Bismillāhirrahmānirrahīm
KHAZANAH
AL-QURAN
Bab
6
HUBUNGAN
IMAN DAN AMAL SHALEH DENGAN KEBUN-KEBUN
YANG DI BAWAHNYA MENGALIR SUNGAI-SUNGAI
& HAKIKAT “BIDADARI SURGAWI” DAN DOA CARA MENJADIKAN “BIDADARI
SURGAWI”
Oleh
Ki
Langlang Buana Kusuma
D
|
alam
bagian akhir bab sebelumnya telah
dikemukakan topic: Hubungan Iman
dan Amal Shaleh Dengan Kebun-kebun
yang di Bawahnya Mengalir Sungai-sungai
sehubungan firman Allah Swt. dengan perumpamaan pengorbanan harta
di jalan Allah yang sia-sia dan yang maqbul
(diterima) Allah Swt., firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تُبۡطِلُوۡا صَدَقٰتِکُمۡ بِالۡمَنِّ وَ الۡاَذٰی ۙ
کَالَّذِیۡ یُنۡفِقُ مَالَہٗ رِئَآءَ النَّاسِ وَ لَا یُؤۡمِنُ بِاللّٰہِ وَ
الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِؕ فَمَثَلُہٗ کَمَثَلِ
صَفۡوَانٍ عَلَیۡہِ تُرَابٌ فَاَصَابَہٗ وَابِلٌ فَتَرَکَہٗ صَلۡدًا ؕ لَا یَقۡدِرُوۡنَ عَلٰی شَیۡءٍ مِّمَّا کَسَبُوۡا ؕ
وَ اللّٰہُ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ
الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membuat sedekah-sedekahmu sia-sia dengan menyebut-nyebut jasa baik dan sikap menyakiti,
seperti orang yang membelanjakan hartanya untuk
dilihat manusia,
sedangkan ia tidak beriman kepada Allah dan
Hari Kemudian, فَمَثَلُہٗ
کَمَثَلِ صَفۡوَانٍ عَلَیۡہِ تُرَابٌ فَاَصَابَہٗ وَابِلٌ فَتَرَکَہٗ
صَلۡدًا -- maka
perumpamaannya seperti misal batu licin
yang di atasnya ada tanah, lalu hujan lebat menimpanya dan meninggalkannya
keras dan licin. لَا یَقۡدِرُوۡنَ
عَلٰی شَیۡءٍ مِّمَّا کَسَبُوۡا ؕ وَ اللّٰہُ
لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الۡکٰفِرِیۡنَ -- Mereka
tidak akan memperoleh sesuatu dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum
yang kafir (Al-Baqarah [2]:265).
Mengenai pengorbanan harta di jalan Allah yang maqbul (diterima) Allah Swt. berfirman:
وَ مَثَلُ
الَّذِیۡنَ یُنۡفِقُوۡنَ اَمۡوَالَہُمُ ابۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِ اللّٰہِ وَ
تَثۡبِیۡتًا مِّنۡ اَنۡفُسِہِمۡ کَمَثَلِ جَنَّۃٍۭ بِرَبۡوَۃٍ اَصَابَہَا وَابِلٌ
فَاٰتَتۡ اُکُلَہَا ضِعۡفَیۡنِ ۚ فَاِنۡ لَّمۡ یُصِبۡہَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ؕ وَ
اللّٰہُ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ بَصِیۡرٌ ﴿﴾
Dan perumpamaan
orang-orang yang membelanjakan
harta mereka demi mencari keridhaan
Allah dan memperteguh jiwa mereka adalah seperti perumpamaan kebun yang terletak di tempat tinggi,
hujan lebat menimpanya lalu menghasilkan buahnya dua kali lipat,
tetapi jika hujan lebat tidak pernah menimpanya maka hujan
gerimis pun memadai, dan Allah
Maha Melihat apa pun yang kamu kerjakan (Al-Baqarah [2]:266).
Tidak Ada yang Mengetahui Hakikat
Kehidupan Akhirat yang Sebenarnya
Jadi, demikian sempurna berbagai petunjuk
dan falsafah serta hikmah
mendalam yang terkandung dalam Kitab
suci Al-Quran. Itulah sebabnya Allah
Swt. telah menggambarkan surga
dengan perumpamaan “kebun-kebun
yang dibawahnya mengalir sungai-sungai”,
firman-Nya:
وَ بَشِّرِ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ
تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ؕ کُلَّمَا
رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا ۙ قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا
مِنۡ قَبۡلُ ۙ وَ اُتُوۡا بِہٖ
مُتَشَابِہًا ؕ وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ ٭ۙ وَّ ہُمۡ
فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa sesungguhnya untuk
mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.
Setiap kali diberikan kepada mereka
buah-buahan dari kebun itu sebagai rezeki, mereka berkata: “Inilah yang telah direzekikan kepada kami
sebelumnya”, akan diberikan kepada
mereka yang serupa dengannya, dan bagi
mereka di dalamnya ada jodoh-jodoh
yang suci, dan mereka akan kekal di dalamnya. (Al-Baqarah
[2]:26).
Ayat ini memberikan gambaran singkat atau perumpamaan mengenai
ganjaran yang akan diperoleh orang-orang beriman di akhirat. Para kritikus Islam telah
melancarkan berbagai keberatan atas
lukisan (gambaran) itu. Kecaman-kecaman itu disebabkan oleh karena sama sekali,
tidak memahami ajaran Islam tentang nikmat-nikmat surgawi.
Al-Quran dengan tegas
mengemukakan bahwa ada di luar kemampuan
alam pikiran manusia untuk dapat mengenal hakikatnya (QS.32:18). Nabi Besar
Muhammad saw. diriwayatkan
pernah bersabda: “Tidak ada mata telah
melihatnya, tidak ada pula telinga telah mendengarnya, dan tidak pula pikiran
manusia dapat mengirakannya” (Bukhari),
firman-Nya:
فَلَا تَعۡلَمُ
نَفۡسٌ مَّاۤ اُخۡفِیَ لَہُمۡ مِّنۡ
قُرَّۃِ اَعۡیُنٍ ۚ جَزَآءًۢ بِمَا کَانُوۡا
یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾ اَفَمَنۡ کَانَ مُؤۡمِنًا کَمَنۡ کَانَ فَاسِقًا ؕؔ لَا یَسۡتَوٗنَ﴿﴾ اَمَّا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا
الصّٰلِحٰتِ فَلَہُمۡ جَنّٰتُ الۡمَاۡوٰی ۫ نُزُلًۢا بِمَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ
﴿﴾
Maka tidak ada sesuatu jiwa mengetahui
apa yang tersembunyi bagi mereka dari penyejuk mata sebagai balasan
terhadap apa yang telah mereka kerjakan. Maka apakah
seorang yang beriman sama seperti orang fasik? Mereka tidak
sama. Adapun orang-orang
yang beriman dan beramal saleh,
maka bagi mereka ada surga-surga tempat
tinggal, sebagai jamuan untuk apa
yang telah mereka kerjakan. (As-Sajdah [32]:18-20).
Al-Quran dan Hadits itu
menunjukkan bahwa nikmat kehidupan
ukhrawi tidak akan bersifat kebendaan
seperti di dunia ini. Nikmat-nikmat itu akan merupakan penjelmaan-keruhanian dari perbuatan
dan tingkah-laku baik (amal shaleh) yang
telah dikerjakan orang-orang bertakwa
di alam dunia ini.
Kata-kata yang dipergunakan untuk
menggambarkan nikmat-nikmat surgawi
dalam Al-Quran telah dipakai
hanya dalam arti kiasan. Ayat yang
sekarang pun dapat berarti bahwa karunia
dan nikmat Ilahi yang akan
dilimpahkan kepada orang-orang beriman yang bertakwa
di alam akhirat bahkan jauh lebih baik dan jauh lebih berlimpah-limpah dari yang dikhayalkan atau dibayangkan.
Nikmat-nikmat surgawi itu akan berada
jauh di luar batas jangkauan daya cipta
manusia.
Aktifitas Dalam Mimpi
Dengan sendirinya timbul
pertanyaan: Mengapa nikmat-nikmat surga diberi nama
yang biasa dipakai untuk benda-benda
di bumi ini? Hal demikian adalah karena seruan
Al-Quran itu tidak hanya semata-mata tertuju kepada orang-orang yang maju dalam bidang ilmu, oleh karena itu Al-Quran mempergunakan kata-kata sederhana yang dapat dipahami semua orang.
Dalam menggambarkan karunia Ilahi, Al-Quran telah
mempergunakan nama benda yang pada
umumnya dipandang baik di bumi
ini, dan orang-orang beriman diajari bahwa mereka akan mendapat hal-hal itu semuanya dalam bentuk yang lebih baik di alam yang akan
datang (akhirat).
Untuk menjelaskan perbedaan penting itulah maka dalam kiasan (perumpamaan) tersebut dipakai kata-kata
yang telah dikenal, selain itu tidak ada persamaan antara kesenangan
duniawi dengan karunia-karunia
ukhrawi. Tambahan pula menurut ajaran Islam
(Al-Quran), kehidupan di akhirat itu tidak
ruhaniah dalam artian bahwa hanya akan terdiri atas keadaan ruhani, bahkan dalam kehidupan
di akhirat pun ruh manusia akan
mempunyai semacam tubuh tetapi tubuh itu tidak bersifat benda seperti tubuh jasmani di dunia ini.
Orang dapat membuat tanggapan
terhadap keadaan itu dari gejala-gejala
mimpi. Pemandangan-pemandangan yang disaksikan
dan dialami
orang dalam mimpi tidak dapat disebut keadaan
pikiran atau ruhani belaka, sebab
dalam keadaan mimpi itu pun ia punya jisim
dan kadang-kadang ia mendapatkan dirinya berada dalam kebun-kebun dengan sungainya,
makan buah-buahan, dan minum susu.
Sukar untuk mengatakan bahwa isi mimpi itu hanya keadaan alam pikiran belaka. Susu yang dinikmati
dalam mimpi tersebut tidak ayal lagi
merupakan pengalaman yang
sungguh-sungguh, tetapi tidak ada seorang pun yang dapat mengatakan bahwa minuman
itu susu biasa yang ada di dunia ini
dan diminumnya.
Kenikmatan dan Siksaan di Akhirat
Berlipat-ganda
Nikmat-nikmat ruhani kehidupan di akhirat bukan akan berupa
hanya penyuguhan subyektif
dari anugerah Allah Swt. yang
kita nikmati di dunia ini, bahkan sebaliknya,
bahwa justru apa yang kita peroleh di dunia
ini hanyalah gambaran dari anugerah nyata dan benar dari Allah Swt. yang
akan dijumpai orang di akhirat. Yakni
api, air, buah-buahan dan segala sesuatu yang hakiki adalah di akhirat,
bukan yang ada di dunia ini.
Itulah Allah Swt. dalam berbagai
surah Al-Quran – juga dalam berbagai hadits
shahih -- menyatakan bahwa kenikmatan mau pun siksaan yang akan dialmi manusia di akhirat jauh berlipat-ganda kenikmatannya atau penderitaannya dibandingkan dengan kenikmatan dan siksaan di
dalam kehidupan di dunia ini, firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
فَذَکِّرۡ اِنۡ
نَّفَعَتِ الذِّکۡرٰی ؕ﴿﴾ سَیَذَّکَّرُ مَنۡ یَّخۡشٰی ﴿ۙ﴾ وَ
یَتَجَنَّبُہَا الۡاَشۡقَی ﴿ۙ﴾ الَّذِیۡ یَصۡلَی النَّارَ الۡکُبۡرٰی ﴿ۚ﴾ ثُمَّ
لَا یَمُوۡتُ فِیۡہَا وَ لَا یَحۡیٰی ﴿ؕ﴾ قَدۡ
اَفۡلَحَ مَنۡ تَزَکّٰی ﴿ۙ﴾ وَ ذَکَرَ اسۡمَ رَبِّہٖ فَصَلّٰی ﴿ؕ﴾ بَلۡ
تُؤۡثِرُوۡنَ الۡحَیٰوۃَ
الدُّنۡیَا ﴿۫ۖ﴾ وَ الۡاٰخِرَۃُ خَیۡرٌ وَّ اَبۡقٰی ﴿ؕ﴾ اِنَّ ہٰذَا لَفِی الصُّحُفِ
الۡاُوۡلٰی ﴿ۙ﴾ صُحُفِ
اِبۡرٰہِیۡمَ وَ مُوۡسٰی ﴿٪﴾
Maka berilah nasihat sesungguhnya nasihat itu bermanfaat. Orang yang takut kepada Allah segera
akan mengambil pelajaran, sedangkan
orang yang malang akan menjauhinya, yaitu orang yang akan memasuki Api
yang besar. Kemudian ia tidak akan mati di dalamnya dan tidak pula hidup. Sungguh berbahagialah
orang yang mensucikan diri, dan mengingat
nama Rabb-nya (Tuhan-nya) lalu mendirikan shalat. بَلۡ
تُؤۡثِرُوۡنَ الۡحَیٰوۃَ
الدُّنۡیَا -- Tetapi kamu
mendahulukan kehidupan dunia, وَ الۡاٰخِرَۃُ خَیۡرٌ وَّ اَبۡقٰی -- padahal akhirat
itu lebih baik dan lebih kekal. اِنَّ ہٰذَا
لَفِی الصُّحُفِ الۡاُوۡلٰی -- Sesungguhnya inilah yang diajarkan dalam Kitab-kitab terdahulu, صُحُفِ اِبۡرٰہِیۡمَ وَ مُوۡسٰی -- Kitab-kitab
Ibrahim dan Musa. (Al-A’lā
[87]:10-20).
Makna ayat “Tetapi kamu mendahulukan kehidupan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan lebih
kekal. Sesungguhnya inilah
yang diajarkan dalam
Kitab-kitab terda-hulu, kitab-kitab
Ibrahim dan Musa. ” Oleh karena asas-asas pokok mengenai tiap-tiap agama itu sama, maka ajaran yang tersebut dalam ayat-ayat
yang mendahuluinya terdapat pula dalam Kitab-kitab
suci Nabi Musa a.s. dan
Nabi Ibrahim a.s..
Ayat ini dapat pula
berarti bahwa nubuatan mengenai
kemunculan seorang nabi besar, yang
akan memberikan kepada dunia Amanat Ilahi
terakhir serta memberikan ajaran
yang paling sempurna – yakni Nabi
Besar Muhammad saw. dan wahyu Al-Quran
-- terdapat dalam Kitab-kitab suci Nabi Musa a.s. dan Nabi Ibrahim a.s.. (Ulangan 18:18 -19 dan Ulangan
33:2).
Falsafah Perumpamaan Surga
Jadi, kembali kepada
masalah perumpamaan gambaran
kehidupan surgawi dalam firman-Nya:
وَ بَشِّرِ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ
تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ؕ کُلَّمَا
رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا ۙ قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا
مِنۡ قَبۡلُ ۙ وَ اُتُوۡا بِہٖ
مُتَشَابِہًا ؕ وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ ٭ۙ وَّ ہُمۡ
فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa sesungguhnya untuk
mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.
Setiap kali diberikan kepada mereka buah-buahan
dari kebun itu sebagai rezeki, mereka berkata: “Inilah yang telah direzekikan kepada kami sebelumnya”, akan diberikan kepada mereka yang serupa
dengannya, dan bagi mereka di
dalamnya ada jodoh-jodoh
yang suci, dan mereka akan kekal di dalamnya. (Al-Baqarah
[2]:26).
Firman-Nya lagi:
فَلَا تَعۡلَمُ
نَفۡسٌ مَّاۤ اُخۡفِیَ لَہُمۡ مِّنۡ
قُرَّۃِ اَعۡیُنٍ ۚ جَزَآءًۢ بِمَا کَانُوۡا
یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾ اَفَمَنۡ کَانَ مُؤۡمِنًا کَمَنۡ کَانَ فَاسِقًا ؕؔ لَا یَسۡتَوٗنَ﴿﴾ اَمَّا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا
الصّٰلِحٰتِ فَلَہُمۡ جَنّٰتُ الۡمَاۡوٰی ۫ نُزُلًۢا بِمَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ
﴿﴾
Maka tidak ada sesuatu jiwa mengetahui
apa yang tersembunyi bagi mereka dari penyejuk mata sebagai balasan
terhadap apa yang telah mereka kerjakan. Maka apakah
seorang yang beriman sama seperti orang fasik? Mereka tidak
sama. Adapun orang-orang
yang beriman dan beramal saleh,
maka bagi mereka ada surga-surga tempat
tinggal, sebagai jamuan untuk apa
yang telah mereka kerjakan. (As-Sajdah [32]:18-20).
Dikarenakan “kebun-kebun“
adalah gambaran iman, sedangkan “sungai-sungai”
adalah gambaran amal saleh, maka
sebagaimana di dunia ini kebun-kebun tidak dapat tumbuh subur tanpa keberadaan sungai-sungai, begitu pula iman tidak dapat segar dan sejahtera tanpa
perbuatan baik (amal shalih), dengan demikiam iman
dan amal shalih tidak dapat dipisahkan untuk mencapai najat (keselamatan).
Di akhirat kebun-kebun itu akan mengingatkan orang beriman akan imannya dalam kehidupan di dunia ini,
sedangkan sungai-sungai akan mengingatkan kembali kepada amal shalihnya maka ia akan
mengetahui bahwa iman dan amal shalehnya tidak sia-sia.
Jadi, keliru sekali mengambil
kesimpulan dari kata-kata: "Inilah yang telah diberikan kepada kami
dahulu", dalam ayat: کُلَّمَا رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ
رِّزۡقًا ۙ قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ – “Setiap
kali diberikan kepada mereka buah-buahan
dari kebun itu sebagai rezeki, mereka berkata: “Inilah yang telah direzekikan kepada kami sebelumnya”, akan diberikan kepada mereka yang serupa
dengannya,“ bahwa di surga
orang-orang beriman akan dianugerahi buah-buahan semacam yang dinikmati
mereka di dunia ini, sebab seperti telah diterangkan di
atas keduanya tidak sama (QS.32:18).
Buah-buahan surgawi di akhirat
sesungguhnya akan berupa gambaran mutu
keimanannya sendiri. Ketika mereka hendak memakannya (menikmatinya) mereka segera akan mengenali dan ingat
kembali bahwa buah-buahan itu adalah
hasil imannya di dunia, dan karena rasa syukur atas nikmat itu mereka akan berkata: ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ -- “inilah yang telah diberikan kepada
kami dahulu.” Ungkapan ini dapat pula berarti “inilah apa yang telah dijanjikan kepada kami.”
Dengan demikian makna ayat: بِہٖ مُتَشَابِہًا وَ اُتُوۡا -- “akan diberikan kepada mereka yang serupa
dengannya,“ makna kata-kata “yang hampir serupa” tertuju kepada persamaan antara amal ibadah yang dilakukan oleh orang-orang beriman di dunia ini dan buah
atau hasilnya di surga. Yakni amal ibadah
dalam kehidupan sekarang akan nampak
kepada orang-orang beriman di akhirat
sebagai hasil atau buah di akhirat.
Makin sungguh-sungguh dan
makin sepadan ibadah manusia, makin banyak pula ia menikmati buah-buah yang menjadi bagiannya di surga dan makin baik pula buah-buah itu dalam nilai
dan mutunya. Jadi untuk meningkatkan mutu buah-buahan surgawi yang dikehendakinya
terletak pada kekuatannya sendiri.
Ayat بِہٖ مُتَشَابِہًا وَ اُتُوۡا -- “akan diberikan kepada
mereka yang serupa dengannya,“ berarti pula bahwa makanan ruhani orang-orang beriman
di surga akan sesuai dengan selera
tiap-tiap orang dan taraf kemajuan
serta tingkat perkembangan ruhaninya
masing-masing.
“Bidadari Surgawi”
Adalah Perempuan-perempuan Ahli Surga
Makna ayat: وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ -- “dan bagi
mereka di dalamnya ada jodoh-jodoh
yang suci.“ Orang-orang beriman juga akan
mempunyai jodoh-jodoh suci di surga. Di dalam kehidupan di dunia ini istri yang baik merupakan sumber kegembiraan dan kesenangan. Orang-orang beriman
berusaha mendapatkan istri yang
baik di dunia ini dan mereka akan mempunyai jodoh-jodoh baik dan suci
di akhirat.
Meskipun demikian – sebagaimana
telah dijelaskan sebelumnya -- kesenangan
di surga tidak bersifat kebendaan.
Untuk penjelasan lebih lanjut tentang sifat dan hakikat nikmat-nikmat surge – termasuk “bidadari-bidadari
surgawi” lihat pula Surah Al-Thūr,
Al-Rahmān, dan Al-Wāqi’ah.
Bahwa pada hakikatnya para “bidadari
surgawi” tersebut adalah perempuan-perempuan
bertakwa para penghuni surge sesuai dengan kisah seorang perempuan tua (nenek-nenek) yang memohon
didoakan oleh Nabi Besar Muhammad
saw. agar termasuk penghuni surge.
Dengan sedikit bergurau Nabi Besar Muhammad saw. menjelaskan bahwa di dalam surga tidak ada nenek-nenek (perempuan tua).
Mendengar hal itu nenek
(perempuan) tersebut merasa sedih,
tetapi dengan cepat Nabi Besar Muhammad saw. menghiburnya bahwa para perempuan
tua yang berrtakwa di dalam surga akan menjadi seperti gadis-gadis sehingga nenek-nenek tersebut menjadi sangat gembira. Hadits tersebut sesuai dengan
firman-Nya:
وَّ فُرُشٍ
مَّرۡفُوۡعَۃٍ ﴿ؕ﴾ اِنَّاۤ اَنۡشَاۡنٰہُنَّ اِنۡشَآءً ﴿ۙ﴾ فَجَعَلۡنٰہُنَّ اَبۡکَارًا ﴿ۙ﴾ عُرُبًا اَتۡرَابًا ﴿ۙ﴾ لِّاَصۡحٰبِ الۡیَمِیۡنِ ﴿ؕ٪﴾ ثُلَّۃٌ
مِّنَ الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ ثُلَّۃٌ
مِّنَ الۡاٰخِرِیۡنَ ﴿ؕ﴾
Dan mereka
akan memiliki istri-istri mulia.
Sesungguhnya Kami mencipta-kan mereka suatu penciptaan yang baik dan Kami
menjadikan mereka gadis-gadis perawan, yang cantik jelita, sebaya
umurnya. Untuk mereka yang di
sebelah kanan. Segolongan besar dari antara orang-orang
terdahulu, dan segolongan besar dari orang-orang
kemudian. (Al-Wāqi’ah [56]:35-41). Lihat pula QS.56:11-27; QS.44:55;
QS.52:21-22; QS.78:32-37.
Sekedar Membedakan Kesempurnaan Kedua Jenis Perempuan Ahli Surga
Furusy
(istri-istri) adalah jamak dari Firasy, yang berarti: tempat tidur;
istri seseorang; suami seorang perempuan (Lexicon
Lane). Untuk melengkapi kebahagiaan
dan ketenteraman pikiran, orang-orang
beriman akan memperoleh teman hidup istri-istri suci lagi cantik, mulia lagi sangat terhormat.
‘Urub
dalam ayat:
عُرُبًا اَتۡرَابًا -- “yang cantik jelita, sebaya
umurnya” adalah jamak dari ‘arub,
yang berarti seorang perempuan yang amat mencintai suaminya dan patuh kepadanya
(Lexicon Lane). Atrab adalah
jamak dari tirb, yang berarti: orang yang sebaya; seorang bangsawan
agamawi; seseorang yang mempunyai cita
rasa, kebiasaan, pandangan atau pendapat dan lain-lain yang
sama (Lexicon Lane).
Istri cantik jelita, yang senantiasa
menjaga kehormatan dan setia serta
mempunyai pendapat, cita rasa dan pandangan
hidup yang sama dengan suaminya,
adalah nikmat Ilahi paling besar,
yang seseorang dapat memperolehnya. Al-Quran mengatakan babwa akan ada perempuan-perempuan baik dan saleh di surga, sebab akan ada laki-laki
baik dan bertakwa. Adanya teman hidup yang baik itulah yang
menjadi sebab kehidupan manusia senang
dan lengkap.
Penyebutan hūr mengenai jodoh
para laki-laki ahli surga golongan terdahulu -- yang diterjemahkan “bidadari surgawi” -- hanya sekedar untuk membedakan segi kesempurnaannya dibandingkan jodoh-jodoh laki-laki ahli surga golongan kanan” (QS.56:11-41), bukan makhluk lain yang berbeda dengan manusia.
Al-Quran mengajarkan bahwa
tiap-tiap makhluk memerlukan pasangan untuk perkembangannya yang sempurna (QS.36:37). Di dalam surga orang-orang bertakwa laki-laki dan perempuan akan mendapat jodoh suci untuk menyempurnakan perkembangan ruhani dan melengkapkan kebahagiaan mereka. Macam apakah jodoh itu hanya dapat diketahui kelak di
akhirat.
Orang akan mati
hanya jika ia tidak dapat menyerap zat
makanan atau bila orang lain membunuhnya.
Tetapi karena makanan surgawi akan benar-benar cocok untuk setiap orang dan karena orang-orang di sana akan
mempunyai kawan-kawan yang suci dan suka damai maka di dalam surga kematian
dan kemunduran dengan sendirinya akan
lenyap.
Jadi, sebutan “jodoh-jodoh yang
suci” yang dikemukakan Al-Quran sering disebut “bidadari-bidadari” yang sebenarnya adalah para perempuan ahli surga – bukan makhluk baru -- dan boleh jadi itu adalah istri-istri shalihah para suami yang ahli
surga sendiri ketika masih hidup di dunia, sebagaimana firman-Nya:
اَلَّذِیۡنَ یَحۡمِلُوۡنَ الۡعَرۡشَ وَ مَنۡ
حَوۡلَہٗ یُسَبِّحُوۡنَ بِحَمۡدِ
رَبِّہِمۡ وَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ وَ یَسۡتَغۡفِرُوۡنَ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ۚ رَبَّنَا وَسِعۡتَ
کُلَّ شَیۡءٍ رَّحۡمَۃً وَّ عِلۡمًا فَاغۡفِرۡ لِلَّذِیۡنَ تَابُوۡا وَ اتَّبَعُوۡا
سَبِیۡلَکَ وَ قِہِمۡ عَذَابَ الۡجَحِیۡمِ ﴿﴾ رَبَّنَا وَ اَدۡخِلۡہُمۡ جَنّٰتِ عَدۡنِۣ الَّتِیۡ وَعَدۡتَّہُمۡ وَ
مَنۡ صَلَحَ مِنۡ اٰبَآئِہِمۡ وَ اَزۡوَاجِہِمۡ وَ ذُرِّیّٰتِہِمۡ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ۙ﴿﴾ وَ قِہِمُ السَّیِّاٰتِ ؕ وَ مَنۡ تَقِ
السَّیِّاٰتِ یَوۡمَئِذٍ فَقَدۡ
رَحِمۡتَہٗ ؕ وَ ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَوۡزُ الۡعَظِیۡمُ ٪﴿﴾
Wujud-wujud yang memikul
‘Arasy dan yang
di sekitarnya, mereka bertasbih
dengan pujian Rabb (Tuhan) mereka, mereka beriman kepada-Nya dan mereka
memohon ampunan bagi orang-orang yang beriman:
“Wahai Rabb (Tuhan) kami, Engkau meliputi segala sesuatu dengan
rahmat dan ilmu maka ampunilah kepada orang-orang yang bertaubat
dan mengikuti jalan Engkau, dan lindungilah mereka dari azab Jahannam. رَبَّنَا وَ اَدۡخِلۡہُمۡ جَنّٰتِ عَدۡنِۣ
الَّتِیۡ وَعَدۡتَّہُمۡ وَ مَنۡ صَلَحَ مِنۡ اٰبَآئِہِمۡ وَ اَزۡوَاجِہِمۡ
وَ ذُرِّیّٰتِہِمۡ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- “Hai Rabb
(Tuhan) kami karena itu masukkanlah
mereka ke dalam surga-surga abadi yang telah
Engkau janjikan kepada mereka, dan begitu
pun orang-orang yang
beramal saleh dari bapak-bapak mereka, istri-istri mereka dan keturunan-keturunan mereka.
Sesungguhnya Engkau benar-benar Maha
Perkasa, Maha Bijaksana. وَ
قِہِمُ السَّیِّاٰتِ ؕ وَ مَنۡ تَقِ السَّیِّاٰتِ یَوۡمَئِذٍ فَقَدۡ رَحِمۡتَہٗ ؕ وَ ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَوۡزُ
الۡعَظِیۡمُ ٪﴿﴾ -- Dan lindungilah
mereka dari segala keburukan. Dan barangsiapa Engkau pelihara dari keburukan-keburukan pada hari itu maka sungguh Engkau telah mengasihinya, dan yang demikian itu kemenangan yang besar.” (Al-Mu’min
[40]:8-10). Lihat pula QS.52:22.
Doa Agar “Istri dan Anak
Perempuan” Menjadi “Bidadari Surgawi”
Makna
ayat: “Hai Tuhan kami karena itu masukkanlah mereka ke dalam surga-surga abadi
yang telah Engkau janjikan kepada mereka, dan begitu pun aorang-orang yang beramal
saleh dari bapak-bapak mereka,
istri-istri mereka dan keturunan-keturunan mereka.“ Ayat
ini meletakkan suatu asas yang
agung. Tidak ada pekerjaan dilaksanakan dan tidak ada kemenangan dapat dicapai oleh seseorang di dunia ini tanpa bantuan orang lain.
Orang-orang lain masing-masing dengan sadar atau tidak sadar telah memberikan sumbangan
kepada pekerjaan itu. Sekutu-sekutu
dan pembantu-pembantu yang secara sadar
atau tidak sadar itu -- terutama ayah-bunda,
istri, dan anak-anaknya -- maka anggota
keluarga yang terdekat itu pun
akan diizinkan ikut serta menikmati karunia-karunia yang
akan dianugerahkan kepada orang-orang
yang beriman, atas amal-amal shalihnya.
Kemudian dalam surah lainnya Allah Swt.
berfirman lagi mengenai akan dipertemukannya
para ahli surga dengan keluarga
mereka yang juga ahli surga -- termasuk dengan istri-istri mereka yang
disebut “bidadari-bidadari surgawi” -- firman-Nya:
وَ الَّذِیۡنَ
صَبَرُوا ابۡتِغَآءَ وَجۡہِ رَبِّہِمۡ
وَ اَقَامُوا الصَّلٰوۃَ وَ اَنۡفَقُوۡا
مِمَّا رَزَقۡنٰہُمۡ سِرًّا وَّ
عَلَانِیَۃً وَّ یَدۡرَءُوۡنَ بِالۡحَسَنَۃِ السَّیِّئَۃَ اُولٰٓئِکَ
لَہُمۡ عُقۡبَی الدَّارِ ﴿ۙ﴾ جَنّٰتُ عَدۡنٍ یَّدۡخُلُوۡنَہَا وَ مَنۡ
صَلَحَ مِنۡ اٰبَآئِہِمۡ وَ اَزۡوَاجِہِمۡ وَ ذُرِّیّٰتِہِمۡ وَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ
یَدۡخُلُوۡنَ عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ کُلِّ بَابٍ ﴿ۚ﴾ سَلٰمٌ عَلَیۡکُمۡ بِمَا صَبَرۡتُمۡ فَنِعۡمَ عُقۡبَی الدَّارِ ﴿ؕ﴾
Dan orang-orang yang bersabar mencari keridhaan
Rabb-nya (Tuhan-nya), mendirikan
shalat dan membelanjakan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada
mereka, secara sembunyi-sembunyi dan
secara terang-terangan, dan menolak keburukan dengan kebaikan, mereka
itulah yang akan mendapat ganjaran tempat tinggal yang terbaik, جَنّٰتُ عَدۡنٍ یَّدۡخُلُوۡنَہَا -- Kebun-kebun yang abadi, mereka
akan masuk ke dalamnya, وَ مَنۡ صَلَحَ
مِنۡ اٰبَآئِہِمۡ وَ اَزۡوَاجِہِمۡ وَ ذُرِّیّٰتِہِمۡ -- dan
begitupun barangsiapa yang saleh
dari antara bapak-bapak mereka, istri-istri
mereka dan keturunan mereka. وَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ یَدۡخُلُوۡنَ عَلَیۡہِمۡ
مِّنۡ کُلِّ بَابٍ -- Dan malaikat-malaikat
akan masuk kepada mereka dari setiap
pintu seraya berkata: ”Selamat sejahtera atas kamu, sebab kamu telah bersabar; maka lihatlah
betapa bagusnya ganjaran tempat tinggal
itu!” (Ar-Rā’d [13]:23-25).
Pendek kata, para “bidadari surgawi” – yang dikemukakan dalam berbagai surah Al-Quran,
antara lain Surah Al-Thūr, Al-Rahmān, dan Al-Wāqi’ah --
pada hakikatnya adalah para perempuan
bertakwa di dunia ini yang
merupakan calon ahli
surga -- bukan “makhluk lain“ -- yang
merupakan pengabulan dari doa yang diajarkan Allah Swt. kepada
para suami yang bertakwa, firman-Nya:
وَ الَّذِیۡنَ
یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَا ہَبۡ لَنَا مِنۡ اَزۡوَاجِنَا وَ ذُرِّیّٰتِنَا قُرَّۃَ
اَعۡیُنٍ وَّ اجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِیۡنَ اِمَامًا ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ یُجۡزَوۡنَ
الۡغُرۡفَۃَ بِمَا صَبَرُوۡا وَ یُلَقَّوۡنَ فِیۡہَا تَحِیَّۃً وَّ سَلٰمًا ﴿ۙ﴾ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ؕ حَسُنَتۡ مُسۡتَقَرًّا
وَّ مُقَامًا ﴿﴾ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ؕ حَسُنَتۡ
مُسۡتَقَرًّا وَّ مُقَامًا ﴿﴾
Dan
orang-orang yang mengatakan: “Ya Rabb
(Tuhan) kami, anugerahkanlah kepada kami
istri-istri kami dan keturunan kami
menjadi penyejuk mata kami, dan jadikanlah
kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” Mereka itulah yang akan dianugerahi kamar-kamar tinggi di surga karena
mereka bersabar, dan me-reka akan disambut di dalamnya dengan
penghormatan dan doa selamat,
Mereka akan kekal di dalamnya, itulah sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. (Al-Furqān [25]:75-77).
Pentingnya Mentaati Al-Quran dan Sunnah Nabi Besar Muhammad Saw.
Jadi, jika ada cara-cara lain untuk memperoleh “bidadari surgawi” yang bertentangan
dengan firman-firman Allah Swt.
tersebut maka cara-cara tersebut
bukan ajaran Islam yang difahami
dan diamalkan oleh Nabi Besar
Muhammad saw. yang merupakan rahmat bagi seluruh alam (QS.21:108).
Dalam ayat selanjutnya Allah Swt. dengan tegas
berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw. mengenai pentingnya
melaksanakan ibadah dengan benar kepada-Nya sebagaimana yang beliau
saw. contohnya (QS.3:32; QS.33:22):
قُلۡ مَا
یَعۡبَؤُا بِکُمۡ رَبِّیۡ لَوۡ لَا دُعَآؤُکُمۡ ۚ فَقَدۡ کَذَّبۡتُمۡ فَسَوۡفَ
یَکُوۡنُ لِزَامًا ﴿٪﴾
Katakanlah:
“Rabb-ku (Tuhan-ku) tidak akan mempedulikan kamu jika tidak
karena doa kamu, maka sungguh kamu telah mendustakan maka segera
azab menimpa kamu.” (Al-Furqān [25]:78).
Makna ayat tersebut adalah, bahwa
kecuali melaksanakan peribadahan -- yakni memenuhi huququllāh dan huququl- ‘ibād -- sebagaimana yang dicontohkan Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32; QS.33:22) -- Allah Swt. tidak akan mempedulikan (akan menolak) cara-cara
lainnya yang bertentangan dengan Sunnah Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
قُلۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ
فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ
اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾ قُلۡ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ ۚ
فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ لَا
یُحِبُّ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: ”Jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku, Allah pun akan mencintai kamu dan akan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Katakanlah: ”Taatilah Allah dan Rasul ini”, kemudian jika
mereka berpaling maka ketahuilah sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir. (Ali ‘Imran [3]:32-33).
Firman-Nya lagi:
لَقَدۡ کَانَ
لَکُمۡ فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ الۡیَوۡمَ الۡاٰخِرَ
وَ ذَکَرَ اللّٰہَ کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Sungguh dalam
diri Rasulullah benar-benar terdapat suri
teladan yang sebaik-baiknya bagi kamu,
yaitu bagi orang yang mengharapkan Allah dan Hari Akhir, dan bagi yang banyak mengingat Allah. (Al-Ahzāb
[33]22).
Mengenai pentingnya mematuhi Allah Swt. sebagaimana yang disunnahkan
Nabi Besar Muhammad saw. Dia berfirman:
ؕ وَ مَاۤ
اٰتٰىکُمُ الرَّسُوۡلُ فَخُذُوۡہُ
٭ وَ مَا نَہٰىکُمۡ عَنۡہُ فَانۡتَہُوۡا ۚ
وَ اتَّقُوا اللّٰہَ ؕ اِنَّ اللّٰہَ
شَدِیۡدُ الۡعِقَابِ ۘ﴿﴾
“…..Dan apa yang diberikan Rasul kepada kamu maka
ambillah itu, dan apa yang dia melarang kamu darinya maka hindarilah,
dan bertakwalah kepada Allāh,
sesungguhnya hukuman Allah sangat keras.
(Al-Hasyr
[59]:8).
Kata-kata, dan
apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka ambillah, menun-jukkan bahwa sunnah
Rasul merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari syariat Islam.
Makna “Kekal” Kehidupan Dalam Surga
Kata-kata وَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ -- “mereka akan kekal
di dalamnya” berkenaan dengan kehidupan
dalam surga di akhirat dalam QS.2:26
sebelum ini berarti bahwa orang-orang beriman di surga tidak akan pernah mengalami sesuatu perubahan atau kemunduran,
justru akan terus menerus semakin maju
dan sempurna keadaannya, yakni sibuk dalam berbaggai aktivitas yang
semakin membuat mereka mengalami kemajuan
(QS.36:56-59) -- yang tidak akan membuat
mereka mengalami keletihan (QS.15:49;
QS.35:36) -- firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا تُوۡبُوۡۤا اِلَی
اللّٰہِ تَوۡبَۃً نَّصُوۡحًا ؕ عَسٰی
رَبُّکُمۡ اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ
سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ
مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۙ یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ النَّبِیَّ
وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ ۚ
نُوۡرُہُمۡ یَسۡعٰی بَیۡنَ
اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ
یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ
اَتۡمِمۡ لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ
لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan
seikhlas-ikhlas taubat. Boleh jadi Rabb
(Tuhan) kamu akan menghapuskan dari kamu
keburukan-keburukanmu dan akan memasukkan
kamu ke dalam kebun-kebun
yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,
یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ النَّبِیَّ
وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ ۚ -- pada hari
ketika Allah tidak akan menghinakan
Nabi maupun orang-orang yang beriman
besertanya, نُوۡرُہُمۡ
یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ -- cahaya
mereka akan berlari-lari di hadapan
mereka dan di sebelah kanannya, یَقُوۡلُوۡنَ
رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ لَنَا
نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- mereka akan berkata: “Hai Rabb (Tuhan) kami, sempurna-kanlah
bagi kami cahaya kami, dan maafkanlah
kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(At-Tahrīm
[66]:9).
(Bersambung)
ooo
Rujukan: The Holy
Quran
Editor : Malik
Ghulam Farid
Pajajaran Anyar, 15 Juli 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar