Bismillāhirrahmānirrahīm
KHAZANAH AL-QURAN
Bab
12
PERPECAHAN UMAT
ISLAM PENYEBAB UTAMA TERJADINYA TRAGEDI
MENGERIKAN DI TIMUR TENGAH & POLITIK DEVIDE
ET IMPERA (MEMECAH-BELAH DAN MENJAJAH) FIR’AUN
AKHIR ZAMAN
Oleh
Ki
Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir bab sebelumnya
telah dikemukakan topic: Nubuatan Dan Peringatan Untuk Umat Islam (Bani
Isma’il) berkenaan
dengan firman Allah Swt.:
وَ قَضَیۡنَاۤ اِلٰی
بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ فِی الۡکِتٰبِ
لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ
مَرَّتَیۡنِ وَ
لَتَعۡلُنَّ عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا
بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ
عِبَادًا لَّنَاۤ اُولِیۡ بَاۡسٍ
شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا
خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ وَعۡدًا مَّفۡعُوۡلًا ﴿﴾ ثُمَّ رَدَدۡنَا
لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ اَکۡثَرَ
نَفِیۡرًا ﴿﴾ اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا ؕ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ لِیَسُوۡٓءٗا وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ اَوَّلَ مَرَّۃٍ وَّ لِیُتَبِّرُوۡا
مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا ﴿﴾ عَسٰی رَبُّکُمۡ اَنۡ یَّرۡحَمَکُمۡ ۚ وَ اِنۡ عُدۡتُّمۡ عُدۡنَا ۘ وَ جَعَلۡنَا جَہَنَّمَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ
حَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan telah Kami tetapkan dengan jelas kepada
Bani Israil dalam kitab itu:
“Niscaya kamu akan melakukan kerusakan di muka bumi ini dua kali, dan
niscaya kamu akan menyombongkan diri
dengan kesombongan yang sangat besar.” Apabila datang
saat sempurnanya janji yang pertama dari kedua
janji itu, Kami membangkitkan untuk menghadapi kamu
hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan tempur yang dahsyat, dan mereka menerobos jauh ke dalam rumah-rumah,
dan itu merupakan suatu janji yang pasti
terlaksana. Kemudian Kami
mengembalikan lagi kepada kamu kekuatan untuk melawan mereka, dan Kami membantu kamu dengan harta dan
anak-anak, dan Kami menjadikan kelompok kamu lebih besar dari sebelumnya. Jika
kamu berbuat ihsan, kamu berbuat ihsan bagi diri kamu sendiri, dan jika kamu berbuat buruk maka itu
untuk dirimu sendiri. Lalu bila
datang saat sempurnanya janji yang kedua itu Kami membangkitkan
lagi hamba-hamba Kami yang lain supaya mereka
mendatangkan kesusahan kepada pemimpin-pemimpin kamu dan supaya mereka memasuki masjid seperti pernah
mereka memasukinya pada kali pertama, dan supaya mereka menghancurluluhkan segala yang telah mereka kuasai. Boleh jadi kini Rabb
(Tuhan) kamu akan menaruh kasihan
kepadamu, tetapi jika kamu kembali
kepada perbuatan buruk, Kami pun
akan kembali menimpakan hukuman dan ingatlah, Kami telah jadikan Jahannam, penjara bagi
orang- orang kafir. (Bani
Israil [17]:5-9)
Nubuatan dan Peringatan Bagi Bani Isma’il (Umat Islam)
Ayat ini mengandung peringatan bagi umat Islam, bahwa seperti orang-orang
Yahudi mereka pun akan dihukum dua
kali, jika mereka tidak mau meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk mereka. Tetapi umat
Islam tidak memperoleh faedah
dari peringatan yang tepat pada waktunya itu, serta tidak meninggalkan cara-cara yang buruk; dan oleh karena itu
mereka pun telah dihukum dua kali oleh
Allah Swt., seperti yang menimpa Bani
Israil akibat kutukan Nabi Daud
a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.5:79-81).
Hukuman Allah Swt. menimpa
mereka, ketika kota Baghdad jatuh
pada tahun 1258 M. Pasukan-pasukan Hulaku Khan yang biadab
itu sama sekali memusnahkan pusat ilmu
pengetahuan dan kekuasaan yang agung
itu, dan konon kabarnya 1.800.000 orang
Islam telah terbunuh pada ketika
itu. Tetapi dari malapetaka yang
mengerikan itu akhirnya Islam keluar
sebagai pemenang. Mereka yang menaklukkan menjadi yang ditaklukkan. Cucu Hulaku Khan bersama-sama sejumlah besar orang Moghul dan Tartar memeluk
agama Islam.
Hukuman Allah Swt. kedua telah
ditakdirkan akan menimpa umat Islam di Akhir Zaman pada saat merajalelanya Ya’juj (Gog) dan Ma’juj
(Magog) -- yakni bangsa-bangsa
Kristen dari Eropa
(QS.21:97) -- melalui politik Devide et Impera (memecah-belah dan menjajah), sebagaimana yang
dilakukan dinasti Fir’aun di Mesir,
akibat kesalahan umat Islam sendiri
yang -- di masa kemundurannya selama 1000
tahun (QS.32:6) setelah mengalami 3 abad masa kejayaan yang pertama --
mereka terlibat dalam perselisihan masalah fiqih
dan saling bertentangan, bahkan saling mengkafirkan firqah lainnya yang berbeda faham.
Kenyataan itulah yang dikhawatirkan Nabi Besar Muhammad saw. dalam hadits qudsi yang kedua sebelum ini, sehingga
Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) yakni bangsa-bangsa Kristen dari Eropa (QS.21:97 melalui politik Devide
et Impera (memecah-belah dan menjajah) berhasil menguasai berbagai wilayah
kekuasaan umat Islam, termasuk di Nusantara
ini
“Tsauban
r.a., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah
memperlihatkan bumi kepadaku lalu aku
melihat timur dan baratnya, dan sungguh
kerajaan umatku akan sampai kepada bumi yang ditampakkan kepadaku. Aku diberi dua pembendaharaan yaitu merah dan putih. Sungguh aku mohon
kepada Tuhan-ku bagi umatku agar tidak dihancurkan dengan tahun yang umum dan
tidak dikuasai oleh musuh selain dari mereka sendiri, lalu ia memusnahkan
golongan mereka. Sesungguhnya Tuhan-ku berfirman, “Wahai Muhammad, sesungguhnya apabila Aku menetapkan suatu ketetapan
maka ketetapan itu tidaklah tertolak.
Dan sesungguhnya Aku memberi engkau mengenai umat engkau tidak Aku hancurkan
dengan tahun yang umum, dan Aku tidak menguasakan musuh atas mereka selain dari
mereka sendiri yang memusnahkan golongan mereka, wlaau pun berkumpul atas
mereka dari seluruh penjuru -- atau
Dia berfirman: “dari seluruh penjuru bumi – sehingga sebagian mereka menghancurkan sebagian yang lain, dan sebagian mereka menawan terhadap sebagian
yang lain.” (Muslim).
Penyebab Kehancuran Berbagai Negara
Islam di Wilayah Timur Tengah
Kenyataan yang terjadi di kalangan umat
Islam di wilayah Timur Tengah di Akhir Zaman ini membuktikan kebenaran firman Allah Swt. dalam kedua hadits
qudsi tersebu, terutama hadits qudsi
yang diriwayatkan Tsauban r.a.. Sebab keberhasilan Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog)
– yakni bangsa-bangsa Kristen dari
barat -- menguasai berbagai wilayah
kekuasaan umat Islam di dunia, termasuk di Nusantara, selain karena mereka menguasai persenjataan mutakhir yang mempergunakan tenaga api (QS.18:19; QS.21:97), tetapi perselisihan dan perpecahan
di kalangan umat Islam (QS.3:103-104)
merupakan penyebab utama mereka dapat menguasai wilayah umat Islam, sebagaimana firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰہَ حَقَّ تُقٰتِہٖ وَ لَا تَمُوۡتُنَّ اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ
مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾ وَ
اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا
وَّ لَا تَفَرَّقُوۡا ۪ وَ اذۡکُرُوۡا
نِعۡمَتَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ اِذۡ
کُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ بَیۡنَ
قُلُوۡبِکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ
بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا ۚ وَ
کُنۡتُمۡ عَلٰی
شَفَا حُفۡرَۃٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنۡقَذَکُمۡ مِّنۡہَا ؕ کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ
لَکُمۡ اٰیٰتِہٖ لَعَلَّکُمۡ
تَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾ وَلۡتَکُنۡ مِّنۡکُمۡ
اُمَّۃٌ یَّدۡعُوۡنَ اِلَی الۡخَیۡرِ وَ یَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ یَنۡہَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡکَرِ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾ وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ تَفَرَّقُوۡا
وَ اخۡتَلَفُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ
الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ عَذَابٌ
عَظِیۡمٌ ﴿﴾ۙ یَّوۡمَ تَبۡیَضُّ
وُجُوۡہٌ وَّ تَسۡوَدُّ وُجُوۡہٌ ۚ فَاَمَّا الَّذِیۡنَ
اسۡوَدَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ ۟ اَکَفَرۡتُمۡ بَعۡدَ
اِیۡمَانِکُمۡ فَذُوۡقُوا
الۡعَذَابَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡفُرُوۡنَ ﴿﴾ وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ ابۡیَضَّتۡ
وُجُوۡہُہُمۡ
فَفِیۡ رَحۡمَۃِ
اللّٰہِ ؕ ہُمۡ
فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾ تِلۡکَ اٰیٰتُ اللّٰہِ
نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ مَا اللّٰہُ یُرِیۡدُ ظُلۡمًا لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ وَ
لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ اِلَی
اللّٰہِ تُرۡجَعُ الۡاُمُوۡرُ ﴿ ﴾٪
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan takwa
yang sebenar-benarnya, dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali
kamu dalam keadaan berserah diri. Dan berpegangteguhlah
kamu sekalian pada tali Allah dan janganlah kamu berpecah-belah, dan ingatlah akan nikmat Allah atas kamu
ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan,
lalu Dia menyatukan hati kamu dengan
kecintaan antara satu sama
lain maka dengan nikmat-Nya itu kamu menjadi bersaudara, dan kamu dahulu berada di tepi jurang Api lalu
Dia menyelamatkan kamu darinya.
Demikianlah Allah menjelaskan
Ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu mendapat petunjuk. Dan hendaklah ada segolongan di antara
kamu yang senantiasa menyeru manusia
kepada kebaikan, dan menyuruh kepada yang makruf, dan melarang
dari berbuat munkar, dan mereka
itulah orang-orang yang berhasil. وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ تَفَرَّقُوۡا وَ اخۡتَلَفُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ -- Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang
yang berpecah-belah
dan berselisih sesudah
bukti-bukti yang jelas datang
kepada mereka, dan mereka itulah orang-orang
yang baginya ada azab yang besar. Pada hari
ketika wajah-wajah menjadi putih, dan wajah-wajah lainnya menjadi hitam. Ada pun orang-orang
yang wajahnya menjadi hitam, dikatakan kepada mereka: “Apakah
kamu kafir sesudah beriman?
Karena itu rasakanlah azab ini disebabkan kekafiran kamu." Dan ada
pun orang-orang yang wajahnya putih, maka mereka akan berada di dalam rahmat Allah, mereka kekal
di dalamnya. Itulah Ayat-ayat
Allah, Kami membacakannya kepada
engkau dengan haq, dan Allah
sekali-kali tidak menghendaki suatu kezaliman
atas seluruh alam. Dan
milik Allah-lah apa pun yang ada
di seluruh langit dan apa pun yang
ada di bumi, dan kepada Allah-lah
segala urusan dikembalikan. (Ali
‘Imrān [3]:103-110).
Ada pun
salah satu makna “kafir setelah
beriman” dalam ayat: Pada hari
ketika wajah-wajah menjadi putih, dan wajah-wajah lainnya menjadi hitam. Ada pun orang-orang
yang wajahnya menjadi hitam, dikatakan kepada mereka: “Apakah
kamu kafir sesudah beriman?
Karena itu rasakanlah azab ini disebabkan kekafiran kamu," mereka
beriman kepada nubuatan kedatangan rasul
Allah yang dijanjikan di Akhir Zaman
yang akan memwujudkan “kejayaan Islam”
yang kedua kali (QS.61:10), tetapi ketika wujud
yang dijanjikan Allah Swt. tersebut
benar-benar muncul (QS.7:35-37) -- yakni Masih Mau’ud a.s. atau misal
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58; QS.62:3-4) -- mereka menjadi penentangnya yang paling depan,
padahal Allah Swt. telah mengambil perjanjian
melalui para nabi Allah bahwa mereka akan beriman
kepadanya dan akan membantu perjuangan sucinya (QS.3:82-83).
Politik Devide et Impera (Memecah-belah dan Menjajah) yang Dilakukan
Para Penjajah di Berbagai Wilayah
Dunia
Timbulnya perselisihan
dan perpecahan di kalangan umat Islam tersebut di Akhir
Zaman ini dimanfaatkan oleh Ya’juj
(Gog) dan Ma’juj (Magog) untuk
menjalankan politik Devide et Impera (memecah-belah
dan menjajah) sebagaimana telah dilakukan oleh Dinasti Fir’aun di Mesir, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾
طٰسٓمّٓ ﴿ ﴾ تِلۡکَ اٰیٰتُ
الۡکِتٰبِ الۡمُبِیۡنِ ﴿﴾ نَتۡلُوۡا عَلَیۡکَ مِنۡ نَّبَاِ مُوۡسٰی وَ
فِرۡعَوۡنَ بِالۡحَقِّ لِقَوۡمٍ یُّؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾ اِنَّ فِرۡعَوۡنَ عَلَا فِی الۡاَرۡضِ وَ جَعَلَ اَہۡلَہَا شِیَعًا
یَّسۡتَضۡعِفُ طَآئِفَۃً مِّنۡہُمۡ
یُذَبِّحُ اَبۡنَآءَہُمۡ وَ یَسۡتَحۡیٖ نِسَآءَہُمۡ ؕ اِنَّہٗ کَانَ مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿﴾ وَ نُرِیۡدُ اَنۡ نَّمُنَّ عَلَی الَّذِیۡنَ اسۡتُضۡعِفُوۡا
فِی الۡاَرۡضِ وَ نَجۡعَلَہُمۡ اَئِمَّۃً
وَّ نَجۡعَلَہُمُ الۡوٰرِثِیۡنَ ۙ﴿﴾ وَ نُمَکِّنَ لَہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ وَ نُرِیَ فِرۡعَوۡنَ وَ ہَامٰنَ
وَ جُنُوۡدَہُمَا مِنۡہُمۡ مَّا
کَانُوۡا یَحۡذَرُوۡنَ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
Maha
Suci, Maha Mendengar, Maha Mulia. Inilah ayat-ayat Kitab yang jelas. Kami membacakan
kepada engkau berita mengenai Musa
dan Fir’aun dengan benar
untuk kaum yang beriman. اِنَّ فِرۡعَوۡنَ عَلَا فِی الۡاَرۡضِ وَ جَعَلَ اَہۡلَہَا شِیَعًا
یَّسۡتَضۡعِفُ طَآئِفَۃً مِّنۡہُمۡ
یُذَبِّحُ اَبۡنَآءَہُمۡ وَ یَسۡتَحۡیٖ نِسَآءَہُمۡ ؕ اِنَّہٗ کَانَ مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ -- Sesungguhnya Fir’aun berlaku sombong di bumi dan ia
menjadikan penduduknya
bergolongan-golongan, ia berusaha melemahkan segolongan dari mereka
dengan menyembelih
anak-anak laki-laki mereka, dan membiarkan
hidup perempuan-perempuan mereka, sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang berbuat kerusuhan. Dan Kami hendak memberikan karunia kepada orang-orang yang dianggap lemah di bumi dan menjadikan
mereka pemimpin-pemimpin dan menjadikan
mereka ahli waris ka-runia-karunia Kami. Dan Kami memapankan mereka di bumi dan Kami
memperlihatkan kepada Fir’aun serta Haman
dan lasykar keduanya
dari antara mereka apa yang mereka
khawatirkan. (Al-Qashash [28]:1-7).
Ayat اِنَّ فِرۡعَوۡنَ عَلَا فِی الۡاَرۡضِ وَ جَعَلَ اَہۡلَہَا شِیَعًا
یَّسۡتَضۡعِفُ طَآئِفَۃً مِّنۡہُمۡ
یُذَبِّحُ اَبۡنَآءَہُمۡ وَ یَسۡتَحۡیٖ نِسَآءَہُمۡ ؕ اِنَّہٗ کَانَ مِنَ الۡمُفۡسِدِیۡنَ -- dSesungguhnya Fir’aun berlaku sombong di
bumi dan ia menjadi-kan2196
penduduknya bergolongan-golongan, ia
berusaha melemahkan se-golongan dari mereka
dengan menyembelih anak-anak laki-laki
mere-ka, dan membiarkan hidup perempuan-perempuan mereka, sesungguhnya ia
termasuk orang-orang yang berbuat kerusuhan” mengisyaratkan
politik divide et impera
(memecah-belah dan menjajah) yang
dilaksanakan dinasti Fir’aun di Mesir
selama ratusan tahun, dengan akibatnya yang sangat mematikan, seperti
dijalankan kekuatan-kekuatan kaum kolonial barat – yakni Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) -- di abad
kedua puluh ini, agaknya politik divide
et impera di zaman Fir’aun telah dijalankan juga olehnya
dengan sukses besar.
Fir’aun
telah memecah-belah rakyat Mesir ke dalam beberapa partai dan golongan serta
dengan busuk hati telah membuat perbedaan kelas di antara mereka.
Beberapa di antara mereka dianak-emaskannya
dan yang lain diperas dan ditindasnya.
Kaum Nabi Musa a.s. – kecuali Qarun (QS.28:77-83) -- termasuk
kelas (golongan) yang tidak beruntung.
Kata-kata menyembelih anak-anak
laki-laki mereka dan membiarkan hidup perempuan-perempuan mereka, kecuali
mengandung pengertian yang jelas, bahwa agar supaya orang-orang Bani Israil selamanya tunduk di bawah kekuasaannya, Fir’aun
membinasakan kaum pria mereka dan membiarkan hidup perempuan-perempuan
mereka, dapat juga diartikan bahwa dengan politik
menjajah dan menindas tanpa belas kasihan itu ia berikhtiar membunuh sifat-sifat kejantanan mereka
dan dengan demikian membuat mereka jadi pengalah
seperti perempuan, sebagaimana yang
terjadi pada Bani Israil, sehingga mereka menolak perintah Nabi Muas a.s. untuk bersama-sama memasuki “Negeri yang dijanjikan” (QS.5:21-27),
padahal mereka menyaksikan Fir’aun
dan pasukannya ditenggelamkan Allah
Swt. di lautan ketika mengejar Bani Israil (QS.10:91-93).
Pengutusan Rasul Allah
yang Dijanjikan Untuk Membangun “Bumi
Baru dan Langit Baru” Sebagai Nemesis (Pembalasan) Bagi Pihak
yang Zalim
Makna ayat: وَ نُرِیۡدُ اَنۡ نَّمُنَّ عَلَی الَّذِیۡنَ اسۡتُضۡعِفُوۡا فِی
الۡاَرۡضِ وَ نَجۡعَلَہُمۡ اَئِمَّۃً
وَّ نَجۡعَلَہُمُ الۡوٰرِثِیۡنَ -- “Dan Kami
hendak memberikan karunia kepada orang-orang yang dianggap lemah di
bumi dan menjadikan mereka
pemimpin-pemimpin dan menjadikan mereka ahli waris karunia-karunia Kami. Dan Kami memapankan mereka di bumi”, وَ نُرِیَ فِرۡعَوۡنَ وَ ہَامٰنَ وَ
جُنُوۡدَہُمَا مِنۡہُمۡ مَّا
کَانُوۡا یَحۡذَرُوۡنَ -- dan Kami memperlihatkan
kepada Fir’aun dan Haman dan lasykarnya apa yang mereka khawatirkan.” (QS.28:6-7). Yakni ketika upaya merendahkan
derajat orang-orang Bani Israil
di Mesir itu mencapai titik yang
serendah-rendahnya, dan kezaliman Fir’aun
dan bangsanya kian meluap-luap, dan Allah
Swt. -- sesuai dengan hikmah-Nya yang
tidak mungkin keliru itu -- memutuskan
bahwa penindas-penindas itu harus dihukum dan mereka yang diperbudak dibebaskan, maka Dia mengutus
Nabi Musa a.s. Gejala yang terjadi di masa tiap-tiap utusan Allah, menampakkan perwujudan
sepenuhnya dan seindah-indahnya di masa kenabian
Nabi Besar Muhammad saw..
Haman
itu gelar pendeta agung dewa Amon; “ham” di dalam bahasa Mesir berarti,
pendeta agung. Dewa Amon menguasai
semua dewa Mesir lainnya. Haman adalah kepala khazanah dan lumbung
negeri, dan juga yang mengepalai lasykar-lasykar
dan semua ahli pertukangan di Thebes.
Namanya adalah Nubunnef, dan ia pendeta agung di bawah Rameses II dan putranya yang bernama Merenptah.
Karena Haman menjadi kepala
organisasi kependetaan yang sangat kaya, merangkum semua pendeta di seluruh negeri, kekuasaannya dan wibawanya
telah meningkat sedemikian rupa, sehingga ia menguasai suatu partai politik yang sangat berpengaruh, dan bahkan mempunyai suatu pasukan pribadi (“A story of Egypt” oleh James Henry
Breasted, Ph.D).
Haman juga dikatakan sebagai
nama seorang menteri dari Ahasuerus,
seorang raja Persia, yang hidup pada
beberapa abad sesudah zaman Nabi Musa a.s.. Tak ada sesuatu yang patut
diherankan atau menjadi keberatan adanya dua orang yang masing-masing hidup di
zaman yang berlainan memakai nama
yang sama.
Makna ayat: وَ نُرِیۡدُ اَنۡ نَّمُنَّ عَلَی الَّذِیۡنَ اسۡتُضۡعِفُوۡا فِی
الۡاَرۡضِ وَ نَجۡعَلَہُمۡ اَئِمَّۃً
وَّ نَجۡعَلَہُمُ الۡوٰرِثِیۡنَ -- “Dan Kami
hendak memberikan karunia kepada orang-orang yang dianggap lemah di
bumi dan menjadikan mereka
pemimpin-pemimpin dan menjadikan mereka ahli waris karunia-karunia Kami. Dan Kami memapankan mereka di bumi”, وَ نُرِیَ فِرۡعَوۡنَ وَ ہَامٰنَ وَ
جُنُوۡدَہُمَا مِنۡہُمۡ مَّا
کَانُوۡا یَحۡذَرُوۡنَ -- dan Kami
memperlihatkan kepada Fir’aun dan Haman dan lasykarnya apa yang mereka
khawatirkan” (QS.28:6-7). Yakni perbudakan dan kezaliman menghasilkan nemesis-nya
(pembalasan keadilannya) sendiri.
Kaum penjajah
dan penindas tak pernah merasa aman terhadap kemungkinan munculnya pemberontakan terhadap mereka oleh orang-orang yang terjajah, tertindas
atau tertekan. Lebih hebat penindasan dari seseorang yang zalim,
lebih besar pula ketakutannya akan pemberontakan
dari mereka yang dijajah. Demikian
juga Fira’un pun dicekam oleh rasa takut
semacam itu.
Nubuatan Dalam Al-Quran Mengenai
Merajalelanya Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog)
Di Akhir
Zaman ini keberhasilan Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) -- yakni
bangsa-bangsa Kristen dari
barat, termasuk bangsa
Belanda melalui VOC – mengetahui bahwa jika berkonfrontasi
langsung dengan bangsa-bangsa yang hendak dijajah
mereka -- termasuk bangsa-bangsa yang
menganut agama Islam seperti di Nusantara -- kemungkinan besar akan mengalami kegagalan,
karena itu mereka mulai strategisnya
melalui “misi perdagangan” (QS.18:20-21).
Kenyataan tersebut 1400 tahun yang lalu telah dinubuatkan Allah Swt. dalam
Al-Quran ketika membahas “Ashhābul-Kahf (para Penghuni Gua) -- yang banyak disalah-tafsirkan – berupa dongeng khayal --
firman-Nya:
اَمۡ حَسِبۡتَ اَنَّ
اَصۡحٰبَ الۡکَہۡفِ وَ الرَّقِیۡمِ ۙ کَانُوۡا مِنۡ اٰیٰتِنَا
عَجَبًا ﴿﴾ اِذۡ اَوَی
الۡفِتۡیَۃُ اِلَی الۡکَہۡفِ
فَقَالُوۡا رَبَّنَاۤ اٰتِنَا مِنۡ
لَّدُنۡکَ رَحۡمَۃً وَّ ہَیِّیٔۡ
لَنَا مِنۡ اَمۡرِنَا رَشَدًا ﴿﴾ فَضَرَبۡنَا
عَلٰۤی اٰذَانِہِمۡ فِی الۡکَہۡفِ
سِنِیۡنَ عَدَدًا ﴿ۙ﴾ ثُمَّ بَعَثۡنٰہُمۡ لِنَعۡلَمَ اَیُّ الۡحِزۡبَیۡنِ
اَحۡصٰی لِمَا
لَبِثُوۡۤا اَمَدًا ﴿٪﴾
Ataukah engkau menyangka bahwa penghuni gua dan prasasti-prasastinya itu adalah dari antara Tanda-tanda Kami yang
menakjubkan? Ketika para pemuda mencari perlindungan ke dalam gua
itu lalu mereka berkata: "Ya Rabb (Tuhan) kami, anugerahilah kami rahmat dari sisi Engkau, dan lengkapilah kami dengan petunjuk yang benar dalam urusan kami."
Maka Kami mencegah mereka dari mendengar dalam gua beberapa tahun lamanya. Kemudian Kami
membangkitkan mereka supaya Kami
mengetahui manakah di antara dua golongan yang lebih tepat membuat
perhitungan mengenai lamanya mereka
tinggal. (Al-Kahf [17]:10-13).
Ungkapan ashhāb al-kahf, telah diberi
banyak arti, seperti: kaum gua; orang-orang gua; teman-teman segua; penghuni gua; dan penduduk gua. Ayat-ayat ini menyatakan
bahwa para penghuni gua itu
bukanlah wujud‑
wujud aneh. Tidak ada sifat mereka yang dianggap menyimpang dari hukum alam biasa, sebagaimana pernyataan ayat: “Ataukah engkau menyangka bahwa penghuni gua dan prasasti-prasastinya itu adalah dari antara Tanda-tanda Kami yang menakjubkan?”
wujud aneh. Tidak ada sifat mereka yang dianggap menyimpang dari hukum alam biasa, sebagaimana pernyataan ayat: “Ataukah engkau menyangka bahwa penghuni gua dan prasasti-prasastinya itu adalah dari antara Tanda-tanda Kami yang menakjubkan?”
Munculnya Berbagai “Dongeng
Khayal” Mengenai Para “Penghuni Gua”
Tetapi sungguh amat aneh bahwa banyak dongengan-dongengan
khayali telah terjalin sekitar
mereka. Kisah yang tersohor tentang "Seven Sleepers" (Tujuh
penidur) seperti diuraikan oleh Gibbon dalam karyanya "Decline and fall of the Roman Empire"
(Kemunduran dan jatuhnya kerajaan Romawi), memberi suatu kunci penting untuk
menyingkapkan kabut rahasia yang
menyelubungi para penghuni gua
itu.
Gibbon berkata: "Ketika Maharaja Decius mengejar-ngejar dan menindas orang-orang Kristen,
tujuh pemuda bangsawan dari Ephesus
menvembunyikan diri dalam sebuah gua yang luas di pinggir sebuah gunung di
mana mereka dibiarkan menjadi musnah oleh raja
zalim itu, dan memberi perintah untuk menutup
pintu masuk gua itu rapat-rapat dengan tumpukan
batu-batu besar.”
Menurut riwayat lain, konon kabarnya Yusuf
itu mengembara di Britania padatahun 63 M. Menurut
dongengan-dongengan, gereja Glastonbury yang pertama itu merupakan bangunan
yang dibuat dengan ranting-ranting yang dianyam, didirikan oleh Yusuf Arimatea,
ialah kepala dua betas rasul yang diutus ke Britania dari Gaul oleh Santa Filip
(Encyclopaedia Britannica,,
Edisi ke10 & Edisi ke-13, pada kata "Yoseph of Arimathea" & pada kata "Glastonbury").
Teori terbaru yang mendapat dukungan kuat
dari penyelidikan terhadap "Dead
Sea scrolls" (Gulungan-gulungan tulisan yang terdapat di dekat
Laut Mati), menunjukkan gua-gua itu —
yakni tempat orang-orang Kristen pertama mencari perlindungan dan mereka menuliskan kepercayaan-kepercayaan serta ajaranajaran
mereka — di sebuah lembah dekat Laut Mati.
Pada hakikatnya "Gua" dan "prasasti"
merupakan dua segi yang sangat
penting dalam kepercayaan Kristen, yang berarti bahwa pada masa awal agama
Kristen itu mulai sebagai agama
yang melepaskan dan menarik diri dari keramaian dunia, tetapi
kemudian berakhir dengan menjadi
suatu agama yang memusatkan perhatian kepada urusan dunia; suatu agama
perdagangan dan perniagaan dalam
dunia tulis-menulis dan prasasti-prasasti (tulisan-tulisan pada
dinding dan benda-benda).
Ungkapan bahasa Arab dharaba 'alā ‘udznihī
berarti “ia mencegahnya dari
mendengar”. Ungkapan Al-Quran ini berarti. "Kami mencegah mereka dari mendengar." Ungkapan itu berarti
pula "Kami membuat mereka tidur
dengan mencegah dari masuk suara di telinga mereka yang menyebabkan mereka
bangun" (Lexicon Lane).
Secara
harfiah ayat ini berarti. "Kami
mencegah suara apa pun dari menembus ke dalam telinga", yaitu untuk
beberapa tahun mereka sama sekali terasing
dan terpisah dari urusan-urusan dunia luar dan tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di sana.
Dari
ayat tersebut diketahui bahwa nampaknya ada dua golongan di antara orang-orang Kristen di zaman
permulaan:
(a) mereka
yang tidak mau berpura-pura atau bersembunyi-sembunyi dan karena tidak
mengenai kompromi dengan kekafiran
dan kemusyrikan, mereka menanggung penindasan
akibat keimanan mereka dengan sabar dan ketabahan. Orang-orang itu terpaksa mencari perlindungan di gua-gua;
(b) mereka
yang menganggap, bahwa kebijaksanaan
itu lebih baik daripada keberanian, mereka menyembunyikan
keimanan serta menyelamatkan dirinya
dari penindasan.
"Dua.golongan" itu dapat pula menunjuk kepada mereka yang menindas dan yang ditindas.
Para Pemeluk Tauhid Ilahi
Lebih lanjut Allah Swt. menerangkan mengenai
keadaan orang-orang Kristen di masa
awal yang tetap teguh pada Tauhid Ilahi
yang diajarkan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
(QS.5:117-119), firman-Nya:
نَحۡنُ نَقُصُّ
عَلَیۡکَ نَبَاَہُمۡ بِالۡحَقِّ ؕ اِنَّہُمۡ فِتۡیَۃٌ اٰمَنُوۡا
بِرَبِّہِمۡ وَ زِدۡنٰہُمۡ ہُدًی ﴿٭ۖ﴾ وَّ رَبَطۡنَا عَلٰی
قُلُوۡبِہِمۡ اِذۡ قَامُوۡا
فَقَالُوۡا رَبُّنَا رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ لَنۡ
نَّدۡعُوَا۠ مِنۡ دُوۡنِہٖۤ اِلٰـہًا لَّقَدۡ قُلۡنَاۤ اِذًا
شَطَطًا ﴿﴾ ہٰۤؤُلَآءِ قَوۡمُنَا اتَّخَذُوۡا
مِنۡ دُوۡنِہٖۤ اٰلِہَۃً ؕ لَوۡ لَا یَاۡتُوۡنَ عَلَیۡہِمۡ
بِسُلۡطٰنٍۭ بَیِّنٍ ؕ فَمَنۡ اَظۡلَمُ مِمَّنِ افۡتَرٰی
عَلَی اللّٰہِ کَذِبًا ﴿ؕ﴾ وَ اِذِ
اعۡتَزَلۡتُمُوۡہُمۡ وَمَا یَعۡبُدُوۡنَ اِلَّا اللّٰہَ فَاۡ وٗۤا اِلَی الۡکَہۡفِ
یَنۡشُرۡ لَکُمۡ رَبُّکُمۡ مِّنۡ رَّحۡمَتِہٖ وَیُہَیِّیٔۡ لَکُمۡ
مِّنۡ اَمۡرِکُمۡ مِّرۡفَقًا ﴿﴾
Kami menceriterakan kepada engkau kisah mereka dengan benar, sesungguhnya mereka itu para
pemuda yang beriman kepada
Tuhan-nya, dan Kami menambah kepada mereka petunjuk.
Dan Kami menguatkan hati mereka
ketika mereka berdiri teguh dan berkata: "Rabb (Tuhan) kami adalah Rabb (Tuhan) seluruh langit dan bumi,
kami tidak pernah menyeru tuhan selain Dia, karena jika demikian sungguh kami benar-benar telah berkata jauh dari kebenaran. Mereka itu kaum kami yang telah mengambil
tuhan-tuhan lain selain Dia. Mengapa
mereka tidak mengemukakan suatu dalil
yang terang mengenai mereka itu? Maka siapakah
yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah? Dan ketika
kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah lalu carilah perlindungan dalam gua itu maka Rabb
(Tuhan) kamu akan melapangkan bagi kamu
rahmat-Nya dan akan menyediakan untuk kamu sarana kemudahan bagi urusanmu." (Al-Kahf
[17]:14-17).
Ayat
ini menunjukkan, bahwa di masa Nabi Besar Muhammad saw. banyak kisah
khayalan telah tersiar mengenai "penghuni-penghuni
gua." Tetapi hakikat yang sebenarnya mengenai mereka ialah bahwa mereka itu para pemuda yang memiliki akhlak mulia, yang telah mempertaruhkan
segala-galanya semata-mata untuk Tuhan
mereka, dan juga bahwa keimanan mereka berangsur-angsur menjadi
lebih kuat berkat penindasan
dan aniaya yang mereka alami dari kaum mereka yang menentang mereka.
Sekalipun kaum
mereka memusuhi mereka dan menindas mereka tanpa mengenal ampun,
namun "penghuni-penghuni gua"
itu tidak dapat ditundukkan oleh ancaman untuk memaksa mereka meninggalkan agama
mereka. Allah Swt. telah menguatkan hati mereka dan telah
menganugerahkan kepada mereka kekuatan
iman.
"Penghuni-penghuni
gua" itu tadinya berasal dari satu kaum penyembah berhala.
Dan memang demikianlah keadaan bangsa Romawi itu. Ayat: “Dan
ketika kamu meninggalkan mereka
dan apa
yang mereka sembah selain Allah
lalu carilah perlindungan dalam gua itu
maka Rabb (Tuhan) kamu akan
melapangkan bagimu rahmat-Nya dan akan menyediakan untuk kamu sarana
kemudahan bagi urusanmu" membuat
hal itu menjadi jelas bahwa para pemuda
yang berpegang pada tauhid
tersebut bukanlah perorangan-perorangan
yang terpencar melainkan merupakan bagian dari satu masyarakat agama yang tersusun
dan teratur, yang anggota-anggotanya seringkali mengadakan
pertemuan-pertemuan secara sembunyi-sembunyi.
Ayat ini menunjukkan bahwa manakala para pemuda itu berembuk untuk mencari perlindungan dalam gua,
dalam pikiran mereka terlintas gua
tertentu. Nampaknya gua itu
sebelumnya telah dipergunakan sebagai tempat pengungsian oleh budak-sahaya
Romawi ketika mereka melarikan diri dari majikan-majikan mereka yang zalim.
(Bersambung)
ooo
Rujukan: The
Holy Quran
Editor : Malik
Ghulam Farid
Pajajaran Anyar, 25 Juli 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar