Kamis, 10 Agustus 2017

Akibat Mengerikan "Ketidak-Bersyukuran" Kaum Saba Menghancurkan Kesuksesan Duniawi Mereka & Hubungan Sifat "Rahmaaniyat" (Maha Pemurah) Allah Swt. Dengan "Pengkhidmatan Alam Semesta" Kepada Umat Manusia



Bismillāhirrahmānirrahīm


KHAZANAH  AL-QURAN 

Bab 22

AKIBAT MENGERIKAN  KETIDAK-BERSYUKURAN KAUM SABA MENGHANCURKAN KESUKSESAN DUNIAWI MEREKA    &   HUBUNGAN SIFAT RAHMÂNIYAT (MAHA PEMURAH ) ALLAH SWT.  DENGAN PENGKHIDMATAN ALAM SEMESTA  KEPADA UMAT MANUSIA 
Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir bab sebelumnya  telah dikemukakan  topic:     Keberhasilan Bangsa Saba’ Mengubah Wilayah Gurun Pasir Menjadi Wilayah Subur  &  Penyebab Kehancuran Negeri Saba, sebagaimana  firman Allah Swt.:
لَقَدۡ کَانَ لِسَبَاٍ  فِیۡ مَسۡکَنِہِمۡ اٰیَۃٌ ۚ جَنَّتٰنِ عَنۡ یَّمِیۡنٍ وَّ شِمَالٍ ۬ؕ کُلُوۡا مِنۡ رِّزۡقِ رَبِّکُمۡ وَ اشۡکُرُوۡا لَہٗ ؕ بَلۡدَۃٌ طَیِّبَۃٌ   وَّ  رَبٌّ غَفُوۡرٌ ﴿﴾ فَاَعۡرَضُوۡا فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ سَیۡلَ الۡعَرِمِ وَ بَدَّلۡنٰہُمۡ بِجَنَّتَیۡہِمۡ جَنَّتَیۡنِ ذَوَاتَیۡ  اُکُلٍ خَمۡطٍ وَّ اَثۡلٍ وَّ شَیۡءٍ مِّنۡ سِدۡرٍ قَلِیۡلٍ ﴿﴾ ذٰلِکَ جَزَیۡنٰہُمۡ  بِمَا کَفَرُوۡا ؕ وَ ہَلۡ نُجٰزِیۡۤ   اِلَّا الۡکَفُوۡرَ ﴿﴾
Sungguh  bagi kaum Saba'  benar-benar terdapat satu Tanda besar di tanah air mereka, yaitu dua kebun  di sebelah kanan dan di kiri sungai.  Kami berfirman: Makanlah rezeki dari Rabb (Tuhan) kamu dan berterima kasihlah kepada-Nya. بَلۡدَۃٌ طَیِّبَۃٌ   وَّ  رَبٌّ غَفُوۡرٌ  -- Negeri yang indah dan Rabb (Tuhan)  Maha Pengampun.” فَاَعۡرَضُوۡا فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ سَیۡلَ الۡعَرِمِ وَ بَدَّلۡنٰہُمۡ بِجَنَّتَیۡہِمۡ جَنَّتَیۡنِ ذَوَاتَیۡ  اُکُلٍ خَمۡطٍ وَّ اَثۡلٍ وَّ شَیۡءٍ مِّنۡ سِدۡرٍ قَلِیۡلٍ  --  Tetapi mereka itu berpaling maka Kami kirimkan kepada mereka banjir dahsyat yang membinasakan, dan Kami menganti kedua kebun mereka itu dengan dua kebun yang   berbuah buah-buahan pahit, pohon cemara dan sedikit pohon bidara. ذٰلِکَ جَزَیۡنٰہُمۡ  بِمَا کَفَرُوۡا ؕ وَ ہَلۡ نُجٰزِیۡۤ   اِلَّا الۡکَفُوۡرَ  --  Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena mereka tidak bersyukur. Dan tidaklah Kami membalas seperti itu kecuali kepada orang-orang yang sangat tidak bersyukur.  (As-Sabā’ [34]:16-18.

Mengubah Wilayah Gurun Pasir Menjadi Wilayah Subur

        Bangsa Saba' adalah bangsa yang sangat makmur lagi berkebudayaan tinggi, dan kepadanya Allah Swt. telah menganugerahkan berlimpah-limpah kehidupan yang serba senang dan sentausa. Seluruh negeri dijadikan subur sekali tanahnya dengan pembuatan bendungan-bendungan dan bangunan-bangunan irigasi lainnya serta sarat dengan kebun-kebun dan sungai-sungai.
     Dari antara bangunan-bangunan umum yang didirikan guna membantu pertanian, seperti pengempang-pengempang dan bendungan-bendungan yang paling tersohor, ialah Bendungan Ma’ārib (Encyclopaedia of Islam, Jilid IV, hlm. 16). Tirmidzi menyebut sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Farwah bin Malik, bahwa tatkala ditanya, adakah Saba' itu sebuah negeri ataukah seorang perempuan, konon Nabi Besar Muhammad saw. bersabda: “Itu bukan nama sebuah negeri atau pun nama seorang perempuan  melainkan nama seorang laki-laki asal Yaman yang mempunyai 10orang anak laki-laki, 6 di antaranya menetap terus di Yaman, sedang 4 orang selebihnya pergi ke Siria dan bermukim di sana.” (Taj-ul-‘Arus).
      Makna ‘arim dalam ayat: فَاَعۡرَضُو فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ سَیۡلَ الۡعَرِمِ  -- “Tetapi mereka itu berpaling maka Kami kirimkan kepada mereka banjir dahsyat yang membinasakan“  berarti suatu bendungan atau beberapa bendungan yang dibangun  di lembah-lembah atau di alur-alur sungai berarus deras; atau sebuah sungai deras yang daya desak arus airnya tidak tertahankan; atau hujan lebat (Lexicon Lane).
      Ayat tersebut mengisyaratkan kepada  akibat ketidak-bersyukuran kaum Saba terhadap Sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah) Allah Swt. (QS.14:8; QS.4:148), yakni  suatu banjir hebat telah menyebabkan Bendungan Ma’ārib, yang menjadi andalan bangsa Saba’ untuk kemakmuran mereka, roboh dan menggenangi seluruh wilayah sehingga menyebabkan kehancuran yang luas jangkauannya.
      Akibatnya, sebuah negeri  yang sebelumnya penuh dengan taman-taman asri, sungai-sungai dan bangunan-bangunan anggun yang artistik telah berubah menjadi belantara yang membentang luas. Bendungan itu kira-kira dua mil panjangnya dan 120 kaki tingginya.
       Bendungan raksasa Al-Ma’ārib  itu hancur kira-kira pada abad pertama atau kedua sebelum Masehi (Palmer). Itulah makna ayat:   فَاَعۡرَضُوۡا فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ سَیۡلَ الۡعَرِمِ  -- “Tetapi mereka itu berpaling maka Kami kirimkan kepada mereka banjir dahsyat yang membinasakan.“  (As-Sabā’ [34]:17), sesuai dengan ucapan Nabi Musa a.s. dalam firman-Nya:
وَ اِذۡ  تَاَذَّنَ  رَبُّکُمۡ  لَئِنۡ شَکَرۡتُمۡ لَاَزِیۡدَنَّکُمۡ  وَ لَئِنۡ کَفَرۡتُمۡ  اِنَّ عَذَابِیۡ لَشَدِیۡدٌ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Rabb (Tuhan) engkau mengumumkan:  Jika kamu benar-benar bersyukur  niscaya  akan Ku-limpahkan lebih banyak karunia kepada kamu, tetapi jika kamu benar-benar tidak bersyukur  sesungguhnya azab-Ku sungguh sangat  keras.” (Ibrahim [14]:8).

Makna “Bersyukur” dan “Tidak Bersyukur” Kepada Allah Swt.

      Syukr (syukur) itu tiga macam: (1) Dengan hati atau pikiran, yaitu dengan satu pengertian yang tepat dalam hati mengenai manfaat yang diperolehnya; (2) Dengan lidah, yaitu dengan memuji-muji, menyanjung atau memuliakan orang yang berbuat kebaikan; dan (3) Dengan anggota-anggota badan, yaitu dengan membalas kebaikan yang diterima setimpal dengan jasa itu.
     Syukr bersitumpu pada lima dasar: (a) kerendahan hati dari orang yang menyatakan syukur itu kepada dia yang kepadanya syukur itu dinyatakan, (b) kecintaan terhadapnya; (c) pengakuan mengenai jasa yang dia berikan, (d) sanjungan terhadapnya untuk itu; (e) tidak mempergunakan jasa itu dengan cara yang ia (orang yang telah memberikannya) tidak akan menyukainya. Itulah syukr dari pihak manusia.
      Ada pun syukr dari pihak Allah Swt.  ialah dengan mengampuni seseorang atau memujinya atau merasa puas terhadapnya,  berkemauan baik untuknya atau senang kepadanya, dan oleh karena itu merasa perlu memberi imbalan atau mengganjarnya (Lexicon Lane).
    Manusia hanya dapat benar-benar bersyukur kepada  Allah Swt.  jika manusia  mempergunakan segala pemberian-Nya dengan tepat sesuai hukum-hukum-Nya, baik hukum jasmani mau pun hukum ruhani, yakni  untuk menjadi orang-orang yang benar-benar bersyukur kepada Allah Swt. adalah manusia harus berusaha menyesuaikan kehendaknya  dengan    Kehendak Allah Swt..
      Pada hakikatnya keberhasilan duniawi yang diraih  oleh   kaum-kaum purbakala mau pun oleh kaum Saba  adalah karena mereka telah “mensyukuri” nikmat Allah Swt. dengan cara memanfaatkan SDM (Sumber Daya Manusia) dan SDA  (Sumber daya Alam) yang mereka  miliki sesuai dengan hukum-hukum alam yang telah ditetapkan Allah Swt. berdasarkan Sifat  Rahmāniyat-Nya  (Maha Pemurah-Nya), maka Allah Swt. pun memenuhi janji-Nya: لَئِنۡ شَکَرۡتُمۡ لَاَزِیۡدَنَّکُمۡ   -- “Jika kamu benar-benar bersyukur  niscaya  akan Ku-limpahkan lebih banyak karunia kepada kamu.
      Tetapi apabila keberhasilan duniawi tersebut membuat seseorang atau suatu bangsa  semakin durhaka kepada Allah Swt. dan kepada rasul-Nya  -- yakni mereka tidak memenuhi kewajiban melakukan hablun- minallāh dan hablun- minan- nās    yakni  memenuhi hak-hak Allah Swt. dan   hak-hak sesama makhluk Allah, maka yang berlaku adalah ketentuan Allah Swt.   bagi orang-orang yang tidak bersyukurوَ لَئِنۡ کَفَرۡتُمۡ  اِنَّ عَذَابِیۡ لَشَدِیۡدٌ -- “tetapi jika kamu benar-benar tidak bersyukur  sesungguhnya azab-Ku sungguh sangat  keras.”  Sunnatullah itulah yang terjadi dengan kaum-kaum purbakala dan juga kaum Saba.

Ketidak-bersyukuran Kaum Saba

     Jadi, keberhasilan dunia yang diraih kaum Saba  sebagai akibat memanfaatkan SDM (Sumber Daya Manusia) dan SDA (Sumber daya Alam)  -- berupa pembuatan bendungan-bendungan – tersebut, sehingga   telah mengubah wilayah gurun di sisi  kanan dan kiri sungai menjadi wilayah yang subur yang menyebabkan   bangsa Saba menjadi bangsa yang kaya-raya yang mampu melakukan hubungan perdagangan dengan negara tetangga, terutama dengan negeri Nabi Sulaiman a.s., sebagaimana dikemukakan ayat selanjutnya, firman-Nya:
وَ جَعَلۡنَا بَیۡنَہُمۡ وَ بَیۡنَ الۡقُرَی الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا قُرًی ظَاہِرَۃً  وَّ قَدَّرۡنَا فِیۡہَا السَّیۡرَ ؕ سِیۡرُوۡا فِیۡہَا لَیَالِیَ وَ اَیَّامًا  اٰمِنِیۡنَ ﴿﴾ فَقَالُوۡا رَبَّنَا بٰعِدۡ بَیۡنَ  اَسۡفَارِنَا وَ ظَلَمُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ فَجَعَلۡنٰہُمۡ  اَحَادِیۡثَ وَ مَزَّقۡنٰہُمۡ کُلَّ مُمَزَّقٍ ؕ اِنَّ  فِیۡ  ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّکُلِّ  صَبَّارٍ  شَکُوۡرٍ ﴿﴾
Dan Kami telah menjadikan antara mereka dan antara kota-kota yang telah Kami  berkati di dalamnya menjadi kota-kota yang berdekatan, dan telah Kami tetapkan perhentian perjalanan  di antara kota-kota ituKami berfirman:  Berjalanlah di dalamnya dengan aman malam dan siang.”  فَقَالُوۡا رَبَّنَا بٰعِدۡ بَیۡنَ  اَسۡفَارِنَا وَ ظَلَمُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ فَجَعَلۡنٰہُمۡ  اَحَادِیۡثَ وَ مَزَّقۡنٰہُمۡ کُلَّ مُمَزَّقٍ  --   Lalu mereka berkata: “Ya Rabb (Tuhan) kami, jauhkanlah jarak di antara perjalanan kami,” dan mereka menzalimi diri sendiri maka Kami menjadikan mereka buah mulut (cerita) dan Kami menghancurkan mereka sehancur-hancurnyaاِنَّ  فِیۡ  ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّکُلِّ  صَبَّارٍ  شَکُوۡرٍ --  Sesungguhnya dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat Tanda-tanda bagi setiap orang yang bersabar dan bersyukur. (As-Sabā’ [34]:19-20).   
       Kata-kata, “Kota yang telah Kami beri berkat,” menunjuk kepada kota Yerusalem di  Palestina, tempat kedudukan pemerintahan Nabi Sulaiman a.s.,  yang dengan kota itu bangsa Saba' melangsungkan hubungan niaga dan mendatangkan kemakmuran. Kata-kata, “Kami tetapkan perhentian perjalanan di antara kota-kota,” mengandung pengertian kota-kota yang terletak begitu berdekatan satu sama lain sehingga mudah sekali terlihat.
     Atau kata-kata “Kami tetapkan perhentian perjalanan di antara kota-kota,” itu dapat pula berarti  kota-kota terkemuka, dan menunjukkan bahwa jalan dari Yaman ke Palestina dan Siria ketika itu sangat ramai dilalui orang, aman, dan berpenduduk cukup banyak.  Menurut Sir Williams Muir pada waktu itu ada 70 tempat perhentian dari Hadramaut ke Ailah pada jalan dari Yaman ke Siria. Jalan itu ramai dilalui orang lagi aman, diapit di kedua belah tepinya oleh pohon-pohon rimbun.

Ucapan”  yang Dilakukan Dengan  “Perbuatan Buruk

      Kata-kata yang diletakkan dalam mulut orang-orang Saba' dalam ayat:    فَقَالُوۡا رَبَّنَا بٰعِدۡ بَیۡنَ  اَسۡفَارِنَا وَ ظَلَمُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ فَجَعَلۡنٰہُمۡ  اَحَادِیۡثَ وَ مَزَّقۡنٰہُمۡ کُلَّ مُمَزَّقٍ  --   Lalu mereka berkata: “Ya Rabb (Tuhan) kami, jauhkanlah jarak di antara perjalanan kami,” dan mereka menzalimi diri sendiri maka Kami menjadikan mereka buah mulut (cerita) dan Kami menghancurkan mereka sehancur-hancurnya”     sesungguhnya menggambarkan keadaan mereka yang sebenarnya, ketika mereka membangkang dan mengingkari perintah-perintah Allah Swt., dan sebagai akibatnya mereka jadi binasa.  Jadi, makna ayat tersebut bukan berarti bahwa kaum Saba   benar-benar mengucapkan kata-kata tersebut dengan  mulut mereka, melainkan amal buruk perbuatan  mereka itulah yang seakan-akan mulut mereka mengatakan seperti itu.
       Akibat ketidak bersyukuran kaum Saba tersebut maka jalan-jalan  antar  kota atau antar  negeri  yang tadinya makmur dan ramai serta aman dilalui orang, kini menjadi sunyi senyap. Kata-kata “Jauhkanlah jarak di antara perjalanan kami,” berarti, bahwa sebab banyak kota di sepanjang jalan yang menjadi puing-puing, maka jarak di antara satu perhentian dengan perhentian lainnya menjadi lebih jauh dan kurang aman.
      Akibat ketidak-bersukuran orang-orang Saba' – sepeninggal pemerintahan Ratu Saba   yang beriman kepada Nabi Sulaiman a.s. (QS.27:42-45)   -- mereka menjadi hancur sama sekali sehingga tiada tanda atau bekas yang ditinggalkan mereka. Mereka itu hanya menjadi bahan ceritera belaka bagi para juru dongeng. Selanjutnya Allah Swt.  berfirman:
وَ لَقَدۡ صَدَّقَ عَلَیۡہِمۡ  اِبۡلِیۡسُ ظَنَّہٗ فَاتَّبَعُوۡہُ  اِلَّا فَرِیۡقًا مِّنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ وَ مَا کَانَ لَہٗ  عَلَیۡہِمۡ  مِّنۡ سُلۡطٰنٍ اِلَّا لِنَعۡلَمَ مَنۡ یُّؤۡمِنُ بِالۡاٰخِرَۃِ  مِمَّنۡ ہُوَ مِنۡہَا فِیۡ شَکٍّ ؕ وَ رَبُّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ حَفِیۡظٌ ﴿٪﴾
Dan  sungguh  iblis benar-be-nar telah menggenapi sangkaannya mengenai mereka,  maka  mereka mengikutinya, kecuali segolongan dari orang-orang yang beriman.  Tetapi ia sekali-kali tidak me-miliki kekuasaan atas mereka,  melainkan supaya Kami dapat menge-tahui orang-orang yang beriman kepada akhirat dari orang-orang yang ma-sih dalam keraguan mengenainya, dan Rabb (Tuhan) engkau adalah Pemelihara atas segala sesuatu. (Saba [34]:21-22).
      Orang-orang Saba’ dengan perbuatan durhaka mereka menggenapi sangkaan syaitan bahwa ia akan berhasil menyesatkan mereka. Penyebutan mengenai sangkaan syaitan mengenai orang-orang durhaka dan perbuatan jahat mereka ini dapat dijumpai di dalam QS.17:63; di tempat itu syaitan disebut mengatakan bahwa ia akan menyebabkan keturunan Adam binasa, kecuali beberapa dari antara mereka.
 Makna ayat 22 bahwa  syaitan tidak mempunyai kekuasaan atas manusia. Adalah karena kepercayaan yang sesat dan perbuatannya yang buruk saja, manusia mendatangkan kehancuran dalam kehidupan ruhaninya.

Cemeti Besi dan Gada Besi

       Kembali kepada firman Allah Swt. mengenai kebrehasilan duniawi kaum ‘Ad dan kaum-kaum purbakala lainnnya, yang karena durhaka kepada Allah Swt. dan para rasul Allah yang diutus kepada mereka lalu ditimpa azab Ilahi yang sangat mengerikan, firman-Nya:
اَلَمۡ  تَرَ  کَیۡفَ فَعَلَ  رَبُّکَ بِعَادٍ ۪ۙ﴿﴾   اِرَمَ ذَاتِ الۡعِمَادِ ۪ۙ﴿﴾   الَّتِیۡ  لَمۡ یُخۡلَقۡ مِثۡلُہَا فِی الۡبِلَادِ ۪ۙ﴿﴾  وَ ثَمُوۡدَ  الَّذِیۡنَ جَابُوا الصَّخۡرَ بِالۡوَادِ ۪ۙ﴿﴾  وَ  فِرۡعَوۡنَ ذِی الۡاَوۡتَادِ ﴿۪ۙ﴾  الَّذِیۡنَ طَغَوۡا فِی الۡبِلَادِ ﴿۪ۙ﴾  فَاَکۡثَرُوۡا فِیۡہَا الۡفَسَادَ ﴿۪ۙ﴾  فَصَبَّ عَلَیۡہِمۡ رَبُّکَ سَوۡطَ عَذَابٍ ﴿ۚۙ﴾  اِنَّ رَبَّکَ لَبِالۡمِرۡصَادِ ﴿ؕ﴾
Tidakkah engkau   memperhatikan bagaimana Rabb (Tuhan) engkau telah berbuat terhadap kaum ‘Ād? Juga suku Iram, pemilik gedung-gedung yang megah itu?   Yang seperti itu tidak pernah diciptakan  di negeri-negeri lain,   dan kaum Tsamud yang memahat batu di lembah itu,   Dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak yakni lasykar yang banyak.    Yang berlaku sewenang-wenang dalam negeri-negeri itu  Lalu  banyak melakukan   kerusakan dalam negeri-negeri itu?   Maka Rabb (Tuhan) engkau menimpakan atas mereka cambuk azab,  Sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau benar-benar  mengawasi.  (Al-Fajr [89]:7-15).
       Kaum ‘Ād itu suatu kaum yang sangat berkuasa di zaman mereka. Mereka mengungguli bangsa-bangsa sezaman dengan mereka, dalam sarana-sarana dan sumber-sumber daya kebendaan. Kata  sauth  dalam  ayat  فَصَبَّ عَلَیۡہِمۡ رَبُّکَ سَوۡطَ عَذَابٍ  --  “Maka Rabb (Tuhan) engkau menim-pakan atas mereka cambuk azab,  Sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau benar-benar  mengawasi“  berarti: cemeti; cambuk; kehebatan (Lexicon Lane), sehubungan dengan hal itu Allah Swt. berfirman mengenai “gada besi”  -- yakni bom  atom, dan bom nuklir   --  yang digunakan untuk mengazab Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog)   --  di Akhir Zaman ini, firman-Nya:
ہٰذٰنِ خَصۡمٰنِ اخۡتَصَمُوۡا فِیۡ رَبِّہِمۡ ۫ فَالَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا قُطِّعَتۡ لَہُمۡ ثِیَابٌ مِّنۡ نَّارٍ ؕ یُصَبُّ مِنۡ فَوۡقِ رُءُوۡسِہِمُ الۡحَمِیۡمُ ﴿ۚ﴾  یُصۡہَرُ  بِہٖ  مَا فِیۡ  بُطُوۡنِہِمۡ  وَ الۡجُلُوۡدُ ﴿ؕ﴾  وَ لَہُمۡ  مَّقَامِعُ مِنۡ  حَدِیۡدٍ ﴿﴾  کُلَّمَاۤ  اَرَادُوۡۤا اَنۡ یَّخۡرُجُوۡا مِنۡہَا مِنۡ غَمٍّ  اُعِیۡدُوۡا فِیۡہَا ٭ وَ ذُوۡقُوۡا عَذَابَ الۡحَرِیۡقِ ﴿٪﴾
Mereka berdua  ini golongan petengkar yang berbantah mengenai Tuhan mereka, maka orang-orang kafir bagi mereka akan dipotongkan pakaian-pakaian dari api, dituangkan dari atas kepala mereka  air mendidih. Akan dilebur dengannya apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit mereka.  وَ لَہُمۡ  مَّقَامِعُ مِنۡ  حَدِیۡدٍ --  Dan bagi mereka ada cambuk-cambuk besi. کُلَّمَاۤ  اَرَادُوۡۤا اَنۡ یَّخۡرُجُوۡا مِنۡہَا مِنۡ غَمٍّ  اُعِیۡدُوۡا فِیۡہَا --  Setiap kali mereka hendak ke luar dari situ karena sedih, mereka akan dikembalikan ke dalamnya وَ ذُوۡقُوۡا عَذَابَ الۡحَرِیۡقِ  -- dan, dikatakan  Rasakanlah azab yang membakar!” (Al-Hājj [22]:20-23).

Meletusnya  Perang Dunia dan Ancaman Perang Nuklir

       Mengisyaratkan kepada  “dua golongan petengkar” berkenaan  “Tuhan”  mereka – yakni Tuhan  Yang Maha Pemurah (Ar-Rahmān)  --   itu pulalah  dalam  firman-Nya berikut ini:
یٰمَعۡشَرَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ  اِنِ اسۡتَطَعۡتُمۡ اَنۡ  تَنۡفُذُوۡا مِنۡ  اَقۡطَارِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ فَانۡفُذُوۡا ؕ لَا  تَنۡفُذُوۡنَ  اِلَّا بِسُلۡطٰنٍ ﴿ۚ﴾  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾  یُرۡسَلُ عَلَیۡکُمَا شُوَاظٌ مِّنۡ نَّارٍ ۬ۙ وَّ نُحَاسٌ فَلَا  تَنۡتَصِرٰنِ ﴿ۚ﴾  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾    فَاِذَا  انۡشَقَّتِ السَّمَآءُ  فَکَانَتۡ وَرۡدَۃً کَالدِّہَانِ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾  فَیَوۡمَئِذٍ لَّا یُسۡـَٔلُ عَنۡ ذَنۡۢبِہٖۤ  اِنۡسٌ وَّ لَا  جَآنٌّ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ﴿﴾   یُعۡرَفُ الۡمُجۡرِمُوۡنَ بِسِیۡمٰہُمۡ فَیُؤۡخَذُ بِالنَّوَاصِیۡ وَ الۡاَقۡدَامِ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾  ہٰذِہٖ جَہَنَّمُ  الَّتِیۡ یُکَذِّبُ بِہَا الۡمُجۡرِمُوۡنَ ﴿ۘ﴾ یَطُوۡفُوۡنَ بَیۡنَہَا وَ  بَیۡنَ حَمِیۡمٍ  اٰنٍ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿٪﴾
Hai golongan jin dan ins (manusia)! Jika kamu memiliki kekuatan untuk menembus batas-batas seluruh langit dan bumi maka tembuslah, namun kamu tidak dapat menembusnya  kecuali dengan kekuatan.   Maka  nikmat-nikmat  Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu  berdua dustakan?   Akan dikirimkan kepada kamu berdua nyala api, dan leburan tembaga, lalu kamu berdua tidak akan dapat menolong diri sendiri.   Maka   nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu berdua dustakan?  Dan ketika langit terbelah dan menjadi merah bagaikan kulit merah. Maka nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang   kamu berdua dustakan?      Pada hari itu tidak akan di-tanya dosa  manusia  dan tidak pula  jin. Maka  nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu  berdua dustakan?  Orang-orang berdosa  ciri-ciri mereka akan dikenal lalu mereka akan dipegang pada jambul dan kakinya.  Maka nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu berdua dustakan?      Inilah Jahannam yang orang-orang berdosa mendustakannya,  mereka akan berkeliling-keliling di antara Jahannam  itu  dan air panas mendidih.      Maka  nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu  berdua dustakan?   (Ar-Rahmān [55]:34-46).
     Allah Swt. berulang-ulang memperingatkan kedua golongan orang-orang kafir yang menentang Tauhid Ilahi tersebut  mengenai  Sifat Rahmāniyat-Nya (Maha Pemurah-Nya) yang telah mereka manfaatkan untuk meraih keberhasilan urusan duniawi mereka, namun mereka  tidak bersyukur kepada Allah Swt.,  firman-Nya:  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ --  “Maka  nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu  berdua dustakan?”  

Kewajiban  Manusia Sebagai “Khalifah Allah” di Muka Bumi

        Berikut ini  ayat-ayat Al-Quran mengenai  berbagai nikmat-nikmat Allah  Swt. yang telah diciptakan-Nya berdasarkan Sifat Rububiyat-Nya (QS,.1:2)  dan dianugerahkan kepada manusia berdasarkan   Sifat Rahmāniyat-Nya (Maha Pemurah-Nya), yang   telah dimanfaatkan sepenuhnya oleh kedua golongan manusia yang menentang Tauhid Ilahi tersebut dalam meraih  kesuksesan duniawi mereka,  karena Allah Swt. telah  menciptakan alam semesta untuk “mengkhidmati” umat manusia, firman-Nya: 
اَللّٰہُ  الَّذِیۡ سَخَّرَ  لَکُمُ  الۡبَحۡرَ  لِتَجۡرِیَ الۡفُلۡکُ فِیۡہِ بِاَمۡرِہٖ وَ لِتَبۡتَغُوۡا مِنۡ فَضۡلِہٖ  وَ لَعَلَّکُمۡ   تَشۡکُرُوۡنَ ﴿ۚ﴾  وَ سَخَّرَ  لَکُمۡ  مَّا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ جَمِیۡعًا مِّنۡہُ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ  لِّقَوۡمٍ  یَّتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾
Allah Dia-lah  Yang menundukkan laut kepada kamu supaya kapal-kapal dapat berlayar di dalamnya dengan perintah-Nya dan supaya kamu dapat mencari karunia-Nya serta supaya kamu bersyukur.   Dan Dia telah menundukkan bagi kamu apa pun yang ada di seluruh langit dan di bumi,  semuanya itu dari Dia. Sesungguhnya dalam hal itu benar-benar ada Tanda-tanda bagi kaum yang mau berpikir  (Al-Jatsiyah [45]:13-14).
   Seluruh alam telah diciptakan untuk mengkhidmati manusia. Hal itu me-nunjukkan bahwa  manusia mempunyai suatu tugas besar yang harus dilaksanakannya, yaitu sebagai Khalifah Allah (wakil Allah) di muka bumi  dengan cara memperagakan Sifat-sifat Tasybihiyyah Allah Swt., sehingga  mereka mampu menghasilkan berbagai “karya cipta” yang bermanfaat bagi kelestarian hidup umat manusia (QS.7:57 & 86), bukan menghasilkan  “karya cipta” yang justru menimbulkan berbagai kerusakan di daratan mau pun di lautan, sebagaimana firman-Nya:
ظَہَرَ الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی  النَّاسِ  لِیُذِیۡقَہُمۡ بَعۡضَ الَّذِیۡ عَمِلُوۡا  لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾  قُلۡ سِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَانۡظُرُوۡا کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ  الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلُ ؕ کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ  مُّشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾  فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ  لَّا  مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ یَوۡمَئِذٍ  یَّصَّدَّعُوۡنَ ﴿﴾
Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan  disebabkan per-buatan tangan manusia, supaya dirasakan kepada mereka akibat sebagian perbuatan yang mereka lakukan, supaya mereka kembali dari kedurhakaannya. Katakanlah:  ”Berjalanlah di bumi dan lihatlah bagaimana buruknya akibat bagi orang-orang sebelum kamu ini. Kebanyakan mereka itu orang-orang musyrik.”    Maka hadapkanlah wajah engkau kepada agama yang lurus, sebelum datang dari Allah hari yang tidak dapat dihindarkan,  pada hari itu orang-orang beriman  dan kafir akan terpisah. (Ar-Rūm [30]:42-44).
         Mengenai  ditundukkannya atau dikhidmatkannya  alam semesta oleh Allah Swt. bagi  kepentingan umat manusia lihat pula QS.13:3; 14:33-35; QS.16:6-22; QS.22:66; 29:62;  QS.31:21 & 30; QS.35:14; QS.39:6; QS.43:14, dengan demikian benarlah pernyataan Allah Swt. berikut ini mengenai  penganugerahan berbagai macam nikmat-nikmat-Nya, firman-Nya:
اَفَمَنۡ یَّخۡلُقُ کَمَنۡ لَّا یَخۡلُقُ ؕ اَفَلَا تَذَکَّرُوۡنَ ﴿﴾   وَ اِنۡ تَعُدُّوۡا نِعۡمَۃَ اللّٰہِ لَا تُحۡصُوۡہَا ؕ اِنَّ  اللّٰہَ  لَغَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Apakah Dia Yang menciptakan sama dengan yang tidak menciptakan? Tidakkah kamu mau mengambil pelajaran? وَ اِنۡ تَعُدُّوۡا نِعۡمَۃَ اللّٰہِ لَا تُحۡصُوۡہَا   --  Dan  jika  kamu  menghitung nikmat-nikmat Allahkamu tidak akan dapat menghitungnya, sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (An-Nahl [15]:18-19.
Firman-Nya lagi: 
اَللّٰہُ  الَّذِیۡ  خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ وَ اَنۡزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً  فَاَخۡرَجَ بِہٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزۡقًا لَّکُمۡ ۚ وَ سَخَّرَ لَکُمُ  الۡفُلۡکَ  لِتَجۡرِیَ فِی  الۡبَحۡرِ  بِاَمۡرِہٖ ۚ وَ  سَخَّرَ  لَکُمُ  الۡاَنۡہٰرَ ﴿ۚ﴾  وَ سَخَّرَ لَکُمُ الشَّمۡسَ وَ الۡقَمَرَ دَآئِبَیۡنِ ۚ  وَ سَخَّرَ لَکُمُ الَّیۡلَ وَ النَّہَارَ ﴿ۚ﴾  وَ اٰتٰىکُمۡ مِّنۡ کُلِّ مَا سَاَلۡتُمُوۡہُ ؕ وَ اِنۡ تَعُدُّوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ لَا تُحۡصُوۡہَا ؕ اِنَّ الۡاِنۡسَانَ  لَظَلُوۡمٌ  کَفَّارٌ ﴿٪﴾
Allah yang telah menciptakan seluruh langit dan bumi dan  menurunkan air dari awan, lalu Dia mengeluarkan dengan  itu buah-buahan sebagai rezeki bagi kamu, dan  Dia telah menundukkan bagi  kamu bahtera  supaya berlayar di lautan atas perintah-Nya, dan Dia telah menundukkan sungai-sungai  bagi  kamu.  Dan  Dia telah menundukkan bagi kamu matahari dan bulan, kedua-duanya melaksanakan tugasnya dengan dawam. Dan begitu pun Dia telah menundukkan bagi kamu malam dan siang. وَ اٰتٰىکُمۡ مِّنۡ کُلِّ مَا سَاَلۡتُمُوۡہُ ؕ وَ اِنۡ تَعُدُّوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ لَا تُحۡصُوۡہَا  --  Dan Dia telah memberikan kepada kamu segala sesuatu apa yang kamu minta kepada-Nya, dan  jika  kamu menghitung nikmat-nikmat Allah, kamu tidak akan dapat menghitungnya, sesungguhnya manusia benar-benar sangat zalim, sangat tidak bersyukur. (Ibrahim [14]:33-35).  

Proses Penciptaan Alam Semesta

    Kata-kata, “yang kamu minta kepada-Nya” menunjuk kepada tuntutan-tuntutan fitrat manusia yang telah terpenuhi seluruhnya. Allah Swt.  telah menyediakan bahan lengkap untuk memenuhi segala hasrat dan keinginan fitrat manusia (QS.41:10-11; QS.55:30-31).  Dan  ungkapan   “yang kamu minta kepada-Nya” menunjukkan kepada tuntutan-tuntutan fitrat manusa yang telah terpenuhi seluruhnya. Allah Swt. telah  menyediakan bahan yang lengkap untuk memenuhi segala hasrat dan keinginan fitrat manusia.
Sehubungan dengan proses penciptaan tatanan alam semesta Allah Swt. berfirman:
قُلۡ  اَئِنَّکُمۡ  لَتَکۡفُرُوۡنَ بِالَّذِیۡ خَلَقَ الۡاَرۡضَ فِیۡ یَوۡمَیۡنِ وَ تَجۡعَلُوۡنَ لَہٗۤ  اَنۡدَادًا ؕ  ذٰلِکَ رَبُّ  الۡعٰلَمِیۡنَ ۚ﴿﴾  وَ جَعَلَ  فِیۡہَا رَوَاسِیَ مِنۡ فَوۡقِہَا وَ بٰرَکَ فِیۡہَا وَ قَدَّرَ فِیۡہَاۤ  اَقۡوَاتَہَا فِیۡۤ  اَرۡبَعَۃِ  اَیَّامٍ ؕ سَوَآءً   لِّلسَّآئِلِیۡنَ ﴿﴾  ثُمَّ  اسۡتَوٰۤی  اِلَی السَّمَآءِ وَ ہِیَ دُخَانٌ فَقَالَ  لَہَا وَ لِلۡاَرۡضِ ائۡتِیَا طَوۡعًا  اَوۡ کَرۡہًا ؕ قَالَتَاۤ   اَتَیۡنَا  طَآئِعِیۡنَ ﴿﴾  فَقَضٰہُنَّ سَبۡعَ سَمٰوَاتٍ فِیۡ یَوۡمَیۡنِ وَ اَوۡحٰی فِیۡ کُلِّ سَمَآءٍ  اَمۡرَہَا ؕ وَ زَیَّنَّا السَّمَآءَ  الدُّنۡیَا بِمَصَابِیۡحَ ٭ۖ وَ حِفۡظًا ؕ ذٰلِکَ تَقۡدِیۡرُ  الۡعَزِیۡزِ  الۡعَلِیۡمِ ﴿﴾  فَاِنۡ  اَعۡرَضُوۡا فَقُلۡ  اَنۡذَرۡتُکُمۡ  صٰعِقَۃً  مِّثۡلَ  صٰعِقَۃِ عَادٍ  وَّ  ثَمُوۡدَ ﴿ؕ﴾
Katakanlah: ”Apakah kamu benar-benar kafir kepada Dzat Yang menciptakan bumi dalam dua hari?  Dan kamu menjadikan bagi-Nya sekutu-sekutu?” Itulah Rabb (Tuhan) seluruh alam.      Dan Dia menjadikan   padanya gunung-gunung di atasnya, dan memberkatinyaوَ قَدَّرَ فِیۡہَاۤ  اَقۡوَاتَہَا فِیۡۤ  اَرۡبَعَۃِ  اَیَّامٍ --  dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanannya  dalam empat hari, سَوَآءً   لِّلسَّآئِلِیۡنَ  --   sama rata bagi orang-orang yang bertanya.  ثُمَّ  اسۡتَوٰۤی  اِلَی السَّمَآءِ وَ ہِیَ دُخَانٌ فَقَالَ  لَہَا وَ لِلۡاَرۡضِ ائۡتِیَا طَوۡعًا  اَوۡ کَرۡہًا ؕ قَالَتَاۤ   اَتَیۡنَا  طَآئِعِیۡنَ  -- Kemudian Dia mengarahkan perhatian ke langit, ketika itu masih merupakan asap, lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi: ”Datanglah kamu berdua dengan rela atau pun terpaksa. Keduanya menjawab: ”Kami berdua datang dengan rela.” فَقَضٰہُنَّ سَبۡعَ سَمٰوَاتٍ فِیۡ یَوۡمَیۡنِ وَ اَوۡحٰی فِیۡ کُلِّ سَمَآءٍ  اَمۡرَہَا  --  Maka Dia menciptakannya tujuh langit dalam dua hari, dan Dia mewahyukan kepada tiap-tiap langit tugasnya. وَ زَیَّنَّا السَّمَآءَ  الدُّنۡیَا بِمَصَابِیۡحَ ٭ۖ وَ حِفۡظًا ؕ ذٰلِکَ تَقۡدِیۡرُ  الۡعَزِیۡزِ  الۡعَلِیۡمِ  --  Dan Kami menghiasi langit bawah dengan lampu-lampu serta  memeliharanya. Demikian itu  adalah takdir dari Yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui.  فَاِنۡ  اَعۡرَضُوۡا فَقُلۡ  اَنۡذَرۡتُکُمۡ  صٰعِقَۃً  مِّثۡلَ  صٰعِقَۃِ عَادٍ  وَّ  ثَمُوۡدَ  -- Lalu jika mereka itu berpaling, maka katakanlah:  Aku memperingatkan kamu dengan  petir yang membinasakan seperti petir yang menimpa kaum 'Ād dan Tsamud.” (Ha MimAs-Sajdah [41:10-14). 

Ukuran  Lamanya “Hari-hari” Allah Swt.

   Tidak mungkin memperkirakan panjangnya (lamanya) ”dua hari” itu. Jangkauannya mungkin sampai ribuan tahun. Bahkan dalam Al-Quran, yaum (hari) telah disebut sama dengan 1000 tahun (QS.22:48) atau bahkan sama dengan 50.000 tahun (QS.70:5). Menjadikan bumi dalam 2 hari dapat berarti 2 tahap yang harus dilalui oleh bumi, dari zat tidak berbentuk berangsur-angsur berkembang menjadi bentuk tertentu sesudah mendingin dan memadat (QS.21:31-32).
    ”Dua hari” atau tahap-tahap yang disebut dalam ayat sebelum ini, yang harus dilalui oleh bumi sebelum bumi memperoleh bentuk seperti sekarang, termasuk di dalam ”empat hari” yang disebut dalam ayat ini:  وَ قَدَّرَ فِیۡہَاۤ  اَقۡوَاتَہَا فِیۡۤ  اَرۡبَعَۃِ  اَیَّامٍ --  dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanannya  dalam empat hari, سَوَآءً   لِّلسَّآئِلِیۡنَ  --   sama rata bagi orang-orang yang bertanya.” Sedang ”dua hari” tambahannya itu dimaksudkan 2  tahap penempatan gunung-gunung, sungai-sungai, dan sebagainya dan pertumbuhan kehidupan nabati dan hewani di atasnya. Lihat pula ayat 13.
    Kata-kata,  وَ قَدَّرَ فِیۡہَاۤ  اَقۡوَاتَہَا --  ”Dia menentukan padanya kadar makanan-makanannya” berarti  bahwa bumi itu sepenuhnya mampu dan selamanya akan tetap mampu menjamin makanan untuk semua makhluk yang hidup di atasnya (QS.11:7-8).
   Ungkapan  سَوَآءً   لِّلسَّآئِلِیۡنَ    -- ”sama rata bagi orang-orang yang bertanya” dapat mengandung arti, bahwa makanan yang disediakan oleh  Allah Swt.  di bumi ini dapat diperoleh tiap-tiap pencahari yang berusaha mendapatnya sesuai dengan hukum alam.
    Ungkapan itu dapat pula berarti bahwa segala kepentingan jasmani dan keperluan manusia lainnya telah dijamin dengan kecukupan dalam makanan yang tumbuh dari bumi. Maka kekhawatiran bahwa bumi pada suatu ketika tidak dapat lagi menumbuhkan cukup makanan bagi penduduk bumi yang cepat bertambah itu, sungguh tidak beralasan.
    ”Bumi ini dapat menjamin makanan, serat dan segala hasil pertanian lain, yang diperlukan bagi 28 biliun jiwa, sepuluh kali lipat jumlah penduduk bumi dewasa ini” (Prof. Colin Clark, direktur Lembaga Penyelidikan Ekonomi Pertanian dari Universitas Oxford). Baru-baru ini FAO (United Nations Food and Agricultural Organization) yaitu organisasi urusan makanan dan pertanian PBB menjelaskan dalam laporannya: ”Keadaan Makanan dan Pertanian 1959,” bahwa persediaan makanan dunia berkembang dua kali secepat pertambahan penduduknya.


(Bersambung)
ooo
Rujukan: The Holy Quran
Editor    : Malik Ghulam Farid

Pajajaran Anyar,   6 Agustus  2017



Tidak ada komentar:

Posting Komentar