Selasa, 01 Agustus 2017

Berbagai Contoh "Pendangkalan Pemahaman" Al-Quran & Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Wafat Secara Wajar dan Terhormat di Kasymir Setelah Berhasil Mencari Sepuluh Domba (Suku) Israil" yang "Tercerai-berai" di Luar "Palestina"



Bismillāhirrahmānirrahīm


KHAZANAH  AL-QURAN 

Bab 18

BERBAGAI CONTOH PENDANGKALAN PEMAHAMAN AL-QURAN   &   NABI ISA IBNU MARYAM A.S.  WAFAT  SECARA WAJAR DAN TERHORMAT  DI KASYMIR SETELAH BERHASIL MENCARI “SEPULUH DOMBA (SUKU) BANI ISRAIL YANG TERCERAI BERAI” DI LUAR PALESTINA

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir bab sebelumnya  telah dikemukakan  topic:    Kesedihan Nabi Besar Muhammad saw. dan Kesedihan Rasul Akhir Zaman  dalam firman-Nya: وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا  --  Dan  Rasul itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan.  وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا -- Dan demikianlah Kami  telah menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi   dari antara orang-orang yang berdosa, dan cukuplah Rabb (Tuhan) engkau sebagai pemberi petunjuk dan penolong” (Al-Furqān [25]:32).
         Dengan demikian benarlah kesedihan dan sabda Nabi Besar Muhammad saw dalam hadits qudsi yang dikemukakan dalam berbagai Bab sebelum ini:
         Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash r.a. bahwa Nabi saw. membaca firman Allah tentang Ibrahim a.s.:
رَبِّ اِنَّہُنَّ اَضۡلَلۡنَ  کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ ۚ فَمَنۡ تَبِعَنِیۡ فَاِنَّہٗ  مِنِّیۡ ۚ وَ مَنۡ عَصَانِیۡ فَاِنَّکَ غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ
“Wahai Rabb-ku sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia, lalu barangsiapa mengikutiku maka sesungguhnya ia termasuk golonganku, dan barangsiapa mendurhakaiku maka sesungguhnya Maha Pengampun Maha Penyayang (Ibrahim [14]:37).
Dan ‘Isa a.s. berkata:
اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
“Kalau Engkau mengazab mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan kalau Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Māidah [5]:118).
    Kemudian beliau saw. mengangkat kedua tangan seraya bersabda: “Wahai umatku…..umatku” dan beliau saw. menangis. Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman; “Wahai Jibril, pergilah kepada Muhammad – sedangkan Tuhan kamu lebih mengetahui  -- tanyalah kepadanya, “Apakah yang menyebabkan engkau menangis?” Jibril  a.s. datang kepada beliau lalu bertanya kepada beliau, maka utusan Allah  itu memberitahukan kepada-Nya  mengenai apa yang disabdakan beliau   -- padahal Allah lebih mengetahui – lalu Allah Ta’ala berfirman kepada Jibril: “Pergillah kepada Muhammad dan katakan, “Sesungguhnya  Kami akan ridha terhadap umat engkau dan Kami tidak berbuat buruk kepada engkau” (Muslim). 
Kemudian:
   Tsauban r.a., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah memperlihatkan bumi kepadaku lalu aku melihat timur dan baratnya, dan sungguh kerajaan umatku akan sampai kepada bumi yang ditampakkan kepadaku. Aku diberi dua pembendaharaan yaitu merah dan putih. Sungguh aku mohon kepada Tuhan-ku bagi umatku agar tidak dihancurkan dengan tahun yang umum dan tidak dikuasai oleh musuh selain dari mereka sendiri, lalu ia memusnahkan golongan mereka. Sesungguhnya Tuhan-ku berfirman, “Wahai Muhammad, sesungguhnya apabila Aku menetapkan suatu ketetapan maka ketetapan itu  tidaklah tertolak. Dan sesungguhnya Aku memberi engkau mengenai umat engkau tidak Aku hancurkan dengan tahun yang umum, dan Aku tidak menguasakan musuh atas mereka selain dari mereka sendiri yang memusnahkan golongan mereka, walau pun berkumpul atas mereka dari seluruh penjuru   -- atau Dia berfirman: “dari seluruh penjuru bumi – sehingga sebagian mereka menghancurkan sebagian yang lain, dan sebagian mereka menawan terhadap sebagian yang lain” (Muslim).

Kesedihan Rasul Akhir Zaman

      Jadi, kesedihan seperti itu pulalah yang dirasakan oleh Rasul Akhir  zaman  -- yakni Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. – yaitu Mirza Guulam Ahmad a.s., pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah   -- ketika menyaksikan keadaan umumnya umat Islam di Akhir zaman  sebagai dampak  buruk dari masa kemunduran panjang selama 1000 tahun (QS.32:6), firman-Nya:
اَلۡمُلۡکُ یَوۡمَئِذِۣ الۡحَقُّ لِلرَّحۡمٰنِ ؕ وَ کَانَ یَوۡمًا عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ عَسِیۡرًا ﴿﴾ وَ یَوۡمَ یَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰی یَدَیۡہِ یَقُوۡلُ یٰلَیۡتَنِی اتَّخَذۡتُ مَعَ الرَّسُوۡلِ سَبِیۡلًا ﴿﴾   یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِیۡلًالَقَدۡ اَضَلَّنِیۡ عَنِ الذِّکۡرِ بَعۡدَ اِذۡ جَآءَنِیۡ ؕ وَ کَانَ الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا ﴿﴾  وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾
Kerajaan yang haq pada hari itu  milik Yang Maha Pemurah, dan hari itu atas orang-orang kafir  sangat keras.   Dan pada hari itu orang zalim akan menggigit-gigit kedua tangannya lalu berkata:  ”Wahai alangkah baiknya jika aku mengambil jalan bersama dengan Rasul itu. Wahai celakalah aku, alangkah baiknya seandainya aku tidak  menjadikan si fulan itu sahabat.   Sungguh  ia benar-benar telah melalaikanku dari mengingat kepada Allah sesudah ia datang kepadaku.”   وَ کَانَ الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا -- Dan syaitan selalu menelantarkan manusia.  وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا  --  Dan  Rasul itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan.  وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا -- Dan demikianlah Kami  telah menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi   dari antara orang-orang yang berdosa, dan cukuplah Rabb (Tuhan) engkau sebagai pemberi petunjuk dan penolong (Al-Furqān [25]:27-33). 
        Ayat  وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا  --  “Dan  Rasul itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan.“  dengan sangat tepat sekali dapat dikenakan kepada mereka yang menamakan diri orang-orang Muslim tetapi telah menyampingkan Al-Quran dan telah melemparkannya ke belakang.
       Barangkali belum pernah terjadi selama 14 abad ini di mana Al-Quran demikian rupa diabaikan dan dilupakan oleh orang-orang Muslim seperti dewasa ini. Ada sebuah hadits Nabi Besar Muhammad saw.  yang mengatakan: “Satu saat akan datang kepada kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari Islam melainkan namanya dan dari Al-Quran melainkan kata-katanya (Baihaqi, Syu’ab ul-iman). Sungguh masa sekarang di Akhir Zaman inilah saat yang dimaksudkan ayat tersebut.

Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan Semua Rasul Allah  Sebelum Nabi Besar Muhammad Saw. Telah Wafat

     Dari sekian banyak pendangkalan mengenai Al-Quran  yang sangat merugikan  Islam  dan umat Islam  adalah mengenai  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang karena  keliru menafsirkan kata rafa’a (mengangkat) mengenai Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dalam surah An-Nisa ayat 158-159 dan keliru menafsirkan sabda Nabi Besar Muhammad saw. mengenai  makna kata nazala (turun) berkenaan  kedatangan kedua kali Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.,  sehingga akibatnya  umat Islam tidak mampu membendung gerakan Kristenisasi yang dilakukan para misisonaris Kristen dari Eropa yang disebut Nabi Besar Muhammad saw. sebagai fitnah Dajjal  --  yang  menurut Nabi Besar Muhammad saw. kecuali Imam Mahdi a.s.   – tidak ada pihak lainnya yang mampu membendung gerakannya   karena didukung oleh  keberhasilan duniawi Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog – QS.21:97; QS.Wahyu 20:7-10) yakni bangsa-bangsa Kristen dari Eropa yang bermata biru (QS.20:103-105).
        Dengan tegas Allah Swt. menyatakan dalam Al-Quran menyatakan bahwa semua Nabi Allah yang diutus sebelum Nabi Besar Muhammad saw. – tanpa kecuali --  telah wafat, termasuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw:
وَ مَا جَعَلۡنَا لِبَشَرٍ مِّنۡ قَبۡلِکَ الۡخُلۡدَ ؕ اَفَا۠ئِنۡ  مِّتَّ  فَہُمُ  الۡخٰلِدُوۡنَ  ﴿﴾ کُلُّ نَفۡسٍ ذَآئِقَۃُ  الۡمَوۡتِ ؕ وَ نَبۡلُوۡکُمۡ بِالشَّرِّ وَ الۡخَیۡرِ  فِتۡنَۃً ؕ وَ اِلَیۡنَا  تُرۡجَعُوۡنَ ﴿﴾
Dan Kami sekali-kali tidak  menjadikan seorang manusia pun sebelum engkau hidup kekal, maka apakah jika engkau mati  maka mereka itu akan hidup kekal? کُلُّ نَفۡسٍ ذَآئِقَۃُ  الۡمَوۡتِ  --   Setiap jiwa akan merasai kematian, dan Kami menguji kamu dengan keburukan serta kebaikan sebagai percobaan, dan kepada Kami-lah kamu akan dikembalikan. (Al-Anbiya [21]:35-36).
       Sebagaimana semua rasul Allah  yang diutus sebelum Nabi Besar Muhammad saw. telah wafat – termasuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   – demikian pula halnya semua syariat dan sistem agama yang bermacam-macam di masa sebelum Nabi Besar Muhammad saw.  telah ditetapkan dan ditakdirkan Allah Swt. untuk mengalami kehancuran dan kematian ruhani  (QS.2:107), dan hanyalah syariat  Nabi Besar Muhammad saw.   - syariat Islam  (Al-Quran) - sajalah yang ditakdirkan akan hidup dan akan berlaku terus sampai akhir zaman karena selalu mendapat jaminan pemeliharaan Allah Swt. (QS.15:10).

Setiap Umat Memiliki Ajal (Batas Waktu) dan Mengalmi Masa “Pikun

        Ayat 35  dapat pula mengandung maksud bahwa tidak seorang pun yang kebal terhadap kehancuran dan kematian jasmani, bahkan   Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan Nabi Besar Muhammad asw.  pun tidak, sebab  kekekalan dan keabadian merupakan sifat-sifat  khusus Allah Swt..
       Dalam surah lain Allah Swt. menyatakan bahwa barangsiapa yang dipanjangkan umurnya pasti akan mengalami  keadaan pikun, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ  اِنۡ  کُنۡتُمۡ فِیۡ رَیۡبٍ مِّنَ الۡبَعۡثِ فَاِنَّا خَلَقۡنٰکُمۡ مِّنۡ تُرَابٍ ثُمَّ مِنۡ نُّطۡفَۃٍ  ثُمَّ مِنۡ عَلَقَۃٍ  ثُمَّ مِنۡ مُّضۡغَۃٍ مُّخَلَّقَۃٍ  وَّ غَیۡرِ مُخَلَّقَۃٍ  لِّنُبَیِّنَ لَکُمۡ ؕ وَ نُقِرُّ  فِی الۡاَرۡحَامِ مَا نَشَآءُ  اِلٰۤی اَجَلٍ مُّسَمًّی ثُمَّ نُخۡرِجُکُمۡ طِفۡلًا ثُمَّ  لِتَبۡلُغُوۡۤا  اَشُدَّکُمۡ ۚ وَ مِنۡکُمۡ  مَّنۡ یُّتَوَفّٰی وَ مِنۡکُمۡ مَّنۡ یُّرَدُّ  اِلٰۤی  اَرۡذَلِ الۡعُمُرِ لِکَیۡلَا یَعۡلَمَ مِنۡۢ بَعۡدِ عِلۡمٍ شَیۡئًا ؕ وَ تَرَی الۡاَرۡضَ ہَامِدَۃً  فَاِذَاۤ  اَنۡزَلۡنَا عَلَیۡہَا الۡمَآءَ   اہۡتَزَّتۡ وَ  رَبَتۡ وَ  اَنۡۢبَتَتۡ مِنۡ  کُلِّ  زَوۡجٍۭ  بَہِیۡجٍ ﴿﴾
Hai manusia, jika kamu dalam keraguan mengenai kebangkitan kembali, maka sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari sepotong daging, sebagian telah berbentuk dan sebagian lagi belum berbentuk, supaya Kami menjelaskan kepada kamu.  Dan Kami menempatkan di dalam rahim-rahim sebagaimana yang Kami kehendaki sampai masa yang telah ditentukankemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, lalu kamu mencapai kedewasaanmu. Dan di antara kamu ada yang diwafatkan,  dan sebagian dari kamu ada yang dipanjangkan umurnya hingga pikun, sehingga ia tidak mengetahui sedikit pun setelah ia mengetahui. Dan engkau melihat bumi gersang lalu  apabila ke atasnya Kami menurunkan air   ia bergerak dan berkembang dan menumbuhkan segala macam tumbuhan yang indah.  (Al-Hājj [22]:6).
         Mengenai ayat   “dan sebagian dari kamu ada yang dipanjangkan umurnya hingga pikun, sehingga ia tidak mengetahui sedikit pun setelah ia mengetahui”  dalam surah lain Allah Swt. berfirman:
وَ اللّٰہُ خَلَقَکُمۡ ثُمَّ یَتَوَفّٰىکُمۡ ۟ۙ وَ مِنۡکُمۡ مَّنۡ  یُّرَدُّ   اِلٰۤی اَرۡذَلِ الۡعُمُرِ  لِکَیۡ لَا یَعۡلَمَ  بَعۡدَ عِلۡمٍ شَیۡئًا ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌ  قَدِیۡرٌ ﴿٪﴾
Dan Allah menciptakan kamu, kemudian Dia mewafatkanmu, dan  dari antara kamu ada yang dikembalikan kepada keadaan usia yang terlemah supaya mereka tidak mengetahui lagi  setelah berilmu, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Kuasa. (AN-nahl [16]:71).
Firman-Nya lagi: 
وَ مَنۡ نُّعَمِّرۡہُ  نُنَکِّسۡہُ  فِی الۡخَلۡقِ ؕ اَفَلَا یَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Dan barangsiapa yang  Kami panjangkan umurnya pasti Kami  mengembalikannya  pada awal penciptaan,  maka tidakkah mereka mau  berfikir? (Yā Sīn [36]:69).
       Menurut Allah Swt. bahwa segala sesuatu yang hidup pasti mengalami kerusakan dan kemunduran. Hukum  Ilahi  (Sunnatullah) ini berlaku bagi bangsa-bangsa seperti halnya bagi  individu (perorangan) manusia. Yakkni seperti halnya individu  (orang), demikian juga  bangsa-bangsa pun berkembang, tumbuh dan  setelah menemukan bentuk yang sepenuh-penuhnya dan kemudian menjadi mangsa kerusakan, kemunduran, serta kematian, termasuk kaum Kristen, sebagaimana dikemukakan dalam perumpamaan berikut ini, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا  الۡاِنۡسَانُ مَا غَرَّکَ بِرَبِّکَ الۡکَرِیۡمِ ۙ﴿﴾   الَّذِیۡ خَلَقَکَ فَسَوّٰىکَ فَعَدَلَکَ ۙ﴿﴾  فِیۡۤ  اَیِّ صُوۡرَۃٍ  مَّا شَآءَ  رَکَّبَکَ ؕ﴿﴾  کَلَّا  بَلۡ تُکَذِّبُوۡنَ بِالدِّیۡنِ ۙ﴿﴾   وَ  اِنَّ عَلَیۡکُمۡ  لَحٰفِظِیۡنَ ﴿ۙ﴾   کِرَامًا  کَاتِبِیۡنَ ﴿ۙ﴾   یَعۡلَمُوۡنَ مَا تَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾  
Hai manusia, apa yang telah memperdayai engkau mengenai  Rabb (Tuhan) engkau Yang Maha Mulia.    Yang telah menciptakan engkau, kemudian menyempurnakan engkau, lalu menata tubuh engkau dengan  serasi?   Dalam bentuk apa yang Dia ke-hendaki Dia menyusun tubuh engkau.    Tidak hanya itu, bahkan kamu mendustakan pembalasan.     Dan sesungguhnya atas kamu ada pengawas-pengawas,  pencatat-pencatat mulia,   mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan. (An-Infithar [82]:7-13).

Makna Lain Seruan  “Hai Manusia

  Seruan     “Hai manusia” dalam ayat   یٰۤاَیُّہَا  الۡاِنۡسَانُ مَا غَرَّکَ بِرَبِّکَ الۡکَرِیۡمِ --  “Hai manusia, apa yang telah memperdayai engkau mengenai  Rabb (Tuhan) engkau Yang Maha Mulia“  dalam ayat ini bersama-sama beberapa ayat berikutnya sapaan itu ditujukan kepada bangsa-bangsa  Kristen, khususnya para tokoh dan penganjur ajaran Kristen yang keliru itu. Mereka akhirnya akan menyadari akan kekejian dan keburukan ajaran palsu mereka itu berkenaan “Trinitas” dan “Penebusan Dosa” melalui “Kematian terkutuk” Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di tiang salib.
    Makna ayat  الَّذِیۡ خَلَقَکَ فَسَوّٰىکَ فَعَدَلَکَ -- “Yang telah menciptakan engkau,    kemudian menyempurnakan engkau,     lalu menata tubuh engkau dengan  serasiفِیۡۤ  اَیِّ صُوۡرَۃٍ  مَّا شَآءَ  رَکَّبَکَ --   Dalam bentuk apa yang Dia kehendaki Dia menyusun tubuh engkau.”  Ayat ini mengisyaratkan kepada keberhasilan duniawi bangsa-bangsa Kristen dari Eropa,  yakni  Allah Swt. telah menganugerahi manusia kekuatan-kekuatan dan kemampuan-kemampuan fitri agung agar ia dapat naik ke puncak kemuliaan ruhani setinggi-tingginya, termasuk dalam urusan kehidupan duniawi.
     Jadi, keberhasilan kehidupan duniawi bangsa-bangsa Kristen dari Eropa – yakni Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog – QS.21:97)   -- merupakan bukti kebenaran firman Allah Swt. tersebut. Ada pun ayat-ayat selanjutnya membantah ajaran Kristen mengenai Trinitas” dan “Penebusan Dosa” melalui “Kematian terkutuk” Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di tiang salib,  karena  manusia dilahirkan sebagai makhluk bebas dan bertanggung-jawab atas keputusan-keputusan yang diambilnya dan perbuatan-perbuatan yang dilakukannya itu dicatat oleh “Pencatat-pencatat mulia”  yaitu para malaikat pencatat amal manusia –  yang baik mau pun yang buruk  -- firman-Nya:
 اِنَّ  الۡاَبۡرَارَ لَفِیۡ نَعِیۡمٍ ﴿ۚ﴾   وَ  اِنَّ  الۡفُجَّارَ لَفِیۡ جَحِیۡمٍ ﴿ۚۖ﴾  یَّصۡلَوۡنَہَا یَوۡمَ الدِّیۡنِ ﴿﴾  وَ مَا ہُمۡ عَنۡہَا بِغَآئِبِیۡنَ ﴿ؕ﴾  وَ مَاۤ  اَدۡرٰىکَ مَا یَوۡمُ الدِّیۡنِ ﴿ۙ﴾  ثُمَّ  مَاۤ  اَدۡرٰىکَ مَا یَوۡمُ الدِّیۡنِ ﴿ؕ﴾  یَوۡمَ لَا تَمۡلِکُ نَفۡسٌ لِّنَفۡسٍ شَیۡئًا ؕ وَ الۡاَمۡرُ  یَوۡمَئِذٍ  لِّلّٰہِ ﴿٪﴾
Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan niscaya  dalam kenikmatan.    Dan sesungguhnya orang-orang berdosa niacaya tinggal di dalam Jahannam.     Mereka akan masuk ke dalamnya pada Hari Pembalasan.  Dan mereka sekali-kali tidak akan lolos darinyaوَ مَاۤ  اَدۡرٰىکَ مَا یَوۡمُ الدِّیۡنِ --   Dan apakah yang engkau tahu apa Hari Pembalasan itu?  ثُمَّ  مَاۤ  اَدۡرٰىکَ مَا یَوۡمُ الدِّیۡنِ  -- Kemudian,  apakah yang membuat engkau tahu apa Hari Pembalasan itu?   یَوۡمَ لَا تَمۡلِکُ نَفۡسٌ لِّنَفۡسٍ شَیۡئًا ؕ وَ الۡاَمۡرُ  یَوۡمَئِذٍ  لِّلّٰہِ   --   Pada hari itu tidak ada jiwa mempunyai kekuatan sedikitpun untuk memberi manfaat bagi jiwa lain!  Dan segala keputusan pada hari itu kepunyaan Allah. (An-Infithār [82]:7-20).
      Jadi, sebagaimana keberhasilan bangsa-bangsa Kristen dari Eropa karena mereka mematuhi  rangkaian hukum sebab-akibat  yang telah ditetapkan Allah Swt. berkenaan  penciptaan alam semesta jasmani ini, begitu juga  dalam masalah keruhanian pun belaku hukum yang sama, yakni setiap orang akan  memikul bebannya sendiri, firman-Nya:
قُلۡ اَغَیۡرَ اللّٰہِ اَبۡغِیۡ رَبًّا وَّ ہُوَ رَبُّ کُلِّ شَیۡءٍ ؕ وَ لَا تَکۡسِبُ کُلُّ نَفۡسٍ  اِلَّا عَلَیۡہَا ۚ وَ لَا تَزِرُ وَازِرَۃٌ  وِّزۡرَ  اُخۡرٰی ۚ ثُمَّ اِلٰی رَبِّکُمۡ مَّرۡجِعُکُمۡ فَیُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ  فِیۡہِ  تَخۡتَلِفُوۡنَ﴿﴾
Katakanlah:  ”Apakah aku akan mencari Rabb (Tuhan)  yang bukan-Allah, padahal  Dia-lah Rabb (Tuhan) segala sesuatu?” Dan tiada jiwa mengupayakan sesuatu melainkan akan menimpa dirinya, dan  tidak pula seorang pe-mikul beban memikul beban orang lain.  Kemudian kepada Rabb (Tuhan) kamu tempat kembalimu, maka Dia akan memberitahu kamu apa-apa yang mengenainya kamu berselisih
(Al-An’ām [6]6:165) lihat pula  QS.17:16; QS.35:19;  QS.39:8; QS.53:39-41.
Seperti halnya ayat-ayat QS.17:16; QS.53:40-41, ayat ini mengandung sanggahan keras terhadap ajaran Penebusan Dosa dan secara tegas menarik perhatian terhadap kenyataan bahwa setiap orang harus memikul salibnya sendiri, yaitu  mempertanggungjawabkan amal-perbuatannya sendiri. Pengorbanan dari siapa pun sebagai pengganti tidak akan memberi manfaat.

Pentingnya Kesinambungan Pengutusan Rasul Allah Dari Kalangan Bani Adam

    Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah Allah Swt. berfirman mengenai pentingnya kesinambungan pengutusan para rasul Allah di kalangan Bani Adam, guna  menimbulkan kebangkitan ruhani baru  di kalangan umat manusia ketika suatu bangsa atau suatu umat beragama telah mengalami keadaan  pikun  -- terutama dalam masalah Tauhid Ilahi   --   firman-Nya: 
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ  اَجَلٌ ۚ فَاِذَا  جَآءَ  اَجَلُہُمۡ  لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً  وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾  یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾  وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾   
Dan bagi tiap-tiap umat ada batas waktu, maka apabila telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya.  یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ  --  Wahai Bani Adam,  jika datang kepada kamu  rasul-rasul dari antara kamu yang membacakan   Ayat-ayat-Ku kepadamu, maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati. وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  --  Dan  orang-orang yang men-dustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya, mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-A’raf [7]:35-37).
         Jadi, menurut Allah Swt. proses perkembangan suatu bangsa (kaum) sama dengan perkembangan seorang manusia – yakni mengalami masa anak-anak, mengalami masa dewasa  dan  setelah mengalami masa puncak perkembangan tubuh dan jiwanya lalu  ia  mengalami kemunduran dalam segi fisik mau pun jiwa  akhirnya  pikun  --  firman-Nya: 
مَا خَلۡقُکُمۡ وَ لَا بَعۡثُکُمۡ  اِلَّا کَنَفۡسٍ وَّاحِدَۃٍ ؕ  اِنَّ  اللّٰہَ  سَمِیۡعٌۢ  بَصِیۡرٌ ﴿﴾
Sekali-kali tidaklah penciptaan kamu dan tidak pula  kebangkitanmu  melainkan seperti penciptaan suatu jiwa. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.  (Luqman [31]:29).
         Demikian pula halnya dengan umat Islam dari kalangan Bani Isma’il  di Timur Tengah – yang menggantikan   kedudukan Bani Israil  sebagai “kaum terpilih” sebelumnya (QS.7:35; QS.6:166) – mereka mengalami Sunnatullāh  yang sama dengan    perkembangan dan kemunduran yang dialami Bani Israil, sebagaimana yang diperingatkan Allah Swt. dalam firman-Nya: 
اَلَمۡ یَاۡنِ  لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا  اَنۡ  تَخۡشَعَ قُلُوۡبُہُمۡ  لِذِکۡرِ اللّٰہِ  وَ مَا  نَزَلَ مِنَ الۡحَقِّ  ۙ  وَ لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ فَطَالَ عَلَیۡہِمُ  الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ کَثِیۡرٌ  مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾  اِعۡلَمُوۡۤا  اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا ؕ قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ  تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Apakah belum sampai waktu bagi orang-orang yang beriman, bahwa hati mereka tunduk untuk mengingat Allah dan mengingat  kebenaran yang telah turun kepada mereka, dan mereka tidak  menjadi seperti orang-orang yang diberi kitab sebelumnya, فَطَالَ عَلَیۡہِمُ  الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ کَثِیۡرٌ  مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ -- maka  zaman kesejahteraan menjadi panjang atas mereka lalu   hati mereka menjadi keras, dan kebanyakan dari mereka menjadi durhaka?   Ketahuilah, bahwasanya  Allah  menghidupkan bumi sesudah matinya. Sungguh Kami telah menjelaskan Tanda-tanda kepada kamu supaya kamu mengerti. (Al-Hadīd [57]:17-18).

Persamaan Bani Israil dan Bani Isma’il   Mendustakan dan Menentang Al-Masih yang Dijanjikan (Masih Mau’ud a.s.)

        Jadi, betapa  akibat kekeliruan memahami  kata rafa’a  (mengangkat) dan nazala  (turun) berkenaan peristiwa  penyaliban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.4:158-159) dan  mengenai kedatangannya lagi maka  akibatnya telah membuat umumnya umat Islam telah menjadi penentang Masih Mau’ud a.s. atau misal nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58) -- sebagaimana sebelumnya  kaum Yahudi telah  mendustakan dan  menentang   – bahkan berusaha membunuh beliau melalui penyaliban,  yang kemisteriusannya telah menggelincirkan   kaum Yahudi, kaum Nasrani, sebagaimana firman-Nya dalam ayat yang mutasyābihāt berikut ini:
وَّ قَوۡلِہِمۡ اِنَّا قَتَلۡنَا الۡمَسِیۡحَ عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ رَسُوۡلَ اللّٰہِ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ ؕ وَ  اِنَّ الَّذِیۡنَ اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ لَفِیۡ شَکٍّ مِّنۡہُ ؕ مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ  اِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ  یَقِیۡنًۢا ﴿﴾ۙ  بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا﴿﴾
Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa Ibnu Maryam, Rasul Allah,” padahal mereka tidak membunuhnya secara biasa dan tidak pula mematikannya melalui penyaliban, وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ  --  akan tetapi ia disamarkan  kepada mereka seperti telah mati di atas salib. Dan sesungguhnya  orang-orang yang berselisih dalam hal ini niscaya ada dalam keraguan mengenai ini,  mereka tidak memiliki  pengetahuan yang pasti mengenai ini melainkan menuruti dugaan belaka dan mereka tidak  yakin telah membunuhnya. بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا --    Bahkan Allah telah mengangkatnya kepada-Nya dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana  (An-Nisa  [4]:158-159).
          Ringkasan makna dari kedua ayat tersebut adalah bahwa  para pemuka Yahudi berusaha  menghinakan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dengan cara berusaha membunuh beliau melalui penyaliban, sebab menurut hukum Taurat barangsiapa mati tergantung di tiang salib  merupakan kutuk baginya (Ulangan 21:23).
      Tetapi Allah Swt – sesuatu rencana-Nya yang sangat misterius  (QS.3:53-55)--   memang membiarkan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mengalami pemakuan di tiang salib, tetapi tidak sampai mengalami kematian melainkan diturunkan dari tiang salib dalam keadaan “mati suri” (pingsan berat), sesuai firman-Nya:
وَ مَکَرُوۡا وَ مَکَرَ اللّٰہُ ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan mereka,  yakni musuh Al-Masih, merancang makar  buruk  dan Allah pun merancang makar  tandingan  dan Allah sebaik-baik Perancang makar. (Âli ‘Imran [3]:55).
      Orang-orang Yahudi telah merencanakan supaya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. harus mati terkutuk di atas salib (Ulangan 21:24), tetapi rencana Allah Swt.   adalah beliau harus selamat dari kematian semacam itu. Rencana orang-orang Yahudi gagal dan rencana Ilahi berhasil, sebab beliau tidak mati di atas salib, melainkan diturunkan dalam keadaan hidup, dan wafat secara wajar di Kasymir (QS.32:51) dalam usia  sangat lanjut (120 tahun), dan jauh dari tempat beliau mengalami peristiwa penyaliban.
       Jadi, makna kata rafa’a  berkenaan dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dalam QS.4:159 pada hakikatnya mengisyaratkan kepada  penyelamatan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. secara misterius dalam “duel makar”   dari upaya menghinakan  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang dilakukan para pemuka Yahudi, yakni para pemuka Yahudi gagal membunuh Nabi Isa Ibnu maryam a.s. melalui penyaliban,  sebagaimana firman-Nya: بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا --    Bahkan Allah telah mengangkatnya kepada-Nya dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana  (An-Nisa  [4]:159). Jadi, bukan mengangkat Nabi isa Ibnu  Maryam a.s. hidup-hidup ke atas langit  atau kepada Allah Swt. sebab Allah Swt.  – na’udzubillāhi min dzālika  -- tidak memiliki tempat tinggal, termasuk  di langit.
      Kemudian mengenai kedatangan kedua kali Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Nabi Besar Muhammad saw. bersabda:
Kayfa antum idzā nazala- bnu maryama fīkum wa imāmukum  minkum  -- Bagaimana sikap kalian jika turun Ibnu Maryam di kalangan kalian dan menjadi imam di kalangan kalian?” (Muslim).
Dalam hadits tersebut sama sekali tidak ada  perkataan  minas sama’i  (dari langit).

Menggambarkan Kemuliaan dan Sangat  Bermanfaat

         Makna nazala  (turun) berkenaan kedatangan kedua  kali Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. – yakni misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58)   -- bukan dalam makna harfiah  melainkan kiasan, untuk menggambarkan kemuliaan (kepentingan) dari obyek yang  mengenainya digunakan kata nazala (nuzul), contohnya   pakaian dan besi yang dalam kenyataannya tidak diturunkan Allah Swt. dari langit,   berikut firman-Nya mengenai pakaian:
یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  قَدۡ  اَنۡزَلۡنَا عَلَیۡکُمۡ  لِبَاسًا یُّوَارِیۡ سَوۡاٰتِکُمۡ وَ رِیۡشًا ؕ وَ لِبَاسُ التَّقۡوٰی ۙ ذٰلِکَ خَیۡرٌ ؕ ذٰلِکَ مِنۡ اٰیٰتِ اللّٰہِ  لَعَلَّہُمۡ  یَذَّکَّرُوۡنَ ﴿﴾
Wahai Bani Adam,  sungguh  Kami telah menurunkan kepada kamu pakaian penutup auratmu dan sebagai  perhiasan, dan pakaian takwa  itulah yang terbaik, yang demikian itu ada-lah sebagian dari Tanda-tanda Allah, supaya  mereka mendapat nasihat. (Al-A’rāf [7]:27).
     Kemudian mengenai pentingnya  dan manfaat besi  yang sangat banyak Allah Swt. berfirman:
لَقَدۡ  اَرۡسَلۡنَا  رُسُلَنَا بِالۡبَیِّنٰتِ وَ اَنۡزَلۡنَا مَعَہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ الۡمِیۡزَانَ لِیَقُوۡمَ النَّاسُ بِالۡقِسۡطِ ۚ  وَ اَنۡزَلۡنَا الۡحَدِیۡدَ فِیۡہِ بَاۡسٌ شَدِیۡدٌ وَّ مَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَ لِیَعۡلَمَ اللّٰہُ  مَنۡ یَّنۡصُرُہٗ وَ رُسُلَہٗ  بِالۡغَیۡبِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  قَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿٪﴾
Sungguh  Kami benar-benar telah mengirimkan rasul-rasul Kami dengan  Tanda-tanda yang nyata dan Kami menurunkan beserta mereka Kitab  dan neraca  supaya manusia dapat menegakkan keadilan, وَ اَنۡزَلۡنَا الۡحَدِیۡدَ --  dan Kami menurunkan besi, yang di dalamnya ada bahan-bahan untuk peperangan dahsyat dan berbagai manfaat bagi manusia, dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong-Nya dan rasul-rasul-Nya dalam keadaan gaib. Sesungguhnya Allah Maha Kuat, Maha Perkasa. (Al-Hadīd [57]:26).
      Demikian juga  mengenai binatang ternak pun Allah Swt. menggunakan kata “nazala” (nuzul), firman-Nya:
خَلَقَکُمۡ مِّنۡ نَّفۡسٍ وَّاحِدَۃٍ  ثُمَّ  جَعَلَ مِنۡہَا زَوۡجَہَا وَ اَنۡزَلَ  لَکُمۡ مِّنَ الۡاَنۡعَامِ ثَمٰنِیَۃَ  اَزۡوَاجٍ ؕ یَخۡلُقُکُمۡ  فِیۡ بُطُوۡنِ اُمَّہٰتِکُمۡ  خَلۡقًا مِّنۡۢ بَعۡدِ خَلۡقٍ فِیۡ ظُلُمٰتٍ ثَلٰثٍ ؕ ذٰلِکُمُ اللّٰہُ رَبُّکُمۡ لَہُ الۡمُلۡکُ ؕ لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ۚ فَاَنّٰی تُصۡرَفُوۡنَ ﴿﴾
Dia menciptakan kamu dari satu jiwa kemudian darinya Dia menjadikan pasangannya, وَ اَنۡزَلَ  لَکُمۡ مِّنَ الۡاَنۡعَامِ ثَمٰنِیَۃَ  اَزۡوَاجٍ  -- dan Dia  menurunkan   bagi kamu delapan pasang  binatang ternak. Dia menciptakan kamu dalam perut ibu-ibumu kejadian demi kejadian melalui tiga kegelapan.  Demikianlah Allah, Rabb (Tuhan) kamu, kepunyaan-Nya-lah kerajaan. Tidak ada Tuhan selain Dia, maka kemanakah kamu dipalingkan?  (Az-Zumar [39]:7). 

(Bersambung)
ooo
Rujukan: The Holy Quran
Editor    : Malik Ghulam Farid

Pajajaran Anyar,   1 Agustus  2017



Tidak ada komentar:

Posting Komentar