Bismillāhirrahmānirrahīm
KHAZANAH AL-QURAN
Bab
16
PENDANGKALAN PEMAHAMAN
AL-QURAN YANG SANGAT MERUGIKAN KESUCIAN
AJARAN ISLAM (AL-QURAN) SERTA KELUHURAN
AKHLAK DAN RUHANI NABI BESAR
MUHAMMAD SAW. & BUKTI JANJI PEMELIHARAAN ALLAH SWT. TERHADAP AL-QURAN
Oleh
Ki
Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian akhir bab sebelumnya
telah dikemukakan topic: Meraih “Kehidupan
Surgawi” di Dunia sehubungan dengan firman Allah Swt. mengenai para pewaris
hakiki Al-Quran (QS.35:32-33) dan hubungannya dengan 3 keadaan nafs (jiwa) manusia: Tingkat pertama nafs
al-Ammārah (QS.12:54), tingkat kedua
nafs al-Lawwāmah (QS.75:3), dan tingkat
ketiga dan tertinggi pada perkembangan ruh manusia adalah yang
disebut nafs muthmainnah (jiwa yang tenteram).
Pada tingkat ini ruh manusia praktis menjadi kebal
terhadap kegagalan atau tersandung dan ada dalam suasana ketenteraman bersama Khāliq-nya (Tuhan Pencipta-nya), sehubungan dengan firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ
الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِۙ﴿﴾ لَاۤ
اُقۡسِمُ بِیَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ ۙ﴿﴾ وَ لَاۤ اُقۡسِمُ
بِالنَّفۡسِ اللَّوَّامَۃِ ؕ﴿﴾ اَیَحۡسَبُ الۡاِنۡسَانُ اَلَّنۡ نَّجۡمَعَ عِظَامَہٗ ؕ﴿﴾ بَلٰی قٰدِرِیۡنَ عَلٰۤی
اَنۡ نُّسَوِّیَ بَنَانَہٗ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Tidak demikian! Aku bersumpah dengan Hari
Kiamat, وَ لَاۤ
اُقۡسِمُ بِالنَّفۡسِ
اللَّوَّامَۃِ -- Dan, tidak demikian! Aku bersumpah dengan jiwa yang mencela diri. Apakah manusia
menyangka bahwa Kami tidak akan mengumpulkan tulang-tulangnya? Mengapa
tidak, bahkan Kami berkuasa menyusun kembali jari-jemarinya.”
(Al-Qiyāmah
[75]:1-5).
Keadaan Nafs Al-Muthmainnah (Jiwa yang Tentram)
Kata banān dalam ayat: بَلٰی قٰدِرِیۡنَ
عَلٰۤی اَنۡ نُّسَوِّیَ بَنَانَہٗ -- “bahkan Kami berkuasa
menyusun kembali jari-jemarinya,” kata banān
(jari-jemari) menampilkan kekuasaan
dan kekuatan manusia, karena dengan sarana jari-jari tangannya ia memegang sebuah benda dan membela dirinya sendiri. Kata itu dapat
menyatakan juga tubuh manusia
seutuhnya, karena kadang-kadang sebutan bagian
suatu benda dapat menampilkan keseluruhan.
Ayat بَلٰی قٰدِرِیۡنَ
عَلٰۤی اَنۡ نُّسَوِّیَ بَنَانَہٗ -- “bahkan Kami berkuasa menyusun kembali jari-jemarinya,” berarti bahwa Allah Swt. memiliki kekuasaan mengembalikan lagi semua kekuatan manusia atau bahkan kekuatan seluruh bangsa bila mereka
sebenarnya mati dan tidak bernyawa lagi untuk diminta pertanggungjawaban mengenai berbagai hal
yang menjadi kewajibannya.
Menurut QS.35:33 pada tingkat terakhir hamba Allah
yang melakukan “jihad ruhani” tersebut mencapai taraf
akhlak sempurna, dan kemajuan ke arah tujuannya
yang agung itu berlangsung cepat
sekali dan merata, yang disebut
tingkat nafs-ul-muthmainnah (jiwa yang
tentram), firman-Nya:
یٰۤاَیَّتُہَا
النَّفۡسُ الۡمُطۡمَئِنَّۃُ ﴿٭ۖ﴾ ارۡجِعِیۡۤ اِلٰی رَبِّکِ رَاضِیَۃً مَّرۡضِیَّۃً ﴿ۚ﴾ فَادۡخُلِیۡ فِیۡ عِبٰدِیۡ
﴿ۙ﴾ وَ ادۡخُلِیۡ جَنَّتِیۡ ﴿٪﴾
Hai jiwa yang tenteram! Kembalilah kepada Rabb (Tuhan) engkau, engkau ridha kepada-Nya dan Dia pun ridha kepada engkau.
Maka masuklah dalam golongan hamba-hamba-Ku,
dan masuklah ke dalam surga-Ku. (Al-Fajr
[89]:28-31).
Firman Allah Swt. merupakan tingkat perkembangan ruhani tertinggi,
ketika manusia ridha kepada Tuhan-nya
dan Tuhan pun ridha kepadanya (QS.58:23).
Pada tingkat ini yang disebut pula tingkat
surgawi ia menjadi kebal terhadap
segala macam kelemahan akhlak,
diperkuat dengan kekuatan ruhani yang
khas. Ia “manunggal” (menyatu) dengan Tuhan
dan tidak dapat hidup tanpa Dia. Di dunia
ini, dan bukan setelah mati perubahan ruhani besar terjadi di dalam
dirinya, dan di dunia inilah dan bukan
di tempat lain jalan dibukakan
baginya untuk masuk ke surga.
Demikianlah keadaan para pewaris hakiki Al-Quran yang dikemukakan dalam firman-Nya sebelum ini:
وَ
الَّذِیۡۤ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ
مِنَ الۡکِتٰبِ ہُوَ الۡحَقُّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ ؕ اِنَّ
اللّٰہَ بِعِبَادِہٖ لَخَبِیۡرٌۢ بَصِیۡرٌ ﴿﴾ ثُمَّ اَوۡرَثۡنَا الۡکِتٰبَ
الَّذِیۡنَ اصۡطَفَیۡنَا مِنۡ عِبَادِنَا ۚ فَمِنۡہُمۡ ظَالِمٌ لِّنَفۡسِہٖ ۚ وَ
مِنۡہُمۡ مُّقۡتَصِدٌ ۚ وَ مِنۡہُمۡ سَابِقٌۢ بِالۡخَیۡرٰتِ بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ
ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَضۡلُ الۡکَبِیۡرُ ﴿ؕ﴾
Dan Kitab
yang Kami wahyukan kepada engkau adalah kebenaran
untuk menggenapi apa yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah terhadap hamba-hambanya
benar-benar Maha Mengetahui, Maha Melihat. Kemudian Kitab
itu Kami wariskan kepada orang-orang yang telah Kami pilih dari
antara hamba-hamba Kami, maka dari antara mereka sangat zalim terhadap
dirinya, dari antara mereka ada yang
mengambil jalan tengah, dan dari antara mereka ada yang unggul dalam kebaikan
dengan izin Allah, itu
adalah karunia yang sangat besar. (Al-Fāthir [35]:32-33).
Pendangkalan Pemahaman
Al-Quran dan Ajaran Islam Mengakibatkan Perpecahan
Umat Islam
Namun sayang, sejalan dengan perjalanan waktu yang melanda umat Islam -- yang semakin jauh dari masa kenabian penuh berkah Nabi Besar Muhammad saw. (QS.57:17-18) –
maka musim
kemarau panjang ruhani telah melanda
umat Islam, sehingga berbagai bentuk kerusakan pemahaman mengenai ajaran Islam (Al-Quran) semakin merebak,
yang mengakibatkan terjadinya kerusakan
pula pula pada akhlak dan ruhani
umat Islam, firman-Nya:
اَلَمۡ
یَاۡنِ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَنۡ
تَخۡشَعَ قُلُوۡبُہُمۡ لِذِکۡرِ
اللّٰہِ وَ مَا نَزَلَ مِنَ الۡحَقِّ ۙ وَ
لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ فَطَالَ
عَلَیۡہِمُ الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ
قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ کَثِیۡرٌ مِّنۡہُمۡ
فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾ اِعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ
مَوۡتِہَا ؕ قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Apakah belum sampai waktu bagi orang-orang yang beriman, bahwa hati mereka tunduk untuk mengingat Allah dan mengingat kebenaran
yang telah turun kepada mereka, وَ لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ -- dan mereka tidak menjadi seperti orang-orang yang diberi kitab
sebelumnya, فَطَالَ
عَلَیۡہِمُ الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ
ؕ وَ کَثِیۡرٌ مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ -- maka zaman
kesejahteraan menjadi panjang
atas mereka lalu hati
mereka menjadi keras, dan kebanyakan
dari mereka menjadi durhaka? اِعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ
یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا -- Ketahuilah, bahwasanya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya.
قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ
لَعَلَّکُمۡ تَعۡقِلُوۡنَ -- Sungguh Kami telah menjelaskan Tanda-tanda kepada
kamu supaya kamu mengerti. (Al-Hadād
[57]:17-18).
Firman Allah Swt. dalam ayat tersebut
selaras dengan hukum alam bahwa
apabila permukaan bumi lama tidak mendapat siraman air hujan karena
dilanda musim kemarau panjang maka permukaan bumi akan menjadi keras -- karena permukaan
air tanah juga semakin meresap
jauh ke dalam bumi – sehingga membuat berbagai macam tumbuhan pun mati
(QS.18:41-43; QS.67:31). Seperti itu pula keadaan umat
beragama apabila telah jauh dari masa
kenabian yang penuh
berkat.
Sunnatullah
tersebut berlaku pula bagi umat Islam,
yakni setelah umat Islam mengalami masa
kejayaan yang pertama selama 3 abad,
kemudian secara bertahap ruh Al-Quran ditarik
lagi oleh Allah Swt. dari kalangan umat Islam dalam kurun waktu 1000 tahun (QS.32:6; QS.17:86-89), firman-Nya:
یُدَبِّرُ
الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ اِلَی
الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ اِلَیۡہِ فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dia
mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah
itu akan naik kepada-Nya dalam satu
hari, yang hitungan lamanya seribu
tahun dari apa yang kamu hitung (As-Sajdah [32]:6).
Ayat
ini menunjuk kepada suatu pancaroba
sangat hebat, yang ditakdirkan akan
menimpa Islam dalam perkembangannya
yang penuh dengan perubahan itu. Islam
akan melalui suatu masa kemajuan dan kesejahteraan yang mantap selama 3 abad pertama kehidupannya.
Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan
pernah menyinggung secara jitu mengenai kenyataan itu dalam sabda beliau: “Abad terbaik ialah abad di kala aku hidup,
kemudian abad berikutnya, kemudian abad sesudah itu” (Tirmidzi & Bukhari,
Kitab-usy-Syahadat).
Terjadinya Perpecahan di
Lingkungan Umat Islam & Seperti “Tulang Belulang Berserakan”
Islam mulai mundur sesudah 3 abad pertama
masa keunggulan dan keme-nangan yang tiada henti-hentinya.
Peristiwa kemunduran dan kemerosotannya berlangsung dalam masa
1000 tahun berikutnya dan mencapai puncaknya pada abad 14 Hijriyah. Kepada masa 1000
tahun inilah telah diisyaratkan
dengan kata-kata: ثُمَّ
یَعۡرُجُ اِلَیۡہِ فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ
سَنَۃٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ -- “Kemudian perintah
itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun.”
(QS.32:6).
Akibat “musim kemarau panjang ruhani” yang melanda umat Islam tersebut,
adalah sebagaimana “tubuh manusia” apabila
telah kehilangan ruhnya kemudian setelah mati tubuhnya akan menjadi tulang-belulang yang berserakan -- sebagaimana keadaan bangsa
Arab pada masa menjelang pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. – demikian pula halnya keadaan umat Islam, firman-Nya:
وَ قَالُوۡۤاءَ
اِذَا کُنَّا عِظَامًا وَّ رُفَاتًاءَ اِنَّا لَمَبۡعُوۡثُوۡنَ خَلۡقًا جَدِیۡدًا ﴿﴾ قُلۡ کُوۡنُوۡا حِجَارَۃً
اَوۡ حَدِیۡدًا ﴿ۙ﴾ اَوۡ خَلۡقًا مِّمَّا یَکۡبُرُ فِیۡ
صُدُوۡرِکُمۡ ۚ فَسَیَقُوۡلُوۡنَ مَنۡ یُّعِیۡدُنَا ؕ قُلِ الَّذِیۡ
فَطَرَکُمۡ اَوَّلَ مَرَّۃٍ ۚ
فَسَیُنۡغِضُوۡنَ اِلَیۡکَ رُءُوۡسَہُمۡ وَ یَقُوۡلُوۡنَ مَتٰی ہُوَ ؕ قُلۡ
عَسٰۤی اَنۡ یَّکُوۡنَ
قَرِیۡبًا ﴿﴾ یَوۡمَ یَدۡعُوۡکُمۡ فَتَسۡتَجِیۡبُوۡنَ بِحَمۡدِہٖ
وَ تَظُنُّوۡنَ اِنۡ
لَّبِثۡتُمۡ اِلَّا قَلِیۡلًا ﴿٪﴾
Dan mereka
berkata:”Apakah apabila kami telah
menjadi tulang-belulang dan benda
yang hancur, apakah kami benar-benar
akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?”
Katakanlah: “Jadilah kamu batu
atau besi, atau makhluk
yang nampak-nya terkeras dalam pikiran kamu, ka-mu akan
dibangkitkan kembali.” Maka
pasti mereka akan mengatakan: “Siapakah yang akan menghidupkan kami
kembali?” Katakanlah: “Dia Yang
telah menjadikan kamu pertama kali.” Maka pasti mereka akan meng-gelengkan kepalanya terhadap engkau dan
berkata: ”Kapankah itu akan terjadi?”
Katakanlah: “Boleh jadi itu dekat. “Itu akan terjadi pada hari ketika Dia akan memanggil kamu
lalu kamu akan menyambut dengan memuji-Nya dan kamu akan beranggapan bahwa kamu tidak tinggal di dunia
kecuali hanya sebentar.” (Bani Israil [17]:50-53). Lihat pula
QS.3:103-104.
Makna ayat:
قُلۡ کُوۡنُوۡا
حِجَارَۃً اَوۡ حَدِیۡدًا -- “Jadilah
kamu batu atau besi, اَوۡ خَلۡقًا مِّمَّا یَکۡبُرُ فِیۡ صُدُوۡرِکُمۡ -- atau makhluk
yang nampaknya terkeras dalam
pikiran kamu, kamu akan dibangkitkan kembali” dapat dianggap mengatakan kepada orang-orang kafir, bahwa meskipun
seandainya hati mereka menjadi keras seperti besi atau batu atau suatu benda lain semacam itu (QS.2:75 ; QS.57:17-18).
Allah Swt. akan menimbulkan di antara mereka perubahan segar yang kedatangannya Dia takdirkan melalui Nabi
Besar Muhammad saw.. Atau dapat pula
diartikan menjawab keragu-raguan mereka
mengenai kebenaran adanya Hari Kebangkitan,
seperti disebutkan dalam ayat sebelumnya (ayat 50) seraya berkata kepada
mereka, bahwa mereka tidak dapat menghindarkan diri dari azab Ilahi, seandainya mereka akan berubah menjadi besi atau
batu atau suatu benda keras yang lain.
Kenyataan yang sama akan terulang lagi ketika keadaan umat Islam pun dalam masa kemunduran selama 1000 tahun
telah berpecah-belah seperti “tulang
belulang berserakan”, sebagaimana dikemukakan dalam surah
Al-Jumu’ah berikut ini, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡ بَعَثَ
فِی الۡاُمِّیّٖنَ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ
وَ یُزَکِّیۡہِمۡ وَ یُعَلِّمُہُمُ
الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭
وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾ وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ
یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ
الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang
buta huruf seorang rasul
dari antara
mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, mensucikan
mereka, dan mengajarkan kepada
mereka Kitab dan Hikmah walaupun
sebelumnya mereka berada dalam kesesatan
yang nyata, وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ -- Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang
belum bertemu dengan mereka. Dan
Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ -- Itulah karunia Allah, Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah
[62]:3-5).
Dua Kali Pengutusan Nabi Besar Muhammad saw.
Sehubungan ayat وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ
لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha
Bijaksana” (ayat 4), ketika menjawab
pertanyaan Abu Hurairah r.a., Nabi
Besar Muhammad saw. diriwayatkan
pernah bersabda bahwa ketika iman akan terbang ke bintang Tsurayya
dan seseorang dari keturunan Parsi
akan mengembalikannya ke bumi (Bukhari, Kitab-ut-Tafsir). Dengan
kedatangan Masih
Mau’ud a.s. dari kalangan “ākharīna minhum” dalam abad ke-14 sesudah Hijrah laju kemerosotan Islam telah
terhenti dan kebangkitan Islam
kembali mulai berlaku (QS.61:10) firman-Nya:
Tugas
suci Nabi
Besar Muhammad saw. meliputi penunaian keempat macam kewajiban mulia yang disebut dalam ayat ini. Tugas
agung dan mulia itulah yang dipercayakan kepada beliau, sebab untuk kedatangan
beliau di tengah-tengah orang-orang Arab
buta huruf yang jahiliyah itu, leluhur beliau saw.
-- Nabi Ibrahim a.s. -- telah memanjatkan doa beberapa ribu tahun yang
lampau ketika dengan disertai putranya, Nabi Isma’il a.s., ketika beliau mendirikan dasar (pondasi) Ka’bah (QS.2:128-130).
Pada hakikatnya tidak
ada Pembaharu ruhani (rasul Allah) dapat benar-benar berhasil dalam
misinya jika ia tidak menyiapkan dengan contoh mulia dan quat-qudsiahnya
(daya pensuciannya -- QS.33:22), suatu jemaat yang pengikut-pengikutnya terdiri dari orang-orang mukhlis, patuh,
dan bertakwa, yang kepada mereka itu
mula-mula mengajarkan cita-cita dan asas-asas ajarannya serta mengajarkan falsafat, arti, dan kepentingan
cita-cita dan asas-asas ajarannya
itu, kemudian mengirimkan pengikut-pengikutnya ke luar negeri
untuk mendakwah-kan ajaran itu kepada
bangsa-bangsa lain.
Didikan yang Nabi Besar
Muhammad saw. berikan kepada para pengikut beliau saw. telah memperluas dan mempertajam kecerdasan mereka, dan filsafat ajaran beliau saw. menimbulkan dalam diri mereka keyakinan iman, dan contoh mulia beliau saw. (QS.33:22) menciptakan di dalam diri
mereka kesucian hati. Kenyataan-dasar
agama itulah yang diisyaratkan oleh
ayat: یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ
وَ یُزَکِّیۡہِمۡ وَ یُعَلِّمُہُمُ
الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭ -- “yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, mensucikan
mereka, dan mengajarkan kepada
mereka Kitab dan Hikmah وَ
اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ لَفِیۡ ضَلٰلٍ
مُّبِیۡنٍ -- walaupun sebelumnya mereka
berada dalam kesesatan yang nyata “
Makna ayat selanjutnya: وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ
لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha
Bijaksana.” Makna wau
ataf dalam
ayat وَّ اٰخَرِیۡنَ
مِنۡہُمۡ mengisyaratkan kepada terjadinya “pengulangan” berbagai peristiwa
yang dikemukakan ayat sebelumnya di masa
mendatang di kalangan umat Islam,
yaitu di masa puncak kemunduran umat Islam selama 1000 tahun (QS.32:6).
Dengan demikian makna
ayat: وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ
لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha
Bijaksana” mengandung beberapa makna:
(1) Ajaran Nabi Besar
Muhammad saw. bukan hanya ditujukan kepada bangsa Arab belaka -- yang di tengah-tengah bangsa itu beliau saw. -- dibangkitkan, melainkan kepada seluruh bangsa bukan-Arab juga, dan
bukan hanya kepada orang-orang sezaman
beliau saw. melainkan juga kepada keturunan
demi keturunan manusia yang akan
datang hingga Hari Kiamat.
(2) ayat tersebut dapat juga berarti bahwa Nabi
Besar Muhammad saw. secara ruhani
akan dibangkitkan lagi di antara kaum
Muslim di Akhir Zaman ini yang belum pernah tergabung dalam para pengikut
(sahabah) semasa hidup beliau saw..
Jaminan Pemeliharaan Allah Swt. Terhadap Al-Quran, Bukan Terhadap Umat
Islam
Jadi, isyarat di dalam
ayat ini dan di dalam hadits Nabi saw. yang termasyhur, tertuju kepada
pengutusan Nabi Besar Muhammad saw.
untuk kedua kali dalam wujud Masih Mau’ud a.s. – yakni misal Nabi Isa Ibnu Maryam s.s. (QS.43:58) atau Imam
Mahdi a.s. -- di
Akhir Zaman ini.
Sehubungan makna ayat tersebut Abu
Hurairah r.a. berkata: “Pada suatu hari kami sedang duduk-duduk
bersama Rasulullah saw., ketika Surah
Jumu’ah diturunkan. Saya minta keterangan kepada Rasulullah saw.: “Siapakah
yang diisyaratkan oleh kata-kata وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ
لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ -- Dan Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara
mereka yang belum bertemu dengan mereka?” – Salman al-Farsi (Salman asal
Parsi) sedang duduk di antara kami.
Setelah saya
berulang-ulang mengajukan pertanyaan itu, Rasulullah Saw. meletakkan
tangan beliau saw. pada tubuh Salman
dan bersabda: “Apabila iman telah terbang
ke Bintang Tsuraya, seorang lelaki dari mereka ini pasti akan menemukannya.”
(Bukhari).
Hadits Nabi Besar
Muhammad saw. ini menunjukkan
bahwa ayat ini dikenakan kepada seorang
lelaki dari keturunan Parsi. Dan Masih Mau’ud a.s., pendiri Jemaat
Muslim Ahmadiyah -- walau pun termasuk ahli
bait Nabi Besar Muhammad saw. adalah dari keturunan Parsi. Dengan demikian jelaslah mengapa Nabi Besar
Muhammad saw. telah bersabda bahwa Salman
al-Farisi r.a. termasuk ahli bait
beliau saw., sekali pun Salman r.a.
berkebangsaan Farsi (Iran).
Hadits Nabi Besar Muhammad saw. lainnya menyebutkan kedatangan Al-Masih yang dijanjikan pada saat ketika tidak ada yang tertinggal di dalam Al-Quran kecuali kata-katanya, dan tidak ada yang tertinggal di dalam Islam selain namanya, yaitu, jiwa ajaran
Islam yang sejati akan lenyap (Baihaqi).
Jadi, Al-Quran dan hadits kedua-duanya sepakat bahwa ayat ini menunjuk kepada kedatangan kedua kali Nabi Besar Muhammad saw. dalam
wujud Masih
Mau’ud a.s. guna mewujudkan kejayaan
Islam yang kedua kali di Akhir Zaman (QS.61:10)
setelah mengalami masa kemunduran selama 1000 tahun (QS.32:6).
Walau pun benar bahwa
menurut QS.32:6 Islam – setelah
mengalami masa kejayaan yang pertama
selama 3 abad -- akan mengalami masa kemunduran dalam berbagai bidang selama 1000 tahun, tetapi janji
Allah Swt. bahwa Dia akan senantiasa memelihara
Al-Quran dari berbagai bentuk kerusakan
– baik dari segi teks (tulisan) mau pun dari segi pemahaman yang benar --
tetap berlaku, firman-Nya:
اِنَّا نَحۡنُ
نَزَّلۡنَا الذِّکۡرَ وَ اِنَّا
لَہٗ لَحٰفِظُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya
”Kami-lah Yang menurunkan peringatan
ini, dan sesungguhnya Kami-lah
pemeliharanya. (Al-Hijr [15]:10).
Janji
mengenai perlindungan dan penjagaan Al-Quran yang diberikan dalam
ayat ini telah genap dengan cara yang
sangat menakjubkan, sehingga
sekalipun andaikata tidak ada bukti-bukti lainnya, kenyataan ini saja niscaya
sudah cukup membuktikan bahwa Al-Quran
itu berasal dari Allah Swt. -- bukan buatan
Nabi Besar Muhammad saw. sebagaimana tuduhan
dusta pihak-pihak Non-Muslim (QS.16:104; QS.25:5-7).
Surah ini diturunkan di Mekkah -- Noldeke pun mengakuinya -- ketika kehidupan Nabi Besar Muhammad saw. beserta
para pengikut beliau saw. sangat morat-marit keadaannya, dan musuh-musuh dengan
mudah dapat menghancurkan agama yang baru itu.
Ketika itulah orang-orang kafir ditantang untuk
mengerahkan segenap tenaga mereka guna menghancurkan
Islam, dan mereka diperingatkan
bahwa Allah Swt. akan menggagalkan segala tipu-daya mereka
sebab Dia Sendirilah Penjaganya (Pemeliharanya).
Tantangan Allah Swt. itu terbuka dan tidak samar-samar, sedangkan
keadaan musuh kuat lagi kejam, kendatipun demikian Al-Quran tetap selamat
dari perubahan, penyisipan, dan pengurangan,
serta senantiasa terus-menerus menikmati penjagaan
yang sempurna dari Allah Swt., baik secara fisik mau pun secara ruhani.
Keistimewaan Al-Quran yang demikian
itu tidak dimiliki oleh Kitab-kitab lainnya yang diwahyukan sebelum Al-Quran.
Sir William Muir, sarjana ahli kritik yang tersohor, karena
sikapnya memusuhi Islam, berkata: “Kita dapat menetapkan berdasarkan dugaan
yang paling keras, bahwa tiap-tiap ayat dalam Al-Quran itu asli dan merupakan
gubahan Muhammad sendiri yang tidak mengalami perubahan ......................
Ada jaminan yang kuat, baik dari dalam Alquran maupun dari luar, bahwa kita
memiliki teks yang Muhammad sendiri siarkan dan pergunakan
...................... Membandingkan teks asli mereka yang tidak mengalami
perubahan itu dengan berbagai naskah kitab-kitab suci kita, adalah
membandingkan hal-hal yang antaranya tidak ada persamaan (Introduction to “The Life of Mohammad”).
Prof. Noldeke, ahli ketimuran besar yang
berkebangsaan Jerman menulis sebagai berikut, “Usaha-usaha dari para sarjana Eropa untuk membuktikan adanya
sisipan-sisipan dalam Al-Quran di masa kemudian, telah gagal” (Encyclopardia Britannica).
Kegagalan mutlak dari Dr.
Mingana, beberapa tahun berselang, untuk mencari-cari kelemahan dalam kemurnian
teks Al-Quran, membuktikan dengan pasti kebenaran
da'wa kitab itu, bahwa di antara semua
kitab suci yang diwahyukan, hanya
Al-Quran sajalah yang seluruhnya tetap kebal dari penyisipan atau campur-tangan
manusia (QS.41:42-43), firman-Nya:
اِنَّا نَحۡنُ
نَزَّلۡنَا الذِّکۡرَ وَ اِنَّا
لَہٗ لَحٰفِظُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya
”Kami-lah Yang menurunkan
peringatan ini, dan sesungguhnya Kami-lah
pemeliharanya. (Al-Hijr [15]:10).
Akibat Buruk Penarikan “Ruh”
Al-Quran Bagi Umat Islam
Demikian juga
penjagaan Al-Quran dari segi ruhani
pun terus dilakukan pada masa umat
Islam pun mengalami kemunduran selama
1000 tahun (QS.32:6) akibat pencabutan kembali ruh
Al-Quran yang hakiki dari kalangan
umat Islam secara bertahap oleh Allah Swt., sehingga genaplah sabda Nabi Besar Muhammad saw.
mengenai keadaan Islam (Al-Quran) dan
umat Islam di masa puncak kemundurannya
pada abad 14 Hijriyah:
Nabi Besar Muhammad saw. bersabda: "Ya-ti zamanun lā yabqa minal Islami illa- smuhu (akan datang suatu zaman, tidak tinggal Islam kecuali namanya saja; lā yabqa minal qurani illa rasmuhu (tidak tinggal Al-Quran kecuali tulisan saja); masājiduhum āmiratun wahiya harabun minal hadiy (masjid-masjid mereka ramai dan berdiri megah dimana-mana tetapi kosong dari petunjuk); ‘ulama’uhum syarru man tahta ‘adimis samai’ (ulama-ulama yang lahir merupakan manusia jelek di muka bumi ini)" (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi).
Nubuatan Nabi Besar Muhammad saw. tersebut sesuai dengan firman Allah Swt. berikut ini:
Nabi Besar Muhammad saw. bersabda: "Ya-ti zamanun lā yabqa minal Islami illa- smuhu (akan datang suatu zaman, tidak tinggal Islam kecuali namanya saja; lā yabqa minal qurani illa rasmuhu (tidak tinggal Al-Quran kecuali tulisan saja); masājiduhum āmiratun wahiya harabun minal hadiy (masjid-masjid mereka ramai dan berdiri megah dimana-mana tetapi kosong dari petunjuk); ‘ulama’uhum syarru man tahta ‘adimis samai’ (ulama-ulama yang lahir merupakan manusia jelek di muka bumi ini)" (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi).
Nubuatan Nabi Besar Muhammad saw. tersebut sesuai dengan firman Allah Swt. berikut ini:
وَ
یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ الرُّوۡحِ ؕ قُلِ الرُّوۡحُ مِنۡ اَمۡرِ رَبِّیۡ وَ مَاۤ اُوۡتِیۡتُمۡ مِّنَ الۡعِلۡمِ اِلَّا قَلِیۡلًا ﴿﴾ وَ لَئِنۡ شِئۡنَا لَنَذۡہَبَنَّ بِالَّذِیۡۤ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَکَ
بِہٖ عَلَیۡنَا وَکِیۡلًا ﴿ۙ﴾ اِلَّا رَحۡمَۃً مِّنۡ رَّبِّکَ ؕ اِنَّ فَضۡلَہٗ
کَانَ عَلَیۡکَ کَبِیۡرًا ﴿﴾ قُلۡ لَّئِنِ اجۡتَمَعَتِ الۡاِنۡسُ وَ
الۡجِنُّ عَلٰۤی اَنۡ یَّاۡتُوۡا بِمِثۡلِ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ لَا یَاۡتُوۡنَ
بِمِثۡلِہٖ وَ لَوۡ کَانَ بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ
ظَہِیۡرًا ﴿﴾
Dan mereka bertanya kepada engkau mengenai ruh, katakanlah: “Ruh telah diciptakan atas
perintah Rabb-ku (Tuhan-ku), dan kamu
sama sekali tidak diberi ilmu tentang itu melainkan sedikit.” Dan jika Kami benar-benar menghendaki, niscaya Kami mengambil kembali apa yang telah Kami wahyukan kepada engkau
dan kemudian engkau tidak akan
memperoleh penjaga baginya terhadap Kami dalam hal itu. Kecuali karena
rahmat dari Rabb (Tuhan) engkau,
sesungguhnya karunia-Nya sangat besar
kepada engkau. Katakanlah:
“Jika
manusia dan jin benar-benar berhimpun
untuk mendatangkan yang semisal Al-Quran ini, mereka tidak akan sanggup mendatangkan yang sama
seperti ini, walaupun sebagian mereka membantu sebagian yang lain.”
(Bani
Israil [17]:86-89).
(Bersambung)
ooo
Rujukan: The
Holy Quran
Editor : Malik
Ghulam Farid
Pajajaran Anyar, 29 Juli 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar