Bismillāhirrahmānirrahīm
KHAZANAH AL-QURAN
Bab
23
KESEJAJARAN
PROSES BERTAHAP PENCIPTAAN ALAM SEMESTA JASMANI DAN RUHANI
& PENYEBUTAN “ORANG-ORANG KAFIR” DALAM AYAT PERISTIWA “BIG BANG” (LEDAKAN BESAR) AWAL PENCIPTAAN ALAM SEMESTA
Oleh
Ki
Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian akhir bab sebelumnya
telah dikemukakan topic: Proses Penciptaan Alam
Semesta, sehubungan
dengan proses penciptaan tatanan alam
semesta, Allah Swt. berfirman:
قُلۡ اَئِنَّکُمۡ
لَتَکۡفُرُوۡنَ بِالَّذِیۡ خَلَقَ الۡاَرۡضَ فِیۡ یَوۡمَیۡنِ وَ
تَجۡعَلُوۡنَ لَہٗۤ اَنۡدَادًا ؕ ذٰلِکَ رَبُّ
الۡعٰلَمِیۡنَ ۚ﴿﴾ وَ جَعَلَ فِیۡہَا رَوَاسِیَ
مِنۡ فَوۡقِہَا وَ بٰرَکَ فِیۡہَا وَ قَدَّرَ فِیۡہَاۤ اَقۡوَاتَہَا فِیۡۤ اَرۡبَعَۃِ
اَیَّامٍ ؕ سَوَآءً
لِّلسَّآئِلِیۡنَ ﴿﴾ ثُمَّ اسۡتَوٰۤی اِلَی السَّمَآءِ وَ ہِیَ دُخَانٌ
فَقَالَ لَہَا وَ لِلۡاَرۡضِ ائۡتِیَا
طَوۡعًا اَوۡ کَرۡہًا ؕ قَالَتَاۤ اَتَیۡنَا
طَآئِعِیۡنَ ﴿﴾ فَقَضٰہُنَّ سَبۡعَ سَمٰوَاتٍ فِیۡ یَوۡمَیۡنِ وَ اَوۡحٰی فِیۡ کُلِّ
سَمَآءٍ اَمۡرَہَا ؕ وَ زَیَّنَّا
السَّمَآءَ الدُّنۡیَا بِمَصَابِیۡحَ ٭ۖ
وَ حِفۡظًا ؕ ذٰلِکَ تَقۡدِیۡرُ
الۡعَزِیۡزِ الۡعَلِیۡمِ ﴿﴾ فَاِنۡ
اَعۡرَضُوۡا فَقُلۡ
اَنۡذَرۡتُکُمۡ صٰعِقَۃً مِّثۡلَ
صٰعِقَۃِ عَادٍ وَّ ثَمُوۡدَ ﴿ؕ﴾
Katakanlah:
”Apakah kamu benar-benar kafir
kepada Dzat Yang menciptakan bumi
dalam dua hari? Dan kamu
menjadikan bagi-Nya sekutu-sekutu?” Itulah Rabb (Tuhan) seluruh alam.
Dan Dia menjadikan padanya gunung-gunung di atasnya, dan memberkatinya, وَ قَدَّرَ فِیۡہَاۤ
اَقۡوَاتَہَا فِیۡۤ
اَرۡبَعَۃِ اَیَّامٍ -- dan Dia menentukan padanya kadar
makanan-makanannya dalam empat hari, سَوَآءً
لِّلسَّآئِلِیۡنَ -- sama rata bagi orang-orang yang bertanya.
ثُمَّ اسۡتَوٰۤی
اِلَی السَّمَآءِ وَ ہِیَ دُخَانٌ فَقَالَ لَہَا وَ لِلۡاَرۡضِ ائۡتِیَا طَوۡعًا اَوۡ کَرۡہًا ؕ قَالَتَاۤ اَتَیۡنَا
طَآئِعِیۡنَ -- Kemudian Dia mengarahkan perhatian ke langit, ketika itu masih merupakan asap, lalu Dia berfirman
kepadanya dan kepada bumi: ”Datanglah
kamu berdua dengan rela atau pun
terpaksa. Keduanya
menjawab: ”Kami berdua datang dengan
rela.” فَقَضٰہُنَّ
سَبۡعَ سَمٰوَاتٍ فِیۡ یَوۡمَیۡنِ وَ اَوۡحٰی فِیۡ کُلِّ سَمَآءٍ اَمۡرَہَا -- Maka Dia menciptakannya tujuh langit dalam dua hari, dan Dia mewahyukan kepada tiap-tiap langit
tugasnya. وَ زَیَّنَّا
السَّمَآءَ الدُّنۡیَا بِمَصَابِیۡحَ ٭ۖ
وَ حِفۡظًا ؕ ذٰلِکَ تَقۡدِیۡرُ
الۡعَزِیۡزِ الۡعَلِیۡمِ -- Dan Kami menghiasi langit bawah dengan lampu-lampu serta memeliharanya.
Demikian itu adalah takdir dari Yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui. فَاِنۡ اَعۡرَضُوۡا
فَقُلۡ اَنۡذَرۡتُکُمۡ صٰعِقَۃً
مِّثۡلَ صٰعِقَۃِ عَادٍ وَّ
ثَمُوۡدَ -- Lalu
jika mereka itu berpaling, maka
katakanlah: ”Aku memperingatkan kamu dengan petir yang membinasakan seperti petir yang menimpa kaum 'Ād dan Tsamud.” (Ha Mim – As-Sajdah
[41:10-14).
Ukuran Lamanya “Hari-hari”
Allah Swt.
Tidak
mungkin memperkirakan panjangnya (lamanya) ”dua
hari” itu. Jangkauannya mungkin sampai ribuan
tahun. Bahkan dalam Al-Quran, yaum (hari) telah disebut sama dengan 1000 tahun (QS.22:48) atau bahkan sama
dengan 50.000 tahun (QS.70:5).
Menjadikan bumi dalam 2 hari dapat
berarti 2 tahap yang harus dilalui
oleh bumi, dari zat tidak berbentuk
berangsur-angsur berkembang menjadi bentuk tertentu sesudah mendingin
dan memadat (QS.21:31-32).
”Dua hari” atau tahap-tahap yang disebut dalam ayat sebelum ini, yang harus dilalui
oleh bumi sebelum bumi memperoleh bentuk seperti sekarang,
termasuk di dalam ”empat hari” yang disebut dalam ayat ini: وَ قَدَّرَ فِیۡہَاۤ
اَقۡوَاتَہَا فِیۡۤ
اَرۡبَعَۃِ اَیَّامٍ -- dan Dia menentukan padanya kadar
makanan-makanannya dalam empat hari, سَوَآءً
لِّلسَّآئِلِیۡنَ -- sama rata bagi orang-orang yang bertanya.” Sedang ”dua hari” tambahannya
itu dimaksudkan 2 tahap penempatan gunung-gunung, sungai-sungai, dan sebagainya dan pertumbuhan kehidupan nabati dan hewani di atasnya. Lihat pula ayat 13.
Kata-kata, وَ قَدَّرَ فِیۡہَاۤ
اَقۡوَاتَہَا -- ”Dia
menentukan padanya kadar makanan-makanannya” berarti bahwa bumi
itu sepenuhnya mampu dan selamanya akan tetap mampu menjamin makanan untuk semua makhluk
yang hidup di atasnya (QS.11:7-8).
Ungkapan سَوَآءً
لِّلسَّآئِلِیۡنَ -- ”sama rata bagi orang-orang yang bertanya”
dapat mengandung arti, bahwa makanan
yang disediakan oleh Allah Swt. di bumi
ini dapat diperoleh tiap-tiap pencahari
yang berusaha mendapatnya sesuai dengan hukum
alam.
Ungkapan itu dapat pula berarti bahwa
segala kepentingan jasmani dan keperluan manusia lainnya telah dijamin dengan kecukupan dalam makanan
yang tumbuh dari bumi. Maka kekhawatiran bahwa bumi pada suatu ketika tidak dapat lagi menumbuhkan cukup makanan bagi penduduk bumi yang cepat
bertambah itu, sungguh tidak beralasan.
”Bumi ini dapat menjamin makanan, serat dan
segala hasil pertanian lain, yang diperlukan bagi 28 biliun jiwa, sepuluh kali
lipat jumlah penduduk bumi dewasa ini” (Prof. Colin Clark, direktur Lembaga Penyelidikan Ekonomi Pertanian
dari Universitas Oxford). Baru-baru ini FAO (United Nations Food and
Agricultural Organization) yaitu organisasi
urusan makanan dan pertanian PBB
menjelaskan dalam laporannya: ”Keadaan
Makanan dan Pertanian 1959,” bahwa
persediaan makanan dunia berkembang dua kali secepat pertambahan penduduknya.
Pentingnya Mentaati Hukum-hukum Allah Swt.
Makna kurhan atau karhan dalam ayat:
ثُمَّ اسۡتَوٰۤی
اِلَی السَّمَآءِ وَ ہِیَ دُخَانٌ فَقَالَ لَہَا وَ لِلۡاَرۡضِ ائۡتِیَا طَوۡعًا اَوۡ کَرۡہًا ؕ قَالَتَاۤ اَتَیۡنَا
طَآئِعِیۡنَ ﴿﴾
Kemudian Dia mengarahkan perhatian ke langit,
ketika itu masih merupakan asap,
lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi: ”Da-tanglah kamu berdua dengan rela
atau pun terpaksa. Keduanya
menjawab: ”Kami berdua datang dengan
rela.” (Ha Mim – As-Sajdah [41:12).
Kata
kurhan atau karhan kedua bentuknya, adalah katabenda (ism)
masdar dari kata kariha (ia tidak menyukai); yang pertama (kurhan) berarti
“apa yang kamu sendiri tidak menyukai”, dan yang kedua (kurhan)
berarti “apa yang kamu terpaksa
mengerjakannya, bertentangan dengan kemauanmu sendiri atas kehendak orang
lain.” Fa'alahu karhan berarti ia
melakukannya karena terpaksa (Lexicon
Lane).
Ayat
ini berarti bahwa segala sesuatu di dalam alam semesta ini tunduk kepada dan
bekerja sesuai dengan hukum-hukum tertentu. Segala sesuatu tidak mempunyai kebebasan berbuat. Hanya manusialah yang dianugerahi kehendak atau pikiran – baik menuruti
ataupun menentang hukum Ilahi, dan
bukan tidak jarang ia mempergunakan
pikirannya yang membawa kerugian
kepada dirinya sendiri.
Itu pulalah arti dan maksud ayat QS.33:73 berkenaan insan -- yakni insan-ul-kamil Nabi Besar Muhammad saw. -- yang bersedia untuk mengemban (memikul) amanat (syariat) terakhir dan tersempurna yakni agama Islam (QS.5:4) karena beliau saw. siap berlaku jahul dan zalim terhadap diri sendiri demi memperagakan suri teladan terbaik pengamalan ajaran Islam (QS.33:22), yang Nabi Musa a.s. tak mampu memikulnya (QS.7:144).
Itu pulalah arti dan maksud ayat QS.33:73 berkenaan insan -- yakni insan-ul-kamil Nabi Besar Muhammad saw. -- yang bersedia untuk mengemban (memikul) amanat (syariat) terakhir dan tersempurna yakni agama Islam (QS.5:4) karena beliau saw. siap berlaku jahul dan zalim terhadap diri sendiri demi memperagakan suri teladan terbaik pengamalan ajaran Islam (QS.33:22), yang Nabi Musa a.s. tak mampu memikulnya (QS.7:144).
Dalam
ayat 10 dan 11 dinyatakan bahwa pembuatan
bumi ini memerlukan waktu 2 hari,
dan penempatan gunung-gunung, sungai-sungai, dan sebagainya di atasnya serta
penempatan kehidupan nabati dan hewani dalam 2 hari lain lagi. Tetapi dalam ayat ini disebutkan bahwa
seperti halnya terjadinya bumi,
demikian juga pembentukan tata surya beserta planit-planit dan satelit-satelitnya juga memerlukan waktu
2 hari menjadi sempurna.
Jadi, seluruh alam semesta terjadi dalam
waktu 6 hari, yang sesuai benar dengan penuturan ayat QS.7:55 dan QS.50:39.
Dengan mengambil kata yaum dalam arti ”tahap”, maka ketiga-tiga ayat, ialah ayat-ayat 10, 11, dan 13,
bersama-sama akan berarti bahwa seluruh
alam semesta kebendaan menjadi genap dalam 6 tahap. Sesudah alam semesta
ini tercipta berdasarkan Sifat Rabubiyyat Allah Swt. (QS.1:2), barulah makhluk manusia terwujud dan kejadiannya pun menjadi sempurna dalam enam tahap (QS.23:13-15).
Sehubungan dengan berbagai periode proses penciptaan alam semesta tersebut, dalam surah lain Allah Swt.
berfirman:
اَوَ لَمۡ یَرَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا
اَنَّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ
کَانَتَا رَتۡقًا فَفَتَقۡنٰہُمَا ؕ وَ جَعَلۡنَا مِنَ الۡمَآءِ کُلَّ شَیۡءٍ حَیٍّ ؕ اَفَلَا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾ وَ جَعَلۡنَا فِی الۡاَرۡضِ رَوَاسِیَ
اَنۡ تَمِیۡدَ بِہِمۡ ۪ وَ جَعَلۡنَا
فِیۡہَا فِجَاجًا سُبُلًا
لَّعَلَّہُمۡ یَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾ وَ
جَعَلۡنَا السَّمَآءَ سَقۡفًا مَّحۡفُوۡظًا ۚۖ وَّ ہُمۡ عَنۡ
اٰیٰتِہَا مُعۡرِضُوۡنَ ﴿﴾ وَ ہُوَ الَّذِیۡ
خَلَقَ الَّیۡلَ وَ النَّہَارَ وَ الشَّمۡسَ وَ الۡقَمَرَ ؕ کُلٌّ فِیۡ فَلَکٍ یَّسۡبَحُوۡنَ ﴿﴾
Tidakkah orang-orang
yang kafir melihat bahwa seluruh
langit dan bumi keduanya dahulu suatu massa yang menyatu lalu
Kami memisahkan keduanya? Dan Kami menjadikan segala sesuatu yang hidup
dari air. Apakah mereka tidak mau ber-iman? Kami telah menjadikan di bumi gunung-gunung
yang kokoh supaya bumi jangan
bergoncang bersama mereka; dan telah
Kami telah menjadikan di dalamnya
jalan-jalan yang luas supaya mereka
mendapat petunjuk. Dan Kami telah menjadikan langit sebagai atap
yang terpelihara, namun mereka berpaling dari Tanda-tanda-Nya. Dan Dia
yang telah menciptakan malam dan siang
serta dan matahari dan bulan, masing-masing beredar pada garis peredarannya. (Al-Anbiya [21]:31-34).
Proses
Bertahap Penciptaan Alam Semesta
Ayat 31 mengisyaratkan landasan agung kepada satu kebenaran ilmiah. Agaknya ayat itu
menunjuk kepada alam semesta, ketika masih belum mempunyai bentuk benda, dan ayat itu bermaksud menyatakan
bahwa seluruh alam semesta -- khususnya
tata surya -- telah berkembang dari gumpalan yang belum mempunyai bentuk yakni ratqan:
اَوَ لَمۡ یَرَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا
اَنَّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ
کَانَتَا رَتۡقًا فَفَتَقۡنٰہُمَا -- “Tidakkah
orang-orang yang kafir melihat bahwa seluruh langit dan bumi keduanya dahulu
suatu massa yang menyatu “.
Selaras dengan asas hukum yang Allah Swt. lancarkan Dia
memecahkan gumpalan zat itu: فَفَتَقۡنٰہُمَا -- “lalu Kami
memisahkan keduanya“ dan pecahan-pecahan yang cerai-berai tersebut menjadi kesatuan-kesatuan wujud tata-surya (“The Universe Surveyed” oleh
Harold Richards dan “The Nature of the Universe” oleh
Fred Hoyle). وَ جَعَلۡنَا
مِنَ الۡمَآءِ کُلَّ شَیۡءٍ حَیٍّ -- Sesudah itu Allah Swt. menciptakan seluruh kehidupan itu dari air: وَ جَعَلۡنَا مِنَ الۡمَآءِ کُلَّ شَیۡءٍ حَیٍّ --
“Dan Kami menjadikan segala
sesuatu yang hidup dari air“.
Ayat 31 nampaknya mengandung arti bahwa seperti alam kebendaan, demikian pula alam keruhanian pun berkembang dari ratqan
yakni gumpalan yang belum mempunyai bentuk,
yang terdiri dari alam pikiran yang kacau-balau dan kepercayaan-kepercayaan yang bukan-bukan.
Sebagaimana Allah Swt. dengan hikmah-Nya yang tidak pernah meleset dan
sesuai dengan rencana agung telah memecahkan gumpalan zat itu, dan pecahan-pecahan yang bertebaran menjadi kesatuan wujud berbagai tata surya, maka persis seperti itu pula Dia mewujudkan suatu tertib ruhani yang baru dalam suatu alam
yang berguling-gantang di dalam paya-paya cita-cita yang kacau-balau, sebagaimana dikemukakan dalam QS.30:42 berkenaan kerusakan yang telah melanda “daratan” dan “lautan.”
Apabila umat manusia tenggelam
ke dalam kegelapan akhlak yang keruh serta angkasa
keruhanian menjadi tersaput oleh awan
yang padat dan sesak, maka Allah Swt. menyebabkan munculnya suatu cahaya berupa seorang utusan Ilahi yang
mengusir kegelapan ruhani yang telah menyebar luas itu, dan dari gumpalan yang tidak berbentuk dan tanpa
kehidupan -- yang berupa kerendahan akhlak dan ruhani -- lahirlah suatu alam semesta ruhani yang mulai meluas
dari pusatnya dan akhirnya melingkupi seluruh
bumi, menerima kehidupan dan pengarahan, dari tenaga penggerak yang berada di belakangnya
(QS.14:49-53).
Ungkapan an tamīda bihim dalam
ayat: وَ جَعَلۡنَا فِی الۡاَرۡضِ رَوَاسِیَ اَنۡ تَمِیۡدَ بِہِمۡ -- “Kami telah menjadikan di bumi gunung-gunung
yang kokoh supaya bumi jangan
bergoncang bersama mereka” berarti:
jangan-jangan bumi ikut goncang dengan mereka; ikut berputar dengan
mereka; menjadi sumber kemanfaatan bagi mereka; mada berarti pula ia
memberikan faedah (Aqrab-ul-Mawarid).
Ayat ini pernyataan suatu kebenaran ilmu pengetahuan yang lain
lagi. Ilmu penyelidikan tanah (geologi) telah membuktikan bahwa gunung-gunung sampai batas tertentu melindungi bumi terhadap gempa-gempa bumi. Pada permulaannya bagian dalam bumi sangat panas berupa magma.
Peran Keberadaan Gunung-gunung & Ketidak-bersyukuran Orang-orang Musyrik Kepada Allah Swt, Tuhan Pencipta Yang Hakiki
Ketika — sebagai akibat panas
magma yang sangat itu — terbentuk gas-gas
di pusat bumi, gas-gas itu memaksa
mencari jalan keluar, dan dengan demikian menyebabkan goncangan-goncangan dan letupan-letupan
keras lalu terwujudlah kawah-kawah,
yang sesudah menjadi dingin mengambil bentuk gunung-gunung (“Marvels
and Mysteries of Science” oleh Allison Hax; dan Encyclopaedia Britannica,
pada kata “Geology”).
Ayat ini dapat pula berarti,
bahwa gunung-gunung merupakan bantuan
besar kepada bumi dalam geraknya yang teratur dan mantap sekeliling porosnya. Al-Quran menyebut
bumi “berputar” lama sebelum orang
mengetahui bahwa bumi tidak diam, melainkan bergerak
pada porosnya dan juga mengelilingi matahari.
Tata
surya dengan matahari, bulan, planit-planit, dan bintang-bintang-nya merupakan satu sistem yang sangat rapih dan teratur,
dan telah berwujud semenjak berjuta-juta tahun, dan tidak pernah mengalami ketidakberesan satu kali pun dan penyimpangan sedikit pun dalam gerak benda-benda langit itu.
Benda-benda langit memberikan pengaruh yang
sangat baik terhadap bulatan bumi dan terhadap para penghuninya. Sebagaimana sebuah atap merupakan alat pelindung dari
hujan, hawa dingin, dan panas, bagi seluruh penghuni suatu rumah, seperti itu
pula langit berperan sebagai pelindung bagi bumi yang ada di bawahnya, dan benda-benda
langit memberikan pengaruh yang
berfaedah terhadap umat manusia.
Malam dan siang, matahari dan
bulan, semuanya telah dijadikan oleh Allah Swt, Rabb (Tuhan Pencipta) seluruh alam
-- dan semuanya itu memenuhi keperluan manusia, dan sangat perlu untuk kelestarian hidup manusia di atas bumi ini, karena itu Allah Swt.
telah menyatakan dalam Al-Quran bahwa Allah Swt. telah mengkhidmatkan alam semesta ini
bagi umat manusia, firman-Nya:
اَفَمَنۡ
یَّخۡلُقُ کَمَنۡ لَّا یَخۡلُقُ ؕ اَفَلَا تَذَکَّرُوۡنَ ﴿﴾ وَ اِنۡ تَعُدُّوۡا نِعۡمَۃَ اللّٰہِ لَا
تُحۡصُوۡہَا ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَغَفُوۡرٌ
رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Apakah Dia Yang menciptakan sama dengan
yang tidak menciptakan? Tidakkah kamu mau mengambil pelajaran? وَ اِنۡ تَعُدُّوۡا نِعۡمَۃَ اللّٰہِ لَا
تُحۡصُوۡہَا
-- Dan jika kamu
menghitung nikmat-nikmat Allah,
kamu tidak akan dapat
menghitungnya, sesungguhnya Allah
Maha Pengampun, Maha Penyayang.
(An-Nahl
[15]:18-19.
Firman-Nya
lagi:
اَللّٰہُ الَّذِیۡ
خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ وَ اَنۡزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَاَخۡرَجَ بِہٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزۡقًا
لَّکُمۡ ۚ وَ سَخَّرَ لَکُمُ
الۡفُلۡکَ لِتَجۡرِیَ فِی الۡبَحۡرِ
بِاَمۡرِہٖ ۚ وَ سَخَّرَ لَکُمُ
الۡاَنۡہٰرَ ﴿ۚ﴾ وَ سَخَّرَ لَکُمُ الشَّمۡسَ وَ الۡقَمَرَ دَآئِبَیۡنِ ۚ وَ سَخَّرَ لَکُمُ الَّیۡلَ وَ النَّہَارَ ﴿ۚ﴾ وَ اٰتٰىکُمۡ مِّنۡ کُلِّ مَا سَاَلۡتُمُوۡہُ ؕ
وَ اِنۡ تَعُدُّوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ لَا تُحۡصُوۡہَا ؕ اِنَّ الۡاِنۡسَانَ لَظَلُوۡمٌ
کَفَّارٌ ﴿٪﴾
Allah yang telah menciptakan
seluruh langit dan bumi dan menurunkan
air dari awan, lalu Dia mengeluarkan
dengan itu buah-buahan sebagai rezeki
bagi kamu, dan Dia telah menundukkan bagi kamu bahtera supaya berlayar
di lautan atas perintah-Nya, dan Dia
telah menundukkan sungai-sungai bagi kamu.
Dan Dia telah menundukkan bagi kamu matahari
dan bulan, kedua-duanya melaksanakan tugasnya dengan dawam. Dan
begitu pun Dia telah menundukkan
bagi kamu malam dan siang. وَ اٰتٰىکُمۡ مِّنۡ کُلِّ مَا سَاَلۡتُمُوۡہُ ؕ وَ اِنۡ تَعُدُّوۡا
نِعۡمَتَ اللّٰہِ لَا تُحۡصُوۡہَا -- Dan
Dia telah memberikan kepada kamu segala
sesuatu apa yang kamu minta kepada-Nya, dan jika kamu menghitung nikmat-nikmat Allah, kamu
tidak akan dapat menghitungnya,
sesungguhnya manusia benar-benar sangat
zalim, sangat tidak bersyukur. (Ibrahim
[14]:33-35).
Berbagai Kelemahan “Tuhan-tuhan Palsu”
Mengenai
ditundukkannya atau dikhidmatkannya alam semesta oleh Allah Swt. bagi kepentingan umat manusia lihat pula QS.13:3; 14:33-35; QS.16:6-22; QS.22:66;
29:62; QS.31:21 & 30; QS.35:14;
QS.39:6; QS.43:14, semuanya itu erat hubungannya dengan sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah) Allah Swt..
Itulah sebabnya dalam surah Al-Rahmān (Yang Maha Pemurah) berulang
kali Allah Swt. berfirman: فَبِاَیِّ
اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ -- “Maka nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu berdua dustakan?”
Jadi, betapa tidak bersyukurnya orang-orang yang musyrik yang telah mempersekutukan
Allah Swt. dengan berbagai bentuk sembahan
mereka yang sama sekali tidak memiliki andil apa pun dalam penciptaan alam semesta ini, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا
النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسۡتَمِعُوۡا
لَہٗ ؕ اِنَّ الَّذِیۡنَ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ
دُوۡنِ اللّٰہِ لَنۡ یَّخۡلُقُوۡا ذُبَابًا وَّ لَوِ اجۡتَمَعُوۡا لَہٗ ؕ وَ اِنۡ یَّسۡلُبۡہُمُ الذُّبَابُ
شَیۡئًا لَّا یَسۡتَنۡقِذُوۡہُ مِنۡہُ ؕ
ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ ﴿﴾ مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ
عَزِیۡزٌ ﴿﴾
Hai manusia, suatu tamsil telah dikemukakan maka dengarlah
tamsil itu. Sesungguhnya
mereka yang kamu seru selain Allāh tidak
dapat menjadikan seekor lalat, walau pun mereka itu bergabung untuk itu. Dan seandainya lalat itu menyambar
sesuatu dari mereka, mereka tidak
akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Sangat lemah yang meminta dan yang
diminta. Mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah
dengan sebenar-benarnya, sesungguhnya
Allah Mahakuat, Maha Perkasa. (Al-Hājj [22]:74-75).
Ayat 74 menerangkan kepada orang-orang kafir, bahwa tuhan-tuhan mereka sama sekali tidak mempunyai
kekuasaan dan tidak berdaya, dan betapa bodohnya
mereka untuk menyembah “tuhan-tuhan” seperti
itu. Makna ayat selanjutnya: مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ
عَزِیۡزٌ --
“Mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah dengan
sebenar-benarnya, sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha Perkasa,” ayat ini menjelaskan kenyataan bahwa orang-orang musyrik menjatuhkan derajat mereka sendiri ke tingkat yang begitu rendah,
hingga mereka menyembah patung-patung —
berhala-berhala yang terbuat dari kayu dan batu — kenyataan tersebut menunjukkan
bahwa mereka mempunyai anggapan yang
sangat keliru mengenai kekuatan-kekuatan
dan Sifat-sifat sempurna Allah Swt., Tuhan Yang Maha Kuasa, Al-Khāliq (Tuhan Maha Pencipta) Yang Agung.
Pada
hakikatnya, semua kepercayaan yang
mengakui adanya banyak tuhan dan
semua anggapan-anggapan musyrik
adalah timbul dari pandangan yang lemah
dan keliru, bahwa kekuatan-kekuatan dan sifat-sifat Tuhan itu terbatas dan mempunyai kekurangan seperti halnya manusia, sebagaimana telah dikatakan Nabi Ibrahim a.s. ketika
berdialog dengan ayah mertuanya dan para pemuka
kaumnya yang musyrik (QS.2:259;
QS.6:75-84; QS.19:43-49; QS.21:52-68; QS.25:52-68; QS.26:70-83; QS.37:84-97).
Pentingnya Mentaati Hukum Alam dan Hukum Syariat
Mengenai kelemahan “tuhan-tuhan palsu” ciptaan khayal orang-orang musyrik tersebut Allah Swt. berfirman:
لَہٗ دَعۡوَۃُ
الۡحَقِّ ؕ وَ الَّذِیۡنَ
یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ اِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ
بِبَالِغِہٖ ؕ وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ
اِلَّا فِیۡ ضَلٰلٍ ﴿﴾ وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ
کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ وَ
الۡاٰصَالِ ﴿ٛ﴾
Hanya Bagi Dia-lah seruan yang haq (benar), dan mereka yang diseru oleh
orang-orang itu selain Dia,
mereka tidak menjawabnya sedikit pun,
melainkan seperti orang yang mengulurkan
kedua tangannya ke air supaya sampai ke
mulutnya, tetapi itu tidak akan
sampai kepadanya, dan tidaklah doa orang-orang kafir itu me-lainkan sia-sia belaka. وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ
کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ وَ
الۡاٰصَالِ -- Dan kepada Allah-lah bersujud siapa pun yang
ada di seluruh langit dan bumi
dengan rela atau tidak
rela dan demikian juga bayangan-bayangan mereka pada setiap pagi dan petang hari. (Ar-Rā’d
[13]:15-16).
Ungkapan لَہٗ
دَعۡوَۃُ الۡحَقِّ -- “Hanya Bagi Dia-lah seruan yang haq (benar)” diterjemahkan sebagai berikut: (1) Allah Swt. sajalah yang layak
disembah; (2) hanya shalat dan mendoa kepada Allah Swt. sajalah yang dapat berguna dan berfaedah
bagi manusia; (3) suara Allah Swt.
sajalah yang berkumandang untuk
mendukung kebenaran; dan (4) suara Allah Swt. sajalah yang akan unggul.
Makna ayat selanjutnya berkenaan kesia-sian
berdoa kepada “sembahan-sembahan” selain Allah Swt: اِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ
بِبَالِغِہٖ ؕ وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ
اِلَّا فِیۡ ضَلٰلٍ -- “melainkan
seperti orang yang mengulurkan kedua
tangannya ke air supaya sampai ke
mulutnya, tetapi itu tidak akan
sampai kepadanya, dan tidaklah
doa orang-orang kafir itu me-lainkan
sia-sia belaka“ bahwa cara
atau jalan yang benar untuk mendapat sukses dalam kehidupan ialah menempatkan
segala sesuatu pada tempatnya yang tepat yakni memberikan kedudukan
kepada Allah Swt. kedudukan yang mustahak bagi-Nya dan memberi kepada makhluk-makhluk-Nya kedudukan, yang mereka berhak memilikinya. Hanya itu saja satu-satunya jalan untuk mencapai sukses dan kebahagiaan yang
sejati.
Ayat وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ
الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ وَ الۡاٰصَالِ -- Dan kepada Allah-lah bersujud siapa pun yang
ada di seluruh langit dan bumi
dengan rela atau tidak
rela dan demikian juga bayangan-bayangan mereka pada setiap pagi dan petang hari” mengandung satu kebenaran yang agung, yaitu bahwa segala sesuatu yang dijadikan
Allah Swt. mau tidak mau harus tunduk kepada hukum-hukum alam yang diadakan
(ditetapkan) oleh-Nya.
Lidah harus melaksanakan tugas mencicip
dan telinga tidak berdaya selain mendengar.
Tunduknya kepada hukum-hukum alam itu
dapat disebut sebagai dipaksakan
(karhan). Tetapi manusia diberi juga kebebasan
tertentu untuk berbuat, di mana ia dapat mempergunakan kemauannya dan pertimbangan
akalnya.
Namun demikian, bahkan dalam perbuatan-perbuatan, yang untuk
melakukannya ia nampaknya dianugerahi kebebasan,
ia sedikit-banyak harus tunduk kepada
paksaan, dan ia harus menaati hukum-hukum Allah Swt. dalam berbuat apa pun, biar suka
atau tidak.
Rela atau Terpaksa Manusia
Harus Tunduk Kepada Hukum Allah Swt.
Kata-kata طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا -- “dengan senang atau tidak senang” dapat
juga mengisyaratkan kepada dua golongan
manusia, ialah orang-orang beriman yang secara ikhlas tunduk kepada Allah Swt. – terutama para rasul Allah (QS.2:131-135;
QS.6:162-164) -- dan orang-orang kafir yang menaati hukum-hukum Allah Swt. dengan menggerutu.
Jadi, kembali kepada pembahasan mengenai proses penciptaan alam semesta dalam surah
Al-Anbiya, ada hal yang menarik yaitu penyebutan mengenai “orang-orang kafir”,
firman-Nya:
اَوَ لَمۡ یَرَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا
اَنَّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ
کَانَتَا رَتۡقًا فَفَتَقۡنٰہُمَا ؕ وَ جَعَلۡنَا مِنَ الۡمَآءِ کُلَّ شَیۡءٍ حَیٍّ ؕ اَفَلَا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾ وَ جَعَلۡنَا فِی الۡاَرۡضِ رَوَاسِیَ
اَنۡ تَمِیۡدَ بِہِمۡ ۪ وَ جَعَلۡنَا
فِیۡہَا فِجَاجًا سُبُلًا
لَّعَلَّہُمۡ یَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾ وَ
جَعَلۡنَا السَّمَآءَ سَقۡفًا مَّحۡفُوۡظًا ۚۖ وَّ ہُمۡ عَنۡ
اٰیٰتِہَا مُعۡرِضُوۡنَ ﴿﴾ وَ ہُوَ
الَّذِیۡ خَلَقَ الَّیۡلَ وَ النَّہَارَ وَ الشَّمۡسَ وَ الۡقَمَرَ ؕ کُلٌّ
فِیۡ فَلَکٍ یَّسۡبَحُوۡنَ ﴿﴾
Tidakkah orang-orang
yang kafir melihat bahwa seluruh
langit dan bumi keduanya dahulu suatu massa yang menyatu lalu
Kami memisahkan keduanya? Dan Kami menjadikan segala sesuatu yang hidup
dari air. Apakah mereka tidak mau ber-iman? Kami telah menjadikan di bumi gunung-gunung
yang kokoh supaya bumi jangan
bergoncang bersama mereka; dan telah
Kami telah menjadikan di dalamnya
jalan-jalan yang luas supaya mereka
mendapat petunjuk. Dan Kami telah menjadikan langit sebagai atap
yang terpelihara, namun mereka berpaling dari Tanda-tanda-Nya. Dan Dia
yang telah menciptakan malam dan siang
serta dan matahari dan bulan, masing-masing beredar pada garis peredarannya. (Al-Anbiya [21]:31-34).
Penyebutan mengenai “orang-orang kafir” dalam ayat: اَوَ لَمۡ
یَرَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا اَنَّ
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ کَانَتَا رَتۡقًا فَفَتَقۡنٰہُمَا -- “Tidakkah orang-orang yang kafir melihat bahwa seluruh langit dan bumi keduanya dahulu
suatu massa yang menyatu lalu Kami memisahkan keduanya?” yang dikemukakan Allah Swt. dalam Al-Quran lebih 1400 tahun lalu melalui Nabi Besar Muhammad
saw. – seorang Rasul Allah yang “buta-huruf” -- jauh mendahului hasil riset
yang dilakukan oleh “orang-orang kafir” mengenai salah satu tahapan proses terciptanya
alam semesta yang diawali dengan peristiwa yang mereka sebut “Big
Bang” (Ledakan Besar).
Pernyataan Allah Swt. dalam ayat tersebut kepada “orang-orang kafir” tersebut membuktikan
bahwa mereka dan “tuhan-tuhan sembahan” mereka pada
hakikatnya tidak memiliki pengetahuan
apa pun tentang rahasia-rahasia ciptaan Allah Swt. yang tidak terhingga keunikannya dan kerumitannya
yang sangat sempurna, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ تَبٰرَکَ الَّذِیۡ بِیَدِہِ الۡمُلۡکُ ۫ وَ ہُوَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرُۨ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡ خَلَقَ الۡمَوۡتَ
وَ الۡحَیٰوۃَ لِیَبۡلُوَکُمۡ
اَیُّکُمۡ اَحۡسَنُ عَمَلًا ؕ وَ
ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡغَفُوۡرُ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡ خَلَقَ سَبۡعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًا ؕ مَا تَرٰی فِیۡ
خَلۡقِ الرَّحۡمٰنِ مِنۡ تَفٰوُتٍ
ؕ فَارۡجِعِ الۡبَصَرَ ۙ ہَلۡ تَرٰی مِنۡ فُطُوۡرٍ ﴿﴾ ثُمَّ ارۡجِعِ الۡبَصَرَ کَرَّتَیۡنِ یَنۡقَلِبۡ اِلَیۡکَ الۡبَصَرُ خَاسِئًا وَّ ہُوَ حَسِیۡرٌ ﴿﴾ وَ لَقَدۡ
زَیَّنَّا السَّمَآءَ الدُّنۡیَا بِمَصَابِیۡحَ وَ جَعَلۡنٰہَا رُجُوۡمًا
لِّلشَّیٰطِیۡنِ وَ اَعۡتَدۡنَا لَہُمۡ عَذَابَ السَّعِیۡرِ ﴿﴾ وَ لِلَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا بِرَبِّہِمۡ
عَذَابُ جَہَنَّمَ ؕ وَ بِئۡسَ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Aku baca dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. تَبٰرَکَ الَّذِیۡ
بِیَدِہِ الۡمُلۡکُ ۫ وَ ہُوَ
عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرُۨ -- Maha Berberkat Dia Yang di Tangan-Nya kerajaan dan Dia
Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menciptakan
kematian dan kehidupan,
supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang terbaik amalnya, dan Dia
Maha Perkasa, Maha Pengampun. Yang telah menciptakan tujuh tingkat langit dengan serasi. مَا تَرٰی فِیۡ خَلۡقِ
الرَّحۡمٰنِ مِنۡ تَفٰوُتٍ -- Engkau tidak akan melihat di dalam ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah ketidakselarasan, فَارۡجِعِ
الۡبَصَرَ ۙ ہَلۡ تَرٰی مِنۡ
فُطُوۡرٍ -- maka
lihatlah ber-ulang-ulang, apakah engkau melihat sesuatu cacat? ثُمَّ ارۡجِعِ الۡبَصَرَ کَرَّتَیۡنِ یَنۡقَلِبۡ اِلَیۡکَ الۡبَصَرُ خَاسِئًا وَّ ہُوَ حَسِیۡرٌ -- Kemudian pandanglah
untuk kedua kali, penglihatan engkau akan kembali kepada
engkau dengan tunduk dan ia
letih. Dan sungguh Kami benar-be-nar telah menghiasi
langit yang terdekat dengan pelita-pelita, dan Kami
telah menjadikannya untuk mengusir syaitan-syaitan, dan Kami telah me-nyediakan bagi mereka azab
Api yang berkobar-kobar. Dan bagi
orang-orang yang kafir kepada Tuhan mereka tersedia azab
Jahannam, dan seburuk-buruk tempat kembali. (Al-Mulk [68]:1-7).
Satu “Kerajaan” Alam Semesta
dan Satu “Penguasa” & Ketidak-berdayaan “Tuhan-tuhan Palsu”
Dalam ayat 2 Allah Swt. menyebut
tatanan alam semesta ini sebagai “kerajaan” yang sepenuhnya ada dalam genggaman
“Tangan Kekuasaan-Nya”: تَبٰرَکَ الَّذِیۡ بِیَدِہِ الۡمُلۡکُ ۫ وَ ہُوَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرُۨ -- Maha Berbarkat Dia Yang di Tangan-Nya kerajaan dan Dia
Maha Kuasa atas segala sesuatu”, artinya tidak “tuhan-tuhan palsu” apa pun
yang ikut andil dalam penciptaan mau pun
pengelolaan “kerajaan” ciptaan-Nya tersebut
sebagaimana yang telah dinisbahkan
oleh “orang-orang musyrik” kepada “sembahan-sembahan” mereka yang bathil (palsu) dan tidak berdaya tersebut (QS.13:15-16; QS.22:74-75).
Makna ayat
selanjutnya: الَّذِیۡ
خَلَقَ الۡمَوۡتَ وَ الۡحَیٰوۃَ لِیَبۡلُوَکُمۡ اَیُّکُمۡ
اَحۡسَنُ عَمَلًا ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡغَفُوۡرُ ۙ -- “Yang menciptakan kematian dan kehidupan, supaya
Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang terbaik amalnya, dan
Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.“ Yaitu bahwa hukum hidup dan mati berlaku di
seluruh alam. Tiap-tiap makhluk-hidup tunduk kepada kehancuran dan kematian.
Kata “kematian” di sini seperti juga dalam ayat QS.2:29 dan QS.53:45,
disebut sebelum kata “kehidupan.”
Alasannya ialah, rupa-rupanya kematian
atau tanpa-wujud itu merupakan
keadaan sebelum ada kehidupan, atau
mungkin karena “mati” itu lebih penting dan lebih besar artinya daripada “hidup,”
karena bagi umat manusia kematian
membukakan kepada manusia pintu gerbang kehidupan kekal dan kemajuan ruhani yang tidak berhingga di alam akhirat – yang merupakan kehidupan yang sebenarnya -- sedang
kehidupan di dunia ini hanyalah suatu
tempat persinggahan sementara dan
merupakan suatu persiapan bagi kehidupan kekal lagi abadi di balik kubur (kematian jasmani).
Itulah sebabnya Allah Swt. telah menyebutkan bahwa bagaimana pun suksesnya kehidupan duniawi yang diraih oleh seseorang atau suatu bangsa -- sebagai akibat positif
dari mentaati
hukum-hukum yang telah ditetapkan Allah Swt. – jika kesuksesan duniawi tersebut tidak
membuat manusia meraih makrifat Ilahi yang hakiki, bahkan mereka semakin durhaka kepada Allah Swt. dan para Rasul Allah, maka dipastikan bahwa kehidupan duniawi mereka akan berujung dengan azab Ilahi, sebagaimana yang terjadi dengan kaum-kaum purbakala mau yang
menimpa Qarun di zaman Fir’aun dan mengumpamakan
keadaan mereka sebagai “laba-laba” yang membuat “sarang” bagi dirinya (QS.29: 15-45), firman-Nya:
مَثَلُ
الَّذِیۡنَ اتَّخَذُوۡا مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ اَوۡلِیَآءَ کَمَثَلِ
الۡعَنۡکَبُوۡتِ ۖۚ اِتَّخَذَتۡ بَیۡتًا ؕ وَ اِنَّ اَوۡہَنَ الۡبُیُوۡتِ لَبَیۡتُ الۡعَنۡکَبُوۡتِ
ۘ لَوۡ
کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ اِنَّ اللّٰہَ یَعۡلَمُ مَا یَدۡعُوۡنَ
مِنۡ دُوۡنِہٖ مِنۡ شَیۡءٍ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ وَ تِلۡکَ الۡاَمۡثَالُ نَضۡرِبُہَا لِلنَّاسِ ۚ وَ مَا
یَعۡقِلُہَاۤ اِلَّا الۡعٰلِمُوۡنَ ﴿﴾ خَلَقَ اللّٰہُ السَّمٰوٰتِ
وَ الۡاَرۡضَ بِالۡحَقِّ ؕ اِنَّ
فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿٪﴾
Perumpamaan orang-orang yang mengambil penolong-penolong selain Allah adalah seperti perumpamaan laba-laba yang membuat
rumah, dan sesungguhnya
selemah-lemah rumah pasti
rumah laba-laba, seandainya mereka
itu mengetahui. اِنَّ اللّٰہَ یَعۡلَمُ مَا یَدۡعُوۡنَ مِنۡ
دُوۡنِہٖ مِنۡ شَیۡءٍ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ -- Sesungguhnya Allah mengetahui sesuatu apa pun
yang mereka seru selain-Nya, dan Dia
Maha Perkasa, Maha Bi-jaksana. وَ تِلۡکَ الۡاَمۡثَالُ نَضۡرِبُہَا لِلنَّاسِ ۚ وَ مَا
یَعۡقِلُہَاۤ اِلَّا الۡعٰلِمُوۡنَ -- Dan itulah
perumpamaan-perumpamaan yang Kami kemukakan bagi manusia, dan sekali-kali
tidak ada yang memahaminya
kecuali orang-orang yang berilmu. خَلَقَ اللّٰہُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ بِالۡحَقِّ ؕ
اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- Allah
menciptakan seluruh langit dan bumi
sesuai dengan haq, sesungguhnya
dalam yang demikian itu adalah Tanda
bagi orang-orang yang beriman. (Al-Ankabūt
[29]:42-45).
Masalah ke-Esa-an
Allah Swt. yang menjadi pembahasan terutama Surah ini disudahi dalam ayat 42 dengan sebuah tamsil (perumpamaan) yang indah sekali, dan menjelaskan kepada kaum musyrik mengenai ketololan, kesia-siaan, dan kepalsuan
kepercayaan-kepercayaan dan kebiasaan-kebiasaan
syirik mereka. Mereka itu rapuh
bagaikan sarang laba-laba dan tidak
dapat bertahan terhadap kecaman akal
sehat. Itulah makna firman-Nya:
مَثَلُ
الَّذِیۡنَ اتَّخَذُوۡا مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ اَوۡلِیَآءَ کَمَثَلِ
الۡعَنۡکَبُوۡتِ ۖۚ اِتَّخَذَتۡ بَیۡتًا ؕ وَ اِنَّ اَوۡہَنَ الۡبُیُوۡتِ لَبَیۡتُ الۡعَنۡکَبُوۡتِ
ۘ لَوۡ
کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Perumpamaan orang-orang yang mengambil penolong-penolong selain Allah adalah seperti perumpamaan laba-laba yang membuat
rumah, dan sesungguhnya
selemah-lemah rumah pasti
rumah laba-laba, seandainya mereka
itu mengetahui. (Al-Ankabūt [29]:42).
(Bersambung)
ooo
Rujukan: The
Holy Quran
Editor : Malik
Ghulam Farid
Pajajaran Anyar, 7 Agustus
2017