Kamis, 19 Juli 2018

Keraguan Saudara-saudara Nabi Yusuf a.s. Mengenai Kenabian Nabi Ya'qub a.s. & Pentingnya Beriman Kepada Nabi Besar Muhammad Saw.



Bismillaahirrahmaanirrahiim


KHAZANAH  AL-QURAN 

Bab 29

  KERAGUAN SAUDARA-SAUDARA NABI YUSUF A.S. MENGENAI KENABIAN    NABI YA’QUB A.S.    &  PENTINGNYA BERIMAN KEPADA  NABI BESAR MUHAMMAD SAW. 

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

وَ یَوۡمَ نَبۡعَثُ فِیۡ کُلِّ اُمَّۃٍ شَہِیۡدًا عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ جِئۡنَا بِکَ شَہِیۡدًا عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ ؕ وَ نَزَّلۡنَا عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ تِبۡیَانًا  لِّکُلِّ شَیۡءٍ  وَّ  ہُدًی  وَّ  رَحۡمَۃً   وَّ  بُشۡرٰی  لِلۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah hari itu ketika Kami akan membangkitkan dalam setiap umat seorang saksi terhadap mereka dari antara mereka sendiri, dan Kami akan mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka semuanya. Dan  Kami  telah menurunkan kepada engkau Kitab itu untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk, rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri kepada Allah.   (An-Nahl [16]:90).

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan  topic  Dialog Nabi Ya’qub a.s. Menjelang Wafat Dengan Anak-anaknya,  yakni   dalam ayat selanjutnya diterangkan bahwa Nabi Ya’qub a.s. ketika  akan meninggal dunia di Mesir telah meminta ketegasan dari anak-anak beliau mengenai kesetiaan mereka terhadap millat  yang diwariskan leluhur mereka, Nabi Ibrahim a.s.,   karena -- kecuali terhadap Nabi Yusuf a.s. dan adik beliau, Benyamin --  nampaknya  Nabi Ya’qub a.s. meragukan keimanan  kakak-kakak Nabi Yusuf a.s.,   sebagaimana yang dikemukakan dalam Surah Yusuf  (QS.12:6-21), firman-Nya:
اَمۡ کُنۡتُمۡ  شُہَدَآءَ  اِذۡ حَضَرَ یَعۡقُوۡبَ الۡمَوۡتُ ۙ اِذۡ  قَالَ لِبَنِیۡہِ مَا تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡۢ بَعۡدِیۡ ؕ قَالُوۡا نَعۡبُدُ اِلٰہَکَ وَ اِلٰـہَ اٰبَآئِکَ اِبۡرٰہٖمَ  وَ  اِسۡمٰعِیۡلَ وَ  اِسۡحٰقَ  اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚۖ وَّ نَحۡنُ لَہٗ مُسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Ataukah  kamu hadir  saat kematian menjelang Ya’qub ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apakah yang akan kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhan engkau dan Tuhan bapak-bapak eng-kau: Ibrahim, Isma’il, dan Ishaq, yaitu Tuhan Yang Esa, dan hanya  kepada-Nya kami berserah  diri.” (Al-Baqarah [2]:134).
Kata anak-cucu di sini menunjuk kepada kedua belas suku Bani Israil yang masing-masing disebut menurut nama kedua belas putra Nabi Ya’qub a.s.:  Rubin, Simeon, Levi, Yehuda, Isakhar, Zebulon, Yusuf, Benyamin, Dan, Naftali, Gad dan Asyer (Kejadian 35:23-26, 49: 28).
           Dari Bible dan Al-Quran diketahui bahwa akibat kedengkian saudara-saudara seayah Nabi Yusuf a.s.  kepada beliau, bukan saja  telah membuat Nabi Yusuf a.s.  berada di Mesir, bahkan keluarga besar beliau pun  -- akibat kemarau panjang yang melanda wilayah Timur tengah selama 7 tahun  – mereka pun hijrah ke Mesir  karena Nabi Yusuf a.s. telah menjadi seorang pejabat tinggi   di Kerajaan Mesir (Kejadian Bab 37-50; QS.12:8-22 & 44-58). Kemudian  setelah   Nabi Yusuf a.s wafat -- karena Bani Israil merupakan orang-orang asing di Mesir  -- kemudian mereka   diperbudak secara aniaya oleh para Fir’aun di Mesir selama 400 tahun  (Kejadian 15:12-16; QS.28:4-7).

Ketidak-setiaan Bani Israil Terhadap Tauhid Ilahi dan   Rasul Allah

        Walau pun  akhirnya saudara-saudara Nabi Yusuf a.s. di Mesir mengakui keutamaan Nabi Yusuf a.s. dibanding mereka  (QS.12:89-95) – yang sebelumnya mereka telah melakukan berbagai bentuk kedengkian kepada Nabi Yusuf a.s., bahkan berusaha membunuh beliau, karena mereka menganggap ayah mereka,  Nabi Yaqub a.s., lebih memperhatikan Nabi Yusuf a.s. daripada kepada mereka (QS.12:8-21 & 85-87 & 95-97)  --  tetapi mereka tetap meragukan kedudukan Nabi Yusuf a.s. sebagai sebagai  seorang nabi (rasul) Allah, sebagaimana halnya terhadap kenabian Nabi  Ya’qub a.s..  
     Keraguan anak-anak Nabi Ya’qub a.s. terhadap kenabian ayahnya tersebut diisyaratkan dalam  firman-Nya berikut ini:
وَ لَمَّا فَصَلَتِ الۡعِیۡرُ قَالَ اَبُوۡہُمۡ اِنِّیۡ لَاَجِدُ رِیۡحَ یُوۡسُفَ لَوۡ لَاۤ اَنۡ تُفَنِّدُوۡنِ ﴿﴾  قَالُوۡا تَاللّٰہِ  اِنَّکَ لَفِیۡ ضَلٰلِکَ الۡقَدِیۡمِ ﴿ٙ﴾
Dan ketika kafilah itu telah bertolak [dari Mesir] berkatalah ayah mereka, “Sesungguhnya aku mencium aroma Yusuf meski pun kamu menganggap diriku pikun.” Mereka berkata, “Demi Allah, sesungguhnya engkau masih di dalam kekeliruan engkau yang lama.” (Yusuf [12]:95-96).
           Jadi, tidak berlebihan kalau  ketidak-percayaan saudara-saudara  seayah Nabi Yusuf a.s. terhadap  kenabian  Nabi Ya’qub a.s. tersebut  juga  terhadap kenabian Nabi Yusuf a.s., sebab kenabian adalah  suatu martabat ruhani yang sangat halus. Itulah sebabnya     istri  Nabi Nuh a.s. dan istri Nabi Luth a.s. pun  menentang kenabian suami mereka, firman-Nya:
ضَرَبَ اللّٰہُ  مَثَلًا  لِّلَّذِیۡنَ  کَفَرُوا امۡرَاَتَ  نُوۡحٍ وَّ امۡرَاَتَ  لُوۡطٍ ؕ کَانَتَا تَحۡتَ عَبۡدَیۡنِ مِنۡ عِبَادِنَا صَالِحَیۡنِ فَخَانَتٰہُمَا فَلَمۡ یُغۡنِیَا عَنۡہُمَا مِنَ اللّٰہِ شَیۡئًا وَّ قِیۡلَ ادۡخُلَا  النَّارَ مَعَ الدّٰخِلِیۡنَ ﴿﴾
Allah mengemukakan istri Nuh  dan istri Luth sebagai misal bagi orang-orang kafir. Keduanya di bawah dua hamba dari hamba-hamba Kami yang saleh, tetapi keduanya berbuat khianat  kepada kedua suami mereka, maka mereka berdua sedikit pun tidak dapat membela kedua istri mereka itu di hadapan Allah, dan dikatakan kepada mereka: Masuklah kamu berdua ke dalam Api beserta orang-orang yang masuk.” (At-Tahrim [66]:11).

Itikad Sesat “Tidak Ada Lagi nabi Sesudahnya

      Kalau pun  orang-orang yang menentang rasul Allah tersebut kemudian beriman kepada rasul Allah  yang sebelumnya mereka dustakan dan tentang tersebut tetapi selalu diembel-embeli itikad sesat “Laa nabiyya ba’dahuu” (tidak ada lagi nabi sesudahnya), sebagaimana sikap Fir’aun serta kaumnya. 
        Sehubungan dengan hal tersebut  berikut  adalah firman  Allah Swt.   mengenai perkataan   seorang  yang beriman  di kalangan keluarga Fir’aun yang sebelumnya menyembunyikan keimanannya kepada Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s.:
وَ لَقَدۡ جَآءَکُمۡ یُوۡسُفُ مِنۡ قَبۡلُ بِالۡبَیِّنٰتِ فَمَا زِلۡتُمۡ فِیۡ  شَکٍّ  مِّمَّا جَآءَکُمۡ بِہٖ ؕ حَتّٰۤی  اِذَا ہَلَکَ قُلۡتُمۡ لَنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ  مِنۡۢ بَعۡدِہٖ  رَسُوۡلًا ؕ کَذٰلِکَ یُضِلُّ اللّٰہُ مَنۡ ہُوَ  مُسۡرِفٌ مُّرۡتَابُۨ ﴿ۚۖ﴾ الَّذِیۡنَ یُجَادِلُوۡنَ فِیۡۤ  اٰیٰتِ اللّٰہِ بِغَیۡرِ سُلۡطٰنٍ اَتٰہُمۡ ؕ کَبُرَ مَقۡتًا عِنۡدَ اللّٰہِ وَ عِنۡدَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ؕ کَذٰلِکَ یَطۡبَعُ اللّٰہُ  عَلٰی کُلِّ  قَلۡبِ مُتَکَبِّرٍ  جَبَّارٍ ﴿﴾
Dan sungguh benar-benar telah datang kepada kamu Yusuf sebelum ini dengan bukti-bukti yang nyata, tetapi kamu selalu dalam keraguan dari apa yang dengannya dia datang kepadamu, hingga apabila ia telah mati  kamu berkata: “Allah  tidak akan pernah mengutus  seorang rasul pun sesudahnya.” Demikianlah Allah menyesatkan  barangsiapa yang melampaui batas, yang ragu-ragu.  Yaitu orang-orang yang bertengkar mengenai  Tanda-tanda Allah tanpa dalil yang datang kepada mereka. Sangat besar kebencian di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman, demikianlah Allah mencap setiap  hati orang sombong lagi  sewenang-senang. (Al-Mu’min [40]:35-36).
         Jadi, demikianlah itikad sesat “laa nabiyya ba’dahuu  (tidak akan ada lagi nabi sesudahnya) yang diwariskan iblis dan para pengikutnya – yang diperagakan berupa  ketakabburan Iblis terhadap Adam (khalifah Allah) ketika diperintahkan bersama-sama para malaikat untuk “sujud” (beriman dan patuh-taat) kepada Adam (Khalifah Allah).      
   Padahal nabi-nabi Allah  telah senantiasa datang ke dunia semenjak waktu yang jauh silam (QS.7:35-37), tetapi begitu busuknya pikiran orang-orang — setiap kali datang seorang nabi baru, mereka menolak dan menentangnya,dan ketika ia wafat orang-orang yang sebelumnya beriman kepada nabi Allah itu kemudian berkata bahwa   nabi Allah tidak  akan datang lagi dan pintu wahyu telah tertutup untuk selama-lamanya, firman-Nya:
وَّ اَنَّہُمۡ  ظَنُّوۡا کَمَا ظَنَنۡتُمۡ  اَنۡ  لَّنۡ یَّبۡعَثَ اللّٰہُ  اَحَدًا ۙ﴿﴾
“Dan sesungguhnya mereka menyangka sebagaimana kamu juga menyangka bahwa  Allah tidak akan pernah membangkitkan seorang rasul, (Al-Jin [72]:8).

Dikutuk Allah Swt.

        Kenyataan itulah yang terjadi di kalangan Bani Israil  ketika para nabi Allah dibangkitkan dari kalangan mereka, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنَا مُوۡسَی الۡکِتٰبَ وَ قَفَّیۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ بِالرُّسُلِ ۫ وَ اٰتَیۡنَا عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ الۡبَیِّنٰتِ وَ اَیَّدۡنٰہُ بِرُوۡحِ الۡقُدُسِ ؕ اَفَکُلَّمَا جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌۢ بِمَا لَا تَہۡوٰۤی اَنۡفُسُکُمُ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ۚ  فَفَرِیۡقًا کَذَّبۡتُمۡ  ۫ وَ فَرِیۡقًا تَقۡتُلُوۡنَ ﴿﴾وَ قَالُوۡا قُلُوۡبُنَا غُلۡفٌ ؕ بَلۡ لَّعَنَہُمُ اللّٰہُ بِکُفۡرِہِمۡ  فَقَلِیۡلًا مَّا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾وَ لَمَّا جَآءَہُمۡ کِتٰبٌ مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَہُمۡ  ۙ وَ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ یَسۡتَفۡتِحُوۡنَ عَلَی الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ۚۖ فَلَمَّا جَآءَہُمۡ مَّا عَرَفُوۡا کَفَرُوۡا بِہٖ ۫ فَلَعۡنَۃُ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan  sungguh   Kami benar-benar telah  memberikan Alkitab kepada Musa dan Kami  mengikutkan rasul-rasul di belakangnya,  dan Kami  memberikan kepada Isa Ibnu Maryam Tanda-tanda yang nyata, dan juga Kami memperkuatnya dengan Ruhulqudus. Maka apakah patut setiap datang kepada kamu seorang rasul dengan membawa apa yang tidak disukai oleh dirimu  kamu berlaku takabur, lalu  sebagian kamu dustakan dan sebagian lainnya kamu bunuh? Dan mereka berkata:  Hati kami tertutup.” Tidak,  bahkan Allah telah mengutuk mereka karena kekafiran mereka  maka sedikit sekali apa yang mereka imani.  Dan tatkala datang kepada mereka sebuah Kitab yakni  Al-Quran dari Allah  menggenapi apa yang ada pada mereka, sedangkan sebelum itu mereka senantiasa memohon kemenangan  atas orang-orang kafir, tetapi tatkala  datang kepada mereka apa yang mereka  kenali itu lalu mereka kafir  kepadanya  maka laknat Allah atas orang-orang kafir. (Al-Baqarah [2]:88-90).
     Jadi, kembali kepada  pembahasan mengenai   dialog antara Nabi Ya’qub a.s. dengan anak-anak beliau di Mesir sebelum ini,  firman-Nya:
اَمۡ کُنۡتُمۡ  شُہَدَآءَ  اِذۡ حَضَرَ یَعۡقُوۡبَ الۡمَوۡتُ ۙ اِذۡ  قَالَ لِبَنِیۡہِ مَا تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡۢ بَعۡدِیۡ ؕ قَالُوۡا نَعۡبُدُ اِلٰہَکَ وَ اِلٰـہَ اٰبَآئِکَ اِبۡرٰہٖمَ  وَ  اِسۡمٰعِیۡلَ وَ  اِسۡحٰقَ  اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚۖ وَّ نَحۡنُ لَہٗ مُسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Ataukah  kamu hadir  saat kematian menjelang Ya’qub ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apakah yang akan kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhan engkau dan Tuhan bapak-bapak eng-kau: Ibrahim, Isma’il, dan Ishaq, yaitu Tuhan Yang Esa, dan hanya  kepada-Nya kami berserah  diri.” (Al-Baqarah [2]:134).
       Nabi Isma’il a.s.    adalah kakak seayah Nabi Ishaq a.s., dengan demikian beliau adalah   uwa (pakde - jw.) Nabi Ya’qub a.s.,  namun demikian dalam ayat tersebut  anak-anak Nabi Ya’qub a.s.  mencakupkan juga Nabi Isma’il a.s. di antara “bapak-bapak” mereka, hal itu menunjukkan bahwa kata ab kadang-kadang berarti pula uwa (paman).  Anak-anak Nabi Ya’qub a.s.  — kaum Bani Isra’il — sangat menghormati Nabi Isma’il a.s..

Pentingnya Beriman  Kepada Kedatangan “Bayyinah” (Bukti yang Nyata) yakni Nabi Besar Muhammad Saw.

       Tertulis dalam Bible:  “Pada waktu ayah kami Ya’qub meninggal dunia, beliau memanggil kepada duabelas putranya, dan berkata kepada mereka: Dengarlah akan perkataan bapakmu Israil” (Kejadian 49:2). “Apakah kamu masih mempunyai suatu keraguan dalam hatimu mengenai Yang Suci? Mubaraklah Dia”. Mereka berkata: “Dengarlah hai Israil, ayah kami, sebagaimana tiada keraguan di dalam hati Anda, demikian pula tiada dalam hati kami. Sebab Junjungan itu Tuhan kami dan Dia Tunggal.” (Mider Rabbah on Gen. par. 98 & on Deut. par.2). Bandingkan pula Targ. Jer. on Deut. 6:4.
       Jadi, akibat kedengkian para pemuka agama kepada para rasul Allah yang diutus kepada mereka itulah kemudian agama Tauhid yang bersumber dari Allah Swt. serta para pemeluknya menjadi terpecah-belah sehingga timbullah berbagai   macam agama dan berbagai macam firqah   pengikut agama.
          Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah penolakan iblis dalam kisah monumental “Adam-Malaikat-Iblis” ketika diperintahkan Allah Swt.  “sujud”   -- yakni beriman dan patuh taat – kepada “Adam”, Khalifah Allah yakni rasul Allah, firman-Nya:
وَ اِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ ؕ اَبٰی وَ اسۡتَکۡبَرَ ٭۫ وَ  کَانَ مِنَ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah  ketika Kami berfirman kepada para malaikat:  “Sujudlah  yakni tunduk-patuhlah  kamu kepada  Adam” lalu mereka sujud kecuali iblis,  ia menolak dan takabur,  dan   ia  termasuk dari antara orang-orang yang  kafir. (Al-Baqarah [2]:35).
        Dengan demikian jelaslah, bahwa timbulnya berbagai macam agama dan firqah agama  bukanlah kehendak Allah Swt. melainkan sebagai akibat pembangkangan Iblis  dan para pemuka kaum terhadap rasul Allah yang kedatangannya dinubuatkan kepada mereka (QS.7:35-37), yang diutus untuk mengajak kembali kaum-kaum  yang telah terjerumus ke dalam berbagai bentuk “kemusyrikan” tersebut kepada Tauhid Ilahi yang hakiki,  firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ لَمۡ  یَکُنِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا  مِنۡ  اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ مُنۡفَکِّیۡنَ حَتّٰی تَاۡتِیَہُمُ  الۡبَیِّنَۃُ ۙ﴿﴾ رَسُوۡلٌ مِّنَ اللّٰہِ یَتۡلُوۡا صُحُفًا مُّطَہَّرَۃً  ۙ﴿﴾فِیۡہَا کُتُبٌ قَیِّمَۃٌ ؕ﴿﴾ وَ مَا تَفَرَّقَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ  اِلَّا مِنۡۢ  بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ  الۡبَیِّنَۃُ ؕ﴿﴾   وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا لِیَعۡبُدُوا اللّٰہَ مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ  الدِّیۡنَ ۬ۙ حُنَفَآءَ وَ یُقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ یُؤۡتُوا الزَّکٰوۃَ وَ ذٰلِکَ دِیۡنُ الۡقَیِّمَۃِ ؕ﴿﴾ اِنَّ  الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ فِیۡ  نَارِ جَہَنَّمَ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ؕ اُولٰٓئِکَ ہُمۡ شَرُّ الۡبَرِیَّۃِ ؕ﴿﴾ اِنَّ  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ ۙ اُولٰٓئِکَ ہُمۡ خَیۡرُ الۡبَرِیَّۃِ ؕ﴿﴾ جَزَآؤُہُمۡ عِنۡدَ  رَبِّہِمۡ جَنّٰتُ عَدۡنٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَاۤ  اَبَدًا ؕ رَضِیَ اللّٰہُ  عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ ؕ ذٰلِکَ لِمَنۡ خَشِیَ رَبَّہٗ ٪﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Orang-orang kafir dari Ahli-kitab dan orang-orang musyrik- tidak akan berhenti dari kekafiran hingga datang kepada mereka bukti yang nyata, yaitu  seorang rasul dari Allah yang membacakan lembaran-lembaran suci, yang di dalamnya ada perintah-perintah abadi.   Dan  orang-orang yang diberi Kitab tidak berpecah-belah kecuali setelah datang kepada mereka bukti yang nyata, padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan tulus ikhlas dalam ketaatan kepada-Nya dan dengan lurus, serta mendirikan shalat dan membayar zakat, dan itulah agama yang lurus.  Sesungguhnya orang-orang  kafir dari antara Ahlikitab dan orang-orang musyrik akan berada dalam Api Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh mereka itu sebaik-baik makhluk.  Ganjaran mereka ada di sisi Rabb (Tuhan) mereka, kebun-kebun abadi, yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itulah balasan bagi orang yang takut kepada Rabb-nya (Tuhan-nya). (Al-Bayyinah [98]:1-9).

Proses Bertahap  Pewahyuan  “Ajaran Islam” dan Ke-Muslim-an Kepara Para Rasul Allah

          Berdasarkan surah tersebut Allah Swt. dalam Al-Quran telah membagi semua orang kafir dalam dua golongan  yaitu: (1)  Ahlikitab  yakni golongan orang-orang yang mempercayai   para nabi Allah  dan  Kitab-kitab suci,   dan (2)  orang-orang musyrik  yakni orang-orang  yang tidak percaya kepada para rasul Allah dan Kitab-kitab suci.
        Makna “lembaran-lembaran suci” dalam ayat   رَسُوۡلٌ مِّنَ اللّٰہِ یَتۡلُوۡا صُحُفًا مُّطَہَّرَۃً  ۙ﴿﴾فِیۡہَا کُتُبٌ قَیِّمَۃٌ ؕ     --  “seorang rasul dari Allah yang membacakan lembaran-lembaran suci, yang di dalamnya ada perintah-perintah abadi” adalah Al-Quran, yang merupakan Kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4) yang diwahyukan Allah Swt.  kepada Nabi Besar Muhammad saw..
           Menurut ayat tersebut Al-Quran berisikan secara ikhtisar segala sesuatu yang baik, kekal, dan tidak termusnahkan yang terkandung di dalam ajaran-ajaran Kitab-kitab Suci terdahulu, dengan imbuhan banyak ajaran yang tidak terdapat pada Kitab-kitab itu tetapi sangat diperlukan manusia guna perkembangan akhlak dan ruhaninya  yang bersifat abadi (QS.2:107) oleh karena itu Al-Quran  merupakan satu-satunya Kitab suci  yang mendapat jaminan pemeliharaan dari Allah Swt. (QS.15:10)
       Semua cita-cita, asas-asas luhur, peraturan-peraturan, dan perintah-perintah yang mengandung kemanfaatan abadi bagi manusia telah dimasukkan ke dalam Al-Quran, seolah-olah Al-Quran berperan sebagai penjaga atas kitab-kitab lama dan bebas dari semua cacat dan noda yang terdapat pada kitab-kitab itu (QS.4:83; QS.15:10; QS.41:43).

(Bersambung)
ooo

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid


Pajajaran Anyar,   10  Juli 2018 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar