Bismillāhirrahmānirrahīm
KHAZANAH AL-QURAN
Bab
8
PENGKHIANATAN
SUKU-SUKU YAHUDI MADINAH TERHADAP “PIAGAM
MADINAH” DALAM PERANG KHANDAK (PERANG
PARIT) DI MADINAH & KEGAGALAN TOTAL PASUKAN
PERSEKUTUAN (AL-AHZÂB) DALAM PERANG KHANDAK
Oleh
Ki
Langlang Buana Kusuma
D
|
alam
bagian akhir bab sebelumnya telah
dikemukakan topic: Berbagai Arti Junah, Jurm,
Itsm, dan Dzanb sehubungan
dengan firman Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ اِذَا جَآءَ
نَصۡرُ اللّٰہِ وَ الۡفَتۡحُ ۙ﴿﴾ وَ رَاَیۡتَ النَّاسَ یَدۡخُلُوۡنَ فِیۡ دِیۡنِ اللّٰہِ اَفۡوَاجًا ۙ﴿﴾ فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّکَ
وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ تَوَّابًا ٪﴿﴾
Aku baca dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau
melihat manusia masuk dalam agama Allah
berbondong-bondong, فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ تَوَّابًا -- maka bertasbihlah
dengan memuji Rabb (Tuhan) engkau, dan mohonlah
ampunan-Nya, sesungguhnya Dia
Maha Penerima taubat. (An-Nashr [110]:1-4).
Kenyataannya, bahwa dari keempat
kata junah, jurm, itsm, dan dzanb, yang memiliki arti tambahan
yang sama, tiada sebuah pun dari ketiga kata yang disebut terlebih dahulu (junah,
jurm, itsm), yang dipergunakan dalam Al-Quran mengenai rasul-rasul Allah, menunjukkan, bahwa dzanb tidak mengandung
arti buruk seperti dimiliki ketiga buah kata lainnya.
Kecuali itu, menurut muhawarah Al-Quran
ungkapan dzanbaka, seandainya kata dzanb itu pun dianggap
mengandung arti dosa atau kejahatan, kata itu berarti “dosa-dosa yang dituduhkan seolah engkau
telah melakukannya”; atau “dosa-dosa
yang diperbuat terhadap engkau,” bukan “dosa-dosa
engkau.”
Menurut arti yang terakhir bagi kata dzanb
itu, kata Arab laka dalam ayat ini akan berarti “demi kepentingan engkau.” Di tempat lain dalam Al-Quran
(QS.5:30) ungkapan seperti itu ialah itsmi
(dosaku), berarti “dosa yang
diperbuat terhadapku” bukan berarti “dosaku.”
Hubungan “Kemenangan yang
Nyata” Dengan “Maghfirah Ilahi”
Jadi,
kembali kepada ayat-ayat yang sedang dibahas ini berkenaan pentingnya memohon maghfirah Ilahi (QS.48:1-4) – termasuk para rasul Allah, bahkan Nabi Besar Muhammad saw. -- Allah Swt. berfirman:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ اِنَّا فَتَحۡنَا لَکَ فَتۡحًا مُّبِیۡنًا ۙ﴿﴾ لِّیَغۡفِرَ
لَکَ اللّٰہُ مَا تَقَدَّمَ مِنۡ
ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ وَ یُتِمَّ نِعۡمَتَہٗ عَلَیۡکَ وَ یَہۡدِیَکَ صِرَاطًا مُّسۡتَقِیۡمًا
ۙ﴿﴾ وَّ یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ نَصۡرًا عَزِیۡزًا ﴿﴾
Aku baca dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah memberi engkau satu kemenangan nyata. Supaya Allah melindungi engkau dari
dosa-dosa yang dibuat terhadap engkau di masa lalu dan di masa yang akan datang, dan Dia
menyempurnakan nikmat-Nya atas engkau, dan memberi petunjuk kepada engkau pada jalan yang lurus, dan Allah
akan menolong engkau dengan pertolongan
yang perkasa. (Al-Fath [48]:1-4).
Ayat-ayat itu akan berarti, sebagai akibat kemenangan besar — yaitu Perjanjian
Hudaibiyah — itu, semua tuduhan dosa, kejahatan, dan kesalahan
yang dilemparkan (dituduhkan) musuh-musuh
Nabi Besar Muhammad saw. kepada beliau saw. -- bahwa beliau saw. na’udzubillāhi min dzālik seorang penipu,
pendusta atau tukang mengada-ada kebohongan terhadap Allah dan manusia, dan sebagainya -- akan terbukti
palsu semua, sebab segala macam orang yang mempunyai hubungan dengan para pengikut
beliau saw. akan menjumpai kebenaran serta kesucian mengenai beliau saw. (QS.68:1-7).
Atau,
artinya ialah bahwa “dosa-dosa yang
diperbuat terhadap engkau oleh musuh-musuh engkau akan diampuni demi engkau”.
Dan begitulah yang telah terjadi, ketika Mekkah
jatuh dan orang-orang Arab menerima agama Islam serta dosa mereka diampuni,
sesuai permintaan mereka kepada Nabi Besar Muhammad saw. sebagaimana
yang dilakukan Nabi Yusuf a.s.
terhadap kesalahan
saudara-saudaranya kepada beliau (QS.12:92-94).
Hubungan kalimatnya pun mendukung arti ini,
sebab anugerah kemenangan yang nyata dan penggenapan nikmat Ilahi atas Nabi
Besar Muhammad saw. diisyaratkan
dalam ayat ini dan ayat sebelum ini agaknya tidak mempunyai hubungan apa pun
dengan pengampunan terhadap dosa-dosa, jika dzanb dianggap berarti
dosa.
Kata-kata, “di masa lalu dan di masa yang akan datang”, maksudnya tuduhan-tuduhan yang dilemparkan
kepada Nabi Besar Muhammad saw. di
masa lalu oleh orang-orang Quraisy
dan tuduhan-tuduhan yang akan
dilemparkan terhadap beliau saw. di masa
yang akan datang – termasuk di Akhir
Zaman ini -- oleh musuh-musuh beliau saw. pun akan dielakkan dan Nabi Besar Muhammad saw. akan
terbukti sama sekali suci dari noda itu.
Ada pun janji datangnya pertolongan Ilahi datang dalam bentuk tersebarnya agama Islam secara cepat di tanah Arab sesudah penandatanganan
perjanjian Hudaibiyah, dan Nabi
Besar Muhammad saw. diakui sebagai Kepala Negara satu pemerintah
yang merdeka dan berdaulat.
Pengepungan Umat Islam
di Madinah Oleh Pasukan Persekutuan
Orang-orang Kafir
Dengan demikian semua pujian Allah Swt. dalam Al-Quran mengenai keagungan akhlak dan ruhani
Nabi Besar Muhammad saw. terbukti kebenarannya, sebagaimana firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ
لَکُمۡ فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ
الۡیَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَ ذَکَرَ
اللّٰہَ کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Sungguh dalam
diri Rasulullah benar-benar terdapat
suri teladan yang sebaik-baiknya bagi kamu, yaitu bagi orang yang mengharapkan Allah
dan Hari Akhir, dan bagi yang banyak mengingat Allah. (Al-Ahzāb [33]:22).
Ayat
tersebut merupakan rangkaian dari ayat-ayat sebelumnya (QS.33:10-21) yang menjelaskan mengenai kesetiaan para sahabah r.a. pada saat perang Ahzab atau perang Khandak (perang Parit) – yakni pengepungan kota Madinah oleh pasukan
persekutuan orang-orang musyrik Arabia pimpinan para pemuka kaum kafir Quraisy Mekkah, yang dibantu oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang
munafik Madinah yang yang mengepung
Nabi Besar Muhammad saw. dan umat Islam di Medinah, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اذۡکُرُوۡا نِعۡمَۃَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ اِذۡ جَآءَتۡکُمۡ جُنُوۡدٌ فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ رِیۡحًا وَّ
جُنُوۡدًا لَّمۡ تَرَوۡہَا ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ بَصِیۡرًا ۚ﴿﴾ اِذۡ
جَآءُوۡکُمۡ مِّنۡ
فَوۡقِکُمۡ وَ مِنۡ اَسۡفَلَ
مِنۡکُمۡ وَ اِذۡ زَاغَتِ الۡاَبۡصَارُ وَ بَلَغَتِ الۡقُلُوۡبُ الۡحَنَاجِرَ وَ
تَظُنُّوۡنَ بِاللّٰہِ الظُّنُوۡنَا ﴿﴾ ہُنَالِکَ ابۡتُلِیَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ وَ زُلۡزِلُوۡا
زِلۡزَالًا شَدِیۡدًا ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman,
ingatlah nikmat Allah atas kamu,
ketika datang menyerang kepada kamu
lasykar-lasykar, dan Kami
pun mengirimkan kepada mereka angin taufan dan lasykar-lasykar yang
kamu tidak melihatnya. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
Ketika mereka
datang kepada kamu dari atas kamu serta dari bawah kamu, dan ketika
mata kamu melantur dan hati sampai
tenggorokan, dan kamu berprasangka
terhadap Allah dengan bermacam-macam prasangka. ہُنَالِکَ ابۡتُلِیَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ وَ زُلۡزِلُوۡا
زِلۡزَالًا شَدِیۡدًا -- Di
situlah orang-orang beriman diuji,
dan mereka digoncangkan dengan suatu
goncangan yang dahsyat. (Al-Ahzāb [33]:10-12).
Dengan surah Al-Ahzāb ayat 10 ceritera dimulai tentang Pertempuran Khandak (Pertempuran Parit), yang terjadi dalam tahun
ke-5 Hijrah dan merupakan pertarungan
paling sengit di antara semua pertarungan
yang sampai saat itu dihadapi kaum Muslimin.
Seluruh
bangsa Arab bersatu-padu melawan Islam.
Kabilah Quraisy di Mekkah, sekutu-sekutu mereka, kabilah-kabilah Ghathfan, Asyja’, Murrah, Fararah, Sulaim, Banu Sa’ad, dan Banu Asad, serta kabilah-kabilah penghuni padang pasir Arabia Tengah, dibantu dan dihasut oleh pengkhianat-pengkhianat
— orang-orang Yahudi dan orang-orang munafik — dari Medinah, bergabung dalam suatu persekutuan
besar (al-ahzāb) melawan Nabi
Besar Muhammad saw..
Suatu kekuatan raksasa dengan tenaga berjumlah
sekitar 10.000 sampai 20.000 orang dipasang menghadapi 1.200 orang Muslim (menurut beberapa penulis ada
3.000 orang Muslim, termasuk perempuan
dan anak-anak dipekerjakan menggali parit), dengan perlengkapan dan
perbekalan serba darurat.
Pengepungan kota Medinah itu berlangsung
selama 15 hari sampai 4 minggu. Islam
muncul dari kesulitan yang hebat ini jadi lebih kuat dan orang-orang kafir Quraisy tidak pernah
mampu lagi berderap maju melawan Nabi Besar Muhammad saw. dan Islam.
Peran-serta Pasukan Para Malaikat Dalam Perang
Makna
ayat: فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ رِیۡحًا وَّ جُنُوۡدًا لَّمۡ تَرَوۡہَا -- “Maka Kami pun mengirimkan kepada mereka angin
taufan dan lasykar-lasykar yang kamu
tidak melihatnya.” Ayat ini mengisyaratkan kepada peran pasukan para malaikat berupa munculnya tenaga-tenaga alam — angin,
hujan, dan dingin — membuat orang-orang kafir kepayahan dan melesukan
semangat mereka.
Kata-kata itu dapat juga menunjuk kepada lasykar malaikat yang memasukkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir dan menguatkan
hati serta menambah keberanian
orang-orang Muslim, sebagaimana yang
terjadi dalam perang Badar
(QS.8:10-14).
Sehubungan kerja pasukan para malaikat tersebut, William Muir -- seorang kritikus non-Muslim – berkomentar mengenai kepanikan hebat yang melandan pasukan pertsekutuan:
“Ransum diperoleh dengan susah-payah;
perbekalan makin berkurang, dan unta serta kuda setiap hari mati dalam jumlah
besar, letih dan semangat melesu, dalam keadaan demikian malam pun datang,
dingin dan angin berhembus bagai taufan serta hujan menggasak tanpa ampun
perkemahan-perkemahan tak terlindung. Badai berubah menjadi taufan samun.
Api-api unggun padam, tenda-tenda tertiup hingga roboh, alat-alat masak-memasak
dan perkakas lainnya berantakan” (“Life
of Mohammad”).
Jadi, makna ayat: اِذۡ جَآءُوۡکُمۡ مِّنۡ فَوۡقِکُمۡ وَ مِنۡ اَسۡفَلَ مِنۡکُمۡ -- “Ketika mereka
datang kepada kamu dari atas kamu serta dari bawah kamu,“
menggambarkan ketika orang-orang kafir mengepung orang-orang Muslim dari setiap penjuru — dari
tempat-tempat ketinggian Medinah dan
begitu juga dari dataran-dataran rendah.
Isyarat dalam kata-kata وَ اِذۡ زَاغَتِ الۡاَبۡصَارُ وَ بَلَغَتِ الۡقُلُوۡبُ الۡحَنَاجِرَ -- “dan ketika mata kamu melantur dan hati sampai tenggorokan, dan kamu berprasangka terhadap Allah dengan
bermacam-macam prasangka” dan وَ تَظُنُّوۡنَ بِاللّٰہِ الظُّنُوۡنَا -- “dan kamu berprasangka terhadap Allah
dengan bermacam-macam prasangka” ditujukan kepada kaum munafikin -- dan bukan
kepada orang-orang Muslim yang tulus dan sabar -- sebagaimana dikemukakan firman Allah Swt.
berikut ini:
وَ اِذۡ
یَقُوۡلُ الۡمُنٰفِقُوۡنَ وَ الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ مَّا وَعَدَنَا
اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗۤ اِلَّا غُرُوۡرًا ﴿﴾ وَ اِذۡ قَالَتۡ
طَّآئِفَۃٌ مِّنۡہُمۡ یٰۤاَہۡلَ
یَثۡرِبَ لَا مُقَامَ لَکُمۡ
فَارۡجِعُوۡا ۚ وَ یَسۡتَاۡذِنُ فَرِیۡقٌ مِّنۡہُمُ النَّبِیَّ یَقُوۡلُوۡنَ اِنَّ
بُیُوۡتَنَا عَوۡرَۃٌ ؕۛ وَ مَا ہِیَ بِعَوۡرَۃٍ ۚۛ اِنۡ یُّرِیۡدُوۡنَ اِلَّا
فِرَارًا﴿﴾ وَ لَوۡ دُخِلَتۡ عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ اَقۡطَارِہَا ثُمَّ سُئِلُوا
الۡفِتۡنَۃَ لَاٰتَوۡہَا وَ مَا
تَلَبَّثُوۡا بِہَاۤ اِلَّا یَسِیۡرًا ﴿﴾ وَ لَقَدۡ کَانُوۡا عَاہَدُوا اللّٰہَ مِنۡ قَبۡلُ لَا یُوَلُّوۡنَ
الۡاَدۡبَارَ ؕ وَ کَانَ عَہۡدُ اللّٰہِ مَسۡـُٔوۡلًا ﴿﴾
Dan ingatlah ketika orang-orang
munafik dan mereka yang di dalam
hatinya ada penyakit berkata: “Allah
dan Rasul-Nya sekali-kali tidak
menjanjikan kepada kami kecuali menipu.”
Dan ketika segolongan dari mereka
berkata: “Hai, orang-orang Yathrib, kamu mungkin tidak dapat bertahan terhadap musuh karena itu kembalilah kamu.” Dan segolongan dari mereka meminta izin kepada Nabi dengan berkata: “Sesungguhnya rumah kami terbuka” padahal rumah mereka itu sebenarnya tidak terbuka, mereka hanya berusaha
melarikan diri. Dan seandainya musuh
memasuki kota Medinah dari daerah-daerah
sekitarnya, kemudian mereka diminta bergabung dalam kerusuhan
terhadap kaum Muslimin pasti mereka akan melakukannya, dan mereka seka-li-kali tidak akan tinggal di
Medinah melainkan sebentar saja.
وَ لَقَدۡ
کَانُوۡا عَاہَدُوا اللّٰہَ مِنۡ قَبۡلُ لَا یُوَلُّوۡنَ الۡاَدۡبَارَ -- Dan
sungguh mereka sebelum itu benar-benar
telah mengikat janji dengan Allah bahwa mereka
tidak akan memalingkan punggungnya. وَ کَانَ عَہۡدُ اللّٰہِ مَسۡـُٔوۡلًا -- Dan perjanjian yang diadakan dengan Allah akan diminta
pertanggung-jawaban. (Al-Ahzāb [33]:13-16).
Khandak Mengkhianati “Piagam Madinah”
Makna ayat: وَ اِذۡ قَالَتۡ
طَّآئِفَۃٌ مِّنۡہُمۡ یٰۤاَہۡلَ
یَثۡرِبَ لَا مُقَامَ لَکُمۡ
فَارۡجِعُوۡا -- “Hai,
orang-orang Yathrib, kamu
mungkin tidak dapat bertahan terhadap musuh karena itu kembalilah kamu.” Kata Yatsrib adalah nama kota Madinah sebelum Nabi Besar Muhammad saw. dan para sahabat
r.a. Hijrah dari Mekkah ke Yatsrib (Madinah). Kata-kata فَارۡجِعُوۡا -- “maka kembalilah”
berarti, “Kembalilah kepada kepercayaanmu yang semula,” atau, “Pulanglah ke
rumah kalian.”
Makna ayat
لَاٰتَوۡہَا وَ
مَا تَلَبَّثُوۡا بِہَاۤ اِلَّا یَسِیۡرًا – “dan mereka sekali-kali tidak akan tinggal di
Medinah melainkan sebentar saja.” Ayat sebelumnya bermaksud mengatakan bahwa andaikata
ada musuh masuk ke Medinah dari arah lain dan orang-orang munafik diajak kerjasama
dengan dia melawan orang-orang Muslim,
niscaya mereka dengan senang hati dan
dengan segala suka hati melakukannya,
tetapi dengan akibat bahwa mereka
akan “diusir dari Madinah” oleh Nabi
Besar Muhammad saw. (QS.59:3-5).
Kata-kata
وَ لَقَدۡ
کَانُوۡا عَاہَدُوا اللّٰہَ مِنۡ قَبۡلُ لَا یُوَلُّوۡنَ الۡاَدۡبَارَ ؕ وَ کَانَ
عَہۡدُ اللّٰہِ مَسۡـُٔوۡلًا -- “Dan sungguh mereka sebelum itu benar-benar telah mengikat janji dengan Allah bahwa mereka
tidak akan memalingkan punggungnya. Dan perjanjian yang diadakan dengan
Allah akan diminta
pertanggung-jawaban“ Ayat tersebut menunjuk kepada perjanjian yang telah diadakan orang-orang Yahudi di Madinah dengan Nabi Besar Muhammad saw. – sebagaimana yang
tercantum dalam “Piagam
Madinah” -- bahwa mereka akan berperang
di pihak beliau saw. melawan musuh
mana pun yang menyerang Medinah,
namun terbukti berbagai suku kaum Yahudi di Madinah telah mengkhianati perjanjian tersebut.
Selanjutnya
Allah Swt. berfirman bahwa “pengkhianatan” yang dilakukan oleh suku-suku Yahudi di Madinah dan orang-orang munafik Madinah sama sekali
tidak akan merugikan pihak Nabi Besar Muhammad saw. dan umat Islam, baik
golongan Muhajirin mau pun golongan Anshar,
firman-Nya:
قُلۡ لَّنۡ
یَّنۡفَعَکُمُ الۡفِرَارُ اِنۡ فَرَرۡتُمۡ
مِّنَ الۡمَوۡتِ اَوِ الۡقَتۡلِ وَ اِذًا لَّا تُمَتَّعُوۡنَ اِلَّا
قَلِیۡلًا ﴿﴾ قُلۡ مَنۡ ذَا
الَّذِیۡ یَعۡصِمُکُمۡ مِّنَ اللّٰہِ اِنۡ
اَرَادَ بِکُمۡ سُوۡٓءًا اَوۡ اَرَادَ بِکُمۡ رَحۡمَۃً ؕ وَ لَا یَجِدُوۡنَ لَہُمۡ مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَلِیًّا وَّ لَا
نَصِیۡرًا ﴿﴾ قَدۡ یَعۡلَمُ
اللّٰہُ الۡمُعَوِّقِیۡنَ مِنۡکُمۡ وَ
الۡقَآئِلِیۡنَ لِاِخۡوَانِہِمۡ ہَلُمَّ
اِلَیۡنَا ۚ وَ لَا یَاۡتُوۡنَ
الۡبَاۡسَ اِلَّا قَلِیۡلًا ﴿ۙ﴾
Katakanlah: ”Tidak akan berfaedah bagi kamu Jika kamu melarikan diri dari kematian atau terbunuh, dan meskipun demikian kamu tidak akan diberi manfaat kecuali
sedikit.” Katakanlah: ”Siapakah dapat menyelamatkan kamu dari Allah jika Dia
berkehendak menimpakan keburukan kepada kamu, atau jika Dia berkehendak memberi rahmat kepada kamu?” Dan mereka tidak akan mendapatkan seorang
pelindung dan tidak pula seorang
penolong selain Allah. Sungguh Allah
mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi dari antara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudara mereka: “Datanglah kepada kami,” dan mereka tidak datang untuk berperang
kecuali sebentar. (Al-Ahzāb
[33]:17-19).
Kepengecutan
Orang-orang Munafik Madinah
Makna ungkapan “dan mereka tidak datang untuk berperang
kecuali sebentar“ mengisyaratkan kepada kepengecutan
orang-orang munafik, bahwa kalau pun
mereka terpaksa ikut berperang tetapi
mereka segera akan meninggalkan pertempuran karena takut
mati, selanjutnya Allah Swt. berfirman:
اَشِحَّۃً عَلَیۡکُمۡ ۚۖ فَاِذَا جَآءَ الۡخَوۡفُ
رَاَیۡتَہُمۡ یَنۡظُرُوۡنَ اِلَیۡکَ تَدُوۡرُ اَعۡیُنُہُمۡ کَالَّذِیۡ یُغۡشٰی
عَلَیۡہِ مِنَ الۡمَوۡتِ ۚ فَاِذَا ذَہَبَ
الۡخَوۡفُ سَلَقُوۡکُمۡ بِاَلۡسِنَۃٍ حِدَادٍ
اَشِحَّۃً عَلَی الۡخَیۡرِ ؕ اُولٰٓئِکَ لَمۡ یُؤۡمِنُوۡا فَاَحۡبَطَ
اللّٰہُ اَعۡمَالَہُمۡ ؕ وَ کَانَ ذٰلِکَ
عَلَی اللّٰہِ یَسِیۡرًا ﴿﴾
Mereka kikir kepada kamu. Apabila ketakutan datang engkau melihat mereka memandang kepada engkau dengan
matanya berputar-putar seperti orang yang menjadi pingsan karena dihampiri
kematian. Tetapi apabila ketakutan
berlalu, mereka menyakiti engkau
dengan lidah yang tajam, karena mereka
sangat kikir mengenai kebaikan yang datang kepada engkau. Mereka tidak beriman
maka Allah telah menjadikan amal
mereka sia-sia, dan yang demikian
itu sangat mudah bagi Allah. یَحۡسَبُوۡنَ الۡاَحۡزَابَ لَمۡ
یَذۡہَبُوۡا ۚ وَ اِنۡ یَّاۡتِ الۡاَحۡزَابُ یَوَدُّوۡا لَوۡ اَنَّہُمۡ
بَادُوۡنَ فِی الۡاَعۡرَابِ یَسۡاَلُوۡنَ عَنۡ اَنۡۢبَآئِکُمۡ -- Mereka menyangka lasykar-lasykar persekutuan itu belum pergi, dan andaikata lasykar-lasykar persekutuan itu datang
lagi, mereka menghendaki berada
di antara orang-orang Arab padang pasir
dan menanyakan
berita mengenai kamu. وَ
لَوۡ کَانُوۡا فِیۡکُمۡ مَّا قٰتَلُوۡۤا
اِلَّا قَلِیۡلًا -- Dan seandainya mereka
berada di antara kamu, mereka sama sekali
tidak akan ikut berperang. (Al-Ahzāb [33]:20).
Syuh
dalam ayat اَشِحَّۃً عَلَیۡکُمۡ berarti kebakhilan dan ketamakan;
ungkapan itu berarti; (a) bahwa orang-orang
munafik sangat bakhil (kikir) dalam
memberikan bantuan kepada orang-orang
Muslim; (b) bahwa mereka
sangat tamak mendapatkan uang, dan memaki-maki orang-orang Muslim
jika bila ketamakan mereka tidak terpenuhi. Selanjutnya Allah Swt.
berfirman:
یَحۡسَبُوۡنَ الۡاَحۡزَابَ لَمۡ
یَذۡہَبُوۡا ۚ وَ اِنۡ یَّاۡتِ الۡاَحۡزَابُ یَوَدُّوۡا لَوۡ اَنَّہُمۡ
بَادُوۡنَ فِی الۡاَعۡرَابِ یَسۡاَلُوۡنَ عَنۡ اَنۡۢبَآئِکُمۡ ؕ وَ لَوۡ کَانُوۡا
فِیۡکُمۡ مَّا قٰتَلُوۡۤا اِلَّا قَلِیۡلًا ﴿٪﴾
Mereka menyangka lasykar-lasykar persekutuan itu
belum pergi, dan andaikata
lasykar-lasykar persekutuan itu datang lagi, mereka menghendaki berada di antara orang-orang Arab padang pasir, dan menanyakan berita mengenai kamu. Dan seandainya mereka berada di antara kamu,
mereka sama sekali tidak akan ikut berperang.
(Al-Ahzāb [33]:21).
Dengan ayat ke-13 gambaran tentang alam pikiran
orang-orang munafik, pada khususnya ketika mereka berhadapan dengan bahaya telah mulai diberikan, firman-Nya:
وَ اِذۡ
یَقُوۡلُ الۡمُنٰفِقُوۡنَ وَ الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ مَّا وَعَدَنَا
اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗۤ اِلَّا غُرُوۡرًا ﴿﴾
Dan ingatlah ketika orang-orang
munafik dan mereka yang di dalam
hatinya ada penyakit berkata: “Allah
dan Rasul-Nya sekali-kali tidak
menjanjikan kepada kami kecuali menipu,”
(Al-Ahzāb
[33]:13).
Sikap Ksatria Para Sahabat Nabi Besar Muhammad Saw. Dalam Perang Khandak
Gambaran itu telah menjadi lengkap dengan
ayat ini (QS.33:21). Orang-orang munafik
itu pengecut dan mudah putus-asa. Mereka pembohong dan tidak mempunyai rasa
hormat terhadap kekhidmatan janji
(perjanjian) yang diucapkan mereka. Mereka khianat,
tidak setia, dan bermuka-dua. Mereka bakhil
(kikir) dan tamak.
Pendek kata, keadaan orang-orang munafik benar-benar bertolak belakang dengan orang-orang
beriman sejati dalam watak mereka,
sebagaimana digambarkan dalam firman-Nya berikut ini:
وَ لَمَّا
رَاَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ الۡاَحۡزَابَ ۙ
قَالُوۡا ہٰذَا مَا وَعَدَنَا اللّٰہُ وَ
رَسُوۡلُہٗ وَ صَدَقَ اللّٰہُ وَ
رَسُوۡلُہٗ ۫ وَ مَا زَادَہُمۡ اِلَّاۤ
اِیۡمَانًا وَّ تَسۡلِیۡمًا ﴿ؕ﴾ مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ رِجَالٌ
صَدَقُوۡا مَا عَاہَدُوا اللّٰہَ عَلَیۡہِ ۚ فَمِنۡہُمۡ مَّنۡ قَضٰی نَحۡبَہٗ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّنۡتَظِرُ ۫ۖ وَ مَا
بَدَّلُوۡا تَبۡدِیۡلًا ﴿ۙ﴾ لِّیَجۡزِیَ اللّٰہُ
الصّٰدِقِیۡنَ بِصِدۡقِہِمۡ وَ یُعَذِّبَ الۡمُنٰفِقِیۡنَ اِنۡ شَآءَ
اَوۡ یَتُوۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ کَانَ غَفُوۡرًا رَّحِیۡمًا ﴿ۚ﴾ وَ رَدَّ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا
بِغَیۡظِہِمۡ لَمۡ یَنَالُوۡا خَیۡرًا ؕ
وَ کَفَی اللّٰہُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ
الۡقِتَالَ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ قَوِیًّا عَزِیۡزًا ﴿ۚ﴾
Dan ketika orang-orang beriman melihat lasykar-lasykar persekutuan mereka berkata: “Inilah yang telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami, dan Allah
serta Rasul-Nya telah mengatakan yang benar.” وَ مَا زَادَہُمۡ اِلَّاۤ اِیۡمَانًا وَّ
تَسۡلِیۡمًا -- Dan hal
itu tidak menambah kepada mereka kecuali keimanan dan kepatuhan. مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ رِجَالٌ صَدَقُوۡا مَا
عَاہَدُوا اللّٰہَ عَلَیۡہِ -- Di
antara orang-orang yang beriman
ada orang-orang
yang telah menggenapi apa yang
dijanjikannya kepada Allah, فَمِنۡہُمۡ مَّنۡ قَضٰی
نَحۡبَہٗ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّنۡتَظِرُ
۫ۖ وَ مَا بَدَّلُوۡا تَبۡدِیۡلًا -- maka dari antara mereka ada yang telah
menyempurnakan sumpahnya, yakni mati syahid, dan di
antara mereka ada yang masih menunggu, dan mereka sekali-kali tidak mengubah sedikit pun. لِّیَجۡزِیَ اللّٰہُ الصّٰدِقِیۡنَ بِصِدۡقِہِمۡ وَ یُعَذِّبَ
الۡمُنٰفِقِیۡنَ اِنۡ شَآءَ اَوۡ یَتُوۡبَ عَلَیۡہِمۡ -- Supaya Allah mengganjar orang-orang yang benar itu atas kebenaran mereka, dan mengazab orang-orang munafik jika Dia menghendaki, atau menerima taubat mereka. اِنَّ اللّٰہَ کَانَ غَفُوۡرًا رَّحِیۡمًا -- Sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun, Maha
Penyayang. وَ رَدَّ
اللّٰہُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا بِغَیۡظِہِمۡ
لَمۡ یَنَالُوۡا خَیۡرًا ؕ -- Dan Allah
telah mengembalikan orang-orang kafir dalam kemarahan mereka, mereka tidak
memperoleh kebaikan apa pun. وَ کَفَی اللّٰہُ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ الۡقِتَالَ ؕ وَ کَانَ
اللّٰہُ قَوِیًّا عَزِیۡزًا -- Dan Allah mencukupi orang-orang beriman dalam
perang itu. Dan Allah Maha Kuat, Maha
Perkasa. (Al-Ahzāb [22]:23-26).
Isyarat ayat: قَالُوۡا ہٰذَا مَا وَعَدَنَا اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗ
وَ صَدَقَ اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہ -- Mereka berkata: “Inilah
yang telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya
kepada kami, dan Allah
serta Rasul-Nya telah mengatakan yang benar” ditujukan kepada kabar gaib tentang kekalahan
lasykar kafir dan kemenangan Islam
(QS.38:12 dan QS.54:46).
Ayat selanjutnya:
وَ مَا زَادَہُمۡ اِلَّاۤ اِیۡمَانًا وَّ
تَسۡلِیۡمًا -- “Dan hal
itu tidak menambah kepada mereka kecuali keimanan dan kepatuhan” merupakan kenang-kenangan
besar terhadap kesetiaan, keikhlasan dan kegigihan dalam iman para
pengikut sejati Nabi Besar Muhammad
saw..
Kaum Kafir Quraisy
Pulang Ke Mekkah Membawa Kegagalan Total
Tidak
pernah para pengikut nabi Allah yang mana jua pun -- termasuk para pengikut Nabi
Musa a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. (QS.5:21-27 & 112-116 5:) -- menerima dari
Allah Swt. “surat keterangan bukti kelakukan baik dan kesetiaan” seperti itu.
Para sahabat
Nabi Besar Muhammad saw. tersebut, seperti halnya wujud junjungan mereka tidak ada tara bandingannya
di antara nabi-nabi Allah dalam
menunaikan tugas beliau saw. sebagai nabi Allah, begitu pula para sahabat beliau saw. tiada bandingannya dalam memenuhi peranan yang diserahkan kepada mereka (QS.2:144; QS.3:111).
Makna
ayat selanjutnya: وَ رَدَّ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا
بِغَیۡظِہِمۡ لَمۡ یَنَالُوۡا خَیۡرًا ؕ -- Dan Allah telah mengembalikan orang-orang kafir
dalam kemarahan mereka, mereka tidak memperoleh kebaikan apa pun. وَ کَفَی اللّٰہُ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ الۡقِتَالَ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ
قَوِیًّا عَزِیۡزًا -- Dan Allah
mencukupi orang-orang beriman dalam perang
itu. Dan Allah Maha Kuat, Maha Perkasa”. Yakni Allah Swt. menangkis
serangan-serangan lasykar persekutuan
orang-orang Arab. Mereka terpaksa membatalkan
pengepungan dan, dengan hati kesal
dan marah atas kegagalan mutlak dalam usaha mereka yang rendah dan buruk
itu, mereka pulang ke rumah mereka dan tidak pernah mempunyai kemampuan lagi menyerang Medinah.
Sejak kekalahan
orang-orang kafir Quraisy Mekkah
dalam perang Ahzab tersebut inisiatip
beralih ke tangan orang-orang Islam.
Pertempuran Khandak menandai titik-balik dalam sejarah Islam. Dari suatu golongan
yang tadinya sangat kecil lagi lemah
-- serta terus menerus diganggu
dan dianiaya -- Islam telah menjadi suatu kekuatan raksasa di tanah Arab,
sebagaimana firman Allah Swt. sehubungan
dengan Thalut (Gideon) dan pasukan kecilnya ketika menghadapi Jalut dan balatentaranya,
firman-Nya:
قَالَ الَّذِیۡنَ یَظُنُّوۡنَ اَنَّہُمۡ مُّلٰقُوا اللّٰہِ ۙ کَمۡ
مِّنۡ فِئَۃٍ قَلِیۡلَۃٍ غَلَبَتۡ فِئَۃً
کَثِیۡرَۃًۢ بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ وَ
اللّٰہُ مَعَ الصّٰبِرِیۡنَ
Tetapi orang-orang
yang meyakini bahwa sesungguhnya
mereka akan menemui Allah berkata:
“Berapa banyak golongan yang sedikit telah mengalahkan
golongan yang banyak dengan izin
Allah, dan Allah beserta orang-orang
yang sabar” (Al-Baqarah [2]:250).
(Bersambung)
ooo
Rujukan: The
Holy Quran
Editor : Malik
Ghulam Farid
Pajajaran Anyar, 19 Juli 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar