Selasa, 25 Juli 2017

Perpecahan "Umat Islam" Penyebab Utama Teerjadinya "Tragedi Mengerikan" di Timur Tengah & Politik "Devide et Impera" (Memecah-belah dan Menjajah) Fir'aun Akhir Zaman

  
Bismillāhirrahmānirrahīm


KHAZANAH  AL-QURAN 

Bab 12

PERPECAHAN UMAT ISLAM PENYEBAB UTAMA TERJADINYA TRAGEDI MENGERIKAN DI  TIMUR TENGAH &  POLITIK DEVIDE ET IMPERA (MEMECAH-BELAH DAN MENJAJAH) FIR’AUN AKHIR ZAMAN

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir bab sebelumnya  telah dikemukakan  topic:    Nubuatan Dan Peringatan Untuk Umat Islam (Bani Isma’il) berkenaan dengan firman Allah Swt.:
وَ قَضَیۡنَاۤ  اِلٰی بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ فِی الۡکِتٰبِ لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ مَرَّتَیۡنِ  وَ لَتَعۡلُنَّ  عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾  فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ  عِبَادًا  لَّنَاۤ   اُولِیۡ  بَاۡسٍ  شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ وَعۡدًا  مَّفۡعُوۡلًا ﴿﴾  ثُمَّ رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ  اَکۡثَرَ  نَفِیۡرًا ﴿﴾  اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا ؕ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  لِیَسُوۡٓءٗا  وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ  اَوَّلَ مَرَّۃٍ  وَّ  لِیُتَبِّرُوۡا مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا ﴿﴾  عَسٰی رَبُّکُمۡ اَنۡ یَّرۡحَمَکُمۡ ۚ وَ اِنۡ عُدۡتُّمۡ عُدۡنَا ۘ وَ جَعَلۡنَا جَہَنَّمَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ  حَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan telah Kami tetapkan dengan jelas kepada Bani Israil dalam kitab itu: “Niscaya  kamu akan melakukan kerusakan di muka bumi ini dua kali, dan niscaya kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang sangat besar.”  Apabila datang saat sempurnanya janji yang pertama  dari kedua janji itu,  Kami membangkitkan untuk menghadapi kamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan tempur yang dahsyat, dan mereka menerobos jauh ke dalam rumah-rumah, dan itu merupakan suatu janji yang pasti terlaksana.    Kemudian Kami mengembalikan lagi kepada kamu kekuatan untuk melawan mereka, dan Kami membantu kamu dengan harta dan anak-anak, dan  Kami menjadikan kelompok kamu lebih besar dari sebelumnya.  Jika kamu berbuat ihsan, kamu berbuat ihsan  bagi diri kamu sendiri, dan jika kamu berbuat buruk  maka itu untuk dirimu sendiri. Lalu bila datang saat sempurnanya janji yang kedua itu Kami membangkitkan lagi hamba-hamba Kami yang lain supaya mereka mendatangkan kesusahan kepada pemimpin-pemimpin kamu dan supaya mereka memasuki masjid seperti pernah mereka memasukinya pada kali pertama, dan supaya mereka menghancurluluhkan segala yang telah mereka kuasai.   Boleh jadi kini  Rabb (Tuhan)  kamu akan menaruh kasihan kepadamu, tetapi jika kamu kembali kepada perbuatan buruk, Kami pun akan kembali menimpakan hukuman dan ingatlah, Kami telah jadikan Jahannam, penjara bagi orang- orang kafir.   (Bani Israil [17]:5-9)

Nubuatan dan Peringatan Bagi Bani Isma’il (Umat Islam)

       Ayat ini mengandung peringatan bagi umat Islam, bahwa seperti orang-orang Yahudi mereka pun akan dihukum dua kali, jika mereka tidak mau meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk mereka. Tetapi  umat Islam tidak memperoleh faedah dari peringatan yang tepat pada waktunya itu, serta tidak meninggalkan cara-cara yang buruk; dan oleh karena itu mereka pun telah dihukum dua kali oleh Allah Swt., seperti yang menimpa Bani Israil akibat kutukan Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.5:79-81).
       Hukuman Allah Swt. menimpa mereka, ketika kota Baghdad jatuh pada tahun 1258 M. Pasukan-pasukan Hulaku Khan yang  biadab itu sama sekali memusnahkan pusat ilmu pengetahuan dan kekuasaan yang agung itu, dan konon kabarnya 1.800.000 orang Islam telah terbunuh pada ketika itu.   Tetapi dari malapetaka yang mengerikan itu akhirnya Islam keluar sebagai pemenang. Mereka yang menaklukkan menjadi yang ditaklukkan. Cucu Hulaku Khan bersama-sama sejumlah besar orang Moghul dan Tartar memeluk agama Islam.
        Hukuman Allah Swt. kedua telah ditakdirkan akan menimpa umat Islam di Akhir Zaman pada saat merajalelanya Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog)  --  yakni bangsa-bangsa Kristen dari Eropa (QS.21:97)  --  melalui politik Devide et Impera  (memecah-belah dan menjajah), sebagaimana yang dilakukan dinasti Fir’aun di Mesir, akibat kesalahan umat Islam sendiri yang  -- di masa kemundurannya selama 1000 tahun (QS.32:6)  setelah mengalami 3 abad masa kejayaan yang pertama  --  mereka  terlibat dalam perselisihan masalah fiqih   dan saling bertentangan,  bahkan saling mengkafirkan firqah lainnya yang berbeda faham.
        Kenyataan itulah yang dikhawatirkan Nabi Besar Muhammad saw. dalam hadits qudsi yang kedua sebelum ini,  sehingga  Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) yakni bangsa-bangsa Kristen dari Eropa (QS.21:97 melalui politik Devide et Impera  (memecah-belah dan menjajah) berhasil menguasai berbagai wilayah kekuasaan umat Islam, termasuk di Nusantara ini
    “Tsauban r.a., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah memperlihatkan bumi kepadaku lalu aku melihat timur dan baratnya, dan sungguh kerajaan umatku akan sampai kepada bumi yang ditampakkan kepadaku. Aku diberi dua pembendaharaan yaitu merah dan putih. Sungguh aku mohon kepada Tuhan-ku bagi umatku agar tidak dihancurkan dengan tahun yang umum dan tidak dikuasai oleh musuh selain dari mereka sendiri, lalu ia memusnahkan golongan mereka. Sesungguhnya Tuhan-ku berfirman, “Wahai Muhammad, sesungguhnya apabila Aku menetapkan suatu ketetapan maka ketetapan itu  tidaklah tertolak. Dan sesungguhnya Aku memberi engkau mengenai umat engkau tidak Aku hancurkan dengan tahun yang umum, dan Aku tidak menguasakan musuh atas mereka selain dari mereka sendiri yang memusnahkan golongan mereka, wlaau pun berkumpul atas mereka dari seluruh penjuru   -- atau Dia berfirman: “dari seluruh penjuru bumi – sehingga sebagian mereka menghancurkan sebagian yang lain, dan sebagian mereka menawan terhadap sebagian yang lain.” (Muslim).

Penyebab Kehancuran Berbagai  Negara   Islam di Wilayah Timur Tengah

       Kenyataan yang terjadi di  kalangan umat Islam di wilayah Timur Tengah di Akhir Zaman ini membuktikan kebenaran firman Allah Swt. dalam  kedua hadits qudsi tersebu, terutama hadits qudsi yang diriwayatkan Tsauban r.a..  Sebab keberhasilan Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) – yakni bangsa-bangsa Kristen dari barat   -- menguasai berbagai wilayah kekuasaan umat Islam  di dunia,   termasuk di Nusantara, selain karena mereka menguasai persenjataan mutakhir yang mempergunakan tenaga api (QS.18:19; QS.21:97), tetapi perselisihan dan perpecahan di kalangan umat Islam (QS.3:103-104) merupakan  penyebab utama  mereka dapat menguasai wilayah umat Islam, sebagaimana firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰہَ حَقَّ تُقٰتِہٖ وَ لَا تَمُوۡتُنَّ  اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ  مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾  وَ اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا وَّ لَا تَفَرَّقُوۡا ۪ وَ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ  اِذۡ  کُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوۡبِکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا ۚ وَ کُنۡتُمۡ عَلٰی شَفَا حُفۡرَۃٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنۡقَذَکُمۡ مِّنۡہَا ؕ کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ لَکُمۡ اٰیٰتِہٖ  لَعَلَّکُمۡ  تَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾  وَلۡتَکُنۡ مِّنۡکُمۡ اُمَّۃٌ یَّدۡعُوۡنَ اِلَی الۡخَیۡرِ وَ یَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ یَنۡہَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡکَرِ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾ وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ تَفَرَّقُوۡا وَ اخۡتَلَفُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ ﴿﴾ۙ  یَّوۡمَ تَبۡیَضُّ وُجُوۡہٌ  وَّ تَسۡوَدُّ وُجُوۡہٌ ۚ فَاَمَّا الَّذِیۡنَ اسۡوَدَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ ۟ اَکَفَرۡتُمۡ بَعۡدَ اِیۡمَانِکُمۡ فَذُوۡقُوا الۡعَذَابَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡفُرُوۡنَ ﴿﴾  وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ ابۡیَضَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ فَفِیۡ رَحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ ہُمۡ  فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾  تِلۡکَ اٰیٰتُ اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ مَا اللّٰہُ یُرِیۡدُ  ظُلۡمًا لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾     وَ لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ  اِلَی اللّٰہِ  تُرۡجَعُ  الۡاُمُوۡرُ  ﴿ ﴾٪
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan  janganlah sekali-kali kamu mati kecuali kamu dalam keadaan berserah  diri.  Dan  berpegangteguhlah kamu sekalian pada tali Allah dan    janganlah kamu berpecah-belahdan  ingatlah akan nikmat Allah atas kamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, lalu  Dia menyatukan hati kamu dengan kecintaan  antara satu sama lain maka  dengan nikmat-Nya itu kamu menjadi bersaudara, dan kamu dahulu berada di tepi jurang Api lalu Dia menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menjelaskan Ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu mendapat petunjuk.   Dan hendaklah ada segolongan di antara kamu   yang senantiasa menyeru manusia kepada kebaikan,  dan menyuruh kepada yang makruf,  dan melarang dari berbuat munkar,  dan mereka itulah orang-orang yang berhasil.  وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ تَفَرَّقُوۡا وَ اخۡتَلَفُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ --  Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang  berpecah-belah dan berselisih   sesudah  bukti-bukti yang jelas datang kepada mereka, dan mereka itulah orang-orang  yang baginya  ada azab yang besar.   Pada hari  ketika  wajah-wajah menjadi putih, dan wajah-wajah lainnya   menjadi hitam.  Ada pun orang-orang yang wajahnya menjadi hitam, dikatakan kepada mereka: Apakah  kamu kafir  sesudah beriman? Karena itu rasakanlah azab ini disebabkan kekafiran kamu."   Dan  ada pun orang-orang yang wajahnya putih, maka mereka akan berada di dalam rahmat Allah, mereka kekal  di dalamnya.   Itulah Ayat-ayat Allah, Kami membacakannya kepada engkau dengan haq, dan Allah sekali-kali tidak menghendaki suatu kezaliman  atas seluruh alam.  Dan  milik Allah-lah apa pun  yang ada di seluruh langit dan apa pun yang ada di bumi, dan kepada Allah-lah segala urusan dikembalikan.  (Ali ‘Imrān [3]:103-110).
       Ada pun  salah satu makna “kafir setelah beriman” dalam ayat:   Pada hari  ketika  wajah-wajah menjadi putih, dan wajah-wajah lainnya   menjadi hitam.  Ada pun orang-orang yang wajahnya menjadi hitam, dikatakan kepada mereka: Apakah  kamu kafir  sesudah beriman? Karena itu rasakanlah azab ini disebabkan kekafiran kamu," mereka beriman kepada nubuatan kedatangan rasul Allah yang dijanjikan di Akhir Zaman yang akan memwujudkan “kejayaan Islam” yang kedua kali (QS.61:10), tetapi ketika wujud yang dijanjikan Allah Swt. tersebut benar-benar muncul   (QS.7:35-37) -- yakni Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58; QS.62:3-4)  -- mereka menjadi penentangnya yang paling depan, padahal Allah Swt. telah mengambil perjanjian  melalui para nabi Allah bahwa mereka akan beriman kepadanya dan akan membantu perjuangan sucinya  (QS.3:82-83).

Politik Devide et Impera  (Memecah-belah dan Menjajah) yang Dilakukan Para   Penjajah  di Berbagai Wilayah Dunia

         Timbulnya perselisihan dan perpecahan di kalangan umat Islam tersebut  di Akhir Zaman ini dimanfaatkan oleh Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) untuk menjalankan politik Devide et Impera  (memecah-belah dan menjajah) sebagaimana telah dilakukan oleh Dinasti Fir’aun di Mesir, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  طٰسٓمّٓ ﴿    تِلۡکَ اٰیٰتُ  الۡکِتٰبِ  الۡمُبِیۡنِ ﴿﴾   نَتۡلُوۡا عَلَیۡکَ مِنۡ نَّبَاِ مُوۡسٰی وَ فِرۡعَوۡنَ بِالۡحَقِّ  لِقَوۡمٍ  یُّؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾  اِنَّ فِرۡعَوۡنَ عَلَا فِی الۡاَرۡضِ وَ جَعَلَ اَہۡلَہَا شِیَعًا یَّسۡتَضۡعِفُ طَآئِفَۃً  مِّنۡہُمۡ یُذَبِّحُ اَبۡنَآءَہُمۡ وَ یَسۡتَحۡیٖ نِسَآءَہُمۡ ؕ اِنَّہٗ  کَانَ مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿﴾  وَ نُرِیۡدُ اَنۡ نَّمُنَّ عَلَی الَّذِیۡنَ اسۡتُضۡعِفُوۡا فِی الۡاَرۡضِ وَ نَجۡعَلَہُمۡ اَئِمَّۃً  وَّ  نَجۡعَلَہُمُ  الۡوٰرِثِیۡنَ ۙ﴿﴾  وَ نُمَکِّنَ لَہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ وَ نُرِیَ فِرۡعَوۡنَ وَ ہَامٰنَ وَ جُنُوۡدَہُمَا مِنۡہُمۡ مَّا  کَانُوۡا  یَحۡذَرُوۡنَ ﴿﴾
Aku baca dengan nama  Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Maha Suci, Maha Mendengar, Maha Mulia.   Inilah ayat-ayat Kitab yang jelas.   Kami membacakan kepada engkau berita mengenai  Musa dan Fir’aun dengan  benar untuk kaum yang beriman.  اِنَّ فِرۡعَوۡنَ عَلَا فِی الۡاَرۡضِ وَ جَعَلَ اَہۡلَہَا شِیَعًا یَّسۡتَضۡعِفُ طَآئِفَۃً  مِّنۡہُمۡ یُذَبِّحُ اَبۡنَآءَہُمۡ وَ یَسۡتَحۡیٖ نِسَآءَہُمۡ ؕ اِنَّہٗ  کَانَ مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ --    Sesungguhnya Fir’aun berlaku sombong di bumi  dan ia menjadikan penduduknya  bergolongan-golongan, ia berusaha melemahkan segolongan dari mereka  dengan   menyembelih anak-anak laki-laki mereka, dan membiarkan hidup perempuan-perempuan mereka, sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang berbuat kerusuhan. Dan Kami hendak memberikan karunia kepada orang-orang yang dianggap lemah di bumi  dan menjadikan mereka pemimpin-pemimpin dan menjadikan mereka ahli waris ka-runia-karunia Kami. Dan Kami memapankan mereka di bumi  dan Kami memperlihatkan kepada Fir’aun serta Haman  dan  lasykar keduanya dari antara mereka apa yang mereka khawatirkan. (Al-Qashash [28]:1-7). 
        Ayat  اِنَّ فِرۡعَوۡنَ عَلَا فِی الۡاَرۡضِ وَ جَعَلَ اَہۡلَہَا شِیَعًا یَّسۡتَضۡعِفُ طَآئِفَۃً  مِّنۡہُمۡ یُذَبِّحُ اَبۡنَآءَہُمۡ وَ یَسۡتَحۡیٖ نِسَآءَہُمۡ ؕ اِنَّہٗ  کَانَ مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ --  dSesungguhnya Fir’aun berlaku sombong di bumi  dan ia menjadi-kan2196 penduduknya  bergolongan-golongan, ia berusaha melemahkan se-golongan dari mereka  dengan  menyembelih anak-anak laki-laki mere-ka, dan membiarkan hidup perempuan-perempuan mereka, sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang berbuat kerusuhan”    mengisyaratkan  politik divide et impera (memecah-belah dan menjajah)  yang dilaksanakan dinasti Fir’aun di Mesir selama ratusan tahun, dengan akibatnya yang sangat mematikan,  seperti dijalankan kekuatan-kekuatan kaum kolonial barat – yakni Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog)   -- di abad kedua puluh ini, agaknya politik divide et impera di zaman Fir’aun telah dijalankan juga olehnya dengan sukses besar.
        Fir’aun  telah memecah-belah rakyat Mesir ke dalam beberapa partai dan golongan serta dengan busuk hati telah membuat perbedaan kelas di antara mereka. Beberapa di antara mereka dianak-emaskannya dan yang lain diperas dan ditindasnya.
     Kaum Nabi Musa a.s.   – kecuali Qarun (QS.28:77-83)   -- termasuk kelas (golongan) yang tidak beruntung. Kata-kata  menyembelih anak-anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup perempuan-perempuan mereka, kecuali mengandung pengertian yang jelas, bahwa agar supaya orang-orang Bani Israil selamanya tunduk di bawah kekuasaannya, Fir’aun membinasakan kaum pria mereka dan membiarkan hidup perempuan-perempuan mereka, dapat juga diartikan bahwa dengan politik menjajah dan menindas tanpa belas kasihan itu ia berikhtiar membunuh sifat-sifat kejantanan mereka dan dengan demikian membuat mereka jadi pengalah seperti perempuan, sebagaimana yang terjadi pada Bani Israil,  sehingga mereka menolak perintah Nabi Muas a.s.  untuk bersama-sama memasuki “Negeri yang dijanjikan” (QS.5:21-27), padahal mereka menyaksikan Fir’aun dan pasukannya ditenggelamkan Allah Swt. di lautan ketika mengejar Bani Israil  (QS.10:91-93).

Pengutusan Rasul Allah yang Dijanjikan Untuk Membangun “Bumi Baru dan Langit Baru” Sebagai Nemesis (Pembalasan) Bagi  Pihak yang Zalim

         Makna ayat:   وَ نُرِیۡدُ اَنۡ نَّمُنَّ عَلَی الَّذِیۡنَ اسۡتُضۡعِفُوۡا فِی الۡاَرۡضِ وَ نَجۡعَلَہُمۡ اَئِمَّۃً  وَّ  نَجۡعَلَہُمُ  الۡوٰرِثِیۡنَ -- “Dan Kami   hendak memberikan karunia kepada orang-orang yang dianggap lemah di bumi  dan menjadikan mereka pemimpin-pemimpin dan menjadikan mereka ahli waris karunia-karunia Kami.   Dan Kami memapankan mereka di bumi”, وَ نُرِیَ فِرۡعَوۡنَ وَ ہَامٰنَ وَ جُنُوۡدَہُمَا مِنۡہُمۡ مَّا  کَانُوۡا  یَحۡذَرُوۡنَ -- dan Kami memperlihatkan kepada Fir’aun dan Haman dan lasykarnya apa yang mereka khawatirkan.”  (QS.28:6-7). Yakni ketika upaya merendahkan derajat orang-orang Bani Israil di Mesir itu mencapai titik yang serendah-rendahnya, dan kezaliman Fir’aun dan bangsanya kian meluap-luap, dan Allah Swt. -- sesuai dengan hikmah-Nya yang tidak mungkin keliru itu -- memutuskan bahwa penindas-penindas itu harus dihukum dan mereka yang diperbudak dibebaskan, maka Dia mengutus Nabi Musa a.s. Gejala yang terjadi di masa tiap-tiap utusan Allah, menampakkan perwujudan sepenuhnya dan seindah-indahnya di masa kenabian Nabi Besar Muhammad saw..
      Haman itu gelar pendeta agung dewa Amon; “ham” di dalam bahasa Mesir berarti, pendeta agung. Dewa Amon menguasai semua dewa Mesir lainnya. Haman adalah kepala khazanah dan lumbung negeri, dan juga yang mengepalai lasykar-lasykar dan semua ahli pertukangan di Thebes. Namanya adalah Nubunnef, dan ia pendeta agung di bawah Rameses II dan putranya yang bernama Merenptah.
   Karena Haman menjadi kepala organisasi kependetaan yang sangat kaya, merangkum semua pendeta di seluruh negeri, kekuasaannya dan wibawanya telah meningkat sedemikian rupa, sehingga ia menguasai suatu partai politik yang sangat berpengaruh, dan bahkan mempunyai suatu pasukan pribadi (“A story of Egypt” oleh James Henry Breasted, Ph.D).
         Haman juga dikatakan sebagai nama seorang menteri dari Ahasuerus, seorang raja Persia, yang hidup pada beberapa abad sesudah zaman Nabi Musa a.s.. Tak ada sesuatu yang patut diherankan atau menjadi keberatan adanya dua orang yang masing-masing hidup di zaman yang berlainan memakai nama yang sama.
       Makna ayat:     وَ نُرِیۡدُ اَنۡ نَّمُنَّ عَلَی الَّذِیۡنَ اسۡتُضۡعِفُوۡا فِی الۡاَرۡضِ وَ نَجۡعَلَہُمۡ اَئِمَّۃً  وَّ  نَجۡعَلَہُمُ  الۡوٰرِثِیۡنَ -- “Dan Kami   hendak memberikan karunia kepada orang-orang yang dianggap lemah di bumi  dan menjadikan mereka pemimpin-pemimpin dan menjadikan mereka ahli waris karunia-karunia Kami.   Dan Kami memapankan mereka di bumi”, وَ نُرِیَ فِرۡعَوۡنَ وَ ہَامٰنَ وَ جُنُوۡدَہُمَا مِنۡہُمۡ مَّا  کَانُوۡا  یَحۡذَرُوۡنَ -- dan Kami memperlihatkan kepada Fir’aun dan Haman dan lasykarnya apa yang mereka khawatirkan”  (QS.28:6-7).   Yakni perbudakan dan kezaliman menghasilkan nemesis-nya (pembalasan keadilannya) sendiri.
    Kaum penjajah dan penindas tak pernah merasa aman terhadap kemungkinan munculnya pemberontakan terhadap mereka oleh orang-orang yang terjajah, tertindas atau tertekan.  Lebih hebat penindasan dari seseorang yang zalim, lebih besar pula ketakutannya akan pemberontakan dari mereka yang dijajah. Demikian juga Fira’un pun dicekam oleh rasa takut semacam itu.  

Nubuatan Dalam Al-Quran Mengenai Merajalelanya  Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog)

          Di Akhir Zaman ini keberhasilan   Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog)   -- yakni bangsa-bangsa Kristen dari barat,    termasuk  bangsa Belanda   melalui VOC –  mengetahui bahwa  jika berkonfrontasi langsung dengan  bangsa-bangsa yang hendak dijajah mereka  -- termasuk bangsa-bangsa yang menganut agama Islam seperti di Nusantara --   kemungkinan besar akan  mengalami kegagalan, karena itu mereka mulai strategisnya melalui   “misi perdagangan”  (QS.18:20-21).
         Kenyataan tersebut 1400 tahun yang lalu telah dinubuatkan  Allah Swt. dalam Al-Quran ketika membahas “Ashhābul-Kahf (para Penghuni Gua)  -- yang banyak disalah-tafsirkan – berupa dongeng khayal  --  firman-Nya:
اَمۡ حَسِبۡتَ اَنَّ  اَصۡحٰبَ الۡکَہۡفِ وَ الرَّقِیۡمِ ۙ کَانُوۡا  مِنۡ  اٰیٰتِنَا  عَجَبًا ﴿﴾  اِذۡ اَوَی الۡفِتۡیَۃُ  اِلَی الۡکَہۡفِ فَقَالُوۡا رَبَّنَاۤ اٰتِنَا مِنۡ لَّدُنۡکَ رَحۡمَۃً  وَّ ہَیِّیٔۡ لَنَا مِنۡ  اَمۡرِنَا  رَشَدًا  ﴿﴾ فَضَرَبۡنَا عَلٰۤی اٰذَانِہِمۡ فِی الۡکَہۡفِ سِنِیۡنَ عَدَدًا ﴿ۙ﴾  ثُمَّ بَعَثۡنٰہُمۡ لِنَعۡلَمَ اَیُّ الۡحِزۡبَیۡنِ اَحۡصٰی  لِمَا  لَبِثُوۡۤا  اَمَدًا ﴿٪﴾
Ataukah engkau menyangka bahwa  penghuni gua dan prasasti-prasastinya  itu adalah dari antara Tanda-tanda Kami yang menakjubkan?  Ketika para pemuda mencari perlindungan ke dalam gua itu  lalu mereka berkata: "Ya Rabb (Tuhan) kami, anugerahilah kami rahmat dari sisi Engkau, dan lengkapilah kami dengan petunjuk yang benar dalam urusan kami."  Maka Kami mencegah mereka dari mendengar dalam gua be­berapa tahun lamanya.  Kemudian Kami membangkit­kan mereka supaya Kami menge­tahui manakah di antara dua go­longan yang lebih tepat mem­buat perhitungan mengenai lamanya mereka tinggal. (Al-Kahf [17]:10-13).
    Ungkapan ashhāb al-kahf, telah diberi banyak arti, seperti:  kaum gua;  orang-orang gua;   teman-teman segua; penghuni gua; dan  penduduk gua.  Ayat-ayat  ini menyatakan  bahwa para penghuni gua itu bukanlah wujud‑
wujud aneh
. Tidak ada sifat mereka yang dianggap  menyimpang dari hukum alam biasa, sebagaimana pernyataan ayat:  
Ataukah engkau menyangka bahwa  penghuni gua dan prasasti-prasastinya  itu adalah dari antara Tanda-tanda Kami yang menakjubkan?”

Munculnya Berbagai “Dongeng Khayal”  Mengenai Para “Penghuni Gua

     Tetapi sungguh amat aneh bahwa banyak dongengan-dongengan khayali  telah terjalin sekitar mereka. Kisah yang tersohor tentang "Seven Sleepers" (Tujuh penidur) seperti diuraikan oleh Gibbon dalam karyanya "Decline and fall of the Roman Empire" (Kemunduran dan jatuhnya kerajaan Romawi), memberi suatu kunci penting untuk menyingkapkan kabut rahasia yang menyelubungi para penghuni gua itu. 
    Gibbon berkata: "Ketika Maharaja Decius  mengejar-ngejar dan menindas orang-orang Kristen, tujuh pemuda bangsawan dari Ephesus menvembunyikan diri dalam sebuah gua yang luas di pinggir sebuah gunung di mana mereka dibiarkan menjadi musnah oleh raja zalim itu, dan memberi perintah untuk menutup pintu masuk gua itu rapat-rapat dengan tumpukan batu-batu besar.”
     Menurut riwayat lain, konon kabarnya Yusuf itu mengembara di Britania padatahun 63 M. Menurut dongengan-dongengan, gereja Glastonbury yang pertama itu merupakan bangunan yang dibuat dengan ranting-ranting yang dianyam, didirikan oleh Yusuf Arimatea, ialah kepala dua betas rasul yang diutus ke Britania dari Gaul oleh Santa Filip (Encyclopaedia Britannica,, Edisi ke­10 & Edisi ke-13, pada kata "Yoseph of Arimathea" & pada kata "Glastonbury").
    Teori terbaru yang mendapat dukungan kuat dari penyelidikan terhadap "Dead Sea scrolls" (Gulungan-gulungan tulisan yang terdapat di dekat Laut Mati), menunjukkan gua-gua itu — yakni tempat orang-orang Kristen pertama mencari perlindungan dan mereka menuliskan kepercayaan-kepercayaan serta ajaran­ajaran mereka — di sebuah lembah dekat Laut Mati.
  Pada hakikatnya "Gua" dan "prasasti" merupakan dua segi yang sangat penting dalam kepercayaan Kristen,  yang berarti bahwa pada  masa awal agama Kristen itu mulai sebagai agama yang melepaskan dan menarik diri dari keramaian dunia, tetapi  kemudian  berakhir dengan menjadi suatu agama yang memusatkan perhatian kepada urusan dunia; suatu agama perdagangan dan perniagaan dalam dunia tulis-menulis dan prasasti­-prasasti (tulisan-tulisan pada dinding dan benda-benda).  
     Ungkapan bahasa Arab dharaba 'alā  ‘udznihī  berarti “ia  mencegahnya dari mendengar”. Ungkapan Al-Quran ini berarti. "Kami mencegah mereka dari mendengar." Ungkapan itu berarti pula "Kami membuat mereka tidur dengan mencegah dari masuk suara di telinga mereka yang menyebabkan mereka bangun" (Lexicon Lane).
   Secara harfiah ayat ini berarti. "Kami mencegah suara apa pun dari menembus ke dalam telinga", yaitu untuk beberapa tahun mereka sama sekali terasing dan terpisah dari urusan-urusan dunia luar dan tidak mengetahui   apa yang sedang terjadi di sana.
  Dari ayat tersebut  diketahui bahwa nampaknya ada dua golongan di antara orang-orang Kristen di   zaman permulaan:
(a) mereka yang tidak mau berpura-pura atau bersembunyi­-sembunyi dan karena tidak mengenai kompromi dengan kekafiran dan kemusyrikan, mereka menanggung   penindasan akibat keimanan mereka dengan sabar dan ketabahan. Orang-orang itu terpaksa mencari perlindungan di gua-gua;
 (b) mereka  yang menganggap, bahwa kebijaksanaan itu lebih baik daripada keberanian,  mereka menyembunyikan keimanan serta menyelamatkan dirinya dari penindasan. "Dua.golongan" itu dapat pula menunjuk kepada mereka yang menindas dan yang ditindas.

Para Pemeluk Tauhid Ilahi

  Lebih lanjut Allah Swt. menerangkan mengenai keadaan orang-orang Kristen di masa awal yang tetap teguh pada Tauhid Ilahi yang diajarkan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.5:117-119), firman-Nya:
نَحۡنُ نَقُصُّ عَلَیۡکَ نَبَاَہُمۡ  بِالۡحَقِّ ؕ اِنَّہُمۡ فِتۡیَۃٌ  اٰمَنُوۡا بِرَبِّہِمۡ وَ زِدۡنٰہُمۡ ہُدًی  ﴿٭ۖ﴾ وَّ رَبَطۡنَا عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ اِذۡ قَامُوۡا فَقَالُوۡا رَبُّنَا رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ لَنۡ نَّدۡعُوَا۠ مِنۡ دُوۡنِہٖۤ  اِلٰـہًا لَّقَدۡ قُلۡنَاۤ  اِذًا  شَطَطًا ﴿﴾  ہٰۤؤُلَآءِ قَوۡمُنَا اتَّخَذُوۡا مِنۡ دُوۡنِہٖۤ اٰلِہَۃً ؕ  لَوۡ لَا یَاۡتُوۡنَ عَلَیۡہِمۡ بِسُلۡطٰنٍۭ بَیِّنٍ ؕ فَمَنۡ اَظۡلَمُ  مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ کَذِبًا ﴿ؕ﴾  وَ اِذِ اعۡتَزَلۡتُمُوۡہُمۡ وَمَا یَعۡبُدُوۡنَ  اِلَّا اللّٰہَ  فَاۡ وٗۤا اِلَی الۡکَہۡفِ یَنۡشُرۡ لَکُمۡ رَبُّکُمۡ مِّنۡ رَّحۡمَتِہٖ وَیُہَیِّیٔۡ لَکُمۡ مِّنۡ  اَمۡرِکُمۡ  مِّرۡفَقًا ﴿﴾
Kami menceriterakan kepada engkau kisah mereka dengan benar, sesungguhnya mereka itu para  pemuda  yang beriman kepada Tuhan-nya, dan  Kami me­nambah kepada mereka petunjuk.  Dan Kami menguatkan hati mereka  ketika mereka berdiri teguh dan berkata: "Rabb (Tuhan) kami adalah Rabb (Tuhan) seluruh langit dan bumi, kami  tidak pernah menyeru tuhan selain Dia, karena  jika demikian sungguh kami  benar-benar telah berkata    jauh dari kebenaran.   Mereka itu kaum kami yang telah mengambil tuhan-tuhan lain selain Dia.  Mengapa mereka tidak mengemukakan suatu dalil yang terang mengenai mereka itu? Maka  siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah?  Dan ketika kamu meninggalkan mereka dan  apa yang mereka sembah selain Allah lalu carilah perlindungan dalam gua itu  maka Rabb (Tuhan) kamu akan melapangkan bagi kamu rahmat-Nya  dan akan menyediakan untuk kamu sarana kemudahan bagi urusanmu." (Al-Kahf [17]:14-17).
     Ayat ini menunjukkan, bahwa di masa Nabi Besar Muhammad saw.  banyak kisah khayalan telah tersiar mengenai "penghuni-penghuni gua." Tetapi hakikat yang sebenarnya mengenai mereka ialah  bahwa mereka itu para pemuda yang memiliki akhlak mulia, yang telah mempertaruhkan segala-galanya semata­-mata untuk Tuhan mereka,  dan juga bahwa keimanan mereka berangsur-angsur menjadi lebih kuat  berkat penindasan dan aniaya yang mereka alami dari kaum mereka yang menentang mereka.
    Sekalipun kaum mereka memusuhi mereka dan menindas mereka tanpa mengenal ampun, namun "penghuni-penghuni gua" itu tidak dapat ditundukkan oleh ancaman untuk memaksa mereka meninggalkan agama mereka. Allah Swt.  telah menguatkan hati mereka dan telah menganugerahkan kepada mereka kekuatan iman.
    "Penghuni-penghuni gua" itu tadinya berasal dari satu kaum penyembah berhala. Dan  memang demikianlah keadaan bangsa Romawi itu.   Ayat:  “Dan ketika kamu meninggalkan mereka dan  apa yang mereka sembah selain Allah lalu carilah perlindungan dalam gua itu  maka Rabb (Tuhan) kamu akan melapangkan bagimu rahmat-Nya  dan akan menyediakan untuk kamu sarana kemudahan bagi urusanmu"   membuat hal itu menjadi jelas  bahwa para pemuda  yang berpegang pada tauhid  tersebut   bukanlah  perorangan-perorangan yang terpencar melainkan  merupakan bagian dari satu masyarakat agama yang tersusun dan teratur, yang anggota-anggotanya seringkali mengadakan pertemuan-pertemuan secara sembunyi-sembunyi.
  Ayat ini menunjukkan  bahwa manakala para pemuda itu berembuk untuk mencari perlindungan dalam gua, dalam pikiran mereka terlintas gua tertentu. Nampaknya gua itu sebelumnya telah dipergunakan sebagai tempat pengungsian oleh budak-sahaya Romawi ketika mereka melarikan diri dari majikan-majikan mereka yang zalim.

(Bersambung)
ooo
Rujukan: The Holy Quran
Editor    : Malik Ghulam Farid

Pajajaran Anyar,   25 Juli 2017



Tidak ada komentar:

Posting Komentar