Jumat, 21 Juli 2017

Kesepakatan Dalam "Piagam Madinah" Komentar "Penulis Non-Muslim" Mengenai "Kesuriteladanan" Sempurna Nabi Besar Muhammad Saw. Dalam Semua Segi Kehidupan



Bismillāhirrahmānirrahīm


KHAZANAH  AL-QURAN 


Bab 9


KESEPAKATAN DALAM  “PIAGAM MADINAH”    & KOMENTAR PENULIS NON-MUSLIM MENGENAI KESURI-TELADANAN SEMPURNA NABI BESAR MUHAMMAD SAW. DALAM SEMUA SEGI KEHIDUPAN 
      

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir bab sebelumnya  telah dikemukakan  topic:   Sikap Ksatria Para Sahabat Nabi Besar Muhammad Saw. Dalam Perang Khandak sehubungan dengan firman Allah Swt.   mengenai sikap pengecut orang-orang munafik Madinah, firman-Nya:
  یَحۡسَبُوۡنَ الۡاَحۡزَابَ لَمۡ  یَذۡہَبُوۡا ۚ وَ اِنۡ یَّاۡتِ الۡاَحۡزَابُ یَوَدُّوۡا لَوۡ اَنَّہُمۡ بَادُوۡنَ فِی الۡاَعۡرَابِ یَسۡاَلُوۡنَ عَنۡ اَنۡۢبَآئِکُمۡ ؕ وَ لَوۡ کَانُوۡا فِیۡکُمۡ مَّا قٰتَلُوۡۤا   اِلَّا  قَلِیۡلًا ﴿٪﴾   
Mereka menyangka lasykar-lasykar persekutuan itu belum pergi, dan andaikata lasykar-lasykar persekutuan itu datang lagi, mereka menghendaki berada di antara orang-orang  Arab padang pasir, dan menanyakan berita mengenai kamu. Dan seandainya mereka berada di antara kamu, mereka sama sekali tidak akan ikut berperang. (Al-Ahzāb [33]:21).
   Dengan ayat ke-13 gambaran tentang alam pikiran orang-orang munafik, pada khususnya ketika mereka berhadapan dengan bahaya  telah mulai  dijelaskan, firman-Nya:
وَ اِذۡ یَقُوۡلُ الۡمُنٰفِقُوۡنَ وَ الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ مَّا وَعَدَنَا اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗۤ   اِلَّا  غُرُوۡرًا ﴿﴾
Dan ingatlah ketika orang-orang munafik dan mereka yang di dalam hatinya ada penyakit berkata: “Allah dan Rasul-Nya sekali-kali tidak menjanjikan kepada kami kecuali menipu,” (Al-Ahzāb [33]:13).
  Gambaran itu telah menjadi lengkap dengan ayat ini (QS.33:21). Orang-orang munafik itu pengecut dan mudah putus-asa. Mereka pembohong dan tidak mempunyai rasa hormat terhadap kekhidmatan janji (perjanjian) yang diucapkan mereka. Mereka khianat, tidak setia, dan bermuka-dua. Mereka bakhil (kikir) dan tamak.
    Pendek kata, keadaan  orang-orang munafik  benar-benar bertolak belakang dengan orang-orang beriman sejati dalam watak mereka, sebagaimana digambarkan dalam firman-Nya berikut ini:
وَ لَمَّا رَاَ  الۡمُؤۡمِنُوۡنَ الۡاَحۡزَابَ ۙ قَالُوۡا ہٰذَا مَا وَعَدَنَا اللّٰہُ  وَ رَسُوۡلُہٗ  وَ صَدَقَ اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗ ۫ وَ مَا زَادَہُمۡ  اِلَّاۤ اِیۡمَانًا  وَّ  تَسۡلِیۡمًا ﴿ؕ﴾ مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ رِجَالٌ صَدَقُوۡا مَا عَاہَدُوا اللّٰہَ عَلَیۡہِ ۚ فَمِنۡہُمۡ مَّنۡ قَضٰی نَحۡبَہٗ  وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّنۡتَظِرُ ۫ۖ وَ مَا بَدَّلُوۡا تَبۡدِیۡلًا ﴿ۙ﴾ لِّیَجۡزِیَ اللّٰہُ  الصّٰدِقِیۡنَ بِصِدۡقِہِمۡ وَ یُعَذِّبَ الۡمُنٰفِقِیۡنَ  اِنۡ شَآءَ  اَوۡ یَتُوۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ کَانَ غَفُوۡرًا رَّحِیۡمًا ﴿ۚ﴾ وَ رَدَّ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا بِغَیۡظِہِمۡ  لَمۡ یَنَالُوۡا خَیۡرًا ؕ وَ کَفَی اللّٰہُ  الۡمُؤۡمِنِیۡنَ الۡقِتَالَ ؕ وَ کَانَ  اللّٰہُ   قَوِیًّا عَزِیۡزًا ﴿ۚ﴾
Dan ketika orang-orang beriman melihat lasykar-lasykar persekutuan  mereka berkata: “Inilah yang telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami,   dan Allah serta  Rasul-Nya telah mengatakan yang benar.” وَ مَا زَادَہُمۡ  اِلَّاۤ اِیۡمَانًا  وَّ  تَسۡلِیۡمًا  --  Dan hal itu tidak menambah kepada mereka kecuali keimanan dan kepatuhan. مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ رِجَالٌ صَدَقُوۡا مَا عَاہَدُوا اللّٰہَ عَلَیۡہِ  --  Di antara orang-orang yang beriman ada  orang-orang yang  telah menggenapi apa yang dijanjikannya kepada Allah, فَمِنۡہُمۡ مَّنۡ قَضٰی نَحۡبَہٗ  وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّنۡتَظِرُ ۫ۖ وَ مَا بَدَّلُوۡا تَبۡدِیۡلًا  --  maka  dari antara mereka ada yang telah menyempurnakan sumpahnya, yakni mati syahid,  dan di antara mereka ada yang masih menunggu, dan mereka sekali-kali tidak mengubah sedikit pun. لِّیَجۡزِیَ اللّٰہُ  الصّٰدِقِیۡنَ بِصِدۡقِہِمۡ وَ یُعَذِّبَ الۡمُنٰفِقِیۡنَ  اِنۡ شَآءَ  اَوۡ یَتُوۡبَ عَلَیۡہِمۡ   --   Supaya Allah mengganjar orang-orang yang benar itu atas kebenaran mereka, dan mengazab orang-orang munafik jika Dia menghendaki, atau menerima taubat mereka. اِنَّ اللّٰہَ کَانَ غَفُوۡرًا رَّحِیۡمًا  --  Sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun, Maha Penyayang. وَ رَدَّ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا بِغَیۡظِہِمۡ  لَمۡ یَنَالُوۡا خَیۡرًا ؕ     -- Dan Allah telah mengembalikan orang-orang kafir dalam kemarahan mereka,  mereka tidak memperoleh kebaikan apa pun. وَ کَفَی اللّٰہُ  الۡمُؤۡمِنِیۡنَ الۡقِتَالَ ؕ وَ کَانَ  اللّٰہُ   قَوِیًّا عَزِیۡزًا  -- Dan Allah mencukupi orang-orang beriman dalam perang itu. Dan Allah Maha Kuat, Maha Perkasa. (Al-Ahzāb [22]:23-26).
   Isyarat ayat: قَالُوۡا ہٰذَا مَا وَعَدَنَا اللّٰہُ  وَ رَسُوۡلُہٗ  وَ صَدَقَ اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہ  -- Mereka berkata:  “Inilah yang telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami,   dan Allah serta  Rasul-Nya telah mengatakan yang benar”   maksud “yang  telah dijanjikan” ditujukan kepada kabar gaib tentang kekalahan lasykar kafir dan kemenangan Islam (QS.38:12 dan QS.54:46).
  Ayat selanjutnya: وَ مَا زَادَہُمۡ  اِلَّاۤ اِیۡمَانًا  وَّ  تَسۡلِیۡمًا  --  “Dan hal itu tidak menambah kepada mereka kecuali keimanan dan kepatuhan”   merupakan kenang-kenangan besar terhadap kesetiaan, keikhlasan dan kegigihan dalam iman para pengikut sejati Nabi Besar Muhammad saw..
  Demikianlah gambaran para syuhada (syahid-syahid) hakiki yang contohkan oleh para pengikut hakiki Nabi Besar Muhammad saw. yang sama sekali berbeda dengan para pencari “bidadari surgawi” dengan cara-cara yang tidak  diajarkan  Allah Swt. dalam oleh Al-Quran dan Nabi Besar Muhammad saw..

Kaum Kafir Quraisy Pulang Ke Mekkah Membawa Kegagalan Total

    Tidak pernah para pengikut nabi Allah  yang mana jua pun  -- termasuk para pengikut  Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.    (QS.5:21-27 & 112-116 5:) -- menerima dari Allah  Swt. “surat keterangan bukti kelakukan baik dan kesetiaan” seperti  terhadap para sahabat Nabi Besar Muhammad saw. seperti itu.
  Para sahabat Nabi Besar Muhammad saw. tersebut, seperti halnya wujud junjungan mereka tidak ada tara bandingannya di antara nabi-nabi Allah dalam menunaikan tugas beliau saw. sebagai nabi Allah, begitu pula para sahabat beliau saw. tiada bandingannya dalam memenuhi peranan yang diserahkan kepada mereka, sebagai “umat terbaik” yang diciptakan bagi kemanfaatan seluruh umat manusia (QS.2:144; QS.3:111).
      Makna ayat selanjutnya:  وَ رَدَّ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا بِغَیۡظِہِمۡ  لَمۡ یَنَالُوۡا خَیۡرًا ؕ     -- Dan Allah telah mengembalikan orang-orang kafir dalam kemarahan mereka,  mereka tidak memperoleh kebaikan apa pun. وَ کَفَی اللّٰہُ  الۡمُؤۡمِنِیۡنَ الۡقِتَالَ ؕ وَ کَانَ  اللّٰہُ   قَوِیًّا عَزِیۡزًا  -- Dan Allah mencukupi orang-orang beriman dalam perang itu. Dan Allah Maha Kuat, Maha Perkasa”. Menurut ayat tersebut    Allah Swt. menangkis serangan-serangan lasykar persekutuan orang-orang Arab. Mereka terpaksa membatalkan pengepungan dan, dengan hati kesal dan marah atas kegagalan mutlak dalam usaha mereka yang rendah dan buruk itu,  mereka pulang ke rumah mereka dan tidak pernah mempunyai kemampuan lagi menyerang Medinah.
  Sejak kekalahan orang-orang kafir Quraisy Mekkah dalam  perang Ahzab tersebut inisiatip beralih ke tangan orang-orang Islam. Pertempuran Khandak menandai titik-balik dalam sejarah Islam. Dari suatu golongan yang tadinya sangat kecil lagi lemah  -- serta terus menerus diganggu dan dianiaya  --  Islam telah menjadi suatu kekuatan raksasa di tanah Arab, sebagaimana  firman Allah Swt. sehubungan dengan Thalut (Gideon) dan pasukan kecilnya  ketika menghadapi Jalut dan balatentaranya, firman-Nya:
قَالَ الَّذِیۡنَ یَظُنُّوۡنَ اَنَّہُمۡ مُّلٰقُوا اللّٰہِ  ۙ  کَمۡ مِّنۡ فِئَۃٍ قَلِیۡلَۃٍ غَلَبَتۡ فِئَۃً  کَثِیۡرَۃًۢ بِاِذۡنِ  اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ مَعَ  الصّٰبِرِیۡنَ
Tetapi  orang-orang yang meyakini bahwa sesungguhnya mereka akan menemui Allah  berkata: “Berapa banyak golongan yang sedikit  telah mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah, dan Allah beserta orang-orang yang sabar” (Al-Baqarah [2]:250).

Piagam Madinah

     Berikut adalah “Piagam Madinah” yang merupakan perjanjian antara Nabi Besar Muhammad saw. dan umat Islam di satu pihak, dengan pihak-pihak lain yaitu penduduk asli Madinah dan  orang-orang Yahudi Madinah.  Berikut adalah point-point “Piagama Madinah
A. Point-poin Yang Berkait Dengan Kaum Muslimin
1.     Kaum Mukminin yang berasal dari Quraisy dan Yastrib (Madinah) serta yang bergabung dan berjuang  bersama mereka adalah satu umat, yang lain tidak.
2.     Kaum Mukminin yang berasal dari Muhajirin yang memiliki hubungan dengan Bani Sa’idah, Bani A’uf, Bani Harits, Bani Jusyam, Bani Najjar, Bani Amin bin ‘Auf, Bani An-Nabit, dan Al-Aus, tetap boleh  berada dalam kebiasaan yang sudah ada pada masa jahiliyah mereka, yaitu tolong menolong dalam membayat diyat (tebusan) di antara mereka dan mereka membayar tebusan tawanan dengan cara baik dan adil di antara Mukminin.
3.     Sesungguhnya kaum Mukminin tidak boleh membiarkan orang yang menanggung beban berat karena memiliki keluarga besar atau utang di antara mereka, mereka harus membantunya dengan baik dalam pembayaran tebusan atau diyat.
4.     Orang Mukmin yang bertakwa harus menentang orang yang berbuat zalim di antara  mereka. Kekuatan mereka bersatu-padu dalam menentang yang zalim, meski pun orang yang zalim itu anak dari slah seorang di antara mereka.
5.     Jaminan Allah itu satu. Allah akan memberikan jaminan sekali pun kepada kaum Muslimin yang paling rendah derajatnya di antara masyarakat. Sesungguhnya Mukminin itu saling membantu di antara mereka, tidak dengan yang lain.
6.     Sesungguhnya orang-orang Yahudi yang mentaati orang-orang Muminnin berhak mendapat bantuan dan santunan selama kaum Yahudi tersebut tidak menzaliki kaum Muslim dan tidak bergabung dengan musuh dalam memerangi kaum Muslimin.

B. Poin-point yang Berkait Dengan Kaum Musyrik
1.       kaum Musyrik Yastrib tidak boleh melindungi harta dan jiwa kaum kafir Quraisy dan tidak boleh menghalangi kaum Muslimin darinya.

C. Poin-poin yang Berkait Dengan kaum Yahudi
1.     Kaum Yahudi memikul biaya bersama Mukminin selama peperangan.
2.     Kaum Yahudi dari Bani ‘Ausf adalah satu umat dengan Mukminin. Kaum Yahudi berhak untuk menjalankan ibadah agama, budak-budak dan jiwa-jiwa mereka. Ketentuan ini juga berlaku bagi kaum Yahudi yang lain yang berasal dari Bani Najjar, Bani Harits, Bani Sa’idah, Bani Jusyam, Bani Al-Aus dan Bani Tsalabah, yang merupakan kerabat kaum Yahudi yang tinggal di luar kota Yastrib.
3.     Tidak ada seorang Yahudi pun yang dibenarkan ikuit berperang, kecuali atas izin Nabi Muhammad saw.
4.     Kaum Yahudi berkewajiban menanggung biaya perang kaum Muslimin, dan kaum Musliin pun berkewajiban menanggung biaya perang kaum Yahudi.
5.     Kaum Muslimin dan Yahudi harus saling membantu dalam menghadapi orang-orang yang memusuhi pendukung Piagam ini, saling memberi nasihat serta membela pihak yang duzalimi.

D. Poin-point yang Berkait Dengan Ketentuan Umum
1.  Sesungguhnya Yastrib itu tanahnya suci bagi pendukung Piagam ini. Dan sesungguhnya orang yang mendapat jaminan [diperlakukan] seperti diri penjamin, sepanjang tidak melakukan sesuatu yang membahayakan dan tidak khianat. Jaminan tidak boleh diberikan kecuali dengan seizin  pendukung Piagam  ini.
2.      Jika terjadi suatu peristiwa atau perselisihan di antara pendukung Piagam  ini yang dikhawatirkan menimbulkan bahaya maka penyelesaiannya menurut Allah dan Nabi Nya, Muhammad Saw..
3.   Kaum kafir Qursiy dan juga pendukung mereka tidak boleh diberi jaminan keselamatan dan keamanan.
4.    Para pendukung Piagam harus saling membantu dalam menghadapi musuh yang menentang kota Yastrib.
5.       Orang yang  keluar (bepergian) aman, orang yang berada di Yastrib juga aman, kecuali mereka-mereka yang berbuat zalaim dan khianat. Allah beserta Nabi-Nya adalah penjamin bagi orang yang baik dan bertakwa.

Berbagai Kesaksian Terhadap Kesuri-teladanan Sempurna Nabi Besar Muhammad Saw.

   Kembali kepada firman Allah Swt. sebelumnya mengenai kesuri-teladanan terbaik Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ  فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ  اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ  لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ الۡیَوۡمَ  الۡاٰخِرَ  وَ ذَکَرَ  اللّٰہَ  کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Sungguh dalam  diri Rasulullah benar-benar terdapat suri teladan yang sebaik-baiknya  bagi kamu, yaitu bagi  orang yang mengharapkan Allah dan Hari Akhir,  dan bagi yang banyak mengingat Allah.  (Al-Ahzāb [33]:22).
   Jadi, pertempuran Khandak atau perang Ahzab mungkin merupakan ujian  paling pahit di dalam seluruh jenjang kehidupan Nabi Besar Muhammad saw tetapi beliau saw. keluar dari ujian yang paling berat itu dengan keadaan akhlak dan wibawa yang lebih tinggi lagi.
   Sesungguhnyalah pada saat yang sangat berbahayalah, yakni ketika di sekitar gelap-gelita, atau dalam waktu mengenyam sukses dan kemenangan, yakni ketika musuh bertekuk lutut di hadapannya, watak dan perangai yang sesungguhnya seseorang diuji; dan sejarah memberi kesaksian yang jelas kepada kenyataan bahwa Nabi Besar Muhammad saw. --  baik dalam keadaan dukacita karena dirundung kesengsaraan dan pada saat sukacita karena meraih kemenangan — beliau saw. tetap menunjukkan kepribadian agung lagi mulia.
    Pertempuran Khandak, Uhud, dan Hunain menjelaskan dengan seterang-seterangnya satu watak Nabi Besar Muhammad saw.  yang indah, dan Fatah Mekkah (Kemenangan atas Mekkah) memperlihatkan watak beliau saw.lainnya. Mara bahaya tidak mengurangi semangat  Nabi Besar Muhammad saw. atau mengecutkan hati beliau saw., begitu pula kemenangan dan sukses tidak merusak watak beliau saw..
   Ketika  Nabi Besar Muhammad saw.  ditinggalkan hampir seorang diri pada hari Pertempuran Hunain  -- setelah persitiwa Fatah Mekkah  --  sedang nasib Islam berada di antara hidup dan mati, beliau saw. tanpa gentar sedikit pun dan seorang diri belaka  -- karena para gerakan pasukan sahabat a.s. dikacau-balaukan  oleh dipukul-mundurnya  orang-orang yang baru menggabungkan  diri ke dalam Islam  oleh pasukan lawan (QS.9:25-27)  -- tetapi Nabi Besar Muhammad saw.  maju ke tengah barisan musuh seraya berseru dengan kata-kata yang patut dikenang selama-lamanya: “Aku nabi Allah dan aku tidak berkata dusta. Aku anak Abdul Muthalib!”
  Demikian pula  tatkala Mekkah jatuh dan seluruh tanah Arab bertekuk lutut maka kekuasaan yang mutlak dan tak tersaingi itu tidak kuasa merusak  Nabi Besar Muhammad saw. Beliau saw.  menunjukkan keluhuran budi yang tiada taranya terhadap musuh-musuh beliau saw. -- jauh lebih sempurna daripada  pengampunan Nabi Yusuf a.s. terhadap saudara-saudara beliau seayah yang telah berbuat zalim terhadap beliau sebelum menjadi seorang pejabat tinggi di kerajaan Mesir (QS.12:89-93).

Komentar  Penulis Non-Muslim Bosworth Smith 

     Kesaksian lebih besar mana lagi yang mungkin ada terhadap keagungan watak  Nabi Besar Muhammad saw.. Beliau  selain kenyataan bahwa pribadi-pribadi yang paling akrab dengan beliau saw. dan yang paling mengenal beliau saw., mereka itulah yang paling mencintai beliau saw. dan merupakan yang pertama-tama percaya (beriman) akan misi beliau, yakni, istri beliau yang tercinta, Sitti Khadijah r.a.; sahabat beliau sepanjang hayat, Abu Bakar r.a.; saudara sepupu yang juga menantu beliau, Ali bin Abi Thalib r,a,;  dan bekas budak beliau saw. yang telah dimerdekakan, Zaid bin Harissah r.a.. Nabi Besar Muhammad saw.   merupakan contoh kemanusiaan yang paling mulia dan model yang paling sempurna dalam keindahan dan kebajikan.
    Dalam segala segi kehidupan dan watak Nabi Besar Muhammad saw.  yang beraneka ragam, tidak ada duanya dan merupakan contoh yang tiada bandingannya bagi umat manusia untuk ditiru dan diikuti. Seluruh kehidupan beliau saw. nampak dengan jelas dan nyata dalam cahaya lampu-sorot sejarah.
     Nabi Besar Muhammad saw.   mengawali kehidupan beliau saw. sebagai anak yatim dan mengakhirinya dengan berperan sebagai wasit yang menentukan nasib seluruh bangsa. Sebagai kanak-kanak beliau saw. penyabar lagi gagah, dan di ambang pintu usia remaja, beliau saw. tetap merupakan contoh yang sempurna dalam akhlak, ketakwaan, dan kesabaran. Pada usia setengah-baya beliau mendapat julukan Al-Amīn (si Jujur dan setia kepada amanat) dan selaku seorang niagawan beliau saw. terbukti paling jujur dan cermat.
 Nabi Besar Muhammad saw.   menikah dengan perempuan-perempuan yang di antaranya ada yang jauh lebih tua daripada beliau saw. sendiri dan ada juga yang jauh lebih muda, namun semua bersedia memberi kesaksian dengan mengangkat sumpah mengenai kesetiaan, kecintaan, dan kekudusan beliau saw..
  Sebagai ayah Nabi Besar Muhammad saw.   penuh dengan kasih-sayang, dan sebagai sahabat beliau saw. sangat setia dan murah hati. Ketika beliau saw. diamanati tugas yang amat besar dan berat dalam usaha memperbaiki suatu masyarakat yang sudah rusak (QS.33:73-74; QS.62:3),  Nabi Besar Muhammad saw. Beliau menjadi sasaran derita aniaya dan pembuangan, namun beliau saw. memikul semua penderitaan itu dengan sikap agung dan budi luhur.
   Nabi Besar Muhammad saw.   bertempur sebagai prajurit gagah-berani dan memimpin pasukan-pasukan. Beliau saw.  menghadapi kekalahan – misalnya dalam perang Uhud  -- dan beliau saw. memperoleh kemenangan-kemenangan. Beliau menghakimi dan mengambil serta menjatuhkan keputusan dalam berbagai perkara.  Nabi Besar Muhammad saw.  adalah seorang negarawan, seorang pendidik, dan seorang pemimpin.
Sehubungan dengan kenyataan tersebut  seorang non-Muslim   -- Bosworth Smith   -- dalam bukunya  “Muhammad and Muhammadanism”  menulis:
Kepala negara merangkap Penghulu Agama, beliau adalah Kaisar dan Paus sekaligus. Tetapi beliau adalah Paus yang tidak berlaga Paus, dan Kaisar tanpa pasukan-pasukan yang megah. Tanpa balatentara tetap, tanpa pengawal, tanpa istana yang megah, tanpa pungutan pajak tetap dan tertentu, sehingga jika ada orang berhak mengatakan bahwa ia memerintah dengan hak ketuhanan, maka orang itu hanyalah Muhammad, sebab beliau mempunyai kekuasaan tanpa alat-alat kekuasaan dan tanpa bantuan kekuasaan. Beliau biasa melakukan pekerjaan rumah tangga dengan tangan beliau sendiri, biasa tidur di atas sehelai tikar kulit, dan makanan beliau terdiri dari kurma dan air putih atau roti jawawut, dan setelah melakukan bermacam-macam tugas sehari penuh, beliau biasa melewatkan malam hari dengan mendirikan shalat dan doa-doa hingga kedua belah kaki beliau bengkak-bengkak. Tidak ada orang yang dalam keadaan dan suasana yang begitu banyak berubah telah berubah begitu sedikitnya.”

Nabi Besar Muhammad saw. Sebagai Saksi Para Saksi

    Semua kenyataan tersebut membenarkan pernyataan Allah Swt. sebelum ini  mengenai  kesuri-teladanan sempurna Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya: 
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ  فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ  اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ  لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ الۡیَوۡمَ  الۡاٰخِرَ  وَ ذَکَرَ  اللّٰہَ  کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Sungguh dalam  diri Rasulullah benar-benar terdapat suri teladan yang sebaik-baiknya  bagi kamu, yaitu bagi  orang yang mengharapkan Allah dan Hari Akhir,  dan bagi yang banyak mengingat Allah.  (Al-Ahzāb [33]:22).
        Dengan demikian benar pulalah  firman Allah Swt. dalam hadits qudsi mengenai  pengutusan Nabi Besar Muhammad saw.:
Laulaka, laulaka mā khalaqtul aflak
dalam riwayat lain redaksinya adalah:
Laulaka, laulaka mā khalaqtul ‘alam kullaha
Yang artinya: “Kalau bukan karena engkau [Muhammad] Aku tidak akan menciptakan alam semesta ini.” (Hadits Qudsi).
      Pernyataan Allah Swt. dalam hadits qudsi tersebut sesuai dengan firman-Nya  di awal  artikel ini mengenai pengutusan Nabi Besar Muhammad saw.,  karena beliau saw. akan  menjadi saksi  mengenai kebenaran para rasul Allah yang diutus sebelum beliau saw. kepada setiap kaum (QS.13:7 & 31; QS.35:25) dan juga sebagai saksi bagi seluruh umat manusia, firman-Nya:
وَ یَوۡمَ نَبۡعَثُ فِیۡ کُلِّ اُمَّۃٍ شَہِیۡدًا عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ جِئۡنَا بِکَ شَہِیۡدًا عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ ؕ وَ نَزَّلۡنَا عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ تِبۡیَانًا  لِّکُلِّ شَیۡءٍ  وَّ  ہُدًی  وَّ  رَحۡمَۃً   وَّ  بُشۡرٰی  لِلۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah hari itu ketika Kami akan membangkitkan dalam setiap umat seorang saksi terhadap mereka dari antara mereka sendiri, dan Kami akan mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka semuanya. Dan  Kami  telah menurunkan kepada engkau Kitab itu untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk, rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri kepada Allah   (An-Nahl [16]:90).
          Senada dengan ayat tersebut  dalam surah lain Allah Swt. berfirman  tetapi lebih menyinggung mengenai orang-orang kafir:
فَکَیۡفَ اِذَا جِئۡنَا مِنۡ کُلِّ اُمَّۃٍۭ بِشَہِیۡدٍ وَّ جِئۡنَا بِکَ عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ شَہِیۡدًا ﴿﴾ یَوۡمَئِذٍ یَّوَدُّ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا وَ عَصَوُا الرَّسُوۡلَ لَوۡ تُسَوّٰی بِہِمُ الۡاَرۡضُ ؕ وَ لَا یَکۡتُمُوۡنَ اللّٰہَ  حَدِیۡثًا ﴿٪﴾
Maka bagaimana keadaan mereka apabila Kami mendatangkan seorang saksi dari setiap umat, dan Kami  mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka ini semua-nya?  Pada hari itu orang-orang  kafir dan yang mendurhakai Rasul,  mereka menginginkan seandainya bumi disamaratakan  dengan mereka, dan mereka tidak akan dapat menyembunyikan sesuatu apa pun  dari Allah. (An-Nisā [4]:42-43).

(Bersambung)
ooo
Rujukan: The Holy Quran
Editor    : Malik Ghulam Farid


Pajajaran Anyar,  21 Juli 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar