Bismillāhirrahmānirrahīm
KHAZANAH AL-QURAN
Bab
15
KETAKABBURAN TERHADAP TANDA-TANDA
ALLAH -- KHUSUSNYA RASUL ALLAH -- PENYEBAB TERJADINYA KEBUTAAN
MATA RUHANI & HAMBA-HAMBA ALLAH SWT. PEWARIS HAKIKI AL-QURAN
Oleh
Ki
Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir bab sebelumnya
telah dikemukakan topic: Pentingnya Memiliki Ketakwaan dan Kepatuh-taatan
yang Hakiki berkenaan firman Allah Swt. mengenai dua kali hukuman-Nya yang menimpa Bani Israil dan Bani Isma’il, firman-Nya:
وَ قَضَیۡنَاۤ اِلٰی
بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ فِی الۡکِتٰبِ
لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ
مَرَّتَیۡنِ وَ
لَتَعۡلُنَّ عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا
بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ
عِبَادًا لَّنَاۤ اُولِیۡ بَاۡسٍ
شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا
خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ وَعۡدًا مَّفۡعُوۡلًا ﴿﴾ ثُمَّ رَدَدۡنَا
لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ اَکۡثَرَ
نَفِیۡرًا ﴿﴾ اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا ؕ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ لِیَسُوۡٓءٗا وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ اَوَّلَ مَرَّۃٍ وَّ لِیُتَبِّرُوۡا
مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا ﴿﴾ عَسٰی رَبُّکُمۡ اَنۡ یَّرۡحَمَکُمۡ ۚ وَ اِنۡ عُدۡتُّمۡ عُدۡنَا ۘ وَ جَعَلۡنَا جَہَنَّمَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ
حَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan telah Kami tetapkan dengan jelas kepada
Bani Israil dalam kitab itu:
“Niscaya kamu akan melakukan kerusakan di muka bumi ini dua kali, dan
niscaya kamu akan menyombongkan diri
dengan kesombongan yang sangat besar.”
Apabila datang
saat sempurnanya janji yang pertama dari kedua
janji itu, Kami membangkitkan untuk menghadapimu
hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan tempur yang dahsyat, dan mereka menerobos jauh ke dalam rumah-rumah,
dan itu merupakan suatu janji yang pasti
terlaksana. Kemudian Kami
mengembalikan lagi kepada kamu kekuatan untuk melawan mereka, dan Kami membantu kamu dengan harta dan
anak-anak, dan Kami menjadikan kelompok kamu lebih besar dari sebelumnya. اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ -- Jika
kamu berbuat ihsan, kamu berbuat ihsan bagi diri kamu sendiri, dan jika kamu berbuat buruk maka itu
untuk dirimu sendiri. Lalu bila datang saat sempurnanya janji
yang kedua itu Kami membangkitkan lagi hamba-hamba Kami yang lain
supaya mereka mendatangkan kesusahan
kepada pemimpin-pemimpin kamu dan supaya mereka memasuki masjid seperti pernah mereka memasukinya pada kali
pertama, dan supaya mereka
menghancurluluhkan segala yang telah mereka kuasai. Boleh jadi kini Rabb
(Tuhan) kamu akan menaruh kasihan kepadamu, tetapi jika kamu kembali kepada perbuatan buruk, Kami pun akan kembali menimpakan
hukuman dan ingatlah, Kami
telah jadikan Jahannam, penjara bagi orang- orang kafir. (Bani Israil [17]:5-9).
Pentingnya Memiliki Ketakwaan dan Kepatuh-taatan
yang Hakiki
Allah Swt. tidak akan pernah
membiarkan pelanggaran terhadap ketentuan-Nya dalam Al-Quran
tanpa hukuman --
termasuk terhadap umat Islam
sendiri (QS.4:149; QS.8:54; QS.13:12; QS.14:8) – firman-Nya jika mereka
melakukan pelanggaran (kedurhakaan)
terhadap ketentuan Allah Swt.
dan sunnah
Nabi Besar Muhammad saw., sebagaimana firman-Nya berikut ini mengenai
pentingnya umat Islam memiliki ketakwaan yang hakiki kepada Allah Swt.
dan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan umat Islam:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰہَ حَقَّ تُقٰتِہٖ وَ لَا تَمُوۡتُنَّ اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ
مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾ وَ
اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا
وَّ لَا تَفَرَّقُوۡا ۪ وَ اذۡکُرُوۡا
نِعۡمَتَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ اِذۡ
کُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ بَیۡنَ
قُلُوۡبِکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ
بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا ۚ وَ
کُنۡتُمۡ عَلٰی
شَفَا حُفۡرَۃٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنۡقَذَکُمۡ مِّنۡہَا ؕ کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ
لَکُمۡ اٰیٰتِہٖ لَعَلَّکُمۡ
تَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾ وَلۡتَکُنۡ مِّنۡکُمۡ
اُمَّۃٌ یَّدۡعُوۡنَ اِلَی الۡخَیۡرِ وَ یَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ یَنۡہَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡکَرِ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾ وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ تَفَرَّقُوۡا
وَ اخۡتَلَفُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ
الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ
عَذَابٌ عَظِیۡمٌ ﴿﴾ۙ یَّوۡمَ تَبۡیَضُّ
وُجُوۡہٌ وَّ تَسۡوَدُّ وُجُوۡہٌ ۚ فَاَمَّا الَّذِیۡنَ
اسۡوَدَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ ۟ اَکَفَرۡتُمۡ بَعۡدَ
اِیۡمَانِکُمۡ فَذُوۡقُوا
الۡعَذَابَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡفُرُوۡنَ ﴿﴾ وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ ابۡیَضَّتۡ
وُجُوۡہُہُمۡ
فَفِیۡ رَحۡمَۃِ
اللّٰہِ ؕ ہُمۡ
فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾ تِلۡکَ اٰیٰتُ اللّٰہِ
نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ مَا اللّٰہُ یُرِیۡدُ ظُلۡمًا لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ وَ
لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ اِلَی
اللّٰہِ تُرۡجَعُ الۡاُمُوۡرُ ﴿﴾٪
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan takwa
yang sebenar-benarnya, dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali
kamu dalam keadaan ber-serah diri. Dan berpegangteguhlah
kamu sekalian pada tali Allah dan janganlah kamu berpecah-belah, dan ingatlah akan nikmat Allah atas kamu
ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan,
lalu Dia menyatukan hati kamu dengan
kecintaan antara satu sama
lain maka dengan nikmat-Nya itu kamu menjadi bersaudara, dan kamu dahulu berada di tepi jurang Api lalu
Dia menyelamatkan kamu darinya.
Demikianlah Allah menjelaskan
Ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu mendapat petunjuk. Dan hendaklah ada segolongan di antara
kamu yang senantiasa menyeru manusia
kepada kebaikan, dan menyuruh kepada yang makruf, dan melarang
dari berbuat munkar, dan mereka
itulah orang-orang yang berhasil. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang
yang berpecah-belah
dan berselisih sesudah
bukti-bukti yang jelas datang
kepada mereka, dan mereka itulah orang-orang
yang baginya ada azab yang besar. Pada hari
ketika wajah-wajah menjadi putih, dan wajah-wajah lainnya menjadi hitam. Ada pun orang-orang
yang wajahnya menjadi hitam, dikatakan kepada mereka: “Apakah
kamu kafir sesudah beriman?
Karena itu rasakanlah azab ini disebabkan kekafiran kamu." Dan ada
pun orang-orang yang wajahnya putih, maka mereka akan berada di dalam rahmat Allah, mereka kekal
di dalamnya. Itulah Ayat-ayat
Allah, Kami membacakannya kepada
engkau dengan haq, dan Allah
sekali-kali tidak menghendaki suatu kezaliman
atas seluruh alam. Dan
milik Allah-lah apa pun yang ada
di seluruh langit dan apa pun yang
ada di bumi, dan kepada Allah-lah
segala urusan dikembalikan. (Ali
‘Imrān [3]:103-110).
Kesempurnaan Kitab Suci Al-Quran & Penyebab “Kebutaan Mata Ruhani”
Kembali pembahasan utama mengenai kesempurnaan Al-Quran sebagai Kitab
suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4),
dan pentingnya mengikuti sepenuhnya sunnah Nabi Besar Muhammad saw.
(QS.3:32; QS.33:22), Allah Swt. berfirman:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾
الٓـمّٓ ۚ ﴿﴾ ذٰلِکَ الۡکِتٰبُ لَا رَیۡبَ ۚۖۛ فِیۡہِ ۚۛ ہُدًی لِّلۡمُتَّقِیۡنَ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡغَیۡبِ
وَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ مِمَّا
رَزَقۡنٰہُمۡ یُنۡفِقُوۡنَ ۙ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ
یُؤۡمِنُوۡنَ بِمَاۤ اُنۡزِلَ
اِلَیۡکَ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ مِنۡ
قَبۡلِکَ ۚ وَ بِالۡاٰخِرَۃِ ہُمۡ یُوۡقِنُوۡنَ ؕ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ عَلٰی ہُدًی مِّنۡ رَّبِّہِمۡ ٭ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
Alif
Lām Mīm (Aku Allah Yang Maha Mengetahui). Inilah
Kitab yang sempurna itu, tidak
ada keraguan di dalamnya, petunjuk
bagi orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang beriman kepada yang gaib, mendirikan shalat dan mereka membelanjakan
sebagian dari apa yang Kami rezekikan
kepada mereka. Dan orang-orang yang beriman kepada apa yang diturunkan
kepada engkau, juga kepada apa
yang telah diturunkan sebelum engkau dan kepada akhirat pun mereka yakin.
Mereka itulah orang-orang yang berada di atas petunjuk dari Rabb-nya (Tuhannya)
dan mereka itulah orang-orang yang berhasil. (Al-Baqarah [2]:1-6).
Penjelasan pada Bab-bab sebelum ini
membuktikan kebenaran pernyataan
Allah Swt. mengenai kesempurnaan
Kitab suci Al-Quran: Inilah
Kitab yang sempurna itu, tidak
ada keraguan di dalamnya, petunjuk
bagi orang-orang yang bertakwa” (QS.2:3). Makna “tidak
ada keraguan di dalamnya“ bahwa apa pun
yang tercantum dalam Al-Quran pasti benar
adanya. Al-Quran bukan “kumpulan dongeng
kaum-kaum perbakala” sebagai anggapan
orang-orang yang berpikiran jahil,
firman-Nya:
اِذَا تُتۡلٰی عَلَیۡہِ اٰیٰتُنَا
قَالَ اَسَاطِیۡرُ الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿ؕ﴾ کَلَّا بَلۡ ٜ رَانَ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ مَّا کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ
﴿﴾ کَلَّاۤ اِنَّہُمۡ عَنۡ رَّبِّہِمۡ یَوۡمَئِذٍ
لَّمَحۡجُوۡبُوۡنَ ﴿ؕ﴾ ثُمَّ اِنَّہُمۡ لَصَالُوا الۡجَحِیۡمِ ﴿ؕ﴾ ثُمَّ یُقَالُ ہٰذَا الَّذِیۡ کُنۡتُمۡ بِہٖ
تُکَذِّبُوۡنَ ﴿ؕ﴾
Apabila Tanda-tanda Kami dibacakan kepadanya ia berkata: “Inilah dongeng orang-orang dahulu!” Sekali-kali
tidak, bahkan apa yang mereka usahakan telah menjadi karat pada hati mereka. Sekali-kali tidak, bahkan sesungguhnya pada hari itu mereka benar-benar
terhalang dari melihat Rabb (Tuhan)
mereka. Kemudian
sesungguhnya mereka pasti masuk ke dalam Jahannam. Kemudian
dikatakan: “Inilah apa yang
senantiasa kamu dustakan.”
(Al-Muthaffifīn [83]:14-18).
Lihat pula QS.6:26; QS.8:32; 16:25;
68:16.
Makna “Melihat Wajah Allah Swt.”
Nikmat melihat
Wajah Allah dianugerahkan kepada orang
beriman melalui dua tingkat:
(1) Tingkat pertama ialah
tingkat keimanan, ketika memperoleh keyakinan teguh kepada Sifat-sifat sempurna Allah Swt..
(2) Tingkat kedua atau
tingkat lebih tinggi berupa anugerah
kenyataan mengenai Dzat Ilahi.
Orang-orang berdosa disebabkan dosa-dosa mereka akan tetap
luput dari makrifat Dzat Ilahi dan
pada Hari Pembalasan di akhirat
mereka tidak akan melihat Wajah -- yakni penampakan keagungan – Allah Swt., yang disebut mereka dibangkitkan
dalam keadaan buta, firman-Nya:
وَ مَنۡ کَانَ
فِیۡ ہٰذِہٖۤ اَعۡمٰی فَہُوَ فِی
الۡاٰخِرَۃِ اَعۡمٰی وَ اَضَلُّ
سَبِیۡلًا ﴿﴾
Dan barangsiapa buta di dunia ini
maka di akhirat pun ia akan buta juga dan lebih
tersesat dari jalan. (Bani Israil [17]:73).
Mereka yang tidak mempergunakan mata ruhani (bashirah) mereka dengan
cara yang wajar di dunia ini akan tetap luput dari penglihatan ruhani di dalam akhirat.
Al-Quran menyebut mereka yang tidak
merenungkan Tanda-tanda Allah Swt. serta tidak
memperoleh manfaat darinya
sebagai orang yang “buta”,
dan orang-orang seperti itu di alam
akhirat pun akan tetap dalam keadaan
buta, sebagaimana firman-Nya:
وَ مَنۡ
اَعۡرَضَ عَنۡ ذِکۡرِیۡ فَاِنَّ لَہٗ مَعِیۡشَۃً ضَنۡکًا وَّ نَحۡشُرُہٗ یَوۡمَ
الۡقِیٰمَۃِ اَعۡمٰی ﴿﴾ قَالَ رَبِّ
لِمَ حَشَرۡتَنِیۡۤ اَعۡمٰی وَ
قَدۡ کُنۡتُ بَصِیۡرًا ﴿﴾ الَ
کَذٰلِکَ اَتَتۡکَ اٰیٰتُنَا فَنَسِیۡتَہَا ۚ وَکَذٰلِکَ
الۡیَوۡمَ تُنۡسٰی ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِیۡ مَنۡ اَسۡرَفَ وَ
لَمۡ یُؤۡمِنۡۢ بِاٰیٰتِ رَبِّہٖ ؕ وَ
لَعَذَابُ الۡاٰخِرَۃِ اَشَدُّ وَ اَبۡقٰی ﴿﴾
اَفَلَمۡ یَہۡدِ لَہُمۡ کَمۡ اَہۡلَکۡنَا قَبۡلَہُمۡ مِّنَ الۡقُرُوۡنِ یَمۡشُوۡنَ
فِیۡ مَسٰکِنِہِمۡ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ
لَاٰیٰتٍ لِّاُولِی النُّہٰی﴿﴾٪
Dan barangsiapa
berpaling dari mengingat Aku maka sesungguhnya baginya ada kehidupan yang sempit, dan Kami akan membangkitkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.
Ia berkata: "Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), mengapa Engkau membangkitkan aku dalam
keadaan buta, padahal sesungguhnya
dahulu aku dapat melihat?” Dia
berfirman: "Demikianlah
telah datang kepada kamu Tanda-tanda Kami, tetapi engkau melupakannya dan demikian
pula engkau dilupakan pada hari ini." Dan demikianlah Kami memberi balasan orang yang
melanggar dan ia tidak beriman
kepada Tanda-tanda Rabb-nya (Tuhan-nya), dan niscaya azab
akhirat itu lebih keras dan lebih kekal. Maka apakah tidak memberi petunjuk kepada mereka berapa banyak generasi yang telah
Kami binasakan sebelum mereka, mereka berjalan-jalan
di tempat-tempat tinggal mereka yang telah hancur? Sesungguhnya dalam hal yang demikian itu benar-benar ada
Tanda-tanda bagi orang-orang yang
berakal (Al-Quran
[20]:125-129).
Seseorang
yang sama sekali tidak ingat kepada Allah
Swt. di dunia serta menjalani cara hidup yang menghalangi dan menghambat perkembangan ruhaninya, dan
dengan demikian membuat dirinya tidak
layak menerima nur dari Allah Swt. akan dilahirkan (dibangkitkan) dalam
keadaan buta di waktu kebangkitannya kembali pada kehidupan di
akhirat. Hal itu menjadi demikian karena ruhnya
di dunia ini - yang akan berperan sebagai tubuh
bagi ruh
yang lebih maju ruhaninya di alam
akhirat - telah menjadi buta, sebab ia telah menjalani kehidupan yang bergelimang dosa di dunia ini.
Menganggap Sebagai “Himpunan
Kisah Kaum Purbakala”
Sebagai jawaban terhadap keluhan orang kafir mengapa ia dibangkitkan buta padahal dalam kehidupan sebelumnya ia memiliki penglihatan, Allah Swt. akan mengatakan bahwa ia telah menjadi buta ruhani dalam kehidupannya di dunia sebab telah menjalani kehidupan yang bergelimang dosa, dan karena itu ruhnya — yang akan berperan sebagai tubuh untuk ruh lain yang ruhaninya jauh lebih berkembang di akhirat,
-- maka di hari kemudian ia dilahirkan (dibangkitkan) dalam keadaan buta.
Ayat ini dapat pula berarti bahwa karena
orang kafir tidak mengembangkan dalam dirinya Sifat-sifat Ilahi dan tetap asing dari sifat-sifat itu, maka pada hari
kebangkitan — ketika Sifat-sifat Ilahi tersebut itu akan dinampakkan dengan segala keagungan dan kemuliaan —
maka ia keadaannya sebagai seseorang yang terasing
dari sifat-sifat itu tidak akan mampu mengenalnya dan dengan demikian akan berdiri seperti orang buta yang tidak mempunyai ingatan atau kenangan sedikit pun kepada Sifat-sifat
itu.
Al-Quran merupakan ayat-ayat Allah Swt. yang paling sempurna, sebab isinya penuh informasi yang sangat lengkap berkenaan Rukun Iman dan Rukun Islam,
tetapi bagi orang-orang yang buta mata
ruhaninya -- akibat dosa-dosa yang mereka lakukan -- mereka
akan mengatakan bahwa Al-Quran
merupakan himpunan “kisah kaum purbakala”
belaka, firman-Nya:
اِذَا تُتۡلٰی عَلَیۡہِ اٰیٰتُنَا
قَالَ اَسَاطِیۡرُ الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿ؕ﴾ کَلَّا بَلۡ ٜ رَانَ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ مَّا کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ
﴿﴾ کَلَّاۤ اِنَّہُمۡ عَنۡ رَّبِّہِمۡ یَوۡمَئِذٍ
لَّمَحۡجُوۡبُوۡنَ ﴿ؕ﴾ ثُمَّ اِنَّہُمۡ لَصَالُوا الۡجَحِیۡمِ ﴿ؕ﴾ ثُمَّ یُقَالُ ہٰذَا الَّذِیۡ کُنۡتُمۡ بِہٖ
تُکَذِّبُوۡنَ ﴿ؕ﴾
Apabila Tanda-tanda Kami dibacakan kepadanya ia berkata: “Inilah dongeng orang-orang dahulu!” کَلَّا بَلۡ ٜ رَانَ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ مَّا
کَانُوۡا یَکۡسِبُوۡنَ -- Sekali-kali
tidak, bahkan apa yang mereka usahakan telah menjadi karat pada hati mereka. کَلَّاۤ
اِنَّہُمۡ عَنۡ رَّبِّہِمۡ یَوۡمَئِذٍ لَّمَحۡجُوۡبُوۡنَ --
Sekali-kali tidak, bahkan sesungguhnya
pada hari itu mereka benar-benar terhalang dari melihat Rabb (Tuhan) mereka. ثُمَّ
اِنَّہُمۡ لَصَالُوا الۡجَحِیۡمِ -- Kemudian
sesungguhnya mereka pasti masuk ke dalam Jahannam. ثُمَّ یُقَالُ ہٰذَا الَّذِیۡ کُنۡتُمۡ بِہٖ
تُکَذِّبُوۡنَ -- Kemudian
dikatakan: “Inilah apa yang
senantiasa kamu dustakan.”
(Al-Muthaffifīn [83]:14-18).
Lihat pula QS.6:26; QS.8:32; 16:25;
68:16.
Dalam
surah lain Allah Swt. menyatakan bahwa hanya orang-orang yang disucikan-Nya sajalah yang mampu “menyentuh” (memahami) kedalaman dan kehalusan khazanah Al-Quran -- terutama rasul Allah dan para wali
Allah (QS.4:70-71; QS.35:32-33)
-- firman-Nya:
اِنَّہٗ لَقُرۡاٰنٌ
کَرِیۡمٌ ﴿ۙ﴾ فِیۡ کِتٰبٍ مَّکۡنُوۡنٍ ﴿ۙ﴾ لَّا
یَمَسُّہٗۤ اِلَّا
الۡمُطَہَّرُوۡنَ ﴿ؕ﴾ تَنۡزِیۡلٌ مِّنۡ
رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya
itu
benar-benar Al-Quran yang mulia, dalam suatu kitab yang sangat terpelihara, yang tidak dapat menyentuhnya
kecuali orang-orang yang disucikan. Wahyu yang diturunkan
dari Rabb (Tuhan) seluruh alam (Al-Wāqi’ah [56]:78-81).
Hanya
orang yang bernasib baik
sajalah yang diberi pengertian (pemahaman) mengenai
-- dan dan dapat mendalami -- kandungan arti Al-Quran yang hakiki,
melalui cara menjalani kehidupan bertakwa
lalu meraih kebersihan hati dan dimasukkan ke dalam alam rahasia ruhani makrifat Ilahi, yang tertutup bagi orang-orang yang hatinya
tidak bersih dan ada kebengkokan (QS.3:8-9).
Hamba-hamba Allah Swt. Pewaris Al-Quran
Secara sambil lalu dikatakannya bahwa sebagai penghormatan terhadap Al-Quran kita
hendaknya jangan menyentuh atau membaca Al-Quran sementara keadaan fisik kita tidak bersih. Selaras dengan
ayat-ayat tersebut dalam surah lain
Allah Swt. berfirman mengenai para “pewaris”
hakiki Al-Quran:
وَ
الَّذِیۡۤ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ
مِنَ الۡکِتٰبِ ہُوَ الۡحَقُّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ ؕ اِنَّ
اللّٰہَ بِعِبَادِہٖ لَخَبِیۡرٌۢ بَصِیۡرٌ ﴿﴾ ثُمَّ اَوۡرَثۡنَا الۡکِتٰبَ
الَّذِیۡنَ اصۡطَفَیۡنَا مِنۡ عِبَادِنَا ۚ فَمِنۡہُمۡ ظَالِمٌ لِّنَفۡسِہٖ ۚ وَ
مِنۡہُمۡ مُّقۡتَصِدٌ ۚ وَ مِنۡہُمۡ سَابِقٌۢ بِالۡخَیۡرٰتِ بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ
ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَضۡلُ الۡکَبِیۡرُ ﴿ؕ﴾
Dan Kitab yang Kami wahyukan kepada engkau
adalah kebenaran untuk menggenapi apa yang sebelumnya.
Sesungguhnya Allah terhadap
hamba-hambanya benar-benar Maha
Mengetahui, Maha Melihat. Kemudian Kitab
itu Kami wariskan kepada orang-orang yang telah Kami pilih dari
antara hamba-hamba Kami, maka dari antara mereka sangat zalim terhadap
dirinya, dari antara mereka ada yang
mengambil jalan tengah, dan dari antara mereka ada yang unggul dalam kebaikan
dengan izin Allah, itu
adalah karunia yang sangat besar. (Al-Fāthir [35]:32-33).
Seorang beriman
melampaui berbagai tingkat disiplin
keruhanian yang ketat. Pada tingkat pertama ia melancarkan peperangan yang sungguh-sungguh terhadap
keinginan dan nafsu rendahnya serta mengamalkan peniadaan diri secara mutlak. Itulah makna: فَمِنۡہُمۡ ظَالِمٌ لِّنَفۡسِہٖ -- “maka dari antara mereka sangat zalim terhadap
dirinya”, yang disebut berjihad
melawan keadaan nafs-al-ammarah, sebagaimana ucapan
Nabi Yusuf a.s., firman-Nya:
وَ مَاۤ اُبَرِّیُٔ نَفۡسِیۡ ۚ اِنَّ النَّفۡسَ لَاَمَّارَۃٌۢ بِالسُّوۡٓءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّیۡ ؕ اِنَّ رَبِّیۡ غَفُوۡرٌ
رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Dan aku
sama sekali tidak menganggap diriku bebas dari kelemahan,
sesungguhnya nafsu ammarah itu senantiasa menyuruh kepada keburukan,
kecuali orang yang dikasihani oleh Rabb-ku
(Tuhan-ku), sesungguhnya Rabb-ku (Tuhan-ku) Maha Pengampun, Maha
Penyayang.” (Yusuf [12]:54).
Anak kalimat illa mā rahima rabbi (kecuali orang yang
dikasihani oleh Rabb-ku) dapat mempunyai tiga
tafsiran yang berlainan:
(a) Kecuali nafs (jiwa) yang kepadanya Tuhan-ku berkasih
sayang, huruf mā di sini
menggantikan kata nafs.
(b) Kecuali dia, yang kepadanya
Tuhan-ku berkasih sayang, mā di
sini berarti man (siapa).
(c) Memang begitu, tetapi kasih-sayang
Tuhan-lah yang menyelamatkan siapa yang dipilih-Nya. Ketiga arti tersebut
menunjuk kepada ketiga taraf perkembangan ruhani manusia.
Tiga Tingkatan Keadaan Nafs (Jiwa) Manusia
Arti pertama (a) menunjuk kepada
taraf ketika manusia telah mencapai tingkat kesempurnaan
ruhani — tingkat nafs muthmainnah (jiwa yang tenteram — QS.89:28-31).
Arti kedua (b) dikenakan kepada orang yang
masih pada tingkat nafs lawwamah (jiwa yang menyesali diri sendiri —
QS.75:3), ketika ia berjuang melawan dosa
dan kecenderungan-kecenderungan buruknya,
kadang-kadang ia mengalahkannya dan
kadang-kadang ia dikalahkan olehnya.
Arti ketiga (c) dikenakan kepada orang, ketika
nafsu kebinatangannya
bersimaharajalela dalam dirinya. Tingkatan ini disebut nafs ammarah
(jiwa yang cenderung kepada keburukan),
itulah makna ayat: فَمِنۡہُمۡ
ظَالِمٌ لِّنَفۡسِہٖ -- “maka
dari antara mereka sangat zalim terhadap
dirinya” (QS.35:33), sebagaimana pernyataan
Nabi Yusuf a.s., firman-Nya:
وَ مَاۤ اُبَرِّیُٔ نَفۡسِیۡ ۚ اِنَّ النَّفۡسَ
لَاَمَّارَۃٌۢ بِالسُّوۡٓءِ اِلَّا مَا
رَحِمَ رَبِّیۡ ؕ اِنَّ رَبِّیۡ غَفُوۡرٌ
رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Dan aku
sama sekali tidak menganggap diriku bebas dari kelemahan,
sesungguhnya nafsu ammarah itu senantiasa menyuruh kepada keburukan,
kecuali orang yang dikasihani oleh Rabb-ku
(Tuhan-ku), sesungguhnya Rabb-ku (Tuhan-ku) Maha Pengampun, Maha
Penyayang.” (Yusuf [12]:54).
Sehubungan dengan kalimat اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّیۡ -- “kecuali
orang yang dikasihani oleh Rabb-ku (Tuhan-ku)“
Masih Mau’ud a.s. menggambarkan keadaan nafs-Ammarah
bagaikan banjir dan badai dahsyat
di zaman Nabi Nuh a.s. yang اِلَّا
مَا رَحِمَ رَبِّیۡ -- “kecuali
orang yang dikasihani oleh Rabb-ku (Tuhan-ku)“
tidak seorang pun akan selamat dari ketenggelaman, termasuk anak Nabi
Nuh a.s. sendiri karena ia menolak
naik ke dalam bahtera Nabi Nuh a.s.
(Q.11:37-44).
Pada tingkat selanjutnya: وَ مِنۡہُمۡ مُّقۡتَصِدٌ -- “dari antara mereka ada yang mengambil jalan tengah” (QS.35:33) yakni kemajuan ke arah tujuannya hanya sebagian
saja, yang disebut tingkat nafs-al-lawwamah
(jiwa yang mencela diri), firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ
الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِۙ﴿﴾ لَاۤ
اُقۡسِمُ بِیَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ ۙ﴿﴾ وَ لَاۤ اُقۡسِمُ
بِالنَّفۡسِ اللَّوَّامَۃِ ؕ﴿﴾ اَیَحۡسَبُ الۡاِنۡسَانُ اَلَّنۡ نَّجۡمَعَ عِظَامَہٗ ؕ﴿﴾ بَلٰی قٰدِرِیۡنَ عَلٰۤی
اَنۡ نُّسَوِّیَ بَنَانَہٗ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
Tidak demikian! Aku bersumpah dengan Hari
Kiamat, وَ لَاۤ
اُقۡسِمُ بِالنَّفۡسِ
اللَّوَّامَۃِ -- Dan, tidak demikian! Aku bersumpah dengan jiwa yang mencela diri. Apakah manusia
menyangka bahwa Kami tidak akan mengumpulkan tulang-tulangnya? Mengapa
tidak, bahkan Kami berkuasa menyusun kembali jari-jemarinya.”
(Al-Qiyāmah
[75]:1-5).
Al-Quran telah menyebut tiga tingkat perkembangan jiwa manusia. Tingkat
pertama disebut nafs ammarah (jiwa yang tak terkendalikan – QS.12:54),
ketika nafsu kebinatangan atau sifat kehewanan di dalam diri manusia bersimaharajalela.
Tingkat kedua ialah nafs lawwamah (jiwa yang menyesali diri
– QS.75:3), ketika kata-hati manusia
yang telah bangkit menyesalinya dari berbuat jahat lalu menahan nafsu dan hasratnya.
Pada tingkat ini sifat kemanusiaan di
dalam diri manusia memperoleh keunggulan.
Itulah permulaan kebangkitan akhlak,
dan karena itu dikatakan di sini sebagai bukti adanya Hari Kiamat terakhir.
Jika manusia tidak mempunyai pertanggung-jawaban, dan seandainya ia
tidak akan diminta pertanggung-jawaban
atas amal-amalnya dalam kehidupan di alam kemudian (akhirat),
lalu mengapakah ada gangguan yang menusuk-nusuk
kata-hati ketika melakukan suatu perbuatan
jahat?
Meraih “Kehidupan Surgawi” di Dunia
Tingkat
ketiga dan tertinggi pada perkembangan
ruh manusia adalah yang disebut nafs muthmainnah (jiwa yang
tenteram). Pada tingkat ini ruh manusia
praktis menjadi kebal terhadap kegagalan atau tersandung dan ada dalam suasana ketenteraman bersama Khāliq-nya
(Tuhan Pencipta-nya)
Kata banān dalam ayat: بَلٰی قٰدِرِیۡنَ
عَلٰۤی اَنۡ نُّسَوِّیَ بَنَانَہٗ -- “bahkan Kami berkuasa menyusun kembali jari-jemarinya,” kata banān (jari-jemari) menampilkan
kekuasaan dan kekuatan manusia, karena dengan sarana jari-jari tangannya ia memegang
sebuah benda dan membela dirinya
sendiri. Kata itu dapat menyatakan juga tubuh
manusia seutuhnya, karena kadang-kadang sebutan bagian suatu benda dapat
menampilkan keseluruhan.
Ayat بَلٰی قٰدِرِیۡنَ
عَلٰۤی اَنۡ نُّسَوِّیَ بَنَانَہٗ -- “bahkan Kami berkuasa
menyusun kembali jari-jemarinya,” berarti bahwa Allah Swt. memiliki kekuasaan mengembalikan lagi semua kekuatan manusia atau bahkan kekuatan
seluruh bangsa bila mereka sebenarnya mati
dan tidak bernyawa lagi untuk diminta
pertanggungjawaban mengenai berbagai
hal yang menjadi kewajibannya.
Menurut QS.35:33 pada tingkat terakhir hamba Allah
yang melakukan “jihad ruhani” tersebut mencapai taraf
akhlak sempurna, dan kemajuan ke arah tujuannya
yang agung itu berlangsung cepat
sekali dan merata, yang disebut
tingkat nafs-ul-muthmainnah (jiwa yang
tentram), firman-Nya:
یٰۤاَیَّتُہَا
النَّفۡسُ الۡمُطۡمَئِنَّۃُ ﴿٭ۖ﴾ ارۡجِعِیۡۤ اِلٰی رَبِّکِ رَاضِیَۃً مَّرۡضِیَّۃً ﴿ۚ﴾ فَادۡخُلِیۡ فِیۡ عِبٰدِیۡ
﴿ۙ﴾ وَ ادۡخُلِیۡ جَنَّتِیۡ ﴿٪﴾
Hai jiwa yang tenteram! Kembalilah kepada Rabb (Tuhan) engkau, engkau ridha kepada-Nya dan Dia pun ridha kepada engkau.
Maka masuklah dalam golongan hamba-hamba-Ku,
dan masuklah ke dalam surga-Ku. (Al-Fajr
[89]:28-31).
Firman Allah Swt. merupakan tingkat perkembangan ruhani tertinggi,
ketika manusia ridha kepada Tuhan-nya
dan Tuhan pun ridha kepadanya (QS.58:23).
Pada tingkat ini yang disebut pula tingkat
surgawi ia menjadi kebal terhadap
segala macam kelemahan akhlak,
diperkuat dengan kekuatan ruhani yang
khas. Ia “manunggal” dengan Tuhan
dan tidak dapat hidup tanpa Dia. Di dunia
ini, dan bukan setelah mati perubahan ruhani besar terjadi di dalam
dirinya, dan di dunia inilah dan bukan
di tempat lain jalan dibukakan
baginya untuk masuk ke surga.
Demikianlah keadaan para pewaris hakiki Al-Quran yang dikemukakan dalam firman-Nya sebelum ini:
وَ
الَّذِیۡۤ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ
مِنَ الۡکِتٰبِ ہُوَ الۡحَقُّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ ؕ اِنَّ
اللّٰہَ بِعِبَادِہٖ لَخَبِیۡرٌۢ بَصِیۡرٌ ﴿﴾ ثُمَّ اَوۡرَثۡنَا الۡکِتٰبَ
الَّذِیۡنَ اصۡطَفَیۡنَا مِنۡ عِبَادِنَا ۚ فَمِنۡہُمۡ ظَالِمٌ لِّنَفۡسِہٖ ۚ وَ
مِنۡہُمۡ مُّقۡتَصِدٌ ۚ وَ مِنۡہُمۡ سَابِقٌۢ بِالۡخَیۡرٰتِ بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ
ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَضۡلُ الۡکَبِیۡرُ ﴿ؕ﴾
Dan Kitab
yang Kami wahyukan kepada engkau adalah kebenaran
untuk menggenapi apa yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah terhadap hamba-hambanya
benar-benar Maha Mengetahui, Maha Melihat. Kemudian Kitab
itu Kami wariskan kepada orang-orang yang telah Kami pilih dari
antara hamba-hamba Kami, maka dari antara mereka sangat zalim terhadap
dirinya, dari antara mereka ada yang
mengambil jalan tengah, dan dari antara mereka ada yang unggul dalam kebaikan
dengan izin Allah, itu
adalah karunia yang sangat besar. (Al-Fāthir [35]:32-33).
(Bersambung)
ooo
Rujukan: The
Holy Quran
Editor : Malik
Ghulam Farid
Pajajaran Anyar, 28 Juli 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar