Senin, 31 Juli 2017

Hakikat Pencabutan "Ruh Al-Quran" dan "Pengembaliannya" Dari "Bintang Tsurayya" & Kesedihan "Rasul Akhir Zaman"



Bismillāhirrahmānirrahīm


KHAZANAH  AL-QURAN 

Bab 17

HAKIKAT PENCABUTAN  RUH  AL-QURAN   DAN PENGEMBALIANNYA  DARI BINTANG TSURAYYA  & KESEDIHAN RASUL AKHIR ZAMAN

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir bab sebelumnya  telah dikemukakan  topic:   Jaminan Pemeliharaan Allah Swt. Terhadap Al-Quran, Bukan Terhadap Umat Islam,   sehubungan  dua kali pengutusan Nabi Besar Muhammad Saw., sebagaimana dinubuatkan dalam firman-Nya:
  ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾   وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾   ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang  rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nyamensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyataوَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ   -- Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.   ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ --  Itulah karunia Allah, Dia meng-anugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah [62]:3-5).

Misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan Hubungannya Dengan   Salman Al-Farisi r.a.  

   Isyarat di dalam ayat  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ   -- “Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana”    dan di dalam hadits Nabi saw. yang termasyhur, tertuju kepada pengutusan  Nabi Besar Muhammad saw.   untuk kedua kali dalam wujud  Masih Mau’ud  a.s. – yakni misal Nabi Isa Ibnu Maryam s.s. (QS.43:58)  atau Imam Mahdi a.s.  --   di Akhir Zaman ini, firman-Nya:
وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ  مَثَلًا  اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ  یَصِدُّوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila   Ibnu Maryam dikemukakan  sebagai misal tiba-tiba kaum engkau meneriakkan  penen-tangan  terhadapnya (Az-Zukhruf [43]:58).
   Shadda (yashuddu) berarti: ia menghalangi dia dari sesuatu, dan shadda (yashiddu) berarti: ia mengajukan sanggahan (protes) (Aqrab-ul-Mawarid).  Kedatangan Al-Masih a.s. yang dilahirkan tanpa seorang ayah laki-laki dari kalangan Bani Israil  adalah tanda bahwa orang-orang Yahudi  -- akibat kedurhakaan berulang-ulang  mereka (QS.2:66-89; QS.5:79-80) -- akan dihinakan dan direndahkan serta mereka akan kehilangan kenabian untuk selama-lamanya.
       Karena matsal berarti sesuatu yang semacam dengan atau sejenis dengan yang lain (QS.6:39), ayat ini, di samping arti yang diberikan dalam ayat ini, dapat pula berarti bahwa ketika  kaum  Nabi Besar Muhammad saw.  — yaitu kaum Muslimin — diberitahu bahwa orang lain seperti dan merupakan sesama (misal) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  akan dibangkitkan di antara mereka untuk memperbaharui mereka dan mengembalikan kejayaan ruhani mereka yang telah hilang (QS.61:10), maka daripada  bergembira atas kabar gembira itu malah mereka berteriak  mengajukan protes, seperti yang dilakukan kaum Yahudi terhadap Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Jadi, ayat ini dapat dianggap mengisyaratkan kepada kedatangan Nabi Isa  Ibnu Maryam a.s.   untuk kedua kalinya.
    Sehubungan makna ayat  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ   -- “Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana”  (QS.62:4)  tersebut Abu Hurairah r.a. berkata: “Pada suatu hari kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah saw.,  ketika Surah Al-Jumu’ah diturunkan. Saya minta keterangan kepada Rasulullah saw.: “Siapakah yang diisyaratkan oleh kata-kata  Dan Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka yang belum bertemu dengan mereka?” – Salman al-Farsi (Salman asal Parsi) sedang duduk di antara kami.
   Setelah saya berulang-ulang mengajukan pertanyaan itu, Rasulullah Saw. meletakkan tangan beliau saw. pada tubuh Salman dan bersabda: “Bila iman telah terbang ke Bintang Tsuraya, seorang lelaki dari mereka ini pasti akan menemukannya.” (Bukhari).
    Hadits Nabi Besar Muhammad saw.  ini menunjukkan bahwa ayat ini dikenakan kepada seorang lelaki dari keturunan Parsi.  Dan  Masih Mau’ud a.s.,    pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah -- walau pun termasuk ahli bait Nabi Besar Muhammad saw. adalah dari keturunan Parsi. Dengan demikian jelaslah mengapa Nabi Besar Muhammad saw. telah bersabda bahwa Salman al-Farisi r.a. termasuk ahli bait beliau saw., sekali pun Salman r.a. berkebangsaan Farsi (Iran).
    Hadits  Nabi Besar Muhammad saw.  lainnya menyebutkan kedatangan Al-Masih yang dijanjikan pada saat ketika tidak ada yang tertinggal di dalam Al-Quran kecuali kata-katanya, dan tidak ada yang tertinggal di dalam Islam selain namanya, yaitu, jiwa ajaran Islam yang sejati akan lenyap (Baihaqi). Jadi, Al-Quran dan hadits kedua-duanya sepakat bahwa ayat ini menunjuk kepada kedatangan kedua kali  Nabi Besar Muhammad saw.   dalam wujud   Masih Mau’ud a.s. guna mewujudkan kejayaan Islam yang kedua kali di Akhir Zaman (QS.61:10) setelah mengalami masa kemunduran selama 1000 tahun (QS.32:6).

Janji Pemeliharaan Allah Swt. Terhadap Al-Quran, Bukan Terhadap Umat Islam  & Komentar Para Kritikus Non-Muslim

   Walau pun benar bahwa menurut QS.32:6 Islam – setelah mengalami masa kejayaan yang pertama selama 3 abad   -- akan mengalami masa kemunduran dalam berbagai bidang selama 1000 tahun, tetapi janji Allah Swt.  bahwa Dia  akan senantiasa  memelihara Al-Quran dari berbagai bentuk kerusakan –  baik dari segi teks (tulisan) mau pun dari segi pemahaman  yang benar   --  tetap berlaku, firman-Nya: 
اِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا الذِّکۡرَ  وَ  اِنَّا  لَہٗ  لَحٰفِظُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya  Kami-lah Yang  menurunkan peringatan ini, dan sesungguhnya Kami-lah pemeliharanya.  (Al-Hijr [15]:10).
       Janji mengenai perlindungan dan penjagaan Al-Quran yang diberikan dalam ayat ini telah genap dengan cara yang sangat menakjubkan, sehingga sekalipun andaikata tidak ada bukti-bukti lainnya, kenyataan ini saja niscaya sudah cukup membuktikan  bahwa Al-Quran itu berasal dari Allah Swt.  -- bukan buatan Nabi Besar Muhammad saw. sebagaimana tuduhan dusta  pihak-pihak Non-Muslim (QS.16:104; QS.25:5-7).
     Surah ini diturunkan di Mekkah (Noldeke pun mengakuinya), ketika kehidupan Nabi Besar Muhammad saw. beserta para pengikut beliau saw. sangat morat-marit keadaannya, dan musuh-musuh dengan mudah dapat menghancurkan agama yang baru itu.
    Ketika itulah orang-orang kafir ditantang untuk mengerahkan segenap tenaga mereka guna menghancurkan Islam, dan mereka diperingatkan bahwa Allah Swt.   akan menggagalkan segala tipu-daya mereka sebab Dia Sendirilah Penjaganya (Pemeliharanya).
   Tantangan Allah Swt. itu terbuka dan tidak samar-samar, sedangkan keadaan musuh kuat lagi kejam, kendatipun demikian Al-Quran tetap selamat dari perubahan, penyisipan, dan pengurangan, serta senantiasa terus-menerus menikmati penjagaan yang sempurna dari Allah Swt., baik secara fisik mau pun secara ruhani. Keistimewaan Al-Quran yang demikian itu tidak dimiliki oleh Kitab-kitab lainnya yang diwahyukan sebelum Al-Quran.
      Sir Williams Muir, sarjana ahli kritik yang tersohor, karena sikapnya memusuhi Islam, berkata: “Kita dapat menetapkan berdasarkan dugaan yang paling keras, bahwa tiap-tiap ayat dalam Al-Quran itu asli dan merupakan gubahan Muhammad sendiri yang tidak mengalami perubahan ...................... Ada jaminan yang kuat, baik dari dalam Alquran maupun dari luar, bahwa kita memiliki teks yang Muhammad sendiri siarkan dan pergunakan ...................... Membandingkan teks asli mereka yang tidak mengalami perubahan itu dengan berbagai naskah kitab-kitab suci kita, adalah membandingkan hal-hal yang antaranya tidak ada persamaan (Introduction to “The Life of Mohammad”).
       Prof. Noldeke, ahli ketimuran besar yang berkebangsaan Jerman menulis sebagai berikut, “Usaha-usaha dari para sarjana Eropa untuk membuktikan adanya sisipan-sisipan dalam Al-Quran di masa kemudian, telah gagal” (Encyclopardia Britannica).
      Kegagalan mutlak dari Dr. Mingana, beberapa tahun berselang, untuk mencari-cari kelemahan dalam kemurnian teks Al-Quran, membuktikan dengan pasti kebenaran da'wa kitab itu, bahwa di antara semua kitab suci yang diwahyukan, hanya Al-Quran sajalah yang seluruhnya tetap kebal dari penyisipan atau campur-tangan manusia (QS.41:42-43), firman-Nya:
اِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا الذِّکۡرَ  وَ  اِنَّا  لَہٗ  لَحٰفِظُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya  Kami-lah Yang  menurunkan peringatan ini, dan sesungguhnya Kami-lah pemeliharanya.  (Al-Hijr [15]:10).

Akibat Buruk Penarikan “Ruh” Al-Quran Bagi Umat Islam    

          Demikian juga   penjagaan Al-Quran dari segi ruhani pun  terus dilakukan pada masa  umat Islam pun mengalami kemunduran selama 1000 tahun (QS.32:6)  akibat pencabutan kembali  ruh Al-Quran yang hakiki  dari kalangan umat Islam  secara bertahap oleh Allah Swt., sehingga genaplah sabda Nabi Besar Muhammad saw. mengenai keadaan Islam (Al-Quran) dan umat Islam di masa puncak kemundurannya pada abad 14 Hijriyah:
"Nabi Besar Muhammad saw. bersabda: " Ya-ti zamanun (akan datang suatu zaman), lā yabqa minal Islami illa- smuhu  (tidak   tinggal Islam kecuali namanya saja;  lā yabqa minal qurani illa rasmuhu  (tidak tinggal Al-Quran kecuali tulisan saja);  masājiduhum āmiratun wahiya harabun minal hadiy  (masjid-masjid mereka  ramai dan  berdiri megah dimana-mana tetapi kosong dari petunjuk);  ‘ulama’uhum syarru man tahta ‘adimis samai’ (ulama-ulama yang lahir merupakan manusia jelek di muka bumi ini)” (Diriwayatkan oleh Baihaqi).
         Nubuatan Nabi Besar Muhammad saw. tersebut sesuai dengan firman Allah Swt. berikut ini:
وَ یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ الرُّوۡحِ ؕ قُلِ الرُّوۡحُ مِنۡ  اَمۡرِ رَبِّیۡ وَ مَاۤ  اُوۡتِیۡتُمۡ مِّنَ الۡعِلۡمِ اِلَّا  قَلِیۡلًا ﴿﴾  وَ لَئِنۡ شِئۡنَا لَنَذۡہَبَنَّ بِالَّذِیۡۤ  اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَکَ بِہٖ عَلَیۡنَا  وَکِیۡلًا ﴿ۙ﴾  اِلَّا رَحۡمَۃً  مِّنۡ رَّبِّکَ ؕ اِنَّ  فَضۡلَہٗ  کَانَ عَلَیۡکَ  کَبِیۡرًا ﴿﴾  قُلۡ لَّئِنِ اجۡتَمَعَتِ الۡاِنۡسُ وَ الۡجِنُّ عَلٰۤی اَنۡ یَّاۡتُوۡا بِمِثۡلِ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ لَا یَاۡتُوۡنَ بِمِثۡلِہٖ وَ لَوۡ کَانَ بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ  ظَہِیۡرًا ﴿﴾
Dan mereka bertanya kepada engkau mengenai ruh,  katakanlah: “Ruh telah diciptakan atas perintah Rabb-ku (Tuhan-ku), dan kamu sama sekali  tidak  diberi ilmu tentang itu melainkan sedikit.”  Dan jika   Kami benar-benar  menghendaki, niscaya Kami mengambil kembali  apa yang telah Kami wahyukan kepada engkau dan kemudian engkau tidak akan memperoleh penjaga baginya terhadap Kami dalam hal itu. Kecuali karena rahmat dari Rabb (Tuhan) engkau, sesungguhnya karunia-Nya sangat besar kepada engkau.   Katakanlah: “Jika  manusia dan jin benar-benar berhimpun  untuk mendatangkan yang semisal Al-Quran ini, mereka tidak akan sanggup mendatangkan yang sama seperti ini, walaupun  sebagian mereka membantu sebagian yang lain.” (Bani Israil [17]:86-89). 
     Dalam masa kemunduran dan kejatuhan ruhani orang-orang Yahudi, mereka mereka nampaknya   asyik berkecimpung dalam kebiasaan-kebiasaan ilmu klenik (occult), seperti halnya banyak ahli kebatinan modern, para pengikut gerakan teosofi dan yogi-yogi Hindu.
       Nampaknya di masa Nabi Besar Muhammad saw.  pun beberapa orang Yahudi di Medinah telah menempuh cara-cara kebiasaan semacam itu. Itulah sebabnya mengapa ketika orang-orang musyrik Mekkah mencari bantuan orang-orang Yahudi untuk membungkam Nabi Besar Muhammad saw., mereka memberi saran supaya orang-orang musyrik Mekkah itu menanyakan kepada beliau saw. saw. hakikat ruh manusia:  وَ یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ الرُّوۡحِ  -- “Dan mereka bertanya kepada engkau mengenai ruh.

Masalah Hakikat “Ruh” Merupakan Wewenang Allah Swt.

     Dalam ayat yang sedang dibahas ini Al-Quran menjawab pertanyaan mereka dengan mengatakan:  قُلِ الرُّوۡحُ مِنۡ  اَمۡرِ رَبِّیۡ وَ مَاۤ  اُوۡتِیۡتُمۡ مِّنَ الۡعِلۡمِ اِلَّا  قَلِیۡلًا  --  katakanlah: “Ruh telah diciptakan atas perintah Rabb-ku (Tuhan-ku), dan kamu sama sekali  tidak  diberi ilmu tentang itu melainkan sedikit.”   Bahwa ruh memperoleh daya kekuatannya dari perintah Ilahi, dan cara atau metode apa pun yang menurut kepercayaan orang dapat diperoleh dengan perantaraan apa yang dikatakan latihan-latihan batin dan ilmu sihir, adalah semata-mata tipuan dan omong-kosong belaka.
       Menurut riwayat pertanyaan-pertanyaan mengenai sifat ruh manusia pertama-tama diajukan kepada Nabi Besar Muhammad saw.  di kota Mekkah oleh orang-orang Quraisy dan kemudian menurut ‘Abdullah bin Mas’ud r.a. — oleh orang-orang Yahudi di Medinah.
       Dalam ayat tersebut  ruh disebut sesuatu yang diciptakan atas perintah langsung dari  Allah Swt.:  قُلِ الرُّوۡحُ مِنۡ  اَمۡرِ رَبِّیۡ  --  “katakanlah: “Ruh telah diciptakan atas perintah Rabb-ku (Tuhan-ku)“. Menurut Al-Quran semua penciptaan terdiri dari dua jenis:
      (1) Kejadian permulaan yang dilaksanakan tanpa mempergunakan zat atau benda yang telah diciptakan sebelumnya, yakni menciptakan sesuatu yang ada dari ketiadaan.
       (2) Kejadian (penciptaan) selanjutnya yang dilaksanakan dengan mempergunakan sarana dan benda yang telah diciptakan sebelumnya, yakni berupa rangkaian  hukum “sebab-akibat.”
     Kejadian (penciptaan) macam pertama termasuk jenis amr (arti harfiahnya ialah perintah), yang untuk itu lihat QS.2:118, dan cara kedua disebut khalq (arti harfiahnya ialah menciptakan). Menurut Allah Swt.  ruh manusia termasuk jenis amr (perintah).   Kata ruh itu berarti  pula wahyu Ilahi (Lexicon Lane), letaknya kata ini di sini agaknya mendukung arti demikian, sesuai  firman-Nya dalam  QS.42:52-54.
      Ayat ini nampaknya mengandung nubuatan bahwa akan datang suatu saat ketika ilmu Al-Quran akan lenyap dari bumi (QS.32:6). Nubuatan Nabi Besar Muhammad saw. serupa itu telah diriwayatkan oleh Mardawaih, Baihaqi, dan Ibn Majah, ketika ruh dan jiwa ajaran Al-Quran akan hilang lenyap dari bumi, dan semua  orang yang dikenal sebagai ahli-ahli mistik dan para sufi yang mengakui memiliki kekuatan batin istimewa — seperti pula diakui oleh segolongan orang-orang Yahudi dahulu kala yang sifatnya serupa dengan mereka — tidak akan berhasil mengembalikan jiwa ajaran Al-Quran dengan usaha mereka bersama-sama (QS.17:89).
      Tantangan ini pertama-tama diajukan kepada mereka yang berkecimpung dalam kebiasaan-kebiasaan klenik, supaya mereka meminta pertolongan ruh-ruh gaib, yang darinya orang-orang ahli kebatinan itu —  menurut pengakuannya sendiri — menerima ilmu ruhani. Tantangan Al-Quran  ini berlaku pula untuk semua orang yang menolak Al-Quran bersumber dari Allah Swt. dan tantangan tersebut berlaku untuk sepanjang masa.

Persamaan Perlakuan Zalim Terhadap Para Mujaddid Muslim Dengan Para Nabi Bani Israil Setelah Nabi Musa a.s.

       Walau pun  demikian, dalam rangka memenuhi janji pemeliharaan-Nya terhadap Al-Quran  dalam QS.15:10,  Allah Swt. pada setiap permulaan abad  senantiasa membangkitkan para mujaddid di kalangan umat Islam, tetapi dalam kenyataannya para mujaddid Muslim  tersebut  telah diperlakukan buruk oleh para pemuka Muslim pada zamannya, seperti  perlakukan buruk para pemuka Bani Israil (kaum Yahudi) terhadap para nabi  Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنَا مُوۡسَی الۡکِتٰبَ وَ قَفَّیۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ بِالرُّسُلِ ۫ وَ اٰتَیۡنَا عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ الۡبَیِّنٰتِ وَ اَیَّدۡنٰہُ بِرُوۡحِ الۡقُدُسِ ؕ اَفَکُلَّمَا جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌۢ بِمَا لَا تَہۡوٰۤی اَنۡفُسُکُمُ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ۚ  فَفَرِیۡقًا کَذَّبۡتُمۡ  ۫ وَ فَرِیۡقًا تَقۡتُلُوۡنَ ﴿﴾ وَ قَالُوۡا قُلُوۡبُنَا غُلۡفٌ ؕ بَلۡ لَّعَنَہُمُ اللّٰہُ بِکُفۡرِہِمۡ  فَقَلِیۡلًا مَّا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾ وَ لَمَّا جَآءَہُمۡ کِتٰبٌ مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَہُمۡ  ۙ وَ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ یَسۡتَفۡتِحُوۡنَ عَلَی الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ۚۖ فَلَمَّا جَآءَہُمۡ مَّا عَرَفُوۡا کَفَرُوۡا بِہٖ ۫ فَلَعۡنَۃُ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ بِئۡسَمَا اشۡتَرَوۡا بِہٖۤ اَنۡفُسَہُمۡ  اَنۡ یَّکۡفُرُوۡا بِمَاۤ  اَنۡزَلَ اللّٰہُ  بَغۡیًا اَنۡ یُّنَزِّلَ اللّٰہُ مِنۡ فَضۡلِہٖ عَلٰی مَنۡ یَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِہٖ ۚ فَبَآءُوۡ بِغَضَبٍ عَلٰی غَضَبٍ ؕ وَ  لِلۡکٰفِرِیۡنَ عَذَابٌ مُّہِیۡنٌ ﴿﴾
Dan  sungguh   Kami benar-benar telah  berikan Alkitab kepada Musa dan Kami mengikutkan rasul-rasul di belakangnya,  dan   Kami  memberikan kepada Isa Ibnu Maryam Tanda-tanda yang nyata, dan juga Kami memperkuatnya dengan  Ruhulqudus.  Maka apakah patut setiap datang kepa-amu seorang rasul dengan membawa apa yang tidak disukai oleh dirimu  kamu berlaku takabur, lalu  sebagian kamu dustakan dan sebagian lainnya kamu bunuh? وَ قَالُوۡا قُلُوۡبُنَا غُلۡفٌ ؕ بَلۡ لَّعَنَہُمُ اللّٰہُ بِکُفۡرِہِمۡ  فَقَلِیۡلًا مَّا یُؤۡمِنُوۡنَ  --  Dan mereka berkata:  Hati kami tertutup.” Tidak,  bahkan Allah telah mengutuk mereka karena kekafiran mereka  maka sedikit sekali apa yang mereka imani.   Dan tatkala datang kepada mereka sebuah Kitab yakni  Al-Quran dari Allah  menggenapi apa yang ada pada mereka, sedangkan sebelum itu mereka senantiasa memohon kemenangan  atas orang-orang kafir, tetapi tatkala  datang kepada mereka  apa yang mereka  kenali itu lalu mereka kafir  kepadanya فَلَعۡنَۃُ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ --  maka laknat Allah atas orang-orang kafir.   Sangat buruk hal yang  dengan itu mereka telah menjual dirinya  yakni  mereka  kafir  kepada apa yang diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, فَبَآءُوۡ بِغَضَبٍ عَلٰی غَضَبٍ ؕ وَ  لِلۡکٰفِرِیۡنَ عَذَابٌ مُّہِیۡنٌ --  lalu   mereka ditimpa kemurkaan demi kemurkaan, dan bagi orang-orang kafir ada azab yang menghinakan   (Al-Baqarah [2]:88-91).
     Akibatnya  -- sesuai dengan nubuatan Nabi Besar Muhammad saw.  --   perselisihan masalah agama di kalangan umat Islam tersebut maka  sebagaimana golongan ahli-Kitab (umat Yahudi dan Nashrani)   terpecah-belah menjadi 72 firqah demikian juga  umat Islam pun pecah menjadi 73 firqah  dan sekte yang saling bertentangan  dan saling mengafirkan  --  bahkan saling membinasakan  -- sehingga secara politik sangat merugikan keadaan umat Islam sendiri, sebaliknya perpecahan di kalangan umat Islam tersebut   sangat menguntungkan para musuh Islam  yang sangat berhasrat untuk membalas kekalahan mereka di masa lampau.

Kesedihan Nabi Besar Muhammad saw. dan Kesedihan Rasul Akhir Zaman

      Dengan demikian benarlah kesedihan dan sabda Nabi Besar Muhammad saw dalam hadits qudsi yang dikemukakan dalam berbagai Bab sebelum ini:
      Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash r.a. bahwa Nabi saw. membaca firman Allah tentang Ibrahim a.s.:
رَبِّ اِنَّہُنَّ اَضۡلَلۡنَ  کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ ۚ فَمَنۡ تَبِعَنِیۡ فَاِنَّہٗ  مِنِّیۡ ۚ وَ مَنۡ عَصَانِیۡ فَاِنَّکَ غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ
“Wahai Rabb-ku (Tuhan-ku) sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia, lalu barangsiapa mengikutiku maka sesungguhnya ia termasuk golonganku, dan barangsiapa mendurhakaiku maka sesungguhnya Maha Pengampun Maha Penyayang (Ibrahim [14]:37).
Dan ‘Isa a.s. berkata:
اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
“Kalau Engkau mengazab mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan kalau Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Māidah [5]:118).
    Kemudian beliau saw. mengangkat kedua tangan seraya bersabda: “Wahai umatku…..umatku” dan beliau saw. menangis. Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman; “Wahai Jibril, pergilah kepada Muhammad – sedangkan Tuhan kamu lebih mengetahui  -- tanyalah kepadanya, “Apakah yang menyebabkan engkau menangis?” Jibril  a.s. datang kepada beliau lalu bertanya kepada beliau, maka utusan Allah  itu memberitahukan kepada-Nya  mengenai apa yang disabdakan beliau   -- padahal Allah lebih mengetahui – lalu Allah Ta’ala berfirman kepada Jibril: “Pergillah kepada Muhammad dan katakan, “Sesungguhnya  Kami akan ridha terhadap umat engkau dan Kami tidak berbuat buruk kepada engkau” (Muslim). 
Kemudian:
    Tsauban r.a., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah memperlihatkan bumi kepadaku lalu aku melihat timur dan baratnya, dan sungguh kerajaan umatku akan sampai kepada bumi yang ditampakkan kepadaku. Aku diberi dua pembendaharaan yaitu merah dan putih. Sungguh aku mohon kepada Tuhan-ku bagi umatku agar tidak dihancurkan dengan tahun yang umum dan tidak dikuasai oleh musuh selain dari mereka sendiri, lalu ia memusnahkan golongan mereka. Sesungguhnya Tuhan-ku berfirman, “Wahai Muhammad, sesungguhnya apabila Aku menetapkan suatu ketetapan maka ketetapan itu  tidaklah tertolak. Dan sesungguhnya Aku memberi engkau mengenai umat engkau tidak Aku hancurkan dengan tahun yang umum, dan Aku tidak menguasakan musuh atas mereka selain dari mereka sendiri yang memusnahkan golongan mereka, walau pun berkumpul atas mereka dari seluruh penjuru   -- atau Dia berfirman: “dari seluruh penjuru bumi – sehingga sebagian mereka menghancurkan sebagian yang lain, dan sebagian mereka menawan terhadap sebagian yang lain” (Muslim).
        Kesedihan Nabi Besar Muhammad saw. seperti itu pulalah yang dirasakan oleh Rasul Akhir  zaman menyaksikan keadaan umumnya umat Islam di Akhir zaman  sebagai dampak  buruk dari masa kemunduran panjang selama 1000 tahun (QS.32:6), firman-Nya:
اَلۡمُلۡکُ یَوۡمَئِذِۣ الۡحَقُّ لِلرَّحۡمٰنِ ؕ وَ کَانَ یَوۡمًا عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ عَسِیۡرًا ﴿﴾ وَ یَوۡمَ یَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰی یَدَیۡہِ یَقُوۡلُ یٰلَیۡتَنِی اتَّخَذۡتُ مَعَ الرَّسُوۡلِ سَبِیۡلًا ﴿﴾   یٰوَیۡلَتٰی لَیۡتَنِیۡ لَمۡ اَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِیۡلًالَقَدۡ اَضَلَّنِیۡ عَنِ الذِّکۡرِ بَعۡدَ اِذۡ جَآءَنِیۡ ؕ وَ کَانَ الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا ﴿﴾  وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾
Kerajaan yang haq pada hari itu  milik Yang Maha Pemurah, dan hari itu atas orang-orang kafir  sangat keras.   Dan pada hari itu orang zalim akan menggigit-gigit kedua tangannya lalu berkata:  ”Wahai alangkah baiknya jika aku mengambil jalan bersama dengan Rasul itu. Wahai celakalah aku, alangkah baiknya seandainya aku tidak  menjadikan si fulan itu sahabat.   Sungguh  ia benar-benar telah melalaikanku dari mengingat kepada Allah sesudah ia datang kepadaku.”   وَ کَانَ الشَّیۡطٰنُ لِلۡاِنۡسَانِ خَذُوۡلًا -- Dan syaitan selalu menelantarkan manusia.  وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا  --  Dan  Rasul itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan.  وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا -- Dan demikianlah Kami  telah menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi   dari antara orang-orang yang berdosa, dan cukuplah Rabb (Tuhan) engkau sebagai pemberi petunjuk dan penolong (Al-Furqān [25]:27-33). 
        Ayat  وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا  --  “Dan  Rasul itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan.“  dengan sangat tepat sekali dapat dikenakan kepada mereka yang menamakan diri orang-orang Muslim tetapi telah menyampingkan Al-Quran dan telah melemparkannya ke belakang.
       Barangkali belum pernah terjadi selama 14 abad ini di mana Al-Quran demikian rupa diabaikan dan dilupakan oleh orang-orang Muslim seperti dewasa ini. Ada sebuah hadits Nabi Besar Muhammad saw.  yang mengatakan: “Satu saat akan datang kepada kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari Islam melainkan namanya dan dari Al-Quran melainkan kata-katanya (Baihaqi, Syu’ab ul-iman). Sungguh masa sekarang di Akhir Zaman  inilah saat yang dimaksudkan ayat tersebut.

(Bersambung)
ooo
Rujukan: The Holy Quran
Editor    : Malik Ghulam Farid

Pajajaran Anyar,   30 Juli 2017

Minggu, 30 Juli 2017

Pendangkalan "Pemahaman Al-Quran" yang Sangat Merugikan "Kesucian Ajaran Islam" (Al-Quran) Serta "Keluhuran Akhlak dan Ruhani" Nabi Besar Muhammad saw. & Kebenaran "Janji Pemeliharaan" Allah Swt. Terhadap Al-Quran



Bismillāhirrahmānirrahīm


KHAZANAH  AL-QURAN 

Bab 16

PENDANGKALAN PEMAHAMAN AL-QURAN YANG SANGAT MERUGIKAN KESUCIAN AJARAN ISLAM (AL-QURAN) SERTA KELUHURAN AKHLAK DAN RUHANI NABI BESAR MUHAMMAD SAW. &  BUKTI JANJI PEMELIHARAAN ALLAH SWT. TERHADAP AL-QURAN

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir bab sebelumnya  telah dikemukakan  topic:   Meraih “Kehidupan Surgawi” di Dunia   sehubungan dengan firman Allah Swt. mengenai para pewaris  hakiki Al-Quran (QS.35:32-33) dan hubungannya dengan 3 keadaan nafs (jiwa) manusia:  Tingkat pertama  nafs al-Ammārah (QS.12:54),  tingkat kedua nafs al-Lawwāmah (QS.75:3), dan  tingkat ketiga dan tertinggi pada perkembangan ruh manusia adalah yang disebut nafs muthmainnah (jiwa yang tenteram).
       Pada tingkat ini ruh manusia praktis menjadi kebal terhadap kegagalan atau tersandung dan ada dalam suasana ketenteraman bersama Khāliq-nya (Tuhan Pencipta-nya),   sehubungan dengan firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِۙ﴿﴾   لَاۤ   اُقۡسِمُ   بِیَوۡمِ  الۡقِیٰمَۃِ ۙ﴿﴾  وَ  لَاۤ   اُقۡسِمُ  بِالنَّفۡسِ اللَّوَّامَۃِ ؕ﴿﴾  اَیَحۡسَبُ الۡاِنۡسَانُ اَلَّنۡ نَّجۡمَعَ عِظَامَہٗ ؕ﴿﴾  بَلٰی قٰدِرِیۡنَ  عَلٰۤی  اَنۡ  نُّسَوِّیَ بَنَانَہٗ ﴿﴾
Aku baca dengan nama  Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Tidak demikian! Aku bersumpah  dengan Hari Kiamat, وَ  لَاۤ   اُقۡسِمُ  بِالنَّفۡسِ اللَّوَّامَۃِ --  Dan, tidak demikian! Aku bersumpah dengan jiwa yang mencela  diri.  Apakah manusia menyangka bahwa Kami tidak akan  mengumpulkan tulang-tulangnya? Mengapa tidak, bahkan Kami  berkuasa menyusun kembali jari-jemarinya.” (Al-Qiyāmah [75]:1-5).

Keadaan Nafs Al-Muthmainnah (Jiwa yang Tentram)

    Kata banān  dalam ayat:  بَلٰی قٰدِرِیۡنَ  عَلٰۤی  اَنۡ  نُّسَوِّیَ بَنَانَہٗ   -- “bahkan Kami  berkuasa menyusun kembali jari-jemarinya,” kata banān (jari-jemari) menampilkan kekuasaan dan kekuatan manusia, karena dengan sarana jari-jari tangannya ia memegang sebuah benda dan membela dirinya sendiri. Kata itu dapat menyatakan juga tubuh manusia seutuhnya, karena kadang-kadang sebutan bagian suatu benda dapat menampilkan keseluruhan.
     Ayat  بَلٰی قٰدِرِیۡنَ  عَلٰۤی  اَنۡ  نُّسَوِّیَ بَنَانَہٗ   -- “bahkan Kami  berkuasa menyusun kembali jari-jemarinya,”  berarti bahwa Allah Swt. memiliki kekuasaan mengembalikan lagi semua kekuatan manusia atau bahkan kekuatan seluruh bangsa bila mereka sebenarnya mati dan tidak bernyawa lagi untuk diminta pertanggungjawaban mengenai berbagai hal yang menjadi kewajibannya.
      Menurut QS.35:33 pada tingkat terakhir  hamba Allah yang melakukan “jihad  ruhani” tersebut  mencapai taraf akhlak sempurna, dan kemajuan ke arah tujuannya yang agung itu berlangsung cepat sekali dan merata, yang disebut tingkat nafs-ul-muthmainnah  (jiwa yang  tentram), firman-Nya:
یٰۤاَیَّتُہَا النَّفۡسُ الۡمُطۡمَئِنَّۃُ ﴿٭ۖ﴾  ارۡجِعِیۡۤ  اِلٰی  رَبِّکِ رَاضِیَۃً  مَّرۡضِیَّۃً ﴿ۚ﴾  فَادۡخُلِیۡ  فِیۡ عِبٰدِیۡ ﴿ۙ﴾ وَ ادۡخُلِیۡ جَنَّتِیۡ ﴿٪﴾
Hai jiwa yang tenteram! Kembalilah kepada Rabb (Tuhan) engkau, engkau ridha kepada-Nya dan Dia pun ridha kepada engkau.  Maka masuklah dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. (Al-Fajr [89]:28-31).
        Firman Allah Swt. merupakan tingkat perkembangan ruhani tertinggi, ketika manusia ridha kepada Tuhan-nya dan Tuhan pun ridha kepadanya (QS.58:23). Pada tingkat ini yang disebut pula tingkat surgawi ia menjadi kebal terhadap segala macam kelemahan akhlak, diperkuat dengan kekuatan ruhani yang khas. Ia “manunggal” (menyatu) dengan Tuhan dan tidak dapat hidup tanpa Dia. Di dunia ini, dan bukan  setelah mati perubahan ruhani besar terjadi di dalam dirinya, dan di dunia inilah dan  bukan di tempat lain jalan dibukakan baginya untuk masuk ke surga.
       Demikianlah keadaan para pewaris hakiki Al-Quran yang dikemukakan dalam firman-Nya sebelum ini:
وَ الَّذِیۡۤ  اَوۡحَیۡنَاۤ  اِلَیۡکَ  مِنَ الۡکِتٰبِ ہُوَ الۡحَقُّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ بِعِبَادِہٖ  لَخَبِیۡرٌۢ  بَصِیۡرٌ ﴿﴾  ثُمَّ  اَوۡرَثۡنَا الۡکِتٰبَ الَّذِیۡنَ اصۡطَفَیۡنَا مِنۡ عِبَادِنَا ۚ فَمِنۡہُمۡ ظَالِمٌ لِّنَفۡسِہٖ ۚ وَ مِنۡہُمۡ مُّقۡتَصِدٌ ۚ وَ مِنۡہُمۡ سَابِقٌۢ بِالۡخَیۡرٰتِ بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَضۡلُ  الۡکَبِیۡرُ ﴿ؕ﴾
Dan  Kitab yang Kami wahyukan kepada engkau adalah  kebenaran untuk menggenapi apa yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah terhadap hamba-hambanya benar-benar Maha Mengetahui, Maha Melihat.   Kemudian Kitab itu Kami   wariskan kepada orang-orang yang telah Kami pilih dari antara hamba-hamba Kami, maka dari antara mereka sangat zalim terhadap dirinya, dari antara mereka ada yang mengambil jalan tengah, dan dari antara mereka ada yang    unggul dalam kebaikan  dengan izin Allah, itu adalah  karunia yang sangat besar.  (Al-Fāthir [35]:32-33).

Pendangkalan Pemahaman Al-Quran  dan Ajaran Islam Mengakibatkan Perpecahan Umat Islam

        Namun sayang, sejalan dengan perjalanan waktu yang melanda umat Islam   -- yang semakin jauh dari masa kenabian penuh berkah Nabi Besar Muhammad saw. (QS.57:17-18) –  maka musim kemarau panjang ruhani  telah melanda umat Islam, sehingga berbagai bentuk kerusakan pemahaman mengenai ajaran Islam (Al-Quran) semakin merebak, yang mengakibatkan terjadinya kerusakan pula pula pada akhlak  dan ruhani umat Islam, firman-Nya:
اَلَمۡ یَاۡنِ  لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا  اَنۡ  تَخۡشَعَ قُلُوۡبُہُمۡ  لِذِکۡرِ اللّٰہِ  وَ مَا  نَزَلَ مِنَ الۡحَقِّ  ۙ  وَ لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ فَطَالَ عَلَیۡہِمُ  الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ کَثِیۡرٌ  مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾ اِعۡلَمُوۡۤا  اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا ؕ قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ  تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Apakah belum sampai waktu bagi orang-orang yang beriman, bahwa hati mereka tunduk untuk mengingat Allah dan mengingat  kebenaran yang telah turun kepada mereka, وَ لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ -- dan mereka tidak  menjadi seperti orang-orang yang diberi kitab sebelumnya, فَطَالَ عَلَیۡہِمُ  الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ کَثِیۡرٌ  مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ --  maka  zaman kesejahteraan menjadi panjang atas mereka lalu   hati mereka menjadi keras, dan kebanyakan dari mereka menjadi durhaka? اِعۡلَمُوۡۤا  اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا -- Ketahuilah, bahwasanya  Allah  menghidupkan bumi sesudah matinya. قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ  تَعۡقِلُوۡنَ --  Sungguh Kami telah menjelaskan Tanda-tanda kepada kamu supaya kamu mengerti. (Al-Hadād [57]:17-18).
       Firman Allah Swt. dalam ayat tersebut selaras dengan hukum alam bahwa apabila  permukaan bumi lama tidak mendapat siraman air hujan  karena dilanda musim kemarau panjang maka permukaan bumi akan menjadi keras  -- karena permukaan air tanah juga semakin meresap jauh ke dalam bumi – sehingga membuat berbagai macam tumbuhan  pun mati  (QS.18:41-43; QS.67:31). Seperti itu pula keadaan  umat beragama apabila telah jauh dari masa kenabian yang  penuh berkat.
        Sunnatullah tersebut berlaku pula bagi umat Islam, yakni  setelah umat Islam mengalami masa kejayaan yang pertama selama 3 abad, kemudian secara bertahap ruh Al-Quran  ditarik lagi oleh Allah Swt.  dari kalangan umat Islam dalam kurun waktu 1000 tahun (QS.32:6; QS.17:86-89), firman-Nya:
یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ  اِلَی الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ  مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dia mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung (As-Sajdah [32]:6).
       Ayat ini menunjuk kepada suatu pancaroba sangat hebat, yang ditakdirkan akan menimpa Islam dalam perkembangannya yang penuh dengan perubahan itu. Islam akan melalui suatu masa kemajuan dan kesejahteraan yang mantap selama 3 abad pertama kehidupannya.
    Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan pernah menyinggung secara jitu mengenai kenyataan itu dalam sabda beliau: “Abad terbaik ialah abad di kala aku hidup, kemudian abad berikutnya, kemudian abad sesudah itu” (Tirmidzi & Bukhari, Kitab-usy-Syahadat).

Terjadinya Perpecahan di Lingkungan Umat Islam   &  Seperti  “Tulang Belulang Berserakan”

      Islam mulai mundur sesudah 3 abad pertama masa keunggulan dan keme-nangan yang tiada henti-hentinya. Peristiwa kemunduran dan kemerosotannya berlangsung dalam masa 1000 tahun berikutnya dan mencapai puncaknya pada abad 14 Hijriyah. Kepada masa 1000 tahun inilah  telah diisyaratkan dengan kata-kata: ثُمَّ یَعۡرُجُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ  مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ  -- “Kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun.”  (QS.32:6).
        Akibat “musim kemarau panjang ruhani” yang melanda umat Islam tersebut,  adalah sebagaimana “tubuh manusia”  apabila  telah kehilangan ruhnya kemudian  setelah mati tubuhnya  akan menjadi tulang-belulang yang berserakan  -- sebagaimana keadaan  bangsa Arab pada masa menjelang pengutusan Nabi Besar Muhammad saw.  – demikian pula halnya keadaan umat Islam, firman-Nya:
وَ قَالُوۡۤاءَ اِذَا کُنَّا عِظَامًا  وَّ  رُفَاتًاءَ اِنَّا  لَمَبۡعُوۡثُوۡنَ  خَلۡقًا جَدِیۡدًا ﴿﴾  قُلۡ  کُوۡنُوۡا  حِجَارَۃً   اَوۡ  حَدِیۡدًا ﴿ۙ﴾  اَوۡ خَلۡقًا مِّمَّا یَکۡبُرُ فِیۡ صُدُوۡرِکُمۡ ۚ فَسَیَقُوۡلُوۡنَ مَنۡ یُّعِیۡدُنَا ؕ قُلِ الَّذِیۡ فَطَرَکُمۡ   اَوَّلَ مَرَّۃٍ ۚ فَسَیُنۡغِضُوۡنَ اِلَیۡکَ رُءُوۡسَہُمۡ وَ یَقُوۡلُوۡنَ مَتٰی ہُوَ ؕ  قُلۡ  عَسٰۤی  اَنۡ  یَّکُوۡنَ  قَرِیۡبًا ﴿﴾  یَوۡمَ  یَدۡعُوۡکُمۡ فَتَسۡتَجِیۡبُوۡنَ بِحَمۡدِہٖ وَ  تَظُنُّوۡنَ   اِنۡ   لَّبِثۡتُمۡ   اِلَّا   قَلِیۡلًا  ﴿٪﴾
Dan mereka berkata:”Apakah apabila kami telah menjadi tulang-belulang dan benda yang hancur, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?”  Katakanlah: “Jadilah kamu batu atau besi,   atau makhluk yang nampak-nya terkeras  dalam pikiran kamu, ka-mu akan dibangkitkan kembali.”  Maka pasti mereka akan mengatakan:  “Siapakah yang akan menghidupkan kami kembali?” Katakanlah: “Dia Yang telah menjadikan kamu pertama kali.” Maka pasti mereka akan meng-gelengkan kepalanya terhadap engkau dan berkata:  Kapankah itu akan terjadi?” Katakanlah: “Boleh jadi itu dekat.   “Itu akan terjadi pada hari ketika Dia akan memanggil kamu lalu kamu akan menyambut dengan memuji-Nya dan kamu akan beranggapan bahwa  kamu tidak tinggal di dunia kecuali hanya sebentar.” (Bani Israil [17]:50-53). Lihat pula QS.3:103-104.
       Makna ayat:    قُلۡ  کُوۡنُوۡا  حِجَارَۃً   اَوۡ  حَدِیۡدًا  -- “Jadilah kamu batu atau besiاَوۡ خَلۡقًا مِّمَّا یَکۡبُرُ فِیۡ صُدُوۡرِکُمۡ  --  atau makhluk yang nampaknya terkeras  dalam pikiran kamu, kamu akan dibangkitkan kembali”    dapat dianggap mengatakan kepada orang-orang kafir, bahwa meskipun seandainya hati mereka menjadi keras seperti besi atau batu atau suatu benda lain semacam itu (QS.2:75 ; QS.57:17-18).
   Allah Swt. akan menimbulkan di antara mereka perubahan segar yang kedatangannya Dia takdirkan melalui  Nabi Besar Muhammad saw..  Atau dapat pula diartikan menjawab keragu-raguan mereka mengenai kebenaran adanya  Hari Kebangkitan, seperti disebutkan dalam ayat sebelumnya (ayat 50) seraya berkata kepada mereka, bahwa mereka tidak dapat menghindarkan diri dari azab Ilahi, seandainya mereka akan berubah menjadi besi atau batu atau suatu benda keras yang lain.
      Kenyataan yang sama akan terulang lagi ketika keadaan umat Islam pun   dalam masa kemunduran selama 1000 tahun telah  berpecah-belah seperti “tulang belulang berserakan”, sebagaimana dikemukakan dalam  surah Al-Jumu’ah berikut ini, firman-Nya:
  ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾   وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾   ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang  rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nyamensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyataوَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ   -- Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.   ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ --  Itulah karunia Allah, Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah [62]:3-5).

Dua Kali Pengutusan Nabi Besar Muhammad saw.

      Sehubungan ayat  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ   -- Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana” (ayat 4),  ketika menjawab pertanyaan Abu Hurairah r.a.,   Nabi Besar Muhammad saw.  diriwayatkan pernah bersabda bahwa ketika  iman akan terbang ke bintang Tsurayya dan seseorang dari keturunan Parsi akan mengembalikannya ke bumi (Bukhari, Kitab-ut-Tafsir). Dengan kedatangan   Masih Mau’ud a.s.   dari kalangan “ākharīna minhum  dalam abad ke-14 sesudah Hijrah laju kemerosotan Islam  telah terhenti dan kebangkitan Islam kembali mulai berlaku (QS.61:10) firman-Nya:
    Tugas suci  Nabi Besar Muhammad saw.   meliputi penunaian keempat macam kewajiban mulia yang disebut dalam ayat ini. Tugas agung dan mulia itulah yang dipercayakan kepada beliau, sebab untuk kedatangan beliau di tengah-tengah orang-orang Arab buta huruf  yang jahiliyah itu, leluhur beliau saw.  -- Nabi Ibrahim a.s.   --  telah memanjatkan doa beberapa ribu tahun yang lampau ketika dengan disertai putranya, Nabi Isma’il a.s.,  ketika beliau mendirikan dasar (pondasi) Ka’bah (QS.2:128-130).
    Pada hakikatnya tidak ada Pembaharu ruhani  (rasul Allah) dapat benar-benar berhasil dalam misinya jika ia tidak menyiapkan dengan contoh mulia dan quat-qudsiahnya (daya pensuciannya  -- QS.33:22), suatu jemaat yang pengikut-pengikutnya terdiri dari orang-orang mukhlis, patuh, dan bertakwa, yang kepada mereka itu mula-mula mengajarkan cita-cita dan asas-asas ajarannya serta mengajarkan falsafat, arti, dan kepentingan cita-cita dan asas-asas ajarannya itu,  kemudian mengirimkan pengikut-pengikutnya ke luar negeri untuk mendakwah-kan ajaran itu kepada bangsa-bangsa lain.
    Didikan yang  Nabi Besar Muhammad saw.   berikan kepada para pengikut beliau saw.  telah memperluas dan mempertajam kecerdasan mereka, dan filsafat ajaran beliau saw. menimbulkan dalam diri mereka keyakinan iman, dan contoh mulia beliau saw. (QS.33:22) menciptakan di dalam diri mereka kesucian hati. Kenyataan-dasar agama itulah yang diisyaratkan oleh ayat: یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭  -- “yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nyamensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ  --  walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata
  Makna ayat selanjutnya:  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ   -- Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”  Makna  wau ataf   dalam  ayat وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ     mengisyaratkan kepada terjadinya “pengulangan”  berbagai peristiwa yang dikemukakan ayat sebelumnya di masa mendatang di kalangan umat Islam, yaitu di masa puncak kemunduran umat Islam selama 1000 tahun (QS.32:6).
    Dengan demikian makna ayat:    وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ   -- Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana”   mengandung beberapa makna:
   (1) Ajaran Nabi Besar Muhammad saw. bukan hanya  ditujukan   kepada bangsa Arab belaka  --  yang di tengah-tengah bangsa itu beliau saw.   -- dibangkitkan, melainkan kepada seluruh bangsa bukan-Arab juga, dan bukan hanya kepada orang-orang sezaman beliau saw. melainkan juga kepada keturunan demi keturunan manusia yang akan datang hingga Hari Kiamat.
 (2) ayat tersebut  dapat juga berarti bahwa  Nabi Besar Muhammad saw. secara ruhani  akan dibangkitkan lagi di antara kaum Muslim  di Akhir  Zaman ini  yang belum pernah tergabung dalam para pengikut (sahabah) semasa hidup beliau saw..

Jaminan Pemeliharaan Allah Swt. Terhadap Al-Quran, Bukan Terhadap Umat Islam

   Jadi, isyarat di dalam ayat ini dan di dalam hadits Nabi saw. yang termasyhur, tertuju kepada pengutusan  Nabi Besar Muhammad saw.   untuk kedua kali dalam wujud  Masih Mau’ud  a.s. – yakni misal Nabi Isa Ibnu Maryam s.s. (QS.43:58)  atau Imam Mahdi a.s.  --   di Akhir Zaman ini.
    Sehubungan makna ayat  tersebut Abu Hurairah r.a. berkata: “Pada suatu hari kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah saw.,  ketika Surah Jumu’ah diturunkan. Saya minta keterangan kepada Rasulullah saw.: “Siapakah yang diisyaratkan oleh kata-kata وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ  -- Dan Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka yang belum bertemu dengan mereka?” – Salman al-Farsi (Salman asal Parsi) sedang duduk di antara kami.
  Setelah saya berulang-ulang mengajukan pertanyaan itu, Rasulullah Saw. meletakkan tangan beliau saw. pada tubuh Salman dan bersabda: “Apabila iman telah terbang ke Bintang Tsuraya, seorang lelaki dari mereka ini pasti akan menemukannya.” (Bukhari).
    Hadits Nabi Besar Muhammad saw.  ini menunjukkan bahwa ayat ini dikenakan kepada seorang lelaki dari keturunan Parsi.  Dan  Masih Mau’ud a.s.,    pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah -- walau pun termasuk ahli bait Nabi Besar Muhammad saw. adalah dari keturunan Parsi. Dengan demikian jelaslah mengapa Nabi Besar Muhammad saw. telah bersabda bahwa Salman al-Farisi r.a. termasuk ahli bait beliau saw., sekali pun Salman r.a. berkebangsaan Farsi (Iran).
    Hadits  Nabi Besar Muhammad saw.  lainnya menyebutkan kedatangan Al-Masih yang dijanjikan pada saat ketika tidak ada yang tertinggal di dalam Al-Quran kecuali kata-katanya, dan tidak ada yang tertinggal di dalam Islam selain namanya, yaitu, jiwa ajaran Islam yang sejati akan lenyap (Baihaqi). Jadi, Al-Quran dan hadits kedua-duanya sepakat bahwa ayat ini menunjuk kepada kedatangan kedua kali  Nabi Besar Muhammad saw.   dalam wujud   Masih Mau’ud a.s. guna mewujudkan kejayaan Islam yang kedua kali di Akhir Zaman (QS.61:10) setelah mengalami masa kemunduran selama 1000 tahun (QS.32:6).
  Walau pun benar bahwa menurut QS.32:6 Islam – setelah mengalami masa kejayaan yang pertama selama 3 abad   -- akan mengalami masa kemunduran dalam berbagai bidang selama 1000 tahun, tetapi janji Allah Swt.  bahwa Dia  akan senantiasa  memelihara Al-Quran dari berbagai bentuk kerusakan –  baik dari segi teks (tulisan) mau pun dari segi pemahaman  yang benar   --  tetap berlaku, firman-Nya: 
اِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا الذِّکۡرَ  وَ  اِنَّا  لَہٗ  لَحٰفِظُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya  Kami-lah Yang  menurunkan peringatan ini, dan sesungguhnya Kami-lah pemeliharanya.  (Al-Hijr [15]:10).
        Janji mengenai perlindungan dan penjagaan Al-Quran yang diberikan dalam ayat ini telah genap dengan cara yang sangat menakjubkan, sehingga sekalipun andaikata tidak ada bukti-bukti lainnya, kenyataan ini saja niscaya sudah cukup membuktikan  bahwa Al-Quran itu berasal dari Allah Swt.  -- bukan buatan Nabi Besar Muhammad saw. sebagaimana tuduhan dusta  pihak-pihak Non-Muslim (QS.16:104; QS.25:5-7).
Surah ini diturunkan di Mekkah   -- Noldeke pun mengakuinya  --  ketika kehidupan Nabi Besar Muhammad saw. beserta para pengikut beliau saw. sangat morat-marit keadaannya, dan musuh-musuh dengan mudah dapat menghancurkan agama yang baru itu.
      Ketika itulah orang-orang kafir ditantang untuk mengerahkan segenap tenaga mereka guna menghancurkan Islam, dan mereka diperingatkan bahwa Allah Swt. akan menggagalkan segala tipu-daya mereka sebab Dia Sendirilah Penjaganya (Pemeliharanya).
     Tantangan Allah Swt. itu terbuka dan tidak samar-samar, sedangkan keadaan musuh kuat lagi kejam, kendatipun demikian Al-Quran tetap selamat dari perubahan, penyisipan, dan pengurangan, serta senantiasa terus-menerus menikmati penjagaan yang sempurna dari Allah Swt., baik secara fisik mau pun secara ruhani. Keistimewaan Al-Quran yang demikian itu tidak dimiliki oleh Kitab-kitab lainnya yang diwahyukan sebelum Al-Quran.
     Sir William Muir, sarjana ahli kritik yang tersohor, karena sikapnya memusuhi Islam, berkata: “Kita dapat menetapkan berdasarkan dugaan yang paling keras, bahwa tiap-tiap ayat dalam Al-Quran itu asli dan merupakan gubahan Muhammad sendiri yang tidak mengalami perubahan ...................... Ada jaminan yang kuat, baik dari dalam Alquran maupun dari luar, bahwa kita memiliki teks yang Muhammad sendiri siarkan dan pergunakan ...................... Membandingkan teks asli mereka yang tidak mengalami perubahan itu dengan berbagai naskah kitab-kitab suci kita, adalah membandingkan hal-hal yang antaranya tidak ada persamaan (Introduction to “The Life of Mohammad”).
       Prof. Noldeke, ahli ketimuran besar yang berkebangsaan Jerman menulis sebagai berikut, “Usaha-usaha dari para sarjana Eropa untuk membuktikan adanya sisipan-sisipan dalam Al-Quran di masa kemudian, telah gagal” (Encyclopardia Britannica).
      Kegagalan mutlak dari Dr. Mingana, beberapa tahun berselang, untuk mencari-cari kelemahan dalam kemurnian teks Al-Quran, membuktikan dengan pasti kebenaran da'wa kitab itu, bahwa di antara semua kitab suci yang diwahyukan, hanya Al-Quran sajalah yang seluruhnya tetap kebal dari penyisipan atau campur-tangan manusia (QS.41:42-43), firman-Nya:
اِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا الذِّکۡرَ  وَ  اِنَّا  لَہٗ  لَحٰفِظُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya  Kami-lah Yang  menurunkan peringatan ini, dan sesungguhnya Kami-lah pemeliharanya.  (Al-Hijr [15]:10).

Akibat Buruk Penarikan “Ruh” Al-Quran Bagi Umat Islam

          Demikian juga   penjagaan Al-Quran dari segi ruhani pun  terus dilakukan pada masa  umat Islam pun mengalami kemunduran selama 1000 tahun (QS.32:6)  akibat pencabutan kembali  ruh Al-Quran yang hakiki  dari kalangan umat Islam  secara bertahap oleh Allah Swt., sehingga genaplah sabda Nabi Besar Muhammad saw. mengenai keadaan Islam (Al-Quran) dan umat Islam di masa puncak kemundurannya pada abad 14 Hijriyah:
       Nabi Besar Muhammad saw. bersabda: "Ya-ti zamanun lā yabqa minal Islami illa- smuhu  (akan datang suatu zaman, tidak   tinggal Islam kecuali namanya saja;  lā yabqa minal qurani illa rasmuhu  (tidak tinggal Al-Quran kecuali tulisan saja);  masājiduhum āmiratun wahiya harabun minal hadiy   (masjid-masjid mereka  ramai dan  berdiri megah dimana-mana tetapi kosong dari petunjuk);  ‘ulama’uhum syarru man tahta ‘adimis samai’ (ulama-ulama yang lahir merupakan manusia jelek di muka bumi ini)" (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi).
        Nubuatan Nabi Besar Muhammad saw. tersebut sesuai dengan firman Allah Swt. berikut ini:
وَ یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ الرُّوۡحِ ؕ قُلِ الرُّوۡحُ مِنۡ  اَمۡرِ رَبِّیۡ وَ مَاۤ  اُوۡتِیۡتُمۡ مِّنَ الۡعِلۡمِ اِلَّا  قَلِیۡلًا ﴿﴾  وَ لَئِنۡ شِئۡنَا لَنَذۡہَبَنَّ بِالَّذِیۡۤ  اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَکَ بِہٖ عَلَیۡنَا  وَکِیۡلًا ﴿ۙ﴾  اِلَّا رَحۡمَۃً  مِّنۡ رَّبِّکَ ؕ اِنَّ  فَضۡلَہٗ  کَانَ عَلَیۡکَ  کَبِیۡرًا ﴿﴾  قُلۡ لَّئِنِ اجۡتَمَعَتِ الۡاِنۡسُ وَ الۡجِنُّ عَلٰۤی اَنۡ یَّاۡتُوۡا بِمِثۡلِ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ لَا یَاۡتُوۡنَ بِمِثۡلِہٖ وَ لَوۡ کَانَ بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ  ظَہِیۡرًا ﴿﴾
Dan mereka bertanya kepada engkau mengenai ruh,  katakanlah: “Ruh telah diciptakan atas perintah Rabb-ku (Tuhan-ku), dan kamu sama sekali  tidak  diberi ilmu tentang itu melainkan sedikit.”  Dan jika   Kami benar-benar  menghendaki, niscaya Kami mengambil kembali  apa yang telah Kami wahyukan kepada engkau dan kemudian engkau tidak akan memperoleh penjaga baginya terhadap Kami dalam hal itu. Kecuali karena rahmat dari Rabb (Tuhan) engkau, sesungguhnya karunia-Nya sangat besar kepada engkau.   Katakanlah: “Jika  manusia dan jin benar-benar berhimpun  untuk mendatangkan yang semisal Al-Quran ini, mereka tidak akan sanggup mendatangkan yang sama seperti ini, walaupun  sebagian mereka membantu sebagian yang lain.” (Bani Israil [17]:86-89).

(Bersambung)
ooo
Rujukan: The Holy Quran
Editor    : Malik Ghulam Farid

Pajajaran Anyar,   29   Juli 2017