Bismillaahirrahmaanirrahiim
KHAZANAH
AL-QURAN
Bab 28
KEBENARAN YANG DIAJARKAN PARA RASUL ALLAH
BERTENTANGAN DENGAN PENDAPAT MAYORITAS
UMATNYA & PENENTANGAN ABADI KAUM-KAUM PURBAKALA KEPADA PENGUTUSAN RASUL ALLAH
Oleh
Ki
Langlang Buana Kusuma
وَ
یَوۡمَ نَبۡعَثُ فِیۡ کُلِّ اُمَّۃٍ شَہِیۡدًا عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ
جِئۡنَا بِکَ شَہِیۡدًا عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ ؕ وَ نَزَّلۡنَا عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ
تِبۡیَانًا لِّکُلِّ شَیۡءٍ وَّ
ہُدًی وَّ رَحۡمَۃً
وَّ بُشۡرٰی لِلۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah
hari itu ketika Kami akan membangkitkan dalam setiap umat seorang saksi
terhadap mereka dari antara mereka sendiri, dan Kami akan mendatangkan engkau
sebagai saksi terhadap mereka semuanya. Dan Kami telah menurunkan kepada engkau Kitab itu
untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk, rahmat serta kabar gembira bagi
orang-orang yang berserah diri kepada Allah.
(An-Nahl
[16]:90).
|
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan topic Melampaui Batas Dalam Memahami Mukjizat Para Nabi
Allah. Memang benar bahwa para nabi Allah dan para wali
Allah – termasuk Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. dan Nabi Besar Muhammad saw.
– telah dianugerahi berbagai mukjizat
dan karamah oleh Allah Swt., tetapi
keadaan mukjizat-mukjizat dan karamah tersebut tidak seperti persepsi umum orang-orang yang diwarnai
dengan takhayul dan melampaui batas. Sebab jika tidak demikian maka mustahil mereka itu akan didustakan
dan ditentang oleh para penentangnya
yang buta mata ruhaninya (QS.17:73; QS.20:125-127; QS.22:46-49),
sebagaimana firman-Nya:
کَذٰلِکَ مَاۤ اَتَی الَّذِیۡنَ
مِنۡ قَبۡلِہِمۡ مِّنۡ رَّسُوۡلٍ اِلَّا
قَالُوۡا سَاحِرٌ اَوۡ مَجۡنُوۡنٌ ﴿ۚ﴾
اَتَوَاصَوۡا
بِہٖ ۚ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ طَاغُوۡنَ ﴿ۚ﴾
Demikianlah
sekali-kali tidak pernah datang kepada
orang-orang sebelum mereka seorang rasul melainkan mereka berkata: “Dia tukang sihir, atau orang gila!”
Adakah mereka saling mewasiatkan
mengenai itu? Tidak, bahkan mereka
itu semua kaum pendurhaka. (Adz- Dzaariyaat [51:53-54).
Begitu
menyoloknya persamaan tuduhan-tuduhan
yang dilancarkan terhadap Nabi Besar
Muhammad saw. dan para mushlih
rabbani (nabi Allah) lainnya – termasuk di Akhir Zaman ini terhadap Masih
Mau’ud a.s. -- oleh lawan-lawan mereka sepanjang masa,
sehingga nampaknya orang-orang kafir
dari abad tertentu mewariskan tuduhan-tuduhan
itu kepada keturunan mereka, supaya
terus melancarkan lagi tuduhan-tuduhan
itu. Dengan demikian benarlah firman Allah Swt. berikut ini:
یٰحَسۡرَۃً عَلَی
الۡعِبَادِ ۚؑ مَا یَاۡتِیۡہِمۡ مِّنۡ رَّسُوۡلٍ اِلَّا
کَانُوۡا بِہٖ یَسۡتَہۡزِءُوۡنَ ﴿﴾
Wahai sangat disesalkan atas hamba-hamba itu,
sekali-kali tidak pernah datang kepada
mereka seorang rasul melainkan mereka
senantiasa mencemoohkannya (Yaa Siin, 31). Lihat pula QS.15:11-14; QS.43:7-9.
Kata-kata dalam ayat ini penuh dengan kesedihan. Tuhan Yang Maha Kuasa Sendiri
agaknya seolah-olah sangat masygul
atas penolakan dan ejekan manusia terhadap para nabi-Nya (rasul-Nya). Sementara para nabi Allah menanggung kesedihan dan derita untuk kaumnya, maka
kaumnya itu membalas kesedihan mereka
itu dengan penghinaan dan ejekan.
Dua Penyebab Utama Pendustaan Kepada Para Nabi Allah
Dalam Bab 25 berkenaan ungkapan “Al-Haqqu murrun – kebenaran itu pahit”
telah dijelaskan, bahwa pada hakikatnya terjadinya pendustaan
dan penzaliman yang dilakukan kaum-kaum
purbakala terhadap para Rasul Allah
di setiap zaman kenabian tersebut penyebab utamanya 2 macam, yakni:
(1) Haq
(kebenaran) yang dibawa oleh para rasul
Allah tersebut dirasakan sangat pahit oleh para pemuka kaum purbakala tersebut karena bertentangan dengan akidah
dan amal yang mereka lakukan.
(QS.2:88-91; QS.23:72).
(2)
Mereka menganut pemahaman silsilah pengutusan
para nabi Allah telah berakhir
(tertutup) yakni faham “laa nabiya
ba’dahu” (tidak akan ada lagi nabi
sesudahnya – QS.10:75; QS.40:35-36; QS.72:8), yang pada hakikatnya merupakan pengulangan ketakaburan iblis terhadap Adam
(Khalifah Allah) yang menolak “sujud” (beriman dan patuh-taat) kepada Adam (Khalifah Allah) bersama para malaikat ketika diperintahkan Allah
Swt. (QS.2:31-35; QS.7:12-19; QS.15:29-33;
Qs.17:62; QS.18:51; QS.20:117; QS.38:72-86).
Sehubungan
alasan yang pertama Allah Swt. berfirman
mengenai penolakan terhadap ajaran
Islam (Al-Quran) yang diajarkan oleh
Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ لَوِ اتَّبَعَ الۡحَقُّ اَہۡوَآءَہُمۡ
لَفَسَدَتِ السَّمٰوٰتُ وَ الۡاَرۡضُ وَ مَنۡ فِیۡہِنَّ ؕ بَلۡ اَتَیۡنٰہُمۡ
بِذِکۡرِہِمۡ فَہُمۡ عَنۡ ذِکۡرِہِمۡ مُّعۡرِضُوۡنَ ﴿ؕ﴾ اَمۡ
تَسۡـَٔلُہُمۡ خَرۡجًا فَخَرَاجُ رَبِّکَ خَیۡرٌ ٭ۖ وَّ ہُوَ
خَیۡرُ الرّٰزِقِیۡنَ ﴿﴾ وَ اِنَّکَ لَتَدۡعُوۡہُمۡ اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ﴿﴾
Dan
sekiranya kebenaran mengikuti hawa-nafsu
mereka niscaya akan rusaklah seluruh
langit dan bumi dan siapa pun yang
ada di dalamnya. Bahkan Kami telah
memberi kehormatan kepada mereka, tetapi mereka berpaling dari kehormatan tersebut. Atau apakah engkau meminta upah dari mereka? Maka ganjaran
Rabb (Tuhan) engkau lebih baik
dan Dia-lah sebaik-baik Pemberi rezeki. Dan sesungguhnya engkau benar-benar mengajak mereka kepada jalan lurus (Al-Mu’minuun [23]:72-74).
Perlu diketahui bahwa keabsahan haq
(kebenaran) yang dibawa oleh para rasul
Allah senantiasa bertentangan dengan kepercayaan
umum kaumnya, itulah sebabnya para pemuka
kaum senantiasa melakukan pendustaan dan penentangan
terhadap para rasul Allah yang diutus
di kalangan mereka, dengan demikian
jelaslah bahwa dalam masalah haq
(kebenaran) adanya penentangan yang dilakukan mayoritas
kaum terhadap kebenaran
tersebut tidak akan menggugurkan keabsahan haq
(kebenaran) tersebut, berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ اِنۡ تُطِعۡ اَکۡثَرَ مَنۡ فِی الۡاَرۡضِ یُضِلُّوۡکَ عَنۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ؕ اِنۡ یَّتَّبِعُوۡنَ اِلَّا الظَّنَّ وَ اِنۡ ہُمۡ اِلَّا یَخۡرُصُوۡنَ ﴿﴾ اِنَّ رَبَّکَ ہُوَ اَعۡلَمُ مَنۡ یَّضِلُّ عَنۡ سَبِیۡلِہٖ ۚ وَ ہُوَ اَعۡلَمُ
بِالۡمُہۡتَدِیۡنَ ﴿﴾
Dan jika engkau mentaati kebanyakan orang di
bumi, mereka akan menyesatkan engkau
dari jalan Allah, tidak lain yang
mereka ikuti melainkan prasangka,
dan mereka tidak lain hanya membuat-buat
kebohongan. Sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau adalah Dia Yang Maha
Mengetahui orang yang sesat dari jalan-Nya dan Dia Maha Mengetahui orang-orang yang
mendapat petunjuk. (Al-An’aam,
[6]:117-118).
Kesaksian Allah Swt., Para Malaikat dan
Para Nabi Allah & Makna Islam dan Muslim
Dalam perkara keimanan bukanlah mayoritas
maupun minoritas yang dapat diterima
sebagai hakim atas apa yang benar atau salah. Hanya Allah-lah Hakim
Yang tidak bisa salah. Dia memberi keputusan-Nya
dengan menunjukkan Tanda-tanda dari langit dan membantu golongan yang mengikuti jalan
kebenaran, yakni para Rasul Allah
dan jamaa’ahnya, walau pun mereka
itu merupakan golongan
minoritas.
Dengan demikian jelaslah bahwa pada hakikatnya adanya pendustaan
dan penentangan yang dilakukan oleh
para pemuka kaum kepada rasul
Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka itulah penyebab
terjadi berbagai macam agama dan
berbagai macam firqah di
kalangan umat beragama, sebab seandainya para pemuka kaum di setiap zaman kenabian
mereka itu beriman kepada rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan
kepada mereka maka agama yang diturunkan Allah
Swt. kepada umat manusia, sejak awal hingga diturunkannya agama terakhir dan tersempurna kepada Nabi
Besar Muhammad saw. (QS.5:4) nama agama
tersebut adalah ISLAM dan nama para
penganutnya disebut MUSLIM
(QS.22:78-79 sebagaimana firman-Nya:
شَہِدَ اللّٰہُ اَنَّہٗ
لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ۙ وَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ وَ اُولُوا
الۡعِلۡمِ قَآئِمًۢا بِالۡقِسۡطِ ؕ لَاۤ
اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿ؕ﴾
Allah memberi kesaksian bahwa sesungguhnya tidak
ada Tuhan kecuali Dia, demikian
pula malaikat-malaikat dan orang-orang berilmu dengan berpegang
teguh pada keadilan bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Dia Yang Maha Per-kasa, Maha Bijaksana.
(Ali
‘Imran [3]:19).
Satu kenyataan yang terdapat di alam
semesta dan tak dapat dibantah, dan merupakan asas pokok setiap agama sejati yang diajarkan para nabi Allah adalah Keesaan Ilahi. Seluruh ciptaan Allah Swt. dengan segala tertibnya yang sempurna
mengandung kesaksian yang tak dapat
ditolak mengenai kenyataan asasi ini.
Para malaikat
yang adalah penyampai Amanat kebenaran
kepada para nabi (rasul) Allah, yang menyebarkannya
di dunia, dan orang-orang saleh yang menerima serta meresapkan
ke dalam diri mereka ilmu hakiki dari rasul-rasul Allah itu, semuanya membubuhkan kesaksian mereka kepada kesaksian
Ilahi. Demikian pula semuanya bersatu memberi kesaksian terhadap kepalsuan
gagasan mempersekutukan Allah Swt. dengan sejumlah banyak -- tiga atau pun dua
-- tuhan palsu. Atas dasar kenyataan
itu selanjutnya Allah Swt. berfirman:
اِنَّ الدِّیۡنَ عِنۡدَ اللّٰہِ الۡاِسۡلَامُ ۟ وَ مَا اخۡتَلَفَ الَّذِیۡنَ
اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡعِلۡمُ بَغۡیًۢا
بَیۡنَہُمۡ ؕ وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِاٰیٰتِ اللّٰہِ فَاِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ ﴿﴾
Sesungguhnya
agama yang benar di sisi Allah adalah Islam, dan
sekali-kali tidaklah berselisih orang-orang
yang diberi Kitab melainkan setelah
ilmu datang kepada mereka karena kedengkian
di antara mereka. Dan barang-siapa
kafir kepada Tanda-tanda Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat dalam menghisab. (Ali ‘Imran [3]:20).
Pemberian Nama Islam
dan Muslim Kepada Syariat Terakhir dan Tersempurna dan Pemeluknya
Semua agama
yang bersumber dari Allah Swt. senantiasa
menanamkan kepercayaan Tauhid Ilahi dan kepatuhan kepada kehendak-Nya, yakni aslam
(Islam – QS.2:125), namun demikian hanya dalam agama Islam (Al-Quran) – sebagai agama terakhir dan tersempurna
(QS.5:4) sajalah paham kepatuhan kepada kehendak
Ilahi tersebut mencapai kesempurnaan, sebab kepatuhan sepenuhnya meminta pengejewantahan
penuh Sifat-sifat Allah Swt. dan hanya pada Islam (Al-Quran) sajalah pengenjewantahan
demikian telah terjadi.
Jadi dari semua tatanan keagamaan hanya agama Islam
yang berhak disebut agama Tuhan
pribadi (agama Allah) dalam arti yang
sebenarnya. Semua agama yang benar -- lebih atau kurang -- dalam bentuknya
yang asli adalah agama Islam,
sedang para pengikut agama-agama itu
adalah Muslim dalam arti kata secara harfiah
(QS.22:78-79, tetapi nama Al-Islam
tidak diberikan sebelum tiba saat
bila agama menjadi lengkap dalam segala ragam seginya, karena nama
itu dicadangkan untuk syariat yang terakhir dan mencapai kesempurnaan dalam Al-Quran (QS.5:4), firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا ارۡکَعُوۡا وَ اسۡجُدُوۡا وَ اعۡبُدُوۡا رَبَّکُمۡ وَ
افۡعَلُوا الۡخَیۡرَ لَعَلَّکُمۡ
تُفۡلِحُوۡنَ ﴿ۚٛ﴾ وَ جَاہِدُوۡا فِی اللّٰہِ حَقَّ جِہَادِہٖ ؕ ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ
عَلَیۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ ؕ مِلَّۃَ
اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ
وَ فِیۡ ہٰذَا لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ
شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ ۚۖ فَاَقِیۡمُوا
الصَّلٰوۃَ وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ ؕ ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ
ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡرُ ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kami dan sujudlah dan sembahkan Rabb
(Tuhan) kamu dan berbuatlah kebaikan
supaya kamu memperoleh kebahagiaan.
Dan berjihadlah kamu di jalan Allah, Dia telah memilih kamu dan
Dia tidak menjadikan kesusakaran padamu dalam urusan agama. [Ikutilah] agama bapak kamu Ibrahim, Dia telah memberi kamu nama Muslimin dahulu
dan dalam Kitab ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas kamu dan
supaya kamu menjadi saksi atas umat
manusia, maka dirikanlah shalat
dan bayarlah zakat dan berpegang-teguhlah kepada Allah. Dia Pemelihara kamu maka Dia-lah
Sebaik-baik pemelihara dan Sebaik-baik
penolong. (Al-Hajj, 78-79).
Kalimat “Dia telah memberi kamu nama Muslimin
dahulu dan dalam Kitab ini” merujuk kepada nubuatan Nabi Yesaya a.s.: “Maka
engkau akan disebut dengan nama yang
baharu, yang akan ditentukan oleh firman Tuhan….” (Yesaya 62:2 & 65:15).
Sedangkan isyarat dalamn “dan dalam Kitab
ini” ditujukan kepada doa Nabi
Ibrahim a.s. yang dikutip dalam Al-Quran ketika membangun kembali Baitullah (Ka’bah) bersama putera
beliau, Nabi Isma’il a.s.: “Ya Rabb
(Tuhan) kami, jadikanlah kami berdua ini hamba
yang menyerahkan diri kepada Engkau, dan juga dari antara anak-cucu kami
jadikanlah satu umat yang menyerahkan diri kepada
Engkau” (QS.2:128-19).
Jadi, semua rasul Allah – baik yang membawa syariat
(agama) mau pun yang tidak membawa syariat
(agama) -- semuanya mengajarkan Tauhid Ilahi murni berupa yakni penyerahan diri kepada Allah
Swt., yang disebut aslam (Islam) dan
pelakunya disebut muslim. Itulah makna firman-Nya sebelum ini:
اِنَّ الدِّیۡنَ عِنۡدَ اللّٰہِ الۡاِسۡلَامُ ۟ وَ مَا
اخۡتَلَفَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ
الۡعِلۡمُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ ؕ وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِاٰیٰتِ اللّٰہِ فَاِنَّ
اللّٰہَ سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ ﴿﴾
Sesungguhnya
agama yang benar di sisi Allah adalah Islam, dan sekali-kali
tidaklah berselisih orang-orang yang diberi Kitab melainkan setelah ilmu datang kepada mereka
karena kedengkian di antara mereka.
Dan barang-siapa kafir kepada
Tanda-tanda Allah maka sesungguhnya Allah
sangat cepat dalam menghisab. (Ali ‘Imran [3]:20).
Kemusliman
yang Diajarkan Nabi Ibrahim a.s.
dan Nabi
Ya’qub a.s. Kepada Keturunannya
Walau pun seluruh nabi (rasul) Allah Swt. yang
diutus sebelum Nabi Ibrahim a.s. mengamalkan dan mengajarkan “ajaran Islam” atau mengajarkan Tauhid Ilahi – yakni penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah
Swt. – tetapi Nabi Ibrahim a.s. telah memperagakan “ajaran Islam” tersebut bersama dengan keluarga beliau, sehingga Allah Swt. berkenan menjadikan beliau
sebagai imam bagi manusia, firman-Nya:
وَ اِذِ ابۡتَلٰۤی اِبۡرٰہٖمَ رَبُّہٗ بِکَلِمٰتٍ فَاَتَمَّہُنَّ ؕ قَالَ
اِنِّیۡ جَاعِلُکَ
لِلنَّاسِ اِمَامًا ؕ قَالَ وَ مِنۡ ذُرِّیَّتِیۡ ؕ قَالَ لَا یَنَالُ عَہۡدِی الظّٰلِمِیۡنَ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Ibrahim diuji oleh Rabb-nya (Tuhan-nya)
dengan beberapa perintah maka
dilaksanakannya sepenuhnya. Dia berfirman: “Sesungguhnya Aku akan
menjadikan engkau imam bagi manusia.” Ia, Ibrahim, berkata: “Dan
jadikanlah juga imam dari keturunanku.” Dia ber-firman: “Janji-Ku tidak mencapai yakni tidak
berlaku bagi orang-orang zalim.”
(Al-Baqarah
[2]:125).
Yang
perlu mendapat perhatian dari ayat tersebut adalah jawaban Allah Swt. atas permohonan Nabi Ibrahim a.s.: Ia, Ibrahim, berkata: “Dan jadikanlah juga imam
dari keturunanku.” Dia ber-firman: “Janji-Ku tidak mencapai yakni
tidak berlaku bagi orang-orang zalim.”
Jawaban Allah Swt. tersebut dibuktikan oleh sejarah kenabian, yakni ketika
keturunan Nabi Ibrahim a.s.
melalui Nabi Ishaq a.s. dan Nabi Ya’qub a.s. – yakni Bani Israil – telah
meninggalkan “agama Islam” yang diwariskan Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi
Yaq’ub a.s. – maka nikmat kenabian telah dipindahkan Allah Swt. dari Bani Israil kepada Bani Isma’il, dimana proses penyempurnaan hukum-hukum syariat telah mencapai puncak kesempurnaannya melalui
pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. (QS.2:128-130), fireman-Nya:
اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ
نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا ؕ
Hari ini telah Ku-sempurnakan agama kamu bagimu, dan telah Kulengkapkan nikmat-Ku atasmu, dan telah Kusukai Islam sebagai agama bagimu. (Al-Maaidah [5]:4).
Ajaran Islam yang merupakan “agama” dari Hadhirat Allah Swt. (QS.3:19-20) sampai zaman Nabi Ibrahim a.s. belum diberi nama Islam kepada millat tersebut (QS.22:78-79), sebab proses
penyempurnaan hukum-hukum syariat
belum mencapai puncaknya (QS.5:4) -- firman-Nya:
وَ مَنۡ یَّرۡغَبُ عَنۡ مِّلَّۃِ اِبۡرٰہٖمَ اِلَّا مَنۡ سَفِہَ نَفۡسَہٗ ؕ وَ لَقَدِ
اصۡطَفَیۡنٰہُ فِی
الدُّنۡیَا ۚ وَ اِنَّہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ لَمِنَ الصّٰلِحِیۡنَ ﴿﴾ اِذۡ قَالَ لَہٗ رَبُّہٗۤ اَسۡلِمۡ ۙ قَالَ اَسۡلَمۡتُ لِرَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾وَ وَصّٰی بِہَاۤ اِبۡرٰہٖمُ بَنِیۡہِ وَ یَعۡقُوۡبُ ؕ یٰبَنِیَّ اِنَّ اللّٰہَ اصۡطَفٰی لَکُمُ الدِّیۡنَ فَلَا تَمُوۡتُنَّ اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾ؕ اَمۡ کُنۡتُمۡ شُہَدَآءَ اِذۡ حَضَرَ یَعۡقُوۡبَ
الۡمَوۡتُ ۙ اِذۡ قَالَ لِبَنِیۡہِ مَا
تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡۢ بَعۡدِیۡ ؕ قَالُوۡا نَعۡبُدُ
اِلٰہَکَ وَ اِلٰـہَ اٰبَآئِکَ اِبۡرٰہٖمَ وَ اِسۡمٰعِیۡلَ وَ اِسۡحٰقَ اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚۖ وَّ نَحۡنُ لَہٗ مُسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾تِلۡکَ اُمَّۃٌ قَدۡ
خَلَتۡ ۚ لَہَا مَا
کَسَبَتۡ وَ لَکُمۡ مَّا
کَسَبۡتُمۡ ۚ وَ لَا
تُسۡـَٔلُوۡنَ
عَمَّا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Dan siapakah yang berpaling dari millat (agama) Ibrahim selain orang yang memperbodoh dirinya sendiri? Dan sungguh Kami benar-benar telah me-milihnya di dunia dan
sesungguhnya di akhirat pun dia termasuk
orang-orang yang saleh. Ingatlah ketika Rabb-nya (Tuhan-nya) berfirman kepadanya: “Berserah dirilah”, ia berkata: ”Aku telah berserah diri kepada Rabb (Tuhan) seluruh alam.” Dan Ibrahim mewasiatkan yang demikian kepada
anak-anaknya dan demikian pula Ya’qub seraya
berkata: “Hai anak-anakku,
sesungguhnya Allah telah memilih agama
ini bagi kamu, maka
janganlah kamu mati kecuali dalam
keadaan berserah diri.” (Al-Baqarah [2]:131-133).
Orang-orang Yang Memperbodoh
Dirinya
Sehubungan kata “memperbodoh dirinya” dalam ayat 131,
berbagai bentuk dari kata safiha, safaha dan safuha
mempunyai arti yang berbeda, safiha berarti: ia jahil, bodoh atau kurang akal. Jika kata itu dipakai
bersama dengan nafsahu, seolah-olah sebagai pelengkapnya seperti dalam
ayat ini, kata itu tidak sungguh-sungguh menjadi transitif (berpelengkap),
hanya nampaknya saja demikian (Lisan-Al-Arab
dan Mufradat). Kata-kata itu berarti juga
“yang telah membinasakan jiwanya
sendiri”, firman-Nya:
وَ مَنۡ یَّرۡغَبُ عَنۡ مِّلَّۃِ اِبۡرٰہٖمَ اِلَّا مَنۡ سَفِہَ نَفۡسَہٗ ؕ وَ لَقَدِ
اصۡطَفَیۡنٰہُ فِی
الدُّنۡیَا ۚ وَ اِنَّہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ لَمِنَ الصّٰلِحِیۡنَ ﴿﴾
Dan siapakah yang berpaling dari agama Ibrahim
selain orang yang memperbodoh dirinya
sendiri? Dan sungguh
Kami benar-benar telah memilihnya di dunia dan
sesungguhnya di akhirat pun dia termasuk
orang-orang yang saleh. (Al-Baqarah [2]:131)
Jadi, menurut Allah Swt. orang-orang yang berpaling dari “agama Islam” atau millat
Ibrahim yang dianut dan diwariskan
Nabi Ibrahim a.s. kepada semua keturunan
beliau – termasuk kepada Bani
Israil dan Bani Isma’il -- mereka merupakan “orang-orang yang memperbodoh dirinya” atau yang “membinasakan dirinya sendiri”,
karena dengan kedurhakaannya
tersebut bukannya mengundang keridhaan
Allah Swt. melainkan mengundang kemurkaan Allah Swt., sebagaimana yang dinubuatkan dalam surah Al-Fatihah ayat 7.
Selanjutnya Allah Swt. berfirman
mengenai pentingnya berpegang pada millat Nabi Ibrahim a.s. tersebut:
اِذۡ قَالَ لَہٗ رَبُّہٗۤ اَسۡلِمۡ ۙ قَالَ اَسۡلَمۡتُ لِرَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾وَ وَصّٰی بِہَاۤ اِبۡرٰہٖمُ بَنِیۡہِ وَ یَعۡقُوۡبُ ؕ یٰبَنِیَّ اِنَّ اللّٰہَ اصۡطَفٰی لَکُمُ الدِّیۡنَ فَلَا تَمُوۡتُنَّ اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾ؕ
Ingatlah ketika Rabb-nya (Tuhan-nya) berfirman kepadanya: “Berserah dirilah”, ia berkata: ”Aku telah berserah diri kepada Rabb (Tuhan) seluruh alam.”
Dan Ibrahim mewasiatkan yang demikian
kepada anak-anaknya dan demikian pula Ya’qub seraya berkata: “Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah
telah memilih agama ini bagi kamu, maka janganlah kamu mati kecuali
dalam keadaan berserah diri.” (Al-Baqarah [2]:132-133).
Karena tidak ada saat ditentukan
untuk mati, maka orang hendaknya
setiap saat menjalani kehidupannya dengan berserah
diri sepenuhnya kepada Allah Swt.
Ayat ini dapat pula berarti,
bahwa orang beriman sejati hendaknya
begitu sepenuhnya berserah diri
kepada kehendak Ilahi dan meraih keridhaan-Nya begitu sempurna,
sehingga Allah Swt. dengan kemurahan-Nya yang tidak terbatas, akan mengatur demikian rupa sehingga kematian akan datang kepadanya pada saat
ketika ia berserah diri sepenuhnya kepada kehendak-Nya (QS.3:193).
Dialog Nabi Ya’qub a.s. Menjelang Wafat
Dengan Anak-anaknya
Dalam ayat selanjutnya diterangkan
bahwa Nabi Ya’qub a.s. ketika akan meninggal dunia di Mesir telah meminta ketegasan
dari anak-anak beliau mengenai kesetiaan
mereka terhadap millat yang diwariskan
leluhur mereka, Nabi Ibrahim a.s., karena -- kecuali terhadap Nabi Yusuf a.s. dan adik beliau, Benyamin -- nampaknya Nabi Ya’qub a.s. meragukan keimanan kakak-kakak Nabi Yusuf a.s., sebagaimana yang dikemukakan dalam Surah Yusuf (QS.12:6-21), firman-Nya:
اَمۡ کُنۡتُمۡ شُہَدَآءَ اِذۡ حَضَرَ یَعۡقُوۡبَ
الۡمَوۡتُ ۙ اِذۡ قَالَ لِبَنِیۡہِ مَا
تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡۢ بَعۡدِیۡ ؕ قَالُوۡا نَعۡبُدُ
اِلٰہَکَ وَ اِلٰـہَ اٰبَآئِکَ اِبۡرٰہٖمَ وَ اِسۡمٰعِیۡلَ وَ اِسۡحٰقَ اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚۖ وَّ نَحۡنُ لَہٗ مُسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Ataukah kamu hadir
saat kematian menjelang Ya’qub
ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apakah
yang akan kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhan engkau dan Tuhan bapak-bapak eng-kau: Ibrahim, Isma’il, dan Ishaq,
yaitu Tuhan Yang Esa, dan hanya kepada-Nya
kami berserah diri.” (Al-Baqarah
[2]:134).
Kata anak-cucu di sini menunjuk kepada kedua belas suku Bani Israil yang masing-masing disebut
menurut nama 12 putra Nabi Ya’qub a.s.:
Rubin, Simeon, Levi, Yehuda, Isakhar, Zebulon, Yusuf, Benyamin, Dan, Naftali, Gad dan
Asyer (Kejadian 35:23-26, 49:
28).
Dari
Bible dan Al-Quran diketahui bahwa akibat kedengkian
saudara-saudara seayah Nabi Yusuf a.s.
kepada beliau, bukan saja telah membuat Nabi Yusuf a.s. berada di
Mesir, bahkan keluarga besar beliau
pun -- akibat kemarau panjang yang melanda wilayah Timur tengah selama 7
tahun – mereka pun hijrah ke Mesir karena Nabi Yusuf a.s. telah menjadi seorang pejabat tinggi di Kerajaan Mesir (Kejadian Bab 37-50; QS.12:8-22 & 44-58). Kemudian setelah
Nabi Yusuf a.s wafat -- karena
Bani Israil merupakan orang-orang asing di Mesir -- kemudian mereka diperbudak secara aniaya oleh para Fir’aun
di Mesir selama 400 tahun (Kejadian 15:12-16; QS.28:4-7).
(Bersambung)
ooo
Rujukan: The
Holy Quran
Editor : Malik
Ghulam Farid
Pajajaran Anyar, 9 Juli 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar