Bismillāhirrahmānirrahīm
KHAZANAH AL-QURAN
Bab
4
KESEMPURNAAN AL-QURAN DAN HAKIKAT “DUA
KALIMAH SYAHADAT” & DOA KHUSUS NABI IBRAHIM A.S. UNTUK KETURUNAN NABI ISMA’IL A.S.
Oleh
Ki
Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir bab sebelumnya
telah dikemukakan topic: Kesempurnaan Martabat Nabi Besar Muhammad Saw. Kembali kepada pembahasan awal
berkenaan dengan pengutusan Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
وَ
یَوۡمَ نَبۡعَثُ فِیۡ کُلِّ اُمَّۃٍ شَہِیۡدًا عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ
جِئۡنَا بِکَ شَہِیۡدًا عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ ؕ وَ نَزَّلۡنَا عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ
تِبۡیَانًا لِّکُلِّ شَیۡءٍ وَّ
ہُدًی وَّ رَحۡمَۃً
وَّ بُشۡرٰی لِلۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah
hari itu ketika Kami akan membangkitkan dalam setiap umat
seorang saksi terhadap mereka
dari antara mereka sendiri, وَ جِئۡنَا بِکَ شَہِیۡدًا عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ -- dan Kami akan
mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka semuanya. Dan Kami
telah menurunkan kepada engkau
Kitab itu untuk menjelaskan segala
sesuatu dan petunjuk, rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang
yang berserah diri kepada Allah. (An-Nahl [16]:90).
Senada dengan ayat tersebut dalam surah An-Nisā
berikut ini Allah Swt. berfirman:
فَکَیۡفَ اِذَا جِئۡنَا مِنۡ کُلِّ اُمَّۃٍۭ بِشَہِیۡدٍ وَّ جِئۡنَا بِکَ عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ
شَہِیۡدًا ﴿﴾ یَوۡمَئِذٍ یَّوَدُّ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا وَ عَصَوُا الرَّسُوۡلَ
لَوۡ تُسَوّٰی بِہِمُ الۡاَرۡضُ ؕ وَ لَا یَکۡتُمُوۡنَ اللّٰہَ حَدِیۡثًا ﴿٪﴾
Maka bagaimana keadaan mereka apabila Kami mendatangkan seorang saksi
dari setiap umat, وَّ جِئۡنَا بِکَ عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ شَہِیۡدًا -- dan Kami
mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka ini semuanya? Pada hari
itu orang-orang kafir dan yang
mendurhakai Rasul, mereka menginginkan
seandainya bumi disamaratakan dengan
mereka, dan mereka tidak akan dapat
menyembunyikan sesuatu apa pun dari
Allah. (An-Nisa [4]:42-43).
Sehubungan dengan surah An-Nisā ayat 42 tersebut terdapat
riwayat dalam hadits berikut ini:
Telah menceritakan kepada kami Shadaqah, telah
mengabarkan kepada kami Yahya dari Sufyan dari Sulaiman dari Ibrahim dari
‘Abidah dari ‘Abdullah, berkata Yahya –
sebagian hadits dari ‘Amru bin Murah --
ia berkata: Nabi saw. bersabda kepadaku,
“Bacakanlah Al-Quran kepadaku!” Aku
berkata: bagaimana aku membacakan kepada
engkau padahal Al-Quran diturunkan kepada engkau? Beliau menjawab, “Sesungguhnya aku suka mendengarkannya dari
orang lain.” Lalu aku membacakannya kepada beliau surah An-Nisā hingga sampai pada ayat: “Maka
bagaimana keadaan mereka apabila Kami mendatangkan seorang saksi
dari setiap umat, وَّ جِئۡنَا بِکَ
عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ شَہِیۡدًا -- dan Kami
mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka ini semuanya? “ Beliau berkata, “Cukup” Dan ternyata beliau mencucurkan air mata (menangis).” (Shahih Bukhari No.4216; Fathul
Bari no.4582).
Jadi, dari keterangan Al-Quran,
Hadits Qudsi dan keterangan hadits
tersebut betapa pentingnya penciptaan Nabi
Besar Muhammad saw. serta pengutusan beliau
saw. sebagai pembawa agama terakhir
dan tersempurna yakni wahyu Al-Quran (QS.5:4), Allah Swt.
berfirman:
Laulaka,
laulaka mā khalaqtul aflak --
“Kalau bukan karena engkau [Muhammad] Aku tidak akan menciptakan alam
semesta ini.” (Hadits Qudsi).
Kemudian berkenaan
kisah-kisah kaum-kaum purbakala
yang dikemukakan dalam Kitab suci Al-Quran -- yang kepada mereka Allah Swt. telah mengutus para rasul Allah serta lalu mengazab
mereka akibat kedurhakaan mereka dengan berbagai azab Ilahi (QS.29:41-42) – Allah Swt. berfirman:
لَقَدۡ کَانَ فِیۡ قَصَصِہِمۡ
عِبۡرَۃٌ لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ ؕ مَا کَانَ
حَدِیۡثًا یُّفۡتَرٰی وَ لٰکِنۡ تَصۡدِیۡقَ
الَّذِیۡ بَیۡنَ یَدَیۡہِ وَ تَفۡصِیۡلَ
کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُدًی وَّ رَحۡمَۃً لِّقَوۡمٍ
یُّؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾٪
Sungguh dalam kisah-kisah mereka itu
benar-benar ada pelajaran bagi
orang-orang yang berakal. Perkataan yakni Al-Quran ini sama sekali bukanlah sesuatu yang telah diada-adakan melainkan menggenapi apa yang telah ada sebelumnya
dan penjelasan terinci segala sesuatu, petunjuk
dan rahmat bagi kaum yang beriman. (Yusuf [12]:112).
Berbagai Kemampuan Kitab
Suci Al-Quran Sebagai Al-Furqān (Pemisah)
Kemudian Allah Swt. berfirman lagi berkenaan kesempurnaan Al-Quran yang sangat bermanfaat bagi kemajuan akhlak dan ruhani umat manusia:
یٰۤاَیُّہَا
النَّاسُ قَدۡ جَآءَتۡکُمۡ مَّوۡعِظَۃٌ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ وَ شِفَآءٌ لِّمَا فِی الصُّدُوۡرِ ۬ۙ وَ ہُدًی وَّ رَحۡمَۃٌ لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Hai manusia, sungguh
telah datang kepada kamu suatu
nasihat dari Rabb (Tuhan) kamu,
dan penyembuh untuk apa
yang ada di dalam dada, serta petunjuk
dan rahmat bagi orang-orang yang beriman (Yunus
[10]:58).
Al-Quran itu mau’izhah
(nasihat), sebab (a) Al-Quran mengandung ajaran-ajaran yang bertolak dari keinginan-keinginan murni untuk memberi nasihat yang baik, (b) Ajaran Al-Quran itu
telah diperhitungkan akan mempengaruhi
dan menyentuh hati sanubari manusia
sedalam-dalamnya dan (c) Al-Quran telah mengemukakan dengan cara yang indah segala dasar dan kaidah
mengenai amal perbuatan, yang menuju
kepada perubahan
akhlak dan ruhani serta untuk meraih kesuksesan dalam kehidupan di dunia dan di
akhirat.
Namun demikian Allah Swt. pun berfirman
pula -- berupa peringatan -- dalam Al-Quran:
وَ
نُنَزِّلُ مِنَ الۡقُرۡاٰنِ مَا ہُوَ شِفَآءٌ وَّ رَحۡمَۃٌ لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ۙ وَ لَا یَزِیۡدُ
الظّٰلِمِیۡنَ اِلَّا خَسَارًا ﴿﴾
Dan Kami menurunkan dari Al-Quran suatu penyembuh
dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, وَ
لَا یَزِیۡدُ الظّٰلِمِیۡنَ اِلَّا خَسَارًا -- tetapi tidak
menambah kepada orang-orang yang zalim melainkan kerugian. (Bani Israil [17]:83).
Dalam QS.3:8-9 Allah Swt. menyatakan
bahwa ada dua jenis ayat Al-Quran, yaitu (1) ayat-ayat yang muhkamat
(jelas), dan (2) ayat-ayat yang mutasyābihāt
yang memerlukan penafsiran, sehingga ayat-ayat jenis mutasyābihāt
ini sering membuat tergelincir orang-orang yang
berhati bengkok, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ
اَنۡزَلَ عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ مِنۡہُ اٰیٰتٌ مُّحۡکَمٰتٌ ہُنَّ اُمُّ الۡکِتٰبِ وَ اُخَرُ مُتَشٰبِہٰتٌ ؕ فَاَمَّا
الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ زَیۡغٌ فَیَتَّبِعُوۡنَ مَا تَشَابَہَ مِنۡہُ ابۡتِغَآءَ
الۡفِتۡنَۃِ وَ ابۡتِغَآءَ تَاۡوِیۡلِہٖ ۚ وَ مَا یَعۡلَمُ تَاۡوِیۡلَہٗۤ
اِلَّا اللّٰہُ ۘؔ وَ
الرّٰسِخُوۡنَ فِی الۡعِلۡمِ یَقُوۡلُوۡنَ اٰمَنَّا بِہٖ ۙ کُلٌّ مِّنۡ عِنۡدِ رَبِّنَا ۚ وَ مَا
یَذَّکَّرُ اِلَّاۤ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ
﴿﴾ رَبَّنَا
لَا تُزِغۡ قُلُوۡبَنَا بَعۡدَ اِذۡ
ہَدَیۡتَنَا وَ ہَبۡ لَنَا مِنۡ لَّدُنۡکَ رَحۡمَۃً ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡوَہَّابُ ﴿﴾
Dia-lah Yang menurunkan Al-Kitab yakni Al-Quran kepada engkau, di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah
pokok-pokok Al-Kitab, sedangkan yang
lain ayat-ayat mutasyābihāt. فَاَمَّا الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ زَیۡغٌ
فَیَتَّبِعُوۡنَ مَا تَشَابَہَ مِنۡہُ ابۡتِغَآءَ الۡفِتۡنَۃِ وَ ابۡتِغَآءَ
تَاۡوِیۡلِہٖ -- Adapun orang-orang
yang di dalam hatinya ada kebengkokan maka mereka mengikuti darinya apa yang mutasyābihāt karena ingin
menimbulkan fitnah dan ingin
mencari-cari takwilnya yang salah, padahal tidak ada yang mengetahui
takwilnya kecuali Allah, ؔ وَ الرّٰسِخُوۡنَ فِی
الۡعِلۡمِ یَقُوۡلُوۡنَ اٰمَنَّا بِہ -- dan orang-orang yang memiliki pengetahuan mendalam berkata: “Kami beriman kepadanya, کُلٌّ
مِّنۡ عِنۡدِ رَبِّنَا -- semuanya berasal dari
sisi Rabb (Tuhan) kami.” وَ مَا یَذَّکَّرُ اِلَّاۤ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ -- Dan tidak ada yang meraih nasihat kecuali orang-orang yang mempergunakan akal. رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوۡبَنَا بَعۡدَ اِذۡ ہَدَیۡتَنَا وَ ہَبۡ لَنَا مِنۡ لَّدُنۡکَ
رَحۡمَۃً ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡوَہَّابُ -- Ya Rabb
(Tuhan) kami, janganlah Engkau
menyimpangkan hati kami setelah Engkau
telah memberi kami petunjuk, dan anugerahilah
kami rahmat dari sisi Engkau, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Pemberi anugerah. (Âli
‘Imrān [3]:8-9).
Itulah sebabnya Allah Swt. dalam awal Surah Al-Baqarah telah
menyatakan, bahwa sekali pun Al-Quran merupakan Kitab suci terakhir yang paling
sempurna (QS.5:4), namun demikian hanya orang-orang
yang bertakwa sajalah yang akan mendapat berbagai petunjuk yang tidak ada batasnya dari Al-Quran, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ الٓـمّٓ ۚ ﴿﴾ ذٰلِکَ الۡکِتٰبُ لَا رَیۡبَ ۚۖۛ فِیۡہِ ۚۛ ہُدًی لِّلۡمُتَّقِیۡنَ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡغَیۡبِ
وَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ مِمَّا
رَزَقۡنٰہُمۡ یُنۡفِقُوۡنَ ۙ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ
یُؤۡمِنُوۡنَ بِمَاۤ اُنۡزِلَ
اِلَیۡکَ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ مِنۡ
قَبۡلِکَ ۚ وَ بِالۡاٰخِرَۃِ ہُمۡ یُوۡقِنُوۡنَ ؕ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ عَلٰی ہُدًی مِّنۡ رَّبِّہِمۡ ٭ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
Alif
Lām Mīm (Aku Allah Yang Maha Mengetahui). Inilah Kitab
yang sempurna itu, tidak ada
keraguan di dalamnya, petunjuk bagi
orang-orang yang bertakwa. Yaitu
orang-orang yang beriman kepada yang gaib, mendirikan shalat dan mereka membelanjakan
sebagian dari apa yang Kami rezekikan
kepada mereka. Dan orang-orang yang beriman kepada apa yang diturunkan
kepada engkau, juga kepada apa
yang telah diturunkan sebelum engkau dan kepada akhirat pun mereka yakin.
Mereka itulah orang-orang yang berada di atas petunjuk dari Rabb-nya (Tuhannya)
dan mereka itulah orang-orang
yang berhasil. (Al-Baqarah [2]:1-6).
Ayat 3-6 menerangkan berbagai tanda
orang-orang yang bertakwa
kepada Allah Swt., yang dimulai dari tahap “beriman
kepada yang gaib” – terutama Wujud
Allah Swt. – sampai kepada keyakinan kepada akhirat, yang berarti kehidupan
setelah mati atau berarti beriman kepada kesinambungan wahyu Ilahi, sekali pun wahyu Ilahi yang berisi syariat telah berakhir dengan diwahyukan-Nya Al-Quran kepada Nabi
Besar Muhammad saw. (QS.5:4).
Hakikat Dua Kalimah Syahadat & Semua
Agama dari Allah Swt. Adalah “Islam”
Kembali kepada hadits Qudsi mengenai Nabi Besar Muhammad saw.: Laulaka, laulaka mā khalaqtul aflak – “Kalau
bukan karena engkau [Muhammad] Aku tidak akan menciptakan alam semesta ini”
(Hadits Qudsi) maka jelaslah mengapa hanya agama Islam
sajalah yang memiliki Dua Kalimah
Syahadat, yaitu:
Asyhadu anlā
ilāha illallāhu wa asyhadu anna Muhammadun- rasulullāh
(Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul
Allah).
Makna Dua Kalimah Syahadat tersebut adalah
bahwa sejak diwahyukan-Nya agama Islam melalui
pengutusan Nabi Besar Muhammad saw.
maka satu-satunya jalan (cara) untuk
meraih makrifat Ilahi yang hakiki hanyalah dengan cara beriman dan mentaati sepenuhnya Nabi Besar Muhammad saw. – tidak ada cara lain lagi -- firman-Nya:
اِنَّ الدِّیۡنَ
عِنۡدَ اللّٰہِ الۡاِسۡلَامُ ۟ وَ مَا اخۡتَلَفَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ
اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡعِلۡمُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ ؕ وَ مَنۡ
یَّکۡفُرۡ بِاٰیٰتِ اللّٰہِ فَاِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ ﴿﴾
Sesungguhnya
agama yang benar di sisi Allah adalah Islam, dan sekali-kali tidaklah berselisih orang-orang yang diberi Kitab melainkan setelah ilmu datang kepada mereka
karena kedengkian di antara mereka.
Dan barang-siapa kafir kepada
Tanda-tanda Allah maka sesungguhnya Allah
sangat cepat dalam menghisab. (Ali ‘Imran [3]:20).
Semua agama yang bersumber dari Allah
Swt. senantiasa menanamkan kepercayaan Tauhid
Ilahi dan kepatuhan kepada kehendak-Nya, namun demikian hanya dalam
Islam sajalah paham kepatuhan kepada kehendak
Ilahi mencapai kesempurnaan,
sebab kepatuhan sepenuhnya meminta pengejewantahan penuh Sifat-sifat Allah Swt. dan hanya pada Islam sajalah pengenjewantahan
demikian telah terjadi, firman-Nya:
اَلۡیَوۡمَ
اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ
لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا
Hari ini telah Ku-sempurnakan agama kamu bagimu, telah
Kulengkapkan nikmat-Ku atas
kamu, dan telah Kusukai Islam sebagai agama bagimu. (Al-Māidah
[5]:4).
Ikmāl (menyempurnakan) dan itmām
(melengkapkan) merupakan akar-akar kata (masdar), yang pertama berhubungan
dengan kaifiat (kualitas) dan yang kedua berhubungan dengan kammiat (kuantitas).
Kata ikmāl (menyempurnakan) menunjukkan bahwa ajaran-ajaran serta perintah-perintah
mengenai pencapaian kemajuan jasmani,
ruhani, dan akhlak manusia telah terkandung dalam Al-Quran dalam bentuk yang paripurna; sedang itmām (melengkapkan) menunjukkan bahwa tidak ada suatu keperluan manusia yang lepas dari
perhatian (diabaikan). Kata yang pertama
berhubungan dengan perintah-perintah
yang bertalian dengan segi fisik atau
keadaan lahiriah manusia, sedang yang
kedua berhubungan dengan segi ruhaniah
dan batiniahnya.
Jadi dari semua tatanan keagamaan hanya Islam yang berhak disebut agama Tuhan pribadi (agama Allah) dalam
arti yang sebenarnya. Semua agama yang
benar -- lebih atau kurang, dalam bentuknya yang asli -- adalah
agama Islam, sedang para pengikut
agama-agama itu adalah Muslim dalam arti kata secara harfiah, tetapi nama Al-Islam tidak diberikan sebelum tiba saat ketika agama menjadi lengkap dalam segala ragam
seginya, karena nama itu
dicadangkan untuk syariat yang terakhir
dan mencapai kesempurnaan dalam Al-Quran. (QS.5:4).
Mengisyaratkan kepada kenyataan itu pulalah firman
Allah Swt. dalam surah Al Hājj
berikut ini:
یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا ارۡکَعُوۡا وَ
اسۡجُدُوۡا وَ اعۡبُدُوۡا رَبَّکُمۡ وَ افۡعَلُوا الۡخَیۡرَ لَعَلَّکُمۡ
تُفۡلِحُوۡنَ ﴿ۚٛ﴾ وَ جَاہِدُوۡا فِی اللّٰہِ حَقَّ جِہَادِہٖ ؕ ہُوَ
اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ عَلَیۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ ؕ مِلَّۃَ اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ
الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا
لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ
عَلَی النَّاسِ ۚۖ فَاَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ
وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ وَ
اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ ؕ ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ
النَّصِیۡرُ ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah, sembahlah Rabb
(Tuhan) kamu, dan berbuatlah kebaikan
supaya kamu memperoleh kebahagiaan. Dan berjihadlah
kamu di jalan Allah dengan
jihad
yang sebenar-benarnya, Dia
telah memilih kamu, dan Dia tidak
menjadikan kesukaran pada kamu dalam
urusan agama, Ikutilah agama bapak kamu, Ibrahim, Dia
telah memberi kamu nama Muslimin dahulu dan dalam Kitab ini, لِیَکُوۡنَ
الرَّسُوۡلُ شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ -- supaya Rasul itu menjadi saksi atas kamu
dan supaya kamu menjadi saksi
atas umat manusia. Maka dirikanlah
shalat, bayarlah zakat, dan berpeganglah teguh kepada Allah. Dia Pelindung kamu maka Dia-lah
sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. (Al-Hājj
[22]:78-79).
Jihad itu ada dua macam: (a) Jihad melawan keinginan-keinginan dan kecenderungan
buruk manusia sendiri. Jihad jenis
ini dinamakan “Jihad dalam Allah” (QS.29:70; QS.25:53); (b) jihad melawan musuh-musuh kebenaran yang meliputi pula berperang untuk membela diri (QS.22:40-41) yang dinamakan “Jihad di jalan Allah”. Nabi Besar
Muhammad saw. telah menamakan jihad yang pertama itu sebagai jihad
besar (jihad kabir) dan yang kedua sebagai jihad kecil (jihad shaghir).
Nama Muslim & Pembangunan Kembali Baitullāh
Kata-kata ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَ -- “Dia telah memberi
kamu nama Muslimin, dahulu dan dalam Kitab ini,” menunjuk kepada nubuatan
Yesaya: “maka engkau akan disebut dengan
nama yang baharu, yang akan ditentukan oleh firman Tuhan .....” (Yesaya 62:2 dan 65:15),
sedangkan isyarat dalam kata-kata وَ فِیۡ ہٰذَ -- “dan dalam Kitab ini” ditujukan
kepada doa Ibrahim a.s. yang dikutip
dalam Al-Quran pada saat mendirikan kembali Baitullah
(Ka’bah) bersama Nabi Isma’Il a.s. (QS.2:128-130),
yaitu: “Ya Rabb
(Tuhan) kami, jadikanlah kami berdua
ini hamba yang menyerahkan diri kepada
Engkau, dan juga dari anak-cucu kami
jadikanlah satu umat yang tunduk kepada
Engkau.” (QS.2:129). Selengkapnya firman Allah Swt. tersebut adalah:
وَ اِذۡ یَرۡفَعُ اِبۡرٰہٖمُ الۡقَوَاعِدَ مِنَ الۡبَیۡتِ
وَ اِسۡمٰعِیۡلُ ؕ رَبَّنَا تَقَبَّلۡ مِنَّا ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ
السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ ﴿﴾ رَبَّنَا
وَ اجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَیۡنِ لَکَ وَ مِنۡ
ذُرِّیَّتِنَاۤ اُمَّۃً مُّسۡلِمَۃً لَّکَ ۪ وَ اَرِنَا مَنَاسِکَنَا وَ تُبۡ عَلَیۡنَا ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ
التَّوَّابُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾ رَبَّنَا وَ ابۡعَثۡ فِیۡہِمۡ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ
یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِکَ وَ یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ
وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ یُزَکِّیۡہِمۡ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾٪
Dan ingatlah
ketika Ibrahim dan Isma’il meninggikan dasar-dasar
yakni pondasi Rumah itu
sambil mendoa: “Ya Rabb
(Tuhan) kami, terimalah amal ini dari kami, sesungguhnya Engkau
benar-benar Maha Mendengar, Maha
Mengetahui. Ya Rabb (Tuhan)
kami, jadikanlah kami berdua orang yang
berserah diri kepada Engkau, dan juga dari
antara keturunan kami jadikanlah satu umat yang berserah diri kepada Engkau, perlihatkanlah
kepada kami cara-cara ibadah kami dan terimalah
taubat kami, sesungguhnya Engkau
benar-benar Maha Penerima Taubat, Maha
Penyayang. Ya Rabb
(Tuhan) kami, bangkitkanlah seorang rasul di tengah-tengah
mereka dari kalangan mereka sendiri,
yang akan membacakan Ayat-ayat Engkau
kepada mereka, yang mengajarkan
Kitab dan hikmah kepada mereka serta akan mensucikan mereka, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah [2]:128-130).
Apakah Nabi Ibrahim a.s. sebagai pendiri
atau hanya pembangun kembali Ka’bah, merupakan satu masalah yang
telah menimbulkan banyak perbantahan. Sementara orang berpendapat bahwa Nabi
Ibrahim a.s. adalah pendiri pertama
tempat itu, sedang yang lainnya melacak asal-usulnya sampai Nabi Adam a.s..
Al-Quran (QS.3:97) dan hadits-hadits shahih membenarkan pendapat
bahwa bahkan sebelum bangunan
tersebut didirikan oleh Nabi Ibrahim
a.s. pada tempat itu telah
ada semacam bangunan tetapi telah
menjadi puing-puing dan hanya tinggal
bekasnya belaka.
Kata al-qawa’id dalam ayat
128 menunjukkan bahwa pondasi Baitullāh telah ada dan kemudian
Nabi Ibrahim a.s. serta Nabi Isma'il a.s. membangunnya atas pondasi itu. Tambahan pula doa
Nabi Ibrahim a.s. pada saat
berpisah dengan putranya (Isma'il a.s.) dan ibunya (Sitti Hajrah) di Mekkah
yaitu: “Ya Rabb (Tuhan kami, sesungguhnya aku
telah menempatkan sebagian dari keturunanku di lembah yang tandus dekat Rumah Engkau yang suci” (QS.14:38),
menunjukkan bahwa Ka’bah telah ada
bahkan sebelum Nabi Ibrahim a.s. menempatkan
istri dan anak beliau di lembah Mekkah. Hadits pun mendukung
pandangan itu (Bukhari),
demikian pula catatan-catatan sejarah
pun memberikan dukungan kepada pendapat bahwa Ka’bah itu sangat tua sekali asal-usulnya.
Doa Khusus Nabi Ibrahim a.s.
Bagi Keturunan Nabi Isma’il a.s.
Para ahli sejarah terkenal dan
bahkan sebagian ahli-ahli kritik Islam
yang tak bersahabat telah mengakui
bahwa Ka’bah itu tempat yang sangat tua
dan telah dipandang suci semenjak
waktu yang tak dapat diingat. Diodorus Siculus Sicily (60 sebelum
Masehi) dalam menyinggung mengenai daerah yang sekarang dikenal sebagai Hijaz mengatakan bahwa “tempat itu sangat dimuliakan oleh bangsa
pribumi dan menambahkan, sebuah tempat pemujaan yang sangat tua didirikan di
situ dari batu keras ...... yang ke tempat itu datang berbondong-bondong
kaum-kaum dari daerah tetangga dari segala penjuru” (Diodorus Siculus Sicily, terjemahan ke dalam bahasa
Inggeris oleh C.M. Oldfather, London, 1935, Kitab III, Bab 42 jilid ii, halaman
211-213).
“Kata-kata itu tentu mengisyaratkan rumah suci di Mekkah, sebab kita
tidak mengenal tempat lain, yang pernah mendapat penghormatan yang meliputi
seluruh tanah Arab ........ Tarikh melukiskan Ka’bah sebagai tempat ziarah dari
semua bagian tanah Arab semenjak waktu kuno” (Sir Williams Muir, halaman ciii).
Doa Nabi Ibrahim a.s. dalam ayat:
“Ya
Rabb (Tuhan) kami, bangkitkanlah seorang rasul di tengah-tengah
mereka dari kalangan mereka sendiri,
yang akan membacakan Ayat-ayat Engkau
kepada mereka, yang mengajarkan
Kitab dan hikmah kepada mereka serta akan mensucikan mereka, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (QS.2:130).
Ayat ini merupakan ikhtisar dari masalah pokok seluruh Surah Al-Baqarah yang bukan hanya berisikan pemekarannya saja melainkan pula membahas berbagai pokok dalam
urutan yang sama seperti disebut dalam ayat ini berkenaan dengan tugas Rasul Allah yang
mengenai kelahirannya didoakan secara khusus oleh Nabi Ibrahim a.s. --
yakni Nabi Besar Muhammad saw. -- yaitu mula-mula membacakan Tanda-tanda, kemudian mengajarkan Kitab,
lalu hikmah syariat, dan yang
terakhir ialah sarana-sarana untuk kemajuan nasional, yakni kesucian akhlak dan ruhani yang merupakan tujuan utama penciptaan manusia berupa pelaksanaan beribadah (menyembah) kepada Allah Swt.
(QS.51:57).
Menarik sekali kiranya untuk
diperhatikan di sini bahwa Al-Quran
membicarakan dua doa Nabi Ibrahim
a.s. secara terpisah. Pertama tentang keturunan Nabi Ishaq a.s. dan yang kedua mengenai anak-cucu Nabi Isma’il a.s. Doa pertama tercantum dalam QS.2:125 dan
yang kedua dalam ayat ini.
Dalam doanya mengenai keturunan Nabi
Ishaq a.s., Nabi Ibrahim a.s.
memohon supaya imam-iman atau para mushlih (pembaharu)
dibangkitkan dari antara mereka, tetapi beliau tidak menyebut rincian tugas
atau kedudukan istimewa mereka —
mereka itu Mushlih-muslih rabbani (Pembaharu-pembaharu) biasa yang akan datang berturut-turut
untuk memperbaiki Bani Israil (QS.2:88).
Tetapi dalam doanya pada ayat ini
Nabi Ibrahim a.s. memohon kepada Allah Swt. agar membangkitkan
di antara keturunannya melalui Nabi Ismail a.s. seorang Nabi Besar dengan tugas khusus. Perbedaan ini sungguh merupakan gambaran yang sejati lagi indah sekali tentang kedua
cabang keturunan Nabi Ibrahim a.s..
Dengan menyebut kedua doa Nabi Ibrahim a.s. dalam Surah Al-Baqarah ayat 125 dan 130, Surah ini mengemukakan secara sepintas
lalu kenyataan bahwa Nabi Ibrahim a.s.
bukan hanya mendoa untuk kesejahteraan
Bani Ishaq saja, melainkan juga untuk
keturunan Bani Isma'il, putra sulungnya.
Keturunan Nabi Ishaq a.s. – yakni
Bani Israil -- kehilangan
karunia kenabian karena perbuatan-perbuatan jahat mereka
(QS.2:88-92), maka Nabi yang dijanjikan
dan diminta Nabi Ibrahim a.s. dalam ayat ini harus termasuk keturunan Nabi Ibrahim a.s. yang lain yaitu anak-cucu
Nabi Isma'il a.s.
Untuk menegaskan bahwa Nabi Allah yang diharapkan
dan dijanjikan itu harus seorang dari
Bani Isma'il, Al-Quran dengan sangat
tepat menuturkan pembangunan Ka’bah
oleh Nabi Ibrahim a.s. serta Nabi
Isma'il a.s., dan doa
yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim a.s.
untuk keturunan putra sulungnya
tersebut.
Jawaban Dua Kecaman
Terhadap kesimpulan wajar ini para pengecam
Kristen pada umumnya mengemukakan dua
kecaman:
(1) Bahwa Bible tidak menyebut janji Allah apa pun kepada Nabi Ibrahim a.s. mengenai
Isma'il a.s.
(2) bahwa andaikata diakui bahwa
Allah Swt. sungguh-sungguh
telah memberikan suatu janji
demikian, maka tidak ada bukti
terhadap kenyataan bahwa Rasul agama
Islam adalah keturunan Nabi Isma'il
a.s..
Adapun tentang keberatan pertama, andaikata pun
diperhatikan bahwa Bible tak
mengandung nubuatan-nubuatan apa pun
mengenai Nabi Isma'il a.s. maka
hal itu tidaklah berarti bahwa nubuatan
demikian tidak pernah ada. Tambahan pula bila kesaksian Bible dapat dianggap membenarkan
adanya sesuatu janji mengenai Nabi Ishaq a.s. dan putra-putranya, mengapa kesaksian Al-Quran berkenaan dengan anak cucu Nabi Isma'il a.s. tidak dapat diterima sebagai bukti bahwa janji-janji telah diberikan pula oleh Allah Swt. kepada Nabi Isma'il a.s. dan anak-anaknya?
Tetapi Bible
sendiri mengandung penunjukan mengenai kesejahteraan
hari depan putra-putra Nabi Isma'il a.s.
seperti dikandungnya mengenai kesejahteraan
putra-putra Nabi Ishaq a.s. (Kejadian 16:10-12;
17:6-10; 17:18-20).
Sebagai jawaban kepada keberatan
kedua bahwa seandainya pun perjanjian
itu dianggap meliputi keturunan Isma'il
a.s., masih harus pula dibuktikan bahwa Nabi
Besar Muhammad saw. adalah
benar-benar termasuk Bani Isma'il. Butir-butir
berikut ini dapat diperhatikan:
(1) Kaum Quraisy kabilah Nabi Besar Muhammad saw. berasal, senantiasa percaya dan
menyatakan diri sebagai keturunan Nabi
Isma'il a.s. dan
pengakuan itu diakui oleh semua bangsa
Arab.
(2) Jika pengakuan kaum Quraisy dan juga pengakuan suku-suku Bani Isma'il lainnya dari tanah Arab sebagai keturunan Nabi Isma'il a.s. itu tidak
benar, maka pasti keturunan Nabi
Isma'il a.s. yang sungguh-sungguh akan membantah pengakuan palsu demikian itu,
tetapi setahu orang, keberatan
demikian tidak pernah diajukan.
(3). Dalam Kejadian 17:20 Tuhan telah berjanji akan memberkati Nabi
Isma'il a.s. melipatgandakan keturunannya, menjadikannya bangsa besar dan ayah 12 pangeran. Jika bangsa Arab bukan keturunannya, lalu mana bangsa
yang dijanjikan itu? Suku-suku Bani Isma'il di tanah Arab
sungguh-sungguh merupakan satu-satunya
yang mengaku berasal dari Nabi Isma'il a.s..
(4) Menurut Kejadian 21:8-14, Siti Hajar terpaksa meninggalkan
rumahnya untuk memuaskan rasa angkuh Sarah.
Jika beliau tidak dibawa ke Hijaz, di
manakah sekarang keturunannya dapat
ditemukan dan di manakah tempat pembuangannya?
(5) Ahli-ahli ilmu bumi bangsa Arab semuanya sepakat bahwa Faran
itu adalah nama yang diberikan kepada bukit-bukit Hijaz (Mu’jam al-Buldan).
(6). Menurut Bible, keturunan Nabi Nabi
Isma'il a.s. menghuni
wilayah “dari negeri Hawilah sampai ke
Syur” (Kejadian 25:18),
dan kata-kata “dari Hawilah sampai ke
Syur” menunjukkan ujung-ujung bertentangan negeri Arab (Bib. Cyclopaedia, by J.
Eadie, London 1862).
(7). Bible menyebut Ismail
“seorang bagai hutan lakunya” (Kejadian
16:12) dan kata A’rabi (“Penghuni padang pasir”) mengandung arti hampir
sama pula.
(8). Bahkan Paulus mengakui adanya hubungan
antara Siti Hajar dengan tanah Arab (Gal. 4:25).
(9). Kedar itu seorang putra Nabi
Isma’il a.s. dan telah diakui bahwa keturunannya
menduduki wilayah selatan tanah Arab (Bib.
Cyclopaedia,
London 1862).
(10). Prof. C.C. Torrey
mengatakan: “Orang-orang Arab itu Bani
Isma’il menurut riwayat bangsa Ibrani ....
Dua belas orang raja" (Kejadian
17:20), yang kemudian disebut dalam Kejadian
25:13-15, menggambarkan suku-suku Arab
atau daerah-daerah di negeri Arab, perhatikanlah terutama Kedar, Duma (Dumatul
Jandal), Teima. Bangsa besar itu
ialah penduduk Arab” (Jewish Foundation of Islam,
halaman 83). “Orang-orang Arab menurut ciri-ciri jasmani, bahasa, adat kebiasaan
asli .... dan dari persaksian Bible umumnya dan pada dasarnya adalah Bani
Isma’il” (Cyclopaedia of Biblical
Literature, New York, halaman 685).
(11). “Marilah kita senantiasa
mencela kecenderungan kotor anak-anak Hajar karena terutama kaum (suku)
Quraisy, mereka itu serupa dengan binatang” (Leaves from Three Ancient Qur’an, edited by the Rev.
Mingana, D.D. Intro. xiii).
Pentingnya Beriman Kepada Nabi Besar
Muhammad Saw.
Pendek kata Nabi Besar Muhammad saw. adalah
benar-benar keturunan Nabi Ibrahim a.s.
melalui silsilah Nabi Isma’il a.s. sebagaimana dikemukakan dalam firman-Nya sebelum ini:
وَ اِذۡ یَرۡفَعُ اِبۡرٰہٖمُ الۡقَوَاعِدَ مِنَ الۡبَیۡتِ
وَ اِسۡمٰعِیۡلُ ؕ رَبَّنَا تَقَبَّلۡ مِنَّا ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ
السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ ﴿﴾ رَبَّنَا
وَ اجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَیۡنِ لَکَ وَ مِنۡ
ذُرِّیَّتِنَاۤ اُمَّۃً مُّسۡلِمَۃً لَّکَ ۪ وَ اَرِنَا مَنَاسِکَنَا وَ تُبۡ عَلَیۡنَا ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ
التَّوَّابُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾ رَبَّنَا وَ ابۡعَثۡ فِیۡہِمۡ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ
یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِکَ وَ یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ
وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ یُزَکِّیۡہِمۡ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾٪
Dan ingatlah
ketika Ibrahim dan Isma’il meninggikan dasar-dasar
yakni pondasi Rumah itu
sambil mendoa: “Ya Rabb
(Tuhan) kami, terimalah amal ini dari kami, sesungguhnya Engkau
benar-benar Maha Mendengar, Maha
Mengetahui. Ya Rabb (Tuhan) kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah diri kepada Engkau, dan juga dari antara keturunan kami jadikanlah
satu umat yang berserah diri kepada
Engkau, perlihatkanlah kepada kami cara-cara ibadah kami dan terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Penerima Taubat,
Maha Penyayang. Ya Rabb
(Tuhan) kami, bangkitkanlah seorang rasul di tengah-tengah
mereka dari kalangan mereka sendiri,
yang akan membacakan Ayat-ayat Engkau
kepada mereka, yang mengajarkan
Kitab dan hikmah kepada mereka serta akan mensucikan mereka, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah [2]:128-130).
Lebih lanjut Allah Swt. berfirman
mengenai pentingnya beriman kepada
Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ
فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ
اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾ قُلۡ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ ۚ
فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ لَا
یُحِبُّ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah:
”Jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku, Allah
pun akan mencintai kamu dan akan
mengampuni dosa-dosa kamu. Dan Allah
Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Katakanlah: ”Taatilah Allah dan Rasul ini”, kemudian jika
mereka berpaling maka ketahuilah sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir. (Ali
‘Imran [3]:32).
(Bersambung)
ooo
Rujukan: The
Holy Quran
Editor : Malik
Ghulam Farid
Pajajaran Anyar,
9 Juli 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar