Minggu, 23 Juli 2017

Keberhasilan "Ya'juj" (Gog) dan "Ma'juj" (Magog) Yakni Bangsa-bangsa Kristen dari Barat Menguasai Wilayah Kekuasaan Umat Islam Memanfaatkan "Perpecahan" di Kalangan Mereka & Menipu Politik "Devide et Impera" (Memecah-belah dan Menjajah) yang Dilakukan "Dinasti Fir'aun" di Mesir



Bismillāhirrahmānirrahīm

KHAZANAH  AL-QURAN 

Bab 10

KEBERHASILAN  YA’JUJ (GOG ) DAN MA’JUJ (MAGOG) – YAKNI BANGSA-BANGSA KRISTEN DARI BARAT   --   MENGUASAI WILAYAH KEKUASAAN UMAT ISLAM  MEMANFAATKAN PERPECAHAN DI KALANGAN MEREKA &  MENIRU  POLITIK DEVIDE ET IMPERA (MEMECAH-BELAH DAN MENJAJAH) YANG DILAKUKAN DINASTI FIR’AUN DI MESIR

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir bab sebelumnya  telah dikemukakan  topic:   Nabi Besar Muhammad saw. Sebagai Saksi Para Saksi berkenaan pengutusan beliau saw. sebagai suri-teladan terbaik,  semua kenyataan tersebut membenarkan pernyataan Allah Swt. sebelum ini  mengenai  kesuri-teladanan sempurna Nabi Besar Muhammad saw. sebagai suri-telandan terbaik,  firman-Nya: 
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ  فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ  اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ  لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ الۡیَوۡمَ  الۡاٰخِرَ  وَ ذَکَرَ  اللّٰہَ  کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Sungguh dalam  diri Rasulullah benar-benar terdapat suri teladan yang sebaik-baiknya  bagi kamu, yaitu bagi  orang yang mengharapkan Allah dan Hari Akhir,  dan bagi yang banyak mengingat Allah.  (Al-Ahzāb [33]:22).
        Dengan demikian benar pulalah  firman Allah Swt. dalam hadits qudsi mengenai  pengutusan Nabi Besar Muhammad saw.:
Laulaka, laulaka mā khalaqtul aflak
dalam riwayat lain redaksinya adalah:
Laulaka, laulaka mā khalaqtul ‘alam kullaha
Yang artinya: “Kalau bukan karena engkau, kalau bukan karena engkau [Muhammad] Aku tidak akan menciptakan alam semesta ini.” (Hadits Qudsi).
         Pernyataan Allah Swt. dalam hadits qudsi tersebut sesuai dengan firman-Nya  di awal  artikel ini mengenai pengutusan Nabi Besar Muhammad saw.,  karena beliau saw. akan  menjadi saksi  mengenai kebenaran para rasul Allah yang diutus sebelum beliau saw. kepada setiap kaum (QS.13:7 & 31; QS.35:25) dan juga sebagai saksi bagi seluruh umat manusia, firman-Nya:
وَ یَوۡمَ نَبۡعَثُ فِیۡ کُلِّ اُمَّۃٍ شَہِیۡدًا عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ جِئۡنَا بِکَ شَہِیۡدًا عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ ؕ وَ نَزَّلۡنَا عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ تِبۡیَانًا  لِّکُلِّ شَیۡءٍ  وَّ  ہُدًی  وَّ  رَحۡمَۃً   وَّ  بُشۡرٰی  لِلۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah hari itu ketika Kami akan membangkitkan dalam setiap umat seorang saksi terhadap mereka dari antara mereka sendiri, dan Kami akan mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka semuanya. Dan  Kami  telah menurunkan kepada engkau Kitab itu untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk, rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri kepada Allah   (An-Nahl [16]:90).
          Senada dengan ayat tersebut  dalam surah lain Allah Swt. berfirman  tetapi lebih menyinggung mengenai orang-orang kafir:
فَکَیۡفَ اِذَا جِئۡنَا مِنۡ کُلِّ اُمَّۃٍۭ بِشَہِیۡدٍ وَّ جِئۡنَا بِکَ عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ شَہِیۡدًا ﴿﴾ یَوۡمَئِذٍ یَّوَدُّ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا وَ عَصَوُا الرَّسُوۡلَ لَوۡ تُسَوّٰی بِہِمُ الۡاَرۡضُ ؕ وَ لَا یَکۡتُمُوۡنَ اللّٰہَ  حَدِیۡثًا ﴿٪﴾
Maka bagaimana keadaan mereka apabila Kami mendatangkan seorang saksi dari setiap umat, dan Kami  mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka ini semuanya?  Pada hari itu orang-orang  kafir dan yang mendurhakai Rasul,  mereka menginginkan seandainya bumi disamaratakan  dengan mereka, dan mereka tidak akan dapat menyembunyikan sesuatu apa pun  dari Allah. (An-Nisa [4]:42-43).

Nubuatan Nabi Besar Muhammad Saw. Dalam Hadits Qudsi Mengenai Keadaan  Umat Islam   

      Sehubungan dengan firman Allah Swt. tersebut, dalam  dua  hadits qudsi berkenaan dengan umat Islam terdapat keterangan sebagai berikut:
         Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash r.a. bahwa Nabi saw. membaca firman Allah tentang Ibrahim a.s.:
رَبِّ اِنَّہُنَّ اَضۡلَلۡنَ  کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ ۚ فَمَنۡ تَبِعَنِیۡ فَاِنَّہٗ  مِنِّیۡ ۚ وَ مَنۡ عَصَانِیۡ فَاِنَّکَ غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ
“Wahai Rabb-ku sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia, lalu barangsiapa mengikutiku maka sesungguhnya ia termasuk golonganku, dan barangsiapa mendurhakaiku maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Maha Penyayang (Ibrahim [14]:37).
Dan ‘Isa a.s. berkata:
اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Kalau Engkau mengazab mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan kalau Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Māidah [5]:118).
    Kemudian beliau saw. mengangkat kedua tangan seraya bersabda: “Wahai umatku…..umatku” dan beliau saw. menangis. Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman; “Wahai Jibril, pergilah kepada Muhammad – sedangkan Tuhan kamu lebih mengetahui  -- tanyalah kepadanya, “Apakah yang menyebabkan engkau menangis?” Jibril  a.s. datang kepada beliau lalu bertanya kepada beliau, maka utusan Allah  itu memberitahukan kepada-Nya  mengenai apa yang disabdakan beliau   -- padahal Allah lebih mengetahui – lalu Allah Ta’ala berfirman kepada Jibril: “Pergillah kepada Muhammad dan katakan, “Sesungguhnya  Kami akan ridha terhadap umat engkau dan Kami tidak berbuat buruk kepada engkau” (Muslim). 
Kemudian:
    Tsauban r.a., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah memperlihatkan bumi kepadaku lalu aku melihat timur dan baratnya, dan sungguh kerajaan umatku akan sampai kepada bumi yang ditampakkan kepadaku. Aku diberi dua pembendaharaan yaitu merah dan putih. Sungguh aku mohon kepada Tuhan-ku bagi umatku agar tidak dihancurkan dengan tahun yang umum dan tidak dikuasai oleh musuh selain dari mereka sendiri, lalu ia memusnahkan golongan mereka. Sesungguhnya Tuhan-ku berfirman, “Wahai Muhammad, sesungguhnya apabila Aku menetapkan suatu ketetapan maka ketetapan itu tidaklah tertolak. Dan sesungguhnya Aku memberi engkau mengenai umat engkau tidak Aku hancurkan dengan tahun yang umum, dan Aku tidak menguasakan musuh atas mereka selain dari mereka sendiri yang memusnahkan golongan mereka, walau pun berkumpul atas mereka dari seluruh penjuru   -- atau Dia berfirman: “dari seluruh penjuru bumi – sehingga sebagian mereka menghancurkan sebagian yang lain, dan sebagian mereka menawan terhadap sebagian yang lain.” (Muslim).
       Doa yang dipanjatkan Nabi Ibrahim a.s. dalam hadits qudsi tersebut dilakukan beliau a.s. di lembah Bakkah (Mekkah) setelah beliau  a.s. dan putra beliau, Nabi Isma’il a.s., membangun kembali Baitullah (Ka’bah – QS.2:128-130; QS.14:36-38), dengan demikian  doa  Nabi Ibrahim a.s. tersebut erat hubungannya dengan  Bani Isma’il yakni umat Islam.

Kelemahan Keimanan Bani Israil Kepada Allah Swt. dan Para Rasul Allah

        Ada pun doa yang dipanjatkan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. erat  hubungannya dengan penolakan beliau terhadap kepercayaan syirik   yang dianut generasi penerus para Hawari yang telah mempertuhankan beliau dan ibu beliau (Maryam binti ‘Imran – QS.5:117-119; QS.7:170), ketika mereka meraih kesuksesan duniawi  yang  luar biasa di Akhir Zaman  (QS.18:1-9).
        Pada hakikatnya keberhasilan kaum Kristen di Akhir Zaman ini merupakan    pengabulan doa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., yaitu  ketika  kaum Hawari memohon kepada beliau   agar Allah Swt. menurunkan  māidah (hidangan) dari langit, firman-Nya:
وَ  اِذۡ  اَوۡحَیۡتُ اِلَی الۡحَوَارِیّٖنَ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِیۡ  وَ بِرَسُوۡلِیۡ ۚ قَالُوۡۤا اٰمَنَّا وَ اشۡہَدۡ  بِاَنَّنَا مُسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾  اِذۡ   قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ یٰعِیۡسَی ابۡنَ  مَرۡیَمَ ہَلۡ یَسۡتَطِیۡعُ رَبُّکَ اَنۡ یُّنَزِّلَ عَلَیۡنَا مَآئِدَۃً مِّنَ السَّمَآءِ ؕ قَالَ اتَّقُوا اللّٰہَ اِنۡ  کُنۡتُمۡ  مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾  قَالُوۡا نُرِیۡدُ اَنۡ  نَّاۡکُلَ  مِنۡہَا وَ تَطۡمَئِنَّ قُلُوۡبُنَا وَ نَعۡلَمَ اَنۡ قَدۡ صَدَقۡتَنَا وَ نَکُوۡنَ عَلَیۡہَا مِنَ الشّٰہِدِیۡنَ ﴿﴾  قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ اللّٰہُمَّ رَبَّنَاۤ اَنۡزِلۡ عَلَیۡنَا مَآئِدَۃً مِّنَ السَّمَآءِ تَکُوۡنُ لَنَا عِیۡدًا لِّاَوَّلِنَا وَ اٰخِرِنَا وَ اٰیَۃً مِّنۡکَ ۚ وَ ارۡزُقۡنَا وَ اَنۡتَ خَیۡرُ الرّٰزِقِیۡنَ ﴿﴾  قَالَ اللّٰہُ اِنِّیۡ مُنَزِّلُہَا عَلَیۡکُمۡ ۚ فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ بَعۡدُ مِنۡکُمۡ فَاِنِّیۡۤ  اُعَذِّبُہٗ عَذَابًا  لَّاۤ   اُعَذِّبُہٗۤ  اَحَدًا مِّنَ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾٪
Dan  ingatlah ketika  Aku mewahyukan kepada para hawari bahwa: “Berimanlah kepada-Ku dan kepada rasul-Ku.” Mereka berkata: “Kami telah beriman, dan bersaksilah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.” Ingatlah ketika para hawari berkata: “Hai ‘Isa ibnu Maryammampukah Rabb (Tuhan) engkau   menurunkan kepada kami hidangan dari langit?” Ia berkata:  “Bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang yang beriman.”  Mereka berkata: “Kami ingin memakan  dari hidangan itu,   supaya hati kami tenteram, dan supaya kami mengetahui bahwa engkau sungguh telah berkata benar kepada kami dan supaya kami termasuk di antara orang-orang yang  menjadi saksi.” ‘Isa ibnu Maryam berkata: “Ya Allah, Rabb (Tuhan) kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit supaya menjadi suatu perayaan yang   berulang  bagi kami, bagi orang-orang yang awal dari kami, juga bagi yang datang di belakang  kami, dan  sebagai Tanda-tanda kebenaran dari Engkau, beri rezekilah kami, dan Engkau sebaik-baik Pemberi rezeki.”    Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menurunkannya kepada kamu, maka barangsiapa di antara kamu kafir  sesudah itu,  maka  sesungguhnya Aku akan mengazabnya dengan azab yang tidak pernah Aku mengazab kepada seorang pun di seluruh alam.” (Al-Māidah [5]:112-116).
        Ciri khas Bani Israil  -- yang membedakan dari Bani Isma’il   -- sejak dari zaman Nabi Musa a.s. sampai dengan zaman Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. adalah mereka  selalu menyusahkan para rasul Allah dan senantiasa  menuntut mukjizat kepada para Nabi Allah guna memuaskan hati mereka (QS.2:88-89; QS.33:70; QS.61:6). Padahal sebutan iman (beriman)  hubungannya dengan  hal-hal yang bersifat gaib. Sampai-sampai Bani Israil – karena kejahilan mereka  -- pernah menuntut kepada Nabi Musa a.s. untuk menghadirkan Allah Swt. “berhadapan muka” dengan mereka,  sebagaimana firman-Nya kepada Bani Israil:
وَ اِذۡ قُلۡتُمۡ یٰمُوۡسٰی لَنۡ نُّؤۡمِنَ لَکَ حَتّٰی نَرَی اللّٰہَ جَہۡرَۃً فَاَخَذَتۡکُمُ الصّٰعِقَۃُ وَ اَنۡتُمۡ تَنۡظُرُوۡنَ ﴿﴾ ثُمَّ بَعَثۡنٰکُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ مَوۡتِکُمۡ لَعَلَّکُمۡ تَشۡکُرُوۡنَ ﴿﴾
Dan, ingatlah ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak akan pernah mempercayai  engkau  hingga kami terlebih dulu melihat Allah secara nyata”, lalu kamu disambar petir sedangkan kamu menyaksikan. Kemudian  Kami membangkitkan kamu sesudah kematianmu  supaya kamu bersyukur.  (Al-Baqarah [2]:56-57).

Tuntutan Untuk  Memperlihatkan Mukjizat Kepada Nabi Besar Muhammad saw.

        Sejalan dengan ayat-ayat tersebut dalam surah lain Allah Swt. berfirman  kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
یَسۡـَٔلُکَ اَہۡلُ الۡکِتٰبِ اَنۡ تُنَزِّلَ عَلَیۡہِمۡ کِتٰبًا مِّنَ السَّمَآءِ فَقَدۡ سَاَلُوۡا مُوۡسٰۤی اَکۡبَرَ مِنۡ ذٰلِکَ فَقَالُوۡۤا اَرِنَا اللّٰہَ جَہۡرَۃً فَاَخَذَتۡہُمُ الصّٰعِقَۃُ بِظُلۡمِہِمۡ ۚ ثُمَّ اتَّخَذُوا الۡعِجۡلَ مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ الۡبَیِّنٰتُ فَعَفَوۡنَا عَنۡ ذٰلِکَ ۚ وَ اٰتَیۡنَا مُوۡسٰی سُلۡطٰنًا مُّبِیۡنًا ﴿﴾
Ahlul Kitab meminta kepada engkau supaya engkau menurunkan atas mereka sebuah Kitab dari langit, maka  sungguh   mereka pun pernah meminta yang lebih besar dari itu kepada Musa, mereka berkata:  Perlihatkanlah Allah kepada kami secara zahir”, maka mereka disergap oleh siksaan yang memusnahkan disebabkan kezalimannya. Kemudian  mereka menjadikan patung anak sapi sebagai sembahan setelah datang kepada me-reka Tanda-tanda nyata, tetapi Kami memaafkan hal itu, dan Kami memberi Musa kemenangan yang nyata. (An-Nisā [4]:154).
      Makna ayat یَسۡـَٔلُکَ اَہۡلُ الۡکِتٰبِ اَنۡ تُنَزِّلَ عَلَیۡہِمۡ کِتٰبًا مِّنَ السَّمَآءِ  -- “Ahlul Kitab meminta kepada engkau supaya engkau menurunkan atas mereka sebuah Kitab dari langit“  mengisyaratkan kepada  salah satu  dari berbagai  tuntutan mereka yang tidak masuk akal kepada  Nabi Besar Muhammad saw  untuk melakukannya, firman-Nya:
وَ قَالُوۡا لَنۡ نُّؤۡمِنَ لَکَ حَتّٰی تَفۡجُرَ  لَنَا مِنَ  الۡاَرۡضِ  یَنۡۢبُوۡعًا ﴿ۙ﴾  اَوۡ تَکُوۡنَ لَکَ جَنَّۃٌ  مِّنۡ نَّخِیۡلٍ وَّ عِنَبٍ فَتُفَجِّرَ  الۡاَنۡہٰرَ  خِلٰلَہَا تَفۡجِیۡرًا ﴿ۙ﴾  اَوۡ تُسۡقِطَ السَّمَآءَ کَمَا زَعَمۡتَ عَلَیۡنَا کِسَفًا اَوۡ تَاۡتِیَ بِاللّٰہِ  وَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ  قَبِیۡلًا ﴿ۙ﴾  اَوۡ  یَکُوۡنَ لَکَ بَیۡتٌ مِّنۡ زُخۡرُفٍ اَوۡ تَرۡقٰی فِی السَّمَآءِ ؕ وَ لَنۡ نُّؤۡمِنَ لِرُقِیِّکَ حَتّٰی تُنَزِّلَ عَلَیۡنَا کِتٰبًا نَّقۡرَؤُہٗ ؕ قُلۡ سُبۡحَانَ رَبِّیۡ  ہَلۡ کُنۡتُ  اِلَّا بَشَرًا رَّسُوۡلًا ﴿﴾  
Dan mereka berkata: “Kami tidak akan pernah beriman kepada engkau sebelum engkau memancarkan dari bumi sebuah mata air untuk kami. Atau engkau mempunyai kebun kurma dan anggur lalu engkau mengalirkan sungai-sungai yang deras alirannya  di tengah-tengahnya. Atau engkau menjatuhkan kepingan-kepingan langit  atas kami sebagaimana telah engkau da'wakan. Atau engkau mendatangkan Allah dan para malaikat berhadap-hadapan. Atau engkau mempunyai sebuah rumah dari emas, atau engkau naik ke langit, tetapi kami tidak akan pernah mempercayai kenaikan engkau ke langit hingga engkau menurunkan kepada kami sebuah kitab yang kami dapat membacanya.” Katakanlah: “Maha Suci Rabb-ku (Tuhan-ku), aku tidak lain melainkan seorang manusia  sebagai seorang rasul.” (QS.17:91-94).
     Ketika orang-orang Mekkah terbungkam oleh jawaban-jawaban Al-Quran mengenai pertanyaan-pertanyaan dan keberatan-keberatan mereka, mereka berputar balik dan menuntut kepada Nabi Besar Muhammad saw.  bahwa jika Al-Quran meliputi segala macam ilmu dan  kemajuan maka beliau saw. harus dapat memperlihatkan mukjizat-mukjizat — misalnya membuat beberapa mata air memancar keluar dari bumi, membuat kebun-kebun serta membangun rumah-rumah dari emas bagi diri beliau sendiri, dan sebagainya.
      Sebagai jawaban terhadap tuntutan-tuntutan mereka, yang jauh dari kesopanan itu, orang-orang kafir diberitahu, bahwa tuntutan-tuntutan itu bertalian dengan Allah Swt. atau  berkenaan dengan  Nabi Besar Muhammad  saw.. Tuntutan yang pertama adalah asal omong dan bunyi belaka, sedang Allah Swt. adalah di atas segala hal yang serampangan semacam itu. Adapun mengenai tuntutan-tuntutan mereka yang bertalian dengan Nabi Besar Muhammad saw. saw., tuntutan-tuntutan itu bertentangan dengan kemampuan-kemampuan beliau saw. yang terbatas sebagai seorang manusia dan tidak selaras dengan tugas beliau saw. sebagai seorang rasul: قُلۡ سُبۡحَانَ رَبِّیۡ  ہَلۡ کُنۡتُ  اِلَّا بَشَرًا رَّسُوۡلًا -- “Katakanlah: “Maha Suci Rabb-ku (Tuhan-ku), aku tidak lain melainkan seorang manusia  sebagai seorang rasul.” (QS.17:94).

Kelemahan Iman Para Hawari Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  & Ancaman Mengerikan dari Allah Swt.

       Mengajukan tuntutan untuk melakukan mukjizat seperti itu pulalah kelemahan keimanan para pengikut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di masa awal yang dikemukakan dalam surah Al-Maidah  sebelumnya:    “Ingatlah ketika para hawari berkata: “Hai ‘Isa ibnu Maryammampukah Rabb (Tuhan) engkau   menurunkan kepada kami hidangan dari langit?” Atas tuntutan mereka Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. menjawab:   “Bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang yang beriman.” (Al-Māidah [5]:113).
       Mereka tidak mau mengerti dengan jawaban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tersebut dan  mendesak  beliau  dengan ucapan mereka selanjutnya: “Mereka berkata: “Kami ingin memakan  dari hidangan itu,   supaya hati kami tenteram, dan supaya kami mengetahui bahwa engkau sungguh telah berkata benar kepada kami dan supaya kami termasuk di antara orang-orang yang  menjadi saksi.”  (Al-Māidah [5]:114).
       Bukan satu kali hidangan saja yang diminta oleh para hawari (murid Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di masa awal) melainkan jaminan hidup yang kekal dan dapat diperoleh tanpa kesukaran atau jerih-payah.   Kata-kata “dari langit” menyatakan suatu hal yang diperoleh tanpa susah-payah tetapi pasti serta kekal.
     Atas desakan para hawari  tersebut akhirnya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. pun berdoa: ‘Isa ibnu Maryam berkata: “Ya Allah, Rabb (Tuhan) kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit supaya menjadi suatu perayaan yang   berulang  bagi kami, bagi orang-orang yang awal dari kami, juga bagi yang datang di belakang kami, dan  sebagai Tanda-tanda kebenaran dari Engkau, beri rezekilah kami, dan Engkau sebaik-baik Pemberi rezeki.” (Al-Māidah [5]:115).
     Allah Swt. berjanji akan mengabulkan permintaan para hawari yang bersifat duniawi tersebut, tetapi disertai ancaman mengerikan,  firman-Nya:  “Sesungguhnya Aku akan menurunkannya kepada kamu, maka barangsiapa di antara kamu kafir  sesudah itu,  maka  sesungguhnya Aku akan mengazabnya dengan azab yang tidak pernah Aku mengazab kepada seorang pun di seluruh alam.” (Al-Māidah [5]:116).
       Bukti lainnya bahwa keimanan para hawari Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. itu lemah adalah  pada saat Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  – akibat penghianatan Yudas Iskariot (Matius 26:47-56) –  beliau ditangkap oleh tentara Romawi  bersama para pemuka Yahudi, dan pengadilan Pialtus karena ancaman para pemuka Yahudi  akan melaporkannya kepada Kaisar  --  terpaksa  memutuskan   Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. untuk dipakukan di tiang salib sesuai permintaan para pemuka Yahudi, saat itu  semua murid (hawari) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. telah  melarikan diri  meninggalkan beliau a.s. sendirian, bahkan Petrus yang  telah diserahi “kunci surga” (Matius 16: 13-20) pun mengutuk beliau tiga kali untuk menyangkal bahwa dirinya bukan pengikut (Matius 26:69-75).
        Pendeknya dalam kenyataannya keimanan para hawari Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tersebut bertolak-belakang dengan ucapannya, firman-Nya:
وَ  اِذۡ  اَوۡحَیۡتُ اِلَی الۡحَوَارِیّٖنَ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِیۡ  وَ بِرَسُوۡلِیۡ ۚ قَالُوۡۤا اٰمَنَّا وَ اشۡہَدۡ  بِاَنَّنَا مُسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Dan  ingatlah ketika  Aku mewahyukan kepada para hawari bahwa: “Berimanlah kepada-Ku dan kepada rasul-Ku.” Mereka berkata: “Kami telah beriman, dan bersaksilah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.”  (Al-Māidah [5]:112).

Dua Kali  Kekuasaan Duniawi Bangsa-bangsa Kristen

       Sehubungan dengan permintaan para hawari (murid) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di masa awal mengenai  al-māidah (hidangan) dari “langit” tersebut, sesuai dengan pengabulan doa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.,  sejarah membuktikan bahwa  kaum Kristen telah diberi kekuasaan duniawi pada permulaannya  yaitu:
      (1) di bawah kekuasaan bangsa Romawi  ketika Kaisar Constantin memeluk agama Kristen dan menjadikannya sebagai agama kerajaan Romawi;
          (2)  di Akhir Zaman ini mereka      menguasai kawasan-kawasan luas di bumi ini. (QS.19:1-9) yang dalam Bible dan Al-Quran digambarkan dengan merajalelanya kembali  Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog),  setelah mereka  dilepaskan untuk sementara waktu dari “pemenjaraan  mereka” selama 1000 tahun (QS18:95-103; QS.21:97-100; Wahyu 20:7-10),  yakni bangsa Kristen Eropa yang bermata biru (QS,20:103-105), yang menyatakan Allah Swt. Tuhan Yang Maha Pemurah  memiliki seorang anak  laki-laki (QS.19:89-06).
      Menurut Surah Al-Māidah tersebut  --   sebagaimana ditunjukkan oleh kata ‘Id, yang secara harfiah berarti “hari yang berulang” --  akan ada dua masa kemakmuran dan kemajuan untuk umat Kristen.   Umat Kristen telah dianugerahi harta-benda duniawi dengan berlimpah-limpah pada zaman permulaan sesudah Constantin, dan kemudian dalam abad-abad ke-18 dan ke-19  Masehi mereka memperoleh kemakmuran dan kekuasaan politik dalam ukuran yang tak ada tara bandingannya dalam sejarah bangsa lain mana pun (QS.7:170; QS.18:1-9).
      Hukuman (azab Ilahi) yang dimaksud dalam Al-Māidah   ayat 116  sama dengan yang tersebut dalam QS.19:91. Dua Perang Dunia yang terakhir dengan akibat-akibat mengerikan yang ditimbulkannya  merupakan satu tahap penyempurnaan kabar gaib ini, dan hanya Allah  Swt.    sajalah Yang  mengetahui hukuman-hukuman mengerikan apakah yang masih menunggu untuk bangsa-bangsa Kristen di belahan bumi sebelah barat,  firman-Nya:
قَالَ اللّٰہُ اِنِّیۡ مُنَزِّلُہَا عَلَیۡکُمۡ ۚ فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ بَعۡدُ مِنۡکُمۡ فَاِنِّیۡۤ  اُعَذِّبُہٗ عَذَابًا  لَّاۤ   اُعَذِّبُہٗۤ  اَحَدًا مِّنَ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾٪
Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menurunkannya kepada kamu, maka barangsiapa di antaramu kafir  sesudah itu,  maka  sesungguhnya Aku akan mengazabnya dengan azab yang tidak pernah Aku mengazab kepada seorang pun di seluruh alam.” (Al-Māidah [5]:116).
    Ada pun yang dimaksud dengan kekafiran  dalam ayat tersebut  adalah mereka telah mempertuhankan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan ibunya (Maryam binti ‘Imran) sebagai  sembahan selain Allah Swt., sebagaimana yang dikemukakan firman Allah Swt. selanjutnya dan juga Hadits qudsi yang sedang  dibahas:
وَ  اِذۡ قَالَ اللّٰہُ یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ  ءَاَنۡتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ  اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ  اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ؃ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ  مَا فِیۡ نَفۡسِیۡ وَ لَاۤ اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ عَلَّامُ  الۡغُیُوۡبِ ﴿﴾  مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ عَلَیۡہِمۡ  شَہِیۡدًا مَّا دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا تَوَفَّیۡتَنِیۡ  کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ  اَنۡتَ عَلٰی کُلِّ  شَیۡءٍ  شَہِیۡدٌ ﴿﴾  اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ 
Dan ingatlah ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu Maryam, apakah engkau telah berkata kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan  selain  Allah?" Ia berkata: “Maha Suci Engkau. Tidak patut bagiku mengatakan  apa yang  sekali-kali  bukan hakku. Jika  aku telah mengatakannya maka sungguh  Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku, sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada dalam diri Engkau sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mengetahui segala yang gaib. Aku sekali-kali tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku, yaitu:  Beribadahlah kepada Allah, Rabb-ku (Tuhan-ku) dan Rabb (Tuhan) kamu.” Dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di antara mereka,  tetapi tatkala  Engkau telah mewafatkanku  maka Engkau-lah Yang benar-benar menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatuاِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ  --   “Kalau Engkau mengazab mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan kalau Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”  (Al-Māidah [5]:117-119).

Dua Peringatan Allah Swt. Dalam Al-Quran

     Demikianlah hubungan azab mengerikan  yang diperingatkan Alllah Swt. sehubungan dengan permohonan māidah (hidangan) dari langit yang diminta oleh para pengikut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di masa awal yang kemudian menjadi suatu bentuk “kesuksesan duniawi”  luar biasa yang diraih oleh pengikut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di masa akhir (Akhir Zaman) yang telah mempertuhankan beliau  dan ibu beliau (maryam binti ‘Imran), firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ  اَنۡزَلَ عَلٰی عَبۡدِہِ الۡکِتٰبَ  وَ لَمۡ  یَجۡعَلۡ  لَّہٗ عِوَجًا ؕ﴿ٜ﴾ قَیِّمًا  لِّیُنۡذِرَ بَاۡسًا شَدِیۡدًا مِّنۡ لَّدُنۡہُ وَ یُبَشِّرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ الَّذِیۡنَ یَعۡمَلُوۡنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ  لَہُمۡ  اَجۡرًا حَسَنًا ۙ﴿﴾  مَّاکِثِیۡنَ فِیۡہِ اَبَدًا ۙ﴿﴾  وَّ یُنۡذِرَ الَّذِیۡنَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا ٭﴿﴾  مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ ؕ کَبُرَتۡ کَلِمَۃً  تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ ؕ اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ  اِلَّا کَذِبًا ﴿﴾  فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ  اِنۡ لَّمۡ  یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا  الۡحَدِیۡثِ  اَسَفًا ﴿﴾  اِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً  لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ  اَیُّہُمۡ   اَحۡسَنُ  عَمَلًا ﴿﴾  وَ اِنَّا لَجٰعِلُوۡنَ مَا عَلَیۡہَا صَعِیۡدًا جُرُزًا  ؕ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah Maha Pemurah, Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah  Yang  telah menurunkan kepada hamba-Nya Kitab Al-Quran ini dan   Dia  tidak menjadikan baginya ke­bengkokan.  Sebagai penjaga    untuk memberi peringatan mengenai  siksaan yang dahsyat dari hadirat-Nya, dan memberikan kabar suka kepada orang-orang  beriman  yang beramal shalih bahwa sesungguhnya bagi mereka ada ganjaran yang baik,  mereka menetap di dalamnya selama-lamanya,    Dan supaya memperingat­kan orang-orang  yang berkata: "Allah  mengambil seorang  anak telaki.”    Mereka sama kali tidak memiliki pengetahuan mengenainya, dan tidak pula bapak-bapak mereka memilikinya. Sangat besar bahaya perkataan yang keluar dari mulut mereka, mereka tidak mengucapkan kecuali kedustaan.   Atas berpalingnya mereka maka sangat mungkin engkau akan membinasakan diri engkau  karena sangat sedih jika mereka tidak beriman kepada keterangan ini  Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi per­hiasan baginya   supaya  Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.Dan sesungguhnya Kami niscaya akan menjadikan segala yang ada di atasnya menjadi tanah-rata yang tandus (Al-Kahf [18]:1-9).
        Al-Quran sebagai qayyim (penjaga) melakukan tugas ganda. Al-Quran   penjaga atas kitab-kitab terdahulu dengan jalan memperbaiki dan menghilang­kan kesalahan-kesalahan yang telah masuk dalam kitab-kitab itu (QS.2:107), dan Al-Quran  penjaga atas generasi-generasi yang akan datang, sebab dipikulnva kewajiban untuk memperkembangkan ruhani mereka serta membimbing mereka pada jalan-jalan yang menjurus kepada penghayatan tujuan hidup manusia yang agung dan mulia (QS.2:1-6).
       Al-Quran pertama-tama disebut sebagai "memberi peringatan" dan
kemudian sebagai "memberi kabar gembira" (ayat 3), dan sekali lagi sebagai “memberi peringatan” seperti dalam ayat iini. Orang-orang kafir telah dua kali diberi peringatan,  dan di tengah-tengah dua peringatan itu orang-orang beriman telah diberi kabar gembira.

       Dua peringatan yang dipisahkan oleh kabar gembira  bagi umat Islam itu mengandung tiga nubuatan:
       (a) kekalahan dan kehancuran lawan-lawan Nabi Besar Muhammad saw. di masa beliau saw. sendiri,
       (b) Kenaikan umat Islam ke puncak kekuasaan dan kemuliaan dengan jalan yang menakjubkan, dan
      (c) sesudah terlepasnya umat Islam dari kejayaan dan kemegahan (QS.32:6) adanya hukuman yang disediakan bagi bangsa-bangsa yang mengatakan bahwa "Allah telah mengambil seorang anak lelaki."

Hakikat Kesedihan Nabi Besar Muhammad Saw. & Generasi Penerus “Kaum Yahudi”  Pecinta Duniawi

       Makna ayat:   "Atas berpalingnya mereka maka sangat mungkin engkau akan membinasakan diri engkau  karena sangat sedih jika mereka tidak beriman kepada keterangan ini”, karena bakhi' itu ism fail dari bakha'a yang berarti: ia berbuat sesuatu dengan cara setepat-tepatnya, maka ayat ini dengan padat dan lugas melukiskan betapa besarnya perhatian dan kekhawatiran serta kecemasan Nabi Besar Muhammad saw. mengenai kesejahteraan ruhani kaum beliau saw., sebagaimana firman-Nya:
لَقَدۡ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مِّنۡ اَنۡفُسِکُمۡ عَزِیۡزٌ عَلَیۡہِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِیۡصٌ عَلَیۡکُمۡ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ رَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾  فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَقُلۡ حَسۡبِیَ اللّٰہُ ۫٭ۖ لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ عَلَیۡہِ  تَوَکَّلۡتُ وَ ہُوَ رَبُّ الۡعَرۡشِ  الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾٪
Sungguh benar-benar  telah datang kepada kamu seorang Rasul dari antaramu sendiri, berat terasa olehnya apa yang menyusahkan kamu, ia sangat mendambakan kesejahteraan bagi kamu dan  terhadap orang-orang beriman  ia sangat berbelas kasih lagi penyayang.  Tetapi jika  mereka berpaling  maka katakanlah: “Cukuplah   Allah bagiku, tidak ada Tuhan kecuali Dia, kepada-Nya-lah aku bertawakkal, dan Dia-lah Pemilik 'Arasy yang agung. (At Taubah [9]:128-129).  
        Kesedihan  Nabi Besar Muhammad saw.  atas penolakan dan perlawanan mereka terhadap amanat Ilahi hampir membuat beliau saw. wafat (QS.9:128). Memang begitulah keadaan para utusan   dan nabi Allah hatinya senantiasa penuh dengan kasih-sayang terhadap sesama manusia.
       Mereka berseru (kepada Allah), menangis  dan berdukacita demi kepentingan umat manusia. Tetapi manusia tidak tahu  berterimakasih, sehingga orang­orang itu sendiri yang bagi mereka para nabi Allah  mempunyai perasaan yang begitu mendalam justru merekalah yang mendustakan dan  menzalimi para nabi Allah dan berusaha untuk membunuh mereka (QS.36:31).
       Makna ayat:  "Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi per­hiasan baginya   supaya  Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.”   Semua benda yang tidak terhitung banyaknya yang telah diciptakan  Allah Swt., tidak ada satu pun yang tidak mempunyai kegunaan tersendiri yang tertentu, atau yang kosong dari segala kebaikan, semuanya menambah semarak dan indahnya kehidupan manusia.
     Umat Islam telah dianjurkan untuk senantiasa  memberi perhatian kepada kebenaran agung yang  melandasi kata-kata sederhana itu, dan untuk menyerahkan waktu dan tenaga  mereka guna menggali rahasia­-rahasia alam  yang agung dan untuk menyelidiki sifat-sifat yang tidak terbilang banyaknya, yang  dimiliki unsur-unsur alam  (QS.15:22; QS.18:110; QS.31:28).
     Sampai batas tertentu bangsa-bangsa Kristen dari  Eropa telah membuktikan kebenaran pernyataan Allah Swt. dalam ayat tersebut, tetapi sayang keberhasilan duniawi mereka tidak dimanfaatkan untuk melakukan amal shaleh (QS.18:8; QS.28:77-79), bahkan sebaliknya mereka benar-benar tenggelam sepenuhnya upaya mengumpulkan harta kekayaan duniawi dengan berbagai macam cara-cara   yang melampaui batas  dengan anggapan bahwa mereka akan diampuni, berikut firman-Nya mengenai orang-orang Yahudi:
وَ اِذۡ تَاَذَّنَ رَبُّکَ لَیَبۡعَثَنَّ عَلَیۡہِمۡ اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ مَنۡ یَّسُوۡمُہُمۡ سُوۡٓءَ الۡعَذَابِ ؕ اِنَّ  رَبَّکَ  لَسَرِیۡعُ  الۡعِقَابِ ۚۖ وَ  اِنَّہٗ  لَغَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾  وَ قَطَّعۡنٰہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ اُمَمًا ۚ مِنۡہُمُ الصّٰلِحُوۡنَ وَ مِنۡہُمۡ دُوۡنَ ذٰلِکَ ۫ وَ بَلَوۡنٰہُمۡ بِالۡحَسَنٰتِ وَ السَّیِّاٰتِ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾  فَخَلَفَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ خَلۡفٌ وَّرِثُوا الۡکِتٰبَ یَاۡخُذُوۡنَ عَرَضَ ہٰذَا الۡاَدۡنٰی وَ یَقُوۡلُوۡنَ سَیُغۡفَرُ لَنَا ۚ وَ اِنۡ یَّاۡتِہِمۡ عَرَضٌ مِّثۡلُہٗ یَاۡخُذُوۡہُ ؕ اَلَمۡ یُؤۡخَذۡ عَلَیۡہِمۡ مِّیۡثَاقُ الۡکِتٰبِ اَنۡ لَّا یَقُوۡلُوۡا عَلَی اللّٰہِ  اِلَّا الۡحَقَّ وَ دَرَسُوۡا مَا فِیۡہِ  ؕ وَ الدَّارُ  الۡاٰخِرَۃُ  خَیۡرٌ لِّلَّذِیۡنَ  یَتَّقُوۡنَ ؕ اَفَلَا  تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Rabb (Tuhan) engkau mengumumkan bahwa niscaya  Dia akan mengutus  kepada mereka  orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka  azab yang sangat buruk hingga Hari Kiamat. Sesungguhnya  Rabb (Tuhan) engkau benar-benar sangat cepat dalam menghukum  dan sesungguhnya Dia benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dan Kami membagi mereka menjadi berbagai bangsa yang terpisah-pisah  di bumi. Di antara mereka ada orang-orang yang saleh, dan di antara mereka ada yang tidak demikian. Dan Kami menguji mereka dengan berbagai kebaikan dan keburukan supaya mereka kembali kepada yang haq.  فَخَلَفَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ خَلۡفٌ وَّرِثُوا الۡکِتٰبَ یَاۡخُذُوۡنَ عَرَضَ ہٰذَا الۡاَدۡنٰی وَ یَقُوۡلُوۡنَ سَیُغۡفَرُ لَنَا ۚ وَ اِنۡ یَّاۡتِہِمۡ عَرَضٌ مِّثۡلُہٗ یَاۡخُذُوۡہُ ؕ اَلَمۡ یُؤۡخَذۡ عَلَیۡہِمۡ مِّیۡثَاقُ الۡکِتٰبِ اَنۡ لَّا یَقُوۡلُوۡا عَلَی اللّٰہِ  اِلَّا الۡحَقَّ وَ دَرَسُوۡا مَا فِیۡہِ  ؕ وَ الدَّارُ  الۡاٰخِرَۃُ  خَیۡرٌ لِّلَّذِیۡنَ  یَتَّقُوۡنَ ؕ اَفَلَا  تَعۡقِلُوۡنَ  -- Maka datang menggantikan sesudah mereka, suatu generasi  pengganti  yang mewarisi Kitab Taurat  itu, mereka mengambil harta dunia yang rendah ini dan mereka mengatakan: “Pasti kami akan diampuni.” Dan jika datang kepada mereka harta semacam itu lagi mereka akan mengambilnya. Bukankah telah diambil perjanjian dari mereka dalam Kitab bahwa mereka tidak akan mengatakan sesuatu terhadap Allah kecuali yang haq (benar), dan  mereka telah mempelajari  apa yang tercantum di dalamnya? Padahal  kampung  akhirat itu   lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, apakah kamu tidak mau mengerti?  (Al-A’rāf [7]:168-170).

Makna Dijadikan “Kera” dan “Babi

      Ayat 168 ini dan juga beberapa ayat berikutnya menunjukkan bahwa kaum Yahudi yang dikatakan sebagai “kera-kera yang hina” dalam ayat sebelumnya (QS.2:66; QS.5:61; QS.7:167) itu tidak sungguh-sungguh berubah menjadi kera dan babi melainkan mereka itu tetap makhluk manusia walaupun mereka  -- akibat kedurhakaan berulang kali kepada Allah Swt. dan para rasul Allah  (QS.2:89-90)  --  mereka menjalani peri kehidupan yang hina dan dipandang rendah oleh orang-orang lain juga.
   Jelas dari beberapa ayat Al-Quran bahwa Allah Swt.  sangat lambat dalam menghukum orang-orang durhaka. Dia berkali-kali memberi tenggang waktu kepada mereka. Kata-kata itu dimaksudkan bahwa bila pada akhirnya hukuman ditetapkan menimpa satu kaum, hukuman itu datangnya cepat dan tak ada sesuatu yang dapat memperlambat kedatangannya.
        'Aradha artinya:  barang yang tidak kekal, barang-barang duniawi yang rendah nilainya, barang-barang dagangan atau komoditi-komoditi duniawi; benda atau sesuatu  (Lexicon Lane).
      Makna  ayat  وَ یَقُوۡلُوۡنَ سَیُغۡفَرُ لَنَا -- “dan mereka mengatakan: “Pasti kami akan diampuni”   mengisyaratkan kepada ajaran Paulus berkenaan  itikad “penebusan dosa” melalui kematian terkutuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di tiang salib, yang disanggah Allah Swt. dalam ayat selanjutnya:  “Bukankah telah diambil perjanjian dari mereka dalam Kitab bahwa mereka tidak akan mengatakan sesuatu terhadap Allah kecuali yang haq (benar), dan  mereka telah mempelajari  apa yang tercantum di dalamnya?”  Darasa dalam ayat tersebut berarti: (1) ia  membaca atau menelaah buku; (2) ia meniadakan, menghapuskan atau melenyapkan sesuatu (Lexicon Lane).

(Bersambung)
ooo
Rujukan: The Holy Quran
Editor    : Malik Ghulam Farid


Pajajaran Anyar,   23 Juli 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar