Jumat, 28 Juli 2017

Penggenapan "Nubuatan" Dalam Dua Hadits Qudsi Berupa "Doa" Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan "Doa" Nabi Besar Muhammad Saw. Berkenaan "Kaumnya" Masing-masing & "Persamaan Kebaikan dan keburukan" Bani Israil dan Bani Isma'il


Bismillāhirrahmānirrahīm


KHAZANAH  AL-QURAN 

Bab 14

PENGGENAPAN NUBUATAN DALAM DUA HADITS QUDSI BERUPA DOA NABI ISA IBNU MARYAM A.S. DAN DOA NABI BESAR MUHAMMAD SAW. BERKENAAN KAUMNYA MASING-MASING   &  PERSAMAAN KEBAIKAN DAN KEBURUKAN BANI ISRAIL DENGAN BANI ISMA’IL BAGAIKAN PERSAMAAN SEPASANG SEPATU

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir bab sebelumnya  telah dikemukakan  topic: Genapnya Nubuatan Dalam Dua Hadits Qudsi  berkenaan   doa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan doa Nabi Besar Muhammad saw. sehubungan dengan umatnya masing-masing: 
         Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash r.a. bahwa Nabi saw. membaca firman Allah tentang Ibrahim a.s.:
رَبِّ اِنَّہُنَّ اَضۡلَلۡنَ  کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ ۚ فَمَنۡ تَبِعَنِیۡ فَاِنَّہٗ  مِنِّیۡ ۚ وَ مَنۡ عَصَانِیۡ فَاِنَّکَ غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ
“Wahai Rabb-ku sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia, lalu barangsiapa mengikutiku maka sesungguhnya ia termasuk golonganku, dan barangsiapa mendurhakaiku maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Maha Penyayang (Ibrahim [14]:37).
Dan ‘Isa a.s. berkata:
اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Kalau Engkau mengazab mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan kalau Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Māidah [5]:118).
    Kemudian beliau saw. mengangkat kedua tangan seraya bersabda: “Wahai umatku…..umatku” dan beliau saw. menangis. Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman; “Wahai Jibril, pergilah kepada Muhammad – sedangkan Tuhan kamu lebih mengetahui  -- tanyalah kepadanya, “Apakah yang menyebabkan engkau menangis?” Jibril  a.s. datang kepada beliau lalu bertanya kepada beliau, maka utusan Allah  itu memberitahukan kepada-Nya  mengenai apa yang disabdakan beliau   -- padahal Allah lebih mengetahui – lalu Allah Ta’ala berfirman kepada Jibril: “Pergillah kepada Muhammad dan katakan, “Sesungguhnya  Kami akan ridha terhadap umat engkau dan Kami tidak berbuat buruk kepada engkau” (Muslim). 
Kemudian:
          Tsauban r.a., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah memperlihatkan bumi kepadaku lalu aku melihat timur dan baratnya, dan sungguh kerajaan umatku akan sampai kepada bumi yang ditampakkan kepadaku. Aku diberi dua pembendaharaan yaitu merah dan putih. Sungguh aku mohon kepada Tuhan-ku bagi umatku agar tidak dihancurkan dengan tahun yang umum dan tidak dikuasai oleh musuh selain dari mereka sendiri, lalu ia memusnahkan golongan mereka. Sesungguhnya Tuhan-ku berfirman, “Wahai Muhammad, sesungguhnya apabila Aku menetapkan suatu ketetapan maka ketetapan itu  tidaklah tertolak. Dan sesungguhnya Aku memberi engkau mengenai umat engkau tidak Aku hancurkan dengan tahun yang umum, dan Aku tidak menguasakan musuh atas mereka selain dari mereka sendiri yang memusnahkan golongan mereka, walau pun berkumpul atas mereka dari seluruh penjuru   -- atau Dia berfirman: “dari seluruh penjuru bumi – sehingga sebagian mereka menghancurkan sebagian yang lain, dan sebagian mereka menawan terhadap sebagian yang lain” (Muslim).

Terputusnya Silailah Khilafat yang Hakiki Setelah Berakhirnya Khulafatur- Rasyidin

      Kenyataan sejarah membuktikan kebenaran hadits qudsi tersebut  yang diperkuat dengan hadits Nabi Besar Muhammad saw. lainnya  yang menyatakan bahwa sebenarnya sejak terbunuhnya Sayyidina  ‘Ali bin Abi Thalib r.a. sebagai Khulafatur Rasyiidin keempat,   silsilah khilafat yang hakiki penerus Nabi Besar Muhammad saw. telah berakhir.
      Ada pun yang berlangsung selanjutnya adalah kesultanan  -- walau  mereka menyebut  para pemimpinnya Khalifah --  baik dari kalangan Bani Ummayah mau pun dari kalangan Bani ‘Abbas  --  dan silsilah mujaddid pada setiap permulaan abad,  mengenai kenyataan tersebut  dijelaskan dalam hadits Nabi Besar Muhammad saw.   berikut ini:
        Imam Ahmad meriwayatkan: Telah berkata kepada kami Sulaiman bin Dawud al-Thayālisiy; di mana ia berkata, "Dawud bin Ibrahim al-Wasithiy telah menuturkan hadits kepadaku (Sulaiman bin Dawud al-Thayalisiy). Dan Dawud bin Ibrahim berkata, "Habib bin Salim telah meriwayatkan sebuah hadits dari Nu’man bin Basyir; dimana ia berkata, "Kami sedang duduk di dalam Masjid bersama Nabi saw, – Basyir sendiri adalah seorang laki-laki yang suka mengumpulkan hadits Nabi saw.  --  Lalu, datanglah Abu Tsa’labah al-Khusyaniy seraya berkata, "Wahai Basyir bin Sa’ad, apakah engkau hafal hadits Nabi saw yang berbicara tentang para pemimpin? Hudzaifah menjawab, "Saya hafal khuthbah Nabi saw." Hudzaifah berkata, "Nabi saw bersabda, "Akan datang kepada kalian masa kenabian, dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Kemudian, Allah akan menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa Kekhilafahan ‘alā Minhājin-Nubuwwah; dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang kepada kalian, masa raja menggigit (raja yang dzalim), dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa raja dictator (pemaksa); dan atas kehendak Allah masa itu akan datang; lalu Allah akan menghapusnya jika berkehendak menghapusnya. Kemudian, datanglah masa Khilafah ‘ala Minhājin-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas kenabian). Setelah itu, beliau diam".[HR. Imam Ahmad].
        Pada hakikatnya setelah masa khulafatur- Rasyidah berakhir keadaan umat Islam  bukan lagi merupakan satu umat, sebab dalam satu waktu di kalangan umat Islam terdapat dua “pemerintahan Islam” atau lebih – yakni Kekhalifahan Bani Umayyah di  Andalusia (Spanyol) dan Kekhalifahan Bani ‘Abbas  di Iraq.
     Berikut adalah beberapa dinasti Islam yang pernah berkuasa di dunia setelah berakhirnya  silsilah Khulafatur- Rasyidin:
1. Dinasti Umayah (40 H/661 M – 132 H/750 M)
2. Dinasti ‘Abbasiyah (132 H./750 M – 656 H/1258 M)
3. Dinasti Idrisiyah (172 H/789 M – 314 H/926 M)
4. Dinasti Aghlabiyah (184 H/800 M – 395/1005 M)
5. Dinasti Samaniyah (203 H/819 M – 395 H/1005 M)
7. Dinasti Safariyah (253 H/867  M – 900 H/1495 H)
8. Dinasti Tulun (254 H/868 M – 292 H/905 M)
9. Dinasti Hamdaniyah (292 H/905 M -394 H/1004  M)
10. Dinasti Fatimiyah (296 H/909 M – 566 H/1171 M)
11. Dinasti Buwaihi (33 H/945 M – 447 H/1055 M)
12. Dinasti Seljuk (469 H/1077 M – 706 H/1252 M)
14. Dinasti Ayyubiyah (569 H/1174 M – 650 H/1252 M)
15. Dinasti Delhi  (602 H/1206 – 962 H/1555 M)
16. Dinasti Mamluk Mesir (648 H/1250 M – 923 H/1517 M)
17. Dinasti Mughal (931 H/1525 M – 1275 H/1858)
19. Dinasti Ustmani/Ottoman (669H/1300 M – 1341 H/1922 M)
  
Kemunculan Para Mujaddid Islam Sebagai Misal Para Nabi Bani Israil

      Sejalan dengan munculnya berbagai pemerintahan  kerajaan   Islam  tersebut, silsilah kedatangan para mujaddid Islam di setiap awal abad pun bermunculan. Contohnya Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul Aziz  sebagai mujaddid Islam pertama setelah berakhirnya silsilah Khulafatur-Rasyidin.  Berikut ini  salah satu versi silsilah  para mujaddid Islam sebagaimana sabda Nabi Besar Muhammad saw.:
“Sesungguhnya Allah akan mengutus untuk umat ini setiap masa seratus tahun, orang yang akan memperbaharui agamanya”   (Diriwayatkan oleh Abu Dawud; al-Hakim, dan lainnya).
Para Mujaddid (Pembaharu Ruhani) tersebut adalah:
1.          Umar bin Abdul al-Aziz, Mujaddid  abad pertama;
2.          Imam Syafi’i, Mujaddid abad abad kedua
3.          Ibnu al-Suraij atau Imam al-Asy’ari, Mujaddid   abad ketiga
4.          Al-Sha’luky atau Abu Hamid al-Asfirāiny atau Qadhi Abu Bakar al-Baqilany, Mujaddid   abad ke-empat
5.          Imam al-Ghazali , Mujaddid abad kelima  
6.          Fakhrurrazi atau al-Rafi’i, Mujaddid  abad keenam
7.          Ibnu Daqiq al-Id, Mujaddid  abad ketujuh
8.          Al-Bulqaini atau Zainuddin al-Iraqi atau Ibnu binti al-Miilaq, Mujaddid  abad kedelapan
9.      Zakariya al-Anshari atau Al-Suyuthi (Al-Suyuthi telah menisbahkan mujaddid kepada dirinya sendiri), Mujaddid abad kesembilan
10.     Ibnu Hajar al-Haitamy atau Imam al-Ramli, Mujaddid  abad kesepuluh
11.     Al-Quthub Abdullah bin ‘Alawi al-Hadad ‘Alawi, Mujaddid abad kesebelas
12.  Al-Quthub Ahmad bin Umar ibnu Sumith ‘Alawi,  Mujaddid  abad kedua belas.
          Dalam versi lain ada nama-nama para Mujaddid yang berbeda lagi, karena – berbeda dengan para nabi  Allah (rasul Allah) – para mujaddid tidak diwajibkan untuk mendakwakan dirinya sebagai Mujaddid pada masanya masing-masing, sekali pun mereka inilah yang dimaksud oleh sabda Nabi Besar Muhammad saw.  sebagai:  ‘ulama ummatiy kal-anbiyya’i bani-isrāila  (ulama umatku yang seperti para   nabi Bani Israil),    karena  para mujaddid tersebut pun mendapat perlakuan buruk yang sama  seperti para nabi Bani Israil – mereka dikafirkan bahkan  ada yang dibunuh  --    oleh para pemuka agama kaum pada masanya masing-masing, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنَا مُوۡسَی الۡکِتٰبَ وَ قَفَّیۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ بِالرُّسُلِ ۫ وَ اٰتَیۡنَا عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ الۡبَیِّنٰتِ وَ اَیَّدۡنٰہُ بِرُوۡحِ الۡقُدُسِ ؕ اَفَکُلَّمَا جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌۢ بِمَا لَا تَہۡوٰۤی اَنۡفُسُکُمُ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ۚ  فَفَرِیۡقًا کَذَّبۡتُمۡ  ۫ وَ فَرِیۡقًا تَقۡتُلُوۡنَ ﴿﴾ وَ قَالُوۡا قُلُوۡبُنَا غُلۡفٌ ؕ بَلۡ لَّعَنَہُمُ اللّٰہُ بِکُفۡرِہِمۡ  فَقَلِیۡلًا مَّا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾ وَ لَمَّا جَآءَہُمۡ کِتٰبٌ مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَہُمۡ  ۙ وَ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ یَسۡتَفۡتِحُوۡنَ عَلَی الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ۚۖ فَلَمَّا جَآءَہُمۡ مَّا عَرَفُوۡا کَفَرُوۡا بِہٖ ۫ فَلَعۡنَۃُ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ بِئۡسَمَا اشۡتَرَوۡا بِہٖۤ اَنۡفُسَہُمۡ  اَنۡ یَّکۡفُرُوۡا بِمَاۤ  اَنۡزَلَ اللّٰہُ  بَغۡیًا اَنۡ یُّنَزِّلَ اللّٰہُ مِنۡ فَضۡلِہٖ عَلٰی مَنۡ یَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِہٖ ۚ فَبَآءُوۡ بِغَضَبٍ عَلٰی غَضَبٍ ؕ وَ  لِلۡکٰفِرِیۡنَ عَذَابٌ مُّہِیۡنٌ ﴿﴾
Dan  sungguh   Kami benar-benar telah  berikan Alkitab kepada Musa dan Kami mengikutkan rasul-rasul di belakangnya,  dan   Kami  memberikan kepada Isa Ibnu Maryam Tanda-tanda yang nyata, dan juga Kami memperkuatnya dengan  Ruhulqudus.  Maka apakah patut setiap datang kepadamu seorang rasul dengan membawa apa yang tidak disukai oleh dirimu  kamu berlaku takabur, lalu  sebagian kamu dustakan dan sebagian lainnya kamu bunuh?   Dan mereka berkata:  Hati kami tertutup.” Tidak,  bahkan Allah telah mengutuk mereka karena kekafiran mereka  maka sedikit sekali apa yang mereka imani.   Dan tatkala datang kepada mereka sebuah Kitab yakni  Al-Quran dari Allah  menggenapi apa yang ada pada mereka, sedangkan sebelum itu mereka senantiasa memohon kemenangan  atas orang-orang kafir, tetapi tatkala  datang kepada mereka  apa yang mereka  kenali itu lalu mereka kafir  kepadanya  maka laknat Allah atas orang-orang kafir.    Sangat buruk hal yang  dengan itu mereka telah menjual dirinya     yakni  mereka  kafir  kepada apa yang diturunkan Allqh, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, lalu   mereka ditimpa kemurkaan demi kemurkaan, dan bagi orang-orang kafir ada azab yang menghinakan   (Al-Baqarah [2]:88-91).
         Oleh karena itu sebagaimana dalam Silsilah Bani Israil kenabian syariat dimulai oleh Nabi Musa a.s. dan diakhiri  oleh Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., demikian pula di kalangan Bani Isma’il pun kenabian syariat dimulai oleh  misal Nabi Musa a.s. – yakni Nabi Besar Muhammad saw. (QS.26:93-198; QS.46:11;  QS.73:161-17; Ulangan 18:15-19) dan diakhiri oleh misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58), yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s. sebagai Al-Masih Mau’ud a.s. yang akan mewujudkan kejayaan Islam yang kedua kali di Akhir Zaman (QS.61:10), dengan demikian genaplah  sabda Nabi Besar Muhammad saw. sebelum ini mengenai “4 periode perjalanan sejarah umat Islam”:
Hudzaifah berkata, "Nabi saw bersabda, "Akan datang kepada kalian masa kenabian, dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Kemudian, Allah akan menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa Kekhilafahan ‘ala Minhāj al-Nubuwwah; dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang kepada kalian, masa raja menggigit (raja yang dzalim), dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa raja dictator (pemaksa); dan atas kehendak Allah masa itu akan datang; lalu Allah akan menghapusnya jika berkehendak menghapusnya. Kemudian, datanglah masa Khilafah ‘ala Minhāj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas kenabian). Setelah itu, beliau diam".[HR. Imam Ahmad].

Pentingnya Instrokpeksi Diri Daripada Menyalahkan Pihak-pihak Lain   

      Kehancuran  mengerikan yang melanda  kawasan berbagai  negara Muslim di kawasan Timur Tengah di Akhir Zaman  ini -- akibat persengketaan di kalangan sesama Muslim yang berbeda sekte atau mazhab  atau politik  -- membukti kebenaran sabda Nabi Besar Muhammad saw. dan kebenaran firman Allah Swt. dalam hadits qudsi tersebut.
         Jadi, tidak perlu menyalahkan pihak ghair Muslim mana pun dalam hal kemelut di kawasan Timur Tengah saat ini, sebab mereka itu hanya sekedar “sarana” yang digunakan Allah Swt. untuk menghukum  Bani Isma’il (umat Islam di Timur Tengah) yang  yang kedua kali sebagaimana yang telah terjadi dengan Bani Israil sebelumnya  --  yang juga  merupakan keturunan Nabi Ibrahim a.s.  --  firman-Nya:
وَ قَضَیۡنَاۤ  اِلٰی بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ فِی الۡکِتٰبِ لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ مَرَّتَیۡنِ  وَ لَتَعۡلُنَّ  عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾  فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ  عِبَادًا  لَّنَاۤ   اُولِیۡ  بَاۡسٍ  شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ وَعۡدًا  مَّفۡعُوۡلًا ﴿﴾  ثُمَّ رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ  اَکۡثَرَ  نَفِیۡرًا ﴿﴾  اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا ؕ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  لِیَسُوۡٓءٗا  وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ  اَوَّلَ مَرَّۃٍ  وَّ  لِیُتَبِّرُوۡا مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا ﴿﴾  عَسٰی رَبُّکُمۡ اَنۡ یَّرۡحَمَکُمۡ ۚ وَ اِنۡ عُدۡتُّمۡ عُدۡنَا ۘ وَ جَعَلۡنَا جَہَنَّمَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ  حَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan telah Kami tetapkan dengan jelas kepada Bani Israil dalam kitab itu: “Niscaya  kamu akan melakukan kerusakan di muka bumi ini dua kali, dan niscaya kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang sangat besar.”   Apabila datang saat sempurnanya janji yang pertama  dari kedua janji itu,  Kami membangkitkan untuk menghadapimu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan tempur yang dahsyat, dan mereka menerobos jauh ke dalam rumah-rumah, dan itu merupakan suatu janji yang pasti terlaksana.    Kemudian Kami mengembalikan lagi kepada kamu kekuatan untuk melawan mereka, dan Kami membantu kamu dengan harta dan anak-anak, dan  Kami menjadikan kelompok kamu lebih besar dari sebelumnya.  Jika kamu berbuat ihsan, kamu berbuat ihsan  bagi diri kamu sendiri, dan jika kamu berbuat buruk  maka itu untuk dirimu sendiri.     Lalu bila datang saat sempurnanya janji yang kedua itu Kami membangkitkan lagi hamba-hamba Kami yang lain supaya mereka mendatangkan kesusahan kepada pemimpin-pemimpin kamu dan supaya mereka memasuki masjid seperti pernah mereka memasukinya pada kali pertama, dan supaya mereka menghancurluluhkan segala yang telah mereka kuasai. Boleh jadi kini  Rabb (Tuhan)  kamu akan menaruh kasihan kepadamu, tetapi jika kamu kembali kepada perbuatan buruk, Kami pun akan kembali menimpakan hukuman dan ingatlah, Kami telah jadikan Jahannam, penjara bagi orang- orang kafir.   (Bani Israil [17]:5-9).

Pentingnya Memiliki Ketakwaan   dan Kepatuh-taatan yang Hakiki

         Allah Swt. tidak akan pernah membiarkan pelanggaran terhadap ketentuan-Nya   dalam  Al-Quran  tanpa hukuman  --  termasuk terhadap umat Islam sendiri (QS.4:149; QS.8:54; QS.13:12; QS.14:8) – firman-Nya jika mereka melakukan pelanggaran (kedurhakaan) terhadap ketentuan Allah Swt. dan  sunnah Nabi Besar Muhammad saw., sebagaimana firman-Nya berikut ini mengenai pentingnya umat Islam memiliki ketakwaan yang hakiki kepada Allah Swt. dan pentingnya menjaga  persatuan dan kesatuan umat Islam:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰہَ حَقَّ تُقٰتِہٖ وَ لَا تَمُوۡتُنَّ  اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ  مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾  وَ اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا وَّ لَا تَفَرَّقُوۡا ۪ وَ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ  اِذۡ  کُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوۡبِکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا ۚ وَ کُنۡتُمۡ عَلٰی شَفَا حُفۡرَۃٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنۡقَذَکُمۡ مِّنۡہَا ؕ کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ لَکُمۡ اٰیٰتِہٖ  لَعَلَّکُمۡ  تَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾  وَلۡتَکُنۡ مِّنۡکُمۡ اُمَّۃٌ یَّدۡعُوۡنَ اِلَی الۡخَیۡرِ وَ یَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ یَنۡہَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡکَرِ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾ وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ تَفَرَّقُوۡا وَ اخۡتَلَفُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ ﴿﴾ۙ  یَّوۡمَ تَبۡیَضُّ وُجُوۡہٌ  وَّ تَسۡوَدُّ وُجُوۡہٌ ۚ فَاَمَّا الَّذِیۡنَ اسۡوَدَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ ۟ اَکَفَرۡتُمۡ بَعۡدَ اِیۡمَانِکُمۡ فَذُوۡقُوا الۡعَذَابَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡفُرُوۡنَ ﴿﴾  وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ ابۡیَضَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ فَفِیۡ رَحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ ہُمۡ  فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾  تِلۡکَ اٰیٰتُ اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ مَا اللّٰہُ یُرِیۡدُ  ظُلۡمًا لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾     وَ لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ  اِلَی اللّٰہِ  تُرۡجَعُ  الۡاُمُوۡرُ  ﴿ ﴾٪
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan  janganlah sekali-kali kamu mati kecuali kamu dalam keadaan ber-serah  diri.  Dan  berpegangteguhlah kamu sekalian pada tali Allah dan    janganlah kamu berpecah-belahdan  ingatlah akan nikmat Allah atas kamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, lalu  Dia menyatukan hati kamu dengan kecintaan  antara satu sama lain maka  dengan nikmat-Nya itu kamu menjadi bersaudara, dan kamu dahulu berada di tepi jurang Api lalu Dia menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menjelaskan Ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu mendapat petunjuk.   Dan hendaklah ada segolongan di antara kamu   yang senantiasa menyeru manusia kepada kebaikan,  dan menyuruh kepada yang makruf,  dan melarang dari berbuat munkar,  dan mereka itulah orang-orang yang berhasil.  Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang  berpecah-belah dan berselisih   sesudah  bukti-bukti yang jelas datang kepada mereka, dan mereka itulah orang-orang  yang baginya  ada azab yang besar.    Pada hari  ketika  wajah-wajah menjadi putih, dan wajah-wajah lainnya   menjadi hitam.  Ada pun orang-orang yang wajahnya menjadi hitam, dikatakan kepada mereka: Apakah  kamu kafir  sesudah beriman? Karena itu rasakanlah azab ini disebabkan kekafiran kamu."  Dan  ada pun orang-orang yang wajahnya putih, maka mereka akan berada di dalam rahmat Allah, mereka kekal  di dalamnya.  Itulah Ayat-ayat Allah, Kami membacakannya kepada engkau dengan haq, dan Allah sekali-kali tidak menghendaki suatu kezaliman  atas seluruh alam.  Dan  milik Allah-lah apa pun  yang ada di seluruh langit dan apa pun yang ada di bumi, dan kepada Allah-lah segala urusan dikembalikan.  (Ali ‘Imrān [3]:103-110).

(Bersambung)
ooo
Rujukan: The Holy Quran
Editor    : Malik Ghulam Farid

Pajajaran Anyar,   27 Juli 2017



Tidak ada komentar:

Posting Komentar