Bismillaahirrahmaanirrahiim
KHAZANAH AL-QURAN
Bab 29
KERAGUAN SAUDARA-SAUDARA NABI YUSUF A.S. MENGENAI KENABIAN NABI
YA’QUB A.S. & PENTINGNYA
BERIMAN KEPADA NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Oleh
Ki
Langlang Buana Kusuma
وَ
یَوۡمَ نَبۡعَثُ فِیۡ کُلِّ اُمَّۃٍ شَہِیۡدًا عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ
جِئۡنَا بِکَ شَہِیۡدًا عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ ؕ وَ نَزَّلۡنَا عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ
تِبۡیَانًا لِّکُلِّ شَیۡءٍ وَّ
ہُدًی وَّ رَحۡمَۃً
وَّ بُشۡرٰی لِلۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah
hari itu ketika Kami akan membangkitkan dalam setiap umat seorang saksi
terhadap mereka dari antara mereka sendiri, dan Kami akan mendatangkan engkau
sebagai saksi terhadap mereka semuanya. Dan Kami telah menurunkan kepada engkau Kitab itu
untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk, rahmat serta kabar gembira bagi
orang-orang yang berserah diri kepada Allah.
(An-Nahl
[16]:90).
|
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan topic Dialog Nabi Ya’qub a.s. Menjelang Wafat Dengan Anak-anaknya, yakni dalam ayat selanjutnya diterangkan bahwa Nabi
Ya’qub a.s. ketika akan meninggal dunia di Mesir telah meminta ketegasan
dari anak-anak beliau mengenai kesetiaan
mereka terhadap millat yang diwariskan
leluhur mereka, Nabi Ibrahim a.s.,
karena -- kecuali terhadap Nabi
Yusuf a.s. dan adik beliau, Benyamin
-- nampaknya Nabi Ya’qub a.s. meragukan keimanan kakak-kakak Nabi Yusuf a.s., sebagaimana yang dikemukakan dalam Surah Yusuf (QS.12:6-21), firman-Nya:
اَمۡ کُنۡتُمۡ شُہَدَآءَ اِذۡ حَضَرَ یَعۡقُوۡبَ
الۡمَوۡتُ ۙ اِذۡ قَالَ لِبَنِیۡہِ مَا
تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡۢ بَعۡدِیۡ ؕ قَالُوۡا نَعۡبُدُ
اِلٰہَکَ وَ اِلٰـہَ اٰبَآئِکَ اِبۡرٰہٖمَ وَ اِسۡمٰعِیۡلَ وَ اِسۡحٰقَ اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚۖ وَّ نَحۡنُ لَہٗ مُسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Ataukah kamu hadir
saat kematian menjelang Ya’qub
ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apakah
yang akan kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhan engkau dan Tuhan bapak-bapak eng-kau: Ibrahim, Isma’il, dan Ishaq,
yaitu Tuhan Yang Esa, dan hanya kepada-Nya
kami berserah diri.” (Al-Baqarah
[2]:134).
Kata anak-cucu di sini menunjuk kepada kedua belas suku Bani Israil yang masing-masing disebut
menurut nama kedua belas putra Nabi Ya’qub a.s.: Rubin, Simeon, Levi, Yehuda, Isakhar,
Zebulon, Yusuf, Benyamin, Dan,
Naftali, Gad dan Asyer (Kejadian
35:23-26, 49: 28).
Dari Bible
dan Al-Quran diketahui bahwa akibat kedengkian saudara-saudara seayah Nabi Yusuf a.s. kepada beliau, bukan saja telah membuat Nabi Yusuf a.s. berada di
Mesir, bahkan keluarga besar beliau
pun -- akibat kemarau panjang yang melanda wilayah Timur tengah selama 7 tahun – mereka pun hijrah ke Mesir karena Nabi Yusuf a.s. telah menjadi seorang pejabat tinggi di Kerajaan Mesir (Kejadian Bab 37-50; QS.12:8-22 & 44-58). Kemudian setelah
Nabi Yusuf a.s wafat -- karena Bani
Israil merupakan orang-orang asing di Mesir
-- kemudian mereka diperbudak secara aniaya oleh para Fir’aun
di Mesir selama 400 tahun (Kejadian 15:12-16; QS.28:4-7).
Ketidak-setiaan Bani Israil Terhadap Tauhid Ilahi dan Rasul
Allah
Walau pun
akhirnya saudara-saudara Nabi Yusuf a.s. di Mesir mengakui keutamaan Nabi Yusuf a.s. dibanding
mereka (QS.12:89-95) – yang sebelumnya
mereka telah melakukan berbagai bentuk kedengkian
kepada Nabi Yusuf a.s., bahkan berusaha membunuh
beliau, karena mereka menganggap ayah mereka,
Nabi Yaqub a.s., lebih memperhatikan Nabi Yusuf a.s. daripada kepada
mereka (QS.12:8-21 & 85-87 & 95-97)
-- tetapi mereka tetap meragukan kedudukan Nabi Yusuf a.s. sebagai sebagai
seorang nabi (rasul) Allah, sebagaimana halnya terhadap kenabian Nabi Ya’qub a.s..
Keraguan
anak-anak Nabi Ya’qub a.s. terhadap kenabian
ayahnya tersebut diisyaratkan dalam
firman-Nya berikut ini:
وَ لَمَّا فَصَلَتِ الۡعِیۡرُ قَالَ اَبُوۡہُمۡ اِنِّیۡ لَاَجِدُ رِیۡحَ یُوۡسُفَ لَوۡ لَاۤ اَنۡ تُفَنِّدُوۡنِ ﴿﴾ قَالُوۡا تَاللّٰہِ
اِنَّکَ لَفِیۡ ضَلٰلِکَ
الۡقَدِیۡمِ ﴿ٙ﴾
Dan ketika kafilah itu telah bertolak [dari Mesir]
berkatalah ayah mereka, “Sesungguhnya aku
mencium aroma Yusuf meski pun kamu
menganggap diriku pikun.” Mereka berkata, “Demi Allah, sesungguhnya engkau
masih di dalam kekeliruan engkau yang lama.” (Yusuf [12]:95-96).
Jadi, tidak berlebihan kalau ketidak-percayaan
saudara-saudara seayah Nabi Yusuf a.s. terhadap
kenabian Nabi Ya’qub a.s. tersebut juga
terhadap kenabian Nabi Yusuf
a.s., sebab kenabian adalah suatu martabat
ruhani yang sangat halus. Itulah
sebabnya istri Nabi Nuh a.s. dan istri Nabi Luth a.s. pun menentang kenabian
suami mereka, firman-Nya:
ضَرَبَ اللّٰہُ مَثَلًا لِّلَّذِیۡنَ
کَفَرُوا امۡرَاَتَ نُوۡحٍ وَّ
امۡرَاَتَ لُوۡطٍ ؕ کَانَتَا تَحۡتَ
عَبۡدَیۡنِ مِنۡ عِبَادِنَا صَالِحَیۡنِ فَخَانَتٰہُمَا فَلَمۡ یُغۡنِیَا
عَنۡہُمَا مِنَ اللّٰہِ شَیۡئًا وَّ قِیۡلَ ادۡخُلَا النَّارَ مَعَ الدّٰخِلِیۡنَ ﴿﴾
Allah mengemukakan istri Nuh dan istri Luth sebagai misal bagi orang-orang kafir. Keduanya di bawah dua hamba dari hamba-hamba Kami
yang saleh, tetapi keduanya berbuat
khianat kepada kedua suami mereka, maka mereka berdua sedikit pun tidak dapat
membela kedua istri mereka itu di hadapan Allah, dan dikatakan kepada
mereka: “Masuklah kamu berdua
ke dalam Api beserta orang-orang yang masuk.” (At-Tahrim [66]:11).
Itikad Sesat “Tidak Ada Lagi
nabi Sesudahnya”
Kalau pun
orang-orang yang menentang rasul
Allah tersebut kemudian beriman
kepada rasul Allah yang sebelumnya mereka dustakan dan tentang tersebut
tetapi selalu diembel-embeli itikad sesat “Laa
nabiyya ba’dahuu” (tidak ada lagi nabi sesudahnya), sebagaimana sikap Fir’aun serta kaumnya.
Sehubungan dengan hal tersebut berikut adalah firman Allah Swt.
mengenai perkataan seorang yang beriman di kalangan keluarga Fir’aun yang sebelumnya menyembunyikan keimanannya kepada Nabi Musa a.s. dan
Nabi Harun a.s.:
وَ لَقَدۡ جَآءَکُمۡ یُوۡسُفُ مِنۡ قَبۡلُ بِالۡبَیِّنٰتِ فَمَا زِلۡتُمۡ
فِیۡ شَکٍّ مِّمَّا جَآءَکُمۡ بِہٖ ؕ حَتّٰۤی اِذَا ہَلَکَ قُلۡتُمۡ لَنۡ یَّبۡعَثَ
اللّٰہُ مِنۡۢ بَعۡدِہٖ رَسُوۡلًا ؕ کَذٰلِکَ یُضِلُّ اللّٰہُ مَنۡ
ہُوَ مُسۡرِفٌ مُّرۡتَابُۨ ﴿ۚۖ﴾ الَّذِیۡنَ یُجَادِلُوۡنَ فِیۡۤ
اٰیٰتِ اللّٰہِ بِغَیۡرِ سُلۡطٰنٍ اَتٰہُمۡ ؕ کَبُرَ مَقۡتًا عِنۡدَ
اللّٰہِ وَ عِنۡدَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ؕ کَذٰلِکَ یَطۡبَعُ اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ
قَلۡبِ مُتَکَبِّرٍ جَبَّارٍ ﴿﴾
Dan sungguh
benar-benar telah datang kepada kamu
Yusuf sebelum ini dengan bukti-bukti yang nyata, tetapi kamu selalu dalam keraguan dari apa yang
dengannya dia datang kepadamu, hingga apabila ia telah mati kamu berkata: “Allah tidak akan pernah
mengutus seorang rasul pun sesudahnya.”
Demikianlah Allah menyesatkan barangsiapa yang melampaui batas, yang ragu-ragu. Yaitu orang-orang yang bertengkar mengenai
Tanda-tanda Allah tanpa dalil
yang datang kepada mereka. Sangat besar kebencian di sisi Allah dan di
sisi orang-orang yang beriman, demikianlah
Allah mencap setiap hati orang sombong
lagi sewenang-senang. (Al-Mu’min
[40]:35-36).
Jadi, demikianlah itikad sesat “laa nabiyya ba’dahuu (tidak akan ada lagi nabi sesudahnya) yang diwariskan iblis dan para pengikutnya –
yang diperagakan berupa ketakabburan Iblis terhadap Adam (khalifah Allah) ketika
diperintahkan bersama-sama para malaikat
untuk “sujud” (beriman dan
patuh-taat) kepada Adam (Khalifah
Allah).
Padahal nabi-nabi
Allah telah senantiasa datang ke
dunia semenjak waktu yang jauh silam (QS.7:35-37), tetapi begitu busuknya
pikiran orang-orang — setiap kali datang seorang nabi baru, mereka menolak
dan menentangnya,dan ketika ia wafat orang-orang yang sebelumnya beriman kepada nabi Allah itu kemudian berkata bahwa nabi Allah tidak akan datang lagi dan pintu wahyu telah tertutup untuk selama-lamanya, firman-Nya:
وَّ اَنَّہُمۡ ظَنُّوۡا کَمَا ظَنَنۡتُمۡ اَنۡ
لَّنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ اَحَدًا
ۙ﴿﴾
“Dan sesungguhnya mereka menyangka
sebagaimana kamu juga menyangka
bahwa Allah tidak akan pernah membangkitkan seorang rasul, (Al-Jin
[72]:8).
Dikutuk Allah Swt.
Kenyataan itulah yang terjadi di kalangan Bani Israil ketika para nabi Allah dibangkitkan dari kalangan mereka, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنَا
مُوۡسَی الۡکِتٰبَ وَ قَفَّیۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ بِالرُّسُلِ ۫ وَ اٰتَیۡنَا
عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ الۡبَیِّنٰتِ وَ اَیَّدۡنٰہُ بِرُوۡحِ الۡقُدُسِ ؕ
اَفَکُلَّمَا جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌۢ بِمَا لَا تَہۡوٰۤی اَنۡفُسُکُمُ
اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ۚ فَفَرِیۡقًا
کَذَّبۡتُمۡ ۫ وَ فَرِیۡقًا تَقۡتُلُوۡنَ
﴿﴾وَ قَالُوۡا قُلُوۡبُنَا غُلۡفٌ ؕ بَلۡ لَّعَنَہُمُ اللّٰہُ بِکُفۡرِہِمۡ فَقَلِیۡلًا مَّا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾وَ لَمَّا جَآءَہُمۡ
کِتٰبٌ مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَہُمۡ ۙ وَ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ یَسۡتَفۡتِحُوۡنَ
عَلَی الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ۚۖ فَلَمَّا جَآءَہُمۡ مَّا عَرَفُوۡا کَفَرُوۡا بِہٖ
۫ فَلَعۡنَۃُ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan sungguh
Kami benar-benar telah memberikan Alkitab kepada Musa dan Kami mengikutkan rasul-rasul di
belakangnya, dan Kami
memberikan kepada Isa Ibnu Maryam Tanda-tanda yang nyata, dan juga
Kami memperkuatnya dengan Ruhulqudus.
Maka apakah patut setiap datang
kepada kamu seorang rasul dengan membawa apa yang tidak disukai oleh
dirimu kamu berlaku takabur,
lalu sebagian kamu dustakan dan sebagian
lainnya kamu bunuh? Dan mereka berkata: ”Hati kami tertutup.” Tidak, bahkan Allah
telah mengutuk mereka karena kekafiran mereka maka sedikit
sekali apa yang mereka imani. Dan tatkala datang kepada mereka sebuah Kitab yakni Al-Quran dari Allah menggenapi apa yang ada pada mereka,
sedangkan sebelum itu mereka senantiasa
memohon kemenangan atas
orang-orang kafir, tetapi tatkala datang
kepada mereka apa yang mereka kenali itu
lalu mereka kafir kepadanya
maka laknat Allah atas
orang-orang kafir. (Al-Baqarah [2]:88-90).
Jadi, kembali kepada pembahasan mengenai dialog
antara Nabi Ya’qub a.s. dengan
anak-anak beliau di Mesir sebelum ini, firman-Nya:
اَمۡ کُنۡتُمۡ شُہَدَآءَ اِذۡ حَضَرَ یَعۡقُوۡبَ
الۡمَوۡتُ ۙ اِذۡ قَالَ لِبَنِیۡہِ مَا
تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡۢ بَعۡدِیۡ ؕ قَالُوۡا نَعۡبُدُ
اِلٰہَکَ وَ اِلٰـہَ اٰبَآئِکَ اِبۡرٰہٖمَ وَ اِسۡمٰعِیۡلَ وَ اِسۡحٰقَ اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚۖ وَّ نَحۡنُ لَہٗ مُسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Ataukah kamu hadir
saat kematian menjelang Ya’qub
ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apakah
yang akan kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhan engkau dan Tuhan bapak-bapak eng-kau: Ibrahim, Isma’il, dan Ishaq,
yaitu Tuhan Yang Esa, dan hanya kepada-Nya
kami berserah diri.” (Al-Baqarah
[2]:134).
Nabi
Isma’il a.s. adalah kakak seayah Nabi Ishaq a.s., dengan
demikian beliau adalah uwa (pakde -
jw.) Nabi Ya’qub a.s., namun
demikian dalam ayat tersebut anak-anak
Nabi Ya’qub a.s. mencakupkan
juga Nabi Isma’il a.s. di antara “bapak-bapak” mereka, hal itu menunjukkan bahwa kata ab
kadang-kadang berarti pula uwa (paman).
Anak-anak Nabi Ya’qub a.s. —
kaum Bani Isra’il — sangat
menghormati Nabi Isma’il a.s..
Pentingnya Beriman Kepada Kedatangan “Bayyinah” (Bukti yang Nyata) yakni Nabi
Besar Muhammad Saw.
Tertulis dalam Bible: “Pada
waktu ayah kami Ya’qub meninggal dunia, beliau memanggil kepada duabelas
putranya, dan berkata kepada mereka: Dengarlah akan perkataan bapakmu Israil”
(Kejadian 49:2). “Apakah kamu masih mempunyai suatu keraguan
dalam hatimu mengenai Yang Suci? Mubaraklah Dia”. Mereka berkata: “Dengarlah
hai Israil, ayah kami, sebagaimana tiada keraguan di dalam hati Anda, demikian
pula tiada dalam hati kami. Sebab Junjungan itu Tuhan kami dan Dia Tunggal.”
(Mider Rabbah on Gen. par.
98 & on Deut. par.2). Bandingkan
pula Targ. Jer. on Deut.
6:4.
Jadi, akibat kedengkian para pemuka agama
kepada para rasul Allah yang diutus
kepada mereka itulah kemudian agama
Tauhid yang bersumber dari Allah Swt.
serta para pemeluknya menjadi terpecah-belah
sehingga timbullah berbagai macam agama dan berbagai macam firqah pengikut agama.
Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah penolakan
iblis dalam kisah monumental “Adam-Malaikat-Iblis” ketika
diperintahkan Allah Swt. “sujud” -- yakni beriman
dan patuh taat – kepada “Adam”, Khalifah Allah yakni rasul Allah, firman-Nya:
وَ اِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا
لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ اِبۡلِیۡسَ ؕ اَبٰی وَ اسۡتَکۡبَرَ ٭۫
وَ کَانَ مِنَ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan
ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah
yakni tunduk-patuhlah kamu kepada Adam”
lalu mereka sujud kecuali iblis, ia menolak
dan takabur, dan ia
termasuk dari antara orang-orang
yang kafir. (Al-Baqarah [2]:35).
Dengan demikian jelaslah, bahwa timbulnya berbagai macam agama dan firqah agama bukanlah kehendak Allah Swt. melainkan sebagai
akibat pembangkangan Iblis dan para pemuka
kaum terhadap rasul Allah yang
kedatangannya dinubuatkan kepada
mereka (QS.7:35-37), yang diutus untuk mengajak
kembali kaum-kaum yang telah terjerumus ke dalam berbagai
bentuk “kemusyrikan” tersebut kepada Tauhid Ilahi yang hakiki, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾
لَمۡ یَکُنِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ
اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ مُنۡفَکِّیۡنَ حَتّٰی تَاۡتِیَہُمُ الۡبَیِّنَۃُ ۙ﴿﴾
رَسُوۡلٌ
مِّنَ اللّٰہِ یَتۡلُوۡا صُحُفًا مُّطَہَّرَۃً
ۙ﴿﴾فِیۡہَا کُتُبٌ قَیِّمَۃٌ ؕ﴿﴾
وَ مَا
تَفَرَّقَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ
اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا
جَآءَتۡہُمُ الۡبَیِّنَۃُ ؕ﴿﴾ وَ مَاۤ
اُمِرُوۡۤا اِلَّا لِیَعۡبُدُوا
اللّٰہَ مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ الدِّیۡنَ ۬ۙ
حُنَفَآءَ وَ یُقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ وَ
یُؤۡتُوا الزَّکٰوۃَ وَ ذٰلِکَ دِیۡنُ الۡقَیِّمَۃِ ؕ﴿﴾
اِنَّ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ
الۡمُشۡرِکِیۡنَ فِیۡ نَارِ جَہَنَّمَ
خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ؕ اُولٰٓئِکَ ہُمۡ شَرُّ الۡبَرِیَّۃِ ؕ﴿﴾ اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ ۙ
اُولٰٓئِکَ ہُمۡ خَیۡرُ الۡبَرِیَّۃِ ؕ﴿﴾
جَزَآؤُہُمۡ
عِنۡدَ رَبِّہِمۡ جَنّٰتُ عَدۡنٍ تَجۡرِیۡ
مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَاۤ
اَبَدًا ؕ رَضِیَ اللّٰہُ عَنۡہُمۡ
وَ رَضُوۡا عَنۡہُ ؕ ذٰلِکَ لِمَنۡ خَشِیَ رَبَّہٗ ٪﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah,
Maha Penyayang. Orang-orang kafir dari Ahli-kitab
dan orang-orang musyrik-
tidak akan berhenti dari kekafiran hingga datang kepada mereka bukti yang nyata, yaitu seorang rasul dari Allah yang membacakan
lembaran-lembaran suci, yang di
dalamnya ada perintah-perintah abadi. Dan
orang-orang yang diberi Kitab tidak berpecah-belah kecuali setelah datang kepada mereka bukti yang
nyata, padahal mereka tidak diperintahkan
melainkan supaya beribadah kepada Allah
dengan tulus ikhlas dalam ketaatan kepada-Nya dan dengan lurus, serta mendirikan
shalat dan membayar zakat, dan itulah agama yang lurus. Sesungguhnya orang-orang kafir dari antara
Ahlikitab dan orang-orang musyrik
akan berada dalam Api Jahannam, mereka kekal
di dalamnya. Mereka itulah seburuk-buruk
makhluk. Sesungguhnya orang-orang
yang beriman dan beramal saleh
mereka itu sebaik-baik makhluk. Ganjaran mereka ada di sisi Rabb (Tuhan) mereka, kebun-kebun
abadi, yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itulah
balasan bagi orang yang takut
kepada Rabb-nya (Tuhan-nya). (Al-Bayyinah [98]:1-9).
Proses Bertahap Pewahyuan
“Ajaran Islam” dan Ke-Muslim-an Kepara Para Rasul Allah
Berdasarkan surah tersebut Allah Swt.
dalam Al-Quran telah membagi semua orang
kafir dalam dua golongan yaitu: (1) Ahlikitab
yakni golongan orang-orang yang
mempercayai para nabi
Allah dan Kitab-kitab
suci, dan (2) orang-orang musyrik yakni orang-orang yang tidak
percaya kepada para rasul Allah dan
Kitab-kitab suci.
Makna “lembaran-lembaran suci” dalam
ayat رَسُوۡلٌ مِّنَ اللّٰہِ یَتۡلُوۡا صُحُفًا
مُّطَہَّرَۃً ۙ﴿﴾فِیۡہَا کُتُبٌ قَیِّمَۃٌ
ؕ -- “seorang
rasul dari Allah yang membacakan
lembaran-lembaran suci, yang di
dalamnya ada perintah-perintah abadi” adalah Al-Quran, yang merupakan Kitab
suci terakhir dan tersempurna
(QS.5:4) yang diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw..
Menurut ayat tersebut Al-Quran berisikan
secara ikhtisar segala sesuatu yang baik, kekal, dan tidak termusnahkan
yang terkandung di dalam ajaran-ajaran Kitab-kitab
Suci terdahulu, dengan imbuhan banyak
ajaran yang tidak terdapat pada Kitab-kitab
itu tetapi sangat diperlukan manusia guna perkembangan
akhlak dan ruhaninya yang bersifat abadi (QS.2:107) oleh karena itu Al-Quran merupakan
satu-satunya Kitab suci yang mendapat jaminan pemeliharaan dari Allah Swt. (QS.15:10)
Semua cita-cita, asas-asas luhur,
peraturan-peraturan, dan perintah-perintah yang mengandung kemanfaatan abadi bagi manusia telah dimasukkan ke dalam Al-Quran, seolah-olah Al-Quran berperan sebagai penjaga atas kitab-kitab lama dan bebas dari semua cacat dan noda yang
terdapat pada kitab-kitab itu (QS.4:83;
QS.15:10; QS.41:43).
(Bersambung)
ooo
Rujukan: The
Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
Pajajaran Anyar, 10 Juli 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar