Rabu, 04 Juli 2018

Tiga Golongan Umat Manusia Dalam Surah Al-Fatihah & Pertingnya Beriman dan Mematuhi Nabi Besar Muhammad Saw.



Bismillaahirrahmaanirrahiim

KHAZANAH  AL-QURAN 

Bab 26

TIGA GOLONGAN UMAT MANUSIA DALAM SURAH AL-FATIHAH  & PENTINGNYA BERIMAN DAN MEMATUHI  NABI BESAR MUHAMMAD SAW.

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

وَ یَوۡمَ نَبۡعَثُ فِیۡ کُلِّ اُمَّۃٍ شَہِیۡدًا عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ جِئۡنَا بِکَ شَہِیۡدًا عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ ؕ وَ نَزَّلۡنَا عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ تِبۡیَانًا  لِّکُلِّ شَیۡءٍ  وَّ  ہُدًی  وَّ  رَحۡمَۃً   وَّ  بُشۡرٰی  لِلۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah hari itu ketika Kami akan membangkitkan dalam setiap umat seorang saksi terhadap mereka dari antara mereka sendiri, dan Kami akan mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka semuanya. Dan  Kami  telah menurunkan kepada engkau Kitab itu untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk, rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri kepada Allah.   (An-Nahl [16]:90).

D
alam bagian akhir Bab sebelumnya telah dikemukakan nubuatan dalam surah Al-Fatihah dan  mengenai topik Kutukan Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa a.s.  telah dijelaskan   sehubungan dengan firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ  اَجَلٌ ۚ فَاِذَا  جَآءَ  اَجَلُہُمۡ  لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً  وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾  وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾   
Dan bagi tiap-tiap umat ada batas waktu, maka apabila telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya.  Wahai Bani Adam, jika datang kepada kamu  rasul-rasul dari antaramu yang menceritakan  Ayat-ayat-Ku kepada kamu, maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, maka tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati.  Dan  orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya, mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-A’raaf [7]:35-37).
        Kata-kata dalam ayat 37:    وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ -  “Dan  orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya, mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya“  berarti mereka yang menolak Utusan-utusan Allah akan melihat dengan mata kepala sendiri penyempurnaan kabar-kabar gaib yang meramalkan kekalahan dan kegagalan mereka (QS.58:21-22; QS.5:57; QS.37:172-173), dan mereka akan merasakan hukuman (azab) yang dijanjikan kepada mereka karena menentang utusan-utusan Allah, sebagaimana yang menimpa kaum Nabi Nuh a.s. sampai dengan para penentang Nabi Besar Muhammad saw..
        Itulah sebabnya Allah Swt. telah mengumpamakan  keadaan mereka itu    seperti keadaan  laba-laba yang membuat sarang (QS.29:41-44),   walau pun mereka itu merupakan golongan mayoritas yang memiliki kekuasaan duniawi, contohnya Fir’aun dan kaumnya  (QS.26:53-68).  Bahkan Allah Swt. dalam Al-Quran menyatakan bahwa azab Ilahi  yang menimpa kaum-kaum tersebut  -- termasuk  2 kali azab Ilahi yang menimpa Bani Israil (QS.17:5-9) -- adalah akibat kutukan dari Rasul Allah yang mereka dustakan dan zalimi, firman-Nya:
لُعِنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡۢ بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی لِسَانِ دَاوٗدَ  وَ عِیۡسَی ابۡنِ مَرۡیَمَ ؕ ذٰلِکَ بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا یَعۡتَدُوۡنَ ﴿﴾  کَانُوۡا لَا یَتَنَاہَوۡنَ عَنۡ مُّنۡکَرٍ فَعَلُوۡہُ ؕ لَبِئۡسَ مَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾  تَرٰی کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ؕ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾  وَ لَوۡ کَانُوۡا یُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ النَّبِیِّ  وَ مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ مَا اتَّخَذُوۡہُمۡ اَوۡلِیَآءَ وَ لٰکِنَّ  کَثِیۡرًا  مِّنۡہُمۡ  فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Orang-orang  yang kafir  dari kalangan Bani Israil telah   dilaknat oleh lidah Daud dan Isa ibnu Maryam,  hal demikian itu karena mereka senantiasa durhaka dan melampaui batas.  Mereka tidak pernah  saling mencegah dari kemungkaran yang dikerjakannya, benar-benar sangat  buruk apa yang senantiasa  mereka kerjakan. Engkau melihat kebanyakan dari mereka menjadikan orang-orang kafir  sebagai  pelindung, dan benar-benar sangat buruk apa yang telah  mereka dahulukan  bagi diri mereka   yaitu bahwa Allah  murka kepada mereka, dan di dalam azab inilah mereka akan kekal.  Dan seandainya   mereka beriman kepada Allah, Nabi ini, dan kepada apa yang diturunkan kepadanya, mereka sekali-kali  tidak akan mengambil  orang-orang itu sebagai pelindung-pelindungnya,  tetapi kebanyakan mereka adalah orang-orang fasiq. (Al-Maaidah [5]:79-82).
      
Tiga Golongan Dalam Surah Al-Fatihah  & Nubuatan Dalam Surah Al-Fatihah

         Guna kepentingan umat Islam,  -- sebagai umat   paling baik yang dibangkitkan untuk kepentingan umat manusia (QS.2:144; QS.3:111)  -- Allah Swt. telah mengabadikan  peristiwa yang terjadi di kalangan Bani Israil yang dikemukakan dalam QS.2:88-90 dan QS.5:79-82 tersebut dalam surah Al-Fatihah ayat 6-7 dalam bentuk doa, yakni  sebagai peringatan agar mereka tidak terjerumus ke dalam keadaan seperti yang terjadi di kalangan Bani Israil tersebut  karena menolak nikmat Allah berupa   pengutusan para nabi Allah di kalangan mereka, sehingga akhirnya mereka – yang sebelumnya sebagai kaum pilihan Allah Swt. pada zamannya -- menjadi orang-orang yang dimurkai Allah dan yang kaum yang sesat dari Tauhid Ilahi karena mempertuhankan manusia (QS.9:30-33),  firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿۱﴾  اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۙ﴿﴾  الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿﴾ مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ ؕ﴿﴾ اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ ؕ﴿﴾ اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ﴿﴾   صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۙ۬ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿﴾                                               
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Segala puji hanya bagi  Allah, Rabb (Tuhan) seluruh alam;  Maha Pemurah,  Maha Penyayang; Pemilik Hari   Pembalasan.   Hanya Engkau-lah Yang kami sembah  dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan.  Tunjukilah kami   jalan yang lurus,  Yaitu jalan  orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka,  bukan jalan mereka  yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka  yang sesat. (Al-Fatihah [1]:1-7).
       Karena tujuan utama diciptakan-Nya umat manusia di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah Swt. (QS.51:57) maka di dalam surah Al-Fatihah  Allah Swt. memberitahukan Sifat-sifat Tasybihiyyah-Nya yang utama yakni Rabubiyat, Rahmaaniyat, Rahiimiyat, dan Maaliki yaumid-Diin,  dan Sifat-sifat-Nya tersebut sampai batas tertentu   dapat juga dimiliki oleh makhluk-Nya, terutama manusia, sebagaimana sabda Nabi Besar Muhammad saw. menerangkan makna dan tujuan melakukan ibadah kepada Allah Swt., “Takhallaquu bi-akhlaaqillaahi  -- berakhlak kalian dengan akhlak (Sifat-sifat) Allah” (Hadits).
      Ada pun sifat khas Allah Swt. lainnya adalah yang tidak dapat dimiliki oleh makhluk-Nya – yang disebut sifat Tanzihiyyah -- dikemukakan dalam  surah Al-Ikhlash, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِۚ﴿﴾  قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ  ۚ﴿﴾ اَللّٰہُ  الصَّمَدُ ۚ﴿﴾  لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾  وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Katakanlah: “Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya.  Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan,   dan tidak ada sesuatu pun yang setara   dengan-Nya.”(Al-Ikhlash [114]:1-5).
       Setelah manusia mengetahui dan memahami kesempurnaan Sifat-sifat utama Allah Swt. tersebut – baik sifat tanzihiyyah mau pun tasybihiyyah -- maka secara fitrat manusia  berhasrat ingin menyembah-Nya dan memohon pertolongan-Nya dalam berbagai segi kehidupan mereka – terutama dalam melaksanakan peribadahan kepada-Nya yang merupakan tujuan utama penciptaan manusia (QS.51:57) -- sebagaimana dikemukakan ayat selanjutnya: اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ اِیَّاکَ نَعۡبُدُ      وَ – “Hanya Engkau-lah Yang kami sembah  dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan.“
        Permohonan manusia selanjutnya dikemukakan dalam ayat berikutnya:  “Tunjukilah kami   jalan yang lurus“, ada pun yang dimaksud dengan “jalan lurus” tersebut dijelaskan dalam ayat selanjutnya:  jalan  orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka.” Inilah golongan pertama yang dikemukakan dalam surah Al-Fatihah, sedangkan 2 golongan lainnya dikemukakan dalam kalimat selanjutnya:   “bukan jalan mereka  yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka  yang sesat”.

Orang-orang yang Mendapat Nikmat Allah Swt. & Yang Dimurkai Allah dan Yang Sesat dari Tauhid Ilahi

      Kembali kepada firman Allah Swt. sebelum ini dalam QS.2:88-90 berkenaan dengan Bani Israil diketahui,  bahwa yang dimaksud dengan “orang-orang yang diberi nikmat” oleh Allah Swt. adalah  para nabi Allah, sedangkan yang dimaksud dengan “orang-orang yang dimurkai” Allah Swt. adalah mereka yang mendustakan dan  menentang para nabi Allah, sehingga mereka mendapat kemurkaan dan laknat Allah Swt., firman-Nya:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنَا مُوۡسَی الۡکِتٰبَ وَ قَفَّیۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ بِالرُّسُلِ ۫ وَ اٰتَیۡنَا عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ الۡبَیِّنٰتِ وَ اَیَّدۡنٰہُ بِرُوۡحِ الۡقُدُسِ ؕ اَفَکُلَّمَا جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌۢ بِمَا لَا تَہۡوٰۤی اَنۡفُسُکُمُ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ۚ  فَفَرِیۡقًا کَذَّبۡتُمۡ  ۫ وَ فَرِیۡقًا تَقۡتُلُوۡنَ ﴿﴾وَ قَالُوۡا قُلُوۡبُنَا غُلۡفٌ ؕ بَلۡ لَّعَنَہُمُ اللّٰہُ بِکُفۡرِہِمۡ  فَقَلِیۡلًا مَّا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾وَ لَمَّا جَآءَہُمۡ کِتٰبٌ مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَہُمۡ  ۙ وَ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ یَسۡتَفۡتِحُوۡنَ عَلَی الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ۚۖ فَلَمَّا جَآءَہُمۡ مَّا عَرَفُوۡا کَفَرُوۡا بِہٖ ۫ فَلَعۡنَۃُ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan  sungguh   Kami benar-benar telah  memberikan Alkitab kepada Musa dan Kami  mengikutkan rasul-rasul di belakangnya,  dan Kami  memberikan kepada Isa Ibnu Maryam Tanda-tanda yang nyata, dan juga Kami memperkuatnya dengan Ruhulqudus. Maka apakah patut setiap datang kepada kamu seorang rasul dengan membawa apa yang tidak disukai oleh dirimu  kamu berlaku takabur, lalu  sebagian kamu dustakan dan sebagian lainnya kamu bunuh? Dan mereka berkata:  Hati kami tertutup.” Tidak,  bahkan Allah telah mengutuk mereka karena kekafiran mereka  maka sedikit sekali apa yang mereka imani.  Dan tatkala datang kepada mereka sebuah Kitab yakni  Al-Quran dari Allah  menggenapi apa yang ada pada mereka, sedangkan sebelum itu mereka senantiasa memohon kemenangan  atas orang-orang kafir, tetapi tatkala  datang kepada mereka apa yang mereka  kenali itu lalu mereka kafir  kepadanya  maka laknat Allah atas orang-orang kafir. (Al-Baqarah [2]:88-90).
            Ada pun mengenai makna  “dan bukan pula jalan mereka  yang sesat”  -- adalah melampaui batas dalam menghormati rasul Allah dengan cara  mempertuhankan makhluk (ciptaan) Allah Swt. dikemukakan dalam firman-Nya:
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ  ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ  ابۡنُ  اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ  قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی  یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾ اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا  لِیَعۡبُدُوۡۤا  اِلٰـہًا  وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾  یُرِیۡدُوۡنَ  اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ  اِلَّاۤ  اَنۡ  یُّتِمَّ  نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾  ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾
Dan  orang-orang Yahudi berkata: “Uzair  adalah  anak Allah”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Al-Masih adalah  anak  Allah.” Demikian itulah perkataan mereka dengan mulutnya, mereka  meniru-niru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah membinasakan mereka, bagaimana mereka sampai dipalingkan dari Tauhid. Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan begitu juga Al-Masih ibnu Maryam, padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa. Tidak ada Tuhan kecuali Dia. Maha-suci Dia dari apa yang mereka sekutukan.  Mereka  berkehendak memadamkan cahaya Allah  dengan mulut mereka, tetapi Allah menolak bahkan menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai.    Dia-lah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama walau-pun orang-orang musyrik tidak menyukainya. (At-Taubah [9]:30-33).
       Jadi,  ayat-ayat kedua surah Al-Quran tersebut merupakan tafsir doa dalam surah Al-Fatihah:
اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ﴿﴾   صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۙ۬ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿﴾
Tunjukilah kami   jalan yang lurus,  Yaitu jalan  orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka,  bukan jalan mereka  yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka  yang sesat. (Al-Fatihah [1]:1-7).

Empat Golongan Orang-orang yang Mendapat Nikmat Allah Swt. & Mereka yang Mengingkari Perjanjian   Dengan Allah Swt.  

        Allah Swt. di dalam Al-Quran menjelaskan, bahwa yang dimaksud dengan “nikmat” Allah Swt. yang dikemukakan dalam surah Al-Fatihah tersebut tidak hanya terbatas  berupa nikmat kenabian (kerasulan) saja tetapi mencakup juga kepada martabat-martabat ruhani yang dibawah nikmat kenabian tersebut, yakni shiddiq, syahid, dan shalih, firman-Nya:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾ ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan  barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul ini maka mereka akan termasuk di antara  orang-orang  yang Allah memberi nikmat kepada mereka yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih, dan mereka itulah sahabat yang sejati.   Itulah karunia dari Allah,  dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui  (An-Nisaa[4]:70-71).
        Itulah salah satu hikmah sabda Nabi Besar Muhammad saw., bahwa shalat tanpa membaca surah Al-Fatihah maka shalat tidak sah, sebab dalam surah Al-Fatihah terkandung permohonan yang sangat luar biasa, yaitu agar melalui kepatuh-taatan kepada Allah Swt. dan  Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32) mereka akan termasuk termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mendapat nikmat dari Allah Swt., yakni nabi-nabi, shiddiqiin, syuhada (saksi-saksi), dan shaalihiin (QS.4:70-71), sebab mereka itu yang dimaksud dengan orang-orang yang mendapat kecintaan dan maghfirah (pengampunan) Allah Swt.  dalam firman-Nya:
قُلۡ  اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾  قُلۡ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ ۚ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah:”Jika kamu benar-benar mencintai Allah maka ikutilah  aku,  Allah pun akan mencintai kamu dan akan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”  Katakanlah:  Taatilah Allah dan Rasul ini”, kemudian jika mereka berpaling maka ketahuilah sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir. (Ali ‘Imraan [3]32-33).
       Ayat  32 menjelaskan dengan tegas menyatakan, bahwa sejak diutusnya Nabi Besar Muhammad saw. dan diturunkan-Nya  agama Islam  (Al-Quran) -- sebagai agama dan Kitab suci yang terakhir dan tersempurna (QS.5:4) -- tujuan memperoleh kecintaan Ilahi tidak mungkin terlaksana kecuali dengan beriman dan mengikuti Nabi Besar Muhammad saw., yang   nubuatan-nubuatan mengenai beliau saw. bukan saja terdapat dalam Taurat dan Injil (QS.7:158) tetapi juga dinubuatan oleh para nabi Allah lainnya di luar Bani Israil  - yang nama-namanya tidak disebutkan   dalam Al-Quran   (QS,4:164-165; QS.40:79) --  sebagaimana firman-Nya di awal setiap Bab:     
وَ یَوۡمَ نَبۡعَثُ فِیۡ کُلِّ اُمَّۃٍ شَہِیۡدًا عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ جِئۡنَا بِکَ شَہِیۡدًا عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ ؕ وَ نَزَّلۡنَا عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ تِبۡیَانًا  لِّکُلِّ شَیۡءٍ  وَّ  ہُدًی  وَّ  رَحۡمَۃً   وَّ  بُشۡرٰی  لِلۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah hari itu ketika Kami akan membangkitkan dalam setiap umat seorang saksi terhadap mereka dari antara mereka sendiri, dan Kami akan mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka semuanya. Dan  Kami  telah menurunkan kepada engkau Kitab itu untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk, rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri kepada Allah.   (An-Nahl [16]:90).
       Sebab bagaimana mungkin Nabi Besar Muhammad saw. akan menjadi saksi atas  para nabi Allah yang diutus sebelum beliau saw. kalau para nabi Allah tersebut tidak pernah menubuatkan mengenai kedatangan Nabi Besar Muhammad saw.  sebagai rasul Allah pembawa syariat  yang terakhir dan tersempurna (QS.5:4)?
       Dengan demikian terjawablah kekeliruan pemahaman mereka  yang berpendapat bahwa munculnya bermacam-macam agama dan firqah umat beragama  di kalangan umat manusia adalah merupakan  kehendak Allah Swt., sebab yang  Allah Swt. kehendaki  adalah apabila nubuatan-nubuatan  mengenai kedatangan nabi Allah yang kedatangannya dijanjikan   benar-benar sempurna, mereka seharusnya beriman kepada  nabi Allah tersebut serta membantu perjuangan sucinya, bukannya mengikuti ketakaburan iblis yang menolak “sujud” (beriman dan patuh-taat) kepada Adam  (Khalifah Allah) ketika diperintahkan Allah Swt. (QS.2:35; QS.7:12-13; QS.15:29 & 33; QS. 17:63; QS.18:51; 20:117; 38:72-77).
        Mengapa demikian? Sebab Allah Swt. telah mengambil perjanjian dari umat manusia melalui para nabi Allah,  bahwa apabila datang kepada mereka  nabi Allah yang dijanjikan berikutnya   (QS.7:35-37)   mereka harus beriman kepadanya dan harus membantu perjuangan sucinya, firman-Nya:
وَ اِذۡ اَخَذَ اللّٰہُ مِیۡثَاقَ النَّبِیّٖنَ لَمَاۤ اٰتَیۡتُکُمۡ مِّنۡ کِتٰبٍ وَّ حِکۡمَۃٍ ثُمَّ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَکُمۡ لَتُؤۡمِنُنَّ بِہٖ وَ لَتَنۡصُرُنَّہٗ ؕ قَالَ ءَاَقۡرَرۡتُمۡ وَ اَخَذۡتُمۡ عَلٰی ذٰلِکُمۡ اِصۡرِیۡ ؕ قَالُوۡۤا اَقۡرَرۡنَا ؕ قَالَ فَاشۡہَدُوۡا وَ اَنَا مَعَکُمۡ مِّنَ  الشّٰہِدِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian dari manusia melalui nabi-nabi: “Apa saja yang Aku berikan kepada kamu berupa Kitab dan Hikmah, kemudian datang kepada kamu seorang rasul yang menggenapi apa yang ada padamu,    kamu benar-benar harus beriman kepadanya dan   kamu  benar-benar harus membantunya.” Dia berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima tanggung-jawab yang Aku bebankan kepadamu mengenai itu?” Mereka berkata: “Kami mengakui.” Dia berfirman: “Maka bersaksilah  dan Aku pun beserta kamu termasuk  orang-orang yang menjadi saksi.”  (Ali ‘Imran [34]:82).
          Tetapi dalam kenyataannya, pada  umumnya manusia mengingkari perjanjian dengan Allah Swt. tersebut dan mereka memilih  mengikuti ketakaburan  Iblis  dan menjadi penentang  para  nabi Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka (QS.7:35-37), sehingga akibatnya timbullah berbagai macam agama dan firqah-firqah agama yang masing-masing saling mendakwakan diri sebagai agama atau firqah agama  yang paling benar, sedang pihak-pihak lainnya adalah golongan sesat dan menyesatkan.

Penghakiman Allah Swt. Selalu Melalui Pengutusan Rasul Allah Yang Dijanjikan

     Sunnatullah yang senantiasa terjadi dalam memberikan “penghakiman” berkenaan perselisihan yang terjadi di kalangan umat beragama dan firqah-firqah umat beragama tersebut tidak pernah diserahkan kepada para pemuka kaum atau pemuka agama, melainkan  selalu melalui pengutusan rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan dari kalangan Bani Adam (QS.7:35-37),  firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ  اَجَلٌ ۚ فَاِذَا  جَآءَ  اَجَلُہُمۡ  لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً  وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾  وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾   
Dan bagi tiap-tiap umat ada batas waktu, maka apabila telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya.  Wahai Bani Adam, jika datang kepada kamu  rasul-rasul dari antaramu yang menceritakan  Ayat-ayat-Ku kepada kamu, maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, maka tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati.  Dan  orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya, mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-A’raaf [7]:35-37).
     Sesuai dengan  firman Allah Swt. tersebut, dalam surah lainnya Allah Swt. berfirman kepada umat Islam mengenai cara Allah Swt. memberi keputusan berkenaan perselisihan yang terjadi di kalangan mereka, ketika masing-masing pihak mendakwakan sebagai firqah yang paling benar sedang firqah-firqah yang lainnya sesat dan menyesatkan, firman-Nya:
مَا  کَانَ اللّٰہُ لِیَذَرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ عَلٰی مَاۤ  اَنۡتُمۡ عَلَیۡہِ حَتّٰی یَمِیۡزَ  الۡخَبِیۡثَ مِنَ الطَّیِّبِ ؕ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ۪ فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ وَ  اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ  اَجۡرٌ  عَظِیۡمٌ ﴿﴾
Allah sekali-kali tidak akan  membiarkan orang-orang yang beriman di dalam keadaan kamu berada di dalamnya    hingga  Dia memisahkan yang buruk dari yang baik. Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan  yang gaib kepada kamu, tetapi Allah memilih  di antara rasul-rasul-Nya siapa yang Dia kehendaki, karena itu berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagi kamu ganjaran yang besar. (Ali ‘Imraan [3]:180).

(Bersambung)
ooo

Rujukan: The Holy Quran
Editor    : Malik Ghulam Farid


Pajajaran Anyar,   5 Juli 2018 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar