Bismillaahirrahmaanirrahiim
KHAZANAH AL-QURAN
Bab 27
AKIBAT BURUK KUFUR
NIKMAT & KEBURUKAN BERLEBIHAN MEMAHAMI MUKJIZAT PARA NABI
ALLAH
Oleh
Ki
Langlang Buana Kusuma
وَ
یَوۡمَ نَبۡعَAثُ فِیۡ کُلِّ اُمَّۃٍ شَہِیۡدًا عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ
جِئۡنَا بِکَ شَہِیۡدًا عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ ؕ وَ نَزَّلۡنَا عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ
تِبۡیَانًا لِّکُلِّ شَیۡءٍ وَّ
ہُدًی وَّ رَحۡمَۃً
وَّ بُشۡرٰی لِلۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah
hari itu ketika Kami akan membangkitkan dalam setiap umat seorang saksi
terhadap mereka dari antara mereka sendiri, dan Kami akan mendatangkan engkau
sebagai saksi terhadap mereka semuanya. Dan Kami telah menurunkan kepada engkau Kitab itu
untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk, rahmat serta kabar gembira bagi
orang-orang yang berserah diri kepada Allah.
(An-Nahl
[16]:90).
|
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan nubuatan
dalam surah Al-Fatihah dan
mengenai topik Penghakiman Allah Swt. Selalu Melalui
Pengutusan Rasul Allah Yang
Dijanjikan. Sunnatullah
yang senantiasa terjadi dalam memberikan “penghakiman”
berkenaan perselisihan yang terjadi
di kalangan umat beragama dan firqah-firqah umat beragama tersebut
tidak pernah diserahkan kepada para pemuka
kaum atau pemuka agama,
melainkan selalu melalui pengutusan rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan dari kalangan Bani Adam (QS.7:35-37), firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ اَجَلٌ ۚ
فَاِذَا جَآءَ اَجَلُہُمۡ
لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً وَّ
لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ
اٰدَمَ اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ
رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ
فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ
اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ
اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan bagi tiap-tiap umat ada batas
waktu, maka apabila telah
datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun
dan tidak pula dapat memajukannya.
Wahai Bani Adam, jika
datang kepada kamu rasul-rasul
dari antaramu yang menceritakan Ayat-ayat-Ku kepada kamu, maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, maka tidak akan ada ketakutan menimpa mereka
dan tidak pula mereka akan bersedih hati.
Dan orang-orang
yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan
takabur berpaling darinya, mereka itu
penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-A’raaf [7]:35-37).
Sesuai dengan firman Allah Swt. tersebut, dalam surah
lainnya Allah Swt. berfirman kepada umat
Islam mengenai cara Allah Swt.
memberi keputusan berkenaan perselisihan yang terjadi di kalangan
mereka, ketika masing-masing pihak mendakwakan sebagai firqah yang paling benar sedang
firqah-firqah yang lainnya sesat dan menyesatkan, firman-Nya:
مَا کَانَ اللّٰہُ لِیَذَرَ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ عَلٰی مَاۤ اَنۡتُمۡ
عَلَیۡہِ حَتّٰی یَمِیۡزَ الۡخَبِیۡثَ
مِنَ الطَّیِّبِ ؕ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ
لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ۪ فَاٰمِنُوۡا
بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ وَ اِنۡ
تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ
اَجۡرٌ عَظِیۡمٌ ﴿﴾
Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman di dalam
keadaan kamu berada di dalamnya hingga Dia memisahkan yang buruk dari yang baik. Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan yang gaib kepada kamu, tetapi Allah memilih di antara rasul-rasul-Nya siapa yang Dia
kehendaki, karena itu berimanlah
kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya,
dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagi kamu ganjaran yang besar. (Ali ‘Imraan [3]:180).
Menyimpangkan Tauhid Ilahi &
Akibat Buruk Kufur
Nikmat
Merupakan Sunnatullah
pula, bahwa seiring dengan berkembangnya umat beragama dan semakin jauhnya mereka dari masa
kenabian yang penuh berkat, berbagai macam pemahaman
keliru mengenai Tauhid Ilahi dan kenabian pun turut memperkeruh pemahaman mengenai ajaran agama
Tauhid, dan Sunnatullah tersebut
berlaku pula pada umat Islam, sebab yang mendapat jaminan pemeliharaan Allah Swt. adalah Al-Quran (QS.15:10), bukan umat Islam, firman-Nya:
اَلَمۡ یَاۡنِ لِلَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡۤا اَنۡ تَخۡشَعَ قُلُوۡبُہُمۡ لِذِکۡرِ اللّٰہِ وَ مَا نَزَلَ مِنَ الۡحَقِّ ۙ وَ
لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ فَطَالَ
عَلَیۡہِمُ الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ
قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ کَثِیۡرٌ مِّنۡہُمۡ
فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾ اِعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ
مَوۡتِہَا ؕ قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Apakah belum sampai waktu bagi orang-orang yang
beriman, bahwa hati mereka tunduk
untuk mengingat Allah dan mengingat
kebenaran yang telah turun kepada
mereka, dan mereka tidak menjadi seperti orang-orang yang diberi kitab
sebelumnya, maka zaman kesejahteraan
menjadi panjang atas mereka
lalu hati mereka menjadi keras, dan kebanyakan
dari mereka menjadi durhaka? Ketahuilah, bahwasanya Allah menghidupkan
bumi sesudah matinya. Sungguh Kami
telah menjelaskan Tanda-tanda kepadamu supaya kamu mengerti. (Al-Hadiid [57]:17-18).
Konfik berkepanjangan di kalangan umat Islam di berbagai negara
Muslim di kawasaan Timur Tengah
saat ini merupakan kenyataan yang
membenarkan firman Allah Swt. tersebut,
padahal mereka masih tetap mempercayai Al-Quran
serta tetap mempercayai Rukun Iman dan Rukun Islam -- termasuk
membaca surah Al-Fatihah dan
menyempaikan shalawat kepada Nabi
Besar Muhammad -- tetapi mengapa Allah Swt.
membiarkan mereka itu dalam "kobaran api" persengketaan dan peperangan? Atau akan mengatakan bahwa itu adalah kehendak Allah Swt.?
Jawaban pertanyaan tersebut adalah ucapan Nabi Musa a.s. kepada Bani
Israil berikut ini, firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ مُوۡسٰی لِقَوۡمِہِ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَۃَ
اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ اِذۡ اَنۡجٰکُمۡ مِّنۡ اٰلِ فِرۡعَوۡنَ
یَسُوۡمُوۡنَکُمۡ سُوۡٓءَ الۡعَذَابِ وَ یُذَبِّحُوۡنَ اَبۡنَآءَکُمۡ وَ یَسۡتَحۡیُوۡنَ نِسَآءَکُمۡ
ؕ وَ فِیۡ ذٰلِکُمۡ بَلَآءٌ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ عَظِیۡمٌ ٪﴿﴾
وَ
اِذۡ تَاَذَّنَ رَبُّکُمۡ
لَئِنۡ شَکَرۡتُمۡ لَاَزِیۡدَنَّکُمۡ
وَ لَئِنۡ کَفَرۡتُمۡ اِنَّ
عَذَابِیۡ لَشَدِیۡدٌ ﴿﴾
Dan ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Ingatlah kamu sekalian akan nikmat
Allah atas kamu ketika Dia
menyelamatkan kamu dari kaum Fir’aun yang menimpakan kepada kamu azab
yang buruk dan menyembelih anak-anak
lelaki kamu dan membiarkan hidup
perempuan-perempuan kamu. Dan dalam hal ini bagi kamu ada cobaan yang besar dari Rabb (Tuhan) kamu. Dan ketika Rabb (Tuhan) kamu mengumumkan, “Jika kamu bersyukur pasti Aku akan menambahkan lebih banyak kepada
kamu, tetapi jika kamu tidak
bersyukur sesungguhnya azab-Ku
sangat keras.” (Ibrahim [14]:7-8).
Firman-Nya
lagi:
مَا یَفۡعَلُ اللّٰہُ بِعَذَابِکُمۡ
اِنۡ شَکَرۡتُمۡ وَ اٰمَنۡتُمۡ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ شَاکِرًا عَلِیۡمًا ﴿﴾
Allah tidak akan mengazab kamu jika kamu bersyukur dan beriman, dan Allah benar-benar Maha Menghargai, Maha Mengetahui. (An-Nisaa [4]:148).
Upaya Memadamkan Tauhid Ilahi Dengan Mulut Kedustaan
Munculnya
berbagai
bid’ah yang
terjadi di kalangan umumnya umat Islam adalah sejenis “kemusyrikan”
sebagaimana yang terjadi di kalangan Bani
Israil -- walau pun mereka tetap mempercayai Allah Swt. sebagai Tuhan seluruh alam -- firman-Nya:
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ ابۡنُ
اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ
قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾ اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا
مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ
وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ
مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا
لِیَعۡبُدُوۡۤا اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾ یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ
بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ
اِلَّاۤ اَنۡ یُّتِمَّ نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾ ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی
الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ
کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾
Dan orang-orang
Yahudi berkata: “Uzair adalah anak
Allah”, dan orang-orang Nasrani
berkata: “Al-Masih adalah anak Allah.” Demikian itulah perkataan mereka dengan mulutnya,
mereka meniru-niru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah membinasakan mereka, bagaimana mereka sampai dipalingkan dari
Tauhid Mereka
telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan
selain Allah, dan begitu juga Al-Masih
ibnu Maryam, padahal mereka tidak
diperintahkan melainkan supaya mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa. Tidak ada Tuhan kecuali Dia. Maha-suci Dia
dari apa yang mereka sekutukan. Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah dengan
mulut mereka, tetapi Allah menolak
bahkan menyempurnakan cahaya-Nya, walau-pun orang-orang kafir tidak menyukai. Dia-lah
Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan agama yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama
walau-pun orang-orang musyrik tidak menyukainya.
(At-Taubah
[9]:30-33).
Ada pun alasan
mereka mengapa “mempersekutukan” Allah Swt. dengan selain-Nya
tersebut adalah: مَا نَعۡبُدُہُمۡ اِلَّا لِیُقَرِّبُوۡنَاۤ اِلَی اللّٰہِ
زُلۡفٰی -- “Kami
sekali-kali tidak menyembah mereka itu
melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya”,
sebagaimana firman Allah Swt. kepada
Nabi Besar Muhammad saw.:
اِنَّاۤ اَنۡزَلۡنَاۤ
اِلَیۡکَ الۡکِتٰبَ بِالۡحَقِّ فَاعۡبُدِ اللّٰہَ مُخۡلِصًا لَّہُ الدِّیۡنَ ؕ﴿﴾
اَلَا
لِلّٰہِ الدِّیۡنُ الۡخَالِصُ ؕ وَ الَّذِیۡنَ اتَّخَذُوۡا مِنۡ دُوۡنِہٖۤ اَوۡلِیَآءَ ۘ مَا نَعۡبُدُہُمۡ اِلَّا لِیُقَرِّبُوۡنَاۤ اِلَی اللّٰہِ
زُلۡفٰی ؕ اِنَّ اللّٰہَ یَحۡکُمُ بَیۡنَہُمۡ فِیۡ مَا ہُمۡ فِیۡہِ یَخۡتَلِفُوۡنَ
۬ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَا یَہۡدِیۡ مَنۡ ہُوَ
کٰذِبٌ کَفَّارٌ ﴿۳﴾ لَوۡ اَرَادَ اللّٰہُ اَنۡ یَّتَّخِذَ وَلَدًا لَّاصۡطَفٰی مِمَّا یَخۡلُقُ مَا یَشَآءُ ۙ
سُبۡحٰنَہٗ ؕ ہُوَ اللّٰہُ الۡوَاحِدُ
الۡقَہَّارُ ﴿﴾
Sesungguhnya
Kami telah menurunkan Kitab ini kepada engkau dengan haq maka sembahlah Allah dengan semurni-murni ketaatan kepada-Nya. Ingat,
hanya milik Allah-lah ketaatan yang
murni. Dan berkata orang-orang yang mengambil
pelindung-pelindung selain Dia: مَا نَعۡبُدُہُمۡ اِلَّا لِیُقَرِّبُوۡنَاۤ اِلَی اللّٰہِ
زُلۡفٰی -- “Kami
sekali-kali tidak menyembah mereka itu
melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah
sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah
akan menghakimi di antara mereka mengenai apa yang di dalamnya mereka berselisih. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada siapa
yang berdusta, tidak bersyukur. Seandainya Allah hendak mengambil seorang
anak niscaya Dia memilih apa yang
dikehendaki-Nya dari apa yang
Dia ciptakan. Maha Suci Dia, Dia-lah Allah
Yang Maha Esa, Maha Unggul. (Az-Zumar
[39]:3-5).
Washilah (Perantaraan) yang Dibuat-buat
Kaum Musyrik
Alasan mereka:
مَا نَعۡبُدُہُمۡ اِلَّا
لِیُقَرِّبُوۡنَاۤ اِلَی اللّٰہِ زُلۡفٰی – “Kami sekali-kali tidak menyembah mereka itu
melainkan supaya mereka mendekatkan kami
kepada Allah sedekat-dekatnya”, bahwa
umumnya manusia cenderung menyembah
tuhan-tuhan palsu, berhala-berhala
ciptaan sendiri, seperti wali-wali Allah
dan orang-orang suci; kekayaan,
kekuasaan dan hawa nafsu; kepercayaan
dan adat kebiasaan turun-temurun, dan
sebagainya, mereka senantiasa mengkhayalkan
bahwa kesemuanya itu dapat menolong
mereka untuk memahami dan mengerti hakikat Dzat Ilahi.
Dengan demikian benarlah pernyataan Allah
Swt. dalam surah sebelum ini mengenai
berbagai bentuk “kemusyrikan” -- berupa bid’ah-bid’ah
yang senantiasa mengotori Tauhid
Ilahi -- ketika umat
beragama telah jauh dari masa kenabian yang penuh berkat (QS.57:17-18), firman-Nya:
یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ
بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ
اِلَّاۤ اَنۡ یُّتِمَّ نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾ ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی
الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ
کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾
Mereka berkehendak
memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, tetapi Allah menolak bahkan menyempurnakan
cahaya-Nya, walau-pun orang-orang
kafir tidak menyukai. Dia-lah
Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan agama yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama
walau-pun orang-orang musyrik tidak menyukainya.
(At-Taubah
[9]:30-33).
Makna “mulut mereka” dalam ayat tersebut adalah berbagai bid’ah
yang mereka ada-adakan sendiri
menurut hawa-nafsu mereka, untuk
memadamkan Tauhid Ilahi yang
diajarkan para nabi Allah, sebagaimana firman-Nya:
وَّ یُنۡذِرَ
الَّذِیۡنَ قَالُوا
اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا ٭﴿﴾ مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ
عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ ؕ کَبُرَتۡ
کَلِمَۃً تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ ؕ اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ اِلَّا کَذِبًا ﴿﴾
Dan supaya memperingatkan orang-orang yang mengatakan Allah mengambil seorang
anak laki-laki. Mereka tidak memiliki ilmu pengetahuan mengenainya
dan tidak pula bapak-bapak mereka. کَبُرَتۡ کَلِمَۃً تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ -- Alangkah besar
[bahaya] perkataan yang keluar dari
mulut mereka. Mereka tidak
mengucapkan kecuali dusta. (Al-Kahf [18]:5-6).
Menurut Allah Swt. bid’ah atau kemusyrikan yang mereka itu ada-adakan tersebut hanya meniru-niru kepercayaan kaum
musyrik para penyembah berhala zaman dulu,
firman-Nya:
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ ابۡنُ
اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ
قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾ اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا
مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ
وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ
مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا
لِیَعۡبُدُوۡۤا اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾ یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ
بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ
اِلَّاۤ اَنۡ یُّتِمَّ نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾ ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی
الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ
کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾
Dan orang-orang
Yahudi berkata: “Uzair adalah anak
Allah”, dan orang-orang Nasrani
berkata: “Al-Masih adalah anak Allah.” Demikian itulah perkataan mereka dengan mulutnya,
mereka meniru-niru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah membinasakan mereka, bagaimana mereka sampai dipalingkan dari
Tauhid. Mereka
telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan
selain Allah, dan begitu juga Al-Masih
ibnu Maryam, padahal mereka tidak
diperintahkan melainkan supaya mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa. Tidak ada Tuhan kecuali Dia. Maha-suci Dia
dari apa yang mereka sekutukan. Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah dengan
mulut mereka, tetapi Allah menolak
bahkan menyempurnakan cahaya-Nya, walau-pun orang-orang kafir tidak menyukai. Dia-lah
Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan agama yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama
walau-pun orang-orang musyrik tidak menyukainya.
(At-Taubah
[9]:30-33).
Bentuk Lain “Mempertuhankan” Nabi Isa a.s. &
Melampaui Batas Dalam Memahami
Mukjizat Para Nabi
Allah
Salah satu bentuk “kemusyrikan”
berkenaan dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di kalangan umumnya umat Islam adalah:
(1)
Mempercayai Nabi Isa Ibu Maryam a.s.
sampai saat ini masih hidup di langit
dengan jasad kasarnya – dengan
mengatasnamakan kehendak Allah Swt.
-- padahal menurut Allah Swt. dalam
Al-Quran seluruh nabi Allah tanpa kecuali – termasuk Nabi Besar Muhammad
saw. – telah wafat (QS.3:56 &
145, QS.5:117; QS.21: 35-36). Seandainya pun benar ada orang yang dapat hidup di langit seharusnya Nabi Besar Muhammad saw., bukan Nabi Isa Ibnu Maryam Israili a.s., rasul Allah yang diutus hanya untuk Bani Israil (QS.3:46-52; QS.QS.61:7).
(2) Karena keliru memahami ayat-ayat
mutasyabihat Al-Quran (QS.3:8-9) mengenai mukjizat-mukjizat Nabi Isa a.s. umumnya umat Islam mempercayai bahwa Nabi isa Ibnu Maryam a.s. benar-benar
bisa menciptakan burung dan dapat menghidupkan orang yang telah mati (QS.3:50; QS.5:111) padahal hal tersebut sepenuhnya merupakan hak prerogatif Allah Swt.
Kemusyrikan seperti itu terjadi juga
pada beberapa firqah umat
Islam, misalnya mengenai berbagai karamah
Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani r.a., antara
lain dipercayai bahwa beliau telah merebut kembali ruh seseorang dari tangan malaikat yang telah mencabut
ruh orang tersebut, sehingga orang itu hidup
kembali.
Sungguh benar ungkapan,
bahwa “Para muridlah yang membuat gurunya
terbang”, yakni akibat kefanatik-butaan murid-murid dari para mursyid, mereka telah melampaui batas dalam menceritakan karamah-karamah guru-guru
spiritual mereka sehingga melebihi mukjizat-mukjizat
para nabi Allah, termasuk mukjizat-mukjizat Nabi Besar Muhammad
saw..
Demikian juga ketika orang-orang kafir
menuntut berbagai macam mukjizat
kepada beliau saw. sesuai kemauan
hawa-nafsu mereka, Allah Swt. telah memerintahkan kepada Nabi
Besar Muhammad saw. untuk
mengatakan: سُبۡحَانَ
رَبِّیۡ ہَلۡ کُنۡتُ اِلَّا بَشَرًا رَّسُوۡلًا -- “Maha
Suci Rabb-ku (Tuhan-ku), aku tidak lain melainkan seorang manusia [sebagai] seorang
rasul”, firman-Nya:
وَ قَالُوۡا لَنۡ نُّؤۡمِنَ لَکَ حَتّٰی تَفۡجُرَ لَنَا مِنَ
الۡاَرۡضِ یَنۡۢبُوۡعًا ﴿ۙ﴾ اَوۡ تَکُوۡنَ لَکَ
جَنَّۃٌ مِّنۡ نَّخِیۡلٍ وَّ عِنَبٍ
فَتُفَجِّرَ الۡاَنۡہٰرَ خِلٰلَہَا تَفۡجِیۡرًا ﴿ۙ﴾ اَوۡ تُسۡقِطَ
السَّمَآءَ کَمَا زَعَمۡتَ عَلَیۡنَا کِسَفًا اَوۡ تَاۡتِیَ بِاللّٰہِ وَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ قَبِیۡلًا ﴿ۙ﴾ اَوۡ یَکُوۡنَ
لَکَ بَیۡتٌ مِّنۡ زُخۡرُفٍ اَوۡ تَرۡقٰی فِی السَّمَآءِ ؕ وَ لَنۡ نُّؤۡمِنَ
لِرُقِیِّکَ حَتّٰی تُنَزِّلَ عَلَیۡنَا کِتٰبًا نَّقۡرَؤُہٗ ؕ قُلۡ سُبۡحَانَ
رَبِّیۡ ہَلۡ کُنۡتُ اِلَّا بَشَرًا رَّسُوۡلًا﴿٪﴾
Dan mereka
berkata, “Sekali-kali kami tidak akan
beriman kepada engkau sebelum engkau
pancarkan untuk kami mata air dari bumi; atau engkau mempunyai kebun kurma dan anggur lalu engkau mengalirkan sungai yang bertlimpah di tengahnya; atau engkau menjatuhkan langit berkeping-keping
sebagaimana engkau dakwahkan atas kami, atau engkau mendatangkan Allah dan
malaikat-malaikat berhadapan [dengan kami]; atau engkau mempunyai sebuah rumah dari emas
atau engkau naik ke langit, dan sekali-kali kami tidak akan mempercayai
kenaikan engkau [ke langit] hingga engkau
menurunkan kepada kami sebuah kitab yang kami dapat membacanya.” قُلۡ سُبۡحَانَ رَبِّیۡ ہَلۡ کُنۡتُ
اِلَّا بَشَرًا رَّسُوۡلًا -- Katakanlah, “Maha Suci Rabb-ku (Tuhan-ku), aku tidak lain melainkan seorang manusia [sebagai] seorang rasul” (Bani Israil [17]:91-94).
Kebutaan Mata Ruhani Para Penentang Rasul
Allah
Kemudian
Allah Swt. berfirman lagi kepada Nabi
Besar Muhammad saw., bahwa bukan “manusia Tuhan” melainkan hanya seorang rasul Allah yang mendapat wahyu Ilahi, firman-Nya:
قُلۡ اِنَّمَاۤ اَنَا بَشَرٌ مِّثۡلُکُمۡ یُوۡحٰۤی اِلَیَّ اَنَّمَاۤ اِلٰـہُکُمۡ اِلٰہٌ وَّاحِدٌ ۚ فَمَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا لِقَآءَ رَبِّہٖ فَلۡیَعۡمَلۡ
عَمَلًا صَالِحًا وَّ لَا یُشۡرِکۡ
بِعِبَادَۃِ رَبِّہٖۤ اَحَدًا ﴿﴾٪
Katakanlah,
“Sesungguhnya aku adalah manusia seperti kamu, [tetapi] telah diwahyukan kepadaku bahwa Rabb (Tuhan) kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, dan barangsiapa berharap bertemu dengan Rabb-nya (Tuhan-nya) maka
hendaklah melakukan amal shaleh dan jangan
mempersekutukan siapa pun dalam beribadah
kepada-Nya” (Al-Kahf [18]:111).
Memang benar bahwa para nabi Allah dan para wali Allah – termasuk Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. dan Nabi Besar
Muhammad saw. – telah dianugerahi berbagai mukjizat dan karamah oleh
Allah Swt., tetapi keadaan mukjizat-mukjizat
dan karamah tersebut tidak seperti persepsi umum orang-orang yang diwarnai
dengan takhayul dan melampaui batas. Sebab jika tidak demikian maka mustahil mereka itu akan didustakan
dan ditentang oleh para penentangnya
yang buta mata ruhaninya, sebagaimana
firman-Nya:
کَذٰلِکَ مَاۤ اَتَی الَّذِیۡنَ مِنۡ
قَبۡلِہِمۡ مِّنۡ رَّسُوۡلٍ اِلَّا
قَالُوۡا سَاحِرٌ اَوۡ مَجۡنُوۡنٌ ﴿ۚ﴾
اَتَوَاصَوۡا
بِہٖ ۚ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ طَاغُوۡنَ ﴿ۚ﴾
Demikianlah
sekali-kali tidak pernah datang kepada
orang-orang sebelum mereka seorang rasul melainkan mereka berkata: “Dia tukang sihir, atau orang gila!”
Adakah mereka saling mewasiatkan
mengenai itu? Tidak, bahkan mereka
itu semua kaum pendurhaka. (Adz- Dzaariyaat [51:53-54).
Begitu
menyoloknya persamaan tuduhan-tuduhan
yang dilancarkan terhadap Nabi Besar
Muhammad saw. dan para mushlih
rabbani (nabi Allah) lainnya – termasuk di Akhir Zaman ini terhadap Masih
Mau’ud a.s. -- oleh lawan-lawan mereka sepanjang masa,
sehingga nampaknya orang-orang kafir
dari abad tertentu mewariskan
tuduhan-tuduhan itu kepada keturunan
mereka, supaya terus melancarkan lagi tuduhan-tuduhan
itu. Dengan demikian benarlah firman Allah Swt. berikut ini:
یٰحَسۡرَۃً عَلَی
الۡعِبَادِ ۚؑ مَا یَاۡتِیۡہِمۡ مِّنۡ رَّسُوۡلٍ اِلَّا
کَانُوۡا بِہٖ یَسۡتَہۡزِءُوۡنَ ﴿﴾
Wahai sangat disesalkan atas hamba-hamba itu,
sekali-kali tidak pernah datang kepada
mereka seorang rasul melainkan mereka
senantiasa mencemoohkannya (Yaa Siin, 31). Lihat pula QS.15:11-14; QS.43:7-9.
Kata-kata dalam ayat ini penuh dengan kesedihan, Tuhan Yang Maha Kuasa Sendiri
agaknya seolah-olah sangat masygul
atas penolakan dan ejekan manusia terhadap para nabi-Nya (rasul-Nya). Sementara para nabi Allah menanggung kesedihan dan derita untuk kaumnya, maka
kaumnya itu membalas kesedihan mereka
itu dengan penghinaan dan ejekan.
(Bersambung)
ooo
Rujukan: The
Holy Quran
Editor : Malik
Ghulam Farid
Pajajaran Anyar, 7 Juli 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar