Bismillaahirrahmaanirrahiim
KHAZANAH AL-QURAN
Bab 26
TIGA
GOLONGAN UMAT MANUSIA DALAM SURAH
AL-FATIHAH & PENTINGNYA BERIMAN DAN MEMATUHI NABI BESAR MUHAMMAD
SAW.
Oleh
Ki
Langlang Buana Kusuma
وَ
یَوۡمَ نَبۡعَثُ فِیۡ کُلِّ اُمَّۃٍ شَہِیۡدًا عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ
جِئۡنَا بِکَ شَہِیۡدًا عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ ؕ وَ نَزَّلۡنَا عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ
تِبۡیَانًا لِّکُلِّ شَیۡءٍ وَّ
ہُدًی وَّ رَحۡمَۃً
وَّ بُشۡرٰی لِلۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah
hari itu ketika Kami akan membangkitkan dalam setiap umat seorang saksi
terhadap mereka dari antara mereka sendiri, dan Kami akan mendatangkan engkau
sebagai saksi terhadap mereka semuanya. Dan Kami telah menurunkan kepada engkau Kitab itu
untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk, rahmat serta kabar gembira bagi
orang-orang yang berserah diri kepada Allah.
(An-Nahl
[16]:90).
|
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan nubuatan
dalam surah Al-Fatihah dan mengenai topik Kutukan Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa a.s. telah dijelaskan sehubungan dengan firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ اَجَلٌ ۚ
فَاِذَا جَآءَ اَجَلُہُمۡ
لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً وَّ
لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ
اٰدَمَ اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ
رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ
فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ
اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ
اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan bagi tiap-tiap umat ada batas
waktu, maka apabila telah
datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun
dan tidak pula dapat memajukannya.
Wahai Bani Adam, jika
datang kepada kamu rasul-rasul
dari antaramu yang menceritakan Ayat-ayat-Ku kepada kamu, maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, maka tidak akan ada ketakutan menimpa mereka
dan tidak pula mereka akan bersedih hati.
Dan orang-orang
yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan
takabur berpaling darinya, mereka itu
penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-A’raaf [7]:35-37).
Kata-kata dalam ayat 37: وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ
اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ
اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ - “Dan orang-orang
yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan
takabur berpaling darinya, mereka itu
penghuni Api, mereka kekal di dalamnya“ berarti mereka yang menolak Utusan-utusan Allah akan
melihat dengan mata kepala sendiri
penyempurnaan kabar-kabar gaib yang
meramalkan kekalahan dan kegagalan mereka (QS.58:21-22; QS.5:57;
QS.37:172-173), dan mereka akan merasakan hukuman
(azab) yang dijanjikan kepada mereka
karena menentang utusan-utusan Allah, sebagaimana yang menimpa kaum
Nabi Nuh a.s. sampai dengan para penentang
Nabi Besar Muhammad saw..
Itulah sebabnya Allah Swt.
telah mengumpamakan keadaan mereka itu seperti keadaan laba-laba
yang membuat sarang
(QS.29:41-44), walau pun mereka itu
merupakan golongan mayoritas yang
memiliki kekuasaan duniawi, contohnya
Fir’aun dan kaumnya (QS.26:53-68). Bahkan Allah Swt. dalam Al-Quran menyatakan
bahwa azab Ilahi yang menimpa kaum-kaum tersebut --
termasuk 2 kali azab Ilahi yang menimpa Bani
Israil (QS.17:5-9) -- adalah akibat kutukan
dari Rasul Allah yang mereka dustakan dan zalimi, firman-Nya:
لُعِنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡۢ بَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی لِسَانِ دَاوٗدَ
وَ عِیۡسَی ابۡنِ مَرۡیَمَ ؕ ذٰلِکَ بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا
یَعۡتَدُوۡنَ ﴿﴾ کَانُوۡا لَا
یَتَنَاہَوۡنَ عَنۡ مُّنۡکَرٍ فَعَلُوۡہُ ؕ لَبِئۡسَ مَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾ تَرٰی کَثِیۡرًا
مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ؕ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ
اَنۡفُسُہُمۡ اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ
﴿﴾ وَ لَوۡ کَانُوۡا
یُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ النَّبِیِّ وَ
مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ مَا اتَّخَذُوۡہُمۡ اَوۡلِیَآءَ وَ لٰکِنَّ کَثِیۡرًا
مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Orang-orang yang kafir dari
kalangan Bani Israil telah dilaknat
oleh lidah Daud dan Isa ibnu Maryam, hal demikian itu karena mereka senantiasa durhaka dan melampaui batas. Mereka tidak
pernah saling mencegah
dari kemungkaran yang dikerjakannya, benar-benar sangat
buruk apa yang senantiasa mereka
kerjakan. Engkau melihat kebanyakan dari mereka menjadikan orang-orang kafir sebagai
pelindung, dan benar-benar
sangat buruk apa yang telah mereka
dahulukan bagi diri mereka yaitu bahwa Allah murka
kepada mereka, dan di dalam azab
inilah mereka akan kekal. Dan seandainya
mereka beriman kepada Allah, Nabi ini, dan kepada apa yang
diturunkan kepadanya, mereka sekali-kali
tidak akan mengambil orang-orang itu sebagai
pelindung-pelindungnya, tetapi kebanyakan mereka adalah orang-orang fasiq.
(Al-Maaidah
[5]:79-82).
Tiga Golongan Dalam Surah Al-Fatihah
& Nubuatan Dalam Surah
Al-Fatihah
Guna kepentingan umat Islam, -- sebagai umat paling baik yang dibangkitkan untuk kepentingan umat manusia (QS.2:144; QS.3:111) -- Allah Swt. telah mengabadikan peristiwa yang terjadi di kalangan Bani Israil yang dikemukakan dalam
QS.2:88-90 dan QS.5:79-82 tersebut dalam surah Al-Fatihah ayat 6-7 dalam bentuk doa, yakni sebagai peringatan agar mereka tidak terjerumus
ke dalam keadaan seperti yang terjadi
di kalangan Bani Israil tersebut karena menolak nikmat Allah berupa
pengutusan para nabi Allah di
kalangan mereka, sehingga akhirnya mereka – yang sebelumnya sebagai kaum pilihan Allah Swt. pada zamannya --
menjadi orang-orang yang dimurkai Allah
dan yang kaum yang sesat dari Tauhid Ilahi karena mempertuhankan manusia (QS.9:30-33), firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿۱﴾ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۙ﴿﴾ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿﴾ مٰلِکِ یَوۡمِ
الدِّیۡنِ ؕ﴿﴾ اِیَّاکَ
نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ
نَسۡتَعِیۡنُ ؕ﴿﴾ اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ
الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ﴿﴾ صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۙ۬ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
Segala puji hanya bagi Allah,
Rabb (Tuhan) seluruh alam; Maha Pemurah, Maha
Penyayang; Pemilik Hari
Pembalasan. Hanya Engkau-lah Yang kami sembah dan hanya kepada
Engkau-lah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan
yang lurus, Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri
nikmat atas mereka, bukan jalan mereka yang
dimurkai dan bukan pula jalan
mereka yang sesat. (Al-Fatihah
[1]:1-7).
Karena tujuan utama diciptakan-Nya
umat manusia di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah Swt.
(QS.51:57) maka di dalam surah Al-Fatihah Allah Swt. memberitahukan Sifat-sifat Tasybihiyyah-Nya
yang utama yakni Rabubiyat, Rahmaaniyat, Rahiimiyat, dan Maaliki
yaumid-Diin, dan Sifat-sifat-Nya
tersebut sampai batas tertentu dapat juga dimiliki oleh makhluk-Nya, terutama manusia, sebagaimana sabda Nabi Besar
Muhammad saw. menerangkan makna dan tujuan melakukan ibadah kepada Allah Swt., “Takhallaquu
bi-akhlaaqillaahi -- berakhlak
kalian dengan akhlak (Sifat-sifat) Allah” (Hadits).
Ada pun sifat khas Allah Swt. lainnya adalah yang tidak dapat dimiliki oleh
makhluk-Nya – yang disebut sifat Tanzihiyyah -- dikemukakan dalam surah Al-Ikhlash,
firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِۚ﴿﴾
قُلۡ ہُوَ اللّٰہُ اَحَدٌ
ۚ﴿﴾
اَللّٰہُ الصَّمَدُ ۚ﴿﴾ لَمۡ یَلِدۡ ۬ۙ
وَ لَمۡ یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾ وَ لَمۡ یَکُنۡ
لَّہٗ کُفُوًا اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Katakanlah: “Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Allah,
adalah Tuhan Yang segala sesuatu
bergantung pada-Nya. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak
ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”(Al-Ikhlash [114]:1-5).
Setelah manusia mengetahui dan memahami kesempurnaan Sifat-sifat utama Allah Swt. tersebut –
baik sifat tanzihiyyah mau pun tasybihiyyah -- maka secara fitrat manusia berhasrat ingin menyembah-Nya dan memohon
pertolongan-Nya dalam berbagai segi kehidupan mereka – terutama dalam
melaksanakan peribadahan kepada-Nya yang
merupakan tujuan utama penciptaan
manusia (QS.51:57) -- sebagaimana dikemukakan ayat selanjutnya: اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ – “Hanya Engkau-lah
Yang kami sembah dan hanya kepada
Engkau-lah kami mohon pertolongan.“
Permohonan manusia selanjutnya
dikemukakan dalam ayat berikutnya: “Tunjukilah
kami jalan
yang lurus“, ada pun yang dimaksud
dengan “jalan lurus” tersebut
dijelaskan dalam ayat selanjutnya: “jalan orang-orang
yang telah Engkau beri nikmat atas mereka.” Inilah golongan pertama yang dikemukakan dalam surah Al-Fatihah, sedangkan 2
golongan lainnya dikemukakan dalam kalimat selanjutnya: “bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang
sesat”.
Orang-orang yang Mendapat Nikmat Allah Swt. & Yang Dimurkai Allah dan Yang Sesat dari
Tauhid Ilahi
Kembali kepada firman Allah Swt. sebelum
ini dalam QS.2:88-90 berkenaan dengan Bani
Israil diketahui, bahwa yang
dimaksud dengan “orang-orang yang diberi
nikmat” oleh Allah Swt. adalah para nabi Allah, sedangkan yang dimaksud
dengan “orang-orang yang dimurkai”
Allah Swt. adalah mereka yang mendustakan
dan menentang
para nabi Allah, sehingga mereka
mendapat kemurkaan dan laknat Allah Swt., firman-Nya:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنَا
مُوۡسَی الۡکِتٰبَ وَ قَفَّیۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ بِالرُّسُلِ ۫ وَ اٰتَیۡنَا عِیۡسَی
ابۡنَ مَرۡیَمَ الۡبَیِّنٰتِ وَ اَیَّدۡنٰہُ بِرُوۡحِ الۡقُدُسِ ؕ اَفَکُلَّمَا
جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌۢ بِمَا لَا تَہۡوٰۤی اَنۡفُسُکُمُ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ۚ فَفَرِیۡقًا کَذَّبۡتُمۡ ۫ وَ فَرِیۡقًا تَقۡتُلُوۡنَ ﴿﴾وَ قَالُوۡا
قُلُوۡبُنَا غُلۡفٌ ؕ بَلۡ لَّعَنَہُمُ اللّٰہُ بِکُفۡرِہِمۡ فَقَلِیۡلًا مَّا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾وَ لَمَّا
جَآءَہُمۡ کِتٰبٌ مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَہُمۡ ۙ وَ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ یَسۡتَفۡتِحُوۡنَ عَلَی
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ۚۖ فَلَمَّا جَآءَہُمۡ مَّا عَرَفُوۡا کَفَرُوۡا بِہٖ ۫
فَلَعۡنَۃُ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan sungguh
Kami benar-benar telah memberikan Alkitab kepada Musa dan Kami mengikutkan rasul-rasul di
belakangnya, dan Kami
memberikan kepada Isa Ibnu Maryam Tanda-tanda yang nyata, dan juga
Kami memperkuatnya dengan Ruhulqudus.
Maka apakah patut setiap datang
kepada kamu seorang rasul dengan membawa apa yang tidak disukai oleh
dirimu kamu berlaku takabur,
lalu sebagian kamu dustakan dan sebagian
lainnya kamu bunuh? Dan mereka berkata: ”Hati kami tertutup.” Tidak, bahkan Allah
telah mengutuk mereka karena kekafiran mereka maka sedikit
sekali apa yang mereka imani. Dan tatkala datang kepada mereka sebuah Kitab yakni Al-Quran dari Allah menggenapi apa yang ada pada mereka,
sedangkan sebelum itu mereka senantiasa
memohon kemenangan atas
orang-orang kafir, tetapi tatkala datang
kepada mereka apa yang mereka kenali itu
lalu mereka kafir kepadanya
maka laknat Allah atas
orang-orang kafir. (Al-Baqarah [2]:88-90).
Ada
pun mengenai makna “dan bukan
pula jalan mereka yang sesat” -- adalah melampaui batas dalam menghormati rasul Allah dengan cara mempertuhankan makhluk (ciptaan) Allah Swt. dikemukakan dalam
firman-Nya:
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ ابۡنُ
اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ
قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾ اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا
مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ
وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ
مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا
لِیَعۡبُدُوۡۤا اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾ یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ
بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ
اِلَّاۤ اَنۡ یُّتِمَّ نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾ ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی
الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ
کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾
Dan orang-orang
Yahudi berkata: “Uzair adalah anak
Allah”, dan orang-orang Nasrani
berkata: “Al-Masih adalah anak Allah.” Demikian itulah perkataan mereka dengan mulutnya,
mereka meniru-niru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah membinasakan mereka, bagaimana mereka sampai dipalingkan dari
Tauhid. Mereka
telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan
selain Allah, dan begitu juga Al-Masih
ibnu Maryam, padahal mereka tidak
diperintahkan melainkan supaya mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa. Tidak ada Tuhan kecuali Dia. Maha-suci Dia
dari apa yang mereka sekutukan. Mereka berkehendak
memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, tetapi Allah menolak bahkan menyempurnakan
cahaya-Nya, walaupun orang-orang
kafir tidak menyukai. Dia-lah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq
(benar), supaya Dia mengunggulkannya
atas semua agama walau-pun orang-orang
musyrik tidak menyukainya. (At-Taubah [9]:30-33).
Jadi,
ayat-ayat kedua surah Al-Quran tersebut merupakan tafsir doa dalam surah Al-Fatihah:
اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ
الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ﴿﴾ صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۙ۬ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿﴾
Tunjukilah kami jalan
yang lurus, Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri
nikmat atas mereka, bukan jalan mereka yang
dimurkai dan bukan pula jalan
mereka yang sesat. (Al-Fatihah
[1]:1-7).
Empat Golongan Orang-orang yang Mendapat Nikmat Allah Swt. & Mereka yang
Mengingkari Perjanjian Dengan
Allah Swt.
Allah Swt. di dalam Al-Quran menjelaskan,
bahwa yang dimaksud dengan “nikmat”
Allah Swt. yang dikemukakan dalam surah Al-Fatihah
tersebut tidak hanya terbatas berupa
nikmat kenabian (kerasulan) saja
tetapi mencakup juga kepada martabat-martabat
ruhani yang dibawah nikmat kenabian
tersebut, yakni shiddiq, syahid, dan shalih, firman-Nya:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ
اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ
الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾ ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan barangsiapa
taat kepada Allah dan Rasul ini
maka mereka akan termasuk di antara
orang-orang yang Allah memberi nikmat kepada mereka yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid,
dan orang-orang shalih, dan mereka itulah sahabat yang sejati. Itulah karunia
dari Allah, dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui
(An-Nisaa[4]:70-71).
Itulah salah satu hikmah sabda Nabi Besar Muhammad saw., bahwa shalat tanpa membaca surah
Al-Fatihah maka shalat tidak sah, sebab dalam surah Al-Fatihah terkandung permohonan yang sangat luar biasa, yaitu
agar melalui kepatuh-taatan kepada Allah Swt. dan Nabi
Besar Muhammad saw. (QS.3:32) mereka akan termasuk termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mendapat nikmat dari Allah Swt., yakni nabi-nabi, shiddiqiin, syuhada
(saksi-saksi), dan shaalihiin
(QS.4:70-71), sebab mereka itu yang dimaksud dengan orang-orang yang mendapat kecintaan dan maghfirah (pengampunan) Allah Swt.
dalam firman-Nya:
قُلۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ
اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ
وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾ قُلۡ اَطِیۡعُوا
اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ ۚ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ لَا یُحِبُّ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah:”Jika
kamu benar-benar mencintai Allah
maka ikutilah aku, Allah
pun akan mencintai kamu dan akan
mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah
Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Katakanlah: ”Taatilah
Allah dan Rasul ini”, kemudian jika mereka berpaling maka ketahuilah
sesungguhnya Allah tidak mencintai
orang-orang kafir. (Ali ‘Imraan [3]32-33).
Ayat
32 menjelaskan dengan tegas menyatakan, bahwa sejak diutusnya Nabi Besar Muhammad saw. dan
diturunkan-Nya agama Islam (Al-Quran) --
sebagai agama dan Kitab suci yang terakhir dan tersempurna
(QS.5:4) -- tujuan memperoleh kecintaan
Ilahi tidak mungkin terlaksana kecuali dengan beriman dan mengikuti
Nabi Besar Muhammad saw., yang nubuatan-nubuatan mengenai beliau saw.
bukan saja terdapat dalam Taurat dan Injil (QS.7:158) tetapi juga dinubuatan oleh para nabi Allah lainnya di luar Bani Israil - yang nama-namanya
tidak disebutkan dalam Al-Quran (QS,4:164-165; QS.40:79) -- sebagaimana firman-Nya di awal setiap Bab:
وَ یَوۡمَ نَبۡعَثُ فِیۡ کُلِّ اُمَّۃٍ شَہِیۡدًا عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ
اَنۡفُسِہِمۡ وَ جِئۡنَا بِکَ شَہِیۡدًا عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ ؕ وَ نَزَّلۡنَا
عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ تِبۡیَانًا لِّکُلِّ شَیۡءٍ وَّ
ہُدًی وَّ رَحۡمَۃً
وَّ بُشۡرٰی لِلۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah
hari itu ketika Kami akan
membangkitkan dalam setiap umat seorang saksi terhadap mereka dari antara
mereka sendiri, dan Kami akan
mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka semuanya. Dan Kami
telah menurunkan kepada engkau
Kitab itu untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk, rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri kepada
Allah. (An-Nahl [16]:90).
Sebab bagaimana mungkin Nabi Besar
Muhammad saw. akan menjadi saksi
atas para nabi Allah yang diutus sebelum beliau saw. kalau para nabi Allah tersebut tidak pernah menubuatkan mengenai kedatangan Nabi Besar Muhammad saw. sebagai rasul Allah pembawa syariat yang terakhir
dan tersempurna (QS.5:4)?
Dengan demikian terjawablah kekeliruan pemahaman mereka yang
berpendapat bahwa munculnya
bermacam-macam agama dan firqah umat beragama di kalangan umat
manusia adalah merupakan kehendak Allah Swt., sebab yang Allah
Swt. kehendaki adalah apabila nubuatan-nubuatan mengenai
kedatangan nabi Allah yang
kedatangannya dijanjikan benar-benar sempurna, mereka seharusnya beriman
kepada nabi Allah tersebut serta membantu perjuangan sucinya, bukannya mengikuti ketakaburan iblis yang menolak “sujud”
(beriman dan patuh-taat) kepada Adam (Khalifah Allah) ketika diperintahkan Allah Swt. (QS.2:35; QS.7:12-13; QS.15:29 & 33;
QS. 17:63; QS.18:51; 20:117; 38:72-77).
Mengapa demikian? Sebab Allah Swt. telah mengambil perjanjian dari umat manusia melalui
para nabi Allah, bahwa apabila datang kepada mereka nabi Allah yang dijanjikan berikutnya (QS.7:35-37) mereka
harus beriman kepadanya dan harus
membantu perjuangan sucinya,
firman-Nya:
وَ اِذۡ اَخَذَ اللّٰہُ مِیۡثَاقَ النَّبِیّٖنَ لَمَاۤ اٰتَیۡتُکُمۡ مِّنۡ
کِتٰبٍ وَّ حِکۡمَۃٍ ثُمَّ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَکُمۡ
لَتُؤۡمِنُنَّ بِہٖ وَ لَتَنۡصُرُنَّہٗ ؕ قَالَ ءَاَقۡرَرۡتُمۡ وَ اَخَذۡتُمۡ
عَلٰی ذٰلِکُمۡ اِصۡرِیۡ ؕ قَالُوۡۤا اَقۡرَرۡنَا ؕ قَالَ فَاشۡہَدُوۡا وَ اَنَا مَعَکُمۡ
مِّنَ الشّٰہِدِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Allah mengambil perjanjian dari
manusia melalui nabi-nabi: “Apa saja yang Aku berikan kepada kamu
berupa Kitab dan Hikmah,
kemudian datang kepada kamu seorang
rasul yang menggenapi apa yang ada padamu, kamu
benar-benar harus beriman kepadanya dan
kamu benar-benar harus membantunya.” Dia
berfirman: “Apakah kamu mengakui dan
menerima tanggung-jawab yang Aku bebankan kepadamu mengenai itu?” Mereka berkata: “Kami mengakui.” Dia berfirman: “Maka bersaksilah dan Aku pun beserta kamu termasuk orang-orang
yang menjadi saksi.” (Ali
‘Imran [34]:82).
Tetapi dalam kenyataannya, pada umumnya manusia mengingkari perjanjian dengan Allah
Swt. tersebut dan mereka memilih mengikuti ketakaburan Iblis
dan menjadi penentang para nabi Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka (QS.7:35-37),
sehingga akibatnya timbullah berbagai macam agama
dan firqah-firqah agama yang
masing-masing saling mendakwakan diri
sebagai agama atau firqah agama yang paling benar,
sedang pihak-pihak lainnya adalah golongan sesat
dan menyesatkan.
Penghakiman Allah Swt. Selalu Melalui
Pengutusan Rasul Allah Yang
Dijanjikan
Sunnatullah
yang senantiasa terjadi dalam memberikan “penghakiman”
berkenaan perselisihan yang terjadi
di kalangan umat beragama dan firqah-firqah umat beragama tersebut
tidak pernah diserahkan kepada para pemuka
kaum atau pemuka agama, melainkan
selalu melalui pengutusan rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan dari kalangan Bani Adam (QS.7:35-37), firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ اَجَلٌ ۚ
فَاِذَا جَآءَ اَجَلُہُمۡ
لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً وَّ
لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ
اٰدَمَ اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ
رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ
فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ
اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ
اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan bagi tiap-tiap umat ada batas
waktu, maka apabila telah
datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun
dan tidak pula dapat memajukannya.
Wahai Bani Adam, jika
datang kepada kamu rasul-rasul
dari antaramu yang menceritakan Ayat-ayat-Ku kepada kamu, maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, maka tidak akan ada ketakutan menimpa mereka
dan tidak pula mereka akan bersedih hati.
Dan orang-orang
yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan
takabur berpaling darinya, mereka itu
penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-A’raaf [7]:35-37).
Sesuai dengan firman Allah Swt. tersebut, dalam surah
lainnya Allah Swt. berfirman kepada umat
Islam mengenai cara Allah Swt.
memberi keputusan berkenaan perselisihan yang terjadi di kalangan
mereka, ketika masing-masing pihak mendakwakan sebagai firqah yang paling benar sedang
firqah-firqah yang lainnya sesat dan menyesatkan, firman-Nya:
مَا کَانَ اللّٰہُ لِیَذَرَ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ عَلٰی مَاۤ اَنۡتُمۡ
عَلَیۡہِ حَتّٰی یَمِیۡزَ الۡخَبِیۡثَ
مِنَ الطَّیِّبِ ؕ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ
لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ۪ فَاٰمِنُوۡا
بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ وَ اِنۡ
تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ
اَجۡرٌ عَظِیۡمٌ ﴿﴾
Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman di dalam
keadaan kamu berada di dalamnya hingga Dia memisahkan yang buruk dari yang baik. Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan yang gaib kepada kamu, tetapi Allah memilih di antara rasul-rasul-Nya siapa yang Dia
kehendaki, karena itu berimanlah
kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya,
dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagi kamu ganjaran yang besar. (Ali ‘Imraan [3]:180).
(Bersambung)
ooo
Rujukan: The
Holy Quran
Editor : Malik
Ghulam Farid
Pajajaran Anyar, 5 Juli 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar