Bismillāhirrahmānirrahīm
KHAZANAH AL-QURAN
Bab
5
NUBUATAN
DALAM SURAH AL-FATIHAH BERKENAAN TIGA GOLONGAN MANUSIA & HUBUNGAN RUKUN
IMAN DENGAN RUKUN ISLAM
Oleh
Ki
Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir bab sebelumnya
telah dikemukakan topic: Pentingnya Beriman Kepada Nabi Besar Muhammad Saw., sehubungan kenyataan bahwa Nabi Besar Muhammad saw. adalah
benar-benar keturunan Nabi Ibrahim a.s.
melalui silsilah Nabi Isma’il a.s.
sebagaimana dikemukakan dalam firman-Nya
sebelum ini:
وَ اِذۡ یَرۡفَعُ اِبۡرٰہٖمُ الۡقَوَاعِدَ مِنَ الۡبَیۡتِ
وَ اِسۡمٰعِیۡلُ ؕ رَبَّنَا تَقَبَّلۡ مِنَّا ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ
السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ ﴿﴾ رَبَّنَا
وَ اجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَیۡنِ لَکَ وَ مِنۡ
ذُرِّیَّتِنَاۤ اُمَّۃً مُّسۡلِمَۃً لَّکَ ۪ وَ اَرِنَا مَنَاسِکَنَا وَ تُبۡ عَلَیۡنَا ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ
التَّوَّابُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾ رَبَّنَا وَ ابۡعَثۡ فِیۡہِمۡ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ
یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِکَ وَ یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ
وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ یُزَکِّیۡہِمۡ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾٪
Dan ingatlah
ketika Ibrahim dan Isma’il meninggikan dasar-dasar
yakni pondasi Rumah itu
sambil mendoa: “Ya Rabb
(Tuhan) kami, terimalah amal ini dari kami, sesungguhnya Engkau
benar-benar Maha Mendengar, Maha
Mengetahui. Ya Rabb (Tuhan) kami, jadikanlah
kami berdua orang yang berserah diri
kepada Engkau, dan juga dari
antara keturunan kami jadikanlah satu umat yang berserah diri kepada Engkau, perlihatkanlah
kepada kami cara-cara ibadah kami dan terimalah
taubat kami, sesungguhnya Engkau
benar-benar Maha Penerima Taubat, Maha
Penyayang. رَبَّنَا وَ ابۡعَثۡ فِیۡہِمۡ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِکَ وَ یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ یُزَکِّیۡہِمۡ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- Ya Rabb
(Tuhan) kami, bangkitkanlah seorang rasul di tengah-tengah
mereka dari kalangan mereka sendiri,
yang akan membacakan Ayat-ayat Engkau
kepada mereka, yang mengajarkan
Kitab dan hikmah kepada mereka serta akan mensucikan mereka, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah [2]:128-130).
Cara Meraih Kecintaan dan Pengampunan Allah Swt.
Lebih lanjut Allah Swt. berfirman mengenai pentingnya beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ
فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ
اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾ قُلۡ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ ۚ
فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ لَا
یُحِبُّ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah:
”Jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku, Allah
pun akan mencintai kamu dan akan
mengampuni dosa-dosa kamu. Dan Allah
Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Katakanlah: ”Taatilah Allah dan Rasul ini”, kemudian jika
mereka berpaling maka ketahuilah sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir. (Ali
‘Imran [3]:32).
Ayat 32 dengan tegas menyatakan, bahwa sejak diutus-Nya Nabi Besar Muhammad saw -- menggenapi nubuatan terdapat dalam kitab-kitab
suci sebelumnya (QS.2:147; QS.7:158; QS.11:18; QS.26:193-198; QS.46:11;
QS.61:7; QS.73:16) -- maka sejak saat itu tujuan memperoleh kecintaan Ilahi tidak mungkin terlaksana kecuali dengan mengikuti Nabi Besar Muhammad saw.
Selanjutnya ayat ini melenyapkan kesalahpahaman yang mungkin dapat timbul
dari QS.2:63 bahwa iman kepada adanya Tuhan dan alam akhirat saja sudah cukup
untuk memperoleh najat (keselamatan).
Sehubungan dengan pentingnya beriman
kepada Nabi Besar Muhammad saw. sepenuhnya Allah Swt. berfirman:
وَ مَنۡ
یَّبۡتَغِ غَیۡرَ الۡاِسۡلَامِ دِیۡنًا فَلَنۡ یُّقۡبَلَ مِنۡہُ ۚ وَ ہُوَ فِی
الۡاٰخِرَۃِ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾ کَیۡفَ یَہۡدِی
اللّٰہُ قَوۡمًا کَفَرُوۡا بَعۡدَ
اِیۡمَانِہِمۡ وَ شَہِدُوۡۤا اَنَّ الرَّسُوۡلَ حَقٌّ وَّ جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ
ؕ وَ اللّٰہُ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ
الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
Dan barangsiapa
mencari agama yang bukan agama
Islam, maka agama itu tidak akan pernah diterima darinya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi. کَیۡفَ یَہۡدِی اللّٰہُ قَوۡمًا کَفَرُوۡا بَعۡدَ اِیۡمَانِہِمۡ وَ
شَہِدُوۡۤا اَنَّ الرَّسُوۡلَ حَقٌّ وَّ جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ -- Bagaimana mungkin Allah akan memberi petunjuk kepada suatu kaum yang kafir setelah mereka beriman, dan mereka telah menjadi saksi pula
bahwa sesungguhnya rasul itu benar,
dan juga telah datang kepada
mereka bukti-bukti yang nyata? وَ اللّٰہُ لَا یَہۡدِی
الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ --Dan
Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum
yang zalim. (Ali ‘Imran [3]:86-87).
Tentu
saja suatu kaum yang mula-mula beriman kepada kebenaran seorang nabi Allah yang kedatangannnya
dijanjikan kepada mereka (QS.7:35-37)
dan menyatakan keimanan mereka
kepada nabi Allah itu secara terang-terangan serta menjadi saksi atas Tanda-tanda Ilahi tetapi kemudian menolaknya karena takut
kepada manusia atau karena pertimbangan
duniawi lainnya, mereka kehilangan
segala hak untuk mendapat lagi petunjuk
kepada jalan yang lurus.
Atau, ayat itu dapat pula mengisyaratkan
kepada mereka yang beriman kepada
para nabi Allah terdahulu tetapi menolak beriman kepada Nabi Besar
Muhammad saw., padahal Nabi Besar
Muhammad saw. merupakan puncak
kesempurnaan silsilah (rangkaian) pengutusan rasul Allah pembawa syariat (QS.5:4), sehingga dalam Bible kedatangan beliau saw. digambarkan
seakan-akan “kedatangan Tuhan Sendiri” (Ulangan 18:15-19; Matius
23:37-39; Yohanes 16:12-13).
Nubuatan Tiga Golongan
Dalam Surah Al-Fatihah
Allah Swt. dalam Surah
Al-Fatihah telah menyebut orang-orang yang
beriman kepada Rasul Allah Swt. yang kedatangannya
dijanjikan dari kalangan Bani Adam (QS.7:36) tersebut sebagai “orang-orang yang mendapat nikmat”. Sedangkan orang-orang yang mendustakan serta menentang rasul Allah tersebut sebagai “orang-orang yang dimurkai Allah, dan orang-orang yang berlebihan dalam memuliakan rasul Allah serta mempertuhankannya
disebut “orang-orang yang sesat”,
firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۙ﴿﴾ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ ؕؕ﴿﴾ اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ ﴿﴾ اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ ﴿﴾
صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ
عَلَیۡہِمۡ ۙ۬ غَیۡرِ
الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿﴾
Aku baca dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Segala
puji hanya
bagi Allah, Rabb (Tuhan) seluruh alam,
Maha Pemurah, Maha Pe-nyayang. Pemilik
Hari Pembalasan. Hanya Engkau-lah Yang kami sembah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan. Tunjukilah
kami jalan yang lurus, Yaitu
jalan orang-orang yang telah Engkau beri
nikmat atas mereka bukan jalan mereka yang
dimurkai dan bukan pula jalan
mereka yang sesat (Al-Fatihah
[1]:1-7).
Ada pun yang dimaksud dengan nikmat dalam ayat: “Yaitu
jalan orang-orang yang telah Engkau beri
nikmat atas mereka” bukan
berupa nikmat-nikmat jasmani atau duniawi -- yang juga dapat diraih oleh orang-orang yang kafir kepada Allah Swt.
sekali pun sebagai hasil kerja-keras mereka (QS.28:77-83) – melainkan nikmat-nikmat ruhani berupa qurb Ilahi (kedekatan dengan Allah Swt), sebagai hasil kepatuh-taatan kepada hukum-hukum
syariat – terutama agama Islam
(Al-Quran) -- firman-Nya:
وَ مَنۡ یُّطِعِ
اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ
مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ
حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾ ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan barangsiapa
taat kepada Allah dan Rasul ini
maka mereka akan termasuk di antara
orang-orang yang Allah memberi nikmat kepada
mereka
مِّنَ
النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ
اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا -- yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq,
syahid-syahid, dan orang-orang shalih, dan mereka itulah sahabat yang
sejati. ذٰلِکَ
الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا -- Itulah karunia
dari Allah, dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui. (An-Nisā [4]:70-71).
Ayat 70 sangat penting sebab ia menerangkan semua jalur kemajuan ruhani yang terbuka bagi kaum Muslimin. Keempat martabat keruhanian — nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid,
dan orang-orang
shalih, — kini semuanya dapat dicapai hanya dengan jalan mengikuti Nabi Besar Muhammad saw.
(QS.3:32).
Hal
ini merupakan kehormatan khusus bagi Nabi Besar Muhammad saw. semata. Tidak ada nabi Allah lain menyamai
beliau saw. dalam perolehan nikmat
ini. Kesimpulan itu lebih lanjut ditunjang oleh ayat yang membicarakan nabi-nabi secara umum dan mengatakan: “Dan orang-orang yang beriman kepada Allah
dan para rasul-Nya, mereka adalah orang-orang shiddiq dan saksi saksi (syuhada)
- di sisi Rabb (Tuhan) mereka”
(QS.57: 20).
Apabila kedua ayat ini dibaca
bersama-sama maka kedua ayat itu berarti bahwa, kalau para pengikut nabi-nabi Allah lainnya dapat mencapai
martabat shiddiq, syahid, dan shalih dan tidak lebih tinggi dari itu, maka pengikut Nabi Besar Muhammad
saw. dapat naik ke martabat
nabi juga, yakni kenabian ummati sebagai refleksi (pantulan) dari kenabian Nabi Besar Muhammad saw.,
sebagaimana cahaya bulan purnama
merupakan pantulan dari cahaya matahari.
Kitab “Bahr-ul-Muhit”
(jilid III, hlm. 287) menukil Al-Raghib
yang mengatakan: “Tuhan telah membagi
orang-orang beriman dalam empat golongan
dalam ayat ini, dan telah menetapkan bagi mereka empat tingkatan, sebagian di
antaranya lebih rendah dari yang lain, dan Dia telah mendorong orang-orang
beriman sejati agar jangan tertinggal dari keempat tingkatan ini.” Dan
membubuhkan bahwa: “Kenabian itu ada dua
macam: umum dan khusus. Kenabian khusus, yakni kenabian yang membawa syariat, sekarang tidak dapat dicapai lagi;
tetapi kenabian yang umum masih tetap dapat dicapai.”
Hikmah Kewajiban Membaca
Surah Al-Fatihah Dalam Shalat
Dengan demikian jelaslah bahwa salah satu alasan mengapa dalam ajaran Islam pelaksanaan shalat menjadi tidak sah jika tidak membaca surah Al-Fatihah,
sebab bukan saja surah Al-Fatihah merupakan ummul-Kitab
(induk Kitab), tetapi juga di dalamnya dikemukakan petunjuk
untuk meraih tujuan melakukan ibadah
kepada Allah Swt. – melalui pelaksanaan huququllāh
dan huququl- ibād --
berupa termasuk golongan “orang-orang yang mendapat nikmat Allah Swt. -- juga
agar terhindardari menjadi “orang-orang yang dimurkai Allah” karena menentang Rasul
Allah yang kedatangannya dijanjikan
dari kalangan Bani Adam (QS.7:36-37),
sebagaimana yang dilakukan kaum Yahudi (QS.2:88-89)
dan yang “tersesat dari Tauhid Ilahi” karena telah mempertuhankan
makhluk Allah, sebagaimana yang dilakukan kaum Kristen serta orang-orang
musyrik lainnya (QS.9:30-33),
firman-Nya: Tunjukilah
kami jalan yang lurus, Yaitu
jalan orang-orang yang telah Engkau beri
nikmat atas mereka bukan jalan mereka yang
dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang
sesat (Al-Fatihah [1]:5-7).
Ada pun hubungan langsung antara Surah Al-Fatihah dengan surat Al-Baqarah adalah ketika kepada orang-orang Islam diajarkan doa surah Al-Fatihah: Tunjukilah
kami jalan yang lurus, Yaitu
jalan orang-orang yang telah Engkau beri
nikmat atas mereka bukan jalan mereka yang
dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang
sesat (Al-Fatihah [1]:5-7), dijawab Allah Swt. dalam Surah Al-Baqarah: - Inilah
Kitab yang sempurna itu, tidak
ada keraguan di dalamnya, petunjuk
bagi orang-orang yang bertakwa”, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾
الٓـمّٓ ۚ ﴿﴾ ذٰلِکَ الۡکِتٰبُ لَا رَیۡبَ ۚۖۛ فِیۡہِ ۚۛ ہُدًی لِّلۡمُتَّقِیۡنَ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡغَیۡبِ
وَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ مِمَّا
رَزَقۡنٰہُمۡ یُنۡفِقُوۡنَ ۙ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ
یُؤۡمِنُوۡنَ بِمَاۤ اُنۡزِلَ
اِلَیۡکَ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ مِنۡ
قَبۡلِکَ ۚ وَ بِالۡاٰخِرَۃِ ہُمۡ یُوۡقِنُوۡنَ ؕ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ عَلٰی ہُدًی مِّنۡ رَّبِّہِمۡ ٭ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
Alif
Lām Mīm (Aku Allah Yang Maha Mengetahui). Inilah
Kitab yang sempurna itu, tidak
ada keraguan di dalamnya, petunjuk
bagi orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang beriman kepada yang gaib, mendirikan shalat dan mereka membelanjakan
sebagian dari apa yang Kami rezekikan
kepada mereka. Dan orang-orang yang beriman kepada apa yang diturunkan
kepada engkau, juga kepada apa
yang telah diturunkan sebelum engkau dan kepada akhirat pun mereka yakin.
Mereka itulah orang-orang yang berada di atas petunjuk dari Rabb-nya (Tuhannya)
dan mereka itulah orang-orang
yang berhasil. (Al-Baqarah [2]:1-6).
Sebelum lebih jauh membahas firman Allah
Swt. tersebut, perlu memperhatikan firman Allah Swt. di awal Bab 1 berkenaan pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. dan pewahyuan Al-Quran kepada beliau
saw., karena Nabi Besar Muhammad saw. dan Al-Quran itulah yang
telah ditetapkan Allah Swt.
sebagai “hakim” yang akan
memutuskan segala perkara duniawi
dan ruhani seluruh umat
manusia – termasuk perselisihan
yang terjadi di kalangan umat beragama -- firman-Nya:
وَ یَوۡمَ نَبۡعَثُ فِیۡ کُلِّ اُمَّۃٍ
شَہِیۡدًا عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ جِئۡنَا بِکَ شَہِیۡدًا عَلٰی
ہٰۤؤُلَآءِ ؕ وَ نَزَّلۡنَا عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ تِبۡیَانًا لِّکُلِّ شَیۡءٍ وَّ
ہُدًی وَّ رَحۡمَۃً
وَّ بُشۡرٰی لِلۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah
hari itu ketika Kami akan membangkitkan dalam setiap umat
seorang saksi terhadap mereka dari antara mereka sendiri, dan Kami akan mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka semuanya. Dan Kami
telah menurunkan kepada engkau
Kitab itu untuk menjelaskan segala
sesuatu dan petunjuk, rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri kepada
Allah. (An-Nahl [16]:90).
Tanda Pertama Orang Bertakwa: “Beriman kepada yang
Gaib” & Hubungan Rukun Iman Dengan
Rukun Islam
Sehubungan dengan kenyataan itulah Allah
Swt. berfirman pada awal surah Al-Baqarah:
Inilah
Kitab yang sempurna itu, tidak
ada keraguan di dalamnya, petunjuk
bagi orang-orang yang bertakwa.” Ada pun ayat selanjutnya: “Yaitu
orang-orang yang beriman kepada yang
gaib” merupakan tanda pertama atau syarat pertama untuk menjadi orang-orang bertakwa yang memiliki keimanan
yang teguh terhadap hal-hal yang bersifat gaib – terutama Allah Swt. – sebagaimana secara ringkas dikemukakan dalam Rukun Iman: (1) Beriman
kepada Allah Swt., (2) Beriman kepada
malaikat-malaikat; (3) Beriman kepada
Kitab-kitab; (4) Beriman Rasul-rasul Allah; (5) Beriman kepada Akhirat; (6) Beriman kepada Takdir.
Berikut pernyataan Allah mengenai pentingnya “beriman kepada yang gaib” dalam
mengikuti petunjuk Al-Quran --
sebagaimana yang difahami dan diamalkan oleh Nabi Besar Muhammad saw. -- firman-Nya:
وَ لَا
تَزِرُ وَازِرَۃٌ وِّزۡرَ اُخۡرٰی ؕ وَ اِنۡ تَدۡعُ
مُثۡقَلَۃٌ اِلٰی حِمۡلِہَا لَا یُحۡمَلۡ
مِنۡہُ شَیۡءٌ وَّ لَوۡ کَانَ ذَا قُرۡبٰی ؕ اِنَّمَا تُنۡذِرُ الَّذِیۡنَ
یَخۡشَوۡنَ رَبَّہُمۡ بِالۡغَیۡبِ وَ اَقَامُوا الصَّلٰوۃَ ؕ وَ مَنۡ تَزَکّٰی
فَاِنَّمَا یَتَزَکّٰی لِنَفۡسِہٖ ؕ
وَ اِلَی
اللّٰہِ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Dan tidak ada jiwa berbeban dapat memikul beban orang lain,
dan jika jiwa berbeban berat berseru kepada yang lain
untuk memikul bebannya tidak akan
dipikul sedikit pun darinya, walau pun ia kaum kerabat sendiri. اِنَّمَا تُنۡذِرُ الَّذِیۡنَ یَخۡشَوۡنَ
رَبَّہُمۡ بِالۡغَیۡبِ وَ اَقَامُوا الصَّلٰوۃَ -- Sesungguhnya engkau
hanya dapat memperingatkan orang-orang
yang takut kepada Rabb (Tuhan) mereka
dalam keadaan menyendiri serta mendirikan
shalat. وَ مَنۡ
تَزَکّٰی فَاِنَّمَا یَتَزَکّٰی لِنَفۡسِہٖ
ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ
الۡمَصِیۡرُ -- Dan barangsiapa
mensucikan diri maka ia hanya mensucikan untuk dirinya, dan kepada Allah kembali segala sesuatu (Al-Fāthir [35]:19).
Kemudian Allah Swt. berfirman lagi kepada Nabi
Besar Muhammad saw. berkenaan pentingnya “beriman kepada yang gaib”:
اِنَّمَا
تُنۡذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّکۡرَ وَ خَشِیَ الرَّحۡمٰنَ بِالۡغَیۡبِ ۚ
فَبَشِّرۡہُ بِمَغۡفِرَۃٍ وَّ اَجۡرٍ کَرِیۡمٍ ﴿﴾
Sesungguhnya
engkau hanya dapat menasihati orang yang
mengikuti peringatan itu dan yang
takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah dalam keadaan tidak tampak, maka berilah
dia kabar gembira mengenai ampunan dan ganjaran yang mulia. (Yā Sīn [36]:12).
Bagi bayi
yang berada dalam rahim ibunya, keberadaan kehidupan di luar rahim ibunya merupakan hal (keadaan) yang gaib.
Demikian juga halnya keberadaan kehidupan
akhirat setelah manusia mengalami kematian
di dunia ini pun merupakan hal
yang gaib.
Khasiat Shalat
dan Pengorbanan
Harta yang Hakiki Bagi Pertumbuhan Akhlak
dan Ruhani
Jadi, betapa memahami Rukun
Iman dengan benar
sangat penting, karena akan berpengaruh terhadap pelaksanaan Rukun
Islam -- (1) Syahadat;
(2) Shalat; (3) Zakat; (4) Puasa; (5) Ibadah Hajji – sebab hubungan Rukun
Iman dengan Rukun Islam seperti
hubungan iman dan amal shaleh yang jika dilaksanakan sesuai petunjuk Al-Quran dan Sunnah Nabi Besar Muhammad saw. maka akan mengakibatkan para pelakunya sebagai penghuni “jannah” (surga), firman-Nya:
وَ بَشِّرِ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ
تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ؕ کُلَّمَا
رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا ۙ قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا
مِنۡ قَبۡلُ ۙ وَ اُتُوۡا بِہٖ
مُتَشَابِہًا ؕ وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ ٭ۙ وَّ ہُمۡ
فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa sesungguhnya untuk
mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.
Setiap kali diberikan kepada mereka
buah-buahan dari kebun itu sebagai rezeki, mereka berkata: “Inilah yang telah direzekikan kepada kami
sebelumnya”, akan diberikan kepada
mereka yang serupa dengannya, dan bagi
mereka di dalamnya ada jodoh-jodoh
yang suci, dan mereka akan kekal di dalamnya. (Al-Baqarah
[2]:26).
Sebaliknya, jika pelaksanaan Rukun
Islam tidak didasari dengan pemahaman
Rukun
Iman yang benar maka pelaksanaan Rukun Islam tidak akan menghasilkan akibat baik sebagaimana telah telah
ditetapkan Allah Swt., contohnya salah
satu dari pengaruh shalat yang
ditetapkan Allah Swt. – selain timbulnya akhlak-akhlak terpuji bagi para pelakunya -- shalat pun dapat mencegah pelakunya dari perbuatan
keji dan munkar (QS.29:46).
Tetapi jika tidak dilandasi pemahaman Rukun Iman yang benar, maka yang terjadi pada para pelaku shalat adalah kecaman Allah Swt. dalam firman-Nya berikut ini:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ اَرَءَیۡتَ
الَّذِیۡ یُکَذِّبُ بِالدِّیۡنِ ؕ﴿﴾ فَذٰلِکَ الَّذِیۡ یَدُعُّ الۡیَتِیۡمَ ۙ﴿﴾ وَ لَا یَحُضُّ عَلٰی طَعَامِ الۡمِسۡکِیۡنِ ؕ﴿﴾ فَوَیۡلٌ
لِّلۡمُصَلِّیۡنَ ۙ﴿۴﴾ الَّذِیۡنَ ہُمۡ عَنۡ صَلَاتِہِمۡ سَاہُوۡنَ
ۙ﴿﴾ الَّذِیۡنَ
ہُمۡ یُرَآءُوۡنَ ۙ﴿﴾ وَ یَمۡنَعُوۡنَ الۡمَاعُوۡنَ ٪﴿﴾
Aku baca dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Apakah engkau melihat orang yang
mendustakan agama?
Maka itulah orang yang mengusir anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan
orang miskin. Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat,
orang-orang yang lalai dari shalatnya, yaitu
orang-orang yang berbuat pamer, dan mencegah diri mereka untuk memberi barang-barang kecil kepada
orang-orang miskin. (Al-Mā’un [107]:1-8).
Dalam surah lain Allah Swt. menyebut pelaksanaan shalat yang hakiki dengan sebutan
hasanat, firman-Nya:
وَ اَقِمِ الصَّلٰوۃَ طَرَفَیِ
النَّہَارِ وَ زُلَفًا مِّنَ الَّیۡلِ ؕ اِنَّ
الۡحَسَنٰتِ یُذۡہِبۡنَ السَّیِّاٰتِ ؕ ذٰلِکَ
ذِکۡرٰی
لِلذّٰکِرِیۡنَ ﴿﴾ۚ
Dan dirikanlah
shalat pada kedua ujung siang dan pada
beberapa bagian malam. Sesungguhnya kebaikan-kebaikan
menghapuskan keburukan-keburukan. Itu adalah suatu peringatan bagi orang-orang
yang mengingat. (Hūd
[11]:115).
Demikian juga halnya dengan pembelanjaan (pengorbanan) harta di jalan Allah jika tidak
dilandasi pemahaman yang benar
-- misalnya disertai riya
(pamer atau dengan sikap menyakiti atau semata-mata uNtuk meraih pahala belaka -- maka keadaannya
seperti yang digambarkan firman-Nya berikut ini:
یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تُبۡطِلُوۡا صَدَقٰتِکُمۡ بِالۡمَنِّ وَ الۡاَذٰی ۙ
کَالَّذِیۡ یُنۡفِقُ مَالَہٗ رِئَآءَ النَّاسِ وَ لَا یُؤۡمِنُ بِاللّٰہِ وَ
الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِؕ فَمَثَلُہٗ کَمَثَلِ
صَفۡوَانٍ عَلَیۡہِ تُرَابٌ فَاَصَابَہٗ وَابِلٌ فَتَرَکَہٗ صَلۡدًا ؕ لَا یَقۡدِرُوۡنَ عَلٰی شَیۡءٍ مِّمَّا کَسَبُوۡا ؕ
وَ اللّٰہُ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ
الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membuat sedekah-sedekahmu sia-sia dengan menyebut-nyebut jasa baik dan sikap menyakiti,
seperti orang yang membelanjakan hartanya untuk
dilihat manusia,
sedangkan ia tidak beriman kepada Allah dan
Hari Kemudian, فَمَثَلُہٗ
کَمَثَلِ صَفۡوَانٍ عَلَیۡہِ تُرَابٌ فَاَصَابَہٗ وَابِلٌ فَتَرَکَہٗ
صَلۡدًا -- maka
perumpamaannya seperti misal batu licin
yang di atasnya ada tanah, lalu hujan lebat menimpanya dan meninggalkannya
keras dan licin. لَا
یَقۡدِرُوۡنَ عَلٰی شَیۡءٍ مِّمَّا کَسَبُوۡا ؕ وَ اللّٰہُ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الۡکٰفِرِیۡنَ -- Mereka tidak akan memperoleh sesuatu dari apa
yang mereka usahakan, dan Allah
tidak memberi petunjuk kepada kaum yang
kafir. (Al-Baqarah [2]:265).
Hikmah Pengorbaan Harta di
jalan Allah Secara Terang-terangan
dan Secara Tersembunyi & Perumpamaan
Pengorbanan Harta yang Salah
Di tempat lain, kaum Muslimin diperintahkan pula untuk membelanjakan kekayaan mereka dengan terang-terangan (QS.2:275)
-- tetapi bukan untuk tujuan riya
(pamer) melainkan -- tujuan yang
mendasarinya ialah orang-orang Muslim
lainnya akan terpengaruh dan meniru teladan yang baik itu. Akan
tetapi, orang yang tidak beriman kepada Allah Swt. membelanjakan uangnya terang-terangan
hanya semata-mata untuk menarik
penghargaan khalayak umum serta
untuk tujuan-tujuan duniawi lainnya. Orang demikian kehilangan sama sekali hak
memperoleh ganjaran dari Allah Swt.
sebagaimana digambarkan perumpamaan dalam ayat tersebut.
Dalam ayat-ayat sebelumnya Allah Swt.
menggambarkan falsafah pengorbanan
harta di jalan Allah yang benar,
firman-Nya:
مَثَلُ
الَّذِیۡنَ یُنۡفِقُوۡنَ اَمۡوَالَہُمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ کَمَثَلِ حَبَّۃٍ
اَنۡۢبَتَتۡ سَبۡعَ سَنَابِلَ فِیۡ کُلِّ سُنۡۢبُلَۃٍ مِّائَۃُ حَبَّۃٍ ؕ وَ
اللّٰہُ یُضٰعِفُ لِمَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ
وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ ﴿﴾ اَلَّذِیۡنَ یُنۡفِقُوۡنَ اَمۡوَالَہُمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ
اللّٰہِ ثُمَّ لَا یُتۡبِعُوۡنَ مَاۤ اَنۡفَقُوۡا مَنًّا وَّ لَاۤ اَذًی
ۙ لَّہُمۡ اَجۡرُہُمۡ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ ۚ وَ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ
یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ قَوۡلٌ مَّعۡرُوۡفٌ وَّ مَغۡفِرَۃٌ خَیۡرٌ مِّنۡ صَدَقَۃٍ
یَّتۡبَعُہَاۤ اَذًی ؕ وَ
اللّٰہُ غَنِیٌّ حَلِیۡمٌ ﴿﴾
Perumpamaan orang-orang yang membelanjakan harta mereka di jalan Allah,
adalah seperti perumpamaan sebuah biji
menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap
bulir terdapat seratus biji,
Allah melipatgandakan ganjaran-Nya
bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah
Maha Luas karunia-Nya, Maha
Mengetahui. Orang-orang
yang membelanjakan hartanya di jalan Allah
kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dibelanjakannya itu dengan
menyebut-nyebut kebaikan dan tidak pula menyakiti hati, bagi mereka ada ganjarannya di sisi Rabb-nya (Tuhan-nya), tidak
ada ketakutan pada mereka dan tidak
pula mereka akan bersedih. قَوۡلٌ مَّعۡرُوۡفٌ وَّ مَغۡفِرَۃٌ خَیۡرٌ مِّنۡ صَدَقَۃٍ
یَّتۡبَعُہَاۤ اَذًی ؕ وَ اللّٰہُ غَنِیٌّ حَلِیۡمٌ -- Tutur kata yang baik dan ampunan
adalah lebih baik daripada sedekah
yang diiringi dengan sikap menyakiti, dan Allah Maha Kaya, Maha
Penyantun. (Al-Baqarah [2]:262-264).
Makna
ayat: “kemudian mereka tidak mengiringi apa
yang dibelanjakannya itu dengan menyebut-nyebut kebaikan dan tidak pula menyakiti
hati, ” Tiap-tiap perbuatan baik dapat disalahgunakan, dan penyalahgunaan belanja harta di jalan Allah ialah menyertakannya
dengan mann (dengan sombong menyebut-nyebut perbuatan baiknya) dan adza
(menyatakannya dengan menyakiti).
Mereka yang membelanjakan kekayaan mereka di jalan Allah dilarang menyebut-nyebut
tanpa gunanya dan tidak pada
tempatnya perihal uang yang dibelanjakan mereka dan bakti yang diberikan mereka demi
kepentingan kebenaran, sebab perbuatan demikian termasuk mann
(celaan, ejekan). Demikian pula mereka diperintahkan agar tidak menuntut sesuatu sebagai imbalan
atas bantuan mereka.
Lebih
baik mengucapkan kata-kata kasih-sayang atau minta maaf -- karena tidak
dapat memberikan bantuan -- kepada
orang yang meminta pertolongan,
daripada mula-mula menolongnya dan
kemudian menyakitinya dan memberinya kesusahan; atau ia sebaiknya berusaha menutupi dan menyembunyikan keperluan orang yang datang kepadanya meminta pertolongan dan menahan diri dari membicarakannya kepada orang lain,
sehingga orang itu tidak merasa direndahkan
dan dihinakan, itulah arti maghfirat. Itulah makna ayat: - “Tutur kata
yang baik dan ampunan332 adalah lebih baik daripada sedekah yang
diiringi dengan sikap menyakiti, dan Allāh Maha Kaya, Maha Penyantun.”
Falsafah dan Hikmah Perumpamaan Pengorbanan Harta di Jalan Allah yang
Benar
Dalam ayat selanjutnya Allah Swt. berfirman
mengenai perumpamaan atau
falsafah pengorbanan harta di jalan Allah yang memberikan manfaat
kepada para pelakunya,
firman-Nya:
وَ مَثَلُ
الَّذِیۡنَ یُنۡفِقُوۡنَ اَمۡوَالَہُمُ ابۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِ اللّٰہِ وَ
تَثۡبِیۡتًا مِّنۡ اَنۡفُسِہِمۡ کَمَثَلِ جَنَّۃٍۭ بِرَبۡوَۃٍ اَصَابَہَا وَابِلٌ
فَاٰتَتۡ اُکُلَہَا ضِعۡفَیۡنِ ۚ فَاِنۡ لَّمۡ یُصِبۡہَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ؕ وَ
اللّٰہُ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ بَصِیۡرٌ ﴿﴾
Dan perumpamaan
orang-orang yang membelanjakan
harta mereka demi mencari keridhaan
Allah dan memperteguh jiwa mereka adalah seperti perumpamaan kebun yang terletak di tempat tinggi,
hujan lebat menimpanya lalu menghasilkan buahnya dua kali lipat,
tetapi jika hujan lebat tidak pernah menimpanya maka hujan
gerimis pun memadai, dan Allah
Maha Melihat apa pun yang kamu kerjakan (Al-Baqarah [2]:266).
Pembelanjaan uang (harta) di jalan Allah memberi kekuatan
kepada jiwa manusia, sebab dengan membelanjakan harta yang halal yang diperolehnya dengan susah-payah, ia secara sukarela meletakkan beban
atas diri sendiri dan menjadikannya lebih
kuat serta lebih teguh dalam keimanan kepada Allah Swt.
Dalam perumpamaan ayat tersebut hati
orang-orang beriman yang membelanjakan
harta dengan sukarela di jalan Allah
adalah laksana sebidang tanah tinggi,
dimana hujan lebat -- yang kadang-kadang sangat berbahaya bagi tanah rendah -- tidak membahayakannya.
Sebaliknya tanah itu akan mendapat faedah
dari hujan, meskipun curah hujan
itu besar atau kecil.
Dalam ayat selanjutnya kembali
Allah Swt memperingatkan orang-orang
yang mengorbankan hartanya di jalan Allah agar tidak sia-sia, firman-Nya:
اَیَوَدُّ
اَحَدُکُمۡ اَنۡ تَکُوۡنَ لَہٗ جَنَّۃٌ مِّنۡ نَّخِیۡلٍ وَّ اَعۡنَابٍ تَجۡرِیۡ
مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۙ لَہٗ فِیۡہَا مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ ۙ وَ اَصَابَہُ
الۡکِبَرُ وَ لَہٗ ذُرِّیَّۃٌ ضُعَفَآءُ ۪ۖ فَاَصَابَہَاۤ
اِعۡصَارٌ فِیۡہِ نَارٌ فَاحۡتَرَقَتۡ ؕ
کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ تَتَفَکَّرُوۡنَ
﴿﴾
Adakah salah
seorang di antara kamu yang ingin
memiliki kebun kurma dan anggur, yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, di
dalam ke-bun itu ia memiliki
segala macam buah-buahan, وَ
اَصَابَہُ الۡکِبَرُ وَ لَہٗ ذُرِّیَّۃٌ ضُعَفَآءُ -- kemudian
masa tua menghampirinya
sedangkan ia memiliki keturunan yang
lemah, فَاَصَابَہَاۤ
اِعۡصَارٌ فِیۡہِ نَارٌ فَاحۡتَرَقَتۡ -- lalu
kebun itu ditimpa angin puyuh
yang mengandung api maka terbakarlah kebun itu? کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ لَکُمُ الۡاٰیٰتِ
لَعَلَّکُمۡ تَتَفَکَّرُوۡنَ -- Demikianlah Allah menjelaskan Tanda-tanda-Nya bagi kamu supaya kamu berfikir. (Al-Baqarah [2]:267).
Dengan
perantaraan perumpamaan ini orang
mukmin diperingatkan bahwa jika ia membelanjakan
harta bendanya untuk pamer atau mengiringi sedekahnya dengan membangkit-bangkit jasa baik dan menyakiti perasaan orang yang disedekahinya,
maka semua yang dibelanjakannya itu
akan menjadi sia-sia belaka,
sebagaimana digambarkan dalam perumpamaan
sebelumnya, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تُبۡطِلُوۡا صَدَقٰتِکُمۡ بِالۡمَنِّ وَ الۡاَذٰی ۙ
کَالَّذِیۡ یُنۡفِقُ مَالَہٗ رِئَآءَ النَّاسِ وَ لَا یُؤۡمِنُ بِاللّٰہِ وَ
الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِؕ فَمَثَلُہٗ کَمَثَلِ
صَفۡوَانٍ عَلَیۡہِ تُرَابٌ فَاَصَابَہٗ وَابِلٌ فَتَرَکَہٗ صَلۡدًا ؕ لَا یَقۡدِرُوۡنَ عَلٰی شَیۡءٍ مِّمَّا کَسَبُوۡا ؕ
وَ اللّٰہُ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ
الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membuat sedekah-sedekahmu sia-sia dengan menyebut-nyebut jasa baik dan sikap menyakiti,
seperti orang yang membelanjakan hartanya untuk
dilihat manusia,
sedangkan ia tidak beriman kepada Allah dan
Hari Kemudian, فَمَثَلُہٗ
کَمَثَلِ صَفۡوَانٍ عَلَیۡہِ تُرَابٌ فَاَصَابَہٗ وَابِلٌ فَتَرَکَہٗ
صَلۡدًا -- maka
perumpamaannya seperti misal batu licin
yang di atasnya ada tanah, lalu hujan lebat menimpanya dan meninggalkannya
keras dan licin. لَا
یَقۡدِرُوۡنَ عَلٰی شَیۡءٍ مِّمَّا کَسَبُوۡا ؕ وَ اللّٰہُ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الۡکٰفِرِیۡنَ -- Mereka tidak akan memperoleh sesuatu dari apa
yang mereka usahakan, dan Allah
tidak memberi petunjuk kepada kaum yang
kafir (Al-Baqarah [2]:265).
Perumpamaan “Sarang Laba-laba”
Perumpamaan tersebut selaras dengan perumpamaan mengenai keadaan orang-orang musyrik yang amal perbuatannya tidak memberikan manfaat kepada mereka
-- sekali pun mereka untuk sementara waktu memperoleh kesuksesan duniawi -- sebagaimana kaum-kaum purbakala yang dibinasakan Allah Swt. karena mereka mendustakan dan menentang
para rasul Allah yang diutus kepada
mereka -- firman-Nya:
مَثَلُ
الَّذِیۡنَ اتَّخَذُوۡا مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ اَوۡلِیَآءَ کَمَثَلِ
الۡعَنۡکَبُوۡتِ ۖۚ اِتَّخَذَتۡ بَیۡتًا ؕ وَ اِنَّ اَوۡہَنَ الۡبُیُوۡتِ لَبَیۡتُ الۡعَنۡکَبُوۡتِ
ۘ لَوۡ
کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ اِنَّ اللّٰہَ یَعۡلَمُ مَا یَدۡعُوۡنَ
مِنۡ دُوۡنِہٖ مِنۡ شَیۡءٍ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ وَ تِلۡکَ الۡاَمۡثَالُ نَضۡرِبُہَا لِلنَّاسِ ۚ وَ مَا یَعۡقِلُہَاۤ اِلَّا
الۡعٰلِمُوۡنَ ﴿﴾ خَلَقَ اللّٰہُ السَّمٰوٰتِ
وَ الۡاَرۡضَ بِالۡحَقِّ ؕ اِنَّ
فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿٪﴾
Perumpamaan orang-orang yang mengambil
penolong-penolong selain Allah adalah seperti perumpamaan laba-laba yang membuat rumah, dan sesungguhnya selemah-lemah
rumah pasti rumah laba-laba,
seandainya mereka itu mengetahui. Sesungguhnya Allah mengetahui sesuatu apa pun
yang mereka seru selain-Nya, dan Dia
Maha Perkasa, Maha Bijaksana. Dan itulah perumpamaan-perumpamaan yang Kami kemukakan bagi manusia, dan sekali-kali
tidak ada yang memahaminya
kecuali orang-orang yang berilmu. خَلَقَ اللّٰہُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ بِالۡحَقِّ ؕ
اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- Allah
menciptakan seluruh langit dan bumi
sesuai dengan haq, sesungguhnya dalam yang demikian itu adalah Tanda bagi orang-orang
yang beriman. (Al-Ankabūt [29]:42-45).
Masalah ke-Esa-an
Tuhan yang menjadi pembahasan terutama Surah ini disudahi dalam ayat ini dengan sebuah tamsil (perumpamaan) yang indah sekali, dan menjelaskan kepada kaum musyrik ketololan, kesia-siaan, dan
kepalsuan kepercayaan-kepercayaan
dan kebiasaan-kebiasaan
syirik mereka. Mereka itu rapuh
bagaikan sarang laba-laba dan tidak dapat
bertahan terhadap kecaman akal sehat.
Demikian pula dalam kenyataannya akhir kehidupan mereka pun sama sia-sianya seperti perumpamaan orang-orang yang membelanjakan
hartanya bukan semata-mata mencari keridhaan dan pengampunan Allah Swt. melainkan dengan tujuan-tujuan duniawi (Al-Baqarah [2]:265).
Ungkapan bilhaqqi dalam
ayat: خَلَقَ
اللّٰہُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ
بِالۡحَقِّ -- “Allah menciptakan seluruh langit dan bumi sesuai dengan haq, ؕ
اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- sesungguhnya dalam yang demikian itu
adalah Tanda bagi orang-orang yang
beriman” berarti, bahwa dalam penciptaan
seluruh langit dan bumi ada bukti yang jelas tentang rencana dan maksud, yang memuaskan alam
pikiran, dan bahwa suatu rencana yang mendalam lagi lengkap bekerja di dalam segala benda langit dan bumi (QS.3:191-195).
Hubungan Iman dan Amal Shaleh Dengan Kebun-kebun yang di Bawahnya Mengalir Sungai-sungai
Jadi, demikian sempurna berbagai petunjuk
dan falsafah serta hikmah
mendalam yang terkandung dalam Kitab
suci Al-Quran. Itulah sebabnya Allah
Swt. telah menggambarkan surga dengan perumpamaan “kebun-kebun yang dibawahnya mengalir sungai-sungai”, firman-Nya:
وَ بَشِّرِ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ
تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ؕ کُلَّمَا
رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا ۙ قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا
مِنۡ قَبۡلُ ۙ وَ اُتُوۡا بِہٖ
مُتَشَابِہًا ؕ وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ ٭ۙ وَّ ہُمۡ
فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa sesungguhnya untuk
mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.
Setiap kali diberikan kepada mereka
buah-buahan dari kebun itu sebagai rezeki, mereka berkata: “Inilah yang telah direzekikan kepada kami
sebelumnya”, akan diberikan kepada
mereka yang serupa dengannya, dan bagi
mereka di dalamnya ada jodoh-jodoh
yang suci, dan mereka akan kekal di dalamnya. (Al-Baqarah
[2]:26).
Ayat ini memberikan gambaran singkat atau perumpamaan mengenai ganjaran
yang akan diperoleh orang-orang beriman
di akhirat. Para kritikus Islam telah
melancarkan berbagai keberatan atas
lukisan (gambaran) itu. Kecaman-kecaman itu disebabkan oleh karena sama sekali,
tidak memahami ajaran Islam tentang nikmat-nikmat surgawi.
Al-Quran dengan tegas
mengemukakan bahwa ada di luar kemampuan
alam pikiran manusia untuk dapat mengenal hakikatnya (QS.32:18). Nabi Besar
Muhammad saw. diriwayatkan
pernah bersabda: “Tidak ada mata telah
melihatnya, tidak ada pula telinga telah mendengarnya, dan tidak pula pikiran
manusia dapat mengirakannya” (Bukhari),
firman-Nya:
فَلَا تَعۡلَمُ
نَفۡسٌ مَّاۤ اُخۡفِیَ لَہُمۡ مِّنۡ
قُرَّۃِ اَعۡیُنٍ ۚ جَزَآءًۢ بِمَا کَانُوۡا
یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾ اَفَمَنۡ کَانَ مُؤۡمِنًا کَمَنۡ کَانَ فَاسِقًا ؕؔ لَا یَسۡتَوٗنَ﴿﴾ اَمَّا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا
الصّٰلِحٰتِ فَلَہُمۡ جَنّٰتُ الۡمَاۡوٰی ۫ نُزُلًۢا بِمَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ
﴿﴾
Maka tidak ada sesuatu jiwa mengetahui
apa yang tersembunyi bagi mereka dari penyejuk mata sebagai balasan
terhadap apa yang telah mereka kerjakan. Maka apakah
seorang yang beriman sama seperti orang fasik? Mereka tidak
sama. Adapun orang-orang
yang beriman dan beramal saleh,
maka bagi mereka ada surga-surga tempat
tinggal, sebagai jamuan untuk apa
yang telah mereka kerjakan. (As-Sajdah [32]:18-20).
Al-Quran dan Hadits itu menunjukkan bahwa nikmat kehidupan ukhrawi tidak akan bersifat kebendaan seperti di dunia ini.
Nikmat-nikmat itu akan merupakan penjelmaan-keruhanian
dari perbuatan dan tingkah-laku baik (amal shaleh) yang
telah dikerjakan orang-orang bertakwa
di alam dunia ini.
Kata-kata yang dipergunakan untuk
menggambarkan nikmat-nikmat surgawi
dalam Al-Quran telah dipakai
hanya dalam arti kiasan. Ayat yang
sekarang pun dapat berarti bahwa karunia
dan nikmat Ilahi yang akan
dilimpahkan kepada orang-orang beriman yang bertakwa
di alam akhirat bahkan jauh lebih baik dan jauh lebih berlimpah-limpah dari yang dikhayalkan atau dibayangkan.
Nikmat-nikmat surgawi itu akan berada
jauh di luar batas jangkauan daya cipta
manusia.
Dengan sendirinya timbul
pertanyaan: Mengapa nikmat-nikmat surga diberi nama
yang biasa dipakai untuk benda-benda
di bumi ini? Hal demikian adalah karena seruan
Al-Quran itu tidak hanya semata-mata tertuju kepada orang-orang yang maju dalam bidang ilmu, oleh karena itu Al-Quran mempergunakan kata-kata sederhana yang dapat dipahami semua orang.
Dalam menggambarkan karunia Ilahi, Al-Quran telah
mempergunakan nama benda yang pada
umumnya dipandang baik di bumi
ini, dan orang-orang beriman diajari bahwa mereka akan mendapat hal-hal itu semuanya dalam bentuk yang lebih baik di alam yang akan
datang (akhirat).
Untuk menjelaskan perbedaan penting itulah maka dalam kiasan (perumpamaan) tersebut dipakai kata-kata
yang telah dikenal, selain itu tidak ada persamaan antara kesenangan
duniawi dengan karunia-karunia
ukhrawi. Tambahan pula menurut ajaran Islam
(Al-Quran), kehidupan di akhirat itu tidak
ruhaniah dalam artian bahwa hanya akan terdiri atas keadaan ruhani, bahkan dalam kehidupan
di akhirat pun ruh manusia akan
mempunyai semacam tubuh tetapi tubuh itu tidak bersifat benda seperti tubuh jasmani di dunia ini.
(Bersambung)
ooo
Rujukan: The
Holy Quran
Editor : Malik
Ghulam Farid
Pajajaran Anyar, 12 Juli 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar