Minggu, 06 Agustus 2017

Keberhasilan Duniawi "Orang-orang Kafir" Memanfaatkan Sifat "Rahmaaniyyat" (Maha Pemurah) Allah Swt. & Proses Bertahap Penciptaan "Alam Semesta Jasmani" dan "Ruhani"



Bismillāhirrahmānirrahīm


KHAZANAH  AL-QURAN 

Bab 21

KEBERHASILAN DUNIAWI ORANG-ORANG KAFIR MEMANFAATKAN SIFAT RAHMÂNIYAT (MAHA PEMURAH) ALLAH  SWT.  & PROSES BERTAHAP PENCIPTAAN ALAM SEMESTA JASMANI  DAN RUHANI   

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir bab sebelumnya  telah dikemukakan  topic:    Makna Sifat Al-Rahmān dan Al-Rāhim  dalam ayat Bismillaahirrahmaanirrahiim (Aku baca dengan  nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang), sehubungan dengan   ayat pertama setiap surah Al-Quran – kecuali surah At-Taubah  -- dan juga dalam  surat Nabi Sulaiman a.s. yang dikirim kepada  Ratu Saba, firman-Nya:
قَالَتۡ یٰۤاَیُّہَا الۡمَلَؤُا  اِنِّیۡۤ   اُلۡقِیَ   اِلَیَّ  کِتٰبٌ کَرِیۡمٌ ﴿﴾  اِنَّہٗ مِنۡ سُلَیۡمٰنَ وَ اِنَّہٗ بِسۡمِ اللّٰہِ   الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿ۙ﴾  اَلَّا تَعۡلُوۡا عَلَیَّ  وَ اۡتُوۡنِیۡ  مُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Ia (Ratu Saba) berkata:  “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah disam-paikan kepadaku surat yang mulia, sesungguhnya surat itu dari Sulaiman, dan sesungguhnya surat itu berbunyiبِسۡمِ اللّٰہِ   الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ --  Dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.” اَلَّا تَعۡلُوۡا عَلَیَّ  وَ اۡتُوۡنِیۡ  مُسۡلِمِیۡنَ  --  Janganlah kamu berlaku sombong terhadapku, dan datanglah kepadaku dengan berserah diri.”  (QS. [27]30-32).
       Ar-Rahmān (Maha Pemurah) dan Ar-Rahīm (Maha Penyayang), keduanya berasal dari akar kata yang sama, Rahima, artinya: ia telah menampakkan kasih-sayang; ia ramah dan baik; ia memaafkan, mengampuni. Kata Rahmah menggabungkan arti riqqah yakni   kehalusan dan ihsan  yakni  kebaikan,   kebajikan” (Mufradat). Ar-Rahmān dalam wazan (ukuran) fa’lan, dan Ar-Rahīm dalam ukuran fa’il. Menurut kaedah tata-bahasa Arab, makin banyak jumlah huruf ditambahkan pada akar kata makin luas dan mendalam pula artinya (Al-Kasysyaf).
    Ukuran fa’lan membawa arti kepenuhan dan keluasan, sedang ukuran fa’il menunjuk kepada arti ulangan dan pemberian ganjaran dengan kemurahan hati kepada mereka yang layak menerimanya (Al-Bahrul-Muhith). Jadi, di mana kata Ar-Rahmān menunjukkan “kasih sayang meliputi seluruh alam”, kata Ar-Rahīm berarti “kasih sayang yang ruang lingkupnya terbatas  tetapi  ditampakkan berulang-ulang.”

Perbedaan Sifat Ar-Rahmān dan Ar-Rahīm  & Jawaban  Allah Swt.  Atas Doa Nabi Ibrahim a.s.

     Mengingat arti-arti di atas, Ar-Rahmān  adalah Dzat Yang menampakkan kasih-sayang secara  cuma-cuma dan meluas kepada semua makhluk tanpa mempertimbangkan usaha atau amal, sedangkan Ar-Rahīm  adalah Dzat Yang menampakkan kasih-sayang sebagai imbalan atas usaha atau amal   manusia, tetapi menampakkannya dengan kemurahan hati dan berulang-ulang.
     Kata Ar-Rahmān hanya dipakai untuk Allah Swt.  sebab hanya Allah Swt. yang berkuasa melakukannya,  sedangkan Ar-Rahīm dipakai pula untuk manusia. Ar-Rahmān tidak hanya meliputi orang-orang beriman  dan kafir saja, tetapi juga seluruh makhluk hidup. Sedangkan Ar-Rahīm terutama tertuju kepada orang-orang beriman saja.
     Menurut sabda Nabi Besar Muhammad saw. sifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah) umumnya bertalian dengan kehidupan di dunia ini, sedang sifat Ar-Rahīm (Maha Penyayang) umumnya bertalian dengan kehidupan  akhirat (Al-Bahrul Muhith). Artinya, karena dunia ini pada umumnya adalah  dunia perbuatan, sedangkan alam akhirat itu adalah suatu alam tempat perbuatan manusia akan diganjar dengan cara istimewa,  maka Sifat Allah   Ar-Rahmān  (Maha Pemurah) menganugerahi manusia alat dan bahan (sarana) untuk melaksanakan pekerjaannya dalam kehidupan di dunia ini, sedangkan sifat Allah  Ar-Rahīm (Maha Penyayang) mendatangkan hasil dalam kehidupan yang akan datang (akhirat).
     Mengisyaratkan kepada Sifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah) Allah Swt. itu pulalah jawaban Allah Swt. terhadap doa Nabi Ibrahim a.s. dalam firman-Nya berikut ini:
وَ اِذۡ قَالَ  اِبۡرٰہٖمُ  رَبِّ اجۡعَلۡ ہٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّ ارۡزُقۡ اَہۡلَہٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنۡ اٰمَنَ مِنۡہُمۡ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ ؕ قَالَ وَ مَنۡ کَفَرَ فَاُمَتِّعُہٗ قَلِیۡلًا ثُمَّ  اَضۡطَرُّہٗۤ اِلٰی عَذَابِ النَّارِ ؕ وَ بِئۡسَ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku),  jadikanlah tempat ini kota yang aman dan berikanlah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya dari antara mereka yang beriman  kepada  Allah dan Hari Kemudian.” Dia berfirman: “Dan orang yang kafir pun  maka Aku akan memberi sedikit kesenangan kepadanya kemudian  akan Aku paksa ia masuk ke dalam azab Api, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (Al-Baqarah [2]:127).
      Dari jawaban Allah Swt. tersebut diketahui bahwa  meraih kesuksesan kehidupan duniawi tidak hanya dikhususkan bagi orang-orang yang beriman dan beramal shaleh saja, tetapi  orang-orang yang kafir kepada Allah Swt. dan rasul Allah pun  diberikan kesempatan pula namun  --  tetapi jika  mereka tidak mau bertaubat dari kekafiran mereka  -- maka kesuksesan duniawi mereka pasti akan diakhiri dengan azab Ilahi,  Dia berfirman: “Dan orang yang kafir pun  maka Aku akan memberi sedikit kesenangan kepadanya kemudian  akan Aku paksa ia masuk ke dalam azab Api, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”

Rezeki  Khusus Allah Swt. Untuk Orang-orang yang Beriman dan Beramal Shaleh

      Selaras dengan ayat tersebut Allah Swt.  menyatakan bahwa pada hakikatnya  rezeki apa pun yang disediakan Allah Swt. di dalam kehidupan di dunia ini  adalah untuk orang-orang yang beriman,  tetapi secara khusus hanya akan diberikan kepada mereka di alam akhirat, firman-Nya:
 قُلۡ مَنۡ حَرَّمَ زِیۡنَۃَ اللّٰہِ الَّتِیۡۤ  اَخۡرَجَ لِعِبَادِہٖ  وَ الطَّیِّبٰتِ مِنَ الرِّزۡقِ ؕ قُلۡ ہِیَ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا خَالِصَۃً  یَّوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ  کَذٰلِکَ  نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ  لِقَوۡمٍ  یَّعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah:  “Siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah yang dikeluarkan untuk hamba-hamba-Nya dan juga  barang-barang yang baik dari rezeki-Nya?” Katakanlah: “Barang-barang itu bagi orang-orang yang beriman di dalam kehidupan dunia ini, teristimewa pada Hari Kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan Tanda-tanda bagi kaum yang berpengetahuan.” (Al-A’rāf [7]:33).
         Di alam  akhirat orang-orang  yang kafir kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya  akan luput dari berbagai rezeki atau nikmat surgawi yang dianugerahkan Allah Swt. kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh (QS.2:26), firman-Nya:
وَ نَادٰۤی  اَصۡحٰبُ الۡجَنَّۃِ اَصۡحٰبَ النَّارِ اَنۡ قَدۡ وَجَدۡنَا مَا وَعَدَنَا رَبُّنَا حَقًّا فَہَلۡ وَجَدۡتُّمۡ مَّا وَعَدَ رَبُّکُمۡ حَقًّا ؕ قَالُوۡا نَعَمۡ ۚ فَاَذَّنَ مُؤَذِّنٌۢ بَیۡنَہُمۡ اَنۡ لَّعۡنَۃُ  اللّٰہِ  عَلَی  الظّٰلِمِیۡنَ ﴿ۙ﴾ الَّذِیۡنَ یَصُدُّوۡنَ عَنۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ یَبۡغُوۡنَہَا عِوَجًا ۚ وَ ہُمۡ بِالۡاٰخِرَۃِ کٰفِرُوۡنَ ﴿ۘ﴾
Dan penghuni surga berseru kepada penghuni neraka bahwa: “Sungguh kami  telah mendapati apa yang Rabb (Tuhan) kami  janjikan kepada kami itu benar, maka apakah kamu pun  mendapati  apa yang  dijanjikan Rabb (Tuhan) kamu itu benar?” Mereka berkata: “Ya benar” Lalu seorang penyeru di antara mereka berseru:  “Laknat Allah atas orang-orang zalim.   Yaitu orang-orang yang menghalang-halangi manusia dari jalan Allah dan mereka menghendaki jalan itu bengkok,  dan mereka itu tidak percaya kepada akhirat.” (Al-A’rāf  [7]:45-46).
Firman-Nya lagi:
وَ نَادٰۤی اَصۡحٰبُ النَّارِ  اَصۡحٰبَ الۡجَنَّۃِ اَنۡ اَفِیۡضُوۡا عَلَیۡنَا مِنَ الۡمَآءِ اَوۡ مِمَّا رَزَقَکُمُ  اللّٰہُ ؕ قَالُوۡۤا  اِنَّ اللّٰہَ حَرَّمَہُمَا عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿ۙ﴾ الَّذِیۡنَ اتَّخَذُوۡا دِیۡنَہُمۡ لَہۡوًا وَّ لَعِبًا وَّ غَرَّتۡہُمُ الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَا ۚ فَالۡیَوۡمَ نَنۡسٰہُمۡ  کَمَا نَسُوۡا لِقَآءَ یَوۡمِہِمۡ ہٰذَا ۙ وَ مَا  کَانُوۡا بِاٰیٰتِنَا  یَجۡحَدُوۡنَ ﴿﴾ وَ لَقَدۡ جِئۡنٰہُمۡ بِکِتٰبٍ فَصَّلۡنٰہُ عَلٰی عِلۡمٍ ہُدًی وَّ رَحۡمَۃً  لِّقَوۡمٍ  یُّؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾
Dan penghuni neraka akan berseru kepada penghuni surga: “Tuangkanlah kepada kami sedikit air atau sedikit dari apa yang Allah   rezekikan kepada kamu.” Mereka akan berkata: “Sesungguhnya Allah mengharamkan kedua-duanya atas orang-orang kafir”.  Yaitu  orang-orang yang telah menjadikan agamanya sebagai olok-olok dan permainan  dan kehidupan dunia telah memperdayakan mereka, maka pada hari ini  Kami akan me-upakan mereka, sebagaimana mereka telah melupakan pertemuan pada hari mereka ini dan mereka selalu membantah Ayat-ayat Kami. (Al-A’rāf [7]:51-52). Lihat pula QS. 57:12-16.

Hakikat  Terbukanya Kesuksesan Duniawi Bagi Orang-orang Kafir & Makna Wahyu Ilahi Kepada Lebah dan Tatanan Alam Semesta

       Jadi, kembali kepada  pembahasan hakikat  Sifat Rahmāniyat  (Maha Pemurah) Allah Swt., bahwa segala benda (sarana) yang manusia  perlukan   -- dan atas itu kehidupan manusia bergantung   --  adalah semata-mata karunia Ilahi dan sudah tersedia untuk manusia, sebelum manusia melakukan  sesuatu yang menyebabkan manusia  layak menerimanya, atau bahkan sebelum manusia  dilahirkan, yang demikian itu semata-mata karena Sifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah) Allah Swt..
     Ada pun  karunia yang tersedia untuk manusia dalam kehidupan yang-akan-datang (akhirat), akan dianugerahkan kepada manusia   -- khususnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh (QS.2:26) --  sebagai ganjaran atas usaha atau amal  manusia.
     Hal itu menunjukkan bahwa Ar-Rahmān (Maha Pemurah) itu Pemberi Karunia yang mendahului kelahiran manusia,  sedangkan  Ar-Rahīm (Maha Penyayang) itu Pemberi Nikmat-nikmat yang mengikuti amal  manusia  sebagai ganjarannya, baik di dunia ini mau pun di akhirat nanti.
       Dengan penjelasan mengenai kedua Sifat Tasybihiyah Allah Swt.  -- Ar-Rahmān (Maha Pemurah)  dan   Ar-Rahīm (Maha Penyayang)   -- beberapa pertanyaan berikut ini terjawab:
         Mengapa dalam kenyataannya orang-orang yang kafir kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya  serta orang-orang musyrik – bahkan orang-orang yang tidak percaya kepada adanya Tuhan  (Atheis) –   pun mereka dapat meraih keberhasilan duniawi, contohnya kaum-kaum purbakala yang kemudian diazab Allah Swt. karena mendustakan dan menentang para rasul Allah yang diutus kepada mereka?
    Jawabannya adalah karena mereka – disadari mau pun tidak disadari telah memanfaatkan Sifat Rahmāniyat (Al-Rahmān/Maha Pemurah) Allah Swt. yang berlaku bagi semua makhluk hidup, termasuk binatang dan orang-orang yang kafir kepada Allah Swt. dan para Rasul-Nya.
        Contohnya  di kalangan binatang, kepada mereka tidak ditetapkan kewajiban untuk beribadah kepada Allah Swt. seperti halnya  umat manusia (QS.51:57), tetapi berkat kemampuan alami mereka memanfaatkan  Sifat Rahmāniyat (Al-Rahmān/Maha Pemurah) Allah Swt. maka  binatang-binatang tersebut bukan saja dapat memenuhi keperluan hidupnya, bahkan mereka memberikan manfaat besar bagi manusia,  contohnya lebah madu , firman-Nya:
وَ اَوۡحٰی رَبُّکَ اِلَی النَّحۡلِ اَنِ اتَّخِذِیۡ مِنَ الۡجِبَالِ بُیُوۡتًا وَّ مِنَ الشَّجَرِ وَ مِمَّا یَعۡرِشُوۡنَ ﴿ۙ﴾   ثُمَّ  کُلِیۡ مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ فَاسۡلُکِیۡ سُبُلَ رَبِّکِ ذُلُلًا ؕ یَخۡرُجُ مِنۡۢ بُطُوۡنِہَا شَرَابٌ مُّخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ  فِیۡہِ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً   لِّقَوۡمٍ  یَّتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾
Dan Rabb (Tuhan) engkau telah mewahyukan  kepada lebah: “Buatlah rumah-rumah yakni sarang di bukit-bukit, dan di pohon-pohon dan di tempat-tempat yang dibuat manusia.  Kemudian makanlah dari setiap  buah-buahan, dan tempuhlah jalan Rabb (Tuhan) engkau yang dimudahkan  یَخۡرُجُ مِنۡۢ بُطُوۡنِہَا شَرَابٌ مُّخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ  فِیۡہِ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِ -- Keluar dari perutnya minuman beraneka warnanya, di dalamnya ada obat penyembuh bagi manusia. اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً   لِّقَوۡمٍ  یَّتَفَکَّرُوۡنَ  -- Sesungguhnya dalam yang demikian itu ada Tanda bagi orang-orang yang memikirkan.  (An-Nahl [16]:69-70).
       Makna wahyu  berkenaan lebah di sini berarti naluri-naluri alami yang dengan itu Allah Swt. telah menganugerahi semua makhluk  -- termasuk bekerjanya  alam semesta (QS.41:10-14). Ayat ini mengandung satu isyarat yang indah sekali bahwa bekerjanya seluruh alam semesta dengan lancar dan berhasil bergantung pada wahyu (atau ilham), baik yang nyata ataupun tersembunyi, firman-Nya:
اَللّٰہُ الَّذِیۡ رَفَعَ السَّمٰوٰتِ بِغَیۡرِ عَمَدٍ تَرَوۡنَہَا ثُمَّ  اسۡتَوٰی عَلَی الۡعَرۡشِ وَ سَخَّرَ الشَّمۡسَ وَ الۡقَمَرَ ؕ کُلٌّ یَّجۡرِیۡ لِاَجَلٍ مُّسَمًّی ؕ یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ یُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ بِلِقَآءِ رَبِّکُمۡ تُوۡقِنُوۡنَ ﴿﴾
Allah, Dia-lah Yang telah meninggikan seluruh langit tanpa suatu tiang pun yang kamu melihatnya, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy. Dan Dia  telah menundukkan bagi kamu matahari dan bulan, masing-masing beredar menurut arah perjalanannya  hingga suatu masa yang telah ditetapkan.  ؕ یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ یُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ بِلِقَآءِ رَبِّکُمۡ تُوۡقِنُوۡنَ -- Dia mengatur segala urusan dan Dia menjelaskan Tanda-tanda itu, supaya kamu berkeyakinan teguh mengenai pertemuan dengan Rabb (Tuhan) kamu. (Ar-Rā’d [13]:3).
       Kata-kata    “Allah, Dia-lah Yang telah meninggikan seluruh langit tanpa suatu tiang pun yang kamu melihatnya“   itu berarti:
      (1) Kamu  melihat bahwa seluruh langit berdiri tanpa tiang-tiang;
    (2) bahwa seluruh langit berdiri tidak atas tiang-tiang yang dapat kamu lihat. Artinya, seluruh langit itu mempunyai pendukung (penopang) tetapi kamu tidak dapat melihatnya.
      Secara harfiah ayat itu berarti  bahwa seluruh langit berdiri tanpa ditunjang oleh tiang-tiang. Secara kiasan ayat itu berarti, bahwa seluruh langit atau benda-benda langit memang memerlukan penopang, tetapi penopang-penopang itu tidak nampak kepada mata manusia, umpamanya daya tarik atau tenaga magnetis atau gerakan-gerakan khusus planit-planit atau cara-cara lain, yang ilmu pengetahuan telah menemukannya hingga saat ini atau yang mungkin akan ditemukan lagi di hari depan.
      Kata ‘Arsy (singgasana) telah dipakai dalam Al-Quran untuk menyatakan proses membawa hukum-hukum ruhani atau jasmani kepada kesempurnaannya. Penggunaan ungkapan itu selaras dengan kebiasaan raja-raja dunia. Mereka itu menyatakan proklamasi-proklamasi penting “dari singgasana”.

Berbagai Macam Warna dan Khasiat Madu lebah  & “Madu Ruhani” Al-Quran

      Dengan perkataan lain, segala benda dan makhluk memenuhi tujuan kejadiannya hanya dengan bekerja menurut naluri-naluri dan kemampuan-kemampuan serta pembawaan-pembawaan aslinya. Sehubungan dengan itu lebah telah dipilih sebagai satu contoh yang menonjol sekali, sebab organisasi dan kerjanya yang menakjubkan itu bahkan berkesan pula kepada orang yang melihatnya secara sambil lalu saja, dan dapat disaksikan dengan mata tanpa bantuan alat apa pun, firman-Nya:
وَ اَوۡحٰی رَبُّکَ اِلَی النَّحۡلِ اَنِ اتَّخِذِیۡ مِنَ الۡجِبَالِ بُیُوۡتًا وَّ مِنَ الشَّجَرِ وَ مِمَّا یَعۡرِشُوۡنَ
Dan Rabb (Tuhan) engkau telah mewahyukan  kepada lebah: “Buatlah rumah-rumah yakni sarang di bukit-bukit, dan di pohon-pohon dan di tempat-tempat yang dibuat manusia   (An-Nahl [16]:69).
       Pokok masalah lebah telah dipaparkan lebih lanjut dalam ayat ini: ثُمَّ  کُلِیۡ مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ فَاسۡلُکِیۡ سُبُلَ رَبِّکِ ذُلُلًا  -- “Kemudian makanlah dari setiap  buah-buahan, dan tempuhlah jalan Rabb (Tuhan) engkau yang dimudahkan.“ Allah Swt. mengilhamkan kepada lebah untuk menghimpunkan makanannya dari berbagai buah dan bunga, kemudian dengan jalan bekerjanya alat yang tersedia dalam tubuhnya dan dengan cara yang diwahyukan oleh Allah Swt. kepadanya, ia mengubah makanan yang terhimpun itu menjadi madu.
      Selanjutnya Allah Swt. berfirman: یَخۡرُجُ مِنۡۢ بُطُوۡنِہَا شَرَابٌ مُّخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ  فِیۡہِ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِ – “Keluar dari perutnya minuman beraneka warnanya, di dalamnya ada obat penyembuh bagi manusia.”   Madu mempunyai bermacam-macam warna dan rasa serta khasiat, akan tetapi semua coraknya yang berbeda-beda itu sangat berguna sekali bagi manusia.
       Hal ini mengandung arti bahwa wahyu Ilahi pun telah terus-menerus turun kepada nabi-nabi Allah  di berbagai zaman, dan bahwa ajaran-ajaran seorang nabi  Allah dalam beberapa hal yang kecil-kecil berbeda dari ajaran-ajaran nabi-nabi Allah  lain, walaupun demikian semuanya  -- yakni madu-madu ruhani --  itu merupakan sarana-sarana untuk menghidupkan akhlak dan ruhani kaum yang kepadanya beliau-beliau diutus (QS.7:35-37) seperti halnya khasiat madu lebah:  یَخۡرُجُ مِنۡۢ بُطُوۡنِہَا شَرَابٌ مُّخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ  فِیۡہِ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِ -- Keluar dari perutnya minuman beraneka warnanya, di dalamnya ada obat penyembuh bagi manusia. اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً   لِّقَوۡمٍ  یَّتَفَکَّرُوۡنَ  -- Sesungguhnya dalam yang demikian itu ada Tanda bagi orang-orang yang memikirkan.  (An-Nahl [16]:70).
       Ada pun yang paling sempurna adalah “madu ruhani”  Al-Quran  yang diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw.  (QS.26:193-198) karena merupakan wahyu syariat terakhir dan tersempurna (QS.5:4) sehingga mendapat jaminan pemeliharaan Allah Swt. (QS.15:10), firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  اَلرَّحۡمٰنُ ۙ﴿﴾  عَلَّمَ  الۡقُرۡاٰنَ ؕ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. اَلرَّحۡمٰنُ  --   Tuhan Yang Maha Pemurah,   عَلَّمَ  الۡقُرۡاٰنَ --      Dia mengajarkan Al-Quran.  (Ar-Rahmān [55]:1-3).
  Allah  Swt. memperlihatkan Wujud-Nya dengan perantaraan rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya, yang kepada mereka Dia menurunkan kalam-Nya (firman-Nya). Wahyu Al-Quran merupakan puncak wahyu Ilahi, dan  wahyu Ilahi kepada manusia melalui kalam-Nya itu semata-mata merupakan anugerah Allah Swt.  yang mengalir dari sifat Rahmāniyat Ilahi.

Orang-orang Kafir Memanfaatkan Sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah) Allah Swt

      Mengisyaratkan kepada  Sifat Rahmāniyat  (Maha Pemurah) Allah Swt.  itu pulalah Dia berfirman berkenaan jaminan pemeliharaan-Nya  terhadap rezeki semua jenis makhluk hidup:     
وَ مَا مِنۡ دَآبَّۃٍ  فِی الۡاَرۡضِ  اِلَّا عَلَی اللّٰہِ  رِزۡقُہَا وَ یَعۡلَمُ مُسۡتَقَرَّہَا وَ مُسۡتَوۡدَعَہَا ؕ کُلٌّ  فِیۡ  کِتٰبٍ مُّبِیۡنٍ ﴿﴾  وَ ہُوَ الَّذِیۡ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ فِیۡ سِتَّۃِ  اَیَّامٍ وَّ کَانَ عَرۡشُہٗ عَلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُوَکُمۡ اَیُّکُمۡ اَحۡسَنُ عَمَلًا ؕ وَ لَئِنۡ قُلۡتَ اِنَّکُمۡ مَّبۡعُوۡثُوۡنَ مِنۡۢ بَعۡدِ الۡمَوۡتِ لَیَقُوۡلَنَّ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡۤا اِنۡ  ہٰذَاۤ   اِلَّا  سِحۡرٌ  مُّبِیۡنٌ ﴿﴾
Dan  sekali-kali tidak ada seekor binatang merayap pun di bumi, melainkan Allah-lah yang menanggung rezekinya.  Dan Dia mengetahui tempat tinggalnya yang semen-tara dan tempat tinggalnya yang tetap,  semuanya tercatat dalam Kitab yang nyata.  Dan  Dia-lah yang telah menciptakan seluruh langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah ‘Arasy-Nya di atas air,   supaya Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan jika engkau mengatakan: “Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan setelah mati,” niscaya orang yang kafir itu akan berkata: “Ini tidak  lain melainkan sihir yang nyata.” (Hūd [11]:7-8). 
     Makna ayat:   “Dan  sekali-kali tidak ada seekor binatang merayap pun di bumi melainkan Allah-lah yang menanggung rezekinya.“  Allah Swt. telah menyediakan bagi semua makhluk-Nya, bahkan Dia telah menyediakan bahan-bahan kehidupan bagi cacing dan binatang melata yang tinggal di lubang-lubang bumi sekalipun.
       Akal manusia tak sampai untuk memahami, bagaimana dan dari mana cacing dan serangga yang begitu banyak terdapat di permukaan dan di dalam bumi memperoleh makanannya. Manusia merasa telah memecahkan rahasia-rahasia alam semesta, tetapi sebenarnya masih belum mengenal sepenuhnya segala bentuk kehidupan mereka. Tetapi Allah Swt.  telah memberikan perbekalan hidup lebih dari cukup kepada semua makhluk itu.
       Ayat ini menegaskan bahwa Allah  Swt., Tuhan Pencipta  Yang telah menyediakan keperluan jasmani bagi makhluk-Nya yang paling sederhana itu, pasti tidak akan mengabaikan untuk memberikan perbekalan hidup yang sepadan bagi kepentingan akhlak dan ruhani manusia, yang merupakan puncak bagi ciptaan-Nya.
Ayat: وَ یَعۡلَمُ مُسۡتَقَرَّہَا وَ مُسۡتَوۡدَعَہَا ؕ کُلٌّ  فِیۡ  کِتٰبٍ مُّبِیۡنٍ  --  “Dan Dia mengetahui tempat tinggalnya yang sementara dan tempat tinggalnya yang tetap,  semuanya tercatat dalam Kitab yang nyata“ ini bukan hanya menunjuk kepada tempat tinggal sementara dan tempat tinggal abadi tiap-tiap wujud yang hidup, melainkan menunjuk pula kepada batas sejauh mana wujud-wujud itu dapat mengembangkan kemampuan-kemampuannya, terutama kemampuan jasmani dan ruhani umat manusia.
    Mustaqarr dan mustauda’ bukan saja berarti tempat permukiman dan tempat tinggal yang tetap, melainkan juga batas terakhir atau batas yang telah ditetapkan bagi sesuatu benda bertalian dengan waktu ataupun tempat; waktu yang telah ditetapkan; akhir perjalanan seseorang (Lexicon Lane).

Manfaat Duniawi  Diperoleh Orang-orang Kafir  Karena Mentaati Ketentuan Hukum Alam  & Rahasia Kesuksesan Duniawi Qarun

        Demikian pula orang-orang kafir,  sekali pun berkenaan  hukum (ketentuan) syariat mereka melakukan kedurhakaan terhadap Allah Swt. dan rasul Allah, tetapi jika dalam melakukan usaha duniawinya mereka – secara rela  atau terpaksa  -- mereka mentaati  ketentuan hukum alam jasmani yang telah ditetapkan Allah Swt., maka    mereka pun – atas dasar  Sifat Al-Rahmān (Maha Pemurah)  Allah Swt.  –  dapat meraih keberhasilan duniawi, contohnya adalah kaum-kaum purbakala yang kemudian diazab Allah Swt., sebagaimana firman Allah Swt. berikut ini mengenai Qarun:
اِنَّ قَارُوۡنَ کَانَ مِنۡ قَوۡمِ  مُوۡسٰی فَبَغٰی عَلَیۡہِمۡ ۪ وَ اٰتَیۡنٰہُ مِنَ الۡکُنُوۡزِ مَاۤ  اِنَّ مَفَاتِحَہٗ  لَتَنُوۡٓاُ بِالۡعُصۡبَۃِ  اُولِی الۡقُوَّۃِ ٭ اِذۡ  قَالَ  لَہٗ  قَوۡمُہٗ  لَا تَفۡرَحۡ  اِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡفَرِحِیۡنَ ﴿﴾  وَ ابۡتَغِ  فِیۡمَاۤ  اٰتٰىکَ اللّٰہُ  الدَّارَ الۡاٰخِرَۃَ  وَ لَا تَنۡسَ نَصِیۡبَکَ مِنَ الدُّنۡیَا وَ اَحۡسِنۡ کَمَاۤ  اَحۡسَنَ اللّٰہُ  اِلَیۡکَ وَ لَا تَبۡغِ الۡفَسَادَ فِی الۡاَرۡضِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿﴾  قَالَ  اِنَّمَاۤ   اُوۡتِیۡتُہٗ  عَلٰی  عِلۡمٍ عِنۡدِیۡ ؕ اَوَ لَمۡ یَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ  قَدۡ اَہۡلَکَ مِنۡ قَبۡلِہٖ مِنَ الۡقُرُوۡنِ مَنۡ ہُوَ اَشَدُّ مِنۡہُ  قُوَّۃً وَّ اَکۡثَرُ جَمۡعًا ؕ وَ لَا یُسۡـَٔلُ عَنۡ ذُنُوۡبِہِمُ  الۡمُجۡرِمُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya Qarun  adalah dari kaum Musa tetapi ia berlaku aniaya terhadap mereka. Dan Kami telah memberikan kepadanya begitu banyak khazanah-khazanah  yang kunci-kuncinya  sangat susah diangkat oleh sejumlah orang-orang kuat. Ketika kaumnya berkata kepadanya, “Janganlah engkau terlalu bangga, sesungguhnya Allāh tidak mencintai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.  Dan carilah rumah akhirat  itu dalam apa yang telah Allah berikan kepada engkau,  dan janganlah engkau melupakan nasib engkau di dunia, dan berbuat ihsanlah sebagaimana Allah telah berbuat ihsan terhadap engkau, dan janganlah engkau menimbulkan kerusakan di bumi, sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang berbuat kerusakan.” قَالَ  اِنَّمَاۤ   اُوۡتِیۡتُہٗ  عَلٰی  عِلۡمٍ عِنۡدِیۡ  --  Ia berkata: “Sesungguhnya ini telah diberikan-Nya kepadaku karena ilmu yang ada padaku.” اَوَ لَمۡ یَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ  قَدۡ اَہۡلَکَ مِنۡ قَبۡلِہٖ مِنَ الۡقُرُوۡنِ مَنۡ ہُوَ اَشَدُّ مِنۡہُ  قُوَّۃً وَّ اَکۡثَرُ جَمۡعًا ؕ وَ لَا یُسۡـَٔلُ عَنۡ ذُنُوۡبِہِمُ  الۡمُجۡرِمُوۡنَ  -- Tidakkah ia mengetahui bahwa  sungguh  Allah telah membinasakan banyak generasi sebelumnya  yang lebih besar kekuasaannya daripada dia dan lebih banyak harta kekayaannya? Dan   orang-orang yang berdosa tidak akan ditanyakan mengenai dosa-dosa mereka.  (Al-Qashash [28]:77-79).
        Qarun adalah seorang orang kaya raya. Ia dihargai sekali oleh Fir’aun dan sangat mungkin ia bendaharanya. Agaknya ia pejabat yang mengawasi tambang-tambang mas milik Fir’aun dan seorang ahli dalam teknik penggalian mas dari tambang-tambang. Bagian selatan Mesir, wilayah Qaru, terkenal dengan tambang-tambang emasnya. Karena akhiran “an” atau “on” berarti “tiang” atau “cahaya,” maka kata majemuknya “Qur-on” berarti “tiang Qaru” dan merupakan gelar menteri pertambangan.
     Konon Qarun seorang orang Israil dan beriman kepada Nabi Musa a.s.. tetapi untuk mengambil hati Fir’aun agaknya ia telah menganiaya bangsanya sendiri dan berlaku sombong terhadap mereka. Sebagai akibatnya azab Tuhan menimpa dirinya dan ia binasa.  
      Mafatih Dalam ayat: “Dan Kami telah memberikan kepadanya begitu banyak khazanah-khazanah  yang kunci-kuncinya  sangat susah diangkat oleh sejumlah orang-orang kuat” adalah jamak dari dua kata maftah dan miftah, yang pertama berarti timbunan; khazanah; dan kata yang kedua berarti anak kunci (Lexicon Lane).

Keberhasilan Duniawi Kaum-kaum Purbakala  dan  Keberhasilan Duniawi Kaum Saba

     Demikian pula  mengenai keberhasilan duniaawi kaum-kaum purbakala  yang kemudian diazab karena berlaku durhaka kepada Allah Swt. dan  para Rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka pun  sebabnya adalah karena mereka mentaati dan memanfaatkan hukum alam jasmani  yang telah ditetapkan Allah Swt.,  mengenai kenyataan tersebut Dia  berfirman kepda Nabi Besar Muhammad saw.:
اَلَمۡ  تَرَ  کَیۡفَ فَعَلَ  رَبُّکَ بِعَادٍ ۪ۙ﴿﴾   اِرَمَ ذَاتِ الۡعِمَادِ ۪ۙ﴿﴾   الَّتِیۡ  لَمۡ یُخۡلَقۡ مِثۡلُہَا فِی الۡبِلَادِ ۪ۙ﴿﴾  وَ ثَمُوۡدَ  الَّذِیۡنَ جَابُوا الصَّخۡرَ بِالۡوَادِ ۪ۙ﴿﴾  وَ  فِرۡعَوۡنَ ذِی الۡاَوۡتَادِ ﴿۪ۙ﴾  الَّذِیۡنَ طَغَوۡا فِی الۡبِلَادِ ﴿۪ۙ﴾  فَاَکۡثَرُوۡا فِیۡہَا الۡفَسَادَ ﴿۪ۙ﴾  فَصَبَّ عَلَیۡہِمۡ رَبُّکَ سَوۡطَ عَذَابٍ ﴿ۚۙ﴾  اِنَّ رَبَّکَ لَبِالۡمِرۡصَادِ ﴿ؕ﴾
Tidakkah engkau   memperhatikan bagaimana Rabb (Tuhan) engkau telah berbuat terhadap kaum ‘Ād? Juga suku Iram, pemilik gedung-gedung yang megah itu?   Yang seperti itu tidak pernah diciptakan  di negeri-negeri lain,   dan kaum Tsamud yang memahat batu di lembah itu,   Dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak yakni lasykar yang banyak.    Yang berlaku sewenang-wenang dalam negeri-negeri itu  Lalu  banyak melakukan   kerusakan dalam negeri-negeri itu?   Maka Rabb (Tuhan) engkau menimpakan atas mereka cambuk azab,  Sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau benar-benar  mengawasi.  (Al-Fajr [89]:7-15).
  Kaum ‘Ād itu suatu kaum yang sangat berkuasa di zaman mereka. Mereka mengungguli bangsa-bangsa sezaman dengan mereka, dalam sarana-sarana dan sumber-sumber daya kebendaan.   Demikian juga keberhasilan duniawi yang diraih oleh kaum Saba  yang menyembah benda-benda langit  -- terutama   pada zaman pemerintahan Ratu Saba  (QS.27:21-27) --    karena mereka berhasil memanfaatkan SDA (Sumber Daya Alam) dan SDM (Sumber Daya Manusia) yang mereka miliki, firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ لِسَبَاٍ  فِیۡ مَسۡکَنِہِمۡ اٰیَۃٌ ۚ جَنَّتٰنِ عَنۡ یَّمِیۡنٍ وَّ شِمَالٍ ۬ؕ کُلُوۡا مِنۡ رِّزۡقِ رَبِّکُمۡ وَ اشۡکُرُوۡا لَہٗ ؕ بَلۡدَۃٌ طَیِّبَۃٌ   وَّ  رَبٌّ غَفُوۡرٌ ﴿﴾ فَاَعۡرَضُوۡا فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ سَیۡلَ الۡعَرِمِ وَ بَدَّلۡنٰہُمۡ بِجَنَّتَیۡہِمۡ جَنَّتَیۡنِ ذَوَاتَیۡ  اُکُلٍ خَمۡطٍ وَّ اَثۡلٍ وَّ شَیۡءٍ مِّنۡ سِدۡرٍ قَلِیۡلٍ ﴿﴾ ذٰلِکَ جَزَیۡنٰہُمۡ  بِمَا کَفَرُوۡا ؕ وَ ہَلۡ نُجٰزِیۡۤ   اِلَّا الۡکَفُوۡرَ ﴿﴾
Sungguh  bagi kaum Saba'  benar-benar terdapat satu Tanda besar di tanah air mereka, yaitu dua kebun  di sebelah kanan dan di kiri sungai.  Kami berfirman: Makanlah rezeki dari Rabb (Tuhan) kamu dan berterima kasihlah kepada-Nya. بَلۡدَۃٌ طَیِّبَۃٌ   وَّ  رَبٌّ غَفُوۡرٌ  -- Negeri yang indah dan Rabb (Tuhan)  Maha Pengampun.” فَاَعۡرَضُوۡا فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ سَیۡلَ الۡعَرِمِ وَ بَدَّلۡنٰہُمۡ بِجَنَّتَیۡہِمۡ جَنَّتَیۡنِ ذَوَاتَیۡ  اُکُلٍ خَمۡطٍ وَّ اَثۡلٍ وَّ شَیۡءٍ مِّنۡ سِدۡرٍ قَلِیۡلٍ  --  Tetapi mereka itu berpaling maka Kami kirimkan kepada mereka banjir dahsyat yang membinasakan, dan Kami menganti kedua kebun mereka itu dengan dua kebun yang   berbuah buah-buahan pahit, pohon cemara dan sedikit pohon bidara. ذٰلِکَ جَزَیۡنٰہُمۡ  بِمَا کَفَرُوۡا ؕ وَ ہَلۡ نُجٰزِیۡۤ   اِلَّا الۡکَفُوۡرَ  --  Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena mereka tidak bersyukur. Dan tidaklah Kami membalas seperti itu kecuali kepada orang-orang yang sangat tidak bersyukur.  (As-Sabā’ [34]:16-18.
      Saba', sebagaimana tersebut dalam QS.27:23, adalah sebuah kota di negeri Yaman, terletak kira-kira tiga hari perjalanan dari Shan’a yang disebut juga Ma’ārib. Kota ini sering disebut-sebut dalam kitab Taurat dan dalam kepustakaan Yunani, Romawi, dan Arab; lebih-lebih pula dalam prasasti-prasasti yang terdapat di Arabia Selatan.

Keberhasilan Bangsa Saba’ Mengubah Wilayah Gurun Pasir Menjadi Wilayah Subur  &  Penyebab Kehancuran Negeri Saba

       Bangsa Saba' adalah bangsa yang sangat makmur lagi berkebudayaan tinggi, dan kepadanya Allah Swt. telah menganugerahkan berlimpah-limpah kehidupan yang serba senang dan sentausa. Seluruh negeri dijadikan subur sekali tanahnya dengan pembuatan bendungan-bendungan dan bangunan-bangunan irigasi lainnya serta sarat dengan kebun-kebun dan sungai-sungai.
    Dari antara bangunan-bangunan umum yang didirikan guna membantu pertanian, seperti pengempang-pengempang dan bendungan-bendungan yang paling tersohor, ialah Bendungan Ma’ārib (Encyclopaedia of Islam, Jilid IV, hlm. 16). Tirmidzi menyebut sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Farwah bin Malik, bahwa tatkala ditanya, adakah Saba' itu sebuah negeri ataukah seorang perempuan, konon Nabi Besar Muhammad saw. bersabda: “Itu bukan nama sebuah negeri atau pun nama seorang perempuan  melainkan nama seorang laki-laki asal Yaman yang mempunyai 10orang anak laki-laki, 6 di antaranya menetap terus di Yaman, sedang 4 orang selebihnya pergi ke Siria dan bermukim di sana.” (Taj-ul-‘Arus).
     Makna ‘arim dalam ayat: فَاَعۡرَضُوۡا فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ سَیۡلَ الۡعَرِمِ  -- “Tetapi mereka itu berpaling maka Kami kirimkan kepada mereka banjir dahsyat yang membinasakan“  berarti suatu bendungan atau beberapa bendungan yang dibangun  di lembah-lembah atau di alur-alur sungai berarus deras; atau sebuah sungai deras yang daya desak arus airnya tidak tertahankan; atau hujan lebat (Lexicon Lane).
     Ayat tersebut mengisyaratkan kepada  akibat ketidak-bersyukuran kaum Saba terhadap Sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah) Allah Swt. (QS.14:8; QS.4:148), yakni  suatu banjir hebat telah menyebabkan Bendungan Ma’ārib, yang menjadi andalan bangsa Saba’ untuk kemakmuran mereka, roboh dan menggenangi seluruh wilayah sehingga menyebabkan kehancuran yang luas jangkauannya.
    Akibatnya, sebuah negeri  yang sebelumnya penuh dengan taman-taman asri, sungai-sungai dan bangunan-bangunan anggun yang artistik telah berubah menjadi belantara yang membentang luas. Bendungan itu kira-kira dua mil panjangnya dan 120 kaki tingginya.
      Bendungan raksasa Al-Ma’ārib  itu hancur kira-kira pada abad pertama atau kedua sebelum Masehi (Palmer). Itulah makna ayat:   فَاَعۡرَضُوۡا فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ سَیۡلَ الۡعَرِمِ  -- “Tetapi mereka itu berpaling maka Kami kirimkan kepada mereka banjir dahsyat yang membinasakan.“  (As-Sabā’ [34]:17), sesuai dengan ucapan Nabi Musa a.s. dalam firman-Nya:
وَ اِذۡ  تَاَذَّنَ  رَبُّکُمۡ  لَئِنۡ شَکَرۡتُمۡ لَاَزِیۡدَنَّکُمۡ  وَ لَئِنۡ کَفَرۡتُمۡ  اِنَّ عَذَابِیۡ لَشَدِیۡدٌ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Rabb (Tuhan) engkau mengumumkan:  Jika kamu benar-benar bersyukur  niscaya  akan Ku-limpahkan lebih banyak karunia kepada kamu, tetapi jika kamu benar-benar tidak bersyukur  sesungguhnya azab-Ku sungguh sangat  keras.” (Ibrahim [14]:8).

Makna “Bersyukur” dan “Tidak Bersyukur” Kepada Allah Swt.

       Syukr (syukur) itu tiga macam: (1) Dengan hati atau pikiran, yaitu dengan satu pengertian yang tepat dalam hati mengenai manfaat yang diperolehnya; (2) Dengan lidah, yaitu dengan memuji-muji, menyanjung atau memuliakan orang yang berbuat kebaikan; dan (3) Dengan anggota-anggota badan, yaitu dengan membalas kebaikan yang diterima setimpal dengan jasa itu.
    Syukr bersitumpu pada lima dasar: (a) kerendahan hati dari orang yang menyatakan syukur itu kepada dia yang kepadanya syukur itu dinyatakan, (b) kecintaan terhadapnya; (c) pengakuan mengenai jasa yang dia berikan, (d) sanjungan terhadapnya untuk itu; (e) tidak mempergunakan jasa itu dengan cara yang ia (orang yang telah memberikannya) tidak akan menyukainya. Itulah syukr dari pihak manusia.
      Ada pun syukr dari pihak Allah Swt.  ialah dengan mengampuni seseorang atau memujinya atau merasa puas terhadapnya,  berkemauan baik untuknya atau senang kepadanya, dan oleh karena itu merasa perlu memberi imbalan atau mengganjarnya (Lexicon Lane).
      Manusia hanya dapat benar-benar bersyukur kepada  Allah Swt.  jika manusia mempergunakan segala pemberian-Nya dengan tepat sesuai hukum-hukum-Nya, baik hukum jasmani mau pun hukum ruhani, yakni  untuk menjadi orang-orang yang benar-benar bersyukur kepada Allah Swt. adalah manusia harus berusaha menyesuaikan kehendaknya  dengan    Kehendak Allah Swt..
       Pada hakikatnya keberhasilan duniawi yang diraih  oleh   kaum-kaum purbakala mau pun oleh kaum Saba  adalah karena mereka telah “mensyukuri” nikmat Allah Swt. dengan cara memanfaatkan SDM (Sumber Daya Manusia) dan SDA  (Sumber daya Alam) yang mereka  miliki sesuai dengan hukum-hukum alam yang telah ditetapkan Allah Swt. berdasarkan Sifat  Rahmāniyat-Nya  (Maha Pemurah-Nya), maka Allah Swt. pun memenuhi janji-Nya: لَئِنۡ شَکَرۡتُمۡ لَاَزِیۡدَنَّکُمۡ   -- “Jika kamu benar-benar bersyukur  niscaya  akan Ku-limpahkan lebih banyak karunia kepada kamu.
   Tetapi apabila keberhasilan duniawi tersebut membuat seseorang atau suatu bangsa  semakin durhaka kepada Allah Swt. dan kepada rasul-Nya  -- yakni mereka tidak memenuhi kewajiban melakukan hablun- minallāh dan hablun- minan- nās    yakni  memenuhi hak-hak Allah Swt. dan   hak-hak sesama makhluk Allah, maka yang berlaku adalah ketentuan Allah Swt.   bagi orang-orang yang tidak bersyukurوَ لَئِنۡ کَفَرۡتُمۡ  اِنَّ عَذَابِیۡ لَشَدِیۡدٌ -- “tetapi jika kamu benar-benar tidak bersyukur  sesungguhnya azab-Ku sungguh sangat  keras.”  Sunnatullah itulah yang terjadi dengan kaum-kaum purbakala dan juga kaum Saba.

(Bersambung)
ooo
Rujukan: The Holy Quran
Editor    : Malik Ghulam Farid


Pajajaran Anyar,   4 Agustus  2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar