Bismillaahirrahmaanirrahiim
KHAZANAH AL-QURAN
Bab 31
KE-MUSLIM-AN
TATANAN ALAM SEMESTA & AJARAN ISLAM (AL-QURAN) MENGENAI PENTINGNYA MENGHORMATI
KEBERADAAN AGAMA-AGAMA SELAIN ISLAM
Oleh
Ki
Langlang Buana Kusuma
وَ
یَوۡمَ نَبۡعَثُ فِیۡ کُلِّ اُمَّۃٍ شَہِیۡدًا عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ
جِئۡنَا بِکَ شَہِیۡدًا عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ ؕ وَ نَزَّلۡنَا عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ
تِبۡیَانًا لِّکُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُدًی وَّ
رَحۡمَۃً وَّ بُشۡرٰی
لِلۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah
hari itu ketika Kami akan membangkitkan dalam setiap umat seorang saksi
terhadap mereka dari antara mereka sendiri, dan Kami akan mendatangkan engkau
sebagai saksi terhadap mereka semuanya. Dan Kami telah menurunkan kepada engkau Kitab itu
untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk, rahmat serta kabar gembira bagi
orang-orang yang berserah diri kepada Allah.
(An-Nahl
[16]:90).
|
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan topic Akibat Buruk Mendustakan
dan Menentang Para Rasul
Allah, sehubungan dengan pentingnya beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw. yang merupakan rasul Allah pembawa syariat
terakhir dan tersempurna untuk
seluruh umat manusia yakni ajaran Islam (Al-Quran - QS.5:4) yang nubuatan mengenai beliau saw. tercantum dalam kitab-kitab berbagai
agama sebelumnya -- terutama dalam Taurat dan Injil (QS.7:158-159 – yang kedatangannya digambarkan seakan-akan
kedatangan Wujud Tuhan (Allah Swt.) Sendiri.
Jadi, itulah tujuan utama pengutusan para
rasul Allah -- terutama Nabi Besar Muhammad saw. -- di
setiap zaman kenabian (QS.7:35-36),
oleh karena itu mendustakan dan menentang
misi suci para rasul Allah akan
merugikan akhlak dan ruhani mereka, sebagaimana digambarkan
ayat 37 dalam firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ اَجَلٌ ۚ
فَاِذَا جَآءَ اَجَلُہُمۡ
لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً وَّ
لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ
یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ
عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾
وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا
وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ
اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan bagi tiap-tiap umat ada batas waktu,
maka apabila telah datang batas waktunya,
mereka tidak dapat mengundurkannya
barang sesaat pun dan tidak pula
dapat memajukannya. Wahai
Bani Adam, jika datang kepada kamu rasul-rasul dari antara kamu
yang membacakan Ayat-ayat-Ku kepadamu,
maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati. Dan orang-orang
yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan
takabur berpaling darinya, mereka
itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-A’rāf
[7]:35-37).
Ke-Muslim-an Tatanan Alam
Semesta
Sehubungan dengan pentingnya beriman
kepada Nabi Besar Muhammad saw. dan pentingnya memeluk agama
Islam agar menjadi muslim yang hakiki selanjutnya
Allah Swt. berfirman:
اَفَغَیۡرَ دِیۡنِ اللّٰہِ یَبۡغُوۡنَ وَ لَہٗۤ اَسۡلَمَ
مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ اِلَیۡہِ
یُرۡجَعُوۡنَ ﴿﴾ قُلۡ اٰمَنَّا بِاللّٰہِ وَ مَاۤ
اُنۡزِلَ عَلَیۡنَا وَ مَاۤ اُنۡزِلَ عَلٰۤی اِبۡرٰہِیۡمَ وَ اِسۡمٰعِیۡلَ
وَ اِسۡحٰقَ وَ یَعۡقُوۡبَ وَ الۡاَسۡبَاطِ وَ مَاۤ اُوۡتِیَ مُوۡسٰی وَ عِیۡسٰی
وَ النَّبِیُّوۡنَ مِنۡ رَّبِّہِمۡ ۪ لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ اَحَدٍ مِّنۡہُمۡ ۫ وَ
نَحۡنُ لَہٗ مُسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾ وَ مَنۡ یَّبۡتَغِ غَیۡرَ الۡاِسۡلَامِ دِیۡنًا فَلَنۡ
یُّقۡبَلَ مِنۡہُ ۚ وَ ہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾ کَیۡفَ یَہۡدِی
اللّٰہُ قَوۡمًا کَفَرُوۡا بَعۡدَ
اِیۡمَانِہِمۡ وَ شَہِدُوۡۤا اَنَّ الرَّسُوۡلَ حَقٌّ وّجَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ
وَ اللّٰہُ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ
الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ جَزَآؤُہُمۡ اَنَّ عَلَیۡہِمۡ لَعۡنَۃَ اللّٰہِ وَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ
وَ النَّاسِ اَجۡمَعِیۡنَ ﴿ۙ﴾ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ۚ لَا یُخَفَّفُ عَنۡہُمُ
الۡعَذَابُ وَ لَا ہُمۡ یُنۡظَرُوۡنَ ﴿ۙ﴾ اِلَّا الَّذِیۡنَ
تَابُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ ذٰلِکَ وَ اَصۡلَحُوۡا ۟ فَاِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ
رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Apakah mereka itu mencari yang bukan agama Allah, padahal kepada Dia-lah berserah diri siapa pun yang
ada di seluruh langit dan bumi, dengan rela
atau terpaksa, dan kepada-Nya
mereka akan dikembalikan? Katakanlah: ”Kami beriman kepada Allah,
kepada apa yang diturunkan kepada
kami, kepada apa yang diturunkan
kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq,
Ya’qub dan keturunannya, dan kami beriman kepada apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan semua nabi dari Rabb (Tuhan) mereka. Kami tidak
membedakan-bedakan salah seorang pun di antara mereka, dan kepada-Nya kami berserah diri.” Dan barangsiapa mencari agama yang bukan agama
Islam, maka agama itu tidak akan pernah diterima darinya, dan di akhirat ia termasuk
orang-orang yang rugi. Bagaimana mungkin
Allah akan memberi petunjuk kepada suatu kaum yang kafir setelah mereka beriman, dan mereka telah menjadi saksi pula
bahwa sesungguhnya rasul itu benar,
dan juga telah datang kepada
mereka bukti-bukti yang nyata? Dan
Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum
yang zalim. Mereka inilah orang-orang
yang atas mereka balasannya adalah
laknat Allah, malaikat dan manusia seluruhnya. Mereka kekal di dalamnya, azab
tidak akan diringankan dari mereka, dan tidak pula mereka akan diberi tangguh, kecuali orang-orang
yang bertaubat setelah itu dan melakukan
perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha
Penyayang. (Ali ‘Imran [3]:84-90).
Makna ayat 84, bahwa sebagaimana di alam jasmani orang harus tunduk kepada hukum alam — dan ia mengetahui dari pengalamannya bahwa kepatuhan
demikian itu berfaedah baginya — maka
memang dapat diterima oleh akal,
bahwa dalam urusan ruhani pun, saat
ia telah dianugerahi sedikit banyak kebebasan
untuk menentukan sikapnya sebagai orang beriman atau menjadi orang
kafir (QS.2:257; QS.10:100-101; QS.18:30),
ia hendaknya patuh pula kepada hukum-hukum
dan perintah-perintah Ilahi dan
dengan demikian mendapat ridha Ilahi
bagi kepentingan pribadinya sendiri, itulah makna ayat:
اَفَغَیۡرَ دِیۡنِ اللّٰہِ یَبۡغُوۡنَ وَ لَہٗۤ اَسۡلَمَ
مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ اِلَیۡہِ
یُرۡجَعُوۡنَ ﴿﴾
Apakah mereka itu mencari yang bukan agama Allah, padahal kepada
Dia-lah berserah diri siapa pun yang ada di seluruh langit dan bumi, dengan
rela atau terpaksa, dan kepada-Nya mereka akan dikembalikan? (Ali
‘Imran [3]:84).
Doa Meraih Kesuksesan Dunia dan Akhirat
Jadi, jika manusia melakukan suatu aktivitas duniawi yang bertentangan
dengan ke-Muslim-an tatanan alam semesta -- yakni bertentangan dengan hukum-hukum alam yang telah ditetapkan
Allah Swt. bagi seluruh makhluk-Nya --
sekali pun ia itu seorang Muslim maka pasti ia akan mengalami akibat buruk dari aktivitas
duniawinya tersebut.
Sebaliknya, sekali pun seseorang yang bukan Muslim – bahkan mengaku sebagai seorang atheis -- tetapi
jika dalam melakukan aktifitas
duniawinya sesuai dengan ke-Muslim-an
tatanan alam semesta maka ia akan
mengalami kesuksesan dalam aktifitas duniawi yang
dilakukannya, namun demikian pasti di
alam akhirat ia pasti akan mengalami kerugian. Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah firman Allah Swt. berikut
ini:
ؕ فَمِنَ النَّاسِ مَنۡ یَّقُوۡلُ رَبَّنَاۤ اٰتِنَا فِی الدُّنۡیَا وَ مَا لَہٗ فِی
الۡاٰخِرَۃِ مِنۡ خَلَاقٍ ﴿﴾ وَ مِنۡہُمۡ
مَّنۡ یَّقُوۡلُ رَبَّنَاۤ اٰتِنَا فِی
الدُّنۡیَا حَسَنَۃً وَّ فِی الۡاٰخِرَۃِ
حَسَنَۃً وَّ قِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿﴾
اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ نَصِیۡبٌ مِّمَّا کَسَبُوۡا ؕ وَ اللّٰہُ سَرِیۡعُ
الۡحِسَابِ ﴿﴾
Dan di
antara manusia ada yang berkata: “Ya Rabb
(Tuhan) kami, anugerahilah kami kesenangan
hidup di dunia ini”, dan
tidak ada baginya bagian di akhirat. Dan di antara mereka
ada yang mengatakan: “Ya Rabb (Tuhan)
kami, berilah kami segala yang
baik di dunia dan segala yang
baik di akhirat, dan peliharalah
kami dari azab Api.” Mereka inilah yang akan memperoleh bagian sebagai pahala dari apa yang mereka
usahakan, dan Allah Mahacepat dalam
menghisab. (Al-Baqarah [2]:201-203). Lihat pula QS.10:8-11; QS.17:19-21;
QS.42:21.
Berbeda dengan ayat sebelumnya, dalam ayat 202 Allah Swt. menyebut
golongan orang-orang dengan upaya-upaya dan hasrat-hasratnya tidak hanya terbatas pada kehidupan dunia ini saja, melainkan mereka mencari segala yang baik dari dunia ini dan
pula segala yang baik dari alam ukhrawi. Hasanah berarti
pula sukses (Taj-ul-Urus). Doa ini sangat padat dan Nabi Besar Muhammad saw. amat sering mempergunakannya (Muslim), firman-Nya:
وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّقُوۡلُ رَبَّنَاۤ
اٰتِنَا فِی الدُّنۡیَا حَسَنَۃً
وَّ فِی الۡاٰخِرَۃِ حَسَنَۃً وَّ
قِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿﴾
Dan di
antara mereka ada yang mengatakan: “Ya Rabb
(Tuhan) kami, berilah kami segala
yang baik di dunia dan segala yang
baik di akhirat, dan peliharalah
kami dari azab Api.” (Al-Baqarah
[2]:202).
Dengan demikian jelaslah, bahwa menurut Allah Swt. dalam Al-Quran Islam
dan ke-Muslim-an bukan hanya dalam masalah agama (syariat) saja tetapi juga tatanan alam semesta pun menyatakan ke-Muslim-annya (QS.41:10-13), sehingga suka atau pun terpaksa
umat manusia harus mengakui bahwa agama
yang hakiki di Hadhirat Allah Swt. adalah agama Islam (QS.QS.3:20 & 86),
firman-Nya:
اَفَغَیۡرَ دِیۡنِ اللّٰہِ یَبۡغُوۡنَ وَ لَہٗۤ اَسۡلَمَ
مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ اِلَیۡہِ
یُرۡجَعُوۡنَ ﴿﴾
Apakah mereka itu mencari yang bukan agama Allah, padahal kepada
Dia-lah berserah diri siapa pun yang ada di seluruh langit dan bumi, dengan
rela atau terpaksa, dan kepada-Nya mereka akan dikembalikan? (Ali ‘Imran [3]:84).
Pentingnya Beriman Kepada Semua Rasul Allah
Selanjutnya Allah Swt. berfirman kepada Nabi
Besar Muhammad saw. mengenai pentingnya beriman kepada semua rasul Allah tanpa kecuali:
قُلۡ اٰمَنَّا بِاللّٰہِ وَ مَاۤ
اُنۡزِلَ عَلَیۡنَا وَ مَاۤ اُنۡزِلَ عَلٰۤی اِبۡرٰہِیۡمَ وَ اِسۡمٰعِیۡلَ
وَ اِسۡحٰقَ وَ یَعۡقُوۡبَ وَ الۡاَسۡبَاطِ وَ مَاۤ اُوۡتِیَ مُوۡسٰی وَ عِیۡسٰی
وَ النَّبِیُّوۡنَ مِنۡ رَّبِّہِمۡ ۪ لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ اَحَدٍ مِّنۡہُمۡ ۫ وَ
نَحۡنُ لَہٗ مُسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: ”Kami beriman kepada Allah,
kepada apa yang diturunkan kepada
kami, kepada apa yang diturunkan
kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq,
Ya’qub dan keturunannya, dan kami beriman kepada apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan semua nabi dari Rabb (Tuhan) mereka. Kami tidak
membedakan-bedakan salah seorang pun di antara mereka, dan kepada-Nya
kami berserah diri.” (Ali ‘Imran [3]:85).
Dari ayat ini dapat ditarik kesimpulan, bahwa walau pun
benar berbagai agama yang diturunkan Allah Swt. sebelum agama Islam (Al-Quran) sudah menyeleweng
dari keasliannya sebagai “agama Islam” (QS.3:20) dan dari ke-Muslim-an yang diwariskan
Nabi Ibrahim a.s. (QS.2:131-142; QS.22:78-79), tetapi ajaran Islam (Al-Quran)
tetap mewajibkan kepada para
pemeluknya untuk mengimani semua rasul Allah yang diutus sebelum Nabi
Besar Muhammad saw. dan menghormati mereka sebagai para rasul Allah yang hakiki.
Jadi, berbeda dengan umat Islam, kaum Yahudi menolak
kedatangan para nabi Allah bukan-Bani Israil, seperti nampak dari
kata-kata: “Janganlah kamu percaya kecuali kepada orang yang mengikuti
agamamu (QS.3:74). Tuduhan itu ditudingkan kepada mereka, bahwa sementara
mereka menolak semua nabi Allah -- kecuali nabi-nabi Bani Israil – ajaran Islam (Al-Quran) minta
kepada para pengikutnya untuk beriman kepada semua nabi Allah, tanpa membedakan negeri atau bangsa
atau masyarakat asal mereka atau zaman yang mereka hidup di dalamnya. Ini
merupakan satu kelebihan Islam di
atas semua agama lainnya.
Mengapa demikian? Sebab Islam
(Al-Quran) mengajarkan bahwa tidak ada suatu kaum pun selain Bani Israil dan Bani Isma’il yang kepada mereka Allah Swt. tidak pernah mengutus para rasul-Nya sebagai pemberi peringatan,
sebagaimana firman-Nya kepada Nabi besar Muhammad saw.:
اِنَّاۤ اَرۡسَلۡنٰکَ بِالۡحَقِّ
بَشِیۡرًا وَّ نَذِیۡرًا ؕ وَ اِنۡ
مِّنۡ اُمَّۃٍ اِلَّا خَلَا فِیۡہَا نَذِیۡرٌ ﴿﴾ وَ اِنۡ
یُّکَذِّبُوۡکَ فَقَدۡ کَذَّبَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ۚ جَآءَتۡہُمۡ رُسُلُہُمۡ بِالۡبَیِّنٰتِ وَ بِالزُّبُرِ وَ
بِالۡکِتٰبِ الۡمُنِیۡرِ ﴿﴾ ثُمَّ
اَخَذۡتُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فَکَیۡفَ کَانَ نَکِیۡرِ ﴿﴾
Sesungguhnya
Kami mengutus engkau dengan kebenaran
sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Dan tidak
ada sesuatu kaum pun melainkan telah
diutus kepada mereka seorang pemberi peringatan. Dan jika mereka mendustakan engkau maka sungguh orang-orang sebelum mereka pun
telah mendustakan, kepada mereka telah datang rasul-rasul mereka
dengan Tanda-tanda
yang jelas, dengan Kitab-kitab suci dan dengan Kitab yang menerangi. Kemudian Aku
tangkap orang-orang yang kafir maka bagaimana
mengerikannya penolakan
terhadap-Ku! (Al Faathir [35]:25-27)
Lihat pula 10:48; QS.13:8; QS.16:37.
Ayat وَ اِنۡ
مِّنۡ اُمَّۃٍ اِلَّا خَلَا فِیۡہَا نَذِیۡرٌ --
“Dan tidak ada sesuatu kaum pun melainkan telah diutus kepada mereka seorang pemberi peringatan“, ayat ini
menyingkapkan tabir kebenaran agung yang tersembunyi
dari dunia sebelum Al-Quran
diwahyukan, yaitu bahwa kepada tiap-tiap
kaum di zaman lampau pernah diutus seorang rasul Allah, yang menyampaikan kepada mereka seruan kebenaran dan
ajakan kepada ketakwaan yang serupa (QS.10:48; QS.13:8; QS.16:37).
Harus Menghormati Para Pendiri Agama-agama Sebelum Islam
Asas yang besar lagi mulia itu membawa kepada
kepercayaan, bahwa semua agama berasal dari Allah Swt. dan bahwa pendiri-pendiri
agama itu adalah rasul-rasul Allah.
Inilah salah satu dari Rukun Iman, yang wajib dipegang oleh tiap-tiap
orang Muslim dan karenanya harus menghormati serta memuliakan mereka itu semuanya.
Dengan memberikan kepada dunia kebenaran yang agung itu maka Islam telah mengusahakan menciptakan iklim persahabatan dan harga-menghargai di antara berbagai agama, dan menghilangkan serta membasmi
dendam kesumat dan ketegangan, yang telah meracuni perhubungan antara pengikut-pengikut berbagai agama di seluruh dunia, firman-Nya: لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ اَحَدٍ مِّنۡہُمۡ ۫
وَ نَحۡنُ لَہٗ مُسۡلِمُوۡنَ -- “Kami tidak membedakan-bedakan salah seorang pun
di antara mereka, dan kepada-Nya kami berserah diri.” (Ali
‘Imran [3]:85).
Kata-kata “kami
tidak membeda-bedakan” dalam
ayat itu tidak berarti bahwa tiada perbedaan pangkat atau kedudukan antara berbagai nabi Allah itu, karena pandangan itu bertentangan dengan QS.2:254 yang menjelaskan
ada perbedaan mengenai kelebihan
setiap rasul Allah. Dari Al-Quran
diketahui secara umum para rasul Allah ada 2 golongan yakni:
(1) rasul Allah yang membawa
syariat, contohnya Nabi Musa a.s. dan Nabi Besar Muhammad saw.. (2)
rasul Allah yang tidak membawa
syariat, contohnya Nabi harun a.s.
sampai dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.2:89; QS.5:47; QS.57:28). dan dari hadits shahih diketahui bahwa menurut Nabi Besar Muhammad saw. Allah Swt. telah membangkitkan (mengutus) sebanyak 124.000 orang nabi (rasul) Allah, dan
313 orang diantaranya adalah nabi (rasul) pembawa
syariat. Jadi, tidak benar pendapat yang mengatakan bahwa setiap nabi
(rasul) Allah pasti membawa syariat.
Orang-orang yang Benar-benar Kafir
Apa yang sesungguhnya dimaksudkan oleh
kata-kata “kami tidak membeda-bedakan” itu ialah bahwa mereka semua sebagai Utusan-utusan Ilahi tidak boleh dibeda-bedakan, sebab sikap membeda-bedakan para rasul Allah seperti itu bertentangan
dengan perintah Allah Swt., firman-Nya:
اِنَّ الَّذِیۡنَ یَکۡفُرُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ وَ یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ
یُّفَرِّقُوۡا بَیۡنَ اللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ وَ یَقُوۡلُوۡنَ نُؤۡمِنُ بِبَعۡضٍ وَّ
نَکۡفُرُ بِبَعۡضٍ ۙ وَّ یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یَّتَّخِذُوۡا بَیۡنَ ذٰلِکَ سَبِیۡلًا ﴿﴾ۙ اُولٰٓئِکَ ہُمُ
الۡکٰفِرُوۡنَ حَقًّا ۚ وَ اَعۡتَدۡنَا لِلۡکٰفِرِیۡنَ عَذَابًا مُّہِیۡنًا ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ وَ لَمۡ یُفَرِّقُوۡا بَیۡنَ اَحَدٍ مِّنۡہُمۡ
اُولٰٓئِکَ سَوۡفَ یُؤۡتِیۡہِمۡ اُجُوۡرَہُمۡ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ غَفُوۡرًا
رَّحِیۡمًا ﴿﴾٪
Sesungguhnya
orang-orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya, dan mereka ingin
membeda-bedakan antara Allah dan Rasul-rasul-Nya,
mereka mengatakan: “Kami beriman kepada
sebagian dan kafir kepada sebagian lain” serta mereka
ingin mengambil jalan tengah di antara hal demikian itu, mereka
itulah orang-orang yang sebenar-benarnya kafir, dan Kami telah menyediakan bagi orang-orang kafir azab yang menghinakan. Dan orang-orang
yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya
serta tidak membedakan seorang pun di
antara mereka, kepada mereka inilah
Allah segera akan memberikan ganjaran mereka, dan Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang. (An-Nisaa
[4]:151-153).
Makna ayat 151 berarti bahwa mereka menerima (beriman kepada) Allah Swt dan menolak nabi-nabi-Nya; atau mereka menerima
beberapa nabi Allah dan menolak
yang lainnya; atau menerima
beberapa dakwa seorang seorang nabi Allah
dan menolak dakwa lainnya. Padahal keimanan
sejati nampak dari penyerahan diri
seutuhnya (muslim) dengan menerima (beriman kepada) Allah Swt. dan semua rasul-Nya
beserta segala dakwa mereka.
Menurut ayat tersebut tidak diizinkan bagi manusia mengambil jalan tengah di antara hal demikian itu -- yakni demi pertimbangan duniawi -- mereka tidak
beriman dan juga tidak menentang
rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan
kep-ada mereka (QS.7:35-37).
Tentu
saja suatu kaum yang mula-mula beriman
kepada kebenaran pendakwaan seorang nabi Allah dan menyatakan keimanan mereka kepada nabi itu secara terang-terangan dan
menjadi saksi atas Tanda-tanda Ilahi yang mendukungnya, tetapi kemudian menolaknya karena takut kepada mayoritas manusia
yang menentang rasul Allah tersebut; atau
karena pertimbangan duniawi lainnya, maka mereka
yang berlaku munafik seperti itu kehilangan segala hak
untuk mendapat lagi petunjuk kepada jalan yang lurus.
Atau, ayat itu dapat pula
mengisyaratkan kepada mereka yang beriman
kepada para nabi Allah terdahulu tetapi menolak pendakwaan Nabi Besar Muhammad saw., sebagai pembawa syariat terakhir dan tersempurna (QS.5:4), itulah yang dimaksud dengan mereka yang “mengambil jalan tengah”, firman-Nya:
ۙ وَّ یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یَّتَّخِذُوۡا بَیۡنَ
ذٰلِکَ سَبِیۡلًا ﴿﴾ۙ اُولٰٓئِکَ ہُمُ
الۡکٰفِرُوۡنَ حَقًّا ۚ وَ اَعۡتَدۡنَا لِلۡکٰفِرِیۡنَ عَذَابًا مُّہِیۡنًا ﴿﴾
Dan mereka ingin mengambil jalan
tengah di antara hal demikian itu, mereka
itulah orang-orang yang sebenar-benarnya kafir, dan Kami telah menyediakan bagi orang-orang kafir azab yang menghinakan. (An-Nisaa [4]:151-153).
Kesesatan di Atas Kesesatan
Kembali kepada firman Allah Swt, sebelumnya Ali ‘Imran [3]:84-90, selanjutnya Allah Swt. berfirman:
کَیۡفَ یَہۡدِی اللّٰہُ قَوۡمًا
کَفَرُوۡا بَعۡدَ اِیۡمَانِہِمۡ وَ شَہِدُوۡۤا اَنَّ الرَّسُوۡلَ حَقٌّ
وّجَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اللّٰہُ
لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
Bagaimana mungkin
Allah akan memberi petunjuk kepada suatu kaum yang kafir setelah mereka beriman, dan mereka telah menjadi saksi pula
bahwa sesungguhnya rasul itu benar,
dan juga telah datang kepada
mereka bukti-bukti yang nyata? Dan
Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum
yang zalim. (Ali ‘Imran [3]:87).
Ungkapan “mereka kafir setelah beriman” menerangkan bahwa
berbagai nubuatan mengenai
kedatangan rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan di kalangan Bani Adam (QS.7:35-37) sangat dikenal oleh para pemuka agama-agama yang ada – terutama nubuatan
mengenai Nabi Besar Muhammad saw. – bagaikan mereka mengenali anak-anak mereka sendiri (QS.2:147; QS.6:21). Selanjutnya
Allah Swt. berfirman:
اُولٰٓئِکَ جَزَآؤُہُمۡ اَنَّ عَلَیۡہِمۡ لَعۡنَۃَ اللّٰہِ وَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ
وَ النَّاسِ اَجۡمَعِیۡنَ ﴿ۙ﴾ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ۚ لَا یُخَفَّفُ عَنۡہُمُ
الۡعَذَابُ وَ لَا ہُمۡ یُنۡظَرُوۡنَ ﴿ۙ﴾ اِلَّا الَّذِیۡنَ
تَابُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ ذٰلِکَ وَ اَصۡلَحُوۡا ۟ فَاِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ
رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Mereka inilah orang-orang yang atas mereka balasannya adalah
laknat Allah, malaikat dan manusia seluruhnya. Mereka kekal di dalamnya, azab
tidak akan diringankan dari mereka, dan tidak pula mereka akan diberi tangguh, kecuali orang-orang
yang bertaubat setelah itu dan melakukan
perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha
Penyayang. (Ali ‘Imran [3]:88-90).
Makna kalimat: اِلَّا الَّذِیۡنَ
تَابُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ ذٰلِکَ وَ اَصۡلَحُوۡا ۟ فَاِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ
رَّحِیۡمٌ -- “kecuali orang-orang yang bertaubat setelah itu dan
melakukan perbaikan, maka
sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”, bahwa hanya
semata-mata bertaubat dan menyesal atas perbuatan-perbuatan jahat yang dilakukan di masa yang sudah-sudah tidak cukup untuk mendapat pengampunan
Ilahi, satu janji yang
sungguh-sungguh untuk menjauhi perilaku
buruk dan satu tekad bulat untuk membenahi orang-orang lain pun diperlukan untuk maksud itu.
Itulah salah satu makna muslim (menyerahkan diri kepada Allah Swt. melalui ketaatan kepada hukum-hukum-Nya, baik hukum
syariat mau pun hukum alam yang semuanya patuh-taat kepada kehendak
Allah Swt. (QS.41:10-13), sebagaimana firman-Nya sebelum ini:
اَفَغَیۡرَ دِیۡنِ اللّٰہِ یَبۡغُوۡنَ وَ لَہٗۤ اَسۡلَمَ
مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ اِلَیۡہِ
یُرۡجَعُوۡنَ ﴿﴾ قُلۡ اٰمَنَّا بِاللّٰہِ وَ مَاۤ
اُنۡزِلَ عَلَیۡنَا وَ مَاۤ اُنۡزِلَ عَلٰۤی اِبۡرٰہِیۡمَ وَ اِسۡمٰعِیۡلَ
وَ اِسۡحٰقَ وَ یَعۡقُوۡبَ وَ الۡاَسۡبَاطِ وَ مَاۤ اُوۡتِیَ مُوۡسٰی وَ عِیۡسٰی
وَ النَّبِیُّوۡنَ مِنۡ رَّبِّہِمۡ ۪ لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ اَحَدٍ مِّنۡہُمۡ ۫ وَ
نَحۡنُ لَہٗ مُسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾ وَ مَنۡ یَّبۡتَغِ غَیۡرَ الۡاِسۡلَامِ دِیۡنًا فَلَنۡ
یُّقۡبَلَ مِنۡہُ ۚ وَ ہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾ کَیۡفَ یَہۡدِی
اللّٰہُ قَوۡمًا کَفَرُوۡا بَعۡدَ
اِیۡمَانِہِمۡ وَ شَہِدُوۡۤا اَنَّ الرَّسُوۡلَ حَقٌّ وّجَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ
وَ اللّٰہُ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ
الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ جَزَآؤُہُمۡ اَنَّ عَلَیۡہِمۡ لَعۡنَۃَ اللّٰہِ وَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ
وَ النَّاسِ اَجۡمَعِیۡنَ ﴿ۙ﴾ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ۚ لَا یُخَفَّفُ عَنۡہُمُ
الۡعَذَابُ وَ لَا ہُمۡ یُنۡظَرُوۡنَ ﴿ۙ﴾ اِلَّا الَّذِیۡنَ
تَابُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ ذٰلِکَ وَ اَصۡلَحُوۡا ۟ فَاِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ
رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Apakah mereka itu mencari yang bukan agama Allah, padahal kepada Dia-lah berserah diri siapa pun yang
ada di seluruh langit dan bumi, dengan rela
atau terpaksa, dan kepada-Nya
mereka akan dikembalikan? Katakanlah: ”Kami beriman kepada Allah,
kepada apa yang diturunkan kepada
kami, kepada apa yang diturunkan
kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq,
Ya’qub dan keturunannya, dan kami beriman kepada apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan semua nabi dari Rabb (Tuhan) mereka. Kami tidak
membedakan-bedakan salah seorang pun di antara mereka, dan kepada-Nya kami berserah diri.” Dan barangsiapa mencari agama yang bukan agama
Islam, maka agama itu tidak akan pernah diterima darinya, dan di akhirat ia termasuk
orang-orang yang rugi. Bagaimana mungkin
Allah akan memberi petunjuk kepada suatu kaum yang kafir setelah mereka beriman, dan mereka telah menjadi saksi pula
bahwa sesungguhnya rasul itu benar,
dan juga telah datang kepada
mereka bukti-bukti yang nyata? Dan
Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum
yang zalim. Mereka inilah orang-orang
yang atas mereka balasannya adalah
laknat Allah, malaikat dan manusia seluruhnya. Mereka kekal di dalamnya, azab
tidak akan diringankan dari me-reka, dan tidak pula mereka akan diberi tangguh, kecuali orang-orang
yang bertaubat setelah itu dan melakukan
perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha
Penyayang. (Ali ‘Imran [3]:84-90).
(Bersambung)
ooo
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
Pajajaran Anyar, 20 Juli 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar