Jumat, 14 Juli 2017

Hubungan "Iman" dan "Amal Shaleh" Dengan "Jannaah" (Kebun-kebun) yang di Bawahnya Mengalir "Sungai-sungai" & Hakikat Para "Bidadari Surgawi" dan Doa Cara Menjadikan "Bidadari Surgawi"



Bismillāhirrahmānirrahīm

KHAZANAH  AL-QURAN  

Bab 6

HUBUNGAN IMAN DAN AMAL SHALEH DENGAN KEBUN-KEBUN YANG DI BAWAHNYA MENGALIR SUNGAI-SUNGAI &  HAKIKAT   “BIDADARI SURGAWI” DAN DOA CARA MENJADIKAN  “BIDADARI SURGAWI”

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir bab sebelumnya  telah dikemukakan  topic:   Hubungan Iman dan Amal Shaleh Dengan  Kebun-kebun yang di Bawahnya Mengalir Sungai-sungai sehubungan  firman Allah Swt. dengan perumpamaan pengorbanan harta di jalan Allah yang  sia-sia dan yang maqbul (diterima) Allah Swt., firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تُبۡطِلُوۡا صَدَقٰتِکُمۡ بِالۡمَنِّ وَ الۡاَذٰی ۙ کَالَّذِیۡ یُنۡفِقُ مَالَہٗ رِئَآءَ النَّاسِ وَ لَا یُؤۡمِنُ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِؕ فَمَثَلُہٗ  کَمَثَلِ صَفۡوَانٍ عَلَیۡہِ تُرَابٌ فَاَصَابَہٗ وَابِلٌ فَتَرَکَہٗ صَلۡدًا ؕ لَا  یَقۡدِرُوۡنَ عَلٰی شَیۡءٍ مِّمَّا کَسَبُوۡا ؕ وَ اللّٰہُ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membuat  sedekah-sedekahmu sia-sia dengan menyebut-nyebut jasa baik dan sikap  menyakiti, seperti orang  yang membelanjakan hartanya untuk dilihat  manusia, sedangkan ia tidak beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, فَمَثَلُہٗ  کَمَثَلِ صَفۡوَانٍ عَلَیۡہِ تُرَابٌ فَاَصَابَہٗ وَابِلٌ فَتَرَکَہٗ صَلۡدًا  -- maka perumpamaannya seperti misal  batu licin  yang di atasnya ada   tanah, lalu hujan lebat menimpanya dan meninggalkannya keras dan licin. لَا  یَقۡدِرُوۡنَ عَلٰی شَیۡءٍ مِّمَّا کَسَبُوۡا ؕ وَ اللّٰہُ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الۡکٰفِرِیۡنَ --  Mereka tidak akan memperoleh sesuatu dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang  kafir  (Al-Baqarah [2]:265).
       Mengenai pengorbanan harta di jalan Allah yang maqbul (diterima) Allah Swt. berfirman:
وَ مَثَلُ الَّذِیۡنَ یُنۡفِقُوۡنَ اَمۡوَالَہُمُ ابۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِ اللّٰہِ وَ تَثۡبِیۡتًا مِّنۡ اَنۡفُسِہِمۡ کَمَثَلِ جَنَّۃٍۭ بِرَبۡوَۃٍ اَصَابَہَا وَابِلٌ فَاٰتَتۡ اُکُلَہَا ضِعۡفَیۡنِ ۚ فَاِنۡ لَّمۡ یُصِبۡہَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ؕ وَ اللّٰہُ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ  بَصِیۡرٌ ﴿﴾
Dan perumpamaan  orang-orang yang membelanjakan harta mereka demi mencari keridhaan Allah dan memperteguh   jiwa mereka adalah seperti perumpamaan  kebun yang terletak di tempat tinggi,  hujan lebat menimpanya lalu menghasilkan  buahnya dua kali lipat, tetapi  jika hujan lebat tidak pernah menimpanya  maka hujan gerimis pun memadai, dan Allah Maha Melihat apa pun yang kamu kerjakan  (Al-Baqarah [2]:266).

Tidak Ada yang Mengetahui Hakikat Kehidupan Akhirat yang Sebenarnya

     Jadi, demikian sempurna berbagai  petunjuk dan falsafah serta hikmah  mendalam yang terkandung dalam Kitab suci Al-Quran.  Itulah sebabnya Allah Swt. telah menggambarkan   surga  dengan perumpamaan “kebun-kebun yang dibawahnya mengalir sungai-sungai”,  firman-Nya:
وَ بَشِّرِ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ؕ  کُلَّمَا رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا ۙ قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ ۙ وَ اُتُوۡا بِہٖ مُتَشَابِہًا ؕ وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ ٭ۙ وَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan berilah kabar gembira  orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa sesungguhnya untuk mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Setiap kali diberikan kepada mereka buah-buahan dari kebun itu sebagai rezeki, mereka berkata: “Inilah yang telah direzekikan kepada kami sebelumnya”, akan diberikan kepada mereka yang serupa dengannya, dan bagi mereka di dalamnya ada  jodoh-jodoh yang suci,  dan mereka akan kekal di dalamnya. (Al-Baqarah [2]:26).
       Ayat ini memberikan gambaran singkat atau perumpamaan mengenai ganjaran yang akan diperoleh orang-orang beriman di akhirat. Para kritikus Islam telah melancarkan berbagai keberatan atas lukisan (gambaran) itu. Kecaman-kecaman itu disebabkan oleh karena sama sekali, tidak memahami ajaran Islam tentang nikmat-nikmat surgawi.
     Al-Quran dengan tegas mengemukakan bahwa ada di luar kemampuan alam pikiran manusia untuk dapat mengenal hakikatnya (QS.32:18). Nabi Besar Muhammad saw.  diriwayatkan pernah bersabda: “Tidak ada mata telah melihatnya, tidak ada pula telinga telah mendengarnya, dan tidak pula pikiran manusia dapat mengirakannya” (Bukhari), firman-Nya:
فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٌ مَّاۤ  اُخۡفِیَ لَہُمۡ مِّنۡ قُرَّۃِ اَعۡیُنٍ ۚ جَزَآءًۢ  بِمَا  کَانُوۡا  یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾  اَفَمَنۡ کَانَ مُؤۡمِنًا کَمَنۡ کَانَ فَاسِقًا ؕؔ لَا  یَسۡتَوٗنَ﴿﴾؃   اَمَّا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَلَہُمۡ جَنّٰتُ الۡمَاۡوٰی ۫ نُزُلًۢا بِمَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Maka tidak ada sesuatu jiwa mengetahui apa yang tersembunyi bagi mereka dari penyejuk mata sebagai  balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.  Maka apakah seorang yang beriman   sama seperti orang fasik? Mereka tidak sama.   Adapun  orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka bagi mereka ada surga-surga tempat tinggal, sebagai jamuan untuk apa yang telah mereka kerjakan. (As-Sajdah [32]:18-20).
      Al-Quran dan Hadits itu menunjukkan bahwa nikmat kehidupan ukhrawi tidak akan bersifat kebendaan seperti di dunia ini. Nikmat-nikmat itu akan merupakan penjelmaan-keruhanian dari perbuatan dan tingkah-laku baik (amal shaleh) yang telah dikerjakan orang-orang bertakwa di alam dunia ini.
     Kata-kata yang dipergunakan untuk menggambarkan nikmat-nikmat surgawi   dalam Al-Quran telah dipakai hanya dalam arti kiasan. Ayat yang sekarang pun dapat berarti bahwa karunia dan nikmat Ilahi yang akan dilimpahkan kepada orang-orang beriman  yang bertakwa di alam akhirat bahkan jauh lebih baik dan jauh lebih berlimpah-limpah dari yang dikhayalkan atau dibayangkan. Nikmat-nikmat surgawi itu akan berada jauh di luar batas jangkauan daya cipta manusia.

Aktifitas  Dalam Mimpi

     Dengan sendirinya timbul pertanyaan:  Mengapa nikmat-nikmat surga diberi nama yang biasa dipakai untuk benda-benda di bumi ini? Hal demikian adalah karena seruan Al-Quran itu tidak hanya semata-mata tertuju kepada orang-orang yang maju dalam bidang ilmu, oleh karena itu Al-Quran mempergunakan kata-kata sederhana yang dapat dipahami semua orang.
      Dalam menggambarkan karunia Ilahi, Al-Quran telah mempergunakan nama benda yang pada umumnya dipandang baik di bumi ini,  dan orang-orang beriman diajari bahwa mereka akan mendapat hal-hal itu semuanya dalam bentuk yang lebih baik di alam yang akan datang (akhirat).
      Untuk menjelaskan perbedaan penting itulah maka dalam kiasan (perumpamaan) tersebut dipakai  kata-kata yang telah dikenal, selain itu tidak ada persamaan antara kesenangan duniawi dengan karunia-karunia ukhrawi. Tambahan pula menurut ajaran Islam (Al-Quran),  kehidupan di akhirat itu tidak ruhaniah dalam artian bahwa hanya akan terdiri atas keadaan ruhani, bahkan dalam kehidupan di akhirat pun ruh manusia akan mempunyai semacam tubuh tetapi tubuh itu tidak bersifat benda seperti tubuh jasmani di dunia ini.
       Orang dapat membuat tanggapan terhadap keadaan itu dari gejala-gejala mimpi. Pemandangan-pemandangan yang disaksikan  dan dialami orang dalam mimpi tidak dapat disebut keadaan pikiran atau ruhani belaka, sebab dalam keadaan mimpi itu pun  ia punya jisim dan kadang-kadang ia mendapatkan dirinya berada dalam kebun-kebun dengan sungainya, makan buah-buahan, dan minum susu.
       Sukar untuk mengatakan bahwa isi mimpi itu hanya keadaan alam pikiran belaka. Susu yang dinikmati dalam mimpi tersebut tidak ayal lagi merupakan pengalaman yang sungguh-sungguh, tetapi tidak ada seorang pun yang dapat mengatakan bahwa  minuman itu susu biasa yang ada di dunia ini dan diminumnya. 

Kenikmatan dan Siksaan di Akhirat Berlipat-ganda

    Nikmat-nikmat ruhani kehidupan di akhirat bukan akan berupa  hanya penyuguhan subyektif dari anugerah Allah Swt.  yang kita nikmati di dunia ini, bahkan sebaliknya, bahwa justru apa yang kita peroleh di dunia ini hanyalah gambaran dari anugerah nyata dan benar dari Allah Swt.   yang akan dijumpai orang di akhirat.  Yakni  api, air, buah-buahan dan segala sesuatu yang hakiki adalah di akhirat, bukan yang ada di dunia ini.
      Itulah Allah Swt. dalam berbagai surah Al-Quran – juga dalam berbagai hadits shahih   -- menyatakan bahwa kenikmatan mau pun siksaan yang akan dialmi manusia di akhirat jauh berlipat-ganda kenikmatannya atau penderitaannya dibandingkan dengan kenikmatan dan siksaan di dalam kehidupan di dunia ini, firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
فَذَکِّرۡ  اِنۡ  نَّفَعَتِ الذِّکۡرٰی ؕ﴿﴾  سَیَذَّکَّرُ مَنۡ یَّخۡشٰی ﴿ۙ﴾   وَ  یَتَجَنَّبُہَا الۡاَشۡقَی  ﴿ۙ﴾ الَّذِیۡ  یَصۡلَی النَّارَ الۡکُبۡرٰی ﴿ۚ﴾  ثُمَّ  لَا یَمُوۡتُ فِیۡہَا وَ لَا یَحۡیٰی ﴿ؕ﴾   قَدۡ  اَفۡلَحَ  مَنۡ  تَزَکّٰی ﴿ۙ﴾   وَ ذَکَرَ اسۡمَ رَبِّہٖ فَصَلّٰی ﴿ؕ﴾  بَلۡ  تُؤۡثِرُوۡنَ الۡحَیٰوۃَ  الدُّنۡیَا ﴿۫ۖ﴾  وَ الۡاٰخِرَۃُ  خَیۡرٌ  وَّ اَبۡقٰی ﴿ؕ﴾  اِنَّ ہٰذَا  لَفِی الصُّحُفِ الۡاُوۡلٰی ﴿ۙ﴾  صُحُفِ اِبۡرٰہِیۡمَ وَ مُوۡسٰی ﴿٪﴾
Maka berilah nasihat sesungguhnya nasihat itu bermanfaat   Orang yang takut kepada Allah segera akan mengambil pelajaran,   sedangkan orang yang malang akan menjauhinya,  yaitu orang yang akan memasuki  Api yang besar  Kemudian ia tidak akan mati di dalamnya dan tidak pula hidup.    Sungguh  berbahagialah orang yang mensucikan diri,   dan mengingat nama Rabb-nya (Tuhan-nya) lalu mendirikan shalat. بَلۡ  تُؤۡثِرُوۡنَ الۡحَیٰوۃَ  الدُّنۡیَا -- Tetapi  kamu mendahulukan kehidupan dunia, وَ الۡاٰخِرَۃُ  خَیۡرٌ  وَّ اَبۡقٰی --  padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekalاِنَّ ہٰذَا  لَفِی الصُّحُفِ الۡاُوۡلٰی  --  Sesungguhnya inilah yang diajarkan dalam Kitab-kitab terdahuluصُحُفِ اِبۡرٰہِیۡمَ وَ مُوۡسٰی   -- Kitab-kitab Ibrahim dan Musa.  (Al-A’lā [87]:10-20).
    Makna ayat “Tetapi  kamu mendahulukan kehidupan dunia,  padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.   Sesungguhnya inilah yang diajarkan dalam Kitab-kitab terda-hulu,    kitab-kitab Ibrahim dan Musa. ” Oleh karena asas-asas pokok mengenai tiap-tiap agama itu sama, maka ajaran yang tersebut dalam ayat-ayat yang mendahuluinya terdapat pula dalam Kitab-kitab suci Nabi Musa a.s.  dan Nabi Ibrahim a.s..
   Ayat ini dapat pula berarti bahwa nubuatan mengenai kemunculan seorang nabi besar, yang akan memberikan kepada dunia Amanat Ilahi terakhir serta memberikan ajaran yang paling sempurna – yakni Nabi Besar Muhammad saw. dan wahyu Al-Quran  --  terdapat dalam Kitab-kitab suci Nabi Musa a.s.  dan Nabi Ibrahim a.s.. (Ulangan 18:18 -19 dan Ulangan  33:2).

Falsafah Perumpamaan Surga

 Jadi, kembali kepada masalah perumpamaan gambaran kehidupan surgawi dalam firman-Nya:
وَ بَشِّرِ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ؕ  کُلَّمَا رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا ۙ قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ ۙ وَ اُتُوۡا بِہٖ مُتَشَابِہًا ؕ وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ ٭ۙ وَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan berilah kabar gembira  orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa sesungguhnya untuk mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Setiap kali diberikan kepada mereka buah-buahan dari kebun itu sebagai rezeki, mereka berkata: “Inilah yang telah direzekikan kepada kami sebelumnya”, akan diberikan kepada mereka yang serupa dengannya, dan bagi mereka di dalamnya ada  jodoh-jodoh yang suci,  dan mereka akan kekal di dalamnya. (Al-Baqarah [2]:26).
Firman-Nya lagi:
فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٌ مَّاۤ  اُخۡفِیَ لَہُمۡ مِّنۡ قُرَّۃِ اَعۡیُنٍ ۚ جَزَآءًۢ  بِمَا  کَانُوۡا  یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾  اَفَمَنۡ کَانَ مُؤۡمِنًا کَمَنۡ کَانَ فَاسِقًا ؕؔ لَا  یَسۡتَوٗنَ﴿﴾؃   اَمَّا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَلَہُمۡ جَنّٰتُ الۡمَاۡوٰی ۫ نُزُلًۢا بِمَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Maka tidak ada sesuatu jiwa mengetahui apa yang tersembunyi bagi mereka dari penyejuk mata sebagai  balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.  Maka apakah seorang yang beriman   sama seperti orang fasik? Mereka tidak sama.   Adapun  orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka bagi mereka ada surga-surga tempat tinggal, sebagai jamuan untuk apa yang telah mereka kerjakan. (As-Sajdah [32]:18-20).
       Dikarenakan  “kebun-kebun“ adalah gambaran iman, sedangkan   “sungai-sungai” adalah gambaran amal saleh, maka sebagaimana di dunia ini  kebun-kebun tidak dapat tumbuh subur tanpa keberadaan sungai-sungai, begitu pula iman tidak dapat segar dan sejahtera tanpa perbuatan baik (amal shalih),  dengan demikiam  iman dan amal shalih tidak dapat dipisahkan untuk mencapai najat (keselamatan).
     Di akhirat kebun-kebun itu akan mengingatkan orang beriman akan imannya dalam kehidupan di dunia  ini, sedangkan  sungai-sungai akan mengingatkan kembali kepada amal shalihnya maka  ia akan mengetahui bahwa iman dan amal shalehnya tidak sia-sia.
     Jadi, keliru sekali mengambil kesimpulan dari kata-kata: "Inilah yang telah diberikan kepada kami dahulu", dalam ayat:  کُلَّمَا رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا ۙ قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ – “Setiap kali diberikan kepada mereka buah-buahan dari kebun itu sebagai rezeki, mereka berkata: “Inilah yang telah direzekikan kepada kami sebelumnya”, akan diberikan kepada mereka yang serupa dengannya,“ bahwa di surga orang-orang beriman  akan dianugerahi buah-buahan semacam yang dinikmati mereka di dunia  ini, sebab seperti telah diterangkan di atas keduanya tidak sama (QS.32:18).
     Buah-buahan surgawi  di akhirat sesungguhnya akan berupa gambaran mutu keimanannya sendiri. Ketika mereka hendak memakannya (menikmatinya) mereka segera akan mengenali dan ingat kembali bahwa buah-buahan itu adalah hasil imannya di dunia, dan karena rasa syukur atas nikmat itu mereka akan berkata: ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ  -- “inilah yang telah diberikan kepada kami dahulu.” Ungkapan ini dapat pula berarti “inilah apa yang telah dijanjikan kepada kami.”
      Dengan demikian makna ayat: بِہٖ مُتَشَابِہًا  وَ اُتُوۡا -- “akan diberikan kepada mereka yang serupa dengannya,“   makna kata-kata “yang hampir serupa” tertuju kepada persamaan antara amal ibadah yang dilakukan oleh orang-orang beriman di dunia  ini dan buah atau hasilnya di surga. Yakni amal ibadah dalam kehidupan sekarang akan nampak kepada orang-orang beriman di akhirat  sebagai hasil atau buah di akhirat.
       Makin sungguh-sungguh dan makin sepadan ibadah manusia, makin banyak pula ia menikmati buah-buah yang menjadi bagiannya di surga dan  makin baik pula buah-buah itu dalam nilai dan mutunya. Jadi untuk meningkatkan mutu buah-buahan  surgawi yang dikehendakinya terletak pada kekuatannya sendiri.
       Ayat بِہٖ مُتَشَابِہًا وَ اُتُوۡا -- “akan diberikan kepada mereka yang serupa dengannya,“     berarti pula bahwa makanan ruhani orang-orang beriman di surga akan sesuai dengan selera tiap-tiap orang dan taraf kemajuan serta tingkat perkembangan ruhaninya masing-masing.

Bidadari Surgawi” Adalah Perempuan-perempuan Ahli Surga

       Makna ayat:   وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ  -- “dan bagi mereka di dalamnya ada  jodoh-jodoh yang suci.“ Orang-orang beriman juga akan  mempunyai jodoh-jodoh suci di surga. Di dalam kehidupan di dunia ini istri yang baik merupakan  sumber kegembiraan dan kesenangan. Orang-orang beriman  berusaha mendapatkan istri yang baik di dunia ini dan mereka akan mempunyai jodoh-jodoh baik dan suci di akhirat.  
       Meskipun demikian – sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya -- kesenangan di surga tidak bersifat kebendaan. Untuk penjelasan lebih lanjut tentang sifat dan hakikat nikmat-nikmat surge – termasuk “bidadari-bidadari surgawi” lihat pula Surah Al-Thūr, Al-Rahmān, dan Al-Wāqi’ah.
     Bahwa pada hakikatnya para  “bidadari surgawi” tersebut adalah perempuan-perempuan bertakwa  para penghuni surge sesuai dengan kisah seorang perempuan tua (nenek-nenek) yang memohon didoakan oleh Nabi Besar Muhammad saw. agar termasuk penghuni surge. Dengan sedikit bergurau Nabi Besar Muhammad saw. menjelaskan bahwa di dalam surga tidak ada nenek-nenek (perempuan tua).
      Mendengar hal  itu nenek (perempuan) tersebut merasa sedih, tetapi dengan cepat Nabi Besar Muhammad saw. menghiburnya bahwa  para perempuan tua yang berrtakwa di dalam surga akan menjadi seperti gadis-gadis sehingga nenek-nenek tersebut menjadi sangat gembira. Hadits tersebut sesuai dengan firman-Nya:
وَّ فُرُشٍ مَّرۡفُوۡعَۃٍ ﴿ؕ﴾   اِنَّاۤ  اَنۡشَاۡنٰہُنَّ  اِنۡشَآءً ﴿ۙ﴾   فَجَعَلۡنٰہُنَّ  اَبۡکَارًا ﴿ۙ﴾  عُرُبًا  اَتۡرَابًا ﴿ۙ﴾   لِّاَصۡحٰبِ الۡیَمِیۡنِ ﴿ؕ٪﴾  ثُلَّۃٌ  مِّنَ  الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿ۙ﴾  وَ ثُلَّۃٌ  مِّنَ  الۡاٰخِرِیۡنَ ﴿ؕ﴾
Dan mereka akan memiliki istri-istri mulia. Sesungguhnya Kami mencipta-kan mereka suatu penciptaan yang baik   dan Kami menjadikan mereka gadis-gadis perawan,   yang cantik jelita,  sebaya umurnya. Untuk mereka yang di sebelah kanan.  Segolongan besar dari antara orang-orang terdahulu,  dan segolongan besar dari orang-orang kemudian. (Al-Wāqi’ah [56]:35-41). Lihat pula QS.56:11-27; QS.44:55; QS.52:21-22; QS.78:32-37.

Sekedar Membedakan Kesempurnaan Kedua Jenis Perempuan Ahli Surga
                                                                                                            
       Furusy (istri-istri) adalah jamak dari Firasy, yang berarti: tempat tidur; istri seseorang; suami seorang perempuan (Lexicon Lane). Untuk melengkapi kebahagiaan dan ketenteraman pikiran, orang-orang beriman akan memperoleh teman hidup istri-istri suci lagi cantik, mulia lagi sangat terhormat.
       ‘Urub  dalam ayat:  عُرُبًا  اَتۡرَابًا -- “yang cantik jelita,  sebaya umurnya” adalah jamak dari ‘arub, yang berarti seorang perempuan yang amat mencintai suaminya dan patuh kepadanya (Lexicon Lane). Atrab adalah jamak dari tirb, yang berarti: orang yang sebaya; seorang bangsawan agamawi; seseorang yang mempunyai cita rasa, kebiasaan, pandangan atau pendapat dan lain-lain yang sama (Lexicon Lane).
   Istri cantik jelita, yang senantiasa menjaga kehormatan dan setia serta mempunyai pendapat, cita rasa dan pandangan hidup yang sama dengan suaminya, adalah nikmat Ilahi paling besar, yang seseorang dapat memperolehnya. Al-Quran mengatakan babwa akan ada perempuan-perempuan baik dan saleh di surga, sebab akan ada laki-laki baik dan bertakwa. Adanya teman hidup yang baik itulah yang menjadi sebab kehidupan manusia senang dan lengkap.
   Penyebutan hūr   mengenai jodoh para laki-laki ahli surga golongan terdahulu -- yang diterjemahkan “bidadari surgawi”  -- hanya sekedar untuk membedakan   segi kesempurnaannya dibandingkan  jodoh-jodoh laki-laki ahli surga golongan kanan” (QS.56:11-41), bukan makhluk lain yang berbeda dengan manusia.
     Al-Quran mengajarkan bahwa  tiap-tiap makhluk memerlukan pasangan untuk perkembangannya yang sempurna (QS.36:37). Di dalam surga orang-orang bertakwa laki-laki dan perempuan akan mendapat jodoh suci untuk menyempurnakan perkembangan ruhani dan melengkapkan kebahagiaan mereka. Macam apakah jodoh itu hanya dapat diketahui kelak di akhirat.
       Orang akan mati hanya jika ia tidak dapat menyerap zat makanan atau bila orang lain membunuhnya. Tetapi  karena makanan surgawi akan benar-benar cocok untuk setiap orang dan karena orang-orang di sana akan mempunyai kawan-kawan yang suci dan suka damai maka di dalam surga  kematian dan kemunduran dengan sendirinya akan lenyap.
       Jadi, sebutan “jodoh-jodoh yang suci” yang dikemukakan Al-Quran sering disebut “bidadari-bidadari” yang sebenarnya adalah  para perempuan ahli surga  – bukan makhluk baru --  dan boleh jadi itu adalah istri-istri shalihah   para suami  yang ahli surga sendiri ketika masih hidup di dunia, sebagaimana firman-Nya:
اَلَّذِیۡنَ یَحۡمِلُوۡنَ الۡعَرۡشَ وَ مَنۡ حَوۡلَہٗ یُسَبِّحُوۡنَ بِحَمۡدِ  رَبِّہِمۡ وَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ وَ یَسۡتَغۡفِرُوۡنَ  لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ۚ رَبَّنَا وَسِعۡتَ کُلَّ  شَیۡءٍ رَّحۡمَۃً  وَّ عِلۡمًا فَاغۡفِرۡ  لِلَّذِیۡنَ تَابُوۡا وَ اتَّبَعُوۡا سَبِیۡلَکَ وَ قِہِمۡ  عَذَابَ  الۡجَحِیۡمِ ﴿﴾  رَبَّنَا وَ اَدۡخِلۡہُمۡ جَنّٰتِ عَدۡنِۣ الَّتِیۡ وَعَدۡتَّہُمۡ وَ مَنۡ صَلَحَ مِنۡ اٰبَآئِہِمۡ وَ اَزۡوَاجِہِمۡ وَ  ذُرِّیّٰتِہِمۡ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ۙ﴿﴾  وَ قِہِمُ السَّیِّاٰتِ ؕ وَ مَنۡ تَقِ السَّیِّاٰتِ یَوۡمَئِذٍ  فَقَدۡ رَحِمۡتَہٗ ؕ وَ ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَوۡزُ الۡعَظِیۡمُ ٪﴿﴾
Wujud-wujud  yang memikul ‘Arasy  dan yang di sekitarnya, mereka bertasbih dengan pujian Rabb (Tuhan) mereka, mereka beriman kepada-Nya dan mereka memohon ampunan bagi orang-orang yang beriman: “Wahai Rabb (Tuhan) kami, Engkau meliputi segala sesuatu dengan rahmat dan ilmu maka ampunilah kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau, dan lindungilah mereka dari azab Jahannam. رَبَّنَا وَ اَدۡخِلۡہُمۡ جَنّٰتِ عَدۡنِۣ الَّتِیۡ وَعَدۡتَّہُمۡ وَ مَنۡ صَلَحَ مِنۡ اٰبَآئِہِمۡ وَ اَزۡوَاجِہِمۡ وَ  ذُرِّیّٰتِہِمۡ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ  --  “Hai Rabb (Tuhan) kami karena itu masukkanlah mereka ke dalam surga-surga abadi yang telah Engkau janjikan kepada mereka, dan begitu pun  orang-orang yang beramal saleh  dari bapak-bapak mereka, istri-istri mereka dan keturunan-keturunan mereka. Sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana. وَ قِہِمُ السَّیِّاٰتِ ؕ وَ مَنۡ تَقِ السَّیِّاٰتِ یَوۡمَئِذٍ  فَقَدۡ رَحِمۡتَہٗ ؕ وَ ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَوۡزُ الۡعَظِیۡمُ ٪﴿﴾ -- Dan lindungilah mereka dari segala keburukan.  Dan barangsiapa Engkau pelihara dari keburukan-keburukan pada hari itu  maka sungguh  Engkau telah mengasihinya, dan yang demikian itu  kemenangan yang besar.” (Al-Mu’min [40]:8-10). Lihat pula QS.52:22. 

Doa Agar “Istri dan Anak Perempuan” Menjadi “Bidadari Surgawi

    Makna ayat:  “Hai Tuhan kami karena itu masukkanlah mereka ke dalam surga-surga abadi yang telah Engkau janjikan kepada mereka, dan begitu pun aorang-orang yang beramal saleh  dari bapak-bapak mereka, istri-istri mereka dan keturunan-keturunan mereka.“  Ayat  ini meletakkan suatu asas yang agung. Tidak ada pekerjaan dilaksanakan dan tidak ada kemenangan dapat dicapai oleh seseorang di dunia ini tanpa bantuan orang lain.
 Orang-orang lain masing-masing dengan sadar atau tidak sadar telah memberikan sumbangan kepada pekerjaan itu. Sekutu-sekutu dan pembantu-pembantu yang secara sadar atau tidak sadar itu  --  terutama ayah-bunda, istri, dan anak-anaknya  --  maka anggota keluarga yang terdekat itu pun akan diizinkan ikut serta menikmati karunia-karunia yang akan dianugerahkan kepada orang-orang yang beriman, atas amal-amal shalihnya.
  Kemudian dalam surah lainnya Allah Swt. berfirman lagi mengenai akan dipertemukannya  para ahli surga dengan keluarga mereka yang juga ahli surga  -- termasuk dengan istri-istri mereka   yang disebut “bidadari-bidadari surgawi”  -- firman-Nya:
وَ الَّذِیۡنَ صَبَرُوا ابۡتِغَآءَ  وَجۡہِ  رَبِّہِمۡ  وَ اَقَامُوا الصَّلٰوۃَ  وَ  اَنۡفَقُوۡا  مِمَّا  رَزَقۡنٰہُمۡ سِرًّا وَّ عَلَانِیَۃً وَّ یَدۡرَءُوۡنَ بِالۡحَسَنَۃِ السَّیِّئَۃَ  اُولٰٓئِکَ  لَہُمۡ  عُقۡبَی الدَّارِ ﴿ۙ﴾  جَنّٰتُ عَدۡنٍ یَّدۡخُلُوۡنَہَا وَ مَنۡ صَلَحَ مِنۡ اٰبَآئِہِمۡ وَ اَزۡوَاجِہِمۡ وَ ذُرِّیّٰتِہِمۡ وَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ یَدۡخُلُوۡنَ عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ کُلِّ بَابٍ ﴿ۚ﴾  سَلٰمٌ عَلَیۡکُمۡ بِمَا صَبَرۡتُمۡ فَنِعۡمَ عُقۡبَی الدَّارِ ﴿ؕ﴾
Dan orang-orang yang bersabar mencari keridhaan Rabb-nya (Tuhan-nya), mendirikan shalat dan membelanjakan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka, secara sembunyi-sembunyi dan secara terang-terangan,  dan menolak keburukan dengan kebaikan,  mereka itulah yang akan mendapat ganjaran tempat tinggal yang terbaik, جَنّٰتُ عَدۡنٍ یَّدۡخُلُوۡنَہَا  -- Kebun-kebun yang abadi, mereka akan masuk ke dalamnya, وَ مَنۡ صَلَحَ مِنۡ اٰبَآئِہِمۡ وَ اَزۡوَاجِہِمۡ وَ ذُرِّیّٰتِہِمۡ  --  dan begitupun barangsiapa yang saleh dari antara bapak-bapak merekaistri-istri mereka dan keturunan mereka. وَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ یَدۡخُلُوۡنَ عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ کُلِّ بَابٍ --  Dan malaikat-malaikat akan masuk kepada mereka dari setiap pintu  seraya berkata:   ”Selamat sejahtera atas kamu, sebab kamu telah bersabar; maka lihatlah betapa bagusnya ganjaran tempat tinggal itu!” (Ar-Rā’d [13]:23-25).
         Pendek kata, para “bidadari surgawi” – yang  dikemukakan dalam berbagai surah Al-Quran, antara lain  Surah Al-Thūr, Al-Rahmān, dan Al-Wāqi’ah   --  pada hakikatnya adalah para perempuan bertakwa di dunia ini  yang merupakan  calon  ahli surga  -- bukan “makhluk lain“   -- yang merupakan pengabulan dari doa yang diajarkan Allah Swt. kepada para suami yang bertakwa, firman-Nya:
وَ الَّذِیۡنَ یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَا ہَبۡ لَنَا مِنۡ اَزۡوَاجِنَا وَ ذُرِّیّٰتِنَا قُرَّۃَ اَعۡیُنٍ وَّ اجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِیۡنَ اِمَامًا ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ یُجۡزَوۡنَ الۡغُرۡفَۃَ بِمَا صَبَرُوۡا وَ یُلَقَّوۡنَ فِیۡہَا تَحِیَّۃً وَّ سَلٰمًا ﴿ۙ﴾   خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ؕ حَسُنَتۡ مُسۡتَقَرًّا وَّ مُقَامًا ﴿﴾ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ؕ حَسُنَتۡ مُسۡتَقَرًّا وَّ مُقَامًا ﴿﴾
Dan orang-orang yang mengatakan: “Ya Rabb (Tuhan) kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami menjadi penyejuk mata kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” Mereka itulah yang akan dianugerahi  kamar-kamar tinggi di surga karena mereka bersabar, dan me-reka akan disambut di dalamnya dengan penghormatan dan doa selamat, Mereka akan  kekal di dalamnya, itulah sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. (Al-Furqān [25]:75-77).

Pentingnya Mentaati Al-Quran dan Sunnah Nabi Besar Muhammad Saw.

    Jadi, jika ada cara-cara lain untuk memperoleh “bidadari surgawi” yang bertentangan dengan firman-firman Allah Swt. tersebut maka cara-cara tersebut bukan  ajaran Islam yang difahami dan diamalkan oleh Nabi Besar Muhammad saw.  yang merupakan rahmat bagi seluruh alam (QS.21:108). Dalam ayat selanjutnya Allah Swt. dengan tegas  berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw. mengenai pentingnya melaksanakan ibadah dengan benar kepada-Nya sebagaimana yang beliau saw. contohnya (QS.3:32; QS.33:22):
قُلۡ مَا یَعۡبَؤُا بِکُمۡ رَبِّیۡ لَوۡ لَا دُعَآؤُکُمۡ ۚ فَقَدۡ کَذَّبۡتُمۡ فَسَوۡفَ یَکُوۡنُ لِزَامًا ﴿٪﴾
Katakanlah: Rabb-ku (Tuhan-ku) tidak akan mempedulikan kamu jika tidak karena doa kamu, maka sungguh kamu telah mendustakan maka segera   azab  menimpa kamu.” (Al-Furqān [25]:78).
       Makna ayat tersebut adalah, bahwa kecuali melaksanakan peribadahan  -- yakni memenuhi huququllāh dan huququl- ‘ibād  -- sebagaimana yang dicontohkan Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32; QS.33:22) --  Allah Swt. tidak akan mempedulikan (akan menolak) cara-cara lainnya yang bertentangan dengan Sunnah Nabi Besar Muhammad saw.,  firman-Nya:
قُلۡ  اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾  قُلۡ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ ۚ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah:  Jika kamu   mencintai Allah maka ikutilah aku,  Allah pun akan mencintai kamu dan akan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”   Katakanlah:   Taatilah Allah dan Rasul ini”, kemudian jika mereka berpaling maka ketahuilah sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir. (Ali ‘Imran [3]:32-33).
Firman-Nya lagi:
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ  فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ  اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ  لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ الۡیَوۡمَ  الۡاٰخِرَ  وَ ذَکَرَ  اللّٰہَ  کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Sungguh dalam  diri Rasulullah benar-benar terdapat  suri teladan yang sebaik-baiknya  bagi kamu, yaitu bagi  orang yang mengharapkan Allah dan Hari Akhir,  dan bagi yang banyak mengingat Allah. (Al-Ahzāb [33]22).
       Mengenai pentingnya mematuhi  Allah Swt. sebagaimana  yang disunnahkan Nabi Besar Muhammad saw. Dia berfirman:
ؕ وَ مَاۤ  اٰتٰىکُمُ الرَّسُوۡلُ  فَخُذُوۡہُ ٭ وَ مَا نَہٰىکُمۡ  عَنۡہُ فَانۡتَہُوۡا ۚ وَ  اتَّقُوا اللّٰہَ ؕ اِنَّ اللّٰہَ شَدِیۡدُ الۡعِقَابِ ۘ﴿﴾
“…..Dan apa yang diberikan Rasul kepada kamu maka ambillah itu,  dan apa   yang dia melarang kamu darinya  maka hindarilah, dan bertakwalah kepada Allāh, sesungguhnya  hukuman Allah sangat keras. (Al-Hasyr [59]:8).
   Kata-kata, dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka ambillah, menun-jukkan bahwa sunnah Rasul merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari syariat Islam.

Makna “Kekal” Kehidupan Dalam Surga

      Kata-kata  وَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ --  “mereka akan kekal di dalamnya” berkenaan dengan kehidupan dalam surga di akhirat dalam QS.2:26 sebelum ini berarti bahwa orang-orang beriman di surga tidak akan pernah mengalami sesuatu perubahan atau kemunduran, justru akan terus menerus semakin maju dan sempurna keadaannya,  yakni sibuk dalam berbaggai aktivitas yang semakin membuat mereka mengalami kemajuan (QS.36:56-59) --  yang tidak akan membuat mereka mengalami keletihan (QS.15:49; QS.35:36) -- firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا تُوۡبُوۡۤا  اِلَی اللّٰہِ تَوۡبَۃً  نَّصُوۡحًا ؕ عَسٰی رَبُّکُمۡ  اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ  مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۙ یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ  النَّبِیَّ  وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ ۚ  نُوۡرُہُمۡ  یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ  یَقُوۡلُوۡنَ  رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan seikhlas-ikhlas taubat. Boleh jadi Rabb (Tuhan) kamu akan menghapuskan dari kamu keburukan-keburukanmu dan akan memasukkan kamu ke dalam  kebun-kebun yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ  النَّبِیَّ  وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ ۚ     -- pada hari ketika Allah tidak akan menghinakan Nabi maupun orang-orang yang beriman besertanya,  نُوۡرُہُمۡ  یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ    -- cahaya mereka akan berlari-lari di hadapan mereka dan  di sebelah kanannyaیَقُوۡلُوۡنَ  رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ --  mereka  akan berkata: “Hai Rabb (Tuhan) kami, sempurna-kanlah bagi kami cahaya kami,  dan maafkanlah kami,  sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (At-Tahrīm [66]:9).

(Bersambung)
ooo

Rujukan: The Holy Quran
Editor    : Malik Ghulam Farid


Pajajaran Anyar,   15 Juli 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar