Senin, 23 Juli 2018

Hakikat "Pingsannya" Nabi Musa a.s. dan Pernyataannya Sebagai "Orang Pertama yang Beriman" Kepada Nabi Besar Muhammad Saw.



KHAZANAH  AL-QURAN 

Bab 30

HAKIKAT PINGSANNYA NABI MUSA A.S. DAN PERNYATAANNYA  SEBAGAI ORANG PERTAMA YANG BERIMAN  KEPADA NABI BESAR MUHAMMAD SAW.

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

وَ یَوۡمَ نَبۡعَثُ فِیۡ کُلِّ اُمَّۃٍ شَہِیۡدًا عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ جِئۡنَا بِکَ شَہِیۡدًا عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ ؕ وَ نَزَّلۡنَا عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ تِبۡیَانًا  لِّکُلِّ شَیۡءٍ  وَّ  ہُدًی  وَّ  رَحۡمَۃً   وَّ  بُشۡرٰی  لِلۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah hari itu ketika Kami akan membangkitkan dalam setiap umat seorang saksi terhadap mereka dari antara mereka sendiri, dan Kami akan mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka semuanya. Dan  Kami  telah menurunkan kepada engkau Kitab itu untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk, rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri kepada Allah.   (An-Nahl [16]:90).

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan  topic   Misi Utama Pengutusan Nabi Besar Muhammad Saw. Memperagakan Ke-Muslim-an yang Paling Sempurna sehubungan dengan firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ لَمۡ  یَکُنِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا  مِنۡ  اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ مُنۡفَکِّیۡنَ حَتّٰی تَاۡتِیَہُمُ  الۡبَیِّنَۃُ ۙ﴿﴾ رَسُوۡلٌ مِّنَ اللّٰہِ یَتۡلُوۡا صُحُفًا مُّطَہَّرَۃً  ۙ﴿﴾فِیۡہَا کُتُبٌ قَیِّمَۃٌ ؕ﴿﴾ وَ مَا تَفَرَّقَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ  اِلَّا مِنۡۢ  بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ  الۡبَیِّنَۃُ ؕ﴿﴾   وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا لِیَعۡبُدُوا اللّٰہَ مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ  الدِّیۡنَ ۬ۙ حُنَفَآءَ وَ یُقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ یُؤۡتُوا الزَّکٰوۃَ وَ ذٰلِکَ دِیۡنُ الۡقَیِّمَۃِ ؕ﴿﴾ اِنَّ  الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ فِیۡ  نَارِ جَہَنَّمَ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ؕ اُولٰٓئِکَ ہُمۡ شَرُّ الۡبَرِیَّۃِ ؕ﴿﴾ اِنَّ  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ ۙ اُولٰٓئِکَ ہُمۡ خَیۡرُ الۡبَرِیَّۃِ ؕ﴿﴾ جَزَآؤُہُمۡ عِنۡدَ  رَبِّہِمۡ جَنّٰتُ عَدۡنٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَاۤ  اَبَدًا ؕ رَضِیَ اللّٰہُ  عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ ؕ ذٰلِکَ لِمَنۡ خَشِیَ رَبَّہٗ ٪﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Orang-orang kafir dari Ahli-kitab dan orang-orang musyrik- tidak akan berhenti dari kekafiran hingga datang kepada mereka bukti yang nyata, yaitu  seorang rasul dari Allah yang membacakan lembaran-lembaran suci, yang di dalamnya ada perintah-perintah abadi.       Dan  orang-orang yang diberi Kitab tidak berpecah-belah kecuali setelah datang kepada mereka bukti yang nyata, padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan tulus ikhlas dalam ketaatan kepada-Nya dan dengan lurus, serta mendirikan shalat dan membayar zakat, dan itulah agama yang lurus.  Sesungguhnya orang-orang  kafir dari antara Ahlikitab dan orang-orang musyrik akan berada dalam Api Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh mereka itu sebaik-baik makhluk.  Ganjaran mereka ada di sisi Rabb (Tuhan) mereka, kebun-kebun abadi, yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itulah balasan bagi orang yang takut kepada Rabb-nya (Tuhan-nya). (Al-Bayyinah [98]:1-9).

Makna Kata “Diin” & Millat Nabi Ibrahim a.s.

       Makna kata diin  dalam ayat:  وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا لِیَعۡبُدُوا اللّٰہَ مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ  الدِّیۡنَ – “padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan tulus ikhlas dalam ketaatan kepada-Nya dan dengan lurus“, diin   berarti: ketaatan; penguasaan; perintah; rencana; ketakwaan; kebiasaan atau adat; perilaku atau tindak-tanduk (Lexicon Lane).   
      Selanjutnya Allah Swt, berfirman:  حُنَفَآءَ وَ یُقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ یُؤۡتُوا الزَّکٰوۃَ وَ ذٰلِکَ دِیۡنُ الۡقَیِّمَۃِ  --  “dengan lurus, serta mendirikan shalat dan membayar zakat, dan itulah agama yang lurus.“  Yakni ke-Muslim- an atau sikap penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah Swt. secara  tulus-ikhlas dan lurus  --   berupa  melaksanakan “Haququllaah” (hak-hak Allah) dan “haququl- ‘ibaad” (hak-hak hamba-hamba Allah) dilaksanakan   dalam bentuk  mendirikan “shalat” dan “membayar zakat”.
       Ke-muslim-an tersebut telah dilaksanakan secara sempurna oleh Nabi Besar Muhammad saw. berupa pengamalan ajaran Islam (Al-Quran), yang merupakan  agama (kitab suci) terakhir dan tersempurna (QS.5:4) yang diwahyukan Allah Swt. kepada beliau saw. untuk semua umat manusia, sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw:
قُلۡ  اِنَّنِیۡ ہَدٰىنِیۡ رَبِّیۡۤ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ۬ۚ دِیۡنًا قِیَمًا مِّلَّۃَ  اِبۡرٰہِیۡمَ حَنِیۡفًا ۚ وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾ قُلۡ  اِنَّ صَلَاتِیۡ  وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ   لِلّٰہِ   رَبِّ  الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ۙ لَا شَرِیۡکَ لَہٗ ۚ وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah diberi petunjuk oleh Rabb-ku (Tuhan-ku) kepada jalan lurus, agama yang teguh, agama Ibrahim yang lurus dan dia bukanlah dari  orang-orang musyrik.”  Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, pengorbanankukehidupanku, dan  kematianku  hanyalah untuk Allah, Rabb (Tuhan) seluruh  alam;  tidak ada sekutu bagi-Nya, untuk itulah aku diperintahkan,  dan akulah orang pertama  yang berserah diri. (Al-An’aam [6]:162-164).
       Shalat, korban, hidup, dan mati meliputi seluruh bidang amal perbuatan manusia; dan Nabi Besar Muhammad saw. diperintahkan Allah Swt.  menyatakan bahwa semua segi kehidupan di dunia ini dipersembahkan oleh beliau saw. kepada Allah Swt., semua amal ibadah beliau  saw. dipersembahkan kepada  Allah Swt., semua pengorbanan dilakukan beliau saw. untuk Dia; segala penghidupan   dihibahkan beliau  saw. untuk berbakti kepada-Nya, maka bila di jalan agama   beliau saw. mencari maut (kematian) maka  itu pun guna meraih keridhaan-Nya.

Hikmah Syariat Terakhir dan Tersempurna   Diturunkan Secara Bertahap

         Mungkin  timbul pertanyaan:  Kalau benar bahwa  sejak agama  yang pertama  kali diwahyukan Allah Swt. kepada rasul Allah yang diutus sebelum Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Besar Muhammad saw. adalah “agama Islam”  dan  para pemeluknya disebut “muslim” (QS.3:20 & 86; QS.22:78-79), tetapi mengapa dalam ayat-ayat tersebut Nabi Besar Muhammad saw. diperintahkan mengatakan “dan akulah orang pertama  yang berserah diri”: وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ  -- “untuk itulah aku diperintahkan,  dan akulah orang pertama  yang berserah diri”?
         Perlu diketahui,  bahwa sesuai dengan sifat Rabubiyat Allah Swt. segala sesuatu diciptakan secara bertahap sehingga akhirnya mencapai  puncak kesempurnaannya yang terpuji (QS.1:2), demikian pula halnya dengan pewahyuan  syariat (kitab suci) berupa ajaran Islam – yakni ajaran penyerahan diri kepada Allah Swt. (Islam)    – pun tidak diturunkan sekali gus, melainkan secara bertahap sesuai dengan perkembangan   kematangan jiwa dan intelektual manusia,  yang mencapai  puncak kesempurnaannya pada zaman pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. (QS.5:4). Sehubungan dengan  kenyataan  tersebut Allah Swt berfirman:
وَ قَالَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لَوۡ لَا نُزِّلَ عَلَیۡہِ الۡقُرۡاٰنُ جُمۡلَۃً  وَّاحِدَۃً ۚۛ کَذٰلِکَ ۚۛ لِنُثَبِّتَ بِہٖ  فُؤَادَکَ وَ رَتَّلۡنٰہُ تَرۡتِیۡلًا ﴿﴾
Dan  orang-orang yang ingkar berkata, “Mengapa Al-Quran tidak diturunkan kepadanya seluruhnya sekaligus?”  Seperti  itu adalah supaya Kami senantiasa dapat meneguhkan hati kamu dengannya. Dan Kami telah  menyusunnya dalam bentuk sebaik-baiknya. (Al-Furqaan [25]:33.
       Al-Quran diwahyukan sedikit demi sedikit dan pada waktu yang terpisah-pisah, hal ini dimaksudkan untuk memenuhi beberapa tujuan yang sangat  berguna:
         (1) waktu selang antar wahyu berbagai bagian memberikan kesempatan kepada orang-orang mukmin untuk sempurnanya beberapa nubuatan yang terkandung di dalam bagian yang sudah diwahyukan, dengan demikian keimanan mereka menjadi teguh dan kuat. Tambahan pula hal itu dimaksudkan untuk menjawab keberatan-keberatan (kritikan-kritikan) yang dilancarkan oleh orang-orang yang ingkar dalam waktu selang tersebut.
        (2)   Jika orang-orang Muslim memerlukan petunjuk pada  kejadian tertentu maka ayat-ayat yang diperlukan dan bersangkut-paut dengan hal itu diturunkan. Wahyu Al-Quran terpencar sepanjang masa 23 tahun agar para sahabat Nabi Besar Muhammad saw. dapat menghafalkan, mempelajari dan menyesuaikan diri.
        Seandainya wahyu-wahyu Al-Quran diturunkan sekaligus dalam bentuk sebuah kitab yang lengkap maka orang-orang ingkar dapat mengatakan bahwa Nabi Besar Muhammad saw. telah menyuruh seseorang menyiapkannya (QS.16:104; QS.25:5-6). Dengan demikian diturunkan-Nya Al-Quran secara bertahap pada kesempatan-kesempatan yang berlainan dan di dalam keadaan-keadaan  yang jauh sekali berbeda   menjawab keberatan (kritikan) yang mungkin timbul.

Al-Quran Sebagai  Mushaddiq (Penggenap) Kitab-kitab Sebelumnya

       Jadi, Al-Quran diturunkan  bagian demi bagian secara bertahap selain agar dapat dihafalkan secara mudah, juga  diturunkan-Nya Al-Quran sedikit demi sedikit memenuhi juga nubuatan dalam Bible berikut ini:
Maka siapa gerangan diajarkannya pengetahuan? Dan siapa diartikannya barang yang kedengaran itu? Kanak-kanak yang baharu lepas susukah? Kanak-kanak yang baru diceraikan dari susu emaknya? Karena adalah hukum bertambah hukum dan hukum bertambah hukum, syarat bertambah syarat dan syarat bertambah syarat, di sini sedikit, di sana sedikit” (Yesaya 28:9-10).
       Atas dasar kenyataan itulah  Allah Swt. dalam berbagai tempat dalam Al-Quran  menyatakan bahwa  Al-Quran adalah sebagai mushaddiqan   yakni  sebagai “penggenap”  -- bukan pembenar  sebagaimana umumnya orang salah memahami  makna hakiki kata tersebut --  yakni menggenapi  nubuatan-nubuatan yang terdapat dalam Kitab-kitab suci  sebelumnya, sebagaimana firman-Nya kepada Bani Israil:
وَ اٰمِنُوۡا بِمَاۤ اَنۡزَلۡتُ مُصَدِّقًا لِّمَا مَعَکُمۡ وَ لَا تَکُوۡنُوۡۤا اَوَّلَ کَافِرٍۭ بِہٖ ۪ وَ لَا تَشۡتَرُوۡا بِاٰیٰتِیۡ ثَمَنًا قَلِیۡلًا ۫ وَّ اِیَّایَ فَاتَّقُوۡنِ ﴿﴾
Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan  مُصَدِّقًا لِّمَا مَعَکُمۡ   --  menggenapi  apa yang ada padamu, dan janganlah kamu menjadi orang-orang yang pertama-tama kafir terhadapnya janganlah kamu menjual Ayat-ayat-Ku dengan harga murah dan hanya kepada Aku-lah kamu bertakwa.   (Al-Baqarah [2]:42). Lihat juga   QS.2:  90, 98, 102; QS.3:4, 83; QS.4:48; QS.5:49.
         Mushaddiq diserap dari shaddaqa, yang berarti: ia menganggap atau menyatakan dia atau sesuatu itu benar (Lexicon Lane). Jika kata itu dipakai dalam arti “menganggap hal itu benar” maka kata itu tidak diikuti oleh kata perangkai, atau hanya diikuti oleh kata perangkai ba’. Tetapi jika dipakai arti “menggenapi” seperti pada ayat ini, kata itu diikuti oleh kata perangkai lam (QS.2:92 dan QS.35:32). Dengan demikian  di sini kata   مُصَدِّقًا itu berarti “menggenapi” dan bukan “mengukuhkan” atau “menyatakan benar.”
        Jadi,  Al-Quran diwahyukan Allah Swt.  untuk  menggenapi nubuatan-nubuatan yang termaktub dalam Kitab-kitab Suci terdahulu, mengenai kedatangan seorang Nabi Pembawa Syariat dan Kitab Suci terakhir dan tersempurna  (QS.5:4) untuk seluruh dunia sebagaimana dinubuatkan Nabi Musa a.s. (Ulangan 18:18-19 & 32:2) dan Nabi Isa Ibnu Maryam (Matius 23:37-39; Yohanes 16:12-13). 
       Jadi, kapan saja Al-Quran menyatakan dirinya sebagai mushaddiq atas Kitab-kitab Suci sebelumnya, Al-Quran tidak membenarkan ajaran Kitab-kitab Suci itu, melainkan Al-Quran menyebutkan datang sebagai  menggenapi nubuatan-nubuatan Kitab-kitab Suci itu.

Orang-orang yang Memcampur-adukkah Haq (Kebenaran) dengan Bathil (Kedustaan)

         Meskipun demikian Al-Quran mengakui semua Kitab wahyu yang sebelumnya  berasal dari Allah Swt.  tetapi Al-Quran tidak menganggap bahwa  semua ajaran itu sekarang benar dalam keseluruhannya, sebab bagian-bagiannya telah diubah dan banyak yang dimaksudkan hanya untuk masa tertentu, sekarang telah menjadi kuno, sebagaimana dalam ayat selanjutnya Allah Swt. berfirman kepada para pemuka agama  Bani Israil:
وَ لَا تَلۡبِسُوا الۡحَقَّ بِالۡبَاطِلِ وَ تَکۡتُمُوا الۡحَقَّ وَ اَنۡتُمۡ تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Dan janganlah kamu  mencampuradukkan yang haq dengan yang batil, dan jangan pula kamu menyembunyikan yang haq itu pada-hal kamu mengetahui. (Al-Baqarah [2]:43).
  Dalam ayat ini  orang-orang Yahudi dilarang: (1) mencampuradukkan haq (kebenaran) dengan yang batil (kepalsuan) dengan menukil ayat-ayat Kitab Suci mereka lalu memberi kepadanya penafsiran-penafsiran yang salah; dan (2) menghilangkan atau menyembunyikan haq, yaitu  menghapus nubuatan-nubuatan dalam Kitab-kitab Suci mereka yang mengisyaratkan kepada Nabi Besar Muhammad saw. sebagai misal (yang seperti) Nabi Musa  a.s. sebagaimana  tercantum dalam Bible lihat Ulangan 18:18-19 &  32:2  dan dalam Al-Quran lihat  Surah Al-Ahqaf [46]:11;  Al-Muzzammil  [73]:16.
 Akibat upaya pencampur-adukan antara yang haq dengan yang batil (palsu) tersebut, golongan Ahli Kitab   bukan saja telah mendustakan dan menentang Nabi Besar Muhammad saw. yang berasal dari kalangan Bani Isma’il, bahkan para nabi Allah yang muncul di kalangan Bani Israil pun mereka dustakan dan tentang secara zalim, bahkan ada yang  mereka bunuh – termasuk upaya pembunuhan tehadap Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. melalui penyaliban (QS.4:156-159) --  firman-Nya:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنَا مُوۡسَی الۡکِتٰبَ وَ قَفَّیۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ بِالرُّسُلِ ۫ وَ اٰتَیۡنَا عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ الۡبَیِّنٰتِ وَ اَیَّدۡنٰہُ بِرُوۡحِ الۡقُدُسِ ؕ اَفَکُلَّمَا جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌۢ بِمَا لَا تَہۡوٰۤی اَنۡفُسُکُمُ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ۚ  فَفَرِیۡقًا کَذَّبۡتُمۡ  ۫ وَ فَرِیۡقًا تَقۡتُلُوۡنَ ﴿﴾وَ قَالُوۡا قُلُوۡبُنَا غُلۡفٌ ؕ بَلۡ لَّعَنَہُمُ اللّٰہُ بِکُفۡرِہِمۡ  فَقَلِیۡلًا مَّا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾وَ لَمَّا جَآءَہُمۡ کِتٰبٌ مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَہُمۡ  ۙ وَ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ یَسۡتَفۡتِحُوۡنَ عَلَی الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ۚۖ فَلَمَّا جَآءَہُمۡ مَّا عَرَفُوۡا کَفَرُوۡا بِہٖ ۫ فَلَعۡنَۃُ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan  sungguh   Kami benar-benar telah  memberikan Alkitab kepada Musa dan Kami mengikutkan rasul-rasul di belakangnya,  dan Kami  memberikan kepada Isa Ibnu Maryam Tanda-tanda yang nyata, dan juga Kami memperkuatnya dengan Ruhulqudus. Maka apakah patut setiap datang kepada kamu seorang rasul dengan membawa apa yang tidak disukai oleh dirimu  kamu berlaku takabur, lalu  sebagian kamu dustakan dan sebagian lainnya kamu bunuh? Dan mereka berkata:  Hati kami tertutup.” Tidak,  bahkan Allah telah mengutuk mereka karena kekafiran mereka  maka sedikit sekali apa yang mereka imani.  Dan tatkala datang kepada mereka sebuah Kitab yakni  Al-Quran dari Allah  menggenapi apa yang ada pada mereka, sedangkan sebelum itu mereka senantiasa memohon kemenangan  atas orang-orang kafir, tetapi tatkala  datang kepada mereka apa yang mereka  kenali itu lalu mereka kafir  kepadanya  maka laknat Allah atas orang-orang kafir  (Al-Baqarah [2]:88-90).

Munculnya “Agama-agama Baru” & “Ke-Muslim-an Sempurna Nabi Besar Muhammad saw.

         Jadi, agama “Islam” dan ke-Muslim-an  yang diwariskan Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Yaqub a.s. di kalangan Bani Israil benar-benar telah hilang dan telah berubah menjadi “agama-agama baru” yang bertolak belakang dengan Tauhid Ilahi  yang hakiki, sebagaimana  firman-Nya:
وَ قَالُوۡا کُوۡنُوۡا ہُوۡدًا اَوۡ نَصٰرٰی تَہۡتَدُوۡا ؕ قُلۡ بَلۡ مِلَّۃَ  اِبۡرٰہٖمَ  حَنِیۡفًا ؕ وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾ قُوۡلُوۡۤا اٰمَنَّا بِاللّٰہِ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡنَا وَ مَاۤ اُنۡزِلَ  اِلٰۤی  اِبۡرٰہٖمَ  وَ  اِسۡمٰعِیۡلَ وَ  اِسۡحٰقَ وَ یَعۡقُوۡبَ وَ الۡاَسۡبَاطِ وَ مَاۤ اُوۡتِیَ مُوۡسٰی وَ عِیۡسٰی وَ مَاۤ اُوۡتِیَ النَّبِیُّوۡنَ مِنۡ  رَّبِّہِمۡ ۚ  لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ اَحَدٍ مِّنۡہُمۡ ۫ۖ وَ نَحۡنُ لَہٗ مُسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾  فَاِنۡ اٰمَنُوۡا بِمِثۡلِ مَاۤ  اٰمَنۡتُمۡ  بِہٖ فَقَدِ اہۡتَدَوۡا ۚ وَ اِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّمَا ہُمۡ فِیۡشِقَاقٍ ۚ فَسَیَکۡفِیۡکَہُمُ اللّٰہُ ۚ وَ ہُوَ السَّمِیۡعُ  الۡعَلِیۡمُ ﴿﴾ؕ
Dan mereka berkata:  Jadilah kamu Yahudi atau Nasrani, barulah kamu akan mendapat petunjuk.” Katakanlah: “Tidak, bahkan turutilah agama Ibrahim yang lurus,  dan  ia sekali-kali bukan dari golongan  orang-orang musyrik.”   Katakanlah oleh kamu: “Kami beriman kepada Allah, dan kepada apa yang diturunkan kepada kami,   kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim,   Isma’il,   Ishaq,   Ya’qub dan keturunannya,  dan beriman kepada yang diberikan kepada MusaIsa, dan kepada apa yang diberikan kepada para nabi dari  Rabb (Tuhan) mereka,  kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, dan hanya kepada-Nya kami berserah diri.”  Lalu   jika mereka beriman sebagaimana kamu telah beriman kepadanya maka sungguh mereka telah mendapat petunjuk, dan  jika mereka berpaling  maka sesungguhnya mereka dalam permusuhan terhadap kamu, tetapi Allah segera mencukupi engkau untuk menghadapi mereka, dan Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Al-Baqarah [2]:136-138).    Lihat pula  QS.2:141; QS.3:68-72 & 79-81; QS.4:164.
         Pendek kata,  walau pun benar semua  rasul Allah – termasuk Nabi Ibrahim a.s. dan para nabi Allah   keturunan beliau pun  – adalah “muslim” (QS.2:122-129; QS.22:78-89), tetapi pengamalan ke-Muslim-an yang paling sempurna hanya dilaksanakan oleh Nabi Besar Muhammad saw. saja.  Itulah makna ayat:  وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ  -- “untuk itulah aku diperintahkan,  dan akulah orang pertama  yang berserah diri”?  dan Surah  Al-An’aam [6]:162-164 sebelum ini.
       Mengapa demikian? Sebab kalau ajaran Islam (Al-Quran) diwahyukan Allah Swt. kepada para rasul Allah  yang diutus sebelum Nabi Besar Muhammad saw. maka mereka tidak akan mampu mengamalkannya secara sempurna sebagai yang diamalkan oleh Nabi Besar Muhammad saw..

Hakikat Pingsannya” Nabi Musa a.s.  & Beratnya “Mengemban  Syariat” Terakhir dan Tersempurna

        Jadi, mengisyaratkan kepada kenyataan itu pulalah makna “pingsannya” Nabi Musa a.s. yang digambarkan Al-Quran berikut ini,  ketika atas permintaan Nabi Musa a.s. Allah Swt. kemudian  menampakkan “keagungan-Nya” kepada sebuah gunung  yang kemudian hancur dalam QS.7:143-146, dan ketika beliau siuman kemudian Nabi Musa a.s. pun menyatakan dirinya di zaman itu. sebagai “orang yang pertama-tama beriman” kepada Nabi Besar Muhammad saw.. Sebab  dari seluruh makhluk – termasuk para nabi Allah -- hanya beliau saw. sajalah yang mampu mengemban syariat terakhir dan tersempurna  tersebut secara sempurna (QS.33:73), firman-Nya:
وَ لَمَّا جَآءَ مُوۡسٰی لِمِیۡقَاتِنَا وَ کَلَّمَہٗ رَبُّہٗ ۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِیۡۤ   اَنۡظُرۡ   اِلَیۡکَ ؕ قَالَ لَنۡ تَرٰىنِیۡ  وَ لٰکِنِ  انۡظُرۡ  اِلَی  الۡجَبَلِ فَاِنِ اسۡتَقَرَّ مَکَانَہٗ فَسَوۡفَ تَرٰىنِیۡ ۚ فَلَمَّا تَجَلّٰی رَبُّہٗ  لِلۡجَبَلِ جَعَلَہٗ  دَکًّا وَّ خَرَّ مُوۡسٰی صَعِقًا ۚ فَلَمَّاۤ  اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ  اِلَیۡکَ  وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Dan  tatkala Musa datang pada waktu yang Kami tetapkan dan Rabb-nya (Tuhan-nya) bercakap-cakap dengannya, ia berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), perli-hatkanlah kepadaku supaya aku dapat memandang Engkau.” Dia berfirman: “Engkau tidak akan pernah dapat melihat-Ku  tetapi pandanglah gunung itu, lalu jika ia tetap ada pada tempat-nya  maka engkau pasti  akan dapat melihat-Ku.” Maka  tatkala Rabb-nya (Tuhan-nya) menjelmakan keagungan-Nya pada  gunung itu  Dia menjadikannya hancur lebur,  dan Musa pun jatuh pingsan. Lalu tatkala ia sadar kembali  ia berkata: “Mahasuci Engkau, aku bertaubat  kepada Engkau dan aku adalah orang pertama di antara orang-orang yang beriman kepadanya di masa ini.” (Al-A’raaf [7]:144).
       Beratnya “mengemban syariat Islam”  -- yang hanya dapat diemban secara sempurna oleh Nabi Besar Muhammad saw.  -- tersebut digambarkan secara kiasan dalam firman-Nya berikut ini:
اِنَّا عَرَضۡنَا الۡاَمَانَۃَ عَلَی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ الۡجِبَالِ فَاَبَیۡنَ اَنۡ یَّحۡمِلۡنَہَا وَ اَشۡفَقۡنَ مِنۡہَا وَ حَمَلَہَا الۡاِنۡسَانُ ؕ اِنَّہٗ کَانَ ظَلُوۡمًا جَہُوۡلًا ﴿ۙ﴾  لِّیُعَذِّبَ اللّٰہُ  الۡمُنٰفِقِیۡنَ وَ الۡمُنٰفِقٰتِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ وَ الۡمُشۡرِکٰتِ وَ یَتُوۡبَ اللّٰہُ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ  الۡمُؤۡمِنٰتِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ  غَفُوۡرًا  رَّحِیۡمًا ﴿٪
Sesungguhnya Kami telah  menawarkan amanat syariat kepada seluruh langit, bumi dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan memikulnya dan mereka takut terhadap-nya, akan sedangkan manusia memikulnya, sesungguhnya ia sanggup berbuat zalim dan  abai  terhadap dirinya.  Supaya Allah akan menghukum orang-orang munafik lelaki dan orang-orang munafik perempuan, dan  orang-orang musyrik lelaki dan orang-orang musyrik perempuan,  dan Allah senantiasa kembali dengan kasih-sayang kepada orang-orang lelaki   dan   perempuan-perempuan yang beriman, dan Allah adalah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Al-Ahzaab [33]:73-74).

Akibat Buruk  Mendustakan dan Menentang  Para Rasul Allah

      Jadi, itulah tujuan utama pengutusan para rasul Allah  -- terutama Nabi Besar Muhammad saw.  --  di setiap zaman kenabian (QS.7:35-36), oleh karena itu mendustakan   dan menentang misi suci para rasul Allah akan merugikan akhlak dan ruhani mereka, sebagaimana digambarkan ayat 37,  firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ  اَجَلٌ ۚ فَاِذَا  جَآءَ  اَجَلُہُمۡ  لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً  وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾   
Dan bagi  tiap-tiap umat ada batas waktu, maka apabila telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya.  Wahai Bani Adam,  jika datang kepada kamu  rasul-rasul dari antaramu yang membacakan Ayat-ayat-Ku kepadamu, maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati.  Dan  orang-orang yang men-dustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya, mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-A’rāf [7]:35-37).


(Bersambung)
ooo

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid


Pajajaran Anyar,   14  Juli 2018 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar