Rabu, 01 Agustus 2018

Ke-Muslim-an Tatanan Alam Semesta & Ajaran Islam (Al-Quran) Mengenai Pentingnya Menghormati Keberadaan Agama-agama Selain Islam




Bismillaahirrahmaanirrahiim


KHAZANAH  AL-QURAN 

Bab 31

     KE-MUSLIM-AN TATANAN ALAM SEMESTA & AJARAN ISLAM (AL-QURAN) MENGENAI PENTINGNYA MENGHORMATI KEBERADAAN  AGAMA-AGAMA SELAIN ISLAM 

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

وَ یَوۡمَ نَبۡعَثُ فِیۡ کُلِّ اُمَّۃٍ شَہِیۡدًا عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ جِئۡنَا بِکَ شَہِیۡدًا عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ ؕ وَ نَزَّلۡنَا عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ تِبۡیَانًا  لِّکُلِّ شَیۡءٍ  وَّ  ہُدًی  وَّ  رَحۡمَۃً   وَّ  بُشۡرٰی  لِلۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah hari itu ketika Kami akan membangkitkan dalam setiap umat seorang saksi terhadap mereka dari antara mereka sendiri, dan Kami akan mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka semuanya. Dan  Kami  telah menurunkan kepada engkau Kitab itu untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk, rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri kepada Allah.   (An-Nahl [16]:90).

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan  topic    Akibat Buruk  Mendustakan dan Menentang  Para Rasul Allah,  sehubungan dengan pentingnya beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw. yang merupakan rasul Allah pembawa syariat terakhir dan tersempurna untuk seluruh umat manusia yakni ajaran Islam (Al-Quran  - QS.5:4) yang nubuatan mengenai beliau saw. tercantum dalam kitab-kitab berbagai agama sebelumnya  -- terutama dalam Taurat dan Injil (QS.7:158-159 – yang kedatangannya digambarkan seakan-akan kedatangan Wujud Tuhan  (Allah Swt.) Sendiri.
      Jadi, itulah tujuan utama pengutusan para rasul Allah  -- terutama Nabi Besar Muhammad saw.  --  di setiap zaman kenabian (QS.7:35-36), oleh karena itu mendustakan   dan menentang misi suci para rasul Allah akan merugikan akhlak dan ruhani mereka, sebagaimana digambarkan ayat 37 dalam  firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ  اَجَلٌ ۚ فَاِذَا  جَآءَ  اَجَلُہُمۡ  لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً  وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾   
Dan bagi  tiap-tiap umat ada batas waktu, maka apabila telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya.  Wahai Bani Adam,  jika datang kepada kamu  rasul-rasul dari antara kamu yang membacakan Ayat-ayat-Ku kepadamu, maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati.  Dan  orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya, mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-A’rāf [7]:35-37).

Ke-Muslim-an Tatanan Alam Semesta

        Sehubungan dengan pentingnya  beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw. dan pentingnya  memeluk agama Islam   agar menjadi  muslim yang hakiki  selanjutnya Allah Swt. berfirman:
اَفَغَیۡرَ دِیۡنِ اللّٰہِ یَبۡغُوۡنَ وَ لَہٗۤ  اَسۡلَمَ  مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ اِلَیۡہِ یُرۡجَعُوۡنَ ﴿﴾ قُلۡ اٰمَنَّا بِاللّٰہِ وَ مَاۤ  اُنۡزِلَ عَلَیۡنَا وَ مَاۤ اُنۡزِلَ عَلٰۤی اِبۡرٰہِیۡمَ وَ اِسۡمٰعِیۡلَ وَ اِسۡحٰقَ وَ یَعۡقُوۡبَ وَ الۡاَسۡبَاطِ وَ مَاۤ اُوۡتِیَ مُوۡسٰی وَ عِیۡسٰی وَ النَّبِیُّوۡنَ مِنۡ رَّبِّہِمۡ ۪ لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ اَحَدٍ مِّنۡہُمۡ ۫ وَ نَحۡنُ لَہٗ مُسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾  وَ مَنۡ یَّبۡتَغِ غَیۡرَ الۡاِسۡلَامِ دِیۡنًا فَلَنۡ یُّقۡبَلَ مِنۡہُ ۚ وَ ہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾  کَیۡفَ یَہۡدِی اللّٰہُ  قَوۡمًا کَفَرُوۡا بَعۡدَ اِیۡمَانِہِمۡ وَ شَہِدُوۡۤا اَنَّ الرَّسُوۡلَ حَقٌّ وّجَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اللّٰہُ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾  اُولٰٓئِکَ جَزَآؤُہُمۡ  اَنَّ عَلَیۡہِمۡ لَعۡنَۃَ اللّٰہِ وَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ وَ النَّاسِ اَجۡمَعِیۡنَ ﴿ۙ﴾  خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ۚ لَا یُخَفَّفُ عَنۡہُمُ الۡعَذَابُ وَ لَا  ہُمۡ  یُنۡظَرُوۡنَ ﴿ۙ﴾  اِلَّا الَّذِیۡنَ تَابُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ ذٰلِکَ وَ اَصۡلَحُوۡا ۟ فَاِنَّ اللّٰہَ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Apakah mereka itu mencari yang bukan agama Allah, padahal kepada Dia-lah berserah diri siapa pun yang ada di seluruh langit dan bumi, dengan rela atau terpaksa,   dan kepada-Nya mereka akan dikembalikan?  Katakanlah:  Kami beriman kepada Allah,  kepada apa yang diturunkan kepada kami, kepada apa yang diturunkan kepada IbrahimIsma'ilIshaq, Ya’qub dan keturunannya, dan kami beriman kepada apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan semua   nabi  dari Rabb (Tuhan) mereka.   Kami tidak membedakan-bedakan salah seorang pun di antara mereka, dan kepada-Nya kami berserah diri.”   Dan  barangsiapa mencari agama yang bukan agama Islam, maka  agama itu tidak akan pernah diterima darinya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi.  Bagaimana mungkin Allah akan memberi petunjuk kepada suatu kaum yang kafir setelah mereka beriman, dan mereka telah menjadi saksi pula bahwa sesungguhnya  rasul itu benar, dan juga telah datang kepada mereka bukti-bukti  yang nyata? Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.  Mereka inilah orang-orang yang atas mereka balasannya   adalah  laknat Allah, malaikat dan manusia seluruhnya.    Mereka kekal di dalamnya, azab tidak akan diringankan dari mereka, dan tidak pula mereka akan diberi tangguh,   kecuali orang-orang yang bertaubat setelah itu dan melakukan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Ali ‘Imran [3]:84-90).
         Makna ayat 84, bahwa sebagaimana di alam jasmani orang harus tunduk kepada hukum alam — dan ia mengetahui dari pengalamannya bahwa kepatuhan demikian itu berfaedah baginya — maka memang dapat diterima oleh akal, bahwa dalam urusan ruhani pun, saat ia telah dianugerahi sedikit banyak kebebasan untuk menentukan sikapnya sebagai orang beriman atau  menjadi orang kafir  (QS.2:257; QS.10:100-101; QS.18:30),  ia hendaknya patuh pula kepada hukum-hukum dan perintah-perintah Ilahi dan dengan demikian mendapat ridha Ilahi bagi kepentingan pribadinya sendiri, itulah makna ayat:
اَفَغَیۡرَ دِیۡنِ اللّٰہِ یَبۡغُوۡنَ وَ لَہٗۤ  اَسۡلَمَ  مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ اِلَیۡہِ یُرۡجَعُوۡنَ ﴿﴾
Apakah mereka itu mencari   yang bukan agama Allah, padahal kepada Dia-lah berserah diri siapa pun yang ada di seluruh langit dan bumi, dengan rela atau terpaksa,   dan kepada-Nya mereka akan dikembalikan? (Ali ‘Imran [3]:84).

Doa Meraih Kesuksesan Dunia dan Akhirat

        Jadi, jika manusia   melakukan suatu aktivitas duniawi yang bertentangan dengan ke-Muslim-an tatanan alam semesta  -- yakni bertentangan dengan hukum-hukum alam yang telah ditetapkan Allah Swt. bagi seluruh makhluk-Nya --  sekali pun ia itu seorang Muslim  maka pasti ia akan mengalami akibat buruk  dari aktivitas duniawinya tersebut.
     Sebaliknya, sekali pun  seseorang yang bukan Muslim – bahkan mengaku sebagai seorang  atheis  -- tetapi  jika dalam melakukan aktifitas duniawinya sesuai dengan ke-Muslim-an tatanan alam semesta maka ia akan mengalami kesuksesan dalam aktifitas duniawi yang dilakukannya,  namun demikian pasti    di alam akhirat ia pasti akan mengalami kerugian.   Mengisyaratkan kepada  kenyataan itulah firman Allah Swt. berikut ini:
ؕ فَمِنَ النَّاسِ مَنۡ یَّقُوۡلُ رَبَّنَاۤ  اٰتِنَا فِی الدُّنۡیَا وَ مَا لَہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ  مِنۡ خَلَاقٍ ﴿﴾ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّقُوۡلُ رَبَّنَاۤ  اٰتِنَا فِی الدُّنۡیَا حَسَنَۃً  وَّ فِی الۡاٰخِرَۃِ حَسَنَۃً  وَّ قِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ نَصِیۡبٌ مِّمَّا کَسَبُوۡا ؕ وَ اللّٰہُ  سَرِیۡعُ  الۡحِسَابِ ﴿﴾
Dan di antara manusia ada yang berkata: “Ya Rabb (Tuhan) kami, anugerahilah kami kesenangan hidup  di dunia ini”, dan tidak ada baginya  bagian di akhirat. Dan di antara mereka ada yang mengatakan: “Ya Rabb (Tuhan) kami, berilah kami segala yang baik di dunia dan segala yang baik di akhirat, dan peliharalah kami dari azab Api.”   Mereka inilah yang akan memperoleh bagian sebagai pahala dari apa yang mereka usahakan, dan Allah Mahacepat dalam menghisab. (Al-Baqarah [2]:201-203). Lihat pula QS.10:8-11; QS.17:19-21; QS.42:21.
          Berbeda dengan ayat sebelumnya, dalam ayat 202 Allah Swt. menyebut golongan orang-orang  dengan upaya-upaya dan hasrat-hasratnya tidak hanya terbatas pada kehidupan dunia ini saja, melainkan mereka mencari segala yang baik dari dunia ini dan pula segala yang baik dari alam ukhrawi. Hasanah berarti pula sukses (Taj-ul-Urus). Doa ini sangat padat dan  Nabi Besar Muhammad saw.   amat sering mempergunakannya (Muslim), firman-Nya:
وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّقُوۡلُ رَبَّنَاۤ  اٰتِنَا فِی الدُّنۡیَا حَسَنَۃً  وَّ فِی الۡاٰخِرَۃِ حَسَنَۃً  وَّ قِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿﴾
Dan di antara mereka ada yang mengatakan: “Ya Rabb (Tuhan) kami, berilah kami segala yang baik di dunia dan segala yang baik di akhirat, dan peliharalah kami dari azab Api.”   (Al-Baqarah [2]:202).
       Dengan demikian jelaslah, bahwa  menurut Allah Swt. dalam Al-Quran   Islam  dan ke-Muslim-an  bukan hanya dalam masalah agama (syariat) saja tetapi juga tatanan alam semesta pun menyatakan ke-Muslim-annya (QS.41:10-13),   sehingga suka atau pun terpaksa umat manusia harus mengakui bahwa agama yang hakiki  di Hadhirat Allah Swt. adalah agama Islam (QS.QS.3:20 & 86), firman-Nya:
اَفَغَیۡرَ دِیۡنِ اللّٰہِ یَبۡغُوۡنَ وَ لَہٗۤ  اَسۡلَمَ  مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ اِلَیۡہِ یُرۡجَعُوۡنَ ﴿﴾
Apakah mereka itu mencari   yang bukan agama Allah, padahal kepada Dia-lah berserah diri siapa pun yang ada di seluruh langit dan bumi, dengan rela atau terpaksa,   dan kepada-Nya mereka akan dikembalikan?  (Ali ‘Imran [3]:84).

Pentingnya Beriman Kepada Semua  Rasul Allah

      Selanjutnya Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw. mengenai pentingnya  beriman kepada semua rasul Allah tanpa kecuali:
قُلۡ اٰمَنَّا بِاللّٰہِ وَ مَاۤ  اُنۡزِلَ عَلَیۡنَا وَ مَاۤ اُنۡزِلَ عَلٰۤی اِبۡرٰہِیۡمَ وَ اِسۡمٰعِیۡلَ وَ اِسۡحٰقَ وَ یَعۡقُوۡبَ وَ الۡاَسۡبَاطِ وَ مَاۤ اُوۡتِیَ مُوۡسٰی وَ عِیۡسٰی وَ النَّبِیُّوۡنَ مِنۡ رَّبِّہِمۡ ۪ لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ اَحَدٍ مِّنۡہُمۡ ۫ وَ نَحۡنُ لَہٗ مُسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾ 
Katakanlah:  Kami beriman kepada Allah,  kepada apa yang diturunkan kepada kami, kepada apa yang diturunkan kepada IbrahimIsma'ilIshaq, Ya’qub dan keturunannya, dan kami beriman kepada apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan semua   nabi  dari Rabb (Tuhan) mereka.   Kami tidak membedakan-bedakan salah seorang pun di antara mereka,  dan kepada-Nya kami berserah diri.”   (Ali ‘Imran [3]:85).
          Dari ayat ini  dapat ditarik kesimpulan, bahwa walau pun benar berbagai agama  yang diturunkan Allah Swt. sebelum agama Islam (Al-Quran)  sudah menyeleweng dari keasliannya sebagai “agama Islam” (QS.3:20) dan dari ke-Muslim-an  yang diwariskan Nabi Ibrahim a.s. (QS.2:131-142; QS.22:78-79), tetapi ajaran Islam (Al-Quran) tetap mewajibkan kepada para pemeluknya untuk mengimani semua rasul Allah yang diutus sebelum Nabi Besar Muhammad saw. dan menghormati mereka sebagai para rasul Allah yang hakiki.
        Jadi, berbeda dengan umat Islam, kaum Yahudi menolak kedatangan para nabi Allah bukan-Bani Israil, seperti nampak dari kata-kata: “Janganlah kamu percaya kecuali kepada orang yang mengikuti agamamu (QS.3:74). Tuduhan itu ditudingkan kepada mereka, bahwa sementara mereka menolak semua nabi Allah -- kecuali nabi-nabi Bani Israilajaran  Islam (Al-Quran) minta kepada para pengikutnya untuk beriman kepada semua nabi Allah, tanpa membedakan negeri atau bangsa atau masyarakat asal mereka atau zaman yang mereka hidup di dalamnya. Ini merupakan satu kelebihan Islam di atas semua agama lainnya.
         Mengapa demikian? Sebab  Islam (Al-Quran) mengajarkan bahwa tidak ada suatu kaum pun  selain Bani Israil dan Bani Isma’il yang kepada mereka Allah Swt. tidak pernah mengutus para rasul-Nya sebagai pemberi peringatan, sebagaimana firman-Nya kepada Nabi besar Muhammad saw.:
اِنَّاۤ  اَرۡسَلۡنٰکَ بِالۡحَقِّ بَشِیۡرًا وَّ نَذِیۡرًا ؕ وَ اِنۡ  مِّنۡ  اُمَّۃٍ   اِلَّا خَلَا فِیۡہَا نَذِیۡرٌ ﴿﴾  وَ اِنۡ یُّکَذِّبُوۡکَ فَقَدۡ کَذَّبَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ۚ جَآءَتۡہُمۡ  رُسُلُہُمۡ بِالۡبَیِّنٰتِ وَ بِالزُّبُرِ وَ بِالۡکِتٰبِ الۡمُنِیۡرِ ﴿﴾  ثُمَّ  اَخَذۡتُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فَکَیۡفَ کَانَ نَکِیۡرِ ﴿﴾
Sesungguhnya Kami mengutus engkau dengan kebenaran sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Dan  tidak ada sesuatu kaum pun melainkan telah diutus kepada mereka seorang pemberi peringatan. Dan jika mereka mendustakan engkau maka sungguh orang-orang sebelum mereka pun telah mendustakan, kepada mereka telah datang  rasul-rasul mereka dengan  Tanda-tanda yang jelas,  dengan Kitab-kitab suci dan dengan Kitab yang menerangi.   Kemudian Aku tangkap orang-orang yang kafir maka bagaimana mengerikannya penolakan terhadap-Ku!  (Al Faathir [35]:25-27) Lihat pula 10:48; QS.13:8;  QS.16:37.
            Ayat   وَ اِنۡ  مِّنۡ  اُمَّۃٍ   اِلَّا خَلَا فِیۡہَا نَذِیۡرٌ   --  “Dan  tidak ada sesuatu kaum pun melainkan telah diutus kepada mereka seorang pemberi peringatan“, ayat ini menyingkapkan tabir kebenaran agung  yang tersembunyi dari dunia sebelum Al-Quran diwahyukan, yaitu bahwa kepada tiap-tiap kaum di zaman lampau pernah diutus seorang rasul Allah, yang menyampaikan kepada mereka seruan kebenaran dan ajakan kepada ketakwaan yang serupa (QS.10:48; QS.13:8;  QS.16:37).

Harus Menghormati Para Pendiri Agama-agama Sebelum Islam

      Asas yang besar lagi mulia itu membawa kepada kepercayaan, bahwa semua agama berasal dari Allah Swt. dan bahwa pendiri-pendiri agama itu adalah rasul-rasul Allah. Inilah salah satu dari Rukun Iman, yang wajib dipegang oleh tiap-tiap orang Muslim dan karenanya harus menghormati serta memuliakan mereka itu semuanya.
        Dengan memberikan kepada dunia kebenaran yang agung itu maka Islam telah mengusahakan menciptakan iklim persahabatan dan harga-menghargai di antara berbagai agama, dan menghilangkan serta membasmi dendam kesumat dan ketegangan, yang telah meracuni perhubungan antara pengikut-pengikut berbagai agama di seluruh dunia, firman-Nya:    لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ اَحَدٍ مِّنۡہُمۡ ۫ وَ نَحۡنُ لَہٗ مُسۡلِمُوۡنَ     -- “Kami tidak membedakan-bedakan salah seorang pun di antara mereka,  dan kepada-Nya kami berserah diri.”   (Ali ‘Imran [3]:85).
        Kata-kata “kami tidak membeda-bedakan”  dalam ayat  itu tidak berarti bahwa tiada perbedaan pangkat atau kedudukan antara berbagai nabi Allah itu, karena pandangan itu bertentangan dengan QS.2:254 yang  menjelaskan  ada perbedaan  mengenai kelebihan setiap rasul Allah. Dari Al-Quran diketahui secara umum para rasul Allah ada 2 golongan yakni:
       (1)  rasul Allah yang  membawa syariat, contohnya Nabi Musa a.s. dan Nabi Besar Muhammad  saw..  (2) rasul Allah yang tidak membawa syariat, contohnya Nabi  harun a.s. sampai dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.2:89; QS.5:47; QS.57:28). dan dari hadits shahih diketahui bahwa  menurut Nabi Besar Muhammad saw.  Allah Swt. telah membangkitkan  (mengutus) sebanyak  124.000 orang nabi (rasul) Allah, dan 313 orang diantaranya adalah nabi (rasul) pembawa syariat. Jadi, tidak benar pendapat yang mengatakan bahwa  setiap nabi (rasul) Allah pasti membawa syariat.

Orang-orang yang Benar-benar Kafir

         Apa yang sesungguhnya dimaksudkan oleh kata-kata “kami tidak membeda-bedakan”  itu ialah bahwa mereka semua sebagai Utusan-utusan Ilahi tidak boleh dibeda-bedakan, sebab  sikap  membeda-bedakan para rasul Allah seperti itu bertentangan dengan     perintah Allah Swt., firman-Nya:
اِنَّ الَّذِیۡنَ یَکۡفُرُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ وَ یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّفَرِّقُوۡا بَیۡنَ اللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ وَ یَقُوۡلُوۡنَ نُؤۡمِنُ بِبَعۡضٍ وَّ نَکۡفُرُ بِبَعۡضٍ ۙ وَّ یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یَّتَّخِذُوۡا بَیۡنَ ذٰلِکَ  سَبِیۡلًا ﴿﴾ۙ  اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡکٰفِرُوۡنَ حَقًّا ۚ وَ اَعۡتَدۡنَا لِلۡکٰفِرِیۡنَ عَذَابًا مُّہِیۡنًا ﴿﴾  وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ وَ لَمۡ یُفَرِّقُوۡا بَیۡنَ اَحَدٍ مِّنۡہُمۡ اُولٰٓئِکَ سَوۡفَ یُؤۡتِیۡہِمۡ اُجُوۡرَہُمۡ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ غَفُوۡرًا رَّحِیۡمًا ﴿﴾٪
Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya, dan mereka ingin membeda-bedakan antara Allah dan Rasul-rasul-Nya, mereka mengatakan: “Kami beriman kepada sebagian dan  kafir kepada sebagian lain” serta  mereka ingin mengambil jalan tengah di antara hal demikian itu,  mereka itulah orang-orang yang sebenar-benarnya kafir, dan Kami telah menyediakan bagi orang-orang kafir azab yang menghinakan.    Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya serta tidak membedakan seorang pun di antara mereka, kepada mereka inilah Allah segera akan memberikan ganjaran mereka, dan Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang.  (An-Nisaa [4]:151-153).
        Makna ayat   151 berarti bahwa mereka menerima (beriman kepada) Allah Swt dan menolak nabi-nabi-Nya; atau mereka menerima beberapa nabi Allah  dan menolak yang lainnya; atau menerima beberapa  dakwa seorang seorang nabi Allah dan menolak dakwa lainnya. Padahal keimanan sejati nampak dari penyerahan diri seutuhnya (muslim) dengan menerima (beriman kepada) Allah Swt.  dan semua rasul-Nya beserta segala dakwa mereka.
         Menurut ayat tersebut tidak diizinkan bagi manusia mengambil jalan tengah di antara hal demikian itu  -- yakni demi pertimbangan duniawi -- mereka  tidak beriman dan juga tidak menentang rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan  kep-ada mereka (QS.7:35-37).
           Tentu saja suatu kaum yang mula-mula beriman kepada kebenaran pendakwaan seorang nabi Allah dan menyatakan keimanan mereka kepada nabi itu secara terang-terangan dan menjadi saksi atas Tanda-tanda Ilahi yang mendukungnya, tetapi kemudian menolaknya karena takut kepada mayoritas manusia yang menentang rasul Allah tersebut; atau karena pertimbangan duniawi lainnya,  maka mereka  yang berlaku munafik  seperti itu kehilangan segala hak untuk mendapat lagi petunjuk kepada jalan yang lurus.
          Atau, ayat itu dapat pula mengisyaratkan kepada mereka yang beriman kepada para nabi Allah  terdahulu tetapi menolak pendakwaan Nabi Besar Muhammad saw., sebagai pembawa syariat terakhir dan tersempurna (QS.5:4), itulah  yang dimaksud dengan mereka yang “mengambil jalan tengah”, firman-Nya:
  ۙ وَّ یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یَّتَّخِذُوۡا بَیۡنَ ذٰلِکَ  سَبِیۡلًا ﴿﴾ۙ  اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡکٰفِرُوۡنَ حَقًّا ۚ وَ اَعۡتَدۡنَا لِلۡکٰفِرِیۡنَ عَذَابًا مُّہِیۡنًا ﴿﴾ 
Dan mereka ingin mengambil jalan tengah di antara hal demikian itu,  mereka itulah orang-orang yang sebenar-benarnya kafir, dan Kami telah menyediakan bagi orang-orang kafir azab yang menghinakan.  (An-Nisaa [4]:151-153).  

Kesesatan di Atas Kesesatan

      Kembali kepada   firman Allah Swt, sebelumnya   Ali ‘Imran [3]:84-90,     selanjutnya Allah Swt. berfirman:
کَیۡفَ یَہۡدِی اللّٰہُ  قَوۡمًا کَفَرُوۡا بَعۡدَ اِیۡمَانِہِمۡ وَ شَہِدُوۡۤا اَنَّ الرَّسُوۡلَ حَقٌّ وّجَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اللّٰہُ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾  
Bagaimana mungkin Allah akan memberi petunjuk kepada suatu kaum yang kafir setelah mereka beriman, dan mereka telah menjadi saksi pula bahwa sesungguhnya  rasul itu benar, dan juga telah datang kepada mereka bukti-bukti  yang nyata? Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.  (Ali ‘Imran [3]:87).
       Ungkapan “mereka kafir setelah beriman” menerangkan  bahwa  berbagai nubuatan mengenai kedatangan rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan di kalangan Bani Adam (QS.7:35-37) sangat dikenal oleh para pemuka agama-agama yang ada – terutama  nubuatan mengenai Nabi Besar Muhammad saw. – bagaikan mereka mengenali anak-anak mereka sendiri (QS.2:147; QS.6:21). Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
  اُولٰٓئِکَ جَزَآؤُہُمۡ  اَنَّ عَلَیۡہِمۡ لَعۡنَۃَ اللّٰہِ وَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ وَ النَّاسِ اَجۡمَعِیۡنَ ﴿ۙ﴾  خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ۚ لَا یُخَفَّفُ عَنۡہُمُ الۡعَذَابُ وَ لَا  ہُمۡ  یُنۡظَرُوۡنَ ﴿ۙ﴾  اِلَّا الَّذِیۡنَ تَابُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ ذٰلِکَ وَ اَصۡلَحُوۡا ۟ فَاِنَّ اللّٰہَ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Mereka inilah orang-orang yang atas mereka balasannya   adalah  laknat Allah, malaikat dan manusia seluruhnya.  Mereka kekal di dalamnya, azab tidak akan diringankan dari mereka, dan tidak pula mereka akan diberi tangguh,   kecuali orang-orang yang bertaubat setelah itu dan melakukan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Ali ‘Imran [3]:88-90). 
          Makna kalimat: اِلَّا الَّذِیۡنَ تَابُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ ذٰلِکَ وَ اَصۡلَحُوۡا ۟ فَاِنَّ اللّٰہَ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ  -- “kecuali orang-orang yang bertaubat setelah itu dan melakukan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”, bahwa hanya semata-mata bertaubat dan menyesal atas perbuatan-perbuatan jahat yang dilakukan di masa yang sudah-sudah tidak cukup untuk mendapat pengampunan Ilahi, satu janji yang sungguh-sungguh untuk menjauhi perilaku buruk dan satu tekad bulat untuk membenahi orang-orang lain pun diperlukan untuk maksud itu. 
       Itulah  salah satu makna muslim (menyerahkan diri kepada Allah Swt. melalui ketaatan kepada hukum-hukum-Nya, baik hukum syariat mau pun hukum alam  yang semuanya patuh-taat kepada kehendak Allah Swt. (QS.41:10-13), sebagaimana firman-Nya sebelum ini:
اَفَغَیۡرَ دِیۡنِ اللّٰہِ یَبۡغُوۡنَ وَ لَہٗۤ  اَسۡلَمَ  مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ اِلَیۡہِ یُرۡجَعُوۡنَ ﴿﴾ قُلۡ اٰمَنَّا بِاللّٰہِ وَ مَاۤ  اُنۡزِلَ عَلَیۡنَا وَ مَاۤ اُنۡزِلَ عَلٰۤی اِبۡرٰہِیۡمَ وَ اِسۡمٰعِیۡلَ وَ اِسۡحٰقَ وَ یَعۡقُوۡبَ وَ الۡاَسۡبَاطِ وَ مَاۤ اُوۡتِیَ مُوۡسٰی وَ عِیۡسٰی وَ النَّبِیُّوۡنَ مِنۡ رَّبِّہِمۡ ۪ لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ اَحَدٍ مِّنۡہُمۡ ۫ وَ نَحۡنُ لَہٗ مُسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾  وَ مَنۡ یَّبۡتَغِ غَیۡرَ الۡاِسۡلَامِ دِیۡنًا فَلَنۡ یُّقۡبَلَ مِنۡہُ ۚ وَ ہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾  کَیۡفَ یَہۡدِی اللّٰہُ  قَوۡمًا کَفَرُوۡا بَعۡدَ اِیۡمَانِہِمۡ وَ شَہِدُوۡۤا اَنَّ الرَّسُوۡلَ حَقٌّ وّجَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اللّٰہُ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾  اُولٰٓئِکَ جَزَآؤُہُمۡ  اَنَّ عَلَیۡہِمۡ لَعۡنَۃَ اللّٰہِ وَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ وَ النَّاسِ اَجۡمَعِیۡنَ ﴿ۙ﴾  خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ۚ لَا یُخَفَّفُ عَنۡہُمُ الۡعَذَابُ وَ لَا  ہُمۡ  یُنۡظَرُوۡنَ ﴿ۙ﴾  اِلَّا الَّذِیۡنَ تَابُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ ذٰلِکَ وَ اَصۡلَحُوۡا ۟ فَاِنَّ اللّٰہَ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Apakah mereka itu mencari yang bukan agama Allah, padahal kepada Dia-lah berserah diri siapa pun yang ada di seluruh langit dan bumi, dengan rela atau terpaksa,  dan kepada-Nya mereka akan dikembalikan?  Katakanlah:  Kami beriman kepada Allah,  kepada apa yang diturunkan kepada kami, kepada apa yang diturunkan kepada IbrahimIsma'ilIshaq, Ya’qub dan keturunannya, dan kami beriman kepada apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan semua   nabi  dari Rabb (Tuhan) mereka.   Kami tidak membedakan-bedakan salah seorang pun di antara mereka, dan kepada-Nya kami berserah diri.”   Dan  barangsiapa mencari agama yang bukan agama Islam, maka  agama itu tidak akan pernah diterima darinya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi.  Bagaimana mungkin Allah akan memberi petunjuk kepada suatu kaum yang kafir setelah mereka beriman, dan mereka telah menjadi saksi pula bahwa sesungguhnya  rasul itu benar, dan juga telah datang kepada mereka bukti-bukti  yang nyata? Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.  Mereka inilah orang-orang yang atas mereka balasannya   adalah  laknat Allah, malaikat dan manusia seluruhnya.    Mereka kekal di dalamnya, azab tidak akan diringankan dari me-reka, dan tidak pula mereka akan diberi tangguh,   kecuali orang-orang yang bertaubat setelah itu dan melakukan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Ali ‘Imran [3]:84-90).
                        

(Bersambung)
ooo

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid


Pajajaran Anyar,   20 Juli 2018 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar