Sabtu, 05 Agustus 2017

"Penampakan" Allah Swt. Kepada Manusia Melalui Sifat-sifat "Tasybihiyyah-Nya" & Makna "Dzunub" dan Pentingnya "Maghfirah Ilahi"



Bismillāhirrahmānirrahīm


KHAZANAH  AL-QURAN 

Bab 20

PENAMPAKAN ALLAH  SWT. KEPADA MANUSIA MELALUI  SIFAT-SIFAT TASYBIHIYYAH-NYA  &  MAKNA DZUNUB DAN PENTINGNYA  MAGHFIRAH ILAHI

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir bab sebelumnya  telah dikemukakan  topic:   Definisi “Tuhan” yang Hakiki Dalam Surah Al-Ikhlash &  “Allah” Adalah Nama Khusus Tuhan Yang Hakiki, Pemilik Semua Sifat-sifat Sempurna (Al-Asmā-ul-Husna).
     Allah Swt. berfirman mengenai definisi “Tuhan” yang hakiki, yang tidak mungkin dapat disamai oleh   seluruh makhluk-Nya --  yang dipertuhan oleh orang-orang yang jahil  (QS.9:30-32; QS.22:74-75) -- firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ  ۚ﴿﴾  اَللّٰہُ  الصَّمَدُ ۚ﴿﴾   لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾  وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Katakanlah: Dia-lah  Allah   Yang Maha Esa.   Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya.   Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan,   dan tidak ada sesuatu pun yang setara   dengan-Nya ”(Al-Ikhlas,  [112]:1-5).
   Kata qul (katakan) di sini mengandung perintah kekal kepada orang-orang Islam untuk tetap menyatakan bahwa “Tuhan itu Maha Esa.”   Huwa (Dia) yang dipakai sebagai dhamir asy-sya’n (kata pengganti nama yang menunjukkan keadaan, Pent.) dan berarti  “Yang benar adalah ini,” dan menunjukkan bahwa kebenaran telah tertanam di dalam fitrat manusia adanya Tuhan dan Dia itu Esa dan Mandiri (QS.7:173-174; QS.30:31-33).

Allah, Nama Khas Tuhan Yang Hakiki

     Allah Swt. adalah nama khas, dipergunakan dalam Al-Quran untuk Dzat Yang Maha Kuasa. Dalam bahasa Arab kata itu sama sekali tidak dipakai untuk sesuatu benda atau wujud lain. Ini merupakan nama mutlak untuk Tuhan, bukan nama sifat dan bukan pula keterangan.  
     Ahad adalah sebutan yang dikenakan hanya kepada Tuhan dan berarti: Yang Tunggal, Yang Esa; Dia Yang semenjak azali dan selamanya Esa dan Tunggal; Yang tiada wujud lainnya sebagai mitra dalam ketuhanan-Nya dan tidak pula dalam wujud-Nya (Lexicon Lane). Sementara Ahad berarti ke-Esa-an Tuhan dalam Wujud-Nya – gagasan adanya wujud kedua tidak dapat diterima – maka Wahid berarti kemandirian Tuhan dalam sifat-sifat-Nya.
    Dengan demikian ungkapan, Allāhu Wāhidun akan berarti, bahwa Tuhan itu Wujud Tertinggi dan merupakan Cikal-bakal serta Sumber Yang dari-Nya telah lahir segala jenis makhIuk; dan Allāhu Ahadun berarti bahwa Allah itu Dzat Yang Esa dan Tunggal dalam arti, bahwa bila kita memikirkan Dia, hilanglah dari pikiran kita gagasan adanya suatu wujud atau benda lain selain Dia, Dia itu Esa dan Tunggal dalam segala arti.
    Walau pun Allah Swt. menyatakan bahwa Dia itu Al-Awwal dan Al-Akhir  (QS.57:1-7),  tetapi bukan dalam makna bahwa Dia  adalah mata rantai pertama suatu rangkaian mata rantai penciptaan makhluk dan bukan pula mata rantai terakhir, sebab tidak ada sesuatu seperti Dia dan Dia pun tidak seperti benda apapun. Inilah hakikat Allah menurut paham yang dikemukakan oleh Al-Quran.
     Shamad  dalam ayat  اَللّٰہُ  الصَّمَدُ -- Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya” berarti: seorang yang menjadi tumpuan memenuhi segala keperluan; atau yang kepadanya ditujukan ketaatan; yang tanpa dia, tidak ada perkara dapat diselesaikan; orang atau tempat yang tiada seorang atau sesuatu pun ada di atasnya.
    Karena Ash-Shamad  merupakan salah satu sifat Tuhan, berarti:  Wujud tertinggi, Yang menjadi tempat memenuhi segala keperluan; Yang tidak bergantung pada apapun dan Yang kepada-Nya segala sesuatu mempunyai ketergantungan dalam kebutuhan dan keperluannya; Yang akan terus berwujud untuk selama-lamanya meski seluruh makhluk sudah tidak berwujud lagi; Yang tiada wujud lain di atas Dia (Lexicon Lane).
    Dalam ayat yang mendahuluinya telah dinyatakan bahwa Tuhan itu Esa, Tunggal, dan Mandiri. Ayat  اَللّٰہُ  الصَّمَدُ -- Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya”  mendukung pernyataan itu. Ayat ini   mengatakan bahwa semua benda dan wujud mempunyai ketergantungan dari Tuhan, tetapi Dia Sendiri Mandiri dan segala sesuatu bergantung pada-Nya. Semua memerlukan Dia, tetapi Dia tidak memerlukan siapapun.
    Dia tidak memerlukan wujud atau zat apapun guna menciptakan alam raya; pada hakikatnya, tiada sesuatu di alam raya ini sempurna dalam dirinya sendiri (berdiri sendiri); tiap sesuatu bergantung pada sesuatu yang lain untuk kehidupannya. Tuhan-lah satu-satunya Wujud Yang tidak bergantung pada wujud mana pun dan benda apapun; Dia jauh dari jangkauan daya khayal dan terkaan. Sifat-sifat-Nya tidak mengenal batas.

Allah Swt. Tidak Memerlukan Istri, Anak dan Sekutu Dalam Keberadaan-Nya

    Sifat Ilahi Ash-Shamad (Mandiri dan tempat semua makhluk memohon) telah disebut dalam ayat yang mendahuluinya untuk mengukuhkan pernyataan, bahwa Allah itu Ahad (Mahaesa, Tunggal dan tiada tara bandingan-Nya) dan kini, dalam ayat   لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ    sifat “Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan” disebut guna menunjukkan bahwa Dia itu Ash-Shamad (Dia berada di atas segala keperluan), sebab anggapan adanya keperluan pada-Nya itu timbul dari pikiran, Dia memerlukan bantuan dari seorang orang lain, yang tanpa orang itu Dia tidak dapat menjalankan pekerjaan-Nya, dan yang harus melanjutkan pekerjaan-Nya sesudah Dia mati, karena semua wujud yang menjadi pengganti atau yang digantikan wujud lain, tunduk kepada hukum kematian. Allah Swt. tidak menggantikan siapapun dan tidak akan diganti oleh siapapun. Dia sempurna dalam semua sifat-Nya dan Dia itu azali, abadi, dan mutlak.
     Ayat  وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ -- “dan tidak ada sesuatu pun yang setara   dengan-Nya” ini menghilangkan suatu keraguan yang mungkin timbul dan boleh jadi ditimbulkan karena ayat yang mendahuluinya. Taruhlah bahwa Allah Swt. itu Maha Esa, Tunggal, dan Mulia lagi Mandiri tanpa bergantung pada wujud lain, dan taruhIah bahwa Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, tetapi boleh jadi ada wujud lain seperti Dia yang mungkin memiliki semua sifat yang dimiliki oleh-Nya.
    Ayat ini menghapus kesalah-pahaman itu. Ayat ini mengatakan bahwa tidak ada wujud lain seperti Allah. Akal manusia pun menuntut bahwa harus ada hanya satu Pencipta dan Pengawas seluruh alam raya. Tata kerja sempurna yang melingkupi dan meliputi alam raya pun menuntun kepada kesimpulan yang tidak dapat dielakkan, bahwa satu hukum yang seragam harus tegak dan kesatuan serta keseragaman hukum dan polanya membuktikan serta menyatakan keesaan Sang Pencipta (QS.21:23).
    Dengan demikian Surah Al-Ikhlash mencabut akar-akar semua itikad kemusyrikan yang terdapat dalam suatu bentuk atau lain pada agama lain  mengenai  kepercayaan kepada Tuhan  --  dua atau tiga atau lebih banyak  -- dan bahwa ruh dan benda itu azali seperti Tuhan.
   Inilah penjelasan definisi agung mengenai Dzat Yang Maha Tinggi seperti dijelaskan dalam Al-Quran, dan tidak ada definisi dalam Kitab-kitab Suci lain yang dapat sekelumit saja menyamai keindahan, keluhuran, dan keagungan definisi yang diberikan oleh Al-Quran, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ  ۚ﴿﴾  اَللّٰہُ  الصَّمَدُ ۚ﴿﴾   لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾  وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Katakanlah: Dia-lah  Allah   Yang Maha Esa.   Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya.   Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan,   dan tidak ada sesuatu pun yang setara   dengan-Nya ”(Al-Ikhlas,  [112]:1-5).

Penampakan  Keberadaan Allah Swt. Melalui Sifat-sifat  Tasybihiyyah-Nya  Berupa Penciptaan Seluruh Makhluk-Nya (Ciptaan-Nya)

     Walau pun benar bahwa Allah Swt. itu:  لَیۡسَ کَمِثۡلِہٖ  شَیۡءٌ ۚ  -- "Tidak ada sesuatu pun yang semisal-Nya" (QS.42:12) dan وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ -- “dan tidak ada sesuatu pun yang setara   dengan-Nya” (QS.112:5)  dan Dia merupakan kanzan makhfiy (khazanah tersembunyi), tetapi dalam hadits Qudsi -- yang dikemukakan pada bagian awal Bab ini  -- bahwa Dia  pun ingin dikenal manusia
Aku adakah kanzun makhfiy (khazanah tersembunyi). Aku rindu untuk dikenal, karena itu Aku menciptakan makhluk supaya Aku diketahui.”
Rujukan yang lain berbunyi:
Aku adalah kanzun makhfiy   (khazanah tersembunyi) dan ingin dikenal maka Aku menciptakan Adam.
       Sebagaimana telah dijelaskan bahwa  yang dimaksud dengan “Adam” dalam hadits qudsi tersebut adalah  nabi Allah  (rasul Allah)  karena wujud-wujud suci  yang diutus Allah Swt. tersebut  merupakan para Khalifah (wakil) Allah (QS.2:31), sebab melalui para nabi Allah itulah Allah Swt. di setiap zaman kenabian (kerasulan)  memperkenalkan “Wujud-Nya” (QS.16:37) – yakni membukakan rahasia-rahasia gaib-Nya (QS.2:31-34; QS.3:180; QS.72:27-29) --  dan proses “memperkenalkan diri” Allah Swt. tersebut mencapai puncak kesempurnaannya berupa pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. berupa pewahyuan agama Islam (Al-Quran) yang merupakan agama (kitab suci) terakhir dan tersempurna (QS.5:4; QS.15:10).
          Selain Allah Swt. memiliki Sifat-sifat  yang khusus  hanya  dimiliki oleh-Nya sebagai “Tuhan yang Hakiki” yang dikemukakan   dalam surah Al-Ikhlash  --  yang disebut Sifat-sifat Tanzihiyyah  -- Dia pun memiliki Sifat-sifat yang sampai batas tertentu dimiliki juga oleh  makhluk-Nya  -- terutama oleh  manusia --  yang disebut dengan Sifat-sifat Tasybihiyyah.
         Dari sekian banyak Sifat-sifat Tasybihiyyah Allah Swt., di dalam surah Al-Fatihah Allah Swt. memperkenalkan 4 Sifat utama Tasybihiyah-Nya  yang berdasarkan Sifat-sifat tersebut Allah Swt. menciptakan tatanan alam semesta jasmani ini serta keberadaan alam akhirat  yang akan dialami manusia setelah mengalami kematian secara jasmani.
      Karena penciptaan alam jasmani ini bagi manusia merupakan alam kasab (alam usaha), sedangkan alam akhirat merupakan alam ganjaran bagi  usaha manusia   -- yakni usaha baik mau pun usaha buruk – karena itu menurut Allah Swt. keadaan alam akhirat dalam segala seginya lebih baik  -- atau lebih super canggih   --  daripada kehidupan di alam jasmani ini, firman-Nya:
بَلۡ  تُؤۡثِرُوۡنَ الۡحَیٰوۃَ  الدُّنۡیَا ﴿۫ۖ﴾   وَ الۡاٰخِرَۃُ  خَیۡرٌ  وَّ اَبۡقٰی ﴿ؕ﴾  اِنَّ ہٰذَا  لَفِی الصُّحُفِ الۡاُوۡلٰی ﴿ۙ﴾
Tetapi  kamu mendahulukan kehidupan dunia,  padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.  Sesungguhnya inilah yang diajarkan dalam Kitab-kitab terdahulu,    Kitab-kitab Ibrahim dan Musa. (Al-A’lā [87]:17-20).
Firman-Nya lagi:
زُیِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّہَوٰتِ مِنَ النِّسَآءِ وَ الۡبَنِیۡنَ وَ الۡقَنَاطِیۡرِ الۡمُقَنۡطَرَۃِ مِنَ الذَّہَبِ وَ الۡفِضَّۃِ وَ الۡخَیۡلِ الۡمُسَوَّمَۃِ وَ الۡاَنۡعَامِ وَ الۡحَرۡثِ ؕ ذٰلِکَ مَتَاعُ  الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا ۚ وَ اللّٰہُ عِنۡدَہٗ حُسۡنُ الۡمَاٰبِ ﴿﴾  قُلۡ اَؤُنَبِّئُکُمۡ بِخَیۡرٍ مِّنۡ ذٰلِکُمۡ ؕ لِلَّذِیۡنَ اتَّقَوۡا عِنۡدَ رَبِّہِمۡ جَنّٰتٌ  تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا وَ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ وَّ رِضۡوَانٌ مِّنَ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ بَصِیۡرٌۢ  بِالۡعِبَادِ ﴿ۚ﴾  اَلَّذِیۡنَ یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ اِنَّنَاۤ اٰمَنَّا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿ۚ﴾  اَلصّٰبِرِیۡنَ وَ الصّٰدِقِیۡنَ وَ الۡقٰنِتِیۡنَ وَ الۡمُنۡفِقِیۡنَ وَ الۡمُسۡتَغۡفِرِیۡنَ بِالۡاَسۡحَارِ﴿﴾
Ditampakkan indah bagi manusia kecintaan terhadap apa-apa yang diingini yaitu: perempuan-perempuananak-anak, kekayaan yang berlimpah berupa emas dan perakkuda pilihanbinatang ternak dan sawah ladang.  Yang demikian itu adalah perlengkapan hidup  di dunia, dan Allah, di sisi-Nya-lah  sebaik-baik tempat kem-bali.     Katakanlah: “Maukah kamu aku beri tahu sesuatu  yang lebih baik daripada yang demikian itu?” Bagi orang-orang yang bertakwa, di sisi Rabb (Tuhan) mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya jodoh-jodoh suci dan  keridhaan dari Allah, dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.   Yaitu orang-orang yang berkata:  “Ya Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya kami telah beriman maka  ampunilah dosa-dosa  kami,  dan peliha-ralah kami dari azab Api.”   Orang-orang yang sabar, orang-orang yang benar, orang-orang yang taat, orang-orang yang membelanjakan  di jalan Allah dan  orang-orang yang memohon ampun di bagian akhir malam.  (Âli ‘Imran [3]:15-18).
     Sehubungan dengan ayat 15, ajaran  Islam (Al-Quran) tidak melarang mempergunakan atau mencari barang-barang yang baik dari dunia ini, tetapi tentu saja Islam mencela mereka yang menyibukkan diri dalam urusan duniawi dan menjadikannya satu-satunya tujuan hidup mereka, sebab Allah Swt. telah menetapkan  tujuan utama penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada-Nya (QS.1:5; QS.2:22-23; QS.51:67).

Makna Dzunub dan Pentingnya Maghfirah Ilahi

      Makna dzunub dalam ayat:    اَلَّذِیۡنَ یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ اِنَّنَاۤ اٰمَنَّا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ --  orang-orang yang berkata, “Ya Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya kami telah beriman maka  ampunilah dosa-dosa  kami,“  dzunub adalah jamak dari dzanb yang berarti: kealpaan, perbuatan salah, pelanggaran, sesuatu yang patut dicela jika dilakukan dengan sengaja.
     Perbedaan dzunub  (dzanb) dengan itsm adalah  bahwa dzanb itu boleh jadi  dilakukan  dengan  sengaja atau dilakukan karena kealpaan, sedangkan itsm  yang  khusus dilakukan dengan sengaja. Atau dzanb berarti kekeliruan-kekeliruan dan kesalahan-kesalahan yang membawa akibat buruk atau menjadikan si pelakunya layak dituntut.
    Sesungguhnya dzanb berarti kelemahan-kelemahan atau kekurangan-kekurangan yang melekat pada fitrat manusia sebagai makhluk (ciptaan),  seperti halnya dzanb (ekor, atau bagian tubuh yang seperti itu pada manusia) melekat pada tubuh,  artinya kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan alami pada diri manusia (Lexicon Lane & Al-Mufradat).
      Itulah sebabnya menurut Allah Swt. dalam Al-Quran manusia sangat memerlukan adanya  maghfirah Ilahi  (pengampunan  Tuhan – QS.4:27-29), baik terhadap  kelemahan (pelanggaran) yang tidak disengaja mau  yang disengaja    berupa dzanb  mau pun  Itsm, jurm dan junnah.
     Ayat selanjutnya menjelaskan mengenai ciri-ciri khas orang beriman sejati yang disebut dalam ayat ini melukiskan empat tingkat kemajuan ruhani:
      (1) Jika seseorang memeluk agama sejati biasanya ia menjadi sasaran kezaliman,  maka tingkat pertama yang harus dilaluinya ialah tingkat “kesabaran dan kegigihan.”
     (2) JIka penzaliman  berakhir dan ia bebas untuk berbuat menurut kehendaknya, ia mengamalkan ajaran-ajaran yang sebelum itu ia tidak dapat mengerjakan sepenuhnya. Tingkat kedua ini bertalian dengan “hidup berpegang pada kebenaran,” yaitu hidup sesuai dengan keyakinannya.
    (3) Jika sebagai akibat melaksanakan perintah-perintah agama dengan setia,   orang beriman sejati memperoleh kekuasaan, ketika itu pun sifat merendahkan diri tidak beranjak dari mereka. Mereka tetap bersikap “merendah” seperti sediakala.
      (4) Bukan sampai di situ saja, bahkan rasa pengabdian mereka bertambah besar. Mereka “membelanjakan” apa yang direzekikan Allah Swt. kepada mereka untuk kesejahteraan umat manusia.
      Tetapi seperti kata-kata penutup ayat ini menunjukkan, sepanjang masa itu mereka terus-menerus mendoa kepada Allah  Swt.   agar memaafkan setiap kekurangan mereka  -- yakni dzanb  mereka  --  dalam mencapai cita-cita luhur mereka untuk berbakti kepada umat manusia di tengah keheningan malam (QS.66:9).
      Keberhasilan semua itu  kuncinya terdapat dalam surah Al-Fatihah, yang  di dalamnya dikemukakan keempat Sifat utama Tasybihiyyah Allah Swt.  
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ     ۙ﴿﴾ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ ؕؕ﴿﴾  اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ﴿﴾  اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ ﴿﴾ صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۙ۬ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿﴾                                           
Aku baca dengan  nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Segala  puji hanya bagi  Allah, Rabb (Tuhan)  seluruh alam,     Maha Pemurah,  Maha Penyayang.   Pemilik  Hari   Pembalasan.    Hanya Engkau-lah Yang kami sembah  dan  hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan.  Tunjukilah kami   jalan yang lurus,  yaitu jalan  orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan mereka  yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka  yang sesat.   (Al-Fatihah [1]:1-7).

Hikmah   Bismillāhirrāhmanirrahīm  Sebagai Ayat Pertama Surah Al-Quran

         Ayat  "Bismillaahirahmaanirrahiim"  (Aku baca dengan  nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang )  merupakan ayat pertama dalam seluruh surah Al-Quran, kecuali surah At-Taubah  karena pada hakikatnya merupakan lanjutan surah sebelumnya  yaitu surah  Al-Anfāl.
       dalam kalimat bi-ismi Allah adalah  kata depan yang dipakai untuk menyatakan beberapa arti, dan arti yang lebih tepat di sini  dengan, maka kata majemuk Bism itu akan berarti  dengan nama. Menurut kebiasaan orang Arab kata Iqra’, atau Aqra’u, atau Naqra’u; atau Isyra’, atau Asyra’u, atau Nasyra’u, harus dianggap ada tercantum sebelum Bismillāh, suatu ungkapan dengan arti “Mulailah dengan nama Allah”, atau “Bacalah dengan nama  Allah” atau “Aku atau kami mulai dengan nama Allah”, atau  “Aku atau kami baca dengan nama Allah.” Dalam terjemahan ini ucapan Bismillāh diartikan “Dengan nama Allah” yang merupakan bentuk lebih lazim (Lexicon Lane).
       Ism mengandung arti  nama atau sifat (Aqrab-ul-Mawarid). Di sini  lafaz (kata) ism itu dipakai dalam kedua pengertian tersebut. Lafaz ism menunjuk kepada Allah  yaitu nama Wujud (Dzat) Tuhan, dan kepada Ar-Rahmān (Maha Pemurah) dan Ar-Rahīm (Maha Penyayang), keduanya nama sifat  Allah Swt..
       Allah adalah nama Zat Maha Agung, Pemilik Tunggal semua sifat  sempurna (Al-Asmā-ul-Husna ­ - 7:181;  QS.17:117; QS.59:25) dan sama sekali bebas dari segala kekurangan. Dalam bahasa Arab  lafaz Allah  tidak pernah dipakai untuk benda atau zat lain apa pun.
       Tidak ada bahasa lain yang memiliki nama tertentu atau nama khusus untuk Dzat Yang Maha Agung itu. Nama-nama yang terdapat dalam bahasa-bahasa lain semuanya nama-penunjuk-sifat atau nama pemerian (pelukisan) dan seringkali dipakai dalam bentuk jamak, sedangkan   lafaz   Allah  tidak pernah dipakai dalam bentuk jamak.
          Lafaz  Allah  adalah  ism zat (nama zat),   bukan  ism musytak, yakni  tidak diambil dari kata lain dan tidak pernah dipakai sebagai keterangan atau sifat. Karena tidak ada  lafaz lain yang sepadan maka  lafaz  Allah  dipergunakan di seluruh terjemahan ayat-ayat Al-Quran.
      Pandangan ini didukung oleh para alim bahasa Arab terkemuka. Menurut pendapat yang paling tepat  lafaz    Allah   adalah nama Wujud bagi Dzat yang wajib ada-Nya menurut Dzat-Nya Sendiri, Pemilik segala sifat  sempurna (Al-Asmā-ul-Husna)  dan huruf al  tidak terpisahkan dari lafaz Allāh (Lexicon Lane).
      Salah satu hikmah mengapa ayat "Bismillaahirrahmaanirrahiim"   (Aku baca dengan  nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang)  terdapat pada awal setiap surah Al-Quran  sebagai ayat pertama -- kecuali surah At Taubah   -- adalah sebagai penggenapan nubuatan Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dalam Bible, mengenai kedatangan Nabi Besar Muhammad saw. – yakni “Nabi yang seperti Musa” (Ulangan 18:16-19) atau sebagai “Roh kebenaran” yang menurut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. “akan membawa seluruh kebenaran” (Yohanes 16:12-13), atau Nabi Ahmad saw. (QS.61:7)   -- yang diutus Allah Swt. sekitar 600 tahun setelah  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.,  dengan mengatakan  Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan”:
23:37 "Yerusalem, Yerusalem  , engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu!  Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya,   tetapi kamu tidak mau. 23:38 Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. e 23:39 Dan Aku berkata kepadamu: Mulai sekarang kamu tidak akan melihat Aku lagi, hingga  kamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!" (Matius 23:37-39).
        Kalimat “Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!" identik dengan Nabi Besar Muhammad saw. yang menerima wahyu syariat terakhir dan tersempurna (QS.5:4) yang setiap awal surah Al-Quran dimulai dengan ayat:  "Bismillaahirrahmaanirrahiim" (Aku baca dengan  nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang).
         Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. menyebut Nabi Besar Muhammad saw. dengan nama Ahmad, firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ  مَرۡیَمَ یٰبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ  اِنِّیۡ  رَسُوۡلُ  اللّٰہِ  اِلَیۡکُمۡ مُّصَدِّقًا  لِّمَا بَیۡنَ  یَدَیَّ  مِنَ  التَّوۡرٰىۃِ وَ مُبَشِّرًۢا  بِرَسُوۡلٍ یَّاۡتِیۡ  مِنۡۢ  بَعۡدِی اسۡمُہٗۤ  اَحۡمَدُ ؕ فَلَمَّا جَآءَہُمۡ  بِالۡبَیِّنٰتِ قَالُوۡا ہٰذَا  سِحۡرٌ  مُّبِیۡنٌ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku Rasul Allah kepada kamu menggenapi apa yang ada sebelumku yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira mengenai seorang rasul yang akan datang sesudahku namanya Ahmad.”  Maka tatkala ia datang kepada mereka dengan bukti-bukti yang jelas mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.” (Ash-Shaf [61]:7).
         Nubuatan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tersebut mendukung kebenaran nubuatan Nabi Musa a.s. mengenai kedatangan “nabi yang seperti Musa” (misal Nabi Musa a.s. – Ulangan 18:15-19) yakni Nabi Besar Muhammad saw. (QS.11:18; QS.26:193-198; QS.46:11; QS.73:16). Bahkan Nabi Sulaiman a.s. pun dalam surat beliau yang dikirim kepada Ratu Saba telah memulainya dengan  kalimat “Bismillāhirrahmānnirahīm” (Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah, Maha Penyayang), firman-Nya:
قَالَتۡ یٰۤاَیُّہَا الۡمَلَؤُا  اِنِّیۡۤ   اُلۡقِیَ   اِلَیَّ  کِتٰبٌ کَرِیۡمٌ ﴿﴾  اِنَّہٗ مِنۡ سُلَیۡمٰنَ وَ اِنَّہٗ بِسۡمِ اللّٰہِ   الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿ۙ﴾  اَلَّا تَعۡلُوۡا عَلَیَّ  وَ اۡتُوۡنِیۡ  مُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Ia (Ratu Saba) berkata:  “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah disam-paikan kepadaku surat yang mulia, sesungguhnya surat itu dari Sulaiman, dan sesungguhnya surat itu berbunyi: "Bismillaahirrahmaanirrahiim" --  Dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.” اَلَّا تَعۡلُوۡا عَلَیَّ  وَ اۡتُوۡنِیۡ  مُسۡلِمِیۡنَ  --  Janganlah kamu berlaku sombong terhadapku, dan datanglah kepadaku dengan berserah diri.”  (QS. [27]30-32).

Makna Sifat Al-Rahmān dan Al-Rāhim
 
        Ar-Rahmān (Maha Pemurah) dan Ar-Rahīm (Maha Penyayang), keduanya berasal dari akar yang sama, Rahima, artinya: ia telah menampakkan kasih-sayang; ia ramah dan baik; ia memaafkan, mengampuni. Kata Rahmah menggabungkan arti riqqah yakni   kehalusan dan ihsan  yakni  kebaikan,   kebajikan” (Mufradat). Ar-Rahmān dalam wazan (ukuran) fa’lan, dan Ar-Rahīm dalam ukuran fa’il. Menurut kaedah tata-bahasa Arab, makin banyak jumlah huruf ditambahkan pada akar kata makin luas dan mendalam pula artinya (Al-Kasysyaf).
      Ukuran fa’lan membawa arti kepenuhan dan keluasan, sedang ukuran fa’il menunjuk kepada arti ulangan dan pemberian ganjaran dengan kemurahan hati kepada mereka yang layak menerimanya (Al-Bahrul-Muhith). Jadi, di mana kata Ar-Rahmān menunjukkan “kasih sayang meliputi seluruh alam”, kata Ar-Rahīm berarti “kasih sayang yang ruang lingkupnya terbatas  tetapi  ditampakkan berulang-ulang.”
       Mengingat arti-arti di atas, Ar-Rahmān  adalah Dzat Yang menampakkan kasih-sayang secara  cuma-cuma dan meluas kepada semua makhluk tanpa mempertimbangkan usaha atau amal, sedangkan Ar-Rahīm  adalah Dzat Yang menampakkan kasih-sayang sebagai imbalan atas usaha atau amal   manusia, tetapi menampakkannya dengan kemurahan hati dan berulang-ulang.
      Kata Ar-Rahmān hanya dipakai untuk Allah Swt.  sebab hanya Allah Swt. yang berkuasa melakukannya,  sedangkan Ar-Rahīm dipakai pula untuk manusia. Ar-Rahmān tidak hanya meliputi orang-orang beriman  dan kafir saja, tetapi juga seluruh makhluk hidup. Sedangkan Ar-Rahīm terutama tertuju kepada orang-orang beriman saja.
      Menurut sabda Nabi Besar Muhammad saw. sifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah) umumnya bertalian dengan kehidupan di dunia ini, sedang sifat Ar-Rahīm (Maha Penyayang) umumnya bertalian dengan kehidupan  akhirat (Al-Bahrul Muhith). Artinya, karena dunia ini pada umumnya adalah  dunia perbuatan, sedangkan alam akhirat itu adalah suatu alam tempat perbuatan manusia akan diganjar dengan cara istimewa,  maka sifat Allah   Ar-Rahmān  (Maha Pemurah) menganugerahi manusia alat dan bahan (sarana) untuk melaksanakan pekerjaannya dalam kehidupan di dunia ini, sedangkan sifat Allah  Ar-Rahīm (Maha Penyayang) mendatangkan hasil dalam kehidupan yang akan datang (akhirat).
       Segala benda (sarana) yang manusia  perlukan   -- dan atas itu kehidupan manusia bergantung   --  adalah semata-mata karunia Ilahi dan sudah tersedia untuk manusia, sebelum manusia melakukan  sesuatu yang menyebabkan manusia  layak menerimanya, atau bahkan sebelum manusia  dilahirkan, yang demikian itu semata-mata karena Sifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah) Allah Swt.; sedangkan karunia yang tersedia untuk manusia dalam kehidupan yang-akan-datang (akhirat), akan dianugerahkan kepada manusia   -- khususnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh (QS.2:26) --  sebagai ganjaran atas usaha atau amal  manusia.
         Hal itu menunjukkan bahwa Ar-Rahmān (Maha Pemurah) itu Pemberi Karunia yang mendahului kelahiran manusia,  sedangkan  Ar-Rahīm (Maha Penyayang) itu Pemberi Nikmat-nikmat yang mengikuti amal  manusia  sebagai ganjarannya, baik di dunia ini mau pun di akhirat nanti.

(Bersambung)
ooo
Rujukan: The Holy Quran
Editor    : Malik Ghulam Farid


Pajajaran Anyar,   3 Agustus  2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar