Bismillāhirrahmānirrahīm
KHAZANAH AL-QURAN
Bab
14
PENGGENAPAN NUBUATAN
DALAM DUA HADITS QUDSI BERUPA DOA NABI ISA IBNU MARYAM A.S. DAN DOA NABI BESAR MUHAMMAD SAW. BERKENAAN KAUMNYA MASING-MASING & PERSAMAAN KEBAIKAN DAN KEBURUKAN BANI ISRAIL DENGAN BANI ISMA’IL BAGAIKAN PERSAMAAN SEPASANG SEPATU
Oleh
Ki
Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam
bagian akhir bab sebelumnya telah
dikemukakan topic: Genapnya Nubuatan Dalam
Dua Hadits Qudsi berkenaan
doa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
dan doa Nabi Besar Muhammad saw.
sehubungan dengan umatnya
masing-masing:
Dari
‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash r.a. bahwa Nabi
saw. membaca firman Allah tentang Ibrahim a.s.:
رَبِّ اِنَّہُنَّ اَضۡلَلۡنَ کَثِیۡرًا مِّنَ النَّاسِ ۚ فَمَنۡ تَبِعَنِیۡ
فَاِنَّہٗ مِنِّیۡ ۚ وَ مَنۡ عَصَانِیۡ
فَاِنَّکَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ
“Wahai Rabb-ku sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan
kebanyakan dari manusia, lalu barangsiapa
mengikutiku maka sesungguhnya ia termasuk
golonganku, dan barangsiapa
mendurhakaiku maka sesungguhnya Engkau
Maha Pengampun, Maha Penyayang (Ibrahim [14]:37).
Dan ‘Isa a.s. berkata:
اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ
فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
“Kalau Engkau mengazab mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan kalau Engkau mengampuni mereka, maka
sesungguhnya Engkau benar-benar Maha
Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Māidah [5]:118).
Kemudian beliau saw. mengangkat kedua tangan
seraya bersabda: “Wahai umatku…..umatku”
dan beliau saw. menangis. Allah Yang
Maha Mulia dan Maha Besar berfirman; “Wahai Jibril, pergilah kepada
Muhammad – sedangkan Tuhan kamu lebih mengetahui -- tanyalah kepadanya, “Apakah yang menyebabkan engkau menangis?” Jibril a.s. datang kepada beliau
lalu bertanya kepada beliau, maka utusan
Allah itu memberitahukan kepada-Nya mengenai apa
yang disabdakan beliau -- padahal
Allah lebih mengetahui – lalu Allah Ta’ala berfirman kepada Jibril: “Pergillah kepada Muhammad dan katakan,
“Sesungguhnya Kami akan ridha terhadap umat engkau dan Kami
tidak berbuat buruk kepada engkau” (Muslim).
Kemudian:
Tsauban
r.a., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah
memperlihatkan bumi kepadaku lalu aku
melihat timur dan baratnya, dan sungguh
kerajaan umatku akan sampai kepada bumi yang ditampakkan kepadaku. Aku diberi dua pembendaharaan yaitu merah dan putih. Sungguh aku mohon
kepada Tuhan-ku bagi umatku agar tidak dihancurkan dengan tahun yang umum dan
tidak dikuasai oleh musuh selain dari mereka sendiri, lalu ia memusnahkan
golongan mereka. Sesungguhnya Tuhan-ku
berfirman, “Wahai Muhammad, sesungguhnya
apabila Aku menetapkan suatu ketetapan maka ketetapan itu tidaklah tertolak. Dan sesungguhnya Aku
memberi engkau mengenai umat engkau tidak Aku hancurkan dengan tahun yang umum,
dan Aku tidak menguasakan musuh atas mereka selain dari mereka sendiri yang
memusnahkan golongan mereka, walau pun berkumpul atas mereka dari seluruh
penjuru -- atau Dia berfirman:
“dari seluruh penjuru bumi –
sehingga sebagian mereka menghancurkan
sebagian yang lain, dan sebagian
mereka menawan terhadap sebagian yang lain” (Muslim).
Terputusnya Silailah Khilafat yang Hakiki Setelah Berakhirnya Khulafatur- Rasyidin
Kenyataan sejarah
membuktikan kebenaran hadits qudsi
tersebut yang diperkuat dengan hadits Nabi Besar Muhammad saw.
lainnya yang menyatakan bahwa sebenarnya
sejak terbunuhnya Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib r.a. sebagai Khulafatur Rasyiidin keempat, silsilah khilafat
yang hakiki penerus Nabi Besar
Muhammad saw. telah berakhir.
Ada pun yang berlangsung selanjutnya
adalah kesultanan -- walau
mereka menyebut para pemimpinnya Khalifah -- baik dari kalangan Bani Ummayah mau pun dari kalangan Bani ‘Abbas -- dan silsilah mujaddid pada setiap permulaan
abad, mengenai kenyataan
tersebut dijelaskan dalam hadits Nabi Besar Muhammad saw. berikut ini:
Imam Ahmad meriwayatkan: Telah
berkata kepada kami Sulaiman bin Dawud al-Thayālisiy; di mana ia berkata,
"Dawud bin Ibrahim al-Wasithiy telah menuturkan hadits kepadaku (Sulaiman
bin Dawud al-Thayalisiy). Dan Dawud bin Ibrahim berkata, "Habib bin Salim
telah meriwayatkan sebuah hadits dari Nu’man bin Basyir; dimana ia berkata,
"Kami sedang duduk di dalam Masjid bersama Nabi saw, – Basyir sendiri
adalah seorang laki-laki yang suka mengumpulkan hadits Nabi saw. -- Lalu, datanglah Abu Tsa’labah al-Khusyaniy
seraya berkata, "Wahai Basyir bin Sa’ad, apakah engkau hafal hadits Nabi
saw yang berbicara tentang para pemimpin?
Hudzaifah menjawab, "Saya hafal khuthbah Nabi saw." Hudzaifah
berkata, "Nabi saw bersabda, "Akan datang kepada kalian masa
kenabian, dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Kemudian, Allah akan
menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa
Kekhilafahan ‘alā Minhājin-Nubuwwah; dan atas kehendak Allah masa itu akan
datang. Lalu, Allah menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu,
akan datang kepada kalian, masa raja menggigit (raja yang dzalim), dan atas
kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya, jika Ia
berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa raja dictator
(pemaksa); dan atas kehendak Allah masa itu akan datang; lalu Allah akan menghapusnya
jika berkehendak menghapusnya. Kemudian, datanglah masa Khilafah ‘ala Minhājin-Nubuwwah
(Khilafah yang berjalan di atas kenabian). Setelah itu, beliau diam".[HR. Imam Ahmad].
Pada hakikatnya setelah masa khulafatur- Rasyidah berakhir keadaan umat Islam bukan lagi merupakan satu umat, sebab dalam satu
waktu di kalangan umat Islam
terdapat dua “pemerintahan Islam” atau
lebih – yakni Kekhalifahan Bani Umayyah
di Andalusia
(Spanyol) dan Kekhalifahan Bani ‘Abbas di Iraq.
Berikut adalah beberapa dinasti
Islam yang pernah berkuasa di dunia setelah berakhirnya silsilah Khulafatur-
Rasyidin:
1. Dinasti Umayah (40 H/661 M – 132 H/750 M)
2. Dinasti ‘Abbasiyah (132 H./750 M – 656 H/1258 M)
3. Dinasti Idrisiyah (172 H/789 M – 314 H/926 M)
4. Dinasti Aghlabiyah (184 H/800 M – 395/1005 M)
5. Dinasti Samaniyah (203 H/819 M – 395 H/1005 M)
7. Dinasti Safariyah (253 H/867 M – 900 H/1495 H)
8. Dinasti Tulun (254 H/868 M – 292 H/905 M)
9. Dinasti Hamdaniyah (292 H/905 M -394 H/1004 M)
10. Dinasti Fatimiyah (296 H/909 M – 566 H/1171 M)
11. Dinasti Buwaihi (33 H/945 M – 447 H/1055 M)
12. Dinasti Seljuk (469 H/1077 M – 706 H/1252 M)
14. Dinasti Ayyubiyah (569 H/1174 M – 650 H/1252 M)
15. Dinasti Delhi
(602 H/1206 – 962 H/1555 M)
16. Dinasti Mamluk Mesir (648 H/1250 M – 923 H/1517
M)
17. Dinasti Mughal (931 H/1525 M – 1275 H/1858)
19. Dinasti Ustmani/Ottoman (669H/1300 M – 1341 H/1922 M)
Kemunculan Para Mujaddid Islam Sebagai Misal Para Nabi Bani Israil
Sejalan dengan munculnya berbagai pemerintahan
kerajaan Islam tersebut, silsilah kedatangan para mujaddid Islam di setiap awal abad pun
bermunculan. Contohnya Khalifah ‘Umar bin
‘Abdul Aziz sebagai mujaddid Islam pertama setelah
berakhirnya silsilah Khulafatur-Rasyidin.
Berikut ini salah satu versi silsilah para mujaddid Islam sebagaimana sabda Nabi
Besar Muhammad saw.:
“Sesungguhnya
Allah akan mengutus untuk umat ini
setiap masa seratus tahun, orang yang akan
memperbaharui agamanya” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud; al-Hakim,
dan lainnya).
Para Mujaddid (Pembaharu Ruhani) tersebut adalah:
1.
‘Umar bin Abdul al-Aziz, Mujaddid abad pertama;
2.
Imam Syafi’i, Mujaddid abad abad kedua
3.
Ibnu al-Suraij atau Imam
al-Asy’ari, Mujaddid abad ketiga
4.
Al-Sha’luky atau Abu
Hamid al-Asfirāiny atau Qadhi Abu
Bakar al-Baqilany, Mujaddid abad ke-empat
5.
Imam al-Ghazali , Mujaddid abad kelima
6.
Fakhrurrazi atau al-Rafi’i,
Mujaddid abad keenam
7.
Ibnu Daqiq al-Id, Mujaddid
abad ketujuh
8.
Al-Bulqaini atau
Zainuddin al-Iraqi atau Ibnu binti
al-Miilaq, Mujaddid abad kedelapan
9. Zakariya al-Anshari atau Al-Suyuthi
(Al-Suyuthi telah menisbahkan mujaddid
kepada dirinya sendiri), Mujaddid abad kesembilan
10.
Ibnu Hajar al-Haitamy atau Imam
al-Ramli, Mujaddid abad kesepuluh
11.
Al-Quthub Abdullah bin ‘Alawi al-Hadad ‘Alawi, Mujaddid abad kesebelas
12. Al-Quthub Ahmad bin Umar ibnu Sumith ‘Alawi, Mujaddid
abad kedua belas.
Dalam versi lain ada nama-nama para Mujaddid
yang berbeda lagi, karena – berbeda dengan para nabi Allah (rasul Allah) –
para mujaddid tidak diwajibkan untuk mendakwakan dirinya sebagai Mujaddid pada masanya masing-masing,
sekali pun mereka inilah yang dimaksud oleh sabda Nabi Besar Muhammad saw. sebagai:
‘ulama ummatiy kal-anbiyya’i
bani-isrāila (ulama umatku yang
seperti para nabi Bani Israil), karena
para mujaddid tersebut pun
mendapat perlakuan buruk yang
sama seperti para nabi Bani Israil – mereka dikafirkan
bahkan ada yang dibunuh -- oleh para pemuka agama kaum pada masanya masing-masing, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنَا مُوۡسَی الۡکِتٰبَ وَ قَفَّیۡنَا مِنۡۢ
بَعۡدِہٖ بِالرُّسُلِ ۫ وَ اٰتَیۡنَا عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ الۡبَیِّنٰتِ وَ
اَیَّدۡنٰہُ بِرُوۡحِ الۡقُدُسِ ؕ اَفَکُلَّمَا جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌۢ بِمَا لَا
تَہۡوٰۤی اَنۡفُسُکُمُ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ۚ
فَفَرِیۡقًا کَذَّبۡتُمۡ ۫ وَ
فَرِیۡقًا تَقۡتُلُوۡنَ ﴿﴾ وَ قَالُوۡا قُلُوۡبُنَا غُلۡفٌ ؕ بَلۡ لَّعَنَہُمُ
اللّٰہُ بِکُفۡرِہِمۡ فَقَلِیۡلًا مَّا
یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾ وَ لَمَّا جَآءَہُمۡ کِتٰبٌ مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ مُصَدِّقٌ
لِّمَا مَعَہُمۡ ۙ وَ کَانُوۡا مِنۡ
قَبۡلُ یَسۡتَفۡتِحُوۡنَ عَلَی الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ۚۖ فَلَمَّا جَآءَہُمۡ مَّا
عَرَفُوۡا کَفَرُوۡا بِہٖ ۫ فَلَعۡنَۃُ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ بِئۡسَمَا
اشۡتَرَوۡا بِہٖۤ اَنۡفُسَہُمۡ
اَنۡ یَّکۡفُرُوۡا بِمَاۤ اَنۡزَلَ
اللّٰہُ بَغۡیًا اَنۡ یُّنَزِّلَ اللّٰہُ
مِنۡ فَضۡلِہٖ عَلٰی مَنۡ یَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِہٖ ۚ
فَبَآءُوۡ بِغَضَبٍ عَلٰی غَضَبٍ ؕ وَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ عَذَابٌ مُّہِیۡنٌ ﴿﴾
Dan sungguh Kami benar-benar telah berikan Alkitab kepada Musa dan Kami mengikutkan rasul-rasul di belakangnya,
dan Kami memberikan kepada Isa Ibnu Maryam Tanda-tanda
yang nyata, dan juga Kami
memperkuatnya dengan Ruhulqudus.
Maka apakah patut setiap
datang kepadamu seorang rasul dengan membawa apa yang tidak disukai oleh dirimu kamu berlaku
takabur, lalu sebagian kamu dustakan dan sebagian
lainnya kamu bunuh? Dan mereka berkata: ”Hati kami tertutup.” Tidak, bahkan Allah
telah mengutuk mereka karena kekafiran
mereka maka sedikit sekali apa yang mereka imani. Dan tatkala datang kepada mereka sebuah Kitab
yakni Al-Quran dari Allah menggenapi apa yang ada pada mereka,
sedangkan sebelum itu mereka senantiasa
memohon kemenangan atas
orang-orang kafir, tetapi tatkala datang
kepada mereka apa yang
mereka kenali itu lalu mereka kafir kepadanya
maka laknat Allah atas orang-orang
kafir. Sangat buruk hal yang dengan itu mereka telah menjual dirinya yakni
mereka kafir
kepada apa yang diturunkan Allqh, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang Dia
kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, lalu mereka ditimpa kemurkaan demi kemurkaan, dan bagi orang-orang kafir ada azab yang menghinakan (Al-Baqarah
[2]:88-91).
Oleh karena itu sebagaimana dalam Silsilah Bani Israil kenabian syariat
dimulai oleh Nabi Musa a.s. dan
diakhiri oleh Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., demikian pula di kalangan Bani Isma’il pun kenabian syariat
dimulai oleh misal Nabi Musa a.s. – yakni Nabi
Besar Muhammad saw. (QS.26:93-198; QS.46:11; QS.73:161-17; Ulangan 18:15-19) dan diakhiri oleh misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58), yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s. sebagai Al-Masih Mau’ud a.s. yang akan
mewujudkan kejayaan Islam yang kedua
kali di Akhir Zaman (QS.61:10),
dengan demikian genaplah sabda Nabi
Besar Muhammad saw. sebelum ini mengenai “4
periode perjalanan sejarah umat Islam”:
Hudzaifah
berkata, "Nabi saw bersabda, "Akan datang kepada kalian masa
kenabian, dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Kemudian, Allah akan
menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa
Kekhilafahan ‘ala Minhāj al-Nubuwwah; dan atas kehendak Allah masa itu akan
datang. Lalu, Allah menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu,
akan datang kepada kalian, masa raja menggigit (raja yang dzalim), dan atas
kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya, jika Ia
berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa raja dictator
(pemaksa); dan atas kehendak Allah masa itu akan datang; lalu Allah akan
menghapusnya jika berkehendak menghapusnya. Kemudian, datanglah masa Khilafah ‘ala
Minhāj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas kenabian). Setelah itu,
beliau diam".[HR. Imam Ahmad].
Pentingnya Instrokpeksi Diri Daripada Menyalahkan
Pihak-pihak Lain
Kehancuran
mengerikan yang melanda kawasan berbagai negara Muslim
di kawasan Timur Tengah di Akhir
Zaman ini -- akibat persengketaan di kalangan sesama Muslim yang berbeda sekte
atau mazhab atau politik
-- membukti kebenaran sabda Nabi Besar
Muhammad saw. dan kebenaran firman
Allah Swt. dalam hadits qudsi
tersebut.
Jadi, tidak perlu menyalahkan pihak ghair Muslim mana pun dalam hal kemelut di kawasan Timur Tengah saat ini, sebab mereka itu hanya sekedar “sarana” yang digunakan Allah Swt. untuk menghukum Bani Isma’il (umat Islam di Timur Tengah)
yang yang kedua kali sebagaimana yang telah terjadi dengan Bani Israil sebelumnya -- yang juga
merupakan keturunan Nabi Ibrahim
a.s. -- firman-Nya:
وَ قَضَیۡنَاۤ اِلٰی
بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ فِی الۡکِتٰبِ
لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ
مَرَّتَیۡنِ وَ
لَتَعۡلُنَّ عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا
بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ
عِبَادًا لَّنَاۤ اُولِیۡ بَاۡسٍ
شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا
خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ وَعۡدًا مَّفۡعُوۡلًا ﴿﴾ ثُمَّ رَدَدۡنَا
لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ اَکۡثَرَ
نَفِیۡرًا ﴿﴾ اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا ؕ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ لِیَسُوۡٓءٗا وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ اَوَّلَ مَرَّۃٍ وَّ لِیُتَبِّرُوۡا
مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا ﴿﴾ عَسٰی رَبُّکُمۡ اَنۡ یَّرۡحَمَکُمۡ ۚ وَ اِنۡ عُدۡتُّمۡ عُدۡنَا ۘ وَ جَعَلۡنَا جَہَنَّمَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ
حَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan telah Kami tetapkan dengan jelas kepada
Bani Israil dalam kitab itu:
“Niscaya kamu akan melakukan kerusakan di muka bumi ini dua kali, dan
niscaya kamu akan menyombongkan diri
dengan kesombongan yang sangat besar.”
Apabila datang
saat sempurnanya janji yang pertama dari kedua
janji itu, Kami membangkitkan untuk menghadapimu
hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan tempur yang dahsyat, dan mereka menerobos jauh ke dalam rumah-rumah,
dan itu merupakan suatu janji yang pasti
terlaksana. Kemudian Kami
mengembalikan lagi kepada kamu kekuatan untuk melawan mereka, dan Kami membantu kamu dengan harta dan
anak-anak, dan Kami menjadikan kelompok kamu lebih besar dari sebelumnya. Jika
kamu berbuat ihsan, kamu berbuat ihsan bagi diri kamu sendiri, dan jika kamu berbuat buruk maka itu
untuk dirimu sendiri. Lalu bila datang saat sempurnanya janji
yang kedua itu Kami membangkitkan lagi hamba-hamba Kami yang lain
supaya mereka mendatangkan kesusahan
kepada pemimpin-pemimpin kamu dan supaya mereka memasuki masjid seperti pernah mereka memasukinya pada kali
pertama, dan supaya mereka
menghancurluluhkan segala yang telah mereka kuasai. Boleh jadi kini Rabb
(Tuhan) kamu akan menaruh kasihan kepadamu, tetapi jika kamu kembali kepada perbuatan buruk, Kami pun akan kembali menimpakan
hukuman dan ingatlah, Kami
telah jadikan Jahannam, penjara bagi orang- orang kafir. (Bani Israil [17]:5-9).
Pentingnya Memiliki Ketakwaan dan Kepatuh-taatan
yang Hakiki
Allah Swt. tidak akan pernah membiarkan pelanggaran terhadap ketentuan-Nya dalam Al-Quran
tanpa hukuman --
termasuk terhadap umat Islam
sendiri (QS.4:149; QS.8:54; QS.13:12; QS.14:8) – firman-Nya jika mereka
melakukan pelanggaran (kedurhakaan)
terhadap ketentuan Allah Swt.
dan sunnah
Nabi Besar Muhammad saw., sebagaimana firman-Nya berikut ini mengenai
pentingnya umat Islam memiliki ketakwaan yang hakiki kepada Allah Swt.
dan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan umat Islam:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰہَ حَقَّ تُقٰتِہٖ وَ لَا تَمُوۡتُنَّ اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ
مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾ وَ
اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا
وَّ لَا تَفَرَّقُوۡا ۪ وَ اذۡکُرُوۡا
نِعۡمَتَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ اِذۡ
کُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ بَیۡنَ
قُلُوۡبِکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ
بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا ۚ وَ
کُنۡتُمۡ عَلٰی
شَفَا حُفۡرَۃٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنۡقَذَکُمۡ مِّنۡہَا ؕ کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ
لَکُمۡ اٰیٰتِہٖ لَعَلَّکُمۡ
تَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾ وَلۡتَکُنۡ مِّنۡکُمۡ
اُمَّۃٌ یَّدۡعُوۡنَ اِلَی الۡخَیۡرِ وَ یَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ یَنۡہَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡکَرِ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾ وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ تَفَرَّقُوۡا
وَ اخۡتَلَفُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ
الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ
عَذَابٌ عَظِیۡمٌ ﴿﴾ۙ یَّوۡمَ تَبۡیَضُّ
وُجُوۡہٌ وَّ تَسۡوَدُّ وُجُوۡہٌ ۚ فَاَمَّا الَّذِیۡنَ
اسۡوَدَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ ۟ اَکَفَرۡتُمۡ بَعۡدَ
اِیۡمَانِکُمۡ فَذُوۡقُوا
الۡعَذَابَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡفُرُوۡنَ ﴿﴾ وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ ابۡیَضَّتۡ
وُجُوۡہُہُمۡ
فَفِیۡ رَحۡمَۃِ
اللّٰہِ ؕ ہُمۡ
فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾ تِلۡکَ اٰیٰتُ اللّٰہِ
نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ مَا اللّٰہُ یُرِیۡدُ ظُلۡمًا لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ وَ
لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ اِلَی
اللّٰہِ تُرۡجَعُ الۡاُمُوۡرُ ﴿ ﴾٪
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan takwa
yang sebenar-benarnya, dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali
kamu dalam keadaan ber-serah diri. Dan berpegangteguhlah
kamu sekalian pada tali Allah dan janganlah kamu berpecah-belah, dan ingatlah akan nikmat Allah atas kamu
ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan,
lalu Dia menyatukan hati kamu dengan
kecintaan antara satu sama
lain maka dengan nikmat-Nya itu kamu menjadi bersaudara, dan kamu dahulu berada di tepi jurang Api lalu
Dia menyelamatkan kamu darinya.
Demikianlah Allah menjelaskan
Ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu mendapat petunjuk. Dan hendaklah ada segolongan di antara
kamu yang senantiasa menyeru manusia
kepada kebaikan, dan menyuruh kepada yang makruf, dan melarang
dari berbuat munkar, dan mereka
itulah orang-orang yang berhasil. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang
yang berpecah-belah
dan berselisih sesudah
bukti-bukti yang jelas datang
kepada mereka, dan mereka itulah orang-orang
yang baginya ada azab yang besar. Pada hari
ketika wajah-wajah menjadi putih, dan wajah-wajah lainnya menjadi hitam. Ada pun orang-orang
yang wajahnya menjadi hitam, dikatakan kepada mereka: “Apakah
kamu kafir sesudah beriman?
Karena itu rasakanlah azab ini disebabkan kekafiran kamu." Dan ada
pun orang-orang yang wajahnya putih, maka mereka akan berada di dalam rahmat Allah, mereka kekal
di dalamnya. Itulah Ayat-ayat
Allah, Kami membacakannya kepada
engkau dengan haq, dan Allah
sekali-kali tidak menghendaki suatu kezaliman
atas seluruh alam. Dan
milik Allah-lah apa pun yang ada
di seluruh langit dan apa pun yang
ada di bumi, dan kepada Allah-lah
segala urusan dikembalikan. (Ali
‘Imrān [3]:103-110).
(Bersambung)
ooo
Rujukan: The
Holy Quran
Editor : Malik
Ghulam Farid
Pajajaran Anyar, 27 Juli 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar