Rabu, 12 Juli 2017

"Nubuatan" Dalam Surah "Al-Fatihah" Berkenaan "Tiga Golongan" Manusia & Hubungan "Rukun Iman" dan "Rukun Islam"



Bismillāhirrahmānirrahīm

KHAZANAH  AL-QURAN 

Bab 5

NUBUATAN  DALAM SURAH AL-FATIHAH BERKENAAN  TIGA GOLONGAN  MANUSIA &  HUBUNGAN RUKUN IMAN DENGAN RUKUN ISLAM  

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir bab sebelumnya  telah dikemukakan  topic:  Pentingnya Beriman Kepada Nabi Besar Muhammad Saw., sehubungan kenyataan  bahwa Nabi Besar Muhammad saw. adalah benar-benar keturunan Nabi Ibrahim a.s. melalui silsilah Nabi Isma’il a.s. sebagaimana dikemukakan dalam  firman-Nya sebelum ini: 
وَ اِذۡ یَرۡفَعُ  اِبۡرٰہٖمُ  الۡقَوَاعِدَ مِنَ الۡبَیۡتِ وَ اِسۡمٰعِیۡلُ ؕ رَبَّنَا تَقَبَّلۡ مِنَّا ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ ﴿﴾  رَبَّنَا وَ اجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَیۡنِ لَکَ وَ مِنۡ ذُرِّیَّتِنَاۤ اُمَّۃً مُّسۡلِمَۃً  لَّکَ ۪ وَ اَرِنَا مَنَاسِکَنَا وَ تُبۡ عَلَیۡنَا ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ التَّوَّابُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾  رَبَّنَا وَ ابۡعَثۡ فِیۡہِمۡ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِکَ وَ یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ یُزَکِّیۡہِمۡ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾٪ 
Dan ingatlah ketika Ibrahim dan Isma’il meninggikan  dasar-dasar yakni pondasi Rumah itu sambil mendoa: “Ya Rabb (Tuhan) kami,  terimalah   amal ini dari kami, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mendengar, Maha Mengetahui.  Ya Rabb (Tuhan) kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah  diri kepada Engkau, dan juga  dari antara keturunan kami jadikanlah satu umat yang berserah diri kepada Engkau,  perlihatkanlah kepada kami cara-cara ibadah kami dan terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang.  رَبَّنَا وَ ابۡعَثۡ فِیۡہِمۡ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِکَ وَ یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ یُزَکِّیۡہِمۡ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ --  Ya Rabb (Tuhan) kami, bangkitkanlah  seorang rasul di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan Ayat-ayat Engkau kepada mereka, yang mengajarkan Kitab  dan hikmah kepada mereka serta akan mensucikan mereka, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”  (Al-Baqarah [2]:128-130).

Cara Meraih Kecintaan  dan Pengampunan Allah Swt.

       Lebih lanjut Allah Swt. berfirman mengenai pentingnya beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ  اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾ قُلۡ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ ۚ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: ”Jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku,  Allah pun akan mencintai kamu dan akan mengampuni dosa-dosa kamu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”  Katakanlah:   Taatilah Allah dan Rasul ini”, kemudian jika mereka berpaling maka ketahuilah sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir. (Ali ‘Imran [3]:32). 
    Ayat 32 dengan tegas menyatakan, bahwa sejak diutus-Nya Nabi Besar Muhammad saw --  menggenapi nubuatan  terdapat  dalam kitab-kitab suci sebelumnya (QS.2:147; QS.7:158; QS.11:18; QS.26:193-198; QS.46:11; QS.61:7; QS.73:16) --  maka  sejak saat itu tujuan memperoleh kecintaan Ilahi  tidak mungkin terlaksana kecuali dengan mengikuti  Nabi Besar Muhammad saw.   
      Selanjutnya ayat ini melenyapkan kesalahpahaman yang mungkin dapat timbul dari QS.2:63 bahwa iman kepada adanya Tuhan dan alam akhirat saja sudah cukup untuk memperoleh najat (keselamatan). Sehubungan dengan pentingnya beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw. sepenuhnya Allah Swt. berfirman: 
وَ مَنۡ یَّبۡتَغِ غَیۡرَ الۡاِسۡلَامِ دِیۡنًا فَلَنۡ یُّقۡبَلَ مِنۡہُ ۚ وَ ہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾ کَیۡفَ یَہۡدِی اللّٰہُ  قَوۡمًا کَفَرُوۡا بَعۡدَ اِیۡمَانِہِمۡ وَ شَہِدُوۡۤا اَنَّ الرَّسُوۡلَ حَقٌّ وَّ جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اللّٰہُ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
Dan   barangsiapa mencari agama yang bukan agama Islam, maka  agama itu tidak akan pernah diterima darinya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi. کَیۡفَ یَہۡدِی اللّٰہُ  قَوۡمًا کَفَرُوۡا بَعۡدَ اِیۡمَانِہِمۡ وَ شَہِدُوۡۤا اَنَّ الرَّسُوۡلَ حَقٌّ وَّ جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ  --  Bagaimana mungkin Allah akan memberi petunjuk kepada suatu kaum yang kafir setelah mereka beriman, dan mereka telah menjadi saksi pula bahwa sesungguhnya  rasul itu benar, dan juga telah datang kepada mereka bukti-bukti  yang nyata?  وَ اللّٰہُ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ  --Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (Ali ‘Imran [3]:86-87).  
       Tentu saja suatu kaum yang mula-mula beriman kepada kebenaran seorang nabi Allah  yang kedatangannnya dijanjikan kepada mereka (QS.7:35-37) dan menyatakan keimanan mereka kepada nabi Allah  itu secara terang-terangan serta menjadi saksi atas Tanda-tanda Ilahi tetapi kemudian menolaknya karena takut kepada manusia atau karena pertimbangan duniawi lainnya, mereka kehilangan segala hak untuk mendapat lagi petunjuk kepada jalan yang lurus.
     Atau, ayat itu dapat pula mengisyaratkan kepada mereka yang beriman kepada para nabi Allah terdahulu tetapi menolak beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw.,  padahal Nabi Besar Muhammad saw. merupakan puncak kesempurnaan silsilah (rangkaian) pengutusan rasul Allah pembawa syariat  (QS.5:4), sehingga dalam Bible kedatangan beliau saw.  digambarkan  seakan-akan  “kedatangan Tuhan Sendiri” (Ulangan 18:15-19; Matius 23:37-39; Yohanes 16:12-13).

Nubuatan Tiga Golongan Dalam  Surah Al-Fatihah

     Allah Swt.  dalam Surah Al-Fatihah telah menyebut orang-orang yang  beriman kepada Rasul Allah Swt.  yang kedatangannya dijanjikan dari kalangan Bani Adam  (QS.7:36) tersebut sebagai “orang-orang yang mendapat nikmat”.  Sedangkan orang-orang yang mendustakan serta menentang rasul Allah tersebut sebagai “orang-orang yang dimurkai Allah, dan orang-orang yang berlebihan dalam memuliakan rasul Allah serta mempertuhankannya disebut “orang-orang yang sesat”, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ     ۙ﴿﴾  الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ ؕؕ﴿﴾  اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ  ﴿﴾   اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ ﴿﴾    صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۙ۬ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿﴾                                        
Aku baca dengan  nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Segala  puji hanya bagi  Allah, Rabb (Tuhan) seluruh alam,    Maha Pemurah,  Maha Pe-nyayang.    Pemilik   Hari    Pembalasan Hanya Engkau-lah Yang kami sembah  dan   hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan.  Tunjukilah kami  jalan yang lurus,  Yaitu jalan  orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka     bukan jalan mereka  yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka  yang sesat  (Al-Fatihah [1]:1-7).
          Ada pun yang dimaksud dengan nikmat dalam ayat:  “Yaitu jalan  orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka bukan berupa nikmat-nikmat jasmani atau duniawi  -- yang juga dapat diraih oleh orang-orang yang kafir kepada Allah Swt. sekali pun  sebagai hasil kerja-keras mereka (QS.28:77-83) – melainkan nikmat-nikmat ruhani  berupa qurb Ilahi (kedekatan dengan Allah Swt), sebagai hasil kepatuh-taatan kepada hukum-hukum syariat – terutama agama Islam (Al-Quran)  --  firman-Nya:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾  ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan  barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul ini maka mereka akan termasuk di antara  orang-orang  yang Allah memberi nikmat kepada mereka   مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا --   yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih, dan mereka itulah sahabat yang sejati. ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا --    Itulah karunia dari Allah,  dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui. (An-Nisā [4]:70-71).
       Ayat  70  sangat penting sebab ia menerangkan semua jalur kemajuan ruhani yang terbuka bagi kaum Muslimin. Keempat martabat keruhanian —  nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih,  — kini semuanya dapat dicapai hanya dengan jalan mengikuti Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32).
      Hal ini merupakan kehormatan khusus bagi  Nabi Besar Muhammad saw.   semata. Tidak ada nabi Allah  lain menyamai beliau saw. dalam perolehan nikmat ini. Kesimpulan itu lebih lanjut ditunjang oleh ayat yang membicarakan nabi-nabi secara umum dan mengatakan: “Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya, mereka adalah orang-orang shiddiq dan saksi saksi (syuhada) - di sisi Rabb (Tuhan) mereka” (QS.57: 20).
     Apabila kedua ayat ini dibaca bersama-sama maka kedua ayat itu berarti bahwa, kalau para pengikut nabi-nabi Allah lainnya dapat mencapai martabat shiddiq, syahid, dan shalih dan tidak lebih tinggi dari itu, maka pengikut  Nabi Besar Muhammad saw. dapat naik ke martabat nabi juga, yakni kenabian ummati sebagai refleksi (pantulan) dari kenabian Nabi Besar Muhammad saw., sebagaimana cahaya bulan purnama merupakan pantulan dari cahaya matahari.
       Kitab “Bahr-ul-Muhit (jilid III, hlm. 287) menukil Al-Raghib yang mengatakan: “Tuhan telah membagi orang-orang beriman  dalam empat golongan dalam ayat ini, dan telah menetapkan bagi mereka empat tingkatan, sebagian di antaranya lebih rendah dari yang lain, dan Dia telah mendorong orang-orang beriman sejati agar jangan tertinggal dari keempat tingkatan ini.” Dan membubuhkan bahwa: “Kenabian itu ada dua macam: umum dan khusus. Kenabian khusus, yakni kenabian yang membawa syariat, sekarang tidak dapat dicapai lagi; tetapi kenabian yang umum masih tetap dapat dicapai.”

Hikmah Kewajiban Membaca Surah Al-Fatihah Dalam Shalat

      Dengan demikian jelaslah bahwa salah satu alasan mengapa dalam ajaran Islam pelaksanaan shalat menjadi  tidak sah jika tidak membaca surah Al-Fatihah,  sebab  bukan saja surah Al-Fatihah merupakan ummul-Kitab (induk Kitab), tetapi juga di dalamnya dikemukakan  petunjuk untuk meraih tujuan melakukan ibadah kepada Allah Swt. – melalui pelaksanaan huququllāh dan huququl- ibād  --  berupa termasuk golongan  “orang-orang yang mendapat nikmat Allah Swt.    --  juga agar terhindardari menjadi “orang-orang yang dimurkai Allah”  karena menentang  Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan dari kalangan Bani Adam (QS.7:36-37), sebagaimana yang dilakukan kaum Yahudi (QS.2:88-89) dan yang “tersesat dari Tauhid Ilahi” karena telah  mempertuhankan makhluk Allah, sebagaimana yang dilakukan kaum Kristen serta orang-orang musyrik lainnya (QS.9:30-33),  firman-Nya:  Tunjukilah kami  jalan yang lurus,  Yaitu jalan  orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka   bukan jalan mereka  yang dimurkai   dan bukan pula jalan mereka  yang sesat  (Al-Fatihah [1]:5-7).
      Ada pun hubungan langsung antara Surah Al-Fatihah dengan surat Al-Baqarah adalah ketika kepada orang-orang Islam diajarkan doa surah Al-Fatihah:   Tunjukilah kami  jalan yang lurus, Yaitu jalan  orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka     bukan jalan mereka  yang dimurkai   dan bukan pula jalan mereka  yang sesat  (Al-Fatihah [1]:5-7), dijawab Allah Swt. dalam Surah Al-Baqarah-  Inilah  Kitab yang sempurna itu, tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa”, firman-Nya
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  الٓـمّٓ ۚ ﴿﴾    ذٰلِکَ  الۡکِتٰبُ لَا رَیۡبَ ۚۖۛ فِیۡہِ ۚۛ ہُدًی  لِّلۡمُتَّقِیۡنَ ۙ﴿﴾  الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡغَیۡبِ وَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ  مِمَّا رَزَقۡنٰہُمۡ  یُنۡفِقُوۡنَ ۙ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِمَاۤ  اُنۡزِلَ اِلَیۡکَ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ مِنۡ قَبۡلِکَ ۚ وَ بِالۡاٰخِرَۃِ ہُمۡ یُوۡقِنُوۡنَ ؕ﴿﴾  اُولٰٓئِکَ عَلٰی ہُدًی مِّنۡ رَّبِّہِمۡ ٭ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Alif Lām Mīm (Aku Allah Yang Maha Mengetahui).   Inilah  Kitab yang sempurna itu, tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.   Yaitu orang-orang yang beriman kepada  yang gaib, mendirikan shalat dan mereka  membelanjakan sebagian dari apa  yang Kami rezekikan kepada mereka.   Dan orang-orang  yang beriman kepada apa yang diturunkan kepada engkau, juga kepada apa yang telah diturunkan sebelum engkau dan kepada akhirat pun mereka   yakin. Mereka itulah orang-orang yang  berada di atas petunjuk dari Rabb-nya (Tuhannya)  dan mereka itulah  orang-orang yang  berhasil. (Al-Baqarah [2]:1-6).
       Sebelum lebih jauh membahas firman Allah Swt. tersebut, perlu memperhatikan firman Allah Swt. di awal Bab 1 berkenaan pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. dan pewahyuan Al-Quran kepada beliau saw.,  karena Nabi Besar Muhammad saw. dan Al-Quran  itulah yang  telah ditetapkan Allah Swt. sebagai “hakim”   yang akan  memutuskan segala perkara duniawi dan ruhani  seluruh umat manusia – termasuk perselisihan yang terjadi di kalangan  umat beragama --  firman-Nya:
وَ یَوۡمَ نَبۡعَثُ فِیۡ کُلِّ اُمَّۃٍ شَہِیۡدًا عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ جِئۡنَا بِکَ شَہِیۡدًا عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ ؕ وَ نَزَّلۡنَا عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ تِبۡیَانًا  لِّکُلِّ شَیۡءٍ  وَّ  ہُدًی  وَّ  رَحۡمَۃً   وَّ  بُشۡرٰی  لِلۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah hari itu ketika Kami akan membangkitkan dalam setiap umat seorang saksi terhadap mereka dari antara mereka sendiri, dan Kami akan mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka semuanya. Dan  Kami  telah menurunkan kepada engkau Kitab itu untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk, rahmat serta kabar gembira  bagi orang-orang yang berserah diri kepada Allah.   (An-Nahl [16]:90).

Tanda Pertama Orang Bertakwa: “Beriman kepada yang Gaib” & Hubungan Rukun Iman Dengan Rukun Islam

       Sehubungan dengan kenyataan itulah Allah Swt. berfirman pada awal surah Al-Baqarah:     Inilah  Kitab yang sempurna itu, tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” Ada pun ayat selanjutnya:   “Yaitu orang-orang yang beriman kepada  yang gaibmerupakan tanda pertama atau syarat pertama untuk menjadi orang-orang bertakwa  yang  memiliki keimanan yang teguh  terhadap hal-hal yang bersifat gaib – terutama Allah Swt.  –  sebagaimana secara ringkas  dikemukakan dalam Rukun Iman: (1) Beriman kepada Allah Swt., (2) Beriman kepada malaikat-malaikat; (3) Beriman kepada Kitab-kitab; (4) Beriman Rasul-rasul Allah; (5) Beriman kepada Akhirat; (6) Beriman kepada Takdir.
         Berikut pernyataan Allah mengenai pentingnya “beriman kepada yang gaib” dalam mengikuti petunjuk Al-Quran -- sebagaimana yang difahami dan diamalkan oleh Nabi Besar Muhammad saw.  --  firman-Nya:
وَ لَا تَزِرُ  وَازِرَۃٌ  وِّزۡرَ اُخۡرٰی ؕ وَ اِنۡ تَدۡعُ مُثۡقَلَۃٌ  اِلٰی حِمۡلِہَا لَا یُحۡمَلۡ مِنۡہُ شَیۡءٌ وَّ لَوۡ کَانَ ذَا قُرۡبٰی ؕ اِنَّمَا تُنۡذِرُ الَّذِیۡنَ یَخۡشَوۡنَ رَبَّہُمۡ بِالۡغَیۡبِ وَ اَقَامُوا الصَّلٰوۃَ ؕ وَ مَنۡ تَزَکّٰی فَاِنَّمَا یَتَزَکّٰی  لِنَفۡسِہٖ ؕ وَ  اِلَی  اللّٰہِ  الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Dan tidak ada jiwa berbeban dapat memikul beban orang lain, dan jika jiwa berbeban berat berseru kepada yang lain untuk memikul bebannya tidak akan dipikul sedikit pun darinya, walau pun ia kaum kerabat sendiri.  اِنَّمَا تُنۡذِرُ الَّذِیۡنَ یَخۡشَوۡنَ رَبَّہُمۡ بِالۡغَیۡبِ وَ اَقَامُوا الصَّلٰوۃَ  --  Sesungguhnya  engkau hanya dapat memperingatkan orang-orang yang takut kepada Rabb (Tuhan) mereka dalam keadaan menyendiri  serta mendirikan shalat. وَ مَنۡ تَزَکّٰی فَاِنَّمَا یَتَزَکّٰی  لِنَفۡسِہٖ ؕ وَ  اِلَی  اللّٰہِ  الۡمَصِیۡرُ -- Dan barangsiapa mensucikan diri  maka ia hanya mensucikan untuk dirinya, dan kepada Allah kembali segala sesuatu  (Al-Fāthir [35]:19).
     Kemudian Allah Swt. berfirman lagi kepada Nabi Besar Muhammad saw. berkenaan pentingnya “beriman kepada yang gaib”:
اِنَّمَا تُنۡذِرُ مَنِ اتَّبَعَ  الذِّکۡرَ  وَ خَشِیَ الرَّحۡمٰنَ بِالۡغَیۡبِ ۚ فَبَشِّرۡہُ  بِمَغۡفِرَۃٍ وَّ اَجۡرٍ  کَرِیۡمٍ ﴿﴾
Sesungguhnya engkau hanya dapat menasihati orang yang mengikuti peringatan itu dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah dalam keadaan tidak tampak, maka berilah dia kabar gembira  mengenai ampunan dan ganjaran yang mulia. (Yā Sīn [36]:12).
      Bagi bayi yang berada dalam rahim ibunya,  keberadaan kehidupan di luar rahim  ibunya merupakan hal (keadaan) yang gaib. Demikian juga halnya keberadaan kehidupan akhirat setelah manusia mengalami kematian  di dunia ini pun merupakan hal  yang gaib.

Khasiat  Shalat  dan Pengorbanan Harta yang Hakiki Bagi Pertumbuhan Akhlak dan Ruhani

        Jadi, betapa memahami Rukun Iman    dengan benar sangat penting, karena akan berpengaruh terhadap pelaksanaan Rukun Islam  --  (1) Syahadat; (2) Shalat; (3) Zakat; (4) Puasa; (5) Ibadah Hajji – sebab hubungan Rukun Iman dengan Rukun Islam  seperti hubungan iman dan amal shaleh  yang jika dilaksanakan sesuai petunjuk Al-Quran dan Sunnah Nabi Besar Muhammad saw. maka akan mengakibatkan para pelakunya sebagai penghuni “jannah” (surga), firman-Nya:
وَ بَشِّرِ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ؕ  کُلَّمَا رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا ۙ قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ ۙ وَ اُتُوۡا بِہٖ مُتَشَابِہًا ؕ وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ ٭ۙ وَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan berilah kabar gembira  orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa sesungguhnya untuk mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Setiap kali diberikan kepada mereka buah-buahan dari kebun itu sebagai rezeki, mereka berkata: “Inilah yang telah direzekikan kepada kami sebelumnya”, akan diberikan kepada mereka yang serupa dengannya, dan bagi mereka di dalamnya ada  jodoh-jodoh yang suci,  dan mereka akan kekal di dalamnya. (Al-Baqarah [2]:26).
         Sebaliknya, jika pelaksanaan Rukun Islam tidak didasari dengan pemahaman Rukun Iman yang benar maka pelaksanaan Rukun Islam tidak akan menghasilkan akibat baik sebagaimana telah telah ditetapkan Allah Swt., contohnya  salah satu dari pengaruh shalat yang ditetapkan Allah Swt.  – selain timbulnya akhlak-akhlak terpuji bagi para pelakunya  --    shalat pun dapat mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan munkar (QS.29:46).
        Tetapi jika tidak dilandasi pemahaman Rukun Iman yang benar, maka yang terjadi  pada para pelaku  shalat adalah kecaman Allah Swt. dalam firman-Nya berikut ini:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  اَرَءَیۡتَ  الَّذِیۡ یُکَذِّبُ بِالدِّیۡنِ ؕ﴿﴾   فَذٰلِکَ الَّذِیۡ یَدُعُّ  الۡیَتِیۡمَ ۙ﴿﴾  وَ لَا یَحُضُّ عَلٰی طَعَامِ الۡمِسۡکِیۡنِ ؕ﴿﴾  فَوَیۡلٌ  لِّلۡمُصَلِّیۡنَ ۙ﴿۴   الَّذِیۡنَ ہُمۡ عَنۡ صَلَاتِہِمۡ سَاہُوۡنَ ۙ﴿﴾  الَّذِیۡنَ ہُمۡ  یُرَآءُوۡنَ ۙ﴿﴾  وَ یَمۡنَعُوۡنَ الۡمَاعُوۡنَ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Apakah engkau melihat orang yang mendustakan  agama?  Maka itulah orang yang mengusir anak yatim,  dan  tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.  Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, orang-orang yang lalai dari  shalatnya,   yaitu orang-orang yang berbuat  pamer, dan mencegah diri mereka untuk memberi barang-barang kecil kepada orang-orang miskin. (Al-Mā’un [107]:1-8).
         Dalam surah lain Allah Swt. menyebut  pelaksanaan shalat yang hakiki dengan sebutan  hasanat, firman-Nya:
وَ اَقِمِ الصَّلٰوۃَ طَرَفَیِ النَّہَارِ وَ زُلَفًا مِّنَ الَّیۡلِ ؕ اِنَّ الۡحَسَنٰتِ یُذۡہِبۡنَ السَّیِّاٰتِ ؕ ذٰلِکَ  ذِکۡرٰی  لِلذّٰکِرِیۡنَ ﴿﴾ۚ
Dan  dirikanlah shalat pada kedua ujung siang dan pada beberapa bagian malam. Sesungguhnya kebaikan-kebaikan menghapuskan keburukan-keburukan. Itu adalah suatu peringatan bagi orang-orang yang mengingat.  (Hūd [11]:115).
       Demikian juga halnya dengan pembelanjaan (pengorbanan) harta di jalan Allah jika tidak dilandasi pemahaman yang benar   -- misalnya disertai riya (pamer atau  dengan sikap menyakiti atau semata-mata uNtuk meraih pahala belaka -- maka keadaannya seperti yang digambarkan firman-Nya berikut ini:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تُبۡطِلُوۡا صَدَقٰتِکُمۡ بِالۡمَنِّ وَ الۡاَذٰی ۙ کَالَّذِیۡ یُنۡفِقُ مَالَہٗ رِئَآءَ النَّاسِ وَ لَا یُؤۡمِنُ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِؕ فَمَثَلُہٗ  کَمَثَلِ صَفۡوَانٍ عَلَیۡہِ تُرَابٌ فَاَصَابَہٗ وَابِلٌ فَتَرَکَہٗ صَلۡدًا ؕ لَا  یَقۡدِرُوۡنَ عَلٰی شَیۡءٍ مِّمَّا کَسَبُوۡا ؕ وَ اللّٰہُ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membuat  sedekah-sedekahmu sia-sia dengan menyebut-nyebut jasa baik dan sikap  menyakiti, seperti orang  yang membelanjakan hartanya untuk dilihat  manusia, sedangkan ia tidak beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, فَمَثَلُہٗ  کَمَثَلِ صَفۡوَانٍ عَلَیۡہِ تُرَابٌ فَاَصَابَہٗ وَابِلٌ فَتَرَکَہٗ صَلۡدًا  -- maka perumpamaannya seperti misal  batu licin  yang di atasnya ada   tanah, lalu hujan lebat menimpanya dan meninggalkannya keras dan licin. لَا  یَقۡدِرُوۡنَ عَلٰی شَیۡءٍ مِّمَّا کَسَبُوۡا ؕ وَ اللّٰہُ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الۡکٰفِرِیۡنَ --  Mereka tidak akan memperoleh sesuatu dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang  kafir. (Al-Baqarah [2]:265).

Hikmah Pengorbaan Harta di jalan Allah Secara Terang-terangan dan Secara Tersembunyi  &  Perumpamaan Pengorbanan Harta  yang Salah

     Di tempat lain, kaum Muslimin diperintahkan pula untuk membelanjakan kekayaan mereka dengan terang-terangan (QS.2:275)  -- tetapi bukan untuk tujuan riya (pamer) melainkan --  tujuan yang mendasarinya ialah orang-orang Muslim lainnya akan terpengaruh dan meniru teladan yang baik itu. Akan tetapi, orang yang tidak  beriman kepada Allah Swt.   membelanjakan uangnya terang-terangan hanya semata-mata untuk menarik penghargaan khalayak  umum serta untuk tujuan-tujuan duniawi lainnya.  Orang demikian kehilangan sama sekali hak memperoleh ganjaran dari Allah Swt. sebagaimana digambarkan  perumpamaan dalam ayat tersebut.
        Dalam ayat-ayat sebelumnya Allah Swt. menggambarkan falsafah pengorbanan harta di jalan Allah yang benar, firman-Nya:
مَثَلُ الَّذِیۡنَ یُنۡفِقُوۡنَ اَمۡوَالَہُمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ کَمَثَلِ حَبَّۃٍ اَنۡۢبَتَتۡ سَبۡعَ سَنَابِلَ فِیۡ کُلِّ سُنۡۢبُلَۃٍ مِّائَۃُ حَبَّۃٍ ؕ وَ اللّٰہُ یُضٰعِفُ لِمَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ ﴿﴾ اَلَّذِیۡنَ یُنۡفِقُوۡنَ اَمۡوَالَہُمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ثُمَّ لَا یُتۡبِعُوۡنَ مَاۤ  اَنۡفَقُوۡا مَنًّا وَّ لَاۤ  اَذًی ۙ لَّہُمۡ اَجۡرُہُمۡ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ ۚ وَ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ  وَ لَا ہُمۡ  یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ قَوۡلٌ مَّعۡرُوۡفٌ وَّ مَغۡفِرَۃٌ خَیۡرٌ مِّنۡ صَدَقَۃٍ یَّتۡبَعُہَاۤ  اَذًی ؕ وَ اللّٰہُ غَنِیٌّ حَلِیۡمٌ ﴿﴾
Perumpamaan orang-orang yang membelanjakan harta mereka di jalan Allah, adalah seperti perumpamaan sebuah biji menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir terdapat seratus biji, Allah melipatgandakan ganjaran-Nya bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas karunia-Nya, Maha Mengetahui.  Orang-orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah kemudian mereka tidak mengiringi  apa yang dibelanjakannya itu dengan menyebut-nyebut kebaikan dan tidak pula menyakiti hati,  bagi mereka ada ganjarannya di sisi Rabb-nya (Tuhan-nya)tidak ada ketakutan pada mereka dan tidak pula mereka akan bersedih. قَوۡلٌ مَّعۡرُوۡفٌ وَّ مَغۡفِرَۃٌ خَیۡرٌ مِّنۡ صَدَقَۃٍ یَّتۡبَعُہَاۤ  اَذًی ؕ وَ اللّٰہُ غَنِیٌّ حَلِیۡمٌ --   Tutur kata yang baik dan ampunan  adalah lebih baik daripada sedekah yang diiringi dengan sikap menyakiti, dan Allah Maha Kaya, Maha Penyantun. (Al-Baqarah [2]:262-264). 
      Makna ayat: “kemudian mereka tidak mengiringi  apa yang dibelanjakannya itu dengan menyebut-nyebut kebaikan dan tidak pula menyakiti hati,  ” Tiap-tiap perbuatan baik dapat disalahgunakan, dan penyalahgunaan belanja harta di jalan Allah ialah menyertakannya dengan mann (dengan sombong menyebut-nyebut perbuatan baiknya) dan adza (menyatakannya dengan menyakiti).
      Mereka yang membelanjakan kekayaan mereka di jalan Allah dilarang menyebut-nyebut tanpa gunanya dan tidak pada tempatnya perihal uang yang dibelanjakan mereka dan bakti yang diberikan mereka demi kepentingan kebenaran, sebab perbuatan demikian termasuk mann (celaan, ejekan). Demikian pula mereka diperintahkan agar tidak menuntut sesuatu sebagai imbalan atas bantuan mereka.
      Lebih baik mengucapkan kata-kata kasih-sayang atau minta maaf  -- karena tidak dapat memberikan bantuan -- kepada orang yang meminta pertolongan, daripada mula-mula menolongnya dan kemudian menyakitinya dan memberinya kesusahan; atau ia sebaiknya berusaha menutupi dan menyembunyikan keperluan orang yang datang kepadanya meminta pertolongan dan menahan diri dari membicarakannya kepada orang lain, sehingga orang itu tidak merasa direndahkan dan dihinakan, itulah arti  maghfirat.  Itulah makna ayat:   - “Tutur kata yang baik dan ampunan332 adalah lebih baik daripada sedekah yang diiringi dengan sikap menyakiti, dan Allāh Maha Kaya, Maha Penyantun.”

Falsafah dan Hikmah Perumpamaan Pengorbanan Harta di Jalan Allah yang Benar

      Dalam ayat selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai perumpamaan  atau falsafah pengorbanan harta di jalan Allah yang memberikan manfaat kepada   para pelakunya, firman-Nya:  
وَ مَثَلُ الَّذِیۡنَ یُنۡفِقُوۡنَ اَمۡوَالَہُمُ ابۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِ اللّٰہِ وَ تَثۡبِیۡتًا مِّنۡ اَنۡفُسِہِمۡ کَمَثَلِ جَنَّۃٍۭ بِرَبۡوَۃٍ اَصَابَہَا وَابِلٌ فَاٰتَتۡ اُکُلَہَا ضِعۡفَیۡنِ ۚ فَاِنۡ لَّمۡ یُصِبۡہَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ؕ وَ اللّٰہُ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ  بَصِیۡرٌ ﴿﴾
Dan perumpamaan  orang-orang yang membelanjakan harta mereka demi mencari keridhaan Allah dan memperteguh   jiwa mereka adalah seperti perumpamaan  kebun yang terletak di tempat tinggi,  hujan lebat menimpanya lalu menghasilkan  buahnya dua kali lipat, tetapi  jika hujan lebat tidak pernah menimpanya  maka hujan gerimis pun memadai, dan Allah Maha Melihat apa pun yang kamu kerjakan  (Al-Baqarah [2]:266).
      Pembelanjaan uang (harta) di jalan Allah memberi kekuatan kepada jiwa manusia, sebab dengan membelanjakan harta yang halal yang diperolehnya dengan susah-payah, ia secara sukarela meletakkan beban atas diri sendiri dan menjadikannya lebih kuat serta lebih teguh dalam keimanan kepada Allah Swt.
  Dalam perumpamaan ayat tersebut hati orang-orang beriman  yang membelanjakan harta dengan sukarela di jalan Allah adalah laksana sebidang tanah tinggi, dimana hujan lebat  -- yang kadang-kadang sangat berbahaya bagi tanah rendah  --  tidak membahayakannya. Sebaliknya tanah itu akan mendapat faedah dari hujan, meskipun curah  hujan itu besar atau kecil.
Dalam ayat selanjutnya kembali Allah Swt memperingatkan orang-orang yang mengorbankan hartanya di jalan Allah agar tidak sia-sia, firman-Nya:
اَیَوَدُّ اَحَدُکُمۡ اَنۡ تَکُوۡنَ لَہٗ جَنَّۃٌ مِّنۡ نَّخِیۡلٍ وَّ اَعۡنَابٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۙ لَہٗ فِیۡہَا مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ ۙ وَ اَصَابَہُ الۡکِبَرُ وَ لَہٗ ذُرِّیَّۃٌ ضُعَفَآءُ ۪ۖ فَاَصَابَہَاۤ اِعۡصَارٌ فِیۡہِ نَارٌ فَاحۡتَرَقَتۡ ؕ  کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ تَتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾
Adakah salah seorang di antara kamu yang ingin memiliki  kebun kurma dan anggur, yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, di dalam ke-bun itu ia memiliki segala macam buah-buahan, وَ اَصَابَہُ الۡکِبَرُ وَ لَہٗ ذُرِّیَّۃٌ ضُعَفَآءُ  -- kemudian  masa tua menghampirinya sedangkan ia memiliki keturunan yang lemah, فَاَصَابَہَاۤ اِعۡصَارٌ فِیۡہِ نَارٌ فَاحۡتَرَقَتۡ  --  lalu kebun itu ditimpa angin puyuh yang mengandung api maka terbakarlah kebun itu  کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ تَتَفَکَّرُوۡنَ --  Demikianlah Allah menjelaskan Tanda-tanda-Nya bagi kamu supaya kamu berfikir. (Al-Baqarah [2]:267).
       Dengan perantaraan perumpamaan ini orang mukmin diperingatkan bahwa jika  ia membelanjakan harta bendanya untuk pamer atau mengiringi sedekahnya dengan membangkit-bangkit jasa baik dan menyakiti perasaan orang yang disedekahinya, maka semua yang dibelanjakannya itu akan menjadi sia-sia belaka, sebagaimana digambarkan dalam perumpamaan  sebelumnya, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تُبۡطِلُوۡا صَدَقٰتِکُمۡ بِالۡمَنِّ وَ الۡاَذٰی ۙ کَالَّذِیۡ یُنۡفِقُ مَالَہٗ رِئَآءَ النَّاسِ وَ لَا یُؤۡمِنُ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِؕ فَمَثَلُہٗ  کَمَثَلِ صَفۡوَانٍ عَلَیۡہِ تُرَابٌ فَاَصَابَہٗ وَابِلٌ فَتَرَکَہٗ صَلۡدًا ؕ لَا  یَقۡدِرُوۡنَ عَلٰی شَیۡءٍ مِّمَّا کَسَبُوۡا ؕ وَ اللّٰہُ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membuat  sedekah-sedekahmu sia-sia dengan menyebut-nyebut jasa baik dan sikap  menyakiti, seperti orang  yang membelanjakan hartanya untuk dilihat  manusia, sedangkan ia tidak beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, فَمَثَلُہٗ  کَمَثَلِ صَفۡوَانٍ عَلَیۡہِ تُرَابٌ فَاَصَابَہٗ وَابِلٌ فَتَرَکَہٗ صَلۡدًا  -- maka perumpamaannya seperti misal  batu licin  yang di atasnya ada   tanah, lalu hujan lebat menimpanya dan meninggalkannya keras dan licin. لَا  یَقۡدِرُوۡنَ عَلٰی شَیۡءٍ مِّمَّا کَسَبُوۡا ؕ وَ اللّٰہُ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الۡکٰفِرِیۡنَ --  Mereka tidak akan memperoleh sesuatu dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang  kafir  (Al-Baqarah [2]:265).

Perumpamaan “Sarang Laba-laba

       Perumpamaan tersebut selaras dengan perumpamaan mengenai keadaan orang-orang musyrik  yang amal perbuatannya tidak memberikan manfaat  kepada mereka  -- sekali pun mereka untuk sementara waktu memperoleh kesuksesan duniawi -- sebagaimana kaum-kaum purbakala yang dibinasakan Allah Swt. karena mereka mendustakan dan  menentang para rasul Allah yang diutus kepada mereka --  firman-Nya:
مَثَلُ الَّذِیۡنَ اتَّخَذُوۡا مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ اَوۡلِیَآءَ کَمَثَلِ الۡعَنۡکَبُوۡتِ ۖۚ اِتَّخَذَتۡ بَیۡتًا ؕ وَ اِنَّ  اَوۡہَنَ الۡبُیُوۡتِ لَبَیۡتُ الۡعَنۡکَبُوۡتِ ۘ  لَوۡ  کَانُوۡا  یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾   اِنَّ اللّٰہَ یَعۡلَمُ مَا یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ مِنۡ شَیۡءٍ ؕ وَ  ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾  وَ تِلۡکَ الۡاَمۡثَالُ نَضۡرِبُہَا لِلنَّاسِ ۚ وَ مَا یَعۡقِلُہَاۤ  اِلَّا  الۡعٰلِمُوۡنَ ﴿﴾  خَلَقَ اللّٰہُ  السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ بِالۡحَقِّ ؕ اِنَّ  فِیۡ  ذٰلِکَ لَاٰیَۃً   لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿٪﴾
Perumpamaan orang-orang yang mengambil  penolong-penolong selain Allah adalah seperti perumpamaan laba-laba yang membuat rumah, dan sesungguhnya selemah-lemah  rumah pasti rumah laba-laba, seandainya mereka itu mengetahui.  Sesungguhnya Allah mengetahui  sesuatu apa pun yang mereka seru selain-Nya, dan Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana.  Dan itulah perumpamaan-perumpamaan yang Kami kemukakan bagi manusia, dan sekali-kali  tidak  ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu. خَلَقَ اللّٰہُ  السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ بِالۡحَقِّ ؕ اِنَّ  فِیۡ  ذٰلِکَ لَاٰیَۃً   لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ  --  Allah menciptakan seluruh langit dan bumi sesuai dengan haq,  sesungguhnya dalam yang demikian itu adalah Tanda bagi  orang-orang yang beriman.  (Al-Ankabūt [29]:42-45).
      Masalah ke-Esa-an Tuhan yang menjadi pembahasan terutama Surah ini disudahi dalam  ayat ini dengan sebuah tamsil (perumpamaan) yang indah sekali, dan menjelaskan kepada kaum musyrik ketololan, kesia-siaan, dan kepalsuan kepercayaan-kepercayaan dan  kebiasaan-kebiasaan syirik mereka. Mereka itu rapuh bagaikan sarang laba-laba dan tidak dapat bertahan terhadap kecaman akal sehat.
         Demikian pula dalam kenyataannya akhir kehidupan mereka pun sama  sia-sianya seperti perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya  bukan semata-mata mencari keridhaan dan pengampunan Allah Swt.  melainkan dengan tujuan-tujuan duniawi (Al-Baqarah [2]:265).
   Ungkapan bilhaqqi  dalam ayat: خَلَقَ اللّٰہُ  السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ بِالۡحَقِّ    -- “Allah menciptakan seluruh langit dan bumi sesuai dengan haq, ؕ اِنَّ  فِیۡ  ذٰلِکَ لَاٰیَۃً   لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ   --  sesungguhnya dalam yang demikian itu adalah Tanda bagi  orang-orang yang beriman” berarti, bahwa  dalam penciptaan seluruh langit dan bumi ada bukti yang jelas tentang rencana dan maksud, yang memuaskan alam pikiran,   dan bahwa suatu rencana yang mendalam lagi lengkap bekerja di dalam segala benda langit dan bumi (QS.3:191-195).

Hubungan Iman dan Amal Shaleh Dengan  Kebun-kebun yang di Bawahnya Mengalir Sungai-sungai

     Jadi, demikian sempurna berbagai  petunjuk dan falsafah serta hikmah  mendalam yang terkandung dalam Kitab suci Al-Quran.  Itulah sebabnya Allah Swt. telah menggambarkan   surga  dengan perumpamaan “kebun-kebun yang dibawahnya mengalir sungai-sungai”,  firman-Nya:
وَ بَشِّرِ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ؕ  کُلَّمَا رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا ۙ قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ ۙ وَ اُتُوۡا بِہٖ مُتَشَابِہًا ؕ وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ ٭ۙ وَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan berilah kabar gembira  orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa sesungguhnya untuk mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Setiap kali diberikan kepada mereka buah-buahan dari kebun itu sebagai rezeki, mereka berkata: “Inilah yang telah direzekikan kepada kami sebelumnya”, akan diberikan kepada mereka yang serupa dengannya, dan bagi mereka di dalamnya ada  jodoh-jodoh yang suci,  dan mereka akan kekal di dalamnya. (Al-Baqarah [2]:26).
      Ayat ini memberikan gambaran singkat atau perumpamaan mengenai ganjaran yang akan diperoleh orang-orang beriman di akhirat. Para kritikus Islam telah melancarkan berbagai keberatan atas lukisan (gambaran) itu. Kecaman-kecaman itu disebabkan oleh karena sama sekali, tidak memahami ajaran Islam tentang nikmat-nikmat surgawi.
    Al-Quran dengan tegas mengemukakan bahwa ada di luar kemampuan alam pikiran manusia untuk dapat mengenal hakikatnya (QS.32:18). Nabi Besar Muhammad saw.  diriwayatkan pernah bersabda: “Tidak ada mata telah melihatnya, tidak ada pula telinga telah mendengarnya, dan tidak pula pikiran manusia dapat mengirakannya” (Bukhari), firman-Nya:
فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٌ مَّاۤ  اُخۡفِیَ لَہُمۡ مِّنۡ قُرَّۃِ اَعۡیُنٍ ۚ جَزَآءًۢ  بِمَا  کَانُوۡا  یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾  اَفَمَنۡ کَانَ مُؤۡمِنًا کَمَنۡ کَانَ فَاسِقًا ؕؔ لَا  یَسۡتَوٗنَ﴿﴾؃   اَمَّا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَلَہُمۡ جَنّٰتُ الۡمَاۡوٰی ۫ نُزُلًۢا بِمَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Maka tidak ada sesuatu jiwa mengetahui apa yang tersembunyi bagi mereka dari penyejuk mata sebagai  balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.  Maka apakah seorang yang beriman   sama seperti orang fasik? Mereka tidak sama.   Adapun  orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka bagi mereka ada surga-surga tempat tinggal, sebagai jamuan untuk apa yang telah mereka kerjakan. (As-Sajdah [32]:18-20).
      Al-Quran dan Hadits itu menunjukkan bahwa nikmat kehidupan ukhrawi tidak akan bersifat kebendaan seperti di dunia ini. Nikmat-nikmat itu akan merupakan penjelmaan-keruhanian dari perbuatan dan tingkah-laku baik (amal shaleh) yang telah dikerjakan orang-orang bertakwa di alam dunia ini.
     Kata-kata yang dipergunakan untuk menggambarkan nikmat-nikmat surgawi   dalam Al-Quran telah dipakai hanya dalam arti kiasan. Ayat yang sekarang pun dapat berarti bahwa karunia dan nikmat Ilahi yang akan dilimpahkan kepada orang-orang beriman  yang bertakwa di alam akhirat bahkan jauh lebih baik dan jauh lebih berlimpah-limpah dari yang dikhayalkan atau dibayangkan. Nikmat-nikmat surgawi itu akan berada jauh di luar batas jangkauan daya cipta manusia.
      Dengan sendirinya timbul pertanyaan:  Mengapa nikmat-nikmat surga diberi nama yang biasa dipakai untuk benda-benda di bumi ini? Hal demikian adalah karena seruan Al-Quran itu tidak hanya semata-mata tertuju kepada orang-orang yang maju dalam bidang ilmu, oleh karena itu Al-Quran mempergunakan kata-kata sederhana yang dapat dipahami semua orang.
     Dalam menggambarkan karunia Ilahi, Al-Quran telah mempergunakan nama benda yang pada umumnya dipandang baik di bumi ini,  dan orang-orang beriman diajari bahwa mereka akan mendapat hal-hal itu semuanya dalam bentuk yang lebih baik di alam yang akan datang (akhirat).
      Untuk menjelaskan perbedaan penting itulah maka dalam kiasan (perumpamaan) tersebut dipakai  kata-kata yang telah dikenal, selain itu tidak ada persamaan antara kesenangan duniawi dengan karunia-karunia ukhrawi. Tambahan pula menurut ajaran Islam (Al-Quran),  kehidupan di akhirat itu tidak ruhaniah dalam artian bahwa hanya akan terdiri atas keadaan ruhani, bahkan dalam kehidupan di akhirat pun ruh manusia akan mempunyai semacam tubuh tetapi tubuh itu tidak bersifat benda seperti tubuh jasmani di dunia ini.

(Bersambung)
ooo

Rujukan: The Holy Quran
Editor    : Malik Ghulam Farid


Pajajaran Anyar,   12 Juli 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar