Senin, 24 Juli 2017

Dua Kali "Hukuman" Allah Swt. Akibat Kedurhakaan Bani Israil dan Bani Isma'il & Pentingnya "Umat Islam" Senantiasa "Bertakwa" dan "Berpegang-teguh" Pada "Tali Allah"



Bismillāhirrahmānirrahīm

KHAZANAH  AL-QURAN 

Bab 11

DUA KALI HUKUMAN ALLAH SWT. AKIBAT KEDURHAKAAN BANI ISRAIL DAN BANI ISMA’IL    &   PENTINGNYA UMAT ISLAM SENANTIASA BERTAKWA DAN BERPEGANG-TEGUH PADA “TALI ALLAH

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir bab sebelumnya  telah dikemukakan  topic:   Hakikat Kesedihan Nabi Besar Muhammad Saw. & Generasi Penerus “Kaum Yahudi”  Pecinta Duniawi  sehubungan ayat:  فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ  اِنۡ لَّمۡ  یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا  الۡحَدِیۡثِ  اَسَفًا  --   Atas berpalingnya mereka maka sangat mungkin engkau akan membinasakan diri engkau  karena sangat sedih jika mereka tidak beriman kepada keterangan ini” (Al-Kahf [18]:7),  karena bakhi' itu ism fa’il dari bakha'a yang berarti: “ia berbuat sesuatu dengan cara setepat-tepatnya”, maka ayat ini dengan padat dan lugas melukiskan betapa besarnya perhatian dan kekhawatiran serta kecemasan Nabi Besar Muhammad saw. mengenai kesejahteraan ruhani kaum beliau saw., sebagaimana firman-Nya:
لَقَدۡ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مِّنۡ اَنۡفُسِکُمۡ عَزِیۡزٌ عَلَیۡہِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِیۡصٌ عَلَیۡکُمۡ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ رَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾  فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَقُلۡ حَسۡبِیَ اللّٰہُ ۫٭ۖ لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ عَلَیۡہِ  تَوَکَّلۡتُ وَ ہُوَ رَبُّ الۡعَرۡشِ  الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾٪
Sungguh benar-benar  telah datang kepada kamu seorang Rasul dari antaramu sendiri, berat terasa olehnya apa yang menyusahkan kamu, ia sangat mendambakan kesejahteraan bagi kamu dan  terhadap orang-orang beriman  ia sangat berbelas kasih lagi penyayang.  Tetapi jika  mereka berpaling  maka katakanlah: “Cukuplah   Allah bagiku, tidak ada Tuhan kecuali Dia, kepada-Nya-lah aku bertawakkal, dan Dia-lah Pemilik 'Arasy yang agung. (At Taubah [9]:128-129).

Kasih-sayang dan Keprihatinan Nabi Besar Muhammad saw.

        Kesedihan  Nabi Besar Muhammad saw.  atas penolakan dan perlawanan mereka terhadap amanat Ilahi hampir membuat beliau saw. wafat (QS.9:128). Memang begitulah keadaan para utusan   dan nabi Allah hatinya senantiasa penuh dengan kasih-sayang terhadap sesama manusia.
       Mereka berseru (kepada Allah), menangis  dan berdukacita demi kepentingan umat manusia. Tetapi manusia tidak tahu  berterimakasih, sehingga orang­orang itu sendiri yang bagi mereka para nabi Allah  mempunyai perasaan yang begitu mendalam justru merekalah yang mendustakan dan  menzalimi para nabi Allah dan berusaha untuk membunuh mereka (QS.36:31).
       Makna ayat:    Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi per­hiasan baginya   supaya  Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.”   Semua benda yang tidak terhitung banyaknya yang telah diciptakan  Allah Swt., tidak ada satu pun yang tidak mempunyai kegunaan tersendiri yang tertentu, atau yang kosong dari segala kebaikan, semuanya menambah semarak dan indahnya kehidupan manusia.
        Umat Islam telah dianjurkan untuk senantiasa  memberi perhatian kepada kebenaran agung yang  melandasi kata-kata sederhana itu, dan untuk menyerahkan waktu dan tenaga  mereka guna menggali rahasia­-rahasia alam  yang agung dan untuk menyelidiki sifat-sifat yang tidak terbilang banyaknya, yang  dimiliki unsur-unsur alam (QS.15:22; QS.18:110; QS.31:28).
       Sampai batas tertentu bangsa-bangsa Kristen dari  Eropa telah membuktikan kebenaran pernyataan Allah Swt. dalam ayat tersebut, tetapi sayang keberhasilan duniawi mereka tidak dimanfaatkan untuk melakukan amal shaleh (QS.18:8; QS.28:77-79), bahkan sebaliknya mereka benar-benar tenggelam sepenuhnya upaya mengumpulkan harta kekayaan duniawi dengan berbagai macam cara-cara   yang melampaui batas  dengan anggapan bahwa mereka akan diampuni, berikut firman-Nya mengenai orang-orang Yahudi:
وَ اِذۡ تَاَذَّنَ رَبُّکَ لَیَبۡعَثَنَّ عَلَیۡہِمۡ اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ مَنۡ یَّسُوۡمُہُمۡ سُوۡٓءَ الۡعَذَابِ ؕ اِنَّ  رَبَّکَ  لَسَرِیۡعُ  الۡعِقَابِ ۚۖ وَ  اِنَّہٗ  لَغَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾  وَ قَطَّعۡنٰہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ اُمَمًا ۚ مِنۡہُمُ الصّٰلِحُوۡنَ وَ مِنۡہُمۡ دُوۡنَ ذٰلِکَ ۫ وَ بَلَوۡنٰہُمۡ بِالۡحَسَنٰتِ وَ السَّیِّاٰتِ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾  فَخَلَفَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ خَلۡفٌ وَّرِثُوا الۡکِتٰبَ یَاۡخُذُوۡنَ عَرَضَ ہٰذَا الۡاَدۡنٰی وَ یَقُوۡلُوۡنَ سَیُغۡفَرُ لَنَا ۚ وَ اِنۡ یَّاۡتِہِمۡ عَرَضٌ مِّثۡلُہٗ یَاۡخُذُوۡہُ ؕ اَلَمۡ یُؤۡخَذۡ عَلَیۡہِمۡ مِّیۡثَاقُ الۡکِتٰبِ اَنۡ لَّا یَقُوۡلُوۡا عَلَی اللّٰہِ  اِلَّا الۡحَقَّ وَ دَرَسُوۡا مَا فِیۡہِ  ؕ وَ الدَّارُ  الۡاٰخِرَۃُ  خَیۡرٌ لِّلَّذِیۡنَ  یَتَّقُوۡنَ ؕ اَفَلَا  تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Rabb (Tuhan) engkau mengumumkan bahwa niscaya  Dia akan mengutus  kepada mereka  orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka  azab yang sangat buruk hingga Hari Kiamat. Sesungguhnya  Rabb (Tuhan) engkau benar-benar sangat cepat dalam menghukum  dan sesungguhnya Dia benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dan Kami membagi mereka menjadi berbagai bangsa yang terpisah-pisah  di bumi. Di antara mereka ada orang-orang yang saleh, dan di antara mereka ada yang tidak demikian. Dan Kami menguji mereka dengan berbagai kebaikan dan keburukan supaya mereka kembali kepada yang haq.  فَخَلَفَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ خَلۡفٌ وَّرِثُوا الۡکِتٰبَ یَاۡخُذُوۡنَ عَرَضَ ہٰذَا الۡاَدۡنٰی وَ یَقُوۡلُوۡنَ سَیُغۡفَرُ لَنَا ۚ وَ اِنۡ یَّاۡتِہِمۡ عَرَضٌ مِّثۡلُہٗ یَاۡخُذُوۡہُ ؕ اَلَمۡ یُؤۡخَذۡ عَلَیۡہِمۡ مِّیۡثَاقُ الۡکِتٰبِ اَنۡ لَّا یَقُوۡلُوۡا عَلَی اللّٰہِ  اِلَّا الۡحَقَّ وَ دَرَسُوۡا مَا فِیۡہِ  ؕ وَ الدَّارُ  الۡاٰخِرَۃُ  خَیۡرٌ لِّلَّذِیۡنَ  یَتَّقُوۡنَ ؕ اَفَلَا  تَعۡقِلُوۡنَ  -- Maka datang menggantikan sesudah mereka, suatu generasi  pengganti  yang mewarisi Kitab Taurat  itu, mereka mengambil harta dunia yang rendah ini dan mereka mengatakan: “Pasti kami akan diampuni.” Dan jika datang kepada mereka harta semacam itu lagi mereka akan mengambilnya. Bukankah telah diambil perjanjian dari mereka dalam Kitab bahwa mereka tidak akan mengatakan sesuatu terhadap Allah kecuali yang haq (benar), dan  mereka telah mempelajari  apa yang tercantum di dalamnya? Padahal  kampung  akhirat itu   lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, apakah kamu tidak mau mengerti?  (Al-A’rāf [7]:168-170).

Makna Dijadikan “Kera” dan “Babi” &  Nubuatan Kehancuran  Duniawi yang Akan Menimpa    Bangsa-bangsa Kristen

          Ayat 168 dan juga beberapa ayat berikutnya menunjukkan bahwa kaum Yahudi yang dikatakan sebagai “kera-kera yang hina” dalam ayat sebelumnya (QS.2:66; QS.5:61; QS.7:167) itu tidak sungguh-sungguh berubah menjadi kera dan babi melainkan mereka itu tetap makhluk manusia walaupun mereka  -- akibat kedurhakaan berulang kali kepada Allah Swt. dan para rasul Allah  (QS.2:89-90)  --  mereka menjalani peri kehidupan yang hina dan dipandang rendah oleh orang-orang lain juga.
      Jelas dari beberapa ayat Al-Quran bahwa Allah Swt.  sangat lambat dalam menghukum orang-orang durhaka. Dia berkali-kali memberi tenggang waktu kepada mereka. Kata-kata itu dimaksudkan bahwa bila pada akhirnya hukuman ditetapkan menimpa satu kaum maka hukuman itu datangnya cepat dan tak ada sesuatu yang dapat memperlambat kedatangannya.
         'Aradha dalam ayat   َخَلَفَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ خَلۡفٌ وَّرِثُوا الۡکِتٰبَ یَاۡخُذُوۡنَ عَرَضَ ہٰذَا الۡاَدۡنٰی وَ یَقُوۡلُوۡنَ سَیُغۡفَرُ لَنَا ۚ  -- Maka datang menggantikan sesudah mereka, suatu generasi  pengganti  yang mewarisi Kitab Taurat  itu, mereka mengambil harta dunia yang rendah ini dan mereka mengatakan: “Pasti kami akan diampuni,”  'aradha artinya:  barang yang tidak kekal, barang-barang duniawi yang rendah nilainya, barang-barang dagangan atau komoditi-komoditi duniawi; benda atau sesuatu  (Lexicon Lane).
       Makna  ucapan mereka dalam ayat  وَ یَقُوۡلُوۡنَ سَیُغۡفَرُ لَنَا -- “dan mereka mengatakan: “Pasti kami akan diampuni”   mengisyaratkan kepada ajaran Paulus berkenaan  itikad “penebusan dosa” melalui kematian terkutuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di tiang salib, yang disanggah Allah Swt. dalam ayat selanjutnya:  “Bukankah telah diambil perjanjian dari mereka dalam Kitab bahwa mereka tidak akan mengatakan sesuatu terhadap Allah kecuali yang haq (benar), dan  mereka telah mempelajari  apa yang tercantum di dalamnya?”  Darasa dalam ayat tersebut berarti: (1) ia  membaca atau menelaah buku; (2) ia meniadakan, menghapuskan atau melenyapkan sesuatu (Lexicon Lane).
          Kembali kepada surah Al-Kahf sebelumnya (QS.18:5-9), makna ayat 10:   Dan sesungguhnya Kami niscaya akan menjadikan segala yang ada di atasnya menjadi tanah-rata yang tandus,”  mengandung suatu nubuatan   bahwa bangsa-bangsa Kristen dari barat sesudah memperoleh kekayaan, kekuatan, kekuasaan, dan sesudah mendapat penemuan-penemuan besar dalam bidang kehidupan duniawi,  akhirnya akan membuat bumi Allah itu penuh dengan  kedosaan dan keburukan, seperti yang dituturkan oleh Bible.
         Kemurkaan Allah akan bangkit, dan sesuai dengan nubuatan-nubuatan yang diucapkan oleh mulut para nabi Allah, di dalam Perjanjian Lama maupun di dalam Perjanjian Baru, Al-Quran dan hadits, bahwa bencana-bencana akan menimpa bumi secara meluas, serta segala kemajuan yang tadinva telah dicapai oleh mereka dan semua buah tangan  mereka,  gedung-gedung mereka yang tinggi megah, keindahan negeri mereka, serta segala kemuliaan, kemegahan, dan keagungan mereka sama sekali akan menjadi hancur berantakan. Akibat yang ditimbulkan Perang Dunia I dan Perang Dunia  II merupakan bukti mengenai kebenaran nubuatan Al-Quran tersebut.
         Kenyataan tersebut akan merupakan penggenapan peringatan Allah Swt. yang dikemukakan dalam surah Al-Māidah sebelum ini, firman-Nya:
قَالَ اللّٰہُ اِنِّیۡ مُنَزِّلُہَا عَلَیۡکُمۡ ۚ فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ بَعۡدُ مِنۡکُمۡ فَاِنِّیۡۤ  اُعَذِّبُہٗ عَذَابًا  لَّاۤ   اُعَذِّبُہٗۤ  اَحَدًا مِّنَ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾٪
Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menurunkannya kepada kamu, maka barangsiapa di antaramu kafir  sesudah itu,  maka  sesungguhnya Aku akan mengazabnya dengan azab yang tidak pernah Aku mengazab kepada seorang pun di seluruh alam.” (Al-Māidah [5]:116).
        Sesuai pula dengan ucapan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang dikemukakan dalam ayat selanjutnya – yang juga dikemukakan dalam hadits qudsi  sebelumnya: اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ  --   “Kalau Engkau mengazab mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan kalau Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”  (Al-Māidah [5]:119). 

Kebenaran Nubuatan Hadits Qudsi Nabi Besar Muhammad Saw.

        Demikianlah hakikat  doa Nabi Ibrahim a.s. dan ucapan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dalam hadits qudsi yang pertama:
       Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash r.a. bahwa Nabi saw. membaca firman Allah tentang Ibrahim a.s.:
رَبِّ اِنَّہُنَّ اَضۡلَلۡنَ  کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ ۚ فَمَنۡ تَبِعَنِیۡ فَاِنَّہٗ  مِنِّیۡ ۚ وَ مَنۡ عَصَانِیۡ فَاِنَّکَ غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ
“Wahai Rabb-ku sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia, lalu barangsiapa mengikutiku maka sesungguhnya ia termasuk golonganku, dan barangsiapa mendurhakaiku maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun Maha Penyayang (Ibrahim [14]:37).
Dan ‘Isa a.s. berkata:      
اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
“Kalau Engkau mengazab mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan kalau Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Māidah [5]:118).
     Kemudian beliau saw. mengangkat kedua tangan seraya bersabda: “Wahai umatku…..umatku” dan beliau saw. menangis. Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman; “Wahai Jibril, pergilah kepada Muhammad – sedangkan Tuhan kamu lebih mengetahui  -- tanyalah kepadanya, “Apakah yang menyebabkan engkau menangis?” Jibril  a.s. datang kepada beliau lalu bertanya kepada beliau, maka utusan Allah  itu memberitahukan kepada-Nya  mengenai apa yang disabdakan beliau   -- padahal Allah lebih mengetahui – lalu Allah Ta’ala berfirman kepada Jibril: “Pergillah kepada Muhammad dan katakan, “Sesungguhnya  Kami akan ridha terhadap umat engkau dan Kami tidak berbuat buruk kepada engkau” (Muslim).

Dua Kedurhakaan Bani Israil dan Dua Kali Hukumannya

         Dari Al-Quran diketahui bahwa  serbuan dahsyat bala-tentara Mongol dan Tartar pimpinan Hulaku Khan   -- cucu Jenghis Khan --  dan keberhasilan duniawi bangsa-bangsa Kristen dari Eropa  tersebut telah dijadikan Allah Swt. sebagai  dua   sarana penghukum  bagi umat Islam  (Bani Isma’il) ,  sebagaimana halnya  serbuan dahsyat balatentara raja Nebukadnezar dari Babilonia dan serbuan Titus dari kerajaan Romawi yang dua kali menghancur-luluhkan kota Yerusalem (QS.2:260; Matius 24:1-2 & 15-22), sebagai dua sarana penghukum bagi Bani Israil  akibat  dua kali kedurhakaan mereka kepada Allah Swt. dan para rasul Allah yang diutus di kalangan mereka, terutama Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.2:88-89; QS.5:79-81; QS.17:1-9; Matius 23:37-39), firman-Nya:
وَ قَضَیۡنَاۤ  اِلٰی بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ فِی الۡکِتٰبِ لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ مَرَّتَیۡنِ  وَ لَتَعۡلُنَّ  عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾  فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ  عِبَادًا  لَّنَاۤ   اُولِیۡ  بَاۡسٍ  شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ وَعۡدًا  مَّفۡعُوۡلًا ﴿﴾  ثُمَّ رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ  اَکۡثَرَ  نَفِیۡرًا ﴿﴾  اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا ؕ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  لِیَسُوۡٓءٗا  وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ  اَوَّلَ مَرَّۃٍ  وَّ  لِیُتَبِّرُوۡا مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا ﴿﴾  عَسٰی رَبُّکُمۡ اَنۡ یَّرۡحَمَکُمۡ ۚ وَ اِنۡ عُدۡتُّمۡ عُدۡنَا ۘ وَ جَعَلۡنَا جَہَنَّمَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ  حَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan telah Kami tetapkan dengan jelas kepada Bani Israil dalam kitab itu: “Niscaya  kamu akan melakukan kerusakan di muka bumi ini dua kali, dan niscaya kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang sangat besar.”   Apabila datang saat sempurnanya janji yang pertama  dari kedua janji itu,  Kami membangkitkan untuk menghadapi kamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan tempur yang dahsyat, dan mereka menerobos jauh ke dalam rumah-rumah, dan itu merupakan suatu janji yang pasti terlaksana.    Kemudian Kami mengembalikan lagi kepada kamu kekuatan untuk melawan mereka, dan Kami membantu kamu dengan harta dan anak-anak, dan  Kami menjadikan kelompok kamu lebih besar dari sebelumnya.     Jika kamu berbuat ihsan, kamu berbuat ihsan  bagi diri kamu sendiri, dan jika kamu berbuat buruk  maka itu untuk dirimu sendiri.     Lalu bila datang saat sempurnanya janji yang kedua itu Kami membangkitkan lagi hamba-hamba Kami yang lain supaya mereka mendatangkan kesusahan kepada pemimpin-pemimpin kamu dan supaya mereka memasuki masjid seperti pernah mereka memasukinya pada kali pertama, dan supaya mereka menghancurluluhkan segala yang telah mereka kuasai.   Boleh jadi kini  Rabb (Tuhan)  kamu akan menaruh kasihan kepadamu, tetapi jika kamu kembali kepada perbuatan buruk, Kami pun akan kembali menimpakan hukuman dan ingatlah, Kami telah jadikan Jahannam, penjara bagi orang- orang kafir.   (Bani Israil [17]:5-9).
        Dua kedurhakaan Bani Israil yang tersebut dalam kitab Musa a.s. (Ulangan 28:15, 49-53, 63-64 & 30:15) disinggung dalam ayat ini. Mereka, di antara Bani Israil, yang tidak beriman, telah dua kali dikutuk  yaitu oleh Nabi Daud a.s. dan Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.5:79), dan sebagai akibatnya telah dihukum Allah Swt. pula dua kali.

Azab Ilahi Pertama Berupa Serangan Pasukan Raja Nebukannezar dari Babilonia

          Azab Ilahi yang pertama menimpa Bani Israil terjadi sesudah sesudah Nabi Daud a.s.  dan Nabi Sulaiman a.s.,  dan yang kedua sesudah Nabi Isa Ibnu Maryam a.s..   Nampak dari Bible, bahwa sesudah Nabi Musa a.s., orang-orang Yahudi telah menjadi suatu bangsa yang amat kuat, dan di masa Nabi Daud a.s. mereka (Bani Israil) meletakkan dasar suatu kerajaan kuat, yang setelah wafat beliau  pun – yakni pada  masa pemerintahan Nabi Sulaiman a.s.. --  untuk beberapa waktu terus berlanjut kejayaan dan kemuliaannya semula.
          Kemudian kerajaan Bani Israil  itu menjadi sasaran kemunduran yang berangsur-angsur,  --  sebagaimana  diperlihatkan dalam kasyaf Nabi Sulaiman a.s.  dalam bentuk “jasad tak bernyawa yang duduk di atas singgasana beliau”  dan “rayap yang memakan tongkat” beliau (QS.34:15; QS.38:35-36)  --  dan pada sekitar 733 s.M. Samaria kerajaan Bani Israil ditaklukkan oleh bangsa Assiria, yang mencaplok seluruh daerah Israil di sebelah utara Yezreel. Pada tahun 608 s.M., Palestina telah dilanda oleh satu lasykar Mesir di bawah Fir’aun Necho, dan Bani Israil takluk kepada kekuasaan Mesir (Yewish Encyclopaedia Jilid 6, halaman 665).
       Tetapi hilangnya kekuasaan duniawi kaum Yahudi (Bani Israil)  serta kehancuran dan ketelantaran mereka tidak mendorong mereka untuk memperbaiki cara-cara mereka. Mereka dengan gigih bertahan pada cara-cara buruk mereka yang lama. Nabi Yermiah a.s.  memperingatkan mereka supaya meninggalkan cara-cara buruk mereka, sebab kemurkaan Allah tidak lama lagi akan menimpa mereka, tetapi mereka sama sekali tidak menghiraukan peringatan-peringatan Nabi Yermiah a.s. tersebut.
        Di masa kerajaan Yehoyakim, Nebukadnezar dari Babil melancarkan serbuan pertamanya ke Palestina dan membawa pulang perkakas rumah peribadatan, tetapi ketika itu kota Yerusalem sendiri selamat dari kekejaman akibat pengepungan.    Pada tahun 597 s.M. kota Yerusalem kembali dikepung dan penduduknya mengalami kelaparan yang sangat keras.
        Tetapi pemberontakan raja Zedekia membawa akibat adanya serbuan kedua oleh Nebukadnezar pada tahun 587 s.M., dan sesudah masa pengepungan yang berlangsung satu tahun setengah, kota Yerusalem itu ditaklukkan dengan serangan cepat laksana halilintar (QS.2:260).
       Putra-putranya dibunuh dan matanya sendiri dicukil, dan dalam keadaan diborgol ia dibawa ke Babil. Rumah peribadatan, istana raja, serta semua bangunan besar di kota Yerusalem dibumihanguskan, para imam besar, dan para pemimpin lain dibunuh, dan sejumlah besar rakyat diboyong sebagai tawanan (Yewish Encyclopaedia Jilid 6, hlm. 665 & Jilid 7, hlm. 122 pada kata “Yerusalem”).      Peristiwa dihancurkannya Yerusalem oleh balatentara raja Nebukadnezar dari Babilonia tersebut dikemukakan pula dalam   QS.2:260.

Sebagian  Suku Yahudi Kembali Ke Palestina  dari Tempat  Pembuangan Mereka

        Makna ayat:    “Kemudian Kami mengembalikan lagi kepada kamu kekuatan untuk melawan mereka, dan Kami membantu kamu dengan harta dan anak-anak, dan  Kami menjadikan kelompok kamu lebih besar dari sebelumnya”, orang-orang Yahudi menyesuaikan diri mereka dengan keadaan baru di masa pembuangan di Babilonia.
       Kebanyakan di antara mereka telah dipekerjakan pada pekerjaan-pekerjaan umum di Babilonia Tengah, dan banyak dari mereka pada akhirnya memperoleh kemerdekaan dan mencapai kedudukan yang berpengaruh. Keyakinan dan pengabdian mereka kepada agama telah bangkit kembali; kepustakaan kerajaan dipelajari, diterbitkan kembali, dan disesuaikan dengan keperluan kaum yang sedang hidup kembali itu, serta harapan untuk mereka kembali ke Palestina telah dikobarkan dan dipupuk.
         Kira-kira pada tahun 545 s.M., cita-cita ini memperoleh bentuk lebih jelas. Kaum Yahudi membuat suatu perjanjian rahasia dengan Cyrus  atau Koresy   -- yakni  Dzulqarnain  (QS.18:84-99) -- raja Media dan Persia dan membantu beliau menaklukkan Babilonia. Kota itu dalam bulan Juli tahun 539 s.M. jatuh kepada tentara Cyrus  tanpa perlawanan.
       Sebagai ganjaran atas jasa-jasa mereka, Cyrus mengizinkan orang-orang Yahudi kembali ke Yerusalem dan juga membantu mereka membangun kembali rumah peribadatan mereka (Historians’ History of the World, jilid II, hlm. 126; Jewish Encyclopaedia jilid 7, pada kata “Cyrus”, dan 2 Tawarikh 36:22, 23), lihat pula QS.2:260.
         Syesybazzar (seorang gubernur Cyrus) yang berasal dari Yudea, membawa kembali ke rumah peribadatan itu alat-alat  dan perkakas yang telah dirampas oleh Nebukadnezar dan merencanakan untuk menyelenggarakan pekerjaan ini dengan membelanjakan uang kerajaan. Sejumlah besar orang buangan kembali ke Yerusalem (Ezra, 1:3-5).
       Pekerjaan pembangunan kembali rumah peribadatan di Yerusalem berangsur-angsur maju terus dan selesai pada tahun 516 s.M. Kejadian-kejadian ini dan kejayaan serta kesejahteraan orang-orang Yahudi berikutnya itulah yang diisyaratkan oleh ayat yang sedang dibahas ini. Tetapi semuanya itu telah dinubuatkan oleh Nabi Musa a.s. jauh sebelum hal itu sungguh-sungguh terjadi (Ulangan 30:1-5).

Azab Ilahi Kedua Melalui Serangan Titus Dari Kerajaan Romawi & Kutukan Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.

        Makna ayat selanjutnya:     jika kamu berbuat ihsan, kamu berbuat ihsan  bagi diri kamu sendiri, dan jika kamu berbuat buruk  maka itu untuk dirimu sendiri.     “Lalu bila datang saat sempurnanya janji yang kedua itu Kami membangkitkan lagi hamba-hamba Kami yang lain supaya mereka mendatangkan kesusahan kepada pemimpin-pemimpin kamu dan supaya mereka memasuki masjid seperti pernah mereka memasukinya pada kali pertama, dan supaya mereka menghancurluluhkan segala yang telah mereka kuasai.“  (Bani Israil [17]:8).
       Kata-kata Liya su-u wujuuhikum  berarti pula, “Supaya mereka akan menghina pemimpin-pemimpin kamu.” Kata wujuh berarti pula pemimpin-pemimpin (Lexicon Lane).  Ayat-ayat ini membicarakan jatuhnya kembali orang-orang Yahudi ke lembah keburukan   -- terutama upaya mereka melakukan  pembunuhan terhadap Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. melalui penyaliban (QS.4:156-159) -- dan tentang azab Ilahi yang menimpa mereka sebagai akibatnya.
       Mereka menentang dan menganiaya Nabi Isa a.s. serta berusaha membunuh beliau pada palang salib dan memusnahkan pergerakan beliau. Oleh sebab itu Allah Swt.  menimpakan kepada mereka azab yang sangat keras, ketika pada tahun 70 M. pasukan-pasukan Romawi di bawah pimpinan Titus melanda negeri itu, dan di tengah-tengah kejadian-kejadian mengerikan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah itu, kota Yerusalem telah dihancurkan dan rumah peribadatan Nabi Sulaiman dibumihanguskan (Encyclopaedia Biblica pada kata “Yerusalem”; lihat pula Matius 23:37-39 & 24:1-22).
        Malapetaka itu terjadi ketika Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. a.s. masih hidup di Kasymir (QS.23:51). Hal ini pun dinubuatkan oleh Nabi Musa a.s. (Ulangan 32: 18-26)., firman-Nya:
لُعِنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡۢ بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی لِسَانِ دَاوٗدَ  وَ عِیۡسَی ابۡنِ مَرۡیَمَ ؕ ذٰلِکَ بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا یَعۡتَدُوۡنَ ﴿﴾  کَانُوۡا لَا یَتَنَاہَوۡنَ عَنۡ مُّنۡکَرٍ فَعَلُوۡہُ ؕ لَبِئۡسَ مَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾  تَرٰی کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ؕ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Orang-orang  yang kafir  dari kalangan Bani Israil telah   dilaknat oleh lidah Daud dan Isa ibnu Maryam,  hal demikian itu karena mereka senantiasa durhaka dan melampaui batas.   Mereka tidak pernah  saling mencegah dari kemungkaran yang dikerjakannya, benar-benar sangat  buruk apa yang senantiasa  mereka kerjakan.  تَرٰی کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا --  Engkau melihat kebanyakan dari mereka menjadikan orang-orang kafir  sebagai  pelindung,  لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ -- dan benar-benar sangat buruk apa yang telah  mereka dahulukan  bagi diri mereka  اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ  --  yaitu bahwa Allah  murka kepada mereka, dan di dalam azab inilah mereka akan kekal. (Al-Maidah [5]:79-81).

Berbagai Kejahatan Kaum Yahudi

        Dari antara semua nabi Bani Israil, Nabi Daud a.s.  dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  tergolong paling menderita di tangan orang-orang Yahudi (QS.2:88-91; QS.33:70; QS.61:6). Penzaliman orang-orang Yahudi terhadap Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   mencapai puncaknya, ketika beliau dipakukan pada  kayu salib, dan penderitaan serta kepapaan yang dialami oleh Nabi Daud a.s.  dari kaum yang tak mengenal terima kasih itu, tercermin di dalam Mazmurnya yang sangat merawankan hati. Dari lubuk hati yang penuh kepedihan  Nabi Daud a.s.  dan Nabi Isa  Ibnu Maryam a.s.  mengutuk mereka.
     Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, kutukan Nabi Daud a.s. mengakibatkan orang-orang Bani Israil dihukum oleh Nebukadnezar, yang menghancurluluhkan Yerusalem dan membawa orang-orang Bani Israil sebagai tawanan pada tahun 556 sebelum Masehi, sedangkan akibat kutukan Nabi Isa Ibnu Maryam  a.s. mereka ditimpa bencana dahsyat, karena Titus yang menaklukkan Yerusalem dalam tahun ± 70 Masehi, membinasakan kota dan menodai rumah-ibadah dengan jalan menyembelih babi — binatang yang sangat dibenci oleh orang-orang Yahudi — di dalam rumah-ibadah itu.
        Salah satu di antara dosa-dosa besar yang membangkitkan amarah Tuhan atas kaum Yahudi ialah, mereka tidak melarang satu sama lain, terhadap kejahatan yang begitu merajalela di tengah-tengah mereka:  کَانُوۡا لَا یَتَنَاہَوۡنَ عَنۡ مُّنۡکَرٍ فَعَلُوۡہُ ؕ لَبِئۡسَ مَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ -- “Mereka tidak pernah  saling mencegah dari kemungkaran yang dikerjakannya, benar-benar sangat  buruk apa yang senantiasa  mereka kerjakan.“
        Perlu pula dicatat di sini, bahwa nubuatan mengenai azab Ilahi  kedua kali itu telah disebut dalam Bible sesudah adanya nubuatan yang membicarakan hukuman pertama (Ulangan Bab 28). Lebih dari itu, bahkan nubuatan ini disebut sesudah nubuatan mengenai kembalinya orang-orang Yahudi ke Yerusalem (Ulangan 30: 1-5; QS.17:105). Hal ini menunjukkan, bahwa nubuatan ini (Ulangan 32:18-26) menunjuk kepada azab yang kedua, yang telah disinggung dalam Al-Quran, yaitu “Niscaya kamu akan melakukan kerusakan  besar di muka bumi ini dua kali.” (QS.17:5).

Nubuatan Dan Peringatan Untuk Umat Islam (Bani Isma’il)

        Ayat ini mengandung peringatan bagi umat Islam, bahwa seperti orang-orang Yahudi mereka pun akan dihukum dua kali, jika mereka tidak mau meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk mereka. Tetapi  umat Islam tidak memperoleh faedah dari peringatan yang tepat pada waktunya itu, serta tidak meninggalkan cara-cara yang buruk; dan oleh karena itu mereka pun telah dihukum dua kali.
       Hukuman Allah Swt.  menimpa mereka, ketika kota Baghdad jatuh pada tahun 1258 M. Pasukan-pasukan Hulaku Khan yang  biadab itu sama sekali memusnahkan pusat ilmu pengetahuan dan kekuasaan yang agung itu, dan konon kabarnya 1.800.000 orang Islam telah terbunuh pada ketika itu.     Tetapi dari malapetaka yang mengerikan itu akhirnya Islam keluar sebagai pemenang. Mereka yang menaklukkan menjadi yang ditaklukkan. Cucu Hulaku Khan bersama-sama sejumlah besar orang Moghul dan Tartar memeluk agama Islam.
       Hukuman Allah Swt. kedua telah ditakdirkan akan menimpa umat Islam di Akhir Zaman pada saat merajalelanya Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog)  --  yakni bangsa-bangsa Kristen dari Eropa (QS.21:97)  --  melalui politik Devide et Impera  (memecah-belah dan menjajah), sebagaimana yang dilakukan dinasti Fir’aun di Mesir, akibat kesalahan umat Islam sendiri yang  -- di masa kemundurannya selama 1000 tahun (QS.32:6)  setelah mengalami 3 abad masa kejayaan yang pertama  --  mereka  terlibat dalam perselisihan masalah fiqih   dan saling bertentangan,  bahkan saling mengkafirkan firqah lainnya yang berbeda faham.
         Kenyataan itulah yang dikhawatirkan Nabi Besar Muhammad saw. dalam hadits qudsi yang kedua sebelum ini,  sehingga  Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) yakni bangsa-bangsa Kristen dari Eropa (QS.21:97 melalui politik Devide et Impera  (memecah-belah dan menjajah) berhasil menguasai berbagai wilayah kekuasaan umat Islam, termasuk di Nusantara ini:
    “Tsauban r.a., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah memperlihatkan bumi kepadaku lalu aku melihat timur dan baratnya, dan sungguh kerajaan umatku akan sampai kepada bumi yang ditampakkan kepadaku. Aku diberi dua pembendaharaan yaitu merah dan putih. Sungguh aku mohon kepada Tuhan-ku bagi umatku agar tidak dihancurkan dengan tahun yang umum dan tidak dikuasai oleh musuh selain dari mereka sendiri, lalu ia memusnahkan golongan mereka. Sesungguhnya Tuhan-ku berfirman, “Wahai Muhammad, sesungguhnya apabila Aku menetapkan suatu ketetapan maka ketetapan itu  tidaklah tertolak. Dan sesungguhnya Aku memberi engkau mengenai umat engkau tidak Aku hancurkan dengan tahun yang umum, dan Aku tidak menguasakan musuh atas mereka selain dari mereka sendiri yang memusnahkan golongan mereka, wlaau pun berkumpul atas mereka dari seluruh penjuru   -- atau Dia berfirman: “dari seluruh penjuru bumi – sehingga sebagian mereka menghancurkan sebagian yang lain, dan sebagian mereka menawan terhadap sebagian yang lain.” (Muslim).

(Bersambung)
ooo
Rujukan: The Holy Quran
Editor    : Malik Ghulam Farid

Pajajaran Anyar,   24 Juli 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar