Jumat, 13 Juli 2018

Kebenaran (Haq) yang Diajarkan Para Rasul Allah Bertentangan Dengan "Pendapat Mayoritas" Umatnya & Penentangan Abadi Kaum-kaum Purbakala Kepada Pengutusan Rasul Allah



Bismillaahirrahmaanirrahiim


KHAZANAH  AL-QURAN  

Bab 28

KEBENARAN YANG DIAJARKAN PARA RASUL ALLAH BERTENTANGAN DENGAN PENDAPAT MAYORITAS UMATNYA & PENENTANGAN ABADI KAUM-KAUM PURBAKALA KEPADA  PENGUTUSAN  RASUL ALLAH    

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

وَ یَوۡمَ نَبۡعَثُ فِیۡ کُلِّ اُمَّۃٍ شَہِیۡدًا عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ جِئۡنَا بِکَ شَہِیۡدًا عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ ؕ وَ نَزَّلۡنَا عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ تِبۡیَانًا  لِّکُلِّ شَیۡءٍ  وَّ  ہُدًی  وَّ  رَحۡمَۃً   وَّ  بُشۡرٰی  لِلۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah hari itu ketika Kami akan membangkitkan dalam setiap umat seorang saksi terhadap mereka dari antara mereka sendiri, dan Kami akan mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka semuanya. Dan  Kami  telah menurunkan kepada engkau Kitab itu untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk, rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri kepada Allah.   (An-Nahl [16]:90).

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan  topic  Melampaui Batas Dalam Memahami Mukjizat  Para Nabi Allah.    Memang benar bahwa para nabi Allah dan para wali Allah – termasuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan Nabi Besar Muhammad saw. – telah dianugerahi berbagai mukjizat dan karamah oleh Allah Swt., tetapi keadaan mukjizat-mukjizat dan karamah tersebut tidak seperti persepsi umum orang-orang yang diwarnai dengan takhayul dan melampaui batas. Sebab jika tidak demikian maka mustahil mereka itu akan didustakan dan ditentang oleh  para penentangnya  yang buta mata ruhaninya (QS.17:73; QS.20:125-127; QS.22:46-49), sebagaimana  firman-Nya:
کَذٰلِکَ مَاۤ  اَتَی الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ  مِّنۡ رَّسُوۡلٍ  اِلَّا  قَالُوۡا  سَاحِرٌ  اَوۡ مَجۡنُوۡنٌ ﴿ۚ﴾ اَتَوَاصَوۡا بِہٖ ۚ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ طَاغُوۡنَ ﴿ۚ﴾
Demikianlah sekali-kali tidak pernah datang kepada orang-orang sebelum mereka seorang rasul melainkan mereka berkata: “Dia tukang sihir, atau orang gila!”  Adakah mereka saling mewasiatkan mengenai itu? Tidak, bahkan mereka itu semua kaum pendurhaka. (Adz- Dzaariyaat [51:53-54).
   Begitu menyoloknya persamaan tuduhan-tuduhan yang dilancarkan terhadap Nabi Besar Muhammad saw.   dan para mushlih rabbani (nabi Allah) lainnya – termasuk di Akhir Zaman ini terhadap Masih Mau’ud a.s.   -- oleh lawan-lawan mereka sepanjang masa, sehingga nampaknya orang-orang kafir dari abad tertentu mewariskan tuduhan-tuduhan itu kepada keturunan mereka, supaya terus melancarkan lagi tuduhan-tuduhan itu. Dengan demikian benarlah firman Allah Swt. berikut ini:
یٰحَسۡرَۃً عَلَی الۡعِبَادِ ۚؑ مَا یَاۡتِیۡہِمۡ مِّنۡ رَّسُوۡلٍ  اِلَّا  کَانُوۡا بِہٖ  یَسۡتَہۡزِءُوۡنَ ﴿﴾
Wahai sangat disesalkan atas hamba-hamba itu, sekali-kali tidak pernah datang kepada mereka seorang rasul melainkan mereka senantiasa mencemoohkannya (Yaa Siin, 31).  Lihat pula QS.15:11-14; QS.43:7-9.
        Kata-kata dalam ayat ini penuh dengan kesedihan. Tuhan Yang Maha Kuasa Sendiri agaknya seolah-olah sangat masygul atas penolakan dan ejekan manusia terhadap para nabi-Nya (rasul-Nya). Sementara para nabi Allah menanggung kesedihan dan derita untuk kaumnya, maka kaumnya itu membalas kesedihan mereka itu dengan penghinaan dan ejekan.

Dua Penyebab Utama Pendustaan Kepada Para Nabi Allah

       Dalam Bab 25 berkenaan ungkapan “Al-Haqqu murrun – kebenaran itu pahit” telah dijelaskan, bahwa pada hakikatnya terjadinya  pendustaan dan penzaliman yang dilakukan  kaum-kaum purbakala terhadap para Rasul Allah di setiap zaman kenabian tersebut   penyebab utamanya 2 macam, yakni:
        (1)   Haq (kebenaran) yang dibawa oleh para rasul Allah tersebut dirasakan sangat pahit   oleh para pemuka kaum purbakala tersebut karena bertentangan dengan akidah dan amal yang mereka lakukan. (QS.2:88-91; QS.23:72).
        (2)     Mereka menganut pemahaman silsilah pengutusan para nabi Allah telah berakhir (tertutup) yakni faham “laa nabiya ba’dahu” (tidak akan ada lagi  nabi sesudahnya – QS.10:75; QS.40:35-36; QS.72:8), yang pada hakikatnya  merupakan pengulangan ketakaburan iblis terhadap Adam (Khalifah Allah)  yang menolak “sujud” (beriman dan patuh-taat) kepada Adam (Khalifah Allah) bersama para malaikat ketika diperintahkan Allah Swt.  (QS.2:31-35; QS.7:12-19; QS.15:29-33; Qs.17:62; QS.18:51; QS.20:117; QS.38:72-86).
         Sehubungan alasan yang pertama  Allah Swt. berfirman mengenai penolakan terhadap  ajaran Islam (Al-Quran)  yang diajarkan oleh Nabi Besar Muhammad saw.:
 وَ لَوِ اتَّبَعَ الۡحَقُّ اَہۡوَآءَہُمۡ لَفَسَدَتِ السَّمٰوٰتُ وَ الۡاَرۡضُ وَ مَنۡ فِیۡہِنَّ ؕ بَلۡ اَتَیۡنٰہُمۡ بِذِکۡرِہِمۡ فَہُمۡ عَنۡ ذِکۡرِہِمۡ مُّعۡرِضُوۡنَ ﴿ؕ﴾  اَمۡ  تَسۡـَٔلُہُمۡ خَرۡجًا فَخَرَاجُ رَبِّکَ خَیۡرٌ ٭ۖ وَّ  ہُوَ  خَیۡرُ  الرّٰزِقِیۡنَ ﴿﴾  وَ  اِنَّکَ لَتَدۡعُوۡہُمۡ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ﴿﴾
Dan sekiranya kebenaran mengikuti hawa-nafsu mereka niscaya akan rusaklah seluruh langit dan bumi dan siapa pun yang ada di dalamnya. Bahkan Kami telah memberi kehormatan kepada mereka, tetapi mereka berpaling dari kehormatan tersebut. Atau apakah engkau meminta upah dari mereka?  Maka ganjaran Rabb (Tuhan) engkau lebih baik dan Dia-lah sebaik-baik Pemberi rezeki. Dan sesungguhnya engkau benar-benar mengajak mereka kepada jalan lurus (Al-Mu’minuun [23]:72-74).
       Perlu diketahui bahwa keabsahan  haq (kebenaran) yang dibawa oleh para rasul Allah senantiasa bertentangan dengan kepercayaan umum kaumnya, itulah sebabnya para pemuka kaum  senantiasa melakukan pendustaan dan  penentangan terhadap para rasul Allah yang diutus di kalangan mereka,  dengan demikian jelaslah bahwa dalam masalah haq (kebenaran) adanya   penentangan yang dilakukan mayoritas kaum  terhadap  kebenaran tersebut tidak akan menggugurkan keabsahan haq (kebenaran) tersebut, berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ اِنۡ تُطِعۡ  اَکۡثَرَ مَنۡ  فِی الۡاَرۡضِ یُضِلُّوۡکَ عَنۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ؕ اِنۡ یَّتَّبِعُوۡنَ اِلَّا الظَّنَّ  وَ اِنۡ  ہُمۡ  اِلَّا یَخۡرُصُوۡنَ ﴿﴾ اِنَّ  رَبَّکَ ہُوَ اَعۡلَمُ مَنۡ یَّضِلُّ عَنۡ سَبِیۡلِہٖ ۚ وَ ہُوَ اَعۡلَمُ بِالۡمُہۡتَدِیۡنَ ﴿﴾
Dan jika engkau mentaati kebanyakan orang di bumi, mereka akan menyesatkan engkau dari jalan Allah, tidak lain yang mereka ikuti melainkan prasangka, dan mereka tidak lain hanya membuat-buat kebohongan. Sesungguhnya  Rabb (Tuhan) engkau adalah Dia Yang Maha Mengetahui  orang  yang sesat dari jalan-Nya dan Dia Maha Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.   (Al-An’aam, [6]:117-118).

Kesaksian Allah Swt., Para Malaikat dan Para Nabi Allah & Makna Islam dan Muslim

      Dalam perkara keimanan bukanlah mayoritas maupun minoritas yang dapat diterima sebagai hakim atas apa yang benar atau salah. Hanya Allah-lah Hakim Yang tidak bisa salah. Dia memberi keputusan-Nya dengan menunjukkan Tanda-tanda dari langit dan membantu golongan yang mengikuti jalan kebenaran, yakni para Rasul Allah dan jamaa’ahnya, walau pun mereka itu  merupakan  golongan minoritas.
      Dengan demikian jelaslah  bahwa pada hakikatnya  adanya pendustaan dan penentangan yang dilakukan oleh para pemuka kaum kepada  rasul Allah yang kedatangannya  dijanjikan kepada mereka itulah penyebab terjadi berbagai macam agama dan berbagai macam firqah di kalangan  umat beragama, sebab seandainya para pemuka kaum di setiap zaman kenabian mereka itu beriman kepada rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka  maka agama yang diturunkan Allah Swt. kepada umat manusia,  sejak awal hingga diturunkannya agama terakhir dan tersempurna  kepada Nabi Besar Muhammad saw. (QS.5:4)   nama  agama tersebut  adalah ISLAM  dan nama para penganutnya disebut MUSLIM (QS.22:78-79 sebagaimana firman-Nya:
شَہِدَ اللّٰہُ  اَنَّہٗ  لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ۙ وَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ وَ اُولُوا الۡعِلۡمِ قَآئِمًۢا بِالۡقِسۡطِ ؕ لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿ؕ﴾
Allah memberi kesaksian bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali Dia, demikian pula malaikat-malaikat dan orang-orang berilmu dengan  berpegang teguh pada keadilan bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali  Dia Yang Maha Per-kasa, Maha Bijaksana. (Ali ‘Imran [3]:19).
        Satu kenyataan yang terdapat di alam semesta  dan tak dapat dibantah, dan merupakan asas pokok setiap agama sejati yang diajarkan para nabi Allah adalah  Keesaan Ilahi. Seluruh ciptaan Allah Swt.  dengan segala tertibnya yang sempurna mengandung kesaksian yang tak dapat ditolak mengenai kenyataan asasi ini.
       Para malaikat yang adalah penyampai Amanat kebenaran kepada para nabi  (rasul) Allah,  yang menyebarkannya di dunia, dan orang-orang saleh yang menerima serta  meresapkan ke dalam diri mereka ilmu  hakiki dari rasul-rasul Allah itu, semuanya membubuhkan kesaksian mereka kepada kesaksian Ilahi. Demikian pula  semuanya bersatu memberi kesaksian terhadap kepalsuan gagasan mempersekutukan Allah Swt.  dengan sejumlah banyak  -- tiga atau pun dua -- tuhan palsu. Atas dasar kenyataan itu selanjutnya Allah Swt. berfirman: 
اِنَّ الدِّیۡنَ عِنۡدَ اللّٰہِ الۡاِسۡلَامُ ۟ وَ مَا اخۡتَلَفَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡعِلۡمُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ ؕ وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِاٰیٰتِ اللّٰہِ فَاِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ  الۡحِسَابِ ﴿﴾
Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah adalah Islam, dan sekali-kali tidaklah berselisih orang-orang yang diberi Kitab melainkan setelah ilmu datang kepada mereka karena kedengkian di antara mereka. Dan barang-siapa kafir kepada Tanda-tanda Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat dalam menghisab. (Ali ‘Imran [3]:20).

Pemberian  Nama Islam dan Muslim Kepada Syariat Terakhir dan Tersempurna dan Pemeluknya

   Semua agama yang bersumber dari Allah Swt. senantiasa menanamkan kepercayaan Tauhid Ilahi dan kepatuhan kepada kehendak-Nya,   yakni aslam (Islam – QS.2:125), namun demikian hanya dalam agama Islam (Al-Quran) – sebagai agama terakhir dan tersempurna (QS.5:4) sajalah paham kepatuhan   kepada kehendak Ilahi tersebut mencapai kesempurnaan, sebab kepatuhan sepenuhnya meminta pengejewantahan penuh Sifat-sifat Allah Swt.   dan hanya pada Islam (Al-Quran) sajalah pengenjewantahan demikian telah terjadi.
        Jadi dari semua tatanan keagamaan hanya agama Islam yang berhak disebut agama Tuhan pribadi (agama Allah) dalam arti  yang sebenarnya.  Semua agama yang benar  --  lebih atau kurang  -- dalam bentuknya yang asli adalah agama Islam, sedang para pengikut agama-agama itu adalah Muslim dalam arti kata secara harfiah (QS.22:78-79, tetapi  nama Al-Islam tidak diberikan sebelum tiba saat bila agama menjadi lengkap dalam segala ragam seginya, karena nama itu dicadangkan untuk syariat yang terakhir dan mencapai kesempurnaan dalam Al-Quran (QS.5:4),  firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا ارۡکَعُوۡا  وَ اسۡجُدُوۡا وَ اعۡبُدُوۡا رَبَّکُمۡ وَ افۡعَلُوا الۡخَیۡرَ   لَعَلَّکُمۡ  تُفۡلِحُوۡنَ ﴿ۚٛ﴾ وَ جَاہِدُوۡا فِی اللّٰہِ حَقَّ جِہَادِہٖ ؕ ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ عَلَیۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ ؕ مِلَّۃَ  اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا  لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ ۚۖ فَاَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ  وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ ؕ ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡرُ ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kami dan sujudlah dan sembahkan Rabb (Tuhan) kamu dan berbuatlah  kebaikan supaya kamu memperoleh kebahagiaan. Dan berjihadlah kamu di jalan Allah, Dia telah memilih kamu dan Dia tidak menjadikan kesusakaran padamu dalam urusan agama. [Ikutilah] agama bapak kamu Ibrahim, Dia telah memberi kamu nama Muslimin dahulu dan dalam Kitab ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas kamu dan supaya kamu menjadi saksi atas umat manusia, maka dirikanlah shalat dan bayarlah zakat dan berpegang-teguhlah kepada Allah. Dia Pemelihara kamu maka Dia-lah Sebaik-baik pemelihara dan Sebaik-baik penolong. (Al-Hajj, 78-79).
       Kalimat “Dia telah memberi kamu nama Muslimin dahulu dan dalam Kitab ini” merujuk kepada nubuatan Nabi Yesaya a.s.: “Maka engkau akan disebut dengan nama yang baharu, yang akan ditentukan oleh firman Tuhan….” (Yesaya 62:2 & 65:15). Sedangkan isyarat dalamn “dan dalam Kitab ini” ditujukan kepada doa Nabi Ibrahim a.s. yang dikutip dalam Al-Quran ketika membangun kembali Baitullah (Ka’bah) bersama putera beliau, Nabi Isma’il a.s.: “Ya Rabb (Tuhan) kami, jadikanlah kami berdua ini hamba yang menyerahkan diri kepada Engkau, dan juga dari antara anak-cucu kami jadikanlah  satu umat yang menyerahkan diri kepada  Engkau” (QS.2:128-19).
        Jadi, semua rasul Allah – baik yang membawa syariat (agama) mau pun yang tidak membawa syariat (agama) --  semuanya mengajarkan Tauhid Ilahi murni  berupa yakni penyerahan  diri kepada Allah Swt., yang disebut aslam (Islam) dan pelakunya disebut muslim.  Itulah makna firman-Nya sebelum ini:
  اِنَّ الدِّیۡنَ عِنۡدَ اللّٰہِ الۡاِسۡلَامُ ۟ وَ مَا اخۡتَلَفَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡعِلۡمُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ ؕ وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِاٰیٰتِ اللّٰہِ فَاِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ  الۡحِسَابِ ﴿﴾
Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah adalah Islam,  dan sekali-kali tidaklah berselisih orang-orang yang diberi Kitab melainkan setelah ilmu datang kepada mereka karena kedengkian di antara mereka. Dan barang-siapa kafir kepada Tanda-tanda Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat dalam menghisab. (Ali ‘Imran [3]:20).

Kemusliman  yang Diajarkan Nabi Ibrahim a.s. dan  Nabi Ya’qub a.s. Kepada Keturunannya

        Walau pun seluruh nabi (rasul) Allah Swt.  yang diutus sebelum Nabi Ibrahim a.s. mengamalkan dan mengajarkan “ajaran Islam” atau mengajarkan Tauhid Ilahi – yakni penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah Swt. – tetapi Nabi Ibrahim a.s. telah memperagakan “ajaran Islam” tersebut bersama dengan keluarga beliau,  sehingga Allah Swt. berkenan menjadikan beliau sebagai imam bagi manusia, firman-Nya:
وَ اِذِ ابۡتَلٰۤی  اِبۡرٰہٖمَ  رَبُّہٗ بِکَلِمٰتٍ فَاَتَمَّہُنَّ ؕ قَالَ اِنِّیۡ جَاعِلُکَ لِلنَّاسِ  اِمَامًا ؕ قَالَ وَ مِنۡ ذُرِّیَّتِیۡ ؕ قَالَ لَا یَنَالُ عَہۡدِی الظّٰلِمِیۡنَ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji oleh Rabb-nya (Tuhan-nya) dengan beberapa perintah maka dilaksanakannya sepenuhnya. Dia berfirman: “Sesungguhnya Aku akan  menjadikan engkau imam bagi manusia.” Ia, Ibrahim,  berkata: “Dan jadikanlah juga imam dari  keturunanku. Dia ber-firman: “Janji-Ku tidak mencapai yakni tidak berlaku bagi orang-orang zalim.” (Al-Baqarah [2]:125).
          Yang  perlu mendapat perhatian dari ayat tersebut adalah jawaban Allah Swt. atas permohonan Nabi Ibrahim a.s.:      Ia, Ibrahim,  berkata: “Dan jadikanlah juga imam dari  keturunanku.   Dia ber-firman: “Janji-Ku tidak mencapai yakni tidak berlaku bagi orang-orang zalim.”
         Jawaban Allah Swt. tersebut  dibuktikan oleh sejarah kenabian, yakni  ketika keturunan Nabi Ibrahim a.s. melalui   Nabi Ishaq a.s.  dan  Nabi Ya’qub a.s. – yakni Bani Israil – telah meninggalkan “agama Islam”  yang diwariskan Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Yaq’ub a.s. – maka  nikmat kenabian telah dipindahkan Allah Swt. dari Bani Israil kepada Bani Isma’il, dimana proses penyempurnaan hukum-hukum syariat telah mencapai puncak kesempurnaannya melalui pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. (QS.2:128-130), fireman-Nya:
اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا ؕ
Hari ini telah Ku-sempurnakan agama kamu bagimu, dan telah Kulengkapkan nikmat-Ku atasmu, dan telah Kusukai  Islam sebagai agama bagimu.   (Al-Maaidah [5]:4).
         Ajaran Islam yang merupakan  “agama” dari Hadhirat  Allah Swt.   (QS.3:19-20) sampai zaman Nabi Ibrahim a.s.  belum diberi nama Islam  kepada millat  tersebut (QS.22:78-79), sebab proses penyempurnaan hukum-hukum syariat belum mencapai puncaknya (QS.5:4)  -- firman-Nya:
وَ مَنۡ یَّرۡغَبُ عَنۡ مِّلَّۃِ  اِبۡرٰہٖمَ  اِلَّا مَنۡ سَفِہَ نَفۡسَہٗ ؕ وَ لَقَدِ اصۡطَفَیۡنٰہُ فِی الدُّنۡیَا ۚ وَ اِنَّہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ  لَمِنَ الصّٰلِحِیۡنَ ﴿﴾     اِذۡ قَالَ لَہٗ رَبُّہٗۤ  اَسۡلِمۡ ۙ قَالَ اَسۡلَمۡتُ لِرَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾وَ وَصّٰی بِہَاۤ اِبۡرٰہٖمُ  بَنِیۡہِ وَ یَعۡقُوۡبُ ؕ یٰبَنِیَّ  اِنَّ اللّٰہَ اصۡطَفٰی لَکُمُ الدِّیۡنَ فَلَا تَمُوۡتُنَّ  اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ  مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾ؕ     اَمۡ کُنۡتُمۡ  شُہَدَآءَ  اِذۡ حَضَرَ یَعۡقُوۡبَ الۡمَوۡتُ ۙ اِذۡ  قَالَ لِبَنِیۡہِ مَا تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡۢ بَعۡدِیۡ ؕ قَالُوۡا نَعۡبُدُ اِلٰہَکَ وَ اِلٰـہَ اٰبَآئِکَ اِبۡرٰہٖمَ  وَ  اِسۡمٰعِیۡلَ وَ  اِسۡحٰقَ  اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚۖ وَّ نَحۡنُ لَہٗ مُسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾تِلۡکَ اُمَّۃٌ قَدۡ خَلَتۡ ۚ لَہَا مَا کَسَبَتۡ وَ لَکُمۡ مَّا کَسَبۡتُمۡ ۚ وَ لَا تُسۡـَٔلُوۡنَ عَمَّا  کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Dan siapakah yang berpaling dari  millat (agama)  Ibrahim selain orang yang memperbodoh dirinya sendiri? Dan  sungguh Kami  benar-benar telah me-milihnya di dunia dan sesungguhnya di akhirat pun dia termasuk orang-orang yang saleh.    Ingatlah ketika Rabb-nya (Tuhan-nya) berfirman kepadanya: “Berserah dirilah”, ia berkata: ”Aku telah berserah diri kepada Rabb (Tuhan) seluruh  alam.Dan Ibrahim mewasiatkan yang demikian kepada anak-anaknya dan demikian pula Ya’qub  seraya  berkata: “Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagi kamu,  maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan berserah diri.” (Al-Baqarah [2]:131-133).

Orang-orang Yang Memperbodoh Dirinya

         Sehubungan kata “memperbodoh dirinya” dalam ayat 131, berbagai bentuk dari kata safiha, safaha dan safuha mempunyai arti yang berbeda, safiha berarti: ia jahil, bodoh atau kurang akal. Jika kata itu dipakai bersama dengan nafsahu, seolah-olah sebagai pelengkapnya seperti dalam ayat ini, kata itu tidak sungguh-sungguh menjadi transitif (berpelengkap), hanya nampaknya saja demikian (Lisan-Al-Arab dan Mufradat). Kata-kata  itu  berarti juga  “yang telah membinasakan jiwanya sendiri”, firman-Nya:
وَ مَنۡ یَّرۡغَبُ عَنۡ مِّلَّۃِ  اِبۡرٰہٖمَ  اِلَّا مَنۡ سَفِہَ نَفۡسَہٗ ؕ وَ لَقَدِ اصۡطَفَیۡنٰہُ فِی الدُّنۡیَا ۚ وَ اِنَّہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ  لَمِنَ الصّٰلِحِیۡنَ ﴿﴾
Dan siapakah yang berpaling dari agama Ibrahim selain orang yang memperbodoh dirinya sendiri?  Dan  sungguh  Kami  benar-benar telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya di akhirat pun dia termasuk orang-orang yang saleh. (Al-Baqarah [2]:131)
        Jadi, menurut Allah Swt. orang-orang yang berpaling dari “agama Islam”  atau millat Ibrahim yang dianut dan diwariskan Nabi Ibrahim a.s. kepada  semua keturunan beliau – termasuk kepada   Bani Israil dan Bani Isma’il --  mereka merupakan “orang-orang yang memperbodoh dirinya” atau yang “membinasakan dirinya sendiri”, karena   dengan kedurhakaannya tersebut bukannya mengundang keridhaan Allah Swt. melainkan  mengundang kemurkaan Allah Swt., sebagaimana yang dinubuatkan  dalam surah Al-Fatihah ayat 7.
       Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai pentingnya  berpegang pada millat Nabi Ibrahim a.s. tersebut:
اِذۡ قَالَ لَہٗ رَبُّہٗۤ  اَسۡلِمۡ ۙ قَالَ اَسۡلَمۡتُ لِرَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾وَ وَصّٰی بِہَاۤ اِبۡرٰہٖمُ  بَنِیۡہِ وَ یَعۡقُوۡبُ ؕ یٰبَنِیَّ  اِنَّ اللّٰہَ اصۡطَفٰی لَکُمُ الدِّیۡنَ فَلَا تَمُوۡتُنَّ  اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ  مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾ؕ
Ingatlah ketika Rabb-nya (Tuhan-nya) berfirman kepadanya: “Berserah dirilah”, ia berkata: ”Aku telah berserah diri kepada Rabb (Tuhan) seluruh  alam.”   Dan Ibrahim mewasiatkan yang demikian kepada anak-anaknya dan demikian pula Ya’qub  seraya  berkata: “Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagi kamu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan berserah diri.”   (Al-Baqarah [2]:132-133).
        Karena tidak ada saat ditentukan untuk mati, maka orang hendaknya setiap saat menjalani kehidupannya dengan berserah diri sepenuhnya kepada Allah Swt.   Ayat ini dapat pula berarti, bahwa orang beriman sejati hendaknya begitu sepenuhnya berserah diri kepada kehendak Ilahi dan meraih keridhaan-Nya begitu sempurna, sehingga Allah Swt.  dengan kemurahan-Nya yang tidak terbatas, akan mengatur demikian rupa sehingga kematian akan datang kepadanya pada saat ketika ia berserah  diri sepenuhnya kepada kehendak-Nya (QS.3:193).

Dialog Nabi Ya’qub a.s. Menjelang Wafat Dengan Anak-anaknya

       Dalam ayat selanjutnya diterangkan bahwa Nabi Ya’qub a.s. ketika  akan meninggal dunia di Mesir telah meminta ketegasan dari anak-anak beliau mengenai kesetiaan mereka terhadap millat  yang diwariskan leluhur mereka, Nabi Ibrahim a.s.,   karena -- kecuali terhadap Nabi Yusuf a.s. dan adik beliau, Benyamin -- nampaknya  Nabi Ya’qub a.s. meragukan keimanan  kakak-kakak Nabi Yusuf a.s., sebagaimana yang dikemukakan dalam Surah Yusuf  (QS.12:6-21), firman-Nya:
اَمۡ کُنۡتُمۡ  شُہَدَآءَ  اِذۡ حَضَرَ یَعۡقُوۡبَ الۡمَوۡتُ ۙ اِذۡ  قَالَ لِبَنِیۡہِ مَا تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡۢ بَعۡدِیۡ ؕ قَالُوۡا نَعۡبُدُ اِلٰہَکَ وَ اِلٰـہَ اٰبَآئِکَ اِبۡرٰہٖمَ  وَ  اِسۡمٰعِیۡلَ وَ  اِسۡحٰقَ  اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚۖ وَّ نَحۡنُ لَہٗ مُسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Ataukah  kamu hadir  saat kematian menjelang Ya’qub ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apakah yang akan kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhan engkau dan Tuhan bapak-bapak eng-kau: Ibrahim, Isma’il, dan Ishaq, yaitu Tuhan Yang Esa, dan hanya  kepada-Nya kami berserah  diri.” (Al-Baqarah [2]:134).
         Kata anak-cucu di sini menunjuk kepada kedua belas suku Bani Israil yang masing-masing disebut menurut nama 12 putra Nabi Ya’qub a.s.:  Rubin, Simeon, Levi, Yehuda, Isakhar, Zebulon, Yusuf, Benyamin, Dan, Naftali, Gad dan Asyer (Kejadian 35:23-26, 49: 28).
      Dari Bible dan Al-Quran diketahui bahwa akibat kedengkian saudara-saudara seayah Nabi Yusuf a.s.  kepada beliau, bukan saja  telah membuat Nabi Yusuf a.s.  berada di Mesir, bahkan keluarga besar beliau pun  -- akibat kemarau panjang yang melanda wilayah Timur tengah selama 7 tahun  – mereka pun hijrah ke Mesir  karena Nabi Yusuf a.s. telah menjadi seorang pejabat tinggi   di Kerajaan Mesir (Kejadian Bab 37-50; QS.12:8-22 & 44-58). Kemudian  setelah   Nabi Yusuf a.s wafat -- karena Bani Israil merupakan orang-orang asing di Mesir  -- kemudian mereka   diperbudak secara aniaya oleh para Fir’aun di Mesir selama 400 tahun  (Kejadian 15:12-16; QS.28:4-7).

(Bersambung)
ooo

Rujukan: The Holy Quran
Editor    : Malik Ghulam Farid


Pajajaran Anyar,   9 Juli 2018 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar