Sabtu, 08 Juli 2017

Makna "Iblis" dan "Setan" yang Menentang "Adam" (Khalifah Allah) Serta Hubungannya Dengan Surah Al-Fatihah & Hakikat "Pohon Terlarang" dan "Pohon Terkutuk" Dalam Al-Quran



Bismillāhirrahmānirrahīm

KHAZANAH  AL-QURAN 

Bab 2

MAKNA IBLIS DAN SETAN  YANG MENENTANG ADAM (KHALIFAH ALLAH) SERTA HUBUNGANNYA DENGAN SURAH AL-FATIHAH &   HAKIKAT ‘’POHON TERLARANG “ DAN ‘’POHON TERKUTUK”  DALAM AL-QURAN

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir bab sebelumnya  telah dikemukakan  topic: Iblis yang Membangkang kepada Adam Adalah Golongan Manusia, yaitu sehubungan dengan firman-Nya:
وَ اِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ ؕ اَبٰی وَ اسۡتَکۡبَرَ ٭۫ وَ  کَانَ مِنَ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah  ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah  yakni tunduk-patuhlah  kamu kepada  Adam” lalu mereka sujud kecuali iblis,  ia menolak dan takabur,  dan   ia  termasuk dari antara orang-orang yang  kafir. (Al-Baqarah [2]:35).
     Kata iblis berasal dari ablasa, yang berarti: (1) kebaikan dan kebajikannya berkurang; (2) ia sudah melepaskan harapan atau jadi putus asa akan kasih-sayang    Allah Swt.  (3) telah patah semangat; (4) telah bingung dan tidak mampu melihat jalannya; dan (5) ia tertahan dari mencapai harapannya.
        Jadi, berdasarkan akar-katanya  arti kata iblis itu adalah suatu wujud yang sedikit sekali memiliki kebaikan tetapi banyak kejahatan, dan disebabkan oleh rasa putus asa akan kasih-sayang Allah Swt.   oleh sikap pembangkangannya sendiri, maka ia dibiarkan dalam kebingungan lagi pula tidak mampu melihat jalannya.

Iblis Berbeda Dengan Setan yang Menipu Adam a.s.

      Iblis seringkali dianggap sama dengan syaitan, padahal dalam beberapa hal berlainan dari dia. Harus dipahami bahwa iblis itu bukan salah seorang dari para malaikat, sebab ia di sini dilukiskan sebagai tidak patuh kepada Allah Swt., sedangkan para malaikat dilukiskan sebagai senantiasa “tunduk” dan “patuh” (QS.66:7).  Dalam QS.18:51-52 disebutkan iblis berasal dari kalangan jin.
       Allah Swt.  telah murka kepada iblis karena ia pun diperintahkan mengkhidmati Adam a.s.  tetapi iblis membangkang (QS.7:13). Tambahan pula, sekalipun jika tiada perintah tersendiri bagi iblis, perintah kepada para malaikat harus dianggap meliputi semua wujud, sebab perintah kepada para malaikat — sebagai penjaga berbagai bagian alam semesta — dengan sendirinya mencakup juga semua wujud.
        Dari kisah  kaum-kaum purbakala  dalam Al-Quran yang mendustakan para rasul Allah yang dibangkitkan dari kalangan mereka mulai dari  kaum Nabi Nuh a.s. sampai dengan kaum Nabi Besar Muhammad saw. dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan iblis  -- yang disebut berasal dari golongan jin --  adalah  para pemuka kaum  yang memimpin  pendustaan dan penentangan terhadap para rasul Allah, bukan  golongan makhluk halus sebagaimana umumnya dipercayai, firman-Nya:
وَ اِذۡ  قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا  لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ ؕ کَانَ مِنَ  الۡجِنِّ فَفَسَقَ عَنۡ اَمۡرِ رَبِّہٖ ؕ اَفَتَتَّخِذُوۡنَہٗ وَ ذُرِّیَّتَہٗۤ  اَوۡلِیَآءَ مِنۡ دُوۡنِیۡ  وَ ہُمۡ  لَکُمۡ عَدُوٌّ ؕ بِئۡسَ  لِلظّٰلِمِیۡنَ  بَدَلًا ﴿﴾  مَاۤ  اَشۡہَدۡتُّہُمۡ خَلۡقَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ لَا خَلۡقَ اَنۡفُسِہِمۡ ۪ وَ مَا کُنۡتُ مُتَّخِذَ  الۡمُضِلِّیۡنَ  عَضُدًا ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah yakni patuh taatlah kepada  Adam," maka  sujudlah mereka  kecuali iblis,  ia adalah dari golongan jin  maka ia mendurhakai perintah Rabb-nya (Tuhan-nya). Apakah kamu hendak mengambil dia dan keturunannya sebagai sahabat-sahabat selain Aku, padahal mereka itu musuh-musuh kamu? Sangat buruk  bagi orang-orang yang zalim pertukaran itu.  Aku sama sekali tidak membuat mereka menyaksikan penciptaan seluruh langit dan bumi,   dan tidak pula penciptaan mereka sendiri dan Aku sama sekali tidak dapat mengambil mereka yang menyesatkan orang-orang sebagai pembantu. (Al-Kahf [18]:51-52).
   Makna ayat:  “Aku sama sekali tidak membuat mereka menyaksikan penciptaan seluruh langit dan bumi, dan tidak pula penciptaan mereka sendiri”  agaknya menunjukkan, bahwa ketika  di Akhir Zaman ini di mana-mana umum akan ramai memperbincangkan tertib dunia baru – antara lain melalui Liga Bang-bangsa dan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) -- yang akan mengumandangkan tibanya satu mass keamanan dan kerukunan yang kekal abadi di dunia dan mereka yang mengaku-ngaku dirinya pemimpin yang menentukan haluan politik dan masyarakat akan berusaha dan menda'wakan untuk menegakkan tertib baru, tetapi mereka tidak akan berhasil dalam usaha mereka, sebab Allah Swt. telah memperuntukkan bagi Dzat-Nya Sendiri pelaksanaan dan penyelesaian pekerjaan agung ini dengan sempurna melalui penciptaan Adam (Khalifah Allah – QS.2:31-35; QS.14:48-53) yang merupakan “nafiri” (terompet) kebangkitan ruhani  di dunia ini (QS.36:52-66; Q.39:68-71).

Sebutan Lain Iblis dan Setan dalam Surah Al-Fatihah

      Seperti dinyatakan di atas, iblis  sesungguhnya nama sifat yang diberikan atas dasar arti akar kata itu (ablasa)  kepada ruh jahat yang bertolak belakang dari sifat malaikat. Diberi nama demikian karena ia mempunyai sifat-sifat buruk seperti dirinci di atas, terutama bahwa ia – karena ketakaburannya dan kedengkiannya --  sama sekali luput dari kebaikan dan telah dibiarkan kebingungan dalam langkahnya dan hilang harapan akan kasih-sayang Allah Swt..  
     Bahwa iblis bukanlah syaitan — yang disebut dalam QS.2:37 — jelas dari ke-nyataan bahwa Al-Quran menyebut kedua nama itu berdampingan, kapan saja riwayat Adam a.s.  dituturkan. Tetapi di mana-mana dilakukan pemisahan yang cermat antara keduanya itu, yaitu kapan saja Al-Quran membicarakan makhluk yang — berbeda dari para malaikat — menolak berbakti (sujud) kepada Adam a.s.   maka senantiasa Al-Quran menyebutnya dengan nama iblis, tetapi bila Al-Quran membicarakan wujud yang menipu Adam a.s. dalam jannah (kebun)  dan menjadi sebab Adam a.s. diperintahkan  keluar atau hijrah  sementara    dari “kebun” maka Al-Quran menyebutnya dengan nama  syaitan
      Perbedaan ini — yang sangat besar artinya dan tetap dipertahankan dalam Al-Quran  -- sedikitnya pada sepuluh tempat (QS.2:35, 37; QS.7:12, 21; QS.15:32; QS.17:62; QS.18:51; QS.20:117, 121; QS.38:75) — jelas memperlihatkan bahwa iblis   berbeda dari syaitan yang menipu Adam a.s. dan merupakan salah seorang dari kaum Nabi Adam a.s. sendiri, yang disebut dari golongan jin (QS.18:51). Di tempat lain Al-Quran mengatakan bahwa iblis tergolong makhluk-makhluk Allah tersembunyi dan — berlainan dari para malaikat — mampu menaati atau menentang Allah Swt.   (QS.7:12-13).
       Dengan kata lain dalam surah Al-Fatihah sebutan  iblis identik    dengan maghdhūbi ‘alayhim (orang-orang yang dimurkai Allah – QS.1:7) karena senantiasa menentang rasul Allah yang diutus Allah Swt., (QS.7:12-19; QS.2:88-89), sedangkan “syaitan” identik dengan “dhāllīn (orang-orang yang sesat – QS.1-7), karena  mereka  menyesatkan orang-orang dari Tauhid Ilahi  dengan ajaran sesatnya dan dengan  iming-iming keberhasilan  kehidupan duniawi  (QS.18:5-9; QS,7:170; QS.7:20-23), yang di Akhir Zaman ini disebut Nabi Besar Muhammad saw. sebagai  fitnah Dajjal – si pendusta besar yang matanya buta sebelah -- (QS.31:34) yakni Ya’juj dan Ma’juj  (QS.21:97) atau khannas (QS.114:5-7). Sehubungan dengan hal tersebut selanjutnya Allah Swt. berfirman:
وَ قُلۡنَا یٰۤاٰدَمُ اسۡکُنۡ اَنۡتَ وَ زَوۡجُکَ الۡجَنَّۃَ وَ کُلَا مِنۡہَا رَغَدًا حَیۡثُ شِئۡتُمَا ۪ وَ لَا تَقۡرَبَا ہٰذِہِ الشَّجَرَۃَ فَتَکُوۡنَا مِنَ الظّٰلِمِیۡنَ﴿﴾
Dan Kami berfirman: “Hai Adam,  tinggallah engkau dan isteri engkau dalam jannah (kebun) ini,  dan makanlah darinya sepuas hati di mana pun kamu berdua sukai,  tetapi janganlah kamu berdua mendekati pohon ini,   jika tidak maka kamu berdua akan  menjadi orang-orang  zalim.   (Al-Baqarah [2]:36).

Makna “Pohon Terlarang

       Kata jannah (kebun, taman) yang tercantum pada ayat ini, tidak memberi isyarat kepada surga – yang terdapat di alam akhirat   --  melainkan  hanya kepada tempat subur seperti kebun, tempat (wilayah) untuk pertama kali Nabi Adam a.s. dan istrinya (pengikutnya) disuruh tinggal.
      Kata jannah itu tidak dapat ditujukan kepada surga yang ke dalamnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh akan  menjadi penghuninya (QS.2:26), dengan alasan  pertama, karena di permukaan  bumi inilah  Nabi Adam a.s. dan “istrinya” disuruh tinggal (QS.2:37); kedua, bahwa surga  di akhirat adalah  tempat yang bila seseorang sudah memasukinya tidak pernah dikeluarkan lagi (QS.15:49), sedangkan  Nabi Adam a.s.  diharuskan meninggalkan jannah (kebun) itu, seperti dituturkan dalam ayat  selanjutnya (QS.2:37).  
       Hal itu menunjukkan bahwa jannah atau kebun (taman) tempat untuk pertama kalinya  Nabi Adam a.s. dan "istrinya" (pengikutnya) diperintahkan tinggal   adalah  tempat di bumi ini juga, yang telah diberi nama jannah (kebun/taman) karena kesuburan tanahnya dan penuh dengan tumbuh-tumbuhan. Penyelidikan akhir-akhir ini telah membuktikan bahwa tempat itu Taman Eden yang terletak dekat Babilonia di Irak atau Assyria (Encyclopaedia Britannica, pada “Ur”).
    Ungkapan “makanlah darinya sepuas hati di mana pun kamu berdua suka” menunjukkan bahwa tempat Nabi Adam a.s.  tinggal, belum berada di bawah kekuasaan hukum seseorang, dan merupakan apa yang dapat disebut “tanah Tuhan” yang diberikan kepada  Nabi Adam a.s. dan “istrinya (pengikutnya),   oleh karena itu seolah-olah dijadikan pemilik semua tanah yang dijelajahi beliau.
       Menurut Bible syajarah (pohon) yang terlarang itu, pohon ilmu pengetahuan baik dan buruk (Kejadian 2:17). Tetapi menurut Al-Quran, sesudah memakan buah terlarang itu Adam dan “istrinya” menjadi telanjang. Hal itu berarti bahwa tidak seperti halnya ilmu yang menjadi sumber kebaikan, pohon itu sumber kejahatan, yang menjadikan Adam a.s. dan “istrinya”  menampakkan sesuatu kelemahan.
     Pandangan Al-Quran itu ternyata tepat, sebab   meluputkan  orang dari ilmu pengetahuan berarti menggagalkan tujuan yang untuk itu ia diciptakan. Tetapi Al-Quran dan Bible agak sepakat juga mengenai hal bahwa pohon itu bukan benar-benar sebatang pohon biasa melainkan hanya suatu perlambang (kiasan). Sebab tidak ada pohon yang memiliki salah satu ciri-ciri khas di atas -- yaitu menjadikan orang telanjang atau memberikan ilmu yang baik dan jahat – bahwa “pohon” seperti itu pernah terdapat di muka bumi ini. Jadi  pohon  dalam ayat itu harus mengisyaratkan sesuatu yang lain.
      Syajarah berarti pula perselisihan. Di tempat lain Al-Quran menyebut dua macam syajarah: (1) Syajarah thayyibah (pohon baik) dan (2) Syajarah khabitsah (pohon jahat), untuk itu lihat QS.14:25 dan 27. Hal-hal yang suci dan ajaran-ajaran yang suci diserupakan dengan   syajarah thayyibah,  dan hal-hal yang tidak suci dan pikiran yang kotor diserupakan dengan  syajarah khabitsah.

Nubuatan Mengenai Kaum Yahudi   &  “Pohon Terkutuk” Dalam Al-Quran

       Mengingat keterangan-keterangan itu, makna atau falsafah ayat ini dapat berarti: (1) bahwa Adam  a.s. diperintahkan untuk menghindari pertikaian; (2) bahwa beliau diperingatkan terhadap hal-hal yang jahat. Makna lain “pohon” adalah “orang” atau  “kaum”, contohnya Allah Swt. dalam QS.17:61 menyebut “kaum Yahudi” sebagai “syajarah mal’unah” (pohon terkutuk), sebab mereka  telah mendapat dua kali kutukan yaitu oleh Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.5:79-81; QS.17:5-9), firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ اِذۡ قُلۡنَا  لَکَ  اِنَّ رَبَّکَ اَحَاطَ بِالنَّاسِ ؕ وَ مَا جَعَلۡنَا الرُّءۡیَا الَّتِیۡۤ  اَرَیۡنٰکَ اِلَّا فِتۡنَۃً  لِّلنَّاسِ وَ الشَّجَرَۃَ  الۡمَلۡعُوۡنَۃَ فِی الۡقُرۡاٰنِ ؕ وَ نُخَوِّفُہُمۡ ۙ فَمَا یَزِیۡدُہُمۡ  اِلَّا  طُغۡیَانًا کَبِیۡرًا ﴿٪﴾
Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada engkau: “Sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau telah mengepung orang-orang ini dengan kebina-saan.Dan tidaklah Kami menjadi-kan ru'ya yang telah Kami perlihatkan kepada engkau melainkan sebagai ujian bagi manusia, dan juga pohon terkutuk dalam Al-Quran. Dan Kami menakut-nakuti mereka tetapi itu tidak menambah kepada mereka kecuali kedurhakaan amat besar. (Bani Israil [17]:61).
       Isyarat di sini tertuju kepada kasyaf yang disebut dalam ayat kedua dalam Surah ini. Dalam kasyaf pada peristiwa Isra itu Nabi Besar Muhammad saw. melihat diri beliau mengimami semua nabi lainnya dalam shalat yang dilakukan di Baitul-Muqadas di Yerusalem, yang merupakan kiblat orang-orang Yahudi.
       Kasyaf itu mengandung arti bahwa pada suatu ketika di masa yang akan datang, para pengikut nabi-nabi tersebut akan masuk ke haribaan Islam. Inilah yang dimaksud oleh kata-kata “Tuhan engkau telah mengepung dengan menakdirkan kebinasaan umat ini”. Penyebaran Islam secara meluas akan datang sesudah terjadi bencana-bencana yang akan melanda seluruh dunia seperti telah disinggung dalam QS.17:59.
        Agaknya “pohon terkutuk” itu adalah kaum Yahudi yang telah berulang kali disebut dalam Al-Quran dikutuk oleh Allah Swt.. (QS.5:14, 61, 65, 79). Kutukan Allah telah mengejar-ngejar kaum yang malang ini semenjak Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sampai zaman kita ini.
      Penafsiran tentang ungkapan ini ditunjang oleh kenyataan, bahwa Surah ini secara istimewa membahas hal ihwal kaum Bani Israil, seperti diisyaratkan oleh nama Surah ini sendiri, yaitu Bani Israil. Kenyataan bahwa ayat ini mulai dengan menyebut kasyaf (pengalaman ruhani) Nabi Besar Muhammad saw., dan di dalam kasyaf itu beliau lihat diri beliau mengimami nabi-nabi Bani Israil dalam shalat di Yerusalem — pusat agama Yahudi — memberi dukungan lebih lanjut kepada anggapan, bahwa yang dimaksud oleh “pohon terkutuk” itu adalah kaum Yahudi; sebab kata syajarah mengandung pula arti suku bangsa.
      Ayat ini membahas kasyaf itu, dan juga membahas kaum Yahudi (pohon terkutuk) yang oleh kasyaf ini disinggung secara khusus sebagai “percobaan bagi manusia.” Orang-orang Yahudi pada tiap qurun zaman telah menjadi sumber kesengsaraan dan penderitaan bagi umat manusia, terutama bagi umat Islam. Itulah sebabnya para ‘ulama Islam sepakat bahwa yang dimaksud dengan “orang-orang yang dimurkai” dalam Surah Al-Fatihah ayat 7 adalah “orang-orang Yahudi.”

Tidak Ada “Pengusiran dari  Surga” dan Tidak Ada “Dosa Warisan

     Kembali lagi kepada kisah Nabi Adam a.s. dan “istrinya” yang sedang dibahas, selanjutnya Allah Swt. berfirman:
فَاَزَلَّہُمَا الشَّیۡطٰنُ عَنۡہَا فَاَخۡرَجَہُمَا مِمَّا کَانَا فِیۡہِ ۪ وَ قُلۡنَا اہۡبِطُوۡا بَعۡضُکُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ ۚ وَ لَکُمۡ فِی الۡاَرۡضِ مُسۡتَقَرٌّ  وَّ مَتَاعٌ اِلٰی  حِیۡنٍ ﴿﴾ 
Tetapi  syaitan  menggelincirkan keduanya dengan perantaraan pohon itu,  lalu mengeluarkan keduanya dari keadaan mereka semula berada di dalamnya, dan Kami berfirman:  Pergilah kamu dari sini, sebagian darimu   musuh bagi yang lain, dan di bumi inilah  tempat kediaman    bagi kamu dan perbekalan hidup sampai suatu masa tertentu. (Al-Baqarah [2]:37).
        Kalimat pertama dalam ayat ini berarti bahwa, suatu wujud yang bersifat syaitan membujuk Adam a.s.  dan istrinya keluar dari keadaan  mereka itu ditempatkan, dan dengan demikian menjauhkan mereka dari kesenangan yang dinikmati mereka. Seperti diterangkan dalam QS.2:35 makhluk yang menipu dan menjerumuskan Adam a.s.  ke dalam kesusahan itu adalah syaitan dan bukan iblis yang dituturkan menolak mengkhidmati (sujud kepada) Adam a.s..   Jadi  syaitan di sini tidak menunjuk kepada iblis, tetapi kepada seseorang lain dari kaum di zaman  Nabi Adam a.s.  yang adalah musuhnya.
      Kesimpulan ini selanjutnya didukung oleh QS.17:66 yang menurut ayat itu  iblis tidak mempunyai daya apa-apa terhadap Adam a.s.. Kata syaitan mempunyai arti lebih luas daripada iblis, sebab iblis adalah nama yang diberikan kepada ruh jahat yang tergolong kepada jin (QS.18:51) dan yang menolak mengkhidmati Adam a.s. dan yang kemudian menjadi pemimpin dan wakil kekuatan-kekuatan jahat di alam semesta.
      Syaitan adalah  tiap-tiap wujud atau sesuatu yang jahat dan berbahaya baik  berupa ruh atau manusia atau binatang atau penyakit atau tiap sesuatu yang lain (QS.2:15; QS. 22:53). Jadi iblis itu  syaitan, kawan-kawannya dan sekutu-sekutunya pun  syaitan  pula; musuh-musuh kebenaran pun syaitan, orang-orang jahat juga syaitan, binatang-binatang yang memudaratkan dan penyakit-penyakit berbahaya pun syaitan pula. Al-Quran, hadits, dan pustaka Arab penuh dengan contoh-contoh  dimana kata  syaitan  dengan bebas dipergunakan mengenai sesuatu atau segala sesuatu itu.
      Makna ayat:  وَ قُلۡنَا اہۡبِطُوۡا بَعۡضُکُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ ۚ وَ لَکُمۡ فِی الۡاَرۡضِ مُسۡتَقَرٌّ  وَّ مَتَاعٌ اِلٰی  حِیۡنٍ  -- “Kami berfirman:  Pergilah kamu dari sini, sebagian darimu   musuh bagi yang lain, dan di bumi inilah  tempat kediaman    bagi kamu dan perbekalan hidup sampai suatu masa tertentu.” Al-Quran sekali-kali tidak mendukung ide bahwa seseorang dapat naik ke langit hidup-hidup, sebab ayat ini tegas menetapkan bumi sebagai tempat tinggal manusia seumur hidupnya, dan menolak ide (anggapan) bahwa Yesus,  atau  siapa pun, pernah naik ke langit dalam keadaan hidup karena keliru menafsirkan kata rafa’a  (mengangkat) dalam QS.4:158-159.
       Pendek kata, dalam kisah monumental “Adam-Malaikat-Iblis” sama sekali tidak ada masalah “pengusiran dari surga” dan masalah “dosa warisan” dari Adam dan istrinya  karena dalam kenyataannya setelah peristiwa “hijrahnya” Adam a.s. dan “istrinya” (Jamaahnya) dari “jannah” akibat “tipu-daya manusia syaitan”, Allah Swt. bukan saja telah mengampuni kekeliruan Adam a.s.(QS.20:116) bahkan telah mengajarkan beberapa “kalimat” petunjuk dari Allah Swt.:
فَتَلَقّٰۤی اٰدَمُ مِنۡ رَّبِّہٖ کَلِمٰتٍ فَتَابَ عَلَیۡہِ ؕ اِنَّہٗ ہُوَ  التَّوَّابُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾
Lalu Adam mempelajari beberapa  kalimat doa dari Rabb-nya (Tuhan-nya), maka  Dia menerima taubatnya, sesungguhnya  Dia benar-benar Maha Penerima taubat, Maha Penyayang  (Al-Baqarah [2]:38).
Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
قُلۡنَا اہۡبِطُوۡا مِنۡہَا جَمِیۡعًا ۚ فَاِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ ہُدًی فَمَنۡ تَبِعَ ہُدَایَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ  وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡا وَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Kami berfirman:  “Pergilah kamu semua  dari sini, lalu jika  datang kepada kamu suatu petunjuk dari-Ku, maka barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku maka tidak  ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka akan bersedih.”  Tetapi  orang-orang yang kafir dan mendustakan Ayat-ayat Kami, mereka adalah penghuni Api, mereka kekal di dalamnya.     (Al-Baqarah [2]:39-40).
      Ada pun makna kedatangan “petunjuk” dari Allah Swt. adalah  pengutusan para rasul Allah dari kalangan Bani Adam secara berkesinambungan, firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ  اَجَلٌ ۚ فَاِذَا  جَآءَ  اَجَلُہُمۡ  لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً  وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾   
Dan bagi  tiap-tiap umat ada batas waktu, maka apabila telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya.  Wahai Bani Adam,  jika datang kepada kamu  rasul-rasul dari antaramu yang membacakan Ayat-ayat-Ku kepadamu, maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati.  Dan  orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya, mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-A’rāf [7]:35-37).

 Keluhuran Martabat Nabi Besar Muhammad Saw.

         Jadi, kembali kepada hadits qudsi yang dikemukakan di bagian awal Bab ini, Allah Swt. befirman:
Aku adalah kanzun makhfiy   (khazanah tersembunyi) dan ingin dikenal maka Aku menciptakan Adam.”
Bahwa yang dimaksud dengan “Adam” dalam hadits qudsi tersebut adalah  nabi Allah  (rasul Allah),  karena wujud-wujud suci  yang diutus Allah Swt. tersebut  merupakan para Khalifah (wakil) Allah (QS.2:31), sebab melalui para nabi Allah itulah Allah Swt. di setiap zaman kenabian (kerasulan)  memperkenalkan “Wujud-Nya” – yakni membukakan rahasia-rahasia gaib-Nya (QS.2:31-34; QS.3:180; QS.72:27-29) --  dan proses “memperkenalkan diri” Allah Swt. tersebut mencapai puncak kesempurnaannya melalui pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. berupa pewahyuan agama Islam (Al-Quran)  yang merupakan agama (kitab suci) terakhir dan tersempurna (QS.5:4; QS.15:10). 
        Mengenai  pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. Allah Swt. telah berfiman dalam hadits qudsi lainnya:
Laulaka, laulaka mā khalaqtul aflak
dalam riwayat lain redaksinya adalah:
Laulaka, laulaka mā khalaqtul ‘alam kullaha
Yang artinya: “Kalau bukan karena engkau [Muhammad] Aku tidak akan menciptakan alam semesta ini.” (Hadits Qudsi).
      Pernyataan Allah Swt. dalam hadits qudsi tersebut sesuai dengan firman-Nya  di awal  artikel ini mengenai pengutusan Nabi Besar Muhammad saw.,  karena beliau saw. akan  menjadi saksi  mengenai kebenaran para rasul Allah yang diutus sebelum beliau saw. kepada setiap kaum (QS.13:7 & 31; QS.35:25) dan juga sebagai saksi bagi seluruh umat manusia, firman-Nya:
وَ یَوۡمَ نَبۡعَثُ فِیۡ کُلِّ اُمَّۃٍ شَہِیۡدًا عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ جِئۡنَا بِکَ شَہِیۡدًا عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ ؕ وَ نَزَّلۡنَا عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ تِبۡیَانًا  لِّکُلِّ شَیۡءٍ  وَّ  ہُدًی  وَّ  رَحۡمَۃً   وَّ  بُشۡرٰی  لِلۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah hari itu ketika Kami akan membangkitkan dalam setiap umat seorang saksi terhadap mereka dari antara mereka sendiri, dan Kami akan mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka semuanya. Dan  Kami  telah menurunkan kepada engkau Kitab itu untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk, rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri kepada Allah   (An-Nahl [16]:90).
          Senada dengan ayat tersebut  dalam surah lain Allah Swt. berfirman  tetapi lebih menyinggung mengenai orang-orang kafir:
فَکَیۡفَ اِذَا جِئۡنَا مِنۡ کُلِّ اُمَّۃٍۭ بِشَہِیۡدٍ وَّ جِئۡنَا بِکَ عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ شَہِیۡدًا ﴿﴾ یَوۡمَئِذٍ یَّوَدُّ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا وَ عَصَوُا الرَّسُوۡلَ لَوۡ تُسَوّٰی بِہِمُ الۡاَرۡضُ ؕ وَ لَا یَکۡتُمُوۡنَ اللّٰہَ  حَدِیۡثًا ﴿٪﴾
Maka bagaimana keadaan mereka apabila Kami mendatangkan seorang saksi dari setiap umat, dan Kami  mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka ini semua-nya?  Pada hari itu orang-orang  kafir dan yang mendurhakai Rasul,  mereka menginginkan seandainya bumi disamaratakan  dengan mereka, dan mereka tidak akan dapat menyembunyikan sesuatu apa pun  dari Allah. (An-Nisa [4]:42-43).

Kesinambungan Pengutusan Rasul Allah dari Kalangan Bani Adam

         Dengan demikian jelaslah bahwa yang dimaksud dengan  para saksi yang diutus  Allah Swt. kepada umat-umat terdahulu adalah para rasul Allah yang dibangkitkan dari kalangan Bani Adam,   firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ  اَجَلٌ ۚ فَاِذَا  جَآءَ  اَجَلُہُمۡ  لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً  وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾   
Dan bagi  tiap-tiap umat ada batas waktu, maka apabila telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya.  Wahai Bani Adam,  jika datang kepada kamu  rasul-rasul dari antaramu yang membacakan Ayat-ayat-Ku kepadamu, maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati.  Dan  orang-orang yang men-dustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya, mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-A’rāf [7]:35-37).

(Bersambung)
ooo

Rujukan: The Holy Quran
Editor    : Malik Ghulam Farid

Pajajaran Anyar,   5 Juli 2017



Tidak ada komentar:

Posting Komentar