Jumat, 04 Agustus 2017

Berbagai "Mukjizat" Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang "Disalah-tafsirkan" & Pentingnya Memahami "Empat Sifat Tasybihiyyah" Allah Swt. Dalam Surah "Al-Fatihah"



Bismillāhirrahmānirrahīm


KHAZANAH  AL-QURAN 

Bab 19

BERBAGAI MUKJIZAT NABI ISA IBNU MARYAM A.S. YANG DISALAH-TAFSIRKAN &  PENTINGNYA MEMAHAMI EMPAT SIFAT TASYBIHIYYAH ALLAH  SWT. DALAM SURAH AL-FATIHAH

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir bab sebelumnya  telah dikemukakan  topic:    Persamaan Bani Israil dan Bani Isma’il   Mendustakan dan Menentang Al-Masih yang Dijanjikan (Masih Mau’ud a.s.), yakni  berkenaan penggunaan kata  rafa’a (mengangkat) sehubungan peristiwa penyaliban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.4:158-159),  bahwa Allah Swt – sesuai rencana-Nya yang sangat misterius  (QS.3:53-55)  --   telah membiarkan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mengalami pemakuan di tiang salib pada hari Jum’ah menjelang sore selama 3 jam,  karena itu beliau tidak sampai mengalami kematian  di  tiang salib  dan  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. diturunkan dari tiang  salib dalam keadaan “mati suri” (pingsan berat), sesuai firman-Nya:
وَ مَکَرُوۡا وَ مَکَرَ اللّٰہُ ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan mereka,  yakni musuh Al-Masih, merancang makar  buruk  dan Allah pun merancang makar  tandingan  dan Allah sebaik-baik Perancang makar. (Ali ‘Imrān [3]:55).
     Orang-orang Yahudi telah merencanakan makar buruk supaya  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. harus mati terkutuk di atas salib (Ulangan 21:24), tetapi rencana Allah Swt.  adalah beliau harus selamat dari kematian semacam itu. Rencana orang-orang Yahudi gagal dan rencana Ilahi berhasil, sebab beliau tidak mati di atas salib, melainkan diturunkan dalam keadaan hidup  -- yakni hanya mengalami “mati suri” (pingsan berat)  sebagaimana   Nabi Yunus a.s.  yang juga mengalami  “mati suri” (pingsan berat) di dalam perut ikan besar selama 3 hari 3 malam (Matius  12:38-40; QS.37:140-149) --   Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. wafat secara wajar di Kasymir (QS.23:51) dalam usia  sangat lanjut (120 tahun), dan jauh dari tempat beliau mengalami peristiwa penyaliban.
       Jadi, mengisyaratkan kepada keberhasilan Allah Swt.  menghindarkan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. secara misterius dari kematian terkutuk di tiang salib  dalam “duel makar”   makna kata rafa’a (mengangkat), sehingga upaya menghinakan  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang dilakukan para pemuka Yahudi gagal total.           
        Mengisyaratkan kepada keadaan “mati suri” (pingsan berat)  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di tiang salib itu pulalah  makna ayat  walākin syubbiha lahum (tetapi ia disamarkan kepada mereka – QS.4:158), sedangkan makna kata rafa’a (mengangkat) dalam ayat selanjutnya mengisyaratkan kepada kegagalan  para pemuka Yahudi  berupa menghinakan  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. melalui pembunuhan melalui   penyaliban,  firman-Nya: بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا --    Bahkan Allah telah mengangkatnya kepada-Nya dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana  (An-Nisa  [4]:159). Jadi, bukan mengangkat Nabi Isa Ibnu  Maryam a.s. hidup-hidup ke atas langit  atau kepada Allah Swt., sebab Allah Swt.  – na’udzubillāhi min dzālika  -- tidak memiliki tempat tinggal, termasuk  di langit.

Makna Kata Nazala (Turun)

        Demikian pula mengenai makna nazala  (turun) berkenaan kedatangan kedua kali  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. bukan dalam makna harfiah  melainkan kiasan, untuk menggambarkan kemuliaan (kepentingan) dari obyek yang  mengenainya digunakan kata nazala (nuzul), contohnya   pakaian dan besi yang dalam kenyataannya tidak diturunkan Allah Swt. dari langit  melainkan berasal dari bumi,  Allah Swt. berfirman mengenai pakaian:         
یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  قَدۡ  اَنۡزَلۡنَا عَلَیۡکُمۡ  لِبَاسًا یُّوَارِیۡ سَوۡاٰتِکُمۡ وَ رِیۡشًا ؕ وَ لِبَاسُ التَّقۡوٰی ۙ ذٰلِکَ خَیۡرٌ ؕ ذٰلِکَ مِنۡ اٰیٰتِ اللّٰہِ  لَعَلَّہُمۡ  یَذَّکَّرُوۡنَ ﴿﴾
Wahai Bani Adam,  sungguh  Kami telah menurunkan kepada kamu pakaian penutup auratmu dan sebagai  perhiasan, dan pakaian takwa  itulah yang terbaik, yang demikian itu adalah sebagian dari Tanda-tanda Allah, supaya  mereka mendapat nasihat. (Al-A’rāf [7]:27).
  Kemudian mengenai pentingnya  dan manfaat besi  yang sangat banyak Allah Swt. berfirman:
لَقَدۡ  اَرۡسَلۡنَا  رُسُلَنَا بِالۡبَیِّنٰتِ وَ اَنۡزَلۡنَا مَعَہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ الۡمِیۡزَانَ لِیَقُوۡمَ النَّاسُ بِالۡقِسۡطِ ۚ  وَ اَنۡزَلۡنَا الۡحَدِیۡدَ فِیۡہِ بَاۡسٌ شَدِیۡدٌ وَّ مَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَ لِیَعۡلَمَ اللّٰہُ  مَنۡ یَّنۡصُرُہٗ وَ رُسُلَہٗ  بِالۡغَیۡبِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  قَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿٪﴾
Sungguh  Kami benar-benar telah mengirimkan rasul-rasul Kami dengan  Tanda-tanda yang nyata dan Kami menurunkan beserta mereka Kitab  dan neraca  supaya manusia dapat menegakkan keadilan, وَ اَنۡزَلۡنَا الۡحَدِیۡدَ --  dan Kami menurunkan besi,  yang di dalamnya ada bahan-bahan untuk peperangan dahsyat dan berbagai manfaat bagi manusia, dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong-Nya dan rasul-rasul-Nya dalam keadaan gaib. Sesungguhnya Allah Maha Kuat, Maha Perkasa. (Al-Hadīd [57]:26).
       Bahkan, kepada Nabi Daud a.s. Allah Swt. telah mengajarkan membuat peralatan perang – termasuk membuat baju besi (QS.21:81) --   karena itu dalam Al-Quran Allah Swt. secara kiasan telah menyebutkan bahwa Dia telah membuat besi lunak bagi  Nabi Daud a.s. (QS.34:11), sebab dalam kenyataan tidak ada besi yang lunak, kecuali setelah mengalami proses pemanasan (pembakaran)  tertentu.
        Demikian juga  mengenai binatang ternak pun Allah Swt. menggunakan kata “nazala” (nuzul),  padahal  tidak ada binatang ternak yang turun dari langit, melainkan berkembang-biak di permukaan bumi,  firman-Nya:
خَلَقَکُمۡ مِّنۡ نَّفۡسٍ وَّاحِدَۃٍ  ثُمَّ  جَعَلَ مِنۡہَا زَوۡجَہَا وَ اَنۡزَلَ  لَکُمۡ مِّنَ الۡاَنۡعَامِ ثَمٰنِیَۃَ  اَزۡوَاجٍ ؕ یَخۡلُقُکُمۡ  فِیۡ بُطُوۡنِ اُمَّہٰتِکُمۡ  خَلۡقًا مِّنۡۢ بَعۡدِ خَلۡقٍ فِیۡ ظُلُمٰتٍ ثَلٰثٍ ؕ ذٰلِکُمُ اللّٰہُ رَبُّکُمۡ لَہُ الۡمُلۡکُ ؕ لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ۚ فَاَنّٰی تُصۡرَفُوۡنَ ﴿﴾
Dia menciptakan kamu dari satu jiwa kemudian darinya Dia menjadikan pasangannya, وَ اَنۡزَلَ  لَکُمۡ مِّنَ الۡاَنۡعَامِ ثَمٰنِیَۃَ  اَزۡوَاجٍ  -- dan Dia  menurunkan   bagi kamu delapan pasang  binatang ternak. Dia menciptakan kamu dalam perut ibu-ibumu kejadian demi kejadian melalui tiga kegelapan.  Demikianlah Allah, Rabb (Tuhan) kamu, kepunyaan-Nya-lah kerajaan. Tidak ada Tuhan selain Dia, maka kemanakah kamu dipalingkan?  (Az-Zumar [39]:7). 

Kekeliruan Menafsirkan “Mukjizat” Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. 

       Pendangkalan pemahaman Al-Quran lainnya – akibat keliru menafsirkan kata-kata kiasan dalam ayat-ayat  Al-Quran yang  mutasyābihāt (QS.3:6-9) --  mereka mempercayai bahwa    Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  benar-benar berkuasa menciptakan burung dari tanah liat dan  berkuasa menghidupkan orang yang telah mati, firman-Nya:
وَ رَسُوۡلًا اِلٰی بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ ۬ۙ اَنِّیۡ قَدۡ جِئۡتُکُمۡ بِاٰیَۃٍ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ ۙ اَنِّیۡۤ  اَخۡلُقُ لَکُمۡ مِّنَ الطِّیۡنِ کَہَیۡـَٔۃِ الطَّیۡرِ فَاَنۡفُخُ فِیۡہِ فَیَکُوۡنُ طَیۡرًۢا بِاِذۡنِ اللّٰہِ ۚ وَ اُبۡرِیُٔ الۡاَکۡمَہَ وَ الۡاَبۡرَصَ وَ اُحۡیِ الۡمَوۡتٰی بِاِذۡنِ اللّٰہِ ۚ  وَ اُنَبِّئُکُمۡ بِمَا تَاۡکُلُوۡنَ وَ مَا تَدَّخِرُوۡنَ ۙ فِیۡ بُیُوۡتِکُمۡ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً لَّکُمۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿ۚ﴾
”Dan sebagai rasul kepada Bani Israil,  dengan pesan: ‘Sungguh  aku datang kepada kamu dengan membawa Tanda dari Rabb (Tuhan)   kamu, yaitu  aku menciptakan untuk kamu suatu makhluk yang bersifat tanah seperti bentuk  burung,  lalu aku meniupkan ke dalamnya jiwa baru, maka jadilah ia burung dengan izin Allah, dan aku menyembuhkan orang buta,  orang berpenyakit  kusta, وَ اُحۡیِ الۡمَوۡتٰی بِاِذۡنِ اللّٰہِ --  aku menghidupkan orang mati dengan izin Allah,   aku akan memberitahukan kepada kamu tentang apa-apa yang kamu makan  dan apa-apa yang kamu simpan di rumah-rumah kamu, sesungguhnya dalam hal ini benar-benar ada suatu Tanda jika kamu orang-orang yang beriman. (Âli ‘Imrān 93]:50).
      Khalaqa  dalam ayat:  اَنِّیۡۤ  اَخۡلُقُ لَکُمۡ مِّنَ الطِّیۡنِ کَہَیۡـَٔۃِ الطَّیۡرِ فَاَنۡفُخُ فِیۡہِ فَیَکُوۡنُ طَیۡرًۢا بِاِذۡنِ اللّٰہِ -- “yaitu  aku menciptakan untuk kamu suatu makhluk yang bersifat tanah seperti bentuk  burung,  lalu aku meniupkan ke dalamnya jiwa baru, maka jadilah ia burung dengan izin Allah“ berarti: ia mengukur, membuat, membentuk atau merancang.  Allah Swt.  mengadakan atau menjadikan atau mewujudkan sesuatu benda atau makhluk tanpa sesuatu pola atau contoh atau persamaannya yang sudah ada sebelumnya, yaitu Dia paling awal mencipta sesuatu (Lexicon Lane & Lisan-ul-‘Arab). Itulah sebabnya  sebagai Al-Khāliq  (Maha Pencipta) Allah Swt. pun adalah Al-Bādi’ (Tuhan Yang memulai penciptaan – QS.2:118; QS.6:102; QS.29:20; QS.32:8-9).
      Dari kenyataan tersebut jelaslah bahwa penggunaan kata  khalaqa  (mencipta) berkenaan  “burung” yang dilakukan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. adalah dalam makna kiasan, bukan dalam makna harfiah  sebagaimana umumnya  disalahartikan  berkenaan ayat tersebut.
       Thīn berarti: lempung, tanah liat, cetakan, dan sebagainya. Secara kiasan kata ath-thīn berarti orang-orang yang sifatnya penurut, sehingga  cocok untuk dicetak ke dalam bentuk apa pun yang baik seperti tanah liat. Mengisyaratkan kepada  makna kiasan itu pulalah Allah Swt. telah menyatakan secara kiasan  bahwa Adam   telah diciptakan-Nya dari ath-thīn (tanah liat) sedangkan    iblis  secara kiasan diciptakan dari api  (QS.7:12-13).
      Hai’ah berarti: bentuk, model, busana, keadaan, cara, gaya atau mutu (Lexicon Lane). Sedangkan kata  thair berarti burung. Dalam arti kiasan kata thair itu mengandung arti  orang yang tinggi martabat keruhaniannya mereka terbang tinggi di kawasan keruhanian, seperti asad (secara harfiah artinya seekor singa) dipakai sebagai kiasan untuk orang gagah-berani, sedangkan kata   dabbah (rayap bumi) untuk orang yang tak ada harganya, seekor cacing tanah (QS.34:15).
        ‘Ubri’u dalam ayat: وَ اُبۡرِیُٔ الۡاَکۡمَہَ وَ الۡاَبۡرَصَ  -- “dan aku menyembuhkan orang buta dan orang berpenyakit  kusta” diserap dari kata bari’a yang berarti, ia pernah atau ia menjadi jernih atau bebas dari sesuatu. ‘Ubri’u berarti: saya menyembuhkan; saya menyatakan orang itu bebas dari aib yang dialamatkan kepadanya (Lexicon Lane). Sedanhkan  kata   akmah berarti: orang yang buta ayam; orang yang buta sejak lahir; orang yang menjadi buta kemudian hari; orang yang tidak punya akal dan pengertian (Al-Mufradat).

Hakikat Berbagai “Mukjizat” Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.

     Dalam Bible sama sekali tidak ada keterangan tentang mukjizat yang populer dipercayai  oleh umumnya umat Islam  bahwa telah diperlihatkan oleh Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., yaitu beliau berkuasa menjadikan (menciptakan) burung-burung. Karena jika benar  bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s   telah menciptakan burung-burung  maka tiada alasan mengapa Bible sengaja meninggalkan keterangan ini, apalagi bila penciptaan burung itu suatu mukjizat yang seperti itu tak pernah diperlihatkan sebelumnya oleh nabi Allah mana pun.
       Mengapa demikian?   Sebab dengan menyebutkan mukjizat demikian pasti para pengikut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dapat membuktikan keluhuran  dan keunggulan beliau dari semua nabi  Allah lainnya  --  termasuk Nabi Besar Muhammad saw.   --   dan niscaya dapat menguatkan pengakuan Ketuhanan, yang telah dikaitkan oleh para pengikut beliau kepada beliau di kemudian hari.
        Dengan demikian  tafsir yang benar dari firman Allah Swt.  berkenaan berbagai mukjizat Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tersebut (QS.3:50) sehubungan  berbagai arti khalq yaitu: (1) mengukur; menetapkan; merencanakan; (2) membentuk; membuat dan menciptakan, dan sebagainya, maka dalam arti pertama kata itulah yang telah dipergunakan dalam ayat ini. Sebab    dalam arti “menciptakan” tindakan khalq tidak  pernah dikaitkan oleh Al-Quran kepada sesuatu wujud selain Allah Swt.   (QS.13:17; QS.16:21; QS.22:74; QS.25:4; QS.31:11, 12; QS.35:41 dan QS.46:5).
       Menurut keterangan di atas dan mengingat arti kiasan kata thīn (tanah liat)  maka seluruh anak kalimat:  اَنِّیۡۤ  اَخۡلُقُ لَکُمۡ مِّنَ الطِّیۡنِ کَہَیۡـَٔۃِ الطَّیۡرِ  -- “aku akan menciptakan untuk kamu suatu makhluk dari tanah liat   maka jadilah ia burung”, berarti bahwa orang-orang biasa dari kalangan rendah dan hina, tetapi mempunyai kemampuan tersembunyi untuk tumbuh dan berkembang bila berhubungan dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. serta menerima amanat beliau, mereka  akan mengalami perubahan dalam kehidupan mereka.
      Yakni dari manusia yang merangkak-rangkak di atas debu (tanah) dan tidak melihat lebih jauh dari urusan kebendaan dan kepentingan duniawi, mereka akan berubah menjadi  bagaikan ”burung-burung” yang terbang tinggi ke kawasan-kawasan yang tinggi lagi mulia di angkasa keruhanian.
      Kenyataan itulah inilah yang sungguh-sungguh telah terjadi di kalangan para pengikut awal (Hawari) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., dimana penangkap-penangkap ikan yang hina dan rendah dari Galilea, berkat pengaruh ajaran dan contoh   Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  mereka  berangsur-angsur  “melayang tinggi” bagaikan burung menyampaikan kalam (firman) Allah ke dunia orang-orang Bani Israil (Matius 4:18-25).
       Demikian makna kiasan dari “penciptaan burung” yang dilakukan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dalam ayat: 
وَ رَسُوۡلًا اِلٰی بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ ۬ۙ اَنِّیۡ قَدۡ جِئۡتُکُمۡ بِاٰیَۃٍ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ ۙ اَنِّیۡۤ  اَخۡلُقُ لَکُمۡ مِّنَ الطِّیۡنِ کَہَیۡـَٔۃِ الطَّیۡرِ فَاَنۡفُخُ فِیۡہِ فَیَکُوۡنُ طَیۡرًۢا بِاِذۡنِ اللّٰہِ ۚ وَ اُبۡرِیُٔ الۡاَکۡمَہَ وَ الۡاَبۡرَصَ وَ اُحۡیِ الۡمَوۡتٰی بِاِذۡنِ اللّٰہِ ۚ
”Dan sebagai rasul kepada Bani Israil,  dengan pesan: ‘Sungguh  aku datang kepada kamu dengan membawa Tanda dari Rabb (Tuhan)   kamu, yaitu  aku menciptakan untuk kamu suatu makhluk yang bersifat tanah seperti bentuk  burung,  lalu aku meniupkan ke dalamnya jiwa baru, maka jadilah ia burung dengan izin Allah” (Âli ‘Imrān 93]:50).
       Adapun tentang penyembuhan orang buta dan berpenyakit kusta, nampak dari Bible bahwa dahulu penderita-penderita penyakit-penyakit tertentu (kusta dan lain-lain) dianggap kotor oleh orang-orang Bani Israil, dan tidak diizinkan mempunyai hubungan kemasyarakatan dengan orang-orang lain.
     Secara kiasa kata ‘ubri’u  dalam ayat: وَ اُبۡرِیُٔ الۡاَکۡمَہَ وَ الۡاَبۡرَصَ  -- “dan aku menyembuhkan orang buta,  orang berpenyakit  kusta“ yang dapat pula diartikan, “Aku menyatakan bebas” menunjukkan bahwa kelemahan dan kesusahan yang dari segi hukum dan kemasyarakatan  yang  dialami oleh para penderita penyakit serupa itu  telah dihapuskan oleh Nabi Isa Ibnu Maryam a.s..

Menyembuhkan Berbagai “Penyakit Ruhani” Manusia

      Atau maknanya, bahwa  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. suka mengobati para penderita penyakit-penyakit itu.  Sebab  Nabi-nabi Allah adalah dokter-dokter ruhani,  dan wujud-wujud suci tersebut  memberikan mata (penglihatan ruhani) kepada mereka yang kehilangan penglihatan ruhani, dan memberi pendengaran kepada mereka yang telinga ruhaninya pekak, dan beliau-beliau itu: وَ اُحۡیِ الۡمَوۡتٰی بِاِذۡنِ اللّٰہِ  -- “aku menghidupkan orang mati dengan izin Allah“  yakni menghidupkan kembali mereka yang telah mati ruhaninya (Matius 13:15).
       Dalam hal ini kata akmah (orang buta) akan berarti orang yang mempunyai nur keimanan, tetapi karena kekuatan iradahnya (keinginannya)  lemah maka mereka tidak dapat bertahan terhadap cobaan dan ujian. Ia melihat pada waktu siang hari  --  yakni selama tiada cobaan dan matahari iman memancar-mancar tanpa halangan awan  --  tetapi bila malam datang, yakni bila ada cobaan dan ujian keimanan, dan menuntut pengorbanan, ia kehilangan penglihatan ruhaninya lalu berhenti, sebagaimana  digambarkan dalam  QS.2:21).
  Demikian pula  kata abrash (kusta) dalam urusan ruhani berarti orang yang tidak sempurna imannya, mempunyai kulit bercacat, berpenyakit ruhani di antara bagian-bagian yang sehat.  Menurut Allah Swt. dalam QS.3:50 Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. menyembuhkan orang-orang yang berpenyakit seperti itu.
       Anak kalimat وَ اُحۡیِ الۡمَوۡتٰی بِاِذۡنِ اللّٰہِ --  “aku menghidupkan yang telah mati  dengan izin Allah”  tidak mengandung arti bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  sungguh-sungguh telah menghidupkan kembali orang yang sudah mati, sebab  Allah Swt. tidak pernah dihidupkan kembali di dunia ini mereka yang benar-benar sudah mati.

Sangat Merugikan Kesempurnaan Ajaran Islam dan  Nabi Besar Muhammad Saw.

      Kepercayaan  bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. benar-benar dapat menghidupkan orang yang sudah mati   sangat  bertentangan dengan seluruh ajaran Al-Quran (QS.2:29; QS.23:100-101; QS.21:96; QS.39:59-60; QS.40:12; QS.45:27).
  Perubahan yang ajaib pada akhlak dan keruhanian yang dilaksanakan oleh Nabi-nabi Allah    -- terutama Nabi Besar Muhammad saw.   (QS.62:3)   -- dalam kehidupan para pengikutnya, menurut istilah keruhanian disebut “membangkitkan dan menghidupkan orang mati.”
       Demikianlah  makna dari ungkapan kiasan berkenaan berbagai mukjizat  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dalam firman-Nya sebelum  ini yang telah disalah-tafsirkan  oleh orang-orang yang  “berhati  bengkok” dan “berpenyakit” (QS.3:8-9), sehingga sangat merugikan kesucian akhlak dan ruhani Nabi Besar Muhammad saw. dan kesempurnaan ajaran Islam (QS.5:4), firman-Nya:
وَ رَسُوۡلًا اِلٰی بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ ۬ۙ اَنِّیۡ قَدۡ جِئۡتُکُمۡ بِاٰیَۃٍ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ ۙ اَنِّیۡۤ  اَخۡلُقُ لَکُمۡ مِّنَ الطِّیۡنِ کَہَیۡـَٔۃِ الطَّیۡرِ فَاَنۡفُخُ فِیۡہِ فَیَکُوۡنُ طَیۡرًۢا بِاِذۡنِ اللّٰہِ ۚ وَ اُبۡرِیُٔ الۡاَکۡمَہَ وَ الۡاَبۡرَصَ وَ اُحۡیِ الۡمَوۡتٰی بِاِذۡنِ اللّٰہِ ۚ  وَ اُنَبِّئُکُمۡ بِمَا تَاۡکُلُوۡنَ وَ مَا تَدَّخِرُوۡنَ ۙ فِیۡ بُیُوۡتِکُمۡ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً لَّکُمۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿ۚ﴾
”Dan sebagai rasul kepada Bani Israil,  dengan pesan: ‘Sungguh  aku datang kepada kamu dengan membawa Tanda dari Rabb (Tuhan)   kamu, yaitu  aku menciptakan untuk kamu suatu makhluk yang bersifat tanah seperti bentuk  burung,  lalu aku meniupkan ke dalamnya jiwa baru, maka jadilah ia burung dengan izin Allah, dan aku menyembuhkan orang buta,  orang berpenyakit  kusta, وَ اُحۡیِ الۡمَوۡتٰی بِاِذۡنِ اللّٰہِ --  aku menghidupkan orang mati dengan izin Allah,   aku akan memberitahukan kepada kamu tentang apa-apa yang kamu makan  dan apa-apa yang kamu simpan di rumah-rumah kamu, sesungguhnya dalam hal ini benar-benar ada suatu Tanda jika kamu orang-orang yang beriman. (Âli ‘Imrān 93]:50).
         Ada pun makna ayat:  وَ اُنَبِّئُکُمۡ بِمَا تَاۡکُلُوۡنَ وَ مَا تَدَّخِرُوۡنَ  --  “aku akan memberitahukan kepada kamu tentang apa-apa yang kamu makan  dan apa-apa yang kamu simpan di rumah-rumah kamu,”  seluruh anak kalimat berarti bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  menerangkan kepada para pengikutnya apa yang harus mereka makan    -- yakni apa yang harus mereka belanjakan untuk memenuhi keperluan badan  -- dan apa yang harus mereka simpan, yakni apa yang harus disimpan oleh mereka yaitu  apa yang harus ditabung oleh mereka sebagai khazanah ruhani di surga.
        Dengan perkataan lain, Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  mengatakan bahwa penghasilan mereka harus dicari dengan jujur dan sah, dan bahwa mereka harus membelanjakan tabungan mereka di jalan Allah Swt. seraya tidak memikirkan hari esok yang harus diserahkan kepada Tuhan (Matius 6:25, 26).

Pentingnya Memahami “Wujud” dan “Sifat-sifat” Sempurna Tuhan Yang Hakiki

          Pada hakikatnya terjadinya  kekeliruan menafsirkan  mengenai  makna kata rafa’a (mengangkat) dan nazala (turun) berkenaan dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.4:158-159) tidak lepas dari kekeliruan memahami masalah Sifat-sifat sempurna Allah Swt.,  Wujud  Yang Mahagaib yang tidak dapat dipersamakan dengan semua  makhluk-Nya  (Ciptaan-Nya), firman-Nya:
فَاطِرُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ جَعَلَ لَکُمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِکُمۡ  اَزۡوَاجًا وَّ مِنَ الۡاَنۡعَامِ اَزۡوَاجًا ۚ یَذۡرَؤُکُمۡ فِیۡہِ ؕ لَیۡسَ کَمِثۡلِہٖ  شَیۡءٌ ۚ وَ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡبَصِیۡرُ ﴿﴾
Dia  Pencipta seluruh langit dan bumi. جَعَلَ لَکُمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِکُمۡ  اَزۡوَاجًا وَّ مِنَ الۡاَنۡعَامِ اَزۡوَاجًا -- Dia menjadikan pasangan-pasangan  bagi kamu dari jenismu,  dan dari binatang ternak pun pasangan-pasangan, Dia mengembangbiakkan  kamu di dalamnya. لَیۡسَ کَمِثۡلِہٖ  شَیۡءٌ ۚ وَ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡبَصِیۡرُ --  Tidak  ada sesuatu pun semisal-Nya   dan Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. (Asy-Syurā [42]:12)
  Allah Swt.   mengembangbiakkan umat manusia dengan jalan menjalin perhu-bungan di antara suami-istri. Kata-kata,  لَیۡسَ کَمِثۡلِہٖ  شَیۡءٌ ۚ  -- "Tidak ada sesuatu pun yang semisal-Nya" melenyapkan kesalahfahaman yang mungkin timbul disebabkan kalimat "Tuhan telah membuat segala sesuatu berpasangan," yaitu  bahwa Allah  Swt. juga memerlukan istri untuk dijadikan pasangan.
     Kata-kata لَیۡسَ کَمِثۡلِہٖ  شَیۡءٌ ۚ  -- "Tidak   sesuatu pun semisal-Nya"  itu berarti bahwa tidaklah mungkin mengkhayalkan sesuatu sebagai Allah Swt.  karena Tuhan itu jauh di atas pengamatan dan pengertian manusia. Maka sungguh bodohlah mencoba menemukan kesamaan antara Sifat-sifat Ilahi dengan sifat-sifat manusia, meskipun kedua-duanya mungkin mempunyai suatu persamaan yang jauh dan tidak sempurna.
   Sifat Allah Swt. Al-Bādi’ (Yang Memulai Penciptaan) pun  menjelaskan  ayat: لَیۡسَ کَمِثۡلِہٖ  شَیۡءٌ ۚ  -- "Tidak   sesuatu pun semisal-Nya"   tersebut, firman-Nya:
بَدِیۡعُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ اَنّٰی  یَکُوۡنُ  لَہٗ  وَلَدٌ وَّ لَمۡ تَکُنۡ لَّہٗ صَاحِبَۃٌ ؕ وَ خَلَقَ کُلَّ  شَیۡءٍ ۚ وَ ہُوَ بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ ﴿﴾  ذٰلِکُمُ اللّٰہُ رَبُّکُمۡ ۚ  لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ۚ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ  فَاعۡبُدُوۡہُ ۚ  وَ  ہُوَ  عَلٰی کُلِّ  شَیۡءٍ   وَّکِیۡلٌ ﴿﴾  لَا تُدۡرِکُہُ  الۡاَبۡصَارُ ۫ وَ ہُوَ یُدۡرِکُ الۡاَبۡصَارَ ۚ وَ  ہُوَ  اللَّطِیۡفُ الۡخَبِیۡرُ ﴿﴾  قَدۡ جَآءَکُمۡ بَصَآئِرُ مِنۡ رَّبِّکُمۡ ۚ فَمَنۡ اَبۡصَرَ فَلِنَفۡسِہٖ ۚ وَ مَنۡ عَمِیَ  فَعَلَیۡہَا ؕ وَ مَاۤ   اَنَا عَلَیۡکُمۡ  بِحَفِیۡظٍ ﴿﴾ 
Dia-lah Yang memulai penciptaan seluruh langit dan bumi, bagaimana mungkin Dia mempunyai anak  padahal Dia tidak pernah mempunyai isteri, Dia-lah  Yang men-ciptakan segala sesuatu dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.    Wujud Yang demikian itulah Allah, Rabb (Tuhan) kamu. Tidak ada Tuhan kecuali Dia, Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia, dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu.   لَا تُدۡرِکُہُ  الۡاَبۡصَارُ ۫ وَ ہُوَ یُدۡرِکُ الۡاَبۡصَارَ ۚ وَ  ہُوَ  اللَّطِیۡفُ الۡخَبِیۡ --   Penglihatan mata tidak men-capai-Nya tetapi Dia mencapai penglihatan,   dan   Dia Mahahalus, Maha Mengetahui. قَدۡ جَآءَکُمۡ بَصَآئِرُ مِنۡ رَّبِّکُمۡ ۚ فَمَنۡ اَبۡصَرَ فَلِنَفۡسِہٖ ۚ وَ مَنۡ عَمِیَ  فَعَلَیۡہَا ؕ وَ مَاۤ   اَنَا عَلَیۡکُمۡ  بِحَفِیۡظٍ  --    Sungguh telah datang kepada kamu bukti-bukti yang terang dari Rabb (Tuhan) kamu, maka barangsiapa melihat maka faedahnya untuk dirinya, dan barangsiapa  buta maka ia sendiri menanggungnya, وَ مَاۤ   اَنَا عَلَیۡکُمۡ  بِحَفِیۡظٍ --  dan aku se-kali-kali  bukan pemelihara kamu.   (Al-An’ām [6]:102-105).

Membatalkan Semua  Jenis Kemusyrikan (Syirik)

       Sifat Allah Swt. Al-Bādi ‘ (Yang Memulai Penciptaan)  dalam ayat   بَدِیۡعُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- “Dia-lah Yang memulai penciptaan seluruh langit dan bumi” membantah paham sesat bahwa Allah Swt. memerlukan “sekutu” dalam Ke-Tuhan-an-Nya – termasuk istri dan anak   --  Na’udzubillāhi min dzālik:  اَنّٰی  یَکُوۡنُ  لَہٗ  وَلَدٌ وَّ لَمۡ تَکُنۡ لَّہٗ صَاحِبَۃٌ  -- “bagaimana mungkin Dia mempunyai anak  padahal Dia tidak pernah mempunyai isteri“, sebab وَ خَلَقَ کُلَّ  شَیۡءٍ ۚ وَ ہُوَ بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ  -- “Dia-lah  Yang menciptakan segala sesuatu dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.“
   Kata waladun, wuldun dan waldun berarti: bocah, anak laki-laki anak perempuan, atau anak sesuatu apa pun, anak-anak, anak-anak laki-laki, anak-anak perempuan; atau bocah-bocah, juga anak-cucu (Lexicon Lane). Manusia  dapat memperoleh anak hanya apabila mempunyai istri. Allah Swt.  tidak mempunyai istri, maka dari itu Dia tidak mempunyai anak. Lebih-lebih, karena Allah Swt.   adalah Pencipta segala sesuatu dan memiliki pengetahuan yang sempurna, maka Dia tidak memerlukan anak, untuk membantu-Nya atau menjadi penerus-Nya.
 Abshār dalam ayat:  لَا تُدۡرِکُہُ  الۡاَبۡصَارُ ۫ وَ ہُوَ یُدۡرِکُ الۡاَبۡصَارَ ۚ وَ  ہُوَ  اللَّطِیۡفُ الۡخَبِیۡ --   “Penglihatan mata tidak men-capai-Nya tetapi Dia mencapai penglihatan,   dan   Dia Mahahalus, Maha Mengetahui”   adalah jamak dari bashar yang berarti penglihatan atau pengertian, dan lathīf berarti:  yang tidak dapat dijangkau oleh pancaindera; halus (Lexicon Lane & Taj-‘ul-‘Arus).
  Ayat itu berarti, bahwa akal manusia sendiri tanpa pertolongan wahyu Ilahi tidak bisa menghayati pengertian mengenai Allah Swt., sebab   Tuhan yang hakiki – yakni Allah Swt.   -- tidak dapat dilihat dengan mata jasmani, tetapi Dia menampakkan Diri-Nya kepada manusia  melalui nabi-nabi-Nya atau melalui bekerjanya sifat-sifat-Nya. Dia pun nampak kepada mata ruhani.
 Bashair (jamak dari bashirah) dalam ayat selanjutnya:  قَدۡ جَآءَکُمۡ بَصَآئِرُ مِنۡ رَّبِّکُمۡ ۚ فَمَنۡ اَبۡصَرَ فَلِنَفۡسِہٖ ۚ وَ مَنۡ عَمِیَ  فَعَلَیۡہَا ؕ وَ مَاۤ   اَنَا عَلَیۡکُمۡ  بِحَفِیۡظٍ  -- “ Sungguh telah datang kepada kamu bukti-bukti yang terang dari Rabb (Tuhan) kamu, maka barangsiapa melihat maka faedahnya untuk dirinya, dan barangsiapa  buta maka ia sendiri menanggungnya”,  berarti bukti-bukti, dalil-dalil, tanda-tanda, kesaksian-kesaksian (Lexicon Lane).
 Makna kata abshara kalimat “maka barangsiapa melihat maka faedahnya untuk dirinya“  artinya  barangsiapa memanfaatkan akal, sedangkan makna kata ‘amiya  (buta) artinya bahwa “ barangsiapa yang menutup matanya terhadap kebenaran dan betul-betul menjadi buta (ruhani), sebagaimana firman-Nya:
وَ مَنۡ کَانَ فِیۡ ہٰذِہٖۤ  اَعۡمٰی فَہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ   اَعۡمٰی  وَ اَضَلُّ  سَبِیۡلًا ﴿﴾
Dan barangsiapa buta di dunia ini maka di akhirat  pun  ia akan buta juga  dan bahkan  lebih tersesat dari jalan. (Bani Israil [17]:73). Lihat pula QS.20:125-129. 
       Mereka yang tidak mempergunakan mata ruhani mereka dengan cara yang wajar di dunia ini akan tetap  luput dari penglihatan ruhani di dalam akhirat. Al-Quran menyebut mereka yang tidak merenungkan Tanda-tanda Allah Swt. – terutama Rasul Allah  yang kedatangannya dijanjikan (QS.7:35-37)   -- serta tidak memperoleh manfaat darinya  (QS.3:191-195) disebut “buta”. Orang-orang seperti itu di alam akhirat pun akan tetap dalam keadaan buta, sebab  melalui para Rasul Allah itulah Allah Swt. memperkenalkan Wujud-Nya Yang Maha Gaib   serta membukakan rahasia-rahasia gaib-Nya kepada manusia (QS.3:180; QS.72:27-29).

Definisi “Tuhan” yang Hakiki Dalam Surah Al-Ikhlash &  “Allah” Adalah Nama Khusus Tuhan Yang Hakiki, Pemilik Semua Sifat-sifat Sempurna (Al-Asmā-ul-Husna)

     Allah Swt. berfirman mengenai definisi “Tuhan” yang hakiki, yang tidak mungkin dapat disamai oleh   seluruh makhluk-Nya --  yang dipertuhan oleh orang-orang yang jahil  (QS.9:30-32; QS.22:74-75) -- firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ  ۚ﴿﴾  اَللّٰہُ  الصَّمَدُ ۚ﴿﴾   لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾  وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Katakanlah: Dia-lah  Allah   Yang Maha Esa.   Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya.   Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan,   dan tidak ada sesuatu pun yang setara   dengan-Nya ”(Al-Ikhlas,  [112]:1-5).
   Kata qul (katakan) di sini mengandung perintah kekal kepada orang-orang Islam untuk tetap menyatakan bahwa “Tuhan itu Maha Esa.”   Huwa (Dia) yang dipakai sebagai dhamir asy-sya’n (kata pengganti nama yang menunjukkan keadaan, Pent.) dan berarti  “Yang benar adalah ini,” dan menunjukkan bahwa kebenaran telah tertanam di dalam fitrat manusia adanya Tuhan dan Dia itu Esa dan Mandiri (QS.7:173-174; QS.30:31-33).
     Allah Swt. adalah nama khas, dipergunakan dalam Al-Quran untuk Dzat Yang Maha Kuasa. Dalam bahasa Arab kata itu sama sekali tidak dipakai untuk sesuatu benda atau wujud lain. Ini merupakan nama mutlak untuk Tuhan, bukan nama sifat dan bukan pula keterangan.  
     Ahad adalah sebutan yang dikenakan hanya kepada Tuhan dan berarti: Yang Tunggal, Yang Esa; Dia Yang semenjak azali dan selamanya Esa dan Tunggal; Yang tiada wujud lainnya sebagai mitra dalam ketuhanan-Nya dan tidak pula dalam wujud-Nya (Lexicon Lane). Sementara Ahad berarti ke-Esa-an Tuhan dalam Wujud-Nya – gagasan adanya wujud kedua tidak dapat diterima – maka Wahid berarti kemandirian Tuhan dalam sifat-sifat-Nya.
    Dengan demikian ungkapan, Allāhu Wāhidun akan berarti, bahwa Tuhan itu Wujud Tertinggi dan merupakan Cikal-bakal serta Sumber Yang dari-Nya telah lahir segala jenis makhIuk; dan Allāhu Ahadun berarti bahwa Allah itu Dzat Yang Esa dan Tunggal dalam arti, bahwa bila kita memikirkan Dia, hilanglah dari pikiran kita gagasan adanya suatu wujud atau benda lain selain Dia, Dia itu Esa dan Tunggal dalam segala arti.
    Dia bukan mata rantai pertama suatu rangkaian mata rantai, dan bukan pula mata rantai terakhir. Tidak ada sesuatu seperti Dia dan Dia pun tidak seperti benda apapun. Inilah hakikat Allah menurut paham yang dikemukakan oleh Al-Quran.
     Shamad  dalam ayat  اَللّٰہُ  الصَّمَدُ -- Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya” berarti: seorang yang menjadi tumpuan memenuhi segala keperluan; atau yang kepadanya ditujukan ketaatan; yang tanpa dia, tidak ada perkara dapat diselesaikan; orang atau tempat yang tiada seorang atau sesuatu pun ada di atasnya.
    Karena Ash-Shamad  merupakan salah satu sifat Tuhan, berarti:  Wujud tertinggi, Yang menjadi tempat memenuhi segala keperluan; Yang tidak bergantung pada apapun dan Yang kepada-Nya segala sesuatu mempunyai ketergantungan dalam kebutuhan dan keperluannya; Yang akan terus berwujud untuk selama-lamanya meski seluruh makhluk sudah tidak berwujud lagi; Yang tiada wujud lain di atas Dia (Lexicon Lane).
     Dalam ayat yang mendahuluinya telah dinyatakan bahwa Tuhan itu Esa, Tunggal, dan Mandiri. Ayat  اَللّٰہُ  الصَّمَدُ -- Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya”  mendukung pernyataan itu. Ayat ini   mengatakan bahwa semua benda dan wujud mempunyai ketergantungan dari Tuhan, tetapi Dia Sendiri Mandiri dan segala sesuatu bergantung pada-Nya. Semua memerlukan Dia, tetapi Dia tidak memerlukan siapapun.
    Dia tidak memerlukan wujud atau zat apapun guna menciptakan alam raya; pada hakikatnya, tiada sesuatu di alam raya ini sempurna dalam dirinya sendiri (berdiri sendiri); tiap sesuatu bergantung pada sesuatu yang lain untuk kehidupannya. Tuhan-lah satu-satunya Wujud Yang tidak bergantung pada wujud mana pun dan benda apapun; Dia jauh dari jangkauan daya khayal dan terkaan. Sifat-sifat-Nya tidak mengenal batas.

Allah Swt. Tidak Memerlukan Istri, Anak dan Sekutu Dalam Keberadaan-Nya

    Sifat Ilahi Ash-Shamad (Mandiri dan tempat semua makhluk memohon) telah disebut dalam ayat yang mendahuluinya untuk mengukuhkan pernyataan, bahwa Allah itu Ahad (Mahaesa, Tunggal dan tiada tara bandingan-Nya) dan kini, dalam ayat   لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ    sifat “Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan” disebut guna menunjukkan bahwa Dia itu Ash-Shamad (Dia berada di atas segala keperluan), sebab anggapan adanya keperluan pada-Nya itu timbul dari pikiran, Dia memerlukan bantuan dari seorang orang lain, yang tanpa orang itu Dia tidak dapat menjalankan pekerjaan-Nya, dan yang harus melanjutkan pekerjaan-Nya sesudah Dia mati, sebab semua wujud yang menjadi pengganti atau yang digantikan wujud lain, tunduk kepada hukum kematian. Allah Swt. tidak menggantikan siapapun dan tidak akan diganti oleh siapapun. Dia sempurna dalam semua sifat-Nya dan Dia itu azali, abadi, dan mutlak.
     Ayat  وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ -- “dan tidak ada sesuatu pun yang setara   dengan-Nya” ini menghilangkan suatu keraguan yang mungkin timbul dan boleh jadi ditimbulkan karena ayat yang mendahuluinya. Taruhlah bahwa Allah Swt. itu Maha Esa, Tunggal, dan Mulia lagi Mandiri tanpa bergantung pada wujud lain, dan taruhIah bahwa Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, tetapi boleh jadi ada wujud lain seperti Dia yang mungkin memiliki semua sifat yang dimiliki oleh-Nya.
    Ayat ini menghapus kesalah-pahaman itu. Ayat ini mengatakan bahwa tidak ada wujud lain seperti Allah. Akal manusia pun menuntut bahwa harus ada hanya satu Pencipta dan Pengawas seluruh alam raya. Tata kerja sempurna yang melingkupi dan meliputi alam raya pun menuntun kepada kesimpulan yang tidak dapat dielakkan, bahwa satu hukum yang seragam harus tegak dan kesatuan serta keseragaman hukum dan polanya membuktikan serta menyatakan keesaan Sang Pencipta (QS.21:23).
    Dengan demikian Surah ini mencabut akar-akar semua itikad kemusyrikan yang terdapat dalam suatu bentuk atau lain pada agama lain  mengenai  kepercayaan kepada Tuhan  --  dua atau tiga atau lebih banyak  -- dan bahwa ruh dan benda itu azali seperti Tuhan. Inilah penjelasan definisi agung mengenai Dzat Yang Maha Tinggi seperti dijelaskan dalam Al-Quran, dan tidak ada definisi dalam Kitab-kitab Suci lain yang dapat sekelumit saja menyamai keindahan, keluhuran, dan keagungan definisi yang diberikan oleh Al-Quran.


(Bersambung)
ooo
Rujukan: The Holy Quran
Editor    : Malik Ghulam Farid

Pajajaran Anyar,   2 Agustus  2017



Tidak ada komentar:

Posting Komentar