Bismillaahirrahmaanirrahiim
KHAZANAH AL-QURAN
Bab 25
PENYEBAB
TIMBULNYA KEBERAGAMAN AGAMA DAN UMAT BERAGAMA & “AL-HAQQU MURRUN -KEBENARAN ITU PAHIT”
Oleh
Ki
Langlang Buana Kusuma
وَ یَوۡمَ نَبۡعَثُ فِیۡ کُلِّ اُمَّۃٍ شَہِیۡدًا عَلَیۡہِمۡ
مِّنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ جِئۡنَا بِکَ شَہِیۡدًا عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ ؕ وَ نَزَّلۡنَا
عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ تِبۡیَانًا لِّکُلِّ
شَیۡءٍ وَّ ہُدًی
وَّ رَحۡمَۃً وَّ
بُشۡرٰی لِلۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah hari itu ketika Kami akan membangkitkan dalam setiap umat seorang saksi terhadap mereka dari antara mereka sendiri, dan Kami akan mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka semuanya. Dan Kami telah menurunkan kepada engkau Kitab itu untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk, rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri kepada Allah. (An-Nahl [16]:90).
Keaneka-ragaman ciptaan (makhluk) Allah Swt. sepenuhnya merupakan kehendak-Nya -- terutama di kalangan umat manusia (QS.49:14; QS.30:23) -- tetapi apakah benar bahwa keberagaman agama serta keberagaman umat beragama dan firqah-firqahnya pun merupakan kehendak Allah Swt. pula? Sebab dalam Al-Quran Allah Swt. telah berfirman:
اِنَّ ہٰذِہٖۤ اُمَّتُکُمۡ
اُمَّۃً وَّاحِدَۃً ۫ۖ وَّ اَنَا
رَبُّکُمۡ فَاعۡبُدُوۡنِ ﴿﴾ وَ تَقَطَّعُوۡۤا اَمۡرَہُمۡ
بَیۡنَہُمۡ ؕ کُلٌّ اِلَیۡنَا رٰجِعُوۡنَ ﴿٪﴾
Sesungguhnya umat kamu ini merupakan satu umat, dan Aku adalah Rabb (Tuhan) kamu
maka sembahlah Aku. Tetapi mereka telah memecah-mecah urusan agama
mereka di antara mereka, [padahal] semuanya
akan kembali kepada Kami. (Al-Anbiya
[21]:93-94). Lihat pula QS.23:53-55.
Demikian juga Allah Swt. telah memperingatkan secara khusus
kepada umat Islam mengenai pentingnya kesatuan dan persatuan umat
tersebut, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا
اتَّقُوا اللّٰہَ حَقَّ تُقٰتِہٖ وَ لَا تَمُوۡتُنَّ اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾ وَ اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا وَّ لَا
تَفَرَّقُوۡا ۪ وَ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ
عَلَیۡکُمۡ اِذۡ کُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ
بَیۡنَ قُلُوۡبِکُمۡ
فَاَصۡبَحۡتُمۡ
بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا ۚ وَ کُنۡتُمۡ عَلٰی شَفَا
حُفۡرَۃٍ مِّنَ
النَّارِ فَاَنۡقَذَکُمۡ مِّنۡہَا ؕ کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ
لَکُمۡ اٰیٰتِہٖ لَعَلَّکُمۡ تَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman,
bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali
kamu dalam keadaan berserah diri. Dan berpegangteguhlah
kamu sekalian pada tali Allah dan janganlah kamu berpecah-belah, dan ingatlah
akan nikmat Allah atas kamu
ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan,
lalu Dia menyatukan hatimu dengan
kecintaan antara satu sama lain maka dengan
nikmat-Nya itu kamu menjadi bersaudara, dan kamu dahulu berada di tepi jurang Api lalu Dia menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menjelaskan
Ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu
mendapat petunjuk. (Ali ‘Imran [3]:102-103).
Bahkan secara khusus umat Islam telah diperingatkan Allah Swt. agar
jangan mengikuti perbuatan di
kalangan Ahli Kitab yang telah berpecah-belah ketika datang kepada
mereka bayyinah atau rasul Allah (QS.99:1-9) yang
kedatangannya dijanjikan kepada
mereka, firman-Nya:
"Dan janganlah kamu menjadi
seperti orang-orang yang berpecah belah
dan berselisih sesudah
bukti-bukti yang jelas datang
kepada mereka, dan mereka itulah orang-orang
yang baginya ada azab yang besar.
(Ali
‘Imran [3]:106).
Kebiasaan Buruk Menisbahkan
Masalah Kepada Allah Swt.
Jadi, jawaban atas pertanyaan tersebut sangat penting, karena pada umumnya manusia terhadap segala sesuatu yang terjadi sering mengatakan bahwa: “Semua itu terjadi atas kehendak Allah Swt.”, sebagaimana
Allah Swt. berfirman berkenaan
orang-orang musyrik:
وَ اِذَا فَعَلُوۡا فَاحِشَۃً
قَالُوۡا وَجَدۡنَا عَلَیۡہَاۤ
اٰبَآءَنَا وَ اللّٰہُ اَمَرَنَا بِہَا ؕ قُلۡ اِنَّ اللّٰہَ لَا
یَاۡمُرُ بِالۡفَحۡشَآءِ ؕ
اَتَقُوۡلُوۡنَ عَلَی اللّٰہِ مَا لَا
تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ قُلۡ اَمَرَ رَبِّیۡ
بِالۡقِسۡطِ ۟ وَ اَقِیۡمُوۡا وُجُوۡہَکُمۡ عِنۡدَ کُلِّ مَسۡجِدٍ وَّ ادۡعُوۡہُ مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ الدِّیۡنَ ۬ؕ کَمَا بَدَاَکُمۡ تَعُوۡدُوۡنَ
﴿ؕ﴾ فَرِیۡقًا ہَدٰی وَ فَرِیۡقًا حَقَّ عَلَیۡہِمُ
الضَّلٰلَۃُ ؕ اِنَّہُمُ اتَّخَذُوا الشَّیٰطِیۡنَ اَوۡلِیَآءَ مِنۡ دُوۡنِ
اللّٰہِ وَ یَحۡسَبُوۡنَ اَنَّہُمۡ
مُّہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila mereka mengerjakan suatu kekejian, mereka berkata: “Kami
mendapati bapak-bapak kami berbuat demikian, dan Allah memerintahkan kami berbuat seperti itu.”
Katakanlah: “Sesungguhnya Allah
tidak memerintahkan berbuat keji, apakah kamu mengatakan
terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” Katakanlah: “Rabb-ku (Tuhan-ku) memerintahkan
berbuat adil. Pusatkanlah perhatian
kamu di setiap tempat sujud,
dan serulah Dia dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Sebagaimana Dia memulai penciptaan kamu, seperti itu
pula kamu akan kembali kepada-Nya.”
Satu
golongan telah Dia beri petunjuk dan segolongan
lain telah pasti atas mereka kesesatan. Sesungguhnya mereka itu mengambil syaitan-syaitan menjadi sahabat-sahabat selain
Allah, dan mereka menduga bahwa sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-A’raaf [7]:29-31).
Firman-Nya lagi:
وَ قَالَ الَّذِیۡنَ اَشۡرَکُوۡا لَوۡ شَآءَ اللّٰہُ مَا عَبَدۡنَا مِنۡ
دُوۡنِہٖ مِنۡ شَیۡءٍ نَّحۡنُ وَ لَاۤ اٰبَآؤُنَا وَ لَا حَرَّمۡنَا مِنۡ دُوۡنِہٖ
مِنۡ شَیۡءٍ ؕ کَذٰلِکَ فَعَلَ
الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ۚ فَہَلۡ عَلَی الرُّسُلِ اِلَّا الۡبَلٰغُ الۡمُبِیۡنُ ﴿﴾
وَ لَقَدۡ
بَعَثۡنَا فِیۡ کُلِّ اُمَّۃٍ رَّسُوۡلًا
اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ وَ اجۡتَنِبُوا
الطَّاغُوۡتَ ۚ فَمِنۡہُمۡ مَّنۡ ہَدَی اللّٰہُ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ حَقَّتۡ
عَلَیۡہِ الضَّلٰلَۃُ ؕ فَسِیۡرُوۡا فِی
الۡاَرۡضِ فَانۡظُرُوۡا کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ
الۡمُکَذِّبِیۡنَ ﴿﴾
Dan berkata orang-orang musyrik, “Sekiranya Allah menghendaki tentu kami tidak akan menyembah apa pun selain-Nya,
baik kami mau pun bapak-bapak kami, dan kami
tidak mengharamkan sesuatu tanpa [perintah] dari-Nya.” Demikianlah telah dikerjakan oleh orang-orang sebelum mereka, maka
apakah atas rasul-rasul itu [ada
kewajiban lain] selain menyampaikan
dengan jelas?” Dan sesungguhnya kami mengutus dalam setiap umat seorang rasul
supaya kamu menyembah Allah dan jauhilah thaghut, maka sebagian mereka ada yang diberi petunjuk
oleh Allah dan sebagian dari mereka
ada yang telah pasti atas mereka kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi, lalu lihatlah
bagaimana akibatnya orang-orang yang telah mendustakan [rasul-rasul] (An-Nahl
[16]:36-37). Lihat pula QS.6:149; QS.43:20-22).
Berikut firman Allah Swt. mengenai perpecahan
umat di kalangan Bani Israil
antara Yahudi dan Nasrani, padahal mereka membaca Kitab yang sama, dan kedatangan Nabi
Isa a.s. pun telah dinubuatkan
sebelumnya kepada mereka (Maleakhi 4:4-6; Matius 11:7-15):
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ لَیۡسَتِ النَّصٰرٰی
عَلٰی شَیۡءٍ ۪ وَّ قَالَتِ النَّصٰرٰی لَیۡسَتِ الۡیَہُوۡدُ عَلٰی شَیۡءٍ ۙ وَّ
ہُمۡ یَتۡلُوۡنَ الۡکِتٰبَ ؕ کَذٰلِکَ قَالَ الَّذِیۡنَ لَا یَعۡلَمُوۡنَ مِثۡلَ
قَوۡلِہِمۡ ۚ فَاللّٰہُ یَحۡکُمُ بَیۡنَہُمۡ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ فِیۡمَا کَانُوۡا
فِیۡہِ یَخۡتَلِفُوۡنَ ﴿﴾
Dan orang-orang Yahudi
mengatakan: ”Orang-orang Nasrani
sekali-kali tidak berdiri di atas
sesuatu kebenaran,” dan orang-orang
Nasrani mengatakan: ”Orang-orang
Yahudi sekali-kali tidak berdiri di atas sesuatu kebenaran.”
Padahal mereka membaca Alkitab
yang sama. Demikian pula
orang-orang yang tidak mengetahui berkata
seperti ucapan mereka itu, maka pada
Hari Kiamat Allah akan
menghakimi di antara mereka tentang apa
yang mereka perselisihkan. (Al Baqarah [2]:114).
Jadi, kebiasaan saling
melontarkan fatwa takfiri (pengkafir)
di kalangan firqah-firqah
pemeluk agama yang sama merupakan
warisan dari kalangan Bani
Israil, khususnya antara kaum Yahudi
dan Nasrani, yang Nabi Besar Muhammad
saw. telah menubuatkan bahwa warisan buruk tersebut akan
terjadi juga di kalangan umat
Islam sehingga persamaan kedua keturunan
Nabi Ibrahim a.s. tersebut – yakni Bani
Israil dan Bani Isma’il -- seperti
sepasang sepatu.
Mengikuti
“Pembangkangan Iblis” Terhadap
Perintah Allah Swt.
Dari ayat-ayat tersebut dapat diambil kesimpulan, bahwa pada hakikatnya
timbulnya keberagaman agama dan umat beragama beserta firqah-firqahnya bukan merupakan
kehendak Allah Swt.,
melainkan merupakan akibat
dari penentangan
yang dilakukan para pemuka kaum atau pemuka agama kepada para rasul
Allah yang kedatangannya dijanjikan
kepada mereka (QS.7:35-37) -- sebagaimana pembangkangan
iblis ketika diperintahkan Allah Swt. untuk “sujud”
(beriman dan patuh-taat) kepada Adam
(Khalifah Allah), karena merasa
dirinya lebih mulia daripada Adam
(QS.2:31-35;
QS.7:12-13; QS.15:29 & 33; QS. 17:63; QS.18:51; 20:117; 38:72-77) -- padahal
mereka mengenali nubuatan-nubuatan mengenai kedatangan para nabi Allah tersebut bagaikan mengenali anak-anak mereka sendiri
(QS.2:147; QS.6:21), tetapi mereka telah menyalah-tafsirkan nubuatan-nubuatan tersebut sesuai dengan
hawa-nafsu mereka.
Contohnya nubuatan-nubuatan
mengenai kedatangan Nabi Besar Muhammad
saw. tercantum dalam Taurat dan Injil (QS.7:158), yang dalam Bible dan Al-Quran menyebutnya sebagai
Nabi yang seperti Musa (Ulangan 18:18-19; 33:2; Al-Ahqaf
[46]:11); atau “Dia yang datang dalam
nama Tuhan” (Matius 23:37-39) atau “Roh
Kebenaran” yang membawa seluruh
kebenaran (Yahya 16:12-13), lihat pula Yesaya 21:13-17 &
20:62; Syirul ‘Asyar 1:5-6; Habakuk 3:7, firman-Nya:
اَلَّذِیۡنَ
یَتَّبِعُوۡنَ الرَّسُوۡلَ النَّبِیَّ الۡاُمِّیَّ الَّذِیۡ یَجِدُوۡنَہٗ
مَکۡتُوۡبًا عِنۡدَہُمۡ فِی التَّوۡرٰىۃِ وَ الۡاِنۡجِیۡلِ ۫ یَاۡمُرُہُمۡ
بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ یَنۡہٰہُمۡ عَنِ الۡمُنۡکَرِ وَ یُحِلُّ لَہُمُ الطَّیِّبٰتِ
وَ یُحَرِّمُ عَلَیۡہِمُ الۡخَبٰٓئِثَ وَ یَضَعُ عَنۡہُمۡ اِصۡرَہُمۡ وَ
الۡاَغۡلٰلَ الَّتِیۡ کَانَتۡ عَلَیۡہِمۡ ؕ فَالَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِہٖ وَ عَزَّرُوۡہُ وَ نَصَرُوۡہُ وَ اتَّبَعُوا النُّوۡرَ الَّذِیۡۤ اُنۡزِلَ
مَعَہٗۤ ۙ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾٪
Yaitu orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi Ummi, yang mereka dapati tercantum di dalam Taurat dan Injil yang ada
pada mereka. Ia menyuruh mereka
kepada yang makruf, melarang mereka
dari yang mungkar, menghalalkan bagi
mereka segala yang baik, mengharamkan bagi mereka segala yang buruk,
menyingkirkan dari mereka beban mereka
dan belenggu-belenggu yang ada pada
mereka. Maka orang-orang yang beriman
kepadanya, mendukungnya, menolongnya,
dan mengikuti cahaya yang telah diturunkan
besertanya, mereka itulah orang-orang
yang berhasil.” (Al-‘Araaf [7]:158).
Allah Swt. Tidak Pernah Memaksakan Kehendak-Nya & “Al-Haqqu
Murrun” (Kebenaran itu Pahit)
Namun bagaimana pun banyaknya nubuatan-nubuatan
dalam Kitab-kitab suci sebelumnya mengenai
pengutusan rasul Allah yang
kedatangannya dijanjikan tersebut –
terutama Nabi Besar Muhammad saw. -- tetapi Allah Swt. tidak pernah memaksakan kehendak-Nya kepada umat
manusia (QS.2:257; QS.18:30), sehingga
terjadilah pendustaan dan penentangan oleh para pemuka
kaum terhadap para rasul Allah tersebut.
Mengapa demikian?
Sebab jika Allah Swt. berkeinginan memaksakan
kehendak-Nya maka dengan mudah Dia dapat membuat semua
umat manusia akan menjadi “satu
umat beragama” dan menjadi orang-orang yang beriman
kepada rasul Allah yang kedatangannya
dijanjikan, sebagaimana firman-Nya
kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
لَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ اَلَّا یَکُوۡنُوۡا مُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ اِنۡ نَّشَاۡ نُنَزِّلۡ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ السَّمَآءِ اٰیَۃً فَظَلَّتۡ اَعۡنَاقُہُمۡ لَہَا خٰضِعِیۡنَ ﴿﴾
وَ مَا
یَاۡتِیۡہِمۡ مِّنۡ ذِکۡرٍ مِّنَ الرَّحۡمٰنِ مُحۡدَثٍ اِلَّا
کَانُوۡا عَنۡہُ مُعۡرِضِیۡنَ ﴿ ﴾ فَقَدۡ
کَذَّبُوۡا فَسَیَاۡتِیۡہِمۡ اَنۡۢبٰٓؤُا مَا کَانُوۡا بِہٖ
یَسۡتَہۡزِءُوۡنَ ﴿ ﴾
Boleh jadi engkau akan membinasakan
diri engkau [oleh kesedihan] karena
mereka tidak mau beriman. Jika Kami kehendaki Kami dapat menurunkan kepada
mereka suatu Tanda dari langit, sehingga leher-leher mereka akan tertunduk di hadapannya. Dan tidak pernah datang kepada mereka
peringatan yang baru dari [Tuhan] Yang Maha Pemurah melainkan mereka selalu berpaling darinya. Maka
sesungguhnya mereka telah mendustakan,
tetapi segera datang kepada mereka kabar-kabar mengenai apa yang pernah mereka
olok-olokkan (Asy-Syu’araa [26]:4-7).
Pertanyaannya adalah: Mengapa para pemuka kaum di berbagai zaman kenabian senantiasa mendustakan dan menentang keras para rasul
Allah yang kedatangannya dijanjikan
kepada mereka (QS.7:35-37)? Jawabannya dalam ungkapan dalam bahasa Arab: “Al-Haqqu murrun” (kebenaran itu pahit).”
Walau ungkapan tersebut bersifat umum
tetapi secara khusus sangat ditepat dihubungkan dengan penyebab
terjadinya penentangan yang
dilakukan kaum-kaum purbakala
kepada pengutusan para Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka
(QS.7:35-37), sebab para rasul
(nabi) Allah tersebut senantiasa membawa kebenaran yang tidak
sukai para pemuka kaum pada
zaman itu – khususnya Tauhid Ilahi (QS.16:37; QS.35:25) -- sebagaimana
firman-Nya mengenai Bani Israil:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنَا
مُوۡسَی الۡکِتٰبَ وَ قَفَّیۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ بِالرُّسُلِ ۫ وَ اٰتَیۡنَا
عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ الۡبَیِّنٰتِ وَ اَیَّدۡنٰہُ بِرُوۡحِ الۡقُدُسِ ؕ
اَفَکُلَّمَا جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌۢ بِمَا لَا تَہۡوٰۤی اَنۡفُسُکُمُ
اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ۚ فَفَرِیۡقًا
کَذَّبۡتُمۡ ۫ وَ فَرِیۡقًا تَقۡتُلُوۡنَ
﴿﴾وَ قَالُوۡا قُلُوۡبُنَا غُلۡفٌ ؕ بَلۡ لَّعَنَہُمُ اللّٰہُ بِکُفۡرِہِمۡ فَقَلِیۡلًا مَّا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾وَ لَمَّا
جَآءَہُمۡ کِتٰبٌ مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَہُمۡ ۙ وَ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ یَسۡتَفۡتِحُوۡنَ
عَلَی الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ۚۖ فَلَمَّا جَآءَہُمۡ مَّا عَرَفُوۡا کَفَرُوۡا بِہٖ
۫ فَلَعۡنَۃُ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan sungguh
Kami benar-benar telah memberikan Alkitab kepada Musa dan Kami mengikutkan rasul-rasul di
belakangnya, dan Kami
memberikan kepada Isa Ibnu Maryam Tanda-tanda yang nyata, dan juga
Kami memperkuatnya dengan Ruhulqudus.
Maka apakah patut setiap datang
kepada kamu seorang rasul dengan membawa apa yang tidak disukai oleh
dirimu kamu berlaku takabur,
lalu sebagian kamu dustakan dan sebagian
lainnya kamu bunuh? Dan mereka berkata: ”Hati kami tertutup.” Tidak, bahkan Allah
telah mengutuk mereka karena kekafiran mereka maka sedikit
sekali apa yang mereka imani. Dan tatkala datang kepada mereka sebuah Kitab yakni Al-Quran dari Allah menggenapi apa yang ada pada mereka,
sedangkan sebelum itu mereka senantiasa
memohon kemenangan atas
orang-orang kafir, tetapi tatkala datang
kepada mereka apa yang mereka kenali itu
lalu mereka kafir kepadanya
maka laknat Allah atas
orang-orang kafir (Al-Baqarah [2]:88-90).
Pernyataan Allah Swt. dalam ayat tersebut: اَفَکُلَّمَا
جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌۢ بِمَا لَا تَہۡوٰۤی اَنۡفُسُکُمُ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ۚ فَفَرِیۡقًا کَذَّبۡتُمۡ ۫ وَ فَرِیۡقًا تَقۡتُلُوۡنَ -- Maka apakah patut
setiap datang kepada kamu seorang rasul dengan membawa apa yang tidak disukai
oleh dirimu kamu berlaku takabur,
lalu sebagian kamu dustakan dan sebagian
lainnya kamu bunuh?” membenarkan
ungkapan “Al-Haqqu murrun” (kebenaran itu pahit), dan alasan penentangan mereka: وَ قَالُوۡا
قُلُوۡبُنَا غُلۡفٌ -- “Dan mereka berkata: ”Hati kami tertutup” dijawab Allah Swt.: بَلۡ لَّعَنَہُمُ اللّٰہُ
بِکُفۡرِہِمۡ فَقَلِیۡلًا مَّا
یُؤۡمِنُوۡنَ -- Tidak, bahkan Allah
telah mengutuk mereka karena kekafiran mereka maka sedikit
sekali apa yang mereka imani.”
Cenderung Kepada Kemusyrikan
Pengutusan para nabi Allah di kalangan Bani
Israil setelah Nabi Musa a.s.
tersebut karena pada umumnya mereka itu cenderung kepada kemusyrikan, akibat selama 400 tahun mereka berada dalam penguasaan
para fir’aun di Mesir yang menyembah sapi, sehingga ketika mereka ditinggal Nabi Musa a.s. selama 40 hari ke gunung Thur,
mereka kembali menyembah patung anak sapi buatan Samiri, padahal Nabi Harun
a.s. ada bersama mereka (QS.7:143-152; QS.20:82-99).
Kecenderungan kepada kemusyrikan di kalangan Bani
Israil tersebut lebih jauh dikemukakan Allah Swt. dalam Al-Quran,
firman-Nya:
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ ابۡنُ
اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ
قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾ اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا
مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ
وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ
مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا
لِیَعۡبُدُوۡۤا اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾ یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ
بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ
اِلَّاۤ اَنۡ یُّتِمَّ نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾ ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی
الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ
کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾
Dan orang-orang
Yahudi berkata: “Uzair adalah anak
Allah”, dan orang-orang Nasrani
berkata: “Al-Masih adalah anak Allah.” Demikian itulah perkataan mereka dengan mulutnya,
mereka meniru-niru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah membinasakan mereka, bagaimana mereka sampai dipa-lingkan dari
Tauhid? Mereka
telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan
selain Allah, dan begitu juga Al-Masih
ibnu Maryam, padahal mereka tidak
dipe-rintahkan melainkan supaya mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa. Tidak ada Tuhan kecuali Dia. Maha-suci Dia
dari apa yang mereka sekutukan. Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah dengan
mulut mereka, tetapi Allah menolak
bahkan menyempurnakan cahaya-Nya, walau-pun orang-orang kafir tidak menyukai. Dia-lah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq
(benar), supaya Dia mengunggulkannya
atas semua agama walau-pun orang-orang
musyrik tidak menyukainya. (At-Taubah [9]:30-33).
Akibat Kutukan Allah Swt. & Pentingnya Kesinambungan
Rasul Allah
Kembali kepada firman Allah sebelumnya
(QS.2:88-90), ada pun yang dimaksud dengan “Allah
telah mengutuk mereka karena kekafiran mereka”, perlu diketahui bahwa nubuatan-nubuatan mengenai kedatangan nabi (rasul) Allah yang dijanjikan di kalangan Bani Adam tersebut (QS.7:35-37) benar-benar
diketahui
oleh para pemuka agama tersebut,
bagaikan mereka mengenali anak-anak
mereka sendiri (QS.2:147; QS.6:21) -- termasuk nubuatan mengenai kedatangan Nabi Besar Muhammad saw., yang di
dalam Bible dan Al-Quran disebut sebagai “Nabi
yang seperti Musa” (Ulangan
18:18-19 dan Al-Ahqaf [46]:11) -- sebagaimana diterangkan ayat selanjutnya:
وَ لَمَّا جَآءَہُمۡ کِتٰبٌ مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ مُصَدِّقٌ لِّمَا
مَعَہُمۡ ۙ وَ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
یَسۡتَفۡتِحُوۡنَ عَلَی الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ۚۖ فَلَمَّا جَآءَہُمۡ مَّا
عَرَفُوۡا کَفَرُوۡا بِہٖ ۫ فَلَعۡنَۃُ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan tatkala datang kepada mereka sebuah Kitab yakni Al-Quran dari Allah menggenapi apa yang ada pada mereka,
sedangkan sebelum itu mereka senantiasa
memohon kemenangan atas
orang-orang kafir, tetapi tatkala datang
kepada mereka apa yang mereka kenali itu
lalu mereka kafir kepadanya
maka laknat Allah atas
orang-orang kafir. (Al-Baqarah [2]:90).
Dengan demikian jelaslah, bahwa penyebab
utama dari terjadinya pendustaan
dan penentangan yang dilakukan para pemuka kaum terhadap rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka (QS.7:35-37) –
termasuk di kalangan Bani Israil -- adalah
karena:
(1)
Haq (kebenaran) yang dibawa
oleh para rasul Allah tersebut
dirasakan sangat pahit oleh para pemuka kaum purbakala tersebut karena bertentangan dengan akidah
dan amal yang mereka lakukan (QS.2:88-91; QS.23:72).
(2)
Mereka menganut pemahaman sesat
bahwa silsilah pengutusan para nabi Allah telah berakhir (tertutup) -- yakni faham “laa nabiya ba’dahu” (tidak akan ada lagi nabi
sesudahnya, – QS.10:75; QS.40:35-36;
QS.72:8) – sebab sepeninggal para nabi Allah
umumnya umat manusia cenderung kepada
berbagai bentuk “kemusyrikan” dan “perpecahan umat” sebagaimana dikemukakan
dalam QS.9:30-33; QS.2:114 dan QS.30:31-33, padahal silsilah pengutusan para rasul Allah dari kalangan Bani Adam tetap berlangsung untuk mengajak kembali mereka kepada Tauhid Ilahi yang hakiki (QS.99:1-9), firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ اَجَلٌ ۚ
فَاِذَا جَآءَ اَجَلُہُمۡ
لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً وَّ
لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ
اٰدَمَ اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ
رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ
فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ
اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ
اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan bagi tiap-tiap umat ada batas
waktu, maka apabila telah
datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun
dan tidak pula dapat memajukannya.
Wahai Bani Adam, jika
datang kepada kamu rasul-rasul
dari antaramu yang menceritakan Ayat-ayat-Ku kepada kamu, maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, maka tidak akan ada ketakutan menimpa mereka
dan tidak pula mereka akan bersedih hati.
Dan orang-orang
yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan
takabur berpaling darinya, mereka itu
penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-A’raaf [7]:35-37).
Ayat 36
patut mendapat perhatian
istimewa. Seperti pada beberapa ayat sebelumnya (yakni QS.7:27, 28 & 32),
seruan dengan kata-kata Hai anak-cucu Adam, ditujukan kepada umat manusia di zaman Nabi Besar
Muhammad saw. dan kepada generasi-generasi yang akan lahir setelah beliau saw., bukan kepada umat-umat yang hidup di masa jauh silam
dan yang datang tak lama sesudah masa
Nabi Adam a.s..
Kutukan
Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa a.s.
Kata-kata dalam ayat 37 berarti, bahwa mereka yang menolak Utusan-utusan Allah akan
melihat dengan mata kepala sendiri penyempurnaan kabar-kabar gaib yang meramalkan kekalahan dan kegagalan
mereka (QS.58:21-22; QS.5:57; QS.37:172-173), dan mereka akan merasakan hukuman (azab) yang dijanjikan kepada mereka karena menentang
utusan-utusan Allah,
sebagaimana yang menimpa kaum Nabi
Nuh a.s. sampai dengan para penentang
Nabi Besar Muhammad saw., itulah sebabnya Allah Swt. telah mengumpamakan keadaan mereka
itu keadaannya seperti laba-laba
yang membuat sarang (QS.29:41-44), walau pun mereka itu merupakan golongan mayoritas yang memiliki kekuasaan duniawi, contohnya Fir’aun dan kaumnya (QS.26:53-68).
Bahkan Allah Swt. dalam
Al-Quran menyatakan bahwa azab Ilahi yang menimpa kaum-kaum tersebut -- termasuk
2 kali azab Ilahi yang menimpa
Bani Israil (QS.17:5-9) -- adalah
akibat kutukan dari Rasul Allah yang mereka dustakan dan zalimi, firman-Nya:
لُعِنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡۢ بَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی لِسَانِ دَاوٗدَ
وَ عِیۡسَی ابۡنِ مَرۡیَمَ ؕ ذٰلِکَ بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا
یَعۡتَدُوۡنَ ﴿﴾ کَانُوۡا لَا
یَتَنَاہَوۡنَ عَنۡ مُّنۡکَرٍ فَعَلُوۡہُ ؕ لَبِئۡسَ مَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾ تَرٰی کَثِیۡرًا
مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ؕ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ
اَنۡفُسُہُمۡ اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ
﴿﴾ وَ لَوۡ کَانُوۡا
یُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ النَّبِیِّ وَ
مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ مَا اتَّخَذُوۡہُمۡ اَوۡلِیَآءَ وَ لٰکِنَّ کَثِیۡرًا
مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Orang-orang yang kafir dari
kalangan Bani Israil telah dilaknat
oleh lidah Daud dan Isa ibnu Maryam, hal demikian itu karena mereka senantiasa durhaka dan melampaui batas. Mereka tidak
pernah saling mencegah
dari kemungkaran yang dikerjakannya, benar-benar sangat
buruk apa yang senantiasa mereka
kerjakan. Engkau melihat kebanyakan dari mereka menjadikan orang-orang kafir sebagai
pelindung, dan benar-benar
sangat buruk apa yang telah mereka
dahulukan bagi diri mereka yaitu bahwa Allah murka
kepada mereka, dan di dalam azab
inilah mereka akan kekal. Dan seandainya
mereka beriman kepada Allah, Nabi ini, dan kepada apa yang
diturunkan kepadanya, mereka sekali-kali
tidak akan mengambil orang-orang itu sebagai
pelindung-pelindungnya, tetapi kebanyakan mereka adalah orang-orang fasiq.
(Al-Maaidah
[5]:79-82).
(Bersambung)
ooo
Rujukan: The
Holy Quran
Editor : Malik
Ghulam Farid
Pajajaran Anyar, 2 Juli 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar