Senin, 10 Juli 2017

Kesempurnaan Al-Quran dan Hakikat "Dua Kalimah Syahadat" & Doa Khusus Nabi Ibrahim a.s. Untuk Keturunan Nabi Isma'il a.s.

  

Bismillāhirrahmānirrahīm

KHAZANAH  AL-QURAN 

Bab 4

   KESEMPURNAAN AL-QURAN DAN HAKIKAT “DUA KALIMAH SYAHADAT”  & DOA KHUSUS NABI IBRAHIM A.S. UNTUK KETURUNAN NABI ISMA’IL A.S.

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir bab sebelumnya  telah dikemukakan  topic:   Kesempurnaan  Martabat Nabi Besar Muhammad Saw. Kembali kepada pembahasan awal berkenaan dengan  pengutusan Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
وَ یَوۡمَ نَبۡعَثُ فِیۡ کُلِّ اُمَّۃٍ شَہِیۡدًا عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ جِئۡنَا بِکَ شَہِیۡدًا عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ ؕ وَ نَزَّلۡنَا عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ تِبۡیَانًا  لِّکُلِّ شَیۡءٍ  وَّ  ہُدًی  وَّ  رَحۡمَۃً   وَّ  بُشۡرٰی  لِلۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah hari itu ketika Kami akan membangkitkan dalam setiap umat seorang saksi terhadap mereka dari antara mereka sendiri, وَ جِئۡنَا بِکَ شَہِیۡدًا عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ -- dan Kami akan mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka semuanya. Dan  Kami telah menurunkan kepada engkau Kitab itu untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk, rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri kepada Allah.   (An-Nahl [16]:90).
         Senada dengan ayat tersebut dalam surah An-Nisā berikut ini Allah Swt. berfirman:
فَکَیۡفَ اِذَا جِئۡنَا مِنۡ کُلِّ اُمَّۃٍۭ بِشَہِیۡدٍ وَّ جِئۡنَا بِکَ عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ شَہِیۡدًا ﴿﴾ یَوۡمَئِذٍ یَّوَدُّ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا وَ عَصَوُا الرَّسُوۡلَ لَوۡ تُسَوّٰی بِہِمُ الۡاَرۡضُ ؕ وَ لَا یَکۡتُمُوۡنَ اللّٰہَ  حَدِیۡثًا ﴿٪﴾
Maka bagaimana keadaan mereka apabila Kami mendatangkan seorang saksi dari setiap umat, وَّ جِئۡنَا بِکَ عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ شَہِیۡدًا --  dan Kami  mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka ini semuanya?  Pada hari itu orang-orang  kafir dan yang mendurhakai Rasul, mereka menginginkan seandainya bumi disamaratakan  dengan mereka, dan mereka tidak akan dapat menyembunyikan sesuatu apa pun  dari Allah. (An-Nisa [4]:42-43).
      Sehubungan dengan surah An-Nisā ayat 42 tersebut terdapat riwayat dalam hadits berikut ini:
Telah  menceritakan kepada kami Shadaqah, telah mengabarkan kepada kami Yahya dari Sufyan dari Sulaiman dari Ibrahim dari ‘Abidah dari ‘Abdullah,  berkata Yahya – sebagian hadits dari ‘Amru bin Murah  -- ia berkata:  Nabi saw. bersabda kepadaku, “Bacakanlah Al-Quran kepadaku!” Aku berkata: bagaimana aku membacakan kepada engkau padahal Al-Quran diturunkan kepada engkau? Beliau menjawab, “Sesungguhnya aku suka mendengarkannya dari orang lain.” Lalu aku membacakannya kepada beliau surah An-Nisā hingga sampai pada ayat: “Maka bagaimana keadaan mereka apabila Kami mendatangkan seorang saksi dari setiap umat, وَّ جِئۡنَا بِکَ عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ شَہِیۡدًا --  dan Kami  mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka ini semuanya? “ Beliau berkata, “Cukup” Dan ternyata beliau mencucurkan air mata (menangis).” (Shahih Bukhari No.4216; Fathul Bari no.4582).
          Jadi, dari keterangan Al-Quran, Hadits Qudsi dan  keterangan hadits tersebut betapa pentingnya penciptaan Nabi Besar Muhammad saw. serta pengutusan beliau saw. sebagai pembawa agama terakhir dan tersempurna yakni wahyu Al-Quran (QS.5:4), Allah Swt. berfirman:
 Laulaka, laulaka mā khalaqtul aflak -- “Kalau bukan karena engkau [Muhammad] Aku tidak akan menciptakan alam semesta ini.” (Hadits Qudsi).
         Kemudian berkenaan kisah-kisah kaum-kaum purbakala  yang dikemukakan dalam Kitab suci Al-Quran --  yang kepada mereka Allah Swt. telah mengutus  para rasul Allah serta lalu mengazab mereka akibat kedurhakaan mereka dengan berbagai azab Ilahi  (QS.29:41-42) – Allah Swt. berfirman:
لَقَدۡ کَانَ فِیۡ قَصَصِہِمۡ عِبۡرَۃٌ  لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ ؕ مَا کَانَ حَدِیۡثًا یُّفۡتَرٰی وَ لٰکِنۡ تَصۡدِیۡقَ الَّذِیۡ بَیۡنَ یَدَیۡہِ وَ تَفۡصِیۡلَ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُدًی وَّ رَحۡمَۃً لِّقَوۡمٍ  یُّؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾٪  
Sungguh dalam kisah-kisah  mereka itu benar-benar ada pelajaran bagi orang-orang yang berakal.  Perkataan yakni  Al-Quran ini sama sekali bukanlah sesuatu yang telah diada-adakan melainkan menggenapi apa yang telah ada sebelumnya dan penjelasan terinci segala sesuatu petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (Yusuf [12]:112).

Berbagai Kemampuan  Kitab Suci Al-Quran  Sebagai Al-Furqān (Pemisah)

       Kemudian Allah Swt. berfirman  lagi berkenaan kesempurnaan Al-Quran yang sangat bermanfaat bagi kemajuan akhlak dan ruhani umat manusia:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ قَدۡ جَآءَتۡکُمۡ  مَّوۡعِظَۃٌ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ وَ شِفَآءٌ لِّمَا فِی الصُّدُوۡرِ ۬ۙ وَ ہُدًی  وَّ رَحۡمَۃٌ   لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Hai manusia,  sungguh  telah datang kepada kamu suatu nasihat dari Rabb (Tuhan) kamu, dan penyembuh untuk  apa yang ada di dalam dada, serta  petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman  (Yunus [10]:58).
         Al-Quran itu mau’izhah (nasihat), sebab (a) Al-Quran mengandung ajaran-ajaran yang bertolak dari keinginan-keinginan murni untuk memberi nasihat  yang baik, (b) Ajaran Al-Quran itu telah diperhitungkan akan mempengaruhi dan menyentuh hati sanubari manusia sedalam-dalamnya dan (c) Al-Quran telah mengemukakan dengan cara yang indah segala dasar dan kaidah mengenai amal perbuatan, yang menuju kepada perubahan akhlak dan ruhani serta untuk meraih kesuksesan dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.
        Namun demikian Allah Swt. pun berfirman pula -- berupa peringatan  --  dalam Al-Quran:
وَ نُنَزِّلُ مِنَ الۡقُرۡاٰنِ مَا ہُوَ شِفَآءٌ وَّ رَحۡمَۃٌ  لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ۙ وَ لَا یَزِیۡدُ الظّٰلِمِیۡنَ   اِلَّا  خَسَارًا ﴿﴾
Dan Kami  menurunkan dari Al-Quran suatu  penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, وَ لَا یَزِیۡدُ الظّٰلِمِیۡنَ   اِلَّا  خَسَارًا  -- tetapi tidak menambah kepada orang-orang yang zalim melainkan kerugian. (Bani Israil [17]:83).  
        Dalam QS.3:8-9 Allah Swt. menyatakan bahwa ada dua jenis ayat Al-Quran, yaitu (1) ayat-ayat  yang muhkamat (jelas), dan (2) ayat-ayat yang mutasyābihāt  yang memerlukan penafsiran, sehingga ayat-ayat jenis  mutasyābihāt  ini sering membuat tergelincir  orang-orang yang berhati bengkok, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ اَنۡزَلَ عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ مِنۡہُ اٰیٰتٌ مُّحۡکَمٰتٌ ہُنَّ اُمُّ  الۡکِتٰبِ وَ اُخَرُ مُتَشٰبِہٰتٌ ؕ فَاَمَّا الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ زَیۡغٌ فَیَتَّبِعُوۡنَ مَا تَشَابَہَ مِنۡہُ ابۡتِغَآءَ الۡفِتۡنَۃِ وَ ابۡتِغَآءَ تَاۡوِیۡلِہٖ ۚ؃ وَ مَا یَعۡلَمُ  تَاۡوِیۡلَہٗۤ  اِلَّا اللّٰہُ  ۘؔ وَ الرّٰسِخُوۡنَ فِی الۡعِلۡمِ یَقُوۡلُوۡنَ اٰمَنَّا بِہٖ ۙ کُلٌّ  مِّنۡ عِنۡدِ رَبِّنَا ۚ وَ مَا یَذَّکَّرُ  اِلَّاۤ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ ﴿﴾   رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوۡبَنَا بَعۡدَ  اِذۡ ہَدَیۡتَنَا وَ ہَبۡ لَنَا مِنۡ لَّدُنۡکَ رَحۡمَۃً ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡوَہَّابُ ﴿﴾
Dia-lah Yang menurunkan Al-Kitab yakni Al-Quran  kepada engkau,  di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok  Al-Kitab, sedangkan  yang lain  ayat-ayat mutasyābihāt. فَاَمَّا الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ زَیۡغٌ فَیَتَّبِعُوۡنَ مَا تَشَابَہَ مِنۡہُ ابۡتِغَآءَ الۡفِتۡنَۃِ وَ ابۡتِغَآءَ تَاۡوِیۡلِہٖ  --   Adapun  orang-orang yang di dalam hatinya ada kebengkokan maka mereka mengikuti darinya apa yang mutasyābihāt  karena ingin menimbulkan fitnah dan ingin mencari-cari takwilnya yang salah,   padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya   kecuali Allah, ؔ وَ الرّٰسِخُوۡنَ فِی الۡعِلۡمِ یَقُوۡلُوۡنَ اٰمَنَّا بِہ  --  dan orang-orang yang memiliki pengetahuan mendalam berkata: “Kami beriman kepadanya, کُلٌّ  مِّنۡ عِنۡدِ رَبِّنَا -- semuanya berasal dari sisi Rabb (Tuhan) kami.” وَ مَا یَذَّکَّرُ  اِلَّاۤ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ  -- Dan  tidak ada yang meraih nasihat kecuali orang-orang yang mempergunakan akal.   رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوۡبَنَا بَعۡدَ  اِذۡ ہَدَیۡتَنَا وَ ہَبۡ لَنَا مِنۡ لَّدُنۡکَ رَحۡمَۃً ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡوَہَّابُ  --     Ya Rabb (Tuhan) kami, janganlah Engkau menyimpangkan hati kami setelah Engkau telah memberi kami petunjuk,  dan anugerahilah kami rahmat dari sisi Engkau, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Pemberi anugerah. (Âli ‘Imrān [3]:8-9).
         Itulah sebabnya Allah Swt. dalam awal Surah Al-Baqarah   telah menyatakan,  bahwa sekali pun Al-Quran merupakan Kitab suci terakhir yang paling sempurna (QS.5:4), namun demikian  hanya orang-orang yang bertakwa sajalah yang akan mendapat berbagai petunjuk yang tidak ada batasnya dari Al-Quran, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  الٓـمّٓ ۚ ﴿﴾ ذٰلِکَ  الۡکِتٰبُ لَا رَیۡبَ ۚۖۛ فِیۡہِ ۚۛ ہُدًی  لِّلۡمُتَّقِیۡنَ ۙ﴿﴾  الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡغَیۡبِ وَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ  مِمَّا رَزَقۡنٰہُمۡ  یُنۡفِقُوۡنَ ۙ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِمَاۤ  اُنۡزِلَ اِلَیۡکَ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ مِنۡ قَبۡلِکَ ۚ وَ بِالۡاٰخِرَۃِ ہُمۡ یُوۡقِنُوۡنَ ؕ﴿﴾  اُولٰٓئِکَ عَلٰی ہُدًی مِّنۡ رَّبِّہِمۡ ٭ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Alif Lām Mīm (Aku Allah Yang Maha Mengetahui).  Inilah  Kitab yang sempurna itu, tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.  Yaitu orang-orang yang beriman kepada  yang gaib, mendirikan shalat dan mereka  membelanjakan sebagian dari apa  yang Kami rezekikan kepada mereka.   Dan orang-orang  yang beriman kepada apa yang diturunkan kepada engkau, juga kepada apa yang telah diturunkan sebelum engkau dan kepada akhirat pun mereka   yakin. Mereka itulah orang-orang yang  berada di atas petunjuk dari Rabb-nya (Tuhannya)  dan mereka itulah  orang-orang yang  berhasil. (Al-Baqarah [2]:1-6).
         Ayat 3-6 menerangkan berbagai tanda  orang-orang yang bertakwa kepada Allah Swt., yang dimulai dari tahap “beriman kepada yang gaib” – terutama Wujud Allah Swt.  – sampai kepada keyakinan kepada akhirat, yang berarti kehidupan setelah mati  atau berarti beriman kepada kesinambungan wahyu Ilahi, sekali pun wahyu Ilahi yang berisi syariat telah berakhir dengan diwahyukan-Nya Al-Quran kepada Nabi Besar Muhammad saw. (QS.5:4). 

Hakikat Dua Kalimah Syahadat  & Semua Agama dari Allah Swt. Adalah “Islam

        Kembali kepada   hadits Qudsi   mengenai Nabi Besar Muhammad saw.: Laulaka, laulaka mā khalaqtul aflak – “Kalau bukan karena engkau [Muhammad] Aku tidak akan menciptakan alam semesta ini” (Hadits Qudsi)  maka jelaslah mengapa hanya agama Islam sajalah yang memiliki Dua Kalimah Syahadat, yaitu:
Asyhadu anlā ilāha illallāhu wa asyhadu anna Muhammadun- rasulullāh
(Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah).
      Makna Dua  Kalimah Syahadat tersebut adalah bahwa sejak diwahyukan-Nya agama Islam melalui pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. maka  satu-satunya jalan (cara) untuk meraih  makrifat Ilahi yang hakiki hanyalah dengan cara beriman dan mentaati sepenuhnya Nabi Besar Muhammad saw. – tidak ada cara lain lagi --  firman-Nya:
اِنَّ الدِّیۡنَ عِنۡدَ اللّٰہِ الۡاِسۡلَامُ ۟ وَ مَا اخۡتَلَفَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡعِلۡمُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ ؕ وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِاٰیٰتِ اللّٰہِ فَاِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ  الۡحِسَابِ ﴿﴾
Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah adalah Islam,  dan sekali-kali tidaklah berselisih orang-orang yang diberi Kitab melainkan setelah ilmu datang kepada mereka karena kedengkian di antara mereka. Dan barang-siapa kafir kepada Tanda-tanda Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat dalam menghisab. (Ali ‘Imran [3]:20).
 Semua agama yang bersumber dari Allah Swt. senantiasa menanamkan kepercayaan Tauhid Ilahi dan kepatuhan kepada kehendak-Nya, namun demikian hanya dalam Islam  sajalah  paham kepatuhan   kepada kehendak Ilahi mencapai kesempurnaan, sebab kepatuhan sepenuhnya meminta pengejewantahan penuh Sifat-sifat Allah Swt.   dan hanya pada Islam sajalah pengenjewantahan demikian telah terjadi, firman-Nya:
اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا
Hari ini telah Ku-sempurnakan agama kamu bagimu, telah Kulengkapkan nikmat-Ku atas kamu, dan  telah Kusukai  Islam sebagai agama bagimu.  (Al-Māidah [5]:4).
     Ikmāl (menyempurnakan) dan itmām (melengkapkan) merupakan akar-akar kata (masdar), yang pertama berhubungan dengan kaifiat (kualitas) dan yang kedua berhubungan dengan kammiat (kuantitas). Kata  ikmāl (menyempurnakan)  menunjukkan bahwa ajaran-ajaran serta perintah-perintah mengenai pencapaian kemajuan jasmani, ruhani, dan akhlak manusia telah terkandung dalam Al-Quran dalam bentuk yang paripurna; sedang  itmām (melengkapkan)  menunjukkan bahwa tidak ada suatu keperluan manusia yang lepas dari perhatian (diabaikan).  Kata yang pertama berhubungan dengan perintah-perintah yang bertalian dengan segi fisik atau keadaan lahiriah manusia, sedang yang kedua berhubungan dengan segi ruhaniah dan batiniahnya.
     Jadi dari semua tatanan keagamaan hanya Islam yang berhak disebut agama Tuhan pribadi (agama Allah) dalam arti yang sebenarnya. Semua agama yang benar   --  lebih atau kurang, dalam bentuknya yang asli  -- adalah agama Islam, sedang para pengikut agama-agama itu adalah Muslim dalam arti kata secara harfiah, tetapi  nama Al-Islam tidak diberikan sebelum tiba saat ketika agama menjadi lengkap dalam segala ragam seginya, karena nama itu dicadangkan untuk syariat yang terakhir dan mencapai kesempurnaan dalam Al-Quran. (QS.5:4).
        Mengisyaratkan kepada kenyataan itu pulalah  firman  Allah Swt. dalam surah Al Hājj berikut ini:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا ارۡکَعُوۡا  وَ اسۡجُدُوۡا وَ اعۡبُدُوۡا رَبَّکُمۡ وَ افۡعَلُوا الۡخَیۡرَ    لَعَلَّکُمۡ  تُفۡلِحُوۡنَ ﴿ۚٛ﴾  وَ جَاہِدُوۡا فِی اللّٰہِ حَقَّ جِہَادِہٖ ؕ ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ عَلَیۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ ؕ مِلَّۃَ  اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا  لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ ۚۖ فَاَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ  وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ ؕ ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡرُ ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang beriman,   rukuklah kamu, sujudlah, sembahlah Rabb (Tuhan) kamu, dan berbuatlah kebaikan supaya kamu memperoleh kebahagiaan.    Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad  yang sebenar-benarnya, Dia telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran pada kamu dalam urusan agama,  Ikutilah agama bapak kamu, Ibrahim, Dia telah memberi kamu nama Muslimin  dahulu dan dalam Kitab ini, لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ -- supaya Rasul itu menjadi saksi atas kamu  dan supaya kamu menjadi saksi atas umat manusia. Maka dirikanlah shalat, bayarlah zakat, dan berpeganglah teguh kepada Allah. Dia Pelindung kamu  maka Dia-lah sebaik-baik Pelindung  dan sebaik-baik Penolong. (Al-Hājj [22]:78-79).
     Jihad itu ada dua macam: (a) Jihad melawan keinginan-keinginan dan kecenderungan buruk manusia sendiri. Jihad jenis ini dinamakan “Jihad dalam Allah”  (QS.29:70; QS.25:53); (b) jihad melawan musuh-musuh kebenaran yang meliputi pula berperang untuk membela diri (QS.22:40-41)  yang dinamakan  “Jihad di jalan Allah”. Nabi Besar Muhammad saw.  telah menamakan jihad yang pertama itu sebagai jihad besar (jihad kabir) dan yang kedua sebagai jihad kecil (jihad shaghir).

Nama Muslim  & Pembangunan Kembali Baitullāh

      Kata-kata ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَ --  “Dia telah memberi kamu nama Muslimin, dahulu dan dalam Kitab ini,” menunjuk kepada nubuatan Yesaya: “maka engkau akan disebut dengan nama yang baharu, yang akan ditentukan oleh firman Tuhan .....” (Yesaya 62:2 dan 65:15), sedangkan isyarat dalam kata-kata وَ فِیۡ ہٰذَ  -- “dan dalam Kitab ini” ditujukan kepada doa Ibrahim a.s. yang dikutip dalam Al-Quran pada saat mendirikan kembali Baitullah (Ka’bah) bersama Nabi Isma’Il a.s. (QS.2:128-130), yaitu:  “Ya Rabb (Tuhan) kami, jadikanlah kami berdua ini hamba yang menyerahkan diri kepada Engkau, dan juga dari anak-cucu kami jadikanlah satu umat yang tunduk kepada Engkau.” (QS.2:129). Selengkapnya firman Allah Swt. tersebut adalah:
وَ اِذۡ یَرۡفَعُ  اِبۡرٰہٖمُ  الۡقَوَاعِدَ مِنَ الۡبَیۡتِ وَ اِسۡمٰعِیۡلُ ؕ رَبَّنَا تَقَبَّلۡ مِنَّا ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ ﴿﴾  رَبَّنَا وَ اجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَیۡنِ لَکَ وَ مِنۡ ذُرِّیَّتِنَاۤ اُمَّۃً مُّسۡلِمَۃً  لَّکَ ۪ وَ اَرِنَا مَنَاسِکَنَا وَ تُبۡ عَلَیۡنَا ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ التَّوَّابُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾  رَبَّنَا وَ ابۡعَثۡ فِیۡہِمۡ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِکَ وَ یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ یُزَکِّیۡہِمۡ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾٪ 
Dan ingatlah ketika Ibrahim dan Isma’il meninggikan  dasar-dasar yakni pondasi Rumah itu sambil mendoa: “Ya Rabb (Tuhan) kami,  terimalah   amal ini dari kami, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mendengar, Maha Mengetahui. Ya Rabb (Tuhan) kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah  diri kepada Engkau, dan juga  dari antara keturunan kami jadikanlah satu umat yang berserah diri kepada Engkauperlihatkanlah kepada kami cara-cara ibadah kami dan terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang.    Ya Rabb (Tuhan) kami, bangkitkanlah  seorang rasul di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan Ayat-ayat Engkau kepada mereka, yang mengajarkan Kitab  dan hikmah kepada mereka serta akan mensucikan mereka, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”  (Al-Baqarah [2]:128-130).
       Apakah Nabi Ibrahim a.s.   sebagai pendiri atau hanya pembangun kembali Ka’bah, merupakan satu masalah yang telah menimbulkan banyak perbantahan. Sementara orang berpendapat bahwa Nabi Ibrahim a.s.  adalah pendiri pertama tempat itu, sedang yang lainnya melacak asal-usulnya sampai Nabi Adam a.s..
      Al-Quran (QS.3:97) dan hadits-hadits shahih membenarkan pendapat bahwa  bahkan sebelum   bangunan tersebut  didirikan oleh Nabi Ibrahim a.s.   pada tempat itu telah ada semacam bangunan tetapi telah menjadi puing-puing dan hanya tinggal bekasnya belaka.
       Kata al-qawa’id dalam ayat 128  menunjukkan bahwa pondasi Baitullāh telah ada dan kemudian Nabi Ibrahim a.s. serta Nabi Isma'il a.s. membangunnya atas pondasi itu. Tambahan pula doa Nabi Ibrahim a.s.  pada saat berpisah dengan putranya (Isma'il a.s.)  dan ibunya (Sitti Hajrah) di Mekkah yaitu: “Ya  Rabb (Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian dari keturunanku di lembah yang tandus dekat Rumah Engkau yang suci (QS.14:38), menunjukkan bahwa Ka’bah telah ada bahkan sebelum Nabi Ibrahim a.s.   menempatkan istri dan anak beliau di lembah Mekkah. Hadits pun mendukung pandangan itu (Bukhari), demikian pula catatan-catatan sejarah pun memberikan dukungan kepada pendapat bahwa Ka’bah itu sangat tua sekali asal-usulnya.

Doa Khusus Nabi Ibrahim a.s. Bagi Keturunan Nabi Isma’il a.s.

      Para ahli sejarah terkenal dan bahkan sebagian ahli-ahli kritik Islam yang tak bersahabat telah mengakui bahwa Ka’bah itu tempat yang sangat tua dan telah dipandang suci semenjak waktu yang tak dapat diingatDiodorus Siculus Sicily (60 sebelum Masehi) dalam menyinggung mengenai daerah yang sekarang dikenal sebagai Hijaz mengatakan bahwa “tempat itu sangat dimuliakan oleh bangsa pribumi dan menambahkan, sebuah tempat pemujaan yang sangat tua didirikan di situ dari batu keras ...... yang ke tempat itu datang berbondong-bondong kaum-kaum dari daerah tetangga dari segala penjuru” (Diodorus Siculus Sicily, terjemahan ke dalam bahasa Inggeris oleh C.M. Oldfather, London, 1935, Kitab III, Bab 42 jilid ii, halaman 211-213).
      “Kata-kata itu tentu mengisyaratkan rumah suci di Mekkah, sebab kita tidak mengenal tempat lain, yang pernah mendapat penghormatan yang meliputi seluruh tanah Arab ........ Tarikh melukiskan Ka’bah sebagai tempat ziarah dari semua bagian tanah Arab semenjak waktu kuno” (Sir Williams Muir, halaman ciii).  
        Doa Nabi Ibrahim a.s. dalam ayat:   “Ya Rabb (Tuhan) kami, bangkitkanlah  seorang rasul di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan Ayat-ayat Engkau kepada mereka, yang mengajarkan Kitab  dan hikmah kepada mereka serta akan mensucikan mereka, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”  (QS.2:130).
        Ayat ini merupakan ikhtisar dari masalah pokok seluruh Surah Al-Baqarah yang bukan hanya berisikan pemekarannya saja melainkan pula membahas berbagai pokok dalam urutan yang sama seperti disebut dalam ayat ini berkenaan dengan tugas Rasul Allah  yang  mengenai kelahirannya didoakan secara khusus oleh Nabi Ibrahim a.s.  --  yakni  Nabi Besar Muhammad saw. --   yaitu mula-mula membacakan Tanda-tanda, kemudian mengajarkan  Kitab, lalu hikmah syariat, dan yang terakhir ialah sarana-sarana untuk kemajuan nasional, yakni kesucian akhlak dan ruhani  yang merupakan tujuan utama penciptaan manusia berupa pelaksanaan beribadah (menyembah) kepada Allah Swt. (QS.51:57).
         Menarik sekali kiranya untuk diperhatikan di sini bahwa Al-Quran membicarakan dua doa Nabi Ibrahim a.s. secara terpisah. Pertama tentang keturunan Nabi Ishaq a.s. dan yang kedua mengenai anak-cucu Nabi Isma’il a.s.  Doa pertama tercantum dalam QS.2:125 dan yang kedua dalam ayat ini.
        Dalam doanya mengenai keturunan Nabi Ishaq a.s.,  Nabi Ibrahim a.s. memohon supaya imam-iman atau para mushlih (pembaharu) dibangkitkan dari antara mereka, tetapi beliau tidak menyebut rincian  tugas atau kedudukan istimewa mereka — mereka itu Mushlih-muslih rabbani (Pembaharu-pembaharu) biasa yang akan datang berturut-turut untuk memperbaiki Bani Israil (QS.2:88).
         Tetapi dalam doanya pada ayat ini Nabi Ibrahim a.s. memohon kepada Allah  Swt.  agar membangkitkan di antara keturunannya melalui Nabi Ismail a.s. seorang Nabi Besar dengan tugas khusus. Perbedaan ini sungguh merupakan gambaran yang sejati lagi indah sekali tentang kedua cabang keturunan Nabi Ibrahim a.s..
         Dengan menyebut kedua doa Nabi Ibrahim a.s.  dalam Surah Al-Baqarah ayat 125 dan 130, Surah ini mengemukakan secara sepintas lalu kenyataan bahwa Nabi Ibrahim a.s.  bukan hanya mendoa untuk kesejahteraan Bani Ishaq saja, melainkan juga untuk  keturunan Bani Isma'il,   putra sulungnya.
         Keturunan Nabi Ishaq a.s. – yakni Bani Israil   --    kehilangan karunia kenabian karena perbuatan-perbuatan jahat mereka (QS.2:88-92), maka Nabi yang dijanjikan dan diminta Nabi Ibrahim a.s. dalam ayat ini harus termasuk keturunan Nabi Ibrahim a.s.  yang lain  yaitu anak-cucu  Nabi Isma'il a.s.  
         Untuk menegaskan bahwa Nabi Allah  yang diharapkan dan dijanjikan itu harus seorang dari Bani Isma'il, Al-Quran dengan sangat tepat menuturkan pembangunan Ka’bah oleh Nabi Ibrahim a.s.  serta  Nabi Isma'il a.s.,   dan doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim a.s. untuk keturunan putra sulungnya tersebut.

Jawaban Dua Kecaman

    Terhadap kesimpulan wajar ini para pengecam Kristen pada umumnya mengemukakan dua kecaman:
      (1) Bahwa Bible tidak menyebut janji  Allah apa pun kepada Nabi Ibrahim a.s.  mengenai Isma'il a.s.    
     (2) bahwa andaikata diakui bahwa Allah Swt.  sungguh-sungguh telah memberikan suatu janji demikian, maka tidak ada bukti terhadap kenyataan bahwa Rasul agama Islam adalah keturunan Nabi Isma'il a.s..  
      Adapun tentang keberatan pertama, andaikata pun diperhatikan bahwa Bible tak mengandung nubuatan-nubuatan apa pun mengenai Nabi Isma'il a.s.   maka hal itu tidaklah berarti bahwa nubuatan demikian tidak pernah ada. Tambahan pula bila kesaksian Bible dapat dianggap membenarkan adanya sesuatu janji mengenai Nabi Ishaq a.s. dan putra-putranya, mengapa kesaksian Al-Quran berkenaan dengan anak cucu Nabi Isma'il a.s.  tidak dapat diterima sebagai bukti bahwa janji-janji telah diberikan pula oleh Allah Swt.   kepada Nabi Isma'il a.s.  dan anak-anaknya?
       Tetapi Bible sendiri mengandung penunjukan mengenai kesejahteraan hari depan putra-putra Nabi Isma'il a.s. seperti dikandungnya mengenai kesejahteraan putra-putra Nabi Ishaq a.s.  (Kejadian 16:10-12; 17:6-10; 17:18-20).
       Sebagai jawaban kepada keberatan kedua bahwa seandainya pun perjanjian itu dianggap meliputi keturunan Isma'il a.s., masih harus pula dibuktikan bahwa Nabi Besar Muhammad saw.  adalah benar-benar termasuk Bani Isma'il.    Butir-butir berikut ini dapat diperhatikan:
     (1) Kaum Quraisy kabilah Nabi Besar Muhammad saw.  berasal, senantiasa percaya dan menyatakan diri sebagai keturunan Nabi Isma'il a.s.   dan pengakuan itu diakui oleh semua bangsa Arab.
     (2) Jika pengakuan kaum Quraisy dan juga pengakuan suku-suku Bani Isma'il lainnya dari tanah Arab sebagai keturunan Nabi Isma'il a.s.   itu tidak benar, maka pasti keturunan Nabi Isma'il a.s.    yang sungguh-sungguh   akan membantah pengakuan palsu demikian itu, tetapi setahu orang, keberatan demikian tidak pernah diajukan.
       (3). Dalam Kejadian 17:20 Tuhan telah berjanji akan memberkati Nabi Isma'il  a.s.  melipatgandakan keturunannya, menjadikannya bangsa besar dan ayah 12  pangeran. Jika bangsa Arab bukan keturunannya, lalu mana bangsa yang dijanjikan itu? Suku-suku Bani Isma'il di tanah Arab sungguh-sungguh merupakan satu-satunya yang mengaku berasal dari  Nabi Isma'il a.s..
       (4) Menurut Kejadian 21:8-14, Siti Hajar terpaksa meninggalkan rumahnya untuk memuaskan rasa angkuh Sarah. Jika beliau tidak dibawa ke Hijaz, di manakah sekarang keturunannya dapat ditemukan dan di manakah tempat pembuangannya?
     (5) Ahli-ahli ilmu bumi bangsa Arab semuanya sepakat bahwa Faran itu adalah nama yang diberikan kepada bukit-bukit Hijaz (Mu’jam al-Buldan).
     (6). Menurut Bible, keturunan Nabi Nabi Isma'il a.s.  menghuni wilayah “dari negeri Hawilah sampai ke Syur” (Kejadian 25:18), dan kata-kata “dari Hawilah sampai ke Syur” menunjukkan ujung-ujung bertentangan negeri Arab (Bib. Cyclopaedia, by J. Eadie, London 1862).
      (7). Bible menyebut Ismail “seorang bagai hutan lakunya” (Kejadian 16:12) dan kata A’rabi (“Penghuni padang pasir”) mengandung arti hampir sama pula.
      (8). Bahkan Paulus mengakui adanya hubungan antara Siti Hajar dengan tanah Arab (Gal. 4:25).
     (9). Kedar itu seorang putra Nabi Isma’il a.s. dan telah diakui bahwa keturunannya menduduki wilayah selatan tanah Arab (Bib.  Cyclopaedia, London 1862).
     (10). Prof. C.C. Torrey mengatakan: “Orang-orang Arab itu Bani Isma’il menurut riwayat bangsa Ibrani ....   Dua belas orang raja" (Kejadian 17:20), yang kemudian disebut dalam Kejadian 25:13-15, menggambarkan suku-suku Arab atau daerah-daerah di negeri Arab, perhatikanlah terutama Kedar, Duma (Dumatul Jandal), Teima. Bangsa besar itu ialah penduduk Arab” (Jewish Foundation of Islam, halaman 83). “Orang-orang Arab menurut ciri-ciri jasmani, bahasa, adat kebiasaan asli .... dan dari persaksian Bible umumnya dan pada dasarnya adalah Bani Isma’il” (Cyclopaedia of Biblical Literature, New York, halaman 685).
      (11). “Marilah kita senantiasa mencela kecenderungan kotor anak-anak Hajar karena terutama kaum (suku) Quraisy, mereka itu serupa dengan binatang” (Leaves from Three Ancient Qur’an, edited by the Rev. Mingana, D.D. Intro. xiii).

Pentingnya Beriman Kepada Nabi Besar Muhammad Saw.

     Pendek kata Nabi Besar Muhammad saw. adalah benar-benar keturunan Nabi Ibrahim a.s. melalui silsilah Nabi Isma’il a.s. sebagaimana dikemukakan dalam  firman-Nya sebelum ini: 
وَ اِذۡ یَرۡفَعُ  اِبۡرٰہٖمُ  الۡقَوَاعِدَ مِنَ الۡبَیۡتِ وَ اِسۡمٰعِیۡلُ ؕ رَبَّنَا تَقَبَّلۡ مِنَّا ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ ﴿﴾  رَبَّنَا وَ اجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَیۡنِ لَکَ وَ مِنۡ ذُرِّیَّتِنَاۤ اُمَّۃً مُّسۡلِمَۃً  لَّکَ ۪ وَ اَرِنَا مَنَاسِکَنَا وَ تُبۡ عَلَیۡنَا ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ التَّوَّابُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾  رَبَّنَا وَ ابۡعَثۡ فِیۡہِمۡ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِکَ وَ یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ یُزَکِّیۡہِمۡ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾٪ 
Dan ingatlah ketika Ibrahim dan Isma’il meninggikan  dasar-dasar yakni pondasi Rumah itu sambil mendoa: “Ya Rabb (Tuhan) kami,  terimalah   amal ini dari kami, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mendengar, Maha Mengetahui.   Ya Rabb (Tuhan) kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah  diri kepada Engkau, dan juga  dari antara keturunan kami jadikanlah satu umat yang berserah diri kepada Engkauperlihatkanlah kepada kami cara-cara ibadah kami dan terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang.  Ya Rabb (Tuhan) kami, bangkitkanlah  seorang rasul di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan Ayat-ayat Engkau kepada mereka, yang mengajarkan Kitab  dan hikmah kepada mereka serta akan mensucikan mereka, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”  (Al-Baqarah [2]:128-130).
Lebih lanjut Allah Swt. berfirman mengenai pentingnya beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ  اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾ قُلۡ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ ۚ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: ”Jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku,  Allah pun akan mencintai kamu dan akan mengampuni dosa-dosa kamu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”  Katakanlah:   Taatilah Allah dan Rasul ini”, kemudian jika mereka berpaling maka ketahuilah sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir. (Ali ‘Imran [3]:32). 

(Bersambung)
ooo

Rujukan: The Holy Quran
Editor    : Malik Ghulam Farid

Pajajaran Anyar,  9  Juli 2017


Tidak ada komentar:

Posting Komentar