Selasa, 18 Juli 2017

Pengkhianatan "Suku-suku Yahudi" Madinah Terhadap "Piagam Madinah" Dalam "Perang Khandak" (Perang Parit) di Madinah & Kegagalan Total "Pasukan Persekutuan" (Al-Ahzaab) Dalam "Perang Khandak"


 Bismillāhirrahmānirrahīm


KHAZANAH  AL-QURAN 

Bab 8

PENGKHIANATAN SUKU-SUKU YAHUDI  MADINAH TERHADAP  “PIAGAM MADINAH” DALAM PERANG KHANDAK (PERANG PARIT) DI MADINAH &  KEGAGALAN TOTAL  PASUKAN PERSEKUTUAN  (AL-AHZÂB) DALAM PERANG KHANDAK  

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir bab sebelumnya  telah dikemukakan  topic:  Berbagai Arti Junah, Jurm, Itsm, dan Dzanb sehubungan dengan firman Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad  saw.:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ اِذَا  جَآءَ  نَصۡرُ اللّٰہِ  وَ  الۡفَتۡحُ ۙ﴿﴾ وَ  رَاَیۡتَ النَّاسَ یَدۡخُلُوۡنَ فِیۡ  دِیۡنِ اللّٰہِ  اَفۡوَاجًا ۙ﴿﴾  فَسَبِّحۡ  بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ  ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ  تَوَّابًا ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan,  dan engkau melihat manusia  masuk dalam agama Allah berbondong-bondong, فَسَبِّحۡ  بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ  ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ  تَوَّابًا  --  maka  bertasbihlah dengan memuji Rabb (Tuhan) engkau,  dan mohonlah ampunan-Nya, sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat. (An-Nashr [110]:1-4).
         Kenyataannya, bahwa dari keempat kata junah, jurm, itsm, dan dzanb, yang memiliki arti tambahan yang sama, tiada sebuah pun dari ketiga kata yang disebut terlebih dahulu (junah, jurm, itsm), yang dipergunakan dalam Al-Quran mengenai rasul-rasul Allah, menunjukkan, bahwa dzanb tidak mengandung arti buruk seperti dimiliki ketiga buah kata lainnya.
       Kecuali itu, menurut muhawarah Al-Quran ungkapan dzanbaka, seandainya kata dzanb itu pun dianggap mengandung arti dosa atau kejahatan, kata itu berarti “dosa-dosa yang dituduhkan seolah engkau telah melakukannya”; atau “dosa-dosa yang diperbuat terhadap engkau,”  bukan “dosa-dosa engkau.”
   Menurut arti yang terakhir bagi kata dzanb itu, kata Arab laka dalam ayat ini akan berarti “demi kepentingan  engkau.” Di tempat lain dalam Al-Quran (QS.5:30) ungkapan seperti itu  ialah itsmi (dosaku), berarti “dosa yang diperbuat terhadapku” bukan  berarti “dosaku.”

Hubungan “Kemenangan yang Nyata” Dengan “Maghfirah Ilahi

    Jadi,  kembali kepada ayat-ayat  yang sedang dibahas ini  berkenaan pentingnya memohon maghfirah Ilahi  (QS.48:1-4) – termasuk para rasul Allah, bahkan Nabi Besar Muhammad saw.  --  Allah Swt. berfirman:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  اِنَّا فَتَحۡنَا لَکَ فَتۡحًا مُّبِیۡنًا ۙ﴿﴾  لِّیَغۡفِرَ  لَکَ اللّٰہُ  مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ وَ یُتِمَّ نِعۡمَتَہٗ  عَلَیۡکَ وَ یَہۡدِیَکَ صِرَاطًا مُّسۡتَقِیۡمًا ۙ﴿﴾  وَّ  یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ  نَصۡرًا عَزِیۡزًا ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Sesungguhnya Kami telah memberi engkau satu kemenangan nyata. Supaya Allah melindungi engkau dari dosa-dosa yang dibuat terhadap engkau di masa lalu dan di masa yang akan datang,  dan Dia menyempurnakan nikmat-Nya atas engkau, dan memberi petunjuk kepada engkau pada jalan yang lurus,  dan Allah akan menolong engkau dengan pertolongan yang perkasa. (Al-Fath [48]:1-4).
     Ayat-ayat itu  akan berarti, sebagai akibat kemenangan besar — yaitu  Perjanjian Hudaibiyah — itu, semua tuduhan dosa, kejahatan, dan kesalahan yang dilemparkan (dituduhkan) musuh-musuh  Nabi Besar Muhammad saw.  kepada beliau saw.  -- bahwa beliau saw.   na’udzubillāhi min dzālik     seorang penipu, pendusta atau tukang mengada-ada kebohongan terhadap Allah dan manusia, dan sebagainya  --  akan terbukti palsu semua, sebab segala macam orang  yang mempunyai hubungan dengan para pengikut beliau saw.  akan menjumpai kebenaran serta kesucian mengenai beliau saw. (QS.68:1-7).
    Atau, artinya ialah bahwa “dosa-dosa yang diperbuat terhadap engkau oleh musuh-musuh engkau akan diampuni demi engkau”. Dan begitulah yang telah terjadi, ketika Mekkah jatuh dan orang-orang Arab menerima agama Islam serta dosa mereka diampuni, sesuai permintaan mereka  kepada Nabi Besar Muhammad saw. sebagaimana yang dilakukan Nabi Yusuf a.s. terhadap kesalahan saudara-saudaranya  kepada beliau  (QS.12:92-94).
  Hubungan kalimatnya pun mendukung arti ini, sebab anugerah kemenangan yang nyata dan penggenapan nikmat Ilahi atas   Nabi Besar Muhammad saw.  diisyaratkan dalam ayat ini dan ayat sebelum ini agaknya tidak mempunyai hubungan apa pun dengan pengampunan terhadap dosa-dosa, jika dzanb dianggap berarti dosa.
    Kata-kata, “di masa lalu dan di masa yang akan datang”, maksudnya tuduhan-tuduhan yang dilemparkan kepada  Nabi Besar Muhammad saw.  di masa lalu oleh orang-orang Quraisy dan tuduhan-tuduhan yang akan dilemparkan terhadap beliau saw. di masa yang akan datang – termasuk  di Akhir Zaman ini   -- oleh musuh-musuh beliau saw. pun akan dielakkan dan  Nabi Besar Muhammad saw.   akan terbukti sama sekali suci dari noda itu.
      Ada pun janji datangnya  pertolongan Ilahi datang dalam bentuk tersebarnya agama Islam secara cepat di tanah Arab sesudah penandatanganan perjanjian Hudaibiyah, dan  Nabi Besar Muhammad saw. diakui sebagai Kepala Negara satu pemerintah yang merdeka dan berdaulat.

Pengepungan Umat Islam di Madinah Oleh Pasukan Persekutuan Orang-orang Kafir

   Dengan demikian semua pujian Allah Swt. dalam Al-Quran mengenai keagungan akhlak dan ruhani Nabi Besar Muhammad saw. terbukti  kebenarannya, sebagaimana firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ  فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ  اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ  لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ الۡیَوۡمَ  الۡاٰخِرَ  وَ ذَکَرَ  اللّٰہَ  کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Sungguh dalam  diri Rasulullah benar-benar terdapat suri teladan yang sebaik-baiknya  bagi kamu, yaitu bagi  orang yang mengharapkan Allah dan Hari Akhir,  dan bagi yang banyak mengingat Allah.  (Al-Ahzāb [33]:22).
   Ayat tersebut merupakan rangkaian dari ayat-ayat sebelumnya  (QS.33:10-21) yang menjelaskan mengenai kesetiaan para sahabah r.a. pada saat perang Ahzab atau perang Khandak (perang Parit) – yakni pengepungan kota Madinah oleh pasukan persekutuan orang-orang musyrik Arabia pimpinan para pemuka kaum kafir Quraisy Mekkah, yang dibantu oleh orang-orang Yahudi  dan orang-orang munafik Madinah yang   yang mengepung Nabi Besar Muhammad saw. dan  umat Islam  di Medinah, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اذۡکُرُوۡا نِعۡمَۃَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ  اِذۡ جَآءَتۡکُمۡ جُنُوۡدٌ  فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ رِیۡحًا وَّ جُنُوۡدًا لَّمۡ تَرَوۡہَا ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ بَصِیۡرًا ۚ﴿﴾  اِذۡ  جَآءُوۡکُمۡ  مِّنۡ فَوۡقِکُمۡ  وَ مِنۡ اَسۡفَلَ مِنۡکُمۡ  وَ  اِذۡ زَاغَتِ الۡاَبۡصَارُ وَ  بَلَغَتِ الۡقُلُوۡبُ الۡحَنَاجِرَ وَ تَظُنُّوۡنَ بِاللّٰہِ  الظُّنُوۡنَا ﴿﴾  ہُنَالِکَ ابۡتُلِیَ  الۡمُؤۡمِنُوۡنَ وَ زُلۡزِلُوۡا زِلۡزَالًا  شَدِیۡدًا ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, ingatlah nikmat Allah atas kamu, ketika datang menyerang kepada kamu lasykar-lasykar, dan Kami pun mengirimkan kepada mereka angin taufan dan lasykar-lasykar yang kamu tidak melihatnya. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.   Ketika mereka datang kepada kamu dari atas kamu serta dari bawah kamu,  dan ketika mata kamu melantur dan hati sampai tenggorokan, dan kamu berprasangka terhadap Allah dengan bermacam-macam prasangka. ہُنَالِکَ ابۡتُلِیَ  الۡمُؤۡمِنُوۡنَ وَ زُلۡزِلُوۡا زِلۡزَالًا  شَدِیۡدًا  --   Di situlah orang-orang beriman diuji,  dan mereka digoncangkan dengan suatu goncangan yang dahsyat. (Al-Ahzāb [33]:10-12).  
     Dengan surah Al-Ahzāb ayat 10 ceritera dimulai tentang Pertempuran Khandak (Pertempuran Parit), yang terjadi dalam tahun ke-5 Hijrah dan merupakan pertarungan paling sengit di antara semua pertarungan yang sampai saat itu dihadapi kaum Muslimin.
   Seluruh bangsa Arab bersatu-padu melawan Islam. Kabilah Quraisy di Mekkah, sekutu-sekutu mereka, kabilah-kabilah Ghathfan, Asyja’, Murrah, Fararah, Sulaim, Banu Sa’ad, dan Banu Asad, serta kabilah-kabilah penghuni padang pasir Arabia Tengah, dibantu dan dihasut oleh pengkhianat-pengkhianat — orang-orang Yahudi dan orang-orang munafik — dari Medinah, bergabung dalam suatu persekutuan besar (al-ahzāb) melawan Nabi Besar Muhammad saw..
   Suatu kekuatan raksasa dengan tenaga berjumlah sekitar 10.000 sampai 20.000 orang dipasang menghadapi 1.200 orang Muslim (menurut beberapa penulis ada 3.000 orang Muslim, termasuk perempuan dan anak-anak dipekerjakan menggali parit), dengan perlengkapan dan perbekalan serba darurat.
    Pengepungan kota Medinah itu berlangsung selama 15 hari sampai 4 minggu. Islam muncul dari kesulitan yang hebat ini jadi lebih kuat dan orang-orang kafir Quraisy tidak pernah mampu lagi berderap maju melawan Nabi Besar Muhammad saw.  dan  Islam.

Peran-serta  Pasukan Para Malaikat Dalam Perang

   Makna ayat:  فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ رِیۡحًا وَّ جُنُوۡدًا لَّمۡ تَرَوۡہَا  -- “Maka Kami pun mengirimkan kepada mereka angin taufan dan lasykar-lasykar  yang kamu tidak melihatnya.”  Ayat ini mengisyaratkan kepada peran pasukan para malaikat  berupa munculnya tenaga-tenaga alam — angin, hujan, dan dingin — membuat orang-orang kafir kepayahan dan melesukan semangat mereka.
  Kata-kata itu dapat juga menunjuk kepada lasykar malaikat yang memasukkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir dan menguatkan hati serta menambah keberanian orang-orang Muslim, sebagaimana yang terjadi dalam perang Badar (QS.8:10-14).  
  Sehubungan kerja pasukan para malaikat tersebut, William Muir  -- seorang kritikus non-Muslim – berkomentar mengenai kepanikan hebat yang melandan pasukan pertsekutuan:
Ransum diperoleh dengan susah-payah; perbekalan makin berkurang, dan unta serta kuda setiap hari mati dalam jumlah besar, letih dan semangat melesu, dalam keadaan demikian malam pun datang, dingin dan angin berhembus bagai taufan serta hujan menggasak tanpa ampun perkemahan-perkemahan tak terlindung. Badai berubah menjadi taufan samun. Api-api unggun padam, tenda-tenda tertiup hingga roboh, alat-alat masak-memasak dan perkakas lainnya berantakan” (“Life of Mohammad”).
   Jadi, makna ayat:  اِذۡ  جَآءُوۡکُمۡ  مِّنۡ فَوۡقِکُمۡ  وَ مِنۡ اَسۡفَلَ مِنۡکُمۡ   -- “Ketika mereka datang kepada kamu dari atas kamu serta dari bawah kamu,“ menggambarkan ketika  orang-orang kafir mengepung orang-orang Muslim dari setiap penjuru — dari tempat-tempat ketinggian Medinah dan begitu juga dari dataran-dataran rendah. Isyarat dalam kata-kata وَ  اِذۡ زَاغَتِ الۡاَبۡصَارُ وَ  بَلَغَتِ الۡقُلُوۡبُ الۡحَنَاجِرَ   -- “dan ketika mata kamu melantur dan hati sampai tenggorokan, dan kamu berprasangka terhadap Allah dengan bermacam-macam prasangka” dan  وَ تَظُنُّوۡنَ بِاللّٰہِ  الظُّنُوۡنَا  -- “dan kamu berprasangka terhadap Allah dengan bermacam-macam prasangka” ditujukan kepada kaum munafikin   -- dan bukan kepada orang-orang Muslim yang tulus dan sabar  --  sebagaimana dikemukakan firman Allah Swt. berikut ini:
وَ اِذۡ یَقُوۡلُ الۡمُنٰفِقُوۡنَ وَ الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ مَّا وَعَدَنَا اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗۤ   اِلَّا  غُرُوۡرًا ﴿﴾  وَ اِذۡ  قَالَتۡ طَّآئِفَۃٌ  مِّنۡہُمۡ  یٰۤاَہۡلَ  یَثۡرِبَ لَا  مُقَامَ لَکُمۡ فَارۡجِعُوۡا ۚ وَ یَسۡتَاۡذِنُ فَرِیۡقٌ مِّنۡہُمُ النَّبِیَّ یَقُوۡلُوۡنَ اِنَّ بُیُوۡتَنَا عَوۡرَۃٌ ؕۛ وَ مَا ہِیَ بِعَوۡرَۃٍ ۚۛ اِنۡ  یُّرِیۡدُوۡنَ   اِلَّا  فِرَارًا﴿﴾ وَ لَوۡ دُخِلَتۡ عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ اَقۡطَارِہَا ثُمَّ سُئِلُوا الۡفِتۡنَۃَ  لَاٰتَوۡہَا وَ مَا تَلَبَّثُوۡا بِہَاۤ   اِلَّا  یَسِیۡرًا ﴿﴾  وَ لَقَدۡ کَانُوۡا عَاہَدُوا اللّٰہَ مِنۡ قَبۡلُ لَا یُوَلُّوۡنَ الۡاَدۡبَارَ ؕ وَ کَانَ عَہۡدُ اللّٰہِ مَسۡـُٔوۡلًا ﴿﴾
Dan ingatlah ketika orang-orang munafik dan mereka yang di dalam hatinya ada penyakit berkata: “Allah dan Rasul-Nya sekali-kali tidak menjanjikan kepada kami kecuali menipu.” Dan ketika segolongan dari mereka berkata: “Hai, orang-orang Yathrib,  kamu mungkin tidak dapat bertahan terhadap musuh   karena itu kembalilah kamu.” Dan segolongan dari mereka meminta izin kepada Nabi dengan berkata: “Sesungguhnya rumah kami terbuka padahal rumah mereka itu sebenarnya tidak terbuka, mereka hanya berusaha melarikan diri. Dan seandainya  musuh memasuki kota Medinah dari daerah-daerah sekitarnya,  kemudian mereka diminta bergabung dalam kerusuhan terhadap kaum Muslimin pasti mereka  akan melakukannya, dan mereka seka-li-kali tidak akan tinggal di Medinah melainkan sebentar sajaوَ لَقَدۡ کَانُوۡا عَاہَدُوا اللّٰہَ مِنۡ قَبۡلُ لَا یُوَلُّوۡنَ الۡاَدۡبَارَ   -- Dan sungguh mereka sebelum itu benar-benar telah mengikat janji dengan Allah   bahwa mereka tidak akan memalingkan punggungnya.  وَ کَانَ عَہۡدُ اللّٰہِ مَسۡـُٔوۡلًا --  Dan perjanjian yang  diadakan dengan Allah akan diminta pertanggung-jawaban. (Al-Ahzāb [33]:13-16).

Khandak     Mengkhianati “Piagam Madinah

   Makna ayat:  وَ اِذۡ  قَالَتۡ طَّآئِفَۃٌ  مِّنۡہُمۡ  یٰۤاَہۡلَ  یَثۡرِبَ لَا  مُقَامَ لَکُمۡ فَارۡجِعُوۡا  -- “Hai, orang-orang Yathrib,  kamu mungkin tidak dapat bertahan terhadap musuh   karena itu kembalilah kamu.” Kata Yatsrib adalah   nama kota Madinah sebelum  Nabi Besar Muhammad saw. dan para sahabat r.a. Hijrah dari Mekkah ke Yatsrib (Madinah).  Kata-kata فَارۡجِعُوۡا -- “maka kembalilah” berarti, “Kembalilah kepada kepercayaanmu yang semula,” atau, “Pulanglah ke rumah kalian.”
   Makna ayat  لَاٰتَوۡہَا وَ مَا تَلَبَّثُوۡا بِہَاۤ   اِلَّا  یَسِیۡرًا  – “dan mereka sekali-kali tidak akan tinggal di Medinah melainkan sebentar saja.”  Ayat  sebelumnya bermaksud mengatakan bahwa andaikata ada musuh masuk ke Medinah dari arah lain dan orang-orang munafik diajak kerjasama dengan dia melawan orang-orang Muslim, niscaya mereka dengan senang hati dan dengan segala suka hati melakukannya, tetapi dengan akibat bahwa mereka akan “diusir dari Madinah” oleh Nabi Besar Muhammad saw.  (QS.59:3-5).
  Kata-kata  وَ لَقَدۡ کَانُوۡا عَاہَدُوا اللّٰہَ مِنۡ قَبۡلُ لَا یُوَلُّوۡنَ الۡاَدۡبَارَ ؕ وَ کَانَ عَہۡدُ اللّٰہِ مَسۡـُٔوۡلًا --  “Dan sungguh mereka sebelum itu benar-benar telah mengikat janji dengan Allah   bahwa mereka tidak akan memalingkan punggungnya. Dan perjanjian yang  diadakan dengan Allah akan diminta pertanggung-jawaban“  Ayat tersebut menunjuk kepada perjanjian yang telah diadakan orang-orang Yahudi di Madinah dengan  Nabi Besar Muhammad saw. – sebagaimana yang tercantum dalam “Piagam Madinah” -- bahwa mereka akan berperang di pihak beliau saw. melawan musuh mana pun yang menyerang Medinah, namun terbukti berbagai suku kaum  Yahudi di Madinah telah mengkhianati perjanjian tersebut.
     Selanjutnya Allah Swt. berfirman bahwa  “pengkhianatan” yang dilakukan oleh suku-suku Yahudi di Madinah dan orang-orang munafik Madinah sama sekali tidak akan merugikan pihak Nabi Besar Muhammad saw. dan umat Islam, baik golongan  Muhajirin mau pun golongan Anshar, firman-Nya:
قُلۡ لَّنۡ یَّنۡفَعَکُمُ الۡفِرَارُ اِنۡ  فَرَرۡتُمۡ مِّنَ الۡمَوۡتِ اَوِ الۡقَتۡلِ وَ اِذًا لَّا تُمَتَّعُوۡنَ  اِلَّا  قَلِیۡلًا ﴿﴾ قُلۡ مَنۡ ذَا الَّذِیۡ یَعۡصِمُکُمۡ مِّنَ اللّٰہِ  اِنۡ اَرَادَ بِکُمۡ سُوۡٓءًا اَوۡ اَرَادَ بِکُمۡ رَحۡمَۃً ؕ وَ لَا  یَجِدُوۡنَ لَہُمۡ مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَلِیًّا  وَّ لَا  نَصِیۡرًا ﴿﴾ قَدۡ یَعۡلَمُ اللّٰہُ  الۡمُعَوِّقِیۡنَ مِنۡکُمۡ وَ الۡقَآئِلِیۡنَ لِاِخۡوَانِہِمۡ ہَلُمَّ   اِلَیۡنَا ۚ وَ لَا  یَاۡتُوۡنَ الۡبَاۡسَ  اِلَّا  قَلِیۡلًا ﴿ۙ﴾
Katakanlah:  Tidak akan berfaedah bagi kamu Jika kamu melarikan diri dari kematian atau terbunuh, dan meskipun demikian kamu tidak akan diberi manfaat kecuali sedikit.”   Katakanlah:  Siapakah dapat menyelamatkan kamu dari Allah jika Dia berkehendak menimpakan keburukan kepada kamu, atau jika Dia berkehendak memberi rahmat kepada kamu?” Dan mereka tidak akan mendapatkan seorang pelindung dan tidak pula seorang penolong selain Allah.  Sungguh Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi dari antara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudara mereka: “Datanglah kepada kami,” dan mereka tidak datang untuk berperang kecuali sebentar. (Al-Ahzāb [33]:17-19).

Kepengecutan Orang-orang Munafik Madinah

        Makna ungkapan “dan mereka tidak datang untuk berperang kecuali sebentar“  mengisyaratkan kepada  kepengecutan orang-orang munafik, bahwa kalau pun mereka terpaksa ikut berperang tetapi mereka segera akan meninggalkan pertempuran   karena takut mati, selanjutnya Allah Swt. berfirman:
اَشِحَّۃً  عَلَیۡکُمۡ ۚۖ فَاِذَا جَآءَ الۡخَوۡفُ رَاَیۡتَہُمۡ یَنۡظُرُوۡنَ اِلَیۡکَ تَدُوۡرُ اَعۡیُنُہُمۡ کَالَّذِیۡ یُغۡشٰی عَلَیۡہِ مِنَ الۡمَوۡتِ ۚ فَاِذَا  ذَہَبَ الۡخَوۡفُ سَلَقُوۡکُمۡ بِاَلۡسِنَۃٍ حِدَادٍ  اَشِحَّۃً عَلَی الۡخَیۡرِ ؕ اُولٰٓئِکَ لَمۡ یُؤۡمِنُوۡا فَاَحۡبَطَ اللّٰہُ  اَعۡمَالَہُمۡ ؕ وَ کَانَ ذٰلِکَ عَلَی اللّٰہِ  یَسِیۡرًا ﴿﴾   
Mereka kikir kepada kamu. Apabila ketakutan datang engkau melihat mereka memandang kepada engkau dengan matanya berputar-putar seperti orang yang menjadi pingsan karena dihampiri kematian. Tetapi  apabila ketakutan berlalu, mereka menyakiti engkau dengan lidah yang tajam, karena mereka sangat kikir mengenai kebaikan yang datang kepada engkau. Mereka tidak  beriman  maka Allah telah menjadikan amal mereka sia-sia, dan yang demikian itu sangat mudah bagi Allah. یَحۡسَبُوۡنَ الۡاَحۡزَابَ لَمۡ  یَذۡہَبُوۡا ۚ وَ اِنۡ یَّاۡتِ الۡاَحۡزَابُ یَوَدُّوۡا لَوۡ اَنَّہُمۡ بَادُوۡنَ فِی الۡاَعۡرَابِ یَسۡاَلُوۡنَ عَنۡ اَنۡۢبَآئِکُمۡ --  Mereka menyangka lasykar-lasykar persekutuan itu belum pergi, dan andaikata lasykar-lasykar persekutuan itu datang lagi, mereka menghendaki berada di antara orang-orang  Arab padang pasir  dan menanyakan berita mengenai kamu. وَ لَوۡ کَانُوۡا فِیۡکُمۡ مَّا قٰتَلُوۡۤا   اِلَّا  قَلِیۡلًا -- Dan seandainya mereka berada di antara kamu, mereka sama sekali tidak akan ikut berperang. (Al-Ahzāb [33]:20). 
  Syuh dalam ayat اَشِحَّۃً  عَلَیۡکُمۡ      berarti kebakhilan dan ketamakan; ungkapan itu berarti; (a) bahwa orang-orang munafik sangat bakhil (kikir) dalam memberikan bantuan kepada orang-orang Muslim; (b) bahwa mereka sangat tamak mendapatkan uang, dan memaki-maki orang-orang Muslim jika bila ketamakan mereka tidak terpenuhi. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
  یَحۡسَبُوۡنَ الۡاَحۡزَابَ لَمۡ  یَذۡہَبُوۡا ۚ وَ اِنۡ یَّاۡتِ الۡاَحۡزَابُ یَوَدُّوۡا لَوۡ اَنَّہُمۡ بَادُوۡنَ فِی الۡاَعۡرَابِ یَسۡاَلُوۡنَ عَنۡ اَنۡۢبَآئِکُمۡ ؕ وَ لَوۡ کَانُوۡا فِیۡکُمۡ مَّا قٰتَلُوۡۤا   اِلَّا  قَلِیۡلًا ﴿٪﴾   
Mereka menyangka lasykar-lasykar persekutuan itu belum pergi, dan andaikata lasykar-lasykar persekutuan itu datang lagi, mereka menghendaki berada di antara orang-orang  Arab padang pasir, dan menanyakan berita mengenai kamu. Dan seandainya mereka berada di antara kamu, mereka sama sekali tidak akan ikut berperang. (Al-Ahzāb [33]:21).
   Dengan ayat ke-13 gambaran tentang alam pikiran orang-orang munafik, pada khususnya ketika mereka berhadapan dengan bahaya  telah mulai diberikan, firman-Nya:
وَ اِذۡ یَقُوۡلُ الۡمُنٰفِقُوۡنَ وَ الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ مَّا وَعَدَنَا اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗۤ   اِلَّا  غُرُوۡرًا ﴿﴾
Dan ingatlah ketika orang-orang munafik dan mereka yang di dalam hatinya ada penyakit berkata: “Allah dan Rasul-Nya sekali-kali tidak menjanjikan kepada kami kecuali menipu,” (Al-Ahzāb [33]:13).

Sikap Ksatria Para Sahabat Nabi Besar Muhammad Saw. Dalam Perang Khandak

  Gambaran itu telah menjadi lengkap dengan ayat ini (QS.33:21). Orang-orang munafik itu pengecut dan mudah putus-asa. Mereka pembohong dan tidak mempunyai rasa hormat terhadap kekhidmatan janji (perjanjian) yang diucapkan mereka. Mereka khianat, tidak setia, dan bermuka-dua. Mereka bakhil (kikir) dan tamak.
    Pendek kata, keadaan  orang-orang munafik  benar-benar bertolak belakang dengan orang-orang beriman sejati dalam watak mereka, sebagaimana digambarkan dalam firman-Nya berikut ini:
وَ لَمَّا رَاَ  الۡمُؤۡمِنُوۡنَ الۡاَحۡزَابَ ۙ قَالُوۡا ہٰذَا مَا وَعَدَنَا اللّٰہُ  وَ رَسُوۡلُہٗ  وَ صَدَقَ اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗ ۫ وَ مَا زَادَہُمۡ  اِلَّاۤ اِیۡمَانًا  وَّ  تَسۡلِیۡمًا ﴿ؕ﴾ مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ رِجَالٌ صَدَقُوۡا مَا عَاہَدُوا اللّٰہَ عَلَیۡہِ ۚ فَمِنۡہُمۡ مَّنۡ قَضٰی نَحۡبَہٗ  وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّنۡتَظِرُ ۫ۖ وَ مَا بَدَّلُوۡا تَبۡدِیۡلًا ﴿ۙ﴾ لِّیَجۡزِیَ اللّٰہُ  الصّٰدِقِیۡنَ بِصِدۡقِہِمۡ وَ یُعَذِّبَ الۡمُنٰفِقِیۡنَ  اِنۡ شَآءَ  اَوۡ یَتُوۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ کَانَ غَفُوۡرًا رَّحِیۡمًا ﴿ۚ﴾ وَ رَدَّ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا بِغَیۡظِہِمۡ  لَمۡ یَنَالُوۡا خَیۡرًا ؕ وَ کَفَی اللّٰہُ  الۡمُؤۡمِنِیۡنَ الۡقِتَالَ ؕ وَ کَانَ  اللّٰہُ   قَوِیًّا عَزِیۡزًا ﴿ۚ﴾
Dan ketika orang-orang beriman melihat lasykar-lasykar persekutuan  mereka berkata: “Inilah yang telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami,   dan Allah serta  Rasul-Nya telah mengatakan yang benar.” وَ مَا زَادَہُمۡ  اِلَّاۤ اِیۡمَانًا  وَّ  تَسۡلِیۡمًا  --  Dan hal itu tidak menambah kepada mereka kecuali keimanan dan kepatuhan. مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ رِجَالٌ صَدَقُوۡا مَا عَاہَدُوا اللّٰہَ عَلَیۡہِ  --  Di antara orang-orang yang beriman ada  orang-orang yang  telah menggenapi apa yang dijanjikannya kepada Allah, فَمِنۡہُمۡ مَّنۡ قَضٰی نَحۡبَہٗ  وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّنۡتَظِرُ ۫ۖ وَ مَا بَدَّلُوۡا تَبۡدِیۡلًا  --  maka  dari antara mereka ada yang telah menyempurnakan sumpahnya, yakni mati syahid,  dan di antara mereka ada yang masih menunggu, dan mereka sekali-kali tidak mengubah sedikit pun. لِّیَجۡزِیَ اللّٰہُ  الصّٰدِقِیۡنَ بِصِدۡقِہِمۡ وَ یُعَذِّبَ الۡمُنٰفِقِیۡنَ  اِنۡ شَآءَ  اَوۡ یَتُوۡبَ عَلَیۡہِمۡ   --   Supaya Allah mengganjar orang-orang yang benar itu atas kebenaran mereka, dan mengazab orang-orang munafik jika Dia menghendaki, atau menerima taubat mereka. اِنَّ اللّٰہَ کَانَ غَفُوۡرًا رَّحِیۡمًا  --  Sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun, Maha Penyayang. وَ رَدَّ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا بِغَیۡظِہِمۡ  لَمۡ یَنَالُوۡا خَیۡرًا ؕ     -- Dan Allah telah mengembalikan orang-orang kafir dalam kemarahan mereka,  mereka tidak memperoleh kebaikan apa pun. وَ کَفَی اللّٰہُ  الۡمُؤۡمِنِیۡنَ الۡقِتَالَ ؕ وَ کَانَ  اللّٰہُ   قَوِیًّا عَزِیۡزًا  -- Dan Allah mencukupi orang-orang beriman dalam perang itu. Dan Allah Maha Kuat, Maha Perkasa. (Al-Ahzāb [22]:23-26).
   Isyarat ayat: قَالُوۡا ہٰذَا مَا وَعَدَنَا اللّٰہُ  وَ رَسُوۡلُہٗ  وَ صَدَقَ اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہ  -- Mereka berkata:  “Inilah yang telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami,   dan Allah serta  Rasul-Nya telah mengatakan yang benar”   ditujukan kepada kabar gaib tentang kekalahan lasykar kafir dan kemenangan Islam (QS.38:12 dan QS.54:46).
  Ayat selanjutnya: وَ مَا زَادَہُمۡ  اِلَّاۤ اِیۡمَانًا  وَّ  تَسۡلِیۡمًا  --  “Dan hal itu tidak menambah kepada mereka kecuali keimanan dan kepatuhan”   merupakan kenang-kenangan besar terhadap kesetiaan, keikhlasan dan kegigihan dalam iman para pengikut sejati Nabi Besar Muhammad saw..

Kaum Kafir Quraisy Pulang Ke Mekkah Membawa Kegagalan Total

    Tidak pernah para pengikut nabi Allah  yang mana jua pun  -- termasuk para pengikut  Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.    (QS.5:21-27 & 112-116 5:) -- menerima dari Allah  Swt. “surat keterangan bukti kelakukan baik dan kesetiaan” seperti itu.
  Para sahabat Nabi Besar Muhammad saw. tersebut, seperti halnya wujud junjungan mereka tidak ada tara bandingannya di antara nabi-nabi Allah dalam menunaikan tugas beliau saw. sebagai nabi Allah, begitu pula para sahabat beliau saw. tiada bandingannya dalam memenuhi peranan yang diserahkan kepada mereka (QS.2:144; QS.3:111).
      Makna ayat selanjutnya:  وَ رَدَّ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا بِغَیۡظِہِمۡ  لَمۡ یَنَالُوۡا خَیۡرًا ؕ     -- Dan Allah telah mengembalikan orang-orang kafir dalam kemarahan mereka,  mereka tidak memperoleh kebaikan apa pun. وَ کَفَی اللّٰہُ  الۡمُؤۡمِنِیۡنَ الۡقِتَالَ ؕ وَ کَانَ  اللّٰہُ   قَوِیًّا عَزِیۡزًا  -- Dan Allah mencukupi orang-orang beriman dalam perang itu. Dan Allah Maha Kuat, Maha Perkasa”.  Yakni   Allah Swt. menangkis serangan-serangan lasykar persekutuan orang-orang Arab. Mereka terpaksa membatalkan pengepungan dan, dengan hati kesal dan marah atas kegagalan mutlak dalam usaha mereka yang rendah dan buruk itu,  mereka pulang ke rumah mereka dan tidak pernah mempunyai kemampuan lagi menyerang Medinah.
  Sejak kekalahan orang-orang kafir Quraisy Mekkah dalam  perang Ahzab tersebut inisiatip beralih ke tangan orang-orang Islam. Pertempuran Khandak menandai titik-balik dalam sejarah Islam. Dari suatu golongan yang tadinya sangat kecil lagi lemah  -- serta terus menerus diganggu dan dianiaya  --  Islam telah menjadi suatu kekuatan raksasa di tanah Arab, sebagaimana  firman Allah Swt. sehubungan dengan Thalut (Gideon) dan pasukan kecilnya  ketika menghadapi Jalut dan balatentaranya, firman-Nya:
قَالَ الَّذِیۡنَ یَظُنُّوۡنَ اَنَّہُمۡ مُّلٰقُوا اللّٰہِ  ۙ  کَمۡ مِّنۡ فِئَۃٍ قَلِیۡلَۃٍ غَلَبَتۡ فِئَۃً  کَثِیۡرَۃًۢ بِاِذۡنِ  اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ مَعَ  الصّٰبِرِیۡنَ
Tetapi  orang-orang yang meyakini bahwa sesungguhnya mereka akan menemui Allah  berkata: “Berapa banyak golongan yang sedikit  telah mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah, dan Allah beserta orang-orang yang sabar” (Al-Baqarah [2]:250).

(Bersambung)
ooo

Rujukan: The Holy Quran
Editor    : Malik Ghulam Farid


Pajajaran Anyar,   19 Juli 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar