Sabtu, 07 Juli 2018

Akibat Buruk "Kufur Nikmat" & Keburukan Berlebihan Memahami "Mukjizat" Para Nabi Allah



Bismillaahirrahmaanirrahiim

KHAZANAH  AL-QURAN 

Bab 27

AKIBAT BURUK KUFUR NIKMAT &   KEBURUKAN  BERLEBIHAN  MEMAHAMI MUKJIZAT PARA NABI ALLAH

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

وَ یَوۡمَ نَبۡعَAثُ فِیۡ کُلِّ اُمَّۃٍ شَہِیۡدًا عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ جِئۡنَا بِکَ شَہِیۡدًا عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ ؕ وَ نَزَّلۡنَا عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ تِبۡیَانًا  لِّکُلِّ شَیۡءٍ  وَّ  ہُدًی  وَّ  رَحۡمَۃً   وَّ  بُشۡرٰی  لِلۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah hari itu ketika Kami akan membangkitkan dalam setiap umat seorang saksi terhadap mereka dari antara mereka sendiri, dan Kami akan mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka semuanya. Dan  Kami  telah menurunkan kepada engkau Kitab itu untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk, rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri kepada Allah.   (An-Nahl [16]:90).

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan nubuatan dalam surah Al-Fatihah dan  mengenai topik Penghakiman Allah Swt. Selalu Melalui Pengutusan Rasul Allah Yang Dijanjikan.   Sunnatullah yang senantiasa terjadi dalam memberikan “penghakiman” berkenaan perselisihan yang terjadi di kalangan umat beragama dan firqah-firqah umat beragama tersebut tidak pernah diserahkan kepada para pemuka kaum atau pemuka agama, melainkan  selalu melalui pengutusan rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan dari kalangan Bani Adam (QS.7:35-37),  firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ  اَجَلٌ ۚ فَاِذَا  جَآءَ  اَجَلُہُمۡ  لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً  وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾  وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾   
Dan bagi tiap-tiap umat ada batas waktu, maka apabila telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya.  Wahai Bani Adam, jika datang kepada kamu  rasul-rasul dari antaramu yang menceritakan  Ayat-ayat-Ku kepada kamu, maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, maka tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati.  Dan  orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya, mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-A’raaf [7]:35-37).
     Sesuai dengan  firman Allah Swt. tersebut, dalam surah lainnya Allah Swt. berfirman kepada umat Islam mengenai cara Allah Swt. memberi keputusan berkenaan perselisihan yang terjadi di kalangan mereka, ketika masing-masing pihak mendakwakan sebagai firqah yang paling benar sedang firqah-firqah yang lainnya sesat dan menyesatkan, firman-Nya:
مَا  کَانَ اللّٰہُ لِیَذَرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ عَلٰی مَاۤ  اَنۡتُمۡ عَلَیۡہِ حَتّٰی یَمِیۡزَ  الۡخَبِیۡثَ مِنَ الطَّیِّبِ ؕ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ۪ فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ وَ  اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ  اَجۡرٌ  عَظِیۡمٌ ﴿﴾
Allah sekali-kali tidak akan  membiarkan orang-orang yang beriman di dalam keadaan kamu berada di dalamnya    hingga  Dia memisahkan yang buruk dari yang baik. Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan  yang gaib kepada kamu, tetapi Allah memilih  di antara rasul-rasul-Nya siapa yang Dia kehendaki, karena itu berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagi kamu ganjaran yang besar. (Ali ‘Imraan [3]:180).

 Menyimpangkan Tauhid Ilahi  & Akibat  Buruk   Kufur Nikmat

       Merupakan Sunnatullah pula,  bahwa   seiring dengan  berkembangnya umat beragama  dan semakin jauhnya mereka dari masa kenabian  yang penuh berkat, berbagai macam pemahaman  keliru mengenai Tauhid Ilahi dan kenabian  pun turut memperkeruh pemahaman mengenai  ajaran agama Tauhid, dan Sunnatullah tersebut berlaku pula pada umat  Islam,  sebab yang mendapat jaminan pemeliharaan Allah Swt. adalah Al-Quran (QS.15:10), bukan umat Islam, firman-Nya:
اَلَمۡ یَاۡنِ  لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا  اَنۡ  تَخۡشَعَ قُلُوۡبُہُمۡ  لِذِکۡرِ اللّٰہِ  وَ مَا  نَزَلَ مِنَ الۡحَقِّ  ۙ  وَ لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ فَطَالَ عَلَیۡہِمُ  الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ کَثِیۡرٌ  مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾  اِعۡلَمُوۡۤا  اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا ؕ قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ  تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Apakah belum sampai waktu bagi orang-orang yang beriman, bahwa hati mereka tunduk untuk mengingat Allah dan mengingat  kebenaran yang telah turun kepada mereka, dan mereka tidak  menjadi seperti orang-orang yang diberi kitab sebelumnya, maka zaman kesejahteraan menjadi panjang atas mereka lalu  hati mereka menjadi keras, dan kebanyakan dari mereka menjadi durhaka?  Ketahuilah, bahwasanya  Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. Sungguh Kami telah menjelaskan Tanda-tanda kepadamu supaya kamu mengerti. (Al-Hadiid [57]:17-18).
     Konfik berkepanjangan  di kalangan umat Islam di berbagai negara Muslim di kawasaan Timur Tengah saat ini merupakan kenyataan yang membenarkan firman Allah Swt. tersebut, padahal  mereka masih tetap mempercayai Al-Quran  serta  tetap mempercayai Rukun Iman dan Rukun Islam  -- termasuk membaca surah Al-Fatihah dan menyempaikan shalawat kepada Nabi Besar Muhammad --   tetapi mengapa  Allah Swt.  membiarkan mereka itu dalam "kobaran api" persengketaan dan peperangan?  Atau akan mengatakan bahwa itu adalah kehendak Allah Swt.? 
        Jawaban pertanyaan tersebut    adalah ucapan Nabi Musa a.s.  kepada Bani Israil berikut ini, firman-Nya:
وَ  اِذۡ  قَالَ مُوۡسٰی لِقَوۡمِہِ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَۃَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ  اِذۡ  اَنۡجٰکُمۡ مِّنۡ اٰلِ فِرۡعَوۡنَ یَسُوۡمُوۡنَکُمۡ سُوۡٓءَ الۡعَذَابِ وَ یُذَبِّحُوۡنَ  اَبۡنَآءَکُمۡ وَ یَسۡتَحۡیُوۡنَ نِسَآءَکُمۡ ؕ وَ فِیۡ  ذٰلِکُمۡ بَلَآءٌ  مِّنۡ رَّبِّکُمۡ  عَظِیۡمٌ ٪﴿﴾ وَ اِذۡ  تَاَذَّنَ  رَبُّکُمۡ  لَئِنۡ شَکَرۡتُمۡ لَاَزِیۡدَنَّکُمۡ  وَ لَئِنۡ کَفَرۡتُمۡ  اِنَّ عَذَابِیۡ لَشَدِیۡدٌ ﴿﴾
Dan ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Ingatlah kamu sekalian akan  nikmat Allah atas kamu ketika Dia menyelamatkan kamu dari kaum Fir’aun yang menimpakan kepada kamu azab yang buruk dan menyembelih anak-anak lelaki kamu dan membiarkan hidup perempuan-perempuan kamu. Dan dalam hal ini bagi kamu ada cobaan yang besar dari Rabb (Tuhan) kamu. Dan ketika Rabb (Tuhan) kamu mengumumkan, “Jika kamu bersyukur pasti Aku akan menambahkan lebih banyak kepada kamu, tetapi jika kamu tidak bersyukur sesungguhnya azab-Ku sangat keras.” (Ibrahim [14]:7-8).
Firman-Nya lagi:
مَا یَفۡعَلُ اللّٰہُ بِعَذَابِکُمۡ  اِنۡ شَکَرۡتُمۡ وَ اٰمَنۡتُمۡ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ شَاکِرًا عَلِیۡمًا ﴿﴾
Allah tidak akan mengazab kamu jika kamu bersyukur dan beriman, dan Allah  benar-benar Maha Menghargai,  Maha Mengetahui. (An-Nisaa [4]:148).

Upaya Memadamkan Tauhid Ilahi Dengan Mulut Kedustaan 

        Munculnya  berbagai  bid’ah   yang terjadi di kalangan umumnya umat Islam adalah sejenis  “kemusyrikan” sebagaimana yang terjadi di kalangan Bani Israil  --  walau pun mereka tetap mempercayai Allah Swt. sebagai Tuhan seluruh alam  --  firman-Nya:
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ  ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ  ابۡنُ  اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ  قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی  یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾ اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا  لِیَعۡبُدُوۡۤا  اِلٰـہًا  وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾  یُرِیۡدُوۡنَ  اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ  اِلَّاۤ  اَنۡ  یُّتِمَّ  نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾  ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾
Dan  orang-orang Yahudi berkata: “Uzair  adalah  anak Allah”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Al-Masih adalah  anak  Allah.” Demikian itulah perkataan mereka dengan mulutnya, mereka  meniru-niru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah membinasakan mereka, bagaimana mereka sampai dipalingkan dari Tauhid Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan begitu juga Al-Masih ibnu Maryam, padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa. Tidak ada Tuhan kecuali Dia. Maha-suci Dia dari apa yang mereka sekutukan.  Mereka  berkehendak memadamkan cahaya Allah  dengan mulut mereka, tetapi Allah menolak bahkan menyempurnakan cahaya-Nya, walau-pun orang-orang kafir tidak menyukai.  Dia-lah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama walau-pun orang-orang musyrik tidak menyukainya. (At-Taubah [9]:30-33).
        Ada pun alasan mereka  mengapa   “mempersekutukan” Allah Swt.  dengan selain-Nya tersebut  adalah:  مَا نَعۡبُدُہُمۡ  اِلَّا لِیُقَرِّبُوۡنَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  زُلۡفٰی --  “Kami sekali-kali tidak menyembah mereka itu melainkan supaya mereka  mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya”, sebagaimana  firman Allah Swt.   kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
اِنَّاۤ  اَنۡزَلۡنَاۤ  اِلَیۡکَ الۡکِتٰبَ بِالۡحَقِّ فَاعۡبُدِ اللّٰہَ  مُخۡلِصًا لَّہُ  الدِّیۡنَ ؕ﴿﴾ اَلَا لِلّٰہِ الدِّیۡنُ الۡخَالِصُ ؕ وَ الَّذِیۡنَ اتَّخَذُوۡا مِنۡ دُوۡنِہٖۤ  اَوۡلِیَآءَ ۘ مَا نَعۡبُدُہُمۡ  اِلَّا لِیُقَرِّبُوۡنَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  زُلۡفٰی ؕ اِنَّ اللّٰہَ یَحۡکُمُ بَیۡنَہُمۡ فِیۡ مَا ہُمۡ فِیۡہِ یَخۡتَلِفُوۡنَ ۬ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِیۡ مَنۡ ہُوَ کٰذِبٌ  کَفَّارٌ ﴿۳﴾ لَوۡ اَرَادَ  اللّٰہُ اَنۡ یَّتَّخِذَ وَلَدًا  لَّاصۡطَفٰی مِمَّا یَخۡلُقُ مَا یَشَآءُ ۙ سُبۡحٰنَہٗ ؕ ہُوَ اللّٰہُ  الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ ﴿﴾
Sesungguhnya Kami telah menurunkan  Kitab ini kepada engkau dengan haq maka sembahlah Allah dengan semurni-murni ketaatan kepada-Nya.   Ingat, hanya milik Allah-lah ketaatan yang murni. Dan berkata  orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Dia: مَا نَعۡبُدُہُمۡ  اِلَّا لِیُقَرِّبُوۡنَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  زُلۡفٰی  -- “Kami sekali-kali tidak menyembah mereka itu melainkan supaya mereka  mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.”  Sesungguhnya  Allah akan menghakimi di antara mereka mengenai apa yang di dalamnya mereka berselisih. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada siapa yang berdusta, tidak bersyukur.    Seandainya Allah hendak  mengambil seorang anak niscaya Dia memilih apa yang dikehendaki-Nya dari apa yang Dia  ciptakan. Maha Suci Dia, Dia-lah Allah Yang Maha Esa, Maha Unggul. (Az-Zumar [39]:3-5).

Washilah (Perantaraan) yang Dibuat-buat Kaum Musyrik

        Alasan mereka: مَا نَعۡبُدُہُمۡ  اِلَّا لِیُقَرِّبُوۡنَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  زُلۡفٰی – “Kami sekali-kali tidak menyembah mereka itu melainkan supaya mereka  mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya”,  bahwa umumnya manusia cenderung menyembah tuhan-tuhan palsu, berhala-berhala ciptaan sendiri, seperti wali-wali Allah dan orang-orang suci; kekayaan, kekuasaan dan hawa nafsu; kepercayaan dan adat kebiasaan turun-temurun, dan sebagainya, mereka senantiasa mengkhayalkan bahwa kesemuanya itu dapat menolong mereka untuk memahami dan mengerti hakikat Dzat Ilahi.
      Dengan demikian benarlah pernyataan Allah Swt. dalam  surah sebelum ini mengenai berbagai bentuk “kemusyrikan” --  berupa bid’ah-bid’ah yang  senantiasa mengotori  Tauhid Ilahi --   ketika umat beragama telah jauh dari masa kenabian yang penuh berkat (QS.57:17-18), firman-Nya:
 یُرِیۡدُوۡنَ  اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ  اِلَّاۤ  اَنۡ  یُّتِمَّ  نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾  ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾
Mereka  berkehendak memadamkan cahaya Allah  dengan mulut mereka, tetapi Allah menolak bahkan menyempurnakan cahaya-Nya, walau-pun orang-orang kafir tidak menyukai.  Dia-lah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama walau-pun orang-orang musyrik tidak menyukainya. (At-Taubah [9]:30-33).
       Makna “mulut mereka” dalam ayat tersebut adalah  berbagai bid’ah yang mereka ada-adakan sendiri menurut hawa-nafsu mereka, untuk memadamkan Tauhid Ilahi yang diajarkan para   nabi Allah, sebagaimana firman-Nya:
وَّ یُنۡذِرَ الَّذِیۡنَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا ٭﴿﴾  مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ ؕ کَبُرَتۡ کَلِمَۃً  تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ ؕ اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ  اِلَّا کَذِبًا ﴿﴾
Dan supaya memperingatkan orang-orang yang mengatakan Allah mengambil seorang anak  laki-laki. Mereka tidak memiliki ilmu pengetahuan mengenainya dan tidak pula bapak-bapak merekaکَبُرَتۡ کَلِمَۃً  تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ  --  Alangkah besar [bahaya] perkataan yang keluar dari mulut mereka. Mereka tidak mengucapkan  kecuali dusta. (Al-Kahf [18]:5-6).
        Menurut Allah Swt. bid’ah  atau kemusyrikan   yang mereka itu ada-adakan tersebut  hanya meniru-niru kepercayaan   kaum musyrik  para penyembah berhala zaman dulu,   firman-Nya:
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ  ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ  ابۡنُ  اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ  قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی  یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾ اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا  لِیَعۡبُدُوۡۤا  اِلٰـہًا  وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾  یُرِیۡدُوۡنَ  اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ  اِلَّاۤ  اَنۡ  یُّتِمَّ  نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾  ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾
Dan  orang-orang Yahudi berkata: “Uzair  adalah  anak Allah”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Al-Masih adalah  anak  Allah.” Demikian itulah perkataan mereka dengan mulutnya, mereka  meniru-niru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah membinasakan mereka, bagaimana mereka sampai dipalingkan dari Tauhid. Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan begitu juga Al-Masih ibnu Maryam, padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa. Tidak ada Tuhan kecuali Dia. Maha-suci Dia dari apa yang mereka sekutukan. Mereka  berkehendak memadamkan cahaya Allah  dengan mulut mereka, tetapi Allah menolak bahkan menyempurnakan cahaya-Nya, walau-pun orang-orang kafir tidak menyukai.  Dia-lah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama walau-pun orang-orang musyrik tidak menyukainya. (At-Taubah [9]:30-33).               

Bentuk Lain “Mempertuhankan” Nabi Isa a.s. &  Melampaui Batas Dalam Memahami Mukjizat  Para Nabi Allah

        Salah satu bentuk  “kemusyrikan”    berkenaan dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di kalangan umumnya umat Islam adalah:
        (1) Mempercayai Nabi Isa Ibu Maryam a.s. sampai saat ini masih hidup di langit dengan jasad kasarnya – dengan mengatasnamakan kehendak Allah Swt. --  padahal menurut Allah Swt. dalam Al-Quran seluruh nabi Allah  tanpa kecuali – termasuk Nabi Besar Muhammad saw. – telah wafat (QS.3:56 & 145, QS.5:117; QS.21: 35-36). Seandainya pun benar ada orang yang dapat hidup   di langit seharusnya Nabi Besar Muhammad saw., bukan Nabi Isa Ibnu Maryam Israili a.s., rasul Allah yang diutus hanya untuk Bani Israil (QS.3:46-52; QS.QS.61:7).
     (2) Karena keliru memahami ayat-ayat mutasyabihat Al-Quran (QS.3:8-9) mengenai mukjizat-mukjizat Nabi Isa a.s. umumnya umat Islam mempercayai bahwa Nabi isa Ibnu Maryam a.s. benar-benar bisa menciptakan burung dan dapat menghidupkan orang yang telah mati (QS.3:50; QS.5:111) padahal  hal tersebut sepenuhnya   merupakan hak prerogatif Allah Swt.
        Kemusyrikan seperti itu terjadi juga pada beberapa firqah  umat Islam, misalnya mengenai berbagai karamah Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani  r.a.,   antara lain  dipercayai bahwa beliau telah merebut kembali   ruh  seseorang dari tangan malaikat yang telah mencabut ruh orang tersebut, sehingga orang itu hidup kembali.
        Sungguh benar   ungkapan, bahwa “Para muridlah yang membuat gurunya terbang”, yakni akibat kefanatik-butaan  murid-murid dari para mursyid, mereka telah  melampaui batas dalam menceritakan   karamah-karamah  guru-guru spiritual mereka sehingga melebihi mukjizat-mukjizat para nabi Allah, termasuk mukjizat-mukjizat Nabi Besar Muhammad saw..
      Demikian juga ketika orang-orang  kafir menuntut berbagai macam mukjizat kepada beliau saw. sesuai kemauan hawa-nafsu mereka, Allah Swt. telah memerintahkan  kepada   Nabi Besar Muhammad saw.  untuk mengatakan:    سُبۡحَانَ رَبِّیۡ  ہَلۡ کُنۡتُ  اِلَّا بَشَرًا رَّسُوۡلًا   --  “Maha Suci Rabb-ku (Tuhan-ku), aku tidak lain melainkan seorang manusia [sebagai] seorang rasul”,  firman-Nya:
وَ قَالُوۡا لَنۡ نُّؤۡمِنَ لَکَ حَتّٰی تَفۡجُرَ  لَنَا مِنَ  الۡاَرۡضِ  یَنۡۢبُوۡعًا ﴿ۙ﴾  اَوۡ تَکُوۡنَ لَکَ جَنَّۃٌ  مِّنۡ نَّخِیۡلٍ وَّ عِنَبٍ فَتُفَجِّرَ  الۡاَنۡہٰرَ  خِلٰلَہَا تَفۡجِیۡرًا ﴿ۙ﴾  اَوۡ تُسۡقِطَ السَّمَآءَ کَمَا زَعَمۡتَ عَلَیۡنَا کِسَفًا اَوۡ تَاۡتِیَ بِاللّٰہِ  وَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ  قَبِیۡلًا ﴿ۙ﴾  اَوۡ  یَکُوۡنَ لَکَ بَیۡتٌ مِّنۡ زُخۡرُفٍ اَوۡ تَرۡقٰی فِی السَّمَآءِ ؕ وَ لَنۡ نُّؤۡمِنَ لِرُقِیِّکَ حَتّٰی تُنَزِّلَ عَلَیۡنَا کِتٰبًا نَّقۡرَؤُہٗ ؕ قُلۡ سُبۡحَانَ رَبِّیۡ  ہَلۡ کُنۡتُ  اِلَّا بَشَرًا رَّسُوۡلًا﴿٪﴾
Dan mereka berkata, “Sekali-kali kami tidak akan beriman kepada engkau sebelum engkau pancarkan untuk kami mata air dari bumi; atau engkau mempunyai kebun kurma dan anggur lalu engkau mengalirkan sungai yang bertlimpah di tengahnya; atau engkau menjatuhkan langit berkeping-keping sebagaimana engkau dakwahkan atas kami, atau engkau mendatangkan Allah dan  malaikat-malaikat berhadapan [dengan kami]; atau engkau mempunyai sebuah rumah dari emas atau engkau naik ke langit, dan sekali-kali kami tidak akan mempercayai kenaikan engkau [ke langit] hingga engkau menurunkan  kepada kami    sebuah kitab yang kami dapat membacanya.” قُلۡ سُبۡحَانَ رَبِّیۡ  ہَلۡ کُنۡتُ  اِلَّا بَشَرًا رَّسُوۡلًا --  Katakanlah, “Maha Suci Rabb-ku (Tuhan-ku), aku tidak lain melainkan seorang manusia [sebagai] seorang rasul” (Bani Israil [17]:91-94).

Kebutaan Mata Ruhani Para Penentang Rasul Allah

        Kemudian Allah Swt. berfirman  lagi kepada Nabi Besar Muhammad saw., bahwa  bukan “manusia Tuhan” melainkan hanya seorang rasul Allah yang mendapat wahyu Ilahi, firman-Nya:
 قُلۡ اِنَّمَاۤ  اَنَا بَشَرٌ  مِّثۡلُکُمۡ  یُوۡحٰۤی  اِلَیَّ اَنَّمَاۤ  اِلٰـہُکُمۡ  اِلٰہٌ  وَّاحِدٌ ۚ فَمَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا لِقَآءَ رَبِّہٖ فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلًا صَالِحًا وَّ لَا یُشۡرِکۡ بِعِبَادَۃِ  رَبِّہٖۤ  اَحَدًا ﴿﴾٪
Katakanlah, “Sesungguhnya aku adalah  manusia seperti kamu, [tetapi] telah diwahyukan kepadaku bahwa Rabb (Tuhan) kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, dan barangsiapa berharap bertemu dengan Rabb-nya (Tuhan-nya) maka hendaklah  melakukan amal shaleh dan jangan mempersekutukan siapa pun dalam beribadah kepada-Nya”   (Al-Kahf [18]:111).
        Memang benar bahwa para nabi Allah dan para wali Allah – termasuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan Nabi Besar Muhammad saw. – telah dianugerahi berbagai mukjizat dan karamah oleh Allah Swt., tetapi keadaan mukjizat-mukjizat dan karamah tersebut tidak seperti persepsi umum orang-orang yang diwarnai dengan takhayul dan melampaui batas. Sebab jika tidak demikian maka mustahil mereka itu akan didustakan dan ditentang oleh  para penentangnya  yang buta mata ruhaninya, sebagaimana  firman-Nya:
کَذٰلِکَ مَاۤ  اَتَی الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ  مِّنۡ رَّسُوۡلٍ  اِلَّا  قَالُوۡا  سَاحِرٌ  اَوۡ مَجۡنُوۡنٌ ﴿ۚ﴾ اَتَوَاصَوۡا بِہٖ ۚ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ طَاغُوۡنَ ﴿ۚ﴾
Demikianlah sekali-kali tidak pernah datang kepada orang-orang sebelum mereka seorang rasul melainkan mereka berkata: “Dia tukang sihir, atau orang gila!”  Adakah mereka saling mewasiatkan mengenai itu? Tidak, bahkan mereka itu semua kaum pendurhaka. (Adz- Dzaariyaat [51:53-54).
   Begitu menyoloknya persamaan tuduhan-tuduhan yang dilancarkan terhadap Nabi Besar Muhammad saw.   dan para mushlih rabbani (nabi Allah) lainnya – termasuk di Akhir Zaman ini terhadap Masih Mau’ud a.s.   -- oleh lawan-lawan mereka sepanjang masa, sehingga nampaknya orang-orang kafir dari abad tertentu mewariskan tuduhan-tuduhan itu kepada keturunan mereka, supaya terus melancarkan lagi tuduhan-tuduhan itu. Dengan demikian benarlah firman Allah Swt. berikut ini:
یٰحَسۡرَۃً عَلَی الۡعِبَادِ ۚؑ مَا یَاۡتِیۡہِمۡ مِّنۡ رَّسُوۡلٍ  اِلَّا  کَانُوۡا بِہٖ  یَسۡتَہۡزِءُوۡنَ ﴿﴾
Wahai sangat disesalkan atas hamba-hamba itu, sekali-kali tidak pernah datang kepada mereka seorang rasul melainkan mereka senantiasa mencemoohkannya (Yaa Siin, 31).  Lihat pula QS.15:11-14; QS.43:7-9.
        Kata-kata dalam ayat ini penuh dengan kesedihan, Tuhan Yang Maha Kuasa Sendiri agaknya seolah-olah sangat masygul atas penolakan dan ejekan manusia terhadap para nabi-Nya (rasul-Nya). Sementara para nabi Allah menanggung kesedihan dan derita untuk kaumnya, maka kaumnya itu membalas kesedihan mereka itu dengan penghinaan dan ejekan.

(Bersambung)
ooo

Rujukan: The Holy Quran
Editor    : Malik Ghulam Farid


Pajajaran Anyar,   7 Juli 2018 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar