Bismillāhirrahmānirrahīm
KHAZANAH AL-QURAN
Bab
11
DUA KALI HUKUMAN
ALLAH SWT. AKIBAT KEDURHAKAAN BANI ISRAIL
DAN BANI ISMA’IL & PENTINGNYA UMAT
ISLAM SENANTIASA BERTAKWA DAN BERPEGANG-TEGUH PADA “TALI ALLAH”
Oleh
Ki
Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir bab sebelumnya
telah dikemukakan topic: Hakikat Kesedihan
Nabi Besar Muhammad Saw. & Generasi Penerus “Kaum Yahudi” Pecinta Duniawi sehubungan ayat: فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ اِنۡ لَّمۡ یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا الۡحَدِیۡثِ اَسَفًا -- Atas berpalingnya
mereka maka sangat mungkin engkau
akan membinasakan diri engkau karena sangat
sedih jika mereka tidak beriman kepada keterangan ini” (Al-Kahf
[18]:7), karena bakhi' itu ism fa’il dari bakha'a yang
berarti: “ia berbuat sesuatu dengan cara
setepat-tepatnya”, maka ayat ini dengan padat
dan lugas melukiskan betapa besarnya perhatian
dan kekhawatiran serta kecemasan Nabi Besar Muhammad saw.
mengenai kesejahteraan ruhani kaum
beliau saw., sebagaimana firman-Nya:
لَقَدۡ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مِّنۡ اَنۡفُسِکُمۡ عَزِیۡزٌ عَلَیۡہِ
مَا عَنِتُّمۡ حَرِیۡصٌ عَلَیۡکُمۡ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ رَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَقُلۡ حَسۡبِیَ اللّٰہُ ۫٭ۖ
لَاۤ
اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ؕ
عَلَیۡہِ تَوَکَّلۡتُ وَ ہُوَ رَبُّ
الۡعَرۡشِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾٪
Sungguh benar-benar
telah datang kepada kamu seorang Rasul dari antaramu sendiri, berat terasa olehnya apa yang menyusahkan
kamu, ia sangat mendambakan kesejahteraan
bagi kamu dan terhadap orang-orang beriman ia sangat berbelas kasih lagi
penyayang. Tetapi jika
mereka berpaling maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan kecuali Dia, kepada-Nya-lah aku bertawakkal, dan Dia-lah Pemilik 'Arasy yang agung. (At Taubah [9]:128-129).
Kasih-sayang dan Keprihatinan Nabi Besar Muhammad saw.
Kesedihan Nabi Besar Muhammad saw. atas penolakan
dan perlawanan mereka terhadap amanat Ilahi hampir membuat beliau saw. wafat (QS.9:128). Memang begitulah
keadaan para utusan dan nabi
Allah hatinya senantiasa penuh dengan kasih-sayang
terhadap sesama manusia.
Mereka berseru (kepada Allah), menangis dan berdukacita
demi kepentingan umat manusia. Tetapi
manusia tidak tahu berterimakasih, sehingga orangorang itu
sendiri yang bagi mereka para nabi Allah
mempunyai perasaan yang begitu mendalam justru merekalah yang mendustakan dan menzalimi
para nabi Allah dan berusaha
untuk membunuh mereka (QS.36:31).
Makna
ayat: Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi perhiasan baginya supaya Kami
menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” Semua benda yang tidak terhitung banyaknya
yang telah diciptakan Allah Swt., tidak ada satu pun yang tidak
mempunyai kegunaan tersendiri yang
tertentu, atau yang kosong dari segala kebaikan, semuanya menambah semarak dan indahnya kehidupan manusia.
Umat Islam telah dianjurkan untuk
senantiasa memberi perhatian kepada kebenaran
agung yang melandasi kata-kata
sederhana itu, dan untuk menyerahkan waktu dan tenaga mereka guna menggali rahasia-rahasia alam
yang agung dan untuk menyelidiki
sifat-sifat yang tidak terbilang
banyaknya, yang dimiliki unsur-unsur alam (QS.15:22; QS.18:110;
QS.31:28).
Sampai batas tertentu bangsa-bangsa Kristen dari Eropa
telah membuktikan kebenaran pernyataan
Allah Swt. dalam ayat tersebut, tetapi sayang keberhasilan duniawi mereka tidak dimanfaatkan untuk melakukan amal
shaleh (QS.18:8; QS.28:77-79), bahkan sebaliknya mereka benar-benar tenggelam sepenuhnya upaya mengumpulkan harta kekayaan duniawi dengan berbagai macam cara-cara yang melampaui
batas dengan anggapan bahwa mereka akan diampuni, berikut firman-Nya
mengenai orang-orang Yahudi:
وَ اِذۡ تَاَذَّنَ رَبُّکَ لَیَبۡعَثَنَّ عَلَیۡہِمۡ اِلٰی یَوۡمِ
الۡقِیٰمَۃِ مَنۡ یَّسُوۡمُہُمۡ سُوۡٓءَ الۡعَذَابِ ؕ اِنَّ رَبَّکَ
لَسَرِیۡعُ الۡعِقَابِ ۚۖ وَ اِنَّہٗ
لَغَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾ وَ قَطَّعۡنٰہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ اُمَمًا ۚ
مِنۡہُمُ الصّٰلِحُوۡنَ وَ مِنۡہُمۡ دُوۡنَ ذٰلِکَ ۫ وَ بَلَوۡنٰہُمۡ
بِالۡحَسَنٰتِ وَ السَّیِّاٰتِ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾ فَخَلَفَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ خَلۡفٌ وَّرِثُوا الۡکِتٰبَ یَاۡخُذُوۡنَ
عَرَضَ ہٰذَا الۡاَدۡنٰی وَ یَقُوۡلُوۡنَ سَیُغۡفَرُ لَنَا ۚ وَ اِنۡ یَّاۡتِہِمۡ
عَرَضٌ مِّثۡلُہٗ یَاۡخُذُوۡہُ ؕ اَلَمۡ یُؤۡخَذۡ عَلَیۡہِمۡ مِّیۡثَاقُ الۡکِتٰبِ
اَنۡ لَّا یَقُوۡلُوۡا عَلَی اللّٰہِ
اِلَّا الۡحَقَّ وَ دَرَسُوۡا مَا فِیۡہِ
ؕ وَ الدَّارُ الۡاٰخِرَۃُ خَیۡرٌ لِّلَّذِیۡنَ یَتَّقُوۡنَ ؕ اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Rabb (Tuhan) engkau mengumumkan bahwa niscaya Dia akan mengutus kepada mereka orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka
azab yang sangat buruk hingga Hari
Kiamat. Sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau benar-benar sangat cepat dalam menghukum
dan sesungguhnya Dia benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dan Kami membagi mereka menjadi berbagai bangsa
yang terpisah-pisah di bumi.
Di antara mereka ada orang-orang yang
saleh, dan di antara mereka ada yang
tidak demikian. Dan Kami menguji
mereka dengan berbagai kebaikan dan keburukan
supaya mereka kembali kepada yang
haq. فَخَلَفَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ خَلۡفٌ وَّرِثُوا
الۡکِتٰبَ یَاۡخُذُوۡنَ عَرَضَ ہٰذَا الۡاَدۡنٰی وَ یَقُوۡلُوۡنَ سَیُغۡفَرُ لَنَا
ۚ وَ اِنۡ یَّاۡتِہِمۡ عَرَضٌ مِّثۡلُہٗ یَاۡخُذُوۡہُ ؕ اَلَمۡ یُؤۡخَذۡ
عَلَیۡہِمۡ مِّیۡثَاقُ الۡکِتٰبِ اَنۡ لَّا یَقُوۡلُوۡا عَلَی اللّٰہِ اِلَّا الۡحَقَّ وَ دَرَسُوۡا مَا فِیۡہِ ؕ وَ الدَّارُ
الۡاٰخِرَۃُ خَیۡرٌ لِّلَّذِیۡنَ یَتَّقُوۡنَ ؕ اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ -- Maka datang
menggantikan sesudah mereka, suatu generasi pengganti
yang mewarisi Kitab Taurat itu,
mereka mengambil harta dunia yang
rendah ini dan mereka mengatakan: “Pasti
kami akan diampuni.” Dan jika datang
kepada mereka harta semacam itu lagi mereka
akan mengambilnya. Bukankah telah diambil
perjanjian dari mereka dalam Kitab
bahwa mereka tidak akan mengatakan sesuatu
terhadap Allah kecuali yang haq (benar),
dan mereka
telah mempelajari apa
yang tercantum di dalamnya? Padahal kampung akhirat itu
lebih baik bagi orang-orang
yang bertakwa, apakah kamu tidak mau
mengerti? (Al-A’rāf
[7]:168-170).
Makna Dijadikan “Kera” dan “Babi” & Nubuatan Kehancuran
Duniawi yang Akan Menimpa Bangsa-bangsa Kristen
Ayat 168 dan juga beberapa ayat
berikutnya menunjukkan bahwa kaum Yahudi
yang dikatakan sebagai “kera-kera yang hina” dalam ayat sebelumnya
(QS.2:66; QS.5:61; QS.7:167) itu tidak sungguh-sungguh berubah menjadi kera dan babi melainkan mereka itu tetap makhluk manusia walaupun mereka -- akibat kedurhakaan
berulang kali kepada Allah Swt. dan
para rasul Allah (QS.2:89-90)
-- mereka menjalani peri kehidupan yang hina dan dipandang rendah oleh orang-orang lain juga.
Jelas
dari beberapa ayat Al-Quran bahwa Allah Swt. sangat lambat
dalam menghukum orang-orang durhaka. Dia berkali-kali memberi tenggang waktu kepada mereka. Kata-kata
itu dimaksudkan bahwa bila pada akhirnya hukuman
ditetapkan menimpa satu kaum maka hukuman itu datangnya cepat dan tak ada sesuatu yang dapat memperlambat kedatangannya.
'Aradha dalam ayat َخَلَفَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ خَلۡفٌ وَّرِثُوا الۡکِتٰبَ یَاۡخُذُوۡنَ
عَرَضَ ہٰذَا الۡاَدۡنٰی وَ یَقُوۡلُوۡنَ سَیُغۡفَرُ لَنَا ۚ -- Maka datang
menggantikan sesudah mereka, suatu generasi pengganti
yang mewarisi Kitab Taurat itu,
mereka mengambil harta dunia yang
rendah ini dan mereka mengatakan: “Pasti
kami akan diampuni,” 'aradha artinya: barang yang tidak kekal, barang-barang
duniawi yang rendah nilainya, barang-barang dagangan atau komoditi-komoditi
duniawi; benda atau sesuatu (Lexicon
Lane).
Makna
ucapan mereka dalam ayat وَ یَقُوۡلُوۡنَ سَیُغۡفَرُ لَنَا -- “dan mereka mengatakan: “Pasti
kami akan diampuni” mengisyaratkan kepada ajaran Paulus
berkenaan itikad “penebusan dosa”
melalui kematian terkutuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di tiang
salib, yang disanggah Allah Swt. dalam ayat selanjutnya: “Bukankah telah diambil perjanjian dari mereka dalam Kitab bahwa mereka tidak
akan mengatakan sesuatu terhadap Allah kecuali yang haq (benar), dan mereka
telah mempelajari apa
yang tercantum di dalamnya?” Darasa
dalam ayat tersebut berarti: (1) ia
membaca atau menelaah buku; (2) ia meniadakan, menghapuskan atau
melenyapkan sesuatu (Lexicon Lane).
Kembali kepada surah Al-Kahf
sebelumnya (QS.18:5-9), makna ayat 10: Dan sesungguhnya Kami niscaya akan menjadikan segala yang
ada di atasnya menjadi tanah-rata yang tandus,” mengandung suatu nubuatan bahwa bangsa-bangsa Kristen dari barat sesudah
memperoleh kekayaan, kekuatan, kekuasaan, dan sesudah mendapat penemuan-penemuan besar dalam bidang kehidupan
duniawi, akhirnya akan membuat bumi Allah itu penuh dengan kedosaan
dan keburukan, seperti yang
dituturkan oleh Bible.
Kemurkaan Allah akan bangkit, dan sesuai
dengan nubuatan-nubuatan yang
diucapkan oleh mulut para nabi Allah,
di dalam Perjanjian Lama maupun
di dalam Perjanjian Baru, Al-Quran
dan hadits,
bahwa bencana-bencana akan menimpa
bumi secara meluas, serta segala kemajuan
yang tadinva telah dicapai oleh mereka dan semua
buah tangan mereka, gedung-gedung
mereka yang tinggi megah, keindahan
negeri mereka, serta segala kemuliaan,
kemegahan, dan keagungan mereka sama sekali akan menjadi hancur berantakan. Akibat yang ditimbulkan Perang Dunia I dan Perang
Dunia II merupakan bukti mengenai
kebenaran nubuatan Al-Quran tersebut.
Kenyataan tersebut akan
merupakan penggenapan peringatan
Allah Swt. yang dikemukakan dalam surah Al-Māidah
sebelum ini, firman-Nya:
قَالَ
اللّٰہُ اِنِّیۡ مُنَزِّلُہَا عَلَیۡکُمۡ ۚ فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ بَعۡدُ مِنۡکُمۡ
فَاِنِّیۡۤ اُعَذِّبُہٗ عَذَابًا لَّاۤ اُعَذِّبُہٗۤ
اَحَدًا مِّنَ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾٪
Allah
berfirman: “Sesungguhnya Aku akan
menurunkannya kepada kamu, maka barangsiapa
di antaramu kafir sesudah itu, maka sesungguhnya Aku akan mengazabnya dengan
azab yang tidak pernah Aku mengazab kepada seorang pun di seluruh alam.”
(Al-Māidah
[5]:116).
Sesuai pula dengan ucapan Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. yang dikemukakan dalam ayat selanjutnya – yang juga dikemukakan dalam hadits qudsi sebelumnya: اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ
فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- “Kalau Engkau
mengazab mereka, maka sesungguhnya
mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan kalau
Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya
Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha
Bijaksana.” (Al-Māidah [5]:119).
Kebenaran Nubuatan Hadits Qudsi Nabi Besar Muhammad Saw.
Demikianlah hakikat doa
Nabi Ibrahim a.s. dan ucapan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dalam hadits qudsi yang pertama:
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash r.a. bahwa
Nabi saw. membaca firman Allah tentang Ibrahim a.s.:
رَبِّ اِنَّہُنَّ اَضۡلَلۡنَ کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ ۚ فَمَنۡ تَبِعَنِیۡ
فَاِنَّہٗ مِنِّیۡ ۚ وَ مَنۡ عَصَانِیۡ
فَاِنَّکَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ
“Wahai Rabb-ku sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan
dari manusia, lalu barangsiapa
mengikutiku maka sesungguhnya ia
termasuk golonganku, dan barangsiapa
mendurhakaiku maka sesungguhnya Engkau
Maha Pengampun Maha Penyayang (Ibrahim
[14]:37).
Dan ‘Isa a.s. berkata:
اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ
عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ
فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
“Kalau Engkau mengazab mereka, maka sesungguhnya mereka adalah
hamba-hamba Engkau, dan kalau Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Māidah [5]:118).
Kemudian beliau saw. mengangkat kedua
tangan seraya bersabda: “Wahai
umatku…..umatku” dan beliau saw. menangis. Allah Yang Maha Mulia dan Maha
Besar berfirman; “Wahai Jibril,
pergilah kepada Muhammad – sedangkan Tuhan kamu lebih mengetahui -- tanyalah kepadanya, “Apakah yang menyebabkan engkau menangis?” Jibril a.s. datang kepada beliau lalu bertanya
kepada beliau, maka utusan Allah itu
memberitahukan kepada-Nya mengenai apa
yang disabdakan beliau -- padahal Allah
lebih mengetahui – lalu Allah Ta’ala berfirman kepada Jibril: “Pergillah kepada
Muhammad dan katakan, “Sesungguhnya Kami akan ridha terhadap umat engkau dan Kami
tidak berbuat buruk kepada engkau” (Muslim).
Dua Kedurhakaan Bani Israil
dan Dua Kali Hukumannya
Dari Al-Quran diketahui bahwa serbuan
dahsyat bala-tentara Mongol dan
Tartar pimpinan Hulaku Khan -- cucu Jenghis
Khan -- dan keberhasilan duniawi bangsa-bangsa Kristen dari Eropa tersebut telah
dijadikan Allah Swt. sebagai dua sarana
penghukum bagi umat Islam (Bani Isma’il) , sebagaimana halnya serbuan
dahsyat balatentara raja Nebukadnezar
dari Babilonia dan serbuan Titus dari kerajaan Romawi yang dua kali menghancur-luluhkan
kota Yerusalem (QS.2:260; Matius 24:1-2 & 15-22), sebagai dua sarana penghukum bagi Bani Israil akibat
dua kali kedurhakaan mereka
kepada Allah Swt. dan para rasul Allah yang diutus di kalangan mereka,
terutama Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.2:88-89;
QS.5:79-81; QS.17:1-9; Matius
23:37-39), firman-Nya:
وَ قَضَیۡنَاۤ اِلٰی
بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ فِی الۡکِتٰبِ
لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ
مَرَّتَیۡنِ وَ
لَتَعۡلُنَّ عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا
بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ
عِبَادًا لَّنَاۤ اُولِیۡ بَاۡسٍ
شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا
خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ وَعۡدًا مَّفۡعُوۡلًا ﴿﴾ ثُمَّ رَدَدۡنَا
لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ اَکۡثَرَ
نَفِیۡرًا ﴿﴾ اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا ؕ
فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ لِیَسُوۡٓءٗا وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ اَوَّلَ مَرَّۃٍ وَّ لِیُتَبِّرُوۡا
مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا ﴿﴾ عَسٰی رَبُّکُمۡ اَنۡ یَّرۡحَمَکُمۡ ۚ وَ اِنۡ عُدۡتُّمۡ عُدۡنَا ۘ وَ جَعَلۡنَا جَہَنَّمَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ
حَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan telah Kami tetapkan dengan jelas kepada
Bani Israil dalam kitab itu:
“Niscaya kamu akan melakukan kerusakan di muka bumi ini dua kali, dan
niscaya kamu akan menyombongkan diri
dengan kesombongan yang sangat besar.”
Apabila datang
saat sempurnanya janji yang pertama dari kedua
janji itu, Kami membangkitkan untuk menghadapi kamu
hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan tempur yang dahsyat, dan mereka menerobos jauh ke dalam rumah-rumah,
dan itu merupakan suatu janji yang pasti
terlaksana. Kemudian Kami
mengembalikan lagi kepada kamu kekuatan untuk melawan mereka, dan Kami membantu kamu dengan harta dan
anak-anak, dan Kami menjadikan kelompok kamu lebih besar dari sebelumnya. Jika
kamu berbuat ihsan, kamu berbuat ihsan bagi diri kamu sendiri, dan jika kamu berbuat buruk maka itu
untuk dirimu sendiri. Lalu bila datang saat sempurnanya janji
yang kedua itu Kami membangkitkan lagi hamba-hamba Kami yang lain
supaya mereka mendatangkan kesusahan
kepada pemimpin-pemimpin kamu dan supaya mereka memasuki masjid seperti pernah mereka memasukinya pada kali
pertama, dan supaya mereka
menghancurluluhkan segala yang telah mereka kuasai. Boleh jadi kini Rabb
(Tuhan) kamu akan menaruh kasihan kepadamu, tetapi jika kamu kembali kepada perbuatan buruk, Kami pun akan kembali menimpakan
hukuman dan ingatlah, Kami
telah jadikan Jahannam, penjara bagi orang- orang kafir. (Bani Israil [17]:5-9).
Dua kedurhakaan
Bani Israil yang tersebut dalam kitab Musa a.s. (Ulangan 28:15,
49-53, 63-64 & 30:15) disinggung dalam ayat ini. Mereka, di antara Bani Israil, yang tidak beriman, telah
dua kali dikutuk yaitu oleh Nabi Daud a.s. dan Isa Ibnu
Maryam a.s. (QS.5:79), dan sebagai akibatnya telah dihukum Allah Swt. pula dua
kali.
Azab Ilahi Pertama Berupa Serangan Pasukan Raja Nebukannezar dari Babilonia
Azab
Ilahi yang pertama menimpa Bani
Israil terjadi sesudah sesudah Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s., dan yang kedua sesudah Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.. Nampak dari Bible, bahwa sesudah Nabi Musa a.s., orang-orang Yahudi telah
menjadi suatu bangsa yang amat kuat,
dan di masa Nabi Daud a.s. mereka (Bani
Israil) meletakkan dasar suatu kerajaan kuat, yang setelah wafat beliau pun – yakni pada masa pemerintahan
Nabi Sulaiman a.s.. -- untuk
beberapa waktu terus berlanjut kejayaan
dan kemuliaannya semula.
Kemudian kerajaan Bani Israil itu menjadi sasaran kemunduran yang berangsur-angsur, --
sebagaimana diperlihatkan dalam kasyaf Nabi Sulaiman a.s. dalam bentuk “jasad tak bernyawa yang duduk di atas singgasana beliau” dan “rayap yang memakan tongkat” beliau (QS.34:15; QS.38:35-36) -- dan
pada sekitar 733 s.M. Samaria kerajaan Bani Israil ditaklukkan oleh bangsa Assiria, yang mencaplok seluruh daerah
Israil di sebelah utara Yezreel. Pada tahun 608 s.M., Palestina telah dilanda oleh satu lasykar Mesir di bawah Fir’aun Necho, dan Bani Israil takluk kepada kekuasaan Mesir (Yewish Encyclopaedia Jilid 6, halaman 665).
Tetapi hilangnya kekuasaan duniawi kaum Yahudi
(Bani Israil) serta kehancuran dan ketelantaran
mereka tidak mendorong mereka untuk memperbaiki
cara-cara mereka. Mereka dengan gigih bertahan pada cara-cara buruk mereka yang lama. Nabi Yermiah a.s. memperingatkan
mereka supaya meninggalkan cara-cara
buruk mereka, sebab kemurkaan Allah
tidak lama lagi akan menimpa mereka, tetapi mereka sama sekali tidak
menghiraukan peringatan-peringatan Nabi
Yermiah a.s. tersebut.
Di masa kerajaan Yehoyakim, Nebukadnezar
dari Babil melancarkan serbuan
pertamanya ke Palestina dan membawa
pulang perkakas rumah peribadatan,
tetapi ketika itu kota Yerusalem
sendiri selamat dari kekejaman akibat pengepungan. Pada tahun 597 s.M. kota Yerusalem kembali dikepung dan penduduknya mengalami kelaparan yang sangat keras.
Tetapi pemberontakan raja Zedekia
membawa akibat adanya serbuan kedua
oleh Nebukadnezar pada tahun 587
s.M., dan sesudah masa pengepungan
yang berlangsung satu tahun setengah, kota Yerusalem
itu ditaklukkan dengan serangan cepat
laksana halilintar (QS.2:260).
Putra-putranya dibunuh dan matanya
sendiri dicukil, dan dalam keadaan diborgol ia dibawa ke Babil. Rumah peribadatan, istana raja, serta semua bangunan besar
di kota Yerusalem dibumihanguskan,
para imam besar, dan para pemimpin
lain dibunuh, dan sejumlah besar
rakyat diboyong sebagai tawanan (Yewish
Encyclopaedia Jilid 6, hlm. 665 & Jilid 7, hlm. 122 pada kata “Yerusalem”). Peristiwa dihancurkannya Yerusalem oleh balatentara raja Nebukadnezar dari Babilonia tersebut dikemukakan pula dalam QS.2:260.
Sebagian Suku Yahudi
Kembali Ke Palestina dari Tempat Pembuangan
Mereka
Makna ayat: “Kemudian
Kami mengembalikan lagi kepada kamu
kekuatan untuk melawan mereka, dan Kami
membantu kamu dengan harta dan anak-anak, dan Kami
menjadikan kelompok kamu lebih besar dari
sebelumnya”, orang-orang Yahudi
menyesuaikan diri mereka dengan keadaan baru di masa pembuangan di Babilonia.
Kebanyakan di antara mereka telah dipekerjakan
pada pekerjaan-pekerjaan umum di Babilonia
Tengah, dan banyak dari mereka pada akhirnya memperoleh kemerdekaan dan
mencapai kedudukan yang berpengaruh. Keyakinan dan pengabdian mereka kepada
agama telah bangkit kembali; kepustakaan kerajaan dipelajari, diterbitkan
kembali, dan disesuaikan dengan keperluan kaum yang sedang hidup kembali itu,
serta harapan untuk mereka kembali ke
Palestina telah dikobarkan dan dipupuk.
Kira-kira pada tahun 545 s.M., cita-cita ini
memperoleh bentuk lebih jelas. Kaum Yahudi membuat suatu perjanjian rahasia dengan Cyrus atau Koresy -- yakni Dzulqarnain (QS.18:84-99) -- raja Media dan Persia dan membantu beliau menaklukkan Babilonia.
Kota itu dalam bulan Juli tahun 539 s.M. jatuh kepada tentara Cyrus tanpa perlawanan.
Sebagai ganjaran atas jasa-jasa mereka, Cyrus mengizinkan orang-orang Yahudi kembali ke Yerusalem
dan juga membantu mereka membangun
kembali rumah peribadatan mereka (Historians’
History of the World, jilid II, hlm. 126; Jewish Encyclopaedia jilid 7, pada kata “Cyrus”, dan 2 Tawarikh 36:22, 23), lihat pula
QS.2:260.
Syesybazzar
(seorang gubernur Cyrus) yang berasal dari Yudea, membawa kembali ke rumah peribadatan itu alat-alat dan perkakas yang telah dirampas oleh
Nebukadnezar dan merencanakan untuk menyelenggarakan pekerjaan ini dengan
membelanjakan uang kerajaan. Sejumlah besar orang
buangan kembali ke Yerusalem (Ezra, 1:3-5).
Pekerjaan pembangunan kembali rumah peribadatan di Yerusalem berangsur-angsur maju terus
dan selesai pada tahun 516 s.M. Kejadian-kejadian ini dan kejayaan serta
kesejahteraan orang-orang Yahudi
berikutnya itulah yang diisyaratkan oleh ayat yang sedang dibahas ini. Tetapi
semuanya itu telah dinubuatkan oleh
Nabi Musa a.s. jauh sebelum hal itu sungguh-sungguh terjadi (Ulangan
30:1-5).
Azab Ilahi Kedua Melalui Serangan Titus Dari Kerajaan Romawi
& Kutukan Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
Makna ayat selanjutnya: jika
kamu berbuat ihsan, kamu berbuat ihsan bagi diri kamu sendiri, dan jika kamu berbuat buruk maka itu
untuk dirimu sendiri. “Lalu
bila datang saat sempurnanya
janji yang kedua itu Kami membangkitkan lagi hamba-hamba Kami yang lain
supaya mereka mendatangkan kesusahan
kepada pemimpin-pemimpin kamu dan supaya mereka memasuki masjid seperti pernah mereka memasukinya pada kali
pertama, dan supaya mereka
menghancurluluhkan segala yang telah mereka kuasai.“ (Bani Israil [17]:8).
Kata-kata Liya su-u wujuuhikum berarti pula, “Supaya mereka akan menghina pemimpin-pemimpin kamu.” Kata wujuh
berarti pula pemimpin-pemimpin (Lexicon Lane). Ayat-ayat ini membicarakan jatuhnya kembali orang-orang Yahudi ke lembah
keburukan -- terutama upaya mereka melakukan pembunuhan
terhadap Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. melalui penyaliban (QS.4:156-159) -- dan tentang azab Ilahi yang menimpa mereka sebagai akibatnya.
Mereka menentang dan menganiaya
Nabi Isa a.s. serta berusaha membunuh
beliau pada palang salib dan
memusnahkan pergerakan beliau. Oleh sebab itu Allah Swt. menimpakan kepada mereka azab yang sangat keras,
ketika pada tahun 70 M. pasukan-pasukan
Romawi di bawah pimpinan Titus melanda negeri itu, dan di
tengah-tengah kejadian-kejadian
mengerikan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah itu, kota Yerusalem telah dihancurkan dan rumah peribadatan Nabi Sulaiman dibumihanguskan
(Encyclopaedia Biblica pada
kata “Yerusalem”; lihat pula Matius 23:37-39 & 24:1-22).
Malapetaka itu terjadi ketika Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. a.s. masih hidup di Kasymir
(QS.23:51). Hal ini pun dinubuatkan
oleh Nabi Musa a.s. (Ulangan 32: 18-26)., firman-Nya:
لُعِنَ
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡۢ بَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی لِسَانِ دَاوٗدَ
وَ عِیۡسَی ابۡنِ مَرۡیَمَ ؕ ذٰلِکَ بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا
یَعۡتَدُوۡنَ ﴿﴾ کَانُوۡا
لَا یَتَنَاہَوۡنَ عَنۡ مُّنۡکَرٍ فَعَلُوۡہُ ؕ لَبِئۡسَ مَا کَانُوۡا
یَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾ تَرٰی
کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ؕ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ
لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ
خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Orang-orang yang kafir
dari kalangan Bani Israil telah dilaknat
oleh lidah Daud dan Isa ibnu Maryam,
hal demikian itu karena mereka senantiasa durhaka dan melampaui batas. Mereka tidak
pernah saling mencegah
dari kemungkaran yang dikerjakannya, benar-benar sangat
buruk apa yang senantiasa mereka
kerjakan. تَرٰی کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا -- Engkau melihat
kebanyakan dari mereka menjadikan orang-orang kafir sebagai
pelindung, لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ -- dan benar-benar
sangat buruk apa yang telah mereka dahulukan bagi diri mereka اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ -- yaitu bahwa
Allah murka kepada
mereka, dan di dalam azab inilah
mereka akan kekal. (Al-Maidah [5]:79-81).
Berbagai Kejahatan Kaum Yahudi
Dari antara semua nabi
Bani Israil, Nabi Daud a.s. dan Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. tergolong
paling menderita di tangan
orang-orang Yahudi (QS.2:88-91;
QS.33:70; QS.61:6). Penzaliman
orang-orang Yahudi terhadap Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. mencapai
puncaknya, ketika beliau dipakukan pada kayu salib, dan penderitaan serta
kepapaan yang dialami oleh Nabi Daud a.s.
dari kaum yang tak mengenal terima kasih itu, tercermin di dalam Mazmurnya
yang sangat merawankan hati. Dari lubuk
hati yang penuh kepedihan Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mengutuk
mereka.
Sebagaimana telah dikemukakan
sebelumnya, kutukan Nabi Daud a.s. mengakibatkan orang-orang Bani Israil dihukum oleh Nebukadnezar, yang menghancurluluhkan
Yerusalem dan membawa orang-orang Bani
Israil sebagai tawanan pada tahun
556 sebelum Masehi, sedangkan akibat kutukan
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mereka
ditimpa bencana dahsyat, karena Titus yang menaklukkan Yerusalem dalam tahun ± 70 Masehi, membinasakan kota dan menodai rumah-ibadah dengan jalan menyembelih babi — binatang yang
sangat dibenci oleh orang-orang Yahudi — di dalam rumah-ibadah itu.
Salah satu di antara dosa-dosa besar yang membangkitkan amarah Tuhan atas kaum Yahudi
ialah, mereka tidak melarang satu
sama lain, terhadap kejahatan yang
begitu merajalela di tengah-tengah
mereka: کَانُوۡا لَا یَتَنَاہَوۡنَ عَنۡ مُّنۡکَرٍ فَعَلُوۡہُ ؕ لَبِئۡسَ
مَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ -- “Mereka tidak pernah saling mencegah dari kemungkaran
yang dikerjakannya, benar-benar sangat buruk apa yang
senantiasa mereka kerjakan.“
Perlu pula dicatat di sini, bahwa nubuatan mengenai azab Ilahi kedua kali itu
telah disebut dalam Bible sesudah
adanya nubuatan yang membicarakan hukuman pertama (Ulangan Bab 28).
Lebih dari itu, bahkan nubuatan ini
disebut sesudah nubuatan mengenai kembalinya orang-orang Yahudi ke Yerusalem (Ulangan
30: 1-5; QS.17:105). Hal ini menunjukkan, bahwa nubuatan ini (Ulangan 32:18-26) menunjuk kepada azab yang kedua, yang telah disinggung
dalam Al-Quran, yaitu “Niscaya kamu akan melakukan kerusakan besar di muka bumi ini dua kali.”
(QS.17:5).
Nubuatan Dan Peringatan Untuk Umat Islam (Bani
Isma’il)
Ayat ini mengandung peringatan
bagi umat Islam, bahwa seperti orang-orang Yahudi mereka pun akan dihukum dua kali, jika mereka tidak
mau meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk
mereka. Tetapi umat Islam tidak memperoleh faedah
dari peringatan yang tepat pada waktunya itu, serta tidak meninggalkan cara-cara yang buruk; dan oleh karena
itu mereka pun telah dihukum dua kali.
Hukuman
Allah Swt. menimpa mereka, ketika kota Baghdad jatuh pada tahun 1258 M.
Pasukan-pasukan Hulaku Khan yang biadab itu sama sekali memusnahkan pusat
ilmu pengetahuan dan kekuasaan yang agung itu, dan konon
kabarnya 1.800.000 orang Islam telah terbunuh pada ketika itu. Tetapi
dari malapetaka yang mengerikan itu
akhirnya Islam keluar sebagai pemenang. Mereka yang menaklukkan menjadi yang ditaklukkan. Cucu Hulaku Khan bersama-sama sejumlah besar orang Moghul dan Tartar memeluk
agama Islam.
Hukuman
Allah Swt. kedua telah ditakdirkan akan
menimpa umat Islam di Akhir Zaman pada saat merajalelanya Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) -- yakni bangsa-bangsa
Kristen dari Eropa (QS.21:97) -- melalui politik Devide et Impera (memecah-belah dan menjajah), sebagaimana yang
dilakukan dinasti Fir’aun di Mesir,
akibat kesalahan umat Islam sendiri
yang -- di masa kemundurannya selama 1000
tahun (QS.32:6) setelah mengalami 3 abad masa kejayaan yang pertama --
mereka terlibat dalam perselisihan masalah fiqih
dan saling bertentangan, bahkan saling mengkafirkan firqah lainnya yang berbeda faham.
Kenyataan itulah yang dikhawatirkan Nabi Besar Muhammad saw.
dalam hadits qudsi yang kedua sebelum
ini, sehingga Ya’juj (Gog)
dan Ma’juj (Magog) yakni bangsa-bangsa Kristen dari Eropa (QS.21:97 melalui politik Devide
et Impera (memecah-belah dan menjajah) berhasil menguasai berbagai wilayah
kekuasaan umat Islam, termasuk di Nusantara
ini:
“Tsauban
r.a., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah
memperlihatkan bumi kepadaku lalu aku
melihat timur dan baratnya, dan sungguh
kerajaan umatku akan sampai kepada bumi yang ditampakkan kepadaku. Aku diberi dua pembendaharaan yaitu merah dan putih. Sungguh aku mohon
kepada Tuhan-ku bagi umatku agar tidak dihancurkan dengan tahun yang umum dan
tidak dikuasai oleh musuh selain dari mereka sendiri, lalu ia memusnahkan
golongan mereka. Sesungguhnya Tuhan-ku berfirman, “Wahai Muhammad, sesungguhnya apabila Aku menetapkan suatu ketetapan
maka ketetapan itu tidaklah tertolak.
Dan sesungguhnya Aku memberi engkau mengenai umat engkau tidak Aku hancurkan
dengan tahun yang umum, dan Aku tidak menguasakan musuh atas mereka selain dari
mereka sendiri yang memusnahkan golongan mereka, wlaau pun berkumpul atas
mereka dari seluruh penjuru -- atau
Dia berfirman: “dari seluruh penjuru bumi – sehingga sebagian mereka menghancurkan sebagian yang lain, dan sebagian mereka menawan terhadap sebagian
yang lain.” (Muslim).
(Bersambung)
ooo
Rujukan: The
Holy Quran
Editor : Malik
Ghulam Farid
Pajajaran Anyar, 24 Juli 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar