Senin, 02 Juli 2018

Penyebab Timbulnya "Keberagaman Agama" dan "Umat Beragama" & "Al-Haqqu Murrun - Kebenaran itu Pahit"


Bismillaahirrahmaanirrahiim

KHAZANAH  AL-QURAN 

Bab 25

PENYEBAB TIMBULNYA KEBERAGAMAN AGAMA DAN UMAT BERAGAMA & “AL-HAQQU MURRUN -KEBENARAN ITU PAHIT”     

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

وَ یَوۡمَ نَبۡعَثُ فِیۡ کُلِّ اُمَّۃٍ شَہِیۡدًا عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ جِئۡنَا بِکَ شَہِیۡدًا عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ ؕ وَ نَزَّلۡنَا عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ تِبۡیَانًا  لِّکُلِّ شَیۡءٍ  وَّ  ہُدًی  وَّ  رَحۡمَۃً   وَّ  بُشۡرٰی  لِلۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾

Dan ingatlah hari itu ketika Kami akan membangkitkan dalam setiap umat seorang saksi terhadap mereka dari antara mereka sendiri, dan Kami akan mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka semuanya. Dan  Kami  telah menurunkan kepada engkau Kitab itu untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk, rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri kepada Allah.   (An-Nahl [16]:90).

       Keaneka-ragaman ciptaan (makhluk) Allah Swt. sepenuhnya merupakan kehendak-Nya -- terutama di kalangan umat manusia (QS.49:14; QS.30:23) -- tetapi apakah benar bahwa keberagaman agama  serta keberagaman umat beragama dan firqah-firqahnya pun merupakan kehendak Allah Swt. pula? Sebab dalam Al-Quran Allah Swt. telah berfirman:
اِنَّ ہٰذِہٖۤ  اُمَّتُکُمۡ اُمَّۃً  وَّاحِدَۃً ۫ۖ وَّ اَنَا رَبُّکُمۡ  فَاعۡبُدُوۡنِ ﴿﴾ وَ تَقَطَّعُوۡۤا  اَمۡرَہُمۡ بَیۡنَہُمۡ ؕ کُلٌّ اِلَیۡنَا رٰجِعُوۡنَ ﴿٪﴾
Sesungguhnya umat kamu ini merupakan satu umat, dan Aku adalah Rabb (Tuhan) kamu maka sembahlah Aku. Tetapi mereka telah memecah-mecah urusan agama mereka di antara mereka, [padahal] semuanya akan kembali kepada Kami. (Al-Anbiya [21]:93-94). Lihat pula QS.23:53-55.
      Demikian juga Allah Swt. telah memperingatkan secara khusus kepada umat Islam mengenai pentingnya kesatuan dan persatuan umat tersebut, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰہَ حَقَّ تُقٰتِہٖ وَ لَا تَمُوۡتُنَّ  اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ  مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾ وَ اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا وَّ لَا تَفَرَّقُوۡا ۪ وَ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ  اِذۡ  کُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوۡبِکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا ۚ وَ کُنۡتُمۡ عَلٰی شَفَا حُفۡرَۃٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنۡقَذَکُمۡ مِّنۡہَا ؕ کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ لَکُمۡ اٰیٰتِہٖ  لَعَلَّکُمۡ  تَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali kamu dalam keadaan berserah  diri.  Dan berpegangteguhlah kamu sekalian pada tali  Allah dan   janganlah kamu berpecah-belah,  dan ingatlah akan nikmat Allah atas kamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, lalu Dia menyatukan hatimu dengan kecintaan antara satu sama lain maka  dengan nikmat-Nya itu kamu menjadi bersaudara, dan kamu dahulu berada di tepi jurang Api lalu Dia menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menjelaskan Ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu mendapat petunjuk. (Ali ‘Imran [3]:102-103).
       Bahkan secara khusus umat Islam telah  diperingatkan Allah Swt. agar jangan mengikuti perbuatan di kalangan Ahli Kitab yang telah berpecah-belah ketika datang kepada mereka bayyinah atau rasul Allah (QS.99:1-9) yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka, firman-Nya:
"Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang berpecah belah dan berselisih  sesudah  bukti-bukti yang jelas datang kepada mereka, dan mereka itulah orang-orang  yang baginya  ada azab yang besar. (Ali ‘Imran [3]:106).

Kebiasaan Buruk  Menisbahkan Masalah Kepada Allah Swt.

       Jadi, jawaban atas pertanyaan tersebut sangat  penting, karena pada umumnya manusia   terhadap segala sesuatu yang terjadi  sering mengatakan bahwa: “Semua itu terjadi  atas kehendak Allah Swt.”, sebagaimana Allah Swt. berfirman  berkenaan orang-orang musyrik:
وَ اِذَا فَعَلُوۡا فَاحِشَۃً  قَالُوۡا وَجَدۡنَا عَلَیۡہَاۤ  اٰبَآءَنَا وَ اللّٰہُ اَمَرَنَا بِہَا ؕ قُلۡ اِنَّ اللّٰہَ  لَا  یَاۡمُرُ  بِالۡفَحۡشَآءِ ؕ اَتَقُوۡلُوۡنَ عَلَی اللّٰہِ  مَا  لَا  تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ قُلۡ اَمَرَ رَبِّیۡ  بِالۡقِسۡطِ ۟ وَ اَقِیۡمُوۡا وُجُوۡہَکُمۡ عِنۡدَ کُلِّ مَسۡجِدٍ  وَّ ادۡعُوۡہُ مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ  الدِّیۡنَ ۬ؕ کَمَا بَدَاَکُمۡ تَعُوۡدُوۡنَ ﴿ؕ﴾ فَرِیۡقًا ہَدٰی وَ فَرِیۡقًا حَقَّ عَلَیۡہِمُ الضَّلٰلَۃُ ؕ اِنَّہُمُ اتَّخَذُوا الشَّیٰطِیۡنَ اَوۡلِیَآءَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ یَحۡسَبُوۡنَ  اَنَّہُمۡ مُّہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila mereka mengerjakan suatu kekejian, mereka berkata: “Kami  mendapati bapak-bapak kami berbuat  demikian, dan Allah memerintahkan kami berbuat seperti itu.” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah tidak memerintahkan   berbuat  keji, apakah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” Katakanlah: “Rabb-ku (Tuhan-ku) memerintahkan berbuat adil. Pusatkanlah perhatian kamu  di setiap tempat sujud, dan serulah Dia dengan memurnikan  ketaatan kepada-Nya. Sebagaimana Dia memulai penciptaan kamu,    seperti itu  pula kamu akan kembali kepada-Nya.”   Satu golongan telah Dia beri petunjuk dan segolongan lain telah pasti atas mereka kesesatan. Sesungguhnya mereka itu mengambil syaitan-syaitan menjadi sahabat-sahabat selain Allah, dan mereka menduga bahwa sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang  mendapat petunjuk.” (Al-A’raaf [7]:29-31).
Firman-Nya lagi:
وَ قَالَ الَّذِیۡنَ اَشۡرَکُوۡا لَوۡ شَآءَ اللّٰہُ مَا عَبَدۡنَا مِنۡ دُوۡنِہٖ مِنۡ شَیۡءٍ نَّحۡنُ وَ لَاۤ اٰبَآؤُنَا وَ لَا حَرَّمۡنَا مِنۡ دُوۡنِہٖ مِنۡ شَیۡءٍ ؕ  کَذٰلِکَ  فَعَلَ  الَّذِیۡنَ  مِنۡ  قَبۡلِہِمۡ ۚ فَہَلۡ عَلَی الرُّسُلِ  اِلَّا الۡبَلٰغُ  الۡمُبِیۡنُ ﴿﴾ وَ لَقَدۡ بَعَثۡنَا فِیۡ کُلِّ اُمَّۃٍ  رَّسُوۡلًا اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ  وَ اجۡتَنِبُوا الطَّاغُوۡتَ ۚ فَمِنۡہُمۡ مَّنۡ ہَدَی اللّٰہُ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ حَقَّتۡ عَلَیۡہِ  الضَّلٰلَۃُ ؕ فَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَانۡظُرُوۡا کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ  الۡمُکَذِّبِیۡنَ ﴿﴾
Dan berkata orang-orang musyrik, “Sekiranya Allah menghendaki tentu kami tidak akan menyembah apa pun selain-Nya, baik kami mau pun bapak-bapak kami,  dan kami tidak mengharamkan sesuatu tanpa [perintah] dari-Nya.” Demikianlah telah dikerjakan  oleh orang-orang sebelum mereka, maka apakah atas rasul-rasul itu [ada kewajiban lain] selain menyampaikan dengan jelas?” Dan sesungguhnya  kami mengutus dalam setiap umat seorang rasul supaya kamu menyembah Allah dan jauhilah thaghut, maka sebagian mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan sebagian dari mereka ada yang telah pasti atas mereka kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi, lalu lihatlah bagaimana akibatnya orang-orang yang telah mendustakan [rasul-rasul] (An-Nahl [16]:36-37). Lihat pula QS.6:149; QS.43:20-22).
        Berikut firman Allah Swt. mengenai  perpecahan umat di kalangan Bani Israil antara Yahudi dan Nasrani,  padahal mereka membaca Kitab yang sama, dan  kedatangan Nabi Isa a.s. pun telah dinubuatkan sebelumnya kepada mereka (Maleakhi 4:4-6; Matius 11:7-15):
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ  لَیۡسَتِ النَّصٰرٰی عَلٰی شَیۡءٍ ۪ وَّ قَالَتِ النَّصٰرٰی لَیۡسَتِ الۡیَہُوۡدُ عَلٰی شَیۡءٍ ۙ وَّ ہُمۡ یَتۡلُوۡنَ الۡکِتٰبَ ؕ کَذٰلِکَ قَالَ الَّذِیۡنَ لَا یَعۡلَمُوۡنَ مِثۡلَ قَوۡلِہِمۡ ۚ فَاللّٰہُ یَحۡکُمُ بَیۡنَہُمۡ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ فِیۡمَا کَانُوۡا فِیۡہِ یَخۡتَلِفُوۡنَ ﴿﴾
Dan orang-orang Yahudi mengatakan: ”Orang-orang Nasrani sekali-kali  tidak berdiri di atas sesuatu kebenaran,” dan orang-orang Nasrani mengatakan: ”Orang-orang Yahudi sekali-kali tidak berdiri di atas sesuatu kebenaran.” Padahal mereka membaca Alkitab yang sama. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui berkata  seperti ucapan mereka itu, maka pada Hari Kiamat Allah akan menghakimi di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. (Al Baqarah [2]:114).
       Jadi, kebiasaan  saling melontarkan fatwa takfiri (pengkafir)  di kalangan  firqah-firqah  pemeluk agama yang sama merupakan warisan dari  kalangan Bani Israil, khususnya antara kaum Yahudi dan Nasrani, yang Nabi Besar Muhammad saw. telah menubuatkan bahwa warisan buruk tersebut   akan  terjadi juga di kalangan umat Islam sehingga  persamaan kedua keturunan Nabi Ibrahim a.s. tersebut – yakni Bani Israil dan Bani Isma’il --   seperti sepasang sepatu.

Mengikuti “Pembangkangan Iblis” Terhadap Perintah Allah Swt.

       Dari ayat-ayat tersebut dapat diambil kesimpulan, bahwa pada hakikatnya timbulnya keberagaman agama dan umat beragama beserta firqah-firqahnya bukan  merupakan  kehendak Allah Swt.,  melainkan merupakan akibat dari penentangan yang dilakukan para pemuka kaum atau pemuka agama kepada para rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka (QS.7:35-37) -- sebagaimana pembangkangan iblis ketika diperintahkan Allah Swt. untuk “sujud” (beriman dan patuh-taat) kepada Adam (Khalifah Allah), karena merasa dirinya lebih mulia daripada Adam  (QS.2:31-35; QS.7:12-13; QS.15:29 & 33; QS. 17:63; QS.18:51; 20:117; 38:72-77)  -- padahal   mereka mengenali nubuatan-nubuatan mengenai kedatangan para nabi Allah tersebut bagaikan mengenali anak-anak mereka sendiri (QS.2:147; QS.6:21), tetapi mereka telah menyalah-tafsirkan nubuatan-nubuatan tersebut sesuai dengan hawa-nafsu mereka.
      Contohnya nubuatan-nubuatan mengenai kedatangan Nabi Besar Muhammad saw. tercantum dalam Taurat dan Injil (QS.7:158), yang dalam Bible dan Al-Quran menyebutnya  sebagai Nabi yang seperti Musa  (Ulangan 18:18-19; 33:2; Al-Ahqaf [46]:11); atau “Dia yang datang dalam nama Tuhan” (Matius 23:37-39) atau “Roh Kebenaran” yang membawa seluruh kebenaran (Yahya 16:12-13), lihat pula Yesaya 21:13-17 & 20:62; Syirul ‘Asyar 1:5-6; Habakuk 3:7, firman-Nya:
اَلَّذِیۡنَ یَتَّبِعُوۡنَ الرَّسُوۡلَ النَّبِیَّ الۡاُمِّیَّ الَّذِیۡ یَجِدُوۡنَہٗ مَکۡتُوۡبًا عِنۡدَہُمۡ فِی التَّوۡرٰىۃِ وَ الۡاِنۡجِیۡلِ ۫ یَاۡمُرُہُمۡ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ یَنۡہٰہُمۡ عَنِ الۡمُنۡکَرِ وَ یُحِلُّ لَہُمُ الطَّیِّبٰتِ وَ یُحَرِّمُ عَلَیۡہِمُ الۡخَبٰٓئِثَ وَ یَضَعُ عَنۡہُمۡ اِصۡرَہُمۡ وَ الۡاَغۡلٰلَ الَّتِیۡ کَانَتۡ عَلَیۡہِمۡ ؕ فَالَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِہٖ  وَ عَزَّرُوۡہُ وَ نَصَرُوۡہُ  وَ اتَّبَعُوا النُّوۡرَ الَّذِیۡۤ اُنۡزِلَ مَعَہٗۤ ۙ اُولٰٓئِکَ  ہُمُ  الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾٪
Yaitu orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi Ummi,  yang mereka dapati tercantum di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka. Ia menyuruh mereka kepada yang makruf, melarang mereka dari yang mungkar, menghalalkan bagi mereka segala yang baikmengharamkan bagi mereka segala yang buruk, menyingkirkan dari mereka beban mereka dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, mendukungnya,   menolongnya, dan mengikuti cahaya yang telah diturunkan besertanya, mereka itulah orang-orang yang berhasil.” (Al-‘Araaf [7]:158).

Allah Swt. Tidak Pernah Memaksakan Kehendak-Nya &  “Al-Haqqu Murrun” (Kebenaran itu Pahit)

        Namun bagaimana pun banyaknya nubuatan-nubuatan dalam Kitab-kitab suci sebelumnya mengenai pengutusan rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan tersebut – terutama Nabi Besar Muhammad saw.  --  tetapi Allah Swt. tidak pernah memaksakan kehendak-Nya kepada umat manusia (QS.2:257; QS.18:30),  sehingga terjadilah pendustaan dan penentangan  oleh para pemuka kaum terhadap para rasul Allah  tersebut.             
      Mengapa demikian? Sebab jika Allah Swt. berkeinginan memaksakan kehendak-Nya maka dengan mudah Dia dapat membuat  semua umat manusia akan  menjadi “satu umat beragama” dan menjadi orang-orang  yang beriman kepada rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan, sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
لَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ اَلَّا یَکُوۡنُوۡا مُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ اِنۡ نَّشَاۡ نُنَزِّلۡ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ السَّمَآءِ  اٰیَۃً فَظَلَّتۡ اَعۡنَاقُہُمۡ  لَہَا خٰضِعِیۡنَ ﴿﴾ وَ مَا یَاۡتِیۡہِمۡ مِّنۡ ذِکۡرٍ مِّنَ الرَّحۡمٰنِ مُحۡدَثٍ  اِلَّا  کَانُوۡا عَنۡہُ  مُعۡرِضِیۡنَ  ﴿ ﴾  فَقَدۡ کَذَّبُوۡا  فَسَیَاۡتِیۡہِمۡ  اَنۡۢبٰٓؤُا مَا کَانُوۡا  بِہٖ  یَسۡتَہۡزِءُوۡنَ ﴿ ﴾
Boleh jadi engkau akan membinasakan diri engkau [oleh kesedihan] karena mereka  tidak mau beriman. Jika Kami kehendaki Kami dapat menurunkan kepada mereka suatu Tanda dari langit, sehingga leher-leher mereka akan tertunduk di hadapannya. Dan tidak pernah datang kepada mereka peringatan yang baru dari [Tuhan] Yang Maha Pemurah melainkan mereka selalu berpaling darinya. Maka sesungguhnya mereka telah mendustakan, tetapi segera datang kepada mereka  kabar-kabar mengenai apa yang pernah mereka olok-olokkan (Asy-Syu’araa [26]:4-7).
      Pertanyaannya adalah:  Mengapa para pemuka kaum  di berbagai zaman kenabian senantiasa mendustakan dan menentang keras para rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka (QS.7:35-37)? Jawabannya dalam ungkapan dalam bahasa Arab: “Al-Haqqu murrun” (kebenaran itu pahit).”
      Walau ungkapan tersebut bersifat umum tetapi secara khusus sangat ditepat dihubungkan dengan penyebab terjadinya  penentangan yang dilakukan  kaum-kaum purbakala kepada pengutusan para Rasul Allah yang  kedatangannya dijanjikan kepada mereka (QS.7:35-37), sebab  para rasul (nabi) Allah tersebut senantiasa membawa kebenaran yang tidak sukai  para pemuka kaum pada zaman itu – khususnya Tauhid Ilahi (QS.16:37; QS.35:25) -- sebagaimana firman-Nya mengenai Bani Israil:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنَا مُوۡسَی الۡکِتٰبَ وَ قَفَّیۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ بِالرُّسُلِ ۫ وَ اٰتَیۡنَا عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ الۡبَیِّنٰتِ وَ اَیَّدۡنٰہُ بِرُوۡحِ الۡقُدُسِ ؕ اَفَکُلَّمَا جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌۢ بِمَا لَا تَہۡوٰۤی اَنۡفُسُکُمُ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ۚ  فَفَرِیۡقًا کَذَّبۡتُمۡ  ۫ وَ فَرِیۡقًا تَقۡتُلُوۡنَ ﴿﴾وَ قَالُوۡا قُلُوۡبُنَا غُلۡفٌ ؕ بَلۡ لَّعَنَہُمُ اللّٰہُ بِکُفۡرِہِمۡ  فَقَلِیۡلًا مَّا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾وَ لَمَّا جَآءَہُمۡ کِتٰبٌ مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَہُمۡ  ۙ وَ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ یَسۡتَفۡتِحُوۡنَ عَلَی الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ۚۖ فَلَمَّا جَآءَہُمۡ مَّا عَرَفُوۡا کَفَرُوۡا بِہٖ ۫ فَلَعۡنَۃُ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan  sungguh   Kami benar-benar telah  memberikan Alkitab kepada Musa dan Kami  mengikutkan rasul-rasul di belakangnya,  dan Kami  memberikan kepada Isa Ibnu Maryam Tanda-tanda yang nyata, dan juga Kami memperkuatnya dengan Ruhulqudus. Maka apakah patut setiap datang kepada kamu seorang rasul dengan membawa apa yang tidak disukai oleh dirimu  kamu berlaku takabur, lalu  sebagian kamu dustakan dan sebagian lainnya kamu bunuh?   Dan mereka berkata:  Hati kami tertutup.” Tidak,  bahkan Allah telah mengutuk mereka karena kekafiran mereka  maka sedikit sekali apa yang mereka imani.  Dan tatkala datang kepada mereka sebuah Kitab yakni  Al-Quran dari Allah  menggenapi apa yang ada pada mereka, sedangkan sebelum itu mereka senantiasa memohon kemenangan  atas orang-orang kafir, tetapi tatkala  datang kepada mereka apa yang mereka  kenali itu lalu mereka kafir  kepadanya  maka laknat Allah atas orang-orang kafir (Al-Baqarah [2]:88-90).
      Pernyataan Allah Swt. dalam  ayat tersebut: اَفَکُلَّمَا جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌۢ بِمَا لَا تَہۡوٰۤی اَنۡفُسُکُمُ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ۚ  فَفَرِیۡقًا کَذَّبۡتُمۡ  ۫ وَ فَرِیۡقًا تَقۡتُلُوۡنَ -- Maka apakah patut setiap datang kepada kamu seorang rasul dengan membawa apa yang tidak disukai oleh dirimu  kamu berlaku takabur, lalu  sebagian kamu dustakan dan sebagian lainnya kamu bunuh?”  membenarkan ungkapan  “Al-Haqqu murrun” (kebenaran itu pahit), dan  alasan penentangan mereka: وَ قَالُوۡا قُلُوۡبُنَا غُلۡفٌ  -- “Dan mereka berkata:  Hati kami tertutup”  dijawab Allah Swt.:   بَلۡ لَّعَنَہُمُ اللّٰہُ بِکُفۡرِہِمۡ  فَقَلِیۡلًا مَّا یُؤۡمِنُوۡنَ  -- Tidak,  bahkan Allah telah mengutuk mereka karena kekafiran mereka  maka sedikit sekali apa yang mereka imani.”

Cenderung Kepada Kemusyrikan

       Pengutusan para nabi Allah di kalangan Bani Israil  setelah Nabi Musa a.s. tersebut karena  pada umumnya  mereka  itu cenderung kepada kemusyrikan,   akibat selama 400 tahun mereka berada dalam penguasaan para fir’aun di Mesir  yang menyembah sapi, sehingga ketika mereka ditinggal   Nabi Musa a.s. selama 40 hari ke gunung Thur, mereka kembali menyembah patung anak sapi buatan Samiri, padahal Nabi Harun a.s. ada bersama mereka (QS.7:143-152; QS.20:82-99).
      Kecenderungan kepada kemusyrikan di kalangan Bani Israil tersebut lebih jauh dikemukakan Allah Swt. dalam Al-Quran, firman-Nya:
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ  ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ  ابۡنُ  اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ  قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی  یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾ اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا  لِیَعۡبُدُوۡۤا  اِلٰـہًا  وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾  یُرِیۡدُوۡنَ  اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ  اِلَّاۤ  اَنۡ  یُّتِمَّ  نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾  ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾
Dan  orang-orang Yahudi berkata: “Uzair  adalah  anak Allah”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Al-Masih adalah  anak  Allah.” Demikian itulah perkataan mereka dengan mulutnya, mereka  meniru-niru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah membinasakan mereka, bagaimana mereka sampai dipa-lingkan dari Tauhid?   Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan begitu juga Al-Masih ibnu Maryam, padahal mereka tidak dipe-rintahkan melainkan supaya mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa. Tidak ada Tuhan kecuali Dia. Maha-suci Dia dari apa yang mereka sekutukan.     Mereka  berkehendak memadamkan cahaya Allah  dengan mulut mereka, tetapi Allah menolak bahkan menyempurnakan cahaya-Nya, walau-pun orang-orang kafir tidak menyukai.    Dia-lah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama walau-pun orang-orang musyrik tidak menyukainya. (At-Taubah [9]:30-33).
    
Akibat Kutukan  Allah Swt. & Pentingnya Kesinambungan Rasul Allah

         Kembali kepada firman Allah sebelumnya (QS.2:88-90), ada pun yang dimaksud dengan “Allah telah mengutuk mereka karena kekafiran mereka”, perlu diketahui  bahwa   nubuatan-nubuatan mengenai kedatangan nabi (rasul) Allah yang dijanjikan di kalangan Bani Adam tersebut (QS.7:35-37) benar-benar  diketahui oleh para pemuka agama tersebut, bagaikan mereka mengenali anak-anak mereka sendiri (QS.2:147; QS.6:21) -- termasuk nubuatan mengenai kedatangan Nabi Besar Muhammad saw.,   yang di dalam Bible dan Al-Quran disebut sebagai “Nabi yang seperti Musa” (Ulangan 18:18-19  dan Al-Ahqaf [46]:11) -- sebagaimana diterangkan ayat selanjutnya:
وَ لَمَّا جَآءَہُمۡ کِتٰبٌ مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَہُمۡ  ۙ وَ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ یَسۡتَفۡتِحُوۡنَ عَلَی الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ۚۖ فَلَمَّا جَآءَہُمۡ مَّا عَرَفُوۡا کَفَرُوۡا بِہٖ ۫ فَلَعۡنَۃُ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan tatkala datang kepada mereka sebuah Kitab yakni  Al-Quran dari Allah  menggenapi apa yang ada pada mereka, sedangkan sebelum itu mereka senantiasa memohon kemenangan  atas orang-orang kafir, tetapi tatkala  datang kepada mereka apa yang mereka  kenali itu lalu mereka kafir  kepadanya  maka laknat Allah atas orang-orang kafir. (Al-Baqarah [2]:90).
        Dengan demikian jelaslah, bahwa  penyebab utama dari terjadinya pendustaan dan penentangan yang dilakukan para pemuka kaum terhadap rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka (QS.7:35-37) – termasuk di kalangan Bani Israil -- adalah karena:
         (1)   Haq (kebenaran) yang dibawa oleh para rasul Allah tersebut dirasakan sangat pahit   oleh para pemuka kaum purbakala tersebut karena bertentangan dengan akidah dan amal yang mereka lakukan  (QS.2:88-91; QS.23:72).
         (2)   Mereka menganut pemahaman sesat bahwa silsilah pengutusan para nabi Allah telah berakhir (tertutup) -- yakni faham “laa nabiya ba’dahu” (tidak akan ada lagi  nabi sesudahnya,  – QS.10:75; QS.40:35-36; QS.72:8) –  sebab sepeninggal para nabi Allah umumnya umat manusia cenderung kepada berbagai bentuk “kemusyrikan” dan “perpecahan umat” sebagaimana dikemukakan dalam QS.9:30-33; QS.2:114 dan QS.30:31-33, padahal silsilah pengutusan para rasul Allah dari kalangan Bani Adam tetap berlangsung untuk mengajak kembali mereka kepada Tauhid Ilahi  yang hakiki (QS.99:1-9), firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ  اَجَلٌ ۚ فَاِذَا  جَآءَ  اَجَلُہُمۡ  لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً  وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾  وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾   
Dan bagi tiap-tiap umat ada batas waktu, maka apabila telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya.  Wahai Bani Adam, jika datang kepada kamu  rasul-rasul dari antaramu yang menceritakan  Ayat-ayat-Ku kepada kamu, maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, maka tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati.  Dan  orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya, mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-A’raaf [7]:35-37).
      Ayat 36   patut mendapat perhatian istimewa. Seperti pada beberapa ayat sebelumnya (yakni QS.7:27, 28 & 32), seruan dengan kata-kata Hai anak-cucu Adam, ditujukan kepada umat manusia di zaman Nabi Besar Muhammad saw.  dan kepada generasi-generasi yang akan lahir setelah beliau saw., bukan kepada umat-umat yang hidup di masa jauh silam dan yang datang tak lama sesudah masa Nabi Adam a.s..

Kutukan Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa a.s.

          Kata-kata dalam ayat 37  berarti, bahwa mereka yang menolak Utusan-utusan Allah akan melihat dengan mata kepala sendiri penyempurnaan kabar-kabar gaib yang meramalkan kekalahan dan kegagalan mereka (QS.58:21-22; QS.5:57; QS.37:172-173), dan mereka akan merasakan hukuman (azab) yang dijanjikan kepada mereka karena menentang utusan-utusan Allah, sebagaimana yang menimpa kaum Nabi Nuh a.s. sampai dengan para penentang Nabi Besar Muhammad saw., itulah sebabnya Allah Swt. telah mengumpamakan  keadaan mereka itu  keadaannya seperti  laba-laba yang membuat sarang (QS.29:41-44),   walau pun mereka itu merupakan golongan mayoritas yang memiliki kekuasaan duniawi, contohnya Fir’aun dan kaumnya  (QS.26:53-68).
     Bahkan Allah Swt. dalam Al-Quran menyatakan bahwa azab Ilahi  yang menimpa kaum-kaum tersebut  -- termasuk  2 kali azab Ilahi yang menimpa Bani Israil (QS.17:5-9) -- adalah akibat kutukan dari Rasul Allah yang mereka dustakan dan zalimi, firman-Nya:
لُعِنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡۢ بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی لِسَانِ دَاوٗدَ  وَ عِیۡسَی ابۡنِ مَرۡیَمَ ؕ ذٰلِکَ بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا یَعۡتَدُوۡنَ ﴿﴾  کَانُوۡا لَا یَتَنَاہَوۡنَ عَنۡ مُّنۡکَرٍ فَعَلُوۡہُ ؕ لَبِئۡسَ مَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾  تَرٰی کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ؕ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾  وَ لَوۡ کَانُوۡا یُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ النَّبِیِّ  وَ مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ مَا اتَّخَذُوۡہُمۡ اَوۡلِیَآءَ وَ لٰکِنَّ  کَثِیۡرًا  مِّنۡہُمۡ  فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Orang-orang  yang kafir  dari kalangan Bani Israil telah   dilaknat oleh lidah Daud dan Isa ibnu Maryam,  hal demikian itu karena mereka senantiasa durhaka dan melampaui batas.  Mereka tidak pernah  saling mencegah dari kemungkaran yang dikerjakannya, benar-benar sangat  buruk apa yang senantiasa  mereka kerjakan.   Engkau melihat kebanyakan dari mereka menjadikan orang-orang kafir  sebagai  pelindung, dan benar-benar sangat buruk apa yang telah  mereka dahulukan  bagi diri mereka   yaitu bahwa Allah  murka kepada mereka, dan di dalam azab inilah mereka akan kekal.  Dan seandainya   mereka beriman kepada Allah, Nabi ini, dan kepada apa yang diturunkan kepadanya, mereka sekali-kali  tidak akan mengambil  orang-orang itu sebagai pelindung-pelindungnya,  tetapi kebanyakan mereka adalah orang-orang fasiq. (Al-Maaidah [5]:79-82).


(Bersambung)
ooo

Rujukan: The Holy Quran
Editor    : Malik Ghulam Farid


Pajajaran Anyar,    2 Juli 2018 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar