Bismillāhirrahmānirrahīm
KHAZANAH AL-QURAN
Bab
20
PENAMPAKAN ALLAH SWT. KEPADA MANUSIA MELALUI SIFAT-SIFAT
TASYBIHIYYAH-NYA & MAKNA DZUNUB
DAN PENTINGNYA MAGHFIRAH ILAHI
Oleh
Ki
Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir bab sebelumnya
telah dikemukakan topic: Definisi “Tuhan” yang Hakiki Dalam Surah Al-Ikhlash & “Allah”
Adalah Nama Khusus Tuhan Yang Hakiki,
Pemilik Semua Sifat-sifat Sempurna
(Al-Asmā-ul-Husna).
Allah Swt. berfirman mengenai definisi “Tuhan” yang hakiki, yang tidak mungkin
dapat disamai oleh seluruh makhluk-Nya
-- yang dipertuhan oleh orang-orang yang jahil (QS.9:30-32;
QS.22:74-75) -- firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ
الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ قُلۡ ہُوَ اللّٰہُ
اَحَدٌ ۚ﴿﴾ اَللّٰہُ
الصَّمَدُ ۚ﴿﴾ لَمۡ یَلِدۡ ۬ۙ
وَ لَمۡ یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾ وَ لَمۡ یَکُنۡ
لَّہٗ کُفُوًا اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Katakanlah: “Dia-lah Allah Yang
Maha Esa. Allah,
adalah Tuhan Yang segala sesuatu
bergantung pada-Nya. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan,
dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya ”(Al-Ikhlas, [112]:1-5).
Kata qul (katakan) di sini mengandung
perintah kekal kepada orang-orang Islam
untuk tetap menyatakan bahwa “Tuhan itu Maha Esa.” Huwa
(Dia) yang dipakai sebagai dhamir asy-sya’n (kata pengganti nama
yang menunjukkan keadaan, Pent.) dan berarti
“Yang benar adalah ini,” dan
menunjukkan bahwa kebenaran telah
tertanam di dalam fitrat manusia
adanya Tuhan dan Dia itu Esa dan Mandiri
(QS.7:173-174; QS.30:31-33).
Allah, Nama Khas Tuhan Yang Hakiki
Allah
Swt. adalah nama khas,
dipergunakan dalam Al-Quran untuk Dzat Yang Maha Kuasa. Dalam bahasa Arab kata itu sama sekali tidak
dipakai untuk sesuatu benda atau wujud lain. Ini merupakan nama mutlak untuk Tuhan, bukan nama sifat dan
bukan pula keterangan.
Ahad
adalah sebutan yang dikenakan hanya kepada Tuhan dan berarti: Yang Tunggal, Yang Esa; Dia Yang semenjak azali
dan selamanya Esa dan Tunggal; Yang tiada wujud lainnya sebagai mitra dalam ketuhanan-Nya
dan tidak pula dalam wujud-Nya (Lexicon Lane). Sementara Ahad
berarti ke-Esa-an Tuhan dalam Wujud-Nya – gagasan adanya wujud kedua tidak dapat diterima – maka
Wahid berarti kemandirian Tuhan
dalam sifat-sifat-Nya.
Dengan demikian ungkapan, Allāhu Wāhidun akan berarti,
bahwa Tuhan itu Wujud Tertinggi dan
merupakan Cikal-bakal serta Sumber Yang dari-Nya telah lahir segala
jenis makhIuk; dan Allāhu Ahadun berarti
bahwa Allah itu Dzat Yang Esa dan Tunggal
dalam arti, bahwa bila kita memikirkan
Dia, hilanglah dari pikiran kita
gagasan adanya suatu wujud atau benda
lain selain Dia, Dia itu Esa dan Tunggal dalam segala arti.
Walau pun Allah Swt. menyatakan bahwa Dia
itu Al-Awwal dan Al-Akhir (QS.57:1-7), tetapi bukan dalam makna bahwa Dia adalah mata
rantai pertama suatu rangkaian mata
rantai penciptaan makhluk dan bukan
pula mata rantai terakhir, sebab tidak
ada sesuatu seperti Dia dan Dia pun
tidak seperti benda apapun. Inilah hakikat Allah menurut paham yang
dikemukakan oleh Al-Quran.
Shamad
dalam ayat
اَللّٰہُ الصَّمَدُ -- Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya” berarti: seorang yang menjadi tumpuan memenuhi segala keperluan; atau
yang kepadanya ditujukan ketaatan;
yang tanpa dia, tidak ada perkara dapat diselesaikan;
orang atau tempat yang tiada seorang atau sesuatu pun ada di atasnya.
Karena Ash-Shamad merupakan salah satu sifat Tuhan, berarti: Wujud tertinggi, Yang menjadi tempat memenuhi segala keperluan; Yang tidak bergantung pada apapun dan Yang kepada-Nya segala sesuatu mempunyai
ketergantungan dalam kebutuhan dan
keperluannya; Yang akan terus
berwujud untuk selama-lamanya meski seluruh makhluk sudah tidak berwujud
lagi; Yang tiada wujud lain di atas Dia
(Lexicon Lane).
Dalam ayat yang mendahuluinya telah
dinyatakan bahwa Tuhan itu Esa, Tunggal, dan Mandiri. Ayat اَللّٰہُ
الصَّمَدُ -- Allah, adalah
Tuhan Yang segala sesuatu bergantung
pada-Nya” mendukung pernyataan itu. Ayat ini mengatakan bahwa semua benda dan wujud
mempunyai ketergantungan dari Tuhan,
tetapi Dia Sendiri Mandiri dan segala
sesuatu bergantung pada-Nya. Semua memerlukan Dia, tetapi Dia tidak memerlukan siapapun.
Dia tidak
memerlukan wujud atau zat apapun
guna menciptakan alam raya; pada
hakikatnya, tiada sesuatu di alam raya
ini sempurna dalam dirinya sendiri (berdiri sendiri); tiap
sesuatu bergantung pada sesuatu yang
lain untuk kehidupannya. Tuhan-lah
satu-satunya Wujud Yang tidak bergantung
pada wujud mana pun dan benda
apapun; Dia jauh dari jangkauan daya
khayal dan terkaan. Sifat-sifat-Nya tidak mengenal batas.
Allah Swt. Tidak Memerlukan Istri, Anak
dan Sekutu Dalam Keberadaan-Nya
Sifat
Ilahi Ash-Shamad (Mandiri dan tempat semua makhluk memohon) telah
disebut dalam ayat yang mendahuluinya
untuk mengukuhkan pernyataan, bahwa Allah itu Ahad (Mahaesa, Tunggal
dan tiada tara bandingan-Nya) dan kini, dalam ayat لَمۡ یَلِدۡ ۬ۙ وَ
لَمۡ یُوۡلَدۡ sifat “Dia tidak beranak dan tidak
diperanakkan” disebut guna menunjukkan
bahwa Dia itu Ash-Shamad (Dia berada di atas segala keperluan), sebab
anggapan adanya keperluan pada-Nya
itu timbul dari pikiran, Dia memerlukan bantuan
dari seorang orang lain, yang tanpa orang itu Dia tidak dapat menjalankan pekerjaan-Nya, dan yang
harus melanjutkan pekerjaan-Nya sesudah
Dia mati, karena semua wujud yang
menjadi pengganti atau yang digantikan wujud lain, tunduk kepada hukum kematian. Allah Swt. tidak menggantikan siapapun dan tidak akan diganti oleh siapapun. Dia sempurna dalam semua sifat-Nya dan Dia itu
azali, abadi, dan mutlak.
Ayat
وَ لَمۡ یَکُنۡ
لَّہٗ کُفُوًا اَحَدٌ -- “dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya” ini menghilangkan suatu keraguan yang mungkin timbul dan boleh
jadi ditimbulkan karena ayat yang mendahuluinya. Taruhlah bahwa Allah Swt. itu Maha Esa, Tunggal, dan Mulia lagi Mandiri tanpa bergantung pada
wujud lain, dan taruhIah bahwa Dia
tidak beranak dan tidak diperanakkan,
tetapi boleh jadi ada wujud lain seperti
Dia yang mungkin memiliki semua sifat
yang dimiliki oleh-Nya.
Ayat ini menghapus kesalah-pahaman itu. Ayat ini mengatakan bahwa tidak ada wujud lain seperti Allah. Akal manusia pun menuntut
bahwa harus ada hanya satu Pencipta
dan Pengawas seluruh alam raya. Tata
kerja sempurna yang melingkupi dan meliputi alam raya pun menuntun kepada kesimpulan yang tidak dapat dielakkan, bahwa satu hukum yang seragam harus tegak dan kesatuan serta keseragaman
hukum dan polanya membuktikan
serta menyatakan keesaan Sang Pencipta
(QS.21:23).
Dengan demikian Surah Al-Ikhlash mencabut akar-akar
semua itikad kemusyrikan yang terdapat dalam suatu bentuk atau lain pada
agama lain mengenai kepercayaan
kepada Tuhan -- dua
atau tiga atau lebih banyak -- dan bahwa
ruh dan benda itu azali seperti Tuhan.
Inilah penjelasan
definisi agung mengenai Dzat Yang
Maha Tinggi seperti dijelaskan dalam Al-Quran,
dan tidak ada definisi dalam Kitab-kitab Suci lain yang dapat sekelumit saja menyamai keindahan, keluhuran, dan keagungan
definisi yang diberikan oleh Al-Quran, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ
الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ قُلۡ ہُوَ اللّٰہُ
اَحَدٌ ۚ﴿﴾ اَللّٰہُ
الصَّمَدُ ۚ﴿﴾ لَمۡ یَلِدۡ ۬ۙ
وَ لَمۡ یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾ وَ لَمۡ یَکُنۡ
لَّہٗ کُفُوًا اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Katakanlah: “Dia-lah Allah Yang
Maha Esa. Allah,
adalah Tuhan Yang segala sesuatu
bergantung pada-Nya. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan,
dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya ”(Al-Ikhlas, [112]:1-5).
Penampakan Keberadaan
Allah Swt. Melalui Sifat-sifat Tasybihiyyah-Nya Berupa Penciptaan
Seluruh Makhluk-Nya (Ciptaan-Nya)
Walau pun benar bahwa Allah Swt. itu: لَیۡسَ
کَمِثۡلِہٖ شَیۡءٌ ۚ -- "Tidak ada sesuatu pun yang
semisal-Nya" (QS.42:12)
dan وَ لَمۡ یَکُنۡ
لَّہٗ کُفُوًا اَحَدٌ -- “dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya” (QS.112:5) dan Dia merupakan kanzan makhfiy (khazanah tersembunyi), tetapi dalam hadits Qudsi -- yang dikemukakan pada
bagian awal Bab ini -- bahwa Dia pun ingin dikenal manusia:
“Aku adakah kanzun makhfiy (khazanah tersembunyi). Aku rindu untuk
dikenal, karena itu Aku menciptakan makhluk supaya Aku diketahui.”
Rujukan yang lain berbunyi:
“Aku adalah kanzun
makhfiy (khazanah tersembunyi) dan ingin dikenal maka
Aku menciptakan Adam.
Sebagaimana telah
dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan “Adam”
dalam hadits qudsi tersebut adalah
nabi Allah (rasul
Allah) karena wujud-wujud suci yang diutus Allah Swt. tersebut merupakan para Khalifah (wakil) Allah
(QS.2:31), sebab melalui para nabi Allah itulah Allah Swt. di setiap
zaman kenabian (kerasulan)
memperkenalkan “Wujud-Nya” (QS.16:37) – yakni membukakan rahasia-rahasia
gaib-Nya (QS.2:31-34; QS.3:180; QS.72:27-29) -- dan proses “memperkenalkan diri” Allah
Swt. tersebut mencapai puncak kesempurnaannya berupa pengutusan Nabi
Besar Muhammad saw. berupa pewahyuan agama Islam (Al-Quran) yang
merupakan agama (kitab suci) terakhir dan tersempurna (QS.5:4;
QS.15:10).
Selain Allah Swt. memiliki Sifat-sifat yang khusus hanya
dimiliki oleh-Nya sebagai “Tuhan yang Hakiki” yang
dikemukakan dalam surah Al-Ikhlash
-- yang disebut Sifat-sifat Tanzihiyyah -- Dia pun memiliki Sifat-sifat yang
sampai batas tertentu dimiliki juga oleh
makhluk-Nya -- terutama
oleh manusia -- yang disebut dengan Sifat-sifat Tasybihiyyah.
Dari
sekian banyak Sifat-sifat Tasybihiyyah Allah Swt., di dalam surah Al-Fatihah
Allah Swt. memperkenalkan 4 Sifat utama Tasybihiyah-Nya yang berdasarkan Sifat-sifat tersebut
Allah Swt. menciptakan tatanan alam semesta jasmani ini serta keberadaan
alam akhirat yang akan dialami manusia
setelah mengalami kematian secara jasmani.
Karena penciptaan alam
jasmani ini bagi manusia merupakan alam kasab (alam usaha), sedangkan
alam akhirat merupakan alam ganjaran bagi usaha manusia -- yakni usaha baik mau pun usaha
buruk – karena itu menurut Allah Swt. keadaan alam akhirat dalam segala
seginya lebih baik -- atau lebih super
canggih -- daripada kehidupan di alam jasmani
ini, firman-Nya:
بَلۡ تُؤۡثِرُوۡنَ الۡحَیٰوۃَ الدُّنۡیَا ﴿۫ۖ﴾ وَ الۡاٰخِرَۃُ خَیۡرٌ
وَّ اَبۡقٰی ﴿ؕ﴾ اِنَّ ہٰذَا لَفِی الصُّحُفِ
الۡاُوۡلٰی ﴿ۙ﴾
Tetapi kamu
mendahulukan kehidupan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan lebih
kekal. Sesungguhnya
inilah yang diajarkan dalam Kitab-kitab terdahulu, Kitab-kitab
Ibrahim dan Musa. (Al-A’lā
[87]:17-20).
Firman-Nya
lagi:
زُیِّنَ
لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّہَوٰتِ مِنَ النِّسَآءِ وَ الۡبَنِیۡنَ وَ الۡقَنَاطِیۡرِ
الۡمُقَنۡطَرَۃِ مِنَ الذَّہَبِ وَ الۡفِضَّۃِ وَ الۡخَیۡلِ الۡمُسَوَّمَۃِ وَ
الۡاَنۡعَامِ وَ الۡحَرۡثِ ؕ ذٰلِکَ مَتَاعُ
الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا ۚ وَ اللّٰہُ عِنۡدَہٗ حُسۡنُ الۡمَاٰبِ ﴿﴾ قُلۡ اَؤُنَبِّئُکُمۡ بِخَیۡرٍ مِّنۡ ذٰلِکُمۡ
ؕ لِلَّذِیۡنَ اتَّقَوۡا عِنۡدَ رَبِّہِمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ
خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا وَ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ وَّ رِضۡوَانٌ مِّنَ اللّٰہِ ؕ وَ
اللّٰہُ بَصِیۡرٌۢ بِالۡعِبَادِ ﴿ۚ﴾ اَلَّذِیۡنَ یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ اِنَّنَاۤ
اٰمَنَّا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿ۚ﴾ اَلصّٰبِرِیۡنَ وَ الصّٰدِقِیۡنَ وَ
الۡقٰنِتِیۡنَ وَ الۡمُنۡفِقِیۡنَ وَ الۡمُسۡتَغۡفِرِیۡنَ بِالۡاَسۡحَارِ﴿﴾
Ditampakkan indah bagi manusia kecintaan terhadap apa-apa
yang diingini yaitu: perempuan-perempuan, anak-anak,
kekayaan yang berlimpah berupa emas
dan perak, kuda
pilihan, binatang ternak dan sawah
ladang. Yang
demikian itu adalah perlengkapan hidup
di dunia, dan Allah, di sisi-Nya-lah sebaik-baik
tempat kem-bali. Katakanlah: “Maukah kamu aku beri tahu sesuatu yang lebih baik daripada yang
demikian itu?” Bagi orang-orang yang
bertakwa, di sisi Rabb (Tuhan)
mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya
mengalir sungai-sungai, mereka kekal
di dalamnya, jodoh-jodoh
suci dan keridhaan dari Allah, dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. Yaitu
orang-orang yang berkata: “Ya Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya kami
telah beriman maka ampunilah dosa-dosa kami, dan peliha-ralah
kami dari azab Api.” Orang-orang yang sabar, orang-orang yang benar, orang-orang yang taat, orang-orang yang membelanjakan di
jalan Allah dan orang-orang
yang memohon ampun di bagian akhir malam. (Âli
‘Imran [3]:15-18).
Sehubungan dengan ayat 15, ajaran Islam
(Al-Quran) tidak melarang mempergunakan atau mencari barang-barang yang
baik dari dunia ini, tetapi tentu
saja Islam mencela mereka yang menyibukkan diri dalam urusan duniawi
dan menjadikannya satu-satunya tujuan
hidup mereka, sebab Allah Swt. telah menetapkan tujuan
utama penciptaan manusia adalah untuk beribadah
kepada-Nya (QS.1:5; QS.2:22-23; QS.51:67).
Makna Dzunub dan Pentingnya
Maghfirah Ilahi
Makna dzunub
dalam ayat: اَلَّذِیۡنَ یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ اِنَّنَاۤ اٰمَنَّا فَاغۡفِرۡ
لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ -- orang-orang yang berkata, “Ya Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya kami
telah beriman maka ampunilah dosa-dosa kami,“ dzunub adalah
jamak dari dzanb yang berarti: kealpaan, perbuatan salah, pelanggaran,
sesuatu yang patut dicela jika
dilakukan dengan sengaja.
Perbedaan dzunub (dzanb) dengan itsm adalah bahwa dzanb itu boleh jadi dilakukan dengan sengaja atau dilakukan karena kealpaan, sedangkan itsm yang
khusus dilakukan dengan sengaja.
Atau dzanb berarti kekeliruan-kekeliruan
dan kesalahan-kesalahan yang membawa akibat buruk atau menjadikan si
pelakunya layak dituntut.
Sesungguhnya dzanb berarti
kelemahan-kelemahan atau kekurangan-kekurangan yang melekat pada fitrat
manusia sebagai makhluk (ciptaan), seperti halnya dzanb (ekor, atau bagian
tubuh yang seperti itu pada manusia) melekat
pada tubuh, artinya kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan
alami pada diri manusia (Lexicon
Lane & Al-Mufradat).
Itulah sebabnya menurut Allah Swt. dalam Al-Quran manusia sangat
memerlukan adanya maghfirah Ilahi (pengampunan
Tuhan – QS.4:27-29), baik terhadap
kelemahan (pelanggaran) yang tidak disengaja mau yang disengaja
berupa dzanb
mau pun Itsm, jurm dan junnah.
Ayat selanjutnya menjelaskan mengenai ciri-ciri khas orang beriman
sejati yang disebut dalam ayat ini melukiskan empat tingkat kemajuan ruhani:
(1) Jika seseorang memeluk agama sejati biasanya ia menjadi sasaran
kezaliman, maka tingkat pertama yang harus dilaluinya
ialah tingkat “kesabaran dan kegigihan.”
(2) JIka penzaliman berakhir dan ia bebas untuk berbuat menurut kehendaknya,
ia mengamalkan ajaran-ajaran yang
sebelum itu ia tidak dapat mengerjakan sepenuhnya. Tingkat kedua ini bertalian
dengan “hidup berpegang pada kebenaran,”
yaitu hidup sesuai dengan keyakinannya.
(3) Jika sebagai akibat melaksanakan perintah-perintah agama dengan setia, orang beriman
sejati memperoleh kekuasaan,
ketika itu pun sifat merendahkan diri
tidak beranjak dari mereka. Mereka tetap bersikap “merendah” seperti sediakala.
(4) Bukan sampai di situ saja, bahkan rasa pengabdian mereka bertambah besar.
Mereka “membelanjakan” apa yang direzekikan Allah Swt. kepada mereka
untuk kesejahteraan umat manusia.
Tetapi seperti kata-kata penutup ayat ini
menunjukkan, sepanjang masa itu mereka terus-menerus
mendoa kepada Allah Swt. agar memaafkan setiap kekurangan
mereka -- yakni dzanb mereka -- dalam
mencapai cita-cita luhur mereka untuk
berbakti kepada umat manusia di tengah keheningan
malam (QS.66:9).
Keberhasilan semua itu kuncinya terdapat dalam surah Al-Fatihah, yang di dalamnya dikemukakan keempat Sifat utama Tasybihiyyah Allah Swt.
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۙ﴿﴾ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ ؕؕ﴿﴾ اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ﴿﴾ اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ ﴿﴾ صِرَاطَ الَّذِیۡنَ
اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۙ۬ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿﴾
Aku baca dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Segala
puji hanya
bagi Allah, Rabb (Tuhan) seluruh alam, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Pemilik Hari
Pembalasan. Hanya Engkau-lah Yang kami sembah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan. Tunjukilah
kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang
yang telah Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan
mereka yang sesat. (Al-Fatihah
[1]:1-7).
Hikmah Bismillāhirrāhmanirrahīm Sebagai Ayat Pertama Surah Al-Quran
Ayat "Bismillaahirahmaanirrahiim" (Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha
Penyayang )
merupakan ayat pertama dalam
seluruh surah Al-Quran, kecuali surah
At-Taubah karena pada hakikatnya merupakan lanjutan
surah sebelumnya yaitu surah Al-Anfāl.
Bā
dalam kalimat bi-ismi Allah adalah kata depan yang dipakai untuk menyatakan
beberapa arti, dan arti yang lebih tepat di sini dengan, maka kata majemuk Bism
itu akan berarti dengan nama.
Menurut kebiasaan orang Arab kata Iqra’, atau Aqra’u, atau Naqra’u;
atau Isyra’, atau Asyra’u, atau Nasyra’u, harus
dianggap ada tercantum sebelum Bismillāh, suatu ungkapan dengan arti “Mulailah
dengan nama Allah”, atau “Bacalah dengan nama Allah” atau “Aku atau kami mulai
dengan nama Allah”, atau “Aku
atau kami baca dengan nama Allah.” Dalam terjemahan ini ucapan Bismillāh
diartikan “Dengan nama Allah” yang merupakan bentuk lebih lazim (Lexicon Lane).
Ism
mengandung arti nama atau sifat (Aqrab-ul-Mawarid). Di sini lafaz (kata) ism itu dipakai dalam
kedua pengertian tersebut. Lafaz ism menunjuk kepada Allah yaitu nama Wujud (Dzat) Tuhan, dan kepada Ar-Rahmān (Maha
Pemurah) dan Ar-Rahīm (Maha Penyayang), keduanya nama sifat Allah Swt..
Allah adalah nama Zat Maha Agung, Pemilik Tunggal semua sifat sempurna (Al-Asmā-ul-Husna
- 7:181; QS.17:117; QS.59:25) dan
sama sekali bebas dari segala kekurangan. Dalam bahasa Arab lafaz Allah tidak pernah dipakai untuk benda atau zat lain apa pun.
Tidak ada bahasa lain yang
memiliki nama tertentu atau nama khusus untuk Dzat Yang Maha Agung itu. Nama-nama yang terdapat dalam bahasa-bahasa
lain semuanya nama-penunjuk-sifat
atau nama pemerian (pelukisan) dan seringkali dipakai dalam bentuk jamak, sedangkan lafaz
Allah tidak pernah dipakai
dalam bentuk jamak.
Lafaz Allah adalah ism
zat (nama zat), bukan ism musytak, yakni tidak diambil dari kata lain dan tidak pernah dipakai sebagai keterangan atau sifat.
Karena tidak ada lafaz lain yang sepadan maka
lafaz Allah dipergunakan di seluruh terjemahan ayat-ayat Al-Quran.
Pandangan ini didukung oleh para alim
bahasa Arab terkemuka. Menurut pendapat yang paling tepat lafaz
Allah adalah nama Wujud
bagi Dzat yang wajib ada-Nya menurut Dzat-Nya Sendiri, Pemilik segala sifat
sempurna (Al-Asmā-ul-Husna)
dan huruf al tidak terpisahkan dari lafaz Allāh (Lexicon Lane).
Salah satu hikmah mengapa
ayat "Bismillaahirrahmaanirrahiim" (Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha
Penyayang) terdapat pada awal setiap surah Al-Quran sebagai ayat
pertama -- kecuali surah At Taubah -- adalah sebagai penggenapan nubuatan Nabi
Musa a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dalam Bible, mengenai kedatangan Nabi Besar Muhammad saw. – yakni “Nabi yang seperti Musa” (Ulangan 18:16-19) atau sebagai “Roh kebenaran” yang menurut Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. “akan membawa seluruh
kebenaran” (Yohanes 16:12-13),
atau Nabi Ahmad saw. (QS.61:7) --
yang diutus Allah Swt. sekitar 600 tahun setelah Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s., dengan
mengatakan “Diberkatilah
Dia yang datang
dalam nama Tuhan”:
23:37 "Yerusalem, Yerusalem ,
engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang
diutus kepadamu! Berkali-kali
Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu,
sama seperti induk ayam mengumpulkan
anak-anaknya di bawah sayapnya,
tetapi kamu tidak
mau. 23:38 Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. e 23:39 Dan
Aku berkata kepadamu: Mulai sekarang kamu tidak akan melihat Aku
lagi, hingga kamu
berkata: Diberkatilah Dia yang datang
dalam nama Tuhan!" (Matius 23:37-39).
Kalimat “Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!" identik dengan Nabi Besar Muhammad saw. yang menerima wahyu syariat terakhir dan tersempurna (QS.5:4) yang setiap awal surah Al-Quran dimulai dengan ayat: "Bismillaahirrahmaanirrahiim" (Aku
baca dengan nama Allah,
Maha Pemurah, Maha Penyayang).
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. menyebut
Nabi Besar Muhammad saw. dengan nama Ahmad, firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ
عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ یٰبَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ اِنِّیۡ رَسُوۡلُ
اللّٰہِ اِلَیۡکُمۡ
مُّصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیَّ
مِنَ التَّوۡرٰىۃِ وَ
مُبَشِّرًۢا بِرَسُوۡلٍ یَّاۡتِیۡ مِنۡۢ
بَعۡدِی اسۡمُہٗۤ اَحۡمَدُ ؕ
فَلَمَّا جَآءَہُمۡ بِالۡبَیِّنٰتِ
قَالُوۡا ہٰذَا سِحۡرٌ مُّبِیۡنٌ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Isa ibnu Maryam berkata:
“Hai Bani Israil, sesungguhnya aku Rasul Allah kepada kamu menggenapi apa
yang ada sebelumku yaitu Taurat,
dan memberi kabar gembira mengenai
seorang rasul yang akan datang
sesudahku namanya Ahmad.” Maka tatkala
ia datang kepada mereka dengan bukti-bukti yang jelas mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.” (Ash-Shaf
[61]:7).
Nubuatan
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tersebut
mendukung kebenaran nubuatan Nabi
Musa a.s. mengenai kedatangan “nabi yang
seperti Musa” (misal Nabi Musa a.s. – Ulangan
18:15-19) yakni Nabi Besar Muhammad saw.
(QS.11:18; QS.26:193-198; QS.46:11; QS.73:16). Bahkan Nabi Sulaiman a.s. pun
dalam surat beliau yang dikirim kepada Ratu
Saba telah memulainya dengan kalimat
“Bismillāhirrahmānnirahīm” (Dengan
nama Allah Yang Maha Pemurah, Maha Penyayang), firman-Nya:
قَالَتۡ
یٰۤاَیُّہَا الۡمَلَؤُا اِنِّیۡۤ اُلۡقِیَ
اِلَیَّ کِتٰبٌ کَرِیۡمٌ ﴿﴾ اِنَّہٗ مِنۡ سُلَیۡمٰنَ وَ اِنَّہٗ بِسۡمِ
اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿ۙ﴾ اَلَّا تَعۡلُوۡا عَلَیَّ وَ اۡتُوۡنِیۡ
مُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Ia (Ratu
Saba) berkata: “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah disam-paikan kepadaku surat yang mulia, sesungguhnya surat itu dari Sulaiman, dan
sesungguhnya surat itu berbunyi: "Bismillaahirrahmaanirrahiim" -- “Dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.” اَلَّا تَعۡلُوۡا عَلَیَّ وَ اۡتُوۡنِیۡ
مُسۡلِمِیۡنَ
-- Janganlah kamu berlaku sombong terhadapku, dan datanglah kepadaku dengan berserah
diri.” (QS. [27]30-32).
Makna Sifat Al-Rahmān
dan Al-Rāhim
Ar-Rahmān (Maha Pemurah) dan Ar-Rahīm
(Maha Penyayang), keduanya berasal dari akar yang sama, Rahima, artinya:
ia telah menampakkan kasih-sayang; ia ramah dan baik; ia memaafkan, mengampuni.
Kata Rahmah menggabungkan arti riqqah yakni kehalusan dan ihsan yakni kebaikan, kebajikan” (Mufradat). Ar-Rahmān dalam wazan (ukuran) fa’lan,
dan Ar-Rahīm dalam ukuran fa’il. Menurut kaedah tata-bahasa Arab,
makin banyak jumlah huruf ditambahkan pada akar kata makin luas dan mendalam
pula artinya (Al-Kasysyaf).
Ukuran fa’lan membawa arti
kepenuhan dan keluasan, sedang ukuran fa’il menunjuk kepada arti ulangan
dan pemberian ganjaran dengan kemurahan hati kepada mereka yang layak
menerimanya (Al-Bahrul-Muhith).
Jadi, di mana kata Ar-Rahmān menunjukkan “kasih sayang meliputi seluruh alam”, kata Ar-Rahīm berarti “kasih sayang yang ruang lingkupnya
terbatas tetapi ditampakkan berulang-ulang.”
Mengingat arti-arti di atas, Ar-Rahmān
adalah Dzat Yang menampakkan kasih-sayang
secara cuma-cuma dan meluas kepada
semua makhluk tanpa mempertimbangkan usaha
atau amal, sedangkan Ar-Rahīm adalah Dzat
Yang menampakkan kasih-sayang sebagai imbalan atas usaha atau amal
manusia, tetapi menampakkannya
dengan kemurahan hati dan berulang-ulang.
Kata Ar-Rahmān hanya
dipakai untuk Allah Swt. sebab hanya Allah Swt. yang berkuasa
melakukannya, sedangkan Ar-Rahīm
dipakai pula untuk manusia. Ar-Rahmān
tidak hanya meliputi orang-orang beriman dan kafir
saja, tetapi juga seluruh makhluk hidup. Sedangkan Ar-Rahīm
terutama tertuju kepada orang-orang
beriman saja.
Menurut sabda Nabi Besar Muhammad
saw. sifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah) umumnya bertalian dengan kehidupan di dunia ini, sedang sifat Ar-Rahīm
(Maha Penyayang) umumnya bertalian dengan kehidupan
akhirat
(Al-Bahrul
Muhith). Artinya,
karena dunia ini pada umumnya
adalah dunia perbuatan, sedangkan
alam akhirat itu adalah suatu alam tempat perbuatan manusia akan diganjar dengan cara istimewa,
maka sifat Allah Ar-Rahmān (Maha
Pemurah) menganugerahi manusia
alat dan bahan (sarana) untuk melaksanakan
pekerjaannya dalam kehidupan di dunia
ini, sedangkan sifat Allah Ar-Rahīm
(Maha Penyayang) mendatangkan hasil
dalam kehidupan yang akan datang (akhirat).
Segala benda (sarana) yang manusia perlukan -- dan atas itu kehidupan manusia bergantung -- adalah
semata-mata karunia Ilahi dan sudah tersedia untuk manusia, sebelum manusia melakukan sesuatu yang menyebabkan manusia layak
menerimanya, atau bahkan sebelum manusia
dilahirkan,
yang demikian itu semata-mata karena Sifat Ar-Rahmān
(Maha Pemurah) Allah Swt.; sedangkan karunia yang tersedia untuk manusia dalam
kehidupan yang-akan-datang (akhirat), akan dianugerahkan kepada manusia -- khususnya orang-orang yang beriman dan beramal
shaleh (QS.2:26) -- sebagai ganjaran
atas usaha atau amal manusia.
Hal itu menunjukkan bahwa Ar-Rahmān (Maha Pemurah) itu Pemberi Karunia yang mendahului kelahiran manusia, sedangkan Ar-Rahīm (Maha Penyayang) itu Pemberi Nikmat-nikmat yang mengikuti amal manusia sebagai ganjarannya, baik di dunia ini mau pun di akhirat nanti.
Hal itu menunjukkan bahwa Ar-Rahmān (Maha Pemurah) itu Pemberi Karunia yang mendahului kelahiran manusia, sedangkan Ar-Rahīm (Maha Penyayang) itu Pemberi Nikmat-nikmat yang mengikuti amal manusia sebagai ganjarannya, baik di dunia ini mau pun di akhirat nanti.
(Bersambung)
ooo
Rujukan: The
Holy Quran
Editor : Malik
Ghulam Farid
Pajajaran Anyar, 3 Agustus
2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar