Bismillāhirrahmānirrahīm
KHAZANAH AL-QURAN
Bab
10
KEBERHASILAN YA’JUJ (GOG ) DAN MA’JUJ (MAGOG) – YAKNI BANGSA-BANGSA
KRISTEN DARI BARAT -- MENGUASAI WILAYAH KEKUASAAN UMAT ISLAM MEMANFAATKAN PERPECAHAN DI KALANGAN MEREKA & MENIRU POLITIK
DEVIDE ET IMPERA (MEMECAH-BELAH DAN MENJAJAH) YANG DILAKUKAN DINASTI FIR’AUN DI MESIR
Oleh
Ki
Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir bab sebelumnya
telah dikemukakan topic: Nabi Besar Muhammad saw. Sebagai Saksi Para Saksi berkenaan pengutusan beliau saw. sebagai
suri-teladan terbaik, semua kenyataan tersebut membenarkan
pernyataan Allah Swt. sebelum ini
mengenai kesuri-teladanan sempurna Nabi Besar Muhammad saw. sebagai suri-telandan terbaik, firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ
لَکُمۡ فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ
الۡیَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَ ذَکَرَ
اللّٰہَ کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Sungguh dalam
diri Rasulullah benar-benar terdapat
suri teladan yang sebaik-baiknya bagi kamu, yaitu bagi orang yang mengharapkan Allah
dan Hari Akhir, dan bagi yang banyak mengingat Allah.
(Al-Ahzāb [33]:22).
Dengan demikian benar
pulalah firman Allah Swt. dalam hadits
qudsi mengenai pengutusan Nabi
Besar Muhammad saw.:
Laulaka,
laulaka mā khalaqtul aflak
dalam riwayat lain redaksinya adalah:
Laulaka,
laulaka mā khalaqtul ‘alam kullaha
Yang artinya: “Kalau bukan karena engkau, kalau bukan karena engkau
[Muhammad] Aku tidak akan menciptakan alam semesta ini.” (Hadits Qudsi).
Pernyataan Allah Swt. dalam hadits qudsi
tersebut sesuai dengan firman-Nya di
awal artikel ini mengenai pengutusan Nabi
Besar Muhammad saw., karena beliau
saw. akan menjadi saksi mengenai kebenaran para rasul Allah
yang diutus sebelum beliau saw. kepada setiap kaum (QS.13:7 & 31;
QS.35:25) dan juga sebagai saksi bagi seluruh umat manusia,
firman-Nya:
وَ
یَوۡمَ نَبۡعَثُ فِیۡ کُلِّ اُمَّۃٍ شَہِیۡدًا عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ
جِئۡنَا بِکَ شَہِیۡدًا عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ ؕ وَ نَزَّلۡنَا عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ
تِبۡیَانًا لِّکُلِّ شَیۡءٍ وَّ
ہُدًی وَّ رَحۡمَۃً
وَّ بُشۡرٰی لِلۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah
hari itu ketika Kami akan membangkitkan dalam setiap umat
seorang saksi terhadap mereka
dari antara mereka sendiri, dan Kami akan mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka semuanya. Dan Kami
telah menurunkan kepada engkau
Kitab itu untuk menjelaskan segala
sesuatu dan petunjuk, rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang
yang berserah diri kepada Allah (An-Nahl [16]:90).
Senada dengan ayat
tersebut dalam surah lain Allah Swt.
berfirman tetapi lebih menyinggung
mengenai orang-orang kafir:
فَکَیۡفَ اِذَا جِئۡنَا مِنۡ کُلِّ اُمَّۃٍۭ بِشَہِیۡدٍ وَّ جِئۡنَا بِکَ عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ
شَہِیۡدًا ﴿﴾ یَوۡمَئِذٍ یَّوَدُّ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا وَ عَصَوُا الرَّسُوۡلَ
لَوۡ تُسَوّٰی بِہِمُ الۡاَرۡضُ ؕ وَ لَا یَکۡتُمُوۡنَ اللّٰہَ حَدِیۡثًا ﴿٪﴾
Maka bagaimana keadaan mereka apabila Kami mendatangkan seorang saksi
dari setiap umat, dan Kami
mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka ini semuanya? Pada hari
itu orang-orang kafir dan yang
mendurhakai Rasul, mereka menginginkan seandainya bumi disamaratakan dengan mereka, dan mereka tidak akan dapat menyembunyikan
sesuatu apa pun dari Allah.
(An-Nisa
[4]:42-43).
Nubuatan Nabi Besar Muhammad Saw. Dalam Hadits Qudsi Mengenai Keadaan Umat
Islam
Sehubungan dengan firman Allah Swt.
tersebut, dalam dua hadits
qudsi berkenaan dengan umat Islam
terdapat keterangan sebagai berikut:
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash r.a. bahwa
Nabi saw. membaca firman Allah tentang Ibrahim a.s.:
رَبِّ اِنَّہُنَّ اَضۡلَلۡنَ کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ ۚ فَمَنۡ تَبِعَنِیۡ
فَاِنَّہٗ مِنِّیۡ ۚ وَ مَنۡ عَصَانِیۡ
فَاِنَّکَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ
“Wahai Rabb-ku sesungguhnya berhala-berhala
itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia, lalu barangsiapa mengikutiku maka sesungguhnya
ia termasuk golonganku, dan barangsiapa
mendurhakaiku maka sesungguhnya Engkau
Maha Pengampun, Maha Penyayang (Ibrahim [14]:37).
Dan ‘Isa a.s. berkata:
اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ
فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
“Kalau Engkau mengazab mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan kalau Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau benar-benar Maha
Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Māidah [5]:118).
Kemudian beliau saw. mengangkat kedua tangan
seraya bersabda: “Wahai umatku…..umatku”
dan beliau saw. menangis. Allah Yang
Maha Mulia dan Maha Besar berfirman; “Wahai Jibril, pergilah kepada Muhammad – sedangkan Tuhan kamu lebih
mengetahui -- tanyalah kepadanya, “Apakah yang menyebabkan engkau menangis?”
Jibril a.s. datang kepada beliau lalu
bertanya kepada beliau, maka utusan Allah
itu memberitahukan kepada-Nya
mengenai apa yang disabdakan beliau
-- padahal Allah lebih mengetahui – lalu Allah Ta’ala berfirman kepada
Jibril: “Pergillah kepada Muhammad
dan katakan, “Sesungguhnya Kami akan ridha terhadap umat engkau dan Kami
tidak berbuat buruk kepada engkau” (Muslim).
Kemudian:
Tsauban
r.a., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah
memperlihatkan bumi kepadaku lalu aku
melihat timur dan baratnya, dan sungguh
kerajaan umatku akan sampai kepada bumi yang ditampakkan kepadaku. Aku diberi dua pembendaharaan yaitu merah dan putih. Sungguh aku mohon
kepada Tuhan-ku bagi umatku agar tidak dihancurkan dengan tahun yang umum dan
tidak dikuasai oleh musuh selain dari mereka sendiri, lalu ia memusnahkan
golongan mereka. Sesungguhnya Tuhan-ku
berfirman, “Wahai Muhammad, sesungguhnya
apabila Aku menetapkan suatu ketetapan maka ketetapan itu tidaklah tertolak.
Dan sesungguhnya Aku memberi engkau mengenai umat engkau tidak Aku hancurkan
dengan tahun yang umum, dan Aku tidak menguasakan musuh atas mereka selain dari
mereka sendiri yang memusnahkan golongan mereka, walau pun berkumpul atas
mereka dari seluruh penjuru -- atau
Dia berfirman: “dari seluruh penjuru
bumi – sehingga sebagian mereka
menghancurkan sebagian yang lain, dan sebagian
mereka menawan terhadap sebagian yang lain.” (Muslim).
Doa
yang dipanjatkan Nabi Ibrahim a.s. dalam hadits
qudsi tersebut dilakukan beliau a.s. di lembah Bakkah (Mekkah) setelah beliau
a.s. dan putra beliau, Nabi Isma’il a.s., membangun kembali Baitullah (Ka’bah – QS.2:128-130;
QS.14:36-38), dengan demikian doa
Nabi Ibrahim a.s. tersebut erat hubungannya dengan Bani
Isma’il yakni umat Islam.
Kelemahan Keimanan Bani Israil Kepada Allah Swt. dan Para Rasul Allah
Ada pun doa
yang dipanjatkan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
erat hubungannya dengan penolakan beliau terhadap kepercayaan syirik yang dianut generasi penerus para Hawari
yang telah mempertuhankan beliau dan ibu beliau (Maryam binti ‘Imran –
QS.5:117-119; QS.7:170), ketika mereka meraih kesuksesan duniawi yang luar biasa di Akhir Zaman (QS.18:1-9).
Pada hakikatnya keberhasilan kaum Kristen di Akhir Zaman ini merupakan pengabulan doa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.,
yaitu ketika kaum Hawari
memohon kepada beliau agar Allah Swt.
menurunkan māidah (hidangan) dari langit,
firman-Nya:
وَ اِذۡ اَوۡحَیۡتُ اِلَی الۡحَوَارِیّٖنَ اَنۡ
اٰمِنُوۡا بِیۡ وَ بِرَسُوۡلِیۡ ۚ
قَالُوۡۤا اٰمَنَّا وَ اشۡہَدۡ بِاَنَّنَا
مُسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾ اِذۡ
قَالَ
الۡحَوَارِیُّوۡنَ یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ ہَلۡ
یَسۡتَطِیۡعُ رَبُّکَ اَنۡ یُّنَزِّلَ عَلَیۡنَا مَآئِدَۃً مِّنَ السَّمَآءِ ؕ
قَالَ اتَّقُوا اللّٰہَ اِنۡ کُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ قَالُوۡا نُرِیۡدُ اَنۡ نَّاۡکُلَ مِنۡہَا وَ تَطۡمَئِنَّ
قُلُوۡبُنَا وَ نَعۡلَمَ اَنۡ
قَدۡ صَدَقۡتَنَا وَ نَکُوۡنَ
عَلَیۡہَا مِنَ الشّٰہِدِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ اللّٰہُمَّ رَبَّنَاۤ اَنۡزِلۡ
عَلَیۡنَا مَآئِدَۃً مِّنَ السَّمَآءِ تَکُوۡنُ لَنَا عِیۡدًا لِّاَوَّلِنَا وَ اٰخِرِنَا وَ اٰیَۃً مِّنۡکَ ۚ وَ ارۡزُقۡنَا وَ اَنۡتَ خَیۡرُ
الرّٰزِقِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ
اللّٰہُ اِنِّیۡ مُنَزِّلُہَا عَلَیۡکُمۡ ۚ فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ بَعۡدُ مِنۡکُمۡ
فَاِنِّیۡۤ اُعَذِّبُہٗ عَذَابًا لَّاۤ اُعَذِّبُہٗۤ اَحَدًا مِّنَ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾٪
Dan ingatlah ketika Aku
mewahyukan kepada para hawari bahwa: “Berimanlah
kepada-Ku dan kepada rasul-Ku.”
Mereka berkata: “Kami telah beriman,
dan bersaksilah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang
berserah diri.” Ingatlah ketika para hawari berkata: “Hai ‘Isa ibnu Maryam, mampukah
Rabb (Tuhan) engkau menurunkan kepada kami hidangan dari
langit?” Ia berkata: “Bertakwalah
kepada Allah jika kamu orang-orang
yang beriman.” Mereka berkata: “Kami ingin memakan dari hidangan itu, supaya hati kami tenteram, dan supaya kami mengetahui bahwa engkau
sungguh telah berkata benar kepada kami dan supaya kami termasuk di antara orang-orang
yang menjadi saksi.” ‘Isa ibnu Maryam berkata: “Ya Allah, Rabb (Tuhan) kami, turunkanlah
kepada kami hidangan dari langit supaya menjadi suatu perayaan yang berulang
bagi kami, bagi orang-orang
yang awal dari kami, juga bagi yang
datang di belakang kami,
dan sebagai
Tanda-tanda kebenaran dari Engkau, beri rezekilah kami, dan Engkau
sebaik-baik Pemberi rezeki.” Allah
berfirman: “Sesungguhnya Aku akan
menurunkannya kepada kamu, maka barangsiapa
di antara kamu kafir sesudah itu, maka sesungguhnya Aku akan mengazabnya
dengan azab yang tidak pernah Aku
mengazab kepada seorang pun di seluruh alam.” (Al-Māidah [5]:112-116).
Ciri khas Bani Israil -- yang
membedakan dari Bani Isma’il -- sejak dari zaman Nabi Musa a.s. sampai
dengan zaman Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. adalah mereka selalu menyusahkan
para rasul Allah dan senantiasa menuntut mukjizat
kepada para Nabi Allah guna memuaskan hati mereka (QS.2:88-89;
QS.33:70; QS.61:6). Padahal sebutan iman
(beriman) hubungannya dengan hal-hal yang bersifat gaib. Sampai-sampai Bani
Israil – karena kejahilan
mereka -- pernah menuntut kepada Nabi Musa a.s. untuk menghadirkan Allah Swt. “berhadapan
muka” dengan mereka, sebagaimana firman-Nya
kepada Bani Israil:
وَ اِذۡ
قُلۡتُمۡ یٰمُوۡسٰی لَنۡ نُّؤۡمِنَ لَکَ حَتّٰی نَرَی اللّٰہَ جَہۡرَۃً
فَاَخَذَتۡکُمُ الصّٰعِقَۃُ وَ اَنۡتُمۡ تَنۡظُرُوۡنَ ﴿﴾
ثُمَّ بَعَثۡنٰکُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ مَوۡتِکُمۡ لَعَلَّکُمۡ تَشۡکُرُوۡنَ ﴿﴾
Dan, ingatlah ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak akan pernah mempercayai
engkau hingga
kami terlebih dulu melihat Allah secara nyata”, lalu kamu disambar petir sedangkan kamu menyaksikan. Kemudian Kami membangkitkan kamu sesudah kematianmu supaya kamu
bersyukur. (Al-Baqarah [2]:56-57).
Tuntutan
Untuk Memperlihatkan Mukjizat Kepada
Nabi Besar Muhammad saw.
Sejalan dengan ayat-ayat tersebut dalam surah
lain Allah Swt. berfirman kepada Nabi
Besar Muhammad saw.:
یَسۡـَٔلُکَ
اَہۡلُ الۡکِتٰبِ اَنۡ تُنَزِّلَ عَلَیۡہِمۡ کِتٰبًا مِّنَ السَّمَآءِ فَقَدۡ
سَاَلُوۡا مُوۡسٰۤی اَکۡبَرَ مِنۡ ذٰلِکَ فَقَالُوۡۤا اَرِنَا اللّٰہَ جَہۡرَۃً
فَاَخَذَتۡہُمُ الصّٰعِقَۃُ بِظُلۡمِہِمۡ ۚ ثُمَّ اتَّخَذُوا الۡعِجۡلَ مِنۡۢ
بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ الۡبَیِّنٰتُ فَعَفَوۡنَا عَنۡ ذٰلِکَ ۚ وَ اٰتَیۡنَا
مُوۡسٰی سُلۡطٰنًا مُّبِیۡنًا ﴿﴾
Ahlul Kitab meminta kepada engkau supaya engkau menurunkan atas mereka sebuah Kitab
dari langit, maka sungguh mereka
pun pernah meminta yang lebih besar dari itu kepada Musa, mereka berkata: ”Perlihatkanlah Allah kepada kami secara zahir”, maka mereka disergap oleh siksaan yang
memusnahkan disebabkan kezalimannya.
Kemudian mereka menjadikan patung anak sapi
sebagai sembahan setelah datang
kepada me-reka Tanda-tanda nyata, tetapi Kami memaafkan hal itu,
dan Kami memberi Musa kemenangan yang
nyata. (An-Nisā [4]:154).
Makna ayat یَسۡـَٔلُکَ اَہۡلُ الۡکِتٰبِ اَنۡ تُنَزِّلَ
عَلَیۡہِمۡ کِتٰبًا مِّنَ السَّمَآءِ -- “Ahlul
Kitab meminta kepada engkau supaya engkau
menurunkan atas mereka sebuah Kitab dari langit“ mengisyaratkan kepada salah satu
dari berbagai tuntutan
mereka yang tidak masuk akal kepada Nabi Besar Muhammad saw untuk melakukannya, firman-Nya:
وَ قَالُوۡا
لَنۡ نُّؤۡمِنَ لَکَ حَتّٰی تَفۡجُرَ
لَنَا مِنَ الۡاَرۡضِ یَنۡۢبُوۡعًا ﴿ۙ﴾ اَوۡ تَکُوۡنَ لَکَ جَنَّۃٌ
مِّنۡ نَّخِیۡلٍ وَّ عِنَبٍ فَتُفَجِّرَ
الۡاَنۡہٰرَ خِلٰلَہَا تَفۡجِیۡرًا
﴿ۙ﴾ اَوۡ
تُسۡقِطَ السَّمَآءَ کَمَا زَعَمۡتَ عَلَیۡنَا کِسَفًا اَوۡ تَاۡتِیَ
بِاللّٰہِ وَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ قَبِیۡلًا ﴿ۙ﴾ اَوۡ یَکُوۡنَ لَکَ بَیۡتٌ
مِّنۡ زُخۡرُفٍ اَوۡ تَرۡقٰی فِی السَّمَآءِ ؕ وَ لَنۡ نُّؤۡمِنَ لِرُقِیِّکَ
حَتّٰی تُنَزِّلَ عَلَیۡنَا کِتٰبًا نَّقۡرَؤُہٗ ؕ قُلۡ سُبۡحَانَ رَبِّیۡ ہَلۡ کُنۡتُ
اِلَّا بَشَرًا رَّسُوۡلًا ﴿﴾
Dan mereka
berkata: “Kami tidak akan pernah beriman
kepada engkau sebelum engkau
memancarkan dari bumi sebuah mata air untuk kami. Atau engkau mempunyai kebun kurma dan anggur lalu engkau mengalirkan sungai-sungai yang deras alirannya di tengah-tengahnya. Atau engkau menjatuhkan kepingan-kepingan
langit atas kami sebagaimana telah
engkau da'wakan. Atau engkau
mendatangkan Allah dan para malaikat berhadap-hadapan. Atau engkau mempunyai sebuah rumah dari emas,
atau engkau naik ke langit, tetapi kami tidak akan pernah mempercayai kenaikan
engkau ke langit hingga engkau
menurunkan kepada kami sebuah kitab yang kami dapat membacanya.”
Katakanlah: “Maha Suci Rabb-ku (Tuhan-ku),
aku tidak lain melainkan seorang manusia sebagai seorang rasul.” (QS.17:91-94).
Ketika orang-orang Mekkah terbungkam oleh jawaban-jawaban
Al-Quran mengenai pertanyaan-pertanyaan
dan keberatan-keberatan mereka,
mereka berputar balik dan menuntut
kepada Nabi Besar Muhammad saw. bahwa
jika Al-Quran meliputi segala macam ilmu dan kemajuan
maka beliau saw. harus dapat memperlihatkan mukjizat-mukjizat
— misalnya membuat beberapa mata air
memancar keluar dari bumi, membuat kebun-kebun
serta membangun rumah-rumah dari emas bagi diri beliau sendiri, dan
sebagainya.
Sebagai
jawaban terhadap tuntutan-tuntutan mereka, yang jauh dari kesopanan itu, orang-orang
kafir diberitahu, bahwa tuntutan-tuntutan
itu bertalian dengan Allah Swt. atau
berkenaan dengan Nabi Besar
Muhammad saw.. Tuntutan yang pertama adalah asal omong dan bunyi belaka, sedang
Allah Swt. adalah di atas segala hal yang serampangan
semacam itu. Adapun mengenai tuntutan-tuntutan
mereka yang bertalian dengan Nabi Besar Muhammad saw. saw., tuntutan-tuntutan itu bertentangan
dengan kemampuan-kemampuan beliau saw.
yang terbatas sebagai seorang manusia
dan tidak selaras dengan tugas beliau
saw. sebagai seorang rasul: قُلۡ سُبۡحَانَ رَبِّیۡ ہَلۡ کُنۡتُ
اِلَّا بَشَرًا رَّسُوۡلًا -- “Katakanlah:
“Maha Suci Rabb-ku (Tuhan-ku), aku tidak lain melainkan seorang manusia sebagai seorang rasul.” (QS.17:94).
Kelemahan Iman Para Hawari Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. & Ancaman Mengerikan dari Allah Swt.
Mengajukan tuntutan untuk melakukan mukjizat seperti itu pulalah kelemahan keimanan para pengikut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di masa awal yang dikemukakan dalam surah Al-Maidah sebelumnya: “Ingatlah
ketika para hawari berkata: “Hai
‘Isa ibnu Maryam, mampukah
Rabb (Tuhan) engkau menurunkan kepada kami hidangan dari
langit?” Atas tuntutan mereka Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. menjawab: “Bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang yang beriman.” (Al-Māidah
[5]:113).
Mereka tidak mau mengerti dengan jawaban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
tersebut dan mendesak beliau
dengan ucapan mereka selanjutnya: “Mereka berkata: “Kami ingin memakan dari hidangan
itu, supaya hati kami tenteram, dan supaya kami mengetahui bahwa engkau sungguh telah berkata benar kepada
kami dan supaya kami termasuk
di antara orang-orang yang menjadi saksi.” (Al-Māidah [5]:114).
Bukan satu kali hidangan saja
yang diminta oleh para hawari (murid
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di masa awal) melainkan jaminan hidup yang kekal dan dapat
diperoleh tanpa kesukaran atau jerih-payah. Kata-kata “dari langit” menyatakan
suatu hal yang diperoleh tanpa
susah-payah tetapi pasti serta kekal.
Atas desakan para hawari tersebut akhirnya
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. pun berdoa: ‘Isa
ibnu Maryam berkata: “Ya Allah, Rabb (Tuhan) kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit supaya menjadi
suatu perayaan yang berulang bagi kami, bagi orang-orang yang awal dari kami, juga bagi yang datang di belakang kami, dan
sebagai Tanda-tanda kebenaran
dari Engkau, beri rezekilah kami,
dan Engkau sebaik-baik Pemberi rezeki.” (Al-Māidah
[5]:115).
Allah Swt. berjanji akan mengabulkan permintaan
para hawari yang bersifat duniawi tersebut, tetapi disertai ancaman mengerikan, firman-Nya: “Sesungguhnya Aku akan menurunkannya kepada kamu, maka barangsiapa di antara kamu kafir
sesudah itu, maka sesungguhnya
Aku akan mengazabnya dengan azab
yang tidak pernah Aku mengazab kepada seorang pun di seluruh alam.”
(Al-Māidah
[5]:116).
Bukti lainnya bahwa keimanan para hawari Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. itu lemah
adalah pada saat Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. – akibat penghianatan Yudas Iskariot (Matius
26:47-56) – beliau ditangkap oleh tentara Romawi bersama para pemuka Yahudi, dan pengadilan
Pialtus karena ancaman para pemuka Yahudi akan melaporkannya kepada Kaisar -- terpaksa memutuskan
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. untuk
dipakukan di tiang salib sesuai permintaan para pemuka Yahudi, saat itu
semua murid (hawari) Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. telah melarikan diri meninggalkan beliau a.s. sendirian, bahkan Petrus yang telah diserahi “kunci surga” (Matius 16: 13-20)
pun mengutuk beliau tiga kali untuk menyangkal bahwa dirinya bukan pengikut (Matius 26:69-75).
Pendeknya dalam kenyataannya keimanan
para hawari Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
tersebut bertolak-belakang dengan ucapannya, firman-Nya:
وَ اِذۡ اَوۡحَیۡتُ اِلَی الۡحَوَارِیّٖنَ اَنۡ
اٰمِنُوۡا بِیۡ وَ بِرَسُوۡلِیۡ ۚ
قَالُوۡۤا اٰمَنَّا وَ اشۡہَدۡ بِاَنَّنَا
مُسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Aku
mewahyukan kepada para hawari bahwa: “Berimanlah
kepada-Ku dan kepada rasul-Ku.”
Mereka berkata: “Kami telah beriman,
dan bersaksilah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang
berserah diri.” (Al-Māidah [5]:112).
Dua Kali Kekuasaan Duniawi Bangsa-bangsa Kristen
Sehubungan dengan permintaan para hawari
(murid) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di masa awal mengenai al-māidah
(hidangan) dari “langit” tersebut, sesuai
dengan pengabulan doa Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s., sejarah membuktikan bahwa kaum Kristen telah diberi kekuasaan duniawi pada permulaannya yaitu:
(1) di
bawah kekuasaan bangsa Romawi ketika Kaisar
Constantin memeluk agama Kristen dan menjadikannya sebagai agama kerajaan Romawi;
(2) di Akhir
Zaman ini mereka menguasai kawasan-kawasan
luas di bumi ini. (QS.19:1-9) yang dalam Bible dan Al-Quran
digambarkan dengan merajalelanya kembali
Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog), setelah mereka dilepaskan
untuk sementara waktu dari “pemenjaraan mereka” selama 1000 tahun (QS18:95-103; QS.21:97-100;
Wahyu 20:7-10), yakni bangsa
Kristen Eropa yang bermata biru
(QS,20:103-105), yang menyatakan Allah Swt. Tuhan
Yang Maha Pemurah memiliki seorang anak
laki-laki (QS.19:89-06).
Menurut Surah Al-Māidah tersebut -- sebagaimana
ditunjukkan oleh kata ‘Id, yang secara harfiah berarti “hari yang berulang” -- akan ada dua
masa kemakmuran dan kemajuan untuk umat
Kristen. Umat Kristen telah dianugerahi harta-benda duniawi dengan berlimpah-limpah pada zaman permulaan
sesudah Constantin, dan kemudian
dalam abad-abad ke-18 dan ke-19 Masehi mereka memperoleh kemakmuran dan kekuasaan politik dalam ukuran
yang tak ada tara bandingannya dalam sejarah
bangsa lain mana pun (QS.7:170; QS.18:1-9).
Hukuman (azab Ilahi) yang dimaksud dalam Al-Māidah ayat 116 sama dengan yang tersebut dalam QS.19:91. Dua Perang Dunia yang terakhir dengan akibat-akibat mengerikan yang ditimbulkannya merupakan satu
tahap penyempurnaan kabar gaib ini, dan hanya Allah Swt. sajalah
Yang mengetahui hukuman-hukuman mengerikan apakah yang masih menunggu untuk bangsa-bangsa Kristen di belahan bumi
sebelah barat, firman-Nya:
قَالَ
اللّٰہُ اِنِّیۡ مُنَزِّلُہَا عَلَیۡکُمۡ ۚ فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ بَعۡدُ مِنۡکُمۡ
فَاِنِّیۡۤ اُعَذِّبُہٗ عَذَابًا لَّاۤ اُعَذِّبُہٗۤ اَحَدًا مِّنَ
الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾٪
Allah
berfirman: “Sesungguhnya Aku akan
menurunkannya kepada kamu, maka barangsiapa
di antaramu kafir sesudah itu, maka sesungguhnya Aku akan mengazabnya dengan
azab yang tidak pernah Aku mengazab kepada seorang pun di seluruh alam.”
(Al-Māidah
[5]:116).
Ada pun yang dimaksud dengan kekafiran dalam ayat tersebut adalah mereka telah mempertuhankan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan ibunya (Maryam binti ‘Imran) sebagai sembahan
selain Allah Swt., sebagaimana
yang dikemukakan firman Allah Swt. selanjutnya dan juga Hadits qudsi yang sedang dibahas:
وَ اِذۡ قَالَ اللّٰہُ یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ ءَاَنۡتَ قُلۡتَ
لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالَ
سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ اَنۡ اَقُوۡلَ
مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ مَا فِیۡ
نَفۡسِیۡ وَ لَاۤ اَعۡلَمُ
مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ عَلَّامُ الۡغُیُوۡبِ ﴿﴾ مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ اَنِ اعۡبُدُوا
اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ عَلَیۡہِمۡ شَہِیۡدًا مَّا دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا
تَوَفَّیۡتَنِیۡ کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ
عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ اَنۡتَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ ﴿﴾ اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ
فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu
Maryam, apakah engkau telah berkata
kepada manusia: “Jadikanlah aku dan
ibuku sebagai dua tuhan selain
Allah?" Ia berkata: “Maha
Suci Engkau. Tidak patut bagiku mengatakan
apa yang sekali-kali
bukan hakku. Jika aku telah mengatakannya maka sungguh
Engkau mengetahuinya. Engkau
mengetahui apa yang ada dalam diriku, sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada dalam diri Engkau, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mengetahui segala yang gaib. Aku
sekali-kali tidak pernah mengatakan
kepada mereka kecuali apa yang telah
Engkau perintahkan kepadaku, yaitu: ”Beribadahlah kepada Allah, Rabb-ku
(Tuhan-ku) dan Rabb (Tuhan) kamu.”
Dan aku menjadi saksi atas mereka selama
aku berada di antara mereka, tetapi tatkala
Engkau telah
mewafatkanku maka Engkau-lah Yang benar-benar menjadi
Pengawas atas mereka, dan Engkau
adalah Saksi atas segala sesuatu. اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ
اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- “Kalau Engkau
mengazab mereka, maka sesungguhnya
mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan kalau
Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya
Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha
Bijaksana.” (Al-Māidah [5]:117-119).
Dua Peringatan Allah Swt. Dalam Al-Quran
Demikianlah hubungan azab
mengerikan yang diperingatkan Alllah Swt. sehubungan dengan permohonan māidah (hidangan) dari langit yang
diminta oleh para pengikut Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. di masa awal yang kemudian menjadi suatu bentuk “kesuksesan duniawi” luar biasa yang diraih oleh pengikut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di masa akhir (Akhir Zaman) yang telah mempertuhankan beliau dan ibu beliau (maryam binti ‘Imran),
firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ اَنۡزَلَ عَلٰی عَبۡدِہِ الۡکِتٰبَ
وَ لَمۡ یَجۡعَلۡ لَّہٗ عِوَجًا ؕ﴿ٜ﴾ قَیِّمًا
لِّیُنۡذِرَ بَاۡسًا شَدِیۡدًا مِّنۡ لَّدُنۡہُ وَ یُبَشِّرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ الَّذِیۡنَ یَعۡمَلُوۡنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ
اَجۡرًا
حَسَنًا ۙ﴿﴾
مَّاکِثِیۡنَ فِیۡہِ اَبَدًا ۙ﴿﴾ وَّ یُنۡذِرَ الَّذِیۡنَ
قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا ٭﴿﴾ مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ ؕ کَبُرَتۡ کَلِمَۃً تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ ؕ اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ اِلَّا کَذِبًا ﴿﴾ فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ اِنۡ
لَّمۡ یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا الۡحَدِیۡثِ اَسَفًا ﴿﴾ اِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ اَیُّہُمۡ اَحۡسَنُ عَمَلًا ﴿﴾ وَ اِنَّا
لَجٰعِلُوۡنَ مَا عَلَیۡہَا صَعِیۡدًا
جُرُزًا
ؕ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah Maha Pemurah, Maha
Penyayang. Segala puji bagi Allah Yang
telah menurunkan kepada hamba-Nya Kitab Al-Quran ini dan Dia tidak menjadikan baginya kebengkokan. Sebagai
penjaga untuk memberi peringatan
mengenai siksaan yang dahsyat dari
hadirat-Nya, dan memberikan kabar
suka kepada orang-orang beriman yang beramal shalih bahwa sesungguhnya bagi mereka ada ganjaran yang baik, mereka menetap
di dalamnya selama-lamanya, Dan supaya memperingatkan orang-orang yang berkata: "Allah
mengambil seorang anak telaki.”
Mereka sama kali tidak memiliki pengetahuan mengenainya, dan tidak pula bapak-bapak mereka memilikinya. Sangat
besar bahaya perkataan yang keluar dari mulut mereka, mereka
tidak mengucapkan kecuali kedustaan.
Atas berpalingnya
mereka maka sangat mungkin engkau
akan membinasakan diri engkau karena sangat
sedih jika mereka tidak beriman kepada keterangan ini. Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi perhiasan baginya supaya Kami
menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.Dan sesungguhnya Kami niscaya akan menjadikan segala yang
ada di atasnya menjadi tanah-rata yang tandus (Al-Kahf [18]:1-9).
Al-Quran sebagai qayyim (penjaga) melakukan tugas ganda. Al-Quran penjaga
atas kitab-kitab terdahulu dengan
jalan memperbaiki dan menghilangkan kesalahan-kesalahan yang
telah masuk dalam kitab-kitab itu
(QS.2:107), dan Al-Quran penjaga atas generasi-generasi yang akan datang,
sebab dipikulnva kewajiban untuk memperkembangkan ruhani mereka serta membimbing mereka pada jalan-jalan yang menjurus kepada penghayatan tujuan hidup manusia yang agung dan mulia (QS.2:1-6).
Al-Quran pertama-tama disebut sebagai
"memberi peringatan" dan
kemudian sebagai "memberi kabar gembira"
(ayat 3), dan sekali lagi sebagai “memberi
peringatan” seperti dalam ayat iini. Orang-orang
kafir telah dua kali diberi peringatan, dan di tengah-tengah dua peringatan itu orang-orang beriman
telah diberi kabar gembira.
Dua peringatan
yang dipisahkan oleh kabar gembira bagi umat
Islam itu mengandung tiga nubuatan:
(a) kekalahan dan kehancuran lawan-lawan Nabi
Besar Muhammad saw. di masa beliau saw. sendiri,
(b) Kenaikan umat Islam ke puncak kekuasaan
dan kemuliaan dengan jalan yang menakjubkan, dan
(c) sesudah terlepasnya umat Islam dari kejayaan dan kemegahan
(QS.32:6) adanya hukuman yang
disediakan bagi bangsa-bangsa yang
mengatakan bahwa "Allah telah
mengambil seorang anak lelaki."
Hakikat Kesedihan Nabi Besar Muhammad Saw. & Generasi Penerus “Kaum Yahudi” Pecinta Duniawi
Makna ayat: "Atas berpalingnya
mereka maka sangat mungkin engkau
akan membinasakan diri engkau karena sangat
sedih jika mereka tidak beriman kepada keterangan ini”, karena bakhi' itu
ism fail dari bakha'a yang berarti: ia berbuat sesuatu dengan cara
setepat-tepatnya, maka ayat ini dengan padat
dan lugas melukiskan betapa besarnya perhatian
dan kekhawatiran serta kecemasan Nabi Besar Muhammad saw. mengenai
kesejahteraan ruhani kaum beliau saw.,
sebagaimana firman-Nya:
لَقَدۡ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مِّنۡ اَنۡفُسِکُمۡ عَزِیۡزٌ عَلَیۡہِ
مَا عَنِتُّمۡ حَرِیۡصٌ عَلَیۡکُمۡ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ رَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَقُلۡ حَسۡبِیَ اللّٰہُ ۫٭ۖ
لَاۤ
اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ؕ
عَلَیۡہِ تَوَکَّلۡتُ وَ ہُوَ رَبُّ
الۡعَرۡشِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾٪
Sungguh benar-benar
telah datang kepada kamu seorang Rasul dari antaramu sendiri, berat terasa olehnya apa yang menyusahkan
kamu, ia sangat mendambakan kesejahteraan
bagi kamu dan terhadap orang-orang beriman ia sangat berbelas kasih lagi
penyayang. Tetapi jika
mereka berpaling maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan kecuali Dia, kepada-Nya-lah aku bertawakkal, dan Dia-lah Pemilik 'Arasy yang agung. (At Taubah [9]:128-129).
Kesedihan
Nabi Besar Muhammad saw. atas penolakan
dan perlawanan mereka terhadap amanat Ilahi hampir membuat beliau saw. wafat (QS.9:128). Memang begitulah
keadaan para utusan dan nabi
Allah hatinya senantiasa penuh dengan kasih-sayang
terhadap sesama manusia.
Mereka berseru (kepada Allah), menangis dan berdukacita
demi kepentingan umat manusia. Tetapi
manusia tidak tahu berterimakasih, sehingga orangorang itu
sendiri yang bagi mereka para nabi Allah
mempunyai perasaan yang begitu mendalam justru merekalah yang mendustakan dan menzalimi
para nabi Allah dan berusaha
untuk membunuh mereka (QS.36:31).
Makna ayat: "Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi perhiasan baginya supaya Kami
menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” Semua benda yang tidak terhitung banyaknya
yang telah diciptakan Allah Swt., tidak ada satu pun yang tidak
mempunyai kegunaan tersendiri yang tertentu, atau yang kosong dari segala
kebaikan, semuanya menambah semarak dan indahnya kehidupan manusia.
Umat
Islam telah dianjurkan untuk senantiasa memberi perhatian kepada kebenaran agung yang melandasi kata-kata sederhana itu, dan untuk
menyerahkan waktu dan tenaga mereka guna
menggali rahasia-rahasia alam yang agung dan untuk menyelidiki sifat-sifat yang tidak
terbilang banyaknya, yang dimiliki unsur-unsur alam (QS.15:22; QS.18:110; QS.31:28).
Sampai batas tertentu bangsa-bangsa Kristen dari Eropa
telah membuktikan kebenaran pernyataan
Allah Swt. dalam ayat tersebut, tetapi sayang keberhasilan duniawi mereka tidak dimanfaatkan untuk melakukan amal
shaleh (QS.18:8; QS.28:77-79), bahkan sebaliknya mereka benar-benar tenggelam sepenuhnya upaya mengumpulkan harta kekayaan duniawi dengan berbagai macam cara-cara yang melampaui
batas dengan anggapan bahwa mereka akan diampuni, berikut firman-Nya
mengenai orang-orang Yahudi:
وَ اِذۡ تَاَذَّنَ رَبُّکَ لَیَبۡعَثَنَّ عَلَیۡہِمۡ اِلٰی یَوۡمِ
الۡقِیٰمَۃِ مَنۡ یَّسُوۡمُہُمۡ سُوۡٓءَ الۡعَذَابِ ؕ اِنَّ رَبَّکَ
لَسَرِیۡعُ الۡعِقَابِ ۚۖ وَ اِنَّہٗ
لَغَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾ وَ قَطَّعۡنٰہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ اُمَمًا ۚ
مِنۡہُمُ الصّٰلِحُوۡنَ وَ مِنۡہُمۡ دُوۡنَ ذٰلِکَ ۫ وَ بَلَوۡنٰہُمۡ
بِالۡحَسَنٰتِ وَ السَّیِّاٰتِ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾ فَخَلَفَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ خَلۡفٌ وَّرِثُوا الۡکِتٰبَ یَاۡخُذُوۡنَ
عَرَضَ ہٰذَا الۡاَدۡنٰی وَ یَقُوۡلُوۡنَ سَیُغۡفَرُ لَنَا ۚ وَ اِنۡ یَّاۡتِہِمۡ
عَرَضٌ مِّثۡلُہٗ یَاۡخُذُوۡہُ ؕ اَلَمۡ یُؤۡخَذۡ عَلَیۡہِمۡ مِّیۡثَاقُ الۡکِتٰبِ
اَنۡ لَّا یَقُوۡلُوۡا عَلَی اللّٰہِ
اِلَّا الۡحَقَّ وَ دَرَسُوۡا مَا فِیۡہِ
ؕ وَ الدَّارُ الۡاٰخِرَۃُ خَیۡرٌ لِّلَّذِیۡنَ یَتَّقُوۡنَ ؕ اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Rabb (Tuhan) engkau mengumumkan bahwa niscaya Dia akan mengutus kepada mereka orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka
azab yang sangat buruk hingga Hari
Kiamat. Sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau benar-benar sangat cepat dalam menghukum
dan sesungguhnya Dia benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dan Kami membagi mereka menjadi berbagai bangsa
yang terpisah-pisah di bumi.
Di antara mereka ada orang-orang yang
saleh, dan di antara mereka ada yang
tidak demikian. Dan Kami menguji
mereka dengan berbagai kebaikan dan keburukan
supaya mereka kembali kepada yang
haq. فَخَلَفَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ خَلۡفٌ وَّرِثُوا
الۡکِتٰبَ یَاۡخُذُوۡنَ عَرَضَ ہٰذَا الۡاَدۡنٰی وَ یَقُوۡلُوۡنَ سَیُغۡفَرُ لَنَا
ۚ وَ اِنۡ یَّاۡتِہِمۡ عَرَضٌ مِّثۡلُہٗ یَاۡخُذُوۡہُ ؕ اَلَمۡ یُؤۡخَذۡ
عَلَیۡہِمۡ مِّیۡثَاقُ الۡکِتٰبِ اَنۡ لَّا یَقُوۡلُوۡا عَلَی اللّٰہِ اِلَّا الۡحَقَّ وَ دَرَسُوۡا مَا فِیۡہِ ؕ وَ الدَّارُ
الۡاٰخِرَۃُ خَیۡرٌ لِّلَّذِیۡنَ یَتَّقُوۡنَ ؕ اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ -- Maka datang
menggantikan sesudah mereka, suatu generasi pengganti
yang mewarisi Kitab Taurat itu,
mereka mengambil harta dunia yang
rendah ini dan mereka mengatakan: “Pasti
kami akan diampuni.” Dan jika datang
kepada mereka harta semacam itu lagi mereka
akan mengambilnya. Bukankah telah diambil
perjanjian dari mereka dalam Kitab
bahwa mereka tidak akan mengatakan sesuatu
terhadap Allah kecuali yang haq (benar),
dan mereka
telah mempelajari apa
yang tercantum di dalamnya? Padahal kampung akhirat itu
lebih baik bagi orang-orang
yang bertakwa, apakah kamu tidak mau
mengerti? (Al-A’rāf
[7]:168-170).
Makna Dijadikan “Kera” dan “Babi”
Ayat 168 ini dan juga beberapa ayat
berikutnya menunjukkan bahwa kaum Yahudi
yang dikatakan sebagai “kera-kera yang hina” dalam ayat sebelumnya
(QS.2:66; QS.5:61; QS.7:167) itu tidak sungguh-sungguh berubah menjadi kera dan babi melainkan mereka itu tetap makhluk manusia walaupun mereka -- akibat kedurhakaan
berulang kali kepada Allah Swt. dan
para rasul Allah (QS.2:89-90)
-- mereka menjalani peri kehidupan yang hina dan dipandang rendah oleh orang-orang lain juga.
Jelas
dari beberapa ayat Al-Quran bahwa Allah Swt. sangat lambat
dalam menghukum orang-orang durhaka. Dia berkali-kali memberi tenggang waktu kepada mereka. Kata-kata
itu dimaksudkan bahwa bila pada akhirnya hukuman
ditetapkan menimpa satu kaum, hukuman
itu datangnya cepat dan tak ada
sesuatu yang dapat memperlambat
kedatangannya.
'Aradha artinya: barang yang tidak kekal, barang-barang
duniawi yang rendah nilainya, barang-barang dagangan atau komoditi-komoditi
duniawi; benda atau sesuatu (Lexicon
Lane).
Makna
ayat وَ یَقُوۡلُوۡنَ سَیُغۡفَرُ لَنَا -- “dan mereka mengatakan: “Pasti
kami akan diampuni” mengisyaratkan kepada ajaran Paulus
berkenaan itikad “penebusan dosa”
melalui kematian terkutuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di tiang
salib, yang disanggah Allah Swt. dalam ayat selanjutnya: “Bukankah telah diambil perjanjian dari mereka dalam Kitab bahwa mereka tidak
akan mengatakan sesuatu terhadap Allah kecuali yang haq (benar), dan mereka
telah mempelajari apa
yang tercantum di dalamnya?” Darasa
dalam ayat tersebut berarti: (1) ia
membaca atau menelaah buku; (2) ia meniadakan, menghapuskan atau
melenyapkan sesuatu (Lexicon Lane).
(Bersambung)
ooo
Rujukan: The
Holy Quran
Editor : Malik
Ghulam Farid
Pajajaran Anyar, 23 Juli 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar