Bismillāhirrahmānirrahīm
KHAZANAH AL-QURAN
Bab
17
HAKIKAT PENCABUTAN
RUH AL-QURAN
DAN PENGEMBALIANNYA
DARI BINTANG TSURAYYA &
KESEDIHAN RASUL AKHIR ZAMAN
Oleh
Ki
Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian akhir bab sebelumnya
telah dikemukakan topic: Jaminan Pemeliharaan Allah Swt. Terhadap Al-Quran, Bukan Terhadap Umat Islam, sehubungan
dua kali pengutusan Nabi Besar
Muhammad Saw., sebagaimana dinubuatkan
dalam firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡ بَعَثَ
فِی الۡاُمِّیّٖنَ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ
وَ یُزَکِّیۡہِمۡ وَ یُعَلِّمُہُمُ
الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭
وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾ وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ
یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ
الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang
buta huruf seorang rasul
dari antara
mereka, yang membacakan kepada mereka
Tanda-tanda-Nya, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan
yang nyata, وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ -- Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang
belum bertemu dengan mereka. Dan
Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ -- Itulah karunia Allah, Dia meng-anugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah
[62]:3-5).
Misal Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. dan Hubungannya Dengan Salman Al-Farisi r.a.
Isyarat di dalam ayat وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ
لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- “Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang
belum bertemu dengan mereka. Dan
Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana” dan
di dalam hadits Nabi saw. yang termasyhur, tertuju kepada pengutusan Nabi
Besar Muhammad saw. untuk
kedua kali dalam wujud Masih Mau’ud
a.s. – yakni misal Nabi Isa
Ibnu Maryam s.s. (QS.43:58) atau Imam Mahdi a.s. -- di Akhir
Zaman ini, firman-Nya:
وَ لَمَّا
ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ مَثَلًا اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ یَصِدُّوۡنَ ﴿﴾
Dan
apabila Ibnu Maryam dikemukakan sebagai
misal tiba-tiba kaum engkau
meneriakkan penen-tangan terhadapnya (Az-Zukhruf [43]:58).
Shadda (yashuddu) berarti: ia
menghalangi dia dari sesuatu, dan shadda (yashiddu) berarti: ia
mengajukan sanggahan (protes) (Aqrab-ul-Mawarid).
Kedatangan Al-Masih a.s. yang dilahirkan tanpa
seorang ayah laki-laki dari kalangan Bani
Israil adalah tanda bahwa orang-orang Yahudi -- akibat
kedurhakaan berulang-ulang mereka (QS.2:66-89; QS.5:79-80) -- akan dihinakan dan direndahkan serta mereka akan kehilangan kenabian untuk selama-lamanya.
Karena matsal berarti
sesuatu yang semacam dengan atau sejenis dengan yang lain (QS.6:39), ayat
ini, di samping arti yang diberikan dalam ayat ini, dapat pula berarti bahwa
ketika kaum Nabi Besar Muhammad
saw. — yaitu kaum Muslimin — diberitahu bahwa orang lain seperti dan merupakan sesama
(misal) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. akan
dibangkitkan di antara mereka untuk memperbaharui
mereka dan mengembalikan kejayaan
ruhani mereka yang telah hilang (QS.61:10), maka daripada bergembira
atas kabar gembira itu malah mereka berteriak mengajukan protes, seperti yang dilakukan kaum
Yahudi terhadap Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. Jadi, ayat ini dapat dianggap mengisyaratkan kepada kedatangan Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. untuk
kedua kalinya.
Sehubungan makna ayat وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ
لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- “Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang
belum bertemu dengan mereka. Dan
Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana” (QS.62:4)
tersebut Abu Hurairah r.a. berkata:
“Pada suatu hari kami sedang duduk-duduk bersama
Rasulullah saw., ketika Surah Al-Jumu’ah
diturunkan. Saya minta keterangan kepada Rasulullah saw.: “Siapakah yang
diisyaratkan oleh kata-kata Dan Dia akan membangkitkannya pada kaum lain
dari antara mereka yang belum bertemu dengan mereka?” – Salman al-Farsi
(Salman asal Parsi) sedang duduk di antara kami.
Setelah saya
berulang-ulang mengajukan pertanyaan itu, Rasulullah Saw. meletakkan
tangan beliau saw. pada tubuh Salman dan bersabda: “Bila iman telah terbang ke
Bintang Tsuraya, seorang lelaki dari mereka ini pasti akan menemukannya.” (Bukhari).
Hadits Nabi Besar Muhammad saw. ini menunjukkan bahwa ayat ini
dikenakan kepada seorang lelaki dari keturunan Parsi. Dan Masih Mau’ud a.s., pendiri Jemaat
Muslim Ahmadiyah -- walau pun termasuk ahli
bait Nabi Besar Muhammad saw. adalah dari keturunan Parsi. Dengan demikian jelaslah mengapa Nabi Besar
Muhammad saw. telah bersabda bahwa Salman
al-Farisi r.a. termasuk ahli bait
beliau saw., sekali pun Salman r.a.
berkebangsaan Farsi (Iran).
Hadits
Nabi Besar Muhammad saw. lainnya
menyebutkan kedatangan Al-Masih yang dijanjikan pada saat ketika tidak ada
yang tertinggal di dalam Al-Quran
kecuali kata-katanya, dan tidak ada
yang tertinggal di dalam Islam selain
namanya, yaitu, jiwa ajaran Islam yang sejati akan lenyap (Baihaqi). Jadi, Al-Quran dan hadits kedua-duanya sepakat
bahwa ayat ini menunjuk kepada kedatangan
kedua kali Nabi Besar Muhammad saw. dalam wujud Masih
Mau’ud a.s. guna mewujudkan kejayaan
Islam yang kedua kali di Akhir Zaman (QS.61:10)
setelah mengalami masa kemunduran selama 1000 tahun (QS.32:6).
Janji Pemeliharaan Allah
Swt. Terhadap Al-Quran, Bukan
Terhadap Umat Islam & Komentar Para Kritikus Non-Muslim
Walau pun benar bahwa menurut QS.32:6 Islam – setelah mengalami masa kejayaan yang pertama selama 3 abad
-- akan mengalami masa kemunduran
dalam berbagai bidang selama 1000 tahun,
tetapi janji Allah Swt. bahwa Dia akan senantiasa memelihara
Al-Quran dari berbagai bentuk kerusakan
– baik dari segi teks (tulisan) mau pun dari segi pemahaman yang benar --
tetap berlaku, firman-Nya:
اِنَّا نَحۡنُ
نَزَّلۡنَا الذِّکۡرَ وَ اِنَّا
لَہٗ لَحٰفِظُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya
”Kami-lah Yang menurunkan
peringatan ini, dan sesungguhnya Kami-lah
pemeliharanya. (Al-Hijr [15]:10).
Janji
mengenai perlindungan dan penjagaan Al-Quran yang diberikan dalam
ayat ini telah genap dengan cara yang
sangat menakjubkan, sehingga
sekalipun andaikata tidak ada bukti-bukti lainnya, kenyataan ini saja niscaya
sudah cukup membuktikan bahwa Al-Quran itu berasal dari Allah Swt. --
bukan buatan Nabi Besar Muhammad saw.
sebagaimana tuduhan dusta pihak-pihak Non-Muslim (QS.16:104; QS.25:5-7).
Surah ini diturunkan di Mekkah
(Noldeke pun mengakuinya), ketika kehidupan Nabi Besar Muhammad saw. beserta
para pengikut beliau saw. sangat morat-marit
keadaannya, dan musuh-musuh dengan mudah dapat menghancurkan agama yang baru
itu.
Ketika itulah orang-orang kafir ditantang untuk
mengerahkan segenap tenaga mereka guna menghancurkan
Islam, dan mereka diperingatkan
bahwa Allah Swt. akan menggagalkan segala tipu-daya mereka
sebab Dia Sendirilah Penjaganya (Pemeliharanya).
Tantangan Allah Swt. itu
terbuka dan tidak samar-samar, sedangkan keadaan musuh kuat lagi kejam, kendatipun
demikian Al-Quran tetap selamat dari perubahan, penyisipan,
dan pengurangan, serta senantiasa
terus-menerus menikmati penjagaan yang
sempurna dari Allah Swt., baik secara fisik
mau pun secara ruhani. Keistimewaan Al-Quran yang demikian itu tidak dimiliki oleh Kitab-kitab lainnya yang diwahyukan
sebelum Al-Quran.
Sir Williams Muir, sarjana ahli kritik yang tersohor, karena
sikapnya memusuhi Islam, berkata: “Kita dapat menetapkan berdasarkan dugaan
yang paling keras, bahwa tiap-tiap ayat dalam Al-Quran itu asli dan merupakan
gubahan Muhammad sendiri yang tidak mengalami perubahan ......................
Ada jaminan yang kuat, baik dari dalam Alquran maupun dari luar, bahwa kita
memiliki teks yang Muhammad sendiri siarkan dan pergunakan
...................... Membandingkan teks asli mereka yang tidak mengalami
perubahan itu dengan berbagai naskah kitab-kitab suci kita, adalah
membandingkan hal-hal yang antaranya tidak ada persamaan (Introduction to “The Life of Mohammad”).
Prof. Noldeke, ahli ketimuran besar yang
berkebangsaan Jerman menulis sebagai berikut, “Usaha-usaha dari para sarjana Eropa untuk membuktikan adanya
sisipan-sisipan dalam Al-Quran di masa kemudian, telah gagal” (Encyclopardia Britannica).
Kegagalan mutlak dari Dr.
Mingana, beberapa tahun berselang, untuk mencari-cari kelemahan dalam kemurnian
teks Al-Quran, membuktikan dengan pasti kebenaran
da'wa kitab itu, bahwa di antara semua
kitab suci yang diwahyukan, hanya
Al-Quran sajalah yang seluruhnya tetap kebal dari penyisipan atau campur-tangan
manusia (QS.41:42-43), firman-Nya:
اِنَّا نَحۡنُ
نَزَّلۡنَا الذِّکۡرَ وَ اِنَّا
لَہٗ لَحٰفِظُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya
”Kami-lah Yang menurunkan
peringatan ini, dan sesungguhnya Kami-lah
pemeliharanya. (Al-Hijr [15]:10).
Akibat Buruk Penarikan “Ruh”
Al-Quran Bagi Umat Islam
Demikian juga
penjagaan Al-Quran dari segi ruhani pun terus dilakukan pada masa umat
Islam pun mengalami kemunduran selama
1000 tahun (QS.32:6) akibat pencabutan kembali ruh
Al-Quran yang hakiki dari kalangan umat Islam secara bertahap oleh Allah
Swt., sehingga genaplah sabda Nabi
Besar Muhammad saw. mengenai keadaan Islam
(Al-Quran) dan umat Islam di masa puncak
kemundurannya pada abad 14 Hijriyah:
"Nabi Besar Muhammad saw. bersabda: " Ya-ti zamanun (akan datang suatu zaman), lā yabqa minal Islami illa- smuhu
(tidak tinggal Islam kecuali
namanya saja; lā yabqa minal qurani illa rasmuhu
(tidak tinggal Al-Quran kecuali tulisan saja); masājiduhum
āmiratun wahiya harabun minal hadiy (masjid-masjid mereka ramai dan
berdiri megah dimana-mana tetapi kosong dari petunjuk); ‘ulama’uhum
syarru man tahta ‘adimis samai’ (ulama-ulama yang lahir merupakan manusia
jelek di muka bumi ini)” (Diriwayatkan oleh Baihaqi).
Nubuatan Nabi
Besar Muhammad saw. tersebut sesuai dengan firman Allah Swt. berikut ini:
وَ
یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ الرُّوۡحِ ؕ قُلِ الرُّوۡحُ مِنۡ اَمۡرِ رَبِّیۡ وَ مَاۤ اُوۡتِیۡتُمۡ مِّنَ الۡعِلۡمِ اِلَّا قَلِیۡلًا ﴿﴾ وَ لَئِنۡ شِئۡنَا لَنَذۡہَبَنَّ بِالَّذِیۡۤ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَکَ
بِہٖ عَلَیۡنَا وَکِیۡلًا ﴿ۙ﴾ اِلَّا رَحۡمَۃً مِّنۡ رَّبِّکَ ؕ اِنَّ فَضۡلَہٗ
کَانَ عَلَیۡکَ کَبِیۡرًا ﴿﴾ قُلۡ لَّئِنِ اجۡتَمَعَتِ الۡاِنۡسُ وَ
الۡجِنُّ عَلٰۤی اَنۡ یَّاۡتُوۡا بِمِثۡلِ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ لَا یَاۡتُوۡنَ
بِمِثۡلِہٖ وَ لَوۡ کَانَ بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ
ظَہِیۡرًا ﴿﴾
Dan mereka bertanya kepada engkau mengenai ruh, katakanlah: “Ruh telah diciptakan atas
perintah Rabb-ku (Tuhan-ku), dan kamu
sama sekali tidak diberi ilmu tentang itu melainkan sedikit.” Dan jika Kami benar-benar menghendaki, niscaya Kami mengambil kembali apa yang telah Kami wahyukan kepada engkau
dan kemudian engkau tidak akan
memperoleh penjaga baginya terhadap Kami dalam hal itu. Kecuali karena
rahmat dari Rabb (Tuhan) engkau,
sesungguhnya karunia-Nya sangat besar
kepada engkau. Katakanlah:
“Jika
manusia dan jin benar-benar berhimpun
untuk mendatangkan yang semisal Al-Quran ini, mereka tidak akan sanggup mendatangkan yang sama
seperti ini, walaupun sebagian mereka membantu sebagian yang lain.”
(Bani
Israil [17]:86-89).
Dalam masa kemunduran
dan kejatuhan ruhani orang-orang
Yahudi, mereka mereka nampaknya asyik berkecimpung dalam kebiasaan-kebiasaan ilmu klenik (occult), seperti halnya
banyak ahli kebatinan modern, para
pengikut gerakan teosofi dan yogi-yogi Hindu.
Nampaknya di masa Nabi Besar Muhammad saw. pun beberapa orang Yahudi di Medinah telah menempuh cara-cara kebiasaan semacam
itu. Itulah sebabnya mengapa ketika orang-orang
musyrik Mekkah mencari bantuan orang-orang
Yahudi untuk membungkam Nabi
Besar Muhammad saw., mereka memberi saran supaya orang-orang musyrik Mekkah itu menanyakan
kepada beliau saw. saw. hakikat ruh
manusia: وَ یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ الرُّوۡحِ -- “Dan mereka bertanya kepada engkau mengenai ruh.”
Masalah Hakikat “Ruh”
Merupakan Wewenang Allah Swt.
Dalam ayat yang sedang dibahas
ini Al-Quran menjawab pertanyaan
mereka dengan mengatakan: قُلِ الرُّوۡحُ مِنۡ اَمۡرِ رَبِّیۡ وَ مَاۤ اُوۡتِیۡتُمۡ مِّنَ الۡعِلۡمِ اِلَّا قَلِیۡلًا -- katakanlah: “Ruh telah diciptakan atas
perintah Rabb-ku (Tuhan-ku), dan kamu
sama sekali tidak diberi ilmu tentang itu melainkan sedikit.” Bahwa ruh memperoleh daya kekuatannya dari perintah
Ilahi, dan cara atau metode apa pun yang menurut kepercayaan orang dapat diperoleh dengan
perantaraan apa yang dikatakan latihan-latihan
batin dan ilmu sihir, adalah
semata-mata tipuan dan omong-kosong belaka.
Menurut riwayat pertanyaan-pertanyaan mengenai sifat ruh manusia pertama-tama diajukan kepada
Nabi Besar Muhammad saw. di kota Mekkah oleh orang-orang Quraisy dan kemudian menurut ‘Abdullah bin Mas’ud r.a.
— oleh orang-orang Yahudi di Medinah.
Dalam ayat tersebut ruh
disebut sesuatu yang diciptakan atas perintah langsung dari Allah Swt.: قُلِ الرُّوۡحُ مِنۡ اَمۡرِ
رَبِّیۡ
-- “katakanlah: “Ruh telah diciptakan atas perintah Rabb-ku (Tuhan-ku)“.
Menurut Al-Quran semua penciptaan
terdiri dari dua jenis:
(1) Kejadian permulaan yang dilaksanakan tanpa
mempergunakan zat atau benda yang telah diciptakan sebelumnya, yakni menciptakan sesuatu yang ada dari ketiadaan.
(2)
Kejadian (penciptaan) selanjutnya yang dilaksanakan dengan mempergunakan sarana dan benda yang telah diciptakan sebelumnya, yakni berupa rangkaian hukum “sebab-akibat.”
Kejadian (penciptaan) macam
pertama termasuk jenis amr (arti harfiahnya ialah perintah), yang untuk itu lihat QS.2:118, dan cara kedua disebut khalq
(arti harfiahnya ialah menciptakan).
Menurut Allah Swt. ruh manusia termasuk jenis amr
(perintah). Kata ruh
itu berarti pula wahyu Ilahi (Lexicon Lane), letaknya kata ini di sini agaknya
mendukung arti demikian, sesuai firman-Nya dalam QS.42:52-54.
Ayat
ini nampaknya mengandung nubuatan
bahwa akan datang suatu saat ketika ilmu
Al-Quran akan lenyap dari bumi (QS.32:6). Nubuatan Nabi Besar
Muhammad saw. serupa itu telah diriwayatkan oleh Mardawaih, Baihaqi, dan Ibn Majah, ketika ruh dan jiwa ajaran Al-Quran akan hilang lenyap dari bumi, dan semua orang yang dikenal sebagai ahli-ahli mistik dan para sufi yang mengakui memiliki kekuatan batin istimewa — seperti pula
diakui oleh segolongan orang-orang Yahudi
dahulu kala yang sifatnya serupa dengan mereka — tidak akan berhasil mengembalikan jiwa ajaran Al-Quran dengan usaha mereka bersama-sama (QS.17:89).
Tantangan ini pertama-tama diajukan kepada
mereka yang berkecimpung dalam kebiasaan-kebiasaan
klenik, supaya mereka meminta pertolongan
ruh-ruh gaib, yang darinya orang-orang ahli
kebatinan itu — menurut pengakuannya
sendiri — menerima ilmu ruhani.
Tantangan Al-Quran ini berlaku pula untuk semua orang yang menolak Al-Quran bersumber dari Allah Swt. dan tantangan tersebut berlaku untuk sepanjang masa.
Persamaan Perlakuan Zalim
Terhadap Para Mujaddid Muslim Dengan
Para Nabi Bani Israil Setelah Nabi
Musa a.s.
Walau pun
demikian, dalam rangka memenuhi janji
pemeliharaan-Nya terhadap Al-Quran
dalam QS.15:10, Allah Swt. pada
setiap permulaan abad senantiasa
membangkitkan para mujaddid di
kalangan umat Islam, tetapi dalam
kenyataannya para mujaddid Muslim tersebut telah diperlakukan
buruk oleh para pemuka Muslim
pada zamannya, seperti perlakukan buruk para pemuka Bani Israil (kaum Yahudi) terhadap para nabi Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka,
firman-Nya:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنَا مُوۡسَی الۡکِتٰبَ وَ قَفَّیۡنَا مِنۡۢ
بَعۡدِہٖ بِالرُّسُلِ ۫ وَ اٰتَیۡنَا عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ الۡبَیِّنٰتِ وَ
اَیَّدۡنٰہُ بِرُوۡحِ الۡقُدُسِ ؕ اَفَکُلَّمَا جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌۢ بِمَا لَا
تَہۡوٰۤی اَنۡفُسُکُمُ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ۚ
فَفَرِیۡقًا کَذَّبۡتُمۡ ۫ وَ
فَرِیۡقًا تَقۡتُلُوۡنَ ﴿﴾ وَ قَالُوۡا قُلُوۡبُنَا غُلۡفٌ ؕ بَلۡ لَّعَنَہُمُ
اللّٰہُ بِکُفۡرِہِمۡ فَقَلِیۡلًا مَّا
یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾ وَ لَمَّا جَآءَہُمۡ کِتٰبٌ مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ مُصَدِّقٌ
لِّمَا مَعَہُمۡ ۙ وَ کَانُوۡا مِنۡ
قَبۡلُ یَسۡتَفۡتِحُوۡنَ عَلَی الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ۚۖ فَلَمَّا جَآءَہُمۡ مَّا
عَرَفُوۡا کَفَرُوۡا بِہٖ ۫ فَلَعۡنَۃُ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ بِئۡسَمَا
اشۡتَرَوۡا بِہٖۤ اَنۡفُسَہُمۡ
اَنۡ یَّکۡفُرُوۡا بِمَاۤ اَنۡزَلَ
اللّٰہُ بَغۡیًا اَنۡ یُّنَزِّلَ اللّٰہُ
مِنۡ فَضۡلِہٖ عَلٰی مَنۡ یَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِہٖ ۚ
فَبَآءُوۡ بِغَضَبٍ عَلٰی غَضَبٍ ؕ وَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ عَذَابٌ مُّہِیۡنٌ ﴿﴾
Dan sungguh Kami benar-benar telah berikan Alkitab kepada Musa dan Kami mengikutkan rasul-rasul di belakangnya,
dan Kami memberikan kepada Isa Ibnu Maryam Tanda-tanda
yang nyata, dan juga Kami
memperkuatnya dengan Ruhulqudus.
Maka apakah patut setiap
datang kepa-amu seorang rasul dengan membawa apa yang tidak disukai oleh dirimu kamu berlaku
takabur, lalu sebagian kamu dustakan dan sebagian
lainnya kamu bunuh? وَ قَالُوۡا
قُلُوۡبُنَا غُلۡفٌ ؕ بَلۡ لَّعَنَہُمُ اللّٰہُ بِکُفۡرِہِمۡ فَقَلِیۡلًا مَّا یُؤۡمِنُوۡنَ -- Dan mereka berkata: ”Hati kami tertutup.” Tidak, bahkan Allah
telah mengutuk mereka karena kekafiran
mereka maka sedikit sekali apa yang mereka imani. Dan tatkala datang kepada mereka sebuah Kitab
yakni Al-Quran dari Allah menggenapi apa yang ada pada mereka,
sedangkan sebelum itu mereka senantiasa
memohon kemenangan atas
orang-orang kafir, tetapi tatkala datang
kepada mereka apa yang
mereka kenali itu lalu mereka kafir kepadanya فَلَعۡنَۃُ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ -- maka laknat Allah atas orang-orang kafir. Sangat buruk hal yang dengan itu mereka telah menjual dirinya yakni mereka
kafir kepada apa yang diturunkan
Allah, karena dengki bahwa Allah
menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara
hamba-hamba-Nya, فَبَآءُوۡ بِغَضَبٍ عَلٰی غَضَبٍ ؕ وَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ عَذَابٌ مُّہِیۡنٌ -- lalu mereka ditimpa kemurkaan demi kemurkaan, dan bagi orang-orang kafir ada azab yang menghinakan (Al-Baqarah [2]:88-91).
Akibatnya
-- sesuai dengan nubuatan Nabi
Besar Muhammad saw. -- perselisihan
masalah agama di kalangan umat Islam tersebut
maka sebagaimana golongan ahli-Kitab (umat Yahudi dan
Nashrani) terpecah-belah menjadi 72
firqah demikian juga umat Islam pun pecah menjadi 73 firqah dan sekte
yang saling bertentangan dan saling
mengafirkan -- bahkan saling
membinasakan -- sehingga secara politik sangat merugikan keadaan umat Islam
sendiri, sebaliknya perpecahan di
kalangan umat Islam tersebut sangat
menguntungkan para musuh Islam yang sangat berhasrat untuk membalas
kekalahan mereka di masa lampau.
Kesedihan Nabi Besar
Muhammad saw. dan Kesedihan Rasul
Akhir Zaman
Dengan demikian benarlah kesedihan dan sabda Nabi
Besar Muhammad saw dalam hadits qudsi
yang dikemukakan dalam berbagai Bab sebelum ini:
Dari
‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash r.a. bahwa Nabi
saw. membaca firman Allah tentang Ibrahim a.s.:
رَبِّ اِنَّہُنَّ اَضۡلَلۡنَ کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ ۚ فَمَنۡ تَبِعَنِیۡ
فَاِنَّہٗ مِنِّیۡ ۚ وَ مَنۡ عَصَانِیۡ
فَاِنَّکَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ
“Wahai Rabb-ku (Tuhan-ku) sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia, lalu
barangsiapa mengikutiku maka
sesungguhnya ia termasuk golonganku, dan barangsiapa mendurhakaiku maka sesungguhnya
Maha Pengampun Maha Penyayang (Ibrahim
[14]:37).
Dan ‘Isa a.s. berkata:
اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ
فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
“Kalau Engkau mengazab mereka, maka sesungguhnya
mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan kalau Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya
Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha
Bijaksana.” (Al-Māidah [5]:118).
Kemudian beliau saw. mengangkat kedua tangan
seraya bersabda: “Wahai umatku…..umatku”
dan beliau saw. menangis. Allah Yang
Maha Mulia dan Maha Besar berfirman; “Wahai Jibril, pergilah kepada Muhammad – sedangkan Tuhan kamu lebih
mengetahui -- tanyalah kepadanya, “Apakah yang menyebabkan engkau menangis?”
Jibril a.s. datang kepada beliau lalu
bertanya kepada beliau, maka utusan
Allah itu memberitahukan kepada-Nya mengenai apa yang disabdakan beliau -- padahal Allah lebih mengetahui – lalu
Allah Ta’ala berfirman kepada Jibril: “Pergillah
kepada Muhammad dan katakan, “Sesungguhnya Kami akan ridha terhadap umat engkau dan Kami
tidak berbuat buruk kepada engkau” (Muslim).
Kemudian:
Tsauban r.a., ia berkata: Rasulullah
saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah memperlihatkan bumi kepadaku lalu
aku melihat timur dan baratnya, dan sungguh kerajaan umatku akan sampai kepada
bumi yang ditampakkan kepadaku. Aku
diberi dua pembendaharaan yaitu merah
dan putih. Sungguh aku mohon kepada Tuhan-ku bagi umatku agar tidak dihancurkan
dengan tahun yang umum dan tidak dikuasai oleh musuh selain dari mereka
sendiri, lalu ia memusnahkan golongan mereka. Sesungguhnya Tuhan-ku berfirman, “Wahai Muhammad, sesungguhnya apabila Aku
menetapkan suatu ketetapan maka ketetapan itu
tidaklah tertolak. Dan sesungguhnya Aku memberi engkau mengenai umat
engkau tidak Aku hancurkan dengan tahun yang umum, dan Aku tidak menguasakan
musuh atas mereka selain dari mereka sendiri yang memusnahkan golongan mereka,
walau pun berkumpul atas mereka dari seluruh penjuru -- atau Dia berfirman: “dari seluruh penjuru bumi – sehingga sebagian mereka menghancurkan sebagian yang
lain, dan sebagian mereka menawan
terhadap sebagian yang lain” (Muslim).
Kesedihan Nabi Besar Muhammad saw. seperti itu pulalah yang dirasakan oleh Rasul Akhir
zaman menyaksikan keadaan umumnya umat Islam di Akhir zaman sebagai dampak
buruk dari masa kemunduran panjang selama 1000
tahun (QS.32:6), firman-Nya:
اَلۡمُلۡکُ
یَوۡمَئِذِۣ الۡحَقُّ لِلرَّحۡمٰنِ ؕ وَ کَانَ یَوۡمًا عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ
عَسِیۡرًا ﴿﴾ وَ یَوۡمَ یَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰی یَدَیۡہِ یَقُوۡلُ یٰلَیۡتَنِی
اتَّخَذۡتُ مَعَ الرَّسُوۡلِ سَبِیۡلًا ﴿﴾
یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِیۡلًالَقَدۡ
اَضَلَّنِیۡ عَنِ الذِّکۡرِ بَعۡدَ اِذۡ جَآءَنِیۡ ؕ وَ کَانَ الشَّیۡطٰنُ
لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا ﴿﴾ وَ
قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ
مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ
الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾
Kerajaan yang haq pada hari itu milik Yang Maha Pemurah, dan hari itu atas orang-orang kafir sangat
keras. Dan pada
hari itu orang zalim akan menggigit-gigit kedua tangannya lalu berkata: ”Wahai alangkah baiknya jika aku
mengambil jalan bersama dengan Rasul itu. Wahai celakalah aku, alangkah baiknya
seandainya aku tidak menjadikan si fulan
itu sahabat. Sungguh ia
benar-benar telah melalaikanku dari mengingat kepada Allah sesudah ia
datang kepadaku.” وَ کَانَ الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا -- Dan syaitan selalu
menelantarkan manusia. وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا
الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا -- Dan Rasul
itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku),
sesungguhnya kaumku telah menjadikan
Al-Quran ini sesuatu yang telah
ditinggalkan. وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ
عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا -- Dan demikianlah Kami telah
menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi
dari antara orang-orang yang
berdosa, dan cukuplah Rabb (Tuhan)
engkau sebagai pemberi petunjuk dan penolong
(Al-Furqān
[25]:27-33).
Ayat وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی
اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا --
“Dan Rasul itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini sesuatu
yang telah ditinggalkan.“ dengan sangat tepat sekali dapat dikenakan
kepada mereka yang menamakan diri
orang-orang Muslim tetapi telah menyampingkan Al-Quran dan telah melemparkannya ke belakang.
Barangkali belum pernah terjadi
selama 14 abad ini di mana Al-Quran
demikian rupa diabaikan dan dilupakan oleh orang-orang Muslim seperti dewasa ini. Ada sebuah
hadits Nabi Besar Muhammad saw. yang
mengatakan: “Satu saat akan datang kepada
kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari Islam melainkan namanya dan dari
Al-Quran melainkan kata-katanya” (Baihaqi,
Syu’ab ul-iman). Sungguh masa sekarang di Akhir Zaman inilah saat yang
dimaksudkan ayat tersebut.
(Bersambung)
ooo
Rujukan: The
Holy Quran
Editor : Malik
Ghulam Farid