Bismillāhirrahmānirrahīm
KHAZANAH AL-QURAN
Bab
18
BERBAGAI CONTOH PENDANGKALAN
PEMAHAMAN AL-QURAN & NABI ISA IBNU MARYAM A.S. WAFAT SECARA WAJAR
DAN TERHORMAT DI KASYMIR SETELAH BERHASIL MENCARI “SEPULUH DOMBA (SUKU) BANI ISRAIL YANG
TERCERAI BERAI” DI LUAR PALESTINA
Oleh
Ki
Langlang Buana Kusuma
D
|
alam
bagian akhir bab sebelumnya telah
dikemukakan topic: Kesedihan Nabi
Besar Muhammad saw. dan Kesedihan Rasul
Akhir Zaman dalam firman-Nya: وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی
اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا -- Dan Rasul itu berkata: “Ya Rabb-ku
(Tuhan-ku), sesungguhnya kaumku telah
menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan. وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا
مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا -- Dan demikianlah Kami telah
menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi
dari antara orang-orang yang
berdosa, dan cukuplah Rabb (Tuhan)
engkau sebagai pemberi petunjuk dan penolong”
(Al-Furqān
[25]:32).
Dengan demikian benarlah kesedihan dan sabda Nabi Besar Muhammad saw dalam hadits qudsi yang dikemukakan dalam berbagai Bab sebelum ini:
Dari
‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash r.a. bahwa Nabi
saw. membaca firman Allah tentang Ibrahim a.s.:
رَبِّ اِنَّہُنَّ اَضۡلَلۡنَ کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ ۚ فَمَنۡ تَبِعَنِیۡ
فَاِنَّہٗ مِنِّیۡ ۚ وَ مَنۡ عَصَانِیۡ
فَاِنَّکَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ
“Wahai Rabb-ku sesungguhnya
berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia, lalu barangsiapa
mengikutiku maka sesungguhnya ia termasuk golonganku, dan barangsiapa
mendurhakaiku maka sesungguhnya Maha Pengampun Maha Penyayang (Ibrahim [14]:37).
Dan ‘Isa a.s. berkata:
اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ
فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
“Kalau Engkau mengazab mereka,
maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan kalau Engkau mengampuni
mereka, maka sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Māidah [5]:118).
Kemudian beliau saw. mengangkat kedua tangan
seraya bersabda: “Wahai umatku…..umatku”
dan beliau saw. menangis. Allah Yang
Maha Mulia dan Maha Besar berfirman; “Wahai Jibril, pergilah kepada Muhammad – sedangkan Tuhan kamu lebih mengetahui -- tanyalah kepadanya, “Apakah yang menyebabkan engkau menangis?” Jibril a.s. datang kepada beliau lalu bertanya
kepada beliau, maka utusan Allah itu memberitahukan kepada-Nya mengenai apa yang disabdakan beliau -- padahal Allah lebih mengetahui – lalu
Allah Ta’ala berfirman kepada Jibril: “Pergillah
kepada Muhammad dan katakan, “Sesungguhnya Kami akan ridha terhadap umat engkau dan Kami
tidak berbuat buruk kepada engkau” (Muslim).
Kemudian:
Tsauban r.a., ia berkata: Rasulullah
saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah memperlihatkan bumi kepadaku lalu
aku melihat timur dan baratnya, dan sungguh kerajaan umatku akan sampai kepada
bumi yang ditampakkan kepadaku. Aku
diberi dua pembendaharaan yaitu merah
dan putih. Sungguh aku mohon kepada Tuhan-ku bagi umatku agar tidak dihancurkan
dengan tahun yang umum dan tidak dikuasai oleh musuh selain dari mereka
sendiri, lalu ia memusnahkan golongan mereka. Sesungguhnya Tuhan-ku berfirman, “Wahai Muhammad, sesungguhnya apabila Aku
menetapkan suatu ketetapan maka ketetapan itu
tidaklah tertolak. Dan sesungguhnya Aku memberi engkau mengenai umat
engkau tidak Aku hancurkan dengan tahun yang umum, dan Aku tidak menguasakan
musuh atas mereka selain dari mereka sendiri yang memusnahkan golongan mereka,
walau pun berkumpul atas mereka dari seluruh penjuru -- atau Dia berfirman: “dari seluruh penjuru bumi – sehingga sebagian mereka menghancurkan sebagian yang
lain, dan sebagian mereka menawan
terhadap sebagian yang lain” (Muslim).
Kesedihan Rasul Akhir Zaman
Jadi, kesedihan
seperti itu pulalah yang dirasakan oleh Rasul
Akhir zaman -- yakni Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. – yaitu Mirza
Guulam Ahmad a.s., pendiri Jemaat
Muslim Ahmadiyah -- ketika menyaksikan
keadaan umumnya umat Islam di Akhir zaman sebagai dampak buruk dari masa kemunduran panjang selama 1000
tahun (QS.32:6), firman-Nya:
اَلۡمُلۡکُ
یَوۡمَئِذِۣ الۡحَقُّ لِلرَّحۡمٰنِ ؕ وَ کَانَ یَوۡمًا عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ
عَسِیۡرًا ﴿﴾ وَ یَوۡمَ یَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰی یَدَیۡہِ یَقُوۡلُ یٰلَیۡتَنِی
اتَّخَذۡتُ مَعَ الرَّسُوۡلِ سَبِیۡلًا ﴿﴾
یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِیۡلًالَقَدۡ
اَضَلَّنِیۡ عَنِ الذِّکۡرِ بَعۡدَ اِذۡ جَآءَنِیۡ ؕ وَ کَانَ الشَّیۡطٰنُ
لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا ﴿﴾ وَ
قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ
مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ
الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾
Kerajaan yang haq pada hari itu milik Yang Maha Pemurah, dan hari itu atas orang-orang kafir sangat
keras. Dan pada
hari itu orang zalim akan menggigit-gigit kedua tangannya lalu berkata: ”Wahai alangkah baiknya jika aku
mengambil jalan bersama dengan Rasul itu. Wahai celakalah aku, alangkah
baiknya seandainya aku tidak menjadikan
si fulan itu sahabat. Sungguh ia
benar-benar telah melalaikanku dari mengingat kepada Allah sesudah ia
datang kepadaku.” وَ کَانَ الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا -- Dan syaitan selalu
menelantarkan manusia. وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا
الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا -- Dan Rasul
itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku),
sesungguhnya kaumku telah menjadikan
Al-Quran ini sesuatu yang telah
ditinggalkan. وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ
عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا -- Dan demikianlah Kami telah
menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi
dari antara orang-orang yang
berdosa, dan cukuplah Rabb (Tuhan)
engkau sebagai pemberi petunjuk dan penolong
(Al-Furqān
[25]:27-33).
Ayat وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی
اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا --
“Dan Rasul itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini sesuatu
yang telah ditinggalkan.“ dengan sangat tepat sekali dapat dikenakan
kepada mereka yang menamakan diri
orang-orang Muslim tetapi telah menyampingkan Al-Quran dan telah melemparkannya ke belakang.
Barangkali belum pernah terjadi selama 14 abad ini di mana Al-Quran demikian rupa diabaikan dan dilupakan oleh orang-orang Muslim
seperti dewasa ini. Ada sebuah hadits Nabi Besar Muhammad saw. yang mengatakan: “Satu saat akan datang kepada kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari
Islam melainkan namanya dan dari Al-Quran melainkan kata-katanya” (Baihaqi, Syu’ab ul-iman). Sungguh
masa sekarang di Akhir Zaman inilah
saat yang dimaksudkan ayat tersebut.
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan Semua Rasul Allah Sebelum Nabi
Besar Muhammad Saw. Telah Wafat
Dari sekian banyak pendangkalan mengenai Al-Quran yang sangat merugikan Islam dan umat
Islam adalah mengenai Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. yang karena keliru menafsirkan kata rafa’a (mengangkat) mengenai Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dalam surah An-Nisa ayat 158-159 dan keliru menafsirkan sabda Nabi Besar
Muhammad saw. mengenai makna kata nazala (turun) berkenaan kedatangan
kedua kali Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.,
sehingga akibatnya umat Islam tidak mampu membendung gerakan Kristenisasi yang
dilakukan para misisonaris Kristen dari
Eropa yang disebut Nabi Besar
Muhammad saw. sebagai fitnah Dajjal -- yang menurut Nabi
Besar Muhammad saw. kecuali Imam Mahdi a.s. – tidak ada pihak lainnya
yang mampu membendung gerakannya karena
didukung oleh keberhasilan duniawi Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog – QS.21:97; QS.Wahyu
20:7-10) yakni bangsa-bangsa Kristen
dari Eropa yang bermata biru
(QS.20:103-105).
Dengan tegas Allah Swt. menyatakan
dalam Al-Quran menyatakan bahwa semua Nabi
Allah yang diutus sebelum Nabi
Besar Muhammad saw. – tanpa kecuali --
telah wafat, termasuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., sebagaimana firman-Nya
kepada Nabi Besar Muhammad saw:
وَ مَا
جَعَلۡنَا لِبَشَرٍ مِّنۡ قَبۡلِکَ الۡخُلۡدَ ؕ اَفَا۠ئِنۡ مِّتَّ
فَہُمُ الۡخٰلِدُوۡنَ ﴿﴾ کُلُّ نَفۡسٍ ذَآئِقَۃُ الۡمَوۡتِ ؕ وَ نَبۡلُوۡکُمۡ بِالشَّرِّ وَ
الۡخَیۡرِ فِتۡنَۃً ؕ وَ اِلَیۡنَا تُرۡجَعُوۡنَ ﴿﴾
Dan Kami sekali-kali tidak menjadikan seorang manusia pun sebelum
engkau hidup kekal, maka apakah jika
engkau mati maka mereka itu akan hidup kekal? کُلُّ نَفۡسٍ ذَآئِقَۃُ الۡمَوۡتِ -- Setiap jiwa akan merasai kematian, dan Kami menguji kamu dengan keburukan serta kebaikan sebagai percobaan, dan kepada Kami-lah kamu akan dikembalikan. (Al-Anbiya [21]:35-36).
Sebagaimana semua rasul Allah yang diutus sebelum Nabi Besar Muhammad saw. telah wafat – termasuk Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. – demikian pula
halnya semua syariat dan sistem agama yang bermacam-macam di masa
sebelum Nabi Besar Muhammad saw. telah ditetapkan dan ditakdirkan Allah Swt. untuk mengalami kehancuran dan kematian
ruhani (QS.2:107), dan hanyalah syariat
Nabi Besar Muhammad saw. - syariat Islam (Al-Quran) - sajalah yang ditakdirkan akan hidup dan akan berlaku terus sampai akhir zaman karena selalu mendapat jaminan pemeliharaan Allah Swt. (QS.15:10).
Setiap Umat Memiliki Ajal
(Batas Waktu) dan Mengalmi Masa “Pikun”
Ayat 35 dapat pula mengandung
maksud bahwa tidak seorang pun yang kebal
terhadap kehancuran dan kematian jasmani, bahkan Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. dan Nabi Besar
Muhammad asw. pun tidak, sebab kekekalan
dan keabadian merupakan sifat-sifat
khusus Allah Swt..
Dalam surah lain Allah Swt.
menyatakan bahwa barangsiapa yang dipanjangkan
umurnya pasti akan mengalami keadaan
pikun, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ اِنۡ کُنۡتُمۡ فِیۡ
رَیۡبٍ مِّنَ الۡبَعۡثِ فَاِنَّا
خَلَقۡنٰکُمۡ مِّنۡ تُرَابٍ ثُمَّ مِنۡ
نُّطۡفَۃٍ ثُمَّ
مِنۡ عَلَقَۃٍ ثُمَّ
مِنۡ مُّضۡغَۃٍ
مُّخَلَّقَۃٍ وَّ غَیۡرِ مُخَلَّقَۃٍ لِّنُبَیِّنَ لَکُمۡ ؕ وَ نُقِرُّ فِی الۡاَرۡحَامِ
مَا نَشَآءُ اِلٰۤی اَجَلٍ مُّسَمًّی ثُمَّ نُخۡرِجُکُمۡ طِفۡلًا
ثُمَّ لِتَبۡلُغُوۡۤا اَشُدَّکُمۡ ۚ وَ مِنۡکُمۡ مَّنۡ یُّتَوَفّٰی
وَ مِنۡکُمۡ مَّنۡ یُّرَدُّ اِلٰۤی اَرۡذَلِ الۡعُمُرِ لِکَیۡلَا
یَعۡلَمَ مِنۡۢ
بَعۡدِ عِلۡمٍ شَیۡئًا ؕ وَ تَرَی الۡاَرۡضَ
ہَامِدَۃً فَاِذَاۤ اَنۡزَلۡنَا
عَلَیۡہَا الۡمَآءَ اہۡتَزَّتۡ وَ رَبَتۡ وَ اَنۡۢبَتَتۡ
مِنۡ کُلِّ
زَوۡجٍۭ بَہِیۡجٍ ﴿﴾
Hai manusia, jika kamu dalam keraguan mengenai kebangkitan kembali, maka
sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu
dari tanah, kemudian dari setetes
mani, kemudian dari segumpal darah,
kemudian dari sepotong daging,
sebagian telah berbentuk dan
sebagian lagi belum berbentuk,
supaya Kami menjelaskan kepada kamu. Dan Kami menempatkan di dalam rahim-rahim sebagaimana yang Kami kehendaki
sampai masa yang telah ditentukan, kemudian
Kami keluarkan kamu sebagai bayi, lalu kamu
mencapai kedewasaanmu. Dan di antara
kamu ada yang diwafatkan, dan sebagian dari kamu ada yang dipanjangkan umurnya hingga pikun,
sehingga ia tidak mengetahui sedikit pun
setelah ia mengetahui. Dan engkau
melihat bumi gersang lalu apabila ke atasnya Kami menurunkan air ia bergerak dan berkembang dan menumbuhkan segala macam tumbuhan yang
indah. (Al-Hājj [22]:6).
Mengenai ayat
“dan
sebagian dari kamu ada yang dipanjangkan
umurnya hingga pikun, sehingga ia
tidak mengetahui sedikit pun setelah ia mengetahui” dalam surah lain Allah Swt. berfirman:
وَ اللّٰہُ
خَلَقَکُمۡ ثُمَّ یَتَوَفّٰىکُمۡ ۟ۙ وَ مِنۡکُمۡ مَّنۡ یُّرَدُّ
اِلٰۤی اَرۡذَلِ الۡعُمُرِ لِکَیۡ
لَا یَعۡلَمَ بَعۡدَ عِلۡمٍ شَیۡئًا ؕ
اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌ قَدِیۡرٌ ﴿٪﴾
Dan Allah menciptakan kamu, kemudian Dia mewafatkanmu, dan dari
antara kamu ada yang dikembalikan kepada keadaan usia yang terlemah
supaya mereka tidak mengetahui lagi setelah berilmu, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Kuasa. (AN-nahl [16]:71).
Firman-Nya lagi:
وَ مَنۡ
نُّعَمِّرۡہُ نُنَکِّسۡہُ فِی الۡخَلۡقِ ؕ اَفَلَا یَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya pasti Kami
mengembalikannya pada awal
penciptaan, maka tidakkah mereka mau berfikir? (Yā Sīn [36]:69).
Menurut Allah Swt. bahwa
segala sesuatu yang hidup pasti
mengalami kerusakan dan kemunduran. Hukum Ilahi
(Sunnatullah) ini berlaku bagi bangsa-bangsa seperti halnya bagi individu
(perorangan) manusia. Yakkni seperti halnya individu (orang), demikian juga bangsa-bangsa
pun berkembang, tumbuh dan setelah menemukan
bentuk yang sepenuh-penuhnya dan kemudian menjadi mangsa kerusakan, kemunduran,
serta kematian, termasuk kaum Kristen, sebagaimana dikemukakan
dalam perumpamaan berikut ini,
firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الۡاِنۡسَانُ مَا غَرَّکَ بِرَبِّکَ
الۡکَرِیۡمِ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡ
خَلَقَکَ فَسَوّٰىکَ فَعَدَلَکَ ۙ﴿﴾ فِیۡۤ اَیِّ صُوۡرَۃٍ مَّا شَآءَ
رَکَّبَکَ ؕ﴿﴾ کَلَّا بَلۡ تُکَذِّبُوۡنَ بِالدِّیۡنِ ۙ﴿﴾ وَ
اِنَّ عَلَیۡکُمۡ لَحٰفِظِیۡنَ ﴿ۙ﴾ کِرَامًا
کَاتِبِیۡنَ ﴿ۙ﴾ یَعۡلَمُوۡنَ مَا تَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾
Hai manusia, apa yang telah memperdayai engkau mengenai
Rabb (Tuhan) engkau Yang Maha Mulia. Yang telah
menciptakan engkau, kemudian menyempurnakan
engkau, lalu menata tubuh engkau dengan serasi? Dalam bentuk apa yang Dia ke-hendaki Dia menyusun
tubuh engkau. Tidak hanya
itu, bahkan kamu mendustakan
pembalasan. Dan sesungguhnya atas kamu ada pengawas-pengawas, pencatat-pencatat
mulia, mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan. (An-Infithar
[82]:7-13).
Makna Lain Seruan “Hai Manusia”
Seruan “Hai
manusia” dalam ayat یٰۤاَیُّہَا الۡاِنۡسَانُ
مَا غَرَّکَ بِرَبِّکَ الۡکَرِیۡمِ -- “Hai manusia,
apa yang telah memperdayai engkau
mengenai Rabb (Tuhan) engkau Yang
Maha Mulia“ dalam ayat ini
bersama-sama beberapa ayat berikutnya sapaan itu ditujukan kepada bangsa-bangsa
Kristen, khususnya para tokoh
dan penganjur ajaran Kristen yang keliru itu. Mereka akhirnya akan menyadari akan kekejian dan keburukan ajaran
palsu mereka itu berkenaan “Trinitas”
dan “Penebusan Dosa” melalui “Kematian terkutuk” Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. di tiang salib.
Makna ayat الَّذِیۡ خَلَقَکَ فَسَوّٰىکَ فَعَدَلَکَ -- “Yang telah menciptakan engkau, kemudian menyempurnakan engkau, lalu
menata tubuh engkau dengan serasi? فِیۡۤ اَیِّ صُوۡرَۃٍ مَّا شَآءَ
رَکَّبَکَ -- Dalam bentuk apa yang Dia kehendaki Dia menyusun tubuh
engkau.” Ayat ini mengisyaratkan
kepada keberhasilan duniawi bangsa-bangsa Kristen dari Eropa, yakni Allah
Swt. telah menganugerahi manusia kekuatan-kekuatan
dan kemampuan-kemampuan fitri agung
agar ia dapat naik ke puncak kemuliaan
ruhani setinggi-tingginya, termasuk dalam urusan kehidupan duniawi.
Jadi, keberhasilan kehidupan duniawi bangsa-bangsa Kristen dari Eropa – yakni Ya’juj (Gog) dan Ma’juj
(Magog – QS.21:97) -- merupakan bukti
kebenaran firman Allah Swt. tersebut. Ada pun ayat-ayat selanjutnya membantah ajaran Kristen mengenai Trinitas” dan “Penebusan Dosa” melalui “Kematian
terkutuk” Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di tiang
salib, karena manusia dilahirkan sebagai makhluk bebas dan bertanggung-jawab atas keputusan-keputusan
yang diambilnya dan perbuatan-perbuatan yang
dilakukannya itu dicatat oleh “Pencatat-pencatat
mulia” yaitu para malaikat pencatat amal
manusia – yang baik mau pun yang buruk -- firman-Nya:
اِنَّ الۡاَبۡرَارَ لَفِیۡ نَعِیۡمٍ ﴿ۚ﴾ وَ
اِنَّ الۡفُجَّارَ لَفِیۡ جَحِیۡمٍ
﴿ۚۖ﴾ یَّصۡلَوۡنَہَا
یَوۡمَ الدِّیۡنِ ﴿﴾ وَ
مَا ہُمۡ عَنۡہَا بِغَآئِبِیۡنَ ﴿ؕ﴾ وَ مَاۤ اَدۡرٰىکَ مَا
یَوۡمُ الدِّیۡنِ ﴿ۙ﴾ ثُمَّ مَاۤ
اَدۡرٰىکَ مَا یَوۡمُ الدِّیۡنِ ﴿ؕ﴾ یَوۡمَ لَا تَمۡلِکُ نَفۡسٌ لِّنَفۡسٍ شَیۡئًا ؕ وَ الۡاَمۡرُ یَوۡمَئِذٍ
لِّلّٰہِ ﴿٪﴾
Sesungguhnya
orang-orang yang berbuat kebajikan
niscaya dalam kenikmatan. Dan sesungguhnya orang-orang berdosa niacaya tinggal di dalam Jahannam. Mereka
akan masuk ke dalamnya pada Hari Pembalasan. Dan mereka
sekali-kali tidak akan lolos darinya.
وَ مَاۤ اَدۡرٰىکَ مَا یَوۡمُ الدِّیۡنِ -- Dan apakah
yang engkau tahu apa Hari Pembalasan
itu? ثُمَّ مَاۤ اَدۡرٰىکَ مَا یَوۡمُ الدِّیۡنِ -- Kemudian, apakah
yang membuat engkau tahu apa Hari Pembalasan itu? یَوۡمَ لَا تَمۡلِکُ نَفۡسٌ لِّنَفۡسٍ شَیۡئًا ؕ وَ الۡاَمۡرُ یَوۡمَئِذٍ
لِّلّٰہِ -- Pada
hari itu tidak ada jiwa mempunyai kekuatan sedikitpun untuk memberi
manfaat bagi jiwa lain! Dan segala keputusan pada hari itu kepunyaan Allah. (An-Infithār
[82]:7-20).
Jadi, sebagaimana keberhasilan bangsa-bangsa Kristen dari Eropa karena mereka mematuhi
rangkaian hukum sebab-akibat yang telah ditetapkan
Allah Swt. berkenaan penciptaan alam semesta jasmani ini, begitu
juga dalam masalah keruhanian pun belaku hukum
yang sama, yakni setiap orang
akan memikul
bebannya sendiri, firman-Nya:
قُلۡ اَغَیۡرَ
اللّٰہِ اَبۡغِیۡ رَبًّا وَّ ہُوَ رَبُّ کُلِّ شَیۡءٍ ؕ وَ لَا تَکۡسِبُ کُلُّ
نَفۡسٍ اِلَّا عَلَیۡہَا ۚ وَ لَا تَزِرُ
وَازِرَۃٌ وِّزۡرَ اُخۡرٰی ۚ ثُمَّ اِلٰی رَبِّکُمۡ مَّرۡجِعُکُمۡ
فَیُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ فِیۡہِ تَخۡتَلِفُوۡنَ﴿﴾
Katakanlah: ”Apakah aku akan mencari Rabb (Tuhan)
yang bukan-Allah,
padahal Dia-lah Rabb (Tuhan) segala
sesuatu?” Dan tiada jiwa
mengupayakan sesuatu melainkan akan
menimpa dirinya, dan tidak pula seorang pe-mikul beban memikul
beban orang lain. Kemudian
kepada Rabb (Tuhan) kamu tempat kembalimu, maka Dia akan memberitahu kamu apa-apa yang
mengenainya kamu berselisih.
(Al-An’ām
[6]6:165) lihat pula QS.17:16;
QS.35:19; QS.39:8; QS.53:39-41.
Seperti halnya ayat-ayat QS.17:16;
QS.53:40-41, ayat ini mengandung sanggahan
keras terhadap ajaran Penebusan Dosa
dan secara tegas menarik perhatian terhadap kenyataan bahwa setiap orang harus memikul salibnya
sendiri, yaitu mempertanggungjawabkan amal-perbuatannya sendiri. Pengorbanan dari siapa pun sebagai pengganti tidak akan memberi manfaat.
Pentingnya Kesinambungan Pengutusan
Rasul Allah Dari Kalangan Bani Adam
Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah Allah Swt. berfirman mengenai
pentingnya kesinambungan pengutusan para
rasul Allah di kalangan Bani Adam, guna menimbulkan kebangkitan ruhani baru di
kalangan umat manusia ketika suatu bangsa atau suatu umat
beragama telah mengalami keadaan pikun
-- terutama dalam masalah Tauhid
Ilahi -- firman-Nya:
وَ لِکُلِّ
اُمَّۃٍ اَجَلٌ ۚ فَاِذَا جَآءَ
اَجَلُہُمۡ لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ
سَاعَۃً وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ
اٰدَمَ اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ
رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ
فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا
خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan bagi tiap-tiap umat ada batas waktu,
maka apabila telah datang batas waktunya,
mereka tidak dapat mengundurkannya
barang sesaat pun dan tidak pula
dapat memajukannya. یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ
یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ
عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ -- Wahai Bani
Adam, jika datang kepada kamu rasul-rasul dari antara kamu
yang membacakan Ayat-ayat-Ku
kepadamu, maka barangsiapa bertakwa
dan memperbaiki diri, tidak akan ada ketakutan menimpa mereka
dan tidak pula mereka akan bersedih hati.
وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا
وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ
اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ -- Dan
orang-orang yang men-dustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling darinya, mereka itu penghuni Api, mereka kekal
di dalamnya. (Al-A’raf [7]:35-37).
Jadi, menurut Allah Swt. proses perkembangan
suatu bangsa (kaum) sama dengan perkembangan seorang manusia – yakni mengalami masa anak-anak, mengalami masa dewasa dan
setelah mengalami masa puncak
perkembangan tubuh dan jiwanya
lalu ia
mengalami kemunduran dalam
segi fisik mau pun jiwa
akhirnya pikun -- firman-Nya:
مَا خَلۡقُکُمۡ
وَ لَا بَعۡثُکُمۡ اِلَّا کَنَفۡسٍ
وَّاحِدَۃٍ ؕ اِنَّ اللّٰہَ
سَمِیۡعٌۢ بَصِیۡرٌ ﴿﴾
Sekali-kali tidaklah penciptaan kamu dan tidak pula
kebangkitanmu
melainkan seperti penciptaan
suatu jiwa. Sesungguhnya
Allah Maha Mendengar, Maha Melihat. (Luqman [31]:29).
Demikian pula halnya dengan umat Islam dari kalangan Bani Isma’il di Timur Tengah – yang menggantikan kedudukan Bani Israil sebagai “kaum terpilih” sebelumnya (QS.7:35;
QS.6:166) – mereka mengalami Sunnatullāh
yang sama dengan perkembangan
dan kemunduran yang dialami Bani Israil, sebagaimana yang diperingatkan Allah Swt. dalam firman-Nya:
اَلَمۡ
یَاۡنِ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَنۡ
تَخۡشَعَ قُلُوۡبُہُمۡ لِذِکۡرِ
اللّٰہِ وَ مَا نَزَلَ مِنَ الۡحَقِّ ۙ وَ
لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ فَطَالَ
عَلَیۡہِمُ الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ
قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ کَثِیۡرٌ مِّنۡہُمۡ
فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾ اِعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ
مَوۡتِہَا ؕ قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Apakah belum sampai waktu bagi orang-orang yang
beriman, bahwa hati mereka tunduk
untuk mengingat Allah dan mengingat
kebenaran yang telah turun kepada
mereka, dan mereka tidak menjadi seperti orang-orang yang diberi kitab
sebelumnya, فَطَالَ
عَلَیۡہِمُ الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ
قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ کَثِیۡرٌ مِّنۡہُمۡ
فٰسِقُوۡنَ -- maka zaman
kesejahteraan menjadi panjang
atas mereka lalu hati
mereka menjadi keras, dan kebanyakan
dari mereka menjadi durhaka? Ketahuilah,
bahwasanya Allah menghidupkan
bumi sesudah matinya. Sungguh Kami
telah menjelaskan Tanda-tanda kepada kamu supaya kamu mengerti. (Al-Hadīd [57]:17-18).
Persamaan Bani Israil dan Bani Isma’il Mendustakan
dan Menentang Al-Masih yang Dijanjikan (Masih Mau’ud a.s.)
Jadi, betapa
akibat kekeliruan memahami kata rafa’a
(mengangkat) dan nazala (turun) berkenaan peristiwa
penyaliban
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.4:158-159) dan
mengenai kedatangannya lagi maka
akibatnya
telah membuat umumnya umat Islam
telah menjadi penentang Masih Mau’ud a.s.
atau misal nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
(QS.43:58) -- sebagaimana sebelumnya kaum Yahudi telah mendustakan
dan menentang
–
bahkan berusaha membunuh beliau
melalui penyaliban, yang kemisteriusannya
telah menggelincirkan kaum Yahudi,
kaum Nasrani, sebagaimana firman-Nya
dalam ayat yang mutasyābihāt berikut
ini:
وَّ قَوۡلِہِمۡ
اِنَّا قَتَلۡنَا الۡمَسِیۡحَ عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ رَسُوۡلَ اللّٰہِ ۚ وَ مَا
قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ ؕ وَ اِنَّ الَّذِیۡنَ اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ لَفِیۡ
شَکٍّ مِّنۡہُ ؕ مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ
اِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ یَقِیۡنًۢا ﴿﴾ۙ بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا
حَکِیۡمًا﴿﴾
Dan karena
ucapan mereka: “Sesungguhnya kami
telah membunuh Al-Masih, Isa Ibnu
Maryam, Rasul Allah,” padahal mereka tidak membunuhnya secara
biasa dan tidak pula mematikannya
melalui penyaliban, وَ لٰکِنۡ
شُبِّہَ لَہُمۡ -- akan tetapi ia disamarkan kepada
mereka seperti telah mati di atas salib. Dan sesungguhnya orang-orang yang
berselisih dalam hal ini niscaya ada
dalam keraguan mengenai ini, mereka tidak memiliki pengetahuan yang
pasti mengenai ini melainkan menuruti dugaan belaka dan mereka tidak yakin telah membunuhnya. بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ
اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا -- Bahkan Allah telah mengangkatnya kepada-Nya dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana (An-Nisa [4]:158-159).
Ringkasan makna dari kedua ayat tersebut
adalah bahwa para pemuka Yahudi berusaha menghinakan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
dengan cara berusaha membunuh beliau
melalui penyaliban, sebab menurut hukum Taurat barangsiapa mati tergantung di tiang salib merupakan kutuk
baginya (Ulangan 21:23).
Tetapi Allah Swt – sesuatu rencana-Nya
yang sangat misterius (QS.3:53-55)-- memang membiarkan
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mengalami pemakuan
di tiang salib, tetapi tidak
sampai mengalami kematian melainkan diturunkan dari tiang salib dalam
keadaan “mati suri” (pingsan berat), sesuai
firman-Nya:
وَ مَکَرُوۡا وَ
مَکَرَ اللّٰہُ ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan mereka, yakni musuh Al-Masih, merancang makar buruk dan Allah
pun merancang makar tandingan dan Allah
sebaik-baik Perancang makar. (Âli ‘Imran [3]:55).
Orang-orang Yahudi telah merencanakan supaya Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. harus mati terkutuk
di atas salib (Ulangan 21:24),
tetapi rencana Allah Swt. adalah
beliau harus selamat dari kematian semacam itu. Rencana orang-orang Yahudi gagal dan rencana Ilahi berhasil, sebab beliau tidak mati di atas salib, melainkan diturunkan dalam keadaan hidup, dan wafat secara wajar di Kasymir
(QS.32:51) dalam usia sangat lanjut (120
tahun), dan jauh dari tempat beliau mengalami peristiwa penyaliban.
Jadi, makna
kata rafa’a berkenaan dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
dalam QS.4:159 pada hakikatnya mengisyaratkan kepada penyelamatan Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. secara misterius dalam “duel makar” dari upaya menghinakan Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. yang dilakukan para pemuka
Yahudi, yakni para pemuka Yahudi gagal
membunuh Nabi Isa Ibnu maryam a.s. melalui penyaliban, sebagaimana firman-Nya:
بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ
کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا -- Bahkan Allah telah mengangkatnya kepada-Nya dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana (An-Nisa [4]:159). Jadi, bukan mengangkat Nabi isa Ibnu Maryam
a.s. hidup-hidup ke atas langit atau
kepada Allah Swt. sebab Allah Swt. – na’udzubillāhi
min dzālika -- tidak memiliki tempat tinggal, termasuk di langit.
Kemudian mengenai kedatangan kedua kali Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Nabi Besar Muhammad
saw. bersabda:
Kayfa antum idzā nazala- bnu maryama fīkum wa imāmukum minkum -- Bagaimana sikap kalian jika turun Ibnu Maryam di kalangan kalian dan menjadi imam di kalangan kalian?” (Muslim).
Dalam hadits
tersebut sama sekali tidak ada perkataan
minas
sama’i (dari langit).
Menggambarkan Kemuliaan dan Sangat Bermanfaat
Makna nazala
(turun) berkenaan kedatangan
kedua kali Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. – yakni misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58) -- bukan dalam makna harfiah melainkan kiasan, untuk menggambarkan kemuliaan (kepentingan) dari obyek yang mengenainya digunakan kata nazala (nuzul), contohnya pakaian
dan besi yang dalam kenyataannya tidak diturunkan Allah Swt. dari langit,
berikut firman-Nya mengenai pakaian:
یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ
قَدۡ اَنۡزَلۡنَا عَلَیۡکُمۡ لِبَاسًا یُّوَارِیۡ سَوۡاٰتِکُمۡ وَ رِیۡشًا ؕ
وَ لِبَاسُ التَّقۡوٰی ۙ ذٰلِکَ خَیۡرٌ ؕ ذٰلِکَ مِنۡ اٰیٰتِ اللّٰہِ لَعَلَّہُمۡ
یَذَّکَّرُوۡنَ ﴿﴾
Wahai Bani Adam, sungguh
Kami telah menurunkan kepada kamu
pakaian penutup auratmu dan sebagai
perhiasan, dan pakaian takwa itulah yang terbaik, yang demikian
itu ada-lah sebagian dari Tanda-tanda
Allah, supaya mereka mendapat
nasihat. (Al-A’rāf [7]:27).
Kemudian mengenai pentingnya dan manfaat besi yang sangat banyak Allah Swt. berfirman:
لَقَدۡ اَرۡسَلۡنَا
رُسُلَنَا بِالۡبَیِّنٰتِ وَ اَنۡزَلۡنَا مَعَہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡمِیۡزَانَ لِیَقُوۡمَ النَّاسُ
بِالۡقِسۡطِ ۚ وَ اَنۡزَلۡنَا الۡحَدِیۡدَ
فِیۡہِ بَاۡسٌ شَدِیۡدٌ وَّ مَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَ لِیَعۡلَمَ اللّٰہُ مَنۡ یَّنۡصُرُہٗ وَ رُسُلَہٗ بِالۡغَیۡبِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ قَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿٪﴾
Sungguh Kami
benar-benar telah mengirimkan rasul-rasul Kami dengan Tanda-tanda yang nyata dan Kami menurunkan beserta mereka Kitab dan neraca supaya
manusia dapat menegakkan keadilan, وَ اَنۡزَلۡنَا الۡحَدِیۡدَ -- dan Kami menurunkan besi, yang di
dalamnya ada bahan-bahan untuk peperangan dahsyat dan berbagai manfaat bagi manusia, dan supaya Allah mengetahui siapa yang
menolong-Nya dan rasul-rasul-Nya
dalam keadaan gaib. Sesungguhnya Allah
Maha Kuat, Maha Perkasa. (Al-Hadīd
[57]:26).
Demikian juga mengenai binatang
ternak pun Allah Swt. menggunakan kata “nazala”
(nuzul), firman-Nya:
خَلَقَکُمۡ
مِّنۡ نَّفۡسٍ وَّاحِدَۃٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنۡہَا
زَوۡجَہَا وَ اَنۡزَلَ لَکُمۡ مِّنَ
الۡاَنۡعَامِ ثَمٰنِیَۃَ اَزۡوَاجٍ ؕ یَخۡلُقُکُمۡ
فِیۡ بُطُوۡنِ
اُمَّہٰتِکُمۡ خَلۡقًا مِّنۡۢ بَعۡدِ خَلۡقٍ فِیۡ ظُلُمٰتٍ ثَلٰثٍ ؕ ذٰلِکُمُ
اللّٰہُ رَبُّکُمۡ لَہُ الۡمُلۡکُ ؕ لَاۤ اِلٰہَ
اِلَّا ہُوَ ۚ فَاَنّٰی تُصۡرَفُوۡنَ ﴿﴾
Dia menciptakan kamu dari satu jiwa
kemudian darinya Dia menjadikan pasangannya,
وَ اَنۡزَلَ لَکُمۡ مِّنَ الۡاَنۡعَامِ ثَمٰنِیَۃَ اَزۡوَاجٍ -- dan Dia menurunkan bagi
kamu delapan pasang binatang
ternak. Dia menciptakan kamu dalam
perut ibu-ibumu kejadian demi kejadian melalui tiga kegelapan. Demikianlah Allah, Rabb (Tuhan) kamu,
kepunyaan-Nya-lah kerajaan. Tidak ada Tuhan selain Dia, maka kemanakah kamu dipalingkan? (Az-Zumar [39]:7).
(Bersambung)
ooo
Rujukan: The
Holy Quran
Editor : Malik
Ghulam Farid
Pajajaran Anyar, 1 Agustus 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar