Bismillāhirrahmānirrahīm
KHAZANAH AL-QURAN
Bab
7
PERAN
MAGHFIRAH ILAHI (PENGAMPUNAN ALLAH
SWT.) BAGI KEMAJUAN DERAJAT PARA PENGHUNI SURGA & KEAGUNGAN AKHLAK DAN RUHANI NABI
BESAR MUHAMMAD SAW. DAN MAKNA ISTIGHFAR PARA NABI ALLAH
Oleh
Ki
Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian akhir bab sebelumnya
telah dikemukakan topic: Pentingnya Mentaati Al-Quran dan Sunnah Nabi
Besar Muhammad Saw. sehubungan dengan para “bidadari surgawi” – yang
dikemukakan dalam berbagai surah Al-Quran, antara lain Surah Al-Thūr,
Al-Rahmān, dan Al-Wāqi’ah -- yang pada hakikatnya adalah para perempuan bertakwa di dunia ini yang merupakan calon ahli surga -- bukan “makhluk
lain“ -- yang pada hakikatnya merupakan
pengabulan dari doa yang
diajarkan Allah Swt. kepada para suami
yang bertakwa, firman-Nya:
وَ الَّذِیۡنَ
یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَا ہَبۡ لَنَا مِنۡ اَزۡوَاجِنَا وَ ذُرِّیّٰتِنَا قُرَّۃَ
اَعۡیُنٍ وَّ اجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِیۡنَ اِمَامًا ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ یُجۡزَوۡنَ
الۡغُرۡفَۃَ بِمَا صَبَرُوۡا وَ یُلَقَّوۡنَ فِیۡہَا تَحِیَّۃً وَّ سَلٰمًا
﴿ۙ﴾ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ؕ حَسُنَتۡ
مُسۡتَقَرًّا وَّ مُقَامًا ﴿﴾ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ؕ حَسُنَتۡ
مُسۡتَقَرًّا وَّ مُقَامًا ﴿﴾
Dan
orang-orang yang mengatakan: “Ya Rabb
(Tuhan) kami, anugerahkanlah kepada kami
istri-istri kami dan keturunan kami
menjadi penyejuk mata kami, dan jadikanlah
kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” Mereka itulah yang akan dianugerahi kamar-kamar tinggi di surga karena
mereka bersabar, dan mereka akan disambut di dalamnya dengan
penghormatan dan doa selamat,
Mereka akan kekal di dalamnya, itulah sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. (Al-Furqān [25]:75-77).
Pentingnya Mentaati Al-Quran dan Sunnah Nabi Besar Muhammad Saw.
Jadi, jika ada cara-cara lain untuk memperoleh “bidadari surgawi” yang bertentangan
dengan firman-firman Allah Swt.
tersebut maka cara-cara tersebut
bukan ajaran Islam yang difahami
dan diamalkan oleh Nabi Besar
Muhammad saw. yang merupakan rahmat bagi seluruh alam (QS.21:108).
Dalam ayat selanjutnya Allah Swt. dengan
tegas berfirman kepada Nabi Besar
Muhammad saw. mengenai pentingnya melaksanakan ibadah dengan benar
kepada-Nya sebagaimana yang beliau saw. contohnya
(QS.3:32; QS.33:22):
قُلۡ مَا
یَعۡبَؤُا بِکُمۡ رَبِّیۡ لَوۡ لَا دُعَآؤُکُمۡ ۚ فَقَدۡ کَذَّبۡتُمۡ فَسَوۡفَ
یَکُوۡنُ لِزَامًا ﴿٪﴾
Katakanlah:
“Rabb-ku (Tuhan-ku) tidak akan mempedulikan kamu jika tidak
karena doa kamu, maka sungguh kamu telah mendustakan maka segera
azab menimpa kamu.” (Al-Furqān [25]:78).
Makna ayat tersebut adalah, bahwa
kecuali melaksanakan peribadahan -- yakni memenuhi huququllāh dan huququl- ‘ibād -- sebagaimana yang dicontohkan Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32; QS.33:22), sehingga
beliau saw. benar-nenar merupakn rasul
Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam (QS.21:108) dan umat Islam terbukti sebagai “umat terbaik” bagi manfaat umat manusia (QS.2:144; QS.3:111)
-- Allah Swt. tidak akan mempedulikan (akan menolak) cara-cara lainnya yang bertentangan dengan Sunnah Nabi Besar Muhammad saw.,
firman-Nya:
قُلۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ
فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ
اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾ قُلۡ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ ۚ
فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ لَا
یُحِبُّ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: ”Jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku, Allah pun akan mencintai kamu dan akan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Katakanlah: ”Taatilah Allah dan Rasul ini”, kemudian jika
mereka berpaling maka ketahuilah sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir. (Ali ‘Imran [3]:32-33).
Firman-Nya lagi:
لَقَدۡ کَانَ
لَکُمۡ فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ
الۡیَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَ ذَکَرَ
اللّٰہَ کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Sungguh dalam
diri Rasulullah benar-benar terdapat suri
teladan yang sebaik-baiknya bagi kamu,
yaitu bagi orang yang mengharapkan Allah dan Hari Akhir, dan bagi yang banyak mengingat Allah. (Al-Ahzāb
[33]22).
Mengenai pentingnya mematuhi Allah Swt. sebagaimana yang disunnahkan
Nabi Besar Muhammad saw. Dia berfirman:
ؕ وَ مَاۤ
اٰتٰىکُمُ الرَّسُوۡلُ فَخُذُوۡہُ
٭ وَ مَا نَہٰىکُمۡ عَنۡہُ فَانۡتَہُوۡا ۚ
وَ اتَّقُوا اللّٰہَ ؕ اِنَّ اللّٰہَ
شَدِیۡدُ الۡعِقَابِ ۘ﴿﴾
“…..Dan apa yang diberikan Rasul kepada kamu maka
ambillah itu, dan apa yang dia melarang kamu darinya maka hindarilah,
dan bertakwalah kepada AllAh,
sesungguhnya hukuman Allah sangat keras.
(Al-Hasyr
[59]:8).
Kata-kata, dan
apa yang diberikan Rasul kepada kamu, maka ambillah, menun-jukkan bahwa sunnah Rasulullah saw. merupakan bagian
yang tidak dapat dipisahkan dari syariat
Islam.
Hakikat “Cahaya” yang “Berlari-lari”
Milik Para Penghuni Surga & Orang-orang Munafik di Akhirat Berada Dalam “Kegelapan” (Kebutaan)
Kata-kata وَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ -- “mereka akan kekal
di dalamnya” berkenaan dengan kehidupan
dalam surga di akhirat dalam QS.2:26
sebelum ini berarti bahwa orang-orang beriman di surga tidak akan pernah mengalami sesuatu perubahan atau kemunduran,
justru akan terus menerus semakin maju
dan sempurna keadaannya, yakni sibuk dalam berbagai aktivitas yang semakin membuat mereka
mengalami kemajuan (QS.36:56-59)
-- yang tidak akan membuat mereka
mengalami keletihan (QS.15:49;
QS.35:36) -- firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا تُوۡبُوۡۤا اِلَی
اللّٰہِ تَوۡبَۃً نَّصُوۡحًا ؕ عَسٰی
رَبُّکُمۡ اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ
سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ
مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۙ یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ النَّبِیَّ
وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ ۚ
نُوۡرُہُمۡ یَسۡعٰی بَیۡنَ
اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ
یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ
عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan
seikhlas-ikhlas taubat. Boleh jadi Rabb
(Tuhan) kamu akan menghapuskan dari kamu
keburukan-keburukanmu dan akan memasukkan
kamu ke dalam kebun-kebun
yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,
یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ النَّبِیَّ
وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ ۚ -- pada hari
ketika Allah tidak akan menghinakan
Nabi maupun orang-orang yang beriman
besertanya, نُوۡرُہُمۡ
یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ -- cahaya
mereka akan berlari-lari di hadapan
mereka dan di sebelah kanannya, یَقُوۡلُوۡنَ
رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ لَنَا
نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- mereka akan berkata: “Hai Rabb (Tuhan) kami, sempurnakanlah
bagi kami cahaya kami, dan maafkanlah
kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(At-Tahrīm
[66]:9).
“Cahaya”
yang “berlari-lari” bersama dua
golongan ahli surge itu pulalah yang diisyaratkan dalam firman-Nya berikut ini berkenaan dengan orang-orang munafik, firman-Nya:
یَوۡمَ
یَقُوۡلُ الۡمُنٰفِقُوۡنَ وَ
الۡمُنٰفِقٰتُ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوا انۡظُرُوۡنَا نَقۡتَبِسۡ مِنۡ نُّوۡرِکُمۡ
ۚ قِیۡلَ ارۡجِعُوۡا وَرَآءَکُمۡ
فَالۡتَمِسُوۡا نُوۡرًا ؕ فَضُرِبَ بَیۡنَہُمۡ بِسُوۡرٍ لَّہٗ بَابٌ ؕ بَاطِنُہٗ فِیۡہِ الرَّحۡمَۃُ وَ ظَاہِرُہٗ مِنۡ
قِبَلِہِ الۡعَذَابُ ﴿ؕ﴾ یُنَادُوۡنَہُمۡ اَلَمۡ
نَکُنۡ مَّعَکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی وَ لٰکِنَّکُمۡ فَتَنۡتُمۡ اَنۡفُسَکُمۡ وَ تَرَبَّصۡتُمۡ وَ ارۡتَبۡتُمۡ
وَ غَرَّتۡکُمُ الۡاَمَانِیُّ حَتّٰی جَآءَ
اَمۡرُ اللّٰہِ وَ غَرَّکُمۡ
بِاللّٰہِ الۡغَرُوۡرُ ﴿﴾
Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan orang-orang munafik perempuan akan berkata kepada orang-orang beriman: “Tunggulah kami supaya kami memperoleh sebagian cahaya kamu.”
Dikatakan: “Kembalilah ke belakang kamu dan carilah cahaya.” Maka akan didirikan di antara mereka dinding
yang berpintu, di dalamnya ada rahmat dan di luarnya ada azab. Mereka akan berseru kepada mereka yang
beriman: “Bukankah kami beserta kamu?”
Mereka yang beriman berkata: “Tidak,
bahkan kamu menjatuhkan diri kamu ke dalam
cobaan dan kamu menunggu kehancuran
kami dan kamu ragu serta keinginan
kamu yang sia-sia memperdayakan kamu,
hingga datang keputusan Allah dan si penipu telah menipu kamu mengenai Allah (Al-Hadīd
[57]:14-15).
Makna “Cahaya kamu” dalam ayat:
یَوۡمَ
یَقُوۡلُ الۡمُنٰفِقُوۡنَ وَ
الۡمُنٰفِقٰتُ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوا انۡظُرُوۡنَا نَقۡتَبِسۡ مِنۡ نُّوۡرِکُمۡ -- “Pada hari ketika orang-orang munafik
laki-laki dan orang-orang munafik perempuan akan berkata ke-pada orang-orang
beriman: “Tunggulah kami supaya kami memperoleh sebagian cahaya kamu” dapat diartikan, “cahaya keimanan kamu dan amal
shalih kamu” atau, “cahaya makrifat
Ilahi” dan “cahaya kemampuan mencari dan mencapai keridhaan Allah Swt.” di dunia ini juga.
Kata warā’akum dalam ayat selanjutnya: قِیۡلَ ارۡجِعُوۡا وَرَآءَکُمۡ فَالۡتَمِسُوۡا نُوۡرًا -- Dikatakan: “Kembalilah ke belakang
kamu dan carilah cahaya” dapat
diartikan “kemballah ke dalam kehidupan di dunia jika kalian mampu” ini, sebab
di dalam kehidupan di dunia -- melalui
iman dan amal shaleh -- itulah
cara memperoleh “cahaya” yang
akan menyertai orang-orang di akhirat.
Kata “dinding” dalam ayat: فَضُرِبَ بَیۡنَہُمۡ بِسُوۡرٍ لَّہٗ بَابٌ ؕ بَاطِنُہٗ فِیۡہِ الرَّحۡمَۃُ وَ ظَاہِرُہٗ مِنۡ
قِبَلِہِ الۡعَذَابُ -- “Maka akan didirikan di antara
mereka dinding yang berpintu, di dalamnya ada rah-mat dan di luarnya ada azab“ boleh diartikan dinding Islam atau
dinding Al-Quran. Karena orang-orang
munafik tinggal di sebelah luar dinding
itu, maka tindakan mereka itu di akhirat akan mengambil bentuk seperti
sebuah dinding atau dalam bentuk kebutaan mata ruhani (QS.17:73; QS.20:125-129).
Makna Memohon Maghfirah Ilahi Para Penghuni
Surga
Jadi, kembali kepada surah At-Tahrīm ayat 9 sebelumnya, makna
ayat: رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ لَنَا
نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- “Hai Rabb (Tuhan) kami, sempurnakanlah bagi
kami cahaya kami, dan
maafkanlah kami, sesungguhnya
Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” Keinginan tidak kunjung padam bagi kesempurnaan pada pihak orang-orang yang beriman di surga -- sebagaimana diungkapkan dalam kata-kata, “Hai Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya
kami“ -- menunjukkan bahwa kehidupan
di surga itu bukanlah kehidupan
menganggur dan berleha-leha
belaka sebagaimana umumnya disalah-tafsirkan.
Kenyataan tersebut tidak
dapat dipisahkan dari kata yas-‘a
(berlari-lari) berkenaan cahaya yang
menyertai dua golongan ahli surga
dalam ayat sebelumnya: یَوۡمَ لَا
یُخۡزِی اللّٰہُ النَّبِیَّ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ ۚ -- pada
hari ketika Allah tidak akan menghinakan Nabi maupun orang-orang yang beriman besertanya, نُوۡرُہُمۡ یَسۡعٰی بَیۡنَ
اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ -- cahaya mereka akan berlari-lari di hadapan mereka dan di sebelah kanannya.”
Penyempurnaan “cahaya” miliki para ahli surga tersebut terus
berlangsung di dalam surga
sebagaimana doa yang dipanjatkan para
ahli surga dalam ayat lanjutannya: یَقُوۡلُوۡنَ
رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ لَنَا
نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- mereka akan berkata: “Hai Rabb (Tuhan) kami, sempurnakanlah
bagi kami cahaya kami, dan maafkanlah
kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(At-Tahrīm
[66]:9).
Jadi, kemajuan ruhani di surga tiada berhingga, sebab apabila orang-orang beriman akan mencapai kesempurnaan -- yang menjadi ciri tingkat tertentu dalam surga
-- mereka tidak akan berhenti sampai di situ, melainkan serentak terlihat di hadapannya ada tingkat kesempurnaan lebih tinggi, dan diketahuinya bahwa tingkat yang didapati olehnya itu bukan tingkat tertinggi maka ia akan maju terus dan seterusnya tanpa berakhir. Itulah makna ayat: رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ لَنَا نُوۡرَنَا -- “Hai
Rabb (Tuhan) kami, sempurnakanlah
bagi kami cahaya kami. “
Selanjutnya makna ayat:
وَ اغۡفِرۡ
لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- “dan maafkanlah
kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” tampak bahwa setelah masuk surga orang-orang beriman akan mencapai maghfirah – penutupan kekurangan (Lexicon Lane).
Mereka akan terus-menerus
berdoa kepada Allah Swt. untuk mencapai kesempurnaan dan sama sekali tenggelam
dalam Nur Ilahi dan akan terus naik kian menanjak ke atas, dan memandang tiap-tiap tingkat surgawi sebagai ada kekurangan dibandingkan dengan tingkatan
surgawi lebih tinggi, yang didambakan
oleh mereka, dan karena itu akan berdoa
kepada Allah Swt. supaya Dia menutupi
ketidaksempurnaannya sehingga mereka akan mampu mencapai tingkat surgawi yang lebih tinggi itu.
Inilah makna yang
sesungguhnya mengenai istighfar, yang secara harfiah berarti “mohon ampunan atas segala kealpaan” yang
orang banyak salah-memahami kata istighfar dan maghfirah berkenaan dengan Nabi Besar Muhammad saw., Dia berfirman:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ اِنَّا فَتَحۡنَا لَکَ فَتۡحًا مُّبِیۡنًا ۙ﴿﴾ لِّیَغۡفِرَ
لَکَ اللّٰہُ مَا تَقَدَّمَ مِنۡ
ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ وَ یُتِمَّ نِعۡمَتَہٗ عَلَیۡکَ وَ یَہۡدِیَکَ صِرَاطًا مُّسۡتَقِیۡمًا
ۙ﴿﴾ وَّ یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ نَصۡرًا عَزِیۡزًا ﴿﴾
Aku baca dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah memberi engkau satu kemenangan nyata. Supaya Allah melindungi engkau dari
dosa-dosa yang dibuat terhadap engkau di masa lalu dan di masa yang akan datang, dan Dia
menyempurnakan nikmat-Nya atas engkau, dan memberi petunjuk kepada engkau pada jalan yang lurus, dan Allah
akan menolong engkau dengan pertolongan
yang perkasa. (Al-Fath [48]:1-4).
Ayat 3 dengan sengaja disalahtafsirkan, atau,
karena kekurangan pengetahuan tentang
muhawarah (idiom) dan frasa bahasa Arab, disalahartikan oleh
beberapa penulis Kristen seakan
mengandung arti, bahwa Nabi Besar Muhammad saw. mempunyai kesalahan-kesalahan akhlaki, padahal dengan tegas Allah Swt.
berfirman mengenai kesempurnaan akhlak
dan ruhani
beliau saw.:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ نٓ وَ الۡقَلَمِ وَ مَا یَسۡطُرُوۡنَ ۙ﴿﴾ مَاۤ
اَنۡتَ بِنِعۡمَۃِ رَبِّکَ بِمَجۡنُوۡنٍ ۚ﴿﴾ وَ
اِنَّ لَکَ لَاَجۡرًا غَیۡرَ مَمۡنُوۡنٍ ۚ﴿﴾ وَ
اِنَّکَ لَعَلٰی خُلُقٍ عَظِیۡمٍ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
Nūn, demi tempat tinta dan pena
dan apa yang mereka tulis. Dengan nikmat
Rabb (Tuhan) engkau, engkau sekali-kali bukanlah orang gila.
Dan sesungguhnya bagi engkau benar-benar ada ganjaran tanpa
putus-putusnya. وَ اِنَّکَ لَعَلٰی خُلُقٍ
عَظِیۡمٍ -- Dan sesungguhnya engkau benar-benar memiliki akhlak yang agung. (Al-Qalam
[68]:1-5).
Memilik Akhlak
dan Ruhani yang Paling Luhur (Agung)
Dalam ayat 2 ini tempat tinta dan pena
serta semua sarana tulis-menulis
disebutkan sebagai bukti guna
mendukung serta membenarkan pernyataan
yang dibuat pada tiga ayat berikutnya.
Ayat ini berarti bahwa dengan ujian pengetahuan dan penalaran apa pun dakwa Nabi Besar Muhammad saw.
diselidiki, beliau saw.
akan terbukti bukan orang yang dihinggapi penyakit gila seperti dikatakan oleh orang-orang kafir, melainkan beliau saw.
orang berakal sehat sesehat-sehatnya dan bijaksana sebijaksana-bijaksananya. Ayat berikutnya memberikan alasan-alasan mengapa tuduhan itu bukan saja tanpa
dasar apa pun tetapi juga amat bodoh dan khayali.
Ayat 3 bersama ayat berikutnya, dengan ampuh sekali
membukakan serta menampakkan kejanggalan
tuduhan bahwa Nabi Besar Muhammad
saw. telah menjadi gila. Ayat ini bermaksud mengatakan bahwa perbuatan orang gila tidak membuahkan hasil kekal abadi lagi berguna,
tetapi Nabi Besar Muhammad saw. hanya dalam waktu 23 tahun saja berhasil menyempurnakan tujuan dan tugas Ilahi dan dalam menciptakan suatu revolusi yang menakjubkan
dalam kehidupan kaum beliau yang sudah merosot dan rendah derajatnya (QS.62:3).
Dan revolusi itu tidak berakhir dengan wafat beliau saw., karena manakala
pengikut-pengikut beliau saw. menyimpang dari jalan lurus di masa yang akan datang, Allah Swt. di setiap abad senantiasa membangkitkan di antara mereka mujaddid-mujaddid yang akan memperbaharui keimanan dan pengetahuan mereka
dan akan meresapkan ke dalam diri mereka kehidupan
baru. Dan peristiwa ini akan berlangsung terus hingga Akhir Zaman (QS.62:3-4).
Ayat وَ اِنَّکَ لَعَلٰی خُلُقٍ
عَظِیۡمٍ -- “Dan sesungguhnya engkau benar-benar memiliki akhlak yang agung” ini
merupakan ulasan lebih lanjut mengenai kejanggalan
yang dituduhkan kepada Nabi Besar
Muhammad saw. seakan-akan
beliau saw. gila. Menurut ayat ini Nabi
Besar Muhammad saw. tidak
sakit jiwa bahkan beliau saw.
adalah yang paling mulia dan paling
sempurna di antara umat manusia dan
yang memiliki segala kesempurnaan akhlak
dalam ukuran sepenuhnya, kesemua sifat
itu bersama-sama membuat sang pemiliknya itu
jadi gambaran sempurna Khāliqnya (Penciptanya – QS.53:8-11).
Nabi Besar Muhammad saw. adalah perwujudan
sepenuhnya segala nilai akhlak baik
yang bisa dimiliki manusia. Segala nilai akhlak tinggi berpadu pada pribadi
beliau saw. dalam suatu keseluruhan yang
sempurna lagi serasi. Siti ‘Aisyah r.a., istri beliau saw. yang sangat
berbakat, ketika pada sekali peristiwa diminta menerangkan secara ringkas dan
tepat peri keadaan Nabi Besar
Muhammad saw., berkata: “Beliau memiliki
segala keagungan akhlak yang disebut dalam Al-Quran sebagai ciri-ciri istimewa
seorang hamba Allāh yang sejati” (Bukhari),
selaras dengan pernyataan Allah Swt., firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ
لَکُمۡ فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ
الۡیَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَ ذَکَرَ
اللّٰہَ کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Sungguh dalam
diri Rasulullah benar-benar terdapat suri
teladan yang sebaik-baiknya bagi kamu,
yaitu bagi orang yang mengharapkan Allah dan Hari Akhir, dan bagi yang banyak mengingat Allah. (Al-Ahzāb
[33]22).
Bersifat Ma’shum (Terbebas Dari Dosa)
Telah merupakan salah satu dari Rukun
Islam, sebagaimana diperintakan oleh Al-Quran, bahwa para nabi Allah dilahirkan ma’shum (bersih dari dosa) dan tetap ma’shum seumur hidup. Mereka tidak mengatakan ataupun melakukan sesuatu
yang bertentangan dengan perintah Ilahi
(QS.21:28- -- teruatama Nabi Besar Muhammad saw. QS.53:3-11)
-- oleh karena mereka diutus
oleh Allah Swt. untuk membersihkan manusia dari dosa, maka tidaklah mungkin mereka
sendiri berbuat dosa. Dan dari antara
utusan-utusan Allah, Nabi Besar Muhammad saw. itu paling
mulia dan paling suci.
Al-Quran mengandung banyak sekali ayat-ayat
yang menyebut dengan kata-kata yang ceria
mengenai kesucian dan kema’shuman
hidup beliau saw. (QS.2:130; QS.3:32 & 165; QS.6:163; QS.7:158; QS.8:25;
QS.33:22; QS.48:11; QS.53:3-4; QS.68:5; dan QS.81:20-22).
Berkenaan ungkapan liyaghfira dalam surah lainnya Allah Swt. berfirman
kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
فَاصۡبِرۡ اِنَّ وَعۡدَ اللّٰہِ حَقٌّ وَّ اسۡتَغۡفِرۡ
لِذَنۡۢبِکَ وَ سَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّکَ بِالۡعَشِیِّ وَ الۡاِبۡکَارِ ﴿﴾
Maka bersabarlah sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mintalah ampunan bagi mereka atas
dosa yang diperbuat mereka terhadap engkau dan bertasbihlah
dengan pujian Rabb (Tuhan) engkau pada waktu pe-tang dan pagi. (Al-Mu’min
[40]:56).
Ungkapan “Ghafar
al-Mata’a” berarti: ia meletakkan barang-barang itu dalam kantong, lalu
menutupi dan melindungi barang-barang itu. Ghafran dan maghfirah kedua-duanya
isim masdar (infinitive nouns) dari ghafara dan berarti perlindungan
serta pemeliharaan. Mighfar berarti topi baja karena topi baja melindungi kepala. Dzanb
berarti kekurangan atau kelemahan yang membawa akibat merugikan. Dzanba-hu
berarti: ia mengikuti jejaknya, tidak beranjak dari jejaknya (Lexicon Lane & Mufradat).
Istighfar bukan saja diperlukan oleh orang-orang beriman golongan awam,
melainkan juga oleh wujud-wujud suci,
bahkan oleh nabi-nabi Allah.
Sementara golongan pertama (golongan awam) membawa istighfar untuk mencari perlindungan
terhadap dosa-dosa yang akan datang dan pula terhadap akibat-akibat buruk kesalahan dan kekeliruan yang diperbuat di masa lalu, maka golongan kedua (orang-orang
suci dan para nabi Allah) mohon
perlindungan terhadap kealpaan
dan kelemahan manusiawi yang dapat
merintangi kemajuan misi mereka.
Nabi-nabi Allah pun adalah makhluk
manusia dan walau mereka terpelihara
dari dosa (ma’shum) namun mereka pun
diwarisi kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan insani maka mereka memerlukan istighfar guna
memohon pertolongan dan perlindungan Allah
Swt..
Dzanbaka dalam ayat: وَّ اسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۡۢبِکَ -- berarti “dan mohonkan ampunan
terhadap dosa-dosa yang diperbuat terhadap engkau” (QS.48:3) atau “dosa-dosa
yang dituduhkan musuh-musuh engkau seakan-akan engkaulah melakukan dosa-dosa
itu”; atau “kealpaan dan kelemahan engkau
sebagai manusia”.
Seseorang yang mempunyai martabat akhlak begitu sempurna seperti Nabi Besar Muhammad saw. yang telah mengangkat derajat seluruh bangsa — yang
telah tenggelam ke dalam lubuk kejahatan akhlak sampai ke dasar yang paling dalam — ke puncak kemuliaan ruhani tertinggi (QS.63:2)
tidak mungkin mempunyai kelemahan-kelemahan
akhlak demikian, seperti dengan sia-sia
telah dituduhkan oleh orang-orang
yang biasa memperolok-olokkan beliau
saw..
Sepatah kata sederhana dan polos, dzanb,
telah dimanfaatkan untuk memfitnah Nabi Besar Muhammad saw.. Kata itu berarti kelemahan-kelemahan yang melekat pada sifat insane, atau pada kesalahan-kesalahan yang diprakirakan
akan menimbulkan akibat-akibat merugikan.
Ayat ini mengandung arti bahwa Allah Swt. akan melindungi Nabi Besar
Muhammad saw. terhadap akibat-akibat
merugikan yang akan datang kemudian sesudah kemenangan yang dijanjikan
seperti telah diisyaratkan oleh ayat sebelumnya (QS.48:2; QS.110:1-4).
Pentingnya Memohon Maghfirah
Ilahi Pada Masa Kemenangan
Oleh karena itu berbondong-bondong orang akan masuk Islam maka dengan sendirinya penggemblengan
dan pemeliharaan akhlak dan keruhanian mereka tidak akan mencapai taraf yang diharapkan. Itulah sebabnya
tatkala dalam Al-Quran keberhasilan
dan kemenangan dijanjikan kepada Nabi Besar Muhammad saw., pada waktu itu diperintahkan
supaya memohon perlindungan Allah terhadap
dzanb beliau saw., yakni kelemahan-kelemahan insani yang akan menghalangi jalan pelaksanaan tugas besar beliau saw., firman-Nya kepada Nabi Besar
Muhammad saw.:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ اِذَا جَآءَ
نَصۡرُ اللّٰہِ وَ الۡفَتۡحُ ۙ﴿﴾ وَ رَاَیۡتَ النَّاسَ یَدۡخُلُوۡنَ فِیۡ دِیۡنِ اللّٰہِ اَفۡوَاجًا ۙ﴿﴾ فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّکَ
وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ تَوَّابًا ٪﴿﴾
Aku baca dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau
melihat manusia masuk dalam agama Allah
berbondong-bondong, فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ تَوَّابًا -- maka bertasbihlah
dengan memuji Rabb (Tuhan) engkau, dan mohonlah
ampunan-Nya, sesungguhnya Dia
Maha Penerima taubat. (An-Nashr [110]:1-4).
Makna
ayat kedua dan ketiga bahwa karena janji Allah Swt. telah menjadi sempurna, dan manusia
mulai berduyun-duyun masuk Islam, maka Nabi Besar Muhammad saw. di
sini diperintahkan Allah Swt. agar bersyukur kepada Tuhan-nya karena Dia telah memenuhi
janji-Nya, agar beliau saw. mendendangkan puji-pujian bagi-Nya.
Dalam
ayat selanjutnya sini dikatakan kepada Nabi Besar Muhammad saw. bahwa oleh karena kemenangan telah datang kepada beliau saw. dan Islam
telah berkuasa di seluruh negeri, dan musuh-musuh yang dahulu melakukan penentangan keras telah
menjadi pengikut beliau saw. yang mukhlis, maka beliau saw. harus berdoa, supaya Allah Swt. memaafkan
kesalahan-kesalahan besar yang pernah dilakukan mereka terhadap beliau saw. pada masa lampau.
Rupa-rupanya inilah arti dan maksud perintah
kepada Nabi Besar Muhammad saw. supaya memohon ampunan kepada Allah Swt.. Atau artinya ialah bahwa Nabi Besar Muhammad saw. diperintahkan supaya memohon perlindungan Ilahi terhadap kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan yang dapat menyelinap ke dalam tubuh jemaat kaum Muslimin, disebabkan para muallaf kurang
mendapat pengajaran atau pendidikan yang memadai.
Adalah sangat bermakna bahwa manakala di dalam Al-Quran disebutkan
perihal kemenangan atau perihal keberhasilan besar lainnya datang kepada
Nabi Besar Muhammad saw., kepada beliau saw. selalu diperintahkan agar memohon ampunan Tuhan dan perlindungan-Nya.
Hal itu jelas menunjukkan, bahwa dalam
ayat ini pun, -- sebagaimana telah
dijelaskan sebelumnya -- beliau saw. diperintahkan
agar memohon
ampunan Allah dan perlindungan-Nya,
bukan bagi diri beliau saw. sendiri,
melainkan bagi orang-orang lain,
yaitu beliau saw. diperintahkan agar berdoa
bilamana ada bahaya datang, ketika
para pengikut beliau saw. menyimpang
dari asas-asas dan ajaran-ajaran Islam, semoga kiranya Allah
Swt. menyelamatkan mereka dari kemelut serupa itu.
Jadi, di sini -- dan dalam berbagai surah lainnnya -- sama
sekali bukan berarti bahwa, Nabi Besar
Muhammad saw. beristighfar bagi salah satu perbuatan beliau saw. sendiri. Menurut
Al-Quran, beliau saw. menikmati kekebalan
mutlak terhadap segala macam kelemahan
akhlak atau terhadap penyimpangan
dari jalan lurus.
Berbagai Arti Junah, Jurm, Itsm, dan Dzanb
Kenyataannya, bahwa dari keempat
kata junah, jurm, itsm, dan dzanb, yang memiliki arti tambahan
yang sama, tiada sebuah pun dari ketiga kata yang disebut terlebih dahulu (junah,
jurm, itsm), yang dipergunakan dalam Al-Quran mengenai rasul-rasul Allah, menunjukkan, bahwa dzanb tidak mengandung
arti buruk seperti dimiliki ketiga buah kata lainnya.
Kecuali itu, menurut muhawarah Al-Quran
ungkapan dzanbaka, seandainya kata dzanb itu pun dianggap
mengandung arti dosa atau kejahatan, kata itu berarti “dosa-dosa yang dituduhkan seolah engkau
telah melakukannya”; atau “dosa-dosa
yang diperbuat terhadap engkau,” bukan “dosa-dosa
engkau.”
Menurut arti yang terakhir bagi kata dzanb
itu, kata Arab laka dalam ayat ini akan berarti “demi kepentingan dikau.” Di tempat lain
dalam Al-Quran (QS.5:30) ungkapan seperti itu, ialah itsmi (dosaku),
berarti “dosa yang diperbuat terhadapku.”
Jadi,
kembali kepada ayat-ayat yang sedang dibahas ini (QS.48:1-4),
firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ اِنَّا فَتَحۡنَا لَکَ فَتۡحًا مُّبِیۡنًا ۙ﴿﴾ لِّیَغۡفِرَ
لَکَ اللّٰہُ مَا تَقَدَّمَ مِنۡ
ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ وَ یُتِمَّ نِعۡمَتَہٗ عَلَیۡکَ وَ یَہۡدِیَکَ صِرَاطًا
مُّسۡتَقِیۡمًا ۙ﴿﴾ وَّ یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ نَصۡرًا عَزِیۡزًا ﴿﴾
Aku baca dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah mem-beri engkau satu kemenangan nyata. Supaya
Allah melindungi engkau dari
dosa-dosa yang dibuat terhadap engkau di masa lalu dan di masa yang akan datang, dan Dia
menyempurnakan nikmat-Nya atas engkau, dan memberi petunjuk kepada engkau pada jalan yang lurus, dan Allah
akan menolong engkau dengan pertolongan
yang perkasa. (Al-Fath [48]:1-4).
Ayat-ayat itu akan berarti, sebagai akibat kemenangan besar — Perjanjian Hudaibiyah — itu, semua tuduhan dosa, kejahatan, dan kesalahan
yang dilemparkan musuh-musuh Nabi Besar Muhammad saw. kepada beliau saw., yakni bahwa beliau saw.
– na’udzubillāhi min dzālik -- seorang penipu, pendusta atau
tukang mengada-ada kebohongan
terhadap Allah dan manusia, dan
sebagainya, akan terbukti palsu semua,
sebab segala macam orang, yang mempunyai hubungan
dengan para pengikut beliau saw. akan menjumpai kebenaran mengenai beliau saw. (QS.68:1-7).
Atau, artinya ialah bahwa “dosa-dosa yang diperbuat terhadap engkau
oleh musuh-musuh engkau akan diampuni demi engkau”. Dan begitulah yang
telah terjadi, ketika Mekkah jatuh dan orang-orang Arab menerima agama Islam,
dosa mereka diampuni. Hubungan kalimatnya pun mendukung arti ini, sebab
anugerah kemenangan yang nyata dan penggenapan nikmat Ilahi atas Nabi
Besar Muhammad saw. diisyaratkan
dalam ayat ini dan ayat sebelum ini agaknya tidak mempunyai perhubungan apa pun
dengan pengampunan terhadap dosa-dosa, jika dzanb dianggap berarti dosa.
Kata-kata, “di masa lalu dan di masa yang akan datang”, maksudnya tuduhan-tuduhan yang dilemparkan kepada Nabi Besar Muhammad saw. di
masa lalu oleh orang-orang Quraisy
dan tuduhan-tuduhan yang akan
dilemparkan terhadap beliau saw. di masa
yang akan datang – yakni di Akhir Zaman ini -- oleh musuh-musuh
beliau saw. pun akan dielakkan dan
beliau saw. akan terbukti sama sekali suci
dari noda itu.
Ada pun janji
datangnya pertolongan Ilahi datang dalam bentuk tersebarnya agama Islam secara cepat
di tanah Arab sesudah penandatanganan perjanjian Hudaibiyah,
dan Nabi Besar Muhammad saw. diakui
sebagai Kepala Negara satu pemerintah yang merdeka dan berdaulat.
(Bersambung)
ooo
Rujukan: The
Holy Quran
Editor : Malik
Ghulam Farid
Pajajaran Anyar, 17 Juli 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar