ”Orang-orang
Yahudi sekali-kali tidak berdiri di atas sesuatu kebenaran.”
Padahal mereka membaca Alkitab
yang sama. Demikian pula
orang-orang yang tidak mengetahui berkata
seperti ucapan mereka itu, maka pada
Hari Kiamat Allah akan menghakimi di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. (Al
Baqarah [2]:114).
Jadi, kebiasaan saling
melontarkan fatwa takfiri (pengkafir) di kalangan
firqah-firqah pemeluk agama
yang sama merupakan warisan dari kalangan Bani
Israil, khususnya antara kaum Yahudi
dan Nasrani, yang Nabi Besar Muhammad
saw. telah menubuatkan bahwa warisan buruk tersebut akan
terjadi juga di kalangan umat
Islam, sehingga persamaan
kedua keturunan Nabi Ibrahim a.s.
tersebut – yakni Bani Israil dan Bani Isma’il -- seperti sepasang
sepatu, sebagaimana firman-Nya: کَذٰلِکَ قَالَ
الَّذِیۡنَ لَا یَعۡلَمُوۡنَ مِثۡلَ قَوۡلِہِمۡ ۚ فَاللّٰہُ یَحۡکُمُ بَیۡنَہُمۡ
یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ فِیۡمَا کَانُوۡا فِیۡہِ یَخۡتَلِفُوۡنَ -- “Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui berkata seperti ucapan mereka itu, maka pada Hari Kiamat Allah akan menghakimi di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan.“
Para Nabi Allah Tidak Pernah Minta Dijadikan Tuhan Sembahan Selain Allah
Kembali kepada pembahasan
mengenai makna Pentingnya Menghormati Para Pendiri Agama-agama Sebelum Islam, bukanlah berarti menghormatinya sebagai wujud-wujud suci yang kemudian dipertuhankan oleh generasi penerus para pengikutnya di zaman awal (QS.9:30-33),
melainkan maknanya adalah harus menghormatinya
sebagai rasul
(nabi) yang benar, yang diutus oleh Allah
Swt. pada zamannya masing-masing untuk menegakkan dan memurnikan kembali Tauhid
Ilahi dari berbagai bentuk kemusyrikan (syirik – QS.16:37; QS.21:26-28;
QS.98:1-9), sebagaimana Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar
Muhammad saw.:
وَ مَاۤ اَرۡسَلۡنَا مِنۡ قَبۡلِکَ
مِنۡ رَّسُوۡلٍ اِلَّا نُوۡحِیۡۤ اِلَیۡہِ اَنَّہٗ لَاۤ
اِلٰہَ اِلَّاۤ اَنَا فَاعۡبُدُوۡنِ ﴿﴾
وَ قَالُوا
اتَّخَذَ الرَّحۡمٰنُ وَلَدًا سُبۡحٰنَہٗ ؕ بَلۡ
عِبَادٌ مُّکۡرَمُوۡنَ ﴿ۙ﴾ لَا یَسۡبِقُوۡنَہٗ بِالۡقَوۡلِ وَ
ہُمۡ بِاَمۡرِہٖ یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Dan tidakkah Kami mengutus
seorang rasul sebelum engkau melainkan Kami
mewahyukan kepadanya: “Sesungguhnya tidak
ada Tuhan kecuali Aku, maka sembahlah Aku”. Tetapi mereka berkata,
“Sesungguhnya Yang Maha Pemurah telah
mengambil seorang anak.” Maha Suci
Dia, bahkan mereka adalah hamba-hamba-Nya yang dimuliakan. Mereka tidak mendahului dalam bicara dan mereka hanya melaksanakan
perintah-Nya. (Al-Anbiya [21]:26-28).
Firman-Nya lagi:
مَا کَانَ لِبَشَرٍ اَنۡ یُّؤۡتِیَہُ اللّٰہُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحُکۡمَ وَ
النُّبُوَّۃَ ثُمَّ یَقُوۡلَ لِلنَّاسِ کُوۡنُوۡا عِبَادًا لِّیۡ مِنۡ دُوۡنِ
اللّٰہِ وَ لٰکِنۡ کُوۡنُوۡا رَبّٰنِیّٖنَ بِمَا کُنۡتُمۡ تُعَلِّمُوۡنَ الۡکِتٰبَ
وَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَدۡرُسُوۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ لَا یَاۡمُرَکُمۡ اَنۡ تَتَّخِذُوا الۡمَلٰٓئِکَۃَ وَ النَّبِیّٖنَ
اَرۡبَابًا ؕ اَیَاۡمُرُکُمۡ بِالۡکُفۡرِ بَعۡدَ اِذۡ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Tidak layak bagi
seorang manusia benar
yang kepadanya Allah memberikan Al-Kitab dan kekuasaan serta kenabian
dan kemudian ia berkata kepada manusia, “Jadilah
hamba-hambaku dan bukan hamba-hamba
Allah”; bahkan ia akan berkata: “Jadilah kamu orang-orang yang berbakti semata-mata kepada Tuhan, karena kamu senantiasa mengajarkan Al-Kitab dan senantiasa
mempelajarinya.” Dan tidak pula layak ia
menyuruh kamu supaya kamu mengambil malaikat-malaikat dan nabi-nabi menjadi tuhan-tuhan. Adakah ia
menyuruh kamu menjadi kafir setelah kamu
menjadi orang Muslim?” (Ali ‘imran [34]:80-81).
Demikian juga Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. pun tidak
pernah mengajarkan kepada para pengikutnya agar mereka mempertuhankan beliau dan juga mempertuhankan ibu beliau sebagai dua tuhan sembahan selain Allah Swt.,
firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ اللّٰہُ یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ ءَاَنۡتَ قُلۡتَ
لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ
اِلٰہَیۡنِ
مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ
اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِیۡ وَ
لَاۤ
اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ عَلَّامُ الۡغُیُوۡبِ ﴿﴾ مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ
اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ
رَبَّکُمۡ ۚ
وَ کُنۡتُ عَلَیۡہِمۡ شَہِیۡدًا مَّا دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا
تَوَفَّیۡتَنِیۡ کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ اَنۡتَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ ﴿﴾ اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ
فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu
Maryam, apakah engkau telah berkata kepada
manusia: Jadikanlah aku dan ibuku sebagai
dua tuhan selain Allah?" Ia berkata: “Maha Suci Engkau. Tidak patut bagiku mengatakan apa yang sekali-kali
bukan hakku. Jika aku telah mengatakannya maka sungguh
Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku,
sedangkan aku tidak mengetahui apa yang
ada dalam diri Engkau, sesungguhnya
Engkau benar-benar Maha Mengetahui segala yang gaib. Aku sekali-kali tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku,
yaitu: ”Beribadahlah kepada Allah,
Rabb-ku (Tuhan-ku) dan Rabb (Tuhan) kamu.” Dan aku menjadi saksi
atas mereka selama aku berada di antara mereka, tetapi tatkala Engkau telah mewafatkanku maka Engkau-lah
Yang benar-benar menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu. Kalau Engkau mengazab mereka, maka sesungguhnya
mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan kalau Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya
Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha
Bijaksana.” (Al-Maaidah [5]:117-119).
Lihat pula QS.2:117;QS.4:172-173;
QS.5:18-19; 73-74; 78 & 117-118; QS.6:101-102; QS.10:69; QS.17:112;
QS.18:5; QS,19:36, 69-90; QS.25:3 QS.39:5;
QS.43:82).
Dilarang Mencemooh Sembahan-sembahan
Selain Allah Swt.
Dalam rangka menghormati para rasul Allah
dan menghargai keberadaan agama-agama selain Islam – walau pun ajarannya
telah menyimpang dari Tauhid Ilahi yang diajarkan oleh para pendirinya -- Allah Swt. melarang umat Islam mencemooh
sembahan-sembahan
mereka selain Allah Swt., firman-Nya:
اِتَّبِعۡ مَاۤ اُوۡحِیَ اِلَیۡکَ مِنۡ رَّبِّکَ ۚ لَاۤ اِلٰہَ
اِلَّا ہُوَ ۚ وَ اَعۡرِضۡ عَنِ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَوۡ شَآءَ اللّٰہُ
مَاۤ اَشۡرَکُوۡا ؕ وَ مَا جَعَلۡنٰکَ
عَلَیۡہِمۡ حَفِیۡظًا ۚ وَ مَاۤ اَنۡتَ
عَلَیۡہِمۡ بِوَکِیۡلٍ ﴿﴾ وَ لَا تَسُبُّوا
الَّذِیۡنَ یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ فَیَسُبُّوا اللّٰہَ عَدۡوًۢا بِغَیۡرِ
عِلۡمٍ ؕ کَذٰلِکَ زَیَّنَّا لِکُلِّ
اُمَّۃٍ عَمَلَہُمۡ ۪ ثُمَّ اِلٰی رَبِّہِمۡ مَّرۡجِعُہُمۡ
فَیُنَبِّئُہُمۡ بِمَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Ikutilah
apa yang diwahyukan kepada engkau
dari Rabb (Tuhan) engkau. Tidak ada Tuhan kecuali Dia,
dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.
Dan jika
Allah menghendaki sekali-kali
mereka tidak akan berbuat syirik. Dan
Kami sekali-kali tidak menjadikan
engkau sebagai penjaga bagi mereka, dan tidak pula engkau menjadi pelindung bagi mereka. وَ لَا تَسُبُّوا
الَّذِیۡنَ یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ فَیَسُبُّوا اللّٰہَ عَدۡوًۢا بِغَیۡرِ
عِلۡمٍ -- Dan janganlah
kamu memaki apa yakni
sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, karena mereka pun akan memaki Allah dengan rasa permusuhan
tanpa pengetahuan. کَذٰلِکَ زَیَّنَّا
لِکُلِّ اُمَّۃٍ عَمَلَہُمۡ ۪ ثُمَّ اِلٰی رَبِّہِمۡ مَّرۡجِعُہُمۡ
فَیُنَبِّئُہُمۡ بِمَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ -- Demikianlah Kami telah menampakkan indah kepada
tiap-tiap umat perbuatan mereka, kemudian kepada Rabb (Tuhan) merekalah mereka kembali, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka
apa-apa yang se-nantiasa mereka kerjakan. (Al-An’aam [6]:107-109)
Makna ayat 108, sesuai dengan hikmah-Nya yang tak terbatas itu Allah Swt. telah memberi manusia kemandirian atau kebebasan berkehendak. Andaikata Dia berkehendak memaksa manusia, niscaya Dia akan memaksa mereka mengikuti kebenaran, akan
tetapi demi kepentingan manusia
sendiri, Allah Swt.
dalam masalah agama tidak berkehendak
menggunakan tindak paksaan (QS.2:255-268; QS.9:6; QS.18:30).
Berkenaan kata-kata “pelindung,” “pemelihara” atau “pengurus dan pemutus perkara-perkara” dalam
Al-Quran yang dipakai untuk Nabi Besar Muhammad saw., maksudnya untuk
menjelaskan bahwa beliau saw. tidak bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatan orang-orang
lain.
Berbagai Tujuan Mulia Izin Berperang Dalam Ajaran Islam
Ayat 109
bukan saja menanam rasa hormat
terhadap perasaan-perasaan halus orang-orang
musyrik sekalipun, tetapi bertujuan
juga menciptakan keakraban antara
berbagai bangsa dan masyarakat. Bahkan lebih jauh Allah Swt.
menyatakan, bahwa ajaran Islam (Al-Quran) sebagaimana yang diamalkan oleh Nabi Besar Muhammad saw. -- sebagai “rahmat bagi seluruh alam” (QS.21:108) -- diwajibkan
untuk melindungi tempat-tempat ibadah agama-agama selain Islam, sebagaimana firman-Nya:
اُذِنَ لِلَّذِیۡنَ یُقٰتَلُوۡنَ بِاَنَّہُمۡ ظُلِمُوۡا ؕ وَ اِنَّ اللّٰہَ
عَلٰی نَصۡرِہِمۡ لَقَدِیۡرُۨ
﴿ۙ﴾
الَّذِیۡنَ اُخۡرِجُوۡا مِنۡ دِیَارِہِمۡ
بِغَیۡرِ حَقٍّ اِلَّاۤ اَنۡ یَّقُوۡلُوۡا رَبُّنَا اللّٰہُ ؕ وَ لَوۡ
لَا دَفۡعُ اللّٰہِ النَّاسَ بَعۡضَہُمۡ بِبَعۡضٍ لَّہُدِّمَتۡ صَوَامِعُ وَ
بِیَعٌ وَّ صَلَوٰتٌ وَّ مَسٰجِدُ یُذۡکَرُ فِیۡہَا اسۡمُ اللّٰہِ کَثِیۡرًا ؕ وَ
لَیَنۡصُرَنَّ اللّٰہُ مَنۡ یَّنۡصُرُہٗ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾
Telah diizinkan berperang bagi mereka yang telah diperangi disebabkan mereka telah dianiaya, dan sesungguhnya Allah berkuasa menolong mereka. Yaitu
orang-orang yang telah diusir dari
rumah-rumah mereka tanpa hak hanya karena mereka berkata, “Rabb (Tuhan) kami adalah Allah.” وَ لَوۡ لَا دَفۡعُ اللّٰہِ النَّاسَ
بَعۡضَہُمۡ بِبَعۡضٍ لَّہُدِّمَتۡ صَوَامِعُ وَ بِیَعٌ وَّ صَلَوٰتٌ وَّ مَسٰجِدُ
یُذۡکَرُ فِیۡہَا اسۡمُ اللّٰہِ کَثِیۡرًا -- Dan sekiranya
tidak ada tangkisan Allah terhadap sebagian manusia oleh sebagian yang lain
maka akan hancurlah biara-biara dan gereja-gereja Nasrani dan rumah-rumah ibadah Yahudi serta mesjid-mesjid yang banyak disebut nama
Allah di dalamnya. وَ لَیَنۡصُرَنَّ
اللّٰہُ مَنۡ یَّنۡصُرُہٗ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ -- Dan pasti
Allah akan menolong siapa yang menolong-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa, Maha Perkasa (Al-Hajj [22]:40-41).
Allah Swt. dengan tegas melarang adanya perbedaan pendapat dalam masalah agama menjuruskan kepada tindak
kezaliman pihak-pihak yang merasa sebagai “mayoritas umat” kepada pihak minoritas
yang mereka anggap memiliki pemahaman
yang bertentangan dengan pemahaman
mereka mengenai beberapa masalah agama sehingga rumah-tinggal dan dan rumah
ibadah mereka menjadi sasaran kezaliman
mereka pula, firman-Nya:
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ لَیۡسَتِ النَّصٰرٰی
عَلٰی شَیۡءٍ ۪ وَّ قَالَتِ النَّصٰرٰی لَیۡسَتِ الۡیَہُوۡدُ عَلٰی شَیۡءٍ ۙ وَّ
ہُمۡ یَتۡلُوۡنَ الۡکِتٰبَ ؕ کَذٰلِکَ قَالَ الَّذِیۡنَ لَا یَعۡلَمُوۡنَ مِثۡلَ
قَوۡلِہِمۡ ۚ فَاللّٰہُ یَحۡکُمُ بَیۡنَہُمۡ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ فِیۡمَا کَانُوۡا
فِیۡہِ یَخۡتَلِفُوۡنَ ﴿﴾ وَ مَنۡ اَظۡلَمُ
مِمَّنۡ مَّنَعَ مَسٰجِدَ اللّٰہِ اَنۡ یُّذۡکَرَ فِیۡہَا اسۡمُہٗ وَ سَعٰی
فِیۡ خَرَابِہَا ؕ اُولٰٓئِکَ مَا کَانَ لَہُمۡ اَنۡ یَّدۡخُلُوۡہَاۤ اِلَّا
خَآئِفِیۡنَ ۬ؕ
لَہُمۡ فِی الدُّنۡیَا خِزۡیٌ وَّ لَہُمۡ
فِی الۡاٰخِرَۃِ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ ﴿﴾
Dan orang-orang Yahudi mengatakan: ”Orang-orang Nasrani sekali-kali tidak berdiri di atas sesuatu kebenaran,”
dan orang-orang Nasrani mengatakan: ”Orang-orang Yahudi sekali-kali tidak berdiri
di atas sesuatu kebenaran.” Padahal mereka membaca Alkitab yang sama. ؕ کَذٰلِکَ قَالَ الَّذِیۡنَ لَا یَعۡلَمُوۡنَ مِثۡلَ
قَوۡلِہِمۡ ۚ فَاللّٰہُ یَحۡکُمُ بَیۡنَہُمۡ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ فِیۡمَا کَانُوۡا
فِیۡہِ یَخۡتَلِفُوۡنَ ﴿﴾ وَ -- Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui berkata seperti
ucapan mereka itu, maka pada Hari
Kiamat Allah akan
menghakimi di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. وَ مَنۡ
اَظۡلَمُ مِمَّنۡ مَّنَعَ مَسٰجِدَ
اللّٰہِ اَنۡ یُّذۡکَرَ فِیۡہَا اسۡمُہٗ وَ سَعٰی فِیۡ خَرَابِہَا -- Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menghalangi orang yang menyebut
nama-Nya di dalam mesjid-mesjid Allah
dan berupaya merobohkannya? اُولٰٓئِکَ مَا
کَانَ لَہُمۡ اَنۡ یَّدۡخُلُوۡہَاۤ اِلَّا خَآئِفِیۡنَ ۬ؕ لَہُمۡ فِی الدُّنۡیَا خِزۡیٌ وَّ
لَہُمۡ فِی الۡاٰخِرَۃِ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ -- Mereka
itu tidak layak masuk ke dalamnya kecuali
dengan rasa takut. Bagi mereka ada kehinaan di dunia, dan
bagi mereka azab yang besar di akhirat.
(Al-Baqarah
[2]:114-115).
Akibat Buruk Ketidak-bersyukuran
dan Ketidak-berimanan yang Mengerikan
Syay’i dalam ayat 144 berkenaan saling tuduh
antara orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani berarti:
sesuatu; sesuatu yang baik; kepentingan; apa yang dihendaki (Lexicon Lane). Tidak ada yang
lebih asing di dalam jiwa Islam daripada
perlawanan terhadap kebenaran.
Islam (Al-Quran) mengajarkan bahwa semua agama mempunyai kebenaran-kebenaran
tertentu, dan suatu agama disebut
benar, tidak karena memonopoli kebenaran, melainkan karena mempunyai segala kebenaran dan bebas dari segala bentuk ketidakbenaran. Sambil mengatakan
mengenai dirinya sebagai agama yang sempurna dan lengkap (QS.5:4), Islam (Al-Quran) dengan terus terang mengakui kebenaran dan kebaikan-kebaikan yang dimiliki oleh agama-agama lain.
Ayat selanjutnya merupakan tudingan
keras terhadap mereka yang membawa perbedaan-perbedaan
agama mereka sampai ke titik runcing,
sehingga bahkan tidak segan-segan merobohkan
atau menodai tempat-tempat beribadah
milik agama-agama lain. Mereka menghalang-halangi orang menyembah Tuhan di tempat-tempat suci mereka sendiri, dan bahkan bertindak begitu jauh, hingga membinasakan rumah-rumah ibadah mereka.
Tindakan kekerasan demikian dalami ayat ini dicela dengan kata-kata keras
dan di samping itu ditekankan ajaran
toleransi dan berpandangan luas. Al-Quran
mengakui adanya kebebasan dan hak yang tidak dibatasinya bagi semua
orang untuk menyembah Tuhan di tempat
ibadah, sebab kuil,
gereja atau masjid – termasuk mesjid-mesjid
miliki Jemaat Muslim Ahmadiyah -- adalah tempat
yang dibuat untuk beribadah kepada Allah Swt., sedangkan orang yang menghalangi orang lain beribadah kepada Tuhan dalam tempat itu, pada hakikatnya
telah membantu kehancuran dan kebinasaan tempat-tempat ibadah tersebut.
Namun demikian, jika dalam
kenyataannya Allah Swt. Sendiri yang justru menghancurkan tempat-tempat ibadah itu sendiri – termasuk mesjid-mesjid -- maka lain lagi persoalannya, dan hendaknya peristiwa yang mengerikan seperti itu ini
menjadi bahan introspeksi diri, sebab
seakan-akan bertentangan dengan firman-Nya dalam kedua surah sebelum ini (QS.22:40-41
& QS.2:114-115), pasti ada berbagai bentuk
kezaliman di tempat-tempat yang seperti itu, firman-Nya:
مَا یَفۡعَلُ اللّٰہُ بِعَذَابِکُمۡ
اِنۡ شَکَرۡتُمۡ وَ اٰمَنۡتُمۡ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ شَاکِرًا عَلِیۡمًا ﴿﴾
Allah tidak akan mengazab kamu jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah benar-benar Maha Menghargai, Maha
Mengetahui. (An-Nisaa [4]:148).
Firman-Nya
lagi:
وَ اِذۡ تَاَذَّنَ رَبُّکُمۡ
لَئِنۡ شَکَرۡتُمۡ لَاَزِیۡدَنَّکُمۡ
وَ لَئِنۡ کَفَرۡتُمۡ اِنَّ
عَذَابِیۡ لَشَدِیۡدٌ ﴿ ﴾
Dan ketika Rabb (Tuhan) kamu mengumumkan: “Jika
kamu benar-benar bersyukur niscaya Allah akan menambah karunia
kepada kalian, tetapi jika kami
tidak bersyukur sesungguhnya azab-Ku
benar-benar sangat keras (Ibrahim
[14]:8).
(Bersambung)
ooo
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
Pajajaran Anyar, 25 Juli 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar