Bismillāhirrahmānirrahīm
KHAZANAH AL-QURAN
Bab
19
BERBAGAI MUKJIZAT
NABI ISA IBNU MARYAM A.S. YANG DISALAH-TAFSIRKAN
& PENTINGNYA MEMAHAMI EMPAT SIFAT TASYBIHIYYAH ALLAH
SWT. DALAM SURAH AL-FATIHAH
Oleh
Ki
Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir bab sebelumnya
telah dikemukakan topic: Persamaan Bani
Israil dan Bani Isma’il Mendustakan
dan Menentang Al-Masih yang Dijanjikan (Masih Mau’ud a.s.), yakni berkenaan penggunaan
kata rafa’a
(mengangkat) sehubungan peristiwa
penyaliban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.4:158-159), bahwa Allah Swt – sesuai rencana-Nya yang sangat misterius (QS.3:53-55)
-- telah membiarkan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mengalami pemakuan di tiang salib pada
hari Jum’ah menjelang sore selama 3
jam, karena itu beliau tidak sampai mengalami kematian di tiang salib dan
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. diturunkan dari tiang salib dalam keadaan “mati suri” (pingsan berat), sesuai
firman-Nya:
وَ مَکَرُوۡا وَ
مَکَرَ اللّٰہُ ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan mereka, yakni musuh Al-Masih, merancang makar buruk dan Allah pun merancang makar tandingan dan Allah
sebaik-baik Perancang makar. (Ali ‘Imrān [3]:55).
Orang-orang Yahudi telah merencanakan makar
buruk supaya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. harus mati
terkutuk di atas salib (Ulangan
21:24), tetapi rencana Allah Swt.
adalah beliau harus selamat dari kematian semacam itu. Rencana orang-orang Yahudi gagal dan rencana Ilahi berhasil, sebab beliau tidak mati di atas salib, melainkan diturunkan dalam keadaan hidup -- yakni hanya mengalami “mati suri” (pingsan berat) sebagaimana Nabi
Yunus a.s. yang juga mengalami “mati
suri” (pingsan berat) di dalam perut
ikan besar selama 3 hari 3 malam (Matius 12:38-40; QS.37:140-149) -- Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. wafat secara
wajar di Kasymir (QS.23:51) dalam
usia sangat lanjut (120 tahun), dan jauh
dari tempat beliau mengalami peristiwa penyaliban.
Jadi, mengisyaratkan kepada keberhasilan Allah Swt. menghindarkan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
secara misterius dari kematian terkutuk di tiang salib dalam “duel
makar” makna
kata rafa’a (mengangkat), sehingga upaya
menghinakan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang dilakukan para pemuka
Yahudi gagal total.
Mengisyaratkan kepada keadaan “mati suri” (pingsan berat) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di tiang salib itu pulalah makna ayat
walākin syubbiha lahum (tetapi
ia disamarkan kepada mereka – QS.4:158), sedangkan makna kata rafa’a (mengangkat) dalam ayat selanjutnya
mengisyaratkan kepada kegagalan para pemuka Yahudi berupa menghinakan
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. melalui pembunuhan melalui penyaliban,
firman-Nya: بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ
اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا -- Bahkan Allah telah mengangkatnya kepada-Nya dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana (An-Nisa [4]:159). Jadi, bukan mengangkat Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. hidup-hidup ke atas langit atau
kepada Allah Swt., sebab Allah Swt. – na’udzubillāhi
min dzālika -- tidak memiliki tempat tinggal, termasuk di langit.
Makna Kata Nazala
(Turun)
Demikian pula mengenai makna nazala (turun) berkenaan kedatangan kedua kali Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. bukan dalam makna harfiah
melainkan kiasan, untuk menggambarkan kemuliaan
(kepentingan) dari obyek yang mengenainya digunakan kata nazala (nuzul), contohnya pakaian
dan besi yang dalam kenyataannya tidak diturunkan Allah Swt. dari langit melainkan berasal dari bumi, Allah Swt. berfirman mengenai
pakaian:
یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ
قَدۡ اَنۡزَلۡنَا عَلَیۡکُمۡ لِبَاسًا یُّوَارِیۡ سَوۡاٰتِکُمۡ وَ رِیۡشًا ؕ
وَ لِبَاسُ التَّقۡوٰی ۙ ذٰلِکَ خَیۡرٌ ؕ ذٰلِکَ مِنۡ اٰیٰتِ اللّٰہِ لَعَلَّہُمۡ
یَذَّکَّرُوۡنَ ﴿﴾
Wahai Bani Adam, sungguh
Kami telah menurunkan kepada kamu
pakaian penutup auratmu dan sebagai
perhiasan, dan pakaian takwa itulah yang terbaik, yang demikian
itu adalah sebagian dari Tanda-tanda Allah,
supaya mereka mendapat nasihat. (Al-A’rāf [7]:27).
Kemudian mengenai pentingnya dan manfaat besi yang sangat banyak Allah Swt. berfirman:
لَقَدۡ اَرۡسَلۡنَا
رُسُلَنَا بِالۡبَیِّنٰتِ وَ اَنۡزَلۡنَا مَعَہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡمِیۡزَانَ لِیَقُوۡمَ النَّاسُ
بِالۡقِسۡطِ ۚ وَ اَنۡزَلۡنَا الۡحَدِیۡدَ
فِیۡہِ بَاۡسٌ شَدِیۡدٌ وَّ مَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَ لِیَعۡلَمَ اللّٰہُ مَنۡ یَّنۡصُرُہٗ وَ رُسُلَہٗ بِالۡغَیۡبِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ قَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿٪﴾
Sungguh Kami
benar-benar telah mengirimkan rasul-rasul Kami dengan Tanda-tanda yang nyata dan Kami menurunkan beserta mereka Kitab dan neraca supaya
manusia dapat menegakkan keadilan, وَ اَنۡزَلۡنَا الۡحَدِیۡدَ -- dan Kami menurunkan besi, yang di
dalamnya ada bahan-bahan untuk peperangan dahsyat dan berbagai manfaat bagi manusia, dan supaya Allah mengetahui siapa yang
menolong-Nya dan rasul-rasul-Nya
dalam keadaan gaib. Sesungguhnya Allah
Maha Kuat, Maha Perkasa. (Al-Hadīd
[57]:26).
Bahkan, kepada Nabi Daud a.s. Allah Swt. telah mengajarkan membuat peralatan perang – termasuk membuat baju besi (QS.21:81) -- karena itu dalam Al-Quran Allah Swt. secara kiasan telah menyebutkan bahwa Dia telah
membuat besi lunak bagi Nabi
Daud a.s. (QS.34:11), sebab dalam kenyataan tidak ada besi yang lunak, kecuali
setelah mengalami proses pemanasan
(pembakaran) tertentu.
Demikian juga
mengenai binatang ternak pun
Allah Swt. menggunakan kata “nazala”
(nuzul), padahal tidak ada binatang
ternak yang turun dari langit,
melainkan berkembang-biak di
permukaan bumi, firman-Nya:
خَلَقَکُمۡ
مِّنۡ نَّفۡسٍ وَّاحِدَۃٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنۡہَا
زَوۡجَہَا وَ اَنۡزَلَ لَکُمۡ مِّنَ
الۡاَنۡعَامِ ثَمٰنِیَۃَ اَزۡوَاجٍ ؕ
یَخۡلُقُکُمۡ فِیۡ بُطُوۡنِ اُمَّہٰتِکُمۡ خَلۡقًا مِّنۡۢ بَعۡدِ خَلۡقٍ فِیۡ ظُلُمٰتٍ
ثَلٰثٍ ؕ ذٰلِکُمُ اللّٰہُ رَبُّکُمۡ لَہُ الۡمُلۡکُ ؕ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ۚ فَاَنّٰی تُصۡرَفُوۡنَ ﴿﴾
Dia menciptakan kamu dari satu jiwa
kemudian darinya Dia menjadikan
pasangannya, وَ
اَنۡزَلَ لَکُمۡ مِّنَ الۡاَنۡعَامِ
ثَمٰنِیَۃَ اَزۡوَاجٍ -- dan Dia
menurunkan bagi kamu
delapan pasang binatang
ternak. Dia menciptakan kamu dalam
perut ibu-ibumu kejadian demi kejadian melalui tiga kegelapan. Demikianlah Allah, Rabb (Tuhan) kamu, kepunyaan-Nya-lah
kerajaan. Tidak ada Tuhan selain Dia,
maka kemanakah kamu dipalingkan? (Az-Zumar [39]:7).
Kekeliruan Menafsirkan “Mukjizat”
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
Pendangkalan
pemahaman Al-Quran lainnya – akibat keliru menafsirkan kata-kata kiasan dalam ayat-ayat Al-Quran yang
mutasyābihāt (QS.3:6-9)
-- mereka mempercayai bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. benar-benar berkuasa menciptakan burung dari tanah liat dan berkuasa menghidupkan orang yang telah mati, firman-Nya:
وَ رَسُوۡلًا
اِلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ ۬ۙ اَنِّیۡ
قَدۡ جِئۡتُکُمۡ بِاٰیَۃٍ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ ۙ اَنِّیۡۤ اَخۡلُقُ لَکُمۡ مِّنَ الطِّیۡنِ کَہَیۡـَٔۃِ
الطَّیۡرِ فَاَنۡفُخُ فِیۡہِ فَیَکُوۡنُ طَیۡرًۢا بِاِذۡنِ اللّٰہِ ۚ وَ اُبۡرِیُٔ
الۡاَکۡمَہَ وَ الۡاَبۡرَصَ وَ اُحۡیِ الۡمَوۡتٰی بِاِذۡنِ اللّٰہِ ۚ وَ اُنَبِّئُکُمۡ بِمَا تَاۡکُلُوۡنَ وَ مَا
تَدَّخِرُوۡنَ ۙ فِیۡ بُیُوۡتِکُمۡ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً لَّکُمۡ اِنۡ
کُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿ۚ﴾
”Dan sebagai
rasul kepada Bani Israil, dengan
pesan: ‘Sungguh aku datang kepada kamu dengan membawa
Tanda dari Rabb (Tuhan) kamu, yaitu aku
menciptakan untuk kamu suatu makhluk yang bersifat tanah seperti bentuk burung,
lalu aku meniupkan ke dalamnya jiwa baru, maka jadilah ia burung dengan izin Allah,
dan aku menyembuhkan orang
buta, orang berpenyakit
kusta, وَ اُحۡیِ
الۡمَوۡتٰی بِاِذۡنِ اللّٰہِ -- aku menghidupkan
orang mati dengan izin Allah,
aku akan memberitahukan kepada kamu tentang apa-apa yang kamu makan dan apa-apa
yang kamu simpan di rumah-rumah kamu, sesungguhnya dalam hal ini benar-benar ada suatu Tanda jika kamu orang-orang yang beriman. (Âli ‘Imrān
93]:50).
Khalaqa
dalam ayat: اَنِّیۡۤ اَخۡلُقُ لَکُمۡ
مِّنَ الطِّیۡنِ کَہَیۡـَٔۃِ الطَّیۡرِ فَاَنۡفُخُ فِیۡہِ فَیَکُوۡنُ طَیۡرًۢا
بِاِذۡنِ اللّٰہِ -- “yaitu aku
menciptakan untuk kamu suatu makhluk yang bersifat tanah seperti bentuk burung,
lalu aku meniupkan ke dalamnya jiwa baru, maka jadilah ia burung dengan izin Allah“ berarti:
ia mengukur, membuat, membentuk atau merancang. Allah Swt.
mengadakan atau menjadikan atau mewujudkan sesuatu benda
atau makhluk tanpa sesuatu pola atau contoh atau persamaannya
yang sudah ada sebelumnya, yaitu Dia paling
awal mencipta sesuatu (Lexicon Lane
& Lisan-ul-‘Arab). Itulah
sebabnya sebagai Al-Khāliq (Maha Pencipta)
Allah Swt. pun adalah Al-Bādi’ (Tuhan
Yang memulai penciptaan – QS.2:118;
QS.6:102; QS.29:20; QS.32:8-9).
Dari kenyataan tersebut jelaslah bahwa penggunaan kata khalaqa (mencipta) berkenaan “burung”
yang dilakukan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
adalah dalam makna kiasan, bukan
dalam makna harfiah sebagaimana umumnya disalahartikan
berkenaan ayat tersebut.
Thīn
berarti: lempung, tanah liat, cetakan, dan sebagainya. Secara kiasan kata ath-thīn berarti orang-orang yang sifatnya penurut, sehingga cocok untuk dicetak ke dalam bentuk
apa pun yang baik seperti tanah liat.
Mengisyaratkan kepada makna kiasan itu pulalah Allah Swt. telah
menyatakan secara kiasan bahwa Adam telah diciptakan-Nya
dari ath-thīn (tanah liat) sedangkan iblis
secara kiasan diciptakan dari api
(QS.7:12-13).
Hai’ah
berarti: bentuk, model, busana, keadaan, cara, gaya atau mutu (Lexicon Lane). Sedangkan
kata thair berarti burung. Dalam arti kiasan kata thair itu mengandung arti orang yang tinggi
martabat keruhaniannya mereka terbang
tinggi di kawasan keruhanian,
seperti asad (secara harfiah artinya seekor
singa) dipakai sebagai kiasan untuk
orang gagah-berani, sedangkan
kata dabbah (rayap bumi) untuk orang yang tak ada harganya, seekor cacing tanah (QS.34:15).
‘Ubri’u dalam ayat: وَ اُبۡرِیُٔ الۡاَکۡمَہَ وَ الۡاَبۡرَصَ -- “dan aku menyembuhkan orang buta
dan orang berpenyakit kusta” diserap dari kata bari’a
yang berarti, ia pernah atau ia menjadi jernih atau bebas dari sesuatu. ‘Ubri’u
berarti: saya menyembuhkan; saya menyatakan orang itu bebas dari aib yang
dialamatkan kepadanya (Lexicon Lane).
Sedanhkan kata akmah
berarti: orang yang buta ayam; orang yang buta sejak lahir; orang yang menjadi
buta kemudian hari; orang yang tidak punya akal dan pengertian (Al-Mufradat).
Hakikat Berbagai “Mukjizat”
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
Dalam Bible
sama sekali tidak ada keterangan tentang mukjizat
yang populer dipercayai oleh umumnya umat Islam bahwa telah diperlihatkan oleh Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s., yaitu beliau berkuasa menjadikan (menciptakan) burung-burung. Karena jika benar bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s telah
menciptakan burung-burung maka tiada
alasan mengapa Bible sengaja meninggalkan keterangan
ini, apalagi bila penciptaan burung
itu suatu mukjizat yang seperti itu tak pernah diperlihatkan sebelumnya oleh nabi Allah mana pun.
Mengapa demikian? Sebab dengan menyebutkan mukjizat demikian pasti para pengikut
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dapat membuktikan keluhuran
dan keunggulan beliau dari semua nabi Allah lainnya --
termasuk Nabi Besar Muhammad saw.
-- dan niscaya dapat menguatkan pengakuan Ketuhanan, yang telah
dikaitkan oleh para pengikut beliau
kepada beliau di kemudian hari.
Dengan demikian tafsir
yang benar dari firman Allah Swt.
berkenaan berbagai mukjizat
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tersebut (QS.3:50) sehubungan berbagai arti khalq yaitu: (1)
mengukur; menetapkan; merencanakan; (2) membentuk; membuat dan menciptakan, dan
sebagainya, maka dalam arti pertama
kata itulah yang telah dipergunakan dalam ayat ini. Sebab dalam arti “menciptakan” tindakan khalq tidak pernah dikaitkan
oleh Al-Quran kepada sesuatu wujud selain Allah Swt. (QS.13:17;
QS.16:21; QS.22:74; QS.25:4; QS.31:11, 12; QS.35:41 dan QS.46:5).
Menurut keterangan di atas dan
mengingat arti kiasan kata thīn (tanah liat) maka seluruh anak kalimat: اَنِّیۡۤ اَخۡلُقُ لَکُمۡ
مِّنَ الطِّیۡنِ کَہَیۡـَٔۃِ الطَّیۡرِ -- “aku akan menciptakan untuk kamu suatu
makhluk dari tanah liat maka jadilah ia burung”, berarti bahwa orang-orang biasa dari kalangan rendah dan hina, tetapi mempunyai kemampuan
tersembunyi untuk tumbuh dan berkembang bila berhubungan dengan Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. serta menerima
amanat beliau, mereka akan mengalami
perubahan dalam kehidupan mereka.
Yakni dari manusia yang merangkak-rangkak
di atas debu (tanah) dan tidak
melihat lebih jauh dari urusan kebendaan
dan kepentingan duniawi, mereka akan
berubah menjadi bagaikan ”burung-burung” yang terbang
tinggi ke kawasan-kawasan yang tinggi
lagi mulia di angkasa keruhanian.
Kenyataan itulah inilah yang sungguh-sungguh telah terjadi di kalangan
para pengikut awal (Hawari) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., dimana penangkap-penangkap ikan yang hina dan rendah dari Galilea,
berkat pengaruh ajaran dan contoh Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. mereka berangsur-angsur “melayang
tinggi” bagaikan burung
menyampaikan kalam (firman) Allah ke dunia orang-orang Bani Israil (Matius 4:18-25).
Demikian makna kiasan dari “penciptaan burung” yang dilakukan Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. dalam ayat:
وَ رَسُوۡلًا
اِلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ ۬ۙ اَنِّیۡ
قَدۡ جِئۡتُکُمۡ بِاٰیَۃٍ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ ۙ اَنِّیۡۤ اَخۡلُقُ لَکُمۡ مِّنَ الطِّیۡنِ کَہَیۡـَٔۃِ
الطَّیۡرِ فَاَنۡفُخُ فِیۡہِ فَیَکُوۡنُ طَیۡرًۢا بِاِذۡنِ اللّٰہِ ۚ وَ اُبۡرِیُٔ
الۡاَکۡمَہَ وَ الۡاَبۡرَصَ وَ اُحۡیِ الۡمَوۡتٰی بِاِذۡنِ اللّٰہِ ۚ
”Dan sebagai
rasul kepada Bani Israil, dengan
pesan: ‘Sungguh aku datang kepada kamu dengan membawa
Tanda dari Rabb (Tuhan) kamu, yaitu aku
menciptakan untuk kamu suatu makhluk yang bersifat tanah seperti bentuk burung,
lalu aku meniupkan ke dalamnya jiwa baru, maka jadilah ia burung dengan izin Allah” (Âli
‘Imrān 93]:50).
Adapun tentang penyembuhan orang
buta dan berpenyakit kusta,
nampak dari Bible bahwa dahulu
penderita-penderita penyakit-penyakit
tertentu (kusta dan lain-lain) dianggap kotor
oleh orang-orang Bani Israil, dan tidak diizinkan mempunyai hubungan kemasyarakatan dengan
orang-orang lain.
Secara kiasa kata ‘ubri’u dalam ayat: وَ اُبۡرِیُٔ الۡاَکۡمَہَ وَ الۡاَبۡرَصَ -- “dan aku menyembuhkan orang buta, orang berpenyakit kusta“ yang dapat pula diartikan, “Aku menyatakan bebas” menunjukkan bahwa kelemahan dan kesusahan
yang dari segi hukum dan kemasyarakatan yang dialami oleh para penderita penyakit serupa itu telah dihapuskan
oleh Nabi Isa Ibnu Maryam a.s..
Menyembuhkan Berbagai “Penyakit
Ruhani” Manusia
Atau maknanya, bahwa Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. suka mengobati
para penderita penyakit-penyakit itu.
Sebab
Nabi-nabi Allah adalah dokter-dokter ruhani, dan wujud-wujud suci tersebut memberikan mata
(penglihatan ruhani) kepada mereka yang kehilangan penglihatan ruhani, dan memberi pendengaran
kepada mereka yang telinga ruhaninya
pekak, dan beliau-beliau itu: وَ اُحۡیِ الۡمَوۡتٰی بِاِذۡنِ اللّٰہِ -- “aku menghidupkan
orang mati dengan izin Allah“ yakni menghidupkan
kembali mereka yang telah mati ruhaninya
(Matius 13:15).
Dalam hal ini kata akmah (orang buta) akan
berarti orang yang mempunyai nur keimanan,
tetapi karena kekuatan iradahnya
(keinginannya) lemah maka mereka tidak dapat
bertahan terhadap cobaan dan ujian. Ia melihat pada waktu siang hari -- yakni selama tiada cobaan dan matahari
iman memancar-mancar tanpa halangan
awan -- tetapi bila malam datang, yakni bila ada cobaan
dan ujian keimanan, dan menuntut pengorbanan, ia kehilangan penglihatan ruhaninya lalu berhenti,
sebagaimana digambarkan dalam QS.2:21).
Demikian pula kata abrash
(kusta) dalam urusan ruhani berarti orang yang tidak sempurna imannya,
mempunyai kulit bercacat, berpenyakit ruhani di antara
bagian-bagian yang sehat. Menurut Allah Swt. dalam QS.3:50 Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. menyembuhkan
orang-orang yang berpenyakit seperti
itu.
Anak kalimat وَ اُحۡیِ الۡمَوۡتٰی بِاِذۡنِ اللّٰہِ -- “aku menghidupkan
yang telah mati dengan izin Allah” tidak
mengandung arti bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sungguh-sungguh telah menghidupkan kembali orang yang sudah mati, sebab Allah Swt. tidak pernah dihidupkan kembali di
dunia ini mereka yang benar-benar
sudah mati.
Sangat Merugikan Kesempurnaan Ajaran
Islam dan Nabi Besar Muhammad Saw.
Kepercayaan bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. benar-benar
dapat menghidupkan orang yang sudah mati sangat
bertentangan dengan seluruh ajaran
Al-Quran (QS.2:29; QS.23:100-101; QS.21:96; QS.39:59-60; QS.40:12;
QS.45:27).
Perubahan yang ajaib pada akhlak
dan keruhanian yang dilaksanakan oleh
Nabi-nabi Allah -- terutama Nabi Besar Muhammad saw. (QS.62:3)
-- dalam kehidupan para pengikutnya,
menurut istilah keruhanian disebut “membangkitkan
dan menghidupkan orang mati.”
Demikianlah makna
dari ungkapan kiasan berkenaan
berbagai mukjizat Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dalam firman-Nya
sebelum ini yang telah disalah-tafsirkan oleh orang-orang yang “berhati bengkok”
dan “berpenyakit” (QS.3:8-9),
sehingga sangat merugikan kesucian akhlak
dan ruhani Nabi Besar Muhammad saw.
dan kesempurnaan ajaran Islam
(QS.5:4), firman-Nya:
وَ رَسُوۡلًا
اِلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ ۬ۙ اَنِّیۡ
قَدۡ جِئۡتُکُمۡ بِاٰیَۃٍ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ ۙ اَنِّیۡۤ اَخۡلُقُ لَکُمۡ مِّنَ الطِّیۡنِ کَہَیۡـَٔۃِ
الطَّیۡرِ فَاَنۡفُخُ فِیۡہِ فَیَکُوۡنُ طَیۡرًۢا بِاِذۡنِ اللّٰہِ ۚ وَ اُبۡرِیُٔ
الۡاَکۡمَہَ وَ الۡاَبۡرَصَ وَ اُحۡیِ الۡمَوۡتٰی بِاِذۡنِ اللّٰہِ ۚ وَ اُنَبِّئُکُمۡ بِمَا تَاۡکُلُوۡنَ وَ مَا
تَدَّخِرُوۡنَ ۙ فِیۡ بُیُوۡتِکُمۡ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً لَّکُمۡ اِنۡ
کُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿ۚ﴾
”Dan sebagai
rasul kepada Bani Israil, dengan
pesan: ‘Sungguh aku datang kepada kamu dengan membawa
Tanda dari Rabb (Tuhan) kamu, yaitu aku
menciptakan untuk kamu suatu makhluk yang bersifat tanah seperti bentuk burung,
lalu aku meniupkan ke dalamnya jiwa baru, maka jadilah ia burung dengan izin Allah,
dan aku menyembuhkan orang
buta, orang berpenyakit
kusta, وَ اُحۡیِ
الۡمَوۡتٰی بِاِذۡنِ اللّٰہِ -- aku menghidupkan
orang mati dengan izin Allah,
aku akan memberitahukan kepada kamu tentang apa-apa yang kamu makan dan apa-apa
yang kamu simpan di rumah-rumah kamu, sesungguhnya dalam hal ini benar-benar ada suatu Tanda jika kamu orang-orang yang beriman. (Âli
‘Imrān 93]:50).
Ada pun makna ayat: وَ اُنَبِّئُکُمۡ بِمَا تَاۡکُلُوۡنَ وَ مَا تَدَّخِرُوۡنَ -- “aku akan memberitahukan kepada kamu tentang apa-apa yang kamu makan dan apa-apa
yang kamu simpan di rumah-rumah kamu,”
seluruh anak kalimat berarti
bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. menerangkan kepada para pengikutnya apa yang harus mereka makan -- yakni
apa yang harus mereka belanjakan
untuk memenuhi keperluan badan -- dan apa yang harus mereka simpan, yakni apa yang harus disimpan oleh mereka yaitu
apa yang harus ditabung oleh
mereka sebagai khazanah ruhani di
surga.
Dengan perkataan lain, Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. mengatakan bahwa penghasilan mereka harus dicari dengan jujur dan sah, dan bahwa
mereka harus membelanjakan tabungan
mereka di jalan Allah Swt. seraya tidak memikirkan hari esok yang harus
diserahkan kepada Tuhan (Matius
6:25, 26).
Pentingnya Memahami “Wujud” dan “Sifat-sifat” Sempurna Tuhan
Yang Hakiki
Pada hakikatnya terjadinya kekeliruan
menafsirkan mengenai makna kata rafa’a (mengangkat) dan nazala
(turun) berkenaan dengan Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. (QS.4:158-159) tidak lepas dari kekeliruan memahami
masalah Sifat-sifat sempurna Allah
Swt., Wujud Yang Mahagaib yang
tidak dapat dipersamakan dengan
semua makhluk-Nya (Ciptaan-Nya),
firman-Nya:
فَاطِرُ
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ جَعَلَ لَکُمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِکُمۡ اَزۡوَاجًا وَّ مِنَ الۡاَنۡعَامِ اَزۡوَاجًا ۚ
یَذۡرَؤُکُمۡ فِیۡہِ ؕ لَیۡسَ کَمِثۡلِہٖ
شَیۡءٌ ۚ وَ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡبَصِیۡرُ ﴿﴾
Dia Pencipta seluruh langit dan bumi. جَعَلَ لَکُمۡ
مِّنۡ اَنۡفُسِکُمۡ اَزۡوَاجًا وَّ مِنَ
الۡاَنۡعَامِ اَزۡوَاجًا -- Dia menjadikan pasangan-pasangan
bagi kamu dari jenismu, dan dari binatang ternak pun pasangan-pasangan,
Dia mengembangbiakkan kamu di dalamnya. لَیۡسَ کَمِثۡلِہٖ شَیۡءٌ ۚ وَ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡبَصِیۡرُ -- Tidak ada sesuatu pun
semisal-Nya dan Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. (Asy-Syurā [42]:12)
Allah
Swt. mengembangbiakkan umat manusia dengan jalan menjalin perhu-bungan di antara suami-istri. Kata-kata, لَیۡسَ کَمِثۡلِہٖ شَیۡءٌ ۚ --
"Tidak ada sesuatu pun yang semisal-Nya" melenyapkan kesalahfahaman yang mungkin timbul disebabkan kalimat "Tuhan telah membuat segala sesuatu
berpasangan," yaitu bahwa Allah
Swt. juga memerlukan istri untuk dijadikan pasangan.
Kata-kata لَیۡسَ کَمِثۡلِہٖ شَیۡءٌ ۚ -- "Tidak sesuatu
pun semisal-Nya" itu berarti bahwa
tidaklah mungkin mengkhayalkan sesuatu
sebagai Allah Swt. karena Tuhan
itu jauh di atas pengamatan dan pengertian manusia. Maka sungguh bodohlah mencoba menemukan kesamaan antara Sifat-sifat Ilahi dengan sifat-sifat
manusia, meskipun kedua-duanya mungkin mempunyai suatu persamaan yang jauh dan tidak sempurna.
Sifat Allah Swt. Al-Bādi’ (Yang Memulai Penciptaan) pun menjelaskan
ayat: لَیۡسَ
کَمِثۡلِہٖ شَیۡءٌ ۚ -- "Tidak sesuatu pun semisal-Nya" tersebut, firman-Nya:
بَدِیۡعُ
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ اَنّٰی
یَکُوۡنُ لَہٗ وَلَدٌ وَّ لَمۡ تَکُنۡ لَّہٗ صَاحِبَۃٌ ؕ وَ
خَلَقَ کُلَّ شَیۡءٍ ۚ وَ ہُوَ بِکُلِّ
شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ ﴿﴾ ذٰلِکُمُ
اللّٰہُ رَبُّکُمۡ ۚ لَاۤ اِلٰہَ
اِلَّا ہُوَ ۚ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ
فَاعۡبُدُوۡہُ ۚ وَ ہُوَ
عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ وَّکِیۡلٌ ﴿﴾ لَا تُدۡرِکُہُ الۡاَبۡصَارُ
۫ وَ ہُوَ یُدۡرِکُ الۡاَبۡصَارَ ۚ وَ
ہُوَ اللَّطِیۡفُ الۡخَبِیۡرُ ﴿﴾ قَدۡ جَآءَکُمۡ بَصَآئِرُ مِنۡ رَّبِّکُمۡ ۚ
فَمَنۡ اَبۡصَرَ فَلِنَفۡسِہٖ ۚ وَ مَنۡ عَمِیَ
فَعَلَیۡہَا ؕ وَ مَاۤ اَنَا
عَلَیۡکُمۡ بِحَفِیۡظٍ ﴿﴾
Dia-lah Yang memulai penciptaan seluruh langit dan bumi, bagaimana mungkin Dia
mempunyai anak padahal Dia tidak pernah mempunyai isteri,
Dia-lah Yang men-ciptakan segala sesuatu dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Wujud Yang demikian itulah Allah, Rabb (Tuhan) kamu. Tidak ada
Tuhan kecuali Dia, Pencipta segala
sesuatu, maka sembahlah Dia, dan
Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu. لَا تُدۡرِکُہُ الۡاَبۡصَارُ
۫ وَ ہُوَ یُدۡرِکُ الۡاَبۡصَارَ ۚ وَ
ہُوَ اللَّطِیۡفُ الۡخَبِیۡ -- Penglihatan
mata tidak men-capai-Nya tetapi Dia
mencapai penglihatan, dan Dia
Mahahalus, Maha Mengetahui. قَدۡ جَآءَکُمۡ بَصَآئِرُ مِنۡ رَّبِّکُمۡ ۚ
فَمَنۡ اَبۡصَرَ فَلِنَفۡسِہٖ ۚ وَ مَنۡ عَمِیَ
فَعَلَیۡہَا ؕ وَ مَاۤ اَنَا
عَلَیۡکُمۡ بِحَفِیۡظٍ -- Sungguh telah datang kepada kamu bukti-bukti yang terang dari Rabb (Tuhan)
kamu, maka barangsiapa melihat
maka faedahnya untuk dirinya,
dan barangsiapa buta maka ia sendiri menanggungnya, وَ مَاۤ اَنَا
عَلَیۡکُمۡ بِحَفِیۡظٍ -- dan aku se-kali-kali bukan pemelihara kamu. (Al-An’ām [6]:102-105).
Membatalkan Semua Jenis Kemusyrikan (Syirik)
Sifat Allah Swt. Al-Bādi ‘ (Yang
Memulai Penciptaan) dalam ayat بَدِیۡعُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- “Dia-lah Yang memulai penciptaan seluruh
langit dan bumi” membantah paham sesat bahwa Allah Swt. memerlukan “sekutu” dalam Ke-Tuhan-an-Nya
– termasuk istri dan anak
-- Na’udzubillāhi min dzālik:
اَنّٰی یَکُوۡنُ لَہٗ
وَلَدٌ وَّ لَمۡ تَکُنۡ لَّہٗ صَاحِبَۃٌ -- “bagaimana mungkin Dia mempunyai anak padahal Dia
tidak pernah mempunyai isteri“,
sebab وَ خَلَقَ
کُلَّ شَیۡءٍ ۚ وَ ہُوَ بِکُلِّ شَیۡءٍ
عَلِیۡمٌ -- “Dia-lah Yang menciptakan segala sesuatu dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.“
Kata waladun, wuldun dan waldun
berarti: bocah, anak laki-laki anak perempuan, atau anak sesuatu apa pun,
anak-anak, anak-anak laki-laki, anak-anak perempuan; atau bocah-bocah, juga
anak-cucu (Lexicon Lane). Manusia
dapat memperoleh anak hanya apabila mempunyai istri.
Allah Swt. tidak mempunyai istri, maka dari itu Dia tidak mempunyai
anak. Lebih-lebih, karena Allah Swt.
adalah Pencipta segala sesuatu dan memiliki pengetahuan yang sempurna,
maka Dia tidak memerlukan anak, untuk
membantu-Nya atau menjadi penerus-Nya.
Abshār dalam ayat: لَا تُدۡرِکُہُ الۡاَبۡصَارُ
۫ وَ ہُوَ یُدۡرِکُ الۡاَبۡصَارَ ۚ وَ
ہُوَ اللَّطِیۡفُ الۡخَبِیۡ -- “Penglihatan
mata tidak men-capai-Nya tetapi Dia
mencapai penglihatan, dan Dia
Mahahalus, Maha Mengetahui” adalah jamak dari bashar yang berarti penglihatan atau pengertian, dan lathīf berarti: yang tidak
dapat dijangkau oleh pancaindera; halus
(Lexicon Lane & Taj-‘ul-‘Arus).
Ayat itu berarti, bahwa akal manusia sendiri tanpa pertolongan wahyu Ilahi tidak bisa menghayati pengertian mengenai Allah Swt., sebab Tuhan yang hakiki – yakni Allah Swt. -- tidak dapat dilihat dengan mata jasmani,
tetapi Dia menampakkan Diri-Nya kepada
manusia melalui nabi-nabi-Nya
atau melalui bekerjanya sifat-sifat-Nya.
Dia pun nampak kepada mata ruhani.
Bashair (jamak dari bashirah) dalam
ayat selanjutnya: قَدۡ جَآءَکُمۡ بَصَآئِرُ مِنۡ رَّبِّکُمۡ ۚ
فَمَنۡ اَبۡصَرَ فَلِنَفۡسِہٖ ۚ وَ مَنۡ عَمِیَ
فَعَلَیۡہَا ؕ وَ مَاۤ اَنَا
عَلَیۡکُمۡ بِحَفِیۡظٍ -- “ Sungguh
telah datang kepada kamu bukti-bukti
yang terang dari Rabb (Tuhan) kamu, maka barangsiapa melihat maka faedahnya untuk dirinya, dan barangsiapa buta maka ia sendiri menanggungnya”, berarti
bukti-bukti, dalil-dalil, tanda-tanda, kesaksian-kesaksian (Lexicon Lane).
Makna kata abshara
kalimat “maka barangsiapa melihat
maka faedahnya untuk dirinya“
artinya
barangsiapa memanfaatkan akal,
sedangkan makna kata ‘amiya (buta) artinya bahwa “ barangsiapa yang menutup matanya terhadap kebenaran dan betul-betul menjadi buta (ruhani), sebagaimana firman-Nya:
وَ مَنۡ کَانَ
فِیۡ ہٰذِہٖۤ اَعۡمٰی فَہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ اَعۡمٰی
وَ اَضَلُّ سَبِیۡلًا ﴿﴾
Dan barangsiapa buta di dunia ini
maka di akhirat pun ia akan buta
juga dan bahkan lebih
tersesat dari jalan. (Bani Israil [17]:73). Lihat pula
QS.20:125-129.
Mereka
yang tidak mempergunakan mata ruhani
mereka dengan cara yang wajar di dunia
ini akan tetap luput dari penglihatan ruhani
di dalam akhirat. Al-Quran menyebut
mereka yang tidak merenungkan Tanda-tanda
Allah Swt. – terutama Rasul Allah
yang kedatangannya dijanjikan (QS.7:35-37) -- serta tidak memperoleh manfaat darinya (QS.3:191-195)
disebut “buta”. Orang-orang seperti
itu di alam akhirat pun akan tetap
dalam keadaan buta, sebab melalui para Rasul Allah itulah Allah Swt.
memperkenalkan Wujud-Nya Yang Maha Gaib serta membukakan rahasia-rahasia gaib-Nya kepada manusia (QS.3:180; QS.72:27-29).
Definisi “Tuhan” yang Hakiki Dalam Surah Al-Ikhlash
& “Allah” Adalah Nama Khusus Tuhan
Yang Hakiki, Pemilik Semua Sifat-sifat
Sempurna (Al-Asmā-ul-Husna)
Allah Swt. berfirman mengenai definisi “Tuhan” yang hakiki, yang tidak mungkin
dapat disamai oleh seluruh makhluk-Nya
-- yang dipertuhan oleh orang-orang yang jahil (QS.9:30-32;
QS.22:74-75) -- firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ
الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ قُلۡ ہُوَ اللّٰہُ
اَحَدٌ ۚ﴿﴾ اَللّٰہُ
الصَّمَدُ ۚ﴿﴾ لَمۡ یَلِدۡ ۬ۙ
وَ لَمۡ یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾ وَ لَمۡ یَکُنۡ
لَّہٗ کُفُوًا اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Katakanlah: “Dia-lah Allah Yang
Maha Esa. Allah,
adalah Tuhan Yang segala sesuatu
bergantung pada-Nya. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan,
dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya ”(Al-Ikhlas, [112]:1-5).
Kata qul (katakan) di sini mengandung
perintah kekal kepada orang-orang Islam
untuk tetap menyatakan bahwa “Tuhan itu Maha Esa.” Huwa
(Dia) yang dipakai sebagai dhamir asy-sya’n (kata pengganti nama
yang menunjukkan keadaan, Pent.) dan berarti
“Yang benar adalah ini,” dan
menunjukkan bahwa kebenaran telah
tertanam di dalam fitrat manusia
adanya Tuhan dan Dia itu Esa dan Mandiri
(QS.7:173-174; QS.30:31-33).
Allah
Swt. adalah nama khas,
dipergunakan dalam Al-Quran untuk Dzat Yang Maha Kuasa. Dalam bahasa Arab kata itu sama sekali tidak
dipakai untuk sesuatu benda atau wujud lain. Ini merupakan nama mutlak untuk Tuhan, bukan nama sifat dan
bukan pula keterangan.
Ahad
adalah sebutan yang dikenakan hanya kepada Tuhan dan berarti: Yang Tunggal, Yang Esa; Dia Yang semenjak azali dan selamanya Esa dan Tunggal; Yang tiada wujud
lainnya sebagai mitra dalam ketuhanan-Nya dan tidak pula dalam wujud-Nya (Lexicon Lane). Sementara Ahad berarti ke-Esa-an Tuhan dalam Wujud-Nya – gagasan adanya wujud kedua tidak dapat diterima – maka
Wahid berarti kemandirian Tuhan
dalam sifat-sifat-Nya.
Dengan demikian ungkapan, Allāhu Wāhidun akan berarti,
bahwa Tuhan itu Wujud Tertinggi dan
merupakan Cikal-bakal serta Sumber Yang dari-Nya telah lahir segala
jenis makhIuk; dan Allāhu Ahadun berarti
bahwa Allah itu Dzat Yang Esa dan Tunggal
dalam arti, bahwa bila kita memikirkan
Dia, hilanglah dari pikiran kita
gagasan adanya suatu wujud atau benda
lain selain Dia, Dia itu Esa dan Tunggal dalam segala arti.
Dia bukan mata rantai pertama suatu rangkaian
mata rantai, dan bukan pula mata
rantai terakhir. Tidak ada sesuatu
seperti Dia dan Dia pun tidak seperti benda
apapun. Inilah hakikat Allah menurut
paham yang dikemukakan oleh Al-Quran.
Shamad
dalam ayat
اَللّٰہُ الصَّمَدُ -- Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya” berarti: seorang yang menjadi tumpuan memenuhi segala keperluan; atau
yang kepadanya ditujukan ketaatan;
yang tanpa dia, tidak ada perkara dapat diselesaikan;
orang atau tempat yang tiada seorang atau sesuatu pun ada di atasnya.
Karena Ash-Shamad merupakan salah satu sifat Tuhan, berarti: Wujud tertinggi, Yang menjadi tempat memenuhi segala keperluan; Yang tidak bergantung pada apapun dan Yang kepada-Nya segala sesuatu mempunyai
ketergantungan dalam kebutuhan dan
keperluannya; Yang akan terus
berwujud untuk selama-lamanya meski seluruh makhluk sudah tidak berwujud
lagi; Yang tiada wujud lain di atas Dia
(Lexicon Lane).
Dalam ayat yang mendahuluinya telah
dinyatakan bahwa Tuhan itu Esa, Tunggal, dan Mandiri. Ayat اَللّٰہُ
الصَّمَدُ -- Allah, adalah
Tuhan Yang segala sesuatu bergantung
pada-Nya” mendukung pernyataan itu. Ayat ini mengatakan bahwa semua benda dan wujud
mempunyai ketergantungan dari Tuhan,
tetapi Dia Sendiri Mandiri dan segala
sesuatu bergantung pada-Nya. Semua memerlukan Dia, tetapi Dia tidak memerlukan siapapun.
Dia tidak
memerlukan wujud atau zat apapun guna
menciptakan alam raya; pada hakikatnya, tiada
sesuatu di alam raya ini sempurna
dalam dirinya sendiri (berdiri
sendiri); tiap sesuatu bergantung
pada sesuatu yang lain untuk kehidupannya. Tuhan-lah
satu-satunya Wujud Yang tidak bergantung
pada wujud mana pun dan benda
apapun; Dia jauh dari jangkauan daya
khayal dan terkaan. Sifat-sifat-Nya tidak mengenal batas.
Allah Swt. Tidak Memerlukan Istri, Anak
dan Sekutu Dalam Keberadaan-Nya
Sifat
Ilahi Ash-Shamad (Mandiri dan tempat semua makhluk memohon) telah
disebut dalam ayat yang mendahuluinya
untuk mengukuhkan pernyataan, bahwa Allah itu Ahad (Mahaesa, Tunggal
dan tiada tara bandingan-Nya) dan kini, dalam ayat لَمۡ یَلِدۡ ۬ۙ وَ
لَمۡ یُوۡلَدۡ sifat “Dia tidak beranak dan tidak
diperanakkan” disebut guna menunjukkan bahwa Dia itu Ash-Shamad (Dia
berada di atas segala keperluan), sebab anggapan adanya keperluan pada-Nya itu timbul dari pikiran, Dia memerlukan bantuan dari seorang orang lain, yang
tanpa orang itu Dia tidak dapat menjalankan
pekerjaan-Nya, dan yang harus melanjutkan
pekerjaan-Nya sesudah Dia mati, sebab semua wujud yang menjadi pengganti
atau yang digantikan wujud lain,
tunduk kepada hukum kematian. Allah Swt.
tidak menggantikan siapapun dan tidak akan diganti oleh siapapun. Dia sempurna dalam semua sifat-Nya dan Dia itu
azali, abadi, dan mutlak.
Ayat
وَ لَمۡ یَکُنۡ
لَّہٗ کُفُوًا اَحَدٌ -- “dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya” ini menghilangkan suatu keraguan yang mungkin timbul dan boleh
jadi ditimbulkan karena ayat yang mendahuluinya. Taruhlah bahwa Allah Swt. itu Maha Esa, Tunggal, dan Mulia lagi Mandiri tanpa bergantung pada
wujud lain, dan taruhIah bahwa Dia
tidak beranak dan tidak diperanakkan,
tetapi boleh jadi ada wujud lain seperti
Dia yang mungkin memiliki semua sifat
yang dimiliki oleh-Nya.
Ayat ini menghapus kesalah-pahaman itu. Ayat ini mengatakan bahwa tidak ada wujud lain seperti Allah. Akal manusia pun menuntut
bahwa harus ada hanya satu Pencipta
dan Pengawas seluruh alam raya. Tata
kerja sempurna yang melingkupi dan meliputi alam raya pun menuntun kepada kesimpulan yang tidak dapat dielakkan, bahwa satu hukum yang seragam harus tegak dan kesatuan serta keseragaman
hukum dan polanya membuktikan
serta menyatakan keesaan Sang Pencipta
(QS.21:23).
Dengan demikian Surah ini mencabut akar-akar semua itikad kemusyrikan
yang terdapat dalam suatu bentuk atau
lain pada agama lain mengenai kepercayaan
kepada Tuhan -- dua
atau tiga atau lebih banyak -- dan bahwa
ruh dan benda itu azali seperti Tuhan. Inilah penjelasan definisi agung mengenai Dzat Yang Maha Tinggi seperti dijelaskan dalam Al-Quran, dan tidak ada definisi
dalam Kitab-kitab Suci lain yang
dapat sekelumit saja menyamai keindahan, keluhuran, dan keagungan
definisi yang diberikan oleh Al-Quran.
(Bersambung)
ooo
Rujukan: The
Holy Quran
Editor : Malik
Ghulam Farid
Pajajaran Anyar, 2 Agustus
2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar