KHAZANAH AL-QURAN
Bab 30
HAKIKAT
PINGSANNYA NABI MUSA A.S. DAN
PERNYATAANNYA SEBAGAI ORANG PERTAMA YANG BERIMAN KEPADA NABI BESAR
MUHAMMAD SAW.
Oleh
Ki
Langlang Buana Kusuma
وَ
یَوۡمَ نَبۡعَثُ فِیۡ کُلِّ اُمَّۃٍ شَہِیۡدًا عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ جِئۡنَا
بِکَ شَہِیۡدًا عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ ؕ وَ نَزَّلۡنَا عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ
تِبۡیَانًا لِّکُلِّ شَیۡءٍ وَّ
ہُدًی وَّ رَحۡمَۃً
وَّ بُشۡرٰی لِلۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah
hari itu ketika Kami akan membangkitkan dalam setiap umat seorang saksi
terhadap mereka dari antara mereka sendiri, dan Kami akan mendatangkan engkau
sebagai saksi terhadap mereka semuanya. Dan Kami telah menurunkan kepada engkau Kitab itu
untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk, rahmat serta kabar gembira bagi
orang-orang yang berserah diri kepada Allah.
(An-Nahl
[16]:90).
|
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan topic Misi Utama Pengutusan Nabi Besar Muhammad Saw. Memperagakan
Ke-Muslim-an yang Paling Sempurna sehubungan dengan firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾
لَمۡ یَکُنِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ
اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ مُنۡفَکِّیۡنَ حَتّٰی تَاۡتِیَہُمُ الۡبَیِّنَۃُ ۙ﴿﴾ رَسُوۡلٌ مِّنَ اللّٰہِ
یَتۡلُوۡا صُحُفًا مُّطَہَّرَۃً
ۙ﴿﴾فِیۡہَا کُتُبٌ قَیِّمَۃٌ ؕ﴿﴾
وَ مَا
تَفَرَّقَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ
اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا
جَآءَتۡہُمُ الۡبَیِّنَۃُ ؕ﴿﴾ وَ مَاۤ
اُمِرُوۡۤا اِلَّا لِیَعۡبُدُوا
اللّٰہَ مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ الدِّیۡنَ ۬ۙ
حُنَفَآءَ وَ یُقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ وَ
یُؤۡتُوا الزَّکٰوۃَ وَ ذٰلِکَ دِیۡنُ الۡقَیِّمَۃِ ؕ﴿﴾
اِنَّ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ
الۡمُشۡرِکِیۡنَ فِیۡ نَارِ جَہَنَّمَ
خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ؕ اُولٰٓئِکَ ہُمۡ شَرُّ الۡبَرِیَّۃِ ؕ﴿﴾ اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ ۙ
اُولٰٓئِکَ ہُمۡ خَیۡرُ الۡبَرِیَّۃِ ؕ﴿﴾
جَزَآؤُہُمۡ
عِنۡدَ رَبِّہِمۡ جَنّٰتُ عَدۡنٍ تَجۡرِیۡ
مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَاۤ
اَبَدًا ؕ رَضِیَ اللّٰہُ عَنۡہُمۡ
وَ رَضُوۡا عَنۡہُ ؕ ذٰلِکَ لِمَنۡ خَشِیَ رَبَّہٗ ٪﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah,
Maha Penyayang. Orang-orang kafir dari Ahli-kitab
dan orang-orang musyrik-
tidak akan berhenti dari kekafiran hingga datang kepada mereka bukti yang nyata, yaitu seorang rasul dari Allah yang membacakan
lembaran-lembaran suci, yang di
dalamnya ada perintah-perintah abadi. Dan
orang-orang yang diberi Kitab tidak berpecah-belah kecuali setelah datang kepada mereka bukti yang
nyata, padahal mereka tidak diperintahkan
melainkan supaya beribadah kepada Allah
dengan tulus ikhlas dalam ketaatan kepada-Nya dan dengan lurus, serta mendirikan
shalat dan membayar zakat, dan itulah agama yang lurus. Sesungguhnya orang-orang kafir dari antara
Ahlikitab dan orang-orang musyrik
akan berada dalam Api Jahannam, mereka kekal
di dalamnya. Mereka itulah seburuk-buruk
makhluk. Sesungguhnya orang-orang
yang beriman dan beramal saleh
mereka itu sebaik-baik makhluk. Ganjaran mereka ada di sisi Rabb (Tuhan) mereka, kebun-kebun
abadi, yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itulah
balasan bagi orang yang takut
kepada Rabb-nya (Tuhan-nya). (Al-Bayyinah [98]:1-9).
Makna Kata “Diin” & Millat Nabi
Ibrahim a.s.
Makna kata diin dalam ayat: وَ مَاۤ
اُمِرُوۡۤا اِلَّا لِیَعۡبُدُوا
اللّٰہَ مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ الدِّیۡنَ – “padahal mereka tidak
diperintahkan melainkan supaya
beribadah kepada Allah dengan tulus ikhlas dalam ketaatan kepada-Nya dan
dengan lurus“, diin berarti:
ketaatan; penguasaan; perintah; rencana; ketakwaan; kebiasaan atau adat;
perilaku atau tindak-tanduk (Lexicon
Lane).
Selanjutnya Allah Swt, berfirman: حُنَفَآءَ وَ یُقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ وَ یُؤۡتُوا الزَّکٰوۃَ وَ ذٰلِکَ دِیۡنُ
الۡقَیِّمَۃِ
-- “dengan lurus, serta mendirikan shalat dan membayar zakat, dan itulah agama yang lurus.“ Yakni ke-Muslim-
an atau sikap penyerahan diri sepenuhnya
kepada Allah Swt. secara tulus-ikhlas
dan lurus --
berupa melaksanakan “Haququllaah” (hak-hak Allah) dan “haququl- ‘ibaad” (hak-hak hamba-hamba
Allah) dilaksanakan dalam bentuk mendirikan “shalat” dan “membayar zakat”.
Ke-muslim-an
tersebut telah dilaksanakan secara sempurna
oleh Nabi Besar Muhammad saw. berupa pengamalan ajaran Islam (Al-Quran), yang merupakan agama
(kitab suci) terakhir dan tersempurna (QS.5:4) yang diwahyukan Allah Swt. kepada beliau saw.
untuk semua umat manusia, sebagaimana
firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw:
قُلۡ اِنَّنِیۡ ہَدٰىنِیۡ
رَبِّیۡۤ اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ۬ۚ
دِیۡنًا قِیَمًا مِّلَّۃَ اِبۡرٰہِیۡمَ
حَنِیۡفًا ۚ وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾
قُلۡ اِنَّ صَلَاتِیۡ وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ لِلّٰہِ
رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ۙ لَا شَرِیۡکَ لَہٗ ۚ وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Sesungguhnya aku
telah diberi petunjuk oleh Rabb-ku
(Tuhan-ku) kepada jalan lurus, agama yang teguh, agama Ibrahim yang lurus dan dia
bukanlah dari orang-orang musyrik.” Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, pengorbananku, kehidupanku,
dan kematianku
hanyalah untuk Allah, Rabb (Tuhan) seluruh alam; tidak
ada sekutu bagi-Nya, untuk itulah aku
diperintahkan, dan akulah orang pertama yang berserah diri. (Al-An’aam [6]:162-164).
Shalat, korban, hidup, dan mati meliputi seluruh bidang amal
perbuatan manusia; dan Nabi Besar Muhammad saw. diperintahkan Allah Swt. menyatakan bahwa semua segi kehidupan di dunia ini dipersembahkan oleh beliau saw. kepada Allah Swt., semua amal ibadah beliau saw. dipersembahkan kepada Allah
Swt., semua pengorbanan dilakukan
beliau saw. untuk Dia; segala penghidupan dihibahkan beliau saw. untuk berbakti kepada-Nya, maka bila di
jalan agama beliau saw. mencari maut (kematian) maka itu pun
guna meraih keridhaan-Nya.
Hikmah
Syariat Terakhir dan Tersempurna Diturunkan Secara Bertahap
Mungkin timbul pertanyaan: Kalau benar bahwa sejak agama yang pertama kali diwahyukan
Allah Swt. kepada rasul Allah yang
diutus sebelum Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Besar Muhammad saw. adalah “agama Islam” dan
para pemeluknya disebut “muslim” (QS.3:20 & 86; QS.22:78-79),
tetapi mengapa dalam ayat-ayat tersebut Nabi Besar Muhammad saw. diperintahkan
mengatakan “dan akulah orang
pertama yang berserah diri”: وَ بِذٰلِکَ
اُمِرۡتُ وَ اَنَا اَوَّلُ
الۡمُسۡلِمِیۡنَ -- “untuk itulah aku diperintahkan, dan akulah orang pertama yang berserah diri”?
Perlu diketahui, bahwa sesuai dengan sifat Rabubiyat Allah Swt. segala sesuatu
diciptakan secara bertahap sehingga akhirnya
mencapai puncak kesempurnaannya yang terpuji
(QS.1:2), demikian pula halnya dengan pewahyuan
syariat
(kitab suci) berupa ajaran Islam –
yakni ajaran penyerahan diri kepada
Allah Swt. (Islam) – pun tidak diturunkan sekali gus, melainkan secara bertahap
sesuai dengan perkembangan kematangan jiwa dan intelektual manusia, yang
mencapai puncak kesempurnaannya pada zaman pengutusan Nabi Besar Muhammad
saw. (QS.5:4). Sehubungan dengan
kenyataan tersebut Allah Swt berfirman:
وَ قَالَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لَوۡ لَا نُزِّلَ عَلَیۡہِ الۡقُرۡاٰنُ
جُمۡلَۃً وَّاحِدَۃً ۚۛ کَذٰلِکَ ۚۛ
لِنُثَبِّتَ بِہٖ فُؤَادَکَ وَ
رَتَّلۡنٰہُ تَرۡتِیۡلًا ﴿﴾
Dan orang-orang yang ingkar berkata, “Mengapa Al-Quran tidak diturunkan kepadanya seluruhnya sekaligus?” Seperti
itu adalah supaya Kami senantiasa
dapat meneguhkan hati kamu dengannya. Dan Kami telah menyusunnya dalam
bentuk sebaik-baiknya. (Al-Furqaan [25]:33.
Al-Quran diwahyukan sedikit
demi sedikit dan pada waktu yang terpisah-pisah, hal ini dimaksudkan untuk
memenuhi beberapa tujuan yang sangat berguna:
(1) waktu selang antar wahyu berbagai bagian memberikan
kesempatan kepada orang-orang mukmin
untuk sempurnanya beberapa nubuatan
yang terkandung di dalam bagian yang sudah diwahyukan,
dengan demikian keimanan mereka
menjadi teguh dan kuat. Tambahan pula hal itu dimaksudkan untuk menjawab keberatan-keberatan
(kritikan-kritikan) yang dilancarkan oleh orang-orang yang ingkar dalam waktu selang tersebut.
(2)
Jika orang-orang Muslim
memerlukan petunjuk pada kejadian tertentu maka ayat-ayat yang
diperlukan dan bersangkut-paut dengan hal itu diturunkan. Wahyu Al-Quran terpencar sepanjang masa 23 tahun agar para sahabat Nabi Besar Muhammad saw. dapat menghafalkan, mempelajari
dan menyesuaikan diri.
Seandainya wahyu-wahyu Al-Quran diturunkan sekaligus
dalam bentuk sebuah kitab yang
lengkap maka orang-orang ingkar dapat
mengatakan bahwa Nabi Besar Muhammad saw. telah menyuruh seseorang
menyiapkannya (QS.16:104; QS.25:5-6). Dengan demikian diturunkan-Nya Al-Quran secara bertahap pada kesempatan-kesempatan yang berlainan dan di dalam
keadaan-keadaan yang jauh sekali berbeda
menjawab
keberatan (kritikan) yang mungkin
timbul.
Al-Quran
Sebagai Mushaddiq (Penggenap) Kitab-kitab
Sebelumnya
Jadi, Al-Quran
diturunkan bagian demi bagian secara bertahap
selain agar dapat dihafalkan secara
mudah, juga diturunkan-Nya Al-Quran sedikit demi sedikit memenuhi
juga nubuatan dalam Bible berikut ini:
“Maka siapa gerangan diajarkannya pengetahuan? Dan siapa diartikannya
barang yang kedengaran itu? Kanak-kanak yang baharu lepas susukah? Kanak-kanak
yang baru diceraikan dari susu emaknya? Karena adalah hukum bertambah hukum dan
hukum bertambah hukum, syarat bertambah syarat dan syarat bertambah syarat, di
sini sedikit, di sana sedikit” (Yesaya 28:9-10).
Atas dasar kenyataan
itulah Allah Swt. dalam berbagai tempat
dalam Al-Quran menyatakan bahwa Al-Quran adalah sebagai mushaddiqan yakni
sebagai “penggenap” -- bukan pembenar sebagaimana umumnya orang salah memahami makna hakiki kata tersebut -- yakni menggenapi nubuatan-nubuatan yang terdapat dalam Kitab-kitab suci sebelumnya, sebagaimana firman-Nya kepada
Bani Israil:
وَ اٰمِنُوۡا بِمَاۤ اَنۡزَلۡتُ مُصَدِّقًا لِّمَا مَعَکُمۡ وَ لَا
تَکُوۡنُوۡۤا اَوَّلَ کَافِرٍۭ بِہٖ ۪ وَ لَا تَشۡتَرُوۡا بِاٰیٰتِیۡ ثَمَنًا قَلِیۡلًا ۫ وَّ اِیَّایَ
فَاتَّقُوۡنِ ﴿﴾
Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku
turunkan مُصَدِّقًا لِّمَا
مَعَکُمۡ -- menggenapi
apa yang ada padamu, dan janganlah kamu menjadi orang-orang yang
pertama-tama kafir terhadapnya, janganlah
kamu menjual Ayat-ayat-Ku dengan harga murah dan hanya kepada Aku-lah kamu bertakwa. (Al-Baqarah
[2]:42). Lihat juga QS.2: 90, 98, 102; QS.3:4, 83; QS.4:48; QS.5:49.
Mushaddiq
diserap dari shaddaqa, yang berarti: ia menganggap atau menyatakan dia
atau sesuatu itu benar (Lexicon Lane).
Jika kata itu dipakai dalam arti “menganggap
hal itu benar” maka kata itu tidak diikuti oleh kata perangkai, atau hanya
diikuti oleh kata perangkai ba’. Tetapi jika dipakai arti “menggenapi” seperti pada ayat ini, kata
itu diikuti oleh kata perangkai lam (QS.2:92 dan QS.35:32). Dengan
demikian di sini kata مُصَدِّقًا itu berarti
“menggenapi” dan bukan “mengukuhkan” atau “menyatakan benar.”
Jadi, Al-Quran diwahyukan Allah Swt. untuk menggenapi
nubuatan-nubuatan yang termaktub
dalam Kitab-kitab Suci terdahulu,
mengenai kedatangan seorang Nabi Pembawa
Syariat dan Kitab Suci terakhir
dan tersempurna (QS.5:4) untuk seluruh
dunia sebagaimana dinubuatkan Nabi
Musa a.s. (Ulangan 18:18-19 &
32:2) dan Nabi Isa Ibnu Maryam (Matius
23:37-39; Yohanes 16:12-13).
Jadi, kapan saja Al-Quran menyatakan dirinya sebagai mushaddiq atas Kitab-kitab Suci sebelumnya, Al-Quran
tidak membenarkan ajaran Kitab-kitab
Suci itu, melainkan Al-Quran menyebutkan datang sebagai menggenapi nubuatan-nubuatan Kitab-kitab Suci itu.
Orang-orang yang Memcampur-adukkah
Haq (Kebenaran) dengan Bathil (Kedustaan)
Meskipun demikian Al-Quran mengakui semua Kitab wahyu yang sebelumnya berasal dari Allah Swt. tetapi Al-Quran tidak menganggap
bahwa semua ajaran itu sekarang benar dalam keseluruhannya, sebab bagian-bagiannya telah diubah dan banyak yang dimaksudkan hanya untuk masa tertentu,
sekarang telah menjadi kuno, sebagaimana dalam ayat selanjutnya Allah Swt. berfirman
kepada para pemuka agama Bani Israil:
وَ لَا تَلۡبِسُوا الۡحَقَّ بِالۡبَاطِلِ وَ تَکۡتُمُوا الۡحَقَّ وَ اَنۡتُمۡ
تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Dan janganlah kamu mencampuradukkan yang haq dengan yang batil, dan jangan pula kamu menyembunyikan yang haq itu
pada-hal kamu mengetahui. (Al-Baqarah
[2]:43).
Dalam
ayat ini orang-orang Yahudi dilarang: (1) mencampuradukkan haq (kebenaran) dengan yang batil (kepalsuan) dengan menukil
ayat-ayat Kitab Suci mereka lalu
memberi kepadanya penafsiran-penafsiran
yang salah; dan (2) menghilangkan atau menyembunyikan haq,
yaitu menghapus nubuatan-nubuatan dalam Kitab-kitab
Suci mereka yang mengisyaratkan kepada Nabi
Besar Muhammad saw. sebagai misal
(yang seperti) Nabi Musa a.s. sebagaimana
tercantum dalam Bible lihat Ulangan
18:18-19 & 32:2 dan dalam Al-Quran
lihat Surah Al-Ahqaf [46]:11; Al-Muzzammil [73]:16.
Akibat upaya pencampur-adukan antara yang haq
dengan yang batil (palsu) tersebut,
golongan Ahli Kitab bukan saja telah mendustakan dan menentang
Nabi Besar Muhammad saw. yang berasal dari kalangan Bani Isma’il, bahkan para nabi
Allah yang muncul di kalangan Bani
Israil pun mereka dustakan dan tentang secara zalim, bahkan ada yang
mereka bunuh – termasuk upaya pembunuhan tehadap Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. melalui penyaliban
(QS.4:156-159) -- firman-Nya:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنَا
مُوۡسَی الۡکِتٰبَ وَ قَفَّیۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ بِالرُّسُلِ ۫ وَ اٰتَیۡنَا
عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ الۡبَیِّنٰتِ وَ اَیَّدۡنٰہُ بِرُوۡحِ الۡقُدُسِ ؕ
اَفَکُلَّمَا جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌۢ بِمَا لَا تَہۡوٰۤی اَنۡفُسُکُمُ
اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ۚ فَفَرِیۡقًا
کَذَّبۡتُمۡ ۫ وَ فَرِیۡقًا تَقۡتُلُوۡنَ
﴿﴾وَ قَالُوۡا قُلُوۡبُنَا غُلۡفٌ ؕ بَلۡ لَّعَنَہُمُ اللّٰہُ بِکُفۡرِہِمۡ فَقَلِیۡلًا مَّا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾وَ لَمَّا
جَآءَہُمۡ کِتٰبٌ مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَہُمۡ ۙ وَ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ یَسۡتَفۡتِحُوۡنَ
عَلَی الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ۚۖ فَلَمَّا جَآءَہُمۡ مَّا عَرَفُوۡا کَفَرُوۡا بِہٖ
۫ فَلَعۡنَۃُ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan sungguh
Kami benar-benar telah memberikan Alkitab kepada Musa dan Kami mengikutkan rasul-rasul di
belakangnya, dan Kami
memberikan kepada Isa Ibnu Maryam Tanda-tanda yang nyata, dan juga
Kami memperkuatnya dengan Ruhulqudus.
Maka apakah patut setiap datang
kepada kamu seorang rasul dengan membawa apa yang tidak disukai oleh
dirimu kamu berlaku takabur,
lalu sebagian kamu dustakan dan sebagian
lainnya kamu bunuh? Dan mereka berkata: ”Hati kami tertutup.” Tidak, bahkan Allah
telah mengutuk mereka karena kekafiran mereka maka sedikit
sekali apa yang mereka imani. Dan tatkala datang kepada mereka sebuah Kitab yakni Al-Quran dari Allah menggenapi apa yang ada pada mereka,
sedangkan sebelum itu mereka senantiasa
memohon kemenangan atas
orang-orang kafir, tetapi tatkala datang
kepada mereka apa yang mereka kenali itu
lalu mereka kafir kepadanya
maka laknat Allah atas
orang-orang kafir (Al-Baqarah
[2]:88-90).
Munculnya “Agama-agama Baru” & “Ke-Muslim-an
Sempurna Nabi Besar Muhammad saw.
Jadi, agama “Islam” dan ke-Muslim-an yang diwariskan
Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Yaqub a.s. di kalangan Bani Israil benar-benar telah hilang
dan telah berubah menjadi “agama-agama
baru” yang bertolak belakang dengan Tauhid
Ilahi yang hakiki, sebagaimana firman-Nya:
وَ قَالُوۡا کُوۡنُوۡا ہُوۡدًا اَوۡ
نَصٰرٰی تَہۡتَدُوۡا ؕ قُلۡ بَلۡ
مِلَّۃَ اِبۡرٰہٖمَ حَنِیۡفًا ؕ وَ مَا
کَانَ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾ قُوۡلُوۡۤا اٰمَنَّا
بِاللّٰہِ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡنَا وَ مَاۤ اُنۡزِلَ اِلٰۤی اِبۡرٰہٖمَ وَ اِسۡمٰعِیۡلَ وَ اِسۡحٰقَ وَ یَعۡقُوۡبَ وَ الۡاَسۡبَاطِ وَ
مَاۤ اُوۡتِیَ مُوۡسٰی وَ عِیۡسٰی وَ مَاۤ اُوۡتِیَ النَّبِیُّوۡنَ مِنۡ رَّبِّہِمۡ ۚ لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ اَحَدٍ مِّنۡہُمۡ ۫ۖ وَ نَحۡنُ
لَہٗ مُسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾ فَاِنۡ اٰمَنُوۡا بِمِثۡلِ
مَاۤ اٰمَنۡتُمۡ بِہٖ فَقَدِ اہۡتَدَوۡا ۚ وَ اِنۡ تَوَلَّوۡا
فَاِنَّمَا ہُمۡ فِیۡشِقَاقٍ ۚ فَسَیَکۡفِیۡکَہُمُ اللّٰہُ ۚ وَ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ ﴿﴾ؕ
Dan mereka
berkata: “Jadilah kamu Yahudi atau Nasrani, barulah kamu akan mendapat petunjuk.”
Katakanlah: “Tidak, bahkan turutilah agama Ibrahim yang lurus, dan ia sekali-kali bukan dari golongan orang-orang musyrik.” Katakanlah oleh kamu: “Kami beriman kepada Allah, dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, kepada apa
yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub
dan keturunannya, dan beriman kepada yang diberikan kepada Musa,
Isa, dan kepada apa yang diberikan kepada para nabi
dari Rabb (Tuhan) mereka, kami
tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, dan hanya kepada-Nya kami berserah diri.” Lalu jika
mereka beriman sebagaimana kamu
telah beriman kepadanya maka sungguh mereka telah mendapat petunjuk, dan jika
mereka berpaling maka sesungguhnya mereka dalam permusuhan terhadap kamu,
tetapi Allah segera mencukupi engkau untuk menghadapi mereka, dan Dia
Maha Mendengar, Maha Mengetahui.
(Al-Baqarah
[2]:136-138). Lihat pula QS.2:141; QS.3:68-72 & 79-81; QS.4:164.
Pendek kata, walau pun benar semua rasul Allah
– termasuk Nabi Ibrahim a.s. dan para
nabi Allah keturunan beliau pun – adalah “muslim”
(QS.2:122-129; QS.22:78-89), tetapi pengamalan ke-Muslim-an yang paling
sempurna hanya dilaksanakan oleh Nabi Besar Muhammad saw. saja. Itulah makna ayat: وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ -- “untuk itulah aku diperintahkan, dan akulah
orang pertama yang berserah diri”? dan Surah Al-An’aam
[6]:162-164 sebelum ini.
Mengapa demikian? Sebab
kalau ajaran Islam (Al-Quran) diwahyukan Allah Swt. kepada para rasul Allah yang diutus sebelum Nabi Besar Muhammad saw.
maka mereka tidak akan mampu
mengamalkannya secara sempurna
sebagai yang diamalkan oleh Nabi
Besar Muhammad saw..
Hakikat “Pingsannya” Nabi Musa a.s. & Beratnya “Mengemban Syariat” Terakhir
dan Tersempurna
Jadi, mengisyaratkan kepada kenyataan itu
pulalah makna “pingsannya” Nabi Musa
a.s. yang digambarkan Al-Quran berikut ini,
ketika atas permintaan Nabi Musa
a.s. Allah Swt. kemudian menampakkan
“keagungan-Nya” kepada sebuah gunung
yang kemudian hancur dalam
QS.7:143-146, dan ketika beliau siuman
kemudian Nabi Musa a.s. pun menyatakan dirinya di zaman itu. sebagai “orang
yang pertama-tama beriman” kepada
Nabi Besar Muhammad saw.. Sebab dari
seluruh makhluk – termasuk para nabi
Allah -- hanya beliau saw. sajalah yang mampu mengemban syariat terakhir dan tersempurna tersebut secara sempurna (QS.33:73),
firman-Nya:
وَ لَمَّا جَآءَ مُوۡسٰی
لِمِیۡقَاتِنَا وَ کَلَّمَہٗ رَبُّہٗ ۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِیۡۤ اَنۡظُرۡ
اِلَیۡکَ ؕ قَالَ لَنۡ تَرٰىنِیۡ
وَ لٰکِنِ انۡظُرۡ اِلَی
الۡجَبَلِ فَاِنِ اسۡتَقَرَّ مَکَانَہٗ فَسَوۡفَ تَرٰىنِیۡ ۚ فَلَمَّا
تَجَلّٰی رَبُّہٗ لِلۡجَبَلِ جَعَلَہٗ دَکًّا وَّ خَرَّ مُوۡسٰی صَعِقًا ۚ فَلَمَّاۤ اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ اِلَیۡکَ
وَ اَنَا اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ
﴿﴾
Dan tatkala Musa datang pada waktu yang Kami tetapkan dan Rabb-nya (Tuhan-nya) bercakap-cakap dengannya, ia berkata:
“Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), perli-hatkanlah kepadaku supaya aku dapat memandang Engkau.” Dia
berfirman: “Engkau tidak akan pernah
dapat melihat-Ku tetapi pandanglah gunung itu, lalu jika ia tetap ada pada tempat-nya maka engkau pasti akan dapat melihat-Ku.” Maka tatkala Rabb-nya
(Tuhan-nya) menjelmakan keagungan-Nya pada gunung itu Dia menjadikannya
hancur lebur, dan Musa pun jatuh pingsan. Lalu tatkala ia sadar kembali ia berkata: “Mahasuci Engkau, aku bertaubat
kepada Engkau dan aku adalah orang pertama di antara
orang-orang yang beriman kepadanya di masa ini.” (Al-A’raaf
[7]:144).
Beratnya
“mengemban syariat Islam” -- yang hanya dapat diemban secara sempurna oleh Nabi Besar Muhammad saw. -- tersebut digambarkan secara kiasan dalam firman-Nya berikut ini:
اِنَّا عَرَضۡنَا الۡاَمَانَۃَ عَلَی السَّمٰوٰتِ وَ
الۡاَرۡضِ وَ الۡجِبَالِ فَاَبَیۡنَ اَنۡ یَّحۡمِلۡنَہَا وَ اَشۡفَقۡنَ مِنۡہَا وَ
حَمَلَہَا الۡاِنۡسَانُ ؕ اِنَّہٗ کَانَ ظَلُوۡمًا جَہُوۡلًا ﴿ۙ﴾ لِّیُعَذِّبَ
اللّٰہُ الۡمُنٰفِقِیۡنَ وَ الۡمُنٰفِقٰتِ
وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ وَ الۡمُشۡرِکٰتِ وَ یَتُوۡبَ اللّٰہُ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ
وَ الۡمُؤۡمِنٰتِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ غَفُوۡرًا
رَّحِیۡمًا ﴿٪ ﴾
Sesungguhnya
Kami telah menawarkan amanat syariat kepada seluruh langit, bumi dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan memikulnya dan mereka takut terhadap-nya, akan
sedangkan manusia memikulnya,
sesungguhnya ia sanggup berbuat zalim dan abai terhadap dirinya. Supaya Allah
akan menghukum orang-orang munafik lelaki dan orang-orang munafik perempuan, dan
orang-orang musyrik lelaki
dan orang-orang musyrik perempuan, dan Allah senantiasa kembali dengan kasih-sayang kepada orang-orang lelaki dan perempuan-perempuan yang beriman, dan Allah adalah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Al-Ahzaab [33]:73-74).
Akibat Buruk Mendustakan
dan Menentang Para Rasul
Allah
Jadi, itulah tujuan utama pengutusan para
rasul Allah -- terutama Nabi Besar Muhammad saw. -- di
setiap zaman kenabian (QS.7:35-36),
oleh karena itu mendustakan dan menentang
misi suci para rasul Allah akan
merugikan akhlak dan ruhani mereka, sebagaimana digambarkan ayat
37, firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ اَجَلٌ ۚ
فَاِذَا جَآءَ اَجَلُہُمۡ
لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً وَّ
لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ
اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ
ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ
﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ
اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ
اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan bagi tiap-tiap umat ada batas waktu,
maka apabila telah datang batas waktunya,
mereka tidak dapat mengundurkannya
barang sesaat pun dan tidak pula
dapat memajukannya. Wahai
Bani Adam, jika datang kepada kamu rasul-rasul dari antaramu yang membacakan Ayat-ayat-Ku kepadamu, maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati. Dan orang-orang
yang men-dustakan Ayat-ayat Kami dan dengan
takabur berpaling darinya, mereka
itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-A’rāf
[7]:35-37).
(Bersambung)
ooo
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
Pajajaran Anyar, 14
Juli 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar