Minggu, 16 Juli 2017

Peran "Maghfirah Ilahi" (Pengampunan Allah Swt.) Bagi Kemajuan Derajat Para "Penghuni Surga" & Keagungan "Akhlak dan Ruhani" Nabi Besar Muhammad saw. dan Makna "Istighfar" Para Nabi Allah


 Bismillāhirrahmānirrahīm


KHAZANAH  AL-QURAN 

Bab 7

PERAN MAGHFIRAH ILAHI (PENGAMPUNAN ALLAH SWT.) BAGI KEMAJUAN DERAJAT PARA PENGHUNI SURGA   &  KEAGUNGAN AKHLAK DAN RUHANI NABI BESAR MUHAMMAD SAW.  DAN MAKNA ISTIGHFAR   PARA NABI ALLAH

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir bab sebelumnya  telah dikemukakan  topic: Pentingnya Mentaati Al-Quran dan Sunnah Nabi Besar Muhammad Saw.  sehubungan dengan para “bidadari surgawi” – yang  dikemukakan dalam berbagai surah Al-Quran, antara lain  Surah Al-Thūr, Al-Rahmān, dan Al-Wāqi’ah   --  yang pada hakikatnya adalah para perempuan bertakwa di dunia ini  yang merupakan  calon  ahli surga  -- bukan “makhluk lain“   -- yang  pada hakikatnya  merupakan pengabulan dari doa yang diajarkan Allah Swt. kepada para suami yang bertakwa, firman-Nya:
وَ الَّذِیۡنَ یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَا ہَبۡ لَنَا مِنۡ اَزۡوَاجِنَا وَ ذُرِّیّٰتِنَا قُرَّۃَ اَعۡیُنٍ وَّ اجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِیۡنَ اِمَامًا ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ یُجۡزَوۡنَ الۡغُرۡفَۃَ بِمَا صَبَرُوۡا وَ یُلَقَّوۡنَ فِیۡہَا تَحِیَّۃً وَّ سَلٰمًا ﴿ۙ﴾   خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ؕ حَسُنَتۡ مُسۡتَقَرًّا وَّ مُقَامًا ﴿﴾ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ؕ حَسُنَتۡ مُسۡتَقَرًّا وَّ مُقَامًا ﴿﴾
Dan orang-orang yang mengatakan: “Ya Rabb (Tuhan) kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami menjadi penyejuk mata kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” Mereka itulah yang akan dianugerahi  kamar-kamar tinggi di surga karena mereka bersabar, dan mereka akan disambut di dalamnya dengan penghormatan dan doa selamat, Mereka akan  kekal di dalamnya, itulah sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. (Al-Furqān [25]:75-77).

Pentingnya Mentaati Al-Quran dan Sunnah Nabi Besar Muhammad Saw.

     Jadi, jika ada cara-cara lain untuk memperoleh “bidadari surgawi” yang bertentangan dengan firman-firman Allah Swt. tersebut maka cara-cara tersebut bukan  ajaran Islam yang difahami dan diamalkan oleh Nabi Besar Muhammad saw.  yang merupakan rahmat bagi seluruh alam (QS.21:108).
      Dalam ayat selanjutnya Allah Swt. dengan tegas  berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw. mengenai pentingnya melaksanakan ibadah dengan benar kepada-Nya sebagaimana yang beliau saw. contohnya (QS.3:32; QS.33:22):
قُلۡ مَا یَعۡبَؤُا بِکُمۡ رَبِّیۡ لَوۡ لَا دُعَآؤُکُمۡ ۚ فَقَدۡ کَذَّبۡتُمۡ فَسَوۡفَ یَکُوۡنُ لِزَامًا ﴿٪﴾
Katakanlah: Rabb-ku (Tuhan-ku) tidak akan mempedulikan kamu jika tidak karena doa kamu, maka sungguh kamu telah mendustakan maka segera   azab  menimpa kamu.” (Al-Furqān [25]:78).
       Makna ayat tersebut adalah, bahwa kecuali melaksanakan peribadahan  -- yakni memenuhi huququllāh dan huququl- ‘ibād  -- sebagaimana yang dicontohkan Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32; QS.33:22), sehingga beliau saw. benar-nenar merupakn rasul Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam (QS.21:108) dan umat Islam terbukti sebagai “umat terbaik” bagi manfaat umat manusia (QS.2:144; QS.3:111) --  Allah Swt. tidak akan mempedulikan (akan menolak) cara-cara lainnya yang bertentangan dengan Sunnah Nabi Besar Muhammad saw.,  firman-Nya:
قُلۡ  اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾  قُلۡ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ ۚ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah:  Jika kamu   mencintai Allah maka ikutilah aku,  Allah pun akan mencintai kamu dan akan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”   Katakanlah:   Taatilah Allah dan Rasul ini”, kemudian jika mereka berpaling maka ketahuilah sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir. (Ali ‘Imran [3]:32-33).
Firman-Nya lagi:
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ  فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ  اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ  لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ الۡیَوۡمَ  الۡاٰخِرَ  وَ ذَکَرَ  اللّٰہَ  کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Sungguh dalam  diri Rasulullah benar-benar terdapat  suri teladan yang sebaik-baiknya  bagi kamu, yaitu bagi  orang yang mengharapkan Allah dan Hari Akhir,  dan bagi yang banyak mengingat Allah. (Al-Ahzāb [33]22).
       Mengenai pentingnya mematuhi  Allah Swt. sebagaimana  yang disunnahkan Nabi Besar Muhammad saw. Dia berfirman:
ؕ وَ مَاۤ  اٰتٰىکُمُ الرَّسُوۡلُ  فَخُذُوۡہُ ٭ وَ مَا نَہٰىکُمۡ  عَنۡہُ فَانۡتَہُوۡا ۚ وَ  اتَّقُوا اللّٰہَ ؕ اِنَّ اللّٰہَ شَدِیۡدُ الۡعِقَابِ ۘ﴿﴾
“…..Dan apa yang diberikan Rasul kepada kamu maka ambillah itu,  dan apa   yang dia melarang kamu darinya  maka hindarilah, dan bertakwalah kepada AllAh, sesungguhnya  hukuman Allah sangat keras. (Al-Hasyr [59]:8).
   Kata-kata, dan apa yang diberikan Rasul kepada kamu, maka ambillah, menun-jukkan bahwa sunnah Rasulullah saw. merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari syariat Islam.

Hakikat “Cahaya” yang “Berlari-lari” Milik Para Penghuni Surga  & Orang-orang Munafik di Akhirat Berada Dalam “Kegelapan” (Kebutaan) 

   Kata-kata  وَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ --  “mereka akan kekal di dalamnya” berkenaan dengan kehidupan dalam surga di akhirat dalam QS.2:26 sebelum ini berarti bahwa orang-orang beriman di surga tidak akan pernah mengalami sesuatu perubahan atau kemunduran, justru akan terus menerus semakin maju dan sempurna keadaannya,  yakni sibuk dalam berbagai aktivitas yang semakin membuat mereka mengalami kemajuan (QS.36:56-59) --  yang tidak akan membuat mereka mengalami keletihan (QS.15:49; QS.35:36) -- firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا تُوۡبُوۡۤا  اِلَی اللّٰہِ تَوۡبَۃً  نَّصُوۡحًا ؕ عَسٰی رَبُّکُمۡ  اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ  مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۙ یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ  النَّبِیَّ  وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ ۚ  نُوۡرُہُمۡ  یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ  یَقُوۡلُوۡنَ  رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan seikhlas-ikhlas taubat. Boleh jadi Rabb (Tuhan) kamu akan menghapuskan dari kamu keburukan-keburukanmu dan akan memasukkan kamu ke dalam  kebun-kebun yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ  النَّبِیَّ  وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ ۚ     -- pada hari ketika Allah tidak akan menghinakan Nabi maupun orang-orang yang beriman besertanya,  نُوۡرُہُمۡ  یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ    -- cahaya mereka akan berlari-lari di hadapan mereka dan  di sebelah kanannyaیَقُوۡلُوۡنَ  رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ --  mereka  akan berkata: “Hai Rabb (Tuhan) kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami,  dan maafkanlah kami,  sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (At-Tahrīm [66]:9).
      “Cahaya” yang “berlari-lari” bersama dua golongan ahli surge  itu pulalah yang diisyaratkan dalam  firman-Nya berikut ini berkenaan dengan orang-orang munafik, firman-Nya:
یَوۡمَ یَقُوۡلُ  الۡمُنٰفِقُوۡنَ وَ الۡمُنٰفِقٰتُ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوا انۡظُرُوۡنَا نَقۡتَبِسۡ مِنۡ نُّوۡرِکُمۡ ۚ  قِیۡلَ ارۡجِعُوۡا وَرَآءَکُمۡ فَالۡتَمِسُوۡا نُوۡرًا ؕ فَضُرِبَ بَیۡنَہُمۡ بِسُوۡرٍ لَّہٗ  بَابٌ ؕ بَاطِنُہٗ  فِیۡہِ الرَّحۡمَۃُ وَ ظَاہِرُہٗ  مِنۡ  قِبَلِہِ  الۡعَذَابُ  ﴿ؕ﴾ یُنَادُوۡنَہُمۡ  اَلَمۡ  نَکُنۡ مَّعَکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی وَ لٰکِنَّکُمۡ فَتَنۡتُمۡ  اَنۡفُسَکُمۡ وَ تَرَبَّصۡتُمۡ وَ ارۡتَبۡتُمۡ وَ غَرَّتۡکُمُ الۡاَمَانِیُّ حَتّٰی جَآءَ  اَمۡرُ اللّٰہِ  وَ غَرَّکُمۡ بِاللّٰہِ الۡغَرُوۡرُ ﴿﴾
Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan orang-orang munafik perempuan akan berkata kepada orang-orang beriman: “Tunggulah kami supaya kami memperoleh sebagian cahaya kamu.”  Dikatakan: “Kembalilah ke belakang kamu dan carilah cahaya.” Maka akan didirikan di antara mereka dinding  yang berpintu, di dalamnya ada rahmat dan di luarnya ada azab.   Mereka  akan berseru kepada mereka yang beriman:Bukankah kami beserta kamu?” Mereka yang beriman berkata: “Tidak, bahkan  kamu menjatuhkan diri kamu ke dalam cobaan dan kamu menunggu kehancuran kami dan kamu ragu serta keinginan kamu yang sia-sia memperdayakan kamu, hingga datang keputusan Allah  dan  si penipu telah  menipu kamu mengenai Allah   (Al-Hadīd [57]:14-15).
  Makna  “Cahaya kamu”  dalam ayat:  یَوۡمَ یَقُوۡلُ  الۡمُنٰفِقُوۡنَ وَ الۡمُنٰفِقٰتُ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوا انۡظُرُوۡنَا نَقۡتَبِسۡ مِنۡ نُّوۡرِکُمۡ   --  “Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan orang-orang munafik perempuan akan berkata ke-pada orang-orang beriman: “Tunggulah kami supaya kami memperoleh sebagian cahaya kamu”  dapat diartikan, “cahaya keimanan kamu dan amal shalih kamu” atau, “cahaya makrifat Ilahi”  dan “cahaya kemampuan mencari dan mencapai keridhaan Allah Swt.”  di dunia ini juga.
    Kata warā’akum  dalam ayat selanjutnya:  قِیۡلَ ارۡجِعُوۡا وَرَآءَکُمۡ فَالۡتَمِسُوۡا نُوۡرًا  -- Dikatakan: “Kembalilah ke belakang kamu  dan carilah cahaya”  dapat diartikan  “kemballah ke dalam kehidupan di dunia jika kalian mampu” ini, sebab di dalam kehidupan di dunia   -- melalui  iman dan amal shaleh   --  itulah     cara memperoleh “cahaya” yang akan menyertai orang-orang di akhirat.  
    Kata “dinding”  dalam ayat: فَضُرِبَ بَیۡنَہُمۡ بِسُوۡرٍ لَّہٗ  بَابٌ ؕ بَاطِنُہٗ  فِیۡہِ الرَّحۡمَۃُ وَ ظَاہِرُہٗ  مِنۡ  قِبَلِہِ  الۡعَذَابُ    -- “Maka akan didirikan di antara mereka dinding yang berpintu, di dalamnya ada rah-mat dan di luarnya ada azab“ boleh diartikan dinding Islam atau dinding Al-Quran. Karena orang-orang munafik tinggal di sebelah luar dinding itu, maka tindakan mereka itu di akhirat akan mengambil bentuk seperti sebuah dinding atau dalam bentuk kebutaan mata ruhani   (QS.17:73; QS.20:125-129).

Makna Memohon Maghfirah Ilahi  Para Penghuni Surga

     Jadi, kembali kepada surah At-Tahrīm ayat 9 sebelumnya, makna ayat:   رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ  --  “Hai Rabb (Tuhan) kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami,  dan maafkanlah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”  Keinginan tidak kunjung padam bagi kesempurnaan pada pihak orang-orang yang beriman di surga   -- sebagaimana diungkapkan dalam kata-kata, “Hai  Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami“ -- menunjukkan bahwa kehidupan di surga itu bukanlah kehidupan menganggur dan berleha-leha belaka sebagaimana umumnya disalah-tafsirkan.
    Kenyataan tersebut tidak dapat dipisahkan dari kata yas-‘a (berlari-lari) berkenaan cahaya yang menyertai  dua golongan  ahli surga dalam ayat sebelumnya: یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ  النَّبِیَّ  وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ ۚ     -- pada hari ketika Allah tidak akan menghinakan Nabi maupun orang-orang yang beriman besertanya,  نُوۡرُہُمۡ  یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ    -- cahaya mereka akan berlari-lari di hadapan mereka dan  di sebelah kanannya.”
   Penyempurnaan “cahaya” miliki para ahli surga tersebut  terus berlangsung di dalam surga sebagaimana doa yang dipanjatkan para ahli surga dalam ayat lanjutannya: یَقُوۡلُوۡنَ  رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ --  mereka  akan berkata: “Hai Rabb (Tuhan) kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami,  dan maafkanlah kami,  sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (At-Tahrīm [66]:9).
   Jadi, kemajuan ruhani di surga tiada berhingga, sebab apabila orang-orang beriman  akan mencapai kesempurnaan  -- yang menjadi ciri tingkat tertentu dalam surga --  mereka tidak akan berhenti sampai di situ, melainkan serentak terlihat di hadapannya ada tingkat kesempurnaan lebih tinggi, dan diketahuinya bahwa tingkat yang didapati olehnya itu bukan tingkat tertinggi maka ia akan maju terus dan seterusnya tanpa berakhir. Itulah makna ayat: رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا  -- “Hai Rabb (Tuhan) kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami.
    Selanjutnya  makna ayat:  وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ    --  “dan maafkanlah kami,  sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”   tampak bahwa setelah masuk surga orang-orang beriman  akan mencapai maghfirahpenutupan kekurangan (Lexicon Lane).
   Mereka akan terus-menerus berdoa kepada Allah Swt.  untuk mencapai kesempurnaan dan sama sekali tenggelam dalam Nur Ilahi dan akan terus naik kian menanjak ke atas,  dan memandang tiap-tiap tingkat surgawi sebagai ada kekurangan dibandingkan dengan tingkatan surgawi  lebih tinggi,  yang didambakan oleh mereka, dan karena itu akan berdoa kepada Allah Swt. supaya Dia menutupi ketidaksempurnaannya sehingga mereka akan mampu mencapai tingkat surgawi yang lebih tinggi itu.
 Inilah makna yang sesungguhnya mengenai istighfar, yang secara harfiah berarti “mohon ampunan atas segala kealpaan” yang orang banyak salah-memahami  kata  istighfar dan maghfirah berkenaan dengan Nabi Besar Muhammad saw.,  Dia berfirman:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  اِنَّا فَتَحۡنَا لَکَ فَتۡحًا مُّبِیۡنًا ۙ﴿﴾  لِّیَغۡفِرَ  لَکَ اللّٰہُ  مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ وَ یُتِمَّ نِعۡمَتَہٗ  عَلَیۡکَ وَ یَہۡدِیَکَ صِرَاطًا مُّسۡتَقِیۡمًا ۙ﴿﴾  وَّ  یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ  نَصۡرًا عَزِیۡزًا ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Sesungguhnya Kami telah memberi engkau satu kemenangan nyata. Supaya Allah melindungi engkau dari dosa-dosa yang dibuat terhadap engkau di masa lalu dan di masa yang akan datang,  dan Dia menyempurnakan nikmat-Nya atas engkau, dan memberi petunjuk kepada engkau pada jalan yang lurus,  dan Allah akan menolong engkau dengan pertolongan yang perkasa. (Al-Fath [48]:1-4).
      Ayat 3 dengan sengaja disalahtafsirkan, atau, karena kekurangan pengetahuan tentang muhawarah (idiom) dan frasa bahasa Arab, disalahartikan oleh beberapa penulis Kristen seakan mengandung arti, bahwa Nabi Besar Muhammad saw.  mempunyai kesalahan-kesalahan akhlaki, padahal dengan tegas Allah Swt. berfirman mengenai kesempurnaan akhlak dan  ruhani beliau saw.:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  نٓ  وَ الۡقَلَمِ وَ مَا یَسۡطُرُوۡنَ ۙ﴿﴾   مَاۤ  اَنۡتَ بِنِعۡمَۃِ رَبِّکَ بِمَجۡنُوۡنٍ ۚ﴿﴾  وَ  اِنَّ  لَکَ لَاَجۡرًا غَیۡرَ  مَمۡنُوۡنٍ ۚ﴿﴾     وَ  اِنَّکَ لَعَلٰی خُلُقٍ عَظِیۡمٍ ﴿﴾ 
Aku baca dengan  nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Nūn, demi tempat tinta dan pena dan apa yang mereka tulis.  Dengan nikmat Rabb (Tuhan) engkau,  engkau sekali-kali bukanlah orang gila.  Dan sesungguhnya bagi engkau benar-benar ada ganjaran tanpa putus-putusnya.   وَ  اِنَّکَ لَعَلٰی خُلُقٍ عَظِیۡمٍ  --  Dan sesungguhnya engkau benar-benar memiliki akhlak yang agung.  (Al-Qalam [68]:1-5).

Memilik  Akhlak dan Ruhani yang Paling Luhur (Agung)

     Dalam ayat 2 ini tempat tinta dan pena serta semua sarana tulis-menulis disebutkan sebagai bukti guna mendukung serta membenarkan pernyataan yang dibuat pada tiga ayat berikutnya.
   Ayat ini berarti bahwa dengan ujian pengetahuan dan penalaran apa pun dakwa Nabi Besar Muhammad saw.  diselidiki, beliau saw.   akan terbukti bukan orang yang dihinggapi penyakit gila seperti dikatakan oleh orang-orang kafir, melainkan beliau saw.  orang berakal sehat sesehat-sehatnya dan bijaksana sebijaksana-bijaksananya.   Ayat berikutnya memberikan alasan-alasan mengapa tuduhan itu bukan saja tanpa dasar apa pun tetapi  juga amat bodoh dan khayali.
  Ayat 3  bersama ayat berikutnya, dengan ampuh sekali membukakan serta menampakkan kejanggalan tuduhan bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.   telah menjadi gila. Ayat ini bermaksud mengatakan bahwa perbuatan orang gila tidak membuahkan hasil kekal abadi lagi berguna, tetapi  Nabi Besar Muhammad saw.  hanya dalam waktu 23 tahun saja   berhasil menyempurnakan tujuan dan tugas Ilahi dan dalam menciptakan suatu revolusi yang menakjubkan dalam kehidupan kaum beliau yang sudah merosot dan rendah derajatnya (QS.62:3).
   Dan revolusi itu tidak berakhir dengan wafat beliau saw., karena manakala pengikut-pengikut beliau saw. menyimpang dari jalan lurus di masa yang akan datang, Allah Swt.  di setiap abad senantiasa membangkitkan di antara mereka mujaddid-mujaddid yang akan memperbaharui keimanan dan pengetahuan mereka dan akan meresapkan ke dalam diri mereka kehidupan baru. Dan peristiwa ini akan berlangsung terus hingga Akhir Zaman (QS.62:3-4).
    Ayat وَ  اِنَّکَ لَعَلٰی خُلُقٍ عَظِیۡمٍ  --  “Dan sesungguhnya engkau benar-benar memiliki akhlak yang agung”  ini merupakan ulasan lebih lanjut mengenai kejanggalan yang dituduhkan kepada Nabi Besar Muhammad saw.  seakan-akan beliau saw. gila. Menurut ayat ini Nabi Besar Muhammad saw.    tidak   sakit jiwa bahkan beliau saw. adalah yang paling mulia dan paling sempurna di antara umat manusia dan yang memiliki segala kesempurnaan akhlak dalam ukuran sepenuhnya, kesemua sifat itu bersama-sama membuat sang pemiliknya itu jadi gambaran sempurna Khāliqnya (Penciptanya – QS.53:8-11).
    Nabi Besar Muhammad saw.  adalah perwujudan sepenuhnya segala nilai akhlak baik yang bisa dimiliki manusia. Segala nilai akhlak tinggi berpadu pada pribadi beliau  saw. dalam suatu keseluruhan yang sempurna lagi serasi. Siti ‘Aisyah r.a., istri beliau saw. yang sangat berbakat, ketika pada sekali peristiwa diminta menerangkan secara ringkas dan tepat peri keadaan Nabi Besar Muhammad saw., berkata: “Beliau memiliki segala keagungan akhlak yang disebut dalam Al-Quran sebagai ciri-ciri istimewa seorang hamba Allāh yang sejati” (Bukhari), selaras dengan pernyataan Allah Swt., firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ  فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ  اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ  لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ الۡیَوۡمَ  الۡاٰخِرَ  وَ ذَکَرَ  اللّٰہَ  کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Sungguh dalam  diri Rasulullah benar-benar terdapat  suri teladan yang sebaik-baiknya  bagi kamu, yaitu bagi  orang yang mengharapkan Allah dan Hari Akhir,  dan bagi yang banyak mengingat Allah. (Al-Ahzāb [33]22).

Bersifat Ma’shum (Terbebas Dari Dosa) 

   Telah merupakan salah satu dari Rukun Islam, sebagaimana diperintakan oleh Al-Quran, bahwa para nabi Allah dilahirkan ma’shum (bersih dari dosa) dan tetap ma’shum seumur hidup. Mereka tidak mengatakan ataupun melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perintah Ilahi (QS.21:28- -- teruatama Nabi Besar Muhammad saw.   QS.53:3-11)  -- oleh karena mereka diutus oleh Allah Swt.  untuk membersihkan manusia dari dosa, maka tidaklah mungkin mereka sendiri berbuat dosa. Dan dari antara utusan-utusan Allah, Nabi Besar Muhammad saw.  itu paling mulia dan paling suci.
   Al-Quran mengandung banyak sekali ayat-ayat yang menyebut dengan kata-kata yang ceria  mengenai  kesucian dan kema’shuman hidup beliau saw. (QS.2:130; QS.3:32 & 165; QS.6:163; QS.7:158; QS.8:25; QS.33:22; QS.48:11; QS.53:3-4; QS.68:5; dan QS.81:20-22).
  Berkenaan ungkapan  liyaghfira   dalam surah lainnya Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
فَاصۡبِرۡ  اِنَّ وَعۡدَ اللّٰہِ حَقٌّ وَّ اسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۡۢبِکَ وَ سَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّکَ بِالۡعَشِیِّ وَ الۡاِبۡکَارِ ﴿﴾
Maka bersabarlah sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mintalah ampunan bagi mereka atas dosa yang diperbuat mereka terhadap engkau dan bertasbihlah dengan pujian Rabb (Tuhan) engkau pada waktu pe-tang dan pagi. (Al-Mu’min [40]:56).
  Ungkapan   “Ghafar al-Mata’a” berarti: ia meletakkan barang-barang itu dalam kantong, lalu menutupi dan melindungi barang-barang itu. Ghafran dan maghfirah kedua-duanya isim masdar (infinitive nouns) dari ghafara dan berarti perlindungan serta pemeliharaan. Mighfar berarti topi baja  karena topi baja melindungi kepala. Dzanb berarti kekurangan atau kelemahan yang membawa akibat merugikan. Dzanba-hu berarti: ia mengikuti jejaknya, tidak beranjak dari jejaknya (Lexicon Lane & Mufradat).
   Istighfar bukan saja diperlukan oleh orang-orang beriman  golongan  awam, melainkan juga oleh wujud-wujud suci, bahkan oleh nabi-nabi Allah. Sementara golongan pertama (golongan awam) membawa istighfar untuk mencari perlindungan terhadap dosa-dosa yang akan datang dan pula terhadap akibat-akibat buruk kesalahan dan kekeliruan yang diperbuat di masa lalu, maka golongan kedua (orang-orang suci dan para nabi Allah) mohon perlindungan terhadap kealpaan dan kelemahan manusiawi yang dapat merintangi kemajuan misi mereka.
   Nabi-nabi Allah  pun adalah  makhluk manusia dan walau mereka terpelihara dari dosa (ma’shum) namun mereka pun diwarisi kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan insani  maka mereka memerlukan istighfar guna memohon pertolongan dan perlindungan  Allah Swt..  
  Dzanbaka  dalam ayat:  وَّ اسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۡۢبِکَ  -- berarti “dan mohonkan ampunan terhadap   dosa-dosa yang diperbuat terhadap engkau” (QS.48:3)  atau “dosa-dosa yang dituduhkan musuh-musuh engkau seakan-akan engkaulah melakukan dosa-dosa itu”;  atau “kealpaan dan kelemahan  engkau sebagai manusia”.      
   Seseorang yang mempunyai martabat akhlak begitu sempurna seperti  Nabi Besar Muhammad saw. yang telah mengangkat derajat seluruh bangsa — yang telah tenggelam ke dalam lubuk kejahatan akhlak sampai ke dasar yang paling dalam — ke puncak kemuliaan ruhani tertinggi (QS.63:2) tidak mungkin mempunyai kelemahan-kelemahan akhlak demikian, seperti dengan sia-sia telah dituduhkan oleh orang-orang yang biasa memperolok-olokkan beliau saw..
    Sepatah kata sederhana dan polos, dzanb, telah dimanfaatkan untuk memfitnah  Nabi Besar Muhammad saw.. Kata itu berarti kelemahan-kelemahan yang melekat pada sifat insane,  atau pada kesalahan-kesalahan yang diprakirakan akan menimbulkan akibat-akibat merugikan. Ayat ini mengandung arti bahwa Allah Swt. akan melindungi  Nabi Besar Muhammad saw. terhadap akibat-akibat merugikan yang akan datang kemudian sesudah kemenangan yang dijanjikan seperti telah diisyaratkan oleh ayat sebelumnya (QS.48:2; QS.110:1-4).

Pentingnya Memohon Maghfirah Ilahi  Pada Masa Kemenangan

  Oleh karena itu berbondong-bondong orang akan masuk Islam maka dengan sendirinya penggemblengan dan pemeliharaan akhlak dan keruhanian mereka tidak akan mencapai taraf yang diharapkan. Itulah sebabnya  tatkala dalam Al-Quran keberhasilan dan kemenangan dijanjikan kepada  Nabi Besar Muhammad saw., pada waktu itu diperintahkan supaya memohon perlindungan Allah terhadap dzanb beliau saw., yakni kelemahan-kelemahan insani yang akan menghalangi jalan pelaksanaan tugas besar beliau saw., firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ اِذَا  جَآءَ  نَصۡرُ اللّٰہِ  وَ  الۡفَتۡحُ ۙ﴿﴾ وَ  رَاَیۡتَ النَّاسَ یَدۡخُلُوۡنَ فِیۡ  دِیۡنِ اللّٰہِ  اَفۡوَاجًا ۙ﴿﴾  فَسَبِّحۡ  بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ  ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ  تَوَّابًا ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan,  dan engkau melihat manusia  masuk dalam agama Allah berbondong-bondong, فَسَبِّحۡ  بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ  ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ  تَوَّابًا  --  maka  bertasbihlah dengan memuji Rabb (Tuhan) engkau,  dan mohonlah ampunan-Nya, sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat. (An-Nashr [110]:1-4).
    Makna ayat kedua dan ketiga   bahwa karena janji Allah Swt.   telah menjadi sempurna, dan manusia mulai berduyun-duyun masuk Islam, maka Nabi Besar Muhammad saw. di sini diperintahkan Allah Swt. agar bersyukur kepada Tuhan-nya karena Dia telah memenuhi janji-Nya, agar beliau saw. mendendangkan puji-pujian bagi-Nya.
  Dalam ayat selanjutnya  sini dikatakan kepada  Nabi Besar Muhammad saw.  bahwa oleh karena kemenangan telah datang kepada beliau saw.  dan Islam telah berkuasa di seluruh negeri,  dan musuh-musuh  yang dahulu melakukan penentangan keras telah menjadi pengikut beliau saw. yang mukhlis, maka beliau saw. harus berdoa, supaya Allah Swt.  memaafkan kesalahan-kesalahan besar yang pernah dilakukan mereka terhadap  beliau saw.  pada masa lampau.
    Rupa-rupanya inilah arti dan maksud perintah kepada  Nabi Besar Muhammad saw.  supaya memohon ampunan kepada Allah Swt.. Atau artinya ialah bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.  diperintahkan supaya memohon perlindungan Ilahi terhadap kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan yang dapat menyelinap ke dalam tubuh jemaat kaum Muslimin, disebabkan para muallaf kurang mendapat pengajaran atau pendidikan yang memadai.
         Adalah sangat bermakna  bahwa manakala di dalam Al-Quran disebutkan perihal kemenangan atau perihal keberhasilan besar lainnya datang kepada Nabi Besar Muhammad saw., kepada   beliau saw. selalu diperintahkan agar memohon ampunan Tuhan dan perlindungan-Nya.
       Hal itu jelas menunjukkan, bahwa dalam ayat ini pun,  -- sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya --  beliau saw. diperintahkan agar  memohon ampunan Allah dan perlindungan-Nya, bukan bagi diri beliau saw. sendiri, melainkan bagi orang-orang lain, yaitu beliau saw. diperintahkan agar berdoa bilamana ada bahaya datang, ketika para pengikut beliau saw.  menyimpang dari asas-asas dan ajaran-ajaran Islam, semoga kiranya Allah Swt. menyelamatkan mereka dari kemelut serupa itu.
        Jadi, di sini  -- dan dalam berbagai surah lainnnya -- sama sekali bukan berarti bahwa,  Nabi Besar Muhammad saw.   beristighfar bagi salah satu perbuatan beliau saw. sendiri. Menurut Al-Quran, beliau saw. menikmati kekebalan mutlak terhadap segala macam kelemahan akhlak atau terhadap penyimpangan dari jalan lurus.

Berbagai Arti Junah, Jurm, Itsm, dan Dzanb

         Kenyataannya, bahwa dari keempat kata junah, jurm, itsm, dan dzanb, yang memiliki arti tambahan yang sama, tiada sebuah pun dari ketiga kata yang disebut terlebih dahulu (junah, jurm, itsm), yang dipergunakan dalam Al-Quran mengenai rasul-rasul Allah, menunjukkan, bahwa dzanb tidak mengandung arti buruk seperti dimiliki ketiga buah kata lainnya.
       Kecuali itu, menurut muhawarah Al-Quran ungkapan dzanbaka, seandainya kata dzanb itu pun dianggap mengandung arti dosa atau kejahatan, kata itu berarti “dosa-dosa yang dituduhkan seolah engkau telah melakukannya”; atau “dosa-dosa yang diperbuat terhadap engkau,”  bukan “dosa-dosa engkau.”
   Menurut arti yang terakhir bagi kata dzanb itu, kata Arab laka dalam ayat ini akan berarti “demi kepentingan dikau.” Di tempat lain dalam Al-Quran (QS.5:30) ungkapan seperti itu, ialah itsmi (dosaku), berarti “dosa yang diperbuat terhadapku.”
    Jadi,  kembali kepada ayat-ayat  yang sedang dibahas ini (QS.48:1-4), firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  اِنَّا فَتَحۡنَا لَکَ فَتۡحًا مُّبِیۡنًا ۙ﴿﴾  لِّیَغۡفِرَ  لَکَ اللّٰہُ  مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ وَ یُتِمَّ نِعۡمَتَہٗ  عَلَیۡکَ وَ یَہۡدِیَکَ صِرَاطًا مُّسۡتَقِیۡمًا ۙ﴿﴾  وَّ  یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ  نَصۡرًا عَزِیۡزًا ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Sesungguhnya Kami telah mem-beri engkau satu kemenangan nyata. Supaya Allah melindungi engkau dari dosa-dosa yang dibuat terhadap engkau di masa lalu dan di masa yang akan datang,  dan Dia menyempurnakan nikmat-Nya atas engkau, dan memberi petunjuk kepada engkau pada jalan yang lurus,  dan Allah akan menolong engkau dengan pertolongan yang perkasa. (Al-Fath [48]:1-4).
     Ayat-ayat itu  akan berarti, sebagai akibat kemenangan besar — Perjanjian Hudaibiyah — itu, semua tuduhan dosa, kejahatan, dan kesalahan yang dilemparkan musuh-musuh  Nabi Besar Muhammad saw.  kepada beliau saw., yakni bahwa beliau saw. – na’udzubillāhi min dzālik   -- seorang penipu, pendusta atau tukang mengada-ada kebohongan terhadap Allah dan manusia, dan sebagainya, akan terbukti palsu semua, sebab segala macam orang, yang mempunyai hubungan dengan para pengikut beliau saw.  akan menjumpai kebenaran mengenai beliau saw. (QS.68:1-7).
 Atau, artinya ialah bahwa “dosa-dosa yang diperbuat terhadap engkau oleh musuh-musuh engkau akan diampuni demi engkau”. Dan begitulah yang telah terjadi, ketika Mekkah jatuh dan orang-orang Arab menerima agama Islam, dosa mereka diampuni. Hubungan kalimatnya pun mendukung arti ini, sebab anugerah kemenangan yang nyata dan penggenapan nikmat Ilahi atas   Nabi Besar Muhammad saw.  diisyaratkan dalam ayat ini dan ayat sebelum ini agaknya tidak mempunyai perhubungan apa pun dengan pengampunan terhadap dosa-dosa, jika dzanb dianggap berarti dosa.
  Kata-kata, “di masa lalu dan di masa yang akan datang”, maksudnya tuduhan-tuduhan yang dilemparkan kepada  Nabi Besar Muhammad saw.  di masa lalu oleh orang-orang Quraisy dan tuduhan-tuduhan yang akan dilemparkan terhadap beliau saw. di masa yang akan datang – yakni di Akhir Zaman ini   -- oleh musuh-musuh beliau saw. pun akan dielakkan dan beliau saw. akan terbukti sama sekali suci dari noda itu.
      Ada pun janji datangnya  pertolongan Ilahi datang dalam bentuk tersebarnya agama Islam secara cepat di tanah Arab sesudah penandatanganan perjanjian Hudaibiyah, dan  Nabi Besar Muhammad saw. diakui sebagai Kepala Negara satu pemerintah yang merdeka dan berdaulat.

(Bersambung)
ooo

Rujukan: The Holy Quran
Editor    : Malik Ghulam Farid

Pajajaran Anyar,   17 Juli 2017



Tidak ada komentar:

Posting Komentar