Bismillāhirrahmānirrahīm
KHAZANAH AL-QURAN
Bab
9
KESEPAKATAN
DALAM “PIAGAM MADINAH” & KOMENTAR
PENULIS NON-MUSLIM MENGENAI KESURI-TELADANAN SEMPURNA NABI BESAR MUHAMMAD SAW. DALAM SEMUA
SEGI KEHIDUPAN
Oleh
Ki
Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir bab sebelumnya
telah dikemukakan topic: Sikap Ksatria
Para Sahabat Nabi Besar Muhammad Saw.
Dalam Perang Khandak sehubungan
dengan firman Allah Swt. mengenai sikap
pengecut orang-orang munafik Madinah, firman-Nya:
یَحۡسَبُوۡنَ الۡاَحۡزَابَ لَمۡ
یَذۡہَبُوۡا ۚ وَ اِنۡ یَّاۡتِ الۡاَحۡزَابُ یَوَدُّوۡا لَوۡ اَنَّہُمۡ
بَادُوۡنَ فِی الۡاَعۡرَابِ یَسۡاَلُوۡنَ عَنۡ اَنۡۢبَآئِکُمۡ ؕ وَ لَوۡ کَانُوۡا
فِیۡکُمۡ مَّا قٰتَلُوۡۤا اِلَّا قَلِیۡلًا ﴿٪﴾
Mereka menyangka lasykar-lasykar persekutuan itu
belum pergi, dan andaikata
lasykar-lasykar persekutuan itu datang lagi, mereka menghendaki berada di antara orang-orang Arab padang pasir, dan menanyakan berita mengenai kamu. Dan seandainya mereka berada di antara kamu,
mereka sama sekali tidak akan ikut berperang.
(Al-Ahzāb [33]:21).
Dengan ayat ke-13 gambaran tentang alam pikiran
orang-orang munafik, pada khususnya ketika mereka berhadapan dengan bahaya telah mulai dijelaskan, firman-Nya:
وَ اِذۡ
یَقُوۡلُ الۡمُنٰفِقُوۡنَ وَ الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ مَّا وَعَدَنَا
اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗۤ اِلَّا غُرُوۡرًا ﴿﴾
Dan ingatlah ketika orang-orang
munafik dan mereka yang di dalam
hatinya ada penyakit berkata: “Allah
dan Rasul-Nya sekali-kali tidak
menjanjikan kepada kami kecuali menipu,”
(Al-Ahzāb
[33]:13).
Gambaran itu telah menjadi lengkap dengan
ayat ini (QS.33:21). Orang-orang munafik
itu pengecut dan mudah putus-asa. Mereka pembohong dan tidak mempunyai rasa
hormat terhadap kekhidmatan janji
(perjanjian) yang diucapkan mereka. Mereka khianat,
tidak setia, dan bermuka-dua. Mereka bakhil
(kikir) dan tamak.
Pendek kata, keadaan orang-orang munafik benar-benar bertolak belakang dengan orang-orang
beriman sejati dalam watak mereka,
sebagaimana digambarkan dalam firman-Nya berikut ini:
وَ لَمَّا
رَاَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ الۡاَحۡزَابَ ۙ
قَالُوۡا ہٰذَا مَا وَعَدَنَا اللّٰہُ وَ
رَسُوۡلُہٗ وَ صَدَقَ اللّٰہُ وَ
رَسُوۡلُہٗ ۫ وَ مَا زَادَہُمۡ اِلَّاۤ
اِیۡمَانًا وَّ تَسۡلِیۡمًا ﴿ؕ﴾ مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ رِجَالٌ
صَدَقُوۡا مَا عَاہَدُوا اللّٰہَ عَلَیۡہِ ۚ فَمِنۡہُمۡ مَّنۡ قَضٰی نَحۡبَہٗ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّنۡتَظِرُ ۫ۖ وَ مَا
بَدَّلُوۡا تَبۡدِیۡلًا ﴿ۙ﴾ لِّیَجۡزِیَ اللّٰہُ
الصّٰدِقِیۡنَ بِصِدۡقِہِمۡ وَ یُعَذِّبَ الۡمُنٰفِقِیۡنَ اِنۡ شَآءَ
اَوۡ یَتُوۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ کَانَ غَفُوۡرًا رَّحِیۡمًا ﴿ۚ﴾ وَ رَدَّ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا
بِغَیۡظِہِمۡ لَمۡ یَنَالُوۡا خَیۡرًا ؕ
وَ کَفَی اللّٰہُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ
الۡقِتَالَ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ قَوِیًّا عَزِیۡزًا ﴿ۚ﴾
Dan ketika orang-orang beriman melihat lasykar-lasykar persekutuan mereka berkata: “Inilah yang telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami, dan Allah
serta Rasul-Nya telah mengatakan yang benar.” وَ مَا زَادَہُمۡ اِلَّاۤ اِیۡمَانًا وَّ
تَسۡلِیۡمًا -- Dan hal
itu tidak menambah kepada mereka kecuali keimanan dan kepatuhan. مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ رِجَالٌ صَدَقُوۡا مَا
عَاہَدُوا اللّٰہَ عَلَیۡہِ -- Di
antara orang-orang yang beriman
ada orang-orang
yang telah menggenapi apa yang
dijanjikannya kepada Allah, فَمِنۡہُمۡ مَّنۡ قَضٰی
نَحۡبَہٗ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّنۡتَظِرُ
۫ۖ وَ مَا بَدَّلُوۡا تَبۡدِیۡلًا -- maka dari antara mereka ada yang telah
menyempurnakan sumpahnya, yakni mati syahid, dan di
antara mereka ada yang masih menunggu, dan mereka sekali-kali tidak mengubah sedikit pun. لِّیَجۡزِیَ اللّٰہُ الصّٰدِقِیۡنَ بِصِدۡقِہِمۡ وَ یُعَذِّبَ
الۡمُنٰفِقِیۡنَ اِنۡ شَآءَ اَوۡ یَتُوۡبَ عَلَیۡہِمۡ -- Supaya Allah mengganjar orang-orang yang benar itu atas kebenaran mereka, dan mengazab orang-orang munafik jika Dia menghendaki, atau menerima taubat mereka. اِنَّ اللّٰہَ کَانَ غَفُوۡرًا رَّحِیۡمًا -- Sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun, Maha
Penyayang. وَ رَدَّ
اللّٰہُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا بِغَیۡظِہِمۡ
لَمۡ یَنَالُوۡا خَیۡرًا ؕ -- Dan Allah
telah mengembalikan orang-orang kafir dalam kemarahan mereka, mereka tidak
memperoleh kebaikan apa pun. وَ کَفَی اللّٰہُ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ الۡقِتَالَ ؕ وَ کَانَ
اللّٰہُ قَوِیًّا عَزِیۡزًا -- Dan Allah mencukupi orang-orang beriman dalam
perang itu. Dan Allah Maha Kuat, Maha
Perkasa. (Al-Ahzāb [22]:23-26).
Isyarat ayat: قَالُوۡا ہٰذَا مَا وَعَدَنَا اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗ
وَ صَدَقَ اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہ -- Mereka berkata: “Inilah
yang telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya
kepada kami, dan Allah
serta Rasul-Nya telah mengatakan yang benar” maksud “yang
telah dijanjikan” ditujukan kepada kabar gaib tentang kekalahan lasykar kafir dan kemenangan
Islam (QS.38:12 dan QS.54:46).
Ayat selanjutnya:
وَ مَا زَادَہُمۡ اِلَّاۤ اِیۡمَانًا وَّ
تَسۡلِیۡمًا -- “Dan hal
itu tidak menambah kepada mereka kecuali keimanan dan kepatuhan” merupakan kenang-kenangan
besar terhadap kesetiaan, keikhlasan dan kegigihan dalam iman para
pengikut sejati Nabi Besar Muhammad
saw..
Demikianlah gambaran para syuhada (syahid-syahid) hakiki yang contohkan oleh para pengikut hakiki Nabi Besar Muhammad saw. yang sama sekali berbeda
dengan para pencari “bidadari surgawi”
dengan cara-cara yang tidak diajarkan
Allah Swt. dalam oleh Al-Quran
dan Nabi Besar Muhammad saw..
Kaum Kafir Quraisy Pulang Ke Mekkah Membawa Kegagalan Total
Tidak
pernah para pengikut nabi Allah yang mana jua pun -- termasuk para pengikut Nabi
Musa a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. (QS.5:21-27 & 112-116 5:) -- menerima dari
Allah Swt. “surat keterangan bukti kelakukan baik dan kesetiaan” seperti terhadap
para sahabat Nabi Besar Muhammad saw. seperti itu.
Para sahabat
Nabi Besar Muhammad saw. tersebut, seperti halnya wujud junjungan mereka
tidak ada tara bandingannya di antara
nabi-nabi Allah dalam menunaikan tugas beliau saw. sebagai nabi Allah, begitu pula para sahabat beliau saw. tiada bandingannya dalam memenuhi peranan yang diserahkan kepada mereka, sebagai “umat terbaik” yang diciptakan bagi kemanfaatan seluruh umat manusia (QS.2:144; QS.3:111).
Makna ayat selanjutnya: وَ رَدَّ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا بِغَیۡظِہِمۡ لَمۡ یَنَالُوۡا خَیۡرًا ؕ -- Dan Allah telah mengembalikan orang-orang kafir
dalam kemarahan mereka, mereka tidak memperoleh kebaikan apa pun. وَ کَفَی اللّٰہُ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ الۡقِتَالَ ؕ وَ کَانَ
اللّٰہُ قَوِیًّا عَزِیۡزًا -- Dan Allah mencukupi orang-orang beriman dalam
perang itu. Dan Allah Maha Kuat, Maha
Perkasa”. Menurut ayat tersebut Allah Swt. menangkis
serangan-serangan lasykar persekutuan
orang-orang Arab. Mereka terpaksa membatalkan
pengepungan dan, dengan hati kesal
dan marah atas kegagalan mutlak dalam usaha mereka yang rendah dan buruk
itu, mereka pulang ke rumah mereka dan tidak pernah mempunyai kemampuan lagi menyerang Medinah.
Sejak kekalahan
orang-orang kafir Quraisy Mekkah
dalam perang Ahzab tersebut inisiatip
beralih ke tangan orang-orang Islam.
Pertempuran Khandak menandai titik-balik dalam sejarah Islam. Dari suatu golongan
yang tadinya sangat kecil lagi lemah
-- serta terus menerus diganggu
dan dianiaya -- Islam telah menjadi suatu kekuatan raksasa di tanah Arab,
sebagaimana firman Allah Swt. sehubungan
dengan Thalut (Gideon) dan pasukan kecilnya ketika menghadapi Jalut dan balatentaranya,
firman-Nya:
قَالَ الَّذِیۡنَ یَظُنُّوۡنَ اَنَّہُمۡ مُّلٰقُوا اللّٰہِ ۙ کَمۡ
مِّنۡ فِئَۃٍ قَلِیۡلَۃٍ غَلَبَتۡ فِئَۃً
کَثِیۡرَۃًۢ بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ وَ
اللّٰہُ مَعَ الصّٰبِرِیۡنَ
Tetapi orang-orang
yang meyakini bahwa sesungguhnya
mereka akan menemui Allah berkata:
“Berapa banyak golongan yang sedikit telah mengalahkan
golongan yang banyak dengan izin
Allah, dan Allah beserta orang-orang
yang sabar” (Al-Baqarah [2]:250).
Piagam Madinah
Berikut adalah “Piagam Madinah” yang merupakan perjanjian
antara Nabi Besar Muhammad saw. dan umat Islam di satu pihak, dengan
pihak-pihak lain yaitu penduduk asli
Madinah dan orang-orang Yahudi Madinah. Berikut adalah point-point “Piagama Madinah”
A. Point-poin Yang Berkait
Dengan Kaum Muslimin
1.
Kaum
Mukminin yang berasal dari Quraisy dan Yastrib (Madinah) serta yang bergabung
dan berjuang bersama mereka adalah satu
umat, yang lain tidak.
2.
Kaum
Mukminin yang berasal dari Muhajirin yang memiliki hubungan dengan Bani Sa’idah,
Bani A’uf, Bani Harits, Bani Jusyam, Bani Najjar, Bani Amin bin ‘Auf, Bani
An-Nabit, dan Al-Aus, tetap boleh berada
dalam kebiasaan yang sudah ada pada masa jahiliyah mereka, yaitu tolong menolong
dalam membayat diyat (tebusan) di antara mereka dan mereka membayar tebusan
tawanan dengan cara baik dan adil di antara Mukminin.
3.
Sesungguhnya
kaum Mukminin tidak boleh membiarkan orang yang menanggung beban berat karena
memiliki keluarga besar atau utang di antara mereka, mereka harus membantunya
dengan baik dalam pembayaran tebusan atau diyat.
4.
Orang Mukmin
yang bertakwa harus menentang orang yang berbuat zalim di antara mereka. Kekuatan mereka bersatu-padu dalam
menentang yang zalim, meski pun orang yang zalim itu anak dari slah seorang di
antara mereka.
5.
Jaminan
Allah itu satu. Allah akan memberikan jaminan sekali pun kepada kaum Muslimin
yang paling rendah derajatnya di antara masyarakat. Sesungguhnya Mukminin itu
saling membantu di antara mereka, tidak dengan yang lain.
6.
Sesungguhnya
orang-orang Yahudi yang mentaati orang-orang Muminnin berhak mendapat bantuan
dan santunan selama kaum Yahudi tersebut tidak menzaliki kaum Muslim dan tidak
bergabung dengan musuh dalam memerangi kaum Muslimin.
B. Poin-point yang Berkait Dengan Kaum Musyrik
1.
kaum Musyrik
Yastrib tidak boleh melindungi harta dan jiwa kaum kafir Quraisy dan tidak
boleh menghalangi kaum Muslimin darinya.
C. Poin-poin yang Berkait Dengan kaum Yahudi
1.
Kaum Yahudi
memikul biaya bersama Mukminin selama peperangan.
2.
Kaum Yahudi
dari Bani ‘Ausf adalah satu umat dengan Mukminin. Kaum Yahudi berhak untuk
menjalankan ibadah agama, budak-budak dan jiwa-jiwa mereka. Ketentuan ini juga
berlaku bagi kaum Yahudi yang lain yang berasal dari Bani Najjar, Bani Harits,
Bani Sa’idah, Bani Jusyam, Bani Al-Aus dan Bani Tsalabah, yang merupakan
kerabat kaum Yahudi yang tinggal di luar kota Yastrib.
3.
Tidak ada
seorang Yahudi pun yang dibenarkan ikuit berperang, kecuali atas izin Nabi
Muhammad saw.
4.
Kaum Yahudi
berkewajiban menanggung biaya perang kaum Muslimin, dan kaum Musliin pun
berkewajiban menanggung biaya perang kaum Yahudi.
5.
Kaum
Muslimin dan Yahudi harus saling membantu dalam menghadapi orang-orang yang
memusuhi pendukung Piagam ini, saling
memberi nasihat serta membela pihak yang duzalimi.
D. Poin-point yang Berkait Dengan Ketentuan Umum
1. Sesungguhnya
Yastrib itu tanahnya suci bagi pendukung
Piagam ini. Dan sesungguhnya orang yang mendapat jaminan [diperlakukan] seperti diri penjamin, sepanjang tidak melakukan sesuatu yang membahayakan dan
tidak khianat. Jaminan tidak boleh diberikan kecuali dengan seizin pendukung
Piagam ini.
2. Jika terjadi
suatu peristiwa atau perselisihan di antara pendukung
Piagam ini yang dikhawatirkan
menimbulkan bahaya maka penyelesaiannya menurut Allah dan Nabi Nya, Muhammad Saw..
3. Kaum kafir
Qursiy dan juga pendukung mereka tidak boleh diberi jaminan keselamatan dan keamanan.
4. Para pendukung Piagam harus saling membantu dalam menghadapi musuh yang
menentang kota Yastrib.
5.
Orang
yang keluar (bepergian) aman, orang yang
berada di Yastrib juga aman, kecuali mereka-mereka yang berbuat zalaim dan khianat.
Allah beserta Nabi-Nya adalah penjamin
bagi orang yang baik dan bertakwa.
Berbagai Kesaksian Terhadap Kesuri-teladanan Sempurna Nabi Besar Muhammad Saw.
Kembali kepada firman Allah Swt. sebelumnya
mengenai kesuri-teladanan terbaik Nabi
Besar Muhammad saw., firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ
لَکُمۡ فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ الۡیَوۡمَ الۡاٰخِرَ
وَ ذَکَرَ اللّٰہَ کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Sungguh dalam
diri Rasulullah benar-benar terdapat
suri teladan yang sebaik-baiknya bagi kamu, yaitu bagi orang yang mengharapkan
Allah dan Hari Akhir, dan bagi yang banyak mengingat Allah.
(Al-Ahzāb [33]:22).
Jadi, pertempuran
Khandak atau perang Ahzab mungkin
merupakan ujian paling pahit di dalam seluruh jenjang kehidupan Nabi Besar Muhammad saw tetapi
beliau saw. keluar dari ujian yang paling berat itu dengan
keadaan akhlak dan wibawa yang lebih tinggi lagi.
Sesungguhnyalah pada saat yang sangat berbahayalah, yakni ketika di sekitar gelap-gelita, atau dalam waktu mengenyam sukses dan kemenangan, yakni ketika musuh bertekuk lutut di hadapannya, watak dan perangai yang sesungguhnya seseorang diuji; dan sejarah
memberi kesaksian yang jelas kepada kenyataan bahwa Nabi Besar Muhammad saw. -- baik
dalam keadaan dukacita karena
dirundung kesengsaraan dan pada saat sukacita karena meraih kemenangan — beliau saw. tetap
menunjukkan kepribadian agung lagi mulia.
Pertempuran Khandak, Uhud, dan Hunain menjelaskan dengan
seterang-seterangnya satu watak Nabi
Besar Muhammad saw. yang indah, dan Fatah Mekkah (Kemenangan atas Mekkah)
memperlihatkan watak beliau saw.lainnya.
Mara bahaya tidak mengurangi semangat Nabi Besar Muhammad saw. atau mengecutkan hati beliau saw., begitu
pula kemenangan dan sukses tidak merusak watak beliau saw..
Ketika Nabi Besar Muhammad saw. ditinggalkan hampir seorang diri pada hari Pertempuran Hunain -- setelah persitiwa Fatah Mekkah -- sedang nasib
Islam berada di antara hidup dan mati, beliau saw. tanpa gentar sedikit pun dan seorang diri belaka -- karena para gerakan pasukan sahabat a.s. dikacau-balaukan
oleh dipukul-mundurnya
orang-orang yang baru menggabungkan diri ke dalam Islam oleh pasukan lawan (QS.9:25-27) -- tetapi Nabi Besar Muhammad saw. maju ke tengah barisan musuh seraya berseru dengan kata-kata yang patut dikenang selama-lamanya: “Aku nabi
Allah dan aku tidak berkata dusta. Aku anak Abdul Muthalib!”
Demikian pula tatkala Mekkah
jatuh dan seluruh tanah Arab bertekuk
lutut maka kekuasaan yang mutlak
dan tak tersaingi itu tidak kuasa merusak Nabi Besar Muhammad saw. Beliau saw. menunjukkan keluhuran budi yang tiada taranya terhadap musuh-musuh beliau saw. -- jauh lebih sempurna daripada pengampunan
Nabi Yusuf a.s. terhadap saudara-saudara
beliau seayah yang telah berbuat zalim terhadap beliau sebelum
menjadi seorang pejabat tinggi di
kerajaan Mesir (QS.12:89-93).
Komentar Penulis Non-Muslim Bosworth Smith
Kesaksian
lebih besar mana lagi yang mungkin ada terhadap keagungan watak Nabi Besar Muhammad saw.. Beliau selain kenyataan bahwa pribadi-pribadi yang paling akrab
dengan beliau saw. dan yang paling mengenal
beliau saw., mereka itulah yang paling
mencintai beliau saw. dan merupakan yang pertama-tama percaya (beriman) akan misi beliau, yakni, istri
beliau yang tercinta, Sitti Khadijah r.a.; sahabat beliau sepanjang hayat, Abu
Bakar r.a.; saudara sepupu yang juga menantu beliau, Ali bin Abi Thalib r,a,;
dan bekas budak beliau saw. yang telah dimerdekakan, Zaid bin Harissah
r.a.. Nabi Besar Muhammad saw. merupakan contoh kemanusiaan yang paling
mulia dan model yang paling sempurna dalam keindahan
dan kebajikan.
Dalam segala segi kehidupan dan watak Nabi
Besar Muhammad saw. yang beraneka ragam, tidak ada duanya dan
merupakan contoh yang tiada
bandingannya bagi umat manusia untuk ditiru
dan diikuti. Seluruh kehidupan beliau
saw. nampak dengan jelas dan nyata dalam cahaya lampu-sorot
sejarah.
Nabi Besar Muhammad saw. mengawali kehidupan beliau saw. sebagai anak yatim dan mengakhirinya dengan berperan sebagai wasit yang menentukan nasib
seluruh bangsa. Sebagai kanak-kanak
beliau saw. penyabar lagi gagah, dan di ambang pintu usia remaja, beliau saw. tetap merupakan contoh yang sempurna dalam akhlak,
ketakwaan, dan kesabaran. Pada usia
setengah-baya beliau mendapat julukan Al-Amīn (si Jujur dan setia
kepada amanat) dan selaku seorang niagawan
beliau saw. terbukti paling jujur dan
cermat.
Nabi Besar Muhammad saw. menikah
dengan perempuan-perempuan yang di antaranya ada yang jauh lebih tua daripada beliau saw. sendiri dan ada juga yang jauh lebih muda, namun semua bersedia memberi kesaksian dengan mengangkat sumpah mengenai kesetiaan, kecintaan, dan kekudusan
beliau saw..
Sebagai ayah
Nabi Besar Muhammad saw. penuh dengan kasih-sayang, dan sebagai sahabat beliau saw. sangat setia dan murah hati. Ketika beliau saw. diamanati
tugas yang amat besar dan berat dalam usaha memperbaiki suatu masyarakat yang sudah rusak (QS.33:73-74; QS.62:3), Nabi Besar Muhammad saw. Beliau menjadi
sasaran derita aniaya dan pembuangan, namun beliau saw. memikul semua penderitaan itu dengan sikap agung dan budi luhur.
Nabi Besar Muhammad saw. bertempur
sebagai prajurit gagah-berani dan memimpin pasukan-pasukan. Beliau saw. menghadapi kekalahan
– misalnya dalam perang Uhud -- dan beliau saw. memperoleh kemenangan-kemenangan. Beliau menghakimi dan mengambil serta menjatuhkan keputusan dalam berbagai perkara. Nabi Besar Muhammad saw. adalah seorang negarawan, seorang pendidik,
dan seorang pemimpin.
Sehubungan
dengan kenyataan tersebut seorang non-Muslim -- Bosworth Smith -- dalam bukunya “Muhammad
and Muhammadanism” menulis:
“Kepala negara merangkap Penghulu Agama,
beliau adalah Kaisar dan Paus sekaligus. Tetapi beliau adalah Paus yang tidak
berlaga Paus, dan Kaisar tanpa pasukan-pasukan yang megah. Tanpa balatentara
tetap, tanpa pengawal, tanpa istana yang megah, tanpa pungutan pajak tetap dan
tertentu, sehingga jika ada orang berhak mengatakan bahwa ia memerintah dengan
hak ketuhanan, maka orang itu hanyalah Muhammad, sebab beliau mempunyai
kekuasaan tanpa alat-alat kekuasaan dan tanpa bantuan kekuasaan. Beliau biasa
melakukan pekerjaan rumah tangga dengan tangan beliau sendiri, biasa tidur di
atas sehelai tikar kulit, dan makanan beliau terdiri dari kurma dan air putih
atau roti jawawut, dan setelah melakukan bermacam-macam tugas sehari penuh,
beliau biasa melewatkan malam hari dengan mendirikan shalat dan doa-doa hingga
kedua belah kaki beliau bengkak-bengkak. Tidak ada orang yang dalam keadaan dan
suasana yang begitu banyak berubah telah berubah begitu sedikitnya.”
Nabi Besar Muhammad saw. Sebagai Saksi Para Saksi
Semua kenyataan tersebut membenarkan
pernyataan Allah Swt. sebelum ini
mengenai kesuri-teladanan sempurna Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ
لَکُمۡ فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ
الۡیَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَ ذَکَرَ
اللّٰہَ کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Sungguh dalam
diri Rasulullah benar-benar terdapat
suri teladan yang sebaik-baiknya bagi kamu, yaitu bagi orang yang mengharapkan Allah
dan Hari Akhir, dan bagi yang banyak mengingat Allah.
(Al-Ahzāb [33]:22).
Dengan demikian benar
pulalah firman Allah Swt. dalam hadits
qudsi mengenai pengutusan Nabi
Besar Muhammad saw.:
Laulaka,
laulaka mā khalaqtul aflak
dalam riwayat lain redaksinya adalah:
Laulaka,
laulaka mā khalaqtul ‘alam kullaha
Yang artinya: “Kalau bukan karena engkau [Muhammad] Aku tidak akan
menciptakan alam semesta ini.” (Hadits
Qudsi).
Pernyataan Allah Swt. dalam
hadits qudsi tersebut sesuai dengan firman-Nya di awal
artikel ini mengenai pengutusan Nabi Besar Muhammad saw., karena beliau saw. akan menjadi saksi mengenai kebenaran para rasul Allah
yang diutus sebelum beliau saw. kepada setiap kaum (QS.13:7 & 31;
QS.35:25) dan juga sebagai saksi bagi seluruh umat manusia,
firman-Nya:
وَ
یَوۡمَ نَبۡعَثُ فِیۡ کُلِّ اُمَّۃٍ شَہِیۡدًا عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ
جِئۡنَا بِکَ شَہِیۡدًا عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ ؕ وَ نَزَّلۡنَا عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ
تِبۡیَانًا لِّکُلِّ شَیۡءٍ وَّ
ہُدًی وَّ رَحۡمَۃً
وَّ بُشۡرٰی لِلۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah
hari itu ketika Kami akan membangkitkan dalam setiap umat
seorang saksi terhadap mereka
dari antara mereka sendiri, dan Kami akan mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka semuanya. Dan Kami
telah menurunkan kepada engkau
Kitab itu untuk menjelaskan segala
sesuatu dan petunjuk, rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang
yang berserah diri kepada Allah (An-Nahl [16]:90).
Senada dengan ayat
tersebut dalam surah lain Allah Swt.
berfirman tetapi lebih menyinggung
mengenai orang-orang kafir:
فَکَیۡفَ اِذَا جِئۡنَا مِنۡ کُلِّ اُمَّۃٍۭ بِشَہِیۡدٍ وَّ جِئۡنَا بِکَ عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ
شَہِیۡدًا ﴿﴾ یَوۡمَئِذٍ یَّوَدُّ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا وَ عَصَوُا الرَّسُوۡلَ
لَوۡ تُسَوّٰی بِہِمُ الۡاَرۡضُ ؕ وَ لَا یَکۡتُمُوۡنَ اللّٰہَ حَدِیۡثًا ﴿٪﴾
Maka bagaimana keadaan mereka apabila Kami mendatangkan seorang saksi
dari setiap umat, dan Kami
mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka ini semua-nya? Pada hari
itu orang-orang kafir dan yang
mendurhakai Rasul, mereka menginginkan seandainya bumi disamaratakan dengan mereka, dan mereka tidak akan dapat menyembunyikan
sesuatu apa pun dari Allah.
(An-Nisā
[4]:42-43).
(Bersambung)
ooo
Rujukan: The
Holy Quran
Editor : Malik
Ghulam Farid
Pajajaran Anyar,
21 Juli 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar