Sabtu, 29 Juli 2017

"Ketakabburan" Terhadap "Tanda-tanda Ilahi" -- Khususnya "Rasul Allah" -- Penyebab Terjadinya "Kebutaan Mata Ruhani" & "Hamba-hamba" Allah Swt. "Pewaris Hakiki" Al-Quran



Bismillāhirrahmānirrahīm

KHAZANAH  AL-QURAN 

Bab 15

KETAKABBURAN TERHADAP TANDA-TANDA ALLAH  -- KHUSUSNYA RASUL ALLAH -- PENYEBAB TERJADINYA KEBUTAAN MATA RUHANI  & HAMBA-HAMBA ALLAH SWT. PEWARIS HAKIKI AL-QURAN

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir bab sebelumnya  telah dikemukakan  topic:  Pentingnya Memiliki Ketakwaan   dan Kepatuh-taatan yang Hakiki   berkenaan  firman Allah Swt.  mengenai dua  kali hukuman-Nya yang menimpa Bani Israil dan Bani Isma’il, firman-Nya:
وَ قَضَیۡنَاۤ  اِلٰی بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ فِی الۡکِتٰبِ لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ مَرَّتَیۡنِ  وَ لَتَعۡلُنَّ  عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾  فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ  عِبَادًا  لَّنَاۤ   اُولِیۡ  بَاۡسٍ  شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ وَعۡدًا  مَّفۡعُوۡلًا ﴿﴾  ثُمَّ رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ  اَکۡثَرَ  نَفِیۡرًا ﴿﴾  اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا ؕ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  لِیَسُوۡٓءٗا  وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ  اَوَّلَ مَرَّۃٍ  وَّ  لِیُتَبِّرُوۡا مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا ﴿﴾  عَسٰی رَبُّکُمۡ اَنۡ یَّرۡحَمَکُمۡ ۚ وَ اِنۡ عُدۡتُّمۡ عُدۡنَا ۘ وَ جَعَلۡنَا جَہَنَّمَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ  حَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan telah Kami tetapkan dengan jelas kepada Bani Israil dalam kitab itu: “Niscaya  kamu akan melakukan kerusakan di muka bumi ini dua kali, dan niscaya kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang sangat besar.”   Apabila datang saat sempurnanya janji yang pertama  dari kedua janji itu,  Kami membangkitkan untuk menghadapimu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan tempur yang dahsyat, dan mereka menerobos jauh ke dalam rumah-rumah, dan itu merupakan suatu janji yang pasti terlaksana.    Kemudian Kami mengembalikan lagi kepada kamu kekuatan untuk melawan mereka, dan Kami membantu kamu dengan harta dan anak-anak, dan  Kami menjadikan kelompok kamu lebih besar dari sebelumnya.  اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ  --     Jika kamu berbuat ihsan, kamu berbuat ihsan  bagi diri kamu sendiri, dan jika kamu berbuat buruk  maka itu untuk dirimu sendiri.     Lalu bila datang saat sempurnanya janji yang kedua itu Kami membangkitkan lagi hamba-hamba Kami yang lain supaya mereka mendatangkan kesusahan kepada pemimpin-pemimpin kamu dan supaya mereka memasuki masjid seperti pernah mereka memasukinya pada kali pertama, dan supaya mereka menghancurluluhkan segala yang telah mereka kuasai.     Boleh jadi kini  Rabb (Tuhan)  kamu akan menaruh kasihan kepadamu, tetapi jika kamu kembali kepada perbuatan buruk, Kami pun akan kembali menimpakan hukuman dan ingatlah, Kami telah jadikan Jahannam, penjara bagi orang- orang kafir.   (Bani Israil [17]:5-9).

Pentingnya Memiliki Ketakwaan   dan Kepatuh-taatan yang Hakiki

         Allah Swt. tidak akan pernah membiarkan pelanggaran terhadap ketentuan-Nya   dalam  Al-Quran  tanpa hukuman  --  termasuk terhadap umat Islam sendiri (QS.4:149; QS.8:54; QS.13:12; QS.14:8) – firman-Nya jika mereka melakukan pelanggaran (kedurhakaan) terhadap ketentuan Allah Swt. dan  sunnah Nabi Besar Muhammad saw., sebagaimana firman-Nya berikut ini mengenai pentingnya umat Islam memiliki ketakwaan yang hakiki kepada Allah Swt. dan pentingnya menjaga  persatuan dan kesatuan umat Islam:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰہَ حَقَّ تُقٰتِہٖ وَ لَا تَمُوۡتُنَّ  اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ  مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾  وَ اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا وَّ لَا تَفَرَّقُوۡا ۪ وَ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ  اِذۡ  کُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوۡبِکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا ۚ وَ کُنۡتُمۡ عَلٰی شَفَا حُفۡرَۃٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنۡقَذَکُمۡ مِّنۡہَا ؕ کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ لَکُمۡ اٰیٰتِہٖ  لَعَلَّکُمۡ  تَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾  وَلۡتَکُنۡ مِّنۡکُمۡ اُمَّۃٌ یَّدۡعُوۡنَ اِلَی الۡخَیۡرِ وَ یَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ یَنۡہَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡکَرِ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾ وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ تَفَرَّقُوۡا وَ اخۡتَلَفُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ ﴿﴾ۙ  یَّوۡمَ تَبۡیَضُّ وُجُوۡہٌ  وَّ تَسۡوَدُّ وُجُوۡہٌ ۚ فَاَمَّا الَّذِیۡنَ اسۡوَدَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ ۟ اَکَفَرۡتُمۡ بَعۡدَ اِیۡمَانِکُمۡ فَذُوۡقُوا الۡعَذَابَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡفُرُوۡنَ ﴿﴾  وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ ابۡیَضَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ فَفِیۡ رَحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ ہُمۡ  فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾  تِلۡکَ اٰیٰتُ اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ مَا اللّٰہُ یُرِیۡدُ  ظُلۡمًا لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾     وَ لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ  اِلَی اللّٰہِ  تُرۡجَعُ  الۡاُمُوۡرُ  ﴿﴾٪
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan  janganlah sekali-kali kamu mati kecuali kamu dalam keadaan ber-serah  diri.  Dan  berpegangteguhlah kamu sekalian pada tali Allah dan    janganlah kamu berpecah-belahdan  ingatlah akan nikmat Allah atas kamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, lalu  Dia menyatukan hati kamu dengan kecintaan  antara satu sama lain maka  dengan nikmat-Nya itu kamu menjadi bersaudara, dan kamu dahulu berada di tepi jurang Api lalu Dia menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menjelaskan Ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu mendapat petunjuk.   Dan hendaklah ada segolongan di antara kamu   yang senantiasa menyeru manusia kepada kebaikan,  dan menyuruh kepada yang makruf,  dan melarang dari berbuat munkar,  dan mereka itulah orang-orang yang berhasil. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang  berpecah-belah dan berselisih   sesudah  bukti-bukti yang jelas datang kepada mereka, dan mereka itulah orang-orang  yang baginya  ada azab yang besar.   Pada hari  ketika  wajah-wajah menjadi putih, dan wajah-wajah lainnya   menjadi hitam.  Ada pun orang-orang yang wajahnya menjadi hitam, dikatakan kepada mereka: Apakah  kamu kafir  sesudah beriman? Karena itu rasakanlah azab ini disebabkan kekafiran kamu." Dan  ada pun orang-orang yang wajahnya putih, maka mereka akan berada di dalam rahmat Allah, mereka kekal  di dalamnya.    Itulah Ayat-ayat Allah, Kami membacakannya kepada engkau dengan haq, dan Allah sekali-kali tidak menghendaki suatu kezaliman  atas seluruh alam.    Dan  milik Allah-lah apa pun yang ada di seluruh langit dan apa pun yang ada di bumi, dan kepada Allah-lah segala urusan dikembalikan.  (Ali ‘Imrān [3]:103-110).

Kesempurnaan Kitab Suci Al-Quran  & Penyebab “Kebutaan Mata Ruhani

       Kembali pembahasan utama mengenai   kesempurnaan   Al-Quran    sebagai Kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4),   dan  pentingnya mengikuti sepenuhnya sunnah Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32; QS.33:22), Allah Swt. berfirman:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  الٓـمّٓ ۚ ﴿﴾    ذٰلِکَ  الۡکِتٰبُ لَا رَیۡبَ ۚۖۛ فِیۡہِ ۚۛ ہُدًی  لِّلۡمُتَّقِیۡنَ ۙ﴿﴾  الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡغَیۡبِ وَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ  مِمَّا رَزَقۡنٰہُمۡ  یُنۡفِقُوۡنَ ۙ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِمَاۤ  اُنۡزِلَ اِلَیۡکَ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ مِنۡ قَبۡلِکَ ۚ وَ بِالۡاٰخِرَۃِ ہُمۡ یُوۡقِنُوۡنَ ؕ﴿﴾  اُولٰٓئِکَ عَلٰی ہُدًی مِّنۡ رَّبِّہِمۡ ٭ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Alif Lām Mīm (Aku Allah Yang Maha Mengetahui).  Inilah  Kitab yang sempurna itu, tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.  Yaitu orang-orang yang beriman kepada  yang gaib, mendirikan shalat dan mereka  membelanjakan sebagian dari apa  yang Kami rezekikan kepada mereka.   Dan orang-orang  yang beriman kepada apa yang diturunkan kepada engkau, juga kepada apa yang telah diturunkan sebelum engkau dan kepada akhirat pun mereka   yakin. Mereka itulah orang-orang yang  berada di atas petunjuk dari Rabb-nya (Tuhannya)  dan mereka itulah  orang-orang yang  berhasil. (Al-Baqarah [2]:1-6).
         Penjelasan pada Bab-bab sebelum ini membuktikan kebenaran pernyataan Allah Swt. mengenai kesempurnaan Kitab suci Al-Quran:  Inilah  Kitab yang sempurna itu, tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa” (QS.2:3). Makna  “tidak ada keraguan di dalamnya“ bahwa apa pun yang tercantum dalam Al-Quran  pasti benar adanya. Al-Quran bukan “kumpulan dongeng kaum-kaum perbakala” sebagai anggapan orang-orang yang berpikiran jahil, firman-Nya:
اِذَا  تُتۡلٰی عَلَیۡہِ  اٰیٰتُنَا  قَالَ اَسَاطِیۡرُ الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿ؕ﴾  کَلَّا بَلۡ ٜ رَانَ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ مَّا کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ ﴿﴾  کَلَّاۤ  اِنَّہُمۡ عَنۡ رَّبِّہِمۡ یَوۡمَئِذٍ لَّمَحۡجُوۡبُوۡنَ ﴿ؕ﴾  ثُمَّ  اِنَّہُمۡ  لَصَالُوا الۡجَحِیۡمِ ﴿ؕ﴾  ثُمَّ یُقَالُ ہٰذَا الَّذِیۡ کُنۡتُمۡ بِہٖ تُکَذِّبُوۡنَ ﴿ؕ﴾
Apabila Tanda-tanda Kami dibacakan kepadanya  ia berkata: “Inilah dongeng orang-orang dahulu!”  Sekali-kali tidak, bahkan  apa yang mereka usahakan telah menjadi karat pada hati mereka. Sekali-kali tidak, bahkan sesungguhnya pada hari itu mereka benar-benar terhalang dari melihat  Rabb (Tuhan) mereka. Kemudian sesungguhnya  mereka pasti masuk ke dalam Jahannam.  Kemudian  dikatakan: “Inilah apa yang senantiasa kamu  dustakan.”    (Al-Muthaffifīn [83]:14-18). Lihat pula  QS.6:26; QS.8:32; 16:25; 68:16. 

Makna “Melihat Wajah Allah Swt.”

     Nikmat melihat Wajah Allah dianugerahkan kepada orang beriman  melalui dua tingkat:
   (1) Tingkat pertama ialah tingkat keimanan, ketika memperoleh keyakinan teguh kepada Sifat-sifat sempurna Allah Swt..
   (2) Tingkat kedua atau tingkat lebih tinggi berupa anugerah kenyataan mengenai Dzat Ilahi.
    Orang-orang berdosa disebabkan dosa-dosa mereka akan tetap luput dari makrifat Dzat Ilahi dan pada Hari Pembalasan  di akhirat mereka tidak akan melihat Wajah  -- yakni penampakan keagungan – Allah Swt., yang disebut  mereka dibangkitkan dalam keadaan buta, firman-Nya:
وَ مَنۡ کَانَ فِیۡ ہٰذِہٖۤ  اَعۡمٰی فَہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ   اَعۡمٰی  وَ اَضَلُّ  سَبِیۡلًا ﴿﴾
Dan barangsiapa buta di dunia ini maka di akhirat  pun  ia akan buta juga  dan   lebih tersesat dari jalan. (Bani Israil [17]:73).
       Mereka yang tidak mempergunakan mata ruhani (bashirah) mereka dengan cara yang wajar di dunia ini akan tetap  luput dari penglihatan ruhani di dalam akhirat. Al-Quran menyebut mereka yang tidak merenungkan Tanda-tanda Allah Swt.  serta tidak memperoleh manfaat darinya sebagai  orang yang   “buta”, dan orang-orang seperti itu di alam akhirat pun akan tetap dalam keadaan buta, sebagaimana firman-Nya:
وَ مَنۡ اَعۡرَضَ عَنۡ ذِکۡرِیۡ فَاِنَّ لَہٗ مَعِیۡشَۃً ضَنۡکًا وَّ نَحۡشُرُہٗ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ  اَعۡمٰی ﴿﴾  قَالَ رَبِّ  لِمَ حَشَرۡتَنِیۡۤ  اَعۡمٰی وَ قَدۡ کُنۡتُ  بَصِیۡرًا ﴿﴾  الَ  کَذٰلِکَ اَتَتۡکَ اٰیٰتُنَا فَنَسِیۡتَہَا ۚ  وَکَذٰلِکَ  الۡیَوۡمَ  تُنۡسٰی ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِیۡ مَنۡ اَسۡرَفَ وَ لَمۡ  یُؤۡمِنۡۢ بِاٰیٰتِ رَبِّہٖ ؕ وَ لَعَذَابُ الۡاٰخِرَۃِ اَشَدُّ وَ اَبۡقٰی  ﴿﴾ اَفَلَمۡ یَہۡدِ لَہُمۡ کَمۡ اَہۡلَکۡنَا قَبۡلَہُمۡ مِّنَ الۡقُرُوۡنِ یَمۡشُوۡنَ فِیۡ مَسٰکِنِہِمۡ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ  لَاٰیٰتٍ  لِّاُولِی  النُّہٰی﴿﴾٪
 Dan  barangsiapa ber­paling dari mengingat Aku maka sesungguhnya baginya ada kehidupan yang sempit, dan Kami akan membangkitkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.  Ia berkata: "Ya Rabb-ku (Tuhan­-ku), mengapa Engkau mem­bangkitkan aku dalam keadaan buta, padahal sesungguhnya dahulu aku dapat melihat?”   Dia  berfirman: "Demi­kianlah telah datang kepada kamu Tanda-tanda Kami, tetapi engkau melupakannya  dan demikian pula engkau dilupakan pada hari ini."   Dan demikianlah Kami memberi balasan orang yang me­langgar dan ia tidak beriman kepada Tanda-tanda Rabb-nya (Tuhan-nya), dan  niscaya azab  akhirat itu lebih keras dan lebih kekal.   Maka apakah tidak  mem­beri petunjuk kepada mereka   berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, mereka berjalan-jalan di tempat-tempat tinggal mereka yang telah hancur? Sesungguhnya dalam hal yang demikian itu benar-benar ada Tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal  (Al-Quran [20]:125-129). 
   Seseorang yang sama sekali tidak ingat kepada Allah Swt. di dunia serta menjalani cara hidup yang menghalangi dan menghambat perkembangan ruhaninya, dan dengan demikian membuat dirinya tidak layak menerima nur dari Allah Swt. akan dilahirkan (dibangkitkan) dalam keadaan buta di waktu kebangkitannya kembali pada kehidupan di akhirat.    Hal itu menjadi demikian  karena ruhnya di dunia ini - yang akan berperan sebagai tubuh  bagi ruh yang lebih maju ruhaninya di alam akhirat - telah menjadi buta,  sebab ia telah menjalani kehidupan yang bergelimang dosa di dunia ini.

Menganggap Sebagai “Himpunan Kisah Kaum Purbakala

       Sebagai jawaban terhadap keluhan orang kafir mengapa ia dibangkitkan buta padahal dalam kehidupan sebelumnya ia memiliki penglihatan, Allah Swt.  akan mengatakan bahwa ia telah menjadi buta ruhani dalam kehidupannya di dunia sebab telah menjalani kehidupan yang bergelimang dosa, dan karena itu ruhnya — yang akan berperan sebagai tubuh untuk ruh lain yang ruhaninya jauh lebih berkembang di akhirat,  --  maka di hari kemudian ia dilahirkan (dibangkitkan) dalam keadaan buta.
       Ayat ini dapat pula berarti bahwa karena orang kafir tidak mengembangkan dalam dirinya Sifat-sifat Ilahi dan tetap asing dari sifat-sifat itu, maka pada hari kebangkitan — ketika Sifat-sifat  Ilahi tersebut itu  akan dinampakkan  dengan segala keagungan dan kemuliaan — maka ia keadaannya sebagai seseorang yang terasing dari sifat­-sifat itu  tidak akan mampu mengenalnya dan dengan demikian akan berdiri seperti orang buta yang tidak mempunyai ingatan atau kenangan sedikit pun kepada Sifat-sifat itu.
          Al-Quran merupakan ayat-ayat Allah Swt. yang paling sempurna, sebab isinya penuh informasi yang sangat lengkap berkenaan Rukun Iman dan Rukun Islam, tetapi bagi orang-orang yang buta mata ruhaninya  -- akibat dosa-dosa yang mereka lakukan -- mereka akan mengatakan bahwa Al-Quran merupakan himpunan “kisah kaum purbakala” belaka, firman-Nya: 
اِذَا  تُتۡلٰی عَلَیۡہِ  اٰیٰتُنَا  قَالَ اَسَاطِیۡرُ الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿ؕ﴾  کَلَّا بَلۡ ٜ رَانَ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ مَّا کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ ﴿﴾  کَلَّاۤ  اِنَّہُمۡ عَنۡ رَّبِّہِمۡ یَوۡمَئِذٍ لَّمَحۡجُوۡبُوۡنَ ﴿ؕ﴾  ثُمَّ  اِنَّہُمۡ  لَصَالُوا الۡجَحِیۡمِ ﴿ؕ﴾  ثُمَّ یُقَالُ ہٰذَا الَّذِیۡ کُنۡتُمۡ بِہٖ تُکَذِّبُوۡنَ ﴿ؕ﴾
Apabila Tanda-tanda Kami dibacakan kepadanya  ia berkata: “Inilah dongeng orang-orang dahulu!”       کَلَّا بَلۡ ٜ رَانَ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ مَّا کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ    -- Sekali-kali tidak, bahkan  apa yang mereka usahakan telah menjadi karat pada hati mereka. کَلَّاۤ  اِنَّہُمۡ عَنۡ رَّبِّہِمۡ یَوۡمَئِذٍ لَّمَحۡجُوۡبُوۡنَ   --   Sekali-kali tidak, bahkan sesungguhnya pada hari itu mereka benar-benar terhalang dari melihat  Rabb (Tuhan) mereka. ثُمَّ  اِنَّہُمۡ  لَصَالُوا الۡجَحِیۡمِ --   Kemudian sesungguhnya  mereka pasti masuk ke dalam Jahannam. ثُمَّ یُقَالُ ہٰذَا الَّذِیۡ کُنۡتُمۡ بِہٖ تُکَذِّبُوۡنَ  -- Kemudian  dikatakan: “Inilah apa yang senantiasa kamu  dustakan.”    (Al-Muthaffifīn [83]:14-18). Lihat pula  QS.6:26; QS.8:32; 16:25; 68:16.
     Dalam surah lain Allah Swt. menyatakan bahwa hanya orang-orang yang disucikan-Nya sajalah yang mampu “menyentuh” (memahami) kedalaman dan kehalusan khazanah Al-Quran  -- terutama rasul Allah dan para wali Allah  (QS.4:70-71; QS.35:32-33) --  firman-Nya:
اِنَّہٗ   لَقُرۡاٰنٌ   کَرِیۡمٌ ﴿ۙ﴾   فِیۡ  کِتٰبٍ مَّکۡنُوۡنٍ ﴿ۙ﴾   لَّا  یَمَسُّہٗۤ  اِلَّا الۡمُطَہَّرُوۡنَ ﴿ؕ﴾  تَنۡزِیۡلٌ  مِّنۡ  رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya itu  benar-benar   Al-Quran yang mulia,   dalam  suatu kitab yang sangat terpelihara, yang tidak  dapat menyentuhnya kecuali orang-orang  yang disucikan.        Wahyu yang diturunkan dari Rabb (Tuhan) seluruh alam  (Al-Wāqi’ah [56]:78-81). 
      Hanya  orang yang bernasib baik sajalah yang  diberi pengertian  (pemahaman) mengenai -- dan dan dapat mendalami   -- kandungan arti Al-Quran yang hakiki, melalui cara menjalani kehidupan bertakwa lalu meraih kebersihan hati dan dimasukkan ke dalam alam rahasia ruhani makrifat Ilahi, yang tertutup bagi orang-orang yang hatinya tidak bersih dan ada kebengkokan (QS.3:8-9).

Hamba-hamba Allah Swt. Pewaris Al-Quran

  Secara sambil lalu dikatakannya bahwa sebagai penghormatan terhadap Al-Quran kita hendaknya jangan menyentuh atau membaca Al-Quran sementara keadaan fisik kita tidak bersih.  Selaras dengan ayat-ayat tersebut dalam surah lain   Allah Swt. berfirman mengenai para “pewaris” hakiki Al-Quran:
وَ الَّذِیۡۤ  اَوۡحَیۡنَاۤ  اِلَیۡکَ  مِنَ الۡکِتٰبِ ہُوَ الۡحَقُّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ بِعِبَادِہٖ  لَخَبِیۡرٌۢ  بَصِیۡرٌ ﴿﴾  ثُمَّ  اَوۡرَثۡنَا الۡکِتٰبَ الَّذِیۡنَ اصۡطَفَیۡنَا مِنۡ عِبَادِنَا ۚ فَمِنۡہُمۡ ظَالِمٌ لِّنَفۡسِہٖ ۚ وَ مِنۡہُمۡ مُّقۡتَصِدٌ ۚ وَ مِنۡہُمۡ سَابِقٌۢ بِالۡخَیۡرٰتِ بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَضۡلُ  الۡکَبِیۡرُ ﴿ؕ﴾
Dan Kitab yang Kami wahyukan kepada engkau adalah  kebenaran untuk menggenapi apa yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah terhadap hamba-hambanya benar-benar Maha Mengetahui, Maha Melihat.   Kemudian Kitab itu Kami   wariskan kepada orang-orang yang telah Kami pilih dari antara hamba-hamba Kami, maka dari antara mereka sangat zalim terhadap dirinya, dari antara mereka ada yang mengambil jalan tengah, dan dari antara mereka ada yang    unggul dalam kebaikan  dengan izin Allah, itu adalah  karunia yang sangat besar.  (Al-Fāthir [35]:32-33).
      Seorang beriman melampaui berbagai tingkat disiplin keruhanian yang ketat. Pada tingkat pertama ia melancarkan peperangan yang sungguh-sungguh terhadap keinginan dan nafsu rendahnya serta mengamalkan peniadaan diri secara mutlak. Itulah makna: فَمِنۡہُمۡ ظَالِمٌ لِّنَفۡسِہٖ  -- “maka dari antara mereka sangat zalim terhadap dirinya”, yang disebut berjihad melawan keadaan  nafs-al-ammarah, sebagaimana ucapan  Nabi Yusuf a.s., firman-Nya:
وَ مَاۤ  اُبَرِّیُٔ نَفۡسِیۡ ۚ اِنَّ  النَّفۡسَ لَاَمَّارَۃٌۢ بِالسُّوۡٓءِ  اِلَّا مَا رَحِمَ  رَبِّیۡ ؕ اِنَّ رَبِّیۡ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Dan aku sama sekali tidak menganggap diriku bebas dari kelemahan, sesungguhnya nafsu ammarah itu senantiasa menyuruh kepada keburukan, kecuali orang yang dikasihani oleh Rabb-ku (Tuhan-ku),  sesungguhnya Rabb-ku (Tuhan-ku) Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Yusuf [12]:54).
       Anak kalimat illa mā  rahima rabbi (kecuali orang yang dikasihani oleh Rabb-ku) dapat mempunyai tiga tafsiran yang berlainan:
       (a) Kecuali nafs (jiwa) yang kepadanya Tuhan-ku berkasih sayang, huruf  di sini menggantikan kata nafs.
        (b) Kecuali dia, yang kepadanya Tuhan-ku berkasih sayang,  di sini berarti man (siapa).
       (c) Memang begitu, tetapi kasih-sayang Tuhan-lah yang menyelamatkan siapa yang dipilih-Nya. Ketiga arti tersebut menunjuk kepada ketiga taraf perkembangan ruhani manusia.

Tiga Tingkatan Keadaan Nafs (Jiwa) Manusia

      Arti pertama (a) menunjuk kepada taraf ketika manusia telah mencapai tingkat kesempurnaan ruhani — tingkat nafs muthmainnah (jiwa yang tenteram — QS.89:28-31).
       Arti kedua (b) dikenakan kepada orang yang masih pada tingkat nafs lawwamah (jiwa yang menyesali diri sendiri — QS.75:3), ketika ia berjuang melawan dosa dan kecenderungan-kecenderungan buruknya, kadang-kadang ia mengalahkannya dan kadang-kadang ia dikalahkan olehnya.
   Arti ketiga (c) dikenakan kepada orang, ketika nafsu kebinatangannya bersimaharajalela dalam dirinya. Tingkatan ini disebut nafs ammarah (jiwa yang cenderung kepada keburukan),  itulah makna ayat: فَمِنۡہُمۡ ظَالِمٌ لِّنَفۡسِہٖ  -- “maka dari antara mereka sangat zalim terhadap dirinya” (QS.35:33), sebagaimana pernyataan  Nabi Yusuf a.s., firman-Nya:
وَ مَاۤ  اُبَرِّیُٔ نَفۡسِیۡ ۚ اِنَّ  النَّفۡسَ لَاَمَّارَۃٌۢ بِالسُّوۡٓءِ  اِلَّا مَا رَحِمَ  رَبِّیۡ ؕ اِنَّ رَبِّیۡ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Dan aku sama sekali tidak menganggap diriku bebas dari kelemahan, sesungguhnya nafsu ammarah itu senantiasa menyuruh kepada keburukan, kecuali orang yang dikasihani oleh Rabb-ku (Tuhan-ku),  sesungguhnya Rabb-ku (Tuhan-ku) Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Yusuf [12]:54).
       Sehubungan dengan kalimat اِلَّا مَا رَحِمَ  رَبِّیۡ   --   “kecuali orang yang dikasihani oleh Rabb-ku (Tuhan-ku)“ Masih Mau’ud a.s. menggambarkan keadaan nafs-Ammarah bagaikan  banjir dan badai dahsyat di zaman Nabi Nuh a.s. yang اِلَّا مَا رَحِمَ  رَبِّیۡ   --   “kecuali orang yang dikasihani oleh Rabb-ku (Tuhan-ku)“ tidak  seorang pun akan selamat dari ketenggelaman, termasuk anak Nabi Nuh a.s. sendiri  karena ia  menolak naik  ke dalam bahtera  Nabi Nuh a.s. (Q.11:37-44).
       Pada tingkat selanjutnya: وَ مِنۡہُمۡ مُّقۡتَصِدٌ  -- “dari antara mereka ada yang mengambil jalan tengah” (QS.35:33) yakni kemajuan ke arah tujuannya  hanya sebagian saja, yang disebut tingkat nafs-al-lawwamah (jiwa yang mencela diri), firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِۙ﴿﴾   لَاۤ   اُقۡسِمُ   بِیَوۡمِ  الۡقِیٰمَۃِ ۙ﴿﴾  وَ  لَاۤ   اُقۡسِمُ  بِالنَّفۡسِ اللَّوَّامَۃِ ؕ﴿﴾  اَیَحۡسَبُ الۡاِنۡسَانُ اَلَّنۡ نَّجۡمَعَ عِظَامَہٗ ؕ﴿﴾  بَلٰی قٰدِرِیۡنَ  عَلٰۤی  اَنۡ  نُّسَوِّیَ بَنَانَہٗ ﴿﴾
Aku baca dengan nama  Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Tidak demikian! Aku bersumpah  dengan Hari Kiamat, وَ  لَاۤ   اُقۡسِمُ  بِالنَّفۡسِ اللَّوَّامَۃِ --  Dan, tidak demikian! Aku bersumpah dengan jiwa yang mencela  diri.  Apakah manusia menyangka bahwa Kami tidak akan  mengumpulkan tulang-tulangnya? Mengapa tidak, bahkan Kami  berkuasa menyusun kembali jari-jemarinya.” (Al-Qiyāmah [75]:1-5).
 Al-Quran telah menyebut tiga tingkat perkembangan jiwa manusia. Tingkat pertama disebut nafs ammarah (jiwa yang tak terkendalikan – QS.12:54), ketika nafsu kebinatangan atau sifat kehewanan di dalam diri manusia bersimaharajalela.
  Tingkat kedua ialah nafs lawwamah (jiwa yang menyesali diri – QS.75:3), ketika kata-hati manusia yang telah bangkit menyesalinya dari berbuat jahat lalu menahan nafsu dan hasratnya. Pada tingkat ini sifat kemanusiaan di dalam diri manusia memperoleh keunggulan. Itulah permulaan kebangkitan akhlak, dan karena itu dikatakan di sini sebagai bukti adanya Hari Kiamat terakhir.
   Jika manusia tidak mempunyai pertanggung-jawaban, dan seandainya ia tidak akan diminta pertanggung-jawaban atas amal-amalnya dalam kehidupan di alam kemudian (akhirat), lalu  mengapakah ada gangguan yang menusuk-nusuk kata-hati ketika melakukan suatu perbuatan jahat?

Meraih “Kehidupan Surgawi” di Dunia

  Tingkat ketiga dan tertinggi pada perkembangan ruh manusia adalah yang disebut nafs muthmainnah (jiwa yang tenteram). Pada tingkat ini ruh manusia praktis menjadi kebal terhadap kegagalan atau tersandung dan ada dalam suasana ketenteraman bersama Khāliq-nya (Tuhan Pencipta-nya)
  Kata banān  dalam ayat:  بَلٰی قٰدِرِیۡنَ  عَلٰۤی  اَنۡ  نُّسَوِّیَ بَنَانَہٗ   -- “bahkan Kami  berkuasa menyusun kembali jari-jemarinya,” kata banān (jari-jemari) menampilkan kekuasaan dan kekuatan manusia, karena dengan sarana jari-jari tangannya ia memegang sebuah benda dan membela dirinya sendiri. Kata itu dapat menyatakan juga tubuh manusia seutuhnya, karena kadang-kadang sebutan bagian suatu benda dapat menampilkan keseluruhan.
  Ayat  بَلٰی قٰدِرِیۡنَ  عَلٰۤی  اَنۡ  نُّسَوِّیَ بَنَانَہٗ   -- “bahkan Kami  berkuasa menyusun kembali jari-jemarinya,”  berarti bahwa Allah Swt. memiliki kekuasaan mengembalikan lagi semua kekuatan manusia atau bahkan kekuatan seluruh bangsa bila mereka sebenarnya mati dan tidak bernyawa lagi untuk diminta pertanggungjawaban mengenai berbagai hal yang menjadi kewajibannya.
     Menurut QS.35:33 pada tingkat terakhir  hamba Allah yang melakukan “jihad  ruhani” tersebut  mencapai taraf akhlak sempurna, dan kemajuan ke arah tujuannya yang agung itu berlangsung cepat sekali dan merata, yang disebut tingkat nafs-ul-muthmainnah  (jiwa yang  tentram), firman-Nya:
یٰۤاَیَّتُہَا النَّفۡسُ الۡمُطۡمَئِنَّۃُ ﴿٭ۖ﴾  ارۡجِعِیۡۤ  اِلٰی  رَبِّکِ رَاضِیَۃً  مَّرۡضِیَّۃً ﴿ۚ﴾  فَادۡخُلِیۡ  فِیۡ عِبٰدِیۡ ﴿ۙ﴾ وَ ادۡخُلِیۡ جَنَّتِیۡ ﴿٪﴾
Hai jiwa yang tenteram! Kembalilah kepada Rabb (Tuhan) engkau, engkau ridha kepada-Nya dan Dia pun ridha kepada engkau.  Maka masuklah dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. (Al-Fajr [89]:28-31).
        Firman Allah Swt. merupakan tingkat perkembangan ruhani tertinggi, ketika manusia ridha kepada Tuhan-nya dan Tuhan pun ridha kepadanya (QS.58:23). Pada tingkat ini yang disebut pula tingkat surgawi ia menjadi kebal terhadap segala macam kelemahan akhlak, diperkuat dengan kekuatan ruhani yang khas. Ia “manunggal” dengan Tuhan dan tidak dapat hidup tanpa Dia. Di dunia ini, dan bukan  setelah mati perubahan ruhani besar terjadi di dalam dirinya, dan di dunia inilah dan  bukan di tempat lain jalan dibukakan baginya untuk masuk ke surga.
       Demikianlah keadaan para pewaris hakiki Al-Quran yang dikemukakan dalam firman-Nya sebelum ini:
وَ الَّذِیۡۤ  اَوۡحَیۡنَاۤ  اِلَیۡکَ  مِنَ الۡکِتٰبِ ہُوَ الۡحَقُّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ بِعِبَادِہٖ  لَخَبِیۡرٌۢ  بَصِیۡرٌ ﴿﴾  ثُمَّ  اَوۡرَثۡنَا الۡکِتٰبَ الَّذِیۡنَ اصۡطَفَیۡنَا مِنۡ عِبَادِنَا ۚ فَمِنۡہُمۡ ظَالِمٌ لِّنَفۡسِہٖ ۚ وَ مِنۡہُمۡ مُّقۡتَصِدٌ ۚ وَ مِنۡہُمۡ سَابِقٌۢ بِالۡخَیۡرٰتِ بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَضۡلُ  الۡکَبِیۡرُ ﴿ؕ﴾
Dan  Kitab yang Kami wahyukan kepada engkau adalah  kebenaran untuk menggenapi apa yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah terhadap hamba-hambanya benar-benar Maha Mengetahui, Maha Melihat.   Kemudian Kitab itu Kami   wariskan kepada orang-orang yang telah Kami pilih dari antara hamba-hamba Kami, maka dari antara mereka sangat zalim terhadap dirinya, dari antara mereka ada yang mengambil jalan tengah, dan dari antara mereka ada yang    unggul dalam kebaikan  dengan izin Allah, itu adalah  karunia yang sangat besar.  (Al-Fāthir [35]:32-33).

 (Bersambung)
ooo
Rujukan: The Holy Quran
Editor    : Malik Ghulam Farid

Pajajaran Anyar,   28   Juli 2017



Tidak ada komentar:

Posting Komentar