Bismillāhirrahmānirrahīm
KHAZANAH AL-QURAN
Bab 2
MAKNA
IBLIS DAN SETAN YANG MENENTANG ADAM (KHALIFAH ALLAH) SERTA HUBUNGANNYA DENGAN SURAH AL-FATIHAH & HAKIKAT ‘’POHON
TERLARANG “ DAN ‘’POHON TERKUTUK” DALAM AL-QURAN
Oleh
Ki
Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir bab sebelumnya
telah dikemukakan topic: Iblis yang Membangkang kepada
Adam Adalah Golongan Manusia, yaitu sehubungan dengan firman-Nya:
وَ اِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا
لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ اِبۡلِیۡسَ ؕ اَبٰی وَ اسۡتَکۡبَرَ ٭۫
وَ کَانَ مِنَ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan
ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah
yakni tunduk-patuhlah kamu kepada Adam”
lalu mereka sujud kecuali iblis, ia menolak
dan takabur, dan ia
termasuk dari antara orang-orang
yang kafir. (Al-Baqarah [2]:35).
Kata iblis berasal dari ablasa,
yang berarti: (1) kebaikan dan kebajikannya berkurang; (2) ia sudah melepaskan
harapan atau jadi putus asa akan kasih-sayang
Allah Swt. (3) telah patah
semangat; (4) telah bingung dan tidak mampu melihat jalannya; dan (5) ia
tertahan dari mencapai harapannya.
Jadi, berdasarkan akar-katanya arti kata iblis
itu adalah suatu wujud yang sedikit sekali memiliki kebaikan tetapi banyak kejahatan, dan disebabkan oleh rasa putus asa akan kasih-sayang
Allah Swt. oleh sikap pembangkangannya sendiri, maka ia
dibiarkan dalam kebingungan lagi pula
tidak mampu melihat jalannya.
Iblis Berbeda Dengan Setan yang
Menipu Adam a.s.
Iblis seringkali
dianggap sama dengan syaitan, padahal
dalam beberapa hal berlainan dari dia. Harus dipahami bahwa iblis itu bukan salah seorang dari para malaikat, sebab ia di sini dilukiskan
sebagai tidak patuh kepada Allah
Swt., sedangkan para malaikat dilukiskan sebagai senantiasa “tunduk” dan “patuh” (QS.66:7). Dalam
QS.18:51-52 disebutkan iblis berasal
dari kalangan jin.
Allah Swt. telah murka kepada iblis karena
ia pun diperintahkan mengkhidmati
Adam a.s. tetapi iblis membangkang (QS.7:13). Tambahan
pula, sekalipun jika tiada perintah
tersendiri bagi iblis, perintah
kepada para malaikat harus dianggap meliputi semua wujud, sebab perintah kepada para malaikat — sebagai penjaga berbagai bagian alam
semesta — dengan sendirinya mencakup
juga semua wujud.
Dari kisah kaum-kaum
purbakala dalam Al-Quran yang
mendustakan para rasul Allah yang
dibangkitkan dari kalangan mereka mulai dari
kaum Nabi Nuh a.s. sampai
dengan kaum Nabi Besar Muhammad saw.
dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan iblis -- yang disebut
berasal dari golongan jin -- adalah
para pemuka kaum yang memimpin
pendustaan dan penentangan terhadap para rasul Allah, bukan golongan makhluk
halus sebagaimana umumnya dipercayai, firman-Nya:
وَ اِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ اِبۡلِیۡسَ ؕ کَانَ مِنَ
الۡجِنِّ فَفَسَقَ عَنۡ اَمۡرِ رَبِّہٖ ؕ اَفَتَتَّخِذُوۡنَہٗ وَ ذُرِّیَّتَہٗۤ اَوۡلِیَآءَ مِنۡ
دُوۡنِیۡ وَ ہُمۡ لَکُمۡ عَدُوٌّ ؕ
بِئۡسَ لِلظّٰلِمِیۡنَ
بَدَلًا ﴿﴾ مَاۤ اَشۡہَدۡتُّہُمۡ خَلۡقَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ لَا خَلۡقَ اَنۡفُسِہِمۡ ۪ وَ مَا کُنۡتُ
مُتَّخِذَ الۡمُضِلِّیۡنَ
عَضُدًا ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Kami berfirman kepada para malaikat:
"Sujudlah yakni patuh
taatlah kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali iblis, ia adalah dari golongan jin maka ia mendurhakai perintah Rabb-nya (Tuhan-nya).
Apakah kamu hendak mengambil dia dan
keturunannya sebagai sahabat-sahabat selain Aku, padahal mereka itu musuh-musuh kamu? Sangat buruk bagi orang-orang yang zalim pertukaran
itu. Aku sama sekali tidak membuat mereka menyaksikan penciptaan seluruh langit dan bumi,
dan tidak pula penciptaan mereka sendiri dan Aku
sama sekali tidak dapat mengambil mereka yang menyesatkan orang-orang sebagai
pembantu. (Al-Kahf [18]:51-52).
Makna ayat: “Aku sama sekali tidak membuat mereka menyaksikan penciptaan
seluruh langit dan bumi, dan
tidak pula penciptaan mereka sendiri” agaknya menunjukkan, bahwa ketika di Akhir
Zaman ini di mana-mana umum akan ramai memperbincangkan tertib dunia baru – antara lain melalui Liga Bang-bangsa dan Perserikatan
Bangsa-bangsa (PBB) -- yang akan mengumandangkan tibanya satu mass keamanan dan kerukunan
yang kekal abadi di dunia dan mereka yang
mengaku-ngaku dirinya pemimpin yang menentukan haluan politik dan masyarakat
akan berusaha dan menda'wakan untuk
menegakkan tertib baru, tetapi mereka
tidak akan berhasil dalam usaha
mereka, sebab Allah Swt. telah memperuntukkan bagi Dzat-Nya Sendiri pelaksanaan
dan penyelesaian pekerjaan agung ini
dengan sempurna melalui penciptaan Adam
(Khalifah Allah – QS.2:31-35; QS.14:48-53) yang merupakan “nafiri” (terompet) kebangkitan
ruhani di dunia ini (QS.36:52-66;
Q.39:68-71).
Sebutan Lain Iblis dan Setan dalam Surah Al-Fatihah
Seperti dinyatakan di atas, iblis sesungguhnya nama sifat yang diberikan atas dasar arti akar kata itu (ablasa)
kepada ruh jahat yang bertolak
belakang dari sifat malaikat. Diberi nama demikian karena ia mempunyai sifat-sifat buruk seperti dirinci di
atas, terutama bahwa ia – karena ketakaburannya
dan kedengkiannya -- sama sekali luput dari kebaikan dan
telah dibiarkan kebingungan dalam
langkahnya dan hilang harapan akan kasih-sayang Allah Swt..
Bahwa iblis bukanlah syaitan
— yang disebut dalam QS.2:37 — jelas dari ke-nyataan bahwa Al-Quran menyebut kedua nama itu berdampingan, kapan saja
riwayat Adam a.s. dituturkan. Tetapi di mana-mana
dilakukan pemisahan yang cermat
antara keduanya itu, yaitu kapan saja Al-Quran membicarakan makhluk yang — berbeda dari para malaikat — menolak berbakti (sujud) kepada Adam
a.s. maka senantiasa Al-Quran menyebutnya
dengan nama iblis, tetapi bila Al-Quran membicarakan wujud yang menipu Adam a.s. dalam jannah
(kebun) dan menjadi sebab Adam a.s.
diperintahkan keluar atau hijrah sementara dari “kebun”
maka Al-Quran menyebutnya dengan nama syaitan.
Perbedaan ini — yang sangat besar artinya dan tetap dipertahankan dalam
Al-Quran -- sedikitnya pada sepuluh
tempat (QS.2:35, 37; QS.7:12, 21; QS.15:32; QS.17:62; QS.18:51; QS.20:117, 121;
QS.38:75) — jelas memperlihatkan bahwa iblis berbeda dari syaitan yang menipu Adam a.s. dan
merupakan salah seorang dari kaum Nabi Adam a.s. sendiri,
yang disebut dari golongan jin
(QS.18:51). Di tempat lain Al-Quran mengatakan bahwa iblis tergolong makhluk-makhluk
Allah tersembunyi dan — berlainan
dari para malaikat — mampu menaati atau menentang Allah Swt. (QS.7:12-13).
Dengan kata lain dalam surah Al-Fatihah sebutan iblis
identik dengan maghdhūbi ‘alayhim (orang-orang yang dimurkai Allah – QS.1:7)
karena senantiasa menentang rasul Allah
yang diutus Allah Swt., (QS.7:12-19; QS.2:88-89), sedangkan “syaitan” identik dengan “dhāllīn (orang-orang yang sesat – QS.1-7),
karena mereka menyesatkan
orang-orang dari Tauhid Ilahi dengan ajaran
sesatnya dan dengan iming-iming keberhasilan kehidupan
duniawi (QS.18:5-9; QS,7:170;
QS.7:20-23), yang di Akhir Zaman ini
disebut Nabi Besar Muhammad saw. sebagai
fitnah Dajjal – si pendusta besar yang matanya buta sebelah -- (QS.31:34) yakni Ya’juj dan Ma’juj (QS.21:97) atau khannas (QS.114:5-7). Sehubungan dengan hal tersebut selanjutnya
Allah Swt. berfirman:
وَ قُلۡنَا یٰۤاٰدَمُ اسۡکُنۡ اَنۡتَ وَ زَوۡجُکَ الۡجَنَّۃَ وَ
کُلَا مِنۡہَا رَغَدًا حَیۡثُ شِئۡتُمَا ۪ وَ لَا تَقۡرَبَا ہٰذِہِ الشَّجَرَۃَ
فَتَکُوۡنَا مِنَ الظّٰلِمِیۡنَ﴿﴾
Dan Kami
berfirman: “Hai Adam, tinggallah engkau dan isteri engkau
dalam jannah (kebun) ini, dan makanlah
darinya sepuas hati di mana pun kamu berdua sukai, tetapi janganlah
kamu berdua mendekati pohon ini, jika tidak maka kamu berdua akan menjadi
orang-orang zalim. (Al-Baqarah
[2]:36).
Makna “Pohon Terlarang”
Kata jannah (kebun, taman)
yang tercantum pada ayat ini, tidak memberi isyarat kepada surga – yang terdapat di alam
akhirat -- melainkan
hanya kepada tempat subur
seperti kebun, tempat (wilayah) untuk
pertama kali Nabi Adam a.s. dan istrinya
(pengikutnya) disuruh tinggal.
Kata jannah itu tidak dapat ditujukan kepada surga yang ke dalamnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh akan menjadi penghuninya (QS.2:26), dengan alasan pertama, karena di permukaan bumi
inilah Nabi Adam a.s. dan “istrinya” disuruh
tinggal (QS.2:37); kedua, bahwa surga di akhirat adalah tempat yang bila seseorang sudah memasukinya tidak pernah dikeluarkan lagi (QS.15:49), sedangkan Nabi Adam a.s. diharuskan meninggalkan jannah
(kebun) itu, seperti dituturkan dalam ayat selanjutnya (QS.2:37).
Hal itu menunjukkan bahwa jannah
atau kebun (taman) tempat untuk pertama kalinya Nabi Adam a.s. dan "istrinya" (pengikutnya) diperintahkan tinggal
adalah tempat di bumi ini juga,
yang telah diberi nama jannah (kebun/taman) karena kesuburan
tanahnya dan penuh dengan tumbuh-tumbuhan.
Penyelidikan akhir-akhir ini telah membuktikan bahwa tempat itu Taman Eden yang terletak dekat Babilonia di Irak atau Assyria (Encyclopaedia Britannica,
pada “Ur”).
Ungkapan “makanlah darinya
sepuas hati di mana pun kamu berdua suka” menunjukkan bahwa tempat Nabi Adam a.s. tinggal, belum berada di bawah kekuasaan hukum seseorang, dan merupakan
apa yang dapat disebut “tanah Tuhan”
yang diberikan kepada Nabi Adam a.s. dan
“istrinya (pengikutnya), oleh karena itu seolah-olah dijadikan pemilik semua tanah yang dijelajahi
beliau.
Menurut Bible syajarah
(pohon) yang terlarang itu, pohon ilmu
pengetahuan baik dan buruk (Kejadian 2:17). Tetapi menurut
Al-Quran, sesudah memakan buah terlarang
itu Adam dan “istrinya” menjadi telanjang.
Hal itu berarti bahwa tidak seperti halnya ilmu
yang menjadi sumber kebaikan, pohon
itu sumber kejahatan, yang menjadikan
Adam a.s. dan “istrinya” menampakkan sesuatu kelemahan.
Pandangan Al-Quran itu ternyata
tepat, sebab meluputkan orang dari ilmu pengetahuan berarti menggagalkan tujuan yang untuk itu ia diciptakan. Tetapi Al-Quran dan Bible agak
sepakat juga mengenai hal bahwa pohon
itu bukan benar-benar sebatang pohon
biasa melainkan hanya suatu perlambang
(kiasan). Sebab tidak ada pohon yang
memiliki salah satu ciri-ciri khas di
atas -- yaitu menjadikan orang telanjang
atau memberikan ilmu yang baik dan jahat – bahwa “pohon” seperti itu pernah
terdapat di muka bumi ini. Jadi pohon dalam ayat
itu harus mengisyaratkan sesuatu yang lain.
Syajarah berarti pula perselisihan. Di tempat lain Al-Quran menyebut dua macam syajarah:
(1) Syajarah thayyibah (pohon baik) dan (2) Syajarah khabitsah
(pohon jahat), untuk itu lihat QS.14:25 dan 27. Hal-hal yang suci dan ajaran-ajaran yang suci diserupakan dengan syajarah
thayyibah, dan hal-hal yang tidak suci dan pikiran yang kotor
diserupakan dengan syajarah khabitsah.
Nubuatan Mengenai Kaum Yahudi &
“Pohon Terkutuk” Dalam
Al-Quran
Mengingat keterangan-keterangan itu, makna atau falsafah ayat ini
dapat berarti: (1) bahwa Adam a.s. diperintahkan
untuk menghindari pertikaian; (2)
bahwa beliau diperingatkan terhadap hal-hal
yang jahat. Makna lain “pohon”
adalah “orang” atau “kaum”,
contohnya Allah Swt. dalam QS.17:61 menyebut “kaum Yahudi” sebagai “syajarah
mal’unah” (pohon terkutuk), sebab mereka
telah mendapat dua kali kutukan
yaitu oleh Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.5:79-81;
QS.17:5-9), firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ اِذۡ
قُلۡنَا لَکَ اِنَّ رَبَّکَ اَحَاطَ بِالنَّاسِ ؕ وَ مَا
جَعَلۡنَا الرُّءۡیَا الَّتِیۡۤ
اَرَیۡنٰکَ اِلَّا فِتۡنَۃً
لِّلنَّاسِ وَ الشَّجَرَۃَ
الۡمَلۡعُوۡنَۃَ فِی الۡقُرۡاٰنِ ؕ وَ نُخَوِّفُہُمۡ ۙ فَمَا یَزِیۡدُہُمۡ اِلَّا
طُغۡیَانًا کَبِیۡرًا ﴿٪﴾
Dan ingatlah
ketika Kami berfirman kepada engkau: “Sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau
telah mengepung orang-orang ini dengan
kebina-saan.” Dan tidaklah
Kami menjadi-kan ru'ya yang telah Kami perlihatkan kepada engkau melainkan sebagai ujian bagi manusia, dan juga pohon terkutuk dalam Al-Quran. Dan Kami menakut-nakuti mereka tetapi itu tidak menambah kepada mereka kecuali kedurhakaan amat besar. (Bani Israil [17]:61).
Isyarat di sini tertuju
kepada kasyaf yang disebut dalam ayat
kedua dalam Surah ini. Dalam kasyaf pada
peristiwa Isra itu Nabi Besar
Muhammad saw. melihat diri beliau mengimami
semua nabi lainnya dalam shalat yang
dilakukan di Baitul-Muqadas di
Yerusalem, yang merupakan kiblat
orang-orang Yahudi.
Kasyaf itu mengandung arti bahwa
pada suatu ketika di masa yang akan datang, para pengikut nabi-nabi tersebut akan masuk ke haribaan Islam. Inilah yang dimaksud oleh
kata-kata “Tuhan engkau telah mengepung dengan menakdirkan kebinasaan umat
ini”. Penyebaran Islam secara
meluas akan datang sesudah terjadi bencana-bencana
yang akan melanda seluruh dunia seperti telah disinggung dalam QS.17:59.
Agaknya “pohon terkutuk”
itu adalah kaum Yahudi yang telah
berulang kali disebut dalam Al-Quran dikutuk
oleh Allah Swt.. (QS.5:14, 61, 65, 79). Kutukan
Allah telah mengejar-ngejar kaum yang
malang ini semenjak Nabi Daud a.s.
dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sampai
zaman kita ini.
Penafsiran tentang ungkapan
ini ditunjang oleh kenyataan, bahwa Surah ini secara istimewa membahas hal
ihwal kaum Bani Israil, seperti
diisyaratkan oleh nama Surah ini sendiri, yaitu Bani Israil. Kenyataan bahwa
ayat ini mulai dengan menyebut kasyaf
(pengalaman ruhani) Nabi Besar Muhammad saw., dan di dalam kasyaf itu beliau lihat diri beliau mengimami nabi-nabi Bani
Israil dalam shalat di Yerusalem
— pusat agama Yahudi — memberi dukungan lebih lanjut kepada anggapan, bahwa
yang dimaksud oleh “pohon terkutuk”
itu adalah kaum Yahudi; sebab kata syajarah
mengandung pula arti suku bangsa.
Ayat ini membahas kasyaf itu, dan juga membahas kaum Yahudi (pohon terkutuk) yang oleh kasyaf ini disinggung secara khusus
sebagai “percobaan bagi manusia.” Orang-orang Yahudi pada tiap qurun zaman telah menjadi sumber kesengsaraan dan penderitaan
bagi umat manusia, terutama bagi umat Islam. Itulah sebabnya para ‘ulama
Islam sepakat bahwa yang dimaksud dengan “orang-orang
yang dimurkai” dalam Surah Al-Fatihah
ayat 7 adalah “orang-orang Yahudi.”
Tidak Ada “Pengusiran
dari Surga” dan Tidak Ada “Dosa Warisan”
Kembali lagi kepada kisah Nabi Adam a.s. dan “istrinya” yang sedang dibahas, selanjutnya Allah Swt. berfirman:
فَاَزَلَّہُمَا
الشَّیۡطٰنُ عَنۡہَا فَاَخۡرَجَہُمَا مِمَّا کَانَا فِیۡہِ ۪ وَ قُلۡنَا
اہۡبِطُوۡا بَعۡضُکُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ ۚ وَ لَکُمۡ فِی الۡاَرۡضِ
مُسۡتَقَرٌّ وَّ مَتَاعٌ اِلٰی حِیۡنٍ ﴿﴾
Tetapi syaitan
menggelincirkan keduanya
dengan perantaraan pohon itu, lalu mengeluarkan
keduanya dari keadaan mereka semula berada di dalamnya, dan Kami berfirman: ”Pergilah kamu dari sini, sebagian darimu musuh bagi yang
lain, dan di bumi inilah tempat kediaman bagi
kamu dan perbekalan hidup sampai
suatu masa tertentu. (Al-Baqarah [2]:37).
Kalimat
pertama dalam ayat ini berarti bahwa, suatu wujud yang bersifat syaitan
membujuk Adam a.s. dan istrinya
keluar dari keadaan mereka itu
ditempatkan, dan dengan demikian menjauhkan mereka dari kesenangan yang dinikmati
mereka. Seperti diterangkan dalam QS.2:35 makhluk yang menipu dan menjerumuskan
Adam a.s. ke dalam kesusahan
itu adalah syaitan dan bukan iblis yang dituturkan menolak mengkhidmati (sujud kepada) Adam a.s.. Jadi syaitan di sini tidak menunjuk kepada iblis, tetapi kepada seseorang lain dari kaum di zaman Nabi Adam a.s.
yang adalah musuhnya.
Kesimpulan ini selanjutnya
didukung oleh QS.17:66 yang menurut ayat itu
iblis tidak mempunyai daya
apa-apa terhadap Adam a.s.. Kata syaitan
mempunyai arti lebih luas daripada iblis, sebab iblis adalah nama
yang diberikan kepada ruh jahat yang
tergolong kepada jin (QS.18:51) dan yang menolak mengkhidmati Adam a.s. dan yang kemudian menjadi pemimpin dan wakil kekuatan-kekuatan jahat di alam semesta.
Syaitan adalah tiap-tiap wujud
atau sesuatu yang jahat dan berbahaya baik berupa ruh atau manusia atau binatang
atau penyakit atau tiap sesuatu yang lain (QS.2:15; QS. 22:53).
Jadi iblis itu syaitan,
kawan-kawannya dan sekutu-sekutunya pun syaitan pula; musuh-musuh kebenaran pun
syaitan, orang-orang jahat juga syaitan,
binatang-binatang yang memudaratkan
dan penyakit-penyakit berbahaya pun syaitan
pula. Al-Quran, hadits, dan pustaka Arab penuh dengan contoh-contoh dimana kata
syaitan dengan bebas
dipergunakan mengenai sesuatu atau segala sesuatu itu.
Makna
ayat: وَ قُلۡنَا اہۡبِطُوۡا بَعۡضُکُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ ۚ وَ لَکُمۡ فِی
الۡاَرۡضِ مُسۡتَقَرٌّ وَّ مَتَاعٌ
اِلٰی حِیۡنٍ -- “Kami berfirman: ”Pergilah kamu dari sini, sebagian darimu musuh bagi yang
lain, dan di bumi inilah tempat kediaman bagi
kamu dan perbekalan hidup sampai
suatu masa tertentu.” Al-Quran sekali-kali tidak mendukung ide bahwa
seseorang dapat naik ke langit
hidup-hidup, sebab ayat ini tegas menetapkan bumi sebagai tempat tinggal manusia seumur hidupnya, dan menolak ide (anggapan) bahwa Yesus,
atau siapa pun, pernah naik ke langit dalam keadaan hidup karena keliru menafsirkan kata
rafa’a (mengangkat) dalam
QS.4:158-159.
Pendek kata, dalam kisah monumental “Adam-Malaikat-Iblis”
sama sekali tidak ada masalah “pengusiran
dari surga” dan masalah “dosa warisan”
dari Adam dan istrinya karena dalam
kenyataannya setelah peristiwa “hijrahnya”
Adam a.s. dan “istrinya” (Jamaahnya)
dari “jannah” akibat “tipu-daya manusia syaitan”, Allah Swt.
bukan saja telah mengampuni kekeliruan
Adam a.s.(QS.20:116) bahkan telah mengajarkan beberapa “kalimat” petunjuk dari Allah Swt.:
فَتَلَقّٰۤی اٰدَمُ مِنۡ رَّبِّہٖ کَلِمٰتٍ فَتَابَ عَلَیۡہِ ؕ اِنَّہٗ ہُوَ التَّوَّابُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾
Lalu Adam mempelajari beberapa kalimat doa dari Rabb-nya (Tuhan-nya), maka Dia
menerima taubatnya, sesungguhnya Dia benar-benar Maha Penerima taubat, Maha Penyayang (Al-Baqarah [2]:38).
Selanjutnya
Allah Swt. berfirman:
قُلۡنَا
اہۡبِطُوۡا مِنۡہَا جَمِیۡعًا ۚ فَاِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ ہُدًی فَمَنۡ
تَبِعَ ہُدَایَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ
وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا وَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَاۤ
اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Kami berfirman: “Pergilah
kamu semua dari sini, lalu jika datang kepada kamu suatu petunjuk
dari-Ku, maka barangsiapa mengikuti
petunjuk-Ku maka tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka akan bersedih.” Tetapi orang-orang
yang kafir dan mendustakan Ayat-ayat
Kami, mereka adalah penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-Baqarah
[2]:39-40).
Ada pun
makna kedatangan “petunjuk” dari
Allah Swt. adalah pengutusan para rasul Allah
dari kalangan Bani Adam secara berkesinambungan, firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ اَجَلٌ ۚ
فَاِذَا جَآءَ اَجَلُہُمۡ
لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً وَّ
لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ
اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ
ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ
﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ
اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ
اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan bagi tiap-tiap umat ada batas waktu,
maka apabila telah datang batas waktunya,
mereka tidak dapat mengundurkannya
barang sesaat pun dan tidak pula
dapat memajukannya. Wahai
Bani Adam, jika datang kepada kamu rasul-rasul dari antaramu yang membacakan Ayat-ayat-Ku kepadamu, maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati. Dan orang-orang
yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan
takabur berpaling darinya, mereka
itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-A’rāf
[7]:35-37).
Keluhuran Martabat Nabi Besar
Muhammad Saw.
Jadi, kembali
kepada hadits qudsi yang dikemukakan
di bagian awal Bab ini, Allah Swt. befirman:
“Aku adalah kanzun
makhfiy (khazanah tersembunyi) dan ingin dikenal maka
Aku menciptakan Adam.”
Bahwa yang dimaksud dengan “Adam” dalam hadits qudsi
tersebut adalah nabi Allah (rasul Allah), karena wujud-wujud suci yang diutus Allah Swt. tersebut merupakan para Khalifah (wakil) Allah
(QS.2:31), sebab melalui para nabi Allah itulah Allah Swt. di setiap
zaman kenabian (kerasulan)
memperkenalkan “Wujud-Nya” – yakni membukakan rahasia-rahasia
gaib-Nya (QS.2:31-34; QS.3:180; QS.72:27-29) -- dan proses “memperkenalkan diri” Allah
Swt. tersebut mencapai puncak kesempurnaannya melalui pengutusan Nabi
Besar Muhammad saw. berupa pewahyuan agama Islam (Al-Quran) yang merupakan agama (kitab suci) terakhir
dan tersempurna (QS.5:4; QS.15:10).
Mengenai
pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. Allah Swt. telah berfiman
dalam hadits qudsi lainnya:
Laulaka, laulaka
mā khalaqtul aflak
dalam riwayat lain redaksinya adalah:
Laulaka,
laulaka mā khalaqtul ‘alam kullaha
Yang artinya: “Kalau bukan karena engkau [Muhammad] Aku tidak akan
menciptakan alam semesta ini.” (Hadits
Qudsi).
Pernyataan Allah Swt. dalam
hadits qudsi tersebut sesuai dengan firman-Nya di awal
artikel ini mengenai pengutusan Nabi Besar Muhammad saw., karena beliau saw. akan menjadi saksi mengenai kebenaran para rasul Allah
yang diutus sebelum beliau saw. kepada setiap kaum (QS.13:7 & 31;
QS.35:25) dan juga sebagai saksi bagi seluruh umat manusia,
firman-Nya:
وَ
یَوۡمَ نَبۡعَثُ فِیۡ کُلِّ اُمَّۃٍ شَہِیۡدًا عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ
جِئۡنَا بِکَ شَہِیۡدًا عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ ؕ وَ نَزَّلۡنَا عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ
تِبۡیَانًا لِّکُلِّ شَیۡءٍ وَّ
ہُدًی وَّ رَحۡمَۃً
وَّ بُشۡرٰی لِلۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan ingatlah
hari itu ketika Kami akan membangkitkan dalam setiap umat
seorang saksi terhadap mereka
dari antara mereka sendiri, dan Kami akan mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka semuanya. Dan Kami
telah menurunkan kepada engkau
Kitab itu untuk menjelaskan segala
sesuatu dan petunjuk, rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang
yang berserah diri kepada Allah (An-Nahl [16]:90).
Senada dengan ayat
tersebut dalam surah lain Allah Swt.
berfirman tetapi lebih menyinggung
mengenai orang-orang kafir:
فَکَیۡفَ اِذَا جِئۡنَا مِنۡ کُلِّ اُمَّۃٍۭ بِشَہِیۡدٍ وَّ جِئۡنَا بِکَ عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ
شَہِیۡدًا ﴿﴾ یَوۡمَئِذٍ یَّوَدُّ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا وَ عَصَوُا الرَّسُوۡلَ
لَوۡ تُسَوّٰی بِہِمُ الۡاَرۡضُ ؕ وَ لَا یَکۡتُمُوۡنَ اللّٰہَ حَدِیۡثًا ﴿٪﴾
Maka bagaimana keadaan mereka apabila Kami mendatangkan seorang saksi
dari setiap umat, dan Kami
mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka ini semua-nya? Pada hari
itu orang-orang kafir dan yang
mendurhakai Rasul, mereka menginginkan seandainya bumi disamaratakan dengan mereka, dan mereka tidak akan dapat menyembunyikan
sesuatu apa pun dari Allah.
(An-Nisa
[4]:42-43).
Kesinambungan Pengutusan Rasul Allah dari Kalangan Bani Adam
Dengan demikian jelaslah bahwa yang
dimaksud dengan para saksi yang diutus Allah Swt. kepada umat-umat terdahulu adalah
para rasul Allah yang dibangkitkan
dari kalangan Bani Adam, firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ اَجَلٌ ۚ
فَاِذَا جَآءَ اَجَلُہُمۡ
لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً وَّ
لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ
اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ
ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ
﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ
اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ
اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan bagi tiap-tiap umat ada batas waktu,
maka apabila telah datang batas waktunya,
mereka tidak dapat mengundurkannya barang
sesaat pun dan tidak pula dapat
memajukannya. Wahai Bani Adam, jika
datang kepada kamu rasul-rasul
dari antaramu yang membacakan
Ayat-ayat-Ku kepadamu, maka barangsiapa
bertakwa dan memperbaiki diri, tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan
tidak pula mereka akan bersedih hati. Dan orang-orang
yang men-dustakan Ayat-ayat Kami dan dengan
takabur berpaling darinya, mereka
itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-A’rāf
[7]:35-37).
(Bersambung)
ooo
Rujukan: The
Holy Quran
Editor : Malik
Ghulam Farid
Pajajaran Anyar, 5 Juli 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar