Minggu, 09 Juli 2017

Setiap Umat Memiliki "Ajal" (Batas Waktu) & Para "Rasul Allah" Akan menjadi "Saksi" Bagi Umatnya, Khusunya Nabi Besar MUhammad Saw. Sebagai "Saksi" Bagi Semua Umat Manusia



Bismillāhirrahmānirrahīm

KHAZANAH  AL-QURAN 

Bab 3

SETIAP UMAT MEMILIKI AJAL (BATAS WAKTU)  &  PARA RASUL ALLAH AKAN MENJADI SAKSI  BAGI SETIAP UMAT, KHUSUSNYA NABI BESAR MUHAMMAD SAW. SEBAGAI SAKSI  BAGI SEMUA UMAT MANUSIA

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir bab sebelumnya  telah dikemukakan  topic:   Keluhuran Martabat Nabi Besar Muhammad Saw. yaitu sehubungan dengan    hadits qudsi yang dikemukakan di bagian awal Bab ini, Allah Swt. berfirman:
Aku adalah kanzun makhfiy   (khazanah tersembunyi) dan ingin dikenal maka Aku menciptakan Adam.”
Bahwa yang dimaksud dengan “Adam” dalam hadits qudsi tersebut adalah  nabi Allah  (rasul Allah – QS.7:35-37),  karena wujud-wujud suci  yang diutus Allah Swt. tersebut  merupakan para Khalifah (wakil) Allah (QS.2:31), sebab melalui para nabi Allah itulah Allah Swt. di setiap zaman kenabian (kerasulan)  memperkenalkan “Wujud-Nya” – yakni membukakan rahasia-rahasia gaib-Nya (QS.2:31-34; QS.3:180; QS.72:27-29) --  dan proses “memperkenalkan diri” Allah Swt. tersebut mencapai puncak kesempurnaannya melalui pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. berupa pewahyuan agama Islam (Al-Quran)  yang merupakan agama (kitab suci) terakhir dan tersempurna (QS.5:4; QS.15:10). 
        Mengenai  pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. Allah Swt. telah berfiman dalam hadits qudsi lainnya:
Laulaka, laulaka mā khalaqtul aflak
dalam riwayat lain redaksinya adalah:
Laulaka, laulaka mā khalaqtul ‘alam kullaha
Yang artinya: “Kalau bukan karena engkau [Muhammad] Aku tidak akan menciptakan alam semesta ini.” (Hadits Qudsi).

Kesinambungan Pengutusan Rasul Allah dari Kalangan Bani Adam

      Pernyataan Allah Swt. dalam hadits qudsi tersebut sesuai dengan firman-Nya  di awal  artikel ini mengenai pengutusan Nabi Besar Muhammad saw.,  karena beliau saw. akan  menjadi saksi  mengenai kebenaran para rasul Allah yang diutus sebelum beliau saw. kepada setiap kaum (QS.13:7 & 31; QS.35:25) dan juga sebagai saksi bagi seluruh umat manusia, firman-Nya:
وَ یَوۡمَ نَبۡعَثُ فِیۡ کُلِّ اُمَّۃٍ شَہِیۡدًا عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ جِئۡنَا بِکَ شَہِیۡدًا عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ ؕ وَ نَزَّلۡنَا عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ تِبۡیَانًا  لِّکُلِّ شَیۡءٍ  وَّ  ہُدًی  وَّ  رَحۡمَۃً   وَّ  بُشۡرٰی  لِلۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah hari itu ketika Kami akan membangkitkan dalam setiap umat seorang saksi terhadap mereka dari antara mereka sendiri, dan Kami akan mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka semuanya. Dan  Kami  telah menurunkan kepada engkau Kitab itu untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk, rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri kepada Allah   (An-Nahl [16]:90).
          Senada dengan ayat tersebut  dalam surah lain Allah Swt. berfirman  tetapi lebih menyinggung mengenai keinginan orang-orang kafir yang mendustakan dan  menentang para rasul Allah,  firman-Nya
فَکَیۡفَ اِذَا جِئۡنَا مِنۡ کُلِّ اُمَّۃٍۭ بِشَہِیۡدٍ وَّ جِئۡنَا بِکَ عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ شَہِیۡدًا ﴿﴾ یَوۡمَئِذٍ یَّوَدُّ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا وَ عَصَوُا الرَّسُوۡلَ لَوۡ تُسَوّٰی بِہِمُ الۡاَرۡضُ ؕ وَ لَا یَکۡتُمُوۡنَ اللّٰہَ  حَدِیۡثًا ﴿٪﴾
Maka bagaimana keadaan mereka apabila Kami mendatangkan seorang saksi dari setiap umat, dan Kami  mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka ini semua-nya?  Pada hari itu orang-orang  kafir dan yang mendurhakai Rasul,  mereka menginginkan seandainya bumi disamaratakan  dengan mereka, dan mereka tidak akan dapat menyembunyikan sesuatu apa pun  dari Allah. (An-Nisā [4]:42-43).
         Dengan demikian jelaslah bahwa yang dimaksud dengan  para saksi yang diutus  Allah Swt. kepada umat-umat terdahulu adalah para rasul Allah yang dibangkitkan dari kalangan Bani Adam,   firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ  اَجَلٌ ۚ فَاِذَا  جَآءَ  اَجَلُہُمۡ  لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً  وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾   
Dan bagi  tiap-tiap umat ada batas waktu, maka apabila telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannyaیٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ    -- Wahai Bani Adam,  jika datang kepada kamu  rasul-rasul dari antara kamu yang membacakan Ayat-ayat-Ku kepadamu, فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ -- maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati.  Dan  orang-orang yang men-dustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya, mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-A’rāf [7]:35-37).
       Allah Swt. berfirman mengenai salah satu tujuan pengutusan para rasul Allah dari kalangan Bani Adam tersebut:
مَا  کَانَ اللّٰہُ لِیَذَرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ عَلٰی مَاۤ  اَنۡتُمۡ عَلَیۡہِ حَتّٰی یَمِیۡزَ  الۡخَبِیۡثَ مِنَ الطَّیِّبِ ؕ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ۪ فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ وَ  اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ  اَجۡرٌ  عَظِیۡمٌ ﴿﴾ 
Allah sekali-kali tidak akan  membiarkan orang-orang yang ber-iman di dalam keadaan kamu berada di dalamnya  hingga  Dia memisahkan yang buruk dari yang baik.  وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ -- Dan Allah sekali-kali tidak akan  memperlihatkan  yang gaib kepada kamu, tetapi Allah memilih  di antara rasul-rasul-Nya siapa yang Dia kehendaki, فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ وَ  اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ  اَجۡرٌ  عَظِیۡمٌ  --  karena itu berimanlah ka-mu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagi kamu ganjaran yang besar.     (Ali ‘Imrān [3]:180).

Setiap Umat Memiliki Ajal (Batas Waktu) &  Makna “Bani Adam” & Rasul Akhir Zaman

       Surah Al-Arāf ayat 36 sebelumnya mengisyaratkan kepada kaum-kaum purbakala yang kepada mereka Allah Swt. telah mengutus  para rasul Allah  yang datang (dibangkitkan) dari kalangan mereka sendiri,  demikian juga halnya dengan Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
اِنَّاۤ  اَرۡسَلۡنٰکَ بِالۡحَقِّ بَشِیۡرًا وَّ نَذِیۡرًا ؕ وَ اِنۡ  مِّنۡ  اُمَّۃٍ   اِلَّا خَلَا فِیۡہَا نَذِیۡرٌ ﴿﴾ وَ اِنۡ یُّکَذِّبُوۡکَ فَقَدۡ کَذَّبَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ۚ جَآءَتۡہُمۡ  رُسُلُہُمۡ بِالۡبَیِّنٰتِ وَ بِالزُّبُرِ وَ بِالۡکِتٰبِ الۡمُنِیۡرِ ﴿﴾ ثُمَّ  اَخَذۡتُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فَکَیۡفَ کَانَ نَکِیۡرِ ﴿٪﴾
Sesungguhnya Kami mengutus engkau dengan kebenaran sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. وَ اِنۡ  مِّنۡ  اُمَّۃٍ   اِلَّا خَلَا فِیۡہَا نَذِیۡرٌ  -- Dan   tidak ada sesuatu kaum pun melainkan telah diutus kepada mereka seorang pemberi peringatan.  Dan jika mereka mendustakan engkau maka sungguh orang-orang sebelum mereka pun telah mendustakan, kepada mereka telah datang  rasul-rasul mereka dengan  Tanda-tanda yang jelas,  dengan Kitab-kitab suci dan dengan Kitab yang menerangi.  Kemudian Aku tangkap orang-orang yang kafir maka bagaimana me-ngerikannya penolakan terhadap-Ku!   (Al-Fāthir [35]:25-27).         
        Jadi  surah Al-A’rāf ayat 35 sebelumnya  menjelaskan bahwa   jika  waktu yang ditetapkan untuk menghukum suatu kaum tiba -- akibat  penentangan dan kedurhakaan mereka kepada para rasul Allah yang dibangkitkan dari kalangan mereka   sendiri (QS.36:31) --  maka waktu penghukuman tersebut tidak dapat dihindarkan, diulur-ulur, atau ditunda-tunda, firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ  اَجَلٌ ۚ فَاِذَا  جَآءَ  اَجَلُہُمۡ  لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً  وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾
Dan bagi  tiap-tiap umat ada batas waktu, maka apabila telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya.  (Al-A’rāf [7]:35).
         Setelah membinasakan kaum-kaum yang durhaka tersebut, kemudian Allah Swt. membangkitkan “kaum lain” dari kalangan Bani Adam juga, contohnya adalah  pembangkitan Bani Isma’il (umat Islam) sebagai pengganti Bani Israil, firman-Nya:
وَ ہُوَ الَّذِیۡ جَعَلَکُمۡ خَلٰٓئِفَ الۡاَرۡضِ وَ رَفَعَ بَعۡضَکُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٍ دَرَجٰتٍ لِّیَبۡلُوَکُمۡ فِیۡ مَاۤ  اٰتٰکُمۡ ؕ اِنَّ رَبَّکَ سَرِیۡعُ  الۡعِقَابِ ۫ۖ وَ  اِنَّہٗ  لَغَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾٪
Dan Dia-lah Yang menjadikan kamu penerus-penerus di bumi, dan Dia meninggikan sebagian kamu dari sebagian yang lain dalam derajat supaya Dia menguji kamu dengan apa pun yang telah Dia berikan kepadamu. Sesungguhnya  Rabb (Tuhan) engkau sangat cepat dalam menghukum, dan sesungguhnya Dia benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang   (An-Naml [6]:166).
  Ayat itu sekaligus merupakan anjuran dan peringatan kepada kaum Muslimin. Mereka diberitahu bahwa – sebagai umat terbaik yang dijadikan untuk kemanfaatan umat manusia (QS.2:144; QS.3:111)   -- kepada mereka akan dianugerahkan kekuatan serta kekuasaan, dan tugas mengatur urusan bangsa-bangsa akan diserahkan ke tangan mereka. Mereka harus melaksanakan kewajiban mereka dengan tidak-berat-sebelah dan adil, sebab mereka harus mempertanggung-jawabkan tugas kewajiban mereka kepada Allah Swt., Wujud Yang Menjadikan mereka.
    Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai kesinambungan pengutusan para rasul Allah dari kalangan Bani Adam tersebut:
یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾   
Wahai Bani Adam,  jika datang kepada kamu  rasul-rasul dari antara kamu yang membacakan  Ayat-ayat-Ku kepada KAmu, maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati.  Dan  orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya, mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-A’rāf [7]:36-37).
        Firman Allah Swt.  dalam ayat 36   patut mendapat perhatian istimewa. Seperti pada beberapa ayat sebelumnya (yakni QS.7:27, 28 & 32), seruan dengan kata-kata Hai anak-cucu Adam, ditujukan kepada umat di zaman  Nabi Besar Muhammad saw.  dan kepada generasi-generasi yang akan lahir  -- bukan ditujukan kepada umat yang hidup di masa jauh silam dan yang datang tak lama sesudah masa Adam a.s..  – termasuk  di Akhir Zaman ini, yang dalam kenyataannya semua umat beragama sedang menunggu-nunggu kedatangan Rasul Akhir Zaman dengan nama (sebutan) yang berlainan (QS.77:12; QS.43:58), yaitu untuk menghimpun umat manusia ke dalam agama yang  hakiki  yaitu agama Islam yang diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw.,  sebagai agama terakhir dan tersempurna (QS.5:4),  firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ  رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ  الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ  عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,  walaupun orang musyrik tidak menyukai. (Ash-Shaf [61]:10).
 Kebanyakan ahli tafsir Al-Quran sepakat bahwa ayat ini kena untuk Al-Masih yang dijanjikan (Masih Mau’ud a.s.) atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58), sebab di zaman beliau semua agama muncul dan keunggulan Islam di atas semua agama akan menjadi kepastian.

Allah Swt. Akan Meminta Pertanggungjawaban Kepada Para Rasul Allah dan Kepada Kaum Mereka & Pertanyaan Para Penjaga Neraka  Jahannam

      Sehubungan dengan kedatangan para rasul Allah dari kalangan Bani Adam (QS.7:35-37), dalam berbagai surah Al-Quran Allah Swt.  menyatakan, bahwa Dia akan menanyakan – yakni akan meminta pertanggungjawaban --  baik kepada para rasul Allah yang telah diutus kepada kaum mereka masing-masing,  mau pun  kepada kaum-kaum  mengenai sikap mereka terhadap para rasul Allah yang dibangkitkan dari kalangan mereka sendiri (QS.7:35-37), firman-Nya:
فَلَنَسۡـَٔلَنَّ الَّذِیۡنَ اُرۡسِلَ اِلَیۡہِمۡ وَ لَنَسۡـَٔلَنَّ  الۡمُرۡسَلِیۡنَ ۙ﴿﴾   فَلَنَقُصَّنَّ عَلَیۡہِمۡ بِعِلۡمٍ  وَّ مَا کُنَّا غَآئِبِیۡنَ ﴿﴾
Maka pasti akan  Kami tanyai orang-orang yang kepada mereka rasul-rasul telah diutus dan pasti  akan Kami tanyai pula rasul-rasul itu.  Lalu Kami pasti akan   menceriterakan kepada mereka keadaan mereka dengan sepengetahuan Kami dan Kami sekali-kali  tidak pernah  tidak hadir. (Al-A’rāf [7]:7-8).
  Ayat 66 mengandung asas penting, yaitu bahwa dalam satu bentuk atau dalam bentuk yang lain semua orang bertanggung jawab kepada Allah Swt.  Semua orang akan ditanya bagaimana sikap mereka dalam  menyambut para rasul Allah,  demikian juga para rasul Allah pun  akan ditanya bagaimana mereka menyampaikan Amanat Allah Swt.   dan bagaimana sambutan orang-orang terhadap  Amanat itu.
 Itulah sebabnya yang pertama kali ditanyakan para malaikat penjaga neraka jahannam  kepada orang-orang yang akan masuk neraka jahannam  pun adalah mengenai sikap mereka terhadap para rasul Allah ketika di dunia, firman-Nya:
وَ سِیۡقَ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡۤا اِلٰی جَہَنَّمَ  زُمَرًا ؕ حَتّٰۤی  اِذَا جَآءُوۡہَا فُتِحَتۡ  اَبۡوَابُہَا وَ قَالَ لَہُمۡ خَزَنَتُہَاۤ  اَلَمۡ یَاۡتِکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَتۡلُوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِ رَبِّکُمۡ وَ یُنۡذِرُوۡنَکُمۡ لِقَآءَ یَوۡمِکُمۡ ہٰذَا ؕ قَالُوۡا بَلٰی وَ لٰکِنۡ حَقَّتۡ کَلِمَۃُ الۡعَذَابِ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾   قِیۡلَ  ادۡخُلُوۡۤا اَبۡوَابَ جَہَنَّمَ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ۚ فَبِئۡسَ مَثۡوَی الۡمُتَکَبِّرِیۡنَ ﴿﴾
Dan orang-orang kafir  akan digiring ke Jahannam  rombongan-rombongan, hingga apabila mereka sampai kepadanya pintu-pintunya  dibukakan, وَ قَالَ لَہُمۡ خَزَنَتُہَاۤ  اَلَمۡ یَاۡتِکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَتۡلُوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِ رَبِّکُمۡ وَ یُنۡذِرُوۡنَکُمۡ لِقَآءَ یَوۡمِکُمۡ ہٰذَا --  dan penjaga-penjaganya akan berkata kepada mereka: “Bukankah telah datang kepada kamu rasul-rasul dari antara kamu sendiri membacakan kepada kamu Ayat-ayat Tuhan kamu, dan memberi peringatan kepada kamu mengenai pertemuan pada harimu ini?” قَالُوۡا بَلٰی وَ لٰکِنۡ حَقَّتۡ کَلِمَۃُ الۡعَذَابِ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ --  Mereka akan berkata: “Ya benar, tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap  orang-orang kafir.” Akan dikatakan:  Masukilah pintu-pintu Jahannam, kamu akan kekal di dalamnya”, maka sangat buruk tempat tinggal orang-orang yang  sombong.” (Az-Zumar [39]:72-73). Lihat pula QS.23:106;  QS.40:48-51; QS.45:32-36.
Firman-Nya lagi:
وَ لِلَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا  بِرَبِّہِمۡ  عَذَابُ جَہَنَّمَ ؕ وَ بِئۡسَ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾  اِذَاۤ  اُلۡقُوۡا فِیۡہَا سَمِعُوۡا  لَہَا شَہِیۡقًا وَّ ہِیَ  تَفُوۡرُ ۙ﴿﴾   تَکَادُ  تَمَیَّزُ مِنَ  الۡغَیۡظِ ؕ کُلَّمَاۤ  اُلۡقِیَ فِیۡہَا  فَوۡجٌ سَاَلَہُمۡ خَزَنَتُہَاۤ  اَلَمۡ یَاۡتِکُمۡ  نَذِیۡرٌ ﴿﴾  قَالُوۡا  بَلٰی قَدۡ جَآءَنَا  نَذِیۡرٌ ۬ۙ  فَکَذَّبۡنَا وَ قُلۡنَا مَا نَزَّلَ اللّٰہُ  مِنۡ شَیۡءٍ ۚۖ اِنۡ  اَنۡتُمۡ اِلَّا فِیۡ ضَلٰلٍ کَبِیۡرٍ ﴿﴾  وَ قَالُوۡا  لَوۡ  کُنَّا نَسۡمَعُ  اَوۡ نَعۡقِلُ مَا کُنَّا فِیۡۤ   اَصۡحٰبِ السَّعِیۡرِ ﴿﴾  فَاعۡتَرَفُوۡا بِذَنۡۢبِہِمۡ ۚ فَسُحۡقًا  لِّاَصۡحٰبِ السَّعِیۡرِ ﴿﴾
Dan bagi orang-orang yang kafir kepada Rabb (Tuhan) mereka tersedia  azab Jahannam,  dan seburuk-buruk tempat kembali.   Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya,  mereka akan mendengarnya gemuruh dan neraka itu men-didih. Hampir-hampir neraka itu pecah karena marah. کُلَّمَاۤ  اُلۡقِیَ فِیۡہَا  فَوۡجٌ سَاَلَہُمۡ خَزَنَتُہَاۤ  اَلَمۡ یَاۡتِکُمۡ  نَذِیۡرٌ  --  Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekelompok orang kafir akan bertanya kepada mereka penjaga-penjaganya: “Apakah tidak pernah datang kepada kamu seorang Pemberi peringatan?” قَالُوۡا  بَلٰی قَدۡ جَآءَنَا  نَذِیۡرٌ ۬ۙ  فَکَذَّبۡنَا وَ قُلۡنَا مَا نَزَّلَ اللّٰہُ  مِنۡ شَیۡءٍ ۚۖ اِنۡ  اَنۡتُمۡ اِلَّا فِیۡ ضَلٰلٍ کَبِیۡرٍ -- Mereka berkata: “Benar,  sungguh  telah datang kepada kami seorang Pemberi peringatan tetapi kami mendustakannya dan kami berkata: “Allah sekali-kali tidak menurunkan sesuatu punkamu tidak lain melainkan di dalam kesesatan yang besar.” وَ قَالُوۡا  لَوۡ  کُنَّا نَسۡمَعُ  اَوۡ نَعۡقِلُ مَا کُنَّا فِیۡۤ   اَصۡحٰبِ السَّعِیۡرِ  -- Dan mereka berkata: “Seandainya kami mendengarkan atau mem-pergunakan akal,   tentu kami  tidak akan termasuk penghuni Api yang menyala-nyala.” فَاعۡتَرَفُوۡا بِذَنۡۢبِہِمۡ ۚ فَسُحۡقًا  لِّاَصۡحٰبِ السَّعِیۡرِ --  Maka mereka mengakui dosa-dosa mereka, maka kebinasaanlah bagi para penghuni Api yang menyala-nyala. (Al-Mulk [67]:7-12).

Keadaan Hina Para Penentang Rasul Allah yang Terkabbur

Makna ayat 11:  وَ قَالُوۡا  لَوۡ  کُنَّا نَسۡمَعُ  اَوۡ نَعۡقِلُ مَا کُنَّا فِیۡۤ   اَصۡحٰبِ السَّعِیۡرِ -- “Dan mereka berkata: “Seandainya kami mendengarkan atau mempergunakan akal,   tentu kami  tidak akan termasuk penghuni Api yang menyala-nyala,”  yakni “Seandainya kami mengikuti peraturan-peraturan syariat atau mengikuti kata-hati dan pertimbangan akal tentu kami  tidak akan termasuk penghuni Api yang menyala-nyala.”   Firman-Nya lagi:
وَ یَوۡمَ یُنَادِیۡہِمۡ فَیَقُوۡلُ مَاذَاۤ  اَجَبۡتُمُ الۡمُرۡسَلِیۡنَ ﴿﴾   فَعَمِیَتۡ عَلَیۡہِمُ الۡاَنۡۢبَآءُ یَوۡمَئِذٍ فَہُمۡ لَا  یَتَسَآءَلُوۡنَ ﴿﴾
Dan pada hari Dia akan memanggil mereka maka Dia berfirman:  Jawaban apakah yang kamu berikan kepada rasul-rasul?” Tetapi pada hari   itu   segala dalih  menjadi gelap  atas mereka maka mereka tidak akan saling bertanya.   (Al-Qashash [28]:66-67).
      Anba’ (dalil-dalil) adalah jamak dari naba’ yang berarti, kabar penting; keterangan; amanat; dalil (Lexicon Lane & Kulliyat). Pada hari pembalasan orang-orang kafir akan mengalami kekalutan pikiran dan putus asa, dan akan sama sekali kehilangan akal untuk membela diri, karena kerapuhan semua helah dan dalih yang palsu telah menjadi jelas, mereka tidak mendapat kesempatan untuk bermusyawarah antara satu dengan lainnya guna mempersiapkan pembelaan mereka. 
 ‘Amiya ‘alaihi’l-amru berarti “perkara itu menjadi gelap” atau “kacau baginya” (Lexicon Lane). Dengan demikian benarlah  firman Allah Swt. sebelum ini:
فَلَنَسۡـَٔلَنَّ الَّذِیۡنَ اُرۡسِلَ اِلَیۡہِمۡ وَ لَنَسۡـَٔلَنَّ  الۡمُرۡسَلِیۡنَ ۙ﴿﴾   فَلَنَقُصَّنَّ عَلَیۡہِمۡ بِعِلۡمٍ  وَّ مَا کُنَّا غَآئِبِیۡنَ ﴿﴾
Maka pasti akan  Kami tanyai orang-orang yang kepada mereka rasul-rasul telah diutus dan pasti  akan Kami tanyai pula rasul-rasul itu.  Lalu Kami pasti akan   menceriterakan kepada mereka keadaan mereka dengan sepengetahuan Kami dan Kami sekali-kali  tidak pernah  tidak hadir (Al-A’rāf [7]:7-8).
        Ada pun hal yang menakjubkan adalah jawaban para rasul Allah ketika “ditanya” Allah Swt. mengenai sikap dari kaumnya terhadap mereka, yaitu mereka  tidak menyatakan bahwa  si fulan beriman sedangkan si fulan lainnya mendustakan amanat yang disampaikan kepadanya, firman-Nya:
یَوۡمَ یَجۡمَعُ اللّٰہُ الرُّسُلَ فَیَقُوۡلُ مَا ذَاۤ اُجِبۡتُمۡ ؕ قَالُوۡا لَا عِلۡمَ  لَنَا ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ عَلَّامُ  الۡغُیُوۡبِ ﴿﴾
Ingatlah hari ketika Allah  mengumpulkan para rasul lalu Dia berfirman: ”Apakah jawaban    yang  diberikan kaummu kepada kamu?” Mereka akan berkata: “Tidak  ada pengetahuan pada kami, sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mengetahui yang gaib.”  (Al-Māidah [5]:110).
   Jawaban dari rasul-rasul mengandung arti bahwa maksud pertanyaan Allah  Swt. tersebut bukan untuk memperoleh keterangan dari mereka atau menambah pengetahuan-Nya  -- karena Allah Maha Mengetahui segala sesuatu  --  akan tetapi maksudnya ialah mereka harus memberikan kesaksian terhadap orang-orang kafir, seperti juga jelas dari QS.4:42 sebelum ini, firman-Nya: 
فَکَیۡفَ اِذَا جِئۡنَا مِنۡ کُلِّ اُمَّۃٍۭ بِشَہِیۡدٍ وَّ جِئۡنَا بِکَ عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ شَہِیۡدًا ﴿﴾ یَوۡمَئِذٍ یَّوَدُّ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا وَ عَصَوُا الرَّسُوۡلَ لَوۡ تُسَوّٰی بِہِمُ الۡاَرۡضُ ؕ وَ لَا یَکۡتُمُوۡنَ اللّٰہَ  حَدِیۡثًا ﴿٪﴾
Maka bagaimana keadaan mereka apabila Kami mendatangkan seorang saksi dari setiap umat, dan Kami  mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka ini semua-nya?  Pada hari itu orang-orang  kafir dan yang mendurhakai Rasul,  mereka menginginkan seandainya bumi disamaratakan  dengan mereka, dan mereka tidak akan dapat menyembunyikan sesuatu apa pun  dari Allah. (An-Nisa [4]:42-43). 

Kesempurnaan Martabat Nabi Besar Muhammad Saw.

     Kembali kepada pembahasan awal berkenaan dengan  pengutusan Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
وَ یَوۡمَ نَبۡعَثُ فِیۡ کُلِّ اُمَّۃٍ شَہِیۡدًا عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ جِئۡنَا بِکَ شَہِیۡدًا عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ ؕ وَ نَزَّلۡنَا عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ تِبۡیَانًا  لِّکُلِّ شَیۡءٍ  وَّ  ہُدًی  وَّ  رَحۡمَۃً   وَّ  بُشۡرٰی  لِلۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah hari itu ketika Kami akan membangkitkan dalam setiap umat seorang saksi terhadap mereka dari antara mereka sendiri, وَ جِئۡنَا بِکَ شَہِیۡدًا عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ -- dan Kami akan mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka semuanya. Dan  Kami  telah menurunkan kepada engkau Kitab itu untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk, rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri kepada Allah.   (An-Nahl [16]:90).
            Sehubungan dengan surah An-Nisā ayat 42  sebelumnya  terdapat riwayat dalam hadits berikut ini:
Telah  menceritakan kepada kami Shadaqah, telah mengabarkan kepada kami Yahya dari Sufyan dari Sulaiman dari Ibrahim dari ‘Abidah dari ‘Abdullah,  berkata Yahya – sebagian hadits dari ‘Amru bin Murah  -- ia berkata:  Nabi saw. bersabda kepadaku, “Bacakanlah Al-Quran kepadaku!” Aku berkata: bagaimana aku membacakan kepada engkau padahal Al-Quran diturunkan kepada engkau? Beliau menjawab, “Sesungguhnya aku suka mendengarkannya dari orang lain.” Lalu aku membacakannya keoada beliau surah An-Nisa hingga sampai pada ayat: فَکَیۡفَ اِذَا جِئۡنَا مِنۡ کُلِّ اُمَّۃٍۭ بِشَہِیۡدٍ  -- “Maka bagaimana keadaan mereka apabila Kami mendatangkan seorang saksi dari setiap umat, وَّ جِئۡنَا بِکَ عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ شَہِیۡدًا --  dan Kami  mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka ini semuanya? “ Beliau berkata, “Cukup” Dan ternyata beliau mencucurkan air mata (menangis).” (Shahih Bukhari No.4216; Fathul Bari no.4582).
          Jadi, dari keterangan Hadits Qudsi dan Al-Quran serta ketyerangan hadits tersebut betapa pentingnya penciptaan Nabi Besar Muhammad saw. serta pengutusan beliau saw. sebagai pembawa agama terakhir dan tersempurna yakni wahyu Al-Quran (QS.5:4), Allah Swt. berfirman:
 Laulaka, laulaka mā khalaqtul aflak -- “Kalau bukan karena engkau [Muhammad] Aku tidak akan menciptakan alam semesta ini.” (Hadits Qudsi).
       Kemudian berkenaan kisah-kisah kaum-kaum purbakala  yang dikemukakan dalam Kitab suci Al-Quran --  yang kepada mereka Allah Swt. telah mengutus  para rasul Allah serta lalu mengazab mereka akibat kedurhakaan mereka dengan berbagai azab Ilahi  (QS.29:41-42) – Allah Swt. berfirman:
لَقَدۡ کَانَ فِیۡ قَصَصِہِمۡ عِبۡرَۃٌ  لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ ؕ مَا کَانَ حَدِیۡثًا یُّفۡتَرٰی وَ لٰکِنۡ تَصۡدِیۡقَ الَّذِیۡ بَیۡنَ یَدَیۡہِ وَ تَفۡصِیۡلَ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُدًی وَّ رَحۡمَۃً لِّقَوۡمٍ  یُّؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾٪
Sungguh dalam kisah-kisah  mereka itu benar-benar ada pelajaran bagi orang-orang yang berakal.  Perkataan yakni  Al-Quran ini sama se-kali bukanlah sesuatu yang telah diada-adakan melainkan menggenapi apa yang telah ada sebelumnya dan penjelasan terinci segala sesuatu petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (Yusuf [12]:112).

(Bersambung)
ooo

Rujukan: The Holy Quran
Editor    : Malik Ghulam Farid


Pajajaran Anyar,  7  Juli 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar