Bismillāhirrahmānirrahīm
KHAZANAH AL-QURAN
Bab
22
AKIBAT MENGERIKAN
KETIDAK-BERSYUKURAN KAUM SABA MENGHANCURKAN KESUKSESAN DUNIAWI MEREKA & HUBUNGAN SIFAT RAHMÂNIYAT (MAHA PEMURAH ) ALLAH SWT. DENGAN PENGKHIDMATAN
ALAM SEMESTA KEPADA UMAT MANUSIA
Oleh
Ki
Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir bab sebelumnya
telah dikemukakan topic: Keberhasilan Bangsa
Saba’ Mengubah Wilayah Gurun Pasir
Menjadi Wilayah Subur &
Penyebab Kehancuran Negeri
Saba, sebagaimana
firman Allah Swt.:
لَقَدۡ کَانَ
لِسَبَاٍ فِیۡ مَسۡکَنِہِمۡ اٰیَۃٌ ۚ
جَنَّتٰنِ عَنۡ یَّمِیۡنٍ وَّ شِمَالٍ ۬ؕ کُلُوۡا مِنۡ رِّزۡقِ رَبِّکُمۡ وَ
اشۡکُرُوۡا لَہٗ ؕ بَلۡدَۃٌ طَیِّبَۃٌ
وَّ رَبٌّ غَفُوۡرٌ ﴿﴾ فَاَعۡرَضُوۡا
فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ سَیۡلَ الۡعَرِمِ وَ بَدَّلۡنٰہُمۡ بِجَنَّتَیۡہِمۡ
جَنَّتَیۡنِ ذَوَاتَیۡ اُکُلٍ خَمۡطٍ وَّ
اَثۡلٍ وَّ شَیۡءٍ مِّنۡ سِدۡرٍ قَلِیۡلٍ ﴿﴾ ذٰلِکَ
جَزَیۡنٰہُمۡ بِمَا کَفَرُوۡا ؕ وَ ہَلۡ
نُجٰزِیۡۤ اِلَّا الۡکَفُوۡرَ ﴿﴾
Sungguh bagi
kaum Saba' benar-benar
terdapat satu Tanda besar di tanah air mereka, yaitu dua kebun
di sebelah kanan dan di kiri sungai. Kami berfirman: “Makanlah rezeki dari Rabb
(Tuhan) kamu dan berterima kasihlah
kepada-Nya. بَلۡدَۃٌ
طَیِّبَۃٌ وَّ رَبٌّ غَفُوۡرٌ -- Negeri
yang indah dan Rabb (Tuhan) Maha
Pengampun.” فَاَعۡرَضُوۡا فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ سَیۡلَ الۡعَرِمِ
وَ بَدَّلۡنٰہُمۡ بِجَنَّتَیۡہِمۡ جَنَّتَیۡنِ ذَوَاتَیۡ اُکُلٍ خَمۡطٍ وَّ اَثۡلٍ وَّ شَیۡءٍ مِّنۡ
سِدۡرٍ قَلِیۡلٍ -- Tetapi mereka
itu berpaling maka Kami kirimkan
kepada mereka banjir dahsyat yang membinasakan, dan Kami menganti kedua kebun mereka itu dengan dua kebun yang berbuah
buah-buahan pahit, pohon cemara
dan sedikit pohon bidara. ذٰلِکَ جَزَیۡنٰہُمۡ بِمَا کَفَرُوۡا ؕ وَ ہَلۡ نُجٰزِیۡۤ اِلَّا الۡکَفُوۡرَ -- Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena mereka tidak bersyukur. Dan tidaklah
Kami membalas seperti itu kecuali kepada orang-orang yang sangat tidak bersyukur. (As-Sabā’ [34]:16-18.
Mengubah Wilayah Gurun Pasir Menjadi Wilayah Subur
Bangsa Saba' adalah bangsa
yang sangat makmur lagi berkebudayaan tinggi, dan kepadanya Allah Swt. telah
menganugerahkan berlimpah-limpah
kehidupan yang serba senang dan sentausa.
Seluruh negeri dijadikan subur sekali
tanahnya dengan pembuatan
bendungan-bendungan dan bangunan-bangunan
irigasi lainnya serta sarat dengan kebun-kebun
dan sungai-sungai.
Dari antara bangunan-bangunan umum yang didirikan guna membantu pertanian, seperti pengempang-pengempang dan bendungan-bendungan
yang paling tersohor, ialah Bendungan Ma’ārib
(Encyclopaedia of Islam,
Jilid IV, hlm. 16). Tirmidzi menyebut
sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Farwah bin Malik, bahwa tatkala ditanya,
adakah Saba' itu sebuah negeri
ataukah seorang perempuan, konon Nabi Besar Muhammad saw. bersabda: “Itu bukan nama sebuah negeri atau pun nama
seorang perempuan melainkan nama seorang
laki-laki asal Yaman yang mempunyai 10orang anak laki-laki, 6 di antaranya
menetap terus di Yaman, sedang 4 orang selebihnya pergi ke Siria dan bermukim
di sana.” (Taj-ul-‘Arus).
Makna ‘arim
dalam ayat: فَاَعۡرَضُو فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ سَیۡلَ الۡعَرِمِ -- “Tetapi mereka itu berpaling maka Kami kirimkan kepada mereka banjir dahsyat
yang membinasakan“ berarti suatu bendungan atau beberapa bendungan yang dibangun
di lembah-lembah atau di alur-alur sungai berarus deras; atau
sebuah sungai deras yang daya desak arus airnya tidak tertahankan;
atau hujan lebat (Lexicon Lane).
Ayat tersebut mengisyaratkan kepada
akibat ketidak-bersyukuran kaum Saba
terhadap Sifat Rahmāniyat (Maha
Pemurah) Allah Swt. (QS.14:8; QS.4:148), yakni
suatu banjir hebat telah
menyebabkan Bendungan Ma’ārib, yang
menjadi andalan bangsa Saba’ untuk kemakmuran mereka, roboh dan menggenangi
seluruh wilayah sehingga menyebabkan kehancuran
yang luas jangkauannya.
Akibatnya, sebuah negeri yang sebelumnya penuh
dengan taman-taman asri, sungai-sungai dan bangunan-bangunan anggun yang artistik
telah berubah menjadi belantara yang
membentang luas. Bendungan itu
kira-kira dua mil panjangnya dan 120 kaki tingginya.
Bendungan raksasa Al-Ma’ārib itu hancur
kira-kira pada abad pertama atau kedua sebelum Masehi (Palmer). Itulah makna ayat:
فَاَعۡرَضُوۡا فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ سَیۡلَ الۡعَرِمِ -- “Tetapi mereka itu berpaling maka Kami kirimkan kepada mereka banjir dahsyat
yang membinasakan.“ (As-Sabā’
[34]:17), sesuai dengan ucapan Nabi Musa a.s. dalam firman-Nya:
وَ اِذۡ تَاَذَّنَ
رَبُّکُمۡ لَئِنۡ شَکَرۡتُمۡ
لَاَزِیۡدَنَّکُمۡ وَ لَئِنۡ کَفَرۡتُمۡ اِنَّ عَذَابِیۡ لَشَدِیۡدٌ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Rabb (Tuhan) engkau
mengumumkan: ”Jika kamu benar-benar bersyukur niscaya
akan Ku-limpahkan lebih banyak karunia
kepada kamu, tetapi jika kamu
benar-benar tidak bersyukur
sesungguhnya azab-Ku sungguh
sangat keras.” (Ibrahim [14]:8).
Makna “Bersyukur” dan “Tidak
Bersyukur” Kepada Allah Swt.
Syukr (syukur) itu tiga macam: (1)
Dengan hati atau pikiran, yaitu dengan satu pengertian yang tepat dalam hati
mengenai manfaat yang diperolehnya; (2) Dengan lidah, yaitu dengan memuji-muji,
menyanjung atau memuliakan orang yang berbuat kebaikan; dan (3) Dengan
anggota-anggota badan, yaitu dengan membalas kebaikan yang diterima setimpal
dengan jasa itu.
Syukr bersitumpu
pada lima dasar: (a) kerendahan hati dari orang yang menyatakan syukur
itu kepada dia yang kepadanya syukur itu dinyatakan, (b) kecintaan
terhadapnya; (c) pengakuan mengenai jasa yang dia berikan, (d)
sanjungan terhadapnya untuk itu; (e) tidak mempergunakan jasa itu dengan
cara yang ia (orang yang telah memberikannya) tidak akan menyukainya. Itulah syukr
dari pihak manusia.
Ada pun syukr dari pihak Allah Swt. ialah dengan mengampuni seseorang atau memujinya
atau merasa puas terhadapnya, berkemauan
baik untuknya atau senang
kepadanya, dan oleh karena itu merasa perlu memberi
imbalan atau mengganjarnya (Lexicon Lane).
Manusia hanya dapat benar-benar bersyukur
kepada Allah Swt. jika manusia mempergunakan
segala pemberian-Nya dengan tepat sesuai hukum-hukum-Nya, baik hukum
jasmani mau pun hukum ruhani,
yakni untuk menjadi orang-orang yang
benar-benar bersyukur kepada Allah Swt. adalah manusia harus berusaha
menyesuaikan kehendaknya dengan Kehendak
Allah Swt..
Pada hakikatnya keberhasilan duniawi yang diraih
oleh kaum-kaum purbakala mau pun oleh kaum Saba adalah karena
mereka telah “mensyukuri” nikmat
Allah Swt. dengan cara memanfaatkan SDM
(Sumber Daya Manusia) dan SDA (Sumber
daya Alam) yang mereka miliki sesuai dengan hukum-hukum alam yang telah ditetapkan Allah Swt. berdasarkan
Sifat Rahmāniyat-Nya (Maha
Pemurah-Nya), maka Allah Swt. pun memenuhi
janji-Nya: لَئِنۡ
شَکَرۡتُمۡ لَاَزِیۡدَنَّکُمۡ -- “Jika kamu benar-benar bersyukur niscaya
akan Ku-limpahkan lebih banyak karunia
kepada kamu.”
Tetapi apabila keberhasilan
duniawi tersebut membuat seseorang
atau suatu bangsa semakin durhaka
kepada Allah Swt. dan kepada rasul-Nya -- yakni mereka tidak memenuhi kewajiban melakukan hablun- minallāh dan hablun-
minan- nās yakni memenuhi hak-hak
Allah Swt. dan hak-hak sesama makhluk Allah, maka yang berlaku adalah ketentuan Allah Swt. bagi orang-orang yang tidak bersyukur: وَ لَئِنۡ کَفَرۡتُمۡ اِنَّ عَذَابِیۡ لَشَدِیۡدٌ -- “tetapi jika kamu
benar-benar tidak bersyukur
sesungguhnya azab-Ku sungguh
sangat keras.” Sunnatullah
itulah yang terjadi dengan kaum-kaum
purbakala dan juga kaum Saba.
Ketidak-bersyukuran Kaum Saba
Jadi, keberhasilan dunia yang diraih kaum Saba
sebagai akibat memanfaatkan SDM
(Sumber Daya Manusia) dan SDA (Sumber
daya Alam) -- berupa pembuatan bendungan-bendungan – tersebut, sehingga
telah mengubah wilayah gurun di sisi kanan dan kiri sungai menjadi wilayah yang subur yang menyebabkan bangsa Saba menjadi bangsa yang kaya-raya yang mampu melakukan hubungan perdagangan dengan negara tetangga, terutama dengan negeri
Nabi Sulaiman a.s., sebagaimana dikemukakan ayat selanjutnya, firman-Nya:
وَ جَعَلۡنَا
بَیۡنَہُمۡ وَ بَیۡنَ الۡقُرَی الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا قُرًی ظَاہِرَۃً وَّ قَدَّرۡنَا فِیۡہَا السَّیۡرَ ؕ سِیۡرُوۡا
فِیۡہَا لَیَالِیَ وَ اَیَّامًا
اٰمِنِیۡنَ ﴿﴾ فَقَالُوۡا
رَبَّنَا بٰعِدۡ بَیۡنَ اَسۡفَارِنَا وَ
ظَلَمُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ فَجَعَلۡنٰہُمۡ
اَحَادِیۡثَ وَ مَزَّقۡنٰہُمۡ کُلَّ مُمَزَّقٍ ؕ اِنَّ فِیۡ
ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّکُلِّ
صَبَّارٍ شَکُوۡرٍ ﴿﴾
Dan Kami telah menjadikan antara mereka dan
antara kota-kota yang telah Kami berkati
di dalamnya menjadi kota-kota
yang berdekatan, dan telah Kami
tetapkan perhentian perjalanan di antara kota-kota itu, Kami berfirman: “Berjalanlah
di dalamnya dengan aman malam dan siang.”
فَقَالُوۡا
رَبَّنَا بٰعِدۡ بَیۡنَ اَسۡفَارِنَا وَ
ظَلَمُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ فَجَعَلۡنٰہُمۡ
اَحَادِیۡثَ وَ مَزَّقۡنٰہُمۡ کُلَّ مُمَزَّقٍ -- Lalu mereka berkata: “Ya Rabb (Tuhan) kami, jauhkanlah
jarak di antara perjalanan kami,” dan mereka
menzalimi diri sendiri maka Kami menjadikan
mereka buah mulut (cerita) dan Kami
menghancurkan mereka sehancur-hancurnya.
اِنَّ فِیۡ
ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّکُلِّ
صَبَّارٍ شَکُوۡرٍ -- Sesungguhnya
dalam hal yang demikian itu benar-benar
terdapat Tanda-tanda bagi setiap
orang yang bersabar dan bersyukur. (As-Sabā’ [34]:19-20).
Kata-kata, “Kota yang telah Kami beri
berkat,” menunjuk kepada kota
Yerusalem di Palestina, tempat kedudukan pemerintahan
Nabi Sulaiman a.s., yang
dengan kota itu bangsa Saba' melangsungkan hubungan
niaga dan mendatangkan kemakmuran.
Kata-kata, “Kami tetapkan perhentian perjalanan di antara kota-kota,”
mengandung pengertian kota-kota yang
terletak begitu berdekatan satu sama
lain sehingga mudah sekali terlihat.
Atau kata-kata “Kami tetapkan
perhentian perjalanan di antara kota-kota,” itu dapat pula berarti kota-kota
terkemuka, dan menunjukkan bahwa jalan
dari Yaman ke Palestina dan Siria ketika
itu sangat ramai dilalui orang, aman, dan berpenduduk cukup banyak. Menurut
Sir Williams Muir pada waktu itu ada
70 tempat perhentian dari Hadramaut ke
Ailah pada jalan dari Yaman ke Siria. Jalan itu ramai
dilalui orang lagi aman, diapit di
kedua belah tepinya oleh pohon-pohon rimbun.
“Ucapan” yang Dilakukan Dengan “Perbuatan
Buruk”
Kata-kata yang diletakkan dalam mulut
orang-orang Saba' dalam ayat: فَقَالُوۡا رَبَّنَا بٰعِدۡ بَیۡنَ اَسۡفَارِنَا وَ ظَلَمُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ
فَجَعَلۡنٰہُمۡ اَحَادِیۡثَ وَ
مَزَّقۡنٰہُمۡ کُلَّ مُمَزَّقٍ -- Lalu mereka berkata: “Ya Rabb (Tuhan) kami, jauhkanlah
jarak di antara perjalanan kami,” dan mereka
menzalimi diri sendiri maka Kami menjadikan
mereka buah mulut (cerita) dan Kami
menghancurkan mereka sehancur-hancurnya”
sesungguhnya menggambarkan keadaan mereka yang sebenarnya, ketika mereka membangkang
dan mengingkari perintah-perintah Allah
Swt., dan sebagai akibatnya
mereka jadi binasa. Jadi, makna ayat tersebut bukan berarti bahwa kaum Saba benar-benar mengucapkan kata-kata tersebut dengan mulut mereka, melainkan amal buruk perbuatan mereka
itulah yang seakan-akan mulut mereka
mengatakan seperti itu.
Akibat ketidak bersyukuran
kaum Saba tersebut maka jalan-jalan antar kota
atau antar negeri yang tadinya makmur dan ramai serta aman dilalui orang, kini menjadi sunyi senyap. Kata-kata “Jauhkanlah
jarak di antara perjalanan kami,” berarti, bahwa sebab banyak kota di sepanjang jalan yang menjadi puing-puing, maka jarak
di antara satu perhentian dengan perhentian lainnya menjadi lebih jauh dan kurang aman.
Akibat ketidak-bersukuran orang-orang
Saba' – sepeninggal pemerintahan Ratu
Saba yang beriman kepada Nabi Sulaiman a.s. (QS.27:42-45) -- mereka menjadi hancur sama sekali sehingga tiada
tanda atau bekas yang
ditinggalkan mereka. Mereka itu hanya menjadi bahan ceritera belaka bagi para juru
dongeng. Selanjutnya Allah Swt.
berfirman:
وَ لَقَدۡ
صَدَّقَ عَلَیۡہِمۡ اِبۡلِیۡسُ ظَنَّہٗ
فَاتَّبَعُوۡہُ اِلَّا فَرِیۡقًا مِّنَ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ وَ مَا کَانَ
لَہٗ عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ سُلۡطٰنٍ اِلَّا لِنَعۡلَمَ مَنۡ
یُّؤۡمِنُ بِالۡاٰخِرَۃِ مِمَّنۡ ہُوَ
مِنۡہَا فِیۡ شَکٍّ ؕ وَ رَبُّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ حَفِیۡظٌ ﴿٪﴾
Dan sungguh iblis benar-be-nar telah menggenapi
sangkaannya mengenai mereka,
maka mereka
mengikutinya, kecuali segolongan
dari orang-orang yang beriman. Tetapi ia sekali-kali tidak me-miliki kekuasaan atas mereka, melainkan supaya
Kami dapat menge-tahui orang-orang yang beriman kepada akhirat dari orang-orang yang ma-sih dalam keraguan
mengenainya, dan Rabb (Tuhan)
engkau adalah Pemelihara atas segala
sesuatu. (Saba [34]:21-22).
Orang-orang Saba’ dengan perbuatan
durhaka mereka menggenapi sangkaan syaitan bahwa ia akan berhasil
menyesatkan mereka. Penyebutan mengenai sangkaan syaitan mengenai orang-orang
durhaka dan perbuatan jahat mereka ini dapat dijumpai di dalam QS.17:63; di
tempat itu syaitan disebut mengatakan bahwa ia akan menyebabkan keturunan Adam
binasa, kecuali beberapa dari antara mereka.
Makna ayat 22 bahwa syaitan
tidak mempunyai kekuasaan atas manusia. Adalah karena kepercayaan yang sesat
dan perbuatannya yang buruk saja, manusia mendatangkan kehancuran dalam
kehidupan ruhaninya.
Cemeti Besi dan Gada Besi
Kembali kepada firman Allah Swt.
mengenai kebrehasilan duniawi kaum ‘Ad dan kaum-kaum purbakala lainnnya, yang
karena durhaka kepada Allah Swt. dan para rasul Allah yang diutus kepada mereka
lalu ditimpa azab Ilahi yang sangat mengerikan, firman-Nya:
اَلَمۡ تَرَ
کَیۡفَ فَعَلَ رَبُّکَ بِعَادٍ
۪ۙ﴿﴾ اِرَمَ
ذَاتِ الۡعِمَادِ ۪ۙ﴿﴾ الَّتِیۡ
لَمۡ یُخۡلَقۡ مِثۡلُہَا فِی الۡبِلَادِ ۪ۙ﴿﴾ وَ ثَمُوۡدَ الَّذِیۡنَ
جَابُوا الصَّخۡرَ بِالۡوَادِ ۪ۙ﴿﴾ وَ فِرۡعَوۡنَ ذِی
الۡاَوۡتَادِ ﴿۪ۙ﴾ الَّذِیۡنَ
طَغَوۡا فِی الۡبِلَادِ ﴿۪ۙ﴾ فَاَکۡثَرُوۡا فِیۡہَا الۡفَسَادَ ﴿۪ۙ﴾ فَصَبَّ عَلَیۡہِمۡ رَبُّکَ سَوۡطَ عَذَابٍ ﴿ۚۙ﴾ اِنَّ رَبَّکَ لَبِالۡمِرۡصَادِ ﴿ؕ﴾
Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Rabb (Tuhan) engkau
telah berbuat terhadap kaum ‘Ād? Juga suku Iram, pemilik gedung-gedung yang megah itu? Yang seperti
itu tidak pernah diciptakan di
negeri-negeri lain, dan kaum Tsamud yang memahat
batu di lembah itu, Dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak yakni lasykar yang banyak. Yang berlaku sewenang-wenang dalam negeri-negeri itu, Lalu banyak
melakukan kerusakan dalam negeri-negeri
itu? Maka Rabb (Tuhan) engkau menimpakan
atas mereka cambuk azab, Sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau benar-benar mengawasi. (Al-Fajr [89]:7-15).
Kaum ‘Ād itu suatu kaum yang sangat berkuasa di zaman mereka. Mereka mengungguli bangsa-bangsa sezaman dengan
mereka, dalam sarana-sarana dan sumber-sumber daya kebendaan. Kata sauth dalam ayat فَصَبَّ عَلَیۡہِمۡ رَبُّکَ سَوۡطَ عَذَابٍ -- “Maka Rabb (Tuhan)
engkau menim-pakan atas mereka cambuk
azab, Sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau benar-benar mengawasi“ berarti: cemeti;
cambuk; kehebatan (Lexicon Lane),
sehubungan dengan hal itu Allah Swt. berfirman mengenai “gada besi” -- yakni bom
atom, dan bom nuklir -- yang
digunakan untuk mengazab Ya’juj (Gog)
dan Ma’juj (Magog) -- di
Akhir Zaman ini, firman-Nya:
ہٰذٰنِ خَصۡمٰنِ
اخۡتَصَمُوۡا فِیۡ رَبِّہِمۡ ۫ فَالَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا قُطِّعَتۡ لَہُمۡ ثِیَابٌ
مِّنۡ نَّارٍ ؕ یُصَبُّ مِنۡ فَوۡقِ رُءُوۡسِہِمُ الۡحَمِیۡمُ ﴿ۚ﴾ یُصۡہَرُ
بِہٖ مَا فِیۡ بُطُوۡنِہِمۡ
وَ الۡجُلُوۡدُ ﴿ؕ﴾ وَ لَہُمۡ مَّقَامِعُ
مِنۡ حَدِیۡدٍ ﴿﴾ کُلَّمَاۤ اَرَادُوۡۤا اَنۡ
یَّخۡرُجُوۡا مِنۡہَا مِنۡ غَمٍّ
اُعِیۡدُوۡا فِیۡہَا ٭ وَ ذُوۡقُوۡا عَذَابَ الۡحَرِیۡقِ ﴿٪﴾
Mereka berdua ini golongan
petengkar yang berbantah mengenai
Tuhan mereka, maka orang-orang kafir
bagi mereka akan dipotongkan pakaian-pakaian dari api, dituangkan dari atas kepala mereka air mendidih. Akan dilebur dengannya apa yang ada dalam perut
mereka dan juga kulit mereka. وَ لَہُمۡ مَّقَامِعُ
مِنۡ حَدِیۡدٍ -- Dan bagi
mereka ada cambuk-cambuk besi. کُلَّمَاۤ اَرَادُوۡۤا اَنۡ
یَّخۡرُجُوۡا مِنۡہَا مِنۡ غَمٍّ
اُعِیۡدُوۡا فِیۡہَا -- Setiap kali mereka hendak ke luar dari situ karena sedih, mereka akan dikembalikan ke dalamnya وَ ذُوۡقُوۡا عَذَابَ الۡحَرِیۡقِ -- dan, dikatakan ”Rasakanlah azab yang membakar!” (Al-Hājj [22]:20-23).
Meletusnya Perang
Dunia dan Ancaman Perang Nuklir
Mengisyaratkan kepada “dua
golongan petengkar” berkenaan “Tuhan”
mereka – yakni Tuhan Yang Maha Pemurah (Ar-Rahmān) -- itu pulalah dalam
firman-Nya berikut ini:
یٰمَعۡشَرَ
الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ اِنِ اسۡتَطَعۡتُمۡ
اَنۡ تَنۡفُذُوۡا مِنۡ اَقۡطَارِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ فَانۡفُذُوۡا
ؕ لَا تَنۡفُذُوۡنَ اِلَّا بِسُلۡطٰنٍ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾ یُرۡسَلُ عَلَیۡکُمَا شُوَاظٌ مِّنۡ نَّارٍ ۬ۙ
وَّ نُحَاسٌ فَلَا تَنۡتَصِرٰنِ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ
اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ
﴿﴾ فَاِذَا انۡشَقَّتِ السَّمَآءُ فَکَانَتۡ وَرۡدَۃً کَالدِّہَانِ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ
اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ
﴿﴾ فَیَوۡمَئِذٍ لَّا یُسۡـَٔلُ عَنۡ
ذَنۡۢبِہٖۤ اِنۡسٌ وَّ لَا جَآنٌّ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ﴿﴾
یُعۡرَفُ الۡمُجۡرِمُوۡنَ بِسِیۡمٰہُمۡ فَیُؤۡخَذُ بِالنَّوَاصِیۡ وَ
الۡاَقۡدَامِ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾ ہٰذِہٖ
جَہَنَّمُ الَّتِیۡ یُکَذِّبُ بِہَا
الۡمُجۡرِمُوۡنَ ﴿ۘ﴾ یَطُوۡفُوۡنَ
بَیۡنَہَا وَ بَیۡنَ حَمِیۡمٍ اٰنٍ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿٪﴾
Hai golongan jin dan ins (manusia)! Jika kamu
memiliki kekuatan untuk menembus batas-batas seluruh langit dan bumi maka tembuslah, namun kamu tidak
dapat menembusnya kecuali dengan
kekuatan. Maka nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu berdua dustakan? Akan dikirimkan kepada kamu berdua nyala api,
dan leburan tembaga, lalu
kamu berdua tidak akan dapat menolong
diri sendiri. Maka nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu berdua dustakan? Dan ketika langit terbelah dan menjadi
merah bagaikan kulit merah. Maka nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu
berdua yang manakah yang kamu berdua
dustakan? Pada hari itu tidak akan
di-tanya dosa manusia dan tidak pula jin. Maka nikmat-nikmat
Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah
yang kamu berdua dustakan? Orang-orang berdosa ciri-ciri mereka akan dikenal lalu mereka akan dipegang pada jambul dan kakinya. Maka nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu berdua dustakan? Inilah Jahannam yang orang-orang berdosa mendustakannya, mereka akan
berkeliling-keliling di antara Jahannam
itu dan air panas mendidih.
Maka nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu
berdua dustakan? (Ar-Rahmān [55]:34-46).
Allah Swt. berulang-ulang memperingatkan kedua golongan orang-orang kafir yang menentang Tauhid
Ilahi tersebut mengenai Sifat Rahmāniyat-Nya (Maha Pemurah-Nya)
yang telah mereka manfaatkan untuk
meraih keberhasilan urusan duniawi mereka,
namun mereka tidak bersyukur kepada Allah Swt.,
firman-Nya: فَبِاَیِّ
اٰلَآءِ رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ -- “Maka nikmat-nikmat
Rabb (Tuhan) kamu berdua yang
manakah yang kamu berdua dustakan?”
Kewajiban Manusia Sebagai “Khalifah Allah” di Muka Bumi
Berikut ini ayat-ayat Al-Quran mengenai berbagai nikmat-nikmat
Allah Swt. yang telah diciptakan-Nya berdasarkan Sifat Rububiyat-Nya (QS,.1:2) dan dianugerahkan kepada manusia berdasarkan Sifat Rahmāniyat-Nya
(Maha Pemurah-Nya), yang telah dimanfaatkan
sepenuhnya oleh kedua golongan manusia
yang menentang Tauhid Ilahi tersebut dalam meraih kesuksesan
duniawi mereka, karena Allah Swt.
telah menciptakan alam semesta untuk “mengkhidmati”
umat manusia, firman-Nya:
اَللّٰہُ الَّذِیۡ سَخَّرَ لَکُمُ
الۡبَحۡرَ لِتَجۡرِیَ الۡفُلۡکُ
فِیۡہِ بِاَمۡرِہٖ وَ لِتَبۡتَغُوۡا مِنۡ فَضۡلِہٖ وَ لَعَلَّکُمۡ تَشۡکُرُوۡنَ ﴿ۚ﴾ وَ سَخَّرَ لَکُمۡ مَّا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ
جَمِیۡعًا مِّنۡہُ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ
لِّقَوۡمٍ یَّتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾
Allah Dia-lah Yang
menundukkan laut kepada kamu supaya kapal-kapal
dapat berlayar di dalamnya dengan perintah-Nya dan supaya kamu dapat mencari karunia-Nya serta
supaya kamu bersyukur. Dan Dia telah menundukkan bagi kamu apa pun yang ada di seluruh langit dan
di bumi, semuanya itu dari Dia. Sesungguhnya dalam hal itu benar-benar ada Tanda-tanda
bagi kaum yang mau berpikir (Al-Jatsiyah
[45]:13-14).
Seluruh alam telah diciptakan untuk mengkhidmati
manusia. Hal itu me-nunjukkan bahwa manusia mempunyai suatu tugas besar yang harus dilaksanakannya,
yaitu sebagai Khalifah Allah (wakil
Allah) di muka bumi dengan cara memperagakan Sifat-sifat Tasybihiyyah Allah Swt., sehingga mereka mampu menghasilkan berbagai “karya cipta” yang bermanfaat bagi kelestarian hidup umat manusia (QS.7:57 & 86), bukan menghasilkan “karya
cipta” yang justru menimbulkan berbagai kerusakan
di daratan mau pun di lautan, sebagaimana firman-Nya:
ظَہَرَ
الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی النَّاسِ
لِیُذِیۡقَہُمۡ بَعۡضَ الَّذِیۡ عَمِلُوۡا
لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾ قُلۡ سِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَانۡظُرُوۡا کَیۡفَ کَانَ
عَاقِبَۃُ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلُ ؕ کَانَ
اَکۡثَرُہُمۡ مُّشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾ فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ مِنۡ
قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ لَّا مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ یَوۡمَئِذٍ یَّصَّدَّعُوۡنَ ﴿﴾
Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan disebabkan per-buatan tangan manusia, supaya dirasakan kepada mereka akibat sebagian perbuatan yang mereka lakukan,
supaya mereka kembali dari
kedurhakaannya. Katakanlah: ”Berjalanlah di bumi dan lihatlah bagaimana buruknya akibat
bagi orang-orang sebelum kamu ini. Kebanyakan mereka itu orang-orang musyrik.” Maka hadapkanlah wajah engkau kepada
agama yang lurus, sebelum datang dari Allah hari yang tidak dapat dihindarkan,
pada hari itu orang-orang
beriman dan kafir akan terpisah. (Ar-Rūm [30]:42-44).
Mengenai
ditundukkannya atau dikhidmatkannya alam semesta oleh Allah Swt. bagi kepentingan umat manusia lihat pula QS.13:3; 14:33-35; QS.16:6-22; QS.22:66;
29:62; QS.31:21 & 30; QS.35:14;
QS.39:6; QS.43:14, dengan demikian benarlah pernyataan Allah Swt. berikut ini
mengenai penganugerahan berbagai macam nikmat-nikmat-Nya, firman-Nya:
اَفَمَنۡ
یَّخۡلُقُ کَمَنۡ لَّا یَخۡلُقُ ؕ اَفَلَا تَذَکَّرُوۡنَ ﴿﴾ وَ اِنۡ تَعُدُّوۡا نِعۡمَۃَ اللّٰہِ لَا
تُحۡصُوۡہَا ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَغَفُوۡرٌ
رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Apakah Dia Yang menciptakan sama dengan
yang tidak menciptakan? Tidakkah kamu mau mengambil pelajaran? وَ اِنۡ تَعُدُّوۡا نِعۡمَۃَ اللّٰہِ لَا
تُحۡصُوۡہَا -- Dan jika kamu
menghitung nikmat-nikmat Allah,
kamu tidak akan dapat
menghitungnya, sesungguhnya Allah
Maha Pengampun, Maha Penyayang.
(An-Nahl
[15]:18-19.
Firman-Nya
lagi:
اَللّٰہُ الَّذِیۡ
خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ وَ اَنۡزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَاَخۡرَجَ بِہٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزۡقًا
لَّکُمۡ ۚ وَ سَخَّرَ لَکُمُ
الۡفُلۡکَ لِتَجۡرِیَ فِی الۡبَحۡرِ
بِاَمۡرِہٖ ۚ وَ سَخَّرَ لَکُمُ
الۡاَنۡہٰرَ ﴿ۚ﴾ وَ سَخَّرَ لَکُمُ الشَّمۡسَ وَ الۡقَمَرَ دَآئِبَیۡنِ ۚ وَ سَخَّرَ لَکُمُ الَّیۡلَ وَ النَّہَارَ ﴿ۚ﴾ وَ اٰتٰىکُمۡ مِّنۡ کُلِّ مَا سَاَلۡتُمُوۡہُ ؕ
وَ اِنۡ تَعُدُّوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ لَا تُحۡصُوۡہَا ؕ اِنَّ الۡاِنۡسَانَ لَظَلُوۡمٌ
کَفَّارٌ ﴿٪﴾
Allah yang telah menciptakan
seluruh langit dan bumi dan menurunkan
air dari awan, lalu Dia mengeluarkan
dengan itu buah-buahan sebagai rezeki
bagi kamu, dan Dia telah menundukkan bagi kamu bahtera supaya berlayar
di lautan atas perintah-Nya, dan Dia
telah menundukkan sungai-sungai bagi kamu. Dan Dia
telah menundukkan bagi kamu matahari dan bulan, kedua-duanya melaksanakan
tugasnya dengan dawam. Dan begitu pun Dia telah menundukkan bagi kamu malam dan siang. وَ اٰتٰىکُمۡ مِّنۡ کُلِّ مَا سَاَلۡتُمُوۡہُ ؕ
وَ اِنۡ تَعُدُّوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ لَا تُحۡصُوۡہَا -- Dan
Dia telah memberikan kepada kamu segala
sesuatu apa yang kamu minta kepada-Nya, dan jika kamu menghitung nikmat-nikmat Allah, kamu
tidak akan dapat menghitungnya,
sesungguhnya manusia benar-benar sangat
zalim, sangat tidak bersyukur. (Ibrahim
[14]:33-35).
Proses Penciptaan Alam Semesta
Kata-kata, “yang kamu minta kepada-Nya”
menunjuk kepada tuntutan-tuntutan fitrat
manusia yang telah terpenuhi seluruhnya. Allah Swt. telah
menyediakan bahan lengkap untuk memenuhi segala hasrat dan keinginan fitrat manusia (QS.41:10-11;
QS.55:30-31). Dan ungkapan
“yang kamu minta kepada-Nya” menunjukkan kepada tuntutan-tuntutan fitrat manusa yang
telah terpenuhi seluruhnya. Allah
Swt. telah menyediakan bahan yang lengkap untuk memenuhi segala hasrat dan keinginan fitrat manusia.
Sehubungan dengan proses
penciptaan tatanan alam semesta Allah
Swt. berfirman:
قُلۡ اَئِنَّکُمۡ
لَتَکۡفُرُوۡنَ بِالَّذِیۡ خَلَقَ الۡاَرۡضَ فِیۡ یَوۡمَیۡنِ وَ
تَجۡعَلُوۡنَ لَہٗۤ اَنۡدَادًا ؕ ذٰلِکَ رَبُّ
الۡعٰلَمِیۡنَ ۚ﴿﴾ وَ جَعَلَ فِیۡہَا رَوَاسِیَ
مِنۡ فَوۡقِہَا وَ بٰرَکَ فِیۡہَا وَ قَدَّرَ فِیۡہَاۤ اَقۡوَاتَہَا فِیۡۤ اَرۡبَعَۃِ
اَیَّامٍ ؕ سَوَآءً
لِّلسَّآئِلِیۡنَ ﴿﴾ ثُمَّ اسۡتَوٰۤی اِلَی السَّمَآءِ وَ ہِیَ دُخَانٌ
فَقَالَ لَہَا وَ لِلۡاَرۡضِ ائۡتِیَا
طَوۡعًا اَوۡ کَرۡہًا ؕ قَالَتَاۤ اَتَیۡنَا
طَآئِعِیۡنَ ﴿﴾ فَقَضٰہُنَّ سَبۡعَ سَمٰوَاتٍ فِیۡ یَوۡمَیۡنِ وَ اَوۡحٰی فِیۡ کُلِّ
سَمَآءٍ اَمۡرَہَا ؕ وَ زَیَّنَّا
السَّمَآءَ الدُّنۡیَا بِمَصَابِیۡحَ ٭ۖ
وَ حِفۡظًا ؕ ذٰلِکَ تَقۡدِیۡرُ
الۡعَزِیۡزِ الۡعَلِیۡمِ ﴿﴾ فَاِنۡ
اَعۡرَضُوۡا فَقُلۡ اَنۡذَرۡتُکُمۡ
صٰعِقَۃً مِّثۡلَ صٰعِقَۃِ عَادٍ وَّ
ثَمُوۡدَ ﴿ؕ﴾
Katakanlah:
”Apakah kamu benar-benar kafir
kepada Dzat Yang menciptakan bumi
dalam dua hari? Dan kamu
menjadikan bagi-Nya sekutu-sekutu?” Itulah Rabb (Tuhan) seluruh alam.
Dan Dia menjadikan padanya gunung-gunung di atasnya, dan memberkatinya, وَ قَدَّرَ فِیۡہَاۤ
اَقۡوَاتَہَا فِیۡۤ
اَرۡبَعَۃِ اَیَّامٍ -- dan Dia menentukan padanya kadar
makanan-makanannya dalam empat hari, سَوَآءً
لِّلسَّآئِلِیۡنَ -- sama rata bagi orang-orang yang bertanya.
ثُمَّ اسۡتَوٰۤی
اِلَی السَّمَآءِ وَ ہِیَ دُخَانٌ فَقَالَ لَہَا وَ لِلۡاَرۡضِ ائۡتِیَا طَوۡعًا اَوۡ کَرۡہًا ؕ قَالَتَاۤ اَتَیۡنَا
طَآئِعِیۡنَ -- Kemudian Dia mengarahkan perhatian ke langit, ketika itu masih merupakan asap, lalu Dia berfirman
kepadanya dan kepada bumi: ”Datanglah
kamu berdua dengan rela atau pun
terpaksa. Keduanya
menjawab: ”Kami berdua datang dengan
rela.” فَقَضٰہُنَّ
سَبۡعَ سَمٰوَاتٍ فِیۡ یَوۡمَیۡنِ وَ اَوۡحٰی فِیۡ کُلِّ سَمَآءٍ اَمۡرَہَا -- Maka Dia menciptakannya tujuh langit dalam dua hari, dan Dia mewahyukan kepada tiap-tiap langit
tugasnya. وَ زَیَّنَّا
السَّمَآءَ الدُّنۡیَا بِمَصَابِیۡحَ ٭ۖ
وَ حِفۡظًا ؕ ذٰلِکَ تَقۡدِیۡرُ
الۡعَزِیۡزِ الۡعَلِیۡمِ -- Dan Kami menghiasi langit bawah dengan lampu-lampu serta memeliharanya.
Demikian itu adalah takdir dari Yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui. فَاِنۡ اَعۡرَضُوۡا
فَقُلۡ اَنۡذَرۡتُکُمۡ صٰعِقَۃً
مِّثۡلَ صٰعِقَۃِ عَادٍ وَّ
ثَمُوۡدَ -- Lalu
jika mereka itu berpaling, maka
katakanlah: ”Aku memperingatkan kamu dengan petir yang membinasakan seperti petir yang menimpa kaum 'Ād dan Tsamud.” (Ha Mim – As-Sajdah
[41:10-14).
Ukuran Lamanya “Hari-hari”
Allah Swt.
Tidak
mungkin memperkirakan panjangnya (lamanya) ”dua
hari” itu. Jangkauannya mungkin sampai ribuan
tahun. Bahkan dalam Al-Quran, yaum (hari) telah disebut sama dengan 1000 tahun (QS.22:48) atau bahkan sama
dengan 50.000 tahun (QS.70:5).
Menjadikan bumi dalam 2 hari dapat
berarti 2 tahap yang harus dilalui
oleh bumi, dari zat tidak berbentuk
berangsur-angsur berkembang menjadi bentuk tertentu sesudah mendingin
dan memadat (QS.21:31-32).
”Dua hari” atau tahap-tahap yang disebut dalam ayat sebelum ini, yang harus dilalui
oleh bumi sebelum bumi memperoleh bentuk seperti sekarang,
termasuk di dalam ”empat hari” yang disebut dalam ayat ini: وَ قَدَّرَ فِیۡہَاۤ
اَقۡوَاتَہَا فِیۡۤ
اَرۡبَعَۃِ اَیَّامٍ -- dan Dia menentukan padanya kadar
makanan-makanannya dalam empat hari, سَوَآءً
لِّلسَّآئِلِیۡنَ -- sama rata bagi orang-orang yang bertanya.” Sedang ”dua hari” tambahannya
itu dimaksudkan 2 tahap penempatan gunung-gunung, sungai-sungai, dan sebagainya dan pertumbuhan kehidupan nabati dan hewani di atasnya. Lihat pula ayat 13.
Kata-kata, وَ قَدَّرَ فِیۡہَاۤ
اَقۡوَاتَہَا -- ”Dia
menentukan padanya kadar makanan-makanannya” berarti bahwa bumi
itu sepenuhnya mampu dan selamanya akan tetap mampu menjamin makanan untuk semua makhluk
yang hidup di atasnya (QS.11:7-8).
Ungkapan سَوَآءً
لِّلسَّآئِلِیۡنَ -- ”sama rata bagi orang-orang yang
bertanya” dapat mengandung arti, bahwa makanan
yang disediakan oleh Allah Swt. di bumi
ini dapat diperoleh tiap-tiap pencahari
yang berusaha mendapatnya sesuai dengan hukum
alam.
Ungkapan itu dapat pula berarti bahwa
segala kepentingan jasmani dan keperluan manusia lainnya telah dijamin dengan kecukupan dalam makanan
yang tumbuh dari bumi. Maka kekhawatiran bahwa bumi pada suatu ketika tidak dapat lagi menumbuhkan cukup makanan bagi penduduk bumi yang cepat
bertambah itu, sungguh tidak beralasan.
”Bumi ini dapat menjamin makanan, serat dan
segala hasil pertanian lain, yang diperlukan bagi 28 biliun jiwa, sepuluh kali
lipat jumlah penduduk bumi dewasa ini” (Prof. Colin Clark, direktur Lembaga Penyelidikan Ekonomi Pertanian
dari Universitas Oxford). Baru-baru ini FAO (United Nations Food and
Agricultural Organization) yaitu organisasi
urusan makanan dan pertanian PBB
menjelaskan dalam laporannya: ”Keadaan
Makanan dan Pertanian 1959,” bahwa
persediaan makanan dunia berkembang dua kali secepat pertambahan penduduknya.
(Bersambung)
ooo
Rujukan: The
Holy Quran
Editor : Malik
Ghulam Farid
Pajajaran Anyar, 6 Agustus
2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar