Bismillāhirrahmānirrahīm
KHAZANAH AL-QURAN
Bab
3
SETIAP
UMAT MEMILIKI AJAL (BATAS WAKTU) & PARA RASUL
ALLAH AKAN MENJADI SAKSI BAGI SETIAP UMAT, KHUSUSNYA NABI BESAR MUHAMMAD SAW. SEBAGAI SAKSI BAGI SEMUA UMAT MANUSIA
Oleh
Ki
Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam
bagian akhir bab sebelumnya telah
dikemukakan topic: Keluhuran Martabat Nabi Besar
Muhammad Saw. yaitu
sehubungan dengan hadits qudsi yang dikemukakan di bagian
awal Bab ini, Allah Swt. berfirman:
“Aku adalah kanzun
makhfiy (khazanah tersembunyi) dan
ingin dikenal maka Aku menciptakan Adam.”
Bahwa yang dimaksud dengan “Adam” dalam hadits qudsi
tersebut adalah nabi Allah (rasul Allah – QS.7:35-37), karena wujud-wujud suci yang diutus Allah Swt. tersebut merupakan para Khalifah (wakil) Allah
(QS.2:31), sebab melalui para nabi Allah itulah Allah Swt. di setiap
zaman kenabian (kerasulan)
memperkenalkan “Wujud-Nya” – yakni membukakan rahasia-rahasia
gaib-Nya (QS.2:31-34; QS.3:180; QS.72:27-29) -- dan proses “memperkenalkan diri” Allah
Swt. tersebut mencapai puncak kesempurnaannya melalui pengutusan Nabi
Besar Muhammad saw. berupa pewahyuan agama Islam (Al-Quran) yang merupakan agama (kitab suci) terakhir
dan tersempurna (QS.5:4; QS.15:10).
Mengenai
pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. Allah Swt. telah berfiman
dalam hadits qudsi lainnya:
Laulaka,
laulaka mā khalaqtul aflak
dalam riwayat lain redaksinya adalah:
Laulaka,
laulaka mā khalaqtul ‘alam kullaha
Yang artinya: “Kalau bukan karena engkau [Muhammad] Aku tidak akan
menciptakan alam semesta ini.” (Hadits
Qudsi).
Kesinambungan Pengutusan Rasul Allah dari Kalangan Bani Adam
Pernyataan Allah Swt. dalam
hadits qudsi tersebut sesuai dengan firman-Nya di awal
artikel ini mengenai pengutusan Nabi Besar Muhammad saw., karena beliau saw. akan menjadi saksi mengenai kebenaran para rasul Allah
yang diutus sebelum beliau saw. kepada setiap kaum (QS.13:7 & 31;
QS.35:25) dan juga sebagai saksi bagi seluruh umat manusia,
firman-Nya:
وَ یَوۡمَ
نَبۡعَثُ فِیۡ کُلِّ اُمَّۃٍ شَہِیۡدًا عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ جِئۡنَا
بِکَ شَہِیۡدًا عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ ؕ وَ نَزَّلۡنَا عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ
تِبۡیَانًا لِّکُلِّ شَیۡءٍ وَّ
ہُدًی وَّ رَحۡمَۃً
وَّ بُشۡرٰی لِلۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah
hari itu ketika Kami akan membangkitkan dalam setiap umat
seorang saksi terhadap mereka
dari antara mereka sendiri, dan Kami akan mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka semuanya. Dan Kami
telah menurunkan kepada engkau
Kitab itu untuk menjelaskan segala
sesuatu dan petunjuk, rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang
yang berserah diri kepada Allah (An-Nahl [16]:90).
Senada dengan ayat
tersebut dalam surah lain Allah Swt.
berfirman tetapi lebih menyinggung
mengenai keinginan orang-orang kafir yang mendustakan dan menentang para rasul Allah, firman-Nya
فَکَیۡفَ اِذَا
جِئۡنَا مِنۡ کُلِّ اُمَّۃٍۭ بِشَہِیۡدٍ وَّ جِئۡنَا بِکَ عَلٰی
ہٰۤؤُلَآءِ شَہِیۡدًا ﴿﴾ یَوۡمَئِذٍ یَّوَدُّ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا وَ عَصَوُا
الرَّسُوۡلَ لَوۡ تُسَوّٰی بِہِمُ الۡاَرۡضُ ؕ وَ لَا یَکۡتُمُوۡنَ اللّٰہَ حَدِیۡثًا ﴿٪﴾
Maka bagaimana keadaan mereka apabila Kami mendatangkan seorang saksi
dari setiap umat, dan Kami
mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka ini semua-nya? Pada hari
itu orang-orang kafir dan yang
mendurhakai Rasul, mereka menginginkan seandainya bumi disamaratakan dengan mereka, dan mereka tidak akan dapat menyembunyikan
sesuatu apa pun dari Allah.
(An-Nisā
[4]:42-43).
Dengan demikian jelaslah bahwa yang
dimaksud dengan para saksi yang diutus Allah Swt. kepada umat-umat terdahulu adalah para rasul
Allah yang dibangkitkan dari kalangan Bani
Adam, firman-Nya:
وَ لِکُلِّ
اُمَّۃٍ اَجَلٌ ۚ فَاِذَا جَآءَ
اَجَلُہُمۡ لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ
سَاعَۃً وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ
اٰدَمَ اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ
رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ
فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ
کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا
خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan bagi tiap-tiap umat ada batas waktu,
maka apabila telah datang batas waktunya,
mereka tidak dapat mengundurkannya
barang sesaat pun dan tidak pula
dapat memajukannya. یٰبَنِیۡۤ
اٰدَمَ اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ
رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ -- Wahai Bani Adam,
jika datang kepada kamu rasul-rasul
dari antara kamu yang membacakan
Ayat-ayat-Ku kepadamu, فَمَنِ
اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ -- maka barangsiapa
bertakwa dan memperbaiki diri, tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan
tidak pula mereka akan bersedih hati. Dan orang-orang
yang men-dustakan Ayat-ayat Kami dan dengan
takabur berpaling darinya, mereka
itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-A’rāf
[7]:35-37).
Allah Swt. berfirman mengenai salah satu
tujuan pengutusan para rasul Allah dari kalangan Bani Adam
tersebut:
مَا کَانَ اللّٰہُ لِیَذَرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ عَلٰی
مَاۤ اَنۡتُمۡ عَلَیۡہِ حَتّٰی
یَمِیۡزَ الۡخَبِیۡثَ مِنَ الطَّیِّبِ ؕ
وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ
یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ۪ فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ
وَ اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا
فَلَکُمۡ اَجۡرٌ عَظِیۡمٌ ﴿﴾
Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang ber-iman di dalam keadaan kamu berada di dalamnya hingga Dia memisahkan yang buruk dari yang baik.
وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ لٰکِنَّ
اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ -- Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan yang gaib kepada kamu, tetapi Allah memilih di antara rasul-rasul-Nya siapa yang Dia
kehendaki, فَاٰمِنُوۡا
بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ وَ اِنۡ
تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ
اَجۡرٌ عَظِیۡمٌ -- karena itu berimanlah ka-mu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan jika
kamu beriman dan bertakwa, maka bagi kamu ganjaran yang besar. (Ali
‘Imrān [3]:180).
Setiap Umat Memiliki Ajal (Batas Waktu) & Makna “Bani
Adam” & Rasul Akhir Zaman
Surah Al-Arāf ayat 36 sebelumnya mengisyaratkan kepada kaum-kaum purbakala yang kepada mereka
Allah Swt. telah mengutus para rasul Allah yang datang
(dibangkitkan) dari kalangan
mereka sendiri, demikian juga halnya
dengan Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
اِنَّاۤ اَرۡسَلۡنٰکَ بِالۡحَقِّ بَشِیۡرًا وَّ
نَذِیۡرًا ؕ وَ اِنۡ مِّنۡ اُمَّۃٍ
اِلَّا خَلَا فِیۡہَا نَذِیۡرٌ ﴿﴾ وَ اِنۡ
یُّکَذِّبُوۡکَ فَقَدۡ کَذَّبَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ۚ جَآءَتۡہُمۡ رُسُلُہُمۡ بِالۡبَیِّنٰتِ وَ بِالزُّبُرِ وَ
بِالۡکِتٰبِ الۡمُنِیۡرِ ﴿﴾ ثُمَّ اَخَذۡتُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فَکَیۡفَ کَانَ
نَکِیۡرِ ﴿٪﴾
Sesungguhnya
Kami mengutus engkau dengan kebenaran
sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. وَ اِنۡ
مِّنۡ اُمَّۃٍ اِلَّا خَلَا فِیۡہَا نَذِیۡرٌ -- Dan tidak ada sesuatu kaum pun melainkan
telah diutus kepada mereka seorang
pemberi peringatan. Dan jika mereka mendustakan engkau maka sungguh orang-orang sebelum mereka pun
telah mendustakan, kepada mereka
telah datang rasul-rasul mereka dengan Tanda-tanda yang jelas, dengan Kitab-kitab
suci dan dengan Kitab yang menerangi. Kemudian Aku
tangkap orang-orang yang kafir maka bagaimana
me-ngerikannya penolakan
terhadap-Ku! (Al-Fāthir
[35]:25-27).
Jadi
surah Al-A’rāf ayat 35
sebelumnya menjelaskan bahwa jika waktu yang ditetapkan untuk menghukum suatu kaum tiba -- akibat penentangan dan kedurhakaan mereka kepada para rasul
Allah yang dibangkitkan dari kalangan
mereka sendiri (QS.36:31) -- maka waktu
penghukuman tersebut tidak dapat dihindarkan, diulur-ulur, atau
ditunda-tunda, firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ اَجَلٌ ۚ فَاِذَا جَآءَ
اَجَلُہُمۡ لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ
سَاعَۃً وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾
Dan bagi tiap-tiap umat ada batas waktu,
maka apabila telah datang batas waktunya,
mereka tidak dapat mengundurkannya
barang sesaat pun dan tidak pula
dapat memajukannya. (Al-A’rāf [7]:35).
Setelah membinasakan kaum-kaum yang durhaka tersebut, kemudian Allah Swt. membangkitkan
“kaum lain” dari kalangan Bani Adam juga, contohnya adalah pembangkitan Bani Isma’il (umat Islam) sebagai pengganti Bani Israil, firman-Nya:
وَ ہُوَ الَّذِیۡ جَعَلَکُمۡ خَلٰٓئِفَ الۡاَرۡضِ وَ رَفَعَ
بَعۡضَکُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٍ دَرَجٰتٍ لِّیَبۡلُوَکُمۡ فِیۡ مَاۤ اٰتٰکُمۡ ؕ اِنَّ رَبَّکَ سَرِیۡعُ الۡعِقَابِ ۫ۖ وَ اِنَّہٗ
لَغَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾٪
Dan Dia-lah Yang menjadikan kamu
penerus-penerus di bumi, dan Dia
meninggikan sebagian kamu dari sebagian
yang lain dalam derajat supaya Dia
menguji kamu dengan apa pun yang
telah Dia berikan kepadamu. Sesungguhnya
Rabb (Tuhan) engkau sangat cepat dalam menghukum, dan
sesungguhnya Dia benar-benar Maha
Pengampun, Maha Penyayang (An-Naml
[6]:166).
Ayat
itu sekaligus merupakan anjuran dan peringatan kepada kaum Muslimin. Mereka diberitahu bahwa –
sebagai umat terbaik yang dijadikan
untuk kemanfaatan umat manusia
(QS.2:144; QS.3:111) -- kepada mereka
akan dianugerahkan kekuatan serta kekuasaan, dan tugas mengatur urusan bangsa-bangsa akan
diserahkan ke tangan mereka. Mereka harus melaksanakan kewajiban mereka dengan tidak-berat-sebelah
dan adil, sebab mereka harus mempertanggung-jawabkan tugas kewajiban
mereka kepada Allah Swt., Wujud Yang
Menjadikan mereka.
Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai kesinambungan pengutusan para rasul
Allah dari kalangan Bani Adam
tersebut:
یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ
اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ
ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ
﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ
اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ
اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Wahai Bani Adam, jika
datang kepada kamu rasul-rasul
dari antara kamu yang membacakan Ayat-ayat-Ku kepada KAmu, maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati. Dan orang-orang
yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan
takabur berpaling darinya, mereka
itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-A’rāf
[7]:36-37).
Firman Allah Swt. dalam ayat 36 patut mendapat perhatian istimewa. Seperti
pada beberapa ayat sebelumnya (yakni QS.7:27, 28 & 32), seruan dengan
kata-kata Hai anak-cucu Adam, ditujukan kepada umat di zaman Nabi Besar
Muhammad saw. dan kepada generasi-generasi yang akan lahir -- bukan ditujukan kepada umat yang hidup di masa jauh silam dan
yang datang tak lama sesudah masa Adam
a.s.. – termasuk di Akhir
Zaman ini, yang dalam kenyataannya semua
umat beragama sedang menunggu-nunggu
kedatangan Rasul Akhir Zaman dengan nama (sebutan) yang berlainan (QS.77:12;
QS.43:58), yaitu untuk menghimpun umat
manusia ke dalam agama yang hakiki
yaitu agama Islam yang diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Besar
Muhammad saw., sebagai agama terakhir dan tersempurna (QS.5:4),
firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ
بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ
لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama
yang benar supaya Dia memenangkannya
atas semua agama, walaupun orang
musyrik tidak menyukai. (Ash-Shaf [61]:10).
Kebanyakan ahli tafsir
Al-Quran sepakat bahwa ayat ini kena untuk Al-Masih yang dijanjikan (Masih
Mau’ud a.s.) atau misal Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. (QS.43:58), sebab di zaman beliau semua agama muncul dan keunggulan
Islam di atas semua agama akan
menjadi kepastian.
Allah Swt. Akan Meminta Pertanggungjawaban Kepada Para Rasul Allah dan Kepada Kaum Mereka & Pertanyaan Para Penjaga Neraka Jahannam
Sehubungan dengan kedatangan para rasul Allah dari kalangan Bani Adam (QS.7:35-37), dalam berbagai
surah Al-Quran Allah Swt. menyatakan,
bahwa Dia akan menanyakan – yakni
akan meminta pertanggungjawaban
-- baik kepada para rasul Allah yang telah diutus
kepada kaum mereka
masing-masing, mau pun kepada kaum-kaum mengenai sikap
mereka terhadap para rasul Allah yang
dibangkitkan dari kalangan mereka sendiri (QS.7:35-37), firman-Nya:
فَلَنَسۡـَٔلَنَّ
الَّذِیۡنَ اُرۡسِلَ اِلَیۡہِمۡ وَ لَنَسۡـَٔلَنَّ الۡمُرۡسَلِیۡنَ ۙ﴿﴾ فَلَنَقُصَّنَّ عَلَیۡہِمۡ بِعِلۡمٍ وَّ مَا کُنَّا غَآئِبِیۡنَ ﴿﴾
Maka pasti akan Kami
tanyai orang-orang yang kepada mereka rasul-rasul telah diutus dan
pasti akan Kami tanyai pula rasul-rasul
itu. Lalu Kami pasti akan menceriterakan kepada mereka keadaan
mereka dengan sepengetahuan Kami
dan Kami sekali-kali tidak pernah
tidak hadir. (Al-A’rāf [7]:7-8).
Ayat 66 mengandung asas penting, yaitu bahwa
dalam satu bentuk atau dalam bentuk yang lain semua orang bertanggung jawab kepada Allah Swt. Semua orang akan ditanya bagaimana sikap
mereka dalam menyambut para rasul Allah, demikian juga para rasul Allah pun akan ditanya bagaimana mereka menyampaikan Amanat Allah Swt. dan bagaimana sambutan orang-orang terhadap
Amanat itu.
Itulah
sebabnya yang pertama kali ditanyakan
para malaikat penjaga neraka jahannam kepada orang-orang yang akan masuk neraka jahannam pun adalah mengenai sikap mereka terhadap para rasul
Allah ketika di dunia, firman-Nya:
وَ سِیۡقَ
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا اِلٰی
جَہَنَّمَ زُمَرًا ؕ حَتّٰۤی اِذَا جَآءُوۡہَا فُتِحَتۡ اَبۡوَابُہَا وَ قَالَ لَہُمۡ
خَزَنَتُہَاۤ اَلَمۡ یَاۡتِکُمۡ رُسُلٌ
مِّنۡکُمۡ یَتۡلُوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِ رَبِّکُمۡ وَ یُنۡذِرُوۡنَکُمۡ لِقَآءَ
یَوۡمِکُمۡ ہٰذَا ؕ قَالُوۡا بَلٰی وَ لٰکِنۡ حَقَّتۡ کَلِمَۃُ الۡعَذَابِ عَلَی
الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ قِیۡلَ ادۡخُلُوۡۤا اَبۡوَابَ جَہَنَّمَ خٰلِدِیۡنَ
فِیۡہَا ۚ فَبِئۡسَ مَثۡوَی الۡمُتَکَبِّرِیۡنَ ﴿﴾
Dan orang-orang kafir akan digiring ke Jahannam rombongan-rombongan, hingga apabila mereka sampai kepadanya
pintu-pintunya dibukakan, وَ قَالَ لَہُمۡ خَزَنَتُہَاۤ اَلَمۡ یَاۡتِکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَتۡلُوۡنَ
عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِ رَبِّکُمۡ وَ یُنۡذِرُوۡنَکُمۡ لِقَآءَ یَوۡمِکُمۡ ہٰذَا -- dan
penjaga-penjaganya akan berkata
kepada mereka: “Bukankah telah datang
kepada kamu rasul-rasul dari antara kamu sendiri membacakan kepada kamu
Ayat-ayat Tuhan kamu, dan memberi
peringatan kepada kamu mengenai pertemuan
pada harimu ini?” قَالُوۡا بَلٰی وَ
لٰکِنۡ حَقَّتۡ کَلِمَۃُ الۡعَذَابِ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ -- Mereka akan berkata: “Ya benar, tetapi telah pasti
berlaku ketetapan azab terhadap
orang-orang kafir.” Akan dikatakan: ”Masukilah pintu-pintu Jahannam, kamu akan kekal di dalamnya”, maka sangat buruk tempat tinggal orang-orang yang sombong.” (Az-Zumar [39]:72-73).
Lihat pula QS.23:106; QS.40:48-51;
QS.45:32-36.
Firman-Nya
lagi:
وَ لِلَّذِیۡنَ
کَفَرُوۡا بِرَبِّہِمۡ عَذَابُ جَہَنَّمَ ؕ وَ بِئۡسَ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾ اِذَاۤ
اُلۡقُوۡا فِیۡہَا سَمِعُوۡا لَہَا
شَہِیۡقًا وَّ ہِیَ تَفُوۡرُ ۙ﴿﴾ تَکَادُ
تَمَیَّزُ مِنَ الۡغَیۡظِ ؕ
کُلَّمَاۤ اُلۡقِیَ فِیۡہَا فَوۡجٌ سَاَلَہُمۡ خَزَنَتُہَاۤ اَلَمۡ یَاۡتِکُمۡ نَذِیۡرٌ ﴿﴾ قَالُوۡا بَلٰی قَدۡ
جَآءَنَا نَذِیۡرٌ ۬ۙ فَکَذَّبۡنَا وَ قُلۡنَا مَا نَزَّلَ
اللّٰہُ مِنۡ شَیۡءٍ ۚۖ اِنۡ اَنۡتُمۡ اِلَّا فِیۡ ضَلٰلٍ کَبِیۡرٍ ﴿﴾ وَ قَالُوۡا
لَوۡ کُنَّا نَسۡمَعُ اَوۡ نَعۡقِلُ مَا کُنَّا فِیۡۤ اَصۡحٰبِ السَّعِیۡرِ ﴿﴾ فَاعۡتَرَفُوۡا بِذَنۡۢبِہِمۡ ۚ فَسُحۡقًا لِّاَصۡحٰبِ السَّعِیۡرِ ﴿﴾
Dan bagi orang-orang yang kafir kepada Rabb (Tuhan)
mereka tersedia azab
Jahannam, dan seburuk-buruk tempat kembali.
Apabila mereka dilemparkan ke
dalamnya, mereka akan mendengarnya gemuruh dan neraka
itu men-didih. Hampir-hampir neraka
itu pecah karena marah. کُلَّمَاۤ
اُلۡقِیَ فِیۡہَا فَوۡجٌ
سَاَلَہُمۡ خَزَنَتُہَاۤ اَلَمۡ
یَاۡتِکُمۡ نَذِیۡرٌ -- Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekelompok orang kafir akan bertanya kepada mereka
penjaga-penjaganya: “Apakah tidak
pernah datang kepada kamu seorang Pemberi peringatan?” قَالُوۡا
بَلٰی قَدۡ جَآءَنَا نَذِیۡرٌ
۬ۙ فَکَذَّبۡنَا وَ قُلۡنَا مَا نَزَّلَ
اللّٰہُ مِنۡ شَیۡءٍ ۚۖ اِنۡ اَنۡتُمۡ اِلَّا فِیۡ ضَلٰلٍ کَبِیۡرٍ -- Mereka berkata: “Benar, sungguh
telah datang kepada kami seorang
Pemberi peringatan tetapi kami mendustakannya
dan kami berkata: “Allah sekali-kali
tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain melainkan di dalam kesesatan yang besar.” وَ قَالُوۡا
لَوۡ کُنَّا نَسۡمَعُ اَوۡ نَعۡقِلُ مَا کُنَّا فِیۡۤ اَصۡحٰبِ السَّعِیۡرِ -- Dan mereka berkata: “Seandainya kami mendengarkan atau mem-pergunakan akal, tentu kami tidak akan termasuk penghuni Api yang
menyala-nyala.” فَاعۡتَرَفُوۡا
بِذَنۡۢبِہِمۡ ۚ فَسُحۡقًا لِّاَصۡحٰبِ
السَّعِیۡرِ --
Maka mereka mengakui dosa-dosa
mereka, maka kebinasaanlah bagi para
penghuni Api yang menyala-nyala. (Al-Mulk [67]:7-12).
Keadaan Hina Para Penentang Rasul Allah yang Terkabbur
Makna ayat 11: وَ قَالُوۡا
لَوۡ کُنَّا نَسۡمَعُ اَوۡ نَعۡقِلُ مَا کُنَّا فِیۡۤ اَصۡحٰبِ السَّعِیۡرِ -- “Dan
mereka berkata: “Seandainya kami mendengarkan
atau mempergunakan akal, tentu kami
tidak akan termasuk penghuni Api
yang menyala-nyala,” yakni
“Seandainya kami mengikuti peraturan-peraturan
syariat atau mengikuti kata-hati
dan pertimbangan akal tentu kami tidak akan termasuk penghuni Api yang menyala-nyala.”
Firman-Nya lagi:
وَ یَوۡمَ
یُنَادِیۡہِمۡ فَیَقُوۡلُ مَاذَاۤ
اَجَبۡتُمُ الۡمُرۡسَلِیۡنَ ﴿﴾ فَعَمِیَتۡ عَلَیۡہِمُ الۡاَنۡۢبَآءُ
یَوۡمَئِذٍ فَہُمۡ لَا یَتَسَآءَلُوۡنَ
﴿﴾
Dan pada hari Dia akan memanggil mereka
maka Dia berfirman: ”Jawaban apakah yang kamu berikan kepada
rasul-rasul?” Tetapi pada hari
itu segala dalih menjadi gelap atas mereka maka mereka tidak akan saling bertanya. (Al-Qashash
[28]:66-67).
Anba’ (dalil-dalil) adalah jamak dari naba’ yang berarti,
kabar penting; keterangan; amanat; dalil (Lexicon
Lane & Kulliyat).
Pada hari pembalasan orang-orang kafir akan mengalami kekalutan pikiran dan putus asa, dan akan sama sekali kehilangan akal untuk membela diri, karena kerapuhan semua helah dan dalih yang palsu telah menjadi jelas,
mereka tidak mendapat kesempatan untuk bermusyawarah
antara satu dengan lainnya guna mempersiapkan pembelaan mereka.
‘Amiya ‘alaihi’l-amru berarti “perkara
itu menjadi gelap” atau “kacau baginya” (Lexicon
Lane). Dengan demikian benarlah
firman Allah Swt. sebelum ini:
فَلَنَسۡـَٔلَنَّ
الَّذِیۡنَ اُرۡسِلَ اِلَیۡہِمۡ وَ لَنَسۡـَٔلَنَّ الۡمُرۡسَلِیۡنَ ۙ﴿﴾ فَلَنَقُصَّنَّ عَلَیۡہِمۡ بِعِلۡمٍ وَّ مَا کُنَّا غَآئِبِیۡنَ ﴿﴾
Maka pasti akan Kami
tanyai orang-orang yang kepada mereka rasul-rasul telah diutus dan
pasti akan Kami tanyai pula rasul-rasul
itu. Lalu Kami pasti akan menceriterakan kepada mereka keadaan
mereka dengan sepengetahuan Kami
dan Kami sekali-kali tidak pernah
tidak hadir (Al-A’rāf [7]:7-8).
Ada pun hal yang menakjubkan adalah jawaban para rasul Allah ketika “ditanya”
Allah Swt. mengenai sikap dari
kaumnya terhadap mereka, yaitu mereka
tidak menyatakan bahwa si fulan beriman sedangkan si fulan lainnya mendustakan amanat yang disampaikan
kepadanya, firman-Nya:
یَوۡمَ یَجۡمَعُ
اللّٰہُ الرُّسُلَ فَیَقُوۡلُ مَا ذَاۤ اُجِبۡتُمۡ
ؕ قَالُوۡا لَا عِلۡمَ لَنَا ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ عَلَّامُ الۡغُیُوۡبِ ﴿﴾
Ingatlah hari ketika Allah mengumpulkan para rasul lalu Dia
berfirman: ”Apakah jawaban yang
diberikan kaummu kepada kamu?”
Mereka akan berkata: “Tidak ada pengetahuan pada kami, sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mengetahui yang gaib.” (Al-Māidah [5]:110).
Jawaban dari rasul-rasul
mengandung arti bahwa maksud pertanyaan
Allah Swt. tersebut bukan
untuk memperoleh keterangan dari
mereka atau menambah pengetahuan-Nya -- karena Allah Maha Mengetahui segala sesuatu
-- akan tetapi maksudnya ialah
mereka harus memberikan kesaksian
terhadap orang-orang kafir, seperti
juga jelas dari QS.4:42 sebelum ini, firman-Nya:
فَکَیۡفَ اِذَا جِئۡنَا مِنۡ کُلِّ اُمَّۃٍۭ بِشَہِیۡدٍ وَّ جِئۡنَا بِکَ عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ
شَہِیۡدًا ﴿﴾ یَوۡمَئِذٍ یَّوَدُّ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا وَ عَصَوُا الرَّسُوۡلَ
لَوۡ تُسَوّٰی بِہِمُ الۡاَرۡضُ ؕ وَ لَا یَکۡتُمُوۡنَ اللّٰہَ حَدِیۡثًا ﴿٪﴾
Maka bagaimana keadaan mereka apabila Kami mendatangkan seorang saksi
dari setiap umat, dan Kami
mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka ini semua-nya? Pada hari
itu orang-orang kafir dan yang
mendurhakai Rasul, mereka menginginkan seandainya bumi disamaratakan dengan mereka, dan mereka tidak akan dapat menyembunyikan
sesuatu apa pun dari Allah.
(An-Nisa
[4]:42-43).
Kesempurnaan Martabat Nabi Besar Muhammad Saw.
Kembali kepada pembahasan awal berkenaan
dengan pengutusan Nabi Besar Muhammad
saw., firman-Nya:
وَ یَوۡمَ نَبۡعَثُ فِیۡ کُلِّ اُمَّۃٍ شَہِیۡدًا عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ
اَنۡفُسِہِمۡ وَ جِئۡنَا بِکَ شَہِیۡدًا عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ ؕ وَ نَزَّلۡنَا
عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ تِبۡیَانًا لِّکُلِّ
شَیۡءٍ وَّ ہُدًی
وَّ رَحۡمَۃً وَّ
بُشۡرٰی لِلۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah
hari itu ketika Kami akan membangkitkan dalam setiap umat
seorang saksi terhadap mereka
dari antara mereka sendiri, وَ جِئۡنَا بِکَ شَہِیۡدًا عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ -- dan Kami akan
mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka semuanya. Dan Kami
telah menurunkan kepada engkau
Kitab itu untuk menjelaskan segala
sesuatu dan petunjuk, rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang
yang berserah diri kepada Allah. (An-Nahl [16]:90).
Sehubungan dengan surah An-Nisā ayat 42 sebelumnya
terdapat riwayat dalam hadits berikut ini:
Telah menceritakan kepada kami Shadaqah, telah
mengabarkan kepada kami Yahya dari Sufyan dari Sulaiman dari Ibrahim dari
‘Abidah dari ‘Abdullah, berkata Yahya –
sebagian hadits dari ‘Amru bin Murah --
ia berkata: Nabi saw. bersabda kepadaku,
“Bacakanlah Al-Quran kepadaku!” Aku berkata: bagaimana aku membacakan kepada
engkau padahal Al-Quran diturunkan kepada engkau? Beliau menjawab,
“Sesungguhnya aku suka mendengarkannya dari orang lain.” Lalu aku membacakannya
keoada beliau surah An-Nisa hingga
sampai pada ayat: فَکَیۡفَ اِذَا
جِئۡنَا مِنۡ کُلِّ اُمَّۃٍۭ بِشَہِیۡدٍ -- “Maka bagaimana
keadaan mereka apabila Kami
mendatangkan seorang saksi dari setiap
umat, وَّ جِئۡنَا بِکَ عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ شَہِیۡدًا --
dan Kami mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap
mereka ini semuanya? “
Beliau berkata, “Cukup” Dan ternyata beliau mencucurkan air mata (menangis).” (Shahih Bukhari No.4216; Fathul
Bari no.4582).
Jadi, dari keterangan Hadits Qudsi
dan Al-Quran serta ketyerangan hadits tersebut betapa pentingnya penciptaan Nabi Besar Muhammad saw. serta
pengutusan beliau saw. sebagai
pembawa agama terakhir dan tersempurna yakni wahyu Al-Quran (QS.5:4), Allah Swt. berfirman:
Laulaka,
laulaka mā khalaqtul aflak --
“Kalau bukan karena engkau [Muhammad] Aku tidak akan menciptakan alam semesta
ini.” (Hadits Qudsi).
Kemudian berkenaan
kisah-kisah kaum-kaum purbakala
yang dikemukakan dalam Kitab suci Al-Quran -- yang kepada mereka Allah Swt. telah mengutus para rasul Allah serta lalu mengazab
mereka akibat kedurhakaan mereka dengan berbagai azab Ilahi (QS.29:41-42) – Allah Swt. berfirman:
لَقَدۡ کَانَ
فِیۡ قَصَصِہِمۡ
عِبۡرَۃٌ لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ ؕ مَا کَانَ
حَدِیۡثًا یُّفۡتَرٰی وَ لٰکِنۡ تَصۡدِیۡقَ
الَّذِیۡ بَیۡنَ یَدَیۡہِ وَ تَفۡصِیۡلَ
کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُدًی وَّ رَحۡمَۃً لِّقَوۡمٍ
یُّؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾٪
Sungguh dalam kisah-kisah mereka itu
benar-benar ada pelajaran bagi
orang-orang yang berakal. Perkataan yakni Al-Quran ini sama se-kali bukanlah sesuatu yang telah diada-adakan melainkan
menggenapi apa yang telah ada sebelumnya
dan penjelasan terinci segala sesuatu, petunjuk
dan rahmat bagi kaum yang beriman. (Yusuf [12]:112).
(Bersambung)
ooo
Rujukan: The
Holy Quran
Editor : Malik
Ghulam Farid
Pajajaran Anyar,
7 Juli 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar